III. METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Kerangka Analisis
Untuk menjawab semua permasalahan dan tujuan yang ingin dicapai, penelitian ini dilakukan dalam dua tahapan. Pada tahap pertama, penelitian dilakukan untuk menganalisis dampak pelaksanaan reforma agraria terhadap tingkat output masing-masing sektor, perekonomian Indonesia secara makro serta tingkat pendapatan kelompok rumah tanggamelalui pendekatan analisis computable general equilibrium (CGE). Pada tahapan selanjutnya, hasil yang diperoleh dari analisis CGE digunakan dalam analisis microsimulation untuk mengukur bagaimana dampak perubahan pendapatan yang terjadi diantara kelompok masyarakat mempengaruhi kemiskinan dan distribusi pendapatan di Indonesia. Kerangka tahapan penelitan yang dilakukan oleh penulis dapat ditunjukkan pada Gambar 5.
Gambar 5 Kerangka tahapan penelitian.
3.2. Model Analisis
Sesuai dengan pembahasan sebelumnya dimana pada penelitian ini digunakan dua pendekatan yaitu computable general equilibrium (CGE) dan analisis microsimulation, maka pada bagian ini akan dibahas mengenai kedua model yang digunakan.
Analisis CGE :
mengukur dampak simulasi reformasi agraria terhadap : a) output per sektor ekonomi b) kondisi makroekonomi c) pendapatan kelompok rumah
tangga
Penelitian Tahap 1
Analisis microsimulation : mengukur dampak perubahan tingkat pendapatan kelompok rumah tangga sebagai akibat reforma agraria terhadap : a) tingkat kemiskinan
b) distribusi pendapatan
3.2.1. Computable General Equilibrium (CGE)
Teori general equilibrium (GE) dalam ilmu ekonomi adalah teori yang menjelaskan tentang keberadaan pasar sebagai suatu sistem dalam suatu perekonomian yang terdiri atas beberapa macam pasar dan memiliki kaitan antara satu pasar dengan pasar lainnya. Adanya kaitan tersebut menyebabkan setiap perubahan pada satu pasar akan berpengaruh terhadap kinerja pasar lainnya. Teori GE ini pertama kali dikembangkan oleh Leon Walras. Teori ini mengemukakan bahwa semua harga dan kuantitas barang di semua pasar ditentukan secara simultan melalui proses interaksi antara satu dengan lainnya.
Model CGE pada dasarnya merupakan model keseimbangan. Model CGE meliputi model multimarket dimana keputusan-keputusan agen yang terlibat bersifat responsif terhadap harga dan pasar bersifat responsif terhadap keputusan permintaan dan penawaran. Secara umum, framework model CGE dapat dijelaskan pada Gambar 6.
Model CGE terdiri dari persamaan-persamaan yang mewakili keseimbangan seluruh pasar mulai dari pasar input sampai pasar output untuk keseluruhan sektor yang dianalisis. Selain itu, model CGE ini secara eksplisit memodelkan perilaku rasional agen-agen perekonomian baik produsen yang memaksimalkan keuntungan, rumah tangga yang memaksimalkan kepuasan (utility), dan agen lain dalam perekonomian. Model GE juga menangkap perilaku arus dana antar agen, serta persamaan-persamaan lain yang mendefinisikan pembentukan harga dan kuantitas. Secara keseluruhan, model CGE merupakan sekumpulan persamaan matematis yang simultan dan dapat diselesaikan.
