• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Dasar Konsep Pemasaran Dan Jasa 2.1.1 Definisi Pemasaran - Pengaruh Emosi terhadap Perilaku Komplain Konsumen pada PT. Bank XXX di Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Dasar Konsep Pemasaran Dan Jasa 2.1.1 Definisi Pemasaran - Pengaruh Emosi terhadap Perilaku Komplain Konsumen pada PT. Bank XXX di Medan"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Dasar Konsep Pemasaran Dan Jasa 2.1.1 Definisi Pemasaran

Philip Kotler mendefinisikan pemasaran (marketing) sebagai berikut:

“Pemasaran adalah suatu fungsi organisasi dan serangkaian proses untuk

menciptakan, mengkomunikasikan, dan memberikan nilai kepada pelanggan

untuk mengelola hubungan pelanggan dengan cara yang menguntungkan

organisasi dan pemangku kepentingannya.” (Kotler,2003:5).

Sementara itu, manajemen pemasaran (marketing management) didefinisikan

pula oleh Kotler sebagai berikut:

“Manajemen pemasaran sebagai seni dan ilmu memilih pasar sasaran dan

meraih, mempertahankan, serta menumbuhkan pelanggan dengan menciptakan,

menghantarkan, dan mengkomunikasikan nilai pelanggan yang unggul.”

(Kotler,2003:5).

2.1.2 Definisi Jasa

Begitu banyak pendapat dan definisi yang muncul di kalangan akademisi

mengenai pengertian dari jasa. Berikut ini merupakan pengertian jasa menurut

beberapa ahli:

“Jasa (service) adalah aktivitas ekonomi yang biasanya menghasilkan

produk tidak nyata (misalnya: pendidikan, hiburan, penginapan, pemerintahan,

(2)

“Jasa merupakan aktivitas, manfaat, atau kepuasan yang ditawarkan

untuk dijual.Contohnya bengkel reparasi kendaraan bermotor, salon kecantikan,

kursus keterampilan, pusat kebugaran, restoran, hotel, rumah sakit, universitas,

dan lain-lain.” (Tjiptono, 2008:15).

Dari berbagai pendapat mengenai definisi jasa di atas, maka dapat

disimpulkan bahwa jasa adalah aktivitas ekonomi yang melibatkan sejumlah

interaksi dengan konsumen, tetapi tidak menghasilkan transfer kepemilikan.

2.1.3 Karakteristik Jasa

Menurut Tijptono (2008:28) menyebutkan bahwa jasa memiliki 4 (empat)

karakteristik unik yang membedakannya dengan barang yaitu:

1. Tidak Berwujud (Intangibility)

Jasa bersifat intangible, artinya jasa tidak dapat dilihat, dirasa, dicium,

didengar, atau diraba sebelum dibeli dan dikonsumsi. Seorang konsumen jasa

tidak dapat menilai hasil dari sebuah jasa sebelum ia mengalami atau

mengkonsumsinya sendiri. Bila seorang konsumen membeli jasa tertentu,

sebenarnya ia hanya menggunakan, memanfaatkan, atau menyewa jasa

tersebut.

2. Keberagaman (Heterogeneity)

Jasa bersifat sangat variabel atau heterogen karena merupakan

non-standardized output, artinya bentuk, kualitas, dan jenisnya sangat beraneka

ragam, tergantung pada siapa, kapan, dan di mana layanan tersebut dihasilkan.

(3)

model rambut yang sama belum tentu mendapatkan hasil yang seratus persen

identik.

3. Tidak Dapat Dipisahkan (Inseparability)

Jasa pada umumnya dijual terlebih dahulu, baru kemudian diproduksi dan

dikonsumsi pada waktu dan tempat yang sama. Praktik dokter gigi merupakan

salah satu contohnya. Dokter gigi tidak dapat mencabut gigi, mengobati gigi,

atau menambal gigi pasien tanpa kehadiran sang pasien.

