• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian - Pembelajaran usaha dan energi dengan multi model (Numbered Head Together dan Problem Based Learning) bagi siswa Kelas VIII semester II SMP Negeri 6 Palangka Raya Tahun Ajaran 2013/2014 - Digit

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian - Pembelajaran usaha dan energi dengan multi model (Numbered Head Together dan Problem Based Learning) bagi siswa Kelas VIII semester II SMP Negeri 6 Palangka Raya Tahun Ajaran 2013/2014 - Digit"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Pendekatan

kuantitatif adalah pendekatan yang banyak dituntut menggunakan angka,

mulai dari pengumpulan data, penafsiran terhadap data tersebut, serta

penampilan dari hasilnya. Demikian juga pemahaman akan kesimpulan

penelitian akan lebih baik apabila juga disertai dengan grafik, bagan, gambar

atau tampilan lain.1 Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif yaitu

penelitian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi mengenai

status suatu gejala yang ada, yaitu keadaan gejala menurut apa adanya pada

saat penelitian dilakukan.2

Model pembelajaran Numbered Head Together dan Problem Based

Learning dalam RPP yang berbeda, masing-masing model disesuaikan

dengan sub pokok materinya, yaitu RPP pertama menggunakan model

Numbered Head Together, RPP II dan III menggunakan model pembelajaran

Problem Based Learning.

B. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 6 Palangka Raya pada kelas

VIII-4 semester II tahun ajaran 2013/2014. Pelaksanaan Penelitian selama 2

1

Suharsimi, Arikunto, Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktik, Edisi Revisi,

Jakarta: Rineka Cipta, 2006, h. 12

2

Suharsimi, Arikunto, Manajemen Penelitian, Jakarta: Rineka Cipta, 2003, h. 309

(2)

bulan, dimulai pada bulan 03 Januari sampai 03 Maret 2014 terhitung dari

waktu uji coba soal.

C. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek atau

subjek yang menjadi kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan

oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan.3 Populasi

dalam penelitian ini adalah kelas VIII SMP Negeri 6 Palangka Raya pada

tahun 2013/2014 yang berjumlah 8 kelas dengan jumlah total siswa 256

orang dengan jumlah siswa untuk masing-masing kelas tercantum dalam

tabel berikut:

Tabel 3.1 Data siswa SMP Negeri 6 Palangka Raya Tahun Ajaran 2013/2014

Kelas Jumlah Siswa Jumlah Total

Nilai Rata-rata Laki-laki Perempuan

VIII-1 20 13 33 69

VIII-2 18 14 32 64

VIII-3 20 13 32 63

VIII-4 10 20 30 61

VIII-5 19 14 33 62

VIII-6 17 16 30 64

VIII-7 19 14 33 63

VIII-8 18 15 33 61

Jumlah 141 119 256

Sumber: Tata Usaha SMP Negeri 6 Palangka Raya Tahun Ajaran 2013/2014

3

(3)

2. Sampel

Sampel adalah sebagian dari populasi yang diambil sebagai sumber

data dan dapat mewakili seluruh populasi.4 Peneliti dalam mengambil sampel

menggunakan teknik Purposive Sampling, yaitu teknik sampling yang

digunakan peneliti jika penelitian mempunyai pertimbangan–pertimbangan

tertentu di dalam pengambilan sampelnya atau penentuan sampel untuk

tujuan tertentu.5 Kelas yang dipilih adalah kelas yang memiliki keragaman

kemampuan akademik (pintar, sedang, dan kurang pintar). Peneliti

menetapkan kelas VIII-4 sebagai sampel penelitian, karena berdasarkan hasil

wawancara peneliti dengan guru yang bersangkutan bahwa kelas VIII-4

merupakan kelas unggulan dari 8 kelas yang ada di SMPN-6 Palangka Raya,

serta jumlah siswa di kelas VIII-4 genap yaitu 30 siswa sehingga

mempermudah siswa untuk membentuk kelompok.

