Makalah Akhir Mata Kuliah Teori Hubungan Internasional I
GAME THEORY
: INSTRUMEN ANALISIS
DALAM RENCANA KENAIKAN TARIF
IMPOR MOBIL MEWAH PRODUKASI
JEPANG DI AMERIKA DAN PENGARUHNYA
TERHADAP PERDAGANGAN JERUK
FLORIDA (1995)
Aisha Rasyidila (1006694284)
Departemen Ilmu Hubungan Internasional
Fakultas Ilmu Soial dan Ilmu Politik
BAB I
PENDAHULUAN
Game theory merupakan suatu teori yang menggambarkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi akibat tindakan suatu aktor di dunia internasional, dan melihat peluang terjadinya stabilitas dan keuntungan atas tindakan tersebut. Dalam ilmu hubungan internasional, penerapan game theory pada unit states dapat terlihat dari persaingan kedua negara pada berbagai bidang, termasuk bidang perdagangan. Permasalahan yang digunakan dalam penerapan game theory pada makalah ini merupakan kekhawatiran terjadinya trade war dalam perdagangan antara Jepang (yang mengekspor mobil mewah) dan AS (yang mengekspor jeruk florida). Lalu bagaimanakah
game theory secara praktis berperan dalam perdagangan tersebut? Makalah ini akan membahas penerapan game theory sendiri, serta memperlihatkan bagaimana kemungkinan-kemungkinan yang terdapat di dalam game theory tersebut dapat menciptakan trade war di dalam perdagangan.
1.1 Latar Belakang
Ilmu Hubungan Internasional pada dasarnya mengkaji tentang hubungan antar aktor, baik itu aktor pemerintah, non-pemerintah, serta perusahaan multinasional. Hal ini seringkali dibahas dengan menggunakan pendekatan game theory; sebuah pendekatan formal yang dapat membantu memprediksikan kemungkinan yang terjadi di dalam hubungan antar aktor, baik itu dua atau lebih, untuk mengambil keputusan yang nantinya akan berpengaruh besar bagi dunia internasional.
Sejak pertama kali dipublikasikan dalam “Game Theory, of Games and Economic Behaviour”, oleh vonn Neumann dan Morgenstan pada tahun 1944; game theory menjadi sistem analisis formal pertama yang dapat diperhitungkan dalam format penelitian sosial (Correa 2002).
Pada makalah ini, pendekatan game theory akan dibahas dalam perdagangan bilateral antara Amerika Serikat dan Jepang pada tahun 1995 menggunakan pendekatan deduktif.
akan dikenakan tarif sebesar 100% tidak hanya menimbulkan kecemasan bagi pihak Jepang saja, namun juga bagi sektor agrikultur AS, khususnya para petani Jeruk. Mereka takut kenaikan pajak mobil mewah dari Jepang ini menimbulkan reaksi kenaikan import Jepang bagi produk Jeruk mereka.
Hal inilah yang nantinya akan dibahas menggunakan game theory, serta kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi akibat tindakan suatu pihak dalam perdagangan bilateral tersebut. Makalah ini akan dibahas dalam dua level unit analisis, yaitu unit negara (AS-Jepang), dan unit kelompok (Perusahaan), sehingga permasalahan dapat dilihat lebih dalam, tidak hanya dari satu sudut pandang, melainkan dari beberapa sudut pandang yang berbeda.
Tujuan utama dari makalah ini adalah mendemonstrasikan penerapan kemungkinan-kemungkinan yang terdapat pada game theory sebagai instrumen analisis dalam ilmu hubungan internasional, khususnya pada bidang perdagangan. Pendekatan yang digunakan merupakan elementary approachment dari game theory sebagai suatu bentuk integral dari Ilmu hubungan internasional, sehingga tidak menggunakan banyak perhitungan matematis di dalamnya—Sebuah Pendekatan yang juga dipakai oleh Hector Correa (2002) dan Powell (1999).
1.2 Rumusan Permasalahan
Dari latar belakang, penulis menyimpulkan permasalahan ke dalam sebuah pertanyaan: Bagaimanakah penerapan game theory dalam rencana kenaikan tarif impor mobil mewah Jepang di Amerika, dan pengaruhnya kepada sektor perdagangan jeruk Florida 1995?
