• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN AKHIR TAHUN PEMANFAATAN LAHAN KERING MASAM DENGAN TUMPANGSARI JAGUNG DAN KACANG TANAH DI PROVINSI BENGKULU

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN AKHIR TAHUN PEMANFAATAN LAHAN KERING MASAM DENGAN TUMPANGSARI JAGUNG DAN KACANG TANAH DI PROVINSI BENGKULU"

Copied!
77
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN AKHIR TAHUN

PEMANFAATAN LAHAN KERING MASAM DENGAN TUMPANGSARI JAGUNG DAN KACANG TANAH DI PROVINSI BENGKULU

Wahyu Wibawa

KEMENTERIAN PERTANIAN

BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN BALAI PENGKAJIAN TEKNOLOGI PERTANIAN BENGKULU

2014

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga Laporan Akhir Tahun 2014 Kegiatan Pemanfaatan Lahan Kering Masam dengan Tumpangsari Jagung dan Kacang Tanah di Provinsi Bengkulu dapat tersusun. Laporan ini dibuat sebagai salah satu pertanggung jawaban terhadap hasil pelaksanaan kegiatan mulai bulan Januari sampai dengan bulan Desember tahun 2014.

Kegiatan Pemanfaatan Lahan Kering Masam dengan Tumpangsari Jagung dan Kacang Tanah di Provinsi Bengkulu bertujuan untuk: (1.) Menentukan varietas kacang tanah yang tepat untuk ditumpangsarikan dengan jagung pada lahan kering masam (Ultisol) spesifik lokasi di Provinsi Bengkulu ,( 2.) Mengevaluasi efektifitas penambahan amelioran pada lahan Ultisol terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman yang ditumpangsarikan, (3.) Meningkatkan produktifitas, efisiensi penggunaan lahan, dan keuntungan usahatani secara tumpangsari pada lahan Ultisol, (4.) Mendapatkan alternatif rekomendasi teknis sistem tumpangsari jagung dan kacang tanah pada lahan suboptimal, (5.) Mendapatkan umpan balik dari stakeholders dan petani pengguna dalam rangka percepatan penyebarluasan inovasi teknologi.

Kami menyadari bahwa dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan ini tentu ada kekurangannya, oleh karena itu kritik dan saran untuk perbaikan sangat diharapkan. Kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dan membantu pelaksanaan kegiatan ini kami sampaikan terima kasih. Semoga kegiatan ini dapat memberikan manfaat bagi percepatan adopsi inovasi teknologi Pemanfaatan Lahan Kering Masam dengan Tumpangsari Jagung dan Kacang Tanah di Provinsi Bengkulu

Bengkulu, Desember 2014 Penanggung jawab Kegiatan

Ir. Wahyu Wibawa, MP., Ph.D NIP. 196904271998031001

(3)

LEMBAR PENGESAHAN

1. Judul RPTP : Pemanfaatan Lahan Kering Masam dengan Tumpangsari Jagung dan Kacang Tanah di Provinsi Bengkulu

2. Unit Kerja : Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bengkulu 3. Alamat Unit Kerja : Jalan Irian Km.6.5 Kelurahan Semarang Bengkulu 38119 4. Sumber Dana : DIPA BPTP Bengkulu T.A. 2014

5. Status Penelitian (L/B) : Baru 6. Penanggung Jawab :

a. Nama : Ir. Wahyu Wibawa, MP, Ph.D b. Pangkat / Golongan : Penata Tingkat I/IIId

c. Jabatan : Peneliti Muda

7. Lokasi : Kabupaten Bengkulu Tengah, Provinsi Bengkulu 8. Agroekosistem : Lahan Kering Masam

9. Tahun Mulai : 2014 10. Tahun Selesai : 2014 11. Output Tahunan :

-12. Output Akhir : 1. Varietas unggul kacang tanah yang tepat untuk ditumpangsarikan dengan jagung pada lahan kering masam (Ultisol) spesifik lokasi di Provinsi Bengkulu 2. Tingkat efektifitas penambahan amelioran pada lahan Ultisol terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman yang ditumpangsarikan.

3. Peningkatan produktifitas, efisiensi penggunaan lahan, dan keuntungan usahatani secara tumpangsari pada lahan Ultisol.

4. Alternatif rekomendasi teknis sistem tumpangsari jagung dan kacang tanah pada lahan suboptimal. 5. Umpan balik dari stakeholders dan petani pengguna

dalam rangka percepatan penyebarluasan inovasi teknologi.

(4)

13. Biaya : Rp. 150.000.000 (Seratus Lima Puluh Juta Rupiah)

Koordinator Program , Penanggung Jawab RPTP

Ir. Wahyu Wibawa, MP, Ph.D

NIP.19690427 199803 1 001 Ir. Wahyu Wibawa, MP, Ph.DNIP.19690427 199803 1 001

Mengetahui :

Kepala BB Pengkajian Kepala BPTP Bengkulu

Dr. Ir. Abdul Basit, M.S Dr.Ir. Dedi Sugandi, MP NIP. 19640521 198003 1 001 NIP.19590206 198603 1002

(5)

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ... ii

LEMBAR PENGESAHAN ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vi

LAMPIRAN………... ………. viii

RINGKASAN DAN SUMMARY ... x

I. PENDAHULUAN... 1 1.1. Latar Belakang... 1 1.2. Dasar Pertimbangan... 4 1.3. Tujuan... 4 1.4. keluaran... 5 1.5. Perkiraan Dampak... 5

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 6

III. METODOLOGI PENELITIAN ... 9

3.1. Lokasi dan waktu ... 9

3.2. Bahan dan Alat ... 9

3.3. Ruang Lingkup ... 10

3.4. Rancangan Percobaan... 10

3.5. Pelaksanaan ... 11

3.6. Plot Tumpangsari Jagung dan Kacang Tanah ... 11

3.7. Parameter Yang Diukur ... 11

3.8. Analisis Data ... 12

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN... 13

4.1 Koordinasi Internal dan antar Instansi. ... 13

4.2 Dominasi Jenis Gulma ... 13

4.3 Sistem Tumpang sari Jagung dan Kacang Tanah... 14

4.4 Efektifitas Pemberian Amelioran... 21

4.5 Produktivitas, Efisiensi Penggunaan Lahan dan Usaha Tani ... 29

4.6 Sosialisasi, Apresiasi Teknologi Pemanfaatan Lahan Kering Masam ... 32

4.7 Umpan Balik dari Satkeholders dan Petani Pengguna... 33

V. KESIMPULAN DAN SARAN... 36

KINERJA HASIL... 37

DAFTAR PUSTAKA ... 38

ANALISIS RESIKO ... 40

JADWAL KERJA ... 41

(6)

DAFTAR TABEL

1. Identifikasi dominansi gulma awal ... 14

2. Nilai rata-rata hasil perhitungan keseluruhan NKL tanaman kacang tanah dan jagung ... 15

3. Data pertumbuhan vegetatif kacang tanah ... 16

4. Data komponen hasil kacang tanah sistem tumpangsari , MK 2014... 17

5. Data komponen hasil kacang tanah sistem tumpangsari , MK 2014... 18

6. Data pertumbuhan vegetatif jagung... 19

7. Data pertumbuhan generatif jagung ... 20

8. Hasil analisa tanah awal dan akhir ... 22

9. Data hari hujan dan curah hujan kabupaten Bengkulu Tengah (BP3K Talang Pauh, 2014) ... 24

10.Data pertumbuhan vegetatif kacang tanah sistem tanam monokultur... 25

11. Data komponen hasil kacang tanah sistem monokultur , MK 2014 ... 27

12. Data komponen hasil kacang tanah sistem monokultur , MK 2014... ... 28

13. Biaya usahatani, produksi, penerimaan dan keuntungan kegiatan monokultur dan tumpangsari di Kabupaten Bengkulu Tengah tahun 2014... 31

(7)

LAMPIRAN

Halaman 1. Kuesioner tingkat pengetahuan petani terhadap teknologi pemanfaatan

lahan kering masam dengan tumpangsari jagung dan kacang tanah………….. 45 2. Kuesioner Identifikasi Petani dan Pola Usaha Tani Pemanfaatan Lahan

Kering Masam dengan Tumpangsari Jagung dan Kacang Tanah………..

62

3. Foto kegiatan sosialisasi kegiatan pemanfaatan lahan kering masam dengan tumpangsari jagung dan kacang tanah……… 67 4. Foto kegiatan apresisasi teknologi kegiatan pemanfaatan lahan kering

masam dengan tumpangsari jagung dan kacang tanah……… 69 5. Foto kegiatan pemanfaatan lahan kering masam dengan tumpangsari

jagung dan kacang tanah (pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan, panen)………

70

6. Kegiatan Pemanfaatan Lahan Kering Masam dengan Tumpangsari Jagung dan Kacang Tanah (pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan, panen)………

71

7. Kegiatan Pemanfaatan Lahan Kering Masam dengan Tumpangsari Jagung dan Kacang Tanah (pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan, panen) 72

(8)

Ringkasan

1. Judul : Pemanfaatan Lahan Kering Masam dengan Tumpangsari Jagung dan Kacang Tanah di Provinsi Bengkulu

2. Unit Kerja : Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bengkulu

3. Tujuan : 1. Menentukan varietas kacang tanah yang tepat untuk ditumpangsarikan dengan jagung pada lahan kering masam (Ultisol) spesifik lokasi di Provinsi Bengkulu

2. Mengevaluasi efektifitas penambahan amelioran pada lahan Ultisol terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman yang ditumpangsarikan.

3. Meningkatkan produktifitas, efisiensi penggunaan lahan, dan keuntungan usahatani secara tumpangsari pada lahan Ultisol.

4. Mendapatkan alternatif rekomendasi teknis sistem tumpangsari jagung dan kacang tanah pada lahan suboptimal.

5. Mendapatkan umpan balik dari stakeholders dan petani pengguna dalam rangka percepatan penyebarluasan inovasi teknologi.

4. Keluaran/Output : 1. Varietas unggul kacang tanah yang tepat untuk ditumpangsarikan dengan jagung pada lahan kering masam (Ultisol) spesifik lokasi di Provinsi Bengkulu

2. Tingkat efektifitas penambahan amelioran pada lahan Ultisol terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman yang ditumpangsarikan.

3. Peningkatan produktifitas, efisiensi penggunaan lahan, dan keuntungan usahatani secara tumpangsari pada lahan Ultisol.

4. Alternatif rekomendasi teknis sistem tumpangsari jagung dan kacang tanah pada lahan suboptimal. 5. Umpan balik dari stakeholders dan petani

pengguna dalam rangka percepatan penyebarluasan inovasi teknologi.