Model CGE sering digunakan untuk permasalahan strategi perdagangan, distribusi pendapatan, dan perubahan struktural di suatu negara. Model CGE memiliki sejumlah fitur umum yang menjadikan CGE sesuai untuk penelitian ini. Pertama, CGE dapat mensimulasikan fungsi dari pasar-pasar yang berada dalam perekonomian, termasuk pasar tenaga kerja, pasar modal, dan pasar komoditas, serta menyediakan perspektif yang sangat bermanfaat mengenai perubahan yang terjadi dalam kondisi ekonomi melalui harga dan pasar. Kedua, sifat struktural dari model CGE dapat mengakomodir berbagai fenomena baru. Ketiga, model CGE mempertimbangkan seluruh kendala perekonomian secara luas. Dalam penelitian ini reforma agraria diperkirakan dapat mempengaruhi tingkat pendapatan antar kelompok rumah tangga yang pada akhirnya akan mampu mempengaruhi kondisi perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Keempat, karena model CGE terdiri dari sektor yang sangat detil maka model ini dapat digunakan sebagai "simulation laboratory" untuk menguji secara kuantitatif bagaimana dampak dari kebijakan yang berbeda mempengaruhi kinerja dan struktur ekonomi. Terakhir, model CGE secara teoritis dapat memberikan framework untuk menganalisis kesejahteraan dan distribusinya.
Dalam model CGE, keputusan ekonomi merupakan hasil optimalisasi dari produsen dan konsumen dengan kerangka perekonomian secara luas dan koheren. Berbagai mekanisme substitusi ditetapkan, termasuk substitusi antar tenaga kerja, antara modal dan tenaga kerja, antara barang domestik dan barang impor, serta
antara penjualan domestik dan ekspor. Semua itu terjadi sebagai respon terhadap variasi harga relatif.
Selain memiliki beberapa keunggulan yang telah disebutkan sebelumnya, penggunaan model CGE ini memiliki beberapa kelemahan. Pendekatan ekonomi secara luas tidak cocok untuk menganalisis semua masalah. Dalam pengembangan gambaran komprehensif dari seluruh perekonomian, beberapa detail permasalahan seringkali dihilangkan. Jika detail yang sangat relevan dengan analisa itu dihilangkan, pendekatan jelas kurang cocok. Selain itu, asumsi-asumsi yang digunakan dalam pemodelan bisa saja berbeda dengan kondisi yang nyata dilapangan sehingga hasil yang diperoleh dari analisis model ini akan berlaku jika kondisinya sesuai dengan asumsi yang diterapkan. Secara umum, model CGE merupakan suatu alat analisis yang paling sering digunakan dan sangat bermanfaat dalam menentukan sebuah pilihan kebijakan.
3.2.1.1. Data Base dan Pemilihan Sektor Ekonomi
Pada penelitian ini, data yang digunakan untuk analisis CGE adalah Sistem Neraca Sosial Ekonomi (SNSE) Indonesia tahun 2008. SNSE merupakan suatu kerangka data yang disusun dalam bentuk matriks yang merangkum berbagai variabel sosial dan ekonomi secara terintegrasi sehingga dapat memberikan gambaran umum mengenai perekonomian suatu negara dan keterkaitan antar variabel ekonomi dan sosial pada suatu waktu tertentu. Secara umum, SNSE memuat mengenai distribusi pendapatan, baik distribusi pendapatan rumah tangga maupun distribusi pendapatan faktor produksi serta pola pengeluaran rumah tangga.
Data dasar SNSE Indonesia tahun 2008 terdiri dari empat komponen neraca yaitu :
