• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komunikasi Politik Kampanye Melalui Medi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Komunikasi Politik Kampanye Melalui Medi"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

KOMUNIKASI POLITIK

KAMPANYE MELALUI MEDIA BARU (INTERNET)

SEBAGAI BAGIAN DARI MARKETING POLITIK

Dosen Pengampu : Drs. Hendra Harahap, M.Si Makalah ini disusun untuk memenuhi Ujian Akhir Semester

Disusun Oleh : FEBY GRACE ADRIANY

147045003

MAGISTER ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

1 PENDAHULUAN

Konsep marketing politik bukanlah hal baru dalam dunia politik baik di dalam negeri maupun di negara-negara lain. Pada hekekatnya marketing politik merupakan aktivitas pemasaran jenis komoditas tertentu, yaitu „gagasan politik‟. Gagasan politik dapat berupa gagasan dari seorang tokoh politik, sebuah entitas politik atau partai politik tertentu.

Dunia politik kini begitu akrab dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Bila dulu masyarakat sebagai pemilih hanya dilibatkan 5 tahun sekali, namun sekarang setiap jengkal tanah sudah menjadi kalkulasi politik baik secara teoritis maupun praktis. Masyarakat kini sudah terlibat dalam pemilihan Presiden, Anggota Dewan, Gubernur, Walikota dan Bupati. Bahkan dalam lingkup yang lebih kecil masyarakat sudah disibukkan dengan pemilihan Camat, Lurah dan RT / RW.

Kepercayaan akan partai politik atau kandidat menjadi sangat mahal, karena berdasarkan inilah pemilih akan memberikan hak suaranya. Sehingga menjadi konsen partai politik maupun kandidat untuk meyakinkan masyarakat. Selain itu yang juga penting adalah bagaimana elit partai politik mengemas partai atau kandidatnya menjadi sosok yang menarik bagi calon pemilih. Hal ini bukan perkara mudah, melainkan membutuhkan proses rekayasa yang sangat serius dan dilakukan dengan profesional bahkan tak jarang berbiaya sangat mahal.

Dalam konteks inilah kemudian muncul konsep marketing politik. Marketing politik menjadi sangat penting dalam rangka menjajakan partai politik dan kandidat seolah-olah sebagai komoditas yang dipoles dan dicitrakan sangat menarik dan unggul dan mempengaruhi emosi masyarakat sebagai pemilih.

(3)

2 PEMBAHASAN

A. Marketing Politik Menjadi Sebuah Kebutuhan

Hampir di seluruh negara di dunia, khususnya negara-negara dengan sistem demokrasi, marketing politik menjadi sesuatu yang sangat penting. Partai politik menjadikan marketing politik sebagai sebuah kebutuhan dalam proses kampanyenya.

Konsep mengenai marketing politik selalu dikaitkan dengan konsep marketing dalam dunia bisnis. Dalam dunia bisnis, ilmu marketing biasanya dikenal sebagai sebuah disiplin yang menghubungkan produsen dengan konsumen yang adalah hubungan dua arah sekaligus dan simultan. Produk yang dihasilkan oleh produsen dikomunikasikan kepada masyarakat dengan tujuan memberitahukan kepada masyarakat bahwa produk tersebut memiliki keunggulan dan kualitas yang lebih baik dari produk yang dihasilkan pesaing. Konsep marketing menjadi cara-cara persuasif yang dikemas secara baik untuk menarik minat konsumen dan memutuskan untuk membeli produk tersebut.

Lee Marshment (dalam Tabroni, 2014) menyatakan bahwa terdapat tiga pendekatan untuk memasarkan partai politik, yaitu Product-Oriented Party

(POP), Sales-Oriented Party (SOP) dan Market-Oriented Party (MOP). Ketiganya berangkat dari asumsi bahwa partai politik perlu berhubungan dengan pasarnya dan karenanya juga berlaku sesuai dengan pasarnya masing-masing.

(4)

3 komunikasi dengan maksud membujuk para pemilih untuk mendukung dan memilih partai yang ditawarkan. Ketiga, a market oriented organization.

