\blume 6, Nomor
l,
Juni 2009 ISSN 1829-5"89Teknologi Pembelajaran : Konsep dan Aplikasinya untuk pembelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan
Abdul Gafur DA
Dimensi Moral dalam Pendidikan Kewarganegaraan Muchson
AR
Mengembangkan partisipasi warga Negara dalam Memelihara dan Mengembangkan Sistem Politik Indonesia
Cholisin
Kontrak Lisensi : Sarana Pengembangan Teknologi dan Hak Asasi
Kekayaan Intelektual di Indonesia Setiati
Widihastuti
Menurunnya Tingkat Kesadaran Hukum Masyarakat di Indonesia
Puji Wulandari Kuncorowati
Tantangan Kontemporer Organisasi Masyarakat Sipil dalam Gerakan Hak Asasi Manusia
Hatili
Urgensi'Social Capilal' dalam Revitalisasi Organisasi Kemahasiswaan di Universitas Negeri Yogyakarta
Nasiwan
Komentar Terhadap
Un
ang Badan Hukum pendidikan dan Kesiapan UNyBadan Hukum Pendidikan
Anang
Priyanto
rssN
1829
-
5789
Jurnal
Civic
s
Media Kajian KewarganegaraanPenerbit
Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganeraan (PPKn) Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta
Penanggung Jawab Ketua Jurusan PPKn
Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta
PenyuntingAhli
Ahmad Syafii Maarif, Prof. Dr (Universitas NegeriYogyakarta, Yogyakarta) Abdul GafurDa., Prof. Dr. (Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta)
Sri Jutmini, Prof. Dr. (Universitas Sebelas Maret, Surakarta)
Dasim Budimansyah, Prof. Dr. (Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung)
Warsono, Dr. (Universitas Negeri Surabaya, Surabaya)
Azwar Ananda, Prof. Dr. (Universitas Negeri Padang, Padang)
Ketua Penyunting
Anang priyanto
Sekretaris Penyunting
Mukh. Murdiono
Penyunting Bahasa Halili
Penyunting Pelaksana Cholisin
Marzuki Nasiwan
Suharno Samsuri
Distributor
Puji Wulandari
Keuangan
&
Langganan Iffah Nur HayatiAlamat Penyunting
&
DistrusiKampus Karangmalang, Yogyakarta 5528 I Telp. +62274 586168 Ext, 384
Volume
6,No.
1,Juni
2009
M e di a
Kaiian
Kewarga
ne garaarr
DAFTAR
ISI
Teknologi
Pembelajaran: KonsepDan
AplikasinyaUntuk
Pembelajatan Pendidikan Kewatgane gar^tt
Abdul Gatut
DA
...
7Dimensi
Motal
dalam Pendidikan Kewarganegm anMuchson
AR...
76Mengembangkan
Pattisipasi
Warga
Negara
dalam
Memelihara
danMengembangkan Sistem
Politik
IndonesiaCholisin
29I(ontrak Lisensi: Sarana Pengembangan Teknologi dan Hak Atas Kekayaan
Intelektual
di IndonesiaSetiati
\Tidihastuti
45Menurunnya Tingkat I(esadaran
Hukum
Masyarakat di IndonesiaPuji \Tulandari
I(uncotowati
60TantanganKontempofer Ofganisasi Masyarakat Sipil dalam Gerakan
Hak
Asasi Manusia
Halili...
Urgensi'social
Capital'Dalam
Revitalisasi Organisasi Kemahasiswaandi
U niversita s N egeri Yo gy al<atta
Nasiwan
...'..'
87Komentar Tethadap
Undang-undang BadanHukum
Pendidikan
danKesiapan
UNY
Meniadi Badan Hukum PendidikanTANITAI\ GAN KONTEMP
ORE
R
ORGANISASI
MASYARAKA'T
SIPIL
DALAI\4
GERAKAN HAK
ASASI
MANUSI^^
1Halili
Dosen Pendid,ikan Hak Asasi Manusia padaJutusan Pendidikan I(ewargane Saraarr dan
Hukum
FISEUNY
Abstract
Ciuit Socie4t Organiqaions P@ o signficant role in mouenent of haman rights' CSOI
fan
srtifing nnnmporary ihallenges, name!, betrayl against ualues of haman igbts andweak-nesses of state souereignll
These new challenges
striueforCsOl
to conduct sone action in two walt: relrotpectiueparadtgn and proEeciue oor.
