• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH DAN KESEHATAN MASYARAKAT KONTROVERSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH DAN KESEHATAN MASYARAKAT KONTROVERSI"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH KESEHATAN MASYARAKAT

KONTROVERSI TENTANG EUTHANASIA (HAK MATI)

(Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kesehatan Masyarakat yang dibina oleh Bapak Drs. Lud Waluyo, M.Kes)

Oleh :

Amin Hidayati (201310070311144)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

(2)

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa memberikan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah Kesehatan Masyarakat yang berjudul “Kontroversi tentang Euthanasia (Hak Mati)”.

Penulis menyadari bahwa penyusunan tugas makalah ini dapat disusun dengan baik karena adanya bantuan dari berbagai pihak yang dengan ikhlas telah merelakan sebagian waktu, tenaga, dan pikiran demi membantu penulis dalam menyusun tugas makalah ini. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang mendalam kepada:

1. Ibu Dr. Yuni Pantiwati, M.M, M.Pd. selaku Ketua Jurusan Program Studi Pendidikan Biologi;

2. Bapak Dr. Lud Waluyo, M.Kes. selaku dosen pengampu mata kuliah Kapita Selekta Biologi;

3. Orang tua penulis yang telah memberikan support serta doanya demi terselesaikannya tugas akhir ini;

4. Semua pihak yang telah berkenan membantu penulis selama penyusunan tugas akhir ini, yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Penulis berharap tugas makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

(3)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...i

KATA PENGANTAR...ii

DAFTAR ISI...iii

BAB I PENDAHULUAN...1

1.1 Latar Belakang...1

1.2 Rumusan Masalah ...3

1.3 Tujuan ...3

BAB II PEMBAHASAN ...4

2.1 Asal-usul Istilah Euthanasia...4

2.2 Sejarah Euthanasia...5

2.3 Kematian didefinisikan dari Sudut Pandang Ilmu Pengetahuan...7

2.4 Pengertian Euthanasia dan Macam-macamnya...8

2.5 Praktik Euthanasia di Berbagai Negara...13

2.6 Mengapa Euthanasia Dilakukan...16

2.7 Euthanasia Dari Sudut Pandang Pasien dan Keluarga...18

2.8 Euthanasia dilihat dari Sudut Pandang Agama Islam...19

BAB III PENUTUP ...22

3.1 Kesimpulan ...22

3.2 Saran ...22

(4)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Kesehatan masyarakat adalah ilmu dan seni mencegah penyakit, memperpanjang hidup, dan meningkatkan kesehatan melalui pengorganisasian masyarakat untuk perbaikan sanitasi lingkungan, pemberantasan penyakit menular, pendidikan kesehatan dan sebagainya (Winslow, 1920).

Setiap makhluk hidup, termasuk manusia, akan mengalami siklus kehidupan yang dimulai dari proses pembuahan, kelahiran, kehidupan di dunia dengan berbagai permasalahannya, serta diakhiri dengan kematian. Dari proses siklus kehidupan tersebut, kematian merupakan salah satu yang masih mengandung misteri besar dan ilmu pengetahuan belum berhasil menguaknya. Untuk dapat menentukan kematian seseorang sebagai individu diperlukan kriteria diagnostik yang benar berdasarkan konsep diagnostik yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

(5)

penderitaan menjelang ajalnya dan minta kepada dokter untuk tidak meneruskan pengobatan atau bila perlu memberikan obat yang mempercepat kematian. Dari sinilah istilah euthanasia muncul, yaitu melepas kehidupan seseorang agar terbebas dari penderitaan atau mati secara baik.

Masalah euthanasia semakin sering dibicarakan dan menarik banyak perhatian karena semakin banyak kasus yang dihadapi kalangan kedokteran dan masyarakat terutama setelah ditemukannya tindakan didalam dunia pengobatan dengan mempergunakan teknologi canggih dalam menghadapi keadaan-keadaan gawat dan mengancam kelangsungan hidup. Banyak kasus-kasus di pusat pelayanan kesehatan terutama di bagian gawat darurat dan di bagian unit perawatan intensif yang pada masa lalu sudah merupakan kasus yang sudah tidak dapat dibantu lagi.