Walaupun data yang dihimpun berasal dari kapasitas intelligence yang ada, kesemuanya dihimpun atas dasar permintaan dari para votersnya, kemudian mengambil pertimbangan dari padanya (Tabroni, 2014 : 21).

Namun secara mendasar terdapat perbedaan antara marketing politik dengan konsep marketing dalam dunia bisnis. Marketing politik menyediakan perangkat teknik dan metode marketing dalam dunia politik. Kontribusi marketing dalam dunia politik terletak pada strategi untuk dapat memahami dan menganalisis apa yang diinginkan dan dibutuhkan pemilih. Aktivitas politik harus sesuai dengan aspirasi masyarakat luas. Penyampaian isu-isu secara top-down dari elit politik kepada masyarakat nampaknya sudah berakhir. Seiring dengan berkembangnya pendidikan politik masyarakat, dibutuhkan konsep yang lebih matang dalam proses penyampaian pesan politik.

Menurut O‟Shaughnessy (Firmanzah, 2008: 197) marketing politik berbeda dengan marketing komersial. Marketing politik bukanlah konsep untuk “menjual” partai politik atau kandidat kepada pemilih, namun lebih kepada sebuah konsep yang menawarkan bagaimana sebuah partai politik atau seorang kandidat dapat membuat program yang berhubungan dengan permasalahan aktual.

Marketing politik merupakan konsep permanen yang harus dilakukan terus-menerus oleh sebuah partai politik atau kandidat dalam membangun kepercayaan dan imej publik (Butler & Collins dalam Firmanzah, 2008). Membangun kepercayaan dan imej ini hanya bisa dilakukan melalui hubungan jangka panjang, tidak hanya pada masa kampanye (Dean & Croft dalam Firmazah, 2008).

Menurut Firmanzah, marketing politik harus dilihat secara komprehensif.

(5)

4 yang ditawarkan. Ketiga, marketing politik menggunakan konsep marketing secara luas yang meliputi teknik marketing, strategi marketing, teknik publikasi, penawaran ide dan program, desain produk, serta pemrosesan informasi. Keempat, marketing politik melibatkan banyak disiplin ilmu, terutama sosiologi dan psikologi. Kelima, marketing politik dapat diterapkan mulai dari pemilu hingga lobby politik di parlemen.

Dalam prosesnya, marketing politik tidak terbatas pada kegiatan kampanye politik menjelang pemilihan, namun juga mencakup peristiwa-peristiwa politik yang lebih luas. Dalam hal menyangkut politik pemerintahan, maka marketing politik bersifat sustainable dalam rangka menawarkan atau menjual produk politik dan pembangunan simbol, citra, platform, dan program-program yang berhubungan dengan publik dan kebijakan politik.

Dengan semakin meningkatnya persaingan yang terbuka antara partai-partai politik saat ini, desakan agar partai-partai politik lebih berorientasi pasar semakin kuat. Namun bukan berarti partai politik atau kandidat harus at all cost memenuhi apa saja yang menjadi keinginan pasar, karena masing-masing partai politik memiliki konfigurasi ideologi dan aliran pemikiran yang menjadikan satu partai berbeda identitas dengan partai lainnya. Kondisi persaingan yang ketat dalam politik, partai politik maupun kandidat membutuhkan cara dan metode yang tepat untuk bisa digunakan untuk memenangkan persaingan.

(6)

5 Ketika loyalitas konstituen terhadap partai politik tidak bisa lagi sepenuhnya diandalkan, partai politik harus bersaing sangat keras dalam membuat isu politik dan program kerja yang hendak ditawarkan kepada masyarakat. Persaingan yang sebelumnya bernuansa ideologi menjadi bergeser pada kemampuan partai politik dan kandidat dalam menyelesaikan permasalahn yang dihadapi para pemilih. Ditambah lagi praktik dukungan pemerintah dengan memberikan hak istimewa pada satu partai politik tertentu sudah tidak dapat lagi diterapkan. Jatuh bangunnya partai politik akan sangat ditentukan oleh kinerja mereka sendiri. Masyarakatlah yang akan menilai apakah kinerja sebuah partai politik maupun kandidat bagus atau tidak.

