Tugas Laporan Drainase Dan Penyaluran Air Buangan
SISTEM SEWERAGE SALURAN TERTUTUP CLUSTER KAWASAN SURYA UNIVERSITY-TENJO
Oleh:
Cecilia Tiara Kusdiari (103131817032664)
Cindy Lanovia Koleangan (103134727544553)
Stefanny Trifena (103136838229644)
Venessa Yunica Rodearni Damanik (103131819527766)
Wardatul Jannah (103139177890128)
Pengajar:
Dr. Maria Prihandrijanti, S.T.
PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN
BAB I PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Air buangan dapat diartikan sebagai sisa air dari hasil kegiatan makhluk hidup
yang sudah tidak terpakai dan yang dibuang. Selain itu, air buangan juga dapat
diartikan sebagai air yang telah selesai digunakan oleh berbagai kegiatan manusia
(rumah tangga, industri, sarana umum, dll) dan pada umumnya mengandung
bahan-bahan atau zat-zat yang dapat membahayakan kesehatan manusia serta
mengganggu lingkungan hidup. Menurut California Environmental Protection
Agency, air buangan merupakan air yang berisi limbah yang sumbernya sebagian
besar berasal dari permukiman atau perumahan, komersial, dan proses industri.
Berdasarkan beberapa pengertian tersebut, maka perlu dipikirkan cara untuk
mengalirakan air buangan dari sumbernya ke tempat pengolahan air buangan
sebelum dibuang ke sungai maupun ke sumber outlet lainnya agar tidak
membahayakan kesehatan manusia dan tidak mengurangi nilai kualitas
lingkungan. Salah satu cara untuk menangani permasalahan diatas yakni dengan
membuat suatu sistem drainase air buangan atau yang biasa dikenal dengan sistem
sewerage.
Untuk mencegah terjadinya penurunan kualitas lingkungan dan mencegah
terjadinya dampak terhadap kesehatan manusia oleh karena adanya air buangan
yang bersumber dari perumahan dan area komersil di daerah pembangunan
kampus Surya, Bogor maka penulis hendak merencanakan, dan mendesain suatu
sistem drainase air buangan dengan prinsip berkelanjutan di daerah tersebut.
Dengan adanya sistem drainase tersebut diharapkan tercipta kondisi lingkungan
yang baik.
1.2Tujuan
Membuat desain sistem drainase air buangan dari area permukiman dan
komersial di daerah pembangunan kawasan kampus Surya Bogor dengan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Jenis Saluran Drainase dan Penyaluran Air Buangan
Menurut Hasmar (2002), berdasarkan konstruksinya drainase dikelompokan
menjadi dua, yaitu saluran terbuka dan saluran tertutup. Saluran terbuka adalah
sistem saluran yang biasanya direncanakan hanya untuk menampung dan
mengalirkan air hujan (sistem terpisah), namun kebanyakan sistem saluran ini
berfungsi sebagai saluran campuran (Nastiti 2013). Saluran terbuka pada
pinggiran kota biasanya tidak diberi lining (lapisan pelindung), namun khusus untuk saluran terbuka di dalam kota harus diberi lining dengan beton, pasangan batu (mansory), ataupun dengan pasangan batu bata (Nastiti 2013). Sedangkan
saluran tertutup merupakan saluran untuk air kotor/ air buangan yang dapat
mengganggu kesehatan lingkungan (Nastiti 2013). Penerapan sistem ini cukup
bagus digunakan pada daerah perkotaan, terutama kota yang memiliki kepadatan
penduduk yang tinggi, seperti kota metropolitan dan kota-kota besar lainnya
(Nastiti 2013).
De Chaira dan Kopplemen (1994), membedakan saluran untuk pembuangan
air sebagai berikut:
2.1.1 Saluran Air Tertutup
a. Drainase bawah tanah tertutup, yaitu saluran yang menerima air limpasan dari daerah yang diperkeras, maupun yang tidak diperkeras
dan membawanya ke sebuah pipa keluar di sisi tapak (saluran
permukaan atau sungai) ke sistem drainase kota.
b. Drainase bawah tanah tertutup dengan tempat penampungan pada tapak, dimana drainase ini mampu menampung air limpasan dengan
volume dan kecepatan yang meningkat tanpa menyebabkan erosi dan
kerusakan pada tapak.
2.1.2 Saluran Air Terbuka
Saluran terbuka merupakan saluran yang dapat mengalirkan air
dengan suatu permukaan bebas, dimana apabila terdapat sampah yang
yang ditimbulkan dapat mengurangi kenyamanan. Menurut asalnya,
saluran dibedakan menjadi:
a. Saluran Alami (natural), meliputi selokan kecil, kali, sungai kecil dan sungai besar sampai saluran terbuka alamiah.
b. Saluran Buatan (artificial), seperti saluran pelayaran, irigasi, parit pembuangan, dan lain-lain.
2.1.3 Saluran Air Kombinasi
Limpasan air terbuka yang dikumpulkan pada saluran drainase
permukaan, dimana limpasan dari daerah yang diperkeras
dikumpulkan pada saluran drainase tertutup.
2.2 Jumlah Konsumsi Air Bersih dan Jumlah Limbah Domestik
Berikut ini merupakan tabel pemakaian air bersih dan debit air limbah berdasarkan peruntukan yang mengacu Population Equivalen (PE) untuk perancangan IPAL berdasarkan Peraturan Gubernur DKI No. 122 Tahun 2005:
Tabel 2.2.2 Kriteria Perencanaan Air Bersih
(Kriteria Perencanaan Ditjen Cipta Karya Dinas PU 1996)
2.3 Faktor yang Mempengaruhi Konsumsi Air Bersih
Menurut Linsley et al. (1995) dalam Raharjo (2002), faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan air di perkotaan adalah sebagai berikut:
1. Iklim, kebutuhan air untuk keperluan sehari-hari seperti mandi,
mencuci, menyiram tanaman semakin tinggi pada musim
kering/kemarau.
2. Ciri-ciri penduduk, taraf hidup dan kondisi sosial ekonomi penduduk
mempunyai korelasi positif dengan jumlah kebutuhan air. Artinya
pada penduduk dengan kondisi sosial ekonoi yang baik dan taraf
penduduk dengan sosial ekonomi yang kurang mencukupi dan taraf
hidupnya lebih rendah. Meningkatnya kualitas kehidupan penduduk
menyebabkan terjadinya peningkatan aktivitas hidup yang diikuti pula
dengan meningkatnya kebutuhan air.
3. Harga air dan meteran, bila harga air mahal, orang akan lebih
menaham diri dalam pemakaian air. Selain itu langganan yang jatah
air diukur dengan meteran cenderung untuk mempergunakan air
dengan jarang.
4. Ukuran kota, ukuran kita diindikasikan dengan jumlah saran dan
prasarana yang dimiliki oleh suatu kota seperti industri, perdagangan,
taman-taman dan sebagainya. Semakin banyak sarana dan prasarana
kota yang dimiliki pemakaian air juga semakin besar.