D. Tahap-tahap Penelitian

Peneliti dalam melakukan penelitian ini menempuh tahap-tahap

sebagai berikut:

1) Tahap Persiapan Penelitian

Tahap persiapan meliputi hal-hal sebagai berikut:

a. Menetapkan tempat penelitian

b. Memohon izin penelitian pada instansi terkait

c. Membuat instrumen penelitian

d. Melaksanakan uji coba instrumen penelitian

4

Riduwan, Metode dan Teknik Menyusun Tesis, Bandung, Alfabeta, 2004,h. 56

5

(4)

e. Menganalisis data uji coba intrumen

2) Tahap Pelaksanaan Penelitian

Pada tahap ini dilakukan sebagai berikut :

a) Mengajarkan materi Usaha dan Energi dengan menggunakan

model pembelajaran Numbered Head Together dan Problem

Based Learning.

b) Memberikan tes akhir (soal THB kognitif) pada sampel setelah

menerapkan model pembelajaran Numbered Head Together dan

Prolem Based Learning.

c) Memberikan angket respon siswa pada sampel setelah penerapan

model pembelajaran Numbered Head Together dan Problem

Based Learning.

d)Tahap Analisis Data

Analisis data ini dilakukan setelah data-data terkumpul, adapun

langkah-langkah yang akan dilakukan peneliti adalah sebagai berikut:

a. Menganalisis data pengamatan pengelolaan pembelajaran usaha dan

energi dengan multi model (Numbered Head together dan Problem

Based Learning)

b. Mengamati aktifitas siswa dalam proses pembelajaran usaha dan energi

dengan multi model (Numbered Head together dan Problem Based

Learning)

c. Menganalisis jawaban siswa pada THB kognitif untuk mengetahui

(5)

pembelajaran usaha dan energi dengan multi model (Numbered Head

together dan Problem Based Learning)

d. Menganalisis data respon siswa terhadap usaha dan energi dengan multi

model (Numbered Head together dan Problem Based Learning)

e) Tahap Kesimpulan

Peneliti mengambil kesimpulan dari hasil analisis data yang dilakukan

untuk mendeskripsikan upaya perbaikan pembelajaran usaha dan energi

dengan multi model (Numbered Head Together dan Problem Based

Learning) untuk mengetahui hasil belajar siswa di kelas VIII-4 SMP

Negeri 6 Palangka Raya semester II Tahun Ajaran 2013/2014.

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan penulis dalam penelitian

ini antara lain observasi, wawancara, lembar pengamatan, tes hasil belajar

(THB), angket respon dan dokumentasi.

1. Observasi

Observasi adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan (data)

yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara

sistematis terhadap fenomena-fenomena yang sedang dijadikan sasaran

pengamatan.6 Observasi dilakukan peneliti pada awal penelitian untuk

meminta izin di sekolah yang dituju serta melihat kondisi dan keadaan

sekolah yang nanti akan dijadikan tempat penelitian.

6

(6)

2. Wawancara

Wawancara adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang

dilaksanakan dengan melakukan tanya jawab lisan secara sepihak,

berhadapan muka dan dengan arah serta tujuan yang telah di tentukan.7

Wawancara digunakan sebagai bukti dan menambah data keterangan

tentang keadaan pembelajaran disekolah tersebut secara tertulis dan face to

face.

3. Lembar Pengamatan

Lembar pengamatan meliputi lembar pengamatan pengelolaan

pembelajaran fisika dan lembar pengamatan aktifitas siswa melalui

pembelajaran Usaha dan Energi dengan multi model (Numbered Head

Together dan Problem Based Learning). Lembar pengamatan pengelolaan

pembelajaran diisi oleh dua orang pengamat yaitu 1 orang dosen IAIN dan

1 orang guru fisika SMP Negeri 6 Palangka Raya, sedangkan lembar

pengamatan aktifitas siswa di isi oleh empat orang pengamat.

7Ibid.

