1 Mahasiswa Jurusan Bimbingan dan Konseling FIP UNJ, [email protected] 2 Dosen Bimbingan dan Konseling FIP UNJ, [email protected]
3 Dosen Bimbingan dan Konseling FIP UNJ, [email protected]
PENGARUH TERAPI MENULIS PUISI TERHADAP
HARGA DIRI SISWA
(Studi Kuasi Eksperimen Terhadap Siswa dengan Harga
Diri Rendah di SMK Farmasi Mandala Tiara Bangsa)
Intan Nurul Kemala
1Moch. Dimyati, M.Pd
2Dr. Dede Rahmat Hidayat, M.Psi
3Abstrak
Harga diri rendah dapat menimbulkan perilaku tidak sesuai pada remaja. Penelitian ini bertujuan meningkatkan harga diri siswa yang memiliki harga diri rendah di SMK Farmasi Mandala Tiara Bangsa melalui terapi menulis puisi. Metode yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan nonequivalent control group design. Sampel pada pene-litian dipilih melalui teknik purposive sampling dengan melibatkan 12 siswa yang terbagi dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pengukuran pada penelitian ini meng-gunakan Coopersmith Self-esteem Inventory sejumlah 45 butir pernyataan dengan reli-abilitas sebesar 0.89. Hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan Mann Whitney U Test menunjukkan nilai asymp. Sig = 0.010, yang berarti lebih kecil dari nilai signifikansi
α = 0,05, sehingga H0 ditolak dan H1 diterima. Terjadi peningkatan harga diri yang sig -nifikan setelah diberikan layanan terapi menulis puisi. Penelitian selanjutnya menunjuk-kan bahwa siswa yang diberimenunjuk-kan layanan terapi menulis puisi mengalami peningkatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang tidak diberikan layanan terapi lis puisi. Selanjutnya konselor sekolah dapat mengimplementasikan layanan terapi menu-lis puisi sebagai layanan konseling mutakhir di sekolah.
Kata Kunci : Terapi menulis puisi, harga diri.
Pendahuluan
Remaja merupakan individu yang berada pada fase peralihan dari masa kanak-kanak ke masa de-wasa. Masa remaja merupakan masa transisi dimana individu akan mengalami berbagai perubahan pada fisik, psikis dan kognitifnya. Perubahan-perubahan internal maupun eksternal menjadikan masa remaja disebut dengan masa pergolakan. Masa remaja juga identik dengan masa pencarian identitas. Pengala-man-pengalaman baru akan ditemui remaja
sepan-jang periode. Status remaja yang tidak jelas mem-berikan kesempatan kepadanya untuk mencoba gaya hidup yang berbeda dan menentukkan pola perilaku, nilai dan sifat yang paling sesuai dengan harapan dir-inya. Pembentukan identitas juga akan dipengaruhi tuntutan-tuntutan yang berasal dari lingkungan yang menginginkan remaja mampu menjalankan per-an-perannya sesuai dengan konsep nilai dan norma yang berlaku di masyarakat. Oleh karena itu, remaja perlu memiliki fondasi yang kuat untuk menghadapi
segala perubahan, yaitu harga diri..
Harga diri adalah penilaian pribadi mengenai keberhargaan diri yang dinyatakan dalam sikap in-dividu terhadap dirinya (Coopersmith, 1967: 4-5). Remaja dengan harga diri tinggi akan menjadi in-dividu yang percaya diri, mampu menghargai diri-nya dengan baik, merasa kehadirandiri-nya diterima, dan yakin akan potensi di dalam dirinya. Misalnya akan menjadi remaja yang mampu berprestasi, memiliki kepribadian yang menyenangkan, aktif dalam kegi-atan sosial dan sebagainya. Sebaliknya, remaja de-ngan harga diri yang rendah cenderung menampil-kan perilaku yang negatif. Hal ini disebabmenampil-kan karena individu tidak mampu menjadikan dirinya berharga, sulit menerima dirinya sendiri dan gagal mendapat pengakuan dari lingkungannya.
