• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBANDINGAN KONSEP MANUSIA DALAM ISLAM (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERBANDINGAN KONSEP MANUSIA DALAM ISLAM (1)"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

PERBANDINGAN KONSEP MANUSIA DALAM ISLAM DENGAN IDEOLOGI MODERN PERBANDINGAN KONSEP MANUSIA DALAM ISLAM

DENGAN IDEOLOGI MODERN

Ilham Mundzir

Pendahuluan

Seberapa pentingkah pengetahuan tentang konsep manusia itu, sehingga perlu didiskusikan dalam materi Pendidikan Agama ini? Berbicara tentang konsep manusia sesungguhnya berbicara tentang filsafat manusia. Secara praktis, pengetahuan yang memadai tentang konsep atau filsafat manusia ini penting bukan saja untuk

mengetahui apa dan siapa manusia itu sesungguhnya, melainkan juga untuk

mengetahui siapakah sesungguhnya diri kita di dalam pemahaman tentang manusia yang menyeluruh itu. Hal ini pada gilirannya dapat memudahkan sekaligus menuntun kita dalam mengambil keputusan praktis atau dalam menjalankan berbagai aktvitas sehari-hari; mengambil makna atau arti dari setiap peristiwa yang menyertai

perjalanan hidup kita, yang kerapkali tidak mudah untuk kita tentukan secara pasti. Dan secara teoritis, pengetahuan tentang konsep manusia bisa memberikan kita pemahaman yang esensial tentang manusia sehingga kita dapat secara kritis meninjau asumsi-asumsi yang berkembang dalam jagad ilmu pengetahuan tentang manusia.[1] Konsep tentang manusia juga penting karena ia termasuk bagian dari sebuah

(2)

mengatakan bahwa pengenalan akan hakikat diri merupakan dasar untuk mengenal Tuhan.

Kajian tentang manusia merupakan obyek yang menarik dan tak kunjung selesai dibahas. Oleh sebab itu, dari kajian tentang manusia ini lahirlah banyak disiplin ilmu pengetahuan, meskipun pada akhirnya manusia tetap merupakan misteri yang tidak pernah bisa dituntaskan kajiannya. Para filsuf Yunani seperti Pythagoras, Plato, Aristoteles sampai pada filsuf modern Rene Descartes, Arthur Schopenhauer, Karl Marx, Nietszsche, Kierkegaard, Husserl dan masih banyak yang lainnya. Bab ini berupaya menyajikan konsep manusia dalam ideologi kapitalisme, sosialisme dan Islam.

Konsep Manusia dalam Sosialisme

Dalam Buku Materi Induk Pengkaderan Muhammadiyah disebutkan bahwa sosialisme merupakan istilah umum untuk semua doktrin ekonomi yang menatap kemutlakan milik tersebut untuk kesejahteraan umum. Dalam arti ini, sosialisme mencakup banyak jenis teori ekonomi; ada yang berpendapat bahwa hanya perusahaan umum serta sumber alam saja yang seharusnya dimiliki oleh negara, sampai sosialisme Marxis yang radikal dan lebih lanjut sampai batas-batas permulaan anarkisme. Sosialisme juga suatu ajaran politik yang menolak susunan masyarakat yang bersendikan milik perseorangan atas alat-alat produksi; ia memihak golongan miskin dan tidak berpunya (proletar).[3]

Namun demikian sosialisme memiliki pandangan-pandangan yang khas tentang manusia dan masyarakat pada umumnya, yang kelak pada suatu titik tolak tertentu akan membedakan dirinya dengan idealisme kapitalis. Secara spesifik, pandangan sosialisme tentang manusia tersebut diwakili oleh filsafat materialisme. Tokoh-tokohnya antara lain adalah Anaximenes ( 585 -528), Anaximandros ( 610 -545 SM), Thales ( 625 -545 SM), Demokritos (kl.460 -545 SM), Thomas Hobbes ( 1588 -1679), Lamettrie (1709 -1715), Feuerbach (1804 -1877), H. Spencer (1820 -1903), dan Karl Marx (1818 -1883).