4. Tidak Dapat Disimpan (Perishability)

Perishability berarti bahwa jasa adalah komoditas yang tidak tahan lama, tidak

dapat disimpan untuk pemakaian ulang diwaktu yang akan datang, dijual

kembali, atau dikembalikan. Kamar hotel yang tidak dihuni atau jam tertentu

tanpa pasien di tempat praktik dokter umum akan berlalu atau hilang begitu

saja karena tidak dapat disimpan.

2.2 Definisi dan Fungsi Emosi 2.2.1 Definisi Emosi

Tindakan dan emosi tidak dapat dipisahkan karena keduanya merupakan

bagian dari keseluruhan. Meskipun begitu, ada prinsip yang bisa dipegang

bahwa emosi akan menjadi semakin kuat bila diberi ekspresi fisik.

Menurut Yuwono et al. (2005) bahwa emosi merupakan bagian integral

dari adaptasi dan motivasi. Dalam kajian psikologi emosi terlihat sebagai fungsi

adaptif ketika terjadi sesuatu yang mengancam individu, yang membantu

(4)

Menurut Robbins et al. (2008:308) emosi adalah perasaan-perasaan

interns yang ditujukan kepada seseorang atas sesuatu.

Menurut Prahman (2008), emosi terbagi ke dalam 3 (tiga) bagian yaitu:

emosi eksternal, emosi situasional dan emosi internal.

1. Emosi Eksternal

Emosi eksternal adalah luapan perasaan yang ditujukan seseorang

terhadap sesuatu yang dipengaruhi dari luar diri individu.

2. Emosi Situasional

Emosi situasional adalah luapan perasaan yang ditujukan seseorang

terhadap sesuatu yang dipengaruhi oleh suatu keadaan atau situasi

tertentu.

3. Emosi Internal

Emosi internal adalah luapan perasaan yang ditujukan seseorang terhadap

sesuatu yang dipengaruhi dari dalam diri individu.

2.2.2 Fungsi Emosi

Menurut Robbins et al. (2008:314) fungsi emosi ialah untuk memotivasi

orang untuk terlibat dalam tindakan-tindakan penting agar dapat bertahan hidup.

Tindakan-tindakan seperti mengumpulkan makanan, mencari perlindungan,

memilih pasangan, menjaga diri dan memprediksi perilaku manusia lain.

Dalam The Expressions of the Emotions in Man and Animals, Darwin

menyatakan bahwa emosi berkembang seiring waktu untuk membantu manusia

memecahkan masalah. Teori Darwin tersebut didukung oleh peneliti yang

(5)

penelitian ini menyatakan bahwa manusia harus mengalami emosi-apakah emosi

tersebut positif atau negatif-karena hal ini berguna terhadap suatu tujuan.

2.3 Kualitas Jasa dan Kegagalan Jasa (Service Failure) 2.3.1 Kualitas Jasa

Kepuasan konsumen akan terpenuhi apabila proses penyampaian jasa dari

si pemberi jasa kepada konsumen sesuai dengan apa yang dipersepsikan oleh

konsumen. Oleh karena berbagai faktor, seperti subjektifitas dipersepsikan si

pemberi jasa, keadaan psikologis konsumen maupun pemberi jasa, kondisi

lingkungan eksternal dan sebagainya tidak jarang memainkan peranannya

sendiri-sendiri, maka jasa sering disampaikan dengan cara yang berbeda dengan

yang dipersepsikan oleh konsumen.

Dari aspek-aspek kualitas jasa ada 5 (lima) aspek spesifik yang

mempengaruhi kualitas jasa (Zeithaml et al.,2009:152) yaitu:

1. Realibility dimension

2. Responsiveness dimension

3. Assurance dimension

4. Empathy dimension

5. Tangibles dimension

2.3.2 Kegagalan Jasa (Service Failure)

Walaupun perusahaan telah berusaha melakukan yang terbaik dalam

rangka memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan, tetap saja sering terjadi

(6)

kegagalan bahkan menganggap sesuatu yang biasa, maka perusahaan

bersangkutan akan mendapat masalah besar, bahkan bisa kehilangan bisnisnya.