1.3 Kerangka Konsep
a. Prisoners Dilemma (Game) Theory
Teori ini diibaratkan dengan menempatkan dua orang tahanan—yang melakukan kejahatan serupa dengan hukuman satu tahun penjara—ke dalam dua ruang yang terpisah. Kedua tahanan tersebut diberi dua pilihan yang sama untuk mengakui (defects/betray), atau tidak mengakui kejahatannya (assist/cooperative). Terdapat tiga kemungkinan yang serupa yang dapat diperoleh oleh tahanan-tahanan tersebut: yang pertama, apabila kedua tahanan tersebut mengakui kejahatannya, maka hukuman mereka akan dikurangi menjadi 6 bulan. Kedua, apabila mereka sama-sama tidak mengakui, maka keduanya hanya akan dihukum selama satu bulan. Tetapi, pada kemungkinan ketiga, apabila salah satu dari mereka mengaku, dan satu tahanan lainnya tetap memilih untuk diam, maka tahanan yang mengaku tersebut akan bebas, sedangkan tahanan yang diam, akan mendapatkan hukuman satu tahun penuh.
Apabila dilihat dari prespektif state sebagai unit pembahasan, maka variabel yang muncul di tabel perbandingan sebagai berikut.
Reaktif Pasif
Reaktif 3:3 1:4
Pasif 4:1 2:2
Dapat dilihat pada tabel diatas, dua korelasi yang terdapat dalam tabel ini dapat menciptakan kemungkinan yang bebeda ketika bertemu dengan korelasi lainnya. Kedua belah pihak yang terlibat tentu secara alamiah akan berusaha mencari poin tertinggi agar dirinya tidak dirugikan.
Pilihan pertama dengan poin terbesar adalah apabila kedua pihak memutuskan untuk sama-sama melakukan sifat reaktif (kolom 2.2). Pilihan ini mengondisikan kedua negara untuk sama-sama mempertahankan kekuatannya dengan mengimbangi posisinya dengan negara pesaingnya. Pilihan ini dinilai sebagai pilihan yang paling menguntungkan karena jumlah keuntungan kedua pihak menjadi stabil dalam level yang tinggi, sehingga perputaran uang dari pajak pun akan semakin banyak (poin 3:3).
Pilihan yang terakhir, (tabel 3.2 dan 2.3) menjadi pilihan yang paling tidak menguntungkan bagi salah satu pihak. Perbedaan poin keuntungan yang cukup besar (1:4 poin), diakibatkan oleh timpangnya tindakan suatu negara. Ketika negara tersebut bersifat reaktif sedangkan negara lainnya bersifat pasif, maka negara reaktif tersebut akan mendapatkan keuntungan yang besar dari negara pasif sehingga negara reaktif menjadi superior, sedangkan negara yang pasif menjadi negara yang inferior.
Pada dasarnya negara-negara memiliki sifat untuk mencari keuntungan yang sebesar-besarnya, dan menghindari kerugian. Karena itu, karena tidak ada negara yang bersedia merugi, maka negara akan cenderung mencari solusi yang dapat menguntungkan keduanya. Hal ini didukung dengan teknologi informasi dan teknologi yang terus berkembang, sehingga kesalahpahaman dalam pengambilan keputusan dapat diminimalisir. (Morgenstan dan Neumann 1944)
b. Chicken Game Theory
Chicken Game Theory merupakan turunan dari Game Theory, yang melibatkan dua aktor, yang dihadapkan kepada pilihan: konfrontasi atau damai. Chicken game theory
paling dihindari adalah kehancuran akibat perang sehingga kedua pihak tidak akan melakukan konfrontasi tanpa adanya informasi bahwa pihak lain telah menghindarinya.
