• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Perencanaan dan Desain Sistem Se

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Laporan Perencanaan dan Desain Sistem Se"

Copied!
75
0
0

Teks penuh

(1)

Tugas Laporan Drainase Dan Penyaluran Air Buangan

SISTEM SEWERAGE SALURAN TERTUTUP CLUSTER KAWASAN SURYA UNIVERSITY-TENJO

Oleh:

Cecilia Tiara Kusdiari (103131817032664)

Cindy Lanovia Koleangan (103134727544553)

Stefanny Trifena (103136838229644)

Venessa Yunica Rodearni Damanik (103131819527766)

Wardatul Jannah (103139177890128)

Pengajar:

Dr. Maria Prihandrijanti, S.T.

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN

(2)
(3)

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Air buangan dapat diartikan sebagai sisa air dari hasil kegiatan makhluk hidup

yang sudah tidak terpakai dan yang dibuang. Selain itu, air buangan juga dapat

diartikan sebagai air yang telah selesai digunakan oleh berbagai kegiatan manusia

(rumah tangga, industri, sarana umum, dll) dan pada umumnya mengandung

bahan-bahan atau zat-zat yang dapat membahayakan kesehatan manusia serta

mengganggu lingkungan hidup. Menurut California Environmental Protection

Agency, air buangan merupakan air yang berisi limbah yang sumbernya sebagian

besar berasal dari permukiman atau perumahan, komersial, dan proses industri.

Berdasarkan beberapa pengertian tersebut, maka perlu dipikirkan cara untuk

mengalirakan air buangan dari sumbernya ke tempat pengolahan air buangan

sebelum dibuang ke sungai maupun ke sumber outlet lainnya agar tidak

membahayakan kesehatan manusia dan tidak mengurangi nilai kualitas

lingkungan. Salah satu cara untuk menangani permasalahan diatas yakni dengan

membuat suatu sistem drainase air buangan atau yang biasa dikenal dengan sistem

sewerage.

Untuk mencegah terjadinya penurunan kualitas lingkungan dan mencegah

terjadinya dampak terhadap kesehatan manusia oleh karena adanya air buangan

yang bersumber dari perumahan dan area komersil di daerah pembangunan

kampus Surya, Bogor maka penulis hendak merencanakan, dan mendesain suatu

sistem drainase air buangan dengan prinsip berkelanjutan di daerah tersebut.

Dengan adanya sistem drainase tersebut diharapkan tercipta kondisi lingkungan

yang baik.

1.2Tujuan

Membuat desain sistem drainase air buangan dari area permukiman dan

komersial di daerah pembangunan kawasan kampus Surya Bogor dengan

(4)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Jenis Saluran Drainase dan Penyaluran Air Buangan

Menurut Hasmar (2002), berdasarkan konstruksinya drainase dikelompokan

menjadi dua, yaitu saluran terbuka dan saluran tertutup. Saluran terbuka adalah

sistem saluran yang biasanya direncanakan hanya untuk menampung dan

mengalirkan air hujan (sistem terpisah), namun kebanyakan sistem saluran ini

berfungsi sebagai saluran campuran (Nastiti 2013). Saluran terbuka pada

pinggiran kota biasanya tidak diberi lining (lapisan pelindung), namun khusus untuk saluran terbuka di dalam kota harus diberi lining dengan beton, pasangan batu (mansory), ataupun dengan pasangan batu bata (Nastiti 2013). Sedangkan

saluran tertutup merupakan saluran untuk air kotor/ air buangan yang dapat

mengganggu kesehatan lingkungan (Nastiti 2013). Penerapan sistem ini cukup

bagus digunakan pada daerah perkotaan, terutama kota yang memiliki kepadatan

penduduk yang tinggi, seperti kota metropolitan dan kota-kota besar lainnya

(Nastiti 2013).

De Chaira dan Kopplemen (1994), membedakan saluran untuk pembuangan

air sebagai berikut:

2.1.1 Saluran Air Tertutup

a. Drainase bawah tanah tertutup, yaitu saluran yang menerima air limpasan dari daerah yang diperkeras, maupun yang tidak diperkeras

dan membawanya ke sebuah pipa keluar di sisi tapak (saluran

permukaan atau sungai) ke sistem drainase kota.

b. Drainase bawah tanah tertutup dengan tempat penampungan pada tapak, dimana drainase ini mampu menampung air limpasan dengan

volume dan kecepatan yang meningkat tanpa menyebabkan erosi dan

kerusakan pada tapak.

2.1.2 Saluran Air Terbuka

Saluran terbuka merupakan saluran yang dapat mengalirkan air

dengan suatu permukaan bebas, dimana apabila terdapat sampah yang

(5)

yang ditimbulkan dapat mengurangi kenyamanan. Menurut asalnya,

saluran dibedakan menjadi:

a. Saluran Alami (natural), meliputi selokan kecil, kali, sungai kecil dan sungai besar sampai saluran terbuka alamiah.

b. Saluran Buatan (artificial), seperti saluran pelayaran, irigasi, parit pembuangan, dan lain-lain.

2.1.3 Saluran Air Kombinasi

Limpasan air terbuka yang dikumpulkan pada saluran drainase

permukaan, dimana limpasan dari daerah yang diperkeras

dikumpulkan pada saluran drainase tertutup.

2.2 Jumlah Konsumsi Air Bersih dan Jumlah Limbah Domestik

Berikut ini merupakan tabel pemakaian air bersih dan debit air limbah berdasarkan peruntukan yang mengacu Population Equivalen (PE) untuk perancangan IPAL berdasarkan Peraturan Gubernur DKI No. 122 Tahun 2005:

(6)

Tabel 2.2.2 Kriteria Perencanaan Air Bersih

(Kriteria Perencanaan Ditjen Cipta Karya Dinas PU 1996)

2.3 Faktor yang Mempengaruhi Konsumsi Air Bersih

Menurut Linsley et al. (1995) dalam Raharjo (2002), faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan air di perkotaan adalah sebagai berikut:

1. Iklim, kebutuhan air untuk keperluan sehari-hari seperti mandi,

mencuci, menyiram tanaman semakin tinggi pada musim

kering/kemarau.

2. Ciri-ciri penduduk, taraf hidup dan kondisi sosial ekonomi penduduk

mempunyai korelasi positif dengan jumlah kebutuhan air. Artinya

pada penduduk dengan kondisi sosial ekonoi yang baik dan taraf

(7)

penduduk dengan sosial ekonomi yang kurang mencukupi dan taraf

hidupnya lebih rendah. Meningkatnya kualitas kehidupan penduduk

menyebabkan terjadinya peningkatan aktivitas hidup yang diikuti pula

dengan meningkatnya kebutuhan air.

3. Harga air dan meteran, bila harga air mahal, orang akan lebih

menaham diri dalam pemakaian air. Selain itu langganan yang jatah

air diukur dengan meteran cenderung untuk mempergunakan air

dengan jarang.

4. Ukuran kota, ukuran kita diindikasikan dengan jumlah saran dan

prasarana yang dimiliki oleh suatu kota seperti industri, perdagangan,

taman-taman dan sebagainya. Semakin banyak sarana dan prasarana

kota yang dimiliki pemakaian air juga semakin besar.

Selain itu penggunaan air bersih diperkotaan juga dipengaruhi oleh

faktor-faktor sebagai berikut (Terence J. Mc Ghee, 1991 dalam Raharjo, 2002) :

1. Besaran kota, yang membawa pengaruh tidak langsung misalnya

komunitas yang kecil lebih cenderung membatasi pemakaian air.

