• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerapan Kondisi Kriteria Sama Luas dal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Penerapan Kondisi Kriteria Sama Luas dal"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

KENDALI DAN KESTABILAN SISTEM TENAGA

Review Paper

“Application of Equal Area Criterion Conditions in the Time

Domain for Out-of-Step Protection”

Nama

: Anggy Prayoga

NIM

: 0904105010021

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SYIAH KUALA

DARUSSALAM, BANDA ACEH

(2)

Penerapan Kondisi Kriteria Sama Luas dalam Domain Waktu

untuk Proteksi Ketidakstabilan

Abstrak

Cara baru untuk proteksi ketidakstabilan dengan melakukan mapping kondisi kriteria sama luas terhadap domain waktu adalah tujuan dari paper ini. Klasifikasi antara ayunan (swing) stabil dan tidak stabil dilakukan menggunakan percepatan dan perlambatan energi, yang menampilkan kurva daerah daya terhadap waktu (power – time).

1. Pendahuluan

Gelombang elektromekanikal dalam sistem tenaga terjadi karena ketidakseimbangan antara daya input dan output. Tergantung pada besarnya gangguan, sistem dapat atau tidak dapat kembali ke kondisi kestabilan yang baru. Ketika gangguan besar, gelombang tidak dapat diredam dan menuju ke sebuah kondisi operasi yang tidak stabil yang disebut kondisi ketidakstabilan (out-of-step) atau kehilangan sinkronisasi. Relay ketidakstabilan digunakan untuk mendeteksi kondisi tersebut dalam sistem tenaga dan memutuskan bagian dari sistem pada lokasi yang dipilih untuk memberikan kondisi kestabilan yang baru pada sistem.

2. Dasar Teori

Gambar 1 menunjukkan konfigurasi dari Single Machine Infinite Bus (SMIB) yang digunakan untuk mengilustrasikan maksud kriteria sama luas dalam domain waktu.

(3)

Pada gambar 1, tegangan kirim akhir (Es) menyuplai tegangan terima akhir dengan . Sudut mengacu pada sudut relatif rotor atau daya. Daya output dari generator adalah Pe dan sebanding dengan dengan daya input mekanik (Pm) ke generator. Sistem

memiliki dua saluran paralel TL I dan TL II, dengan impedansi sebanding terhadap x1

dan x2, secara berturut-turut.

Gangguan tiga phasa diberikan pada pertengahan dari saluran TL II. Gangguan dihilangkan dengan adanya delay (penundaan) dengan membuka breaker (pemutus) “A” dan “B” secara bersama-sama. Respon transien akibat gangguan pada konfigurasi SMIB diperoleh jika persamaan ayunan (swing) dipecahkan menggunakan teknik integrasi numerik.

dimana, M adalah konstanta inertia generator dan s adalah frekuensi sistem.

Keuntungan dari kriteria sama luas dalam domain adalah dapat menggambarkan stabilitas dari sistem tanpa memecahkan persamaan ayunan.

Gambar 2 menunjukkan kurva Pe terhadap untuk sistem stabil. Gambar 3

menunjukkan kurva Pe terhadap untuk sistem yang tidak stabil. Kurva Pe terhadap t

yang cocok dengan kedua kurva Pe terhadap ditunjukkan pada gambar 4 dan 5.

Gambar 2. Ilustrasi Kurva Pe Terhadap pada Kondisi Stabil

Pada gambar 2 dan 3, 0 menyatakan sudut daya sebelum gangguan, c

menyatakan sudut daya pada saat penghilangan gangguan dan max menyatakan ayunan

maksimum dari sudut daya. Kriteria sama luas dalam domain mengatakan bahwa untuk sistem stabil, area A1 adalah sama terhadap area A2, dan area A2 terjadi sebelum - 0.