Pada tabel 2.2 dan 2.3, kemungkinan ini adalah kemungkinan yang peling menguntungkan salah satu pihak. Terlihat bahwa salah satu pihak mendapatkan 7 (nilai tertinggi dalam kemungkinan; yang juga berarti bahwa pihak ini menang), dan satu pihak yang menghindar mendapat poin 2 (tergolong poin yang rendah). Hal ini dikarenakan salah satu pihak dapat dikatakan “menang” karena berhasil mengambil resiko lebih jauh yang mengarah pada konflik, sedangkan pihak lainnya menolak resiko tersebut sehingga mundur terlebih dahulu dan dikatakan sebagai pihak yang “chichken” atau pengecut.
Tindakan yang merupakan equilibrium dalam chicken game theory ini adalah sama-sama menghindar. Kedua belah pihak akan sama-sama-sama-sama menghindari konflik, sehingga tidak ada pihak yang diuntungkan secara berlebih dan tidak ada pihak yang dirugikan sehingga poin keuntunganya menjadi sama, yaitu (6:6). Dalam hal ini tidak akan ada perang yang tercipta dari konflik, karena biasanya poin ini tercapai akibat adanya komunikasi dan negosiasi di antara kedua belah pihak.
c. Trade War
Trade war merupakan suatu kondisi ketika di dalam perdagangan internasional (khususnya impor), dua negara atau lebih berlomba-lomba menaikkan pajak barang impor yang masuk ke negara masing-masing. Kenaikan pajak ini dapat diakibatkan oleh beberapa hal, diantaranya penciptaan trade barier (atau kondisi ketika suatu negara secara sengaja membuat kondisi agar produk luar negeri sulit masuk ke dalam negerinya untuk mempertahankan posisi autarkinya1), atau untuk mendapatkan profit yang lebih
besar dari bea impor tersebut.
Apabila tarif tersebut telah ditetapkan, negara-negara eksportir biasanya akan merespon dengan ikut menaikkan biaya impor di negara mereka (untuk jenis produk-produk yang biasanya diimpor oleh negara importir), sehingga pajak impor mereka menjadi berimbang. Hal inilah yang menimbulkan perlombaan untuk saling menaikkan
1 Kondisi dimana negara tersebut mengusahakan self suficiency di dalam negerinya, sehingga
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Penerapan Game Theory Dalam Trade War di pada Dua Unit Negara dan Unit Kelompok
a. Unit Level Negara
Dalam perspektif strukturalis, prisonners dilemma, dapart menjadi sebuah tolak ukur dalam menentukan probabilitas untung-rugi dalam perdagangan internasional. Hal ini ditujukan ketika suatu pihak melaksanakan tindakannya untuk mencapai perdagangan internasional yang menghasilkan profit tinggi. (Russell 1959)
Penerapan game theory dalam trade war ini berkaitan dengan besarnya pajak impor perdagangan antara dua negara. Kenaikan pajak impor dapat menambah profit negara pengimpor produk, dan di sisi lan merugikan negara eksportir. Pada kondisi ini, maka suatu negara akan diuntungkan karena mendapatkan penghasilan pajak yang tinggi, dan satu negara lainnya menderita kerugian karena harus membayar pajak lebih atas impor mereka ke negara tersebut. Maka dari itu, untuk merespon tindakan negara pengimpor, negara pengekspor akan ikut menaikkan pajak sebagai tindakan defensif untuk memperkecil selisih kerugian.
Apabila dikaitkan dalam tabel sederhana pada bab I, maka tindakan mengimbangi kenaikan pajak ini merujuk pada kemungkinan bahwa kedua negara sama-sama menginginkan keuntungan yang tinggi. Adalah hal yang wajar apabila suatu negara terancam mengalami kerugian dan menanggulanginya dengan melakukan upaya-upaya yang membuat negara tersebut dapat bertahan (Brams 1975).
yang ringan), dan barang-barang produksi dalam negeri pun akan semakin mudah diekspor dan memasuki pasaran luar negeri.
Free Trade sendiri merupakan salah satu bentuk dari penerapan kemungkinan kedua dalam tabel sederhana (bab I), dimana kedua negara sama-sama bersifat pasif atau damai, untuk menghindari konflik serta mempererat hubungan antara kedua rekan bisnis perdagangan.