Tujuan yang ingin disampaikan melalui konsep marketing politik adalah : (1) menjadikan pemilih sebagai subjek, bukan objek partai politik atau kandidat; (2) menjadikan permasalahan yang dihadapi pemilih sebagai langkah awal dalam menyusun program kerja yang ditawarkan dengan bingkai ideologi masing-masing partai; (3) marketing politik tidak menjamin sebuah kemenangan, tetapi menyediakan tools untuk menjaga hubungan dengan pemilih sehingga dari situ akan terbangun kepercayaan dan selanjutnya akan dipeoeh dukungan suara pemilih (O‟Shaughnessy dalam Firmanzah, 2008: 197).

B. Tren Kampanye Politik Melalui Media Baru

Walaupun tidak bisa dilihat hanya saat kampanye saja, namun kampanye merupakan salah satu bagian dari marketing politik yang paling umum dilakukan partai politik maupun kandidat yang akan mengikuti pemilihan umum. Kampanye dianggap sebagai wujud nyata aksi marketing politik karena kajian mengenai marketing politik selama ini banyak dfokuskan pada proses-proses perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian berbagai kampanye pemilihan umum berikut hasil-hasilnya dan menamainya sebagai suatu kajian tentang pemasaran politik (Scammell dalam Sayuti, 2014 : 26).

(7)

6 secara berkelanjutan pada kurun waktu tertentu‟. Merujuk pada definisi ini maka setiap aktivitas kampanye komunikasi setidaknya harus mengandung empat hal : (1) tidakan kampanye yang ditujukan untuk menciptakan efek atau dampak tertentu, (2) jumlah khalayak sasaran yang besar, (3) biasanya dipusatkan dalam kurun waktu tertentu, (4) melalui serangkaian tindakan komunikasi yang terorganisasi.

Anwar Arifin (dalam Setia, 2014) menyatakan bahwa kampanye politik adalah bentuk komunikasi politik yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang atau organisasi politik dalam waktu tertentu untuk memperoleh dukungan politik dari masyarakat. Salah satu jenis kampanye politik adalah kampanye massa, yaitu kampanye politik yang ditujukan kepada massa (orang banyak), baik dalam hubungan tatap muka maupun dengan menggunakan media seperti surat kabar, radio, televisi, film, spanduk, baliho, poster, selebaran dan medium interaktif melalui internet. Penyampaian pesan politik melalui media massa merupakan bentuk kampanye yang handal dalam hal menjangkau masyarakat luas.

Firmanzah membedakan dua jenis kampanye, yaitu kampanye politik dan kampanye pemilu. Kampanye pemilu memiliki sifat jangka pendek dan biasanya dilakukan menjelang Pemilu sedangkan kampanye politik bersifat jangka panjang dan dilakukan terus-menerus.

Tabel : Perbedaan Kampanye Pemilu dan Kampanye Politik Kampanye Pemilu Kampanye Politik Jangka dan batas

waktu

Periodik dan tertentu Jangka panjang dan terus-menerus

Tujuan Menggiring pemilih ke bilik suara

Image politik

Strategi Mobilisasi dan berburu pendukung

Pragmatis / transaksi Interaksi dan mencari pemahaman beserta solusi yang dihadapi masyarakat

Produk politik Janji dan harapan politik Figur kandidat dan program kerja

Pengungkapan masalah dan solusi

(8)

7 yang melandasi tujuan partai

Sifat program kerja Market oriented dan berubah-ubah dari pemilu

Cenderung mudah hilang Tidak mudah hilang dalam ingatan kolektif Sifat kampanye Jelas, terukur dan dapat

dirasakan langsung politik maupun tokoh politik yang melakukan kampanye politik, alih-alih hanya fokus pada kampanye menjelang pemilihan umum saja. Artinya sebagian besar aktivitas komunikasi politik dilakukan besar-besaran dan masif pada saat-saat tertentu dan bukan dirancang untuk jangka panjang.