(6)

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, dapat dirumuskan beberapa masalah yang akan dibahas yaitu kontroversi tentang euthanasia ini dengan rumusan masalah tersebut yaitu:

a. Bagaimana asal-usul istilah euthanasia? b. Bagaimana sejarah euthanasia?

c. Bagaimana kematian didefinisikan dari sudut pandang ilmu pengetahuan? d. Apa pengertian euthanasia dan macam-macamnya?

e. Bagaimana praktik euthanasia di berbagai negara? f. Mengapa euthanasia dilakukan?

g. Bagaimana euthanasia dari sudut pandang pasien dan keluarga?

h. Bagaimana euthanasia dilihat dari sudut pandang agama islam?

1.2 Tujuan

a. Mengetahui asal-usul istilah euthanasia b. Mengetahui sejarah euthanasia

c. Mengetahui tentang kematian didefinisikan dari sudut pandang ilmu pengetahuan

d. Mengetahui definisi euthanasia dan macam-macamnya e. Mengetahui praktik euthanasia di berbagai negara f. Mengetahui mengapa euthanasia harus dilakukan

(7)

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Asal-usul Istilah Euthanasia

Eutanasia (Bahasa Yunani: eu yang artinya "baik", dan thanatos yang berarti kematian) yang apabila digabungkan berarti “kematian yang baik” atau artinya praktik pencabutan kehidupan manusia atau hewan melalui cara yang dianggap tidak menimbulkan rasa sakit atau menimbulkan rasa sakit yang minimal, biasanya dilakukan dengan cara memberikan suntikan yang mematikan. Oleh karena euthanasia bisa disebut dengan mercy killing atau mati dengan tenang dan membiarkan seseorang untuk mati (mercy death). Ada juga yang mengartikan sebagai a god or happy death (Bertens, K. 2003). Hippokrates pertama kali menggunakan istilah “euthanasia” ini pada “Sumpah Hippokrates” yang ditulis pada masa 400-300 SM. Sumpah tersebut berbunyi: “Saya tidak akan menyarankan dan atau memberikan obat yang mematikan kepada siapapun meskipun telah dimintakan untuk itu” (Hanafiah, J.M., Amir A., 1999). Euthanasia menurut para ahli:

a. Philo :“euthanasia berarti mati dengan tenang dan baik”. b. Suetonis :“euthanasia berarti mati cepat tanpa derita”.

c. Hilman :“euthanasia berarti pembunuhan tanpa penderitaan (mercy killing)”.

(8)

sedangkan di negara-negara lainnya dianggap melanggar hukum. Oleh karena sensitifnya pemberitaan ini, pembatasan dan prosedur yang ketat selalu diterapkan tanpa memandang status hukumnya

2.2 Sejarah Euthanasia

Sekitar tahun 400 sebelum Masehi, sebuah sumpah yang terkenal dengan sebutan The Hippocratic Oath yang dinyatakan oleh seorang Fisikawan Hipokratis Yunani, dengan jelas mengatakan: “Saya tidak akan memberikan obat mematikan pada siapapun, atau menyarankan hal tersebut pada siapapun. The Hippocratic Oath Sekitar abad ke-14 sampai abad ke-20, Hukum Adat Inggris yang dipetik oleh Mahkamah Agung Amerika tahun 1997 dalam pidatonya: Lebih jelasnya, selama lebih dari 700 tahun, orang Hukum Adat Amerika Utara telah menghukum atau tidak menyetujui aksi bunuh diri individual ataupun dibantu.