Selain itu penggunaan air bersih diperkotaan juga dipengaruhi oleh
faktor-faktor sebagai berikut (Terence J. Mc Ghee, 1991 dalam Raharjo, 2002) :
1. Besaran kota, yang membawa pengaruh tidak langsung misalnya
komunitas yang kecil lebih cenderung membatasi pemakaian air.
2. Kehadiran industri dan fasilitas komersial, yang membawa pengaruh
terhadap peningkatan penggunaan air bersih guna menunjang segala
aktivitasnya.
3. Karakteristik penduduk, terutama tingkat sosial ekonomi. Dalam hal
ini semakin tinggi tingkat pendapatan penduduk maka akan semakin
banyak pulaair bersih yang digunakan.
4. Penggunaan meter air, yaitu suplai air yang menggunakan meter air
akan cenderung dibatasi penggunaannya oleh penduduk.
5. Beracam-macam faktor, termasuk iklim dan kualitas air.
2.4 Ketentuan Desain Hidrolik Sistem Saluran Air Limbah (Sewer) 2.4.1 Manholes
Pada sistem drainase diperlukan adanya jalur untuk dapat
mengakses, menguji, memeriksa, dan membersihkan saluran air limbah
digunakan sebagai jalur masuk ke saluran air buangan untuk memeriksa,
memelihara, atau memperbaiki saluran dari kotoran/ limbah yang terbawa
alirannya, serta dari berbagai gangguan teknis/ fisik lingkungan, misalnya
keretakan pipa karena faktor usia, dan lain sebagainya (Departemen
Pekerjaan Umum 2015).
Gambar 2.4.1.1 Backdrop Manhole (Butler 2011)
Penentuan perencanaan letak dan pemasangan manholes harus disediakan
setiap ada (Butler 2011):
- Perubahan arah, baik vertikal maupun horisontal
- Ujung saluran pipa/ Kepala saluran
- Perubahan gradien
- Perubahan dimensi/ ukuran pipa
- Persimpangan utama dengan saluran lain
- Jarak 90 m (kalau dimensi/ ukuran salurannya tidak terlalu besai) dan jarak
200 m (kalau dimensi/ ukuran salurannya besar)
Pada jalur saluran yang lurus, manholes dapat dipasang setiap jarak tertentu sesuai dengan diameter salurannya. Berikut merupakan tabel ketentuan
Tabel 2.4.1.1 Jarak Antar Manhole Pada Jalur Lurus Diameter (mm) Jarak Antar Manhole (m) Referensi
(20 – 50) 50 – 75 Materi Training + Hammer
Berdasarkan kedalaman dan cover-nya, manhole dapat diklasifikasikan
menjadi (Universitas Brawijaya 2012):
- Manhole dangkal: kedalaman (0,75 – 0,9) m, dengan cover kedap
- Manhole normal: kedalaman 1,5 m, dengan cover berat - Manhole dalam: kedalaman di atas 1,5 m, dengan cover berat.
Bentuk umum manholes yang sering diterapkan dalam sistem sewer adalah persesi panjang, kubus, dan lingkaran. Berikut merupakan beberapa
persyaratan bagian-bagian manholes (Departemen Pekerjaan Umum 2011): 1. Sumuran Pemeriksa:
- Dinding dan pondasi harus kedap air
- Cukup kuat dari gaya-gaya luar
- Cukup luas agar petugas dapat masuk ke dalam manhole - Terbuat dari beton atau pasangan batu bata dan batu kali
- Jika ø pipa cukup besar dengan kedalaman ≥2,5 m, maka
digunakan beton bertulang
- Bagian atas manhole ditutup dengan rangka penutup (frame & cover) yang kuat menahan beban
2. Rangka dan Penutup:
a. Bahan Rangka dan Tutup Manhole harus terbuat dari cast iron:
- Kekuatan yang memadai untuk menopang beban yang tidak
terduga
- Pemasangan engsel pintu dan atau kunci dari penutup untuk
mencegah kerusakan atau hal-hal yang tidak diinginkan masuk
ke dalam manhole
b. Berat dan dimensi dari rangka dan penutup manhole: Tabel 2.4.1.2 Dimensi Rangka dan Penutup Manhole
No. Tipe dari Rangka
2. Kelas Menengah Penutup dalamnya 600
mm, ømin: 500 mm
Kerangka: 760 mm x
760 mm
250 Melayani daerah
domestik dan daerah
dengan beban roda
tidak lebih dari 1 ton
3. Kelas Berat Sama seperti di atas 530 Dipakai untuk
pelayanan pada jalan kereta
(Departemen Pekerjaan Umum 2011)
3. Tangga Manhole:
Ada 2 macam bahan manhole step, yaitu cast iron atau wrough iron step.
- Perlengkapan ini merupakan sebuah tangga besi yang dipasang
menempel di dinding manhole sebelah dalam untuk keperluan operasional
- Dipasang vertikal dan zig-zag 20 cm dengan jarak vertikal
masing-masing 30 – 40 cm
4. Dinding Manhole:
- Bentuk bundar atau persegi
- Bahan dari pasangan batu bata, batu kali, atau beton dengan
adukan kedap air (untuk mengurangi infiltrasi)
- Bila diameter saluran cukup besar dengan kedalaman > 2,5 m,
- Sebelah dalam manhole dapat di-lining dengan epoxy bila ada resiko korosi sulfide
- Ketebalan:
a. 20 cm untuk kedalaman sampai dengan 1,5 m
b. 30 cm untuk kedalaman > 1,5 m
Atau dengan formula:
t = 6.h, dimana t: tebal dinding manhole (cm) dan h: kedalaman manhole (m).