Ii
one hand, theit should da war againstforget in the past uiola-'tion,of hurzroi rights. In the other hand, thel haae to respond progressiuelt thefuture clrallenge
of
human rights.I(eywords:
Ciril
Sociegt Organilation/CSO, Human Nghts Mouenent, ContenporaryChallengu of Human Nghts
Pendahuluan
Organisasi masyankatsipil-selaniutnya disebut CSQ
aktonim da{
dari CiuilSocie4t Organiqation yung
rrriuterminologis
acapkali dipertukarkan denganNon-Goairnnint
Organirytioa(trlGo)-merupakan
salah satu orga;nvital,
dalampelembagaun 6un gerakan
Hak
Asasi Manusia(HAIyD
Dalam
banyak kasusprl^nggirunHak
Asasi Manusia, CSO betsumbangsih dalam bentuk investigasiAtas kontdbusinya bagi perbaikan dan penaiam ^np^per sedethana ini, terima kasih secara
tulus
saya sampaikan kepadaBudi
Santoso, SH, LLM,untuk
diskusi dan masuk^nfry^ dalamkalian mengenaiPolitia
and L'awof Hunan
Ngh ts p adaPro gram H u m an Ngh ts an d D e n o nacl S tu di er FI S IP
OL
U GM' Juga;.laaa ari
Sudjito, M.Si, seorang aktivis, akademisi, dan kolega yang terbuka,atas diskusi yang komprehensif secara teoretik dan empirik mengenai Social
Jutnal Civics, \bl- 6,
\o
1.'[rn. ]-rl9dan pengumpulan data.
Metekalrya
menginisiasi dan sekaligus memberieners
dalamntgka
pemenuhan dan pedindunganFIAM
oleh institusi-institusi negara.Dalam aspek pemajuan
HAM,
mereka berkontdbusi dengan settingyang standardalam ptomosi, implementasi, dan penegakan norma-norma FIAM.
Urgensi CSO
tak
tetbantahkan. CSO merupakan bandul pembetatuntuk
menciptakan keseimbang^fl
^nt^r^
negara (state) dengan warga rLegr^
(ritiryo). DalamrezimHAM,
kewajiban dan tanggung jawab perlindungan dan pemenuhanHAM
tedetak di tangan negaraz. Negara-sebagai lembaga yang memiliki kekuatan memaksa,mengikat,
danmencakup
semua (a/l-encompassing, a//-embracing)5-berpotensi melakukan pelatggann dan pengabaian atas kewajiban dan tanggungitwab tersebut. Eksistensi CSO dapatmenjembatanpablicinterestdanwatg negar^ uis
a
yis rregat^,yang
dapat meminimalisasipotensi
pelanggann
HAM
dan mendesak negarauntuk menyegerakan pemenuhan dan petlindunganHAM
bagi wafga,fleg tanya.Ab ad
2f
ifi
tant^ngafl getakanHAM
tidak s es ed ethana ko ntek s awalny a p ada enam dekade lebih yang lalu, ketikaUDHR dideklarasikar
pada 10 Desember 1,948.Hal
ini
pada
saatyang
betsamar\
berpengaruh terhadap
t^ntaflgan
kontempotet CSO dalam bingkai getakanHAM. Artikel
ini akan berus aha secatareflektif
mendedahk^n tantangan dan.^pa yang mesti dilakukan d21 diperkuat CSO dalam pergeseran konteks
HAM
kontemporer, serta melihat"ke
dalam"(looking inwarQ CSO dalam kerangka
!p^y^
untuk merespon t^rutzingrrn tetsebut.Tantangan
Kontemporer
Gerakan
HAM
Gerakan
HAM
bethadapan dengan terjadtnya berbagai pergeseran konteks. Konteks baru yang menjadi t^rrt^flgan gerakanFIAM,
^nt^t^ lain: pengkhi^rL^t^n terhadap
nilai
I{AM
dan krisispemerintah^r
negta.
PenegakanHAM
secma universal mengalami krisisnilai.
Janji-janjiHAM
yang tertuang dalamUDHR,
Sebagian besar instrumen intetnasional FIAM mengakui
fleg
rasebagai subjekhukum
yang diakui. Dalam berbagaiinstrumen
tersebut, state parties ataustate members meflyan dang apa yang disebut state obligation.
Lthat
antanlun
Uniaersal Declaration of Human Nghts,International Couenant on Ciuil and PoliticalRights, ata:.r International Couenant on Economic, Social, and Cu/turalNghts.
