commit to user
PENGARUH POPULATION, EMPLOYMENT, SIZE DAN LEVERAGE
TERHADAP KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH DI
INDONESIA
SKRIPSI
Diajukan Guna Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat
Untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta
Oleh :
HABIB CANDRA DARMANTO
F0308048
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
commit to user
ii PENGARUH POPULATION, EMPLOYMENT, SIZE, DAN LEVERAGE
TERHADAP KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH DI
INDONESIA
ABSTRAKSI
HABIB CANDRA DARMANTO
F0308048
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh jumlah penduduk (population), jumlah tenaga kerja (employment), ukuran (size) pemerintah daerah, dan leverage mempengaruhi kinerja keuangan pemerintah daerah di Indonesia yang dinyatakan dengan current ratio (CR), debt to equity ratio (DER), assets turnover (AT), operating revenue to total revenue (ORTR), dan operating revenue to operating expense (OROE).
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 704 laporan keuangan pemerintah daerah di Indonesia tahun 2008-2010. Sampel ini dipilih berdasarkan purposive sampling method. Penelitian ini menggunakan alat analisis data regresi berganda dengan bantuan software komputer untuk statistik SPSS versi 16.0
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel jumlah penduduk (population) dan leverage berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah di indonesia, sedangkan variabel jumlah tenaga kerja (employment) dan ukuran (size) pemerintah daerah tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah di Indonesia.
commit to user
iii THE EFFECT OF POPULATION, EMPLOYMENT, SIZE, AND
LEVERAGETO FINANCIAL PEFORMANCE OF LOCAL
GOVERNMENT IN INDONESIA
ABSTRAC
HABIB CANDRA DARMANTO
F0308048
This study aims to analyze the influence of population, employment, size, and leverage affect financial performance of local government in Indonesia which is indicated by current ratio (CR), debt to equity ratio (DER), assets turnover
(AT), operating revenue to total revenue (ORTR), and operating revenue to operating expense (OROE).
This research used 704 financial report of local government in Indonesia at 2008-2010 as the samples. This samples was selected using proportional purposive sampling method. This research used a multiple regression analysis of data with the help of computer software for stastitical 16.0 version of SPSS
The result of this study showed that the variables population and leverage affect the financial performance of local government in Indonesia. But, the variables employment and size gives no affect on the financial performance of local government in Indonesia.
commit to user
commit to user
commit to user
vi MOTTO
…Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan
kesanggupannya…
(QS. Al-Baqarah : 286)
…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di
antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat…
(QS. Al-Mujadaadilah : 11)
Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari dijalan itu
sesuatu ilmu niscaya Allah akan memudahkan kepada orang itu
jalan menuju surga
(Hadits Rasulullah Muhammad SAW riwayat Muslim)
Ngelmu iku kalakone kanthi laku
(filosofi jawa)commit to user
vii PERSEMBAHAN
Penelitian ini kupersembahkan kepada….
Bapak, ibuk, dan keluarga tercinta.Do’a kalian luar
biasa.
Bapak dan ibu guru/dosen almamaterku SDN Sidodadi
1 Sragen, SMP Al – Islam 1 Surakarta, SMAN
6 Surakarta, dan FE UNS Surakarta. Terima
Kasih atas ilmu yang diberikan.
commit to user
viii KATA PENGANTAR
Puji syukur Penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat,
karunia, segala nikmat, dan kekuatan, sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi yang berjudul “PENGARUH POPULATION, EMPLOYMENT, SIZE,
DAN LEVERAGE TERHADAP KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH
DAERAH DI INDONESIA”, sebagai tugas akhir guna memenuhi syarat-syarat
untuk mencapai gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas Sebelas
Maret.
Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan skripsi ini tidak terlepas
dari dorongan dan bantuan banyak pihak. Oleh karenanya, penulis dengan ini
mengucapkan terima kasih kepada:
1. Allah SWT Azza wa Jalla atas segalanya.
2. Bapak Dr. Wisnu Untoro, MS selaku dekan Fakultas Ekonomi Universitas
Sebelas Maret Surakarta.
3. Bapak Drs. Santosa Tri Hananto, M.Si., Ak. selaku Ketua Jurusan
Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret
4. Drs. Jaka Winarna M.Si., Ak., selaku pembimbing yang sangat membantu
penulis untuk mencapai hasil yang terbaik.
5. Bapak Drs. Eko Arief S, M.Si,Ak. Selaku pembimbing akademik yang
memberikan arahan kepada penulis selama masa perkuliahan di FE UNS.
6. Ibu, Bapak yang selalu menyertai doa, motivasi, dan nasehat untuk
keberhasilan kami. Semoga Allah membalas segala jasa kalian dengan
commit to user
ix 7. Adikku yang tercinta, Fauzia Kartika Darmanto yang menjadi teman
bercanda di rumah. Semoga kuliahnya di jurusan akuntansi bisa lebih baik
dari kakaknya. Amin
8. Keluarga besar organisasi tempat dimana saya belajar selain di kampus.
BEM FE UNS kabinet Merdeka (Mas Bardjos, Mbak Finik, Mas
Hera,Mas Firhat, Mbak Finik dll) dan Pergerakan (Mas Fitrah, Mbak Rini,
Ida, Suryati, Reza gundul, Suryo, Zulfikar, Suroto dll) BEM UNS kabinet
inspiratif, dan BPPI FE UNS. Makasih atas pengalaman yang diberikan.
9. Sahabat sehidup sematic Roofi’udien Arroozy, sekolah SMP, SMA, dan
Universitas yang sama, motor sama, HP sama, teman menggila, teman
touring menembus jalanan aspal mencari kepuasan berkeliling ke pelosok
daerah. Kita memang sehati. Kita sama-sama akuntansi, bedanya kamu
jadi pak guru, jangan ajari muridmu hal-hal yang nyleneh.
10.Teman-teman Akuntansi angkatan 2008 FE UNS yang luar biasa.
11.Geng Murni (Vendi, Andre, Wis2, Dio, Isnan) teman kumpul dikala jam
kosong kuliah, Nata dan Adhib yang kosnya bisa dijadikan tempat
singgah, club badminton PB Inflasi (Ardhan, Wahyu, Ari, Roni, Faris,
Dwi, Argo, David, Adhib dll) dengan stadion kebanggan bulukantil yang
menjadi tempat olahraga dan penghilang penat kuliah.
12.Keluarga besar Beswan Djarum, khususnya Beswan angkatan 26 Solo (bro
Deni item, cak deni putih, cak Adhib, jon Suryo, jer Hawari, pak Heri,
dokter Wildan, jer Ucup, jer Fajar, jer Ardhi, jer Hafidz, Dian, Sarah, Nita,
Raras, Indah, Tanti, Ririn, Rida, Shinta) teman menggila dan makasih atas
commit to user
x 13.Jack Queen King team (Nanda, Fauzi, Condro) teman seperjuangan
berkeluh kesah skripsi, biar mumet tapi bisa ngakak-ngakak.
14.Para penghuni kantor (alias perpustakaan) baik yang ngerjain skripsi
maupun yang sekedar download. Terima kasih telah meramaikan kantor
dan memberi motivasi teman-teman seperjuangan.
15.Sahabat-sahabat, saudara-saudari, mbak-mbak, mas-mas, adek-adek, dan
teman-teman seperjuanganku yang telah memberikan warna-warni pada
kehidupanku. Maaf tidak bisa menyebutkan kalian satu persatu. Kalau mau
disebut bisa request insya’allah jika diberi kesempatan membuat karya
yang lain.
Penulis menyadari bahwa karya ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu
kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak yang memiliki
ketertarikan dengan penelitian ini sangat penulis harapkan demi perbaikan yang
berkelanjutan.
Akhir kata, penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang
membutuhkan di kemudian hari. Terima kasih.
Alhamdulillahirobbil’alamin.