6. Prosedur : Lahan suboptimal yang digunakan dalam pengkajian ini adalah lahan kering masam. Pengkajian dilaksanakan di Kabupaten Bengkulu Tengah. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan 5 ulangan. Luas plot berkisar 1000-1250 m2. Perlakuan terdiri atas 4

(9)

varietas Lokal yang ditumpangsarikan dengan jagung. Masing-masing perlakuan diulang 5 kali. Petani kooperator sebanyak 5 orang berperan sebagai ulangan.

Amelioran yang diberikan adalah pupuk kandang 2.5 ton/ha dan kapur pertanian (dolomit) 0.5 ton/ha. Untuk pupuk disesuaikan dengan kebutuhan tanaman. Kacang tanah ditambahkan pupuk Urea 75 kg/ha, SP-36 75 kg/ha dan KCl 75 kg/ha. Untuk tanaman jagung ditambahkan pupuk urea 300 kg/ha, SP-36 100 kg/ha dan KCl 100 kg/ha.

Data agronomi dianalisa dengan analisis of variant (ANOVA) dan uji lanjut dengan LSD. Selama pengkajian dilakukan pengamatan terhadap komponen pertumbuhan, komponen hasil, sifat fisik dan kimia tanah, dominansi jenis gulma, tingkat serangan OPT dan Land Equivalent Ratio (LER).

7. Capaian :

8. Manfaat : Pemanfaatan lahan suboptimal untuk pertanaman jagung dan kacang tanah dengan penggunaan varietas yang sesuai dan pemupukan yang spesifik lokasi. Produktivitas jagung dan kacang tanah yang optimal dapat tercapai dengan pengelolaan hara dan pemilihan varietas yang tepat.

9. Dampak : Pengembangan jagung dan kacang tanah di lahan suboptimal dapat menyumbangkan produksi secara signifikan di Provinsi Bengkulu. Peningkatan produksi akan berdampak pada peningkatan pendapatan petani dan mendukung target swasembada jagung. Lahan kering masam dapat dimanfaatkan untuk penanaman dan produksi pangan, jagung ataup[un kacang tanah, sehingga mampu mendukung terwujudnya ketahanan, kemandirian dan bahkan kedaulalatan pangan pada masa depan. Budidaya tumpangsari dapat menjadi alternative untuk menjaga kelestarian/konservasi lahan dengan tetap memberikan keuntungan ataupun pendapatan yang layak bagi petani. Hal ini dapat menahan atau mengurangi konversi lahan dari lahan pangan ke sektor perkebunan khususnya untuk komoditas kelapa sawit dan karet.

10 Jangka Waktu : 1 (satu) tahun

(10)

Summary

1. Title : Utilization of of acidic Dryland with Intercropping Peanut and Corn in Bengkulu

2. Working Unit : Institute for Agricultural Technology (AIAT) Bengkulu 3. Objectives : 1. Determine the appropriate varieties of peanut

intercropped with maize in acidic dryland (Ultisol) specific locations in the province of Bengkulu 2. Evaluate the effectiveness of the addition of

ameliorant on Ultisol soil on the growth and yield of intercropped.

3. Increasing productivity, efficiency of land use, and the advantages of farming land intercropped on Ultisol.

4. Obtain alternative technical recommendations intercropping system of peanut and corn at acidic dryland.

5. Getting feedback from stakeholders and users in order to accelerate the farmer dissemination of technological innovation.

4. Output : 1. High yielding varieties appropriate for peanut intercropped with maize on dry land sour (Ultisol) specific locations in the province of Bengkulu 2. The level of effectiveness of the addition of

ameliorant on Ultisol soil on the growth and yield of intercropped.

3. Increased productivity, efficient use of land, and farm profit intercropped on Ultisol soil.

4. Alternative technical recommendation system corn and peanut intercropping on suboptimal land.

5. Feedback from stakeholders and users in order to accelerate the farmer dissemination of technological innovation.

6. Prosedur : Land suboptimal used in this study is the acidic dryland. Assessment carried out in the district of Central Bengkulu. The experimental design used was a complete randomized block design with 5 replications. Plot were range 1000 to 1250 m2/plot. The treatment consists of four varieties are varieties Talam, Tuban, Kancil and Local varieties intercropped with corn. Each treatment was repeated 5 times. Farmer cooperators as many as 5 people act as replicates.

(11)

agricultural lime (dolomite) 0.5 tonnes / ha. For fertilizer tailored to the needs of the plant. Peanuts added urea 75 kg / ha, SP-36 75 kg / ha and KCl 75 kg / ha. For the corn crop was added urea to 300 kg / ha, SP-36 100 kg / ha and KCl 100 kg / ha. Agronomic data were analyzed by analysis of variants (ANOVA) and continued with LSD test. During the assessment carried out observations of the components of growth, yield components, physical and chemical properties of the soil, weed species dominance, the level of pest attacks and Land Equivalent Ratio (LER).

7. Achievement: :

8. Benefits : The use of suboptimal land for planting corn and peanuts with the use of suitable varieties and site-specific fertilization. Productivity of maize and peanuts can be achieved with optimal nutrient management and selection of appropriate varieties. 9. Impact : Development of maize and peanuts in land

suboptimal production can contribute significantly in the province of Bengkulu. The increase in production will have an impact on increasing the income of farmers and support self-sufficiency target corn. Sour dry land can be utilized for the cultivation and production of food, corn, peanuts, so as to support the creation of resilience, self-reliance and food soverignity even in the future. Intercropping cultivation can be an alternative to preserve / conserve land while providing a decent income or profits for farmers. It can resist or reduce the conversion of land from food land to the plantation sector, especially for palm oil and rubber.

10 Period : 1 (one) year

(12)

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Di Indonesia, penyebaran lahan kering masam cukup luas, terutama pada wilayah beriklim basah seperti Sumatera, Kalimantan dan Papua. Menurut Hidayat dan Mulyani (2002) luas lahan kering di Pulau Sumatera mencapai 33,54 juta ha yang terdiri atas 28,57 juta ha lahan masam dan 4,96 juta ha lahan tidak masam. Lahan kering di Provinsi Bengkulu mencapai 4,57 juta ha yang terdiri atas 3,44 juta ha lahan masam dan 1,13 juta ha lahan tidak masam. Luas lahan kering di Provinsi Bengkulu yang memiliki potensi untuk sektor pertanian seluas 796.800 ha (BPS Provinsi Bengkulu, 2010).

Lahan kering masam, potensial untuk pengembangan jagung dan kacang tanah di Provinsi Bengkulu. Sasaran luas tanam jagung dan kedelai di Provinsi Bengkulu pada tahun 2014 cukup banyak, masing-masing adalah 26.997 ha dan 7.471 ha (Dinas Pertanian Provinsi Bengkulu, 2013).

Ultisol merupakan salah satu jenis tanah yang mempunyai sebaran cukup luas di Provinsi Bengkulu. Pada umumnya Ultisol berwarna kuning kecoklatan hingga merah. Pada klasifikasi lama, Ultisol diklasifikasikan sebagai Podsolik Merah Kuning (PMK) (Prasetyo dan Suriadikarta, 2006). Lahan ini mempunyai potensi yang tinggi untuk pengembangan pertanian lahan kering. Untuk pengembangan tanaman pangan, termasuk jagung dan kacang tanah, perlu pengelolaan yang baik karena tanah Ultisol mempunyai sifat yang dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Beberapa permasalahan umum dari tanah Ultisol adalah kemasaman tanah tinggi (pH rata-rata < 4,5), kejenuhan Al tinggi, miskin kandungan hara makro terutama P, K, Ca, dan Mg, dan kandungan bahan organik rendah. Untuk mengatasi permasalahan tersebut dapat diterapkan teknologi pengapuran, pemupukan P dan K, dan penambahan bahan organik.

Penambahan amelioran (kapur dan bahan organik), secara teknis dapat mengatasi permasalahan pertumbuhan dan perkembangan tanaman pada lahan Ultisol. Hal ini menimbulkan permasalahan baru yang disebabkan oleh rendahnya tingkat pengetahuan, keterampilan dan pembiayaan petani dalam pengadaan dan

(13)

pembelian amelioran yang cukup besar. Inovasi teknologi berpeluang untuk diadopsi oleh petani apabila teknologi yang diintroduksikan memiliki sifat-sifat sebagai berikut:

1. Bermanfaat bagi petani secara nyata.

2. Lebih unggul dibandingkan dengan teknologi yang telah ada.

3. Bahan, sarana, alat mesin, modal dan tenaga untuk mengadopsi teknologi tersedia.

4. Memberikan nilai tambah dan keuntungan ekonomi. 5. Meningkatkan efisiensi dalam berproduksi.

6. Bersifat ramah lingkungan dan menjamin keberlanjutan usaha pertanian (Kartono, 2009).

Dari sisi petaninya sendiri, mereka juga mempertimbangkan beberapa faktor sebelum mengadopsi teknologi. Faktor-faktor yang dipertimbangkan oleh petani diantaranya adalah:

1. Ketersediaan pasar hasil panen dengan harga pasar yang layak serta keuntungan yang baik.

2. Kepastian diperolehnya hasil panen dengan resiko kegagalan yang minimal. 3. Penerapan teknologi tidak sulit bagi petani.

4. Petani mampu menyediakan modal untuk mengadopsi teknologi. 5. Memberikan nilai tambah dan keuntungan nyata bagi petani.

Berdasarkan kenyataan tersebut maka diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif, yaitu tidak hanya dari aspek teknik pengelolaan sumberdaya lahan tetapi juga dari aspek teknik budidaya tanaman dan rekayasa sosial. Dari aspek teknik budidaya dapat ditempuh melalui dua pendekatan yaitu melalui pemilihan varietas (jagung dan kacang tanah) yang adaptif atau toleran pada kondisi lingkungan spesifik (lahan Ultisol) dan penerapan sistem tumpangsari.