(7)

4. Tes Hasil Belajar (THB)

Tabel 3.2

Kisi-Kisi Instrumen Tes Hasil Belajar Kognitif

Indikator Tujuan Pembelajaran Khusus Aspek No. Soal

Menunjukkan

1. Menerapkan konsep energi dalam

kehidupan sehari-hari

1. Siswa dapat menjelaskan konsep

energi kinetik

2. Siswa dapat menjelaskan konsep

energi potensial

3. Siswa dapat membedakan energi

kinetik dan energi potensial dalam

kehidupan sehari-hari

1. Siswa dapat menyebutkan hukum

kekekalan energi

2. Siswa dapat menyebutkan contoh

hukum kekekalan energi dalam

1. Siswa dapat menjelaskan pengertian

usaha

(8)

energi dan usaha 2. Siswa dapat menjelaskan

macam-macam usaha yang ada dalam

kehidupan sehari-hari

3. Siswa dapat menghitung soal

matematis yang berhubungan dengan

usaha

4. Siswa dapat menjelaskan adanya

hubungan antara usaha dan energi

C2

1. Siswa dapat menjelaskan pengertian

daya

2. Siswa dapat menjelaskan hubungan

persamaan antara daya (P), usaha

(W), dan waktu (t)

3. Siswa dapat menghitung soal-soal

yang berhubungan dengan daya dan

usaha

Tes hasil belajar (THB) siswa berbentuk tes tertulis yang digunakan

untuk mengukur kemampuan siswa dari hasil belajar, berupa soal-soal

berbentuk uraian yang disusun peneliti dengan mengacu pada Kurikulum

Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pokok bahasan usaha dan energi.

Sebelum digunakan tes hasil belajar kognitif dilakukan uji coba terlebih

dahulu untuk mengetahui validitas dan reliabilitas, uji daya serta tingkat

(9)

5. Angket

Angket respon siswa terhadap pembelajaran usaha dan energi

dengan multi model (Numbered Head Together dan Problem Based

Learning) diisi oleh siswa setelah pertemuan terakhir. Angket respon siswa

digunakan untuk mengukur pendapat siswa terhadap ketertarikan, perasaan

senang dan keterkinian serta kemudahan memahami komponen–

komponen: materi/isi pelajaran, format materi lembar bacaan, gambar–

gambarnya, suasana belajar dan cara guru mengajar serta strategi yang

digunakan. 8

6. Dokumentasi

Dokumentasi adalah ditujukan untuk memperoleh data langsung dari

tempat penelitian, meliputi buku-buku yang relevan, peraturan- peraturan,

laporan kegiatan, foto-foto, film dokumenter, data yang relevan

penelitian.9

F. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah

a. Lembar pengamatan pengelolaan pembelajaran Usaha dan Energi dengan

multi model (Numbered Head Together dan Problem Based Learning).

Lembar pengamatan pengelolaan pembelajaran ini diisi oleh dua orang

8

Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif–Progresif : Konsep, Landasan, Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ), Jakarta : Kencana,2009, h. 242

9

(10)

pengamat yaitu 1 orang dari IAIN dan 1 orang guru fisika SMP Negeri 6

Palangka Raya.

b. Lembar pengamatan aktifitas siswa dalam pembelajaran Usaha dan Energi

dengan multi model (Numbered Head Together dan Problem Based

Learning). Instrumen ini digunakan untuk mengetahui aktifitas siswa

dalam pembelajaran selama penerapan pembelajaran Usaha dan Energi

dengan multi model (Numbered Head Together dan Problem Based

Learning) yang diisi oleh pengamat yang memungkinkan dia dapat

mengamati dan mengikuti seluruh pelajaran dari awal sampai berakhirnya

pembelajaran.

c. Instrumen tes hasil belajar (THB) kognitif berguna untuk mengetahui

ketuntasan hasil belajar siswa pada materi pokok Usaha dan Energi setelah

diajarkan dengan pembelajaran multimodel (Numbered Head Together dan

Problem Based Learning). Tes hasil belajar kognitif sebelum digunakan,

terlebih dahulu diujicobakan untuk mengetahui validitas, reliabilitas,

tingkat kesukaran dan daya beda.

d. Respon siswa diperoleh dengan menggunakan angket respon siswa yang

diberikan pada akhir penelitian untuk mengetahui bagaimana respon siswa

terhadap pembelajaran Usaha dan Energi dengan multi model (Numbered

(11)

G. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data menggunakan teknik analisis kuantitatif yaitu

dengan memberikan skor sesuai dengan item yang dikerjakan dalam

penelitian.