Kampanye pada umumnya dilakukan dalam bentuk pertemuan dan rapat-rapat umum yang berisi berbagai pidato, pembicaraan menyampaikan slogan-slogan, atau dalam bentuk penyebaran barang-barang cetakan dan barang rekaman berisikan kalimat-kalimat ajakan, bujukan, gambar-gambar atau suara dan simbol-simbol. Semua bentuk kampanye tersebut secara garis besar berisikan pesan persuasif yang secara langsung mengajak pendengar, pemirsa atau pembaca untuk menjatuhkan pilihannya kepada kandidat atau partai politik tertentu dalam sesi pemilihan umum yang tertentu pula.

Jenis komunikasi politik pada umumnya dirancang sebagai komunikasi satu arah. Adapun sesi debat kandidat atau debat partai politik peserta pemilu sebagaimana yang ditayangkan oleh televisi atau disiarkan oleh radio tetap merupakan jenis komunikasi satu arah dan tidak mencakup arah sebaliknya (jenis komunikasi dua arah).

(9)

8 Menurut data terbaru dari We Are Social pengguna internet aktif di seluruh dunia kini mencapai angka 3,17 miliar. Dari tahun ke tahun, jumlah pengguna internet bertumbuh hingga 7,6 persen. Pertumbuhan pengguna internet ini juga berpengaruh terhadap pertumbuhan pengguna media sosial dan mobile. Menurut laporan yang sama, pengguna media sosial aktif kini mencapai 2,2 miliar, sedangkan pengguna mobile mencapai 3,7 miliar.

Menariknya, pertumbuhan yang paling signifikan ditunjukkan oleh pengguna yang mengakses media sosial melalui platform mobile. Pengguna jenis ini bertumbuh hingga 23,3 persen. Sementara itu, Facebook masih menjadi media sosial yang paling banyak digunakan dengan angka mencapai hampir 1,5 miliar.

Gambar : Statistik Pengguna Internet Dunia Agustus 2015

Sumber : We Are Sosial1

Digitalisasi media pun turut mengubah bagaimana masyarakat di seluruh dunia kini menghabiskan waktunya. Berdasarkan survei dari Global Web

1

(10)

9 Index yang dirilis Maret 2013 lalu2, rata-rata masyarakat dunia menghabiskan 57 persen dari waktu konsumsi medianya setiap hari untuk berselancar di dunia maya, unggul jauh di atas televisi (23 persen), radio (11 persen), dan media cetak (5 persen). Dari jumlah itu, hampir separuhnya (27 persen) bahkan dihabiskan di social media.

Survei juga menunjukkan bahwa ada keterkaitan menarik antara usia dan perilaku konsumsi media sehari-hari. Generasi yang lebih muda cenderung lebih digital, dengan angka konsumsi hampir mencapai 60 persen (personal computer dan mobile) pada kelompok usia 16-24 tahun. Secara kontras, angka yang sama dihabiskan oleh kelompok usia 55-64 tahun untuk mengonsumsi media-media tradisional (TV, radio, media cetak, dan konsol game).

Di Indonesia sendiri, popularitas media digital pun mulai mengalami pergerakan menuju tren online mobile. Dalam satu hari, pengguna internet Indonesia menghabiskan hampir 75 persennya untuk online melalui komputer sementara sisanya sudah menjelajah internet melalui telepon genggam.

Kondisi menggiurkan ini tentu saja dimanfaatkan oleh partai politik dan kandidat untuk melakukan kampanye sebagai bagian dari aktivitas marketing politik. Kesuksesan fenomenal yang diperoleh berkat aktivitas kampanye melalui media baru (internet) adalah terpilihnya Presiden AS, Barack Obama tahun 2008. Obama memanfaatkan secara penuh kekuatan internet, khususnya media sosial sebagai alat kampanye politik. Media dan akademisi di negara itu kemudian membanding-bandingkan penggunaan media sosial dalam kampanye Obama dengan peran televisi dalam kampanye Presiden John F. Kennedy3.

