nugraheni | dimensi ekonomi pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya air 1
DIMENSI EKONOMI PEMANFAATAN DAN
PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR
1
Siwi Nugraheni
2Air adalah kehidupan. Ketersediaan air bersih akan mempengaruhi kesehatan, kualitas hidup, dan produktivitas manusia. Jika air demikian penting, pengelolaan dan pemanfaatannya harus berkelanjutan, agar kita terhindar dari krisis air bersih.
Krisis air artinya kebutuhan melebihi pasokan yang ada, baik dari sisi kuantitas (volume air), maupun kualitas. Secara kuantitatif, ketersediaan air di bumi sangat berlimpah. Lebih dari dua pertiga bumi merupakan air, dengan jumlah yang relatif tetap karena adanya siklus hidrologi. Akan tetapi, jika kita memperhitungkan kualitas, maka hanya dua setengah persen (2,5%) air yang ada di bumi adalah air bersih yang dapat dimanfaatkan, sisanya adalah air laut (asin). Dengan jumlah yang tetap di satu sisi, da ke aika ju lah pe ghu i bu i di sisi lai , aka jatah air bersih per kapita penduduk dunia akan semakin kecil. Dengan persebaran penduduk dan ketersediaan air yang tidak merata, wilayah-wilayah tertentu di dunia sudah dan akan mengalami krisis air bersih.
Wilayah Indonesia secara keseluruhan sebetulnya berlimpah sumber daya air. Ketersediaan air adalah 15.500 m3/kapita/tahun, di atas rata-rata dunia yang sebesar 8.000m3/kapita/tahun (Kementerian Lingkungan Hidup). Namun, di wilayah-wilayah tertentu, terutama kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung, sudah terjadi kekurangan air bersih (paling tidak bagi sebagian penduduknya, dan/atau pada musim kemarau).
Masalah yang berkaitan dengan sumber daya air di kota-kota besar Indonesia bukan hanya kelangkaan dari sisi kuantitas, tetapi juga tingkat pencemarannya yang tinggi. Tahun 2014 yang lalu film dokumenter yang bercerita tentang Citarum sebagai sungai terkotor di dunia disiarkan sebuah stasiun televisi Inggris (Unreported World: the world dirtiest river, Channel4, 11 April 2014). Limbah rumah tangga dan industri menutup hampir seluruh permukaan sungai, menyebabkan tingkat polusi di Sungai Citarum berkali lipat di atas ambang batas aman.
Situasi yang kontradiktif, kelangkaan air di satu sisi, sementara manusia tetap berperilaku mengotori sumber air (eg. Sungai Citarum) di sisi lain, adalah akibat dari sifat sumber daya air sebagai common-pool resource (CPR). Sumber daya air, seperti sumber daya alam CPR lainnya (eg.sumber daya ikan dan padang rumput penggembalaan) adalah barang yang memiliki karakteristik non-excludable, artinya pihak yang memanfaatkan tidak dapat dikecualikan dari pihak lain yang juga berpotensi mendapatkan manfaat dari penggunaan sumber daya alam yang sama (Ostrom, 1990). Selain non-excludable, CPR juga bersifat rivalrous. Berbeda dengan barang publik (public goods) yang tidak berkurang meskipun digunakan oleh banyak orang; CPR akan berkurang (kuantitas dan kualitasnya) seiring dengan jumlah penggunaan. Dengan karakteristik-karakteristik tersebut, jika tidak dikelola dengan benar, sumber daya air akan berakhir dengan eksploitasi yang berlebihan, tetapi pada saat yang sama pengguna juga tidak berupaya untuk melestarikannya. Sehingga akhirnya, inilah potret sumber daya air kita: sangat berharga karena berkaitan dengan hidup manusia, jumlahnya terbatas, tidak memerlukan pengorbanan finansial yang besar untuk
1
Majalah Parahyangan, Juli 2016.
2
nugraheni | dimensi ekonomi pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya air 2
mendapatkannya, meskipun ada nuansa perebutan (first come, first served); tetapi di sisi lain tidak ada upaya pelestarian.
Karakteristik yang dimiliki CPR adalah salah satu bentuk kegagalan pasar, sehingga pengelolaan CPR tidak dapat mengandalkan mekanisme pasar murni. Salah satu alternatif pengelolaan sumber daya air sebagai CPR adalah penguasaan sumber air oleh negara (state owned resource)dan mengatur alokasinya untuk tujuan kemakmuran bersama.Pembatalan Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air oleh Mahkamah Konstitusi (MK) pada awal tahun 2015 yang mengembalikan kepemilikan sumber daya air kepada negara membuka peluang pengelolaan sumber daya air di Indonesia yang lebih berkelanjutan.
