INTEGRASI SUFISME DAN PSIKOLOGI TRANSPERSONAL
A. Pendahuluan
Istilah urban Sufism (sufisme perkotaan) menjadi popular setelah Julia Day Howell (2003) menggunakannya dalam satu kajian antropologi tentang gerakan spiritual yang marak di wilayah perkotaan di Indonesia, terutama kelompok-kelompok zikir dan sejenisnya. Urban Sufism merupakan fenomena yang terjadinyaris di segenap kota besar di dunia.
Perkotaan bersifat dinamis. Peningkatan penduduk, modernisasi, kemudahan dalam segala akses kehidupan seperti informasi, industri dan ekonomi membuat masyaraka perkotaan mendapatkan tekanan yang lebih. Gaya hidup dan persaingan yang ketat dan juga kurangnya sosialisasi dan kontemplasi semakin memperparah kondisi mental masyarakat perkotaan.
Dari hal-hal diatas bisa ditarik kesimpulan bahwa akibat yang akan terjadi dalam masyarakat perkotaan adalah keinginan untuk keluar dari tekanan. Sebagian dari mereka memilih jalan yang negatif seperti narkoba, minuman keras sampai pada level bunuh diri. Pilihan lainnya adalah jalan yang dianggap lebih positif, yaitu jalan spiritual.
Kajian kejiwaan dan spiritualitas manusia dalam sains modern disebut dengan psikologi. Psikologi memiliki peranan penting dalam membangun mental yang tertekan dan terpuruk untuk bangkit kembali. Dalam islam, Sufisme merupkan sebuah jalan yang fokus tentang penyucian diri.
Komaruddin Hidayat menjelaskan bahwa Sufisme berkembang pesat di perkotaan karena empat faktor:
1. Sebagai sarana memaknai hidup 2. Sebagai sarana pencerahan intelektual 3. Sebagai sarana terapi psikologis
4. Sebagai sarana mengikuti trend keagamaan
A. Pengertian Psikologi Transpersonal
Dalam sejarahnya, Psikologi mengalami perkembangan yang cukup signifikan sehingga terdapat 4 aliran besar dalam psikologi. Psikoanalisis, Perilaku (Behaviorisme), Humanistik, dan Transpersonal merupakan aliran yang tada dalam kajian psikologi.
Dalam psikoanalisis, aliran yang dipopulerkan oleh Sigmun Freud, dijelaskan bahwa pada dasarnya semua aktivitas psikis yang dikerjakan manusia merupakan hasil dari ketidaksadaran. Manusia pada hakekatnya memiliki Id (prinsip kenikmatan), Ego (prinsip realitas), dan Superego (kesadaran normatif). Dalam hal tingkatan kesadaran, manusia mempunyai tiga tingkatan yaitu manusia juga memiliki tiga tingkatan kesadaran yaitu Alam Sadar (The Conscious), Alam Prasadar (The Preconscious), dan Alam Taksadar (The Unconscious). Freud menyimpulkan bahwa manusia cenderung berperilaku di bawah alam tak sadar yang mendorong naluri untuk memuaskan hasrat diri.1
Aliran Perilaku (Behaviorisme) beranggapan bahwa manusia pada hakikatnya netral, baik buruknya perilaku seseorang dipengaruhi oleh situasi dan perlakuan yang dialaminya. Dalam kehidupan sehari – hari manusia dapat dilakukan pembentukan kebiasaan, perubahan sikap, dan penertiban sosial.
Aliran psikologi Humanistik memandang manusia berbeda dengan Psikoanalisa dan Behaviorisme. Perspektif Humanistik lebih menganggap manusia pada dasarnya memiliki potensi-potensi baik. Mempunyai kemampuan untuk melakukan aktualisasi diri.2
Aliran Tanspersonal berpandangan bahwa manusia memiliki potensi-potensi luhur (the highest potentials) dan fenomena kesadaran (states of consciousness). Potensi luhur yang dimaksud adalah kemampuan manusia dalam mengembangkan nilai yang ada pada dirinya. Sedangkan fenomena kesadaran lebih mengarah pada keruhanian, pengalaman mistis dll. Transpersonal menunjukkan terdapat banyak dimensi yang luar biasa potensial di luar kesadaran.
1 Hans Kung, Ateisme Sigmund Freud Ketegangan Radikal Psikologi dan Spiritualitas (Labirin, Bantul: 2017) Hal. 33-35.
Psikologi Transpersonal adalah disiplin akademis, bukan sebuah agama atau pergerakan spiritual (spiritual movement). Psikologi Transpersonal lebih dekat dengan epistemologi manusia dan disiplin hermeneutik (hermeneutic disciplines) yang meliputi humanisme, eksistensialisme.