2.4.2 Pipa
Pipa adalah saluran buatan pada sistem sewer yang digunakan untuk mengalirkan air limbah dalam suatu sistem tertutup ke tempat pengolahan air
limbah sebelum dibuang ke badan air. Pada sistem drainase terpisah (separate), pipa air limbah dan pipa air hujan mengalir pada pipa yang berbeda. Pemasangan
dan penanaman pipa air limbah dan pipa air bersih biasanya bersebelahan. Hal
tersebut bertujuan untuk dapat meminimalkan biaya pada saat galian waktu
konstruksi dan pemeliharaan pipa. Gambar 2.2.2.1 dan 2.2.2.2 berikut merupakan
gambar jaringan pipa retikulasi dan pipa induk air limbah:
Gambar 2.4.2.1 Perpipaan Retikulasi
Gambar 2.4.2.2 Pipa Induk Air Limbah
(Universitas Brawijaya 2012)
Pemilihan bahan saluran perpipaan air limbah harus selektif, agar tidak
menimbulkan masalah pencemaran di kemudian hari. Beberapa faktor yang perlu
diperhatikan dalam pemilihan bahan saluran perpipaan secara menyeluruh, antara
lain (Universitas Brawijaya 2012):
- Umur ekonomis
- Pengalaman pipa sejenis yang telah diaplikasikan di lapangan
- Resistensi terhadap korosi (kimia) atau abrasi (fisik)
- Koefisien kekasaran (hidrolik)
- Kemudahan transport dan handling - Kekuatan struktur
- Biaya suplai, transpor, dan pemasangan
- Ketersediaan di lapangan
- Ketahanan terhadap disolusi di dalam air
- Kekedapan dinding
- Kemudahan pemasangan sambungan
Pipa yang bisa dipakai untuk penyaluran air limbah, antara lain Vitrified
Clay (VC), Asbestos Cement (AC), Reinforced Concrete (RC), Steel, Cast Iron,
High Density Poly Ethylene (HDPE), Unplasticised Polyvinylchloride (uPVC)
dan Glass Reinforced Plastic (GRP). Berikut ini merupakan beberapa jenis pipa
A. Pipa Beton
a. Aplikasi:
1) Pada pengaliran gravitasi (lebih umum) dan bertekanan
2) Untuk pembuatan sifon
3) Untuk saluran drainase dengan diameter (300-3600) mm akan
lebih ekonomis mengingat durabilitasnya jauh lebih baik
dibandingkan dengan bahan saluran lainnya
4) Hindari aplikasi sebagai sanitary sewer dengan dimensi kecil
terutama bila ada air limbah industri atau mengandung H2S
berlebih. Untuk dimensi kecil hingga diameter 45 mm,
biasanya dipakai pipa dengan bahan PVC atau lempung
5) Pada sanitary trunk sewer, beton bertulang juga dipakai dengan
diameter lebih besar daripada diameter VCP maksimal, dengan
lining plastik atau epoksi (diproses monolit di pabrik); atau
pengecatan bitumas-tik atau coal tar epoxy (dilakukan setelah
instalasi di lapangan).
b. Ukuran dan Panjang Pipa
1) Pipa pracetak dengan diameter di atas 600 mm harus dipasang
dengan tulangan, meskipun pada diameter yang lebih kecil
tetap dibuat beton bertulang
2) Untuk konstruksi beton bertulang (pracetak), diameter dan
panjang yang tersedia di lapangan
a) Diameter: [(300)-600-2700] mm
b) Panjang: - 1,8 m untuk pipa dengan diameter < 375 mm
- 3 m untuk pipa dengan diameter > 375 mm
c) Tersedia 5 kelas berdasarkan pada kekuatan beban
eksternal
3) Untuk konstruksi beton tidak bertulang (pracetak)
a) Diameter : (100-600) mm
b) Panjang : (1,2-7,3) m
a) Untuk diameter > 760 mm
b) Dengan menggunakan sambungan senyawa mastik
atau gasket karet yang membentuk seal kedap air
dengan plastik atau tar panas mastik, clay tile, atau
senyawa asphatik
2) Spigot dan soket dengan semen
a) Untuk diameter (305-760) mm
b) Ekonomis
c) Mudah pemasangannya
d) Aman dan memuaskan
3) Cincin karet fleksibel
d. Lining (Lapisan Dasar Pipa)
Penerapan lining dilakukan bila pipa yang bersangkutan
menyalurkan air limbah yang belum terolah dengan bahan tahan korosi
seperti:
1) Spesi semen alumina tinggi
- Tebal 12 mm untuk diameter ≤ 675 mm
- Tebal 20 mm untuk diameter (750-825) mm
2) PVC atau ekuivalen untuk diameter ≥ 900 mm
3) PVC sheet
4) Penambahan ketebalan dinding sebagai beton deking
e. Komponen bahan
Komponen bahan pipa beton menggunakan agregat limestone atau
dolomite dengan semen tipe 5.
f. Kelebihan pipa beton. Beberapa pertimbangan pemilihan pipa beton:
1) Konstruksi: kuat
2) Dimensi: tersedia dalam variasi yang besar, dan dapat dipesan.
g. Kerugian/kelemahan pipa beton. Beberapa kelemahan aplikasi pipa
beton
(karena semen dari bahan alkali) adalah korosi terhadap asam atau
H2S, kecuali bila diberi lining, pemeliharaan kecepatan glontor,
h. Spesifikasi untuk pelaksanaan konstruksi dilapangan yang perlu
diminta atau diketahui adalah spesifikasinya, minimal mencakup:
1) Diameter
2) Klas dan/atau kekuatan
3) Metode manufakturf
4) Metode sambungan
5) Lining
6) Komposisi bahan (macam agregat bila limestone)
i. Penyambungan Sambungan Rumah
Untuk pipa beton diameter besar dapat dilakukan pelobangan,
dengan memasukkan spigot dari sambungan rumah sambil menutup
sela-selanya dengan spesi beton (mortar).
B. Pipa Plastik
a. Bahan
1) PVC (polyvinyl chloride)
2) PE (polyethylene)
b. Aplikasi
1) PVC: untuk sambungan rumah dan pipa cabang
2) PE: untuk daerah rawa atau persilangan di bawah air
c. Klasifikasi
1) Standar JIS K 6741-1984
- Klas D/VU dengan tekanan 5 kg/cm2 -
Klas AW/VP dengan tekanan 10 kg/cm2
2) Standar SNI 0084-89-A/SII-0344-82
- Seri S-8 dengan tekanan 12,5 kg/cm2 -
Seri S-10 dengan tekanan 10 kg/cm2 -
Seri S-12,5 dengan tekanan 8 kg/cm2 -
Seri S-16 dengan tekanan 6,25 kg/cm2
d. Diameter dan Panjang Lapangan
1) Diameter sampai dengan 300 mm
2) Panjang standar 6 m
e. Sambungan
1) Solvent (lem): untuk diameter kecil 2) Cincin karet: untuk diameter lebih besar
f. Keuntungan
1) Ringan
2) Sambungan kedap
3) Peletakan pipa panjang
4) Beberapa jenis pipa tahan korosi
g. Kerugian
1) Kekuatannya mudah terpengaruh sinar matahari dan temperatur
rendah
2) Ukuran tersedia terbatas
3) Perlu lateral support
2.4.2.1Kecepatan dan Kemiringan Pipa
1) Kemiringan pipa minimal diperlukan agar di dalam pengoperasiannya
diperoleh kecepatan pengaliran minimal dengan daya pembilasan
sendiri (tractive force) guna mengurangi gangguan endapan di dasar pipa.
2) Koefisien kekasaran Manning untuk berbagai bahan pipa. Berikut ini
merupakan tabel koefisien kekasaran pipa:
Tabel 2.4.2.1.1 Koefisien Kekasaran Pipa
No. Jenis Saluran Koefisien
Kekasaran Manning (n)
1. Pipa Besi Tanpa Lapisan
1.1Dengan Lapisan Semen
1.2Pipa Berlapis Gelas
5. Pipa Baja Spiral & Pipa
Kelingan
0,013 – 0,017
6. Pipa Plastik Halus (PVC) 0,002 – 0,012
7. Pipa Tanah Liat (Vitrified Clay)
0,011 – 0,015
(Universitas Brawijaya 2012)
3) Kecepatan pengaliran pipa minimal saat aliran penuh (full flow) atas dasar tractive force
Tabel 2.4.2.1.2 Kecepatan Pengaliran Pipa
(Universitas Brawijaya 2012)
4) Kemiringan pipa minimal praktis untuk berbagai diameter atas dasar
kecepatan 0,60 m/s, saat pengaliran penuh adalah:
Tabel 2.4.2.1.3 Kemiringan Minimal Pada Kecepatan Aliran 0,6 m/s
(Universitas Brawijaya 2012)
Atau dengan formula praktis :
dalam perancangan saluran air buangan kawasan adalah 0,006
(Secioputri 2014).