2. Kehadiran industri dan fasilitas komersial, yang membawa pengaruh

terhadap peningkatan penggunaan air bersih guna menunjang segala

aktivitasnya.

3. Karakteristik penduduk, terutama tingkat sosial ekonomi. Dalam hal

ini semakin tinggi tingkat pendapatan penduduk maka akan semakin

banyak pulaair bersih yang digunakan.

4. Penggunaan meter air, yaitu suplai air yang menggunakan meter air

akan cenderung dibatasi penggunaannya oleh penduduk.

5. Beracam-macam faktor, termasuk iklim dan kualitas air.

2.4 Ketentuan Desain Hidrolik Sistem Saluran Air Limbah (Sewer) 2.4.1 Manholes

Pada sistem drainase diperlukan adanya jalur untuk dapat

mengakses, menguji, memeriksa, dan membersihkan saluran air limbah

(8)

digunakan sebagai jalur masuk ke saluran air buangan untuk memeriksa,

memelihara, atau memperbaiki saluran dari kotoran/ limbah yang terbawa

alirannya, serta dari berbagai gangguan teknis/ fisik lingkungan, misalnya

keretakan pipa karena faktor usia, dan lain sebagainya (Departemen

Pekerjaan Umum 2015).

Gambar 2.4.1.1 Backdrop Manhole (Butler 2011)

Penentuan perencanaan letak dan pemasangan manholes harus disediakan

setiap ada (Butler 2011):

- Perubahan arah, baik vertikal maupun horisontal

- Ujung saluran pipa/ Kepala saluran

- Perubahan gradien

- Perubahan dimensi/ ukuran pipa

- Persimpangan utama dengan saluran lain

- Jarak 90 m (kalau dimensi/ ukuran salurannya tidak terlalu besai) dan jarak

200 m (kalau dimensi/ ukuran salurannya besar)

Pada jalur saluran yang lurus, manholes dapat dipasang setiap jarak tertentu sesuai dengan diameter salurannya. Berikut merupakan tabel ketentuan

(9)

Tabel 2.4.1.1 Jarak Antar Manhole Pada Jalur Lurus Diameter (mm) Jarak Antar Manhole (m) Referensi

(20 – 50) 50 – 75 Materi Training + Hammer

Berdasarkan kedalaman dan cover-nya, manhole dapat diklasifikasikan

menjadi (Universitas Brawijaya 2012):

- Manhole dangkal: kedalaman (0,75 – 0,9) m, dengan cover kedap

- Manhole normal: kedalaman 1,5 m, dengan cover berat - Manhole dalam: kedalaman di atas 1,5 m, dengan cover berat.

Bentuk umum manholes yang sering diterapkan dalam sistem sewer adalah persesi panjang, kubus, dan lingkaran. Berikut merupakan beberapa

persyaratan bagian-bagian manholes (Departemen Pekerjaan Umum 2011): 1. Sumuran Pemeriksa:

- Dinding dan pondasi harus kedap air

- Cukup kuat dari gaya-gaya luar

- Cukup luas agar petugas dapat masuk ke dalam manhole - Terbuat dari beton atau pasangan batu bata dan batu kali

- Jika ø pipa cukup besar dengan kedalaman ≥2,5 m, maka

digunakan beton bertulang

- Bagian atas manhole ditutup dengan rangka penutup (frame & cover) yang kuat menahan beban

2. Rangka dan Penutup:

a. Bahan Rangka dan Tutup Manhole harus terbuat dari cast iron:

- Kekuatan yang memadai untuk menopang beban yang tidak

terduga

(10)

- Pemasangan engsel pintu dan atau kunci dari penutup untuk

mencegah kerusakan atau hal-hal yang tidak diinginkan masuk

ke dalam manhole

b. Berat dan dimensi dari rangka dan penutup manhole: Tabel 2.4.1.2 Dimensi Rangka dan Penutup Manhole

No. Tipe dari Rangka

2. Kelas Menengah Penutup dalamnya 600

mm, ømin: 500 mm

Kerangka: 760 mm x

760 mm

250 Melayani daerah

domestik dan daerah

dengan beban roda

tidak lebih dari 1 ton

3. Kelas Berat Sama seperti di atas 530 Dipakai untuk

pelayanan pada jalan kereta

(Departemen Pekerjaan Umum 2011)

3. Tangga Manhole:

Ada 2 macam bahan manhole step, yaitu cast iron atau wrough iron step.

- Perlengkapan ini merupakan sebuah tangga besi yang dipasang

menempel di dinding manhole sebelah dalam untuk keperluan operasional

- Dipasang vertikal dan zig-zag 20 cm dengan jarak vertikal

masing-masing 30 – 40 cm

4. Dinding Manhole:

- Bentuk bundar atau persegi

- Bahan dari pasangan batu bata, batu kali, atau beton dengan

adukan kedap air (untuk mengurangi infiltrasi)

- Bila diameter saluran cukup besar dengan kedalaman > 2,5 m,

(11)

- Sebelah dalam manhole dapat di-lining dengan epoxy bila ada resiko korosi sulfide

- Ketebalan:

a. 20 cm untuk kedalaman sampai dengan 1,5 m

b. 30 cm untuk kedalaman > 1,5 m

Atau dengan formula:

t = 6.h, dimana t: tebal dinding manhole (cm) dan h: kedalaman manhole (m).

2.4.2 Pipa

Pipa adalah saluran buatan pada sistem sewer yang digunakan untuk mengalirkan air limbah dalam suatu sistem tertutup ke tempat pengolahan air

limbah sebelum dibuang ke badan air. Pada sistem drainase terpisah (separate), pipa air limbah dan pipa air hujan mengalir pada pipa yang berbeda. Pemasangan

dan penanaman pipa air limbah dan pipa air bersih biasanya bersebelahan. Hal

tersebut bertujuan untuk dapat meminimalkan biaya pada saat galian waktu

konstruksi dan pemeliharaan pipa. Gambar 2.2.2.1 dan 2.2.2.2 berikut merupakan

gambar jaringan pipa retikulasi dan pipa induk air limbah:

Gambar 2.4.2.1 Perpipaan Retikulasi

(12)

Gambar 2.4.2.2 Pipa Induk Air Limbah

(Universitas Brawijaya 2012)

Pemilihan bahan saluran perpipaan air limbah harus selektif, agar tidak

menimbulkan masalah pencemaran di kemudian hari. Beberapa faktor yang perlu

diperhatikan dalam pemilihan bahan saluran perpipaan secara menyeluruh, antara

lain (Universitas Brawijaya 2012):

- Umur ekonomis

- Pengalaman pipa sejenis yang telah diaplikasikan di lapangan

- Resistensi terhadap korosi (kimia) atau abrasi (fisik)

- Koefisien kekasaran (hidrolik)

- Kemudahan transport dan handling - Kekuatan struktur

- Biaya suplai, transpor, dan pemasangan

- Ketersediaan di lapangan

- Ketahanan terhadap disolusi di dalam air

- Kekedapan dinding

- Kemudahan pemasangan sambungan

Pipa yang bisa dipakai untuk penyaluran air limbah, antara lain Vitrified

Clay (VC), Asbestos Cement (AC), Reinforced Concrete (RC), Steel, Cast Iron,

High Density Poly Ethylene (HDPE), Unplasticised Polyvinylchloride (uPVC)

dan Glass Reinforced Plastic (GRP). Berikut ini merupakan beberapa jenis pipa

(13)