Lih^t
ant^ra Iain Harold J. Laski. The State in Theorlt and Practice.(I\.*
York:The
Viking
Press, 1,947)F{lrr'
8-9. Bandingkan denganMiriam
Budiatdlo.78
Halili, Tantangan Kontemporer Organisasi Masyarakat Sipil dalam Gerakan Hak Asasi Manusiadua kovenan
induk
ICCPR dan ICESCR besetta insttumen turunannya, hingga kini belum dipenuhi dan bahkan terusdikhianai
(betrqedpr0nhe:). Beberapa prinsipHAM,
seperti ter.m securilt of person (riti<yo) dan human dtgrla dimanfaatkan oleh negzra untuk membuat kebijakan yang "seakan-akan" melindungiwarg
negara, akan tetapi sebenatnya potensial dan bahkan fly^t^-nyat^ melanggathak
asasimanusia
warg
negata tetsebut dan jugawmg
dineganlatnnya.
Contoh
kasus sangat nyata adalah arus detas "perang melawan terorisme"(war against terrorisn). Perang melawan terorisme seakan-seakan merupakannpaya ketas negata untuk melindungi keamanan
warg
rrya dan kedaulatan teritorialnya.N amun keny aaanny a, p erang melawan terorism e s e sung guhn y a hany alah ke d o
k
yang
(meskitidak selalu disadari
oleh pemerintah negan)
digunakan secaraberjamaah
untuk
melanggat hak dasarw
rg
negr
rLya dan warga negata lain. Sebagian besat rreg ra,mulai
dal
yang mengldaimpaling
demokratis (seperti Amedka Serikat) sampai negr^
yang betkecenderunganotoriter
(seperti Kuba dan Rusia), memiliki instrumen hukum yang dijadikan landasan untuk melalukan perang mel^wafl apa yang mereka sebut sebagai terods, baik dalamteritori
negar:^tersebut maupun dalan skala ttansnasional.
Dampak dad
implementasiinstrumen hukum
perang melawan terotismeadalah dilanggarnya
HAM.
Perang melawan
terorisme
bahkan pada
implementasinya mengandung berbagai peLanggarznHAM,
dari
yang ringanhingga
paling berat.
Kekejaman
penyiksaan dalarr,
Penjan
Abu
Ghraib
memberjkan potret nyata. Demikian halnya penyiksaan dan penahan fltarrpr- habeas
corpus
dtpenjara
Guantanamo^tal
displacenentwargdi Darfur,
Sudan. Tidakhatya
itu,
perang melawan terodsme iarnak menjadi dasat bagi banyak neg^r^untuk
menghabisi kelompok-kelompok warga
nega'r^yang
dianggap
membahayakan kepentingan-kepentingan negma'.
Pdnsip, jargon, dan retorika HAM sedngkali diselewengkan melalui berbagai kebijakan-kebijakan
politik
dan hukum negm^.Implikasipenyelewengan tetsebut adilah tetjadtnya betbagai pelan gga;:alnHAM
berat dalam bidang sipil danpolitik,
seperti penyiksaann,
penangkaptn
dan penahanan sewenang-wenang, hingga penghilangan nyawa.Sedangkan kdsis pemerintahan bedangsung dalam beberapa wajah, tetapi pada pokoknya dipengatuhi oleh melemahnya kedaulatan negm^ (weakening state
a
Penyiksaan merupakan pelanggmattversal.
Ini
sering dinyatakan dengan bunanig.paling puncak atas kemanusaiaan
Jurrral Civics, \rol. 6, No. 1, Juni
2009
79Muereigxiu)di satu sisi dan menguatnya lembaga-lembaga transnasional, seperti
WTq
iMF,
dan Wodd Bankdi
sisi negara.HAM
sebagai sistem dilindungi dandipromosikan oleh komunitas
flegara-negara sedunia. Realitasnya, alth-a1hmetepre si I(omunita s gagal memp etsuasi p emedntahan negnauntuk melakukan
kewaiibannya (state obligation)dalam pemenuhan hak dasat watganya. Tak seperti
cSQ
tak banyak langkah tegas yang dilakukan olehI(omunitas
negaru-niguruuntuk menekan Pemedntah
Amedka
Serikat yang secarabarbat mengagresiAfganistan dan Irak, Israel di Libanon Selatan dan G aza,
^t^u Myemmar soal Aung
San Su
I(yi.
Yang lebih panh, ada fenomena pelemahan kedaulataflfleg ra (weakeningstate
souereigni[t)
yang disebabkan
oleh
pergeseran
(shifting upwards) kedaulatan pemedntahan ke lembaga-Iembaga internasional, sepertiwTq IM{
danWodc
Bank, atau supernasional seperti
UE,
dan dalam beberapa kasus ke tentara dankorporasi multinasion aI dan ttansnasion
al.Halitu
berdamp akpadaakutnya krisis pemerintahar, rregata.Dalam betbagai situasi, pemerintah an negat^ mengalami kesulitan yang lular biasa
untuk
memenuhiHAM
warga''ya,di
bidang pendidikan dan kesehatan misalnya, karcnabesarnya tekanan darilembaga donor ataulembagainternasional. Bahkan, pemerintahafl neg ra seringkalitidak
(mampu) mencegah pelanggaranHAM
terhadapkelompok
indigenousoleh kotporasi melalui
berbagai ptoyekeksplorasi dan ekspansi kapital.