(9)

Tahun 1939, Nazi Jerman memberlakukan euthanasia secara nonsukarela. Pada masa itu, pasukan Nazi Jerman melakukan suatu tindakan kontroversial, yaitu dengan memberlakukan euthanasia terhadap anak-anak di bawah umur 3 tahun yang menderita keterbelakangan mental, cacat tubuh, ataupun gangguan lainnya yang menjadikan hidup mereka tak berguna. Program pemberlakuan euthanasia ini dikenal dengan nama Aksi T4 (“Action T4″). Dalam pelaksanaan program ini, para ahli medis memberikan tanda (+) dengan pensil merah atau tanda (-) dengan pensil biru di setiap lembar kasus anak-anak tersebut. Tanda (+) merah berarti mereka memutuskan untuk membunuh anak tersebut, sedangkan tanda (-) biru berarti mereka memutuskan untuk membiarkan anak tersebut hidup. Jika tiga tanda (+) merah telah dikeluarkan, maka anak tersebut akan dikirim ke Departemen Khusus Anak di mana mereka akan menerima kematian dengan suntik mati atau dengan cara dibiarkan mati kelaparan (Rachels, James. 1986).

(10)

yang dilakukan secara tidak sukarela ataupun karena disebabkan oleh cacat genetika (Hanafiah, J.M., Amir A., 1999).

Tahun 1955, Belanda sebagai negara pertama yang mengeluarkan undang-undang yang menyetujui euthanasia, dan diikuti oleh Australia yang melegalkannya di tahun yang sama. Setelah dua negara itu mengeluarkan undang-undang yang sah tentang euthanasia, beberapa negara masih menganggapnya sebagai konflik, namun ada juga yang ikut mengeluarkan undang-undang yang sama.

2.3 Kematian didefinisikan dari Sudut Pandang Ilmu Pengetahuan

(11)

sebenarnya diawali dari penyumbangan besar secara medis untuk penelitian Biomedis federal sebelum Perang Dunia ke-II. Hasil dari semua itu datang seiring dengan berkembangnya teknologi medis seperti sistem respirasi mekanis, dan genetic screening, semuanya mendatangkan efek pada bentuk obat-obat modern, meningkatkan pertanyaan-pertanyaan baru tentang hidup dan mati baik untuk pasien maupun dokter.

Transplantasi adalah contoh klasik dari investigasi therapeutic, begitu kata Thomas Starzl, seorang ahli bedah transplantasi. Apa yang dilakukan dalam transplantasi jaman dulu kadang-kadang terbilang bodoh tapi tidak hina. Yang mendorong para perintis bedah transplantasi ini adalah satu keinginan untuk tidak meninggalkan satu tempat pun untuk eksperimen yang tidak dicoba. Pada awalnya, bedah transplantasi tidak berhasil dengan tujuannya untuk memindahkan organ tubuh dari pasien yang telah meninggal ke pasien yang masih hidup. Tapi beberapa dokter percaya mereka bisa mendapatkan organ yang bisa ditransplantasi dari orang mati suri, yang masih dikatakan hidup sampai waktu tertentu dalam standar medis. Kematian otak, menawarakan solusi yang memungkinkan. Juga menyebabkan sebuah perubahan dalam pemikiran tentang hukum kematian.

2.4 Pengertian Euthanasia dan Macam-macamnya

(12)

atau penderitaan yang dialami oleh seseorang yang akan meninggal, juga berarti mempercepat kematian seseoran yang berada dalam kesakitan dan penderitaan yang hebat menjelang kematiannya.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, euthanasia berarti tindakan mengakhiri dengan sengaja kehidupan makhluk (orang ataupun hewan piaraan) yang sakit berat atau luka parah dengan kematian yang tenang dan mudah atas dasar perikemanusiaan. Euthanasia terdiri dari berbagai macam jenis dan tujuan. Beberapa di antaranya adalah:

a. Dilihat dari orang yang membuat keputusan euthanasia dibagi menjadi:

 Voluntary euthanasia, jika yang membuat keputusan adalah orang yang sakit dan atas kemauannya sendiri, dan

 Involuntary euthanasia, jika yang membuat keputusan adalah orang lain seperti pihak keluarga atau dokter karena pasien mengalami koma medis.

b. Menurut Chrisdiono (2007) bahwa euthanasia dapat dibedakan menjadi:  Euthanasia aktif, yaitu tindakan secara sengaja yang dilakukan

dokter atau tenaga kesehatan lain untuk memperpendek atau mengakhiri hidup si pasien. Misalnya, memberi tablet sianida atau menyuntikkan zat-zat berbahaya ke tubuh pasien.