(3)

usaha manusia didorong oleh nafsu alamiah yakni dorongan untuk hidup. Hal lain yang menjadi ciri khas materialisme adalah bahwa yang terpenting dari manusia bukanlah pada akal atau roh—sebagaimana diyakini oleh fisafat idealism ala kapitalisme— melainkan pada dimensi usahanya. Pengetahuan hanyalah alat guna menjadikan manusia itu berhasil. Kebahagiaan manusia dapat dicapai di dalam dunia ini. Oleh karena itu agama dan segala hal metafisika harus ditolak.[4]

Materialisme adalah paham dalam filsafat yang menyatakan bahwa hal yang dapat dikatakan benar-benar ada adalah materi. Pada dasarnya semua hal terdiri atas materi dan semua fenomena adalah hasil interaksi material. Sehingga dalam memandang manusia adalah tak lebih dari kumpulan materi, tubuh atau daging semata, serta menafikan keberadaan ruh atau jiwa sebagaimana dikenal dalam Islam. Akibatnya, kebutuhan manusia berikut kesenangan-kesenangannya pun senantiasa diukur

dengan ukuran-ukuran yang bersifat material, kebendaan dan sebagainya. Materialism berpendapat bahwa alam ini tidak diciptakan oleh Tuhan, sebagaimana diakui dalam Islam, namun tercipta melalui proses sebab akibat yang sepenuhnya bersifat materi. Pada abad pertama masehi faham materialisme ini tidak mendapat tanggapan yang serius, bahkan pada abad pertengahan, orang menganggap asing terhadap faham materialisme ini. Baru pada jaman Aufklarung (pencerahan), materialisme mendapat tanggapan dan penganut yang meluas. Salah satu faktor yang menyebabkannya adalah bahwa orang merasa dengan faham ini menyimpan harapan-harapan yang besar atas hasil-hasil ilmu pengetahuan alam. Selain itu, faham Materialisme ini praktis tidak memerlukan dalil-dalil yang muluk-muluk dan abstrak, juga teorinya jelas berpegang pada kenyataan-kenyataan yang jelas dan mudah dimengerti. Kemajuan aliran ini mendapat tantangan yang keras dan hebat dari kaum agama dimana-mana. Hal ini disebabkan lantaran faham Materialisme ini pada gilirannya tidak mengakui adanya Tuhan (atheis).

Sebutan lain dari materialisme ini adalah naturalisme karena kepercayaanya yang tinggi pada hukum alam, terutama kausalitas. Semua yang terjadi di dunia ini terjadi karena adanya mata rantai sebab akibat. Alam ini tercipta melalui proses sebab akibat, dan bukan merupakan penciptaan Tuhan. Manakala ada orang memiliki karakter tertentu, misalnya, maka itu berkat pengaruh orang serta kondisi lingkungan

(4)

bumi.” (QS. 6:101). Dalam ayat lain dikemukakan: “Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.” (QS.5: 47).

Dalam ayat lainnya Allah menjelaskan bahwasanya langit dan bumi itu dulunya satu. “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS. 21: 30). Siang dan malam juga tak luput sebagai bagian dari penciptaan-Nya. Allah SWT berfirman: “Dan Dialah yang telah

menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (QS. 21: 33). Disebutkan pula dalam ayat yang lain bahwa matahari tidaklah diam, tetapi bergerak dalam garis edar tertentu:“Dan

matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS. 36: 38). Namun, meski demikian, Allah menyadari bahwa tanda-tanda alam tersebut tak kunjung jua membuat orang beriman kepadanya, dan sebaliknya justru enggan berfirman. Allah SWT berfirman, “Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang ada padanya.” (QS. 21: 32)

Marx, salah satu eksponen faham ini, selain berpendapat bahwa agama bagi manusia tak lain tak bukan adalah sebuah candu, juga mengajukan satu narasi yang ia sebut dengan alienasi. Menurutnya, manusia akan teralienasi manakala tidak memiliki pekerjaan, karena pekerjaan lah yang membuat manusia meneguhkan serta

mengejawantahkan dirinya.[5] Pekerjaan adalah kegiatan yang dengan itu manusia dapat menemukan identitasnya. Jadi, hakikat manusia adalah bekerja (Homo laborans, homo faber). Dari pandangan ini jelaslah bahwa titik tolak identitas manusia terletak pada materi.

Memang, dapatlah dikatakan bahwa tujuan utama ajaran marxixme adalah

mendudukkan manusia (masyarakat atau kaum buruh) pada pusat kehidupan. Titik tekan gagasan Marx adalah manusia. Secara teoritis, ia bermaksud menjunjung tinggi manusia dan martabatnya. Untuk itu, maka perlu diadakan suatu revolusi atau

(5)

sumber utama penyebabnya adalah adanya penguasaan alat-alat produksi secara pribadi oleh sekelompok kecil kelas pemilik modal (borjuis) segera dihapuskan. Setelah itu, alat-alat produksi tersebut menjadi kepemilikan bersama yang dikelola oleh negara. Dengan kepemilikan tersebut, alhasil, tidak ada lagi sekelompok manusia yang menindas kelompok manusia lainnya, sehingga keadilan dan kesejahteraan sosial akan tercapai. Pada gilirannya, nanti segenap umat manusia telah dimanusiakan.[6] Sepintas lalu, seolah-olah dengan pandangan tersebut hendak memuliakan manusia. Namun, sejatinya, dengan memandang manusia sebagai materi atau kebendaan saja, sesungguhnya pandangan yang demikian telah mereduksi manusia, khususnya dalam hal nilai-nilai spiritual.