Surakarta, Juli 2012
commit to user
xi DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAKSI ... ii
ABSTRACT ... iii
HALAMAN PERSETUJUAN ... iv
HALAMAN PENGESAHAN... v
HALAMAN MOTTO ... vi
HALAMAN PERSEMBAHAN ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xv
DAFTAR GAMBAR ... xvi
DAFTAR LAMPIRAN ... xvii
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Perumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Penelitian ... 6
D. Manfaat Penelitian ... 7
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 8
A. Laporan Keuangan Pemerintah Daerah dan Tujuan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah ... 8
B. Komponen Laporan Keuangan Daerah ... 9
commit to user
xii
2. Neraca ... 9
3. Laporan Arus Kas ... 10
4. Catatan Atas Laporan Keuangan ... 10
C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Keuangan ... 11
D. kinerja Keuangan Pemerintah Daerah ... 12
E. Kerangka Pemikiran ... 13
F. Hipotesis ... 13
1. Population ... 13
2. Employment ... 14
3. Size ... 15
4. Leverage ... 16
BAB III. METODE PENELITIAN ... 17
A. Desain Penelitian... 17
B. Populasi, Sampel, dan Tehnik Pengambilan Sampel ... 17
C. Sumber Data ... 18
D. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ... 18
1. Variabel Dependen ... 19
a. Current Ratio ... 19
b. Debt to Equity Ratio ... 20
c. Assets turnover ... 20
d. Operating Revenues to Total Revenues ... 21
commit to user
xiii
2. Variabel Independen ... 21
a. Population ... 22
b. Employment ... 22
c. Size ... 22
d. Leverage ... 22
E. Metode Analisis Data ... 23
1. Statistik Deskriptif ... 23
2. Analisi Regresi Berganda ... 23
3. Uji Asumsi klasik ... 24
a. Uji Normalitas... 24
b. Uji Autokorelasi ... 25
c. Uji Multikolinieritas ... 25
d. Uji Heteroskedastisitas ... 26
4. Pengujian Hipotesis... 26
a. Uji Koefisien Determinasi (R2)... 26
b. Uji Regresi Simultan (Uji F) ... 27
c. Uji Regresi Parsial (Uji t) ... 27
BAB IV. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN ... 28
A. Deskripsi Data ... 28
B. Hasil dan Analisis Data ... 29
1. Analisis deskriptif statistik atas data ... 30
2. Uji asumsi klasik ... 31
a. Uji normalitas data ... 31
commit to user
xiv
c. Uji multikolonieritas ... 34
d. Uji heterokedastisitas ... 34
3. Pengujian hipotesis ... 35
a. Uji Koefisien Determinasi (R2)... 36
b. Uji Regresi Simultan (Uji F) ... 37
c. Uji Regresi Parsial (Uji t) ... 38
C. Pembahasan ... 39
BAB V. PENUTUP ... 42
A. Kesimpulan ... 42
B. Keterbatasan ... 43
C. Saran... 44
DAFTAR PUSTAKA
commit to user
xv DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
Tabel 1 Sampel Penelitian ... 28
Tabel 2 Deskripsi Statistik Data Penelitian ... 30
Tabel 3 Normalitas Data ... 31
Tabel 4 Normalitas setelah Transformasi dan Seleksi Data Outlier ... 32
Tabel 5 Uji Autokorelasi ... 33
Tabel 6 Uji Multikolonieritas ... 34
Tabel 7 Uji Heteroskedastisitas ... 35
Tabel 8 Uji Koefisien Determinasi ... 36
Tabel 9 Uji Signifikansi-F ... 37
commit to user
xvi DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
commit to user
xvii DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Daftar sampel tahun 2008
Lampiran 2 Daftar sampel tahun 2009
Lampiran 3 Daftar sampel tahun 2010
commit to user
commit to user
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 dan kemudian diperbaharui dengan
Undang No. 22 Tahun 2009 tentang pemerintahan daerah dan
Undang-Undang No 25 Tahun 1999 dan kemudian diperbaharui dengan Undang-Undang-undang
No. 33 Tahun 2004 tentang perimbangan keuangan pusat dan daerah merupakan
titik awal dimulainya otonomi daerah. Sebagai konsekuensi dari otonomi daerah
yang diterapkan di Indonesia, pemerintah daerah mempunyai kewajiban untuk
meningkatkan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat secara demokratis, adil,
merata, serta berkesinambungan. Kewajiban itu bisa dipenuhi apabila pemerintah
daerah mampu mengelola potensi daerahnya yaitu sumber daya alam, sumber
daya manusia, dan potensi sumber daya keuangan secara optimal. Dampak lain
dari adanya otonomi daerah adalah semakin kuatnya tuntutan masyarakat terhadap
penyelenggaraan pemerintahan yang baik (Erawati, 2009).
Namun setelah lebih dari sepuluh tahun otonomi berjalan, kinerja
pemerintah daerah untuk mewujudkan pemerintahan yang baik belum
menunjukkan perbaikan yang signifikan, termasuk dalam kinerja keuangan, jika
kita melihat dari Ikhtisar Hasil Pemeriksaan (IHP) Badan Pemeriksa Keuangan
(BPK) yang menunjukkan pada tahun 2010, dari 516 daerah yang diaudit, 7%
mendapat opini wajar tanpa pengecualian (WTP), 66% mendapatkan opini wajar
dengan pengecualian (WDP), 5% mendapatkan opini tidak wajar (TW) dan 22%
mendapatkan opini tidak memberikan pendapat (TMP). Sedangkan pada tahun
2009 dari 504 daerah yang diaudit, 3% mendapatkan opini wajar tanpa
commit to user
10% mendapatkan opini tidak wajar (TW), dan 22% mendapatkan opini tidak
memberikan pendapat (TMP). Dari data diatas menunjukkan bahwa masih
banyak daerah yang mendapatkan opini tidak wajar (TW) dan tidak memberikan
pendapat (TMP) menunjukkan bahwa masih buruknya kinerja permerintah daerah
dalam pengelolaan keuangan daerah sehingga berdampak buruk terhadap
penilaian pemerintah daerah oleh BPK yang berarti juga penyelenggaraan
pemerintahan yang baik belum bisa terwujud.
Salah satu cara bagi pemerintah daerah untuk mencapai pemerintahan
yang baik menurut Halacmi (2005) adalah dengan melakukan pengukuran kinerja.
Selain untuk meciptakan pemerintahan yang baik, pengukuran kinerja menurut
Mardiasmo (2007) adalah dalam rangka menciptakan pertanggungjawaban publik
berkaitan dengan pengelolaan pemerintahan di daerah, termasuk didalamnya
adalah pengelolaan keuangan daerah. Menurut Erawati (2009) salah satu alat yang
dapat digunakan untuk menganalisis kinerja pemerintah daerah dalam mengelola
keuangan daerahnya adalah melakukan analisis kinerja keuangan terhadap APBD
yang telah diterapkan dan dilaksanakan. Analisis kinerja keuangan tersebut
biasanya dinyatakan dengan rasio keuangan yang diidentifikasi dari laporan
keuangan pemerintah daerah (Suyono, 2010).
Kinerja keuangan pemerintah daerah tentunya dipengaruhi oleh banyak
faktor, menurut Groves et all (2001) faktor yang mempengaruhi kinerja keuangan
terdiri dari tiga kategori yaitu faktor lingkungan, faktor organisasional dan faktor
finansial. Beberapa penelitian yang meneliti tentang hubungan faktor – faktor
yang berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah menunjukkan
bahwa terdapat beberapa faktor yang berpengaruh terhadap kinerja keuangan
commit to user
adalah jumlah penduduk (population), tenaga kerja (employment) ukuran daerah
(size), dan leverage.