5) Kemiringan muka tanah yang lebih curam daripada kemiringan pipa
minimal bisa dipakai sebagai kemiringan desain selama kecepatannya
masih di bawah kecepatan maksimal.
2.4.2.2Perencanaan dan Pembangunan IPAL Domestik
Sistem pembuangan air limbah yang umum digunakan masyarakat
yakni air limbah yang berasal dari toilet dialirkan ke dalam tangki septik
dan air lmpasan dari tangki septik diresapkan ke dalam tanah atau dibuang
ke saluran umum, sedangkan air limbah non-toilet yakni berasal dari
kegiatan MCK dibuang langsung ke saluran umum (BPPT NY).
1. Kriteria penentuan kapasitas IPAL Domestik Individual atau Komunal
Untuk menentukan kapasitas IPAL Individual yang harus dipasang
dilakukan dengan mengacu pada besaran People Equivalent (PE) yaitu untuk riumah biasa perkiraan jumlah air limbah adalah
120/liter/orang/hari. Untuk kategori jenis peruntukan bangunan yang
lain besaran People Equivalent (PE) dapat dilihat pada tabel PE (BPPT NY).
Untuk menghitung besarnya kapasitas IPAL dapat dilakukan
berdasarkan besarnya koefisien luas bangunan atau berdasarkan jumlah
penghuni bangunan. Untuk bangunan yang baru, perkiraan jumlah air
limbah umumnya dilakukan berdasarkan PE untuk tiap-tiap
peruntukan dikalikan dengan satuan kapasitas (jumlah orang atau luas
lantai) (BPPT NY).
2. Kriteria Perencanaan IPAL Domestik
Pemilihan proses pengolahan air limbah domestik yang digunakan
didasarkan atas beberapa kriteria yang diinginkan oleh pengguna yaitu
antara lain (Said 2015):
Efisiensi pengolahan dapat mencapai standar baku mutu air limbah domestik yang diinginkan
Konsumsi energi sedapat mungkin rendah Biaya operasinya rendah
Lumpur yang dihasilkan sedapat mungkin kecil
Dapat digunakan untuk air limbah dengan beban BOD yang cukup besar
Dapat menghilangkan padatan tersuspensi dengan baik
Dapat menghilangkan amoniak sampai mencapai standar baku mutu yang berlaku
3. Kapasitas IPAL Domestik yang Direncanakan (Said 2015):
- Kapasitas Pengolahan : 150 m3 per hari
6,25 m3 per jam
104, 17 liter per menit
- BOD Air Limbah rata-rata : 300 mg/l
- Konsentrasi TSS : 300 mg/l
- Total Efisiensi Pengolahan : 90-95%
BAB III METODOLOGI
3.1 Gambaran Umum Wilayah Perencanaan
Gambar 3.1 Peta Desa Tenjo, Kecamatan Tenjo
Kawasan kampus Surya University baru yang masih dalam tahap
pembangunan bertempatan di desa Tenjo, kecamatan Tenjo terletak pada ujung
paling barat kabupaten Bogor, provinsi Jawa Barat dengan jumlah penduduk ±
7000 orang dengan kepadatan sedang dengan perbatasan kabupaten Tangerang
(Ensiklopedia Dunia NY). Sebagian besar wilayah Tenjo merupakan lahan kosong
yang digunakan sebagai mata pencaharian pertanian. Desa Tenjo mempunyai luas
wilyah 2.221 Ha (Lembar Daerah Kabupaten Bogor 2002).
Secara geografis, desa Tenjo berbatasan dengan :
a. Batas wilayah sebelah utara : Desa Singabangsa, Kecamatan Tenjo
b. Batas wilayah sebelah timur : Desa Cilaku, Kecamatan Tenjo
c. Batas wilayah sebelah selatan : Desa Singabraja, Kecamatan Tenjo
d. Batas wilayah sebelah barat : Kabupaten Tangerang, Banten
3.2Uraian Perhitungan
3.2.1 Penentuan Debit Air Limbah
Perhitungan debit air limbah berdasarkan pada konsumsi air bersih
tersebut diperkirakan sebanyak 70% hingga 80% dari penggunaan air
bersih. Estimasi debit air limbah diperoleh dengan persamaan berikut
(Pratiwi 2015) :
1. Q ave air bersih = Kebutuhan air bersih per orang x Jumlah
penduduk
2. Q ave air limbah = (80%) x Qave air bersih
3. Q peak = Qave x fpeak
Nilai faktor peak didapatkan dari gambar 2.6.1 berikut:
Gambar 3.2.1 Grafik Peaking Factor for Domestic Wastewater Flows
3.2.2 Penentuan Diameter Miniamal Pipa
Dalam menentukan lebar diameter pompa menggunakan rumus
Hazen Williams:
QP = x [D]8/3 x [S]1/2
Keterangan : n = koefesien maining (0,012-untuk pipa PVC dan 0,016
untuk pipa beton)
Keterangan : S = derajat kemiringan (0,006)
3.3Desain Perencanaan Wilayah Cluster
Perancangan sistem sewerage saluran tertutup dilakukan pada kawasan
Tenjo, yaitu kawasan kampus baru Surya University. Berikut ini merupakan
gambaran kawasan cluster yang diambil dari kawasan kampus baru Surya
Gambar 3.3.1 Kawasan Perencanaan Sistem Sewerage Saluran Tertutup yang
Dipakai
Wilayah Kecamatan Tenjo ini memiliki topografi sedang dengan
ketinggian beragam, ditunjukkan dengan ketinggian wilayah 3,25-5 meter di atas
permukaan laut. Berikut ini merupakan gambaran topografi dari wilayah
perancangan sistem sewerage:
Perancangan sistem sewerage saluran tertutup kawasan Tenjo dilakukan
dengan langkah-langkah sebagi berikut:
BAB IV
HASIL DESAIN ALIRAN PIPA
4.1 Penamaan Area Cluster
Gambar 4.1 Denah Area Cluster Secara Keseluruhan
Pada daerah area cluster terdapat penamaan di setiap blok untuk
mempermudah dalam mengatur penamaan desain pipa.