1. Data Pengelolaan Pembelajaran

Data pengelolaan pembelajaran Usaha dan Energi dengan

multimodel (Numbered Head Together dan Problem Based Learning)

dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif persentase (%), yakni

berdasarkan nilai yang diberikan oleh 2 orang pengamat (P1 dan P2) pada

lembar pengamatan kemudian diambil reratanya dapat dilihat dilampiran.

 Nilai rerata dapat dihitung dengan rumus :

𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖𝑟𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎𝑝𝑒𝑛𝑔𝑎𝑚𝑎𝑡 𝑅 = 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑃1+𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖𝑃2

𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎 𝑕𝑝𝑒𝑛𝑔𝑎𝑚𝑎𝑡 (𝑁)

 Nilai persentase dihitung menggunakan rumus:10

NP = R

SM x 100 %

Keterangan: NP = Nilai yang diharapkan/ Nilai Keterlaksanaan RPP

R = Jumlah skor yang diperoleh dari pengamat

SM = Skor maksimum

2. Lembar Pengamatan Aktifitas Siswa

Untuk data aktifitas siswa dianalisis dengan menggunakan rumus:

Persentase aktifitas siswa = A

B x 100%

10

(12)

Keterangan : A = jumlah skor yang diperoleh pengamat

B = jumlah skor maksimal11

3. Tes Hasil Belajar (THB)

Data tes hasil belajar (THB) digunakan untuk mengetahui seberapa

besar tingkat ketuntasan hasil belajar fisika siswa dalam aspek kognitif

setelah pembelajaran usaha dan energi dengan mul timodel (Numbered

Head Together dan Problem Based Learning) dianalisis dengan

menggunakan ketuntasan individu dan ketuntasan klasikal terhadap TPK

yang ingin dicapai.

a) Ketuntasan Individu

Tingkat ketuntasan belajar masing-masing siswa dianalisis dengan

menghitung persentase peningkatan ketuntasan hasil belajar siswa

secara individual. Guru mata pelajaran fisika di SMP Negeri-6 Palangka

Raya mengatakan ketuntasan individu dikatakan tuntas bila persentase

yang dicapai sebesar > 65%.

Ketuntasan individu menggunakan rumus :12

KB = T

Tt × 100%

Keterangan: KB = Ketuntasan belajar individu

T = Jumlah skor benar yang diperoleh siswa

Tt = Jumlah skor total

11

Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif:Konsep, Landasan, Dan Implementasinya Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Jakarta: kencana, 2010, h. 241

12

(13)

b) Ketuntasan Klasikal

Ketuntasan klasikal dikatakan tuntas dalam kelas VIII-4, apabila

secara keseluruhan siswa yang tuntas mencapai ≥75%.13 Ketuntasan

klasikal menggunakan rumus :14

Ketuntasan klasikal (P) =

[

Banyaknya siswa yang tuntas

Banyaknya siswa

]

× 100%

c) Ketuntasan TPK

Suatu TPK dikatakan tuntas, apabila siswa yang mencapai TPK

tersebut ≥ 65% untuk jumlah siswa sebanyak n orang, rumus

persentasenya adalah sebagai berikut ;15

TPK =

[

Jumlah siswa yang mencapai TPK tersebut

Banyaknya siswa

]

× 100%

4. Data Respon Siswa

Menganalisis data respon siswa dengan menggunakan frekuensi

relatif (angka persen) dengan rumus sebagai berikut ;16

𝑃 % =𝑁𝑓 𝑥 100%

Keterangan:

P(%) = Frekuensi relatif (angka persenan)

f = Frekuensi tiap aktifitas

13

Hasil observasi di SMPN-6 Palangka Raya, 1 November 2013

14

Anas Sudijono, Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo, 2005,

hal.55

15

Ibid,

(14)

N = Jumlah frekuensi banyaknya respon

H. Teknik Keabsahan Data

Data yang diperoleh dikatakan absah apabila alat pengumpul data

benar-benar valid dan dapat diandalkan dalam mengungkapkan data

penelitian. Instrumen yang sudah diuji coba ditentukan kualitasnya dari segi

validitas, reliabilitas soal, tingkat kesukaran, dan daya pembeda.