Pengelolaan sumber daya dikatakan berkelanjutan jika: lestari dari sisi ekologi, alokasi yang adil antar kelompok masyarakat, dan efisien secara ekonomi3. Kelestarian ekologis sumber daya air yang akan menjamin pasokan air, bertumpu pada siklus hidrologi. Jika di setiap tahap siklus hidrologi, volume dan kualitas air tidak terganggu, maka keberadaan sumber daya air akan lestari. Tugas pemerintah adalah memastikan bahwa gangguan terhadap siklus hidrologi pada tingkat seminimal mungkin. Pengambilan air tanah tidak boleh dilakukan secara bebas tak terbatas. Penataan daerah hulu juga harus dilakukan. Pemetaan menyangkut wilayah resapan air pasti sudah banyak dilakukan; yang masih ditunggu adalah keberanian pemerintah menegakkan peraturan, menindak pihak-pihak yang bertanggungjawab atas alih fungsi lahan di daerah resapan air. Demikian pula dengan penegakan peraturan dalam hal pembuangan sampah dan limbah ke sumber air permukaan (sungai, danau, laut).
Pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan juga berarti distribusi air yang merata di antara kelompok masyarakat. Merata tidak berarti sama banyak; tetapi, kondisi berikut ini pasti tidak mencerminkan kemerataan: sekelompok masyarakat (biasanya miskin) tidak memiliki akses mendapatkan air bersih; sementara itu beberapa puluh meter dari permukiman mereka adalah perumahan dengan air bersih yang berlebih bahkan ketika sudah digunakan untuk mengisi kolam renang pribadi para pemilik rumah. Ketiadaan akses untuk mendapatkan air bersih memaksa kelompok masyarakat yang tinggal di permukiman kumuh membeli air dari penjaja keliling; dengan harga bervariasi antara Rp.1.000,- sampai Rp.5.000,- per jerigen dengan kapasitas 20 liter; yang berarti Rp.50.000,- sampai Rp.250.000,- per m3. Sementara itu, harga air dari jaringan PDAM untuk rumah tangga berkisar antara Rp.1.000,- sampai Rp.3.300,- per m3 (untuk pemakaian sampai 10 m3 per bulan) (data dari PDAM Bandung)4. Harga lebih mahal 50 kali lipat untuk barang dengan kualitas yang sama, sebab penjaja keliling mendapatkan pasokan dengan cara membeli air dari PDAM. Tugas pemerintah adalah membuat akses yang makin merata bagi seluruh lapisan masyarakat untuk mendapatkan air bersih.
Pemanfaatan air harus mencerminkan efisiensi secara ekonomi. Harga sebagai sinyal kelangkaan air harus mencerminkan seluruh biaya, bukan hanya biaya untuk pengolahan air baku menjadi air bersih, tetapi juga opportunity cost yang berkaitan dengan potensi nilai (value) dari penggunaan sumber daya air di masa yang akan datang (Kahn, 2005). Pemanfaatan sumber daya air saat ini akan mengurangi potensi pemanfaatan di masa yang akan datang, sebab air menjadi makin langka. Metode valuasi ekonomi atas sumber daya alam dan barang lingkungan biasanya digunakan untuk melakukan estimasi terhadap willingness to pay masyarakat atas sumber air bersih,
3
Tiga aspek keberlanjutan diambil dari tiga pilar pembangunan berkelanjutan (sustainable development) seperti yang diperkenalkan oleh UN World Commission on Environment and Development(atau Brundtland Commision) (1987).
4
nugraheni | dimensi ekonomi pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya air 3
sebagaiperkiraan besarnya opportunity cost (misalnya seperti yang dilakukan oleh Grafton & Kompas, 2007). Berapapun hasil estimasi atas besaran opportunity cost, yang paling penting adalah, sumber daya air harus diberi label harga yang benar, yang meliputi seluruh komponen biaya. Harga tidak hanya untuk menutupi biaya produksi tetapi juga harus menjadi insentif bagi pengguna sumber daya air untuk melestarikannya. Harga yang terlalu rendah akan berakibat pada eksploitasi yang berlebihan (over-exploitation).
Pengelolaan permintaan atas air bersih tidak hanya melalui penetapan harga yang tepat, tetapi dapat dilakukan lewat kebijakan penghematan air lainnya, mulai dari misalnya kewajiban menggunakan dan memasarkan peralatan yang lebih hemat air sampai penyebarluasan cara-cara menghemat air.Kesadaran masyarakat akan perlunya berhemat air harus selalu digemakan, sebelum akhirnya krisis air menjadi semakin serius dengan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki (irreversible degradation). Jangan sampai pepatah we ne er kno the orth of ater until the ell runs dry , berlaku.
Daftar Pustaka
Grafton, R.Q. dan Kompas, T. (2007). Pricing Sydney water. The Australian Journal of Agricultural and Resource Economics. 51(3):227-241.
Kahn, J.R. (2005). The Economic Approach to Environmental and Natural Resources, Ohio: Thomson– South Western.
Kementerian Lingkungan Hidup, Krisis Air di Jawa Semakin Parah, http://www.menlh.go.id/krisis-air-di-jawa-semakin-parah/ diunduh 10 Mei 2016.
Ostrom, E. (1990). Governing the Commons: The Evolution of Institutions for Collective Action. Cambridge, UK: Cambridge University Press.
Perusahaan Daerah Air Minum Bandung (PDAM Bandung),
http://www.pambdg.co.id/new2/index.php?option=com_content&view=article&id=73&Ite mid=87 diunduh 10 Mei 2016.