1. Neraca faktor produksi, 2. Neraca institusi,
3. Neraca sektor produksi, dan 4. Neraca lainnya (rest of the world).
Pada penelitian ini, faktor produksi yang akan dianalisis terdiri atas tenaga kerja, modal, dan lahan. Dalam penelitian ini tenaga kerja diklasifikasikan menjadi empat kelompok utama yaitu tenaga kerja sektor pertanian desa, tenaga kerja sektor pertanian kota, tenaga kerja sektor non pertanian desa, tenaga kerja sektor non pertanian kota. Adapun Institusi yang akan dianalisis dibagi menjadi 4 kelompok utama, yakni rumah tangga, pemerintah, perusahaan, dan luar negeri (rest of the world). Kelompok rumah tangga selanjutnya dibagi menjadi 10 kategori, yaitu:
1. Buruh pertanian/HH1
2. Pengusaha pertanian memiliki tanah 0.0 ha – 0.5 ha (Pengusaha pertanian kecil)/HH2
3. Pengusaha pertanian memiliki tanah 0.5 ha -1.0 ha (Pengusaha pertanian menengah)/HH3
4. Pengusaha pertanian memiliki tanah 1.0 ha lebih (Pengusaha pertanian besar) /HH4
5. Pengusaha bebas golongan rendah, tenaga TU, pedagang keliling, pekerja bebas sektor angkutan, jasa perorangan, buruh kasar pedesaan/ HH5
6. Bukan angkatan kerja dan golongan tidak jelas pedesaan/HH6
7. Pengusaha bebas golongan atas, pengusaha bukan pertanian, manajer, militer, profesional, teknisi, guru, pekerja TU dan penjualan golongan atas pedesaan/HH7
8. Pengusaha bebas golongan rendah, tenaga TU, pedagang keliling, pekerja bebas sektor angkutan, jasa perorangan, buruh kasar perkotaan/HH8
9. Bukan angkatan kerja dan golongan tidak jelas perkotaan/HH9
10. Pengusaha bebas golongan atas, pengusaha bukan pertanian, manajer, militer, profesional, teknisi, guru, pekerja TU dan penjualan golongan atas perkotaan/HH10
Adapun untuk sektor produksi yang akan dianalisis terdiri atas : 1. Pertanian Tanaman Pangan
2. Pertanian Tanaman Lainnya 3. Peternakan dan Hasil-hasilnya 4. Kehutanan dan Perburuan 5. Perikanan
6. Pertambangan
7. Industri Makanan, Minuman dan Tembakau 8. Industri Lainnya
9. Jasa Swasta 10. Sektor Lainnya
Secara umum, SNSE yang digunakan dalam penelitian ini berbeda dengan data dasar SNSE 2008. Untuk memperoleh SNSE yang sesuai dengan tujuan penelitian, maka dilakukan proses Agregasi dan disagregasi pada SNSE dasar tahun 2008 dengan menggunakan informasi yang ada di tabel input-output (I-O) tahun 2008. Selain data-data dasar yang berasal dari SNSE, model keseimbangan umum juga membutuhkan informasi elastisitas dan beberapa parameter behavioural lainnya. Parameter elastisitas yang digunakan dalam model ini terdiri dari elastisitas substitusi tenaga kerja, elastisitas substitusi faktor kapital, elastisitas substitusi input primer, elastistas transformasi total output suatu perusahaan, elastistas transformasi produk untuk pasar domestik dan ekspor, elastisitas permintaan ekspor, elastisitas Armington dan elastisitas pengeluaran. Semua nilai elastisitas yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat di Lampiran 2.
3.2.1.2. Model CGE empiris
Pada penelitian ini, model CGE yang digunakan mengadopsi CGE PEP-1-1 (Single-Country, Static Version) yang disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik penelitian. Model CGE PEP-1-1 ini merupakan model standar CGE yang berbasis syntax untuk software General AlgebraicModeling
System(GAMS) yang bisa dikases secara bebas dari website Poverty & Economic Policy (PEP).
Dalam model ini perusahaan diasumsikan beroperasi pada sistem pasar persaingan sempurna. Semua perusahaan berupaya untuk memaksimumkan keuntungan dengan kendala teknologi produksi tertentu serta menghadapi tingkat harga input dan output tertentu pula (dalam hal ini perusahaan bertindak sebagai price taker). Fungsi produksi yang digunakan dalam model ini ditunjukkan pada Gambar 7.
Gambar 7 Struktur Fungsi Produksi.