Remaja dengan harga diri yang rendah akan tampil sebagai siswa yang bermasalah di sekolah dan di lingkungannya. Misalnya, terlibat tawuran, menggunakan obat terlarang, perilaku konsum-tif, bullying, bergabung dalam gank yang menyim-pang, prestasi rendah karena tidak termotivasi untuk mengembangkan diri dan sebagainya.
Terkadang, apa yang tampak pada perilaku ber-masalah disebabkan oleh faktor internal seperti hal-nya harga diri yang rendah. Rogers mengatakan bah-wa sebab utama seseorang memiliki harga diri yang rendah (rendah diri) adalah karena mereka tidak di-berikan dukungan emosional dan penerimaan sosial yang memadai (Ida Ayu, dkk, 2012: 2).
Studi pendahuluan dilakukan pada 65 siswa SMKF Mandala Tiara Bangsa. Hasilnya, terdapat 7 siswa dengan harga diri rendah, 58 siswa dengan harga diri sedang, dan tidak ada siswa yang memi-liki harga diri tinggi. Masih terdapat siswa dengan harga diri rendah tentunya perlu dicermati lebih lan-jut oleh Guru BK.
Berdasarkan karakteristik permasalahan pada remaja dengan harga diri rendah,terapi menulis pui-si dilihat mampu memfapui-silitapui-si keadaan tersebut. Terapi menulis puisi merupakan sebuah proses ter-api yang menggunakan sebuah puisi sebagai media untuk melakukan asesmen dalam prosesnya. Tera-pi menulis puisi menjadi sebuah proses yang akan membantu siswa meningkatkan penerimaan diri dan membangun kembali keberhargaan diri. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk melihat signifikansi
pengaruh terapi menulis puisi terhadap peningkatan harga diri siswa yang memiliki harga diri rendah.
Kajian Teori
Remaja
Istilah adolescence atau remaja berasal dari ba-hasa latin (adolescere), (kata bendanya, adolescen-tia yang berarti remaja) yang berarti “tumbuh” atau “tumbuh menjadi dewasa”. Istilah adolescence me-miliki arti lebih luas, mencakup kematangan men-tal, emosional, sosial, dan fisik. Awal masa remaja berlangsung kira-kira dari 13 tahun sampai 16 ta-hun atau 17 tata-hun, dan akhir masa remaja bermu-la dari usia 16 atau 17 tahun sampai 18 tahun, yai-tu usia matang secara hukum (Elizabeth B. Hurlock, 1999: 206). Masa remaja merupakan periode pen-ting dalam rentang kehidupan manusia. Hal ini di-karenakan remaja akan mengalami banyak kejadian yang menyangkut pertumbuhan dan perkembangan (Elizabeth B. Hurlock, 1999: 207).
Harga Diri
Coopersmith (1967) mendefinisikan harga diri adalah evaluasi terhadap diri yang lazim diper-tahankan individu yang diekspresikan dalam si-kap menerima atau menolak diri dan menunjukkan tingkat kepercayaan dirinya untuk menjadi kompe-ten, penting, sukses dan berharga. Singkatnya, har-ga diri adalah penilaian pribadi mengenai keber-hargaan diri yang dinyatakan dalam sikap individu terhadap dirinya.
Coopersmith (1967) membagi harga diri ke dalam empat aspek, yaitu harga diri umum, harga diri sosial, harga diri keluarga, dan harga diri aka-demis. Harga diri umum berkaitan dengan kemam-puan individu untuk menilai kemamkemam-puan diri secara umum. Harga diri sosial menunjukkan kemampuan sosial dalam berhubungan dengan orang lain se-perti kepedulian, perhatian dan afeksi yang diteri-ma dari orang lain. Harga diri keluarga menunjuk-kan hubungan individu dengan keluarganya seper-ti kedekatan, dukungan dan penerimaan orang tua terhadap anak. Harga diri akademis menunjukkan kepercayaan diri individu, kemampuan belajar, dan kepatuhan individu dalam setiap kegiatan sekolah.