Varietas yang toleran terhadap cekaman lingkungan, misalnya keasaman, maka varietas tersebut mampu tumbuh dan berkembang pada pH yang relatif rendah serta mampu memanfaatkan dan respon terhadap unsur hara yang tersedia/ditambahkan. Konsekuensi logis dari ketepatan dalam pemilihan varietas diantaranya adalah

(14)

Di samping pemilihan varietas, sistem tumpangsari juga diperlukan dalam upaya meningkatkan produktivitas dan efisiensi penggunaan lahan. Tumpangsari (intercropping) adalah penanaman dua atau lebih komoditas tanaman secara simultan pada lahan yang sama (Whigham dan Bharati, 1983). Terdapat beberapa tipe tumpangsari yang diantaranya adalah tumpangsari jalur (Strip-Intercropping), tumpang gilir (Relay-Intercropping), dan tumpangsari berlanjutan (Sequantial-Intercropping). Keuntungan dari tumpangsari diantaranya adalah: (1). Mengurangi resiko kegagalan panen (2). Meningkatkan efisiensi penggunaan lahan (3). Menciptakan stabilitas biologis yang dapat menekan serangan hama dan penyakit tanaman (4) Meningkatkan produktivitas dan pendapatan usahatani (Zuchri, 2007).

Tanaman jagung (Zea mays L) merupakan komoditas palawija yang paling banyak diusahakan di Provinsi bengkulu dan merupakan tanaman pokok kedua setelah padi. Kebutuhan jagung selalu meningkat dari tahun ke tahun. Meningkatnya permintaan jagung disebabkan banyaknya permintaan untuk pakan, pangan dan industri.

Untuk dapat melaksanakan pola tanam tumpangsari secara baik perlu diperhatikan beberapa faktor lingkungan yang mempunyai pengaruh diantaranya ketersediaan air yang ada selama pertumbuhan. Pola tanam tumpangsari sebaiknya dipilih dan dikombinasikan antara tanaman yang mempunyai perakaran relatif dalam dan tanaman yang mempunyai perakaran relatif dangkal.

Rekayasa sosial diperlukan, agar teknologi yang disampaikan dapat dipahami, diadopsi dan terdifusi secara luas. Perlu disampaikan bahwa peningkatan pendapatan dapat dicapai melalui pengelolaan sumberdaya lahan dan tanaman yang baik serta permodalan yang cukup.

Perpaduan antara pendekatan dari aspek penglolaan sumberdaya lahan, budidaya tanaman dan rekayasa sosial diharapkan dapat menghasilkan alternatif rekomendasi pemanfaatan lahan kering masam spesifik lokasi berbasis tumpangsari jagung dan kacang tanah. Media penyampaian informasi teknologi memegang peranan penting dalam percepatan proses adopsi. Diseminasi teknologi mutlak diperlukan agar hasil pengkajian dapat diadopsi oleh petani.

(15)

1.2 Dasar Pertimbangan

Kebutuhan pangan akan terus bertambah seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Di sisi lain lahan yang subur semakin berkurang yang disebabkan oleh alih fungsi lahan baik ke subsektor perkebunan maupun di luar sektor pertanian. Lahan Ultisol merupakan salah satu alternatif dalam pengembangan dan peningkatan produksi jagung dan kacang tanah di Provinsi Bengkulu. Lahan ini tergolong lahan marginal dengan kendala utama kemasaman tanah, defisiensi hara P dan K serta keracunan unsur tertentu , seperti Al.

Penambahan amelioran (kapur dan bahan organik), secara teknis dapat mengatasi permasalahan pertumbuhan dan perkembangan tanaman pada lahan Ultisol. Hal ini menimbulkan permasalahan baru yang disebabkan oleh rendahnya tingkat pengetahuan, keterampilan dan pembiayaan petani dalam pengadaan dan pembelian amelioran yang cukup besar.

Diperlukan pendekatan terpadu dari aspek teknik pengelolaan sumberdaya lahan, aspek teknik budidaya tanaman dan rekayasa sosial. Dari aspek teknik budidaya dapat ditempuh melalui dua pendekatan yaitu melalui pemilihan varietas (jagung dan kacang tanah) yang adaptif atau toleran pada kondisi lingkungan spesifik (lahan Ultisol) dan penerapan sistem tumpangsari.

Rekayasa sosial diperlukan, agar teknologi yang disampaikan dapat dipahami, diadopsi dan terdifusi secara luas. Perlu disampaikan bahwa peningkatan pendapatan dapat dicapai melalui pengelolaan sumberdaya lahan dan tanaman yang baik serta permodalan yang cukup.

1.3 Tujuan

1. Menentukan varietas kacang tanah yang tepat untuk ditumpangsarikan dengan jagung pada lahan kering masam (Ultisol) spesifik lokasi di Provinsi Bengkulu

2. Mengevaluasi efektifitas penambahan amelioran pada lahan Ultisol terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman yang ditumpangsarikan.

(16)

4. Mendapatkan alternatif rekomendasi teknis sistem tumpangsari jagung dan kacang tanah pada lahan suboptimal.

5. Mendapatkan umpan balik dari stakeholders dan petani pengguna dalam rangka percepatan penyebarluasan inovasi teknologi.

1.4 Keluaran yang diharapkan

1. Varietas unggul kacang tanah yang tepat untuk ditumpangsarikan dengan jagung pada lahan kering masam (Ultisol) spesifik lokasi di Provinsi Bengkulu.

2. Tingkat efektifitas penambahan amelioran pada lahan Ultisol terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman yang ditumpangsarikan.

3. Peningkatan produktifitas, efisiensi penggunaan lahan, dan keuntungan usahatani secara tumpangsari pada lahan Ultisol.

4. Alternatif rekomendasi tumpangsari jagung dan kacang tanah pada lahan suboptimal.

5. Umpan balik dari stakeholders dan petani pengguna dalam rangka percepatan penyebarluasan inovasi teknologi.

1.5 Perkiraan Dampak

Pengembangan jagung dan kacang tanah di lahan suboptimal dapat menyumbangkan produksi secara signifikan di Provinsi Bengkulu. Peningkatan produksi akan berdampak pada peningkatan pendapatan petani. Lahan kering masam dapat dimanfaatkan untuk penanaman dan produksi pangan, jagung ataup[un kacang tanah, sehingga mampu mendukung terwujudnya ketahanan, kemandirian dan bahkan kedaulalatan pangan pada masa depan. Budidaya tumpangsari dapat menjadi alternative untuk menjaga kelestarian/konservasi lahan dengan tetap memberikan keuntungan ataupun pendapatan yang layak bagi petani. Hal ini dapat menahan atau mengurangi konversi lahan dari lahan pangan ke sektor perkebunan khususnya untuk komoditas kelapa sawit dan karet.

(17)

II. TINJAUAN PUSTAKA

Istilah lahan kering seringkali digunakan untuk padanan upland, dryland atau unirrigated land. Kedua istilah terakhir mengisyaratkan penggunaan lahan untuk pertanian tadah hujan. Upland merupakan lahan yang berada di suatu wilayah berkedudukan lebih tinggi yang diusahakan tanpa penggenangan air seperti lahan padi sawah (Notohadinegoro, 2000). Lahan kering adalah hamparan tanah yang tidak pernah digenangi atau tergenang air pada sebagian besar waktu dalam setahun (Adimihardja et al., 2000 dalam Idjudin dan Marwanto, 2008). Secara umum, berdasarkan penggunaan lahannya untuk pertanian, lahan kering dikelompokkan menjadi pekarangan, tegal/kebun/ladang huma, padang rumput, lahan sementara tidak diusahakan, lahan untuk kayu-kayuan dan perkebunan (BPS Provinsi Bengkulu, 2010).

Berdasarkan kemasaman tanahnya, secara umum lahan kering dapat dibedakan menjadi lahan kering masam dan tidak masam. Lahan kering masam dicirikan dengan pH < 5.0 dan kejenuhan basa < 50 %. Tanah-tanah yang umumnya mempunyai pH masam di lahan kering adalah Ordo Entisols, Inceptisols, Ultisols dan Oxisols yang beriklim basah dengan curah hujan tinggi (Kelembaban udik). Lahan kering yang tidak masam umumnya terdiri dari Ordo Inceptisols, Vertisols dan Alfisols yang berada pada daerah beriklim sedang (regim kelembaban ustik), (Hidayat dan Mulyani, 2002).

Lahan kering masam umumnya memiliki kesuburan rendah disebabkan kadar bahan organik rendah dan status hara makro (N. P, K, S, Ca, Mg) rendah. Akibatnya, produktivitas tanah juga rendah (suboptimal). Jenis tanah pada lahan kering masam didominasi oleh Ultisol dan Oxisol. Tanah Ultisol dan Oxisol merupakan tanah pertanian utama di Indonesia terutama di lahan kering. Tanah Ultisol menempati area sekitar 49.794 juta ha (24.3%) sedangkan oxisol sekitar 14.1 juta ha (7.5 %) (Puslittanak, 2000 dalam Nursyamsi, 2003).

(18)

tumpuan harapan di masa mendatang. Meskipun dijumpai beberapa kendala biofisik lahan, namun peluang pengembangan pertanian di lahan kering masam masih besar.

Idealnya jagung dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pada kondisi tanah yang subur, pencahayaan penuh dan cukup air. Jagung juga dapat tumbuh dan berkembang pada lahan masam. Varietas jagung ini merupakan salah satu varietas yang toleran dan adaptif pada lahan masam. Keunggulan varietas ini diantaranya adalah: mempunyai potensi hasil yang tinggi (8.5 ton/ha pipilan kering), kelobot tertutup baik 98.5 %, tahan penyakit bulai dan karat daun, serta adaptif terhadap lahan masam.

Kacang tanah paling adaptif di lahan masam dibandingkan dengan tanaman pangan lainnya (Makmur et al., 1996, Trustinah et al., 2008). Kacang tanah dapat dibudidayakan di lahan kering maupun di lahan sawah setelah padi. Kacang tanah dapat ditanam pada tanah yang bertekstur ringan maupun agak berat, yang penting tanah tersebut dapat mengatuskan air sehingga tidak menggenang. Tanah yang paling sesuai adalah tanah yang bertekstur ringan, drainase baik, remah dan gembur. Kacang tanah masih dapat berproduksi baik pada tanah yang ber pH rendah sampai tinggi. Pada pH tanah tinggi (7,5 – 8,5 ) kacang tanah sering mengalami klorosis, yakni daun-daun menguning (Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2011). Kendala peningkatan produksi kacang tanah pada akhir-akhir ini adalah dampak perubahan iklim yaitu kekeringan dan penyakit bercak daun dan karat daun.

Banyak varietas kacang tanah yang cocok untuk dibudidayakan pada lahan kering masam. Varietas Tuban memiliki karakteristik dua biji perpolong, dengan potensi hasil 3.2 t/ha polomg kering, umur panen 90 – 95 hari, biji kecil (35-38 g/100 biji) , adaptif di lahan kering alfisol, agak toleran kekeringan, tahan penyakit layu, agak peka penyakit daun. Varietas talam memiliki karakteristik dua biji perpolong, potensi hasil 3.2 t/ha polong kering, umur panen 90-95 hari, biji sedang (50.3 gr/100 biji), toleran jamur A.Flavus, agak tahan layu, karat dan bercak daun, adaptif lahan kering masam. Varietas kancil memiliki karakteristik dua biji perpolong, potensi hasil 3.5 t/ha polong kering, umur panen 90-95 hari, biji kecil (35-40 g/100 biji), toleran klorosis daun, tahan bakteri layu, agak tahan bercak daun, karat dan jamur A.Flavus.