(13)

oksigen bagi pasien yang mengalami kesulitan dalam pernapasan atau tidak memberikan antibiotika kepada penderita pneumonia berat, dan melakukan kasus malpraktik. Disebabkan ketidaktahuan pasien dan keluarga pasien, secara tidak langsung medis melakukan euthanasia dengan mencabut peralatan yang membantunya untuk bertahan hidup.  Autoeuthanasia. Seorang pasien menolak secara tegas dengan sadar

untuk menerima perawatan medis dan ia mengetahui bahwa itu akan memperpendek atau mengakhiri hidupnya. Dengan penolakan tersebut, ia membuat sebuah codicil (pernyataan tertulis tangan). Autoeuthanasia pada dasarnya adalah euthanasia atas permintaas sendiri (APS).

c. Euthanasia ditinjau dari sudut cara pelaksanaannya

Bila ditinjau dari cara pelaksanaannya, euthanasia dapat dibagi menjadi tiga kategori:

Euthanasia agresif, disebut juga euthanasia aktif, adalah suatu

tindakan secara sengaja yang dilakukan oleh dokter atau tenaga kesehatan lainnya untuk mempersingkat atau mengakhiri hidup seorang pasien. Euthanasia agresif dapat dilakukan dengan pemberian suatu senyawa yang mematikan, baik secara oral maupun melalui suntikan. Salah satu contoh senyawa mematikan tersebut adalah tablet sianida.

Euthanasia non agresif, kadang juga disebut euthanasia otomatis

(14)

untuk menerima perawatan medis meskipun mengetahui bahwa penolakannya akan memperpendek atau mengakhiri hidupnya. Penolakan tersebut diajukan secara resmi dengan membuat sebuah "codicil" (pernyataan tertulis tangan). Euthanasia non agresif pada dasarnya adalah suatu praktik eutanasia pasif atas permintaan pasien yang bersangkutan.

Euthanasia pasif dapat juga dikategorikan sebagai tindakan

euthanasia negatif yang tidak menggunakan alat-alat atau langkah-langkah aktif untuk mengakhiri kehidupan seorang pasien. Euthanasia pasif dilakukan dengan memberhentikan pemberian bantuan medis yang dapat memperpanjang hidup pasien secara sengaja. Beberapa contohnya adalah dengan tidak memberikan bantuan oksigen bagi pasien yang mengalami kesulitan dalam pernapasan, tidak memberikan antibiotika kepada penderita pneumonia berat, meniadakan tindakan operasi yang seharusnya dilakukan guna memperpanjang hidup pasien, ataupun pemberian obat penghilang rasa sakit seperti morfin yang disadari justru akan mengakibatkan kematian.

d. Euthanasia ditinjau dari sudut pemberian izin

Ditinjau dari sudut pemberian izin maka euthanasia dapat digolongkan menjadi tiga yaitu :

Euthanasia di luar kemauan pasien: yaitu suatu tindakan euthanasia

(15)

Tindakan euthanasia semacam ini dapat disamakan dengan pembunuhan.

Euthanasia secara tidak sukarela: Euthanasia semacam ini adalah

yang seringkali menjadi bahan perdebatan dan dianggap sebagai suatu tindakan yang keliru oleh siapapun juga. Hal ini terjadi apabila seseorang yang tidak berkompeten atau tidak berhak untuk mengambil suatu keputusan misalnya statusnya hanyalah seorang wali dari pasien (seperti pada kasus Terri Schiavo). Kasus ini menjadi sangat kontroversial sebab beberapa orang wali mengaku memiliki hak untuk mengambil keputusan bagi si pasien.

