PENGARUH MODEL EXPERIENTIAL LEARNING TERHADAP KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM KELASVII SMP HASJIM
ASJ’ARI TULANGAN SIDOARJO
SKRIPSI
Oleh:
SITI MARIA ULFA NIM. D71212145
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
ABSTRAK
Siti Maria Ulfa (D91212177), Pengruh Model Experiential Learning Terhadap Kualitas Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas VII SMP Hasjim Asj’ari Tulangan Sidoarjo, Skripsi, Program Studi Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah Dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya.
Keyword: Model Experiential Learning, Kualitas Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Fokus penelitian dalam skripsi ini adalah bagaimana pelaksanaan model Experiential Learning VII SMP Hasjim Asj’ari Tulangan Sidoarjo, bagaimana kualitas pembelajaran pendidikan agama islam VII SMP Hasjim Asj’ari Tulangan Sidoarjo, serta
bagaimana pengaruh model Experiential Learning terhadap kualitas pembelajaran
pendidikan agama islam kelas VII SMP Hasjim Asj’ari Tulangan Sidoarjo.
Pendekatan penelitian dalam skripsi ini adalah pendekatan kuantitatif. Pengumpulan data melalui metode wawancara, observasi dan dokumentasi, dan angket kuesioner. Analisis data dengan mengambil hasil angket yang telah disebarkan ke beberapa siswa. Mengecek keabsahan data tersebut dilakukan melalui ketentuan pengamatan, wawancara serta hasil dari angket yang telah disebarkan.
Hasil penelitian mengungkapkan Pelaksanaan model pembelajaran dilakukan dengan baik, dengan indikator siswa mampu memahami proses pembelajaran dengan baik. Siswa belajar dari pengalaman mereka sendiri yang mereka kaitkan dengan materi yang sedang dipelajari, begitu juga tentang kualiatas pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP Hasjim Asj’ari Tulangan Sidoarjo dilakukan dengan baik. Hal ini terbukti dari sikap antusias siswa terhadap mata pelajaran PAI itu sendiri, dan hampir semua siswa menyukai pelajaran PAI, mereka juga menerapkan sikap disiplin tinggi ketika mengikuti pelajaran terbukti dengan kehadiran siswa yang tepat waktu. ,
Berdasarkan dari hasil analisis kajian skripsi ini, maka dapat penulis simpulkan
bahwa model Experiential Learning memiliki pengaruh yang sangat baik terhadap
DAFTAR ISI
SAMPUL DALAM... i
PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI ... ii
PENGESAHAN TIM PENGUJI SKRIPSI ... iii
MOTTO ... iv
PERSEMBAHAN ... v
ABSTRAK ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
DAFTAR ISI ... ix
PEDOMAN TRANSLITERASI ... xii
BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang Masalah ... 1
B.Rumusan Masalah ... 8
C.Tujuan Penelitian ... 8
D.Kegunaan Penelitian ... 9
E. Hipotesis ... 10
F. Ruang Lingkup Penelitian ... 11
G.Sistematika Pembahasan ... 14
BAB II LANDASAN TEORI A.Model Experiential Learning ... 16
1. Pengertian Model Experiential Learning ... 16
3. Siklus Model Experiential Learning ... 23
4. Model Experiential Learning Dan Model Lainnya ... 29
B.Kualitas Pembelajaran Pendidikan Agama Islam ... 32
1. Pengertian Kualitas Pembelajaran PAI ... 32
2. Unsur-Unsur Dinamis Dalam Pembelajaran PAI ... 36
3. Kriteria Pembelajaran PAI ... 42
C. Pengaruh Model Experiential Learning Terhadap Kualitas Pembelajaran Pendidikan Agama Islam... 45
BAB III METODE PENELITIAN A.Latar Belakang Objek Penelitian ... 49
1. Sejarah Berdirinya SMP Hasjim Asj’ari Tulangan ... 49
2. Visi, Misi, Tujuan SMP Hasjim Asj’ari Tulangan ... 51
3. Keadaan Guru Dan Karyawan SMP Hasjim Asj’ari Tulangan ... 53
4. Keadaan Siswa SMP Hasjim Asj’ari Tulangan ... 57
5. Sarana Dan Prasarana SMP Hasjim Asj’ari Tulangan ... 59
B. Metode Penelitian ... 62
1. Rancangan Penelitian ... 62
2. Jenis Jenis Penelitian Dan Sumber Data ... 64
3. Teknik Penentuan Sumber Data ... 65
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS DATA
A.Penyajian Data ... 79
1. Data Tentang Model Experiential Learning ... 79
2. Data Tentang Kualitas Pembelajaran PAI... 91
B. Analisis Data... 99
1. Analisis Data Tentang Model Experiential Learning ... 99
2. Analisis Data Tentang Kualitas Pembelajaran PAI ... 109
3. Analisis Data Tentang Pengaruh Model Experiential Learning Terhadap Kualitas Pembelajaran PAI ... 117
BAB V PENUTUP A.Kesimpulan ... 128
B.Saran ... 130
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
PERNYATAAN KEABSAHAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan pada dasarnya adalah usaha sadar untuk menumbuh
kembangkan potensi sumber daya manusia dengan cara mendorong dan
memfasilitasi kegiatan belajar mereka. Secara detail, dalam Undang-Undang RI
No. 20 tahun 2003, bab I pasal I, tentang “system pendidikan nasional” bahwa
pendidikan di definisikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
Susana belajar dan proses belajar agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.1
Selamanya pendidikan tetap menjadi alternative dalam mengembangkan
dan meningkatkan sumber daya manusia, utamanya untuk mempersiapkan
generasi mendatang agar mampu menjawab tentang perubahan zaman melalui
proses belajar mengajar yang merupakan dua konsep yang hamper tidak dapat
dipisahkan satu dengan yang lainnya, terutama dalam praktiknya di sekolah.
Menurut Bagne (1977) behwa belajar merupakan sebuah proses perubahan
tingkah laku yang merupakan perubahan kecenderungan manusis seperti sikap,
minat, atau nilai dan perubahan kemampuan. Hal ini amat penting agar
1
Undang-Undang RI N0 20 Tahun 2003 Tentang SISDIKNAS, (Jakarta: Cemerlang,
2
perkembangan kepribadian dan kemampuan belajar siswa terjadi secara
harmonis.2
Pada saat ini pembelajaran kreatif dan inovatif seharusnya dilakukan oleh
guru saat waktu pembelajaran dalam upaya untuk menghasilkan peserta didik
yang kreatif. Tingkat keberhasilan guru dalam mengajar dilihat dari keberhasilan
peserta didikanya sehingga dikatakan bahwa guru yang hebat itu adalah guru
yang dapat memberikan inspirasi bagi peserta didiknya.
Proses belajar terjadi karena adanya interaksi individu dengan
lingkungannya, karena itu istilah pembelajaran merupakan usaha yang
dilaksanakan secara sengaja, terarah dan terencana, dengan tujuan yang telah
ditetapkan terlebih dahulu sebelum proses dilaksanakan, serta pelaksanaannya
terkendali, dengan maksud agar terjadi belajar terlebih dahulu.3
Pembelajaran yang dilakukan oleh guru merupakan kunci efektifitas
belajar dalam kelas. Pembelajaran yang tepat akan dapat membangun semangat
peserta didik dalam mengikuti pembelajaran. Dalam pembelajaran diperlukan
lingkungan yang kondusif agar dapat dicapai perkembangan individual secara
optimal , hubungan guru, peserta didik dan sumber belajar dalam sebuah proses
belajar mengajar sangat dibutuhkan dalam menunjang proses belajar mengajar
yang efektif.4.
2
Najib Sulham, Pengembangan Karakter Pada Anank, Manajemen Pembelajaran Guru
Menuju Sekolah Efektif, (Surabaya: Intelektual Club, 2006), h. 5 3
Dra. Eveline Siregar “Teori Belajar Dan Pembelajaran” (Bogor: Ghalia Indonesia,
3
Dalam proses belajar mengajar diperlukan strategi pembelajaran dalam
menunjang kegiatan peserta didik. Pemilihan strategi pembelajarantidak terlepas
dari kurikulum yang digunakan dan karakteristik peserta didik. Karakteristik
peserta didik dan terutama pengalaman awal dan pengetahuan peserta didik,
minat peserta didik, gaya belajar peserta didik, dan perkembangan peserta didik5.