(19)
(20)

III. METODOLOGI

3.1. Lokasi dan Waktu

Kegiatan pengkajian dilaksanakan dari bulan Januari sampai Desember 2014. Lahan yang digunakan adalah kering masam di Desa Pasar Pedati, Sungai Suci, Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah. Kabupaten Bengkulu Tengah memiliki luas wilayah 112.394 ha yang atas dari 10 kecamatan. Berdasarkan pola pengembangannya pertanian lahan kering di Kabupaten Bengkulu Tengah dapat dibedakan menjadi 2 pola, yaitu pertanian lahan kering berbasis tanaman pangan dan pertanian lahan kering berbasis tanaman perkebunan (wanatani dan monokultur). Sistem pertanian lahan kering, tanaman pangan dan perkebunan seluas 31.598 ha. Pengembangan kawasan budidaya di Kabupaten Bengkulu Tengah sebaiknya mempertimbangkan kondisi biofisik dan kimia tanah serta iklim. Mengingat sebagian besar (63,78%) lahan kering di Kabupaten Bengkulu Tengah mempunyai bentuk wilayah bergelombang, berbukit dan bergunung dengan lereng 15-40%, maka teknik konservasi tanah perlu diupayakan. Konservasi tanah pada lahan pertanian tidak hanya terbatas pada usaha untuk mengendalikan erosi atau aliran permukaan, tetapi termasuk usaha untuk mempertahankan kesuburan tanah.

3.2. Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan pada percobaan ini diantaranya adalah pupuk kimia, pestisida (herbisida, insektisida, dan fungisida), benih jagung dan kacang tanah (Varietas Talam, Tuban, Kancil dan Lokal). Peralatan yang diperlukan dalam percobaan ini adalah pH meter, alat pengambil sampel tanah, perangkat analisis tanah, timbangan, timbangan analitik, ATK (mistar, handcounter, kalkulator, pena, amplop dll), plastik, cangkul, tugal, ember, caplak, handsprayer, tali, dan meteran. Benih kacang tanah diperoleh dari Balai Penelitian Tanaman Kacang kacangan dan umbi-umbian Malang dan benih jagung merupakan benih jagung hibirda. Varietas kacang tanah maupun jagung yang digunakan pada kegiatan ini merupakan varietas yang tahan terhadap penyakit layu bakteri, agak tahan karat daun, agak tahan bercak daun

(21)

dan tahan A. Flavus (hingga 3 bulan setelah panen) serta agak tahan lahan masam (pH 4,5– 5,6) dengan kejenuhan Al 30–35%.

3.3. Ruang Lingkup

Pengkajian pengelolaan lahan kering masam untuk mendukung swasembada jagung dan kacang tanah di Provinsi Bengkulu dilaksanakan pada bulan Januari -Desember 2014. Pengkajian lapangan dilakukan dalam bentuk percobaan lapangan dan survey. Pengkajian dilakukan di lahan petani dan melibatkan petani sebagai pelaksana, dengan luasan 4 ha. Percobaan lapangan yang dilakukan meliputi varietas, penggunaan amelioran, tumpangsari, struktur tanah, fanalisis usaha tani. Survey efektifitas media informasi dalam percepatan pemahaman dan adopsi teknologi (ameliorasi dan tumpangsari) dilakukan pada kelompok petani kooperator dan di luar kelompok petani kooperator.

3.4. Rancangan Percobaan

Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan 5 ulangan. Perlakuan terdiri atas 4 perlakuan yaitu varietas kacang tanah (Varietas Talam, Tuban, Kancil dan Lokal) yang ditumpangsarikan dengan jagung. Masing masing perlakuan diulang 5 kali. Petani kooperator sebanyak 5 orang berperan sebagai ulangan. Luas plot pengkajian berukuran 1.000-1.250 m2.

Amelioran yang diberikan adalah: pupuk kandang 2.5 ton/ha dan kapur pertanian (dolomit) 0.5 ton/ha. Untuk pupuk disesuaikan dengan kebutuhan tanaman. Cara pemberian dolomit pada larikan barisan tanaman pada setiap kali tanam dapat mengurangi dosis pemberiannya menjadi antara 500-1000 kg/ha. Pemakaian dolomit CaMg atau (CO3)2 juga dapat menjawab permasalahan pH dan defisiensi unsur hara. Keuntungannya adalah selain adanya unsur Ca juga terdapat unsur Mg yang sangat dibutuhkan tanaman untuk pembentukan klorofil.

Dosis pupuk untuk kacang tanah adalah Urea 75 kg/ha, SP36 75 kg dan KCl 75 kg/ha, sedangkan untuk tanaman jagung ditambahkan pupuk urea 300 kg/ha, SP-36 100 kg dan KCl 100 kg/ha.

(22)

3.5. Pelaksanaan

Pelaksanaan Kegiatan adalah sebagai berikut: (1). Pupuk kandang dan kapur diaplikasikan bersamaan dengan waktu olah tanah atau pada saat tanam (2). Kacang tanah ditanam 7-10 hari lebih dulu dari jagung. Strip-Intrecropping diaplikasikan dalam percobaan lapang. Dua jalur jagung diikuti dengan 8 jalur kacang tanah. Jarak tanam untuk kacang tanah adalah 40 x 15 cm, sedangkan jagung 40 x 40 cm. (3). Pupuk diberikan sesuai dosis. Semua pupuk pada tanaman kacang tanah diberikan pada saat tanaman berumur 10-15 hari, dalam alur 5 – 7 cm dari baris tanaman kemudian ditutup tanah. Untuk jagung, semua dosis P dan K, serta 1/3 dosis N diberikan pada saat tanaman berumur 10-15 hari, 2/3 dosis N pada umur 35-40 hari.

3.6. Plot Tumpangsari Jagung Dan Kacang Tanah

X X X X √ √ X X X X X X X X √ √ X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X √ √ X X X X X X X X √ √ X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X √ √ X X X X X X X X √ √ X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X √ √ X X X X X X X X √ √ X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X √ √ X X X X X X X X √ √ X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X X √ √ X X X X X X X X √ √ X X X X Keterangan: X = kacang tanah (40 x 15 cm) √= jagung ( 40 x 40 cm) 3.7. Parameter yang Diukur

1. Dominansi jenis gulma pada saat sebelum pembersihan lahan.

2. Parameter tanaman Jagung yang diamati adalah komponen pertumbuhan vegetatif (tinggi tanaman, persen pertumbuhan), komponen hasil (jagung : panjang tongkol, lingkar tongkol, berat 1000 biji, hasil t/ha kacang tanah:

(23)

jumlah polong/tan, jumlah biji/polong, jumlah polong/tanaman, polong rusak, berat 1000 biji, hasil t/ha).

3. Sifat fisik dan kimia tanah pada saat sebelum tanam dan setelah panen meliputi analisa unsur makro dan mikro tanah (N, P, K, Ca, Mg, Na, C-Organik, pH, P dan K Potensial, Tekstur, Al-dd dan H-dd)

4. Nilai Kesetaraan Lahan (NKL) dihitung dengan penentuan hasil relatif dari tiap tanaman yang ditumpangsarikan dengan hasil tanaman tersebut secara monokultur (Whigham dan Bharati, 1983)

Ia Ib NKL= --- +

---Sa Sb

(I = intercrop yield; S= sole-crop yield; a dan b= component crop)

5. Analisis usaha tani dihitung berdasarkan produksi (hasil), harga input produksi, harga output, jumlah produk sampingan, harga produk sampingan, dll.

3.8. Analisis Data

Data pertumbuhan dan produktivitas tanaman kedelai yang terkumpul akan dianalisis dengan analisis of variant (ANOVA) dan uji lanjut dengan Least Significant Different (LSD) (Gomez dan Gomez, 1984). Data farm record keeping ditabulasi dan dianalisis dengan analisis finansial sederhana B/C ataupun R/C ratio.

(24)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Koordinasi Internal dan Antar Instansi

Koordinasi internal dilaksanakan secara rutin dalam bentuk pertemuan tim dalam perencanaan kegiatan Pemanfaatan lahan kering masam dengan tumpangsari jagung dan kacang tanah di Desa Pasar Pedati, Kecamatan Pondok Kelapa, Kabupaten Bengkulu Tengah. Dalam pertemuan rutin yang dilaksanakan tiap bulannya dibahas mengenai kemajuan kegiatan, hambatan dan kendala pada pelaksanaan kegiatan, tingkat serapan dana, pencapaian dan rencana tindak lanjut pada kegiatan. Koordinasi antar instansi terkait di tingkat Kabupaten dilaksanakan dalam bentuk kunjungan dan pemaparan maksud kegiatan kepada stakeholders (Dinas Pertanian dan Badan Pelaksana Penyuluhan wilayah Kabupaten Bengkulu Tengah). Koordinasi dengan dinas terkait ini dimaksudkan untuk menyamakan persepsi, memperoleh informasi mengenai kondisi agroekosistem wilayah pengkajian, dan juga ketersediaan sarana produksi yang diperlukan untuk mendukung kegiatan pengkajian.

4.2. Dominansi Jenis Gulma

Gulma merupakan tumbuhan yang kehadirannya tidak diharapkan. Gulma termasuk dalam organisme pengganggu tanaman (OPT). Identifikasi gulma awal perlu dilakukan untuk menentukan tindakan pengendalian. Masalah utama pengelolaan tanaman di lahan kering adalah ketersediaan air yang tidak menentu dan gangguan gulma. Gulma pada pertanaman kacang tanah dapat menghambat pertumbuhan dan penurunan hasil. Penurunan hasil kacang tanah akibat gulma dapat mencapai sekitar 47 % (Moenandie et al. 1996), sedangkan pada jagung mencapai 39.8 % (Bangun et al. 1997). Pengendalian gulma dimaksudkan untuk menekan populasi gulma agar tidak mengganggu tanaman dan menurunkan hasil. Setiap tanaman memiliki waktu kritis berbeda-beda terhadap gangguan gulma. Menurut Zindani dalam Jatmiko et al. (2002), tanaman kacang tanah mengalami masa kritis minimal 42 hari perta,a daur hidupnya dan jagung mengalami masa kritis minimal 21 hari pertama daur hidupnya. A Identifikasi dominansi gulma awal pada lahan petani kooperator dapat dilihat pada Tabel 1.