Population dan Employment merupakan bagian dari faktor-faktor
lingkungan yang mempengaruhi kinerja keuangan pemerintah daerah. Jumlah
penduduk (population) sebuah daerah akan berpengaruh tehadap pelayanan yang
diberikan oleh pemerintah daerah, menurut Cohen (2006) semakin besar jumlah
penduduk suatu daerah, maka akan menuntut pemerintah daerah untuk
meningkatkan pelayanan publik lebih baik, dengan adanya tuntuntan tersebut
maka pemerintah akan terdorong untuk meningkatkan kinerja dalam memberikan
pelayanan kepada masyarakat. Sedangkan jumlah tenaga kerja (employment) yang
dimiliki suatu daerah akan turut berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi
suatu daerah (Steven dan McGowen, 1983). Dengan demikian dapat dipahami
semakin besar jumlah tenaga kerja yang dimiliki daerah, maka pertumbuhan
ekonomi daerah tersebut akan semakin baik.
Sedangkan size dan leverage merupakan bagian dari faktor-faktor finansial
yang mempengaruhi kinerja keuangan. Ukuran daerah (size) menunjukkan
seberapa besar pemerintah daerah yang salah satunya dapat diukur dari jumlah
aset yang dimiliki daerah seperti penelitian yang dilakukan Black, Jang, dan Kim
(2003). Semakin besar suatu entitas maka akan memiliki kinerja yang lebih baik
dibanding entitas yang lebih kecil (Schmalensee,1989). Sedangkan besar kecilnya
leverage pemerintah daerah akan mempengaruhi tingkat kemampuan pemerintah
daerah membiayai kegiatan operasionalnya (Sumarjo, 2010). Semakin besar
leverage yang dimiliki oleh suatu entitas maka entitas tersebut memiliki kinerja
commit to user
Penelitian yang dilakukan Cohen (2006) terhadap pemerintah daerah di
Yunani dengan mengidentifikasikan faktor-faktor yang dapat menjadi moderator
kinerja keuangan pemerintah daerah menggunakan variabel gross domestic
product, population, real estate, tourist, dan capital. Sementara untuk mengukur
kinerja keuangan, Cohen menggunakan rasio keuangan yang terdiri dari return on
equity, return on assets, profit margin, current ratio, debt to equity, long term
liabilities to total assets, assets turnover, operating revenues to total revenues,
dan operating revenues to operating expenses. Hasil dari penelitian menunjukkan
bahwa kelima variabel berpengaruh terhadap variabel kinerja keuangan. Jumlah
penduduk dan capital adalah dua variabel yang berpengaruh lebih tinggi,
sementara rasio ROA, ROE dan profit margin tidak dipengaruhi oleh variabel
independen karena profitabilitas sektor publik berbeda dengan sektor swasta.
Suyono (2010) melakukan penelitian analisis laporan keuangan daerah di
Indonesia dengan menggunakan variabel independen revenue, expenditure, real
estate, capital, taxes, dan grant. Sementara variabel dependen yaitu kinerja
laporan keuangan daerah diproksikan dengan rasio keuangan yang terdiri dari
current ratio, debt to equity, assets turnover, operating revenues to total revenues,
dan operating revenues to total expenses. Hasil dari penelitian menunjukkan
hanya variabel revenue yang berpengaruh terhadap kinerja laporan keuangan
pemerintah daerah di Indonesia.
Sumarjo (2010) melakukan penelitian pengaruh karakteristik pemerintah
daerah terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah di Indonesia. Karateristik
pemerintah daerah dijelaskan dengan ukuran (size), kemakmuran (wealth), ukuran
legislatif, leverage, dan intergovermental revenue. Sementara untuk kinerja
keuangan pemerintah daerah dijelaskan dengan rasio efisiensi. Hasil dari
commit to user
revenue berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah, sementara
kemakmuran (wealth) dan ukuran legislatif tidak berpengaruh terhadap kinerja
keuangan pemerintah daerah.
Winarna (2010) melakukan penelitian terhadap pemerintah daerah di Jawa
Tengah tentang pengaruh revenue, expenditure, real estate, taxes, grant,
population tourist, gross domestic product, dan employment terhadap kinerja
keuangan pemerintah daerah yang diproksikan dengan tiga rasio keuangan yang
terdiri dari rasio kemandirian, rasio efisiensi, dan rasio efektivitas. Hasil dari
penelitian menunjukkan bahwa hanya variabel revenue dan expenditure yang
berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah, sementara untuk
variabel , real estate, taxes, grant, population tourist, gross domestic product, dan
employment tidak berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah.
Terdapat dua perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian
sebelumnya. Pertama, variabel dalam penelitian ini menggunakan variabel
independen berupa population, employment, leverage, dan size. Dalam penelitian
yang dilakukan Cohen (2006) dan Suyono (2010) tidak menggunakan keempat
variabel independen tersebut, sementara penelitian Sumarjo (2010) tidak
menggunakan variable independen population dan employment dan penelitian
yang dilakukan Winarna (2010) tidak menggunakan variabel independen size dan
leverage. Sementara untuk variabel dependen, penelitian ini mengacu pada
penelitian yang dilakukan Suyono (2010) dengan perbedaan yaitu variabel
independen. Kedua, periode dalam penelitian ini menggunakan periode dari tahun
2008 sampai dengan tahun 2010, sedangkan periode penelitian yang dilakukan
Suyono (2010) adalah dari tahun 2002 sampai dengan 2007, Sumarjo (2010)
menggunakan periode penelitian tahun 2008, dan Winarna (2010) menggunakan
commit to user
Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti ingin menguji faktor-faktor yang
mempengaruhi kinerja keuangan pemerintah daerah yang diproksikan dengan
lima rasio yakni : current ratio, debt to equity, assets turnover, operating
revenues to total revenues, dan operating revenues to operating expenses dengan
mengambil sampel laporan keuangan pemerintah daerah di Indonesia dan
menggunakan empat variabel independen: population, employment, size, dan
leverage yang mempengaruhi kinerja keuangan pemerintah daerah. Maka, judul
penelitian ini adalah “PENGARUH POPULATION, EMPLOYMENT, SIZE,
DAN LEVERAGE TERHADAP KINERJA KEUANGAN PEMERINTAH
DAERAH DI INDONESIA”
B. Perumusan Masalah
Perumusan masalah berdasarkan uraian diatas adalah sebagai berikut :
1. Apakah population mempengaruhi kinerja keuangan pemerintah daerah di
Indonesia?
2. Apakah employment mempengaruhi kinerja keuangan pemerintah daerah
di Indonesia?
3. Apakah size mempengaruhi kinerja keuangan pemerintah daerah di
Indonesia?
4. Apakah leverage mempengaruhi kinerja keuangan pemerintah daerah di
Indonesia?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh jumlah penduduk
(population), jumlah tenaga kerja (employment), ukuran (size) pemerintah daerah,
commit to user
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Pemerintah
Penelitian ini diharapkan bisa menjadi referensi terhadap evaluasi atas
kinerja pemerintah daerah, sehingga dapat memberikan masukan kepada
pemerintah dalam membuat peraturan yang berkaitan dengan kinerja
pemerintah daerah terutama dalam hal pengelolaan anggaran.
2. Bagi akademisi
Penelitian ini dapat menambah pengetahuan tentang sektor publik dan
menjadi referensi atas penelitian selanjutnya dalam hal sektor publik
3. Bagi masyarakat
Penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi bagi masyarakat sebagai
untuk mengetahui kinerja pemerintah daerah sehingga dapat dipergunakan
sebagai alat pengawasan terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah.
4. Bagi pemberi donasi, investasi, dan pinjaman
Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam
pengambilan keputusan memberikan donasi, investasi, dan pinjaman
commit to user
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Laporan Keuangan Pemerintah Daerah dan Tujuan Laporan Keuangan
Pemerintah Daerah
Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan (SPAP) Nomor 1 PP No 24
Tahun 2005 menyatakan Laporan keuangan merupakan laporan yang terstruktur
mengenai posisi keuangan dan transaksi-transaksi yang dilakukan oleh suatu
entitas pelaporan. Tujuan umum laporan keuangan adalah menyajikan informasi
mengenai posisi keuangan, realisasi anggaran, arus kas, dan kinerja keuangan
suatu entitas pelaporan yang bermanfaat bagi para pengguna dalam membuat dan
mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumber daya. Secara spesifik, tujuan
pelaporan keuangan pemerintah adalah untuk menyajikan informasi yang berguna
untuk pengambilan keputusan dan untuk menunjukkan akuntabilitas entitas
pelaporan atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya dengan kriteria
sebagai berikut:
1. menyediakan informasi mengenai posisi sumber daya ekonomi, kewajiban,
dan ekuitas pemerintah.