Pemilihan model pembelajaran juga sangat penting dibutuhkan untuk keefektifan
dalam kegiatan belajar mengajar.
Secara umum pendidikan agama islam bertujuan untuk meningkatkan
keimanan pemahaman dan penghayatan dan pengalaman peserta didik tentang
agama islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa
kepada AllahSWT. Serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi,
bermasyarakat dan bernegara.6
Sekolah sebagai suatu lembaga formal, secara sistematis merencanakan
bermacam-macam lingkunagan, yakni lingkunagan pendidikan yang
menyediakan berbagai kesempatan bagi peserta didik untuk melakukan berbagai
kegiatan belaja. Dengan berbagai kesempatan belajar itu, pertumbuhan dan
perkembangan peserta didik akan diarahkan dan didorong ke pencapaian tujuan
yang dicita-citakan. Lingkungan tersebut disusun dan di tata dalam suatu
kurikulum, yang ada pada gilirannya dilaksanakan dalam proses pembelajaran.7
Salah satu aspek penting dalam proses pembelajaran adalah metode yang
5
Ibid, h. 146 6
Drs, Muhaimin Ma, Dkk, “Strategi Belajar Mengajar” (Surabaya: Cv Citra Media.
1996), h. 2 7
4
digunakan oleh guru. Pemilihan metode yang sesuai akan memberikan kontribusi
yang penting bagi keberhasilan pembelajaran.
Dalam proses pembelajaran seorang guru harus mempertimbangkan
setiap langkah-langkah yang akan digunakan sebelum proses pembelajaran
model yang tepat dalam pembelajaran akan sanngat efektif sesuai dengan tujuan
belajar. Tujuan dari belajar bukan semata-mata berorientasi pada penguasaan
materi dengan menghafal fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi atau
materi pelajaran. Lebih jauh dari pada itu, orientasi sesungguhnya dari proses
belajar memberikan pengalaman yang untuk jangka panjang. Dengan konsep ini,
hasil pembelajaran berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa
bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru kepada siswa.8
Dalam proses pembelajaran pendidikan agama islam disekolah saat ini
masih sebatas sebagai proses penyampaian “pengetahuan tentang agama”. Hanya
sedikit yang mengarah pada proses internalisasi nilai-nilai islam pada diri siswa.
Hal ini dapat dilihat dari proses pembelajarn yang dilakukan guru masih dominan
ceramah. Proses internalisasi tidak secara otomatis terjadi ketika nilai-nilai
tertentu sudah dipahami oleh siswa. Artinya metode ceramah yang digunakan
guru ketika mengajarpendidikan agama islam berpeluang gagalnya proses
internalisasi nilai-nilai agama islam pada diri siswa.9
8
Abdul Majid M,Pd “Strategi Pembelajaran” (Bandung: Remaja Rosdakarya 2013), h.
92 9
A. Saipul Hamdai, Contextual Teaching And Learning Pada Pembelajaran Pendidikan
5
Salah satu factor yang menyebabkan rendahnya kualitas pembelajaran
yaitu belum dimanfaatkannya sumber belajar secara maksima, baik oleh guru
maupun siswa. Keberhasilan pendidikan di sekolah antara lain ditentukan oleh
banyak factor seperti perencanaan, persiapan mengajar, metode mengajar, media
mengajar, sarana dan prasarana lain yang menunjang sehingga dapat mencapai
tujuan intruksional secara efektif dan efisien. Dalam proses mengajar guru
memiliki tanggung jawab atas keberhasilan yang dicapai oleh peserta didik
dalam belajar.
Oleh karena itu guru harus dapat menciptakan situasi dan kondisi belajar
yang efektif dengan cara menggunakan cara-cara yang sesuai serta
mempertimbangkan situasi dan kondisi siswa dan lingkungannya. Penggunaan
cara yang tepat mempengaruhi pencapaian tujuan pengajaran di sekolah. Salah
satunya dengan menggunakan model experiential learning dalam pembelajaran
Pendidikan Agama Islam.
Tujuan akhir dari proses belajar mengajar adalah siswa memiliki
keterampilan transfer of learning, sehingga diharapkan mereka dapat
mentransfer ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan ke dalam situasi nyata
dalam kehidupan sehari-hari. Keterampilan transfer of learning adalah
keterampilan individu mengontrol pengetahuan yang diperoleh untuk
diaplikasikan dalam masalah baru atau situasi nyata. Menurut gegne (1974),
individu yang memiliki keterampilan ini memiliki strategi kognitif. Yaitu
kemampuan internal seseorang yang terorganisasi yang dapat membantu siswa
dalam proses belajar, proses berfikir, memecahkan masalah dan dan mengambil
6
merupakan proses reflection in action yang terdapat pada teori experiential
learning (pannen, 1996).
Experiential learning merupakan model pembelajaran yang menekankan
kepada model pembelajaran yang holistik dalam proses belajar mengajar. Dalam
experiential learning, pengalaman mempunya peran central dalam proses belajar,
yang mana belajar sebagai proses menciptakan pengetahuan melalui transformasi
pengalaman (experience). Pengetahuan merupakan hasil perpaduan antara
memahami dan mentransformasi pengalaman. Experiential learning dapat
didefinisikan sebagai tindakan untuk mencapai sesuatu berdasarkan pengalaman
yang secara terus menerus mengalami perubahan guna meningkatkan keefektifan
siswa.10
Salah satu model yang dapat meningkatkan keefektifan dari belajar
adalah model Experiensial Lerningyang mana model ini, menekankan pada
keinginan kuat dari dalam diri siswa untuk berhasil dalam belajarnya. Model
Experiensial Lerningmember kesempatan kepada siswa untuk mengalami
keberhasilan denganmemberikan kebebasan siswa untuk memutuskan
pengalaman apa yang ingin mereka kembangkan dan bagaimana cara mereka
membuat konsep dari pengalaman yang mereka alami tersebut. Hal ini berbeda
dengan pendekatan traditional, dimana siswa menjadi pendengar pasif dan hanya
guru yang mengendalikan proses belajar tanpa melibatkan siswa.11
10
Baharudin Dan Esa Nur Wahyunu, “Toeri Belajar Dan Pembelajaran”, (Jogjakarta:
7
ModelExperiensial Lerningyaitu belajar secara pengalaman yang
merupakan pembelajaran induktif yang berpusat pada peserta didik dan
berorientasi pada orientasi dan aktivitas peserta didik12. Model pembelajaran
experiential learning menitik beratkan pada pengalaman yang akan dialami oleh
siswa. Siswa terlibat langsung dalam proses belajar dan murid mengkontrusikan
sendiripengalaman-pengalaman yang didapat sehingga menjadi suatu
pengetahuan. Siswa akan mendapatkan pengalaman-pengalaman yang berbeda
dari apa yang telah mereka pelajari, hal ini karena perbedaan dan keunikan dari
gaya belajar siswa.13
Adapun model ini dapat diterapakan pada pembelajaran pendidikan
agama islam agar pembelajaran tersebut berjalan secara efektif. Apalagi saat ini
pada pembelajaran pendidikan agama islam guru hanya memberikan metode
serta model pelajaran yang membuat siswa cepat merasa bosan dan tidak fokus
dalam mengikuti pembelajaran.
Dengan demikian metode pembelajaran Experiential Learning
merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat dijadikan sebagai
alternative untuk proses internalisasi nilai-nilai islam karena dalam model ini,
belajar sebagai proses mengkontruksi pengetahuan melalui transformasi
pengalaman.
Berpijak dari latar belakang diatas maka penulis ingin membahas
permasalahan tersebut dalam skripsi yang berjudul “pengaruh model experiential
12
Ibid, h. 153 13
Abdul Majid, M.Pd, “Belajar Dan Pembelajaran”, (Bandung:Remaja Rosdakarya
8
learning terhadap efektivitas pembelajaran pendidikan agama islam kelas VIIdi
SMP Hasjim Asj’ari Tulangan Sidoarjo
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang maslah yang diuraikan diatas, maka dapat diambil
rumusan masalah yang nantinya akan di jadikan tolok ukur dalam penelitian ini,
sebagai berikut:
1. Bagaimana pelaksanaan model experiential learning dalam pembelajaran
pendidikan agama islam di kelas VII Smp Hasjim Asy’ari Tulangan?
2. Bagaimanakualitas pembelajaran pendidikan agama
islammodelexperietial learning di kelas VII A SmpHasjim Asj’ari
Tulanagan Sidoarjo?