Konsep Manusia dalam Kapitalisme

Kapitalisme secara umum adalah suatu paham yang berdasarkan kemodalan dengan mengutamakan pemilik modal lebih utama dari pada kaum pekerja. Dalam hidup ekonomi, merupakan asas dimana unsur material dari fator-faktor produksi (tanah dan modal) berada pada tangan swasta dan motivasi terpenting dalam berproduksi semata-mata untuk mencapai keuntungan yang sebanyak-banyaknya. Istilah

kapitalisme sendiri berawal dari negarawan dan sejahrawan Perancis beraliran sosialis Louis Blanc (1881-1882). Paham ini berkembang sejak abad ke 11, ketika perdagangan internasional mulai dilakukan, ia lahir setelah ditemukan mesin di eropa setelah revolusi industri. Kapitalisme merupakan sistem ekonomi paling menonjol dewasa ini yang membentuk sistem ekonomi dunia.[7]

(6)

masa abad pertengahan malahan satu-satunya pendapat yang disepakati oleh semua ahli pikir adalah dasar idealisme ini.

Pada jaman Aufklarung ulama-ulama filsafat yang mengakui aliran serba dua seperti Descartes dan Spinoza yang mengenal dua pokok yang bersifat kerohanian dan kebendaan maupun keduanya mengakui bahwa unsur kerohanian lebih penting daripada kebendaan. Beberapa tokohnya adalah Plato (477 -347 Sb.M), B. Spinoza (1632 -1677), Liebniz (1685 -1753), Berkeley (1685 -1753), Immanuel Kant (1724 -1881), J. Fichte (1762 -1814), F. Schelling (1755 -1854), dan G. Hegel (1770 -1831). Inti dari idealisme ini adalah bahwa diluar materi, terdapat pula roh atau ide, gagasan, rasio, dan sebagainya. Ini adalah proyek lanjutan dari Cogito ergo sum yang berarti aku berpikir maka aku ada. Dari idealisme yang dipelopori oleh Socrates dan Plato, pada akhir abad pertengahan dilanjutkan dengan proyek rasionalisme yang dipelopori oleh Rene Descartes.

Seiring dengan berkembangnya pemikiran, idealisme lantas bertransformasi menjadi rasionalisme. Rasionalisme adalah paham yang mengatakan bahwa akal (reason) adalah alat terpenting dalam memperoleh pengetahuan dan mengetes pengetahuan. Rasionalisme mengajarkan bahwa pengetahuan diperoleh dengan cara berpikir. Alat dalam berpikir itu adalah kaidah-kaidah logis. Singkatnya, akal lah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan dikur dengan akal. Manusia, menurut aliran ini, memperoleh pengetahuan melalui kegiatan akal menangkap objek. [8]

Pada masa selanjutnya, terjadi pengembangan ke arah empirisme. Kata empirisme berasal dari bahasa Yunani empirikos, empiria yang berarti pengalaman. Menurut aliran ini, manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya; pengalaman inderawi. Tapi bagaimana pun, empirisme ini memiliki sejumlah kekuarangan.

(7)

Namun pada akhirnya, muncul kerja sama antara rasionalisme dan empirisme yang memunculkan positivisme. Singkat kata, pengetahuan harus bersifat logis dan

mempunyai bukti empiris. Pandangan-pandangan tentang manusia pun harus bersifat logis dan dapat dibuktikan secara empiris.

Dapat disimpulkan bahwa materialisme memandang kejasmanian (materi) sebagai keseluruhan manusia, padahal itu hanyalah aspek manusia. Materialisme memandang manusia hanyalah sesuatu yang ada, tanpa menjadi subjek. Manusia berpikir dan berkesadaran; inilah yang tidak disadari oleh materialisme. Akan tetapi, sebaliknya, aspek ini (berpikir dan berkesadaran) dilebih-lebihkan oleh idealisme sehingga menjadi keseluruhan manusia, bahkan dilebih-lebihkan lagi sampai tidak ada barang lain selain pikiran. Alhasil, letak kesalahan idealisme ialah karena memandang manusia hanya sebagai subjek, hanya sebagai kesadaran. Letak kesamaan keduanya adalah sama-sama mendewakan materi.

Manusia dalam Konsep Islam

Islam memiliki konsep yang begitu paripurna tentang manusia. Al-Qur’an secara baik menginformasikan mulai dari proses penciptaan manusia, hak dan tanggung jawabnya di dalam kehudupan di dunia hingga tahap kematian dan kehidupan setelah mati; dimana manusia akan mendapatkan timbangan amalnya masing-masing. Terkait dengan proses penciptaan manusia itu, Allah SWT menjelaskan runtutan kronolgis penciptaan manusia ”Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati (nutfah) itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani (nutfah) itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging (mudghah), dan segumpal daging (mudghah) itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.”