Gambar 7 menunjukkan bahwa struktur fungsi produksi dapat dijelaskan melalui beberapa tingkatan. Pada tingkatan paling atas, gambar tersebut menjelaskan bahwa total output yang dihasilkan oleh suatu sektor j merupakan kombinasi antara value added dengan intermediate consumption dengan mengikuti fungsi constant elasticity of substitution (CES).Dalam hal ini, semua input bersifat substitusi dan antara value added dengan intermediate consumption dapat dipertukarkan dengan koefisien tertentu. Fungsi yang digunakan dalam penelitian ini berbeda dengan model dasarnya, dimana komposisi value added dengan intermediate consumption dalam membentuk total produksi dinyatakan
CES CES
Leontief
…
… …
Output (XSTJ)
Value added (VAj) Aggregate Intermediate
Consumption (CIj) Composite Labor (LDCj) Product 1 (DI1,j) Composite Capital (KDCj) Product 2 (DI2,j) Labor 1 (LD1,j) Labor 2 (LD2,j) Capital Land CES CES
dengan fungsi Leontief dan memiliki proporsi yang tetap. Pada tingkat kedua, nilai value added dari masing-masing sektor produksi terdiri komposit tenaga kerja dan komposit modal. Penyusunan nilai value added idari komposit tenaga kerja dan komposit modal ini mengikuti fingsi (CES)
Pada tingkatan paling bawah di sisi value added, komposit tenaga kerja merupakan kombinasi dari semua kategori tenaga kerja (yang dilambangkan dengan L1, L2,…,Ll) dengan mengikuti fungsi CES dan hubungan antar jenis
tenaga tersebut bersifat imperfect substitutability. Perusahaan mencoba untuk mengkombinasikan berbagai jenis tenaga kerja guna meminimumkan biaya tenaga kerja pada tingkat upah tertentu. Permintaan tenaga kerja diperoleh dari first order condition untuk meminimumkan biaya dengan kendala teknologi tertentu dengan menggunakan fungsi CES.
Sisi lain pada tingkatan paling bawah dari value added adalah komposit modal. Dalam model ini komposit modal dibedakan antar sektor pertanian dengan non pertanian. Untuk sektor pertanian komposit modal merupakan kombinasi dari lahan dan modal lainnya yang bersifat imperfect substitutability. Adapun untuk sektor non pertanian komposit modal hanya terdiri dari satu komponen yaitu modal. Permintaan masing-masing jenis modal merupakan hasil dari proses minimisasi biaya.
Kembali pada tingkat kedua, pada sisi intermediate consumption, total intermediate consumption merupakan kombinasi dari berbagai barang dan jasa yang ada di pasar produk. Dalam penyusunan total intermediate consumption diasumsikan bahwa semua penyusunnya bersifat kompelementer secara sempurna yang mengikuti fungsi Leontif.
Asumsi penting lain yang perlu dibahas dalam model ini adalah terkait dengan pemodelan tabungan. Model fungsi tabungan rumah tangga yang digunakan dalam model ini sedikit berbeda dari fungsi tabungan yang banyak digunakan dalam model yang lain. Dalam model ini memungkinkan nilai marginal propensity to save berbeda dengan nilai average propensity. Pemilihan model ini dilakukan untuk mengakomodir jika terjadi nilai tabungan yang negatif.
Jika nilai marginal propensity to save sama dengan nilai average propensity, dan berdasarkan hasil kalibrasi menghasilkan nilai tabungan yang negatif maka akan memberikan hasil yang kurang sesuai dengan teori. Ketika terjadi penurunan pendapatan rumah tangga maka akan meningkatkan tingkat tabungannya, dan sebaliknya, jika terjadi peningkatan pendapatan maka akan menambah tingkat utang rumah tangga. Model ini mencoba untuk menghindari kesalahan yang sangat mendasar seperti ini, namun demikian model ini membutuhkan nilai parameter tambahan berupa nilai marginal propensity to save. Untuk tujuan ini, maka nilai marginal propensity to save bisa diperoleh dari hasil estimasi ekonometrika sesuai dengan kondisi masing-masing kelompok rumah tangga. Untuk keluarga dengan tingkat tabungan negatif akan memiliki intersep yang negatif sedangkan slope dari fungsi tabungannya bernilai positif.