A. Pipa Beton

a. Aplikasi:

1) Pada pengaliran gravitasi (lebih umum) dan bertekanan

2) Untuk pembuatan sifon

3) Untuk saluran drainase dengan diameter (300-3600) mm akan

lebih ekonomis mengingat durabilitasnya jauh lebih baik

dibandingkan dengan bahan saluran lainnya

4) Hindari aplikasi sebagai sanitary sewer dengan dimensi kecil

terutama bila ada air limbah industri atau mengandung H2S

berlebih. Untuk dimensi kecil hingga diameter 45 mm,

biasanya dipakai pipa dengan bahan PVC atau lempung

5) Pada sanitary trunk sewer, beton bertulang juga dipakai dengan

diameter lebih besar daripada diameter VCP maksimal, dengan

lining plastik atau epoksi (diproses monolit di pabrik); atau

pengecatan bitumas-tik atau coal tar epoxy (dilakukan setelah

instalasi di lapangan).

b. Ukuran dan Panjang Pipa

1) Pipa pracetak dengan diameter di atas 600 mm harus dipasang

dengan tulangan, meskipun pada diameter yang lebih kecil

tetap dibuat beton bertulang

2) Untuk konstruksi beton bertulang (pracetak), diameter dan

panjang yang tersedia di lapangan

a) Diameter: [(300)-600-2700] mm

b) Panjang: - 1,8 m untuk pipa dengan diameter < 375 mm

- 3 m untuk pipa dengan diameter > 375 mm

c) Tersedia 5 kelas berdasarkan pada kekuatan beban

eksternal

3) Untuk konstruksi beton tidak bertulang (pracetak)

a) Diameter : (100-600) mm

b) Panjang : (1,2-7,3) m

(14)

a) Untuk diameter > 760 mm

b) Dengan menggunakan sambungan senyawa mastik

atau gasket karet yang membentuk seal kedap air

dengan plastik atau tar panas mastik, clay tile, atau

senyawa asphatik

2) Spigot dan soket dengan semen

a) Untuk diameter (305-760) mm

b) Ekonomis

c) Mudah pemasangannya

d) Aman dan memuaskan

3) Cincin karet fleksibel

d. Lining (Lapisan Dasar Pipa)

Penerapan lining dilakukan bila pipa yang bersangkutan

menyalurkan air limbah yang belum terolah dengan bahan tahan korosi

seperti:

1) Spesi semen alumina tinggi

- Tebal 12 mm untuk diameter ≤ 675 mm

- Tebal 20 mm untuk diameter (750-825) mm

2) PVC atau ekuivalen untuk diameter ≥ 900 mm

3) PVC sheet

4) Penambahan ketebalan dinding sebagai beton deking

e. Komponen bahan

Komponen bahan pipa beton menggunakan agregat limestone atau

dolomite dengan semen tipe 5.

f. Kelebihan pipa beton. Beberapa pertimbangan pemilihan pipa beton:

1) Konstruksi: kuat

2) Dimensi: tersedia dalam variasi yang besar, dan dapat dipesan.

g. Kerugian/kelemahan pipa beton. Beberapa kelemahan aplikasi pipa

beton

(karena semen dari bahan alkali) adalah korosi terhadap asam atau

H2S, kecuali bila diberi lining, pemeliharaan kecepatan glontor,

(15)

h. Spesifikasi untuk pelaksanaan konstruksi dilapangan yang perlu

diminta atau diketahui adalah spesifikasinya, minimal mencakup:

1) Diameter

2) Klas dan/atau kekuatan

3) Metode manufakturf

4) Metode sambungan

5) Lining

6) Komposisi bahan (macam agregat bila limestone)

i. Penyambungan Sambungan Rumah

Untuk pipa beton diameter besar dapat dilakukan pelobangan,

dengan memasukkan spigot dari sambungan rumah sambil menutup

sela-selanya dengan spesi beton (mortar).

B. Pipa Plastik

a. Bahan

1) PVC (polyvinyl chloride)

2) PE (polyethylene)

b. Aplikasi

1) PVC: untuk sambungan rumah dan pipa cabang

2) PE: untuk daerah rawa atau persilangan di bawah air

c. Klasifikasi

1) Standar JIS K 6741-1984

- Klas D/VU dengan tekanan 5 kg/cm2 -

Klas AW/VP dengan tekanan 10 kg/cm2

2) Standar SNI 0084-89-A/SII-0344-82

- Seri S-8 dengan tekanan 12,5 kg/cm2 -

Seri S-10 dengan tekanan 10 kg/cm2 -

Seri S-12,5 dengan tekanan 8 kg/cm2 -

Seri S-16 dengan tekanan 6,25 kg/cm2

(16)

d. Diameter dan Panjang Lapangan

1) Diameter sampai dengan 300 mm

2) Panjang standar 6 m

e. Sambungan

1) Solvent (lem): untuk diameter kecil 2) Cincin karet: untuk diameter lebih besar

f. Keuntungan

1) Ringan

2) Sambungan kedap

3) Peletakan pipa panjang

4) Beberapa jenis pipa tahan korosi

g. Kerugian

1) Kekuatannya mudah terpengaruh sinar matahari dan temperatur

rendah

2) Ukuran tersedia terbatas

3) Perlu lateral support

2.4.2.1Kecepatan dan Kemiringan Pipa

1) Kemiringan pipa minimal diperlukan agar di dalam pengoperasiannya

diperoleh kecepatan pengaliran minimal dengan daya pembilasan

sendiri (tractive force) guna mengurangi gangguan endapan di dasar pipa.

2) Koefisien kekasaran Manning untuk berbagai bahan pipa. Berikut ini

merupakan tabel koefisien kekasaran pipa:

Tabel 2.4.2.1.1 Koefisien Kekasaran Pipa

No. Jenis Saluran Koefisien

Kekasaran Manning (n)

1. Pipa Besi Tanpa Lapisan

1.1Dengan Lapisan Semen

1.2Pipa Berlapis Gelas

(17)

5. Pipa Baja Spiral & Pipa

Kelingan

0,013 – 0,017

6. Pipa Plastik Halus (PVC) 0,002 – 0,012

7. Pipa Tanah Liat (Vitrified Clay)

0,011 – 0,015

(Universitas Brawijaya 2012)

3) Kecepatan pengaliran pipa minimal saat aliran penuh (full flow) atas dasar tractive force

Tabel 2.4.2.1.2 Kecepatan Pengaliran Pipa

(Universitas Brawijaya 2012)

4) Kemiringan pipa minimal praktis untuk berbagai diameter atas dasar

kecepatan 0,60 m/s, saat pengaliran penuh adalah:

Tabel 2.4.2.1.3 Kemiringan Minimal Pada Kecepatan Aliran 0,6 m/s

(Universitas Brawijaya 2012)

Atau dengan formula praktis :

(18)

dalam perancangan saluran air buangan kawasan adalah 0,006

(Secioputri 2014).

5) Kemiringan muka tanah yang lebih curam daripada kemiringan pipa

minimal bisa dipakai sebagai kemiringan desain selama kecepatannya

masih di bawah kecepatan maksimal.