1. Validitas

Kualitas perangkat pembelajaran dilihat dari validitas perangkat

pembelajaran. Validitas diperoleh dari data validasi yang dilakukan oleh

dua orang ahli. Data validasi dikumpulkan dengan instrumen berupa

validasi RPP, validasi LKS, dan validasi THB.

Validitas adalah suatu konsep yang berkaitan dengan sejauh mana

tes telah mengukur apa yang seharusnya diukur.17 Suatu alat pengukur

dapat dikatakan alat pengukuran yang valid apabila alat pengukur tersebut

dapat mengukur apa yang hendak diukur secara tepat.18 Dalam penelitian

ini menentukan koefisien validitas butir soal menggunakan rumus Pearson

Product Moment, sebagai berikut:

r hitung =

𝑛 Σ𝑋𝑌 − Σ𝑋 .(Σ𝑌)

{ 𝑛.Σ𝑋2− Σ𝑋)2 .{ 𝑛 .Σ𝑌2− (Σ𝑌)2 }

dimana:

17

Sumarna Surapranata, Analisis, Validitas, Reliabelitas, dan Interpretasi Hasil Tes,Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2004, h. 50

18

(15)

r hitung = koefisien korelasi product moment

Σ𝑋 = jumlah skor item

Σ𝑌 = jumlah skor total (seluruh item)

St = standar deviasi skor total

n = jumlah responden

Guna memberikan keputusan terhadap validitas butir, maka dalam

penelitian ini indeks korelasi (rxy) dibandingkan dengan r tabel. Bila mana

koefisien korelasi hasil perhitungan tersebut signifikan (dapat

digeneralisasikan) atau tidak maka perlu dibandingkan dengan r tabel,

dengan taraf kesalahan tertentu.19

Hasil analisis butir soal dengan Anates diperoleh, 13 soal yang valid

dan 7 soal tidak valid dari 20 soal THB (lihat lampiran 1.3). Dari 7 soal

yang tidak valid, 3 daintaranya di revisi sehingga dapat di gunakan

menjadi soal THB penelitian sedangkan 4 lainnya di buang karena sudah

ada soal yang mewakili tujuan pembelajaran. (lihat lampiran 3.2 hal.163)

2. Uji Reliabilitas Instrumen

Reliabilitas menunjukkan pada suatu pengertian bahwa suatu

instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul

data karena instrumen tersebut sudah baik.20

19

Sugiono, Statistika untuk Penelitian, Bandung: Alfabeta, 2006, h.213

20

(16)

Menentukan reliabel pada soal essay peneliti menggunakan program

ANATES. Reliabilitas tes yang menggunakan skala Likert, tes yang

menggunakan bentuk essay.21

Menginterpretasikan derajat reliabilitas instrumen digunakan tolak

ukur yang ditetapkan J.P Guilford ditunjukkan berikut.22

Tabel 3.4 Kategori Reliabilitas Instrumen

Reliabilitas Kriteria

0,80 <𝑟11 ≤ 1,00 Sangat tinggi

0,60 <𝑟11 ≤ 0,80 Tinggi

0,40 <𝑟11 ≤ 0,60 Cukup

0,20 <𝑟11 ≤ 0,40 Rendah

0,00 <𝑟11 ≤ 0,20 Sangat rendah

Remmers et. al menyatakan bahwa koefisien reliabilitas ≥ 0,5 dapat

dipakai untuk tujuan penelitian.23 Berdasarkan hasil analisis butir soal

yang dilakukan diperoleh tingkat reliabilitas instrumen Tes Hasil Belajar

(THB) kognitif mengingat (C1) sebesar 0,71 sehingga kategori tinggi,

tingkat reliabilitas instrumen tes hasil belajar (THB) kognitif memahami

(C2) sebesar 0,80 sehingga kategori tinggi. Serta tingkat reliabilitas

instrumen tes hasil belajar (THB) kognitif mengaplikasikan (C3) sebesar

0,92 sehingga dalam kategori sangat tinggi secara lengkap dapat dilihat

pada lampiran 3.2 hal.163

21

Sugiono, Statistika untuk Penelitian, h. 138

22

Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi ..., h.75

23

Sumarna Surapranata, Analisis, Validitas, Reliabelitas, dan Interpretasi Hasil Tes,…….