2. menyediakan informasi mengenai perubahan posisi sumber daya ekonomi,
kewajiban, dan ekuitas pemerintah.
3. menyediakan informasi mengenai sumber, alokasi, dan penggunaan sumber
daya ekonomi
4. menyediakan informasi mengenai ketaatan realisasi terhadap anggarannya.
5. menyediakan informasi mengenai cara entitas pelaporan mendanai
aktivitasnya dan memenuhi kebutuhan kasnya.
commit to user
penyelenggaraan kegiatan pemerintahan.
7. menyediakan informasi yang berguna untuk mengevaluasi kemampuan
entitas pelaporan dalam mendanai aktivitasnya.
B. Komponen Laporan Keuangan Daerah
Laporan keuangan daerah dibuat oleh entitas yang bersangkutan yaitu
pemerintah daerah. Sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan (SPAP) No.
1, dalam rangka untuk memenuhi tujuan umum atas laporan keuangan daerah,
maka dalam penyajian laporan keuangan harus menyediakan informasi mengenai
entitas pelaporan sebagai berikut:
1. laporan realisasi anggaran (LRA)
Laporan Realisasi Anggaran mengungkapkan kegiatan keuangan pemerintah
pusat/daerah yang menunjukkan ketaatan terhadap APBN/APBD. Laporan
Realisasi Anggaran menyajikan ikhtisar sumber, alokasi, dan penggunaan
sumber daya ekonomi yang dikelola oleh pemerintah pusat/daerah dalam
satu periode pelaporan. Dalam penyajian laporan realisasi anggaran
setidaknya harus memuat unsur pendapatan-LRA, belanja, transfer,
surplus/defisit-LRA, pembiayaan, sisa lebih/kurang pembiayaan anggaran.
Laporan realisasi anggaran juga menggambarkan perbandingan antara
anggaran dengan realisasinya dalam satu periode pelaporan.
2. neraca
Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan mengenai
aset, kewajiban, dan ekuitas pada tanggal tertentu. Neraca menyajikan
secara komparatif dengan periode sebelumnya pos-pos kas dan setara kas,
investasi jangka pendek, piutang pajak dan bukan pajak, persediaan,
commit to user
jangka panjang, dan ekuitas.
3. laporan arus kas
Laporan arus kas menyajikan informasi mengenai sumber, penggunaan,
perubahan kas dan setara kas selama satu periode akuntansi, dan saldo kas
dan setara kas pada tanggal pelaporan. arus masuk dan keluar kas
diklasifikasikan berdasarkan aktivitas operasi, investasi, pendanaan, dan
transitoris.
4. catatan atas laporan keuangan
Agar laporan keuangan dapat digunakan oleh pengguna dalam memahami
dan membandingkannya dengan laporan keuangan entitas lainnya, catatan
atas laporan keuangan sekurang-kurangnya disajikan dengan susunan
sebagai berikut:
a) informasi tentang Catatan atas Laporan Keuangan kebijakan
fiskal/keuangan, ekonomi makro, pencapaian target Undang-Undang
APBN/Perda APBD, berikut kendala dan hambatan yang dihadapi
dalam pencapaian target.
b) ikhtisar pencapaian kinerja keuangan selama tahun pelaporan.
c) informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan
kebijakan-kebijakan akuntansi yang dipilih untuk diterapkan atas
transaksi-transaksi dan kejadian-kejadian penting lainnya.
d) pengungkapan informasi yang diharuskan oleh Pernyataan Standar
Akuntansi Pemerintahan (PSAP) yang belum disajikan dalam lembar
muka laporan keuangan.
e) pengungkapan informasi untuk pos-pos aset dan kewajiban yang
timbul sehubungan dengan penerapan basis akrual atas pendapatan
commit to user
f) formasi tambahan yang diperlukan untuk penyajian yang wajar, yang
tidak disajikan dalam lembar muka laporan keuangan.
g) daftar dan skedul.
Catatan atas laporan keuangan disajikan secara sistematis. setiap pos
dalam laporan realisasi anggaran, neraca, dan laporan arus kas harus
mempunyai referensi silang dengan informasi terkait dalam catatan atas
laporan keuangan.
C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Keuangan
Pada umumnya, sektor privat menggunakan analisis rasio keuangan
sebagai alat ukur untuk membandingkan terhadap penilaian perusahaan. Sektor
privat juga menggunakan analisis rasio untuk mengevaluasi tren akuntansi dari
waktu ke waktu pada perusahaan yang sama. Namun, tidak seperti pada evaluasi
kinerja keuangan perusahaan sektor privat yang didasarkan pada analisis
profitabilitas dan rasio keuangan yang mudah dimengerti, evaluasi kondisi
keuangan pada sektor publik meliputi keputusan tentang faktor lingkungan, faktor
organisasional dan faktor keuangan yang saling mempengaruhi. (Ningsih, 2010).
Penelitian yang dilakukan Ningsih (2010) menyatakan bahwa adanya
dorongan dari faktor lingkungan yang menjadi faktor eksternal pemerintahan
daerah mendorong faktor organisasional untuk merespon keinginan dari faktor
lingkungan. Dengan adanya respon dari faktor organisasional sebagai pengelola
pemerintahan (eksekutif) maka akan dapat mengubah faktor lingkungan sesuai
dengan ekspektasi yang diharapkan. Dalam kaitannya dengan faktor keuangan,
faktor keuangan menggambarkan secara finansial atas respon yang dilakukan oleh
commit to user
D. Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah
Menurut Indra Bastian (2001), kinerja adalah gambaran mengenai tingkat
pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan/program/kebijaksanaan dalam
mewujudkan sasaran, tujuan, visi, dan misi organisasi terutang dalam perumusan
skema strategis suatu organisasi. Sedangkan kinerja keuangan menurut Sucipto
(2003) adalah adalah penentuan ukuran-ukuran tertentu yang dapat mengukur
keberhasilan suatu perusahaan dalam menghasilkan laba. Ukuran-ukuran yang
digunakan sebagai penilaian kinerja keuangan tersebut biasanya dinyatakan dalam
rasio keuangan seperti yang dinyatakan oleh Suyono (2010). Menurut Cohen
(2006) rasio keuangan tersebut dapat digunakan sebagai media untuk
menginformasikan kinerja keuangan.
Penggunaan rasio keuangan untuk menilai kinerja keuangan pada sektor swasta
dapat juga dipakai untuk menilai kinerja keuangan pada sektor publik, akan tetapi
karena perbedaan profitabilitas antara sektor swasta dan sektor publik, maka ada
beberapa rasio yang tidak bisa digunakan dalam sektor publik seperti penelitian
yang dilakukan Cohen (2006) yang menyatakan bahwa rasio seperti ROA, ROE,
dan profit margin tidak dipengaruhi oleh GDP, population, real estate, tourist, dan
capital.
Halachmi (2005) menyatakan bahwa penilaian kinerja dapat
meningkatakan efisiensi, keefektifan, penghematan, dan produktifitas pada
organisasi sektor publik. Sementara Sumarjo (2010) menyatakan dengan berfokus
pada hasil penilaian dan pelaporan kinerja dapat membantu mengkomunikasikan
kepada publik tentang tingkat penyelesaian unit kerja organisasi lain yang serupa.
Mahmudi dalam Sumarjo (2010) menyatakan salah satu cara untuk mewujudkan
commit to user
E. Kerangka Pemikiran
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji ada atau tidaknya
pengaruh population, employment, leverage, dan size terhadap kinerja keuangan
pemerintah daerah di Indonesia yang dinyatakan dengan rasio current ratio (CR),
debt to equity (DER), assets turnover (AT), operating revenues to total revenues
(ORTR), dan operating revenues to operating expenses (OROE). Sedangakan
kerangka pemikiran yang menggambarkan model penelitian dan hubungan antar
variabel dapat dilihat pada gambar dibawah ini.