Euthanasia secara sukarela: Euthanasia dilakukan atas persetujuan

(16)

2.5 Praktik Euthanasia di Berbagai Negara a. Belanda

Pada tanggal 10 April 2001 Belanda menerbitkan undang-undang yang mengizinkan euthanasia. Undang-undang ini dinyatakan efektif berlaku sejak tanggal 1 April 2002, yang menjadikan Belanda menjadi negara pertama di dunia yang melegalisasi praktik euthanasia. Pasien-pasien yang mengalami sakit menahun dan tak tersembuhkan, diberi hak untuk mengakhiri penderitaannya. Tetapi perlu ditekankan, bahwa dalam Kitab Hukum Pidana Belanda secara formal euthanasia dan bunuh diri berbantuan masih dipertahankan sebagai perbuatan kriminal. Tahun 1993, Belanda secara hukum mengatur kewajiban para dokter untuk melapor semua kasus euthanasia dan bunuh diri berbantuan. Instansi kehakiman selalu akan menilai betul tidaknya prosedurnya. Pada tahun 2002, sebuah konvensi yang berusia 20 tahun telah dimodifikasi oleh undang-undang belanda, dimana seorang dokter yang melakukan euthanasia pada suatu kasus tertentu tidak akan dihukum.

b. Australia

(17)

tetapi bulan Maret 1997 ditiadakan oleh keputusan Senat Australia, sehingga harus ditarik kembali.

c. Belgia

Parlemen Belgia telah melegalisasi tindakan eutanasia pada akhir September 2002. Para pendukung eutanasia menyatakan bahwa ribuan tindakan eutanasia setiap tahunnya telah dilakukan sejak dilegalisasikannya tindakan eutanasia di negara ini, namun mereka juga mengkritik sulitnya prosedur pelaksanaan eutanasia ini sehingga timbul suatu kesan adanya upaya untuk menciptakan "birokrasi kematian". Belgia kini menjadi negara ketiga yang melegalisasi eutanasia (setelah Belanda dan negara bagian Oregon di Amerika). Senator Philippe Mahoux, dari partai sosialis yang merupakan salah satu penyusun rancangan undang-undang tersebut menyatakan bahwa seorang pasien yang menderita secara jasmani dan psikologis adalah merupakan orang yang memiliki hak penuh untuk memutuskan kelangsungan hidupnya dan penentuan saat-saat akhir hidupnya

d. Amerika

(18)

euthanasia. Syarat-syarat yang diwajibkan cukup ketat, dimana pasien terminal berusia 18 tahun ke atas boleh minta bantuan untuk bunuh diri, jika mereka diperkirakan akan meninggal dalam enam bulan dan keinginan ini harus diajukan sampai tiga kali pasien, dimana dua kali secara lisan (dengan tenggang waktu 15 hari di antaranya) dan sekali secara tertulis (dihadiri dua saksi dimana salah satu saksi tidak boleh memiliki hubungan keluarga dengan pasien). Dokter kedua harus mengkonfirmasikan diagnosis penyakit dan prognosis serta memastikan bahwa pasien dalam mengambil keputusan itu tidak berada dalam keadaan gangguan mental. Hukum juga mengatur secara tegas bahwa keputusan pasien untuk mengakhiri hidupnya tersebut tidak boleh berpengaruh terhadap asuransi yang dimilikinya baik asuransi kesehatan, jiwa maupun kecelakaan ataupun juga simpanan hari tuanya.

e. Indonesia

(19)

Ketua umum pengurus besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Farid Anfasal Moeloek dalam suatu pernyataannya yang dimuat oleh majalah Tempo Selasa 5 Oktober 2004 menyatakan bahwa Euthanasia atau "pembunuhan tanpa penderitaan" hingga saat ini belum dapat diterima dalam nilai dan norma yang berkembang dalam masyarakat Indonesia. "Euthanasia hingga saat ini tidak sesuai dengan etika yang dianut oleh bangsa dan melanggar hukum positif yang masih berlaku.