Dengan tantangan gerakan
HAM
demikian,^pay^rrgbisa dilakukan?
kene
Khan
mengajukan tiga rekomendasi utama.s Pertana, pertarungannilai
(bankof
ualues).
Erosi
HAM
hanya
mungkin
dicegah dengan
c^t^
memenangkan pertarungan nilai. Itoni bahwa pelanggarHAM
justru
berteriak dengan isu-isuHAM
tidak boleh dibiarkan. Yang bisa dilakukan oleh aktivisI{AM
adalah merebut kembali bahasaHAM,
mengkerangkai kembali debat mengenaiHAM tidak
sajapada aspek legal, akan tetapi bahkan pada aspek moral
HAM
yang didas arkan pada atgumentasi mengenai nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.Pembicaran mengenai
HAM
adalah mengenai nilai, dan bukan sekedar soal hukum dan sistem. PetiuanganI{AM
sebenarnya adalahsoal bagaim anabetstara,dan bukan sekedar soal teks-teks
HAM.
Pertatungan nilai yang harus dimenangkanoleh
para pembelaHAM
adarah bagurnana menggembleng imaginasipublik
sekaligus energi mereka mengenai
I{AM
sebagai pen galamanhidup yang riil mereka80
flalili, Taotangan Kontemporet OrganisaSi Masyarakat Sipil dalam Gerakan Hak Asasi Manusiahadapi,bukan semata-mata soal hukum dan konsep yang berada di luar pengafamat hidup mereka.
Moralitas
HAM
dengan demikian mesti ditempatkan iauh lebih tinggi di atashukum. Jadi,
bila
ada undang-undang mengenai suatuobiek
(misal terorisme) membiarkan terjadinya penyiksaan tethadap manusia, maka secata moral itu hatus dilawan karctamelanggar nilai-nilai dasatFIAM.
kdua,
memperiuangkan hak-hak Ekosob.Isu
substantif kemanusiaanuni-vetsal adalahmengenai kemiskinan dan ketidakmerat^an. Maka pelanggat
HAM
mesti mengupayakan
betbagai penek^n
n
Lt^sisu-isu
Ekosob.
Tantlfig
n kontemporerFIAM
yang ditandai dengan pelemahan negara maika up^ya-vp^y^untuk
mempefluas keberpihakan tethadap perjuangan hak-hakEkosob
harusdilakukan. Dalam struktur
HAM
memang tidakrdahrarkt
arrtxahakSipol dengan Hak Ekosob. Namun tealitas derasnya arus periuangan di bidang sipil danpolitik
agak mengabail<an perjuangan hak Ekosob. Sementarahak Ekosob mengalami degradasi,seperti
terlihat dari
meningkatnya
angkakemiskinan,
meluasnya kelaparan, meluasnya ketidakmer^tatl,
danlur^
sebagainya yang bersentuhan dengan dengan nilai-nilai dasar kemanusiaan.ktiga,
pelibatan banyakaktot,
terutamaaktor-aktot
baru.Dominasi
aktor negr
datamrezimHAM
merupakan tealitas legal. Negatamemiliki
kewajiban untuk pene gakan,pemenuhan, Pemaiuan, dan penghorm
tan atasHAM.
Realitas kenegaraan kontemporer menggeser betbagaipetan-peranpublik
flegaramelalui berbagai bentuk privatisasi pengelolaan berbagai kepentinganpublik
(publicinter-ests) dan kebunrhan bersama (common goods). Pehbatzt aktor baru dalam realitas
pemenuhan hak publik meniscayakan upaya ketedib atan aktoraktor baru, misalnya dalam
bentuk
jartngan nasional, regional, bahkan internasionaluntuk
advokasi FIAM, baik secaralitigatif
maupun nonlitigatif.
CSq
sebagai aktor dalamI{AM
harus mampu mengimbangi aktor-aktor lainnya, baik negara,patanegata, swasta,dan sebagainya.
CSO sebagai
Gerakan
HAM
CSO
secaraumum
dapat dikategotikan menjadidua
kelompok
besar betdasarkan cakupan rcgiona\tas aktivitasnya,yuru
CSO nasional dan CSOintetnasional.