(11)

10 politik selamanya. Untuk Kennedy, medium itu adalah televisi. Untuk Obama, mediumnya adalah Internet."

Selain memanfaatkan email dan website, Obama memang dikenal fokus menjadikan media sosial untuk memobilisasi relawan dan tentu saja menjangkau pemilih muda. Berbeda dengan rivalnya, John McCain yang hanya fokus beriklan di televisi, Obama menghabiskan jutaan dollar untuk beriklan di Facebook dan Google sekaligus menjaring sumbangan dari para pendukungnya melalui medium tersebut.

Sementara di Indonesia, fenomena terbesar penggunaan media baru (internet) dalam kampanye politik terjadi pada Pemilu Presiden 2014. Beberapa platform media sosial digunakan sebagai alat untuk memperkenalkan visi, misi, program kerja dan kelebihan-kelebihan pasangan calon presiden dan wakil presiden seperti Facebook, Twitter dan Youtube.

Hingga Juli 2014 beberapa saat sebelum hari pencoblosan, akun Facebook Prabowo Subianto yang sudah dimiliki sejak 2009 mempunyai pengikut mencapai 7 juta akun. Sedangkan fanpage Jokowi mendapat like

hingga 3 juta4. Di Twitter, Jokowi memiliki pengikut mencapai 1,62 juta, dua kali lipat dari pengikut akun Prabowo sebanyak 905.000.5

Di Facebook, grup-grup pendukung Jokowi bertebaran dengan banyak nama, seperti ”Jokowi Presiden”, ”Jokowi”, Rakyat Pendukung Joko Widodo”, ”Seknas Jokowi”, ”Jokowi-JK”, ”Kenapa Jokowi”, ”Jokowi for Indonesia”, ”Jokowisme”, ”Jokowi Blusukan”, ”Bara Jokowi Presiden”, ”Jokowi Mania”, ”Seknas Tani Jokowi”, ”Jokowikami”, ”Seknas Perempuan Pendukung Jokowi”, ”Relawan Jokowi-JK Sumbar”, ”Jokowi Jusuf Kalla”, ”Jokowi Aksi”, ”Presidenku Jokowi”, ”Kawan Jokowi”, ”Koordinator Nasional Relawan Jokowi”, dan ”Relawan Pendukung Jokowi”. Sementara jumlah grup pendukung Prabowo tidak semeriah grup pendukung Jokowi, dan bisa dihitung dengan jari, misalnya ”Gardu Prabowo”, ”Relawan Prabowo”, dan ”Kawan Prabowo”.

4http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2014/07/140704_pilpres_medsos 5

(12)

11 Begitupun dengan video yang diunggah ke situs Youtube sepanjang masa kampanye. Mayoritas video berisi lagu ataupun animasi yang menggambarkan kelebihan pasangan calon dan ajakan untuk mencoblos.

Gambar : Tampilan Hasil Pencarian Video Dukungan Jokowi Pada Pilpres 2014 di situs Youtube

Sumber : https://www.youtube.com/results?search_query=coblos+jokowi

Namun memang dari banyaknya akun maupun video yang diunggah di internet bukanlah berasal dari tim sukses atau tim kampanye yang merancang pesan politik secara keseluruhan. Mayoritas akun dan video dibuat oleh relawan yang tidak dikoordinir atau diwadahi secara resmi oleh partai politik maupun pasangan calon. Bahkan mungkin partai politik dan pasangan calon sendiri tidak tahu menahu mengenai akun-akun yang mendukung mereka di internet.

(13)

12 Twitter, fans pada Facebook, juga view pada video di YouTube dan pada postingan di blog.

Tahapan engagement mengukur lebih jauh lagi, yaitu berapa banyak tindakan yang diambil pada pesan kampanye. Di Twitter, misalnya, hal ini dapat dilihat dari berapa banyak retweet, link yang diklik, serta penggunaan tanda pagar (hashtag) yang diciptakan komunikator oleh follower. Pengukuran juga dapat dilihat dari jumlah link yang diklik, like, dan komentar di Facebook, serta jumlah komentar, subscriber, dan posting blog yang di-share ke media sosial.