(25)

Tabel 1. Identifikasi dominansi gulma awal

No Jenis Gulma Dominansi (%)

1 Polygonum 13.33 2 Axonus compresus 6.67 3 Cynodum doctylow 13.33 4 Poa annua 20.10 5 Fallopia convolvulus 13.33 6 Mimosa Pudicalinn 13.33 7 Chrysopogon acicilatus 13.33 8 Cyrtococcum accresiens 6.67

Gulma yang dominan adalah poa annua yang merupakan salah satu keluarga rumputan yang berumur pendek, ditemukan pada berbagai macam tipe lahan, berbunga sepanjang tahun (tabel 1). Tanaman ini dikenal sebagai gulma tahunan yang sering ditemukan pada lahan terbengkalai maupun lahan pertanian. Gulma ini cukup sulit dikontrol karena tanaman ini akan menghasilkan beberapa ratus benih dalam satu musim dan benihnya dapat menjadi dorman selama beberapa tahun sebelum berkecambah. Karakteristik untuk mengenali tanaman ini adalah batangnya yang menjulur tinggi daripada keluarga rumputan lainnya. Salah satu metode pengendalian yang dapat dilakukan adalah dengan cara menggunakan herbisida pra tumbuh untuk mencegah benih berkecambah. Cara lain adalah dengan penggunaan herbisida yang selektif terhadap poa annua maupun penggunaan herbisida berspektrum luas.

Alternatif pengendalian gulma secara umum dapat dilakukan melalui cara kimia, mekanik dan juga kultur teknik. Cara kimia lebih diarahkan pada kepemilikan lahan luas. Cara yang paling banyak dilakukan petani adalah cara mekanik dan kultur teknis, karena kepemilikan lahan relatif sempit.

4. 3. Sistem Tumpang Sari Jagung dan Kacang Tanah 4.3.1 Nilai Kesetaraan Lahan (NKL)

Dihitung dengan penentuan hasil relatif dari tiap tanaman yang ditumpangsarikan dengan hasil tanaman tersebut secara monokultur (Whigham dan Bharati, 1983)

(26)

Ia Ib LER= --- +

---Sa Sb

(I = intercrop yield; S= sole-crop yield; a dan b= component crop)

Tumpang sari merupakan salah satu bentuk dari program intensifikasi pertanian alternatif yang tepat untuk memperoleh hasil pertanian yang optimal. Keuntungan pola tanam tumpangsari selain diperoleh frekuensi panen lebih dari satu kali dalam satu tahun, juga berfungsi untuk menjaga kesuburan tanah. Pola tanam tumpangsari dalam implementasinya harus dipilih dua atau lebih tanaman yang cocok sehingga mampu memanfaatkan ruang dan waktu yang seefisien mungkin serta dapat menurunkan pengaruh kompetitif sekecil-kecilnya (Prajitno, 1988). Francis (1986) menyatakan bahwa tingkat produktivitas tanaman tumpangsari lebih tinggi dengan keuntungan panen 20 – 60 % dibandingkan pola tanam monokultur. Untuk mengevaluasi keuntungan atau kerugian yang ditimbulkan dari pola tanam tumpangsari dengan monokultur dapat dihitung dari Nilai Kesetaraan Lahan (NKL). Nilai NKL ini menggambarkan suatu areal yang dibutuhkan untuk total produksi monokultur yang setara dengan satu ha produksi tumpang sari.

Tabel 2. Nilai rata-rata hasil perhitungan keseluruhan NKL tanaman kacang tanah dan jagung

No Kombinasi Perlakuan NKL

1. Tumpang sari jagung dan talam 1.99 2. Tumpang sari jagung dan tuban 2.54 3. Tumpang sari jagung dan kancil 1.94 4. Tumpang sari jagung dan lokal 1.77

Dari tabel 1 dapat dilihat bahwa NKL tertinggi terdapat pada kombinasi tumpangsari jagung dengan kacang tanah varietas Tuban yakni sebesar 2.54 artinya NKL>1 ini menunjukkan bahwa perlakuan tumpangsari jagung dengan varietas Tuban memberikan hasil tertinggi dibandingkan tumpangsari dengan varietas lainnya. Menurut Tharir dan Hadmadi (1984), tanaman yang sesuai untuk dimasukkan dalam pola tumpang sari adalah tanaman tipe pendek, mahkota daun kecil, tidak banyak cabang, umur genjah dan tahunan, tahan serangan hama dan penyakit, hasil tinggi.

(27)

4.3.2. Pertumbuhan Vegetatif Kacang Tanah

Di samping pemilihan varietas, sistem tumpangsari juga diperlukan dalam upaya meningkatkan produktivitas dan efisiensi penggunaan lahan. Tumpangsari (intercropping) adalah penanaman dua atau lebih komoditas tanaman secara simultan pada lahan yang sama (Whigham dan Bharati, 1983). Kacang tanah merupakan tanaman yang memiliki daya adaptasi luas, dapat tumbh di lahan kering, lahan sawah maupun lahan bukaan baru/marjinal (Adisarwanto et al., 1996). Luas panen dan produksi kacang tanah terus meningkat setiap tahunnya. Minat petani yang terus meningkat dalam budidaya kacang tanah harus disertai dengan penyediaan teknologi, diantaranya varietas unggul yang sesuai dengan lingkungan dan permintaan pasar. Pada penanaman tumpangsari jagung dan kacang tanah kali ini digunakan varietas yang tahan cekaman pada lahan kering masam yakni varietas Talam, Tuban dan Kancil yang diperoleh dari Balai Penelitian Kacang dan Tanaman Umbi-umbian dengan pembandingnya varietas lokal. Sistem tumpangsari jagung dan kacang tanah diharapkan dapat meningkatkan produktivitas lahan. Hasil penelitian Hoof dalam Ardisarwanto et al. (1993) menginformasikan bahwa sistem tumpangsari jagung dan kacang tanah di Jawa Timur dengan populasi kacang tanah 95 % dan jagung 53 % dari populasi tunggalnya menghasilkan rata-rata polong kacang tanah sebesar 80% dan jagung 43 % dari pertanaman tunggalnya.

Tabel 3. Data pertumbuhan vegetatif kacang tanah, MK 2014

Varietas Tinggi Tanaman (cm) Jumlah Cabang/rumpun 28 HST 42 HST 56 HST 84 HST 28 HST 42 HST 56 HST 84 HST Talam 15.76a 22.83a 36.24a 48.37ab 6.20a 7.26bc 7.53a 7.81a Tuban 15.75a 22.02a 37.19a 48.96a 6.22a 6.70c 7.70a 7.57a Kancil 16.49a 23.33a 35.68a 42.25bc 6.34a 7.67ab 7.36a 7.19a Lokal 12.72a 18.09b 29.73b 39.96c 6.19a 8.04a 9.17a 8.30a

Hasil pengkajian menunjukkan bahwa pada awal fase pertumbuhan (28-42 HST) semua varietas mempunyai tinggi tanaman yang hampir sama. Pada umur 28 HST tinggi tanaman berkisar antara 12.72 cm-16.49 cm. Pada umur tanaman 42 HST tinggi tanaman berkisar antara 18.09-23.33 cm. Memasuki fase generatif pada umur tanaman 56 HST ketinggian tanaman antar varietas menunjukkan perbedaan yang

(28)

tanaman berkisar antara 35.68-37.19 cm. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa pada akhir pertumbuhan, varietas Tuban (48.96 cm) dan Talam (48.37 cm) mempunyai tinggi tanaman yang lebih tinggi dibandingkan dengan varietas Kancil (42.25 cm) dan Lokal (39.96 cm). Tinggi tanaman merupakan faktor penting yang juga dipengaruhi oleh lingkungan (tanah dan iklim) dan juga dipengaruhi oleh penyiangan gulma. Penyiangan gulma yang sering dilakukan memberikan tanggapan postif terhadap tinggi tanaman.

Hasil pengkajian menunjukkan bahwa pada awal fase pertumbuhan (28-42 HST) semua varietas mempunyai jumlah cabang/rumpun yang hampir sama. Pada umur 28 HST jumlah cabang/rumpun berkisar antara 6.19-6.34. Pada umur tanaman 42 HST jumlah cabang/rumpun berkisar antara 6.70-8.04 cm. Memasuki fase generatif pada umur tanaman 56 HST jumlah cabang/rumpun antar varietas menunjukkan perbedaan yang nyata, varietas lokal mempunyai jumlah cabang/rumpun yang paling banyak (9.17) dibandingkan dengan varietas Talam, Kancil dan Tuban yang memiliki jumlah cabang/rumpun antara (7.36-7.70). Hasil pengkajian menunjukkan bahwa pada akhir pertumbuhan, varietas Lokal (8.30) dan Talam (7.81) mempunyai jumlah cabang/tanaman yang lebih banyak dibandingkan dengan varietas Kancil (7.19) dan Tuban (7.57). Jumlah cabang/tanaman merupakan faktor penting yang juga dipengaruhi oleh lingkungan (tanah dan iklim).

4.3.3. Pertumbuhan Generatif Kacang Tanah

Komponen hasil kacang tanah pada semua varietas menunjukkan bahwa berat segar berangkasan yang relatif sama berkisar antara 28.99-36.22 gram/rumpun, sedangkan berat kering berangkasan setelah dijemur kurang lebih 3 hari menunjukkan perbedaan yang signifikat, berat kering berangkasan pada varietas Talam 18.74 gr/rumpun, sedangkan pada ketiga varietas lainnya berkisar antara 16.20-16.39 gram/rumpun. Tabel 4. Data komponen hasil kacang tanah sistem tumpangsari , MK 2014

Perlakuan B. segar berangkasan (gr/rumpun) Berat kering berangkasan (g/rumpun) Berat segar polong (gr/rumpun) Berat kering polong (gr/rumpun) Jumlah polong/ rumpun % polong rusak

Talam 36.22a 18.74a 29.98a 18.76a 18.44b 26.30a

Tuban 35.30a 16.20b 28.37a 18.76a 20.13b 15.13b

Kancil 32.46a 16.39b 31.52a 23.64a 24.62a 14.79b

(29)

Pada semua varietas kacang tanah, berat segar polong berkisar antara 26.51-31.52 gram/rumpun, sadangkan berat kering polong didominansi oleh varietas Kancil dengan berat 23.64 gram/rumpun. Banyaknya jumlah polong/rumpun juga didominasi oleh varietas Kancil dengan jumlah polong sebanyak 24.62 buah /rumpub diikuti oleh varietas Tuban, Lokal dan Talam. Pada persentase polong yang rusak didominansi oleh varietas Talam dengan 26.30 persen dan persentase paling kecil kerusakan pada polong terdapat pada varietas Kancil dengan persentase kerusakan polong sebesar 14.79 persen. Varietas Kancil memiliki persentase kerusakan polong karena memiliki ketahanan terhadap penyakit layu, toleran penyakit karat, bercak daun dan tahan A. Flavus serta toleran terhadap klorosis.