3. Adakah pengaruh model experiential learning terhadap kualitas
pembelajaran pendidikan agama islam di kelas VII Smp Hasjim Asy’ari
Tulangan?
C. Tujuan Penelitian
Dalam penulisan skripsi ini tujuan yang hendak dicapai peneliti
ialah:
1. Ingin mengetahuipelaksanaan model experiential learning
dalampembelajaran pendidikan agama islam di kelas VII Smp Hasjim
Asy’ari Tulanagan Sidoarjo
2. Ingin mengetahuikualitas pembelajaran pendidikan agama islam
modelexperietial learning di kelas VII SmpHasjim Asj’ari Tulanagan
9
3. Ingin mengetahui pengaruh model experiential learning terhadap kualitas
pembelajaran pendidikan agama islam di kelas VII Smp Hasjim Asy’ari
Tulangan
D. Manfaat Penelitian
Dengan melihat tujuan diatas maka, maka diharapkan penelitian ini
dapat bermanfaat:
1. Secara Teoritis, hasil penelitian ini Bermanfaat untuk menambah
referensi tentang pembelajaran pendidikan agama islam berbasis
experensial lerning.
2. Secara Praktis, hasil penelitian ini bermanfaat bagi:
A. Peneliti, diharapkan menambah pengalaman dan wawasan
yang nantinya diharapkan klau peneliti sudah menjadi guru
dapat memberikan fungsi guru yang baik
B. Sekolah, diharapkan menjadi bahan rujukan dalam
pengelolaan dan referensi dalam model pembelajaran PAI
serta mdapat meningkatkan efektifitas pembelajaran
pendidikan agama islam.
C. Guru PAI, diharapkan dapat dijadikan umpan balik untuk
pemilihan model dalam pelaksanaan pembelajaran pendidikan
agama islam yang efektif. Disamping itu dapat dijadikan
bahan pertimbangan dalam meningkatkan model pembelajaran
pendidikan agama islam sehingga pembelajaran dapat
10
D. Bagi peneliti yang lain, untuk mengembangkan pengetahuan
dan cakrawala berpikir khususnya dalam bidang pendidikan
sehingga nanti diharapkan, apabila ia sudah terjun dapat
membantu guru-guru yang erat kaitannya dalam pelaksanaan
pendidikan.
E. HIPOTESIS
Hipotesis yang penulis pergunakan dalam penelitian ini adalah :
1. Hipotesis Nol/hipotesis nihil yang berlambangkan Ho.
Hipotesis ini menyatakan bahwa tidak ada hubungan antar variable
independent (X) dengan variable dependent (X)14. Yakni “ tidak
adanya pengaruh model experiential learning terhadap kualitas
pembelajaran pendidikan agama islamkelas VII Smp Hasjim Asy’ari
Tulangan Sidoarjo”
2. Hipotesis kerja atau hipotesis alternative (Ha).
Hipotesis kerja / hipotesis alternative yang berlambangkan ha.
Hipotesis ini menyatakan bahwa ada hubungan antara variable
independent (X) dengan variable dependent (Y). Yakni “adanya
pengaruh model experiential learning terhadap kualitas pembelajaran
pendidikan agama islamkelas VII Smp Hasjim Asy’ari Tulanagan
Sidoarjo”
F. Ruang Lingkup Penelitian
1. Subjek Penelitian
11
Untuk menunjang keberhasilan penelitian tentu ada subjek penelitiannya.
Subjek itu bisa berupa manusia, benda, peristiwa, maupun gejala yang terjadi.
Adapun yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah guru pendidikan agama
islam di SMP Hasjim Asj’ari Tulangan Sidoarjo dengan fokus masalah pada
pelaksanaan model experiential learning dan kualitas pembelajaran pendidikan
agama islam
2. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukandiSMP Hasjim Asj’ari Tulangan Sidoarjo.
G. Definisi operasioanal
Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas dan agar pembahasan
dalam skripsi ini lebih mengarah dan terfokus dalam permasalahan yng akan
dibahas, sekaligus unttuk menghindari terjadinya persepsi lain mengenai
istilah-istilah yang ada, maka perlu adanya penjelasan tentang penjelasam definisi
istilah. Hal ini sangat diperlukan agar tidak terjadi kesmaan penfsiran dan
terhindar dari kesalahan pengertian pada pokok pembahasan ini. Definisi istilah
yang berkaitan dengan judul dalam penulisan skripsi ini adalah:
Experiential lerning adalah model pembelajaran yang meilibatkan siswa
secara langsung dalam masalah atau materi yang sedang dipelajari. Dalam model
ini, belajar sebagai proses dimana pengetahuan diciptakan melalui transformasi
pengalaman. Jadi, pengetahuan merupakan hasil perpaduan antara memahami
dan mentransformasi pengalaman15.
15
Baharudin Dan Esa Nur Wahyunu, “Teori Belajar Dan Pembelajaran”, (Jogjakarta:
12
Prosedur dalam pembelajaran experiential learning terdiri dari 4 tahapan,
yaitu: a) tahapan pengalaman nyata, b) tahapan observasi refleksi, c) tahap
konseptualisasi, d) tahap implementasi. Dalam tahapan tersebut proses belajar
dimulai dari pengalaman seseorang. Pengalaman tersebut kemudia dirfleksikan
secara individu. Dlam proses refleksi, seseorang akan berusaha memahami apa
yang terjadi atau apa yang dialaminya. Refleksi ini menjadi dasar konseptualisasi
atau proses pemahaman, prinsip-prinsip yang mendasari pengalaman yang
dialami serta prakiraan kemungkinan aplikasinya dalam situasi atau konteks yang
lain (baru. Proses implementasi merupakan situasi atau konteks yang
memungkinkan penerapan konsep yang sudah dikuasai.16 Baik buruknya
pembelajaran tergantung pada kualitas pembelajaran tersebut. “Kualitas” adalah
tingkat baik buruknya suatu (kadar), derajat atau taraf kepandaian, kecakapan
dan seglanaya (mutu).17 Artinya, dikatakan berkualitas berarti sesuatu
tersebut dapat diukur tingkat baik dan buruk atau tinggi dan rendahnya. Bila
kualitasnya baik berarti tingkat baiknya yang tinggi, bila kualitasnyarendah
berarti tingkat buruknya yang tinggi. Adapun pembelajaran adalah proses
interaksi perubahan kea rah yang lebih baik.18
Menurut Winkel (1991) mendefinisikan pembelajaran sebagai pengaturan
dan penciptaan kondidsi-kondisi ekstrem sedemikian rupa, sehingga menunjang
proses belajar mengajar. Jadi pembelajaran adalah usaha pendidikan yang
dilaksananakan secara sengaja, dengan tujuan yang telah ditetapkan terlebih
16
Abdul Majid, M.Pd, “Belajar Dan Pembelajaran”, (Bandung:Remaja Rosdakarya
2012), h. 183 17
13
dahulu sebelum proses dilaksanakan, serta pelaksanaannya terkendali dalam
dirinya sendiri.19 Pada dasarnya pembelajaran merupakan kegiatan terencana
yang mengkondisikan/ merangsang seseoranga agar bisa belajar dengan baik
agar sesuai dengan tujuan pembelajaran. Oleh sebab itukegiatan pembelajaran
akan bermuara pada dua kegiatan pokok. Pertama, bagaimana orang melakukan
tindakan perubahan tingkah laku melalui kegiatan belajar. Kedua, bagaimana
orang melakukan tindakan penyampaian ilmu pengetahuan melalui kegiatan
mengajar, dengan demikian pembelajaran merupakan kondisi eksternal kegiatan
belajar antara lain dilakukan oleh guru dalam mengondisikan seseorang untuk
belajar.20
Pendidikan agama islam ialah usaha sadar untuk menyiapkan peserta
didik dalam meyakini dan memahami menghayati dan mengamalkan ajaran
agama islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan dengan
memperhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan
kerukunan antara umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan
persatuan nasional.21
Pendidikan agama islam disekolah/dimadrasah bertujuan untuk
menumbuhkan dan meningkatkan keimananmelalui pemberian dan
pemupukan pengetahuan, penghayatan, pengamalan serta pengalaman peserta
didik dalam ajaran agama islam sehingga menjadi manusia muslim yang
19
Dra Eveline Siregar, Hartini Nara “Teori Belajar Dan Pembelajaran” (Bogor: Ghalia
Indonesia,2011) , h. 12 20
Abdul Majid M,Pd “Strategi Pembelajaran” (Bandung: Remaja Rosdakarya 2013), h.