Menurut Tart (1993), Psikologi Transpersonal merupakan kekuatan keempat dalam psikologi yang dikembangkan dari psikologi humanistik pada tahun 1960-an. “Trans” berasal dari akar kata Latin yang berarti melewati, melewati “persona”, topeng sosial, diri (self) dan pribadi. Sementara itu, Daniels (2007) menjelaskan bahwa Psikologi Transpersonal merupakan cabang psikologi yang memusatkan perhatiannya pada studi tentang bagian dan proses tentang pengalaman mendalam atau perasaan yang luas tentang siapa dirinya atau sensasi yang besar terhadap koneksitas dengan orang lain, alam atau dimensi spiritual. Kata transpersonal berarti melewati personal atau pribadi. Salah satu asumsi dalam psikologi transpersonal adalah bahwa pengalaman transpersonal meliputi suatu kesadaran yang lebih tinggi dimana self atau ego mengalami proses transendensi.3
Davis (2007) menempatkan posisi Psikologi Transpersonal di antara psikologi dan pengalaman spiritual. Psikologi Transpersonal merupakan bidang psikologi yang mengintegrasikan konsep, teori dan metode psikologis dengan bidang spiritual. Sebagaimana yang dikemukakan Daniels, Davis juga mengatakan bahwa konsep utama dari Psikologi Transpersonal adalah transendensi diri atau suatu sensasi terhadap identitas yang mendalam, meluas dan menyatu dengan segalanya. Akar kata dari transpersonal atau melewati topeng mengacu pada kondisi transendensi diri tersebut.
mengeksplorasi tingkat energi dan melewati kesadaran (awareness) atau sisi lain dari topeng dan pola-pola kepribadian. Psikologi Transpersonal bersifat longgar dan menerima masukan tentang permasalahan spiritual, baik dari tradisi kebijaksanaan dunia spiritual maupun psikologi modern. Tradisi dunia spiritual meliputi Hinduisme, Budhisme dan Taoisme maupun dari agama Yahudi, Kristen dan Islam. Psikologi Transpersonal ingin menciptakan sintesis dari kedua jawaban di atas (Cortright, 1997 dalam Adi, 2002).
Rueffler (1995) mengatakan bahwa akar kata dari transpersonal diambil dari bahasa Latin “trans” yang berarti “melewati”, “melebihi” dan “persona” yang berarti “topeng”. Jadi, singkatnya Psikologi Transpersonal adalah ekspresi dari jiwa yang melewati dan melampau topeng.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Psikologi Transpersonal merupakan aliran psikologi yang menjembatani antara psikologi dan spiritual dimana memusatkan perhatiannya pada studi tentang bagian dan proses tentang pengalaman mendalam atau perasaan yang luas tentang siapa dirinya atau sensasi yang besar terhadap koneksitas dengan orang lain, alam atau dimensi spiritual dan berusaha membantu seseorang untuk mengeksplorasi tingkat energi dan melewati kesadaran (awareness) atau sisi lain dari topeng dan pola-pola kepribadian.
Sumbangan pada mazhab Psikoanalisis adalah alam bawah sadar & insting, mazhab Behaviorisme adalah pengaruh lingkungan, mazhab Humanisme adalah penentuan diri dan kebebasan memilih, dan mazhab Transpersonal adalah transendensi dan spiritualitas. Transpersonal merupakan pengembangan diri (self development) dengan melibatkan ekspansi di atas kesadaran umum yang hanya terbatas pada ego dan kepribadian (personality) serta melebihi batasan konvensional ruang dan waktu.4
B. Pengertian Sufisme
Menurut Fethullah Gullen, Sufisme adalah usaha yang sungguh-sungguh dan mempunyai kesadaran akan pengawasan Allah demi menghilangkan semua bentuk akhlak tercela dan mengisinya dengan sifat-sifat terpuji.5
Menurut William James, Sufisme atau mistisme memiliki 4 karakteristik,
Sementara itu, R.M. Bucke memberikan ciri-ciri sufisme menjadi 7 bagian, yaitu:7
Dari pengertian ini bisa disimpulkan bahwa inti dari pengertian diatas adalah ketenangan jiwa, kebahagiaan batin dan pengalaman puncak dalam spiritualitas. Semua pengertian diatas berhubungan dengan kondisi jiwa dan penyucian hati.
Tentu saja semua kepercayaan itu dianggap tahayul non-ilmiah di kalangan ilmuwan modern. Namun, pada akhir abad ke-20 muncul sebuah mazhab psikologi yang disebut psikologi transpersonal yang mencoba mengawinkan psikologi modern yang mempelajari orang-orang normal dengan psikologi tradisional yang juga mempelajari pengalaman paranormal orang-orang yang mencari kesatuan dengan Realitas yang Mutlak seperti para kabalis Yahudi, mistikus Kristen, sufi Islam dan yogi Hindu. Psikologi transpersonal ini muncul sebagai kelanjutan dari gerakan potensi manusia seutuhnya di tahun 70-an. Hal inilah yang bisa ditarik benang merah antara sufisme dan psikologi sendiri, 5 Fethullah Gulen, At-Tilal al-Zamrudiyah Nahwa Hayat al-Qalb (Kairo, Dar al-Nil:2006) Hal. 2. 6 William James, The Varieties of Religious Experience (New York, The New American Library of World Literature: 1958) Hal. 367-369.
khusunya psikologi transpersonal yang membenarkan akan adanya pengamalaman spiritual.