Dalam model ini, permintaan investasi terdiri dari penanaman modal total domestik bruto (gross fixed capital formation/GFCF)dan perubahan stok modal (change in inventories). Kedua komponen permintaan investasi ini sangat berbeda. Nilai GFCF tidak boleh negatif sedangkan nilai perubahan stok modal bisa bernilai positif ataupun negatif. Dalam model ini nilai GFCF merupakan variabel yang bersifat endogen sedangkan perubahan stok modal bersifat eksogen. Total pengeluaran investasi ditentukan oleh kendala persamaan saving-investment dengan nilai tabungan yang bersifat endogen. Nilai GFCF diperoleh dari hasil pengurangan antara total pengeluaran investasi dengan perubahan stok modal. Dalam pemodelannya, nilai GFCF merupakan sebuah proporsi tertentu dari total pengeluaran investasi dengan nilai yang tetap dan secara implist model ini menunjukkan bahwa fungsi produksi dari modal yang baru adalah fungsi Cobb-Douglas. Besaran pengeluaran investasi tertentu, jumlah barang untuk kegiatan investasi berbanding terbalik dengan harga barang tersebut. Asumsi seperti ini juga digunakan dalam memodelkan pengeluaran pemerintah untuk barang dan jasa. Pada besaran nilai anggaran belanja pemerintah tertentu, jumlah barang yang diminta per komoditas akan berubah-ubah mengikuti perubahan tingkat harga dengan arah yang berlawanan.
Tingkat permintaan barang dan jasa (baik untuk barang domestik ataupun impor) merupakan penjumlahan antara permintaan konsumsi rumah tangga, permintaan untuk investasi, permintaan untuk kepentingan pelayanan publik serta permintaan untuk marjin perdagangan dan pengangkutan. Dalam model ini, tingkat konsumsi rumah tangga diasumsikan mengikuti Stone-Gearyutilityfunctions (yang diturunkan dari fungsi linear expenditure system/LES). Terdapat hal yang sangat mendasar yang membedakan antara Stone-Gearyutilityfunctions dengan fungsi yang lainnya yaitu dengan adanya tingkat konsumsi minimum dari masing-masing produk barang dan jasa. Berbeda dengan fungsi Cobb-Douglas (yang banyak digunakan dalam literatur lain) model ini bisa menangkap nilai elastisitas permintaan antara barang yang nol atau menyatakan semua barang bersifat unit income-elasticities. Pemodelan seperti ini memberikan keleluasaan bagi peneliti untuk menentukan besaran elastisitas yang digunakan dalam penelitiannya. Dalam model ini, fungsi konsumsi masing-masing rumah tangga merupakan sebuah proses maksimisasi utuilitas dengan kendala anggaran tertentu.
Beberapa model CGE mengasumsikan bahwa produsen selalu dapat menjual barang dan jasa yang dihasilkan ke pasar luar negeri sebanyak mungkin sesuai dengan apa yang mereka kehendaki. Berbeda dari model-model tersebut, model CGE ini mencoba untuk mengembangkan asumsi lain dimana para produsen lokal dapat meningkatkan proporsi penjualannya dalam pasar internasional melalui penurunan harga ekspor yang menunjukan keunggulan relatif terhadap produk luar negeri. Kemudahan seorang produsen lokal untuk meningkatkan proporsi penjualannya di pasar internasional akan sangat tergantung dari nilai elastisitas substistusi ekspor. Selain itu model ini mengakomodir kemungkinan peningkatan permintaan ekspor (dalam model ini diasumsikan bersifat eksogen) yang dapat dilakukan dengan merubah besaran nilai autonomous ekspor .