2.4.2.2Perencanaan dan Pembangunan IPAL Domestik

Sistem pembuangan air limbah yang umum digunakan masyarakat

yakni air limbah yang berasal dari toilet dialirkan ke dalam tangki septik

dan air lmpasan dari tangki septik diresapkan ke dalam tanah atau dibuang

ke saluran umum, sedangkan air limbah non-toilet yakni berasal dari

kegiatan MCK dibuang langsung ke saluran umum (BPPT NY).

1. Kriteria penentuan kapasitas IPAL Domestik Individual atau Komunal

Untuk menentukan kapasitas IPAL Individual yang harus dipasang

dilakukan dengan mengacu pada besaran People Equivalent (PE) yaitu untuk riumah biasa perkiraan jumlah air limbah adalah

120/liter/orang/hari. Untuk kategori jenis peruntukan bangunan yang

lain besaran People Equivalent (PE) dapat dilihat pada tabel PE (BPPT NY).

Untuk menghitung besarnya kapasitas IPAL dapat dilakukan

berdasarkan besarnya koefisien luas bangunan atau berdasarkan jumlah

penghuni bangunan. Untuk bangunan yang baru, perkiraan jumlah air

limbah umumnya dilakukan berdasarkan PE untuk tiap-tiap

peruntukan dikalikan dengan satuan kapasitas (jumlah orang atau luas

lantai) (BPPT NY).

2. Kriteria Perencanaan IPAL Domestik

Pemilihan proses pengolahan air limbah domestik yang digunakan

didasarkan atas beberapa kriteria yang diinginkan oleh pengguna yaitu

antara lain (Said 2015):

 Efisiensi pengolahan dapat mencapai standar baku mutu air limbah domestik yang diinginkan

(19)

 Konsumsi energi sedapat mungkin rendah  Biaya operasinya rendah

 Lumpur yang dihasilkan sedapat mungkin kecil

 Dapat digunakan untuk air limbah dengan beban BOD yang cukup besar

 Dapat menghilangkan padatan tersuspensi dengan baik

 Dapat menghilangkan amoniak sampai mencapai standar baku mutu yang berlaku

3. Kapasitas IPAL Domestik yang Direncanakan (Said 2015):

- Kapasitas Pengolahan : 150 m3 per hari

6,25 m3 per jam

104, 17 liter per menit

- BOD Air Limbah rata-rata : 300 mg/l

- Konsentrasi TSS : 300 mg/l

- Total Efisiensi Pengolahan : 90-95%

(20)

BAB III METODOLOGI

3.1 Gambaran Umum Wilayah Perencanaan

Gambar 3.1 Peta Desa Tenjo, Kecamatan Tenjo

Kawasan kampus Surya University baru yang masih dalam tahap

pembangunan bertempatan di desa Tenjo, kecamatan Tenjo terletak pada ujung

paling barat kabupaten Bogor, provinsi Jawa Barat dengan jumlah penduduk ±

7000 orang dengan kepadatan sedang dengan perbatasan kabupaten Tangerang

(Ensiklopedia Dunia NY). Sebagian besar wilayah Tenjo merupakan lahan kosong

yang digunakan sebagai mata pencaharian pertanian. Desa Tenjo mempunyai luas

wilyah 2.221 Ha (Lembar Daerah Kabupaten Bogor 2002).

Secara geografis, desa Tenjo berbatasan dengan :

a. Batas wilayah sebelah utara : Desa Singabangsa, Kecamatan Tenjo

b. Batas wilayah sebelah timur : Desa Cilaku, Kecamatan Tenjo

c. Batas wilayah sebelah selatan : Desa Singabraja, Kecamatan Tenjo

d. Batas wilayah sebelah barat : Kabupaten Tangerang, Banten

3.2Uraian Perhitungan

3.2.1 Penentuan Debit Air Limbah

Perhitungan debit air limbah berdasarkan pada konsumsi air bersih

(21)

tersebut diperkirakan sebanyak 70% hingga 80% dari penggunaan air

bersih. Estimasi debit air limbah diperoleh dengan persamaan berikut

(Pratiwi 2015) :

1. Q ave air bersih = Kebutuhan air bersih per orang x Jumlah

penduduk

2. Q ave air limbah = (80%) x Qave air bersih

3. Q peak = Qave x fpeak

Nilai faktor peak didapatkan dari gambar 2.6.1 berikut:

Gambar 3.2.1 Grafik Peaking Factor for Domestic Wastewater Flows

3.2.2 Penentuan Diameter Miniamal Pipa

Dalam menentukan lebar diameter pompa menggunakan rumus

Hazen Williams:

QP = x [D]8/3 x [S]1/2

Keterangan : n = koefesien maining (0,012-untuk pipa PVC dan 0,016

untuk pipa beton)

Keterangan : S = derajat kemiringan (0,006)

3.3Desain Perencanaan Wilayah Cluster

Perancangan sistem sewerage saluran tertutup dilakukan pada kawasan

Tenjo, yaitu kawasan kampus baru Surya University. Berikut ini merupakan

gambaran kawasan cluster yang diambil dari kawasan kampus baru Surya

(22)

Gambar 3.3.1 Kawasan Perencanaan Sistem Sewerage Saluran Tertutup yang

Dipakai

Wilayah Kecamatan Tenjo ini memiliki topografi sedang dengan

ketinggian beragam, ditunjukkan dengan ketinggian wilayah 3,25-5 meter di atas

permukaan laut. Berikut ini merupakan gambaran topografi dari wilayah

perancangan sistem sewerage:

(23)

Perancangan sistem sewerage saluran tertutup kawasan Tenjo dilakukan

dengan langkah-langkah sebagi berikut:

(24)

BAB IV

HASIL DESAIN ALIRAN PIPA

4.1 Penamaan Area Cluster

Gambar 4.1 Denah Area Cluster Secara Keseluruhan

Pada daerah area cluster terdapat penamaan di setiap blok untuk

mempermudah dalam mengatur penamaan desain pipa.

Berikut ini merupakan keterangan dari hasil penamaan per blok:

(25)
(26)

4.3 Detail Denah Pipa Area Cluster per Blok

(27)

4.4Blok A = Perumahan Dosen Tipe A dan Ruko

Gambar 4.4.1 Detail Denah Blok A

(28)

Keterangan Blok A =

 Perumahan Dosen tipe A

Total Jumlah penghuni (N) = 81 unit x 5 orang = 405 orang

Konsumsi air bersih (Qd) = 250 Liter/orang/hari  Ruko Blok A

Total Jumlah penghuni (N) = 75 unit x 5 orang = 375 orang

Konsumsi air bersih (Qd) = 100 Liter/orang/hari

4.5Blok B = Perumahan Dosen Tipe B

Gambar 4.5.1 Detail Denah Blok B

(29)

Gambar 4.5.3 Desain Aliran Debit Limbah Blok B

Keterangan Blok B =

Konsumsi Air Bersih (QB) = 150 liter/orang/hari

Jumlah penghuni = 1 unit @4 orangumlah penghuni

Total penghuni = 162 x 4 = 648 orang

4.6Blok C = Perumahan Dosen Tipe C

(30)

Gambar 4.6.2 Desain Jaringan Perpiaan Blok C

Gambar 4.6.3 Desain Aliran Debit Limbah Blok C

Keterangan Blok C =

Konsumsi Air Bersih (QB) = 150 liter/orang/hari

Jumlah penghuni = 1 unit @4 orang

(31)