Kunci Psikologi Transpersonal terletak pada dua hal yaitu : highest potential atau potensi luhur yang ada pada setiap manusia. Dan pada state of consciousness (fenomena kesadaran) yang mengarah pada keruhanian, pengalaman mistis dll. Transpersonal menunjukkan terdapat banyak dimensi
yang luar biasa potensial di luar kesadaran. Seperti halnya Sufisme yang juga membahas pada keruhanian.
Sufisme menggunakan istilah insan kamil untuk sebutan sosok manusia yang mencapai derajat kesempurnaan sebagaimana disebut oleh Ibn Arabi8 dan al-Jili9.
Sedangkan dalam psikologi lebih dikenal dengan istilah manusia ideal. C. Perbandingan Konsep antara Sufisme dan Psikologi Transpersonal
8 Abu al-Wafa al-Ghanimi Al-Taftazani, Madkhal Ila Ilm al-Tashawwuf, Hal. 123-125.
D. Integrasi Sufisme dan Psikologi Transpersonal
Yang bertujuan untuk membantu praktik keagamaan atau spiritual formal yang secara eksplisit diarahkan pada tujuan tradisi keagamaan atau organisasi keagamaan tertentu.
3. Psychospiritual psychotherapy
Sebuah pendekatan yang umumnya berbasis pada perihal memandang psikologi dari sudut pandang satu tradisi religius atau spiritual seperti Buddhisme, Kekristenan dan Sufisme.10
Integrasi yang cukup berhasil dilakukan oleh Hameed Ali dengan konsepnya yang disebut dengan pendekatan berlian. Pendekatan ini bertujuan untuk membantu seorang individu dalam mengalihkan identifikasi diri dari ego yang berpusat pada kesadaran yang lebih besar akan identitas spiritual mereka yang lebih dalam. Dia menyebutkan identitas spiritual kita dengan kata Essence dan mengemukakan bahwa dengan berusaha melalui penderitaan awal kita, kita akan memiliki kapasitas yang meningkat untuk mengaktualisasikan energi seperti cinta dan kebijaksanaan, dengan peningkatan pengalaman esensi. Hameed Ali mengintegrasikan antara teori relasi objek kontemporer dengan pemikiran Sufistik.11
E. Kesimpulan
Perpaduan antara Sufisme dan Psikologi Transpersonal sangat dibutuhkan dewasa ini, khusunya untuk masyarkat perkotaan. Dengan banyaknya gejala-gejala negatif yang timbul dalam masyarakat akibat modernisme yang 10 Andrew Shorrock, The Transpersonal in Psychology, Psychotheraphy and Counseling (New York, Palgrave McMilan:2008) Hal. 25-27.
menyeluruh di perkotaan, maka dibutuhkan kembali spiritualitas keagamaan untuk kembali membentuk Insan Kamil atau Manusia Ideal.
DAFTAR PUSTAKA
Maslow, Abraham,. Religion, Value, and Peak-Experiences. Columbus: Ohis State University Press. 1964,.
Murtadha, Muthahhari, Perspektif Al-Quran Tentang Manusia dan Agama, terj. Bandung, Penerbit Mizan 1992.
Nasution, Harun, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam.
Rozalina, Erba, M.Ag, Buku Pegangan Psikologi Transpersonal jilid 1.
Andrew Shorrock, The Transpersonal in Psychology, Psychotheraphy and Counseling New York, Palgrave McMilan:2008
Abd al-Karim al-Jili, al-Insan al-Kamil fi Ma’rifat al-Awail wa al-Awakhir
Abu al-Wafa al-Ghanimi Al-Taftazani, Madkhal Ila Ilm al-Tashawwuf Kairo, Dar al-Tsaqafah:1979
William James, The Varieties of Religious Experience New York, The New American Library of World Literature: 1958
Fethullah Gulen, At-Tilal al-Zamrudiyah Nahwa Hayat al-Qalb Kairo, Dar al-Nil:2006
Nurlayla Effendy, Perkembangan Psikologi: Kelahiran Integral? Dalam jurnal Anima, Indonesian Psychological Journal 2009, Vol. 24, No. 2
Hans Kung, Ateisme Sigmund Freud Ketegangan Radikal Psikologi dan Spiritualitas
Labirin, Bantul: 2017