(Al-Mu’minun: 12-14).

(8)

Ini jelas berbeda dengan pandangan materialisme dan idealisme yang mengakui hanya alam inilah yang ada; tidak ada kehidupan setelah kehidupan ini.

Secara umum, Islam menjelaskan bahwa manusia terdiri atas dua unsur, yakni materi dan immateri atau jasmani dan Rohani. Allah SWT meniupkan ruh ke dalam jasad manusia segera setelah sempurna proses penciptaannya. Allah SWT berfirman, “Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan Aku tiupkan kepadanya ruh-Ku” (QS. Al Hijr (15): 29). Menurut Imam Al Ghazali, maksud dari kata sempurna dalam ayat

tersebut adalah ketika sel benih telah memenuhi persyaratan untuk menerima ruh atau nafs tersebut.[9] Tubuh manusia berasal dari tanah dan ini termasuk materi, tapi manusia juga mempunyai ruh atau jiwa yang berasal dari substansi imateri di alam gaib. Tubuh pada akhirnya akan kembali menjadi tanah dan jiwa akan pulang ke alam Gaib.

Allah SWT berfirman: “Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian

(dengan berangsur- angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.(QS 22: 5).

Berbeda dengan paham sosialisme dan kapitalisme yang mengagungkan materi, menurut Syaikh Yusuf al Qardhawi, unsure material dan immaterial dalam diri manusia harus seimbang. Seseorang tidak boleh mengurangi hak-hak tubuh untuk memenuhi hak ruh, dan sebaliknya juga tidak boleh mengurangi hak-hak ruh semata untuk memenuhi hak tubuh.

Setelah itu, tatkala dilahirkan, otak dan bentuk fisik manusia yang tidak tahu apa-apa diberi oleh Allah pancaindera dan hati agar ia kelak dapa-apat bersyukur atas pemberian itu. Allah berfirman,“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. An Nahl: 78).

(9)

manusia diperoleh dengan memfungsikan substansi immaterialnya itu, dengan jalan mempertajam daya-daya yang dimilikinya. Filsafat menggunakan kata an nafs untuk substansi immaterial tersebut. Sementara di dalam tasawuf, untuk menunjuk

substansi immaterial tersebut digunakan kata ruh dan qalb.

Menurut Harun Nasution, manusia tersusun dari unsur materi dan imateri, jasmani dan rohani.[10] Dalam Ruh atau jiwa terdapat apa yang yang disebut al-nafs. An nafs ini mempunyai dua daya, daya pikir yang disebut akal yang berpusat di kepala dan daya rasa yang berpusat di kalbu yang berpusat di dada. Daya rasa yang berpusat di dada dipertajam dengan ibadah (shalat, puasa, haji, zakat), karena intisari dari semua ibadah dalam islam adalah mendekatkan diri kepada Tuhan yang maha Suci. Yang maha Suci hanya dapat didekatkan oleh ruh yang suci. Ibadah adalah latihan

menyucikan ruh atau jiwa. Semakin sering seseorang beribadah dengan landasan ihlas semakin suci pula jiwa dan ruhnya. Sementara itu, daya pikir atau akal berpusat di kepala. Daya rasa, jika diasah dengan baik, mempertajam hari nurani dan daya pikir, jika dilatih, mempertajam penalaran.

Struktur dan Hakikat Manusia

Menurut Imam Ghazali, manusia itu terdiri atas tiga hakikat dan struktur eksistensi, yakni ruh, nafs (jiwa), dan jism (tubuh).[11]Senada dengan itu, Jalaluddin Rakhmat mengatakan sebagaimana pada makrokosmos terdapat tiga tingkatan alam: ruhani, khayali, dan jasmani, pada manusia, ketiga alam ini diwakili oleh ruh, nafs (jiwa), dan jism (tubuh). Tingkatan alam ini menunjukkan sejauh mana ia menyerap cahaya Tuhan. Ruh adalah bagian yang paling terang, dan jism adalah bagian yang paling gelap. Nafs (jiwa) adalah jembatan yang menghubungkan jism dan ruh. Setiap orang mempunyai nafs yang berbeda. Ada nafs yang lebih dekat dengan ruh; dan ada nafs yang sangat jauh dari ruh. Pada sebagian orang, nafs-nya bersinar dan bergerak naik menuju wujud yang hakiki, yakni Tuhan. Pada sebagian orang lagi, nafs-nya sangat gelap dan bergerak turun menjauhi Tuhan, menuju ‘ketiadaan’. Nafs adalah “barzakh yang selalu berubah.”[12]

Pertama adalah ruh

(10)

Maka bila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh-Ku, maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya. Lalu malaikat itu bersujud semuanya.” (QS. 38:71-73). Namun, mengenai apa itu hakikat ruh, Allah

berfirman: “Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.” (QS. Al-Isra': 85).