VariabelDependen VariabelIndependen
Gambar 1
F. Hipotesis
Pengujian Hipotesis dilakukan untuk menjawab rumusan masalah, yaitu
menguji apakah population, employment, leverage, dan size berpengaruh terhadap
kinerja keuangan pemerintah daerah di Indonesia. Berikut ini pengembangan
hipotesisnya.
1. Pengaruh Population Terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah
Dalam penelitian ini, population yang dimaksud adalah jumlah
keseluruhan penduduk yang berada pada kota / kabupaten. Salah satu indikaktor
yang mencerminkan penyelenggarakan pemerintahan daerah yang baik adalah
pemerintah daerah bisa memberikan pelayanan yang baik kepada publik. Jumlah
populasi penduduk yang menempati daerah juga berpengaruh tehadap pelayanan
yang diberikan oleh pemerintah daerah, semakin besar jumlah penduduk suatu
commit to user
daerah, maka akan menuntut pemerintah daerah untuk meningkatkan pelayanan
publik lebih baik dari sebelumnya.
Athanasopoulos dan Triantis (1998) dalam Cohen (2006) mengindikasikan
bahwa kepadatan penduduk terkait dengan kinerja pemerintah daerah.
Peningkatan jumlah penduduk pada suatu daerah menyebabkan daerah yang
bersangkutan mendapatkan tuntutan untuk memberikan pelayanan yang
sebaik-baiknya kepada publik. Penelitian yang dilakukan oleh Cohen (2006) menyatakan
bahwa jumlah penduduk berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah
daerah.
Atas dasar teori diatas, maka hipotesis pertama dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
H1 : Terdapat pengaruh population terhadap kinerja keuangan pemerintah
daerah di Indonesia.
2. Pengaruh Employment Terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah
Employment berdasarkan statistik ketenagakerjaan Indonesia
diterjemahkan sebagai kesempatan kerja, yang berarti jumlah orang yang bekerja
tanpa memperhitungkan berapa banyak pekerjaan yang dimiliki tiap orang,
pendapatan, dan jumlah jam kerja mereka.
Tenaga kerja merupakan sumber daya potensial sebagai penggerak,
penggagas, dan pelaksana di daerah, sehingga dapat memajukan daerah tersebut
(Winarna, 2010). Ketiga faktor tersebut diharapkan mampu menjadi fakor
pendorong pertumbuhan dan perkembangan perekonomian daerah yang tersebut.
Penelitian yang dilakukan oleh Steven dan McGowen (1983) menyatakan
bahwa employment berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah.
commit to user
dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi bagi daerah.
Atas dasar teori diatas, maka hipotesis kedua dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
H2 : Terdapat pengaruh employment terhadap kinerja keuangan
pemerintah daerah di Indonesia
3. Pengaruh Size Pemerintah Daerah Terhadap Kinerja Keuangan
Pemerintah Daerah
Cooke (1992) menyatakan bahwa perusahaan yang memiliki ukuran lebih
besar akan memiliki tekanan yang lebih besar untuk melaporkan pengungkapan
wajibnya. Dengan demikian, ukuran yang dimiliki pemerintah daerah akan
berdampak adanya tekanan dari publik agar pemerintah daerah memenuhi
pengungkapan wajib dalam setiap laporan keuangan, sehingga berdampak pula
terhadap kinerja pemerintah daerah. Sumarjo (2010) menyatakan bahwa
pemerintah daerah akan cenderung memberikan good news, dalam
mengungkapkan laporan keuangannya. Kecenderungan pemerintah daerah untuk
memberikan good news antara lain adalah untuk memberikan kepercayaan kepada
publik atas kinerja pemerintah daerah.
Penelitian yang dilakukan Ramasamy et al. (2005) menunjukkan bahwa
adanya hubungan positif antara size dan pengukuran kinerja. Semakin besar size
pemerintah daerah, maka akan semakin besar pula tuntuntan kepada pemerintah
daerah tersebut untuk memiliki kinerja yang lebih baik.
Atas dasar teori diatas, maka hipotesis ketiga dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
H3 : Terdapat pengaruh size pemerintah daerah terhadap kinerja keuangan
commit to user
4. Pengaruh Leverage Terhadap Kinerja Keuangan Pemerintah Daerah
Leverage adalah hutang sumber dana yang digunakan perusahaan untuk
membiayai asetnya diluar sumber dana modal atau ekuitas (Sam’ani, 2008).
Hutang merupakan perjanjian antara pihak debitor dengan pihak kreditor, dalam
kaitannya dengan pemerintah daerah sebagai debitor, timbulnya keinginan dari
pihak debitor untuk mendapatkan penilaian positif dari pihak kreditor akan
memicu pemerintah daerah untuk meningkatkan discretionary accrualnya dengan
memperlihatkan kinerja yang positif dari pihak kreditor, sehingga pemerintah
daerah memperoleh suntikan dana atau untuk memperoleh penjadwalan kembali
pembayaran hutang.
Sumarjo (2010) menyatakan semakin besarnya tingkat leverage yang
dimiliki oleh pemerintah daerah menunjukkan bahwa pemerintah daerah tidak
mampu membiayai operasionalnya sendiri sehingga memerlukan dana dari pihak
eksternal. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja pengelolaan keuangan oleh
pemerintah daerah belum maksimal. Penelitian yang dilakukan Perwitasari (2010)
pada sektor publik menunjukkan bahwa semakin besar leverage yang dimiliki
oleh suatu entitas maka entitas tersebut memiliki kinerja yang buruk.
Penelitian yang berkaitan dengan leverage yang dilakukan oleh Weill
(2003) menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara leverage dengan
pengukuran kinerja suatu entitas. Maka dari uraian diatas, maka hipotesis keempat
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
H4 : Terdapat pengaruh leverage terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah di
commit to user
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Penelitian ini merupakan studi empiris yang bertujuan untuk memperoleh
bukti tentang ada tidaknya pengaruh population, employment, size, dan leverage
terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah di Indonesia. Data dalam penelitian
ini diperoleh hanya sekali pada batasan waktu antara tahun 2008 sampai dengan
tahun 2010 sehingga penelitian ini merupakan penelitian cross section.
B. Populasi, Sampel, dan Teknik Pengambilan Sampel
Populasi adalah jumlah dari keseluruhan kelompok individu, kejadian,
atau hal minat yang ingin peneliti investigasi (Sekaran, 2006). Populasi yang
digunakan dalam penelitian ini adalah laporan keuangan pemerintah daerah
kabupaten dan kota yang berada di Indonesia tahun 2008 sampai dengan 2010
yang diperoleh dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan data statistik
pemerintah daerah kabupaten dan kota yang diperoleh dari website
www.bps.go.id
Sampel merupakan sebagian dari populasi yang karakteristiknya diselidiki
dan dianggap dapat mewakili populasi (sekaran 2006). Sampel dalam penelitian
ini diambil dengan teknik purposive sampling. Yaitu pengambilan sampel
menggunakan kriteria tertentu bedasarkan kebijakan dari peneliti. Kriteria
pemilihan sampel dalam penelitian ini mengacu pada kriteria yang digunakan oleh
Suyono (2010). Kriteria yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1. Laporan keuangan pemerintah daerah kabupaten/kota seluruh Indonesia
commit to user
2. Laporan keuangan pemerintah daerah kabupaten/kota seluruh Indonesia
tahun 2008 sampai dengan tahun 2010 dengan opini audit wajar tanpa
pengecualian (WTP), wajar tanpa pengecualian dengan bahasa atau
paragraf penjelas maupun wajar dengan pengecualian (WDP). Adapun
laporan keuangan dengan opini tidak wajar (TW) dan tidak memberi
pendapat (TMP) tidak digunakan dalam sampel penelitian dengan
pertimbangan bahwa informasi yang tersaji dalam laporan keuangan
dengan opini tersebut tidak wajar dan tidak dapat digunakan dalam
pengambilan keputusan oleh pemakai laporan keuangan.