Kunci sukses bagi setiap perusahaan adalah bersikap proaktif dalam menekan

setiap kemungkinan terjadinya kegagalan dan membekali karyawan dengan

serangkaian alat pemulihan (recovery) yang afektif guna memperbaiki service

encounter manakala terjadi kegagalan dalam memuaskan harapan pelanggan.

Faktor penyebab utama kegagalan jasa yang bersifat inheren dalam

service encounter adalah:

1. Karakteristik unik dari jasa yang membedakannya dari barang.

2. Sifat intangibilitas menyebabkan perbandingan antara persepsi dengan harapan

oleh pelanggan menjadi proses evaluasi yang subyektif.

3. Sifat perishability menyebabkan penawaran dan permintaan jasa sangat sulit

diselaraskan. Hal ini sering menjadikan penundaan layanan dari waktu ke

waktu sehingga pekerja jasa maupun pengguna jasa kehilangan kesabaran.

4. Karakteristik inseparabilitas menempatkan penyedia jasa berinteraksi langsung

(face to face) dengan pelanggan. Interaksi langsung dan partisipasi pelanggan

dalam proses produksi jasa sangat potensial menimbulkan berbagai macam

masalah, terutama menyangkut kualitas jasa.

5. Kegagalan jasa terjadi pada berbagai critical incedent dalam service

encounter. Setiap service encounter terbentuk dari sejumlah moment of fruth,

yaitu momen interaksi spesifik dan actual antara pelanggan dengan karyawan

(7)

Kegagalan jasa pada umumnya dikelompokkan dalam 3 (tiga) kategori

berikut:

1. Respon karyawan terhadap kegagalan suatu penyampaian.

2. Respon karyawan terhadap kebutuhan individu dan permintaan spesial

pelanggan.

3. Tindakan karyawan yang tidak cepat dan tidak diharapkan.

2.4 Pengelompokan Emosi dan Respon Tindakan dalam Perilaku Komplain Konsumen

Pengelompokan daripada respon emosi dan perilaku konsumen yang

digunakan pada penelitian ini tidak dimaksudkan untuk menjadi sebuah

pengelompokkan ketidakpuasan konsumen. Melainkan, penelitian ini berupaya

untuk memeriksa seperangkat daftar yang beralasan tentang respon-respon

terhadap ketidakpuasan yang dialami konsumen untuk mengakomodasi aksinya

(Vincent,2005). Ruang lingkup daripada emosi yang dialami oleh seorang

konsumen sangatlah luas dan beberapa emosi yang terjadi pada saat

berlangsungnya konsumsi. Ada beberapa tingkatan emosi yang berbeda dan

emosi negatif terdiri atas 7 (tujuh) bagian:

a. Marah(Anger)

b. Muak (Disgust)

c. Menghina (Contempt)

d. Sedih (Sadness)

e. Merasa Bersalah (Guilt)

(8)

g. Takut (Fear)

Setelah dilakukannya modifikasi terhadap tingkatan emosi negatif, maka

daftar klasifikasi emosi dalam kaitannya dengan penggunaan jasa dan service

failure yang baru adalah sebagai berikut (Prahman,2008):

Tabel 2.1 Klasifikasi Emosi

Emosi Eksternal Emosi Situasional Emosi Internal

Marah Sedih Malu

Muak Takut Merasa Bersalah

Menghina Menyesal

Kecewa

Sumber: Prahman (2008)

2.5 Perilaku Komplain Konsumen (Consumer Complaint Behaviour)

Menurut Mowen et al. (2002:101) perilaku komplain konsumen

(consumer complaint behavior) adalah istilah yang mencakup semua tindakan

konsumen yang berbeda bila mereka merasa tidak puas dengan suatu pembelian.