Menurut Imam Al Ghazali, ruh adalah panas alam (al-hararat al-ghariziyyat) yang mengalir pada pembuluh-pembuluh nadi, otot-otot dan syaraf. Ruh bukanlah esensi manusia, karena ia juga ada pada binatang selain manusia. Ruh adalah pembawa hidup.[13] Al Ghazali juga menyebut ruh sebagai sejenis uap yang sangat halus berpusat di rongga jantung dan penyebar ke seluruh tubuh melalui syaraf dan pembuluh nadi. Ia bertempat di dalam organ-organ tubuh secara menyeluruh. Melengkapi keterangan di atas, Jalaluddin Rakhmat berpendapat bahwa ruh berasal dari alam arwah dan memerintah dan menggunakan jasad sebagai alatnya. Ruh, lanjut Jalal, berasal dari tabiat Ilahi dan akan cenderung kembali ke asal semula. Ia selalu dinisbahkan kepada Allah dan tetap berada dalam keadaan suci. Karena ruh bersifat kerohanian dan selalu suci, maka setelah ditiup Allah dan berada dalam jasad, ia tetap suci. Ruh di dalam diri manusia berfungsi sebagai sumber moral yang baik dan mulia. Ruh merupakan sumber akhlak yang mulia dan terpuji.[14]

Kedua adalah Nafs

Kata an nafs disebut dalam al-Qur’an dalam 295 ayat. Dari sekian banyak penyebutan itu, kata an nafs, memiliki banyak makna. Menurut Imam Al Ghazali, nafs adalah substansi yang berdiri sendiri dan tidak bertempat. Imam Al Ghazali mengklasifikasi nafs menurut tiga tingkatan: an nafs an-nabatiyah (jiwa tumbuh-tumbuhan atau jiwa vegetatif), an nafs al hayawaniyyat ( jiwa hewani) serta jiwa insani atau rasional (an nafs an-natiqah). Jiwa vegetatif memiliki tiga daya yakni al ghadziyat atau daya nutrisi, al-munmiyatatau daya tumbuh, dan al-muwallidat atau daya reproduksi. Berarti, dengan jiwa vegetatif ini badan manusia berpotensi makan, tumbuh dan berkembang biak.

(11)

dengan potensi itu manusia dapat mengetahui hal-hal yang umum dan yang khusus, mengetahui Dzatnya dan Penciptaannya.

Jalaluddin Rakhmat menambahkan, karena pada diri manusia tidak hanya memiliki jiwa insani (berpikir), tetapi juga jiwa nabati dan hewani, maka jiwa (nafs) manusia mejadi pusat tempat tertumpuknya sifat-sifat yang tercela pada manusia. Itulah sebabnya jiwa manusia mempunyai sifat yang beraneka sesuai dengan keadaannya. Allah SWT berfirman: “…dan nafs (jiwa) serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada nafs itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikannya (zakkaha), dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. 91: 7-10). Apabila jiwa menyerah dan patuh pada kemauan syahwat dan memperturutkan ajakan syaithan, yang memang pada jiwa itu sendiri ada sifat kebinatangan, maka ia disebut jiwa yang menyuruh berbuat jahat. Di dalam Al-Qur’an, melalui lisan Nabi Yusuf, dikatakan:“Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. 12: 53).

Akan tetapi, apabila jiwa dapat terhindar dari semua sifat-sifat yang tercela, maka ia berubah jadi jiwa yang tenang (al-nafs al-muthmainnah). Dalam hal ini Allah

menegaskan, “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya. Dan masuklah kedalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam Surga-Ku.” (QS. 89: 27-30).

Dan jiwa muthmainnah inilah yang telah dijamin Allah langsung masuk surga. Jiwa muthmainnah adalah jiwa yang selalu berhubungan dengan ruh. Ruh bersifat Ketuhanan sebagai sumber moral mulia dan terpuji, dan ia hanya mempunyai satu sifat, yaitu suci. Sedangkan jiwa mempunyai beberapa sifat yang ambivalen. Allah sampaikan, “Demi jiwa serta kesempurnaannya, Allah mengilhamkan jiwa pada keburukan dan ketaqwaan.” (QS.91:7-8). Artinya, dalam jiwa terdapat potensi buruk dan baik, karena itu jiwa terletak pada perjuangan baik dan buruk.[15]