Tahapan influence melangkah semakin jauh lagi. Tahapan ini dimaksudkan untuk mengukur sejauh mana konten kampanye dan keterlibatan audiens mempengaruhi persepsi serta sikap audiens, apakah partai politik yang dikampanyekan dianggap positif, netral, atau justru negatif. Di tahapan ini, indikator pengukurannya juga dapat dilihat melalui berapa banyak audiens yang persepsinya berhasil diubah berkat kampanye.

Di tahapan action, aspek yang diukur sudah mencapai tataran perilaku. Misalnya, berapa banyak audiens yang merekomendasikan kampanye tersebut pada audiens lain atau pada konteks pemilihan umum adalah tindakan memberikan suara.

Media baru (internet) memiliki sejumlah kelebihan (Cangara, 2009: 394) antara lain : (1) kemampuan untuk menembus batas wilayah, ruang dan waktu; (2) memperluas akses memperoleh informasi global; (3) meningkatkan kemampuan untuk berserikat secara bebas; (4) mengancam tatanan yang sudah mapan, seperti pemerintahan otokrasi; (5) memiliki kecepatan perkembangan dan penyebaran yang sulit diatasi. Berkat kelebihan yang dimilikinya itu, pihak pertama yang menarik keuntungan atas jasa internet ini adalah lembaga pendidikan, dunia usaha, lembaga pemerintahan dan partai politik.

C. Potensi dan Sisi Negatif Marketing Politik Melalui Media Baru

(14)

13 bebas. Internet diharapkan memfasilitasi penyebarluasan informasi publik dan politik di banyak negara, termasuk menjadi jembatan untuk kelompok oposisi dan minoritas yang dimarginalkan untuk menyuarakan keinginan dan hak-haknya. Internet menawarkan saluran komunikasi, suara, harapan baru kepada mereka yang kehilangan hak-hak politik dalam suatu negara yang terkendali oleh penguasa karena telah dipinggirkan. Sesuatu hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, seperti halnya yang disampaikan Pitroda : internet as the greatest democratizer the world has ever seen. Demikian pula pendapat dari David Sobel dari Electronic Privacy Information Center, Washington DC dalam New York Times, yang menyatakan : internet is the first medium allows the democratic principles of free speech and self-governance to play themselves out unhindered (Cangara, 2009 : 394-395).

Bila melihat fenomena yang terjadi dalam kondisi politik dan media massa di Indonesia, nampaknya khalayak cukup resah akan terpenuhinya kebutuhan akan informasi politik tanpa muatan kepentingan pemilik media. Ketika media massa seperti televisi, radio, dan surat kabar sudah terbelah-belah atas kepentingan politik tertentu, internet diharapkan menjadi jalan baru bagi masalah tersebut. Ruang internet sangatlah besar untuk diisi dengan pesan-pesan politik, diskusi-diskusi politik dan terutama untuk menjalankan aktivitas marketing politik. Partai politik ataupun kandidat yang maju dalam pemilihan bebas menyampaikan pesan politik melalui akun-akun media sosialnya seperti Facebook maupun Twitter, termasuk merekayasa citra dirinya.

(15)

14 negatif melalui Twitter. Sedangkan capres Prabowo mendapatkan 12.090 informasi negatif dengan enam isu melalui Twitter6. Artinya keleluasaan menjual visi misi dan program kerja dalam kampanye melalui internet memiliki potensi sama besarnya dengan menerima umpan balik berupa kampanye negatif.

Selain itu, sulit untuk menghitung secara pasti banyaknya dukungan bila hanya menghitung dari jumlah pengikut akun media sosial maupun jumlah penayangan pada video-video kampanye. Pengguna internet yang memberi „like’ pada status atau foto, atau meneruskan pesan kampanye belum tentu menjadi orang yang akan datang ke bilik suara dan memberikan dukungannya.

