Penerapan Konsep GCG Dalam
Menjalankan Bisnis Keluarga
Oleh : Martin Kosasi
Penerapan Konsep GCG Dalam Menjalankan
Bisnis Keluarga
Pic : Bisnis Keluarga,
Source : http://www.ayopreneur.com
Dalam dunia bisnis, usaha yang dijalankan tidak selalu langsung menjadi sebuah usaha yang besar. Banyak diantara pebisnis sukses yang merintis usahanya mulai dari usaha kecil rumahan hingga berkembang dan menjadi pemimpin pasar berkat kerja keras dan manajemen yang baik serta usaha yang pantang menyerah. Namun, tidak sedikit pula usaha rintisan tersebut gagal ditengan jalan dan mengalami kehancuran. Berikut beberapa contoh usaha yang sukses dan yang mengalami kegagalan :
-Usaha Keluarga yang Sukses
Kapal Api (PT Santos Jaya Abadi)
Tahukah Anda kalau brand Kapal Api telah ada dari tahun 1927? Kopi asli Indonesia ini diproduksi oleh PT. Santos Jaya Abadi, yang bermula dari industri rumahan milik Go So Loet. Nama Kapal Api dipilih untuk mencerminkan temuan yang paling mutakhir di jaman itu.
Maspion Grup
Kalau Anda pernah belanja perkakas rumah tangga, pasti Anda kenal dengan brand Maspion. Perusahaan ini terkenal akan dedikasinya untuk menghasilkan produk dalam negeri yang berkualitas dengan harga terjangkau. Sebelum
menjadi raksasa seperti sekarang, Maspion dulunya memproduksi lampu teplok kecil-kecilan. Perusahaan ini didirikan oleh Alim Husin dan Gunardi Go pada tahun 1962 dengan nama UD Logam Jawa. Pada tahun 1972, nama perusahaan
berganti menjadi Maspion dan Alim Husin resmi menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada anak-anaknya. Di bawah pimpinan anak tertua, Alim Markus, Maspion terus berkembang. Jumlah karyawan Maspion saat ini mencapai 13.000 orang.
Wings Grup
-Usaha Keluarga yang Gagal
Nyonya Meneer
Pabrik jamu Nyonya Meneer bangkrut setelah gagal membayar utang Rp 7,04 miliar kepada kreditornya. Sebelumnya, Pengadilan Negeri Semarang
memutuskan Perusahaan jamu PT Nyonya Meneer untuk dipailitkan, akibat kegagalan membayarkan kewajiban utang kepada krediturnya. Putusan itu dijatuhkan dalam sidang pada Kamis, 3 Agustus 2017. Pemohon menyatakan PT Nyonya Meneer tidak memenuhi kewajiban untuk membayar utangnya sebesar Rp 7,04 miliar. Kurator juga telah ditunjuk untuk menyelesaikan kewajiban Nyonya Meneer kepada kreditor. Nyonya Meneer juga masih berutang Rp 10 miliar kepada para karyawan yang diberhentikan. Masalah lain yang menjadi pemicu tutupnya pabrik jamu bisa dipicu oleh penerusnya. Pada awal dirintis pertama, mungkin jamu tersebut dirintis oleh sang ayah, ibu atau keduanya. Namun pada generasi kedua, mereka memiliki anak keturunan, begitu juga pada generasi ketiga, yang memunculkan cucu dari perintis yang membuat konflik internal di perusahaan tak dapat dihindarkan.
Bakrie Grup (Esia)
Rontoknya satu persatu kerajaan bisnis Aburizal Bakri, bagaikan menunggu meledaknya bom waktu. Dan kini salah satu diantara matarantai bisnis Group Bakri itu yaitu Bakrie Telecom, menemui ajalnya. Bisnis komunikasi yang telah berlangsung lebih dari 30 tahun, yang berawal dari Ratelindo atau Radio
Telephone Indonesia, sebuah sistem komunikasi telepon radio tak bergerak untuk rumahan.
Alih-alih membangun infrastruktur baru dan menambah jumlah pelanggan, operator tersebut justru mengurangi operasional sejumlah BTS-nya akibat diputus penyedia menara atau sebab lainnya. Pelanggannya pun terus
-
Analisis Faktor Keberhasilan Usaha
Keluarga Berdasarkan Konsep Good
Corporate Governance (GCG)
Usaha keluarga yang dijalankan akan tumbuh dan berkembang dengan
adanya kemampuan manajemen yang baik. Dengan manajemen yang baik akan membuat sumber daya yang dikeluarkan perusahaan menjadi optimal dalam menghasilkan keuntungan. Untuk menciptakan manajemen yang baik, maka diperlukan adanya penerapan konsep GCG dengan ke-5 prinsipnya. Berikut ke-5 Prinsip GCG :
Transparansi
Transparansi dapat diartikan sebagai keterbukaan perusahaan atas informasi kepada seluruh stakeholder dan share holder. Dengan adanya transparansi, para pemilik kepentingan dapat mengetahui kegiatan yang dijalankan perusahaan apakah berjalan baik atau sebaliknya, sehigga terciptalah sistem controlling oleh semua pihak.
Akuntabilitas
Dengan kepemilikan yang terkonsentrasi dan struktur bisnis yang didominasi keluarga, secara langsung kontrol lebih banyak dipegang oleh keluarga. Posisi-posisi penting perusahaan ditempati oleh anggota keluarga, bahkan tidak jarang satu orang berperan ganda pada beberapa posisi. Pembagian peran dalam
perusahaan banyak dilandasi oleh hubungan kekeluargaan. Suksesi pun berasal dari anggota keluarga. Tingkat akuntabilitas pada perusahaan keluarga menjadi lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan non-keluarga.