3. Laporan keuangan pemerintah daerah kabupaten/kota seluruh Indonesia
tahun 2008 sampai dengan tahun 2010 yang mencantumkan seluruh data
dan informasi yang dibutuhkan dalam pengukuran variabel dan analisis
data untuk pengujian hipotesis dalam penelitian.
C. Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data sekunder. Data
sekunder merupakan sumber data yang mengacu pada informasi yang
dikumpulkan dari sumber yang telah ada (Sekaran, 2006). Sumber data dari
penelitian ini adalah laporan keuangan pemerintah daerah di Indonesia yang
diperoleh dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) . Sedangkan sumber data lain
diperoleh dari Biro Pusat Statistik (BPS) melalui website resminya yaitu
www.bps.go.id dan website resmi masing-masing pemerintah daerah.
D. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Sekaran (2006) menyatakan bahwa variabel adalah sesuatu yang
commit to user
waktu yang lain untuk objek/orang yang sama atau dapat juga dapat berbeda pada
waktu yang sama untuk objek/orang yang berbeda (Sumarjo, 2010)
Penelitian ini menggunakan lima buah variabel penelitian. Satu variabel
yaitu kinerja keuangan menjadi variabel dependen, sedangkan empat buah
variabel yang lain menjadi variabel dependen yaitu population, employment, size
dan leverge. Adapun definisi dan pengukuran masing-masing variabel adalah
sebagai berikut:
1. Variabel Dependen
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kinerja keuangan yang
diproksikan ke dalam lima rasio keuangan pemerintah daerah. Agar tidak terjadi
bias dalam pengambilan kesimpulan, maka kelima rasio keuangan tersebut
difaktorkan menjadi satu menggunakan progran SPSS dengan memasukkan lima
rasio keuangan tersebut ke dalam variabel dependen dan kemudian diolah dengan
factor analyze untuk menentukan component principal yang kemudian diperoleh
satu faktor yang merupakan proksi kinerja keuangan pemerintah daerah untuk
selanjutnya digunakan sebagai data untuk variabel dependen penelitian (Singgih
Santoso, 2002). Rasio yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada
penelitian yang dilakukan oleh Suyono (2010). Rasio keuangan yang dimaksud
adalah sebagai berikut:
a. Current Ratio (CR)
Current Ratio merupakan perbandingan antara harta lancar dan
kewajiban lancar. Rasio ini menggambarkan kemampuan pemerintah
daerah untuk memenuhi kewajiban lancarnya dengan harta lancar yang
dimiliki. Data yang dipergunakan dalam perhitungan ini adalah data
commit to user
menentukan angka rasio ini adalah seperti yang digunakan Cohen
(2006) adalah sebagai berikut:
Debt to equity ratio merupakan perbandingan antara jumlah total utang
pemerintah daerah dengan total ekuitas dana. Rasio ini
menggambarkan kemampuan pemerintah daerah dalam memberi
jaminan pemenuhan seluruh jumlah utang dengan jumlah ekuitas dana
yang dimilki oleh pemerintah pada tanggal tertentu. Kedua angka rasio
ini ditentukan dengan menggunakan angka dalam neraca pemerintah. .
Rumus untuk menentukan angka rasio ini adalah seperti yang
digunakan Cohen (2006) adalah sebagai berikut:
Equity Debt
DER=
c. Assets Turnover (AT)
Assets turnover merupakan perbandingan jumlah pendapatan asli
daerah dengan jumlah total asset yang dimiliki oleh Pemda. Angka
rasio ini menggambarkan kemampuan pemerintah daerah dalam
memperoleh pendapatan asli daerah dengan menggunakan total asset
yang dimiliki oleh pemerintah daerah yang bersangkutan, semakin
tinggi angka rasio ini menandakan bahwa semakin baik kemampuan
pemerintah dalam mengusahakan asset yang dimiliki utuk
menghasilkan pendapatan bagi daerah. Rumus untuk menentukan
angka rasio ini adalah seperti yang digunakan Cohen (2006) adalah
commit to user
d. Operating Revenues to Total Revenues (ORTR)
Operating revenues to total revenues adalah perbandingan antara
jumlah pendapatan asli daerah dengan jumlah seluruh pendapatan yang
diterima oleh pemerintah daerah yang bersangkutan. Kedua angka
yang digunakan dalam penghitungan rasio ini diambil dari neraca
pemerintah. Rumus untuk menentukan angka rasio ini adalah seperti
yang digunakan Cohen (2006) adalah sebagai berikut:
venues
e. Operating Revenues to Operanting Expenses (OROE)
Operating revenues to operating expenses merupakan perbandingan
antara jumlah pendapatan asli daerah dengan jumlah belanja operasi
daerah dalam suatu periode tertentu. Untuk menentukan jumlah angka
rasio ini angka yang digunakan adalah angka dalam laporan realisasi
anggaran. Angka rasio ini menunjukkan kemampuan pemerintah
dalam memperoleh pendapatan asli daerah dengan belanja operasi
yang dikeluarkan dalam suatu periode tertentu. Rumus untuk
menentukan angka rasio ini adalah seperti yang digunakan Cohen
(2006) adalah sebagai berikut:
Variabel Independen dalam penelitian ini sebagaimana yang digunakan
dalam penelitian Sumarjo (2010) dan Winarna (2010) yang terdiri dari variabel
commit to user
a. Population (POP)
Variabel ini merupakan jumlah penduduk yang mendiami wilayah
kabupaten atau kota di Indonesia. Data dari variabel diperoleh dari
website Biro Pusat Statistik
b. Employment (EMP)
Variabel ini merupakan jumlah orang yang bekerja tanpa
memperhitungkan berapa banyak pekerjaan yang dimiliki tiap orang,
pendapatan, dan jumlah jam kerja mereka. Data dari variabel ini
diperoleh dari website Biro Pusat Statistik dan website masing-masing
pemerintah daerah.
c. Size (SZ)
Size dapat diukur dengan jumlah karyawan, total aset, total
pendapatan, dan tingkat produktifitas (Damanpour, 1991). Penelitian
lain yang dilakukan oleh Baber (2010) menggunakan populasi
penduduk sebagai proksi dari size. Berdasarkan penelitian yang
dilakukan oleh Black, Jang, dan Kim (2003), penelitian ini
menggunakan total aktiva sebagai proksi dari size. Pertimbangan
dipilihnya total aktiva untuk mengukur size adalah nilai aktiva lebih
stabil daripada nilai penjualan bersih dan kapitalisasi pasar
(Wuryaningsih, 2002). Data untuk variabel ini diperoleh dari laporan
keuangan pemerintah daerah yang didapat dari BPK.
d. Leverage (LEV)
Leverage merupakan proporsi yang menggambarkan besarnya utang
yang berasal dari pihak ekternal dibandingkan dengan modal sendiri
(Weill, 2003). Hal ini mengindikasikan bahwa jika jumlah utang lebih
commit to user
bahwa sumber utama pendanaan entitas tersebut berasal dari pihak
ekternal. Mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh cohen (2006),
penelitian ini menggunakan Debt to Equity untuk mengukur leverage.
Equity Debt
DER=
Data untuk variabel ini diperoleh dari laporan keuangan pemerintah
daerah yang didapat dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
E. Metode Analisis Data
1. Statistik Deskriptif
Menurut Ghozali (2006) Statistik deskriptif digunakan untuk memberikan
gambaran mengenai distribusi dan perilaku data sampel dengan menghitung
rata-rata (mean), median, standar deviasi, minimum, dan maksimum dari
masing-masing data sampel.