4
21
14
terus berkembang dalam hal keimnan, ketaqwaannya, berbangsa dan
berbegara, serta untuk dapat melanjutkan pada jengjang yang lebih tinggi
(kurikulum PAI 2002)22. Berdasarkan penjelasan diatas makapenulis
menggunakan judul dalam skripsi ini“pengaruh model experiential learning
terhadap efektivitas pembelajaran pendidikan agama islam kelas VII smp
hasjim asj’ari tulangansidoarjo” dengan maksud untuk mengetahui seberapa
besar pengaruh model model experiential learning terhadap efektivitas
pembelajaran pendidikan agama islam.
H. Sistematika Pembahasan
BAB I pada bab ini berisikan pendahuluan yang menghantarkan kearah
tujuan penelitian ini diantaranya: latar belakang penelitian, yang merupakan
pijakan atau pondasi filosofis teoritis dan strategis pelaksanaan penelitian.
Rumusan masalah, pada sub bab ini peneliti memfokuskan tentang masalah yang
menjadi arah penelitian. Tujuan penelitian, yaitu untuk mengetahui apa yang
menjadi maksud penelitian tersebut. Manfaat penelitian, didalam pembahasan ini
peneliti menjelaskan secara tegas untuk apa penelitian itu dilakukan, serta
hipotesis penelitian selain itu juga dijelaskan tentang definisi operasional, dan
sistematika pembahasan yang manjadi alur pembahsan skripsi.
BAB II pada bab ini berisi tentang landasan teori pada bab ini berisi
tentang penjelasan teoritis yang terbagi atas beberapa sub bab diantaranya
22
15
tentang model experiential learning, efektifitas dan pembelajaran pendiidkan
agama islam.
BAB III pada bab ini dijelaskan mengenai objek penelitian dan
metodologi penelitian, objek penelitian yaitu diskrpsi lokasi penelitian yang
terdiri atas pendiskripsian sejarah sekolah, profil sekolah, struktur-struktur
kepemimpinan sekolah, sarana dan prasarana sekolah dan metodologi penelitian
yaitu sebuah urutan kerja penelitian yang yang diawali dari penedekatan dan
jenis penelitian, informan, tahap-tahap penelitian, teknik pengumpilan data,
teknik analisis dan teknik keabsahan data
BAB IV pada bab ini berisi tentang bentuk penyajian dan analisis data.
Untuk analisis data pada bab ini merupakan analisis dari bab yang sebelumnya
berisikan interpretasi dan hasil penemuan serta pengaruh model experiential
learning terhadap efektifitas pembelajaran pendidikan agama islam.
BAB V pada bab ini merupakan bab yang terakhir dalam penulisan
skripsi ini..di dalamnya memuat kesimpulan yang merupakan jawaban langsung
dari permasalahan. Dan sebagai akhir dari sub bab ini ditutup dengan
rekomendasi, yaitu anjuran bagi kemungkinan dilaksanakannya penelitian
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Model Experiential Learning
1. Pengertian Model Experiential Learning.
Secara umum istilah “model” diartikan sebagai kerangka konseptual yang
digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatan. Dalam pengertian
lain, model juga diartikan sebagai barang atau benda tiruan dari benda yang
sesungguhnya, seperti “globe” adalah model dari bumi tempat kita hidup. Dalam istilah selanjutnya istilah model digunakan untuk menunjukkan pengertian yang
pertama sebagai kerangka konseptual. Atas dasar pemikiran tersebut, maka yang
dimaksud model belajar mengajar adalah kerangka konseptual dan prosedur yang
sistematik dalam mengorganisasi pengalaman belajar untuk mencapai tujuan
belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pengajaran dan
para guru dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar.
Daway (joice &weil, 1986) mendefinisikan model pembelajaran sebagai
“a plan or pattern that we can use to design face to face teaching in the
classroom or tutorial setting and to shape instructional material” (suatu rencana
atau pola yang dapat kita gunakan untuk merancang tatap muka di kelas atau
pembelajaran tambahan di luar kelas dan untuk menajamkan materi pengajaran).
Dari pengertian diatas dapat dipahami bahwa: pertama: model pembelajaran
merupakan kerangka dasar pembelajaran yang dapat diisi oleh beragam muatan
17
pembelajaran dapat muncul dalam beragam bentuk dan variasinya sesuai dengan
landasan filosofis dan pedagogis yang melatarbelakanginya23.
Menurut Mahfudin, model pembelajaran experiential learning merupakan
model pembelajaran yang diharapkan dapat menciptakan proses belajar yang lebih
bermakna, dimana murid mengalami apa yang mereka pelajari. Melalui model ini,
murid tidak hanya belajar tentang konsep materi belaka karena dalam hal ini
murid dilibatkan secara langsung dalam proses pembelajaran untuk dijadikan
suatu pengalaman. Hasil proses pembelajaran experiential learning tidak hanya
menekankan pada aspek kognitif, tetapi juga subjektif dalam proses belajar.
Pengetahuan yang tercipta dari model ini merupakan perpaduan antara memahami
dan menstransformasi pengalaman.
Pepatah mengatakan bahwa “pengalaman adalah guru yang paling baik”.
Hal yang sma telah dikemukakan oleh confusious beberapa abad lalu “what I hear, I forget, what I hear and I see, I remember a little, what I hear, see and ask
questions about or discus with some one else, I begin to understand, what I hear
see, discus and I do, I acquire knowledge and skill what I teach to another I
master”. Jika pernyataan confusius tersebut dikembangkan secara sederhana,
maka akan didapat suatu cara belajar berupa cara belajar dengan mendengar akan
lupa, dengan cara mendengarkan dan melihat akan ingat sedikit, dengan cara
mendengar, melihat dan mendiskusikan dengan murid lain akan paham, dengan
cara mendengar, melihat, dan mendiskusikan dengan murid lain akan paham
23
Abdul Majid, S.Ag, M,Pd, Belajar Dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam,
18
dengan cara mendengar, melihat, diskusi, dan melakukan akan memperoleh
pengetahuan dan keterampilan, dan cara menguasai pelajaran yang terbaik adalah
dengan cara mengerjakan. Dengan mengalami materi belajar secara langsung,
diharapkan murid dapat lebih membangun makna serta kesan dalam memori atau
ingatannya.
Seperti halnya sebuah proses pembelajaran kontekstual yang
menghubungkan dan melibatkan murid dengan dunia nyata, model ini pun lebih
mengedepankan model connected knowing (menghubungkan antara pengetahuan
dengan dunia nyata) dengan demikian pembelajaran dianggap sebagai bagian dari
integral dari sebuah kehidupan24.
2. Konsep Model Experiential Learning
Experiential learning theory (ELT), yang kemudian menjadi dasar model
pembelajaran Experiential learning, dikembangkan oleh david kolb sekitar awal
1980 an. Model ini menekankan pada sebuah model pembelajaran yang holistic
dalam proses belajar. Dalam Experiential learning, pengalaman mempunyai peran
sentral dalam proses belajar. Penekanan inilah yang membedakan ELT dari
teori-teori belajar lainnya. Istilah “experiential” disini untuk membedakan antara
belajar kognitif yang cenderung menekankan kognisi lebih dari pada afektif. Dan
teori belajar behavior yang menghilangkan peran pengalaman subjektif dalam
proses belajar (Kolb Dalam Baharudin Dan Esa, 2007: 165)
24
19
Model experiential learning adalah suatu model proses belajar mengejar
yang mengaktifkan pembelajar untuk membangun pengetahuan dan keterampilan
melalui pengalamannya secara langsung. Dalam hal ini, Experiential learning
menggunakan pengalaman sebagai katalisator untuk menolong pembelajar
mengembangkan kapasitas dan kemampuan dalam proses pembelajaran.
Mahfudin menyimpulkan bahwa model Experiential learning dapat
didefinisikan sebagai tindakan untuk mencapai sesuatu berdasarkan pengalaman
yang secara terus-menerus mengalami perubahan guna meningkatkan keefektifan
dari hasil belajar.25 Tu;juan dari model ini adalah untuk mempengaruhi murid dengan tiga cara, yaitu:
a. Mengubah struktur kognitif murid,
b. Mengubah sikap murid, dan
c. Memperluas keterampilan-keterampilan murid yang telah ada.