2.6 Mengapa Euthanasia Dilakukan

Meski banyak pihak, bahkan hukum, mengatakan bahwa euthanasia tidak boleh dilakukan, praktik euthanasia tetap terjadi dikalangan masyarakat. Euthanasia adalah sebuah aksi pencabutan nyawa seseorang. Karena itu dilakukannya aksi tersebut harus didukung dengan alasan yang kuat. Dari beberapa survey negara dan penyaringan sumber, berikut adalah tiga alasan utama menurut Math, C. (2012) mengapa euthanasia itu bisa dilakukan:

a. Rasa Sakit yang Tidak Tertahankan

(20)

Karena itulah kita bisa menyimpulkan bahwa sebenarnya tidak ada rasa sakit yang tidak terkendali, namun beberapa pendapat menyatakan bahwa hal tersebut memang bisa dilakukan dengan mengirim seseorang ke keadaan tanpa rasa sakit, tapi mereka tetap harus di euthanasiakan karena cara tersebut tidak terpuji. Hampir semua rasa sakit bisa dihilangkan, adapun yang sudah sebegitu parah bisa dikurang jika perawatan yang dibutuhkan tersedia dengan baik. Tapi euthanasia bukalah jawaban dari skandal tersebut. Solusi terbaik untuk masalah ini adalah dengan meningkatkan mutu para profesional medis dan dengan menginformasikan pada setiap pasien, apa saja hak-hak mereka sebagai seorang pasien.

b. Hak untuk Melakukan Bunuh Diri

(21)

memfasilitasi kematian orang lain. Ini bisa mengarah ke suatu tindakan penyiksaan pada akhirnya (Perdana, M. 2011).

c. Haruskah Seseorang Dipaksa untuk Hidup?

Jawabannya adalah tidak. Bahkan tidak ada hukum atau etika medis yang menyatakan bahwa apapun akan dilakukan untuk mempertahankan pasien tetap hidup. Desakan, melawan permintaan pasien, menunda kematian dengan alasan hukum dan sebagainya juga bisa dinilai kejam dan tidak berperikemanusiaan. Saat itulah perawatan lebih lanjut menjadi tindakan yang tanpa rasa kasihan, tidak bijak, atau tidak terdengar sebagai perilaku medis. Hal yang harus dilakukan adalah dengan menyediakan perawatan di rumah, bantuan dukungan emosional dan spiritual bagi pasien dan membiarkan sang pasien merasa nyaman dengan sisa waktunya.

2.7 Euthanasia Dari Sudut Pandang Pasien dan Keluarga

(22)

telah menyusahkan berbagai pihak. Itulah beberapa alasan euthnasia dianggap menjadi jalan keluar terbaik yang bisa dilakukan dan permohonan untuk euthanasia pun diajukan.

Pasien terkadang sudah dalam keadaan koma dan tidak sadar secara akut dan permintaan untuk tindakan euthanasia itu sendiri merupakan permintaan pihak keluarga. Beberapa keluarga mempunyai alasan tersendiri, misalkan sudah tidak tahan melihat anggota keluarganya menahan sakit tak tertahankan walaupun segala usaha penyembuhan telah dilakukan. Keluarga pun juga terpepet masalah biaya yang tentunya semakin membengkak jika anggota keluarganya terus terbaring dan dirawat di rumah sakit. Itulah aspek kemanusiaan dan ekonomi yang mendorong keluarga pasien untuk mempertimbangkan jalan euthanasia (Bertens, K. 2003).

2.8 Euthanasia dilihat dari Sudut Pandang Agama Islam

(23)

dirimu sendiri", (QS. An-Nisaa’: 4), yang makna langsungnya adalah "Janganlah kamu saling berbunuhan." Dengan demikian, seorang Muslim (dokter) yang membunuh seorang Muslim lainnya (pasien) disetarakan dengan membunuh dirinya sendiri.

Euthanasia dalam ajaran Islam disebut qatl ar-rahmah atau taisir al-maut (eutanasia), yaitu suatu tindakan memudahkan kematian seseorang dengan sengaja tanpa merasakan sakit, karena kasih sayang, dengan tujuan meringankan penderitaan si sakit, baik dengan cara positif maupun negatif. Pada konferensi pertama tentang kedokteran Islam di Kuwait tahun 1981, dinyatakan bahwa tidak ada suatu alasan yang membenarkan dilakukannya euthanasia ataupun pembunuhan berdasarkan belas kasihan (mercy killing) dalam alasan apapun juga.

