• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH MODEL EXPERIENTIAL LEARNING TERHADAP KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM KELAS VII SMP HASJIM ASJ'ARI TULANGAN SIDOARJO.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGARUH MODEL EXPERIENTIAL LEARNING TERHADAP KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM KELAS VII SMP HASJIM ASJ'ARI TULANGAN SIDOARJO."

Copied!
140
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH MODEL EXPERIENTIAL LEARNING TERHADAP KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM KELASVII SMP HASJIM

ASJ’ARI TULANGAN SIDOARJO

SKRIPSI

Oleh:

SITI MARIA ULFA NIM. D71212145

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

(2)
(3)
(4)
(5)

ABSTRAK

Siti Maria Ulfa (D91212177), Pengruh Model Experiential Learning Terhadap Kualitas Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas VII SMP Hasjim Asj’ari Tulangan Sidoarjo, Skripsi, Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.

Keyword: Model Experiential Learning, Kualitas Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Fokus penelitian dalam skripsi ini adalah bagaimana pelaksanaan model Experiential Learning VII SMP Hasjim Asj’ari Tulangan Sidoarjo, bagaimana kualitas pembelajaran pendidikan agama islam VII SMP Hasjim Asj’ari Tulangan Sidoarjo, serta

bagaimana pengaruh model Experiential Learning terhadap kualitas pembelajaran

pendidikan agama islam kelas VII SMP Hasjim Asj’ari Tulangan Sidoarjo.

Pendekatan penelitian dalam skripsi ini adalah pendekatan kuantitatif. Pengumpulan data melalui metode wawancara, observasi dan dokumentasi, dan angket kuesioner. Analisis data dengan mengambil hasil angket yang telah disebarkan ke beberapa siswa. Mengecek keabsahan data tersebut dilakukan melalui ketentuan pengamatan, wawancara serta hasil dari angket yang telah disebarkan.

Hasil penelitian mengungkapkan Pelaksanaan model pembelajaran dilakukan dengan baik, dengan indikator siswa mampu memahami proses pembelajaran dengan baik. Siswa belajar dari pengalaman mereka sendiri yang mereka kaitkan dengan materi yang sedang dipelajari, begitu juga tentang kualiatas pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Hasjim Asj’ari Tulangan Sidoarjo dilakukan dengan baik. Hal ini terbukti dari sikap antusias siswa terhadap mata pelajaran PAI itu sendiri, dan hampir semua siswa menyukai pelajaran PAI, mereka juga menerapkan sikap disiplin tinggi ketika mengikuti pelajaran terbukti dengan kehadiran siswa yang tepat waktu. ,

Berdasarkan dari hasil analisis kajian skripsi ini, maka dapat penulis simpulkan

bahwa model Experiential Learning memiliki pengaruh yang sangat baik terhadap

(6)

DAFTAR ISI

SAMPUL DALAM... i

PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI ... ii

PENGESAHAN TIM PENGUJI SKRIPSI ... iii

MOTTO ... iv

PERSEMBAHAN ... v

ABSTRAK ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... ix

PEDOMAN TRANSLITERASI ... xii

BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah ... 1

B.Rumusan Masalah ... 8

C.Tujuan Penelitian ... 8

D.Kegunaan Penelitian ... 9

E. Hipotesis ... 10

F. Ruang Lingkup Penelitian ... 11

G.Sistematika Pembahasan ... 14

BAB II LANDASAN TEORI A.Model Experiential Learning ... 16

1. Pengertian Model Experiential Learning ... 16

(7)

3. Siklus Model Experiential Learning ... 23

4. Model Experiential Learning Dan Model Lainnya ... 29

B.Kualitas Pembelajaran Pendidikan Agama Islam ... 32

1. Pengertian Kualitas Pembelajaran PAI ... 32

2. Unsur-Unsur Dinamis Dalam Pembelajaran PAI ... 36

3. Kriteria Pembelajaran PAI ... 42

C. Pengaruh Model Experiential Learning Terhadap Kualitas Pembelajaran Pendidikan Agama Islam... 45

BAB III METODE PENELITIAN A.Latar Belakang Objek Penelitian ... 49

1. Sejarah Berdirinya SMP Hasjim Asj’ari Tulangan ... 49

2. Visi, Misi, Tujuan SMP Hasjim Asj’ari Tulangan ... 51

3. Keadaan Guru Dan Karyawan SMP Hasjim Asj’ari Tulangan ... 53

4. Keadaan Siswa SMP Hasjim Asj’ari Tulangan ... 57

5. Sarana Dan Prasarana SMP Hasjim Asj’ari Tulangan ... 59

B. Metode Penelitian ... 62

1. Rancangan Penelitian ... 62

2. Jenis Jenis Penelitian Dan Sumber Data ... 64

3. Teknik Penentuan Sumber Data ... 65

(8)

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS DATA

A.Penyajian Data ... 79

1. Data Tentang Model Experiential Learning ... 79

2. Data Tentang Kualitas Pembelajaran PAI... 91

B. Analisis Data... 99

1. Analisis Data Tentang Model Experiential Learning ... 99

2. Analisis Data Tentang Kualitas Pembelajaran PAI ... 109

3. Analisis Data Tentang Pengaruh Model Experiential Learning Terhadap Kualitas Pembelajaran PAI ... 117

BAB V PENUTUP A.Kesimpulan ... 128

B.Saran ... 130

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

PERNYATAAN KEABSAHAN

(9)

 

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk menumbuh

kembangkan potensi sumber daya manusia dengan cara mendorong dan

memfasilitasi kegiatan belajar mereka. Secara detail, dalam Undang-Undang RI

No. 20 tahun 2003, bab I pasal I, tentang “system pendidikan nasional” bahwa

pendidikan di definisikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan

Susana belajar dan proses belajar agar peserta didik secara aktif mengembangkan

potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,

kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan

dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.1

Selamanya pendidikan tetap menjadi alternative dalam mengembangkan

dan meningkatkan sumber daya manusia, utamanya untuk mempersiapkan

generasi mendatang agar mampu menjawab tentang perubahan zaman melalui

proses belajar mengajar yang merupakan dua konsep yang hamper tidak dapat

dipisahkan satu dengan yang lainnya, terutama dalam praktiknya di sekolah.

Menurut Bagne (1977) behwa belajar merupakan sebuah proses perubahan

tingkah laku yang merupakan perubahan kecenderungan manusis seperti sikap,

minat, atau nilai dan perubahan kemampuan. Hal ini amat penting agar

       1

Undang-Undang RI N0 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS, (Jakarta: Cemerlang,

(10)

2   

perkembangan kepribadian dan kemampuan belajar siswa terjadi secara

harmonis.2

Pada saat ini pembelajaran kreatif dan inovatif seharusnya dilakukan oleh

guru saat waktu pembelajaran dalam upaya untuk menghasilkan peserta didik

yang kreatif. Tingkat keberhasilan guru dalam mengajar dilihat dari keberhasilan

peserta didikanya sehingga dikatakan bahwa guru yang hebat itu adalah guru

yang dapat memberikan inspirasi bagi peserta didiknya.

Proses belajar terjadi karena adanya interaksi individu dengan

lingkungannya, karena itu istilah pembelajaran merupakan usaha yang

dilaksanakan secara sengaja, terarah dan terencana, dengan tujuan yang telah

ditetapkan terlebih dahulu sebelum proses dilaksanakan, serta pelaksanaannya

terkendali, dengan maksud agar terjadi belajar terlebih dahulu.3

Pembelajaran yang dilakukan oleh guru merupakan kunci efektifitas

belajar dalam kelas. Pembelajaran yang tepat akan dapat membangun semangat

peserta didik dalam mengikuti pembelajaran. Dalam pembelajaran diperlukan

lingkungan yang kondusif agar dapat dicapai perkembangan individual secara

optimal , hubungan guru, peserta didik dan sumber belajar dalam sebuah proses

belajar mengajar sangat dibutuhkan dalam menunjang proses belajar mengajar

yang efektif.4.

       2

Najib Sulham, Pengembangan Karakter Pada Anank, Manajemen Pembelajaran Guru

Menuju Sekolah Efektif, (Surabaya: Intelektual Club, 2006), h. 5 3

Dra. Eveline Siregar “Teori Belajar Dan Pembelajaran” (Bogor: Ghalia Indonesia,

(11)

3   

Dalam proses belajar mengajar diperlukan strategi pembelajaran dalam

menunjang kegiatan peserta didik. Pemilihan strategi pembelajarantidak terlepas

dari kurikulum yang digunakan dan karakteristik peserta didik. Karakteristik

peserta didik dan terutama pengalaman awal dan pengetahuan peserta didik,

minat peserta didik, gaya belajar peserta didik, dan perkembangan peserta didik5.