Kesulitan untuk mengontrol juga terjadi terhadap isi pesan politik. Biasanya setiap partai politik akan membentuk organisasi kampanye politik yang terstruktur dan bersifat tetap maupun ad hoc untuk merancang keseluruhan aktivitas kampanye. Kampanye pada dasarnya menjadi aktivitas yang diorganisasikan untuk melakukan penjualan sejumlah gagasan politik yang telah dikemas oleh partai politik melalui tim komunikasi marketing politik. Kampanye hanyalah meneruskan apa yang sudah dilakukan oleh tim internal partai politik pada saat jelang pemilihan (Sayuti, 2014: 115). Komunikasi marketing politik sendiri sudah melaksanakan serangkaian riset pasar politik, penjajagan keadaan pasar politik melalui berbagai pool dan serangkaian pengkondisian pasar politik, sehingga aktivitas kampanye bisa dirancang sedemikian rupa.

Namun terbuka luasnya media baru (internet) memberi kebebebasan bagi khalayak yang menjadi simpatisan atau konstituen merancang pesan komunikasi politik lain, di luar yang disiapkan oleh tim sukses. Pada akhirnya hal ini menciptakan banyak jenis pesan politik misalnya beragam jargon, beragam jingle, beragam rumusan akan image, dan lain-lain. Padahal marketing politik harus dilakukan secara menyeluruh dan terarah agar pesan yang diharapkan sampai pada khalayak bisa diterima dengan baik. Banyaknya

6

(16)

15 isi pesan politik dengan konsep yang berbeda-beda akan menimbulkan kebingungan pada khalayak. Khalayak tidak bisa memutuskan image mana yang pada akhirnya akan dilekatkannya pada sang kandidat atau partai politik. Misalnya seorang kandidat presiden, dalam konsep marketing politik yang disiapkan oleh tim sukses adalah sosok yang sederhana dan merakyat sebagai

counter terhadap lawan yang dianggap sebagai sosok birokrat yang „berjarak‟

dengan rakyat. Sejumlah iklan politik, foto-foto, video, status di media sosial semuanya diarahkan untuk pembentukan citra seperti yang dimaksud. Kemudian munculah video-video dukungan dari relawan yang menciptakan kesan antikorupsi dan nasionalis, ditambah lagi tulisan-tulisan opini di dalam blog-blog relawan yang menciptakan image tegas dan peduli pada petani dan nelayan. Pada akhirnya terlalu banyak kesan yang disodorkan kepada calon pemilih yang akhirnya menimbulkan kebingungan.

Terkait dengan konsep kampanye pemilu dan kampanye politik yang disampaikan Firmanzah, kampanye pemilu hanya akan melahirkan hubungan sementara, transaksional, pragmatis dan hasilnya akan mudah dilupakan oleh khalayak. Berbeda dengan kampanye politik yang dirancang sedemikian rupa dalam jangka waktu panjang yang akan menghasilkan hubungan yang lebih kuat antara partai politik atau kandidat dengan para pemilih. Melalui media baru (internet) saat kampanye berlangsung, khalayak dapat mengikuti perkembangan, mendapatkan informasi terbaru, bahkan bisa melakukan komunikasi dua arah dengan kandidat melalui akun media sosial. Misalnya pesan-pesan Twitter yang dibalas langsung oleh sang kandidat.

(17)

16 Gambar : Halaman Utama Akun Twitter Jokowi

Sumber : https://twitter.com/jokowi

Gambar : Halaman Utama Akun Twitter Prabowo Sumber : https://twitter.com/prabowo

(18)
(19)

18 PENUTUP

Konsep marketing pada dunia politik tak jauh berbeda dengan konsep marketing pada dunia bisnis. Marketing politik berbicara mengenai strategi menjual sebuah komoditas politik baik berupa gagasan, ide, sosok, maupun partai politik itu sendiri. Ditambah lagi dengan ketatnya kompetisi antar partai politik untuk merebut hati masyarakat.

Dalam konteks yang lebih praktis, marketing politik terwujud dalam aktivitas kampanye yang umumnya dilakukan jelang pemilihan umum. Media massa menjadi salah satu senjata penting untuk menyalurkan pesan-pesan berupa visi, misi, program kerja dan solusi-solusi yang ditawarkan atas masalah-masalah masyarakat. Saat ini media baru (internet) menjadi pilihan yang semakin banyak digunakan dalam kampanye.