Pada komponen hasil jumlah biji/rumpun terlihat bahwa varietas Lokal memiliki jumlah biji paling banyak denga jumlah 33.69 biji/rumpun dibandingkan varietas lainnya namun untuk berat 1000 butir didominasi oleh varieta Talam dengan berat 510.60 gram/rumpun. Meskipun varietas Lokal memiliki jumlah biji/rumpun lebih banyak dibandingkan varietas Talam, namun varietas talam memiliki ukuran butir yang lebih besar dibandingkan varietas Lokal sehingga berat 1000 butir lebih didominasi oleh varietas Talam. Untuk komponen hasil berat kering polong terbesar didominasi oleh varietas Tuban dengan jumlah hasil polong kering 2.53 t/ha diikuti oleh varietas Talam (2.24 t/ha), Kancil (2.07 t/ha) dan Varietas Lokal 1.92 t/ha. Untuk indeks panen terbesar terdapat pada varietas kancil sebesar 49.88 persen diikuti oleh varietas Tuban, Talam dan Lokal.

Tabel 5. Data komponen hasil kacang tanah sistem tumpangsari , MK 2014

Perlakuan Jumlah

biji/rumpun Berat 1000 butir(gr) (t/ha)Hasil Indeks Panen(%)

Talam 25.44a 510.60a 2.24a 46.24a

Tuban 27.38a 499.75a 2.53a 46.43a

Kancil 25.14a 491.20a 2.07a 49.88a

Lokal 33.69a 434.8a 1.92a 42.17a

(30)

persentase polong rusak, berat kering berangksan dan berat kering polong serta jumlah polong pertanaman berkaitan erat dengan kapasitas hasil.

4.3.3 Pertumbuhan Vegetatif Jagung

Hasil pengkajian menunjukkan bahwa pada awal fase pertumbuhan (28-42 HST) semua tanaman jagung yang ditumpangsarikan dengan keempat varietas kacang tanah mempunyai persen pertumbuhan dan tinggi tanaman yang hampir sama. Pada umur 28 HST persentase pertumbuhan berkisar antara 90.50-96.40 pada semua dan tinggi tanaman berkisar antara 34.22 cm-36.74 cm. Pada umur tanaman 42 HST tinggi tanaman menunjukkan perbedaan yang cukup nyata dengan tinggi tanaman jagung tertinggi terdapat pada tanaman jagung yang ditumpangsarikan dengan varietas Lokal yakni 108.83 cm. Memasuki fase generatif pada umur tanaman 56 HST ketinggian tanaman antar perlakuan tumpangsari varietas tidak menunjukkan perbedaan yang nyata, dan tanaman jagung tidak menunjukkan pertumbuhan tinggi tanaman yang baik setelah 56 HST. Hal ini disebabkan oleh faktor lingkungan, yakni kondisi kekeringan pada lahan kering masam pada umur tanaman 42 HST dan fase awal generatif 56 HST. Tinggi tanaman merupakan faktor penting yang juga dipengaruhi oleh lingkungan (tanah dan iklim) dan juga dipengaruhi oleh penyiangan gulma. Penyiangan gulma yang sering dilakukan memberikan tanggapan postif terhadap tinggi tanaman.

Tabel 6. Data pertumbuhan vegetatif jagung

Perlakuan Tumpangsari % Tumbuh

Tinggi tanaman

14HST 28HST 56HST

Jagung denganTalam 96.40a 36.74a 95.33a 104.80a Jagung denganTuban 90.50a 35.72a 102.46a 115.86a Jagung dengan Kancil 94.10a 34.22a 89.60a 105.80a Jagung dengan Lokal 94.80a 36.08a 108.83a 122.60a

Pada tabel 5 dapat dijelaskan bahwa persen pertumbuhan jagung cukup baik pada awalnya namun pada pertumbuhan 56HST hingga panen tidak nampak pertumbuhan tinggi yang baik pada tanaman jagung. Pada lingkungan seleksi yang memiliki kejenuhan Al sedang, jagung memberikan tanggap tanaman lebih tinggi, sebaliknya pada lahan kering masam yang memiliki kejenuhan Al rendah, tanaman

(31)

memberikan respon yang kurang baik, selain itu juga disebabkan kurangnya curah hujan di daerah tersebut pada saat penanaman memasuki 56 HST.

4.3.4. Pertumbuhan Generatif Jagung

Pada pertumbuhan generatif jagung menunjukkan bahwa panjang tongkol pada tanaman jagun yang ditumpangsarikan dengan kacang tanah varietas Talam sebesar 12.54 cm. Panjang tongkol ini relatif kecil dibandingkan panjang tongkol tanaman jagung pada umumnya dikarenakan hasil yang diperoleh tidak maksimal karena kondisi lingkungan lahan kering masam yang kekeringan pada saat memasuki fase generatif. Untuk diameter tongkol jagung terbesar terdapat pada tanamana jagung yang ditumpangsarikan dengan varietas Tuban sebesar 3.45 cm.

Tabel 7. Data pertumbuhan generatif jagung

Perlakuan

Tumpangsari Tongkol (cm)Panjang Diamater(cm) Berat 1000butir (gr) Berat kering(t/ha) Jagung denganTalam 12.20ab 3.34a 208.40a 1.84b Jagung denganTuban 12.54a 3.45a 197.99a 2.35a Jagung dengan Kancil 12.25ab 3.36a 204.16a 1.83b Jagung dengan Lokal 11.79b 3.34a 193.63a 1.78b

Untuk berat 1000 butir pada tanaman jagung didominasi oleh tanaman jagung yang ditumpangsarikan dengan varietas Talam sebesar 208.40 gram dan komponen berat kering jagung pada tanaman jagung yang ditumpangsarikan dengan varietas Tuban menunjukkan hasil 2.35 t/ha diikuti oleh tanaman jagung yang ditumpangsarikan dengan varietas Talam (1.84 t/ha), Kancil (1.83 t/ha) dan Lokal (1.78 t/ha).

Tanaman jagung (Zea Mays L) sudah lama diusahakan oleh petani di Indonesia dan merupakan tanaman pokok kedua setelah padi. Kebutuhan jagung dalam negeri selalu meningkat dari tahun ke tahun. Meningkatnya permintaan akan jagung disebabkan banyaknya permintaan untuk pakan, pangan dan industri. Sebagai tanaman palawija, jagung cocok diusahakan dalam sistem tanam tumpangsari karena memiliki sifat fisiologi dan anatomis yang sesuai diusahakn untuk sistem tumpangsari.

(32)

ini ditanam pada tanah PMK yang miskin akan hara dan tinggi akan AL dan Fe yang dapat menghambat pertumbuahn dan produksi tanaman. Untuk sistem tumpangsari jagung dan kacang tanah yang dilakukan di Desa Pasar Pedati, Kecamatan Pondok Kelepa ini menunjukkan hasil yang kurang maksimal dengan hasil produksi jagung yang ditumpangsarikan dengan kacang tanah varietas tuban sekita 3.92 ton/ha. Hal ini disebabkan oleh kondisi lahan yang terlalu kering dan kurangnya sumber air pada lokasi pengkajian.

4.4 Efektifitas Pemberian Amelioran

Setiap jenis tanaman mempunyai potensi hasil yang optimal yang dapat dicapai apabila lingkungan tumbuh sesuai dengan kebutuhan tanaman tersebut. Tanah dan iklim merupakan faktor alam yang sangat menentukan keberhasilan usaha tumpangsari. Sifat tanah yang sangat penting untuk diketahui adalah kesuburan fisik dan kimia. Sedangkan faktor iklim yang paling penting adalah curah hujan dan hari hujan. Curah hujan dan hari hujan sangat bervariasi. Pemuliaan tanaman adaptif dan pada lahan masam diperlukan jika masalah kemasaman tanah dan kejenuhan Al terjadi pada lapisan dalam (subsoil). Bila masalah tersebut terjadi pada lapisan atas, relative lebih murah diatasi dengan ameliorasi (Hairiah et al., 2000, Witcombe et al., 2013, Dalovic et al., 2010)

Beberapa permasalahan umum dari tanah Ultisol adalah kemasaman tanah tinggi (pH rata-rata < 4,5), kejenuhan Al tinggi, miskin kandungan hara makro terutama P, K, Ca, dan Mg, dan kandungan bahan organik rendah. Untuk mengatasi permasalahan tersebut dapat diterapkan teknologi pengapuran, pemupukan P dan K, dan penambahan bahan organik. Penambahan amelioran (kapur dan bahan organik), secara teknis dapat mengatasi permasalahan pertumbuhan dan perkembangan tanaman pada lahan Ultisol.