Berikut ini merupakan keterangan dari hasil penamaan per blok:
4.3 Detail Denah Pipa Area Cluster per Blok
4.4Blok A = Perumahan Dosen Tipe A dan Ruko
Gambar 4.4.1 Detail Denah Blok A
Keterangan Blok A =
Perumahan Dosen tipe A
Total Jumlah penghuni (N) = 81 unit x 5 orang = 405 orang
Konsumsi air bersih (Qd) = 250 Liter/orang/hari Ruko Blok A
Total Jumlah penghuni (N) = 75 unit x 5 orang = 375 orang
Konsumsi air bersih (Qd) = 100 Liter/orang/hari
4.5Blok B = Perumahan Dosen Tipe B
Gambar 4.5.1 Detail Denah Blok B
Gambar 4.5.3 Desain Aliran Debit Limbah Blok B
Keterangan Blok B =
Konsumsi Air Bersih (QB) = 150 liter/orang/hari
Jumlah penghuni = 1 unit @4 orangumlah penghuni
Total penghuni = 162 x 4 = 648 orang
4.6Blok C = Perumahan Dosen Tipe C
Gambar 4.6.2 Desain Jaringan Perpiaan Blok C
Gambar 4.6.3 Desain Aliran Debit Limbah Blok C
Keterangan Blok C =
Konsumsi Air Bersih (QB) = 150 liter/orang/hari
Jumlah penghuni = 1 unit @4 orang
4.7Blok D = Asrama Hibah PU
Gambar 4.7.1 Detail Denah Blok D
Gambar 4.7.2 Desain Jaringan Perpiaan Blok D
Gambar 4.7.3 Desain Aliran Debit Limbah Blok D
Keterangan Blok D =
Konsumsi Air Bersih (QB) = 120 liter/orang/hari
Jumlah penghuni = 3 unit @260 orang
4.8Blok E = KSB Blok E
Gambar 4.8.1 Detail Denah Blok E
Gambar 4.8.2 Desain Jaringan Perpiaan Blok E
Ga
Keterangan Blok E =
Konsumsi Air Bersih (QB) = 900 liter/orang/hari
Jumlah Unit = 121 unit
Debit Air Limbah = 1 x 10-3 m3/hari
4.9Blok F = Asrama
Gambar 4.9.1 Detail Denah Blok F
Gambar 4.9.3 Desain Aliran Debit Limbah Blok F
Keterangan Blok F =
Konsumsi Air Bersih (QB) = 120 liter/orang/hari
Jumlah penghuni = 6 Tower Besar @250 orang
Jumlah penghuni = 4 Tower Kecil @50 orang
Total penghuni = (6 x 250) + (4 x 50) = 1,500 + 200 = 1,700 orang
4.10 Blok G = KSB Blok G
Gambar 4.10.2 Desain Jaringan Perpiaan Blok G
Gambar 4.10.3 Desain Aliran Debit Limbah Blok FG
Keterangan Blok G =
Konsumsi Air Bersih (QB) = 900 liter/orang/hari
4.11 Blok H = KSB Blok H
Gambar 4.11.1 Detail Denah Blok H
Gambar 4.11.3 Desain Aliran Debit Limbah Blok H
Keterangan Blok H =
Konsumsi Air Bersih (QB) = 900 liter/unit/harI
Jumlah unit = 121 unit
4.12 Blok I = KSB Blok I
Gambar 4.12.2 Desain Jaringan Perpiaan Blok I
Gambar 4.12.3 Desain Aliran Debit Limbah Blok I
Keterangan Blok I =
Konsumsi Air Bersih (QB) = 900 liter/unit/hari
4.13 Blok J = Rusunami
Gambar 4.13.1 Detail Denah Blok J
Gambar 4.13.2 Desain Jaringan Perpiaan Blok J
Keterangan Blok J =
Konsumsi Air Bersih (QB) = 100 liter/orang/hari
Jumlah penghuni = 20 Tower @300 orang
Total penghuni = 20 x 300 = 6,000 orang
4.14 Blok K = Land Bank
Gambar 4.14.1 Detail Denah Blok K
Gambar 4.14.3 Desain Aliran Debit Limbah Blok K
Keterangan Blok K=
Total Jumlah penghuni (N) = 130 unit x 5 orang = 650 orang
Konsumsi air bersih (Qd) = 100 Liter/orang/hari
4.15 Blok L = Pasar Modern
Gambar 4.15.2 Desain Jaringan Perpiaan Blok L
Gambar 4.15.3 Desain Aliran Debit Limbah Blok L
Keterangan Blok L =
Konsumsi Air Bersih (QB) = 40 liter/kios/hari
Luas Pasar 5000 m2 = 800 kios @6.25 m2
4.16 Blok M = Kampus SuryaUniversity
Gambar 4.16.2 Desain Jaringan Perpiaan Blok M
Gambar 4.16.3 Desain Aliran Debit Limbah Blok M
Keterangan Blok M =
Total Jumlah penghuni (N) = 3 gedung x 2000 orang = 6000 orang
BAB V
PERHITUNGAN DIAMETER DAN RAB
5.1Blok A = Perumahan Dosen Tipe A
Tabel 5.1.1 Perhitungan Diameter Pipa Blok A
Kode Pipa
(meter) D (milimeter)
Tabel 5.1.2 Perhitungan RAB Blok A
Kode Jumlah Panjang
(meter) D (meter) D (milimeter) Diameter Pipa Harga/4 meter Harga Total
AT
75 10,0 0,0100 10,0 22 19.030 3.568.125
47 13,0 0,0141 14,1 22 19.030 2.906.833
24 15,4 0,0141 14,1 22 19.030 1.752.663
9 22,2 0,0141 14,1 22 19.030 950.549
AS
3 120,0 0,0432 43,2 48 61.380 5.524.200
2 58,1 0,0257 25,7 26 26.070 757.855
1 94,1 0,0368 36,8 42 53.460 1.257.914
1 92,1 0,0236 23,6 26 26.070 600.131
1 159,9 0,0695 69,5 76 114.620 4.580.788
1 247,8 0,0398 39,8 42 53.460 3.312.382
5.2Blok B = Perumahan Dosen Tipe B
Tabel 5.2.1 Perhitungan Diameter Pipa Blok B
Tabel 5.2.2 Perhitungan RAB Blok B
Kode Jumlah Panjang
(meter) D (meter) D (milimeter) Diameter Pipa
Harga/4
meter Harga Total
BT 108 8 0,1067 10,673 22 19.030 4.110.480
54 12 0,1067 10,673 22 19.030 3.082.860
BS
9 110 0,2710 27,101 32 35.640 8.820.900
3 84 0,4764 47,637 48 61.380 3.866.940
1 288 0,7192 71,922 89 154.550 11.127.600
5.3Blok C = Perumahan Dosen Tipe C
Tabel 5.3.1 Perhitungan Diameter Pipa Blok C
Kode Pipa
Debit Konsumsi
L/hari
Debit Limbah
L/hari
Debit Limbah m3/sekon
faktor
peak Debit peak 0.3117/n S D (meter) D (milimeter)
CT1-157 600 480 0,0000056 2 0,000011 25,975 0,006 0,011 10,673
Tabel 5.3.2 Perhitungan RAB Blok C
Kode Jumlah Panjang
(meter) D (meter) D (milimeter)
Diameter Pipa
Harga/4
meter Harga Total
CT
138 7,3 0,1067 10,673 22 19.030 4.759.879
24 11,3 0,1067 10,673 22 19.030 1.284.525