Para peneliti mengidentifikasi 5 (lima) perilaku komplain umum, yaitu:

1. Menghadapi perusahaan dengan cara tertentu.

2. Menghindari perusahaan yang sama dan membujuk teman-teman serta

keluarganya, untuk melakukan, menghindari perusahaan yang sama.

3. Mengambil tindakan terbuka yang melibatkan pihak ketiga, misalnya

melancarkan tindakan resmi untuk memperoleh ganti rugi.

4. Memboikot perusahaan atau organisasi.

(9)

Model perilaku komplain konsumen mengidentifikasi 2 (dua) tujuan

utama untuk mengeluh. Pertama, konsumen mengeluh untuk menutupi kerugian

ekonomi. Kedua, membangun kembali citra diri mereka.

Adapun beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi komplain konsumen:

1. Tingkat ketidakpuasan meningkat

2. Sikap konsumen untuk mengeluh meningkat

3. Jumlah manfaat yang diperoleh dari sikap mengeluh meningkat

4. Perusahaan disalahkan atas satu masalah

5. Produk tersebut penting bagi konsumen

6. Sumber-sumber yang tersedia bagi konsumen untuk mengeluh meningkat

Penelitian ini memasukkan respon perilaku eksternal (external

behavioural responses) yang mencakup tindakan public (public actions) seperti

melakukan komplain langsung (direct) kepada perusahaan itu, ataupun tidak

langsung (indirect) kepada lembaga perlindungan konsumen atau semacamnya,

dan juga tindakan pribadi seperti berita buruk (WOM negative), bertukar

penyedia jasa (switching), dan berhenti menggunakan jasa dari penyedia jasa

(boycotting) (Crie,2003). Sedangkan respon perilaku internal (internal

behavioural responses) seperti menyalahkan diri sendiri (self-blame) dan tidak

menghiraukan (denial) juga diikutsertakan. Maka perilaku komplain konsumen

yang digunakan sebagai dasar penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Respon Tindakan Eksternal (External Response Actions)

a. Langsung (Direct)

(10)

c. Mulut ke Mulut (Word of mouth)

d. Beralih (Switch)

e. Memboikot (Boycott)

2. Respon Tindakan Internal (Internal Response Actions)

a. Menyalahkan Diri Sendiri (Self-blame)

b. Menolak (Deny)

Terdapat berbagai macam faktor yang menjelaskan perilaku komplain

konsumen, dengan faktor emosi menjadi salah satu penentu di dalamnya.

Pengklasifikasian daripada respon-respon emosi dan perilaku konsumen yang

digunakan dalam penelitian ini tidak dimaksudkan untuk menjadi sebuah

taksonomi lengkap tentang seorang konsumen yang tidak puas. Melainkan,

penelitian ini berupaya untuk memeriksa alasan tentang respon-respon terhadap

ketidakpuasan yang dialami konsumen untuk mengakomodasi hasilnya

(Vincent,2005).

Menurut Kartono, terdapat 4 (empat) tipe respon terhadap ketidakpuasan

antara lain:

1. Passives

Kelompok konsumen yang jarang mengambil tindakan bila merasa tidak puas.

Mereka merasa tidak ada manfaat dan norma pribadi mereka tidak mendukung

aktivitas komplain.

2. Voices

Kelompok konsumen yang jarang melakukan public action sebaliknya mereka

(11)

karena menurut mereka ada manfaat sosial dan kepribadian mereka

mendukung.

3. Irotes

Kelompok konsumen yang meyakini bahwa komplain memiliki manfaat

sosial. Private action di atas tingkat rata-rata walau direct action rendah.

4. Activists

Kelompok konsumen yang cenderung melakukan private, direct, dan public

action. Mereka sangat yakin bahwa komplain membawa manfaat sosial dan

kepribadian mereka mendukung.