Pada dasarnya, dalam dunia perdagangan, profit menjadi sesuatu yang utama, sehingga kerugian menjadi sesuatu yang sangat dihindari. Maka wajar apabila suatu negara merespon kenaikan pajak impor dari negara lain dengan menaikkan pajak impor di negaranya sendiri, sebab, apabila negara pertama tidak melakukan respon, maka negara tersebut harus membayar lebih besar untuk membayar biaya perdagangannya.
b. Unit Level Kelompok
Selain sebagai penyeimbang, pada level kelompok, kenaikan tarif juga memperbesar hambatan perdagangan, karena kemungkinan besar produk yang diperdagangkan dan terlibat di dalam trade war akan berbeda. Hal ini, akan tetap merugikan apabila dipandang dari unit kelompok, atau para pengusaha, karena akan menambah biaya tambahan produksi mereka.
Oleh karena itu, pada unit level kelompok, game theory yang akan ditetapkan merupakan chicken game theory.
Kenaikan tarif impor akan dianggap oleh suatu pihak sebagai sesuatu yang merugikan karena menambah biaya produksi, dan secara otomatis menaikkan harga barang tersebut di pasar. Dalam arti lain, keuntungan yang didapat oleh pengusaha pun akan semakin sedikit, apabila dibandingkan dengan keuntungan negara keseluruhkan karena trade war tersebut.
Pilihan untuk melakukan trade war, atau sama-sama menaikkan tarif impor disini menjadi pilihan yang paling merugikan bagi para pengusaha. Itu berarti equilibrium yang dituju merupakan keadaan damai, diamana kedua negara sama-sama membatalkan tarif impornya.
menjadi salah satu pertimbangan level states untuk mencapai kondisi perdagangan tanpa hambatan.
Karena itu, unit level kelompok di dalam trade war akan bisa dipastikan berusaha untuk mengarahkan negara pada keputusan penghapuskan tarif, dengan menghilangkan ego untuk mendapatkan keuntungan, sehingga pasar yang tanpa hambatan dapat tercapai. (Correa 2002)
2.1 Kenaikan Tarif Impor untuk Mobil Mewah Jepang di Amerika, serta pengaruhnya terhadap ekspor sektor Agrikultur Jeruk Florida.
Pada tahun 1995, pemerintah Amerika Serikat berencana untuk menaikkan tarif impor untuk 13 jenis mobil mewah dari Jepang (khususnya untuk produk Lexus, Nissan Infinity, dan Honda Acura) sebesar 100%. Hal ini dikarenakan mobil produk Jepang mulai menggeser mobil produksi AS pada pasar domestik AS, sementara di sisi lain, Jepang tidak mau membuka pasarnya untuk negara asing, sehingga produk otomotif AS tidak dapat mencapai pasaran Jepang. Hal ini dianggap tidak adil bagi AS sehingga kenaikan pajak impor ini dianggap sebagai suatu brikmanship strategy2, agar Jepang mau
membuka pasarnya bagi produk automotif AS.
Tindakan AS ini, ternyata tidak hanya menimbulkan kekhawatiran bagi pihak Jepang saja, namun juga dari pihak pengusaha agrikultur domestik di Florida. Hal ini dikarenakan Jepang merupakan salah satu target pasar terbesar AS untuk impor jeruk, khususnya jeruk bali. Tercatat bahwa 45% produk jeruk Florida diekspor ke jepang, kgususnya jeruk bali, dengan biaya pengiriman lebih dari 135 juta dolar setiap tahunnya.
Pencetusan tarif impor di bidang impor agrikultur AS ini dicetuskan oleh salah satu penasihat senior Jepang, yang melihat bahwa Jepang akan sangat dirugikan dengan kebijakan AS ini. Harga mobil mewah jepang yang tadinya berkisar antara 35000 USD-50.000 USD kemungkinan akan naik hingga dua kali lipat. Hal ini membuat mobil-mobil tersebut dikhawatirkan tidak dapat bersaing dengan mobil-mobil yang diproduksi oleh Eropa dan Amerika.