Untuk sistem yang tidak stabil A1 adalah lebih besar daripada area A2, dan A2 terjadi pada

(4)

Gambar 3. Ilustrasi Kurva Pe Terhadap pada Kondisi Tidak Stabil

Gambar 4. Ilustrasi Kurva Pe Terhadap t pada Kondisi Stabil

Gambar 5. Ilustrasi Kurva Pe Terhadap t pada Kondisi Tidak Stabil

Pernyataan matematis untuk mengevaluasi area A1 dan A2 dalam domain waktu

dapat diturunkan dari persamaan ayunan (1). Jika deviasi dari kecepatan rotornya adalah

(5)

Dimana (t) adalah kecepatan rotor selama transien. Dari persamaan (1) dan (2) maka :

Integral dari persamaan (3) maka :

Area A1 diperoleh dari persamaan (4) dengan mengatur batas integrasi dari t0 sampai t1

(lihat gambar 4 dan 5).

Area A1 positif sebagai Pm ≥ Pe untuk t = t0 terhadap t1. Dengan cara yang sama area 2

diperoleh dari persamaan (4)

dimana tmax adalah waktu ketika = max. Area A2 adalah negatif sebagai Pm ≤ Pe untuk

t = t1 terhadap tmax. Untuk sistem stabil, pada tmaz, kecepatan rotor adalah kecepatan

sinkron, sehingga deviasi kecepatan rotor adalah nol. Untuk kondisi tidak stabil,

kecepatan rotor pada tmax lebih besar dari pada kecepatan sinkron, sehingga untuk kondisi

stabil :

Untuk kondisi tidak stabil :

(6)

Untuk kondisi tidak stabil :

3. Simulasi Software

3.1. Simulasi SMIB (Single Machine Infinite Bus)

Sistem ditunjukkan pada gambar 1. Parameter terdapat pada appendix. Informasi tegangan dan arus tiga phasa diukur dan daya output elektris Pe dihitung. Teknik transformasi diskrit Fourier digunakan untuk mengestimasi nilai tegangan dan arus

phasor. Sudut daya pre-fault ( 0) diatur 300 serta menggunakan empat kondisi

penghilangan gangguan. Simulasi dilakukan dengan toolbox PSCAD dengan step waktu simulasi 50 s. Hasil kurva P terhadap t ditunjukkan pada gambar 6, dan gambar 7.

Gambar 6. Kurva Pe terhadap t untuk 0 = 30 0

dan gangguan dihilangkan setelah 0,167 s

Gambar 7. Kurva Pe terhadap t untuk 0 = 30 0

(7)

Tabel 1. Hasil Keseluruhan Stabil dan Tidak Stabil (out of step) dari sistem SMIB

3.2. Simulasi Three Machine Infinite Bus

Sistem tiga mesin bus infinite ditunjukkan pada gambar 8 yang dapat mengilustrasikan teknik untuk multimesin.

Gambar 8. Sistem Tiga Mesin Bus Infinite

(8)

Gambar 9. Kurva Pe terhadap t untuk Pm=0,984 pu dan gangguan dihilangkan setelah 0,1 s

Gambar 10. Kurva Pe terhadap t untuk Pm=0,984 pu dan gangguan dihilangkan setelah 0,25 s

Tabel 2. Hasil Keseluruhan Stabil dan Tidak Stabil (out of step) dari sistem multimesin

4. Implementasi Hardware dan Pengujian Closed Loop

4.1. Model Relay Ketidakstabilan Digital

Hardware utama yang digunakan ialah RTDS (Real Time Digital Simulator) dan

(9)

Gambar 11. Model Relay dan Sistem Tenaga serta Koneksinya

Diagram sederhana dari model relay dan sistem tenaga dan koneksinya ditunjukkan pada gambar 11. Tegangan terminal dan arus tiga phasa dari generator disuplai ke papan ADSP-BF533 EZ LITE-KIT melalui port output analog RDTS. Output hardware relay digital berupa “0” untuk sistem stabil dan “1” untuk sistem tidak stabil. Sinyal ini diumpanbalikkan ke RDTS melalui port input digital dan mengontrol status dari breaker BRK. Jika “1”, maka breaker akan trip dan memutuskan generator dari bus

infinite.

