LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN ASMA PADA ANAK
Definisi
Asma adalah suatu kelainan berupa inflamasi (peradangan) kronik saluran napas yang menyebabkan hipereaktivitas bronkus terhadap berbagai rangsangan yang ditandai dengan gejala episodik berulang berupa mengi, batuk, sesak napas dan rasa berat di dada terutama pada malam dan atau dini hari yang umumnya bersifat reversibel baik dengan atau tanpa pengobatan (Kemenkes, 2008). Pedoman Nasional Asma Anak (PNAA) menggunakan batasan operasional asma yaitu mengi berulang dan/atau batuk persisten dengan karakteristik sebagai berikut: timbul secara episodik, cenderung pada malam hari/dini hari (nokturnal), musiman, adanya faktor pencetus diantaranya aktivitas fisis, dan bersifat reversibel baik secara spontan maupun dengan pengobatan, serta adanya riwayat asma atau atopi lain pada pasien/keluarganya. Jadi dapat kelompok simpulkan asma merupakan penyakit inflamasi (peradangan) kronik saluran napas yang ditandai adanya mengi episodik, batuk, dan rasa sesak di dada akibat penyumbatan saluran napas, termasuk dalam kelompok penyakit saluran pernapasan kronik.
Etiologi
Gejala asma, yaitu batuk, sesak dengan mengi merupakan akibat dari obstruksi bronkus yang didasari oleh inflamasi kronik dan hiperaktivitas bronkus. Hiperaktivitas bronkus merupakan ciri khas asma, besarnya hipereaktivitas bronkus ini dapat diukur secara tidak langsung. Pengukuran ini merupakan parameter objektif untuk menentukan beratnya hiperaktivitas bronkus yang ada pada seseorang pasien. Berbagai cara digunakan untuk mengukur hipereaktivitas bronkus ini, antara lain dengan uji provokasi beban kerja, inhalasi udara dingin, inhalasi antigen maupun inhalasi zat nonspesifik.
(late asthmareaction = LAR). Setelah reaksi asma awal dan reaksi asma lambat, proses dapat terus berlanjut menjadi reaksi inflamasi sub-akut atau kronik. Pada keadaan ini terjadi inflamasi di bronkus dan sekitarnya, berupainfiltrasi sel-sel inflamasi terutama eosinofil dan monosit dalam jumlah besar ke dinding dan lumen bronkus.
Penyempitan saluran napas yang terjadi pada asma merupakan suatu hal yang kompleks. Hal ini terjadi karena lepasnya mediator dari sel mast yang banyak ditemukan di permukaan mukosa bronkus, lumen jalan napas dan di bawah membran basal. Berbagai faktor pencetus dapat mengaktivasi sal mast.Selain sel mast, sel lain yang juga dapat melepaskan mediator adalah sel makrofag alveolar, eosinofil, sel epitel jalan napas, netrofil, platelet, limfosit dan monosit.Inhalasi alergen akan mengaktifkan sel mast intralumen, makrofag alveolar, nervus vagus dan mungkin juga epitel saluran napas. Peregangan vagal menyebabkan refleks bronkus, sedangkan mediator inflamasi yang dilepaskan oleh sel mast dan makrofag akan membuat epitel jalan napas lebih permeabel dan memudahkan alergen masuk ke dalam submukosa, sehingga memperbesar reaksi yang terjadi.
Mediator inflamasi secara langsung maupun tidak langsung menyebabkan serangan asma, melalui sel efektor sekunder seperti eosinofil, netrofil, platelet dan limfosit.Sel-sel inflamasi ini juga mengeluarkan mediator yang kuat seperti leukotriens, tromboksan, PAF dan protein sitotoksis yang memperkuat reaksi asma.Keadaan ini menyebabkan inflamasi yang akhirnya menimbulkan hipereaktivitas bronkus.Ada beberapa proses yang terjadi sebelum pasien menjadi asma:
1. Sensitisasi, yaitu seseorang dengan risiko genetik dan lingkungan apabila terpajan dengan pemicu (inducer/sensitisizer) maka akan timbul sensitisasi pada dirinya.
2. Seseorang yang telah mengalami sensitisasi maka belum
inflamasinya berat secara klinis berhubungan dengan hiperreaktivitas bronkus.
3. Setelah mengalami inflamasi maka bila seseorang
terpajan oleh pencetus (trigger) maka akan terjadi serangan asma (mengi).
Faktor-faktor pemicu(inducer/sensitisizer)antara lain: Alergen dalam ruangan: tungau debu rumah, binatang berbulu (anjing, kucing, tikus), alergen kecoak, jamur, kapang, ragi serta pajanan asap rokok; pemacu: Rinovirus, ozon, pemakaian b2 agonis; sedangkan pencetus(enhancer): Semua faktor pemicu dan pemacu ditambah dengan aktivitas fisik, udara dingin, histamin dan metakolin. Secara umum faktor risiko asma dibedakan menjadi 2 kelompok faktor genetik dan faktor lingkungan.
1. Faktor genetik
a. Hipereaktivitas
b. Atopi/alergi bronkus
c. Faktor yang memodifikasi penyakit genetik
d. Jenis kelamin
e. Ras/etnik
2. Faktor lingkungan
a. Alergen di dalam ruangan(tungau, debu rumah, kucing,
alternaria/jamur dll)
b. Alergen diluar ruangan (alternaria, tepung sari)
c. Makanan (bahan penyedap, pengawet, pewarna makanan,
kacang, makanan laut, susu sapi, telur)
d. Obat-obatan tertentu (misalnya golongan aspirin, NSAID,
β bloker dll)
e. Bahan yang mengiritasi (misalnya parfum, household spray, dan lain-lain)
f. Ekpresi emosi berlebih
g. Asap rokok dari perokok aktif dan pasif
i. Exercise induced asthma, mereka yang kambuh asmanya ketika melakukan aktifitas tertentu.
Tanda dan Gejala
Asma diklasifikasikan atas asma saat tanpa serangan dan asma saat serangan (akut).
a) Asma saat tanpa serangan
Pada anak, secara arbiteri Pedoman Nasional Asma Anak (PNAA) mengklasifikasikan derajat asma menjadi: 1) Asma episodik jarang; 2) Asma episodik sering; dan 3) Asma persisten (Tabel 1).
Tabel 1. Klasifikasi derajat asma pada anak
No