Pada musim terakhir, Florida tercatat mengekspor 10.4 juta karton jeruk bali ke Jepang, atau sekitar 25% dari seluruh perusahaan petani jeruk di AS. Hasil ini agak
2 Kondisi di mana suatu negara berusaha untuk menekan negara lain ke jurang bahaya, demi mengubah
menurun dari musim sebelumnya, yaitu 11.6 karton Jeruk bali, dikarenakan oleh faktor cuaca.
Akan sangat sulit bagi AS untuk mencari pasar sebesar Jepang di bidang agrikultur, khususnya jeruk bali. Apabila pada saat produksi menurun itu, pemerintah AS dapat mendapatkan pasar untuk penjualan jeruk produksi florida, maka kekhawatiran tersebut akan hilang.
Dalam hal ini, maka Amerika Serikat dan Jepang harus sama-sama mempertimbangkan apakah trade war sendiri membawa keuntungan bagi semua pihak, atau hanya pada unit level negara saja.
2.2 Reaksi Jepang atas Ancaman Kenaikan Pajak Impor Mobil Mewah AS
Pemerintah Jepang tampak menyadari bahaya laten yang mungkin akan terjadi pada level kelompok (kelanjutan nasib para pengusaha mobil di Jepang, dan sulitnya mendapatkan pasokan Jeruk Bali dari AS), sehingga akhirnya Jepang mengusahakan cara lain untuk menghindari trade war, yaitu dengan membawa kasus ini kepada WTO.
Jepang menuntut bahwa Amerika telah melanggar pasal I dan pasal II tentang pencekalan perdagangan terhadap produk yang paling diminati konsumen. Menurut Jepang, pasal ini sejalan dengan pasal XXIII (yang sebelumnya dilayangkan oleh Amerika kepada WTO karena Jepang tidak mau membuka pasar otomotifnya kepada AS). Jepang berargumen bahwa pasal XXIII yang diajukan oleh AS merupakan landasan hukum yang kontradiktif, karena pasal tersebut berbunyi “pihak-pihak yang terlibat dilarang menetapkan keputusan unilateral secara sepihak untuk langkah-langkah perbaikan”. (Saxohouse, 2010)
AS sendiri dinilai Jepang telah memberlakukan acaman sepihak karena takut produk Jepang menguasai pasar Amerika. Karena itu, Jepang berusaha agar produknya tetap bisa berada di pasaran AS tanpa harus mengalami kenaikan tarif, begitu juga dengan produk jeruk dari florida.
dan peraturan-peraturan yang tidak memihak ke salah satu pihak, termasuk permintaan pengertian dari Jepang kepada AS, mengenai pandangan fundamental Jepang terhadap pasar yang membatasi produk asing masuk ke dalam negaranya untuk mencegah krisis ekonomi. Amerika juga disini menuntut transparasi kebijakan Jepang mengenai pasarnya, serta meminta Jepang merubah fleksibiltas pasarnya untuk produk-produk telekomunikasi, peralatan kesehatan, obat-obatan, dan pelayanan finansial. (Cooper, 2011)
Perjanjian ini menjadi sebuah sharing antara kedua negara mengenai perdagangan produk mereka dan hambatan-hambatannya untuk dapat masuk ke pasar kedua negara. memperlihatkan bahwa Jepang bisa saja memberlakukan trade war terhadap produk Jeruk Florida, namun tetap berusaha untuk mempertahankan tarif perdagangan yang rendah dengan mempertimbangkan industri sektor otomotif di negaranya. Dengan hasil ini juga, jeruk Florida tetap bisa masuk ke pasaran Jepang tanpa harus terancam terjebak di dalam trade war, sehingga Jepang juga dapat memetik keuntungan dari sana.
2.4 Analisis Kasus berdasarkan Game Theory
Kasus perdagangan antara Amerika Serikat dan Jepang ini, apabila di analisis berdasarkan game theory, maka terlihat bahwa ada dua level unit yang saling memengaruhi, yaitu level unit kelompok, dan negara.
a. Unit Level Negara AS-Jepang (Prisonners Dilemma Game Theory)
Pada unit negara, rencana kenaikan pajak mobil mewah di AS sendiri di sini pun bertujuan untuk mencegah produk Jepang menguasai pasar otomotif AS. Terlihat bahwa AS berusaha untuk mempertahankan posisi autarkinya, dan melaksanakan kebijakan untuk melindungi produk-produk lokalnya.