Meskipun dalam menjalankan usaha keluarga lebih banyak terlibat dengan keluarga atau saudara sendiri, namun tanggungjawab sebagai seorang
profesional harus tetap dijaga agar kinerja perusahaan tetap baik. Dengan menjaga tanggungjawab profesi, akan meningkatkan kinerja seseorang dan berimbas pada kemajuan perusahaan.
Independensi
Perusahaan keluarga cenderung lebih rendah tingkat independensi dalam bisnis dibandingkan dengan perusahaan non-keluarga, apabila dilihat dari struktur bisnisnya. Dewan direksi (level manajerial) pada perusahaan keluarga didominasi oleh anggota keluarga. Pengambilan keputusan bisnis juga akan cenderung lebih subjektif karena perusahaan akan mengambil keputusan yang menguntungkan beberapa pihak tertentu saja. Kecuali apabila perusahaan
menggunakan jasa pihak eksternal (auditor atau konsultan) untuk mengawal dan mengontrol jalannya bisnis. Hal tersebut yang dilakukan oleh perusahaan
keluarga, khususnya yang sudah profesional, untuk menjaga tingkat objektivitas bisnis.
Keadilan
Keadilan yang dimaksud disini, dalam menjalankan sebuah usaha keluarga tentunya adalah setiap orang atau anggota keluarga yang terlibat harus
mendapat haknya sesuai dengan tanggungjawabnya dalam perusahaan. Bila prinsip keadilan ini tidak dijaga, maka yang paling beresiko muncul adalah konflik internal dalam bisnis tersebut. Hal ini telah terbukti dengan jatuhnya "nyonya meneer" akibat konflik dari anggota keluarga.
-Faktor Sukses Bisnis Keluarga
Keluarga yang bersatu padu jauh lebih mudah beradaptasi dengan perubahan dan biasanya menempatkan kepentingan bisnis dan keluarga di atas kepentingan diri sendiri. Biasanya keluarga membangun persatuan dengan mengutamakan komunikasi di antara mereka. Berikut adalah beberapa hal yang mereka lakukan:
1. Mengadakan pertemuan keluarga biasa
2. Mendidik anggota keluarga tentang bisnis
3. Membangun ketrampilan dalam menyelesaikan konflik
4. Belajar tentang komponen komunikasi yang baik
Pic
Source : https://hbr.org
Tidak hanya memikirkan keuntungan dan uang
Keluarga yang sukses berkomitmen untuk satu set nilai di luar keuntungan dan uang. Nilai-nilai ini biasanya terwujud dalam bentuk pernyataan misi atau visi. Sebagai contoh, salah satu keluarga bekerja sama dengan mendefinisikan misinya untuk menciptakan peluang ekonomi bagi karyawan dan masyarakat. Membangun seperangkat nilai-nilai inti ini memberikan anggota keluarga tujuan dan kesempatan untuk melakukan sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Keluarga yang memanfaatkan kekuatan ini:
1. Menentukan nilai-nilai inti
2. Menerjemahkan nilai-nilai ke dalam tindakan
3. Menggunakan nilai-nilai untuk membangun budaya yang kuat
Memiliki visi terpadu
manajemen, pajak dan pensiun terkait erat dengan suksesi, dan untuk
menghadapi tantangan-tantangan tersebut, bisnis keluarga yang sukses akan:
1. Membangun sebuah dewan independen untuk memberikan pertanggungjawaban kepada manajemen
2. Mengatur rencana strategis bisnis secara teratur
3. Menyelaraskan strategi dengan nilai-nilai dan visi milik keluarga
Mempersiapkan generasi berikutnya
Investasi dalam generasi berikutnya adalah suatu keharusan. Sayangnya, 'investasi' di generasi berikutnya sering disalahartikan sebagai 'menemukan CEO berikutnya'. Ini perangkap umum untuk bisnis keluarga yang mengalami
kebangkrutan sebelum jatuh ke generasi berikutnya. Dalam berbagai kasus, keturunan berikutnya yang bergabung dalam bisnis keluarga hanya untuk menyenangkan orang tua akan menjadi penerus dengan performa buruk dan harga diri yang rendah. Di bawah kepemimpinan mereka, bisnis, lebih sering daripada tidak, akan gagal. Mereka menjadi rentan terhadap apa yang disebut 'penerus terkutuk'. Generasi 'terkutuk' ini terlalu meniru orang tua mereka. Keluarga multi-generasi sukses menangkal kutukan ini dengan berinvestasi dalam generasi berikutnya dengan:
1. Membantu generasi penerus memilih pekerjaan yang sesuai dengan skill/gairah mereka
2. Mempersiapkan generasi penerus untuk menjadi pemilik yang bertanggung jawab
3. Membimbing generasi penerus untuk bertanggung jawab terhadap kinerja mereka
KESIMPULAN
Dalam menjalankan usaha keluarga hendaknya menjaga rasa kepercayaan serta pembagian hak dan kewajiban yang sesuai (keadilan). Rasa percaya dan keadilan yang muncul akan meningkatkan kinerja usaha karena masing-masing pihak akan bekerja semaksimal mungkin tanpa adanya rasa curiga dan
kecemasan akan haknya. Selain itu, Kepercayaan dan keadilan akan tetap menjaga hubungan keluarga itu sendiri.
Terima Kasih Source :