Pemilihan model pembelajaran juga sangat penting dibutuhkan untuk keefektifan

dalam kegiatan belajar mengajar.

Secara umum pendidikan agama islam bertujuan untuk meningkatkan

keimanan pemahaman dan penghayatan dan pengalaman peserta didik tentang

agama islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa

kepada AllahSWT. Serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi,

bermasyarakat dan bernegara.6

Sekolah sebagai suatu lembaga formal, secara sistematis merencanakan

bermacam-macam lingkunagan, yakni lingkunagan pendidikan yang

menyediakan berbagai kesempatan bagi peserta didik untuk melakukan berbagai

kegiatan belaja. Dengan berbagai kesempatan belajar itu, pertumbuhan dan

perkembangan peserta didik akan diarahkan dan didorong ke pencapaian tujuan

yang dicita-citakan. Lingkungan tersebut disusun dan di tata dalam suatu

kurikulum, yang ada pada gilirannya dilaksanakan dalam proses pembelajaran.7

Salah satu aspek penting dalam proses pembelajaran adalah metode yang

       5

Ibid, h. 146 6

Drs, Muhaimin Ma, Dkk, “Strategi Belajar Mengajar” (Surabaya: Cv Citra Media.

1996), h. 2 7

(12)

4   

digunakan oleh guru. Pemilihan metode yang sesuai akan memberikan kontribusi

yang penting bagi keberhasilan pembelajaran.

Dalam proses pembelajaran seorang guru harus mempertimbangkan

setiap langkah-langkah yang akan digunakan sebelum proses pembelajaran

model yang tepat dalam pembelajaran akan sanngat efektif sesuai dengan tujuan

belajar. Tujuan dari belajar bukan semata-mata berorientasi pada penguasaan

materi dengan menghafal fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi atau

materi pelajaran. Lebih jauh dari pada itu, orientasi sesungguhnya dari proses

belajar memberikan pengalaman yang untuk jangka panjang. Dengan konsep ini,

hasil pembelajaran berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa

bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru kepada siswa.8

Dalam proses pembelajaran pendidikan agama islam disekolah saat ini

masih sebatas sebagai proses penyampaian “pengetahuan tentang agama”. Hanya

sedikit yang mengarah pada proses internalisasi nilai-nilai islam pada diri siswa.

Hal ini dapat dilihat dari proses pembelajarn yang dilakukan guru masih dominan

ceramah. Proses internalisasi tidak secara otomatis terjadi ketika nilai-nilai

tertentu sudah dipahami oleh siswa. Artinya metode ceramah yang digunakan

guru ketika mengajarpendidikan agama islam berpeluang gagalnya proses

internalisasi nilai-nilai agama islam pada diri siswa.9

       8

Abdul Majid M,Pd “Strategi Pembelajaran” (Bandung: Remaja Rosdakarya 2013), h.

92 9

A. Saipul Hamdai, Contextual Teaching And Learning Pada Pembelajaran Pendidikan

(13)

5   

Salah satu factor yang menyebabkan rendahnya kualitas pembelajaran

yaitu belum dimanfaatkannya sumber belajar secara maksima, baik oleh guru

maupun siswa. Keberhasilan pendidikan di sekolah antara lain ditentukan oleh

banyak factor seperti perencanaan, persiapan mengajar, metode mengajar, media

mengajar, sarana dan prasarana lain yang menunjang sehingga dapat mencapai

tujuan intruksional secara efektif dan efisien. Dalam proses mengajar guru

memiliki tanggung jawab atas keberhasilan yang dicapai oleh peserta didik

dalam belajar.

Oleh karena itu guru harus dapat menciptakan situasi dan kondisi belajar

yang efektif dengan cara menggunakan cara-cara yang sesuai serta

mempertimbangkan situasi dan kondisi siswa dan lingkungannya. Penggunaan

cara yang tepat mempengaruhi pencapaian tujuan pengajaran di sekolah. Salah

satunya dengan menggunakan model experiential learning dalam pembelajaran

Pendidikan Agama Islam.

Tujuan akhir dari proses belajar mengajar adalah siswa memiliki

keterampilan transfer of learning, sehingga diharapkan mereka dapat

mentransfer ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan ke dalam situasi nyata

dalam kehidupan sehari-hari. Keterampilan transfer of learning adalah

keterampilan individu mengontrol pengetahuan yang diperoleh untuk

diaplikasikan dalam masalah baru atau situasi nyata. Menurut gegne (1974),

individu yang memiliki keterampilan ini memiliki strategi kognitif. Yaitu

kemampuan internal seseorang yang terorganisasi yang dapat membantu siswa

dalam proses belajar, proses berfikir, memecahkan masalah dan dan mengambil

(14)

6   

merupakan proses reflection in action yang terdapat pada teori experiential

learning (pannen, 1996).

Experiential learning merupakan model pembelajaran yang menekankan

kepada model pembelajaran yang holistik dalam proses belajar mengajar. Dalam

experiential learning, pengalaman mempunya peran central dalam proses belajar,

yang mana belajar sebagai proses menciptakan pengetahuan melalui transformasi

pengalaman (experience). Pengetahuan merupakan hasil perpaduan antara

memahami dan mentransformasi pengalaman. Experiential learning dapat

didefinisikan sebagai tindakan untuk mencapai sesuatu berdasarkan pengalaman

yang secara terus menerus mengalami perubahan guna meningkatkan keefektifan

siswa.10

Salah satu model yang dapat meningkatkan keefektifan dari belajar

adalah model Experiensial Lerningyang mana model ini, menekankan pada

keinginan kuat dari dalam diri siswa untuk berhasil dalam belajarnya. Model

Experiensial Lerningmember kesempatan kepada siswa untuk mengalami

keberhasilan denganmemberikan kebebasan siswa untuk memutuskan

pengalaman apa yang ingin mereka kembangkan dan bagaimana cara mereka

membuat konsep dari pengalaman yang mereka alami tersebut. Hal ini berbeda

dengan pendekatan traditional, dimana siswa menjadi pendengar pasif dan hanya

guru yang mengendalikan proses belajar tanpa melibatkan siswa.11

       10

Baharudin Dan Esa Nur Wahyunu, “Toeri Belajar Dan Pembelajaran”, (Jogjakarta:

(15)

7   

ModelExperiensial Lerningyaitu belajar secara pengalaman yang

merupakan pembelajaran induktif yang berpusat pada peserta didik dan

berorientasi pada orientasi dan aktivitas peserta didik12. Model pembelajaran

experiential learning menitik beratkan pada pengalaman yang akan dialami oleh

siswa. Siswa terlibat langsung dalam proses belajar dan murid mengkontrusikan

sendiripengalaman-pengalaman yang didapat sehingga menjadi suatu

pengetahuan. Siswa akan mendapatkan pengalaman-pengalaman yang berbeda

dari apa yang telah mereka pelajari, hal ini karena perbedaan dan keunikan dari

gaya belajar siswa.13

Adapun model ini dapat diterapakan pada pembelajaran pendidikan

agama islam agar pembelajaran tersebut berjalan secara efektif. Apalagi saat ini

pada pembelajaran pendidikan agama islam guru hanya memberikan metode

serta model pelajaran yang membuat siswa cepat merasa bosan dan tidak fokus

dalam mengikuti pembelajaran.

Dengan demikian metode pembelajaran Experiential Learning

merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat dijadikan sebagai

alternative untuk proses internalisasi nilai-nilai islam karena dalam model ini,

belajar sebagai proses mengkontruksi pengetahuan melalui transformasi

pengalaman.

Berpijak dari latar belakang diatas maka penulis ingin membahas

permasalahan tersebut dalam skripsi yang berjudul “pengaruh model experiential

       12

Ibid, h. 153 13

Abdul Majid, M.Pd, “Belajar Dan Pembelajaran”, (Bandung:Remaja Rosdakarya

(16)

8   

learning terhadap efektivitas pembelajaran pendidikan agama islam kelas VIIdi

SMP Hasjim Asj’ari Tulangan Sidoarjo

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang maslah yang diuraikan diatas, maka dapat diambil

rumusan masalah yang nantinya akan di jadikan tolok ukur dalam penelitian ini,

sebagai berikut:

1. Bagaimana pelaksanaan model experiential learning dalam pembelajaran

pendidikan agama islam di kelas VII Smp Hasjim Asy’ari Tulangan?

2. Bagaimanakualitas pembelajaran pendidikan agama

islammodelexperietial learning di kelas VII A SmpHasjim Asj’ari

Tulanagan Sidoarjo?

3. Adakah pengaruh model experiential learning terhadap kualitas

pembelajaran pendidikan agama islam di kelas VII Smp Hasjim Asy’ari

Tulangan?