Selanjutnya, model ini mengasumsikan perilaku dari para konsumen dalam perekonomian mengikuti perilaku dari produsen. Model ini mengasumsikan bahwa barang hasil impor tidak bisa disubstitusikan secara sempurna dengan
barang-barang hasil produksi dalam negeri. Oleh karena itu, permintaan barang dan jasa yang terjadi dalam sebuah perekonomian merupakan permintaan gabungan antara barang impor dengan barang domestik. Tingkat substitusi yang tidak sempurna antara kedua jenis barang yang diminta ditunjukkan oleh fungsi elastisitas substitusi yang konstan (constant elasticity of substitution/CES)
Dalam model ini, fungsi penawaran Impor dinyatakan secara implisit. Asumsi Negara kecil menyiratkan bahwa elastisitas penawaran impor bersifat tidak terbatas sebagai akibat adanya perubahan harga sehingga dalam model ini harga impor dunia nilainya diasumsikan tetap.
Asumsi lain dari model ini adalah bahwa modal bersifat industry-specific dengan jumlah modal di setiap industri yang tetap, sehingga sewa kapitalyang terjadi antar indutsri akan berbeda. Selain asumsi-asumsi diatas, model ini memiliki asumsi dan pemodelan yang sama dengan model dasar dan model CGE yang lainnya. Secara lengkap rumusan matematis dari model yang digunakan di model ini dapat dilihat di Lampiran 1.
3.2.1.3. Simulasi yang Dilakukan
Untuk menjawab permasalahan dan tujuan penelitian, maka dalam penelitian ini dilakukan dua buah simulasi kebijakan yaitu :
1. Kebijakan redistrbusi kepemilikan lahan dengan menambah kepemilikan lahan bagi kelompok masyarakat dengan kategori buruh tani, dan kelompok masyarakat pengusaha pertanian dengan kepemilikan lahan kurang dari 0.5 ha(petani kecil) yang berasal dari kelompok pengusaha pertanian dengan kepemilikan lahan diatas 1 ha(pengusaha pertanian golongan atas), golongan atas perdesaan serta rumah tangga golongan atas perkotaan. Dengan kata lain, pada simulasi yang pertama kebijakan yang dilakukan hanya berupa redistribusi lahan. Selanjutnya, kebijakan refoma agraria yang hanya berupa kegiatan reditribusi kepemilikan lahan disebut sebagai redistribusi lahan.
2. Simulasi kedua dari penelitian ini terdiri dari kebijakan redistribusi kepemilikan lahan yang disertai dengan kenaikan produktivitas
(teknologi produksi) dari sektor-sektor pertanian. Seperti halnya dijelaskan pada bagian sebelumnya, dimana terdapat perbedaan antara konsep reforma agraria dan redistribusi lahan. Istilah redistribusi lahan dipakai untuk merujuk pada program-program sekitar redistribusi kepemilkan lahan dalam rangka menata ulang struktur kepemilikan tanah yang timpang menjadi lebih adil. Adapun istilah reforma agararia mengacu pada pengertian lebih luas dan komprehensif, karena mencakup juga berbagai program pendukung yang dapat mempengaruhi kinerja sektor pertanian pasca redistribusi kepemilikan lahan. Dalam penelitian ini, simulasi kedua selanjutnya disebut sebagai redistribusi lahan plus.
Besarnya penambahan kepemilikan lahan dilakukan dengan besaran nilai yang disesuaikan dengan struktur kepemilikan lahan yang ada di Indonesia seperti yang dijelaskan pada Tabel 3.