dikemu-kakan oleh Coopersmith (1967), yaitu harga diri tinggi, harga diri sedang dan harga diri rendah. In-dividu dengan harga diri tinggi akan tampil seba-gai pribadi yang aktif dan dapat mengekspresikan diri dengan baik, berhasil dalam bidang akademik, terlebih dalam mengadakan hubungan sosial, dapat menerima kritik dengan baik, percaya terhadap per-sepsi dan dirinya sendiri, tidak terpaku pada di-rinya sendiri atau tidak hanya memikirkan kesuli-tannya sendiri, keyakinan akan dirinya tidak ber-dasarkan pada fantasinya karena memang mem-punyai kemampuan, kecakapan sosial dan kualitas diri yang tinggi. Karakteristik individu dengan har-ga diri yang sedang hampir sama denhar-gan karakter-istik individu yang memiliki harga diri tinggi, teru-tama dalam kualitas, perilaku dan sikap. Sedangkan Individu yang memiliki harga diri rendah memiliki karakteristik yaitu memiliki perasaan inferior, ta-kut dan mengalami kegagalan dalam mengadakan hubungan sosial, terlihat sebagai orang yang putus asa dan depresi, merasa diasingkan dan tidak diper-hatikan, kurang dapat mengekspresikan diri, sangat tergantung pada lingkungan, tidak konsisten, secara pasif akan selalu mengikuti apa yang ada di ling-kungannya, menggunakan banyak taktik pertahan-an diri, dpertahan-an mudah mengakui kesalahpertahan-an.
Terapi Puisi
Terapi puisi berkaitan dengan dua hal, yaitu proses terapi dan puisi. Terapi merupakan perlakuan yang diberikan untuk mengatasi masalah psikolo-gis dimana terapis dan klien bekerjasama untuk me-mahami masalah dan mengadakan pertemuan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Puisi meru-pakan bagian dari ragam bahasa tersusun dari be-berapa kata-kata. Menurut Christopher Fry puisi adalah bahasa dimana seseorang mengeksplorasi ra-sa kagum atau heran atau takjub (Malchiodi, 2005: 118) Sedangkan William Wordsworth mengatakan bahwa puisi merupakan luapan perasaan yang kuat secara spontan: berawal dari emosi yang coba dii-ngat kembali dalam ketenangan.
Terapi puisi merupakan bentuk terbaru dari in-tervensi kreatif pada terapi seni dan terapi ekspresif (Malchiodi, 2005: 137). Terapi puisi menggunakan puisi dan media sejenis untuk memfasilitasi diskusi mengenai isu-isu personal, biasanya dalam bentuk
kelompok (Nugraha Arif Karyanta, 2012: 1). Lerner (1997) menyatakan bahwa dalam terapi puisi fokus adalah pada manusia bukan pada puisi. Klien tidak diminta untuk mengenali makna “yang benar” dari sebuah puisi, namun lebih pada penghayatan per-sonal.
Mazza (2003) memperkenalkan model praktis dari terapi puisi ke dalam tiga bagian, yaitu: Resep-tif / preskripResep-tif (R/P), Ekspresif / KreaResep-tif (E/C), dan Simbolis / seremonial (S/C). Komponen R/P meng-gunakan puisi yang sudah ada untuk mendeskripsi-kan, menjelaskan atau menerangkan atau mengiden-tifikasi berbagai keadaan. Komponen E/C melibat-kan penulisan kreatif untuk proses penilaian atau asesmen dan proses terapi. Komponen ini dapat mencakup penulisan jurnal, prosa, menulis surat, atau bentuk lainnya dari menulis kreatif. Komponen S/C adalah komponen yang menggabungkan peng-gunaan metafora, ritual, dan proses membaca ceri-ta.
Bolton dan Latham (2005) mengungkapkan be-berapa tahap dalam terapi menulis puisi. Pertama adalah tahap menulis puisi. tahap ini dengan istilah trawling (menjangkarkan). Tahap ini sering disebut sebagai asosiasi bebas, yang memerlukan kemauan dan keberanian untuk melakukan eksplorasi, mem-biarkan ide datang begitu saja. Tahap ini merupakan waktu dimana konseli menulis puisi. Kedua adalah tahap pertengahan. Pada tahap ini penulis mem-baca ulang puisi yang dibuatnya dan menanyakan dalam dirinya “apakah aku benar-benar merasakan/ memikirkan hal ini?. Beberapa pertanyaan dasar yang dapat digunakan untuk memeriksa kebenaran makna dari puisi adalah siapa, apa, kapan, menga-pa, bagaimana, seberapa besar/banyak, dan karena apa. Ketiga adalah tahap terakhir, yaitu penulisan ulang naskah atau proses re-drafting. Tahap ini lebih bersifat kognitif, dimana penulis memberikan mak-na ulang atas apa yang telah mereka tuliskan pada tahap menulis. Makna yang terbangun mendorong anggota untuk mulai menyusun kehidupan barunya.