C. Tujuan Penelitian

Dalam penulisan skripsi ini tujuan yang hendak dicapai peneliti

ialah:

1. Ingin mengetahuipelaksanaan model experiential learning

dalampembelajaran pendidikan agama islam di kelas VII Smp Hasjim

Asy’ari Tulanagan Sidoarjo

2. Ingin mengetahuikualitas pembelajaran pendidikan agama islam

modelexperietial learning di kelas VII SmpHasjim Asj’ari Tulanagan

(17)

9   

3. Ingin mengetahui pengaruh model experiential learning terhadap kualitas

pembelajaran pendidikan agama islam di kelas VII Smp Hasjim Asy’ari

Tulangan

D. Manfaat Penelitian

Dengan melihat tujuan diatas maka, maka diharapkan penelitian ini

dapat bermanfaat:

1. Secara Teoritis, hasil penelitian ini Bermanfaat untuk menambah

referensi tentang pembelajaran pendidikan agama islam berbasis

experensial lerning.

2. Secara Praktis, hasil penelitian ini bermanfaat bagi:

A. Peneliti, diharapkan menambah pengalaman dan wawasan

yang nantinya diharapkan klau peneliti sudah menjadi guru

dapat memberikan fungsi guru yang baik

B. Sekolah, diharapkan menjadi bahan rujukan dalam

pengelolaan dan referensi dalam model pembelajaran PAI

serta mdapat meningkatkan efektifitas pembelajaran

pendidikan agama islam.

C. Guru PAI, diharapkan dapat dijadikan umpan balik untuk

pemilihan model dalam pelaksanaan pembelajaran pendidikan

agama islam yang efektif. Disamping itu dapat dijadikan

bahan pertimbangan dalam meningkatkan model pembelajaran

pendidikan agama islam sehingga pembelajaran dapat

(18)

10   

D. Bagi peneliti yang lain, untuk mengembangkan pengetahuan

dan cakrawala berpikir khususnya dalam bidang pendidikan

sehingga nanti diharapkan, apabila ia sudah terjun dapat

membantu guru-guru yang erat kaitannya dalam pelaksanaan

pendidikan.

E. HIPOTESIS

Hipotesis yang penulis pergunakan dalam penelitian ini adalah :

1. Hipotesis Nol/hipotesis nihil yang berlambangkan Ho.

Hipotesis ini menyatakan bahwa tidak ada hubungan antar variable

independent (X) dengan variable dependent (X)14. Yakni “ tidak

adanya pengaruh model experiential learning terhadap kualitas

pembelajaran pendidikan agama islamkelas VII Smp Hasjim Asy’ari

Tulangan Sidoarjo”

2. Hipotesis kerja atau hipotesis alternative (Ha).

Hipotesis kerja / hipotesis alternative yang berlambangkan ha.

Hipotesis ini menyatakan bahwa ada hubungan antara variable

independent (X) dengan variable dependent (Y). Yakni “adanya

pengaruh model experiential learning terhadap kualitas pembelajaran

pendidikan agama islamkelas VII Smp Hasjim Asy’ari Tulanagan

Sidoarjo”

F. Ruang Lingkup Penelitian

1. Subjek Penelitian

(19)

11   

Untuk menunjang keberhasilan penelitian tentu ada subjek penelitiannya.

Subjek itu bisa berupa manusia, benda, peristiwa, maupun gejala yang terjadi.

Adapun yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah guru pendidikan agama

islam di SMP Hasjim Asj’ari Tulangan Sidoarjo dengan fokus masalah pada

pelaksanaan model experiential learning dan kualitas pembelajaran pendidikan

agama islam

2. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukandiSMP Hasjim Asj’ari Tulangan Sidoarjo.

G. Definisi operasioanal

Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas dan agar pembahasan

dalam skripsi ini lebih mengarah dan terfokus dalam permasalahan yng akan

dibahas, sekaligus unttuk menghindari terjadinya persepsi lain mengenai

istilah-istilah yang ada, maka perlu adanya penjelasan tentang penjelasam definisi

istilah. Hal ini sangat diperlukan agar tidak terjadi kesmaan penfsiran dan

terhindar dari kesalahan pengertian pada pokok pembahasan ini. Definisi istilah

yang berkaitan dengan judul dalam penulisan skripsi ini adalah:

Experiential lerning adalah model pembelajaran yang meilibatkan siswa

secara langsung dalam masalah atau materi yang sedang dipelajari. Dalam model

ini, belajar sebagai proses dimana pengetahuan diciptakan melalui transformasi

pengalaman. Jadi, pengetahuan merupakan hasil perpaduan antara memahami

dan mentransformasi pengalaman15.

       15

Baharudin Dan Esa Nur Wahyunu, “Teori Belajar Dan Pembelajaran”, (Jogjakarta:

(20)

12   

Prosedur dalam pembelajaran experiential learning terdiri dari 4 tahapan,

yaitu: a) tahapan pengalaman nyata, b) tahapan observasi refleksi, c) tahap

konseptualisasi, d) tahap implementasi. Dalam tahapan tersebut proses belajar

dimulai dari pengalaman seseorang. Pengalaman tersebut kemudia dirfleksikan

secara individu. Dlam proses refleksi, seseorang akan berusaha memahami apa

yang terjadi atau apa yang dialaminya. Refleksi ini menjadi dasar konseptualisasi

atau proses pemahaman, prinsip-prinsip yang mendasari pengalaman yang

dialami serta prakiraan kemungkinan aplikasinya dalam situasi atau konteks yang

lain (baru. Proses implementasi merupakan situasi atau konteks yang

memungkinkan penerapan konsep yang sudah dikuasai.16 Baik buruknya

pembelajaran tergantung pada kualitas pembelajaran tersebut. “Kualitas” adalah

tingkat baik buruknya suatu (kadar), derajat atau taraf kepandaian, kecakapan

dan seglanaya (mutu).17 Artinya, dikatakan berkualitas berarti sesuatu

tersebut dapat diukur tingkat baik dan buruk atau tinggi dan rendahnya. Bila

kualitasnya baik berarti tingkat baiknya yang tinggi, bila kualitasnyarendah

berarti tingkat buruknya yang tinggi. Adapun pembelajaran adalah proses

interaksi perubahan kea rah yang lebih baik.18

Menurut Winkel (1991) mendefinisikan pembelajaran sebagai pengaturan

dan penciptaan kondidsi-kondisi ekstrem sedemikian rupa, sehingga menunjang

proses belajar mengajar. Jadi pembelajaran adalah usaha pendidikan yang

dilaksananakan secara sengaja, dengan tujuan yang telah ditetapkan terlebih

       16

Abdul Majid, M.Pd, “Belajar Dan Pembelajaran”, (Bandung:Remaja Rosdakarya

2012), h. 183 17

(21)

13   

dahulu sebelum proses dilaksanakan, serta pelaksanaannya terkendali dalam

dirinya sendiri.19 Pada dasarnya pembelajaran merupakan kegiatan terencana

yang mengkondisikan/ merangsang seseoranga agar bisa belajar dengan baik

agar sesuai dengan tujuan pembelajaran. Oleh sebab itukegiatan pembelajaran

akan bermuara pada dua kegiatan pokok. Pertama, bagaimana orang melakukan

tindakan perubahan tingkah laku melalui kegiatan belajar. Kedua, bagaimana

orang melakukan tindakan penyampaian ilmu pengetahuan melalui kegiatan

mengajar, dengan demikian pembelajaran merupakan kondisi eksternal kegiatan

belajar antara lain dilakukan oleh guru dalam mengondisikan seseorang untuk

belajar.20

Pendidikan agama islam ialah usaha sadar untuk menyiapkan peserta

didik dalam meyakini dan memahami menghayati dan mengamalkan ajaran

agama islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan dengan

memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan

kerukunan antara umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan

persatuan nasional.21

Pendidikan agama islam disekolah/dimadrasah bertujuan untuk

menumbuhkan dan meningkatkan keimananmelalui pemberian dan

pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta pengalaman peserta

didik dalam ajaran agama islam sehingga menjadi manusia muslim yang

       19

Dra Eveline Siregar, Hartini Nara “Teori Belajar Dan Pembelajaran” (Bogor: Ghalia

Indonesia,2011) , h. 12 20

Abdul Majid M,Pd “Strategi Pembelajaran” (Bandung: Remaja Rosdakarya 2013), h.