2.6 Penelitian Terdahulu

1. Prahman (2008) melakukan penelitian dengan judul “Analisis Pengaruh Emosi

terhadap Respon Tindakan di dalam Perilaku Komplain Konsumen Setelah

Terjadinya Service Failure”, membuktikan bahwa emosi berpengaruh secara

positif dan signifikan terhadap respon tindakan di dalam perilaku komplain

konsumen setelah terjadinya service failure.

2. Hansen et al. (2006) melakukan penelitian dengan judul “Measuring Emotions

In A Marketing Context”, membuktikan bahwa pada penelitian berskala besar

dengan 800 responden,meliputi 64 merek, memberikan temuan pada respon

emosional kecenderungan untuk merek, dan berhubungan dengan keterlibatan,

(12)

Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu Nama Peneliti Judul Penelitian Variabel

Penelitian Hasil Penelitian Yuliaddhi di dalam Perilaku Komplain secara positif dan signifikan terhadap respon tindakan di dalam perilaku untuk merek, dan berhubungan dengan

2.7 Kerangka Konseptual

Kegagalan jasa yang terjadi pada pelayanan suatu perusahaan dapat

menyebabkan ketidakpuasan pada konsumen. Kegagalan jasa yang terjadi pada

pelayanan suatu perusahaan tersebut akan memberikan dampak negatif kepada

konsumen. Sehingga akan menimbulkan emosi eksternal, situasional, dan

(13)

Emosi Eksternal (X1)

Emosi Situasional (X2)

Emosi Internal (X3)

menghina, kecewa, sedih, takut, malu, merasa bersalah dan menyesal yang dapat

memberikan pengaruh terhadap perilaku komplain konsumen.

Berdasarkan latar belakang, pendapat para ahli, dan beberapa hasil

penelitian terdahulu, maka kerangka konseptual penelitian ini adalah:

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

2.8 Hipotesis Penelitian

Hipotesis adalah penjelasan sementara tentang perilaku, fenomena, atau

keadaan tertentu yang telah terjadi atau akan terjadi, yang kemudian akan diuji

kebenarannya melalui penelitian yang dilakukan (Kuncoro, 2003:48).

Berdasarkan perumusan masalah dan kerangka konseptual yang telah

dipaparkan, maka peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut:

1. Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara emosi eksternal terhadap

perilaku komplain konsumen pada PT. Bank XXX Medan.

2. Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara emosi situasional terhadap

perilaku komplain konsumen pada PT. Bank XXX Medan.

3. Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara emosi internal terhadap

perilaku komplain konsumen pada PT. Bank XXX Medan.

Perilaku Komplain

Konsumen

(14)

4. Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara emosi eksternal, emosi

situasional, dan emosi internal berpengaruh positif terhadap perilaku komplain

Gambar

Tabel 2.1 Klasifikasi Emosi
Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

Referensi

Dokumen terkait

Hal tersebut merupakan salah satu agenda yang dijadikan oleh Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Penjaminan Mutu (LP3M) dalam merumuskan bagaimana.. kemudian

Berdasarkan analisis yang telah dilakukan pada akun Facebook Humor Politik terkait kasus Pilkada DKI Jakarta tahun 2017 dengan menggunakan analisis wacana kritis Norman Faircough,

[r]

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas organoleptik susu pasteurisasi sari buah sirsak ( Annona muricata L) dengan penambahan kayu secang ( Caesalpinia sappan L .)

Permasalahan yang dijadikan objek penelitian dan pengembangan tugas akhir ini adalah mengimplementasikan dan menganalisis integritas dan keamanan data yang dikirim dan diterima

Sehingga dapat dirumuskan dari pernyataan di atas bahwa layanan konseling kelompok berhubungan dengan kedisiplinan.Berdasarkan uraian tersebut, layanan konseling kelompok

sistim Pengaturan/pengendalian lalu lintas pada persimpangan mempunyai cakupan luas antara lain masalah perhitungan besarnya kapasitas persimpangan yang ada, volume lalu lintas,

Penelitian ini dilakukan untuk menguji pengaruh antara modal intelektual (yang diukur melalui physical capital efficiency , human capital efficiency , dan structural