Dalam tradisi tasawuf, jiwa muthmainnah digapai manakala seseorang terbebas dari memperturutkan hawa nafsu, lalu menemukan kedamaian dan ketenteraman dalam kebajikan dan kepatuhan kepada Tuhannya.[16]

(12)

Terkait dengan jism ini, Allah mengatakan bahwa jism itu dibuat secara terbaik. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. 95: 4). Tubuh atau jism adalah bagian yang paling tidak sempurna pada manusia. Ia terdiri atas unsur-unsur materi, yang pada suatu saat komposisinya bisa rusak. Oleh karena itu, ia tidak mempunyai sifat kekal. Di samping itu, jism atau tubuh juga tidak mempunyai daya sama sekali. Ia hanya mempunyai apa yang disebut Al Ghazali sebagai mabda’ thabi’i (prinsip alami) yang memperlihatkan bahwa ia tunduk pada kekuatkekuatan diluar dirinya. Tegasnya, tanpa ruh dan an-nafs, jism atau tubuh ini tak lain hanyalah benda mati.

Manusia Sempurna

Islam, melalui ayat-ayat al-Qur’an, telah mengisyaratkan tentang kesempurnaan diri manusia, seperti antara lain disebutkan, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baiknya kejadian. Kemudian kami kembalikan ia ke derajat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan melakukan amal salih” (QS At Tin: 4-6). Kesempurnaan demikian membuat manusia menempati kedudukan tertinggi di antara makhluk yani menjadi khalifah (wakil) Tuhan di muka bumi, seperti dikatakan oleh ayat: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi…” (QS. Al Baqarah: 30). Kedudukan tersebut pertama kali ditempati oleh Nabi Adam sebagai bapak manusia. Allah berfirman, “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya” (QS Al Baqarah: 31).

Kesempurnaan Adam itu, sebagaimana diisyaratkan oleh Hadits riwayat Muslim, disebabkan pada dirinya Tuhan menampakkan kesempurnaan-Nya secara actual. Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim ini adalah: “Apa bila salah seorang kamu

(13)

Meskipun manusia memiliki potensi kesempurnaan, sebagai gambaran dari citra ilahi, tetapi kemudian bila mana ia menjauh dari prototipe ketuhanan, niscaya

kesempurnaan itu kian berkurang. Untuk itu, jalan satu-satunya mencapai

kesempurnaan itu ialah dengan kembali kepada Tuhan melalui iman dan amal shalih. Bagian ini akan memperlihatkan betapa terdapat perbedaan orientasi yang begitu tajam antara Islam, kapitalisme dan sosialisme. Sementara kapitalisme dan sosialisme memandang materi sebagai pusat kebahagiaan manusia, maka dalam Islam

kebahagiaan sejati adalah menjadi manusia sempurna (insan kamil/ perfect man). Tujuan hidup seorang Muslim adalah menjadi manusia sempurna.

Istilah Insan kamil (al Insan al Kamil) terdiri atas dua kata: al insane yang berarti manusia dan al kamil yang berarti sempurna. Meskipun istilah sempurna bila disematkan pada manusia bisa berarti kesempurnaan pada dua sisi yakni fisik dan ruhaniyah, namun dimensi rohani inilah yang sering dituju. Hal ini karena

kesempurnaan rohani lah yang paling dominan dalam menentukan perjalanan hidup manusia. Istilah ini secara teknis muncul dalam literature Islam pada sekitar awal abad ke-7 H/ 13 M atas gagasan Ibn Arabi (w. 638H/1240M) yang dipakainya untuk

melabeli konsep manusia ideal yang menjadi lokus penampakan diri Tuhan.[17] Menurut Murtadha Muthahhari, kata kamil yang berarti sempurna (perfect) tidak identik dengan kata tamam yang berarti lengkap (complete), kendatipun keduanya berdekatan dan mirip. Kata lengkap mengacu kepada sesuatu yang disiapkan menurut rencana seperti rumah atau masjid. Bila suatu bagiannya belum selesai, maka

bangunan itu dikatakan tidak lengkap atau kurang lengkap. Akan tetapi, sesuatu itu mungkin saja lengkap namun masih ada kelengkapan lain yang lebih tinggi satu atau beberapa tingkat; itulah yang disebut kamil. Lengkap adalah kemajuan horizontal ke arah pengembangan yang maksimum, sedang sempurna adalah penanjakan vertikal ke tingkat maksimum yang mungkin.