4.2. Hasil Pengujian Closed Loop

Di dalam model RDTS sistem tenanga, variasi kondisi ayunan dibangkitkan

dengan pengaturan sudut daya pre-fault ( 0) dari generator pada nilai yang berbeda (350,

400, dan 450), dengan menerapkan variasi dari jenis gangguan (tiga phasa, line to ground,

dan line to line) di tengah saluran transmisi (TL II) dan dengan memvariasikan durasi waktu.

Pertama, 0 diatur 350, gangguan tiga phasa diterapkan diterapkan di tengah

saluran TL II dan durasi waktu diatur pada 0,22; 0,26; 0,271; 0,272; dan 0,28 sec secara berturut-turut, ayunan menjadi tidak stabil dari keadaan stabil sebelumnya. Seluruh

perhitungan area A1 dan A2 dan keputusan relay menyatakan stabil atau tidak stabil

(10)

Gambar 12. Kurva Pe terhadap t untuk 0 = 35 0

dan gangguan dihilangkan setelah 0,22 s

Gambar 13. Kurva Pe terhadap t untuk 0 = 35 0

dan gangguan dihilangkan setelah 0,272 s

(11)

Tabel 4. Perbandingan Perolehan Hasil dari Simulasi Software dan Hardware

Tabel 5. Hasil Keseluruhan dari Pengujian Closed Loop untuk =400 dan Penerapan Gangguan Line to Line

Tabel 5. Hasil Keseluruhan dari Pengujian Closed Loop untuk =450 dan Penerapan

Gangguan Line to Ground

5. Kesimpulan

Teknik deteksi ketidakstabilan dengan modifikasi kondisi klasik kriteria sama luas terhadap domain waktu merupakan tujuan dari paper ini. Simulasi yang dilakukan ini mampu menggolongkan antara ayunan (swing) stabil dan tidak stabil berdasarkan informasi tegangan dan arus lokal pada lokasi relay.

REFERENSI

Gambar

Gambar 1 menunjukkan konfigurasi dari Single Machine Infinite Bus (SMIB) yang digunakan untuk mengilustrasikan maksud kriteria sama luas dalam domain waktu

Referensi

Dokumen terkait

Hasil dari penelitian dengan analisis dinamis dan reverse engineering dengan menggunakan tahap disassembly menunjukkan pergerakan dari malware dimana malware ini

Sensor ultrasonic dalam penelitian ini menggunakan sensor HC-SR04, dengan hasil jarak yang dihasilkan oleh sensor ultrasonic dan sistem multi -sensor yang

Variabel Dependen : Kinerja Manajerial Analisis Regresi Berganda Sumber Daya Manusia dan Perangkat Komputer baik secara parsial maupun secara simultan berpengaruh positif

Sebagai negara maritim, indonesia telah memiliki ‘modal’ dasar untuk menjadi negara yang unggul dalam dunia perekonomian, khususnya dalam sektor kemaritiman.. Peran PELINDO

Sedangkan penelitian ini meneliti mengenai pengaruh kepercayaan dan efektifitas penggunaan teknologi sistem informasi terhadap kinerja individual pada karyawan yang

yaitu (1) blok produksi yang diwakili oleh areal produksi dan produktivitas, (2) blok input yang diwakili oleh penggunaan pupuk dan tenaga kerja, (3) blok pendapatan yang diwakili

Ketersediaan pelayanan konsultasi gizi Tersedia 5 Pelayanan rekam medik Input Pemberi pelayanan rekam medis Sesuai standar. Proses Waktu penyediaan dokumen rekam medis

Nilai yang diperoleh akan menggambarkan seberapa besar dampak erupsi Gunungapi Merapi 2010 dalam hal ini digunakan hujan abu vulkanik terhadap produksi padi di