Bagatmana membedakan keduanya, Secara konseptual mudah,meskipun pada prakteknya agak sulit memil ahnya secara diskdt. Steinet dan Alston membedak
Jutnal Civics, \bl. 6,
\o.
l-_Iunilf
fl
aktivitas-aktivitasnya untuk negaranya sendiri, sementara CSO internasional adahh yang beraktivitas paling tidak di dua negara.6
Beberapa analis juga membedakan
"tingkat
operasi" CSO tersebut pada tiga level; tak hanya nasional dan internasional, tapi juga regional. CSO internasionaladalah meteka yang beraktivitas di negata-negarakawasan utara (negan maiu) yang biasanya juga
memiliki
petwakilan-perwakilan
di negara
berkembang. Sedangkan yang nasional adalah meteka yang betaktivitasdi
negara-negaradi
kawasan selatan
(rqara
berkembang) yangfokus
operasionalnya biasanya di negm^ry^ sendiri. Sedangkan tegional beraktivitas untuk melayani flegarr^-flegara Dunia I(etiga secara umum.7Agak mudah mengenali CSO sebagai getakan
HAM
di satu sisi, tetapi seringkalitumit
juga mengidentifikasi keberagaman mereka dalam satu label gerakanHAM.
Henty
Steiner (1996) mencoba memilah CSOsebagi genkan HAM.
SebagianCSO mengklaim
diri
sebagai gerakanHAM
yang mereka nyatakan secaraself-perception dan self-definition dalankonstitusi atau statuta mereka. Namun, ielas tidak arrrf jtkaidentitas
konstitutif
mereka lalu menjadi landasan bagi originalitas gerakanHAM. Hal
ini
disemputnakan dengankriteria
lain, yakniukutan
kepentingan publik yang luas. Apakah mereka bekerja berdasarkan kritisisme terhadap perilaku negarz betdasatkan hukum internasional.Yang jelas, sulit menghomogenkan CSO
sebagigerakanHAM.
CSO beradadalam s tate of
f
u x. Ada s emacam p erubah an dan ketidakpasti an dalan dfui mereka, tetutama yang disebabkan oleh tidak jelasnya czreidentius
meteka, bidang yangb/u6 dan soal ketidaksalnaan dalam menggunakan retorika
HAM,
apakahberujung pada penguatanHAM
atau justru melemahkanFIAM
itu
sendiri.8CSO-Negata
d,alamBidang FIAM di Indonesia
Relasi
^nt^ra CSO deng^n negar^
memiliki
wajah yang tak tunggal. Relasi banyak wajah tetsebut,baik
padasifat
maupun modelnya,dipengaruhi
oleh berbagaifaktor, baik dari
eskalasi situasi neg^t^, dinamikainternal
organisasi masyankat sipil, maupun konteks ruang dan waktu relasi keduanya.7
Lihat Henry J. Steiner dan
Philip Alston.
1996. International Human Nghts inContext: l-ary Politics and Moral.
Oxford:
Clarendon Press.Hlm.
457.Suhatko.
2005.Merajut Demokrasi: Hubungan
NGO, Pemerintah,
danPengemban gan Tata Pemerintahan D emokratis (1 9 6 6- 2001). Yogyakarta: TianWacana.
Hlm.
84g2
Halili, Tantangan Kontemporer Organisasi Masyarakat Sipil dalam Gerakan Hak Asasi ManusiaSecara garis besar
,
cara pandang pakar terhadap masyarakatsipil
relasinya dengan fregara dapatdikategodk afl pad^dua golongtfl:
pertana'yang menempatkan masya:zkatsipil
sebagai"the other" bagi
fleg
r
dan,kedua,
mefeka yang menempatkanrn
syar^kat sebagai baglan tak tepisahkan dan keduanya tedibatdalam p as si o n ate a ttach m e n t.