4.7Blok D = Asrama Hibah PU

Gambar 4.7.1 Detail Denah Blok D

Gambar 4.7.2 Desain Jaringan Perpiaan Blok D

Gambar 4.7.3 Desain Aliran Debit Limbah Blok D

Keterangan Blok D =

Konsumsi Air Bersih (QB) = 120 liter/orang/hari

Jumlah penghuni = 3 unit @260 orang

(32)

4.8Blok E = KSB Blok E

Gambar 4.8.1 Detail Denah Blok E

Gambar 4.8.2 Desain Jaringan Perpiaan Blok E

Ga

(33)

Keterangan Blok E =

Konsumsi Air Bersih (QB) = 900 liter/orang/hari

Jumlah Unit = 121 unit

Debit Air Limbah = 1 x 10-3 m3/hari

4.9Blok F = Asrama

Gambar 4.9.1 Detail Denah Blok F

(34)

Gambar 4.9.3 Desain Aliran Debit Limbah Blok F

Keterangan Blok F =

Konsumsi Air Bersih (QB) = 120 liter/orang/hari

Jumlah penghuni = 6 Tower Besar @250 orang

Jumlah penghuni = 4 Tower Kecil @50 orang

Total penghuni = (6 x 250) + (4 x 50) = 1,500 + 200 = 1,700 orang

4.10 Blok G = KSB Blok G

(35)

Gambar 4.10.2 Desain Jaringan Perpiaan Blok G

Gambar 4.10.3 Desain Aliran Debit Limbah Blok FG

Keterangan Blok G =

Konsumsi Air Bersih (QB) = 900 liter/orang/hari

(36)

4.11 Blok H = KSB Blok H

Gambar 4.11.1 Detail Denah Blok H

(37)

Gambar 4.11.3 Desain Aliran Debit Limbah Blok H

Keterangan Blok H =

Konsumsi Air Bersih (QB) = 900 liter/unit/harI

Jumlah unit = 121 unit

4.12 Blok I = KSB Blok I

(38)

Gambar 4.12.2 Desain Jaringan Perpiaan Blok I

Gambar 4.12.3 Desain Aliran Debit Limbah Blok I

Keterangan Blok I =

Konsumsi Air Bersih (QB) = 900 liter/unit/hari

(39)

4.13 Blok J = Rusunami

Gambar 4.13.1 Detail Denah Blok J

Gambar 4.13.2 Desain Jaringan Perpiaan Blok J

(40)

Keterangan Blok J =

Konsumsi Air Bersih (QB) = 100 liter/orang/hari

Jumlah penghuni = 20 Tower @300 orang

Total penghuni = 20 x 300 = 6,000 orang

4.14 Blok K = Land Bank

Gambar 4.14.1 Detail Denah Blok K

(41)

Gambar 4.14.3 Desain Aliran Debit Limbah Blok K

Keterangan Blok K=

Total Jumlah penghuni (N) = 130 unit x 5 orang = 650 orang

Konsumsi air bersih (Qd) = 100 Liter/orang/hari

4.15 Blok L = Pasar Modern

(42)

Gambar 4.15.2 Desain Jaringan Perpiaan Blok L

Gambar 4.15.3 Desain Aliran Debit Limbah Blok L

Keterangan Blok L =

Konsumsi Air Bersih (QB) = 40 liter/kios/hari

Luas Pasar 5000 m2 = 800 kios @6.25 m2

4.16 Blok M = Kampus SuryaUniversity

(43)

Gambar 4.16.2 Desain Jaringan Perpiaan Blok M

Gambar 4.16.3 Desain Aliran Debit Limbah Blok M

Keterangan Blok M =

Total Jumlah penghuni (N) = 3 gedung x 2000 orang = 6000 orang

(44)

BAB V

PERHITUNGAN DIAMETER DAN RAB

5.1Blok A = Perumahan Dosen Tipe A

Tabel 5.1.1 Perhitungan Diameter Pipa Blok A

Kode Pipa

(meter) D (milimeter)

(45)

Tabel 5.1.2 Perhitungan RAB Blok A

Kode Jumlah Panjang

(meter) D (meter) D (milimeter) Diameter Pipa Harga/4 meter Harga Total

AT

75 10,0 0,0100 10,0 22 19.030 3.568.125

47 13,0 0,0141 14,1 22 19.030 2.906.833

24 15,4 0,0141 14,1 22 19.030 1.752.663

9 22,2 0,0141 14,1 22 19.030 950.549

AS

3 120,0 0,0432 43,2 48 61.380 5.524.200

2 58,1 0,0257 25,7 26 26.070 757.855

1 94,1 0,0368 36,8 42 53.460 1.257.914

1 92,1 0,0236 23,6 26 26.070 600.131

1 159,9 0,0695 69,5 76 114.620 4.580.788

1 247,8 0,0398 39,8 42 53.460 3.312.382

(46)

5.2Blok B = Perumahan Dosen Tipe B

Tabel 5.2.1 Perhitungan Diameter Pipa Blok B

(47)

Tabel 5.2.2 Perhitungan RAB Blok B

Kode Jumlah Panjang

(meter) D (meter) D (milimeter) Diameter Pipa

Harga/4

meter Harga Total

BT 108 8 0,1067 10,673 22 19.030 4.110.480

54 12 0,1067 10,673 22 19.030 3.082.860

BS

9 110 0,2710 27,101 32 35.640 8.820.900

3 84 0,4764 47,637 48 61.380 3.866.940

1 288 0,7192 71,922 89 154.550 11.127.600

(48)

5.3Blok C = Perumahan Dosen Tipe C

Tabel 5.3.1 Perhitungan Diameter Pipa Blok C

Kode Pipa

Debit Konsumsi

L/hari

Debit Limbah

L/hari

Debit Limbah m3/sekon

faktor

peak Debit peak 0.3117/n S D (meter) D (milimeter)

CT1-157 600 480 0,0000056 2 0,000011 25,975 0,006 0,011 10,673

(49)

Tabel 5.3.2 Perhitungan RAB Blok C

Kode Jumlah Panjang

(meter) D (meter) D (milimeter)

Diameter Pipa

Harga/4

meter Harga Total

CT

138 7,3 0,1067 10,673 22 19.030 4.759.879

24 11,3 0,1067 10,673 22 19.030 1.284.525

3 71,5 0,4690 46,900 48 61.380 3.291.503

CS

3 67,7 0,3019 30,188 32 35.640 1.808.819

9 67,7 0,2328 23,279 26 26.070 3.969.353

3 119,0 0,4764 47,637 48 61.380 5.478.165

1 346,5 0,9262 92,621 114 256.080 22.182.930

(50)

5.4Blok D = Asrama Hibah PU

Tabel 5.4.1 Perhitungan Diameter Pipa Blok D

Kode Pipa

Tabel 5.4.2 Perhitungan RAB Blok D

Kode Jumlah Panjang

(meter) D (meter) D (milimeter) Diameter Pipa

Harga/4

meter Harga Total

DT 3 119 0,47637 47,637 48 61.380 5.478.165

(51)

5.5Blok E = KSB Blok E

Tabel 5.5.1 Perhitungan Diameter Pipa Blok E

(52)

Tabel 5.5.2 Perhitungan RAB Blok E

meter Harga Total

(53)