3 71,5 0,4690 46,900 48 61.380 3.291.503
CS
3 67,7 0,3019 30,188 32 35.640 1.808.819
9 67,7 0,2328 23,279 26 26.070 3.969.353
3 119,0 0,4764 47,637 48 61.380 5.478.165
1 346,5 0,9262 92,621 114 256.080 22.182.930
5.4Blok D = Asrama Hibah PU
Tabel 5.4.1 Perhitungan Diameter Pipa Blok D
Kode Pipa
Tabel 5.4.2 Perhitungan RAB Blok D
Kode Jumlah Panjang
(meter) D (meter) D (milimeter) Diameter Pipa
Harga/4
meter Harga Total
DT 3 119 0,47637 47,637 48 61.380 5.478.165
5.5Blok E = KSB Blok E
Tabel 5.5.1 Perhitungan Diameter Pipa Blok E
Tabel 5.5.2 Perhitungan RAB Blok E
meter Harga Total
1 199,92 0,0688 68,80 76 114.620 5.728.708
2 80,50 0,0295 29,50 32 35.460 1.427.265
1 80,50 0,0382 38,20 42 53.460 1.075.883
1 44,61 0,0496 49,60 60 78.540 875.917
1 75,72 0,0496 49,60 60 78.540 1.486.762
Jumlah Harga Total 30.636.292
5.6Blok F = Asrama
Tabel 5.6.1 Perhitungan Diameter Pipa Blok F
Tabel 5.6.2 Perhitungan RAB Blok F
Kode Jumlah Panjang
(meter) D (meter) D (milimeter) Diameter Pipa Harga/4 meter Harga Total
FT
1 63 0,0253 25,3 26 26.070 410.603
1 9 0,0463 46,3 48 61.380 138.105
1 22 0,0253 25,3 26 26.070 143.385
5 13 0,0463 46,3 48 61.380 997.425
1 13 0,0253 25,3 26 26.070 84.728
1 39 0,0253 25,3 26 26.070 254.183
FS
1 81 0,0463 46,3 48 61.380 1.242.945
1 242 0,0699 69,9 76 114.620 6.934.510
1 232 0,0622 62,2 76 114.620 6.647.960
5.7Blok G = KSB Blok G
Tabel 5.7.1 Perhitungan Diameter Pipa Blok G
Kode Pipa
Tabel 5.7.2 Perhitungan RAB Blok G
Kode Jumlah Panjang
(meter) D (meter) D (milimeter) Diameter Pipa Harga/4 meter Harga Total
5.8Blok H = KSB Blok H
Tabel 5.8.1 Perhitungan Diameter Pipa Blok H
Tabel 5.8.2 Perhitungan RAB Blok H
Kode Jumlah Panjang
(meter) D (meter) D (milimeter) Diameter Pipa
Harga/4
meter Harga Total
HT 121 14 0,0124 12,40 22 19.030 8.059.205
HS
1 83 0,0188 18,76 76 114.620 2.378.365
1 86 0,0316 31,55 76 114.620 2.464.330
1 77 0,0422 42,16 76 114.620 2.206.435
1 86 0,0522 52,22 76 114.620 2.464.330
1 84 0,0618 61,78 76 114.620 2.407.020
1 33 0,0188 18,76 22 19.030 156.998
1 91 0,0283 28,33 32 35.640 810.810
1 151 0,0334 33,43 42 53.460 2.018.115
1 205 0,0382 38,21 42 53.460 2.739.825
1 266 0,0422 42,16 48 61.380 4.081.770
1 330 0,0456 45,58 48 61.380 5.063.850
1 330 0,036 35,95 42 53.460 4.410.450
5.9Blok I = KSB Blok I
Tabel 5.9.1 Perhitungan Diameter Pipa Blok I
Kode Pipa
Tabel 5.9.2 Perhitungan RAB Blok I
Kode Jumlah Panjang
(meter) D (meter) D (milimeter) Diameter Pipa Harga/4 meter Harga Total
IT 96 14 0,0124 12,40 22 19.030 6.394.080
IS 2 329 0,0351 35,15 42 53.460 8.794.170
2 329 0,0456 45,58 48 61.380 10.097.010
5.10 Blok J = Rusunami
Tabel 5.10.1 Perhitungan Diameter Pipa Blok J
Kode Pipa
Tabel 5.10.2 Perhitungan RAB Blok J
Kode Jumlah Panjang
(meter) D (meter) D (milimeter) Diameter Pipa Harga/4 meter Harga Total
5.11 Blok K= Land Bank
Tabel 5.11.1 Perhitungan Diameter Pipa Blok K
Kode Pipa
Tabel 5.11.2 Perhitungan RAB Blok K
Kode Jumlah Panjang
(meter) D (meter) D (milimeter) Diameter Pipa
Harga/4
meter Harga Total
KT
5.12 Blok L = Pasar Moder
Tabel 5.12.1 Perhitungan Diameter Pipa Blok L
Kode Pipa
Tabel 5.12.2 Perhitungan RAB Blok L
Kode Jumlah Panjang
(meter) D (meter) D (milimeter) Diameter Pipa Harga/4 meter Harga Total
LT1 1 8 0,0366 36,6 42 53.460 106.920
LS1 1 197 0,1119 111,9 114 256.080 12.611.940
LS2 1 197 0,1098 109,8 114 256.080 12.611.940
5.13 Blok M = Kampus SuryaUniversity
Tabel 5.13.1 Perhitungan Diameter Pipa Blok M
Kode Pipa
Tabel 5.13.2Perhitungan RAB Blok M
Kode Jumlah Panjang
(meter) D (meter) D (milimeter) Diameter Pipa
Harga/4
meter Harga Total
MT
1 109,9 0,0867 86,703 89 154.550 4.247.420
1 169,2 0,0867 86,703 89 154.550 6.537.465
1 99,5 0,0867 86,703 89 154.550 3.845.977
MS1 1 180,9 0,1124 112,440 114 256.080 11.583.779
5.14 Perhitungan Pipa Primer
5.14.1 Perhitungan Dimensi Pipa Primer Kawasan Perumahan Dosen Blok B, Perumahan Dosen Blok C, Asrama PU Blok D, KSB Blok E, dan KSB Blok G:
Total Air Limbah yang dihasilkan Blok B, C, dan D = 6,9 x 10-3 m3/s Total Air Limbah yang dihasilkan Blok E dan G = 2, 067 x 10-3 m3/s Debit Air Limbah yang dihasilkan Kawasan 2 (QF) = 8,967 x 10-3 m3/s Faktor Peak (CP) = 2,5 (dilihat dari Gambar 2.6.1)
Kekasaran pipa beton (n) = 0,016 (dilihat dari Tabel 2.4.2.1.1) Debit Peak Air Limbah Kawasan 1 (QP) = Cp x QF
5.14.2 Perhitungan Dimensi Pipa Primer Kawasan Perumahan Dosen Blok A, Asrama Blok F, KSB Blok H, KSB Blok I, Rusunami
Kekasaran pipa beton (n) = 0,016 (dilihat dari Tabel 2.4.2.1.1) Debit Peak Air Limbah Kawasan 1 (QP) = Cp x QF
QP = x [D]8/3 x [S]1/2
0,0924 = x [D]8/3 x 0,0061/2
[D]8/3 =
D = 0,351 m
= 351 mm
5.14.3 RAB Pipa Primer Kawasan 1 (sebelah kiri peta denah) Dimensi Pipa = 207 mm
= 20,7 cm
Jadi Pipa yang digunakan adalah pipa beton ukuran = 30 cm , dengan harga Rp. 110.000,00/meter dan tebal dinding 5 cm.