Tabel 3 Besaran redistribusi lahan yang digunakan dalam simulasi
Sumber : diolah dari SNSE dan SUSENAS 2008
Besaran nilai redsitribusi kepemilikan lahan yang dilakukan dalam penelitian ini didasarkan pada data yang terdapat dalam SNSE dan SUSENAS 2008. Redistribusi kepemilikan lahan dilakukan kepada kelompok rumah tangga yang memiliki rata-rata kepemilikan lahan lebih dari 2 ha dan dalam hal ini
Kelompo k Rumah
tangga
Kondisi Awal Kondisi Akhir
Perubahan Kepemilik an lahan Jumlah HH Pendapatan HH dari lahan (dalam Milyar Rp) Total lahan yang dikuasai setiap kelompok HH Rata-rata Kepemili kan lahan (Susenas) Total lahan yang dikuasai setiap kelompok HH Rata-rata Kepemili kan lahan HH1 7 367 966 441 200 884 0.3 9 485 286 1.3 4622% HH2 9 952 671 2 204 1 004 427 0.1 13 545 823 1.4 1249% HH3 3 597 504 7 713 3 515 493 0.9 3 515 493 0.9 0% HH4 2 470 540 9 915 6 990 458 2.8 4 941 078 2.0 -29% HH5 9 122 381 13 220 6 026 558 0.6 6 026 558 0.6 0% HH6 3 306 788 1 102 502 212 0.2 502 212 0.2 0% HH7 3 922 657 38 561 17 577 463 4.5 7 845 314 2.0 -55% HH8 9 360 179 12 118 5 524 345 0.6 5 524 345 0.6 0% HH9 3 591 039 2 204 1 004 427 0.2 1 004 427 0.3 0% HH10 5 024 376 22 036 20 093 017 3.9 10 048 752 2.0 -50% Total 57 716 100 109 517 62 439 292 1.1 62 439 292 1.1
kelompok rumah tangga yang rata-rata kepemilikan lahannya lebih dari 2 ha adalah kelompok rumah tangga pengusaha pertanian besar (HH4), rumah tangga pedesaan golongan atas (HH7) dan kelompok rumah tangga golongan atas perkotaan (HH10). Bagi kelompok rumah tangga yang kepemilikan lahan-nya lebih dari 2 ha maka kelebihan-nya akan diambil dan dialihkan kepada kelopok buruh tani (HH1) dan kelopok pengusaha pertanian dengan kepemilikan lahan kurang dari 0.5 ha (HH2).
Adapun besaran simulasi kenaikan produktivitas sektor pertanian didasarkan pada perkembangan produktivitas dari sektor-sektor pertanian sebagaimana dijelaskan oleh Tabel 4 berikut .
Tabel 4 Persentase kenaikan produktivitas sektor pertanian di Indonesia tahun 2000-2010 Sektor Tahun 2000-2010 (%) Rata-rata produktivitas tahunan 2000-2010 (%) Tahun 2005-2010 (%) Besaran Simulasi (%)
Pertanian Tanaman Pangan 28.43 2.48 14.16 14.16 Pertanian Tanaman Lainnya 97.74 30.24 22.56 22.56 Sumber : diolah dari database Deptan 2012
3.2.2. Microsimulation
Analisis microsimulation merupakan salah satu metode yang sering digunakan untuk mengukur bagaimana dampak perubahan tingkat pendapatan suatu masyarakat (sebagai akibat dari adanya suatu kebijakan) terhadap tingkat kemiskinan dan distribusi pendapatan. Untuk tujuan ini, indeks kemiskinan FGT (Foster-Greer-Thorbecke) digunakan untuk mengukur kondisi kemiskinan serta Indeks Gini untuk mengukur distribusi pendapatan.
Dalam penelitian ini, analisis microsimulation digunakan untuk mentransmisikan hasil yang diperoleh dari analisis CGE ke dalam data individu rumah tangga (microdata) untuk mengukur seberapa besar dampak perubahan tingkat pendapatan dari setiap individu rumah tangga terhadap kondisi kemiskinan individu tersebut. Dalam praktiknya, analisis microsimulation ini menghitung ukuran tingkat kemiskinan dan distribusi pendapatan dalam suatu masyarakat antara sebelum dan setelah diterapkan-nya suatu kebijakan dengan menggunakan data individu rumah tangga.