1 199,92 0,0688 68,80 76 114.620 5.728.708

2 80,50 0,0295 29,50 32 35.460 1.427.265

1 80,50 0,0382 38,20 42 53.460 1.075.883

1 44,61 0,0496 49,60 60 78.540 875.917

1 75,72 0,0496 49,60 60 78.540 1.486.762

Jumlah Harga Total 30.636.292

5.6Blok F = Asrama

Tabel 5.6.1 Perhitungan Diameter Pipa Blok F

(54)

Tabel 5.6.2 Perhitungan RAB Blok F

Kode Jumlah Panjang

(meter) D (meter) D (milimeter) Diameter Pipa Harga/4 meter Harga Total

FT

1 63 0,0253 25,3 26 26.070 410.603

1 9 0,0463 46,3 48 61.380 138.105

1 22 0,0253 25,3 26 26.070 143.385

5 13 0,0463 46,3 48 61.380 997.425

1 13 0,0253 25,3 26 26.070 84.728

1 39 0,0253 25,3 26 26.070 254.183

FS

1 81 0,0463 46,3 48 61.380 1.242.945

1 242 0,0699 69,9 76 114.620 6.934.510

1 232 0,0622 62,2 76 114.620 6.647.960

(55)

5.7Blok G = KSB Blok G

Tabel 5.7.1 Perhitungan Diameter Pipa Blok G

Kode Pipa

Tabel 5.7.2 Perhitungan RAB Blok G

Kode Jumlah Panjang

(meter) D (meter) D (milimeter) Diameter Pipa Harga/4 meter Harga Total

(56)

5.8Blok H = KSB Blok H

Tabel 5.8.1 Perhitungan Diameter Pipa Blok H

(57)

Tabel 5.8.2 Perhitungan RAB Blok H

Kode Jumlah Panjang

(meter) D (meter) D (milimeter) Diameter Pipa

Harga/4

meter Harga Total

HT 121 14 0,0124 12,40 22 19.030 8.059.205

HS

1 83 0,0188 18,76 76 114.620 2.378.365

1 86 0,0316 31,55 76 114.620 2.464.330

1 77 0,0422 42,16 76 114.620 2.206.435

1 86 0,0522 52,22 76 114.620 2.464.330

1 84 0,0618 61,78 76 114.620 2.407.020

1 33 0,0188 18,76 22 19.030 156.998

1 91 0,0283 28,33 32 35.640 810.810

1 151 0,0334 33,43 42 53.460 2.018.115

1 205 0,0382 38,21 42 53.460 2.739.825

1 266 0,0422 42,16 48 61.380 4.081.770

1 330 0,0456 45,58 48 61.380 5.063.850

1 330 0,036 35,95 42 53.460 4.410.450

(58)

5.9Blok I = KSB Blok I

Tabel 5.9.1 Perhitungan Diameter Pipa Blok I

Kode Pipa

Tabel 5.9.2 Perhitungan RAB Blok I

Kode Jumlah Panjang

(meter) D (meter) D (milimeter) Diameter Pipa Harga/4 meter Harga Total

IT 96 14 0,0124 12,40 22 19.030 6.394.080

IS 2 329 0,0351 35,15 42 53.460 8.794.170

2 329 0,0456 45,58 48 61.380 10.097.010

(59)

5.10 Blok J = Rusunami

Tabel 5.10.1 Perhitungan Diameter Pipa Blok J

Kode Pipa

Tabel 5.10.2 Perhitungan RAB Blok J

Kode Jumlah Panjang

(meter) D (meter) D (milimeter) Diameter Pipa Harga/4 meter Harga Total

(60)

5.11 Blok K= Land Bank

Tabel 5.11.1 Perhitungan Diameter Pipa Blok K

Kode Pipa

Tabel 5.11.2 Perhitungan RAB Blok K

Kode Jumlah Panjang

(meter) D (meter) D (milimeter) Diameter Pipa

Harga/4

meter Harga Total

KT

(61)

5.12 Blok L = Pasar Moder

Tabel 5.12.1 Perhitungan Diameter Pipa Blok L

Kode Pipa

Tabel 5.12.2 Perhitungan RAB Blok L

Kode Jumlah Panjang

(meter) D (meter) D (milimeter) Diameter Pipa Harga/4 meter Harga Total

LT1 1 8 0,0366 36,6 42 53.460 106.920

LS1 1 197 0,1119 111,9 114 256.080 12.611.940

LS2 1 197 0,1098 109,8 114 256.080 12.611.940

(62)

5.13 Blok M = Kampus SuryaUniversity

Tabel 5.13.1 Perhitungan Diameter Pipa Blok M

Kode Pipa

Tabel 5.13.2Perhitungan RAB Blok M

Kode Jumlah Panjang

(meter) D (meter) D (milimeter) Diameter Pipa

Harga/4

meter Harga Total

MT

1 109,9 0,0867 86,703 89 154.550 4.247.420

1 169,2 0,0867 86,703 89 154.550 6.537.465

1 99,5 0,0867 86,703 89 154.550 3.845.977

MS1 1 180,9 0,1124 112,440 114 256.080 11.583.779

(63)

5.14 Perhitungan Pipa Primer

5.14.1 Perhitungan Dimensi Pipa Primer Kawasan Perumahan Dosen Blok B, Perumahan Dosen Blok C, Asrama PU Blok D, KSB Blok E, dan KSB Blok G:

 Total Air Limbah yang dihasilkan Blok B, C, dan D = 6,9 x 10-3 m3/s  Total Air Limbah yang dihasilkan Blok E dan G = 2, 067 x 10-3 m3/s  Debit Air Limbah yang dihasilkan Kawasan 2 (QF) = 8,967 x 10-3 m3/s  Faktor Peak (CP) = 2,5 (dilihat dari Gambar 2.6.1)

 Kekasaran pipa beton (n) = 0,016 (dilihat dari Tabel 2.4.2.1.1)  Debit Peak Air Limbah Kawasan 1 (QP) = Cp x QF

5.14.2 Perhitungan Dimensi Pipa Primer Kawasan Perumahan Dosen Blok A, Asrama Blok F, KSB Blok H, KSB Blok I, Rusunami

 Kekasaran pipa beton (n) = 0,016 (dilihat dari Tabel 2.4.2.1.1)  Debit Peak Air Limbah Kawasan 1 (QP) = Cp x QF

(64)

 QP = x [D]8/3 x [S]1/2

0,0924 = x [D]8/3 x 0,0061/2

[D]8/3 =

D = 0,351 m

= 351 mm

5.14.3 RAB Pipa Primer Kawasan 1 (sebelah kiri peta denah)  Dimensi Pipa = 207 mm

= 20,7 cm

 Jadi Pipa yang digunakan adalah pipa beton ukuran = 30 cm , dengan harga Rp. 110.000,00/meter dan tebal dinding 5 cm.

 Harga pipa primer 1= 761,41 m x Rp. 110.000,00/meter = Rp. 83.755.100,00

5.14.4 RAB Pipa Primer Kawasan 2 (sebelah kanan peta denah)  D = 351 mm

= 35,1 cm

 Jadi Pipa yang digunakan adalah pipa beton ukuran = 40 cm , dengan harga Rp. 165.000,00/meter dan tebal dinding 6 cm.