Harga pipa primer 1= 761,41 m x Rp. 110.000,00/meter = Rp. 83.755.100,00
5.14.4 RAB Pipa Primer Kawasan 2 (sebelah kanan peta denah) D = 351 mm
= 35,1 cm
Jadi Pipa yang digunakan adalah pipa beton ukuran = 40 cm , dengan harga Rp. 165.000,00/meter dan tebal dinding 6 cm.
5.15 Total Keseluruhan RAB
Tabel 5.15.1 Rekapitulasi Rencana Anggaran Biaya
Kode Harga Total
Blok A 25.211.439
Blok B 31.008.780
Blok C 42.775.173
Blok D 5.478.165
Blok E 30.636.292
Blok F 16.853.843
Blok G 42.222.272
Blok H 39.261.503
Blok I 25.285.260
Blok J 25.024.588
Blok K 20.296.522
Blok L 25.330.800
Blok M 26.214.641
Kawasan 1 83.755.100,00
Kawasan 2 125.632.650,00
BAB VI PEMBAHASAN
6.1 Perencanaan Sistem Sewerage
Pada perancangan sistem sewerage kawasan cluster ini digunakan sistem
tertutup. Hal ini dikarenakan saluran tersebut akan digunakan untuk penyaluran
air buangan, sehingga harus dikelola dengan sebaik mungkin agar tidak
menimbulkan dampak yang mengganggu masyarakat sekitar. Penggunaan sistem
tertutup untuk saluran sewerage ini juga mungkin bertujuan untuk lebih
meningkatkan dan menjaga estetika kawasan tersebut. Selain itu, penggunaan
sistem tertutup juga dapat mencegah terjadinya masalah bau yang dapat
ditimbulkan oleh saluran yang terbuka, mengingat saluran tersebut untuk
menyalurkan air buangan. Sistem tertutup juga dapat mengurangi penyebaran dan
perkembangan mikroorganisme patogen yang suka tinggal pada kawasan yang
kotor dan dapat berbahaya dan menimbulkan penyakit pada manusia.
6.2 Pembagian Aliran IPAL
Perancangan saluran air buangan di atas telah dipertimbangkan
berdasarkan kontur tanah kawasan Tenjo. Aliran air buangan akan disambung ke
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Pembuatan dua IPAL pada kawasan
tersebut bertujuan agar penyaluran air buangan dapat disalurkan secara gravitasi,
tanpa menggunakan bantuan pompa. Hal itu disebabkan kontur tanah kawasan
yang eksisting cenderung tidak rata dan berbukit-bukit. Oleh karena itu, bagian
Perumahan Dosen Tipe B, Perumahan Dosen Tipe C, Asrama PU, KSB Blok E,
dan KSB Blok G akan disalurkan dan masuk ke IPAL 1, sedangkan KSB Blok H,
KSB Blok I, Asrama, Rusunami, Pasar Modern, Land Bank, Perumahan Dosen
Tipe A, dan Kampus SU akan disalurkan dan masuk ke IPAL 2. Pemilihan jalur
aliran air buangan itu juga dirancang sedemikian rupa supaya melalui jalur yang
terpendek menuju ke arah IPAL, sehingga penggunaan pipa yang terlalu boros
6.3 Desain Aliran Perpipaan
Pada perancangan pipa primer, wilayah perencanaan dibagi menjadi 2
kawasan, dimana pipa primer ditandai dengan pipa berwarna kuning pada wilayah
perancangan sistem sewerage. Pipa primer kawasan 1 merupakan pipa primer yang menerima air limbah dari kawasan yang berada pada bagian kiri peta
perancangan, yaitu meliputi Kawasan Perumahan Dosen Blok B, Perumahan
Dosen Blok C, Asrama PU Blok D, KSB Blok E, dan KSB Blok G, sedangkan
pipa primer kawasan 2 merupakan pipa primer yang menerima air limbah dari
kawasan yang berada pada bagian kanan peta perancangan, yaitu meliputi
Kawasan Perumahan Dosen Blok A, Asrama Blok F, KSB Blok H, KSB Blok I,
Rusunami Blok J, Land Bank Blok K, Pasar Modern Blok L, dan Kampus SU
Blok M. Penentuan dimensi pipa primer kawasan 1 dan 2 ditentukan berdasarkan
beban air limbah yang dialirkan ke IPAL masing-masing kawasan. Jadi kapasitas
pipa primer tersebut dihitung dari akumulasi debit air limbah puncak yang dapat
dihasilkan kawasan masing-masing. Pipa primer utama pada perancangan saluran
air limbah ini dibuat lurus agar dapat mengurangi penggunaan aksesoris pipa
sebagai penyambung apabila pipanya berkelok-kelok. Pengurangan sambungan
pipa juga dilakukan pada bagian pipa sekunder dan tersier. Pengurangan
penggunaan pipa ini bertujuan untuk meminimalkan biaya yang dibutuhkan dalam
perancangan saluran pipa kawasan. Selain bertujuan untuk meminimalkan
anggaran biaya yang dibutuhkan pada saat pembangunan, pengurangan
penggunaan aksesoris pipa sebagai sambungan saluran juga dapat meminimalkan
kemungkinan atau resiko terjadinya kebocoran pada pipa. Hal tersebut disebabkan
karena kebocoran pipa seringkali terjadi pada bagian sambungannya. Pada
perancangan sistem sewerage, air yang dialirkan adalah air limbah yang mengandung banyak polutan yang dapat memberikan dampak yang negatif
apabila mengalami kebocoran ke lingkungan. Kandungan air limbah ini terutama
didominasi oleh bakteri-bakteri patogen yang berbahaya bagi kesehatan manusia.
Apabila air limbah tersebut bocor ke lingkungan, maka dapat mencemari tanah,
bahkan dapat mencemari air tanah. Oleh karena itu, pada perancangan pipa
6.4 Jenis Pipa
Pipa yang digunakan dalam perancangan saluran air buangan kawasan
cluster ini adalah pipa jenis pipa PVC Wavin Standard Tipe AW untuk saluran
dengan debit yang masih tidak terlalu besar (Pipa Sekunder dan Pipa Tersier) dan
pipa beton precast Tipe Light Duty untuk saluran yang debitnya cukup besar (Pipa
Primer). Pemilihan kedua jenis pipa tersebut utamanya didasarkan pada ketahanan
dan biaya dari pipa tersebut. Pipa PVC dan Pipa Beton cenderung memiliki
tingkat ketahanan yang cukup baik untuk dipakai sebagai saluran air buangan. Hal
ini terbukti dari penggunaan pipa-pipa tersebut yang sudah umum pada sebuah
kawasan. Harga pipa yang relatif tidak terlalu mahal bila dibandingkan dengan
jenis pipa lainnya juga menjadi salah satu faktor yang mendorong penggunaan
pipa PVC dan pipa beton dalam rancangan saluran yang kami buat.