2. Analisis Regresi Berganda
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model
regresi berganda (multiple regression model) untuk menguji pengaruh POP, EMP,
Sz, dan LEV terhadap kinerja keuangan pemerintah daerah yang dinyatakan
dalam rasio CR, DER, AT, ORTR, OROE. Digunakannya model regresi
berganda karena terdiri dari satu variabel dependen dan beberapa variabel
independen (Sekaran, 2006) adapun model regresi dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
KK =
a
+ β1POP + β2EMP + β3Sz + β4 LEV + eKeterangan :
commit to user
a
: Konstantaβ1 – β4 : Koefisien regresi
POP : Population
EMP : Employment
Sz : Size
LEV : Leverage
e : Error
3. Uji Asumsi Klasik
Sebelum model analisis regresi digunakan untuk menguji hipotesis, maka
harus dilakukan uji asumsi klasik yang bertujuan untuk memastikan bahwa hasil
penelitian adalah valid, dengan data yang digunakan secara teori adalah tidak
bias, konsisten, dan penaksiran koefisien regresinya efisien (Ghozali, 2006).
Terdapat empat macam uji asumsi klasik yang digunakan dalam penelitian ini,
keempat macam uji asumsi klasik tersebut adalah sebagai berikut:
a. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji kenormalan distribusi dalam
model regresi pada variabel penggganggu atau variabel residual (Ghozali,
2006). Model regresi yang baik adalah model yang memiliki distribusi
normal (Ghozali, 2006).Alat uji yang digunakan untuk uji normalitas yaitu
dengan menggunakan One Sample Kolmogorov-Smirnov. Data dikatakan
terdistribusi normal apabila signifikansi variabel dependen memiliki nilai
signifikansi lebih dari 5%.
b. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan menguji suatu model regresi linear, untuk
commit to user
dengan periode t-1 (Ghozali, 2006). Jika terjadi korelasi, maka dinamakan
ada problem autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi yang
berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya. Untuk mengetahui
apakah data yang digunakan dalam model regresi terdapat autokorelasi
atau tidak, pada penelitian ini menggunakan alat uji Breusch-Godfrey test
(BG test). Dari pengujian ini dapat dilihat terjadi atau tidaknya
autokorelasi dengan melihat nilai signifikansi dari lag residual. Apabila
nilai signifikansi lag residual < 5%, maka dapat dikatakan terjadi
autokorelasi, namu jika nilai signifikansi lag residual > 5% maka dapat
dikatakan tidak terjadi autokorelasi dalam model regresi yang digunakan.
c. Uji Multikolinearitas
Multikolineritas merupakan suatu keadaan dimana terdapat hubungan yang
sempurna antara beberapa atau semua variabel independen dalam model
regresi. Uji multikoliniearitas bertujuan untuk menguji apakah di dalam
model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas
(independen). Jika variabel independen salin berkorelasi, maka
variabel-variabel ini tidak ortogonal. Variabel ortogonal adalah variabel-variabel independen
yang nilai korelasinya antara sesama variabel independen adalah nol.
Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara
variabel independen (Ghozali, 2006).
Untuk melihat adanya multikolinearitas dapat dilihat dari nilai tolerance
dan variance inflation factor (VIF). Nilai tolerance yang rendah sama
artinya dengan nilai VIF yang tinggi (Ghozali, 2006). Jika nilai tolerance
lebih besar dari 0.1 dan nilai VIF lebih kecil dari 10, maka tidak terjadi
commit to user
d. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model
regresi terjadi ketidaksamaan variance dari satu pengamatan ke
pengamatan yang lain. Jika variance tetap, maka disebut homokedastis
dan jika berbeda disebut heteroskedastis. Model regresi yang baik adalah
model regresi yang tidak heteroskedastisitas (Ghozali, 2006).
Salah satu metode dalam menguji heteroskedastisitas dalam model regresi
adalah dengan uji Glejser. Metode uji Glejser meregresikan nilai absolute
residual dengan variabel bebas (Ghozali, 2006), Apabila koefisien
parameter beta > 5%, maka tidak terjadi heteroskedastisitas
4. Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis dilakukan untuk mengetahui pengaruh variabel
independen berupa population, employment, size dan leverage terhadap kinerja
keuangan pemerintah daerah dengan tingkat singnifikansi yang masih bisa
ditoleransi ditetapkan 0,05 (a = 5%).
Untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini, maka akan dilakukan uji
koefisien determinasi, uji statistik t, dan uji statistik f.
a. Uji Koefisien Determinasi (R2)
Nilai R2 digunakan untuk mengukur tingkat kemampuan model dalam
menerangkan variabel independen. Tapi, karena R2 mengandung
kelemahan mendasar di mana adanya bias terhadap jumlah variabel
independen yang dimasukkan dalam model. Oleh karena itu, pada
penelitian ini yang digunakan adjusted R2 berkisar antar nol dan satu. Jika
nilai adjusted R2 makin mendekati satu maka makin baik kemampuan
commit to user
b. Uji Regresi Simultan (Uji F)
Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel independen
secara bersama-sama terhadap variabel dependen dengan melihat nilai
signifikansi F. Jika nilai signifikansi F lebih kecil dari 0,05 maka hipotesis
alternatif tidak dapat ditolak atau dengan α = 5% variabel independen
secara statistis mempengaruhi variabel dependen secara bersama-sama.
c. Uji Regresi Parsial (Uji t)
Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan yang signifikan dari
masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen. Apabila
tingkat signifikansi yang diperoleh (p-value) lebih kecil dari 0,05 maka H0
dapat ditolak atau dengan α = 5% variabel independen tersebut
berhubungan secara statistis terhadap variabel dependennya. Dasar
pengambilan keputusan dalam pengujian ini adalah jika probabilitas < 0,05
maka dapat diambil kesimpulan bahwa variabel population, employment,
size dan leverage berpengaruh terhadap kinerja keuangan pemerintah
daerah di Indonesia. Dan sebaliknya jika probabilitas > 0,05 maka dapat
diambil kesimpulan bahwa variabel population, employment, size dan
leverage tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan
commit to user
BAB IV
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder berupa
Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) periode tahun 2008-2010. Data
tersebut diperoleh dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan data statistik
daerah yang diperoleh dari website Badan Pusat Statistik (BPS) www.bps.go.id.
Populasi dalam penelitian ini adalah Laporan Keuangan Pemerintah
Daerah (LKPD) periode tahun 2008-2010. berdasarkan populasi tersebut,
kemudian ditentukan sampel penelitian dengan metode purposive sampling.
Dengan menggunakan metode tersebut dan beberapa kriteria yang telah dijelaskan
pada bab III, maka diperoleh jumlah sampel penelitian yang dapat dijelaskan
Berdasarkan tabel 1, dapat diketahui bahwa jumlah Laporan Keuangan
commit to user
buah. Atas jumlah laporan keuangan tersebut, sebanyak 331 laporan keuangan
tidak dapat dijadikan sampel penelitian karena mendapatkan opini Tidak Wajar
(TW) dan opini Tidak Memberika Pendapat (TMP), hal ini dikarenakan bahwa
laporan keuangan dengan opini tidak wajar dan tidak memberikan pendapat
tersebut tidak sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) sehingga tidak
dapat digunakan dalam pengambilan keputusan oleh pemakain laporan keuangan.
Selain kriteria opini audit BPK atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah
(LKPD), penelitian ini juga menggunakan informasi lain dalam pengukuran
variabel independen. Untuk sampel sebelumnya yang memenuhi kriteria opini
dari BPK tetapi tidak mencantumkan informasi untuk pengukuran variabel
independen, maka laporan keuangan tersebut tidak digunakan dalam penelitian
ini, yaitu sebanyak 217 laporan keuangan. Setelah dilakukan identifikasi dengan
menggunakan kriteria pengambilan sampel, maka diperoleh sampel sebanyak 704
laporan keuangan yang terdiri dari 263 laporan keuangan pemerintah daerah pada
tahun 2008, 198 laporan keuangan pemerintah daerah pada tahun 2009, 243
laporan keuangan pemerintah daerah pada tahun 2010.