(65)

5.15 Total Keseluruhan RAB

Tabel 5.15.1 Rekapitulasi Rencana Anggaran Biaya

Kode Harga Total

Blok A 25.211.439

Blok B 31.008.780

Blok C 42.775.173

Blok D 5.478.165

Blok E 30.636.292

Blok F 16.853.843

Blok G 42.222.272

Blok H 39.261.503

Blok I 25.285.260

Blok J 25.024.588

Blok K 20.296.522

Blok L 25.330.800

Blok M 26.214.641

Kawasan 1 83.755.100,00

Kawasan 2 125.632.650,00

(66)

BAB VI PEMBAHASAN

6.1 Perencanaan Sistem Sewerage

Pada perancangan sistem sewerage kawasan cluster ini digunakan sistem

tertutup. Hal ini dikarenakan saluran tersebut akan digunakan untuk penyaluran

air buangan, sehingga harus dikelola dengan sebaik mungkin agar tidak

menimbulkan dampak yang mengganggu masyarakat sekitar. Penggunaan sistem

tertutup untuk saluran sewerage ini juga mungkin bertujuan untuk lebih

meningkatkan dan menjaga estetika kawasan tersebut. Selain itu, penggunaan

sistem tertutup juga dapat mencegah terjadinya masalah bau yang dapat

ditimbulkan oleh saluran yang terbuka, mengingat saluran tersebut untuk

menyalurkan air buangan. Sistem tertutup juga dapat mengurangi penyebaran dan

perkembangan mikroorganisme patogen yang suka tinggal pada kawasan yang

kotor dan dapat berbahaya dan menimbulkan penyakit pada manusia.

6.2 Pembagian Aliran IPAL

Perancangan saluran air buangan di atas telah dipertimbangkan

berdasarkan kontur tanah kawasan Tenjo. Aliran air buangan akan disambung ke

Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Pembuatan dua IPAL pada kawasan

tersebut bertujuan agar penyaluran air buangan dapat disalurkan secara gravitasi,

tanpa menggunakan bantuan pompa. Hal itu disebabkan kontur tanah kawasan

yang eksisting cenderung tidak rata dan berbukit-bukit. Oleh karena itu, bagian

Perumahan Dosen Tipe B, Perumahan Dosen Tipe C, Asrama PU, KSB Blok E,

dan KSB Blok G akan disalurkan dan masuk ke IPAL 1, sedangkan KSB Blok H,

KSB Blok I, Asrama, Rusunami, Pasar Modern, Land Bank, Perumahan Dosen

Tipe A, dan Kampus SU akan disalurkan dan masuk ke IPAL 2. Pemilihan jalur

aliran air buangan itu juga dirancang sedemikian rupa supaya melalui jalur yang

terpendek menuju ke arah IPAL, sehingga penggunaan pipa yang terlalu boros

(67)

6.3 Desain Aliran Perpipaan

Pada perancangan pipa primer, wilayah perencanaan dibagi menjadi 2

kawasan, dimana pipa primer ditandai dengan pipa berwarna kuning pada wilayah

perancangan sistem sewerage. Pipa primer kawasan 1 merupakan pipa primer yang menerima air limbah dari kawasan yang berada pada bagian kiri peta

perancangan, yaitu meliputi Kawasan Perumahan Dosen Blok B, Perumahan

Dosen Blok C, Asrama PU Blok D, KSB Blok E, dan KSB Blok G, sedangkan

pipa primer kawasan 2 merupakan pipa primer yang menerima air limbah dari

kawasan yang berada pada bagian kanan peta perancangan, yaitu meliputi

Kawasan Perumahan Dosen Blok A, Asrama Blok F, KSB Blok H, KSB Blok I,

Rusunami Blok J, Land Bank Blok K, Pasar Modern Blok L, dan Kampus SU

Blok M. Penentuan dimensi pipa primer kawasan 1 dan 2 ditentukan berdasarkan

beban air limbah yang dialirkan ke IPAL masing-masing kawasan. Jadi kapasitas

pipa primer tersebut dihitung dari akumulasi debit air limbah puncak yang dapat

dihasilkan kawasan masing-masing. Pipa primer utama pada perancangan saluran

air limbah ini dibuat lurus agar dapat mengurangi penggunaan aksesoris pipa

sebagai penyambung apabila pipanya berkelok-kelok. Pengurangan sambungan

pipa juga dilakukan pada bagian pipa sekunder dan tersier. Pengurangan

penggunaan pipa ini bertujuan untuk meminimalkan biaya yang dibutuhkan dalam

perancangan saluran pipa kawasan. Selain bertujuan untuk meminimalkan

anggaran biaya yang dibutuhkan pada saat pembangunan, pengurangan

penggunaan aksesoris pipa sebagai sambungan saluran juga dapat meminimalkan

kemungkinan atau resiko terjadinya kebocoran pada pipa. Hal tersebut disebabkan

karena kebocoran pipa seringkali terjadi pada bagian sambungannya. Pada

perancangan sistem sewerage, air yang dialirkan adalah air limbah yang mengandung banyak polutan yang dapat memberikan dampak yang negatif

apabila mengalami kebocoran ke lingkungan. Kandungan air limbah ini terutama

didominasi oleh bakteri-bakteri patogen yang berbahaya bagi kesehatan manusia.

Apabila air limbah tersebut bocor ke lingkungan, maka dapat mencemari tanah,

bahkan dapat mencemari air tanah. Oleh karena itu, pada perancangan pipa

(68)

6.4 Jenis Pipa

Pipa yang digunakan dalam perancangan saluran air buangan kawasan

cluster ini adalah pipa jenis pipa PVC Wavin Standard Tipe AW untuk saluran

dengan debit yang masih tidak terlalu besar (Pipa Sekunder dan Pipa Tersier) dan

pipa beton precast Tipe Light Duty untuk saluran yang debitnya cukup besar (Pipa

Primer). Pemilihan kedua jenis pipa tersebut utamanya didasarkan pada ketahanan

dan biaya dari pipa tersebut. Pipa PVC dan Pipa Beton cenderung memiliki

tingkat ketahanan yang cukup baik untuk dipakai sebagai saluran air buangan. Hal

ini terbukti dari penggunaan pipa-pipa tersebut yang sudah umum pada sebuah

kawasan. Harga pipa yang relatif tidak terlalu mahal bila dibandingkan dengan

jenis pipa lainnya juga menjadi salah satu faktor yang mendorong penggunaan

pipa PVC dan pipa beton dalam rancangan saluran yang kami buat.

6.5 Manholes

Peletakan manhole bertujuan supaya dapat dilakukan upaya monitoring terhadap kondisi saluran, sehingga dapat melakukan perbaikan pipa apabila terjadi

kerusakan pada pipa. Jarak peletakkan manhole disesuaikan dengan aturan

peletakkan manhole, misalnya pada perubahan arah saluran, ujung saluran, dan lain-lain. Pada perancangan kawasan ini manhole pada saluran lurus diletakkan setiap jarak 90 m. Pemasangan manholes dilakukan pada pipa saluran primer saja, sedangkan pada bagian pipa saluran sekunder dan tersier tidak dipasang

manholes. Hal itu dikarenakan pipa saluran sekunder dan tersier memiliki dimensi yang masih relatif kecil, sehingga belum terlalu memerlukan manholes untuk pemantauan bagian dalam. Selain itu, dimensi pipa yang terlalu kecil juga

membuat pemantauan tidak dapat dilakukan, seperti misalnya tidak cukup besar

untuk orang masuk ataupun tidak cukup besar untuk memasukkan alat

pemantauan ke dalam pipa saluran. Oleh karena itu, peletakkan manholes pada perancangan kawasan ini berada di atas pipa primer, yaitu pipa yang

memungkinkan untuk dapat dilakukan pemantauan. Manholes dibuat dari beton bertulang agar memiliki ketahanan yang baik dalam kurun waktu tertentu. Berikut