Clark
(1995) mencatat bahwa organisasi masyafakatsipil
progresif
pasti menjadikan pemerintah sebagai bagSan dari masalah, sebab dikuasasielit,
bias fieganmaju, korup dan anti pembetdayaan. Persepsi inr menempatkan masyarakat sipil sebagai "mesdnya betseberangan" dengan pemerintah. Dalamcanpmdang
iti,
ada tiga opsi piJihan: oposisi terhadap pemerintahan,penyempwn
^r1, ^tau melakukan perubahan.e
Bagalmarra
telasi
itu di
Indonesia?Suharko
(2005) menghadirkan studi mengenai relasi masyarakatsipil dan
negtL
antaratahun
1966-2001,. Relasi masyxakatsipil dengan regatadikategorisasi pada dua fase yang memiliki dinamika betbeda, yaitu fase masa orde baru dan pasca orde baru.10Pada masa otde
baru,
masyankatsipil
dihadapkan pada konteks kebijakan depolitisasi yang dilakukan oleh pemerintah. Ruangpolitik
yang tersedia sangatlah sempit. Sehinggaini mendotong
masyafakatsipil untuk
memanfaatkan ruang aTtetnatif pembangunan masyarakat melalui aktivitas di bidang lainnya: ekonomi,sosial, budaya, daa sebagainya. Namun demikian aktivitas
m
symak^tsipil tidaklahleluasa, karena secara umurn pendekatan yang dilakukan pemerintah tethadap aktivitas organisasi masyarakat sipil adalah
kontrol
dan kooptasi.Pada
tahun
7970-an, pandtgma pembangunn
y^frg diselenggatakan olehCSO
relatif
sama dengan yang digunakan oleh pemerintah. Relasikemitr
^llaintata CSO dengan pemefintah
diakui
oleh mayotitas NGO. Padaen
itu
ada vp^y^ perubahan pefl m an diri mereka,dad
sebelumnya otgatisasinon
pemerintah (ornop) yang kesan-anti-pemeintah-nya lebih kental menjadi lembaga swadayamasyankat(I-Si\4 yang lebih netral dalam telasi biner mereka dengan pemedntah. Tahun 1980-an relasi tersebut bergerak ke arah konftontasi. Kecenderungan ketegangan bermula
dari
relasiCSO
denganDirektofat
Pengembangan Desa (Bangdes) Depdagd, lembaga yangbatyak betsinggungan dengan aktivitas CSOe
Clark,John.
1995.NGO
dan Pembangunan Demoktasi. Yogyakarta:Tiua
Wacana10
Suharko menyajikanfly^ sec tapanianglebar dalamperspektif pembangunanJutnal Civics, \-ol. 6,
\o
l--iuolf|-D s|
yang sebagian besar bergerak dalam rwral arear.Aktivis masyarakat sipil meoganggry
ofarrg-olzrfre Bangdes lemah dalam hal keahlian dan pengalaman dalam merneh-rni dan membangun masyankat desa. Sedangkan Bangdes memaksakan otodtas
struktutai
mefeka, dengan^ngg
p^n
bahwa CSO dapat betfungsiiika
merekamendapatkan persetuiu an dariotoritas pemerintah, setidaknya di tingkat kabupaten atau propinsi.
I(onfrontasi
sangat kasatmata arrtar CSO dengan pemerintah teqadt setelahpembetlakuan
UU
Organisasi Kemasyatakatan (Otmas) pada tahun 1985, yangdi
dalamnya memberikan kewenangan kepada pemerintah untuk membubarkan mereka t^flpamelalui proses pengadilan. Setelah itu, konfrontasi terus berlaniuthingga tahun
!990-an,
dimanaCSO
Indonesia memantapkanditttyu
dalamlannganintetnasional, seperti
INGI
yang kemudian bergantinama meniadiINFID.
Pasca orde baru, organisasi masyatakat sipil dihadapkanpada konteks yang berbeda, yaitu reformasi
politik.
Reformasipolitik ini
memberikan ruang sangattetbuka
kepadaaktivitas organisasi masyankat
sipil.
I(eterbukaan
tetsebutmendorong tetjadinya
euphoriaaktivitas
CSO, dan
refotmasi
yang
sedang berlangsung menyebabkan keyakinan sangattitgg
di kalangan masyarakat sipilbahwa tidak ada alat
efektif
apapurLy^ngdapat membatasi dan mengontrol mereka. PascaOrde Baru,
sebenarnya segalapefatufan
perundang-undangan yang menganu mengenai otganisasi kemasyatakat^fl tefmasukUU
No'
8 tahun 1'985, masih betlaku.'fapi
tidak ada keinginan da:r CSOuntuk
menuntut pencabutan tersebut. Situasi hubungan inilah yang disebut oleh Suharko (2005) sebagai benign negle ct (p engabaia n y^rtg buik).Di
bidang FIAM ,perarLCSO sebenarnya dimulai dengan dididkannya I{omnasHAM
pada maszOrde
Baru. Meskipun
pada mulanya sebagaibentttk
statecorporatismyang dilaksanakan oleh Otde Baru sekaligus sebagai
politik
pencitraanyung
-.ttgelabui
ca:m pandang dunia terhadap penegakanHAM di
Indonesia, peran Komnas tedihat dan secatanormatif
memberikan ruang bagi aktot laindi
luu,
n
g*u.