B. Hasil dan Analisis Data
Penelitian ini menguji pengaruh jumlah population (POP), employment
(EMP), size (SZ),dan leverage (LEV) terhadap kinerja keuangan pemerintah
daearah yang diukur dengan rasio current ratio (CR), debt to equity ratio (DER),
assets turnover (AT), operating revenues to total revenues (ORTR), dan
operating revenues to operating expenses (OROE) Penelitian ini menggunkan alat
uji multiple regression model dengan menggunakan bantuan software komputer
commit to user
data penelitian dari deskripsi statistik, uji normalitas, uji normalitas data, uji
asumsi klasik sampai dengan uji hipotesis.
1. Analisis deskriptif statistik atas data
Statistik deskriptif dalam penelitian ini dilakukan untuk mencari nilai
mean, maksimum, minimum, dan standar deviasi dari variabel-variabel penelitian.
Berikut ini disajikan deskripsi data penelitian.
Tabel 2
Deskripsi Statistik Data Penelitian
Variable N Minimum Maximum Mean Std. deviation
POP 704 37.493 43.021.826 1.335.095,06 4.117.503,87
EMP 704 8.571 19.305.056 633.421,86 1.935.702,33
SZ 704 49.331.376.641,00 407.096.408.253.177,00 4.104.645.834.783,50 25.860.451.043.002,01
LEV 704 0,0000 1.5113 0,011587 0,0590708
CR 704 0,0887 1.011.305,78 3.235,26 53.953.79
Tabel diatas menunjukkan bahwa jumlah sampel (N) adalah 704 buah, dari
704 sampel tersebut variabel LEV dan DER mempunyai nilai rata-rata terendah
deviasi adalah sebesar 0,011587 dan 0,0590708. hasil deskriptif data ini
menjelaskan bahwa penyebaran data berkisar antara 0,011587 ditambah dengan
0,0590708 sampai dengan 0,011587 dikurangi 0,0590708. Sementara itu, untuk
variabel SZ merupakan variabel dengan rata rata tertinggi. Nilai minimum untuk
variabel SZ adalah 49.331.376.641 dan nilai maksimumnya adalah sebesar
407.096.408.253.177,00. Nilai rata-rata dan standar deviasi untuk SZ adalah
commit to user
bahwa penyebaran data variabel SZ berkisar antara 4.104.645.834.783,50
ditambah dengan 25.860.451.043.002,01sampai dengan 4.104.645.834.783,50
dikurangi 25.860.451.043.002,01.
2. Uji asumsi klasik
Sebelum dilakukan pengujian hipotesis dilakukan uji asumsi klasik
sebagai syarat untuk dapat menggunakan model regresi. Uji asumsi klasik ini
terdiri dari normalitas, multikolonieritas, autokorelasi, dan heteroskedastisitas.
a. Uji normalitas data
Uji normalitas dimaksudkan untuk mengetahui apakah dalam model
regresi, variabel pengganggu atau residual mempunyai distribusi normal. Uji
normalitas data dalam penelitian ini menggunakan alat uji Kolmogorov-Smirnov
terhadap data residual regresi dan dilakukan dengan program SPSS 16.0. Hasil
pengujian normalitas dengan Kolmogorov-Smirnov dapat dilihat pada tabel
dibawah ini.
Tabel 3 Normalitas Data
UnstandardizedResidual
N 704
Normal Parametersa Mean 0,0000000
Std. Deviation 0,95443532
Most Extreme Differences Absolute 0,374
Positive 0,341
smirnov atas seluruh nilai residu data yang digunakan dalam penelitian ini di
bawah tingkat signifikasi penelitian 5%. Hasil ini mengindikasikan bahwa seluruh
data yang digunakan mempunyai distribusi yang tidak normal. Normalitas data
commit to user
Oleh karena itu, untuk memperoleh data yang terdistribusi normal, menurut
Ghozali (2006) data yang tidak normal dapat ditransformasikan agar menjadi
normal. Maka dalam penelitian ini, variabel dependen yang sebelumnya
difaktorkan menjadi satu menggunakan progran SPSS dengan memasukkan lima
rasio keuangan tersebut ke dalam variabel dependen dan kemudian diolah dengan
factor analyze untuk menentukan component principal yang kemudian diperoleh
satu faktor yang merupakan proksi kinerja keuangan pemerintah daerah
ditransformasikan menjadi bentuk logaritma (LOG) dan menghilangkan data
outlier. Setelah dilakukan proses transformasi dan penghilangan data outlier
diperoleh jumlah data observasi sejumlah 154 data observasi. Hal ini
mengindikasikan bahwa jumlah data yang ekstrem dan dikeluarkan dari sampel
adalah sebanyak 550 buah. Selanjutnya setelah dilakukan transformasi dan
menghilangkan data outlier maka dilakukan kembali uji normalitas dengan
menggunakan uji kolmogorov-smirnov dan dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 4
Normalitas setelah Transformasi dan Seleksi Data Outlier
Unstandardized Residual
N 154
Normal Parametersa Mean 0,0000000
Std. Deviation 0,64457442
Most Extreme Differences Absolute 0,085
Positive 0,046
Negative -0,085
Kolmogorov-Smirnov Z 1,054
Asymp. Sig. (2-tailed) 0,216
Sumber : hasil pengolahan data
Dari tabel 4 dapat diketahui bahwa setelah dilakukan transformasi variabel
dependen dan menghilangkan data outlier nilai asymp.sig yang lebih besar dari
commit to user
b. Uji autokorelasi
Uji Autokorelasi digunakan untuk mengetahui kesalahan penggangu pada periode
t dengan periode t-1 (Ghozali, 2006). Autokorelasi menunjuk pada hubungan
yang terjadi antara anggota-anggota dari serangkaian observasi yang terletak
berderetan secara series dalam bentuk waktu (time series) atau hubungan antara
tempat yang berdekatan (cross sectional). Pada penelitian ini menggunakan uji
Breusch-Godfrey (BG test). Penggunaan uji Breusch-Godfrey lebih tepat
digunakan dalam penelitian ini karena menurut Ghozali (2006) untuk sampel
besar diatas 100 observasi penggunaan BG test lebih tepat dibandingkan dengan
uji Durbin-Watson. Dari pengujian ini dapat dilihat terjadi atau tidaknya
autokorelasi dengan melihat nilai signifikansi dari lag residual. Apabila nilai
signifikansi lag residual < 5%, maka dapat dikatakan terjadi autokorelasi, namu
jika nilai signifikansi lag residual > 5% maka dapat dikatakan tidak terjadi
autokorelasi dalam model regresi yang digunakan dalam penelitian ini. Berikut ini
disajikan hasil uji Breusch-Godfrey test untuk mengindikasikan asumsi
autokorelasi dalam model regresi yang digunakan dalam penelitian ini.
Tabel 5
residual mempunya nilai 0,502 atau 50,2% yang berarti nilainya jauh diatah 5%.
Hasil ini mengindikasikan bahwa variabel dalam model regresi yang digunakan
commit to user
c. Uji multikolonieritas
Uji multikolonieritas digunakan untuk menunjukkan ada tidaknya
hubungan linier di antara variabel-variabel independen dengan model regresi.
Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan tolerance value dan variance
inflation factor (VIF) dengan kriteria jika tolerance value <0,01 atau VIF > 10
maka terjadi multikolonieritas dan jika tolerance value >0,01 atau VIF <10 maka
tidak terjadi multikolonieritas. Hasil uji multikolonieritas dapat dilihat pada tabel
dibawah ini.
dalam model regresi lebih besar dari 0,1 dan nilai variance inflating factor untuk
semua variabel dalam tiap-tiap model regresi lebih kecil dari 10. Hasil pengujian
ini mengindikasikan bahwa dalam model regresi yang digunakan dalam penelitian
ini tidak terjadi gejala multikolinieritas atau seluruh variabel dalam model-model
penelitian ini homokedastisitas.
d. Uji heteroskedastisitas
Heteroskedastisitas merupakan keadaan seluruh faktor gangguan terjadi
ketidaksamaan variance dari satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Dalam
penelitian ini, uji yang digunakan untuk mendeteksi heteroskedastisitas adalah
metode Glejser, yaitu dengan meregresikan nilai absolute residual dengan
variabel bebas. Kriteria yang digunakan adalah: jika probability value > 5%