(33)

Tabel 8. Hasil analisa tanah awal dan akhir

Jenis Analisa Tanah AwalAnalisa Keterangan Tanah AkhirAnalisa Keterangan

Kadar Air (%) 5.8 - 3.8

-pH H2O 5.9 Agak masam 6.01 Agak masam

C-Organik (%) 4.04 Tinggi 1.90 Rendah

N-Total (%) 0.30 Sedang 0.23 Sedang

P-Bray I (ppm) 13.13

Tinggi 3.54 Sangat rendah

K-dd (me/100 gr) 0.21 Rendah 0.72 Tinggi

Na (me/100gr) 0.30 Rendah 0.19 Rendah

Ca (me/100gr) 0.88 Sangat rendah 0.68 Sangat rendah

Mg (me/100gr) 1.42 Sedang 0.89 Rendah

KTK (me/100gr) 21.67 Sedang 17.50 Sedang

Al-dd 1.64 Sangat rendah 1.10 Rendah

Kejenuhan basa 12.96 - 14.17

-Kacang tanah merupakan tanaman yang dapat tumbuh pada kisaran pH tanah 5.3-6.6 (Henry, 1995).Pada umumnya jenis tanah Podsolik Merah Kuning (Ultisol) yang merupakan lapisan atas (topsoil) antara 5 – 15 cm miskin akan bahan organic, miskin unsure hara N, P, K, Ca, Mg, keasaman tinggi (pH rendah), karena kadar aluminium (Al) dan besi (Fe) dalam tanah tinggi, adanya lapisan krokos dalam tanah kedalaman dan ketebalan beragam yang sangat menghambat pertumbuhan akar tanaman. Untuk meningkatkan kesuburaan tanah Podsolik Merah Kuning (Ultisol) pada sistem tanaman tumpangsari, maka diperlukan penambahan unsure hara yang cukup banyak. Cara peningkatan pH tanah yang sudah lazim dilakukan adalah pengapuran dengan kapur pertanian atau kaptan (CaCO3) dengan jumlah yang dibutuhkan bergantung pada pH awal tanah dan tekstur tanah. Pada tabel 7 terlihat kondisi awal lahan kering masam memiliki nilai pH 5.9 (agak masam). Keuntungan pengapuran tergantung pada kondisi tanah dan tanaman. Secara umum pemberian kapur ke tanah dapat mempengaruhi sifat fisik dan kimia tanah serta kegiatan jasad renik tanah. Bila ditinjau dari sudut kimia, maka tujuan pengapuran adalah menetralkan kemasaman tanah dan meningkatkan atau menurunkan ketersediaan unsu-unsur hara bagi pertumbuhan tanaman (Malherbe,1965). Kandungan unsure hara makro C-Organik 4.04 (tinggi), N-total 0.30 (sedang), P-Bray 13.13 (tinggi), dan kandungan K-dd 0.21 (rendah).

(34)

klorofil. Umumnya kadar kalium tanah jauh lebih banyak dari fospor, namun untuk lahan kering masam spesifik Bengkulu ini, kandungan fosfor lebih tinggi daripada kandungan kalium, dikarenakan lahan kering masam berada di daerah dekat pantai, banyak terdapat endapan batuan dari sekitar pantai yang menyebabkan kandungan fosfor lebih tinggi. Untuk kandungan Na 0.30 (rendah), Ca 0.88 (sangat rendah), Mg 1.42 (sedang), KTK 21.67 (sedang) dan kandungan Al 1.64 (sangat rendah). Kadar magnesium kadang-kadang ditemukan lebih tinggi dari kalsium tetapi jumlah yang tersedia selalu sedikit, oleh karena itu kekurangan magnesium dapat diatasi dengan pengapuran. Pada fase akhir setelah panen, tanah lahan kering masam kembali diambil untuk mengetahu kandungan unsure hara tanah akhir. Pada tabel 7 terlihat kondisi awal lahan kering masam memiliki nilai pH 6.01 (agak masam). Kandungan unsur hara makro C-Organik 1.90 (rendah), N-total 0.23 (sedang), P-Bray 3.54 (sangat rendah), dan kandungan K-dd 0.72 (tinggi). Untuk kandungan Na 0.19 (rendah), Ca 0.68 (sangat rendah), Mg 0.89 (rendah), KTK 17.50 (sedang) dan kandungan Al 1.10 (rendah).

Oleh karena itu untuk mencukupi kebutuhan hara tanaman akan unsure hara makro, perlu ditambahkan pupuk untuk mencukupi kebutuhan Nitrogen, Fosfor dan Kalium. (Nurhajati Hakim, 1986). Kacang tanah merupakan tanaman legume yang daoat bersimbiosis dengan rhizobium sehingga mampu mengikat Nitrogen bebas di udara dan membenuk bintil akar yang dapat menyuburkan tanah.

(35)

Tabel 9. Data hari hujan dan curah hujan kabupaten Bengkulu Tengah (BP3K Talang Pauh, 2014)

Bulan

Tahun 2011 Tahun 2012 Tahun 2013 Tahun 2014 Hari Hujan Curah Hujan Mm Hari Hujan Curah Hujan Mm Hari Hujan Curah Hujan Mm Hari Hujan Curah Hujan Mm Januari 16 372 6 117 27 387 24 691.5 Februari 9 169 6 116 22 242.5 14 260.5 Maret 4 162 5 118 20 266.5 20 440.5 April 11 243 7 120 23 353.5 25 1043 Mei 14 160 10 124 25 713.5 20 547 Juni 18 408 10 130 19 470 11 120.5 Juli 15 207 12 137 25 419.5 12 179 Agustus 13 351 11 146 21 339 16 454 September 8 157 12 152 25 688.5 8 124 Oktober 17 920 10 265 19 449.5 - -November 19 462 18 262.5 25 832 - -Desember 24 960 25 358.5 25 524 -

-Pada tabel 8 dapat dilihat terdapat ritme yang menarik antara tahun ganjil dan tahun genap berdasarkan jumlah hari hujan dan jumlah curah hujan. Pada tahun ganjil yakni tahun 2011 dan tahun 2013 curah hujan dan hari hujan yang tinggi terdapat pada bulan Juni hingga September, sedangkan pada tahun genap yakni tahun 2012 dan tahun 2014, curah hujan dan hari hujan pada bulan Juni hingga September kurang, sehingga untuk penanaman berikutnya disarankan pada tahun 2014 pada bulan Oktober disaat musim penghujan atau ditahun berikutnya tahun ganjil 2015 pada bulan Juni hingga September.

(36)

Tabel 10. Data pertumbuhan vegetatif kacang tanah sistem tanam monokultur

Perlakuan Tinggi Tanaman (cm) Jumlah Cabang/rumpun 28 HST 42 HST 56 HST 84 HST 28 HST 42 HST 56 HST 84 HST

Talam+ Amelioran

11.80a 24.96a 39.80a 44.16a 5.92a 7.72a 8.60a 8.20a

Tuban+ Amelioran

9.40ab 24.56a 40.50a 44.48a 7.36a 7.52a 9.00a 7.84a

Kancil+ Amelioran

11.50a 23.70ab 35.95 b 38.80a 7.52a 7.60a 7.85a 7.44a

Lokal + Amelioran

8.26b 20.00b 32.10b 35.49a 11.8a 8.40a 9.0oa 7.40a

Talam tanpa Amelioran

14.80a 25.74ab 39.25a 44.68a 6.20a 6.36a 6.70a 6.64b

Tuban tanpa Amelioran

14.96a 28.22a 38.85a 45.28a 6.80a 7.48a 7.45a 8.32a

Kancil tanpa Amelioran

13.94a 24.36bc 28.90a 37.36b 6.36a 7.16a 6.95a 7.00ab

Lokal tanpa Amelioran

11.44a 22.18c 31.15a 36.84a 6.24a 7.44a 6.85a 7.68ab

Pada penanaman kacang tanah dengan sistem tanam monokultur dilakukan penanaman dengan pemberian amelioran dan tanpa penambahan amelioran. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa pada awal fase pertumbuhan (28-42 HST) semua varietas mempunyai tinggi tanaman yang hampir sama. Pada umur 28 HST tinggi tanaman berkisar antara 9.40 cm-14.96 cm. Pada umur tanaman 42 HST tinggi tanaman berkisar antara 20.00-28.22 cm. Memasuki fase generatif pada umur tanaman 56 HST ketinggian tanaman antar varietas menunjukkan perbedaan yang nyata pada penambahan amelioran dengan tinggi tanaman terbesar pada varietas Tuban dengan tinggi tanaman 40.50 cm, dan pada perlakuan tanpa penambahan amelioran tinggi tanaman juga didominasi pada varietas Tuban dengan tinggi tanaman 39.25 cm. Hasil pengkajian menunjukkan bahwa pada akhir pertumbuhan tanaman jagung dengan pemberian amelioran, varietas Tuban (44.48 cm) mempunyai tinggi tanaman yang lebih tinggi dibandingkan dengan varietas Talam (44.16 cm), Kancil (38.80 cm) dan Lokal (35.49 cm). Sedangkan hasil pengkajian pada akhir pertumbuhan tanaman kacang tanah tanpa pemberian amelioran, varietas Tuban (45.28 cm) mempunyai tinggi tanaman yang lebih tinggi dibandingkan dengan varietas Talam (44.68 cm), Kancil (37.36 cm) dan Lokal (36.84 cm). Tinggi tanaman merupakan faktor penting yang juga dipengaruhi oleh lingkungan (tanah dan iklim)

(37)

dan juga dipengaruhi oleh penyiangan gulma. Penyiangan gulma yang sering dilakukan memberikan tanggapan postif terhadap tinggi tanaman.

Hasil pengkajian menunjukkan bahwa pada awal fase pertumbuhan 28 HST, jumlah cabang per tumpun tanaman kacang tanah dengan pemberian amelioran terbesar pada varietas Lokal (11.8) dibandingkan dengan varietas lainnya.Sementara pada tanaman kacang tanah tanpa pemberian amelioran menunjukkan jumlah cabang per rumpun yang hampir sama berkisar antara 6.20-6.80. Pada umur tanaman 42 HST jumlah cabang/rumpun pada tanaman dengan penambahan amelioran berkisar antara 7.52-8.40 cm, sedangkan jumlah cabang/rumpun pada tanaman tanpa penambahan amelioran berkisar antara 6.36-7.48 cm . Memasuki fase generatif pada umur tanaman 56 HST jumlah cabang/rumpun antar varietas pada pemberian amelioran menunjukkan perbedaan yang nyata, varietas Tuban dan Lokal mempunyai jumlah cabang/rumpun yang paling banyak 9.00 dibandingkan dengan varietas Talam dan Kancil, sedangkan pada tanaman kacang tanah pemberian amelioran varietas Tuban memiliki jumlah cabang per rumpun terbanyak sebesar 7.45 dibandingkan varietas lainnya . Hasil pengkajian menunjukkan bahwa pada akhir pertumbuhan, jumlah cabang/rumpun antar varietas pada pemberian amelioran menunjukkan perbedaan yang nyata, varietas Tuban mempunyai jumlah cabang/rumpun yang paling banyak 8.20 dibandingkan dengan varietas Talam, Kancil, dan Lokal, sedangkan pada tanaman kacang tanah pemberian amelioran varietas Tuban juga memiliki jumlah cabang per rumpun terbanyak sebesar 8.32 dibandingkan varietas lainnya . Jumlah cabang/tanaman merupakan faktor penting yang juga dipengaruhi oleh lingkungan (tanah dan iklim). Pada tabel 9 terlihat bahwa tinggi tanaman dan jumlah cabang per rumpun pada perlakuan pemberian amelioran dan tanpa pemberian amelioran tidak menunjukkan perbedaan yang nyata, hal ini dikarenakan kondisi curah hujan yang sedikit pada fase generatif, sehingga amelioran yang diberikan ke tanah tidak disera sempurna oleh tanaman.