Di sisi lain, tindakan ini juga merupakan sebuah strategi pemicu agar Jepang mau membuka pasarnya untuk produk-produk Amerika. Pasar Jepang yang tertutup membuat AS berpikir bahwa kondisi ini tidak adil, karena Jepang seharusnya memberlakukan perlakuan yang sama dengan AS mengenai pasar. Dengan menaikkan pajak impor, maka
Apabila dikaitkan pada tabel sederhana prisoners dilemma yang ada di bab I, maka akan terlihat bahwa Jepang memiliki pilihan untuk menyesuaikan tarif, tidak melakukan apapun, atau bernegosiasi dengan AS. memberlakukan kenaikan tarif impornya, maka Jepang secara otomatis berada dalam posisi tabel 3,2, dimana Jepang merugi karena harus membayar tarif yang tinggi, sementara AS dapat memasuki pasar agrikultur (khususnya jeruk) di Jepang tanpa hambatan apapun.
Maka ada dua kemungkinan yang dapat memposisikan Jepang Sejajar dengan AS, yaitu pada tabel 2,2 dan tabel 3.3.
Pada tabel 2,2, kemungkinan untung yang bisa didapat oleh kedua negara merupakan kemungkinan yang paling besar, tergantung besarnya pajak impor yang mereka terapkan di pasar mereka. Hal ini mengandung unsur kontinuitas, dimana suatu kenaikan tarif, akan terus mengundang kenaikan tarif dari pihak lawan; begitu juga sebaliknya.
Kemungkinan Jepang ini terlihat pada wacana Jepang untuk mentuk mengimbangi naiknya tarif impor AS, dengan menaikkan tarif impornya pada sektor agrikultur Jeruk Florida.
Timbul sebuah pertanyaan, apakah hal yang memengaruhi Jepang untuk menghindari
trade war?
b. Unit Level Kelompok (Chicken Game Theory)
Pada dasarnya, pertimbangan keuntungan dan kerugian pada level analisis kelompok pengusaha, akan berbeda dengan level negara. Rencana kenaikan tarif mobil mewah Jepang membuat ancaman bagi kedua belah pihak, baik itu pengusaha mobil AS, maupun petani jeruk Florida. Hal ini dikarenakan tarif impor yang berlaku untuk produk-produk yang diimpor, akan masuk ke dalam kas negara, bukan kas perusahaan.
Tarif impor akan membuat perdagangan kedua negara menjadi semakin sulit. Selain diperlukannya biaya yang lebih besar untuk distribusi, harga produk sendiri akan menjadi semakin mahal, dan kemungkinan akan melejit melebihi daya beli konsumen.
Menaikkan
Maka, seperti yang terlihat pada tabel di atas, posisi yang paling dihindari adalah ketika negara memberlakukan trade war, sedangkan equilibrium kedua belah pihak akan berada pada titik 6,6—ketika kedua negara menghapuskan tarif impornya.
Begitu juga apabila hanya salah satu negara yang memberlakukan tarif; maka pengusaha negara pengekspor akan dirugikan oleh kemungkinan itu, sedangkan pengusaha di negara pengimpor tidak akan mengalami kerugian (poin 2,3 dan 3,2).
Maka dari itu, kesejahteraan para pengusaha menjadi salah satu pertimbangan negara dalam memutuskan apakah negara tersebut dapat terlibat dalam trade war atau tidak.
Pengusaha tentu menjadi salah satu penyumbang devisa negara dalam jumlah besar, sehingga kekuatan yang mereka miliki merupakan kekuatan ekonomi; dan negara, sebagai salah satu pihak yang diuntungkan, harus melindunginya dari pengaruh pasar asing.
Penerapan game theory dalam kasus ini terlihat dalam dua sudut pandang level analisis, yaitu negara dan kelompok. Berdasarkan prisoners dilemma, sesungguhnya suatu negara akan cenderung mencari keuntungan yang sebesar-besarnya dengan menyeimbangkan tarif yang berlaku di negara importir. Hal ini dikarenakan negara akan menghindari kemungkinan bahwa hanya negaranya saja yang dirugikan dalam perdagangan tersebut.