(17)

3. Uji Taraf Kesukaran

Tingkat kesukaran atau tarap kesukaran adalah kemampuan tes

tersebut dalam menjaring banyaknya subjek peserta tes yang dapat

mengerjakan dengan betul.24 Butir-butir item yang baik, apabila butir-butir

item tersebut tidak terlalu sukar dan tidak terlalu mudah dengan kata lain

derajat kesukaran item itu adalah sedang atau cukup. Tingkat kesukaran

item itu dikenal dengan istilah difficulty index (angka indek kesukaran

B = Banyaknya siswa yang menjawab soal dengan betul

JS = Banyaknya siswa yang ikut mengerjakan tes

Tabel 3.5 Kategori Tingkat Kesukaran27

Nilai P Kategori

Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2003, h.230

25

Gito Supriadi, Pengantar Teknik Evaluasi Pembelajaran, Malang: Intimedia, 2011, h.153-154

2626

Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian, Jakarta: PT Rineka Cipta, 2003, h.230

27

(18)

Analisis butir soal menggunakan ANATES menunjukkan bahwa

didapatkan 1 soal kategori sangat sukar, 4 soal kategori sukar, 13 soal

kategori sedang dan 2 soal kategori sangat mudah, secara lengkap dapat

dilihat pada lampiran 3.2 hal. 163

4. Uji Daya Pembeda

Daya pembeda tes adalah kemampuan tes tersebut dalam

memisahkan antara subjek yang pandai dengan subjek yang kurang

pandai.28 Rumus yang digunakan untuk mengetahui daya pembeda (D)

Proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar (ingat

p sebagai indeks kesukaran.

Proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar

28

Suharsimi, Arikunto, Manajemen Penelitian, h. 231.

29

(19)

Kriteria daya pembeda (D) adalah: 30

D : 0,00 – 0,20 : soal tergolong jelek (gugur)

D : 0,21 – 0,40 : soal tergolong cukup

D : 0,41 – 0,70 : soal tergolong baik

D : 0,71 – 1,00 : soal tergolong sangat baik

Analisis butir soal menggunakan Anates menunjukkan bahwa

didapatkan 4 butir soal kategori jelek, 9 butir soal kategori baik dan 7 butir

soal kategori baik sekali, secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 3.2

hal.163

30

Gambar

tabel berikut:
Tabel 3.2 Kisi-Kisi Instrumen Tes Hasil Belajar Kognitif
Tabel 3.5  Kategori Tingkat Kesukaran27

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian disimpulkan kolaborasi model pembelajaran Problem Posing dengan Numbered Head Together pada materi Jurnal Penyesuaian dapat

Skripsi berjudul “ Perbedaan Hasil Belajar Kimia Siswa Kelas X PIA Yang Dibelajarkan Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together Dan Problem Based

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dengan menerapkan kolaborasi model pembelajaran Numbered Head Together dengan Problem Posing dapat meningkatkan aktivitas

Catatlah secara singkat hal-hal yang terjadi pada guru, siswa, dan proses pembelajaran tema Selalu Berhemat Energi dengan Model Numbered Head Together berbantuan

Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT) Untuk Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar IPS Pokok Bahasan Peristiwa Sekitar Proklamasi

Berdasarkan pengertian diatas, model pembelajaran Numbered Head Together yaitu, pembelajaran kooperatif yang dilakukan dengan melibatkan para siswa untuk saling

Hal ini didukung dengan Jurnal Kusumojanto dan Herawati (2009) yang juga mengalami peningkatan hasil belajar dalam penerapan model pembelajaran Numbered Head

Hipotesis tindakan dalam penelitian adalah model Numbered Head Together dapat meningkatkan prestasi belajar, kinerja guru dalam pembelajaran dan aktivitas belajar