(69)

Gambar 6.5.1 Peletakan Manhole pada persimpangan (perubahan arah aliran)

(70)

BAB VII PENUTUP

7.1 Kesimpulan

Berdasarkan tujuan dan hasil rancangan pada pembahasan di atas, pipa

sistem drainase air buangan dari area pemukiman dan komersial di daerah

kawasan Kampus Surya Bogor dibuat dengan memperhatikan jenis pipa yang

digunakan, yaitu yang memiliki ketahanan yang lama, seperti pipa PVC merek

Wavin Satndard dan pipa Beton Precast Tipe Light Duty. Slope pada kondisi

eksisting, pengurangan penggunaan aksesoris sambungan pipa, dan jarak

pengaliran pipa ke IPAL juga sangat diperhatikan untuk dapat meminimalkan

estimasi biaya yang diperlukan dalam perancangan sistem sewerage pada kawasan

tersebut. Pembuatan manholes juga penting supaya pemantauan kondisi pipa

dapat dilakukan secara berkala. Semua upaya-upaya yang dilakukan di atas

merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk dapat prinsip keberlanjutan

(71)

DAFTAR PUSTAKA

Butler, David dan John W. Davies. 2011. Urban Drainage. New York: Spon Press.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. NY. “Pengolahan Air Limbah Domestik

Individual Atau Semi Komunal”. Kelair BPPT. Diakses pada 28 Mei 2015, http://www.kelair.bppt.go.id/Publikasi/BukuAirLimbahDomestikDKI/BAB

10SEMI%20KOMUNAL.pdf.

Departemen Pekerjaan Umum. 2011. “Tata Cara Rancangan Sistem Jaringan Perpipaan Air Limbah Terpusat”. Scribd. Diakses pada 28 Mei 2015,

Departemen Pekerjaan Umum. 2015. “Manhole”. Pustaka Pekerjaan Umum. Diakses pada 28 Mei 2015,

http://pustaka.pu.go.id/new/istilah/bidang-detail.asp?id=788.

Ensiklopedia Dunia. NY. “Tenjo, Tenjo, Bogor”. sttn. Diakses pada 28 Mei 2015,

http://sttn.nomor.net/id3/ensiklopedis-694/Tenjo,-Tenjo,-Bogor_71494_sttn-nomor.html.

Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 112 Tahun 2003 tentang Baku Mutu

Air Limbah, Domestik, ditetapkan pada 10 Juli 2003.

Nastiti, Y. 2013. “Bab II Tinjauan Pustaka”. Academia. Diakses pada 28 Mei 2015,http://www.academia.edu/5343580/BAB_II_TINJAUAN_PUSTAKA.

Peraturan Daerah Kabupaten Bogor No. 107. 2002. Lembar Daerah Kabupaten

Bogor.

Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta No. 122 Tahun 2005.

Diakses pada 4 Juli 2015,

(72)

Pratiwi, Rochma Septi dan Purwati, Ipung Fitri. 2015. “Perencenaan Sistem Penyaluran Air Limbah Domestik di Kelurahan Keputih Surbaya”. Jurnal Teknik ITS Vol. 4, No. 1. ITS: Surabaya.

Raharjo, 2002. “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Konsumsi Air Bersih

di Kota Rembang [Tesis]”.Universitas Diponogoro. Diakses pada 13 Juni 2015, http://eprints.undip.ac.id/11855/1/2002MTPK2037.pdf.

Said, Nusa Idaman. 2015. “IPAL Domestik Kapasitas 150 M3 Per Hari”. Kelair

BPPT. Diakses pada 27 Mei 2015,

http://www.kelair.bppt.go.id/Publikasi/BukuAirLimbahDomestikDKI/BAB

11CONTOH150M3PERHARI.pdf.

Secioputri, Grace Lucy, dkk. 2014. “Upaya Meningkatkan Kualitas Air Waduk Diponegoro Pada DAS Krengseng, Semarang”. Jurnal Karya Teknik Sipil 3:

214-223.

Universitas Brawijaya. 2012. “Perencanaan Pengelolaan Air Limbah dengan Sistem Terpusat”. water.lecture.ub. Diakses pada 27 Mei 2015, Domestik di Jabodetabek, Prosiding Seminar Nasional Limnologi V tahun

(73)

LAMPIRAN

Contoh Langkah Perhitungan

Tabel 5.1.1 Perhitungan Diameter Pipa Blok A

Kode Pipa

(meter) D (milimeter)

(74)

Tabel 5.1.2 Perhitungan RAB Blok A

Kode Jumlah Panjang

(meter) D (meter) D (milimeter) Diameter Pipa Harga/4 meter Harga Total

AT

Jumlah Harga Total 25.211.439

Perhitungan AT1-75:

 Konsumsi Air Bersih (QB) = 500 liter/unit/hari (dilihat pada tabel 2.2.1)  Asumsi air limbah yang dihasilkan dari konsumsi air bersih = 80%  Debit Air Limbah yang dihasilkan (QF) = 80% x TQB

= 80% x 500

= 400 liter/hari

(75)

 Faktor Peak (CP) = 2  Asumsi slope (S) = 0,006

 Asumsi koefesien maining (n) = 0,012

 Debit Peak Air Limbah KSB Blok H (QP) = Cp x QF = 2 x 0,000005

= 0,00001 m3/s  QP = x [D]8/3 x [S]1/2

0,00001 = x [D]8/3 x 0,0061/2

[D]8/3 =

D = 0,010 m

= 10 mm

Harga Total = x Harga/ 4 meter x Jumlah

Harga Total = x 19.030 x 75

Gambar

Gambar 3.2 Topografi Wilayah Perancangan Tenjo
Gambar 4.1 Denah Area Cluster Secara Keseluruhan
Gambar 4.2 Detail Denah Area Cluster dengan Gedung per Blok
Gambar 4.3 Detail Desain Aliran Pipa Denah Area Cluster
+7

Referensi

Dokumen terkait

Obwohl die KIDRON Vermögens- verwaltung GmbH der Auffassung ist, dass die Angaben auf ver lässlichen Quellen beruhen, kann sie für die Qualität, Richtigkeit, Aktualität oder

Tes hasil belajar kognitif fisika siswa digunakan untuk mengukur sejauh mana siswa menguasai materi yang telah diberikan setelah menggunakan model pembelajaran

Tradisi lain yang masih ada hubungannya dengan penguasa laut adalah tradisi slametan jalan (slamatan yang diadakan di jalan) , tradisi ini dipercaya dapat mengembalikan

Permasalahan pebelitian ini adalah bagaimana implementasi Kurikulum 2013 dalam Pembelajaran Fikih.Tujuan penelitian ini adalah untuk: 1 mendiskripsikan penerapan Kurikulum 2013

Akan tetapi aktivitas antioksidan tertinggi ditemukan pada bekatul yang difermentasi oleh Rhizopus oryzae dengan daya hambat radikal sebesar 93,41% dari konsentrasi ekstrak

Menggali informasi dari teks permainan/dolanan daerah tentang kehidupan hewan dan tumbuhan dengan bantuan guru atau teman dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis yang dapat diisi

Dengan demikian, materi jasa lingkungan ini dapat menjadi pengetahuan tambahan bagi peserta didik bahwa banyak potensi di sekitar manusia yang belum digarap untuk