Metode Penelitian
Penelitian dilakukan di SMKF Mandala Tiara Bangsa dengan sampel sebanyak 12 siswa dengan harga diri rendah. Sampel terbagi ke dalam dua ke-lompok yaitu keke-lompok eksperimen dan keke-lompok
kontrol, dimana sampel dalam kelompok eksperi-men akan diberikan perlakuan. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober sampai dengan November 2014. Metode yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan bentuk nonequivalent control group design (Sugiyono, 2010: 107). Pengukuran pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Coopersmtih Self-esteem Inventory yang diadaptasi ke dalam Ba-hasa Indonesia. Instrumen terdiri dari 45 item per-nyataan valid dengan koofisien reliabilitas sebesar 0.89. hal ini menyimpulkan bahwa instrument terse-but layak digunakan sebagai alat ukur dalam pene-litian. Teknik analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis pada penelitian ini adalah Mann Whitney U-Test untuk menguji hipotesis komparatif dua sampel independen dengan bentuk data ordinal (Sugiyono, 2006: 275)
Hasil dan Pembahasan
Hasil PenelitianHasil penelitian berupa gambaran skor harga diri siswa di setiap kelompok lalu dibandingkan anta-ra skor pretest-posttest. Pada hasil pretest, seluruh siswa berada pada kategori rendah. Kemudian pa-da hasil posttest, papa-da kelompok eksperimen ter-dapat satu orang siswa yang meningkat pada katego-ri tinggi dan lima lainnya meningkat pada kategokatego-ri sedang. Pada kelompok kontrol, dua siswa mening-kat pada mening-kategori sedang dan empat siswa tetap pa-da kategori renpa-dah. Secara lebih terperinci pa-data ca-paian skor harga diri setiap siswa di setiap kelom-pok dapat dilihat pada tabel 1.
Berdasarkan data pada tabel 1, seluruh siswa pa-da dua kelompok mengalami peningkatan. Jika dira-ta-ratakan, peningkatan pada kelompok eksperimen mencapai 12.73% dan pada kelompok kontrol men-capai 4.62%. (Tabel 2).
Tabel 1.
Data Capaian Skor Harga Diri Kelompok Eksperimen
Eksperimen 89 92 72 89 77 90 60.14 62.16 48.65 60.14 52.03 60.81 111 115 94 99 93 110 75 77.70 63.51 66.89 62.84 74.32 14.86 15.54 14.86 6.76 10.81 13.51
Kelompok Skor Ideal Nama Skor
Pretest % Posttest % Peningkatan
148 M Ar Nk N A H Tabel 2.
Data Capaian Skor Harga Diri Kelompok Kontrol
Kelompok Skor Ideal Nama Skor
Pretest % Posttest % Peningkatan
Kon tr ol 148 J 85 57.43 89 60.14 2.70 Sh 89 60.14 91 61.49 1.35 Ad 84 56.76 96 64.86 8.11 Su 87 58.78 90 60.81 2.03 Ss 90 60.81 96 64.86 4.05 T 75 50.68 89 60.14 9.46
Hal ini berarti peningkatan skor siswa pada ke-lompok eksperimen lebih tinggi daripada peningkat-an skor siswa pada kelompok kontrol. Lebih jelas lagi data akan disajikan dalam bentuk histogram un-tuk memperjelas perbandingan skor diantara dua ke-lompok.