4

21

(22)

14   

terus berkembang dalam hal keimnan, ketaqwaannya, berbangsa dan

berbegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jengjang yang lebih tinggi

(kurikulum PAI 2002)22. Berdasarkan penjelasan diatas makapenulis

menggunakan judul dalam skripsi ini“pengaruh model experiential learning

terhadap efektivitas pembelajaran pendidikan agama islam kelas VII smp

hasjim asj’ari tulangansidoarjo” dengan maksud untuk mengetahui seberapa

besar pengaruh model model experiential learning terhadap efektivitas

pembelajaran pendidikan agama islam.

H. Sistematika Pembahasan

BAB I pada bab ini berisikan pendahuluan yang menghantarkan kearah

tujuan penelitian ini diantaranya: latar belakang penelitian, yang merupakan

pijakan atau pondasi filosofis teoritis dan strategis pelaksanaan penelitian.

Rumusan masalah, pada sub bab ini peneliti memfokuskan tentang masalah yang

menjadi arah penelitian. Tujuan penelitian, yaitu untuk mengetahui apa yang

menjadi maksud penelitian tersebut. Manfaat penelitian, didalam pembahasan ini

peneliti menjelaskan secara tegas untuk apa penelitian itu dilakukan, serta

hipotesis penelitian selain itu juga dijelaskan tentang definisi operasional, dan

sistematika pembahasan yang manjadi alur pembahsan skripsi.

BAB II pada bab ini berisi tentang landasan teori pada bab ini berisi

tentang penjelasan teoritis yang terbagi atas beberapa sub bab diantaranya

       22

(23)

15   

tentang model experiential learning, efektifitas dan pembelajaran pendiidkan

agama islam.

BAB III pada bab ini dijelaskan mengenai objek penelitian dan

metodologi penelitian, objek penelitian yaitu diskrpsi lokasi penelitian yang

terdiri atas pendiskripsian sejarah sekolah, profil sekolah, struktur-struktur

kepemimpinan sekolah, sarana dan prasarana sekolah dan metodologi penelitian

yaitu sebuah urutan kerja penelitian yang yang diawali dari penedekatan dan

jenis penelitian, informan, tahap-tahap penelitian, teknik pengumpilan data,

teknik analisis dan teknik keabsahan data

BAB IV pada bab ini berisi tentang bentuk penyajian dan analisis data.

Untuk analisis data pada bab ini merupakan analisis dari bab yang sebelumnya

berisikan interpretasi dan hasil penemuan serta pengaruh model experiential

learning terhadap efektifitas pembelajaran pendidikan agama islam.

BAB V pada bab ini merupakan bab yang terakhir dalam penulisan

skripsi ini..di dalamnya memuat kesimpulan yang merupakan jawaban langsung

dari permasalahan. Dan sebagai akhir dari sub bab ini ditutup dengan

rekomendasi, yaitu anjuran bagi kemungkinan dilaksanakannya penelitian

(24)

BAB II

KAJIAN TEORI

A. Model Experiential Learning

1. Pengertian Model Experiential Learning.

Secara umum istilah “model” diartikan sebagai kerangka konseptual yang

digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatan. Dalam pengertian

lain, model juga diartikan sebagai barang atau benda tiruan dari benda yang

sesungguhnya, seperti “globe” adalah model dari bumi tempat kita hidup. Dalam istilah selanjutnya istilah model digunakan untuk menunjukkan pengertian yang

pertama sebagai kerangka konseptual. Atas dasar pemikiran tersebut, maka yang

dimaksud model belajar mengajar adalah kerangka konseptual dan prosedur yang

sistematik dalam mengorganisasi pengalaman belajar untuk mencapai tujuan

belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pengajaran dan

para guru dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar.

Daway (joice &weil, 1986) mendefinisikan model pembelajaran sebagai

a plan or pattern that we can use to design face to face teaching in the

classroom or tutorial setting and to shape instructional material” (suatu rencana

atau pola yang dapat kita gunakan untuk merancang tatap muka di kelas atau

pembelajaran tambahan di luar kelas dan untuk menajamkan materi pengajaran).

Dari pengertian diatas dapat dipahami bahwa: pertama: model pembelajaran

merupakan kerangka dasar pembelajaran yang dapat diisi oleh beragam muatan

(25)

17

pembelajaran dapat muncul dalam beragam bentuk dan variasinya sesuai dengan

landasan filosofis dan pedagogis yang melatarbelakanginya23.

Menurut Mahfudin, model pembelajaran experiential learning merupakan

model pembelajaran yang diharapkan dapat menciptakan proses belajar yang lebih

bermakna, dimana murid mengalami apa yang mereka pelajari. Melalui model ini,

murid tidak hanya belajar tentang konsep materi belaka karena dalam hal ini

murid dilibatkan secara langsung dalam proses pembelajaran untuk dijadikan

suatu pengalaman. Hasil proses pembelajaran experiential learning tidak hanya

menekankan pada aspek kognitif, tetapi juga subjektif dalam proses belajar.

Pengetahuan yang tercipta dari model ini merupakan perpaduan antara memahami

dan menstransformasi pengalaman.

Pepatah mengatakan bahwa “pengalaman adalah guru yang paling baik”.

Hal yang sma telah dikemukakan oleh confusious beberapa abad lalu “what I hear, I forget, what I hear and I see, I remember a little, what I hear, see and ask

questions about or discus with some one else, I begin to understand, what I hear

see, discus and I do, I acquire knowledge and skill what I teach to another I

master”. Jika pernyataan confusius tersebut dikembangkan secara sederhana,

maka akan didapat suatu cara belajar berupa cara belajar dengan mendengar akan

lupa, dengan cara mendengarkan dan melihat akan ingat sedikit, dengan cara

mendengar, melihat dan mendiskusikan dengan murid lain akan paham, dengan

cara mendengar, melihat, dan mendiskusikan dengan murid lain akan paham

23

Abdul Majid, S.Ag, M,Pd, Belajar Dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam,

(26)

18

dengan cara mendengar, melihat, diskusi, dan melakukan akan memperoleh

pengetahuan dan keterampilan, dan cara menguasai pelajaran yang terbaik adalah

dengan cara mengerjakan. Dengan mengalami materi belajar secara langsung,

diharapkan murid dapat lebih membangun makna serta kesan dalam memori atau

ingatannya.

Seperti halnya sebuah proses pembelajaran kontekstual yang

menghubungkan dan melibatkan murid dengan dunia nyata, model ini pun lebih

mengedepankan model connected knowing (menghubungkan antara pengetahuan

dengan dunia nyata) dengan demikian pembelajaran dianggap sebagai bagian dari

integral dari sebuah kehidupan24.

2. Konsep Model Experiential Learning

Experiential learning theory (ELT), yang kemudian menjadi dasar model

pembelajaran Experiential learning, dikembangkan oleh david kolb sekitar awal

1980 an. Model ini menekankan pada sebuah model pembelajaran yang holistic

dalam proses belajar. Dalam Experiential learning, pengalaman mempunyai peran

sentral dalam proses belajar. Penekanan inilah yang membedakan ELT dari

teori-teori belajar lainnya. Istilah “experiential” disini untuk membedakan antara

belajar kognitif yang cenderung menekankan kognisi lebih dari pada afektif. Dan

teori belajar behavior yang menghilangkan peran pengalaman subjektif dalam

proses belajar (Kolb Dalam Baharudin Dan Esa, 2007: 165)

24

(27)

19

Model experiential learning adalah suatu model proses belajar mengejar

yang mengaktifkan pembelajar untuk membangun pengetahuan dan keterampilan

melalui pengalamannya secara langsung. Dalam hal ini, Experiential learning

menggunakan pengalaman sebagai katalisator untuk menolong pembelajar

mengembangkan kapasitas dan kemampuan dalam proses pembelajaran.

Mahfudin menyimpulkan bahwa model Experiential learning dapat

didefinisikan sebagai tindakan untuk mencapai sesuatu berdasarkan pengalaman

yang secara terus-menerus mengalami perubahan guna meningkatkan keefektifan

dari hasil belajar.25 Tu;juan dari model ini adalah untuk mempengaruhi murid dengan tiga cara, yaitu:

a. Mengubah struktur kognitif murid,

b. Mengubah sikap murid, dan

c. Memperluas keterampilan-keterampilan murid yang telah ada.

Ketiga elemen itu saling berhubungan dan memengaruhi secara

keseluruhan, tidak terpisah-pisah, karena apabila salah satu elemen tidak ada,

maka kedua elemen lainnya tidak akan efektif.