Ketiga elemen itu saling berhubungan dan memengaruhi secara
keseluruhan, tidak terpisah-pisah, karena apabila salah satu elemen tidak ada,
maka kedua elemen lainnya tidak akan efektif.
Kualitas belajar experiential learning mencakup keterlibatan murid secara
personal, berinisiatif, evaluasi oleh murid sendiri, dan adanya efek yang
membekas pada murid. Model experiential learning memberi kesempatan kepada
murid untuk memutuskan pengalaman apa yang menjadi focus mereka,
keterampilan-keterampilan apa yang ingin mereka kembangkan, dan bagaimana
25
20
mereka membuat konsep dari pengalaman yang mereka alami. Adapun prinsip
dasar Experiential learning adalah sebagai berikut: prosedur pembelajaran dalam
Experiential learning terdiri dari 4tahapan, yaitu:
a. Tahapan pengalaman nyata.
b. Tahapan observasi refleksi.
c. Tahapan konseptualisasi, dan
d. Tahapan implementasi.
Keempat tahapan tersebut oleh David Kolb (1984) kemudian digambarkan
dalama bentuk lingkaran sebagai berikut26:
Concrete Experince
Testing Implications Observations
Of Concept In New And Reflection
Situation
Formation Of Abstract
Concepts And Generalizations
Bagan Experiential Learning Cycle (Baharudin Dan Esa, 2007:166)
Dalam tahapan diatas, proses belajar diatas dimulai dari pengalaman
konkret yang dialami oleh seseorang. Pengalaman tersebut kemudian
26
21
direfleksikan secara individu. Dalam proses refleksi, seseorang akan berusaha
memahami apa yang terjadi atau apa yang dia alami. Refleksi ini menjadi dasar
konseptualisasi atau proses pemahaman prinsip-prinsip yang mendasari
pengalaman yang dialami serta prakiraan kemungkinan aplikasinya dalam situasi
atau konteks yang lain (baru). Proses implementasi merupakan situasi atau
konteks yang memungkinkan penerapan konsep yng sudah dikuasai.
Kemungkinan belajar melalui pengalaman-pengalaman nyata kemudian
direfleksikan dengan mengkaji ulang apa yang dilakukannya tersebut. Pengalaman
yang sudah direfleksikan kemudian diatur kembali sehingga membentuk
pengertian-pengertian baru atau konsep-konsep abstrakyang akan menjadi
petunjuk bagi terciptanya pengalaman atau perilaku-perilaku baru. Proses
pengalaman dan refleksi dikategorikan sebagai proses penemuan (finding out).
Sedangkan proses konseptualisasi dan implementasi dikategori dalam proses
penerapan (taking action).
Menurut experiential learning theory agar proses belajar mengajar efektif,
seorang murid harus memiliki empat kemampuan (Nasution Dalam Baharudin
Dan Esa, 2007:167).27
Tabel 2.1
kemampuan murid dalam proses belajar experiential learning
Kemampuan Uraian Pengutamaan
27
22
Concrete
experience (CE)
Murid melibatkan diri sepenuhnya
dalam pengalaman baru
Feeling
(perasaan)
Reflection
observation (RO)
Murid mengobservasi dan
merefleksikan atau memikirkan
pengalaman dari berbagai segi
Watching
(mengamati)
Abstract
conceptualization
(AC)
Murid menciptakan konsep-konsep
yang mengintegrasikan observasinya
menjadi teori yang sehat
Thinking
(berfikir)
Active
experimentation
(AE)
Murid menggunakan teori untuk
memecahkan masalah-masalah dan
mengambil keputusan
Doing
(berbuat)
Dari uraian diatas dapat disimpulkan, bahwa model pembelajaran
experiential learning merupakan model pembelajaran yang memperhatikan atau
menitikberatkan pada pengalaman yang akan dialami murid. Murid terlibat
langsung dalam proses belajar dan murid mengontruksi sendiri
pengalaman-pengalaman yang didapat sehingga menjadi suatu pengetahuan. Murid akan
mendapatkan pengalaman-pengalaman yang berbeda dari apa yang telah mereka
pelajari, hal ini karena perbedaan dan keunikan dari gaya belajar masing-masing
murid.28
28
Abdul Majid, M.Pd, Strategi Pembelajaran, (Bandung: PT.Remaja Rosdakarya 2013),
23
3. Siklus Pembelajaran Experiential Learning
Ada beberapa siklus dalam pembelajaran experience. Menurut Kolb
(1984), model experiential learning adalah proses dimana pengetahuan diperolah
melalui transformasi pengalaman (Kolb,1984). Pernyataan ini melahirkan sebuah
model siklus pembelajaran yang terdiri atas empat tahapan, yaitu:
Pengalaman konkret (concrete experience)
Refleksi observasi (reflection observation)
Penyusunan konsep abstrak (abstract conceptualization)
Aplikasi
Keempat tahapan ini membentuk sebuah siklus seperti ditunjukkan pada
gambar berikut:29
Experiential Learning Cycle. (Kolb’s, 1984)
29
Ibid, h. 187
Concrete
Experience
Active Experiential
Refective observation
24
Siklus belajar menurut pembelajaran berbasis pengalaman (experiential
learning) seperti gambar diatas dimulai dari sebuah pengalaman konkret
dilanjutkan dengan proses refleksi dan observasi terhadap pengalaman tersebut.
Hasil refleksi ini ini akan diasimilasi/diakomodasi dalam struktur kognitif
(konseptualisasi abstrak) dan selanjutnya dirumuskan suatu hipotesis baru untuk
diuji kembali pada situasi baru (eksperimen). Hasil dari tahap eksperime akan
menutun kembali pembelajar menuju tahap pengalaman konkret.
Tahapan-tahapan dalam Kolb’s experiential learning cycle dapat diuraikan
pada contoh berikut:
Pertama, pengalaman konkret. Pada tahap ini pembelajar disediakan
stimulus yang mendorong mereka melakukan sebuah aktivitas. Altivitas ini bias
berangkat dari suatu pengalaman yang pernah dialami sebelumnyabaik formal
maupun informal ataupun situasi yang realistic. Aktivitas yang disediakan bias
didalam ataupun diluar kelas dan dikerjakan oleh pribadi ataupun kelompok.
Kedua, refleksi observasi. Pada tahap ini pembelajar mengamati
pengalaman dari aktivitas yang dilakukan dengan menggunakan panca indra atau
dengan bantuan alat peraga. Selanjutnya pembelajar merefleksikan
pengalamannya dan dari hasil refleksi ini mereka menarik pelajaran. Dalam hal ini
preses refleksi akan terjadi bila guru mampu mendorong murid untuk
mendeskripsikan kembali pengalaman yang diperolehnya, mengomunikasikan
25
Ketiga, penyusunan konsep abstrak. Setelah melakukan observasi dan
refleksi, maka dalam tahap pembentukan konsep pembelajar mulai
mengonseptualisasi suatu teori atau model dari pengalaman yang diperoleh dan
mengintegrasikan dengan pengalaman sebelumnya. Pada fase ini dapat ditentukan
apakah terjadi pemahaman baru atau proses belajar pada diri pembelajar atau
tidak. Jika terjadi proses belajar, maka 1) pembelajar akan mampu
mengungkapkan aturan-aturan umum untuk mendeskripsikan pengalaman
tersebut; 2) pembelajar menggunakan teori yang ada untuk menrik kesimpulan
terhadap pengalaman yang diperoleh; 3) pembelajar mampu menerapkan teori
yang terabstraksi untuk menjelaskan pengalaman tersebut.
Keempat, active experimentation atau aplikasi. Pada tahap ini, pembelajar
mencoba merencanakan bagaimana menguji kemapuhan model atau teori untuk
menjelaskan pengalaman baru yang akan diperoleh selanjutnya (Kolb, dalam
Mardana 2004).30 Pada tahap aplikasi akan terjadi proses bermakna karena pengalaman yang diperoleh pembelajar sebelumnya dapat diterapkan pada
pengalaman atau situasi problematika yang baru. Setiap individu memiliki
keunikan sendriri dan tidak pernah ada dua orang uyang memiliki pengalaman
hidup yang sama persis. Dua anak yang tumbuh dalam lingkungan yang sma dan
mendapatkan perlakuan yang sma, belum tentu akan memiliki pemahaman,
pemikiran dan pandangan yang sma terhadap dunia sekitarnya. Masing-masing
memiliki cara pandang sendiri terhadap setiap peristiwa yang dilihat dan
dialaminya cara pandang tersebut yang disebut sebagai gaya belajar.