3.2.2.1 Data Base
Untuk melakukan analisis microsimulation, penelitian ini menggunakan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) Indonesia tahun 2008. Data SUSENAS merupakan data hasil survei rumah tangga mengenai berbagai karakteristik sosial-ekonomi penduduk, terutama yang erat kaitannya dengan pengukuran tingkat kesejahteraan masyarakat. Secara struktur model, data SUSENAS terpisah atau independen dari database CGE yaitu SNSE. Agar SUSENAS dapat terintegrasi dengan SNSE-CGE maka dilakukan rekonsiliasi kelompok rumahtangga sehingga perubahan di CGE dapat ditransmisikan ke data SUSENAS. Rumahtangga yang ada di model CGE dijadikanz referensi dalam pengelompokan rumahtangga di SUSENAS.
3.2.2.2. Foster-Greer-Thorbecke
Dalam penelitian ini, tingkat kemiskinan diukur dengan menggunakan rumus berikut (Foster et al. 1984) :
) 0 ( , 1 ) ; ( 1
q i i z y z n z y P dengan definisi : P = tingkat kemiskinan iY
= pengeluaran rumahtangga per kapita individu ke i n = jumlah populasiq = jumlah kelompok rumahtangga z = garis kemiskinan
Dengan melihat nilai alpha (α), maka terdapat 3 (tiga) kemungkinan dalam mengukur tingkat kemiskinan:
1. Jika α = 0, P0 menyatakan headcount index yang menunjukkan jumlah
populasi di bawah garis kemiskinan. Dengan demikian rumus tersebut berubah menjadi :
q i i z y z n z y P 1 0 0 1 ) ; (2. α=1 menunjukkan ukuran poverty gap yang menghitung jarak relatif terhadap garis kemiskinan. Dengan memasukkan nilai alpha=-1, maka angka kemiskinan dihitung dengan formula berikut ini:
1 1 1 1 ( ; ) q i i z y P y z n z
3. Jika α=2, P2 menunjukkan derajat poverty severity (keparahan kemiskinan)
karena indikator ini sangat sensitif terhadap perubahan pendapatan. Rumusnya indikator kemiskinannya menjadi :
q i i z y z n z y P 1 2 2 1 ) ; ( 3.2.2.3. Koefisien GiniKoefisien Gini (Gini Index) adalah salah satu ukuran yang paling sering digunakan untuk mengukur tingkat ketimpangan pendapatan secara menyeluruh. Koefisien Gini diturunkan dari kurva Lorenz yang merupakan sebuah kurva pengeluaran kumulatif yang membandingkan distribusi dari pendapatan dengan distribusi seragam yang mewakili persentase kumulatif penduduk. Untuk membentuk koefisien Gini, grafik persentase kumulatif penduduk (dari termiskin hingga terkaya) digambar pada sumbu horizontal dan persentase kumulatif pengeluaran (pendapatan) digambar pada sumbu vertikal dan hal ini menghasilkan kurva Lorenz.
Dalam penelitian ini, koefisien Gini diperoleh dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Gini (1921) yang dinyatakan sebagai berikut:
1
1
1 1 n k K k K k G X X Y Y
dengan definisi bahwa X
k adalah proporsi kumulatif dari jumlah rumah tangga,
untuk k = 0,...,n, dengan X
pendapatan rumah tangga sampai kelas ke-k, untuk k = 0,...,n, dengan Y
0 = 0, Yn
=1.
Jika kurva Lorenz dinyatakan dengan fungsi Y = L(X), maka nilai koefisien gini dapat diperoleh dengan mencari nilai integral dari fungsi tersebut yaitu
1
0
( ) L X dX
, sehingga rumus koefisien Gini menjadi1
0
1 2 ( )