Kualitas belajar experiential learning mencakup keterlibatan murid secara

personal, berinisiatif, evaluasi oleh murid sendiri, dan adanya efek yang

membekas pada murid. Model experiential learning memberi kesempatan kepada

murid untuk memutuskan pengalaman apa yang menjadi focus mereka,

keterampilan-keterampilan apa yang ingin mereka kembangkan, dan bagaimana

25

(28)

20

mereka membuat konsep dari pengalaman yang mereka alami. Adapun prinsip

dasar Experiential learning adalah sebagai berikut: prosedur pembelajaran dalam

Experiential learning terdiri dari 4tahapan, yaitu:

a. Tahapan pengalaman nyata.

b. Tahapan observasi refleksi.

c. Tahapan konseptualisasi, dan

d. Tahapan implementasi.

Keempat tahapan tersebut oleh David Kolb (1984) kemudian digambarkan

dalama bentuk lingkaran sebagai berikut26:

Concrete Experince

Testing Implications Observations

Of Concept In New And Reflection

Situation

Formation Of Abstract

Concepts And Generalizations

Bagan Experiential Learning Cycle (Baharudin Dan Esa, 2007:166)

Dalam tahapan diatas, proses belajar diatas dimulai dari pengalaman

konkret yang dialami oleh seseorang. Pengalaman tersebut kemudian

26

(29)

21

direfleksikan secara individu. Dalam proses refleksi, seseorang akan berusaha

memahami apa yang terjadi atau apa yang dia alami. Refleksi ini menjadi dasar

konseptualisasi atau proses pemahaman prinsip-prinsip yang mendasari

pengalaman yang dialami serta prakiraan kemungkinan aplikasinya dalam situasi

atau konteks yang lain (baru). Proses implementasi merupakan situasi atau

konteks yang memungkinkan penerapan konsep yng sudah dikuasai.

Kemungkinan belajar melalui pengalaman-pengalaman nyata kemudian

direfleksikan dengan mengkaji ulang apa yang dilakukannya tersebut. Pengalaman

yang sudah direfleksikan kemudian diatur kembali sehingga membentuk

pengertian-pengertian baru atau konsep-konsep abstrakyang akan menjadi

petunjuk bagi terciptanya pengalaman atau perilaku-perilaku baru. Proses

pengalaman dan refleksi dikategorikan sebagai proses penemuan (finding out).

Sedangkan proses konseptualisasi dan implementasi dikategori dalam proses

penerapan (taking action).

Menurut experiential learning theory agar proses belajar mengajar efektif,

seorang murid harus memiliki empat kemampuan (Nasution Dalam Baharudin

Dan Esa, 2007:167).27

Tabel 2.1

kemampuan murid dalam proses belajar experiential learning

Kemampuan Uraian Pengutamaan

27

(30)

22

Concrete

experience (CE)

Murid melibatkan diri sepenuhnya

dalam pengalaman baru

Feeling

(perasaan)

Reflection

observation (RO)

Murid mengobservasi dan

merefleksikan atau memikirkan

pengalaman dari berbagai segi

Watching

(mengamati)

Abstract

conceptualization

(AC)

Murid menciptakan konsep-konsep

yang mengintegrasikan observasinya

menjadi teori yang sehat

Thinking

(berfikir)

Active

experimentation

(AE)

Murid menggunakan teori untuk

memecahkan masalah-masalah dan

mengambil keputusan

Doing

(berbuat)

Dari uraian diatas dapat disimpulkan, bahwa model pembelajaran

experiential learning merupakan model pembelajaran yang memperhatikan atau

menitikberatkan pada pengalaman yang akan dialami murid. Murid terlibat

langsung dalam proses belajar dan murid mengontruksi sendiri

pengalaman-pengalaman yang didapat sehingga menjadi suatu pengetahuan. Murid akan

mendapatkan pengalaman-pengalaman yang berbeda dari apa yang telah mereka

pelajari, hal ini karena perbedaan dan keunikan dari gaya belajar masing-masing

murid.28

28

Abdul Majid, M.Pd, Strategi Pembelajaran, (Bandung: PT.Remaja Rosdakarya 2013),

(31)

23

3. Siklus Pembelajaran Experiential Learning

Ada beberapa siklus dalam pembelajaran experience. Menurut Kolb

(1984), model experiential learning adalah proses dimana pengetahuan diperolah

melalui transformasi pengalaman (Kolb,1984). Pernyataan ini melahirkan sebuah

model siklus pembelajaran yang terdiri atas empat tahapan, yaitu:

 Pengalaman konkret (concrete experience)

 Refleksi observasi (reflection observation)

 Penyusunan konsep abstrak (abstract conceptualization)

 Aplikasi

Keempat tahapan ini membentuk sebuah siklus seperti ditunjukkan pada

gambar berikut:29

Experiential Learning Cycle. (Kolb’s, 1984)

29

Ibid, h. 187

Concrete

Experience

Active Experiential

Refective observation

(32)

24

Siklus belajar menurut pembelajaran berbasis pengalaman (experiential

learning) seperti gambar diatas dimulai dari sebuah pengalaman konkret

dilanjutkan dengan proses refleksi dan observasi terhadap pengalaman tersebut.

Hasil refleksi ini ini akan diasimilasi/diakomodasi dalam struktur kognitif

(konseptualisasi abstrak) dan selanjutnya dirumuskan suatu hipotesis baru untuk

diuji kembali pada situasi baru (eksperimen). Hasil dari tahap eksperime akan

menutun kembali pembelajar menuju tahap pengalaman konkret.

Tahapan-tahapan dalam Kolb’s experiential learning cycle dapat diuraikan

pada contoh berikut:

Pertama, pengalaman konkret. Pada tahap ini pembelajar disediakan

stimulus yang mendorong mereka melakukan sebuah aktivitas. Altivitas ini bias

berangkat dari suatu pengalaman yang pernah dialami sebelumnyabaik formal

maupun informal ataupun situasi yang realistic. Aktivitas yang disediakan bias

didalam ataupun diluar kelas dan dikerjakan oleh pribadi ataupun kelompok.

Kedua, refleksi observasi. Pada tahap ini pembelajar mengamati

pengalaman dari aktivitas yang dilakukan dengan menggunakan panca indra atau

dengan bantuan alat peraga. Selanjutnya pembelajar merefleksikan

pengalamannya dan dari hasil refleksi ini mereka menarik pelajaran. Dalam hal ini

preses refleksi akan terjadi bila guru mampu mendorong murid untuk

mendeskripsikan kembali pengalaman yang diperolehnya, mengomunikasikan

(33)

25

Ketiga, penyusunan konsep abstrak. Setelah melakukan observasi dan

refleksi, maka dalam tahap pembentukan konsep pembelajar mulai

mengonseptualisasi suatu teori atau model dari pengalaman yang diperoleh dan

mengintegrasikan dengan pengalaman sebelumnya. Pada fase ini dapat ditentukan

apakah terjadi pemahaman baru atau proses belajar pada diri pembelajar atau

tidak. Jika terjadi proses belajar, maka 1) pembelajar akan mampu

mengungkapkan aturan-aturan umum untuk mendeskripsikan pengalaman

tersebut; 2) pembelajar menggunakan teori yang ada untuk menrik kesimpulan

terhadap pengalaman yang diperoleh; 3) pembelajar mampu menerapkan teori

yang terabstraksi untuk menjelaskan pengalaman tersebut.

Keempat, active experimentation atau aplikasi. Pada tahap ini, pembelajar

mencoba merencanakan bagaimana menguji kemapuhan model atau teori untuk

menjelaskan pengalaman baru yang akan diperoleh selanjutnya (Kolb, dalam

Mardana 2004).30 Pada tahap aplikasi akan terjadi proses bermakna karena pengalaman yang diperoleh pembelajar sebelumnya dapat diterapkan pada

pengalaman atau situasi problematika yang baru. Setiap individu memiliki

keunikan sendriri dan tidak pernah ada dua orang uyang memiliki pengalaman

hidup yang sama persis. Dua anak yang tumbuh dalam lingkungan yang sma dan

mendapatkan perlakuan yang sma, belum tentu akan memiliki pemahaman,

pemikiran dan pandangan yang sma terhadap dunia sekitarnya. Masing-masing

memiliki cara pandang sendiri terhadap setiap peristiwa yang dilihat dan

dialaminya cara pandang tersebut yang disebut sebagai gaya belajar.

30

(34)

26

Kolb mengenalkan empat gaya belajar yang sesuai dengan

tahapan-tahapan dalam siklus belajar sebagai berikut:

Assimilator, (AC/RO), kombinasi dari berfikir dan mengamati

(thinking and watching). Anak pada tipe assimilator memiliki

kelebihan dalam memahami berbagai sajian informasi serta

merangkumnya ke dalam suatu format yang logis, singkat, dan

jelas. Biasanya anak tipe ini kurang perhatian kepada orang lain

dan lebih menyukai ide serta konsep yang abstrak.