(38)

Tabel 11. Data komponen hasil kacang tanah sistem monokultur , MK 2014 Perlakuan B. segar berangkasan (gr/rumpun) Berat kering berangkasan (g/rumpun) Berat basah polong (gr/rumpun) Berat kering polong (gr/rumpun) Jumlah polong/ rumpun % polong rusak Talam+

Amelioran 34.20ab 1 8.07ab 27.46a 19.64a 18.20a 18.69a Tuban+

Amelioran 37.97a 20.10a 27.45a 21.02a 20.15a 22.71a Kancil+

Amelioran 24.33b 14.12b 27.29a 18.52a 15.25a 16.96a Lokal +

Amelioran 27.54ab 13.55b 27.86a 21.71a 20.65a 21.36a Talam tanpa

Amelioran 32.81a 14.04a 23.57a 18.64a 16.40b 27.21a Tuban tanpa

Amelioran 33.21a 17.61a 25.68a 15.72a 24.09a 24.37a Kancil tanpa

Amelioran 22.57a 13.84a 23.98a 17.79a 16.88b 19.77a Lokal tanpa

Amelioran 25.74a 15.92a 25.02a 19.70a 19.96ab 23.74a

Komponen hasil kacang tanah pada pemberian amelioran , varietas Tuban menunjukkan berat segar berangkasan terbesar sebesar 37.97 gram/rumpun dibandingkan varietas lainnya, sedangkan pada tanaman tanpa pemberian amelioran, berat segar berangkasan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Berat kering berangkasan setelah dijemur kurang lebih 3 hari pada tanaman kacang tanah dengan pemberian amelioran menunjukkan perbedaan yang signifikat, berat kering berangkasan terbesar pada varietas Tuban 20.10 gr/rumpun, sedangkan pada ketiga varietas lainnya berkisar antara 13.55-18.07 gram/rumpun.

Pada tanaman kacang tanah dengan pemberian amelioran, varietas kacang tanah memiliki berat segar polong berkisar antara 27.29-27.86 gram/rumpun, sedangkan pada tanaman kacang tanah tanpa pemberian amelioran/rumpun, varietas kacang tanah memiliki berat segar polong berkisar antara 23.57-25.68 gram/rumpun. Pada tanaman kacang tanah dengan pemberian amelioran, varietas kacang tanah memiliki berat kering polong berkisar antara 19.64-21.71 gram/rumpun, sedangkan pada tanaman kacang tanah tanpa pemberian amelioran/rumpun, varietas kacang tanah memiliki berat kering polong berkisar antara 15.72-19.70 gram. Banyaknya jumlah polong/rumpun pada tanaman kacang tanah dengan pemberian amelioran didominasi oleh varietas Tuban (20.15) dan varietas Lokal (20.65). Sedangkan

(39)

banyaknya jumlah polong/rumpun pada tanaman kacang tanah tanpa pemberian amelioran didominasi oleh varietas Tuban (24.09) Pada persentase polong yang rusak didominansi oleh varietas Tuban dan Lokal dengan 22.71 dan 21.36 persen dan persentase paling kecil kerusakan pada polong terdapat pada varietas Talam dan Kancil dengan persentase kerusakan polong sebesar 18.69 dan 16.96 persen. Varietas Kancil memiliki persentase kerusakan polong yang kecil karena memiliki ketahanan terhadap penyakit layu, toleran penyakit karat, bercak daun dan tahan A. Flavus serta toleran terhadap klorosis.

Tabel 12. Data komponen hasil kacang tanah sistem monokultur , MK 2014

Perlakuan Jumlah

biji/rumpun Berat 1000 butir(gr) (t/ha)Hasil Indeks Panen Talam+

Amelioran 24.62a 511.40ab 2.03a 51.31a

Tuban+

Amelioran 28.12a 473.00ab 1.76a 48.64a

Kancil+

Amelioran 14.08a 536.00a 1.89a 47.51a

Lokal +

Amelioran 27.98a 384.60b 1.70a 41.04a

Talam tanpa Amelioran 19.49b 512.30a 1.87a 43.41b Tuban tanpa Amelioran

34.85a 507.00a 2.17a 56.04a

Kancil tanpa Amelioran

26.18ab 536.20a 2.17a 44.25b

Lokal tanpa

Amelioran 33.56a 454.92b 1.82a 45.98b

Pada komponen hasil jumlah biji/rumpun terlihat bahwa pada penanaman kacang tanah dengan pemberian ameliorant, varietas Tuban memiliki jumlah biji paling banyak dengan jumlah 28.12 biji/rumpun, begitu juga dengan jumlah biji/rumpun pada penanaman kacang tanah tanpa pemberian ameliorant, varietas Tuban memiliki jumlah biji paling banyak dengan jumlah 34.85 biji/rumpun dibandingkan varietas lainnya. Untuk berat 1000 butir pada tanaman kacang tanah dengan pemberian ameliorant dan

(40)

kacang tanah dengan pemberian ameliorant dan tanpa pemberian ameliorant didominasi oleh varietas Kancil dengan jumlah hasil polong kering 1.89 t/ha dan 2.17 t/ha. Untuk indeks panen terbesar pada tanaman kacang tanah dengan pemberian ameliorant terdapat pada varietas talam sebesar 51.31 persen sedangkan pada tanaman kacang tanah tanpa pemberian ameliorant terdapat pada varietas tuban sebesar 56.04 persen.

Pada tabel 11 terlihat bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antar penanaman kacang tanah pada sistem monokultur yang diberi penambahan ameliorant maupun yang tidak diberikan penambahan amelioran. Hal ini disebabkan karena kurangnya curah hujan pada waktu penanaman dan tidak tersedianya sumber air yang cukup menyebabkan dolomite yang diberikan ke tanah tidak terserap sempurna. Kurangnya ketersediaan air ini menyebabkan indeks pertanaman di lahan kering relative masih rendah. Saat ini memang belum banyak yang dapat dilakukan petani, bahkan peran pemerintah untuk penyediaan irigasi di lahan kering masam masih belum terlihat. Dapat disimpulkan bahwa tujuan pengapuran untuk menaikkan pH menjadi ph netral pada lahan kering masam wilayah beriklim sedang ternyata tidak dapat diterapkan di daerah tropic. Pemberian kapur demikian di daerah tropic sering kali mengganggu produksi, karena itu mengapur tanah tropic mendekati netral tidak diperlukan. Tujuan pengapuran pada tanah masam di wilayah tropic sebaiknya ditujukan untuk meniadakan pengaruh racun dari aluminium (Al) dan menyediakan hara kalsium (ca) bagi tanaman (Nurhajati, 1986).

4.5 Produktivitas, Efisiensi Penggunaan Lahan Dan Keuntungan Usaha Tani Secara Tumpangsari

Keuntungan dalam usahatani kacang tanah dengan sistem monokultur adalah selisih antara besarnya penerimaan usahatani dengan besarnya biaya yang digunakan dalam usahatani dengan sistem monokultur. Selanjutnya keuntungan dalam usahatani dengan tumpangsari kacang tanah dan jagung adalah selisih antara penerimaan ushatani dengan biaya yang digunakan dalam usahatani dengan tumpangsari yang dilakukan.

(41)

Biaya usahatani yang digunakan dalam usahatani baik dengan sistem monokultur maupun tumpangsari merupakan biaya tunai yang digunakan dalam usahatani. Biaya usahatani yang digunakan dalam usahatani monokultur kacang tanah terdiri dari biaya pengolahan lahan, biaya penanaman, biaya pemupukan, biaya pemeliharaan, biaya pengendalian hama dan penyakit, biaya pemanenan dan biaya pengeringan. Sedangkan biaya usaha tani yang digunakan dalam usahatani tumpangsari kacang tanah dan jagung terdiri dari biaya pengolahan lahan, biaya penanaman, biaya pemupukan, biaya pemeliharaan, biaya pengendalian hama dan penyakit, biaya pemanenan, biaya pengeringan dan biaya pemipilan jagung.

Dari pelaksanaan kegiatan pemanfaatan teknologi tumpangsari kacang tanah dan kedelai pada lahan kering masam diketahui bahwa besarnya keuntungan dalam usahatani dengan sistem monokultur kacang tanah adalah sebesar Rp. 14.081.500 dan keuntungan usahatani dengan sistem tumpangsari kacang tanah dan jagung adalah sebesar Rp. 30.264.000 (Tabel 10).

Gambar

Tabel 1. Identifikasi dominansi gulma awal
Tabel 2. Nilai rata-rata hasil perhitungan keseluruhan NKL tanaman kacang tanah dan jagung
Tabel 4. Data komponen hasil kacang tanah sistem tumpangsari , MK 2014 Perlakuan B. segar berangkasan (gr/rumpun) Berat kering berangkasan(g/rumpun) Berat segarpolong (gr/rumpun) Berat keringpolong (gr/rumpun) Jumlah polong/ rumpun polong%rusak
Tabel 5. Data komponen hasil kacang tanah sistem tumpangsari , MK 2014 Perlakuan Jumlah
+7

Referensi

Dokumen terkait

agitation-related emotions atau dejection-related emotions. Berdasarkan penjabaran diatas, dapat diketahui bahwa citra tubuh dapat memprediksi harga diri remaja dimana

Penelitian ini bertujuan Mengetahui bagaimana proses pembuatan biodiesel dari minyak jelantah bekas rumah makan dan sejauh mana pengaruh variasi penambahan

Tabel 4.3 memperlihatkan tidak didapatkan perbedaan bermakna antara proporsi rumah positif larva di daerah kontrol dan intervensi sebelum pemberian Bti yang berarti

Hasil penelitian menemukan bahwa variabel product, people , dan motivasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pemilihan SD Islam Al Azhar 32 Padang. Hal

Ragam tafsir bermunculan ke dalam tradisi keilmuan Islam -khususnya al-Qur’ān- sebenarnya berangkat dari asumsi bahwa mufassir atau si pembaca teks tidak diatur

Identitas guru yang profesional, ialah (1) mempunyai pembelajaran, kemampuan, serta keahlian khusus supaya bisa melakukan kewajiban membimbing dengan bagus lewat

PENGOLAHAN HASIL PERKEBUNAN BERUPA : Alat pengolahan KELAPA ditargetkan 7 unit telah melampaui target sampai dengan tahun 2014 yang mencapai 8 unit, Pengolahan KAKAO di targetkan 5

Penelitian ini menguji tentang Manajemen Laba Melalui Akrual Dan Aktivitas Real Pada Penawaran Perdana Dan Hubungannya Dengan Kinerja Jangka Panjang (Studi Empiris