(24)

Menciptakannya. Karena itu serahkanlah urusan tersebut kepada Allah, karena Dia-lah yang memberi kehidupan kepada manusia dan yang mencabutnya apabila telah tiba ajal yang telah ditetapkan-Nya.

(25)

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Sampai saat ini, euthanasia masih menjadi perdebatan dalam hidup umat manusia. Ada yang bersikap pro dan ada yang bersikap kontra terhadap euthanasia. Beberapa negara bahkan sudah melegalkan dan mengatur praktek euthanasia. Sedangkan di indonesia hingga saat ini euthanasia belum dapat diterima dalam nilai dan norma yang berkembang dalam masyarakat Indonesia karena tidak sesuai dengan etika yang dianut oleh bangsa dan melanggar hukum yang masih berlaku.

Akhirnya euthanasia merupakan masalah tapi dengan penanganan yang tepat hal itu bukan tidak mungkin untuk diatasi. Baik atau buruknya euthanasia bukanlah yang terpenting. Karena semua orang juga tidak menginginkan mendapat penyakit hingga stadium lanjut dan rasa sakit baik fisik atau psikologis yang bisa memunculkan keinginan untuk mati. Dan yang pasti tergantung individu itu sendiri menanggapi tentang euthanasia.

3.2 Saran

(26)

DAFTAR PUSTAKA

Bertens, K. 2003. Keprihatinan Moral. Yogyakarta: Penerbit Kanisius

Chrisdiono, M. 2007. Dinamika Etika dan Hukum Kedokteran dalam Tantangan Zaman. Jakarta: Penerbit Buku Ilmu Kedokteran EGC

Hanafiah, J.M., Amir A. 1999. Etika Kedokteran dan Hukum Kesehatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Math, C. 2012. Euthanasia: Right to life vs Right to die. Indian J Med Res (136) 899-902

Perdana, M. 2011. Analisis Penggunaan Hak Euthanasia (Hak Untuk Mengakhiri Hidup) Oleh Pasien Menurut Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999

Tentang Hak Asasi Manusia dan Penerapan Hukumnya di Indonesia

dengan Negara lain (Belandan, Belgia, Amerika). UNS

Rachels, James. 1986. The End of Life: Euthanasia and Morality. New York: Oxford University Press.

Rada, A. 2013. Euthanasia dalam Perspektif Hukum Islam. Jurnal Perspektif. XVIII (2) 108-117

Referensi

Dokumen terkait

Demikian pula dalam Konvensi Internasional tentang Hak-Hak Ekonomi Sosial dan Budaya pasal 12 dan Pembukaan Konstitusi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) antara lain dinyatakan

(5) Besaran Standar Satuan Harga untuk insentif Tenaga Lainnya pada Perangkat Daerah yang terlibat dalam penanganan COVID-19 sebesar Rp100.000,00 (seratus ribu

dengan sebelas orang penari, yang terdiri dari tujuh orang penari laki-laki, dan empat orang penari perempuan dengan menggunakan musik langsung yang terdiri dari

Karena itu, dalam menyusun kurikulum atau program pendidikan Islam bisa bertolak dari problem yang dihadapi dalam masyarakat sebagai isi pendidik, sedangkan proses atau

The writer wishes to express the highest gratitude to Allah SWT for the blessing with health and great power, so the writer can finish this final project entitled

Phoenix does a particularly poor job serving such students: while its stated 31 percent overall graduation rate is no cause for pride, its first-time-student graduation rate is

Formasi Oyo, dan Formasi Wonosari batulempung, napal tufan, batugamping terumbu, dan kalkarenit pegunungan struktural terbiku kuat S 4 andesit tua Formasi Bemmelen,

Akankah esok kembali ,aku masih kau beri kehidupan yang berarti?. Wahai dunia dan