(14)

kesempurnaan yang sesungguhnya. Jika ada manusia sempurna, maka tentu ada yang lebih sempurna. Dan kesempurnaan yang sesungguhnya hanya ada pada Yang

Mahasempurna.[19]

Apa yang dimaksud dengan menjadi manusia sempurna? Imam al Ghazali menjelaskan bahwa kesempurnaan manusia adalah yang sesuai dengan substansi esensialnya, yakni an nafs. Tujuan hidup manusia, dengan demikian, adalah kesempurnaan jiwa. Karena jiwa mempunyai kemampuan dasar mengetahui, maka kesempurnaannya adalah ketinggian tingkat kemampuan untuk mengetahui. Al Ghazali menyebut akal mustafad sebagai tingkat kemampuan akal yang tertinggi, yang dengan itu manusia bisa mengenali Tuhannya. Dengan melakukan hal yang demikian, berarti akal telah memperoleh sebuah keutamaan yang disebutnya sebagai al hikmah.

Pada dasarnya, al hikmah sendiri terbagi menjadi dua, yakni al hikmah ‘ilmiyyat al-nadhariyyat (kebijaksanaan teoritis) dan al hikmah al khuluqiyah (kebijaksanaan praktis). Yang pertama merujuk kepada pengetahuan-pengetahuan abstrak yang diyakini, bersifat tetap dan universal, seperti pengetahuan tentang Tuhan, sifat-sifat-Nya serta adanya kebahagiaan dan kesengsaraan di akhirat. Sedangkan yang kedua merujuk kepada terciptanya perilaku kebajikan dan kebaikan atau akhlak karimah. [20]

Dengan kata lain, manusia sempurna adalah manusia yang di satu sisi dengan akal atau jiwanya mampu mengenali dan dekat kepada Tuhan dan pada saat yang bersamaan dengan tubuhnya yang memiliki akhlak-akhlak terpuji. Tujuan utama manusia sempurna yang demikian itu adalah terperolehnya kebahagiaan di akhirat. Mengapa kebahagiaan hidup di ahirat? Begini. Esensi manusia adalah terletak pada jiwanya, dan daya yang terpenting pada jiwa adalah mengetahui hakikat-hakikat. Tuhan sendiri merupakan sumber segala pengetahuan dan hakikat. Hakikat yang mutlak adalah Tuhan. Pengetahuan yang sempurna tentang Tuhan dicapai dengan kesempurnaan esensi manusia.

(15)

mencapai kesempurnaannya. Itulah sebabnya, kebahagiaan di akhirat dalam artian mengenal Tuhan secara penuh merupakan kebahagiaan yang hakiki. Disebut demikian karena mengenal Tuhan adalah kebahagiaan pada dirinya, bukan karena sesuatu yang lain. mengenal Tuhan merupakan fitrah manusia dan kesempurnaan demikian hanya tejadi di akhirat ketika manusia mendapatan kebahagiaan tertinggi dengan melihat Tuhannya di akhirat, yang oleh al Ghazali dikatakan sebagai an-nazhr ila jamal al haq. Untuk mencapai insan kamil itu, menurut Abdul Shamad al-Palimbangi diperlukan usaha-usaha untuk menaklukkan hawa nafsu dalam rangka mencapai makrifat tertinggi. Selain itu, menurutnya, ada sepuluh maqaam yang harus ditempuh untuk menjadi demikian, yaitu: tobat, takut dan cemas (al khauf wa raja’), zuhud, sabar, syukur, ikhlas, tawakal, cinta, ridho, dan mengingat mati. Kesepuluh sifat tersebut adalah sifat-sifat terpuji dalam pengertian ketaatan kepada Allah. Setelah menempuh kesepuluh maqam itu, barulah ia akan sampai kepada makrifat yang sebenarnya, sehingga ia fana dalam makrifat tersebut. setelah itu, ia mencapai tingkatan sempurna dan dikatakan sebagai insane kamil.[21]

Jika demikian, tak salah bila dikatakan bahwa mengenal diri adalah dasar untuk mengenal Tuhan. Sebagaimana diungkapkan sebuah hadits: “Barangsiapa mengenal dirinya, niscaya akan mengenal Tuhannya”.

Daftar Pustaka

1. Ahmad Tafsir, Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000) cet 9, hal 24-25

2. Badan Pendidikan Kader PP Muhammadiyah, Materi Induk Pengkaderan Muhammadiyah, (Yogyakarta: BPK PP Muhammadiyah, 1994)

3. Franz Magnis-Suseno, Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, (Jakarta: Gramedia, 2000)

(16)

5. Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya Jilid 1, (Jakarta: UI Press, 1985) cet 5

6. Jalaluddin Rakhmat, Antara Sukma Nurani dan Sukma Dhulmani, diakses darihttp://media.isnet.org/islam/Paramadina/Konteks/Nurani.html 7. Muhammad Yasir Nasution, Manusia Menurut Al-Ghazali, (Jakarta: Rajagrafindo

Persada, 2002)

8. Murtadha Muthahhari, Manusia Sempurna: Pandangan Islam tentang Hakikat Manusia, (Jakarta: Lentera, 1994), cet 2.

9. Tosun Bayrak Al Jerrahi, Metode Menikmati Ibadah: Mata Air Kearifan Spiritual Penyejuk Batin, (Jakarta: Hikmah, 2005).