Akan tetapi, pada kaus ini, Jepang lebih memilih untuk membawa AS kepada jalur negosiasi WTO untuk sama-sama menghilangkan tarif impor. Tindakan ini tentu didasari oleh beberapa pertimbangan, diantaranya dengan hambatan perdagangan yang akan dialami oleh unit level kelompok (pengusaha) apabila sampai terjadi trade war.
Unit level kelompok sendiri cenderung memandang permasalahan ini dari chicken game theory dimana, satu equilibrium yang paling menguntungkan bagi kedua pihak adalah dengan menghilangkan pajak impor. Kedua pihak akan menghindari trade war
karena merasa sama-sama dirugikan atas naiknya tarif impor.
Tetapi unit level kelompok tidak memiliki kekuatan untuk menentukan tarif impor, karena keputusan tersebut berada di level negara. Oleh karena itu, unit level negara perlu mempertimbangkan keadaan level kelompok terlebih dahulu sebelum membuat keputusan, sehingga pengusaha-pengusaha domestik dapat melakukan transaksi tanpa hambatan.
Aumann, Robert. (2006) “Acceptable points in general cooperative n-person games”, in R. D. Luce and A. W. Tucker (eds.), Contributions to the Theory 23 of Games IV, Annals of Mathematics Study 40, 287–324, Princeton University Press, Princeton NJ.
Brams, Steven J. (1975) "Game Theory and Politics", The Free Press: New York, NY
Brams, Steven J. and Kilgour D. Marc (1988) "Game Theory and National Security", Basil Blackwell Inc.: New York, NY
Brams, Steven J.; Doherty, Ann E. and Weidner, Matthew L. (1994) "Game Theory: Focusing on the Players, Decisions and Agreements", in Zarman, William I., International Multilateral Negotiation: Approaches to the Management of Complexity, Jossey-Bass Publishers: San Francisco, CA
Bennett, Peter and Nicholson, Michael (1994) "Formal methods of analysis in IR", in Groom, A. J. R. and Light, Margot (eds.), Contemporary International Relations: A Guide to Theory, Pinter
Publishers: New York, NY
Binmore, Ken (1992) "Fun and Games: A Text on Game Theory", D. C. Heath and Co: Lexington, MA
Brams, Steven J. (1990) "Negotiation Games: Applying Game Theory to Bargaining and Arbitration", Routledge, Chapman and Hall, Inc.: New York, NY
Business Dictionary. Trade War. Style Sheet. (http://www.businessdictionary.com/definition/trade-war.html) Accesed in 24 December 2011, 11.31 PM.
Cooper, William H. (2010). U.S.-Japan Economics Relation: Significants, Prospects, and Policy Options. Washington, DC: Congressional Research Service. Pp. 20-22
Dawson, Chester (2004). Lexus: The Relentless Pursuit. Hoboken, NJ: Jon Wiley & Sons. ISBN 0-470821-10-8.
Deardorff’s Glossary of International Economics. Style sheet.
(http://www-personal.umich.edu/~alandear/glossary/c.html#ClosedEconomy|Deardorff%27s) Accesed in 24 December 2011, 11.01 AM.
Ocala Star-Banner Newspaper. Florida Cirtus May Get Squeezed in Trade War. Style Sheet. Florida: Friday, 19 May 1995.
Orlando Sentinel. If Japanese Strikes Back, States Citrus Could Get Hit. Style Sheet.
(http://articles.orlandosentinel.com/1995-05-19/news/9505190069_1_florida-citrus-japan-grapefruit), acceded in 24 December 2011, 2.30 PM.
Powell, Robert (1999) "In the Shadow of Power", Princeton University Press: Princeton, NJ
Reynolds, Philip A. (1994) "An Introduction to International Relations" (3rd. ed.), Longman Publishing: New York, NY
Saxonhouse, Garry R. (2010) “Japan Economy Retrinspect”, World Scientific Publising Co.Pte. Ltd.: Hackensack, USA.