Converger,(AC/AE). Kombinasi dari berpikir dan berbuat

(thinking and doing). Anak dengan tipe converger unggul dalam

menemukan fungsi praktis dari berbagai ide dan teori. Bisanya

mereka punya kemampuan yang lebih baik dalam pemecahan

masalah dan pengambilan keputusan. Mereka juga cenderung lebi

menyukai tugas-tugas teknis (aplikatif) dari pada masalah soaial

atau hubungan antar pribadi.

Accommodator, (CE/AE). Kombinasi dari perasaan dan tindakan

(feeling and doing). Anak dengan tipe accommodator memiliki

kemampuan belajar yang baik dari hasil pengalaman nyata yang

dilakukan sendiri. Mereka suka membuat rencana dan melibatkan

dirinya dalam berbagai pengalaman baru dan menantang. Mereka

cenderung bertindak berdasarkan analisis logis. Dalam usaha

(35)

27

manusia (untuk mendapatkan masukan/informasi) disbanding

analisis teknis.

Diverger, (CE/RO). Kombinasi dari perasaan dan pengamatan

(feeling and watching). Anak dengan tipe diverger unggul dalam

melihat situasi konkret dari banyak sudut pandang yang berbeda.

Pendekatannya pada setiap situasi adalah “mengamati” dan bukan “bertindak”. Anak seperti ini menyukai tugas belajar yang menuntunnya untuk menghasilkan ide-ide, biasanya juga menyukai

isu budaya serta suka sekali mengumpulkan berbagai informasi.

Secara sederhana model siklus belajar experiential learning dan

gaya belajar Kolb dapat disajikan dalam bagan berikut:31

Kolb’s learning style

Kolb’s Learning Style

How We Think About Think

(36)

28

Hamalik (2011), mengungkapkan beberapa hal yang harus diperhatikan dalam model pembelajaran experiential llearning adalah sebagai berikut:32

1) Guru merumuskan secara seksama suatu rencana pengalaman

belajar yang bersifat terbuaka (open minded) yang meiliki

hasil-hasil tertentu.

2) Guru harus bias memberikan rangsangan dan motivasi.

3) Siswa dapat bekerja secara individual atau bekerja dalam

kelompok-kelompok kecil/keseluruhan kelompok didalam belajar

berdasarkan pengalaman.

4) Para siswa ditempatkan pada situasi-situasi nyata, maksudnya

siswa mampu memcahkan masalah dan bukan dalam situsai

pengganti.

5) Siswa aktif berpartisipasi di dalam pengalaman yang tersedia,

membuat keputusn sendiri, menerima konsekuensi berdasarkan

keputusan tersebut.

6) Keseluruhan kelas menceritakan kembali tentang apa yang dialami

sehubungan dengan mata pelajaran tersebut untuk memperluas

pengalaman belajar dan pemahaman siswa dalam melaksankan

pertemuan yang nantinya akan membahas bermacam-macam

pengalaman.

Langkah menantang bagi guru dalam experiential llearning adalah

memikirkan atau merancang aktivitas pengalaman belajar seperti apa yang harus

32

(37)

29

terjadi pada diri siswa baik yang individu maupun yang kelompok. Aktivitas

pembelajaran harus berfokus pada peserta belajar (student-centered learning).

Dengan demikian, apa yang harus kita lakukan, apa yang arus mereka lakukan,

apa yang harus kita katakana atau sampaikan harus secara detail kita rancang

dengan baik. Begitu pula dengan media dan alat bantu pembelajaran lain yang

dibutukan juga arus benar-benar tela tersedia dan siap untuk digunakan

(Roem,1986)33.

4. Experiential learning dan Model Belajar Lainnya.

Proses belajar dalam experiential learning merupakan kegiatan

merumuskan sebuah tindakan, mengujinya, menilai hasil dan memperoleeh

feedback, merefleksikan kembali sebuah tindakan berdasarkan prinsip-prinsip

yang harus dipahami dan diikuti34. Prinsip-prinsip tersebut didasarkan pada teori Kurt Lewin berikut:

a. Experiential learning yang efektif akan memengaruhi cara berpikir siswa,

sikap, nilai-nilai persepsi dan perilaku siswa, misalnya, belajartentang

berbuat baik pada orang tua. Seorang pelajar harus mengembangkan

sebuah konsep tentang apakah berbuat baik kepada orang tua, bagaimana

sikap yang baik kepada orang tua, dan bagaimana mewujudkan sikap baik

kepada orang tua dalam bentuk perilaku.

33

Abdul Majid, S.Ag, M,Pd, “Belajar Dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam”

(Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2012), h. 191 34

Sofan Amri, Pengembangan Dan Model Pembelajaran Kurikulum 2013, (Jakarta: PT.

(38)

30

b. Sikap lebih memercayai pengetahuan yang mereka temukan sendiri

daripada pengetahuan yang diberikan oleh orang lain. Menurut Lewin,

berdasarkan hasil eksperimen yang dia lakukan bahwa, pendekatan belajar

yang didasarkan pada pencarian (inquire) dan penemuan (discovery) dapat

meningkatkan motivasi siswa untuk belajar dan komitmen mereka untuk

mengimplementasikan penemuan tersebut pada masa yang akan datang.

c. Belajar akan lebih efektif bila konsep atau mempraktikkan dan

mencobanya, maka siswa akan memahami lebih sempurna dan

mengintegrasikannya dengan apa yang dia pelajari sebelumnya serta akan

dapat mengingatnya lebih lama. Banyak dari konsep-konsep atau

teori-teori yang akan dipahami sampai siswa mencoba untuk menggunakannya,

misalanya pelajaran matematika, fisika dan lain sebagainya.

d. Perubahan hendaknya tidak terpisah-pisah antara kognitif, afektif dan

perilaku, tetapi secara holistic. Ketiga elemen tersebut merupakan sebuah

system dalam proses belajar yang saling berkaitan satu sama lain, teratur,

dan sederhana. Mengubah salah satu dari ketiga elemen tersebut

menyebabkan hasil belajar tidak efektif.

e. Experiential learning lebih dari sekedar memberi informasi untuk

pengubahan koqnitif, afektif , maupun perilaku. Mengajarkan siswa untuk

dapat berubah tidak berarti bahwa mereka mau berubah. Memberikan

alasan mengapa harus berubah tidak cukup memotivasi siswa untuk

berubah. Membaca sebuah buku atau mendengarkan penjelasan guru tidak

(39)

31

cukup mengubah sikap dan meningkatkan keterampilan social.

Experiential learning merupakan proses belajar yang menumbuhkan minat

belajar pada siswa terutama untuk melakukan perubahan yang diinginkan.

f. Perubahan persepsi tentang diri sendiri dan lingkungan sangat diperlukan

sebelum melakukan pengubahan pada koqnitif, afektif dan perilaku.

Menurut Lewin, tingkah laku, sikap dan cara berpikir seseorang ditentukan

oleh persepsi mereka. Persepsi seorang siswa tentang dirinya dan

lingkungan di sekitarnya akan memngaruhi dalam berperilaku, berfikiran

dan merasakan.

g. Perubahan perilaku tidak akan bermakna bila koqnitif, efektif, dan perilaku

itu sendiri tidak berubah. Keterampilan-keterampilan baru mungkin dapat

dikuasai atau dipraktikkan, tetapi tanpa melakukan perubahan atau belajar

terus-menerus. Maka keterampilan-keterampilan tersebut akan menjadi

luntur dan hilang.

Dari prinsip-prinsip belajar berdasarkan pengalaman ini, model

Experiential learning pada dasarnya merupakan model pembelajaran yang

mencakup model pembelajaran lainnya seperti humanizing the classroom, active

learning, the accelerated, quantum learning, quantum teaching (sutrisno:2005)

dan contektual teching and learning.35

35

Sofan Amri, Pengembangan Dan Model Pembelajaran Kurikulum 2013, (Jakarta: PT.

(40)

32

B. Kualitas Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

1. Pengertian Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

a. Kualitas Pembelajaran

Sebelum memberikan pengertian tentang kualitas pembelajaran PAI, maka

terlebih dahulu harus diketahui pengertian kualitas, pembelajaran dan PAI.

“kualitas” adalah tingkat baik buruknya suatu (kadar), derajat atau taraf kepandaian, kecakapan dan seglanaya (mutu).36 Artinya, dikatakan berkualitas berarti sesuatu tersebut dapat diukur tingkat baik dan buruk atau tinggi dan

rendahnya. Bila kualitasnya baik berarti tingkat baiknya yang tinggi, bila

kualitasnya rendah berarti tingkat buruknya yang tinggi. Adapun pembelajaran

adalah proses interaksi perubahan kea rah yang lebih baik.37

Secara sederhana, istilah pembelajaran (instruction) bermakna sebagai

“upaya untuk membelajarkan seseorang atau kelompok orang melalui berbagai upaya (effort) dan berbagai strategi, metode dan pendekatan kearah pencapaian

tujuan yang telah direncanakan” pembelajaran dapat pula dipandang sebagai kegiatan guru secara terprogram dalam desain intruksional untuk membuat siswa

belajar secara aktif untuk menekankan pada penyediaan sumber belajar.