10. Yunasril Ali, Manusia Citra Ilahi: Pengembangan Konsep Insan Kamil Ibn ‘Arabi oleh al-Jili, (Jakarta: Paramadina, 1997)

11. Zainal Abidin, Filsafat Manusia: Memahami Manusia Melalui Filsafat, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000)

[1] Zainal Abidin, Filsafat Manusia: Memahami Manusia Melalui Filsafat, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), hal 16

[2] Lebih jauh lihat dalam Muhammad Yasir Nasution, Manusia Menurut Al-Ghazali, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2002) cet 4, hal 1

[3] Badan Pendidikan Kader PP Muhammadiyah, Materi Induk Pengkaderan Muhammadiyah, (Yogyakarta: BPK PP Muhammadiyah, 1994), hal 176

[4] Lihat lebih jauh dalam Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 2, (Yogyakarta: Kanisius, 1993) Cet 9, hal 117

[5] Franz Magnis-Suseno, Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme, (Jakarta: Gramedia, 2000, hal 87

[6] Zainal Abidin, Filsafat Manusia, hal 29

(17)

[8] Ahmad Tafsir, Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000) cet 9, hal 24-25

[9] Muhammad Yasir Nasution, Manusia Menurut Al Ghazali, hal 82

[10] Harun Nasution, Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya Jilid 1, (Jakarta: UI Press, 1985) cet 5, hal 36

[11] Muhammad Yasir Nasution, Manusia Menurut Al Ghazali, hal 94

[12] Jalaluddin Rakhmat, “Insan Kamil: Manusia Seimbang,” pengantar dalam

Murtadha Muthahhari, Manusia Sempurna: Pandangan Islam tentang Hakikat Manusia, (Jakarta: Lentera, 1994), cet 2, hal xi

[13] Muhammad Yasir Nasution, Manusia Menurut Al Ghazali, hal 94

[14] Jalaluddin Rakhmat, Antara Sukma Nurani dan Sukma Dhulmani, diakses darihttp://media.isnet.org/islam/Paramadina/Konteks/Nurani.html [15] Jalaluddin Rakhmat, Antara Sukma Nurani dan Sukma Dhulmani,

[16] Tosun Bayrak Al Jerrahi, Metode Menikmati Ibadah: Mata Air Kearifan Spiritual Penyejuk Batin, (Jakarta: Hikmah, 2005), hal 26

[17] Lebih lanjut tentang perkembangan konsep ini antara lain lihat dalam Yunasril Ali, Manusia Citra Ilahi: Pengembangan Konsep Insan Kamil Ibn ‘Arabi oleh al-Jili, (Jakarta: Paramadina, 1997), hal 6

[18] Lihat Murtadha Muthahhari, Manusia Sempurna: Pandangan Islam tentang Hakikat Manusia, (Jakarta: Lentera, 1994) Cet 2, hal 3-4

[19] Yunasri Ali, Manusia Citra Ilahi, hal 5

Referensi

Dokumen terkait

Implikasi dari uraian di atas adalah bahwa produk pemikiran Islam, baik dalam Filsafat, Kalam, maupun Tasawuf (dan Fiqh), akan selalu berkembang sesuai dengan perkembangan

Jika dikatakan bahwa manusia (Jawa) terbentuk dari badan dan jiwa misalnya, itu tidak berarti bahwa manusia (Jawa) itu seakan- akan terdiri dari dua realitas yang ada dan

Temuan utama penelitian dasar ini adalah dalam pluralisme dunia modern saat ini nilai-nilai universal HAM merupakan elemen penting yang berfungsi sebagai perekat

Manusia terdiri dari dua substansi; pertama, substansi jasad/materi yang bahan dasarnya adalah dari materi yang merupakan bagian dari alam semesta ciptaan Allah dan dalam

Dalam Islam penentuan struktur kepribadian tidak dapat terlepas dari pembahasan substansi manusia, sebab dengan pembahasan substansi tersebut dapat diketahui dan

Dalam tasawuf, cara yang ditempuh untuk menemukan hakikat, menurut al-Ghazali, terdiri atas dua tahap, yaitu tahap ilmu dan tahap amal. Ilmu yang dimaksud dalam hal ini

Implikasi dari uraian di atas adalah bahwa produk pemikiran Islam, baik dalam Filsafat, Kalam, maupun Tasawuf (dan Fiqh), akan selalu berkembang sesuai dengan perkembangan

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT dan merupakan makhluk utuh yang terdiri dari jasmani, akal, dan