Keterbukaanpolitik
membetikan ruang lebih besat lagrbagql(omisi,
melalui
UU
HAM
no. 39 tahun 1.ggg,meskipun sebatas penyelidikan'Di
luar I(omnas HAM, aktornon
negf^betupa
CSO banyak betmunculan, bahkan sejak sebelum pemetintahan Otde Batu ambruk pada tahun1998,antan
lain
\T.BHI,
KonftaS, Fr .SAM,PBHI,'WAIHI,
dan sebagainya,batkyangbergerak di bidang sipil danpolitik
maupun ekonomi, sosial dan budaya. Reformasipolitik
membedkan fuang aktivitas yang lebih luas bagicso
di bidangHAM.
84
Halili, Tantangan Kootemporer Organisasi Masyarakat Sipil ddam Gerakan Hak Asasi MaousiaBaru, seperti Kasus Taniung Priok, Kasus Waduk Kedungombo, dan Pettus,
hirgg"
kasus-kasus pelaflggaranHAM pudlmasl
transisi, seperti kasus Trisakti, SemanggiI
danII,
pel^nggmrrnHAM diTimtim,
dan sebagainya.Namun demikian, secara umum lanerjaCSO belum berhasil mendorong secm^ optimal penegakan
HAM
di Indonesia. ELSAM, misalnya, menilai bahwa ttansisi dari pemerintahan Soeharto ke Pemerintzhan Habibie tidak lain adaJah transisi dari satu orde kekerasan ke orde kekerasan yang lain.l1Di
tahun 2}}1',pelanggaranHAM
metupakan fenomena stagnan.Menurut laporm
KontraS,karcnakonflik
antar elit politik, pemerin tah gagalmencegah teriadtnyalebih banyak
pelatggann
I{AM.12Tahun
2002, banyak pelanggxanHAM
yang dilakukan oleh^pmat
dl
Aceh, sepefti penghilangan paksa, penyiksaan, dan bahkafr Pemetkosaan. Hinggatahun
2009 irrt tak tdasatuprn
pelanggxanI{AM
yang dituntaskan secaraklir'
Proses yang sudah bedangsungiuga gagal mengungkap berbagai pelanggann
HAM
baikmelalui
vp^y^ ptosecutorial maupunnon
prosecutorial. Yang lebih mengkhawatirkan, FIAM belum berhasil meniadi wac nL dominan dalam berbagai bidang, publik maupun privat. Bahkan, dalam Pemilu 2009,isuHAM
ienng sekali mewarnai diskursus publik, baik seputar Pemilu legislatif maupun Pemilu presiden.Melihat
ke
Dalam: Paradigma
Prospektif
Gerakan masyafakat
sipil
di bidang
HAM
ke depan tetap saja metupakansalah satu aktot untuk mengimbangi aktot negara
drtpannegan
(parastate actor).Refleksike dalam (inward boking)mesti dilakukan. Irene Khan (2005), merefleksikan CSO sebagi ge:-a}otn
HAM
dalam dua sudut pandang besat. Pertama mengenaialiansi. CSO sendiri mengalami berbagai perubahan yang terkait dengan tampilan mereka yang berbeda-beda pada aspek cakupan, isu dan bidang.
Kunci
prospek CSO sebagu gerakan,HAM
adalahbagaimarra membangun dan meningkatkankapasitas mereka, serta mengeksploitasi sinergi drantanmereka yang didasarkan
pada kemitr aan darkoalisi
^rrtat
organisasi lokal dan global. Masa depan getakanHAM
ke
depantidak
ditentukan oleh banyaknya institusi-institusiHAM
akan tetapi lebih oleh kualitas nelworksdiantan
mereka. Kedua, soal akuntabilitas.Dimuat
dalam Suara Pembatuan,edisi 23 Desembet
1998, dikutip oleh Suharko.Ibid.Hkn.214
Lapotar
KontraS. Tahun 2001'.Jutnal Civics, \bl. 6,
\o.