Beberapa ahli mengemukakan tentang pengertian pembelajaran

diantaranya:

36

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Bahasa Indonesia, Edisi 3, h. 603 37

(41)

33

a. Pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang

secara disengaja atau dikelola untuk memungkinkan ia turut serta

dalam tingkah laku tertentu. Pembelajaran merupakan subjek

khusus dari pendidikan (Corey, 1986)

b. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik

dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar (UU SPN No. 20

tahun 2003);

c. Pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk

memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara

keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu sendiri dalam

interaksi dengan lingkungannya (Muhammad surya).

d. Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi

unsure-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan

procedural yang saling memengaruhi dalam mencapai tujuan

pembelajaran38.

Pada prinsipnya, pembelajaran tidak hanya terbatas pada event-event yang

dilakukan oleh guru, tetapi mencakup semua events yang mempunyai pengaruh

langsung pada proses belajar yang meliputi kejadian-kejadian yang diturunkan

dari bahan-bahan cetak, gambar, pemrogaman, radio, televise, film, slide, maupun

kombinasi dari bahan tersebut.

38

(42)

34

Pada dasarnya pembelajaran merupakan kegiatan terencana yang

mengkondisikan/ merangsang seseorang agar bisa belajar dengan baik agar sesuai

dengan tujuan pembelajaran. Oleh sebab itu kegiatan pembelajaran akan bermuara

pada dua kegiatan pokok. Pertama, bagaimana orang melakukan tindakan

perubahan tingkah laku melalui kegiatan belajar. Kedua, bagaimana orang

melakukan tindakan penyampaian ilmu pengetahuan melalui kegiatan mengajar.

Dengan demikian makna pembelajaran merupakan kondisi eksternal kegiatan

belajar yang antara lain dilakukan oleh guru dalam mengondisikan seseorang

untuk belajar.39

b. Pendidikan Agama Islam

pendidikan agama islam merupakan usaha bimbingan dan asuhan terhadap anak

didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan dapat memahami apa yang

terkandung di dalam islam secara keseluruhan, menghayati makna, maksud serta

tujuannya dan apada akhirnya dapat mengamalkannya serta menjadikan ajaran

agama islam yang dianutnya itu sebagai pandangan hidupnya sehingga dapat

mendatangkan keselamatan dunia akhirat.40

Zakiyah darajat memaknai pengertian Pendidikan Agama Islam sebagai

berikut:

39

Abdul Majid, M.Pd, Strategi Pembelajaran, (Bandung: PT.Remaja Rosdakarya 2013),

h. 4 40

Achmad Tutsir, Ilmu pendidikan Perspektif Hukum Islam, (Bandung: PT Remaja

(43)

35

1) Pendidikan Agama Islam ialah usaha berupa bimbingan terhadap

anak didik agar kelak setelah selesai pendidikannya dapat

memahami dan mengamalkan ajaran agama islam serta

menjadikannya sebagai pandangan hidupnya (way of life)

2) Pendidikan Agama Islam ialah pendidikan yang dilaksanakan

berdasarkan agama islam.

3) Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan denga melalui

ajaran-ajaran agama islam, yaitu berupa bimbingan asuhan terhadap anak

didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan ia akan dapat

memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran agama

islam yang telah diyakininya secara menyeluruh, serta menjadikan

ajaran agama islamsebagai pandangan hidupnya demi keselamatan

dan kesejahteraan hidup di dunia maupun di akhirat.41

4) Prof. Dr. Athiyah Al-Abrasyi dalam bukunya “dasar-dasar pokok

pendidikan agama islam” menegaskan bahwa pendidikan agama

islam adala mendidik akhlak dan jiwa mereka, menanamkan rasa

fadilah (keutamaan) membiasakan mereka dengan kesopanan yang

tinggi, mempersiapkan mereka untuk suatu kehidupan yang suci

seluruhnya ikhlas dan jujur.42 Sebagaimana diilustrasikan dalam Al-Qur’an Surat Al- Luqman ayat 17 sebagai berikut:

41

Zakia Derajat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bina Aksara, 2006) , h. 86 42

(44)

36

ِ

Artinya:

Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).43

Dengan demikian yang dimaksudkan dengan kualitas Pendidikan Agama

Islam adalah tingkat baik buruknya suatu upaya belajar siswa tentang ajara Agama

Islam sebagaimana tersusun secara sistematis dalam ilmu-ilmu keislaman yang

sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.

2. Unsur-Unsur Dinamis Dalam Pembelajaran

Unsur-unsur pembelajaran pada hakikatnya merupakan penunjang dalam

proses pembelajaran. Besar dan kualitas dukungan unsure-unsur yang ada turut

menentukan tingkat efisiensi dan efektivitas pembelajaran. Adapun unsure-unsur

dinamis pembelajaran menurut Oemar Hamalik meliputi lima hal yaitu:

a. Motivasi belajar

b. Bahan pelajaran

c. Alat bantu pelajaran

d. Suasana pembelajaran

43

Departemen Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemah Indonesia, (Jakarta: Departemen

(45)

37

e. Keadaan subjek/kondisi subjek yang belajar.44

Unsur pertama, secara lebih terperinci mengenai motivasi belajar siswa

MC Donald mengemukakan bahwa motivasi adalah suatu perubahan energy

dalam diri pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnaya perasaan dan reaksi

untuk mencapai tujuan.45

Pengertian ini menunjukkan bahwa seorang siswa akan belajar dengan

baik apabila ada factor pendorongnya (motivasi) dengan demikian antara motivasi

dengan pencapaian tujuan belajar berhubungan erat, artinya seorang melakukan

sesuatu kalau meiliki tujuan yang jelas, maka akan bangkit dorongan untuk

mencapainya. Motivasi akan menyebabkan terjadinya suatu perubahan energy

yang ada pada diri manusia baik yang menyangkut kejiwaan, perasaaan dan emosi

untuk bertindak atau melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan.

Unsur kedua yaitu bahan ajar, bahan ajar yang merupakan unsur belajar

yang penting mendapat perhatian guru, dengan bahan iti, para siswa dapat

mempelajari hal-hal yang diperlukan dalam upaya mencapai tujuan belajar.

Sebagaimana dala sura An-Nahl ayat 89:

ِ

44

Oemar Hamalik, Kurikulum Dan Pembelajaran, (Jakarta: Bina Aksara 1995), h. 52 45

(46)

38

Artinya:

(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami, bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang muslim.46

Dari ayat tersebut tersurat dalam al-qur’an merupakan pelajaran yang baik untuk mempelajari Pendidikan Agama Islam. Menurut Ali Imran dalam

menyediakan bahan belajar ini sangat tergantung pada tujuan pembelajaran,

karakteristik siswa, siasat pembelajaran yang harus ditempuh siswa dan

ketersediaan bahan pembelajaran.47 Sebab dalam komunitas kelaskemampuan antar siswa satu dengan yang lain berbeda, ada sebagian bertipe auditif, di mana

siswa itu lebih mudah memahami bahan pelajaran yang disampaikan

menggunakan lisan atau cenderung menggunkan daya pandang siswa, adapun tipe

visual di mana siswa tersebut mampu dan lebbih muda memahami bahan

pelajaran yang berbentuk tulisan atau gambar yang lebih menekankan pada

penglihatan siswa.