Gambar 1. Histogram Capaian Skor Harga Diri Ke-lompok Eksperimen
Gambar 2. Histogram Capaian Skor Harga Diri Ke-lompok Kontrol
Selanjutnya hasil pengujian hipotesis menggu-nakan Mann Whitney U-Test dengan bantuan ap-likasi SPSS 16.0 for Windows, diperoleh nilai Asymp. Sig = 0.010. Penelitian ini menggunakan taraf signifikansi alpha sebesar 0.05. Hal ini berar-ti pada skor harga diri Sig < 0.05, dengan
demiki-an peningkatdemiki-an skor harga diri siswa ydemiki-ang diberi-kan terapi menulis puisi lebih tinggi dibandingdiberi-kan siswa yang tidak diberikan terapi menulis puisi.
Pembahasan
Uji hipotesis menunjukkan terapi menulis puisi dapat meningkatkan harga diri siswa. Hasil pretest menyebutkan terdapat dua belas siswa dengan harga diri rendah yang enam diantaranya diberikan layan-an terapi menulis puisi. Hasil menunjukklayan-an terdapat lima siswa yang beranjak pada kategori sedang dan satu beranjak pada kategori tinggi serta tidak ada la-gi siswa yang berada pada kategorisasi rendah. Se-dangkan pada kelompok kontrol, hanya satu siswa yang berada pada kategori sedang, dan lima lainnya tetap dalam kategori rendah. Hal ini berarti bahwa siswa yang menerima perlakuan sudah lebih mampu membuat dirinya lebih berharga dan lebih mampu menerima keadaan diri serta kehidupannya.
Kegagalan siswa sebagai remaja dalam mem-bentuk harga dirinya akan berdampak langsung pa-da kemampuannya menjalani kehidupan. Perma-salahan yang diungkapkan oleh seluruh anggota yaitu mengenai retaknya keharmonisan keluarga karena perceraian, ketidakmampuan membangun pertemanan, keputusasaan menghadapi perasaan kehilang-an seseorang yang berharga, kemarahan dan kebencian dengan anggota keluarga dan se-bagai-nya menjadi persoalan yang sulit diterima oleh sese-orang yang memiliki harga diri rendah. Terapi menulis puisi membantu siswa pada pros-es eksternalisasi pengalaman yang tidak meny-enangkan. Eksternalisasi membantu meringankan beban psikologis ketika siswa memendam sebuah pe-ngalaman tidak menyenangkan. Menulis puisi serta membacakannya memberi kesempatan kepa-da siswa untuk meluapkan seluruh perasaannya de-ngan cara yang tidak menyakiti. Pada saat menu-lis, siswa menjangkarkan kembali kronologis dari sebuah permasalahan yang dialami dimulai dari awal peristiwa terjadi hingga pengaruh terhadap diri siswa. Menuliskan pengalaman pahit ke dalam sebuah puisi akan mengawali sebuah proses peneri-maan diri atas kehidupan yang telah dan sedang Ia jalani. Keberanian mengingat dan merunut kemba-li pengalaman pahit dengan penuh kesadaran mem-buat siswa merasa mampu menghadapi dan
men-gakui bahwa Ia telah merasakan emosi-emosi nega-tif dampak dari pengalaman tersebut.
Selain menulis puisi, membacakan puisi di de-pan anggota kelompok lain akan meningkatkan pe-nerimaan diri siswa. Respon yang mendukung saat siswa membagi pengalaman akan menumbuhkan keyakinan bahwa Ia diterima dan diakui dalam ke-lompok. Ketika anggota lain mendengarkan dan menghayati setiap kalimat puisi yang dibacakan, siswa akan merasa lebih berarti karena orang lain berusaha mendengarkan apa yang selama ini men-jadi beban hidupnya. Hal ini akan mengurangi keya-kinan pada diri siswa bahwa tidak ada seseorang yang memperdulikan kehidupannya.
Proses diskusi membantu siswa belajar un-tuk melihat permasalahan dari berbagai sudut pan-dang. Siswa dilatih untuk memecahkan permasala-han dengan mandiri setelah ia mendapatkan insight dari proses diskusi. Diskusi kelompok juga melatih siswa untuk berani berpendapat. Hal ini menum-buhkan kepercayaan diri saat apa yang ia katakan, didengar dengan penuh perhatian oleh temannya yang lain. Dengan beragam jenis permasalahan, siswa dapat belajar lebih banyak dari permasalah-an-permasalahan temannya. Dengan proses ini, se-dikit demi sese-dikit, siswa belajar untuk menerima dan membangun kembali penilaian terhadap dirinya serta kehidupannya. Untuk itu cara ini dapat mem-bantu siswa meningkatkan harga dirinya.