Contoh paling nyata nampak pada pemilihan umum 2014, dimana tim sukses memanfaatkan dengan maksimal penggunaan situs, Twitter, Facebook, dan Youtube sebagai media kampanye. Umpan balik yang diberikan oleh pengguna internet juga sangatlah banyak, terbukti dengan munculnya beragam video kampanye dari relawan dan munculnya grup-grup di media sosial yang memberikan dukungan.

(20)

19 DAFTAR REFERENSI

Adhi, R. 2014. Semarak Media Sosial Selama Pilpres. Diakses 3 Februari 2016 dari http://nasional.kompas.com/read/2014/06/24/0245002/Semarak.Media. Sosial.Selama.Pilpres

Amir. 2013. Fortune PR : Empat Tahap Mengukur Efektivitas Kampanye Social Media. Diakses 3 Februari 2016 dari https://dailysocial.id/wire/fortune-pr-empat-tahap-mengukur-efektivitas-kampanye-social-media

Bahri, S. 2014. Jokowi Paling Bnayak Jadi Korban Kampanye Hitam. Diakses 3 Februari 2016 dari http://www.republika.co.id/berita/pemilu/hotpolitic/14/ 06/05/n6p7ds-jokowi-paling-banyak-jadi-korban-kampanye-hitam

Firmanzah. 2008. Marketing Politik. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Lestari, S. 2014. Pertarungan Pilpres Sengit Di Media Sosial. Diakses 3 Februari 2016 dari http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2014/07/140704_ pilpres_medsos

Noviandri, L. 2015. Statistik Pengguna Internet dan Media Sosial Terbaru 2015.

Diakses 3 Februari 2016 dari https://id.techinasia.com/talk/statistik-pengguna-internet-dan-media-sosial-terbaru-2015/

Sayuti, S. D. 2014. Komunikasi Pemasaran Politik. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Setia, E. P. 2014. Analisis Strategi Kampanye Politik Para Calon Kepala Kampung. Penelitian pada Universitas Lampung

Tabroni, R. 2014. Marketing Politik : Media dan Pencitraan di Era Multipartai.

Yogyakarta: Graha Ilmu

Gambar

Gambar : Statistik Pengguna Internet Dunia Agustus 2015
Gambar : Tampilan Hasil Pencarian Video Dukungan Jokowi
Gambar : Halaman Utama Akun Twitter Prabowo

Referensi

Dokumen terkait

Firmanzah (2007) dalam bukunya Marketing Politik , mengatakan bahwa dalam era demokratisasi sekarang ini hubungan antara konstituen dengan partai

Seperti halnya dalam Pemilu Presiden yang para kandidat dan partai saling berlomba- lomba untuk mendapatkan citra positif dimata masyarakat dengan berbagai upaya komunikasi politik

Pencitraan para kandidat gubernur didapat dari cara mereka melakukan komunikasi politik baik dengan partai politik, pemerintah, organisasi massa maupun dengan masyarakat umum..

Budaya transparansi dan akuntabilitas dalam pelaporan dana kampanye khususnya di Jawa Barat dapat diikuti oleh partai politik lainnya untuk membuka ruang partisipasi

Berbagai isu menjelang Pemilu 2024 mulai ramai diperbincangkan seperti partai politik peserta, koalisi partai politik, program kerja, kandidat calon presiden dan

Oligarki di tubuh partai politik dapat dilihat dari kecenderungan pencalonan kandidat oleh partai politik lebih didasarkan atas keinginan elit partai, bukan melalui mekanisme

Mencari ceruk pemilih baru yang belum dilirik oleh partai atau kandidat lain (Mis. Perempuan, anak muda dsb) Konsumen mencoba produk Banyaknya pemilih yang wait.

Oligarki di tubuh partai politik dapat dilihat dari kecenderungan pencalonan kandidat oleh partai politik lebih didasarkan atas keinginan elit partai, bukan melalui mekanisme