1. -Iuni-'{4
E5Demokratisasi global telah
memaksaentitas
kekuasaan bernamaunrut
melakukan responsibilitas dan akuntabilitas. Halyang sama mestinya berlakr fuga pada CSO.13
Fakih
memberikan bebetapa c t^t^npenting
mengenai CSO,antarTlein
ideologi developmentalisme yang tedalu dominan. Mayoritas aktivis CSO juga
tidak
mempunyai pemahaman teoretis dan keahlian manaierial yang memadai'Relasi kekuasaan dengan pemerintah dan lembaga
donot
menyulitkan merekauntuk
mengembangkan ideologi, visi, misi, dan agenda aksi mereka.Lebih
iauhlagS,adakesulitan teftentu yang dihadapi CSO dalam membangun aliansi dengan masyankat sebagai
mitra
ataupihak
yangperlu diadvokasi, sehingga
dalam tingkatan tertentu, CSO bersifat elitis, kehilangan basis massa, dan terasing datinkyat.la
Dengan berbagai cat^tan dari Khan dan Fakih tetsebut, ptoblematika
inter-nal
CSO gerakanHAM
jugatidak
kecil, sebagaimana tant^ngan eksternalnya' Lemahnyaideologi, inefisiensi
manafemen,konflik
antat
aktivis,
lemahnyatfanspafansi
dan
akuntabilitas, dan
lain
sebagatnyametupakan
petsoalaninternasion
al
yang mestidiutai
secara sistemik.Hal
itu rirutlak dilakukan
untuk
mefespoll tantangan kontempofer penegakanHAM
yang tidak mudah. Prospek penegakanIIAM
ditentukandiattannya
oleh kemampuan CSO untuk mengatasipersoalan
internalnya
dar^mengapitalisasi
dirinya
untuk
pendampingan
pemenuhan hak-hak Publik'
Penutup
Eskalasi konteks kontemporet FIAM menempatkan CSO sebagai agen penting
untuk misi penegakan
HAM.
Pergeseran konteks tersebut diikuti dengan semakin besarnya tafltanganeksternalHAM,
baik pada kelembagaanneg^ra sebagai aktor penting pemenuhanHAM
maupun dinamika relasi antarnegr^
dan relasi negmad.ng^n
aktot-aktot privat seperti institusi bisnis dalamfleg^f^,TNC-MNC,
dantelasi dengan lembaga supfanegafa (seperti EU, ASEAN, dll). Pergesetan tersebut
13
Irene I(han.2005. 'ITuman Nghts and Non Gouernment Organilation: The l-astFrontier". Paper dalan Centre
for
Ciuil Socie[t Public fucturelang diselengarakan diOldTheatre Building,London School
of Economics
and Politics, padatanggal 19 Jam:ari200514
Mansour Fakih. 1 996. Masy arakatsipil untuk Tkansformasi Sosial PetgolekanIdeologi LSM
Indonesia. Yogyakata: Pustaka Pelaiat.Hkn. 112, 766,
dang6 Flalili, Tantangan Kontemporer organisasi Masyarakat Sipil dalam Gerakan Hak Asasi Manusta
menuntut
CSO
untuk
melakukan dua langkah
sekaligus,fetfospekttf
danpfospektif.
Di
satu sisi, terus berpetang melawan lupa atas pel^flgg^r^nHAM
mas;hlu,
dan di sisilain merespon secar progresif t^fltu.ng nmasa depanHAM'
Perbaikan dan penyemp r1frt^
fl
betbagai instrumenHAM
metupakan faktayang memberikan peflguatan dan titik tekan kewajiban negara untuk menghofmati, memenuhi, memajukan, dan menegakkan
HAM.
Namun, tafLpapeflguatancso
pada sa
t
yang sama, akanteriadi
pelemahan dayadorong
untuk
pefiunaian kewaiiban-kewaiiban negar^ tersebut' (x)Daftar Pustaka
clatk,
J ohn . 1, gg 5 . NG O da n P e rz b anga n an De n o kras i. Yo gyakarta : T tata Wacana
Fakih, Mansour, L996. Mayarakat sipil antukTransformasi sosial: Pergolakan Ideologt
I-S
M
I n do n e sia. Y ogy akarta: Pustak a P elaiarHaroldJ. Laski. 1.947.The State inTheory andPractin'
NewYork: TheVikingPtess
I3an,
Irene.
2005."Human
Rights andNon
GovernmentOrgatization:
'Ihe
Last Frontier". Papet
da.lam Centrefor
Ciuil
Sociei Public L'efiure yangdiselenggatakan
di
Old
Theatre Building,London
Schoolof
Economics and Politics, pada tanggal 19Januai2005'
Miriam Bud iardi o. 79 9 6. D a s ar-D as ar I lm n P o li ti k. J akatta: Gramedia
Steiner, HenryJ. dan Alston, Philip. !gg6.InnrnationalHamanNghts Context: I-'aw, P o li ti cs, Mo ra / T e xts an d Mate
i
a/r.oxfotd: clarendon
Pre s s.Suharko. 2005. Merajut Demokrasi: Hubangan
NGq
Peneintah, dan Pengembangan T ata P e m e ri n ta b an D e m o kra ti s (1 9 6 6 - 2 0 0 | ). Yogyakarta : T tara WacanaDokumen
International Couenant on Ciuil and Political Nghts
International couenant on Economic, sodal, and culturalNghts