Unsur ketiga, alat bantu pembelajaran adalah alat yang dapat digunakan

untuk membantu siswa melakukan perbuatan belajar, sehingga kegiatan belajar

menjadi lebih efisien dan efektif. Dengan bantuan berbagai alat, maka

pembelajaran akan lebih menarik, menjadi konkrit. Mudah dipahami, hemat

waktu dan tenaga jadi hasil belajar lebih bermakna. Alat bentu belajar disebut juga

alat peraga atau media belajar, misalnya dalam bentuk bahan tercetak, alat-alat

46

Departemen Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemah Indonesia, (Jakarta: Departemen

Agama, 1988), h. 518 47

(47)

39

yang dapat dilihat (media visual), alat yang dapat di dengar(media audio), dan

alat-alat yang dapat didengar dan dilihat (audio visual aids), serta sumber-sumber

masyarakat yang dapat dialami secara langsung.48

Menurut Zakia Derajat, alat bantu pembelajaran adalah alat atau metode

pendidikan meliputi segala sesuatu yang dapat membantu proses pencapaian

tujuan pendidikan. Oleh karena pendidikan islam mengutamakan pengajaran ilmu

dan pembentukan akhlak, maka alat mencapai ilmu adalah alat-alat pendidikan

ilmu sedangkan alat untuk pembentukan akhlak adalah pergaulan.49 Sehingga dalam interaksi edukatif guru harus dapat memberikan contoh yang baik agar anak

didiknya dengan muda mencontoh apa yang dilakukan oleh gurunya dengan

adanya contoh yang baik dari guru maupun dari tokoh atau figure seseorang dapat

member dorongan belajar bagi siswa. Sebagaimana yang telah digariskan dalam

Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 21 berikut:

ا

Artinya:

48

Oemar Hamalik, Kurikulum Dan Pembelajaran, (Jakarta: Bina Aksara 1995), h. 53

49

(48)

40

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.50

Dan alat pembelajaran juga dapat dikelompokkan dalam dua jenis, alat

pembelajaran yang besrsifat khusus. Alat pembelajaran yang bersifat umum yaitu

jenis alat bantu pembelajaran yang digunakan untuk semua mata pelajaran seperti

papan tulis, kapur tulis, spidol, penghapus LCD, dan alat bantu lainnya.

Sedangkan alat pembelajaran yang bersifat khusus, di mana penggunanaannya

berlaku khusus untuk mata pelajaran tertentu, seperti alat-alat untuk pelajaran

fiqih, mikroskop untuk IPA dan lain-lainnya.51

Unsur keempat, Susana pembelajaran yakni keadaan atau situasi pada saat

proses pembelajaran. Dalam pandangan traditional suasana pembelajaran yang

kondusif adalah jika dalam ruang kelas terasa tenag sementara siswa bisa

mendengarkan apa yang disampaikan oleh guru. Dan umumnya pada

pembelajaran ini siswa tidak berani mengajukan pertanyaan terhadap hal-hal yang

kurang jelas pada pada saat guru menyampaikan bahan pelajaran, terkecuali jika

guru memberika kesempatan.52

Namun pada pandangan sekarang suasana pembelajaran yang kondusif

adalah suasana yang mendukung bagi terciptanya kegiatan belajar yaitu suasana di

mana siswa melihat secara aktif, baik fisik maupun social dan menunjukkan

(49)

41

motivasi belajar yang besar, disiplin belajar yang tinggi dalam proses

pembelajaran. Dan menurut Oemar Hamalik suasana belajar dipengeruhi

pengorganisasian kelas dan system penyampaian baham pelajaran oleh guru.

Suasana belajar penting artinya bagi kegiatan belajar, suasana yang

menyenangkan dapat menumbuhkan kegairahan belajar, sedangkan suasan yang

kacau, ramai, tak tenang, dan banyak gangguan, sudah tentu tidak menunjang

kegiatan belajar yang efektif, karena itu guru dan siswa senantiasa dituntut agar

menciptkkan suasan dan lingkungan yang belajar yang baik dan menyenangkan,

menantang dan menggairahkan. Hal ini berarti bahwa suasana belajar turut

menentukan motivasi, kegiatan, keberhasilan belajar siswa.53

Unsur kelima yaitu keadaan atau kondisi subjek belajar menurut Oemar

Hamalik kondisi subjek belajar adalah keadaan diri subjek peserta didik (siswa)

yang berperan dalam proses pembelajaran, keadaan itu mencakup antara laian:

keadaan jasmani dan keadaan mental psikologis, pengalaman latar belakang

keluarga dan lingkungan masyarakat. Kondisi subyek belajar turut menentukan

kegiatan dan keberhasilan belajar siswa dapat belajar secara efisien dan efektif

apabila berbadan sehat, memiliki intelegensi yang memadai siap untuk melakukan

kegiatan belajar, memiliki bakat khusus, dan pengalaman yang bertalian dengan

pelajaran, serta memiliki minat untuk belajar. Siswa yang sakit atau kurang sehat,

intelegensi rendah, belum siap belajar, tidak berbakat untuk mempelajari sesuatu

53

(50)

42

dan tidak memiliki pengalaman appersepsi yang memadai, kiranya akan

mempengaruhi kelancaran kegiatan dan mutu hasil belajar.54

Sementara itu Ali Imran menegemukakan kondisi belajar dapat dibedakan

atas hal yang bersifat lahiriyah dan hal yang bersifat bathiniyah atau

hal-hal yang bersifat fisik dan hal-hal-hal-hal yang bersifat psikologis.55 Dari segi lahiriyah atau fisik subjek belajar bisa berbeda dalam ukuran tubuhnya, kesehatan fisiknya,

dan daya tahan fisiknya, kesegaran dan kebugaran jasmaninya. Dan dari segi

psikisnya kondisi belajar siswa bisa berbeda dalam hal intelegensi, bakat motivasi

berprestasi serta aspirasi dan harapannya. Sehingga kemampuan untuk menagkap

pelajaran anatara satu siswa dengan siswa lainnya akan berbeda. Dengan demikian

maka agar pendidikan islam dapat hasil dengan baik, maka bahan pelajaran yang

disampaikan harus sesuai dengan kemampuan anak.

3. Kriteria Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Yang Berkualitas

Setelah unsure-unsur menjadi ponadasi dalam proses pembelajaran

diketahui, sehingga dengan unsure-unsur tersebut dapat menciptakan proses

pembelajaran yang efektif dan efisiensi, maka tahap selanjutnya adalah

menentukan criteria pendidikan dalam menilai kualitas pembelajarn.

Menurut Ali Imran pembelajaran yang berkualitas adalah pembelajaran

yang kondusif, di mana siswa giat belajar dan siswa aktif belajar di dalamnya,

54 Ibid 53 55

(51)

43

baik ketika di tunggu gurunya maupun tidak.56 Dan menurut Mulyasa kualitas pembelajaran dapat dilihat dari segi proses dan dari segi hasil. Dari segi proses,

pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau

setidaknya sebagian besar (75%) peserta didik terlbat secara aktif baik fisik

mauoun social dalam proses pembelajaran, di samping menunjukkan kegairahan

belajar diri sendiri atas kemampuan yang diperolehnya.57

Pembelajaran yang ideal menurut Utsman Abubakar dan Surahim aadalah

di mana siswa aktif mengkaji, menelaah, menganalisis terhadap fenomena yang

diciptakan Allah baik yang tertulis (Al-Qur’an) maupun yang tersirat (tanda-tanda atau simbol-simbol kebesaran Allah di ala mini) sebagai wujud aktivitas

intelektual.58 Sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Alaq : 1-5:

Artinya:

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.59

56

Ali Imran, Belajar Dan Pembelajaran, (Jakarta: PT. Dunia Pustaka, 1996), h. 38 57

Mulyasa, Kurikulum Dan Pembelajaran, (Jakarta: Bina Aksara, 1995), h. 10 58

Usman Abubakar & Surahim, Fungsi Ganda Lembaga Pendidikan Agama Islam,

(Yogyakarta: Safira Insane Pers, 2005) , h. 138 59

Departemen Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemah Indonesia, (Jakarta: Departemen

Gambar

gambar berikut:29
  Tabel 3.2
Tabel 3.3
  Tabel 3.4
+7

Referensi

Dokumen terkait

STRATEGI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PEMBINAAN AKHLAKUL KARIMAH SISWA KELAS VII SMP MUHAMMADIYAH 01

Dari penjelasan diatas dapat penulis simpulkan bahwa Implementasi Pendidikan Agama Islam pada diri siswwa itu sendiri di SMP Tiara Bhakti Bandar Lampung belum

Dari hasil penelitian ditemukan bahwa : Peran pengawas pendidikan agama Islam dalam meningkatkan kompetensi pedagogik guru PAI di SMP Swasta Wilayah Kecamatan Sidoarjo

Hasil observasi aktivitas belajar pendidikan agama Islam peserta didik melalui penerapan model pembelajaran Learning Partner kelas VII6 SMP Negeri 1 Mare Kabupaten Bone

Profil Kurikulum Pendidikan Agama Islam SMP Salman Al-Farisi Bandung ” ini. beserta seluruh isinya adalah benar-benar karya saya

Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti khususnya materi Haji dan Umroh di SMP sebagaimana di jelaskan pada kurikulum SMP, berdasarkan Permendikbud No 58

Qolbi Khoiri, M.Pd.I Rumusan penelitian ini adalah : 1 Bagaimana metode apa yang digunakan guru Pendidikan Agama Islam dalam memberikan materi pada masa pandemi sekarang ini di SMP

STRATEGI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM MENINGKATKAN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM MELALUI LITERASI DIGITAL DI SMP TUNAS KARYA BATANG KUIS SKRIPSI Diajukan Untuk