Berdasarkan pembahasan di atas, teknik terapi menulis puisi dapat diterapkan untuk meningkatkan harga diri siswa. Hal ini sesuai karena siswa dengan harga diri rendah perlu dibantu untuk membuat di-rinya lebih berharga dimulai dari membangun pe-nerimaan diri, mendapatkan pengakuan dari orang lain serta membangun kembali nilai-nilai posi-tif dalam diri. Cara tersebut akan didapatkan pada proses terapi menulis puisi.
Kesimpulan dan Saran
Berdasarkan analisis hasil pengujian hipotesis pada penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa dapat pengaruh yang signifikan pada pemberian ter-api menulis puisi terhadap harga diri siswa. Dengan kata lain, terapi menulis puisi dapat membantu me-ningkatkan harga diri siswa.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tera-pi menulis puisi dapat menjadi alternatif layanan Bimbingan dan Konseling yang mutakhir. Sehing-ga Guru BK perlu dibekali kompetensi untuk mem-berikan layanan berupa terapi menulis puisi. Salah satu cara yang dapat dilakukan dalam mempersiap-kan konselor sebagai proses lanjutan dari peneli-tian ini adalah memberikan pelatihan khusus kepa-da konselor-konselor sekolah mengenai penerapan konseling kelompok dengan menggunakan teknik terapi menulis puisi. Pelatihan bertujuan untuk me-latih konselor agar dapat memberikan layanan de-ngan menggunakan terapi menulis puisi dede-ngan persiapan, proses dan akhiran yang baik dan benar. Pelatihan ini dapat melibatkan dosen BK sebagai narasumber dan mahasiswa tertentu yang memiliki kompetensi berkaitan dengan terapi menulis puisi.
Bagi peneliti selanjutnya, beberapa hal yang per-lu dipertimbangkan yaitu mengenai: (a) kemampuan anggota kelompok untuk menulis dan membaca pui-si, jika perlu peneliti memberikan pelatihan khusus untuk melakukan kegiatan berpuisi sebelum proses penelitian dimulai, (b) pengadaan fasilitas penun-jang penelitian yang sangat krusial seperti ruangan yang kondusif sesuai dengan standar kelayakan ber-dasarkan referensi yang digunakan peneliti selanjut-nya, (c) pengalokasian waktu penelitian yang me-madai untuk meningkatkan efektivitas penerapan teknik terapi menulis puisi.
Daftar Pustaka
Bolton, G. et. al. (2004). Writing Cures, Introductory Handbook of Writing in Counseling and Psychothera-py. New York: Bruner-Routledge.
Coopersmith, S. (1967). The Antecedents of Self Esteem. San Fransisco: W. H. Freeman Company.
Hurlock, E. (1999). Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Ida Ayu Sanisca Nanda, dkk. (2012). Pengaruh Imple-mentasi Konseling Eksistensial Humanistik dengan Teknik Modelling untuk Meningkatkan Self-esteem Siswa Teralienasi Di Kelas VIII SMP Negeri 6 Sin-garaja. Skripsi. Bali: FIP Universitas Pendidikan Ga-nesha.
Karyanta, Nugraha Arif. (2012). Terapi Puisi: Dasar-Dasar Penggunaan Puisi Sebagai Modalitas dalam Psikoterapi. Jurnal Fakultas Kedokteran. Surakarta: FKUNS.
Lerner, A. (2006). A look at Poetry Therapy. Journal of Poetry Therapy Vol 19, no. 2, 81.
Malchiodi, C A. (2015). Expressive Therapies. New York: The Guilford Press.
Mazza, N. (2003). Poetry Therapy, Theory and Practice. New York: Brunner Routledge.
Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Band-ung: Alfabeta.
Sugiyono. (2006). Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.