30
26
Kolb mengenalkan empat gaya belajar yang sesuai dengan
tahapan-tahapan dalam siklus belajar sebagai berikut:
Assimilator, (AC/RO), kombinasi dari berfikir dan mengamati
(thinking and watching). Anak pada tipe assimilator memiliki
kelebihan dalam memahami berbagai sajian informasi serta
merangkumnya ke dalam suatu format yang logis, singkat, dan
jelas. Biasanya anak tipe ini kurang perhatian kepada orang lain
dan lebih menyukai ide serta konsep yang abstrak.
Converger,(AC/AE). Kombinasi dari berpikir dan berbuat
(thinking and doing). Anak dengan tipe converger unggul dalam
menemukan fungsi praktis dari berbagai ide dan teori. Bisanya
mereka punya kemampuan yang lebih baik dalam pemecahan
masalah dan pengambilan keputusan. Mereka juga cenderung lebi
menyukai tugas-tugas teknis (aplikatif) dari pada masalah soaial
atau hubungan antar pribadi.
Accommodator, (CE/AE). Kombinasi dari perasaan dan tindakan
(feeling and doing). Anak dengan tipe accommodator memiliki
kemampuan belajar yang baik dari hasil pengalaman nyata yang
dilakukan sendiri. Mereka suka membuat rencana dan melibatkan
dirinya dalam berbagai pengalaman baru dan menantang. Mereka
cenderung bertindak berdasarkan analisis logis. Dalam usaha
27
manusia (untuk mendapatkan masukan/informasi) disbanding
analisis teknis.
Diverger, (CE/RO). Kombinasi dari perasaan dan pengamatan
(feeling and watching). Anak dengan tipe diverger unggul dalam
melihat situasi konkret dari banyak sudut pandang yang berbeda.
Pendekatannya pada setiap situasi adalah “mengamati” dan bukan “bertindak”. Anak seperti ini menyukai tugas belajar yang menuntunnya untuk menghasilkan ide-ide, biasanya juga menyukai
isu budaya serta suka sekali mengumpulkan berbagai informasi.
Secara sederhana model siklus belajar experiential learning dan
gaya belajar Kolb dapat disajikan dalam bagan berikut:31
Kolb’s learning style
Kolb’s Learning Style
How We Think About Think
28
Hamalik (2011), mengungkapkan beberapa hal yang harus diperhatikan dalam model pembelajaran experiential llearning adalah sebagai berikut:32
1) Guru merumuskan secara seksama suatu rencana pengalaman
belajar yang bersifat terbuaka (open minded) yang meiliki
hasil-hasil tertentu.
2) Guru harus bias memberikan rangsangan dan motivasi.
3) Siswa dapat bekerja secara individual atau bekerja dalam
kelompok-kelompok kecil/keseluruhan kelompok didalam belajar
berdasarkan pengalaman.
4) Para siswa ditempatkan pada situasi-situasi nyata, maksudnya
siswa mampu memcahkan masalah dan bukan dalam situsai
pengganti.
5) Siswa aktif berpartisipasi di dalam pengalaman yang tersedia,
membuat keputusn sendiri, menerima konsekuensi berdasarkan
keputusan tersebut.
6) Keseluruhan kelas menceritakan kembali tentang apa yang dialami
sehubungan dengan mata pelajaran tersebut untuk memperluas
pengalaman belajar dan pemahaman siswa dalam melaksankan
pertemuan yang nantinya akan membahas bermacam-macam
pengalaman.
Langkah menantang bagi guru dalam experiential llearning adalah
memikirkan atau merancang aktivitas pengalaman belajar seperti apa yang harus
32
29
terjadi pada diri siswa baik yang individu maupun yang kelompok. Aktivitas
pembelajaran harus berfokus pada peserta belajar (student-centered learning).
Dengan demikian, apa yang harus kita lakukan, apa yang arus mereka lakukan,
apa yang harus kita katakana atau sampaikan harus secara detail kita rancang
dengan baik. Begitu pula dengan media dan alat bantu pembelajaran lain yang
dibutukan juga arus benar-benar tela tersedia dan siap untuk digunakan
(Roem,1986)33.
4. Experiential learning dan Model Belajar Lainnya.
Proses belajar dalam experiential learning merupakan kegiatan
merumuskan sebuah tindakan, mengujinya, menilai hasil dan memperoleeh
feedback, merefleksikan kembali sebuah tindakan berdasarkan prinsip-prinsip
yang harus dipahami dan diikuti34. Prinsip-prinsip tersebut didasarkan pada teori Kurt Lewin berikut:
a. Experiential learning yang efektif akan memengaruhi cara berpikir siswa,
sikap, nilai-nilai persepsi dan perilaku siswa, misalnya, belajartentang
berbuat baik pada orang tua. Seorang pelajar harus mengembangkan
sebuah konsep tentang apakah berbuat baik kepada orang tua, bagaimana
sikap yang baik kepada orang tua, dan bagaimana mewujudkan sikap baik
kepada orang tua dalam bentuk perilaku.
33
Abdul Majid, S.Ag, M,Pd, “Belajar Dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam”
(Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2012), h. 191 34
Sofan Amri, Pengembangan Dan Model Pembelajaran Kurikulum 2013, (Jakarta: PT.
30
b. Sikap lebih memercayai pengetahuan yang mereka temukan sendiri
daripada pengetahuan yang diberikan oleh orang lain. Menurut Lewin,
berdasarkan hasil eksperimen yang dia lakukan bahwa, pendekatan belajar
yang didasarkan pada pencarian (inquire) dan penemuan (discovery) dapat
meningkatkan motivasi siswa untuk belajar dan komitmen mereka untuk
mengimplementasikan penemuan tersebut pada masa yang akan datang.
c. Belajar akan lebih efektif bila konsep atau mempraktikkan dan
mencobanya, maka siswa akan memahami lebih sempurna dan
mengintegrasikannya dengan apa yang dia pelajari sebelumnya serta akan
dapat mengingatnya lebih lama. Banyak dari konsep-konsep atau
teori-teori yang akan dipahami sampai siswa mencoba untuk menggunakannya,
misalanya pelajaran matematika, fisika dan lain sebagainya.
d. Perubahan hendaknya tidak terpisah-pisah antara kognitif, afektif dan
perilaku, tetapi secara holistic. Ketiga elemen tersebut merupakan sebuah
system dalam proses belajar yang saling berkaitan satu sama lain, teratur,
dan sederhana. Mengubah salah satu dari ketiga elemen tersebut
menyebabkan hasil belajar tidak efektif.
e. Experiential learning lebih dari sekedar memberi informasi untuk
pengubahan koqnitif, afektif , maupun perilaku. Mengajarkan siswa untuk
dapat berubah tidak berarti bahwa mereka mau berubah. Memberikan
alasan mengapa harus berubah tidak cukup memotivasi siswa untuk
berubah. Membaca sebuah buku atau mendengarkan penjelasan guru tidak
31
cukup mengubah sikap dan meningkatkan keterampilan social.
Experiential learning merupakan proses belajar yang menumbuhkan minat
belajar pada siswa terutama untuk melakukan perubahan yang diinginkan.
f. Perubahan persepsi tentang diri sendiri dan lingkungan sangat diperlukan
sebelum melakukan pengubahan pada koqnitif, afektif dan perilaku.
Menurut Lewin, tingkah laku, sikap dan cara berpikir seseorang ditentukan
oleh persepsi mereka. Persepsi seorang siswa tentang dirinya dan
lingkungan di sekitarnya akan memngaruhi dalam berperilaku, berfikiran
dan merasakan.
g. Perubahan perilaku tidak akan bermakna bila koqnitif, efektif, dan perilaku
itu sendiri tidak berubah. Keterampilan-keterampilan baru mungkin dapat
dikuasai atau dipraktikkan, tetapi tanpa melakukan perubahan atau belajar
terus-menerus. Maka keterampilan-keterampilan tersebut akan menjadi
luntur dan hilang.
Dari prinsip-prinsip belajar berdasarkan pengalaman ini, model
Experiential learning pada dasarnya merupakan model pembelajaran yang
mencakup model pembelajaran lainnya seperti humanizing the classroom, active
learning, the accelerated, quantum learning, quantum teaching (sutrisno:2005)
dan contektual teching and learning.35
35
Sofan Amri, Pengembangan Dan Model Pembelajaran Kurikulum 2013, (Jakarta: PT.