6.5 Manholes
Peletakan manhole bertujuan supaya dapat dilakukan upaya monitoring terhadap kondisi saluran, sehingga dapat melakukan perbaikan pipa apabila terjadi
kerusakan pada pipa. Jarak peletakkan manhole disesuaikan dengan aturan
peletakkan manhole, misalnya pada perubahan arah saluran, ujung saluran, dan lain-lain. Pada perancangan kawasan ini manhole pada saluran lurus diletakkan setiap jarak 90 m. Pemasangan manholes dilakukan pada pipa saluran primer saja, sedangkan pada bagian pipa saluran sekunder dan tersier tidak dipasang
manholes. Hal itu dikarenakan pipa saluran sekunder dan tersier memiliki dimensi yang masih relatif kecil, sehingga belum terlalu memerlukan manholes untuk pemantauan bagian dalam. Selain itu, dimensi pipa yang terlalu kecil juga
membuat pemantauan tidak dapat dilakukan, seperti misalnya tidak cukup besar
untuk orang masuk ataupun tidak cukup besar untuk memasukkan alat
pemantauan ke dalam pipa saluran. Oleh karena itu, peletakkan manholes pada perancangan kawasan ini berada di atas pipa primer, yaitu pipa yang
memungkinkan untuk dapat dilakukan pemantauan. Manholes dibuat dari beton bertulang agar memiliki ketahanan yang baik dalam kurun waktu tertentu. Berikut
Gambar 6.5.1 Peletakan Manhole pada persimpangan (perubahan arah aliran)
BAB VII PENUTUP
7.1 Kesimpulan
Berdasarkan tujuan dan hasil rancangan pada pembahasan di atas, pipa
sistem drainase air buangan dari area pemukiman dan komersial di daerah
kawasan Kampus Surya Bogor dibuat dengan memperhatikan jenis pipa yang
digunakan, yaitu yang memiliki ketahanan yang lama, seperti pipa PVC merek
Wavin Satndard dan pipa Beton Precast Tipe Light Duty. Slope pada kondisi
eksisting, pengurangan penggunaan aksesoris sambungan pipa, dan jarak
pengaliran pipa ke IPAL juga sangat diperhatikan untuk dapat meminimalkan
estimasi biaya yang diperlukan dalam perancangan sistem sewerage pada kawasan
tersebut. Pembuatan manholes juga penting supaya pemantauan kondisi pipa
dapat dilakukan secara berkala. Semua upaya-upaya yang dilakukan di atas
merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk dapat prinsip keberlanjutan
DAFTAR PUSTAKA
Butler, David dan John W. Davies. 2011. Urban Drainage. New York: Spon Press.
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. NY. “Pengolahan Air Limbah Domestik
Individual Atau Semi Komunal”. Kelair BPPT. Diakses pada 28 Mei 2015, http://www.kelair.bppt.go.id/Publikasi/BukuAirLimbahDomestikDKI/BAB
10SEMI%20KOMUNAL.pdf.
Departemen Pekerjaan Umum. 2011. “Tata Cara Rancangan Sistem Jaringan Perpipaan Air Limbah Terpusat”. Scribd. Diakses pada 28 Mei 2015,
Departemen Pekerjaan Umum. 2015. “Manhole”. Pustaka Pekerjaan Umum. Diakses pada 28 Mei 2015,
http://pustaka.pu.go.id/new/istilah/bidang-detail.asp?id=788.
Ensiklopedia Dunia. NY. “Tenjo, Tenjo, Bogor”. sttn. Diakses pada 28 Mei 2015,
http://sttn.nomor.net/id3/ensiklopedis-694/Tenjo,-Tenjo,-Bogor_71494_sttn-nomor.html.
Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 112 Tahun 2003 tentang Baku Mutu
Air Limbah, Domestik, ditetapkan pada 10 Juli 2003.
Nastiti, Y. 2013. “Bab II Tinjauan Pustaka”. Academia. Diakses pada 28 Mei 2015,http://www.academia.edu/5343580/BAB_II_TINJAUAN_PUSTAKA.
Peraturan Daerah Kabupaten Bogor No. 107. 2002. Lembar Daerah Kabupaten
Bogor.
Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta No. 122 Tahun 2005.
Diakses pada 4 Juli 2015,
Pratiwi, Rochma Septi dan Purwati, Ipung Fitri. 2015. “Perencenaan Sistem Penyaluran Air Limbah Domestik di Kelurahan Keputih Surbaya”. Jurnal Teknik ITS Vol. 4, No. 1. ITS: Surabaya.
Raharjo, 2002. “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Konsumsi Air Bersih
di Kota Rembang [Tesis]”.Universitas Diponogoro. Diakses pada 13 Juni 2015, http://eprints.undip.ac.id/11855/1/2002MTPK2037.pdf.
Said, Nusa Idaman. 2015. “IPAL Domestik Kapasitas 150 M3 Per Hari”. Kelair
BPPT. Diakses pada 27 Mei 2015,
http://www.kelair.bppt.go.id/Publikasi/BukuAirLimbahDomestikDKI/BAB
11CONTOH150M3PERHARI.pdf.
Secioputri, Grace Lucy, dkk. 2014. “Upaya Meningkatkan Kualitas Air Waduk Diponegoro Pada DAS Krengseng, Semarang”. Jurnal Karya Teknik Sipil 3:
214-223.
Universitas Brawijaya. 2012. “Perencanaan Pengelolaan Air Limbah dengan Sistem Terpusat”. water.lecture.ub. Diakses pada 27 Mei 2015, Domestik di Jabodetabek, Prosiding Seminar Nasional Limnologi V tahun
LAMPIRAN
Contoh Langkah Perhitungan
Tabel 5.1.1 Perhitungan Diameter Pipa Blok A
Kode Pipa
(meter) D (milimeter)
Tabel 5.1.2 Perhitungan RAB Blok A
Kode Jumlah Panjang
(meter) D (meter) D (milimeter) Diameter Pipa Harga/4 meter Harga Total
AT
Jumlah Harga Total 25.211.439
Perhitungan AT1-75:
Konsumsi Air Bersih (QB) = 500 liter/unit/hari (dilihat pada tabel 2.2.1) Asumsi air limbah yang dihasilkan dari konsumsi air bersih = 80% Debit Air Limbah yang dihasilkan (QF) = 80% x TQB
= 80% x 500
= 400 liter/hari
Faktor Peak (CP) = 2 Asumsi slope (S) = 0,006
Asumsi koefesien maining (n) = 0,012
Debit Peak Air Limbah KSB Blok H (QP) = Cp x QF = 2 x 0,000005
= 0,00001 m3/s QP = x [D]8/3 x [S]1/2
0,00001 = x [D]8/3 x 0,0061/2
[D]8/3 =
D = 0,010 m
= 10 mm
Harga Total = x Harga/ 4 meter x Jumlah
Harga Total = x 19.030 x 75