32
B. Kualitas Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
1. Pengertian Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
a. Kualitas Pembelajaran
Sebelum memberikan pengertian tentang kualitas pembelajaran PAI, maka
terlebih dahulu harus diketahui pengertian kualitas, pembelajaran dan PAI.
“kualitas” adalah tingkat baik buruknya suatu (kadar), derajat atau taraf kepandaian, kecakapan dan seglanaya (mutu).36 Artinya, dikatakan berkualitas berarti sesuatu tersebut dapat diukur tingkat baik dan buruk atau tinggi dan
rendahnya. Bila kualitasnya baik berarti tingkat baiknya yang tinggi, bila
kualitasnya rendah berarti tingkat buruknya yang tinggi. Adapun pembelajaran
adalah proses interaksi perubahan kea rah yang lebih baik.37
Secara sederhana, istilah pembelajaran (instruction) bermakna sebagai
“upaya untuk membelajarkan seseorang atau kelompok orang melalui berbagai upaya (effort) dan berbagai strategi, metode dan pendekatan kearah pencapaian
tujuan yang telah direncanakan” pembelajaran dapat pula dipandang sebagai kegiatan guru secara terprogram dalam desain intruksional untuk membuat siswa
belajar secara aktif untuk menekankan pada penyediaan sumber belajar.
Beberapa ahli mengemukakan tentang pengertian pembelajaran
diantaranya:
36
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Bahasa Indonesia, Edisi 3, h. 603 37
33
a. Pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang
secara disengaja atau dikelola untuk memungkinkan ia turut serta
dalam tingkah laku tertentu. Pembelajaran merupakan subjek
khusus dari pendidikan (Corey, 1986)
b. Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik
dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar (UU SPN No. 20
tahun 2003);
c. Pembelajaran adalah suatu proses yang dilakukan individu untuk
memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara
keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu sendiri dalam
interaksi dengan lingkungannya (Muhammad surya).
d. Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi
unsure-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan
procedural yang saling memengaruhi dalam mencapai tujuan
pembelajaran38.
Pada prinsipnya, pembelajaran tidak hanya terbatas pada event-event yang
dilakukan oleh guru, tetapi mencakup semua events yang mempunyai pengaruh
langsung pada proses belajar yang meliputi kejadian-kejadian yang diturunkan
dari bahan-bahan cetak, gambar, pemrogaman, radio, televise, film, slide, maupun
kombinasi dari bahan tersebut.
38
34
Pada dasarnya pembelajaran merupakan kegiatan terencana yang
mengkondisikan/ merangsang seseorang agar bisa belajar dengan baik agar sesuai
dengan tujuan pembelajaran. Oleh sebab itu kegiatan pembelajaran akan bermuara
pada dua kegiatan pokok. Pertama, bagaimana orang melakukan tindakan
perubahan tingkah laku melalui kegiatan belajar. Kedua, bagaimana orang
melakukan tindakan penyampaian ilmu pengetahuan melalui kegiatan mengajar.
Dengan demikian makna pembelajaran merupakan kondisi eksternal kegiatan
belajar yang antara lain dilakukan oleh guru dalam mengondisikan seseorang
untuk belajar.39
b. Pendidikan Agama Islam
pendidikan agama islam merupakan usaha bimbingan dan asuhan terhadap anak
didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan dapat memahami apa yang
terkandung di dalam islam secara keseluruhan, menghayati makna, maksud serta
tujuannya dan apada akhirnya dapat mengamalkannya serta menjadikan ajaran
agama islam yang dianutnya itu sebagai pandangan hidupnya sehingga dapat
mendatangkan keselamatan dunia akhirat.40
Zakiyah darajat memaknai pengertian Pendidikan Agama Islam sebagai
berikut:
39
Abdul Majid, M.Pd, Strategi Pembelajaran, (Bandung: PT.Remaja Rosdakarya 2013),
h. 4 40
Achmad Tutsir, Ilmu pendidikan Perspektif Hukum Islam, (Bandung: PT Remaja
35
1) Pendidikan Agama Islam ialah usaha berupa bimbingan terhadap
anak didik agar kelak setelah selesai pendidikannya dapat
memahami dan mengamalkan ajaran agama islam serta
menjadikannya sebagai pandangan hidupnya (way of life)
2) Pendidikan Agama Islam ialah pendidikan yang dilaksanakan
berdasarkan agama islam.
3) Pendidikan Agama Islam adalah pendidikan denga melalui
ajaran-ajaran agama islam, yaitu berupa bimbingan asuhan terhadap anak
didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan ia akan dapat
memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran agama
islam yang telah diyakininya secara menyeluruh, serta menjadikan
ajaran agama islamsebagai pandangan hidupnya demi keselamatan
dan kesejahteraan hidup di dunia maupun di akhirat.41
4) Prof. Dr. Athiyah Al-Abrasyi dalam bukunya “dasar-dasar pokok
pendidikan agama islam” menegaskan bahwa pendidikan agama
islam adala mendidik akhlak dan jiwa mereka, menanamkan rasa
fadilah (keutamaan) membiasakan mereka dengan kesopanan yang
tinggi, mempersiapkan mereka untuk suatu kehidupan yang suci
seluruhnya ikhlas dan jujur.42 Sebagaimana diilustrasikan dalam Al-Qur’an Surat Al- Luqman ayat 17 sebagai berikut:
41
Zakia Derajat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bina Aksara, 2006) , h. 86 42
36
ِ
Artinya:
Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).43
Dengan demikian yang dimaksudkan dengan kualitas Pendidikan Agama
Islam adalah tingkat baik buruknya suatu upaya belajar siswa tentang ajara Agama
Islam sebagaimana tersusun secara sistematis dalam ilmu-ilmu keislaman yang
sesuai dengan tujuan yang ditetapkan.
2. Unsur-Unsur Dinamis Dalam Pembelajaran
Unsur-unsur pembelajaran pada hakikatnya merupakan penunjang dalam
proses pembelajaran. Besar dan kualitas dukungan unsure-unsur yang ada turut
menentukan tingkat efisiensi dan efektivitas pembelajaran. Adapun unsure-unsur
dinamis pembelajaran menurut Oemar Hamalik meliputi lima hal yaitu:
a. Motivasi belajar
b. Bahan pelajaran
c. Alat bantu pelajaran
d. Suasana pembelajaran
43
Departemen Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemah Indonesia, (Jakarta: Departemen
37
e. Keadaan subjek/kondisi subjek yang belajar.44
Unsur pertama, secara lebih terperinci mengenai motivasi belajar siswa
MC Donald mengemukakan bahwa motivasi adalah suatu perubahan energy
dalam diri pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnaya perasaan dan reaksi
untuk mencapai tujuan.45
Pengertian ini menunjukkan bahwa seorang siswa akan belajar dengan
baik apabila ada factor pendorongnya (motivasi) dengan demikian antara motivasi
dengan pencapaian tujuan belajar berhubungan erat, artinya seorang melakukan
sesuatu kalau meiliki tujuan yang jelas, maka akan bangkit dorongan untuk
mencapainya. Motivasi akan menyebabkan terjadinya suatu perubahan energy
yang ada pada diri manusia baik yang menyangkut kejiwaan, perasaaan dan emosi
untuk bertindak atau melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan.
Unsur kedua yaitu bahan ajar, bahan ajar yang merupakan unsur belajar
yang penting mendapat perhatian guru, dengan bahan iti, para siswa dapat
mempelajari hal-hal yang diperlukan dalam upaya mencapai tujuan belajar.
Sebagaimana dala sura An-Nahl ayat 89:
ِ
44
Oemar Hamalik, Kurikulum Dan Pembelajaran, (Jakarta: Bina Aksara 1995), h. 52 45
38
Artinya:
(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami, bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang muslim.46
Dari ayat tersebut tersurat dalam al-qur’an merupakan pelajaran yang baik untuk mempelajari Pendidikan Agama Islam. Menurut Ali Imran dalam
menyediakan bahan belajar ini sangat tergantung pada tujuan pembelajaran,
karakteristik siswa, siasat pembelajaran yang harus ditempuh siswa dan
ketersediaan bahan pembelajaran.47 Sebab dalam komunitas kelaskemampuan antar siswa satu dengan yang lain berbeda, ada sebagian bertipe auditif, di mana
siswa itu lebih mudah memahami bahan pelajaran yang disampaikan
menggunakan lisan atau cenderung menggunkan daya pandang siswa, adapun tipe
visual di mana siswa tersebut mampu dan lebbih muda memahami bahan
pelajaran yang berbentuk tulisan atau gambar yang lebih menekankan pada
penglihatan siswa.
Unsur ketiga, alat bantu pembelajaran adalah alat yang dapat digunakan
untuk membantu siswa melakukan perbuatan belajar, sehingga kegiatan belajar
menjadi lebih efisien dan efektif. Dengan bantuan berbagai alat, maka
pembelajaran akan lebih menarik, menjadi konkrit. Mudah dipahami, hemat
waktu dan tenaga jadi hasil belajar lebih bermakna. Alat bentu belajar disebut juga
alat peraga atau media belajar, misalnya dalam bentuk bahan tercetak, alat-alat
46
Departemen Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemah Indonesia, (Jakarta: Departemen
Agama, 1988), h. 518 47
39
yang dapat dilihat (media visual), alat yang dapat di dengar(media audio), dan
alat-alat yang dapat didengar dan dilihat (audio visual aids), serta sumber-sumber
masyarakat yang dapat dialami secara langsung.48
Menurut Zakia Derajat, alat bantu pembelajaran adalah alat atau metode
pendidikan meliputi segala sesuatu yang dapat membantu proses pencapaian
tujuan pendidikan. Oleh karena pendidikan islam mengutamakan pengajaran ilmu
dan pembentukan akhlak, maka alat mencapai ilmu adalah alat-alat pendidikan
ilmu sedangkan alat untuk pembentukan akhlak adalah pergaulan.49 Sehingga dalam interaksi edukatif guru harus dapat memberikan contoh yang baik agar anak
didiknya dengan muda mencontoh apa yang dilakukan oleh gurunya dengan
adanya contoh yang baik dari guru maupun dari tokoh atau figure seseorang dapat
member dorongan belajar bagi siswa. Sebagaimana yang telah digariskan dalam
Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 21 berikut:
ا
Artinya:
48
Oemar Hamalik, Kurikulum Dan Pembelajaran, (Jakarta: Bina Aksara 1995), h. 53
49
40
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.50
Dan alat pembelajaran juga dapat dikelompokkan dalam dua jenis, alat
pembelajaran yang besrsifat khusus. Alat pembelajaran yang bersifat umum yaitu
jenis alat bantu pembelajaran yang digunakan untuk semua mata pelajaran seperti
papan tulis, kapur tulis, spidol, penghapus LCD, dan alat bantu lainnya.
Sedangkan alat pembelajaran yang bersifat khusus, di mana penggunanaannya
berlaku khusus untuk mata pelajaran tertentu, seperti alat-alat untuk pelajaran
fiqih, mikroskop untuk IPA dan lain-lainnya.51
Unsur keempat, Susana pembelajaran yakni keadaan atau situasi pada saat
proses pembelajaran. Dalam pandangan traditional suasana pembelajaran yang
kondusif adalah jika dalam ruang kelas terasa tenag sementara siswa bisa
mendengarkan apa yang disampaikan oleh guru. Dan umumnya pada
pembelajaran ini siswa tidak berani mengajukan pertanyaan terhadap hal-hal yang
kurang jelas pada pada saat guru menyampaikan bahan pelajaran, terkecuali jika
guru memberika kesempatan.52
Namun pada pandangan sekarang suasana pembelajaran yang kondusif
adalah suasana yang mendukung bagi terciptanya kegiatan belajar yaitu suasana di
mana siswa melihat secara aktif, baik fisik maupun social dan menunjukkan
41
motivasi belajar yang besar, disiplin belajar yang tinggi dalam proses
pembelajaran. Dan menurut Oemar Hamalik suasana belajar dipengeruhi
pengorganisasian kelas dan system penyampaian baham pelajaran oleh guru.
Suasana belajar penting artinya bagi kegiatan belajar, suasana yang
menyenangkan dapat menumbuhkan kegairahan belajar, sedangkan suasan yang
kacau, ramai, tak tenang, dan banyak gangguan, sudah tentu tidak menunjang
kegiatan belajar yang efektif, karena itu guru dan siswa senantiasa dituntut agar
menciptkkan suasan dan lingkungan yang belajar yang baik dan menyenangkan,
menantang dan menggairahkan. Hal ini berarti bahwa suasana belajar turut
menentukan motivasi, kegiatan, keberhasilan belajar siswa.53
Unsur kelima yaitu keadaan atau kondisi subjek belajar menurut Oemar
Hamalik kondisi subjek belajar adalah keadaan diri subjek peserta didik (siswa)
yang berperan dalam proses pembelajaran, keadaan itu mencakup antara laian:
keadaan jasmani dan keadaan mental psikologis, pengalaman latar belakang
keluarga dan lingkungan masyarakat. Kondisi subyek belajar turut menentukan
kegiatan dan keberhasilan belajar siswa dapat belajar secara efisien dan efektif
apabila berbadan sehat, memiliki intelegensi yang memadai siap untuk melakukan
kegiatan belajar, memiliki bakat khusus, dan pengalaman yang bertalian dengan
pelajaran, serta memiliki minat untuk belajar. Siswa yang sakit atau kurang sehat,
intelegensi rendah, belum siap belajar, tidak berbakat untuk mempelajari sesuatu
53
42
dan tidak memiliki pengalaman appersepsi yang memadai, kiranya akan
mempengaruhi kelancaran kegiatan dan mutu hasil belajar.54
Sementara itu Ali Imran menegemukakan kondisi belajar dapat dibedakan
atas hal yang bersifat lahiriyah dan hal yang bersifat bathiniyah atau
hal-hal yang bersifat fisik dan hal-hal-hal-hal yang bersifat psikologis.55 Dari segi lahiriyah atau fisik subjek belajar bisa berbeda dalam ukuran tubuhnya, kesehatan fisiknya,
dan daya tahan fisiknya, kesegaran dan kebugaran jasmaninya. Dan dari segi
psikisnya kondisi belajar siswa bisa berbeda dalam hal intelegensi, bakat motivasi
berprestasi serta aspirasi dan harapannya. Sehingga kemampuan untuk menagkap
pelajaran anatara satu siswa dengan siswa lainnya akan berbeda. Dengan demikian
maka agar pendidikan islam dapat hasil dengan baik, maka bahan pelajaran yang
disampaikan harus sesuai dengan kemampuan anak.
3. Kriteria Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Yang Berkualitas
Setelah unsure-unsur menjadi ponadasi dalam proses pembelajaran
diketahui, sehingga dengan unsure-unsur tersebut dapat menciptakan proses
pembelajaran yang efektif dan efisiensi, maka tahap selanjutnya adalah
menentukan criteria pendidikan dalam menilai kualitas pembelajarn.
Menurut Ali Imran pembelajaran yang berkualitas adalah pembelajaran
yang kondusif, di mana siswa giat belajar dan siswa aktif belajar di dalamnya,
54 Ibid 53 55
43
baik ketika di tunggu gurunya maupun tidak.56 Dan menurut Mulyasa kualitas pembelajaran dapat dilihat dari segi proses dan dari segi hasil. Dari segi proses,
pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau
setidaknya sebagian besar (75%) peserta didik terlbat secara aktif baik fisik
mauoun social dalam proses pembelajaran, di samping menunjukkan kegairahan
belajar diri sendiri atas kemampuan yang diperolehnya.57
Pembelajaran yang ideal menurut Utsman Abubakar dan Surahim aadalah
di mana siswa aktif mengkaji, menelaah, menganalisis terhadap fenomena yang
diciptakan Allah baik yang tertulis (Al-Qur’an) maupun yang tersirat (tanda-tanda atau simbol-simbol kebesaran Allah di ala mini) sebagai wujud aktivitas
intelektual.58 Sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Alaq : 1-5:
Artinya:
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.59
56
Ali Imran, Belajar Dan Pembelajaran, (Jakarta: PT. Dunia Pustaka, 1996), h. 38 57
Mulyasa, Kurikulum Dan Pembelajaran, (Jakarta: Bina Aksara, 1995), h. 10 58
Usman Abubakar & Surahim, Fungsi Ganda Lembaga Pendidikan Agama Islam,
(Yogyakarta: Safira Insane Pers, 2005) , h. 138 59
Departemen Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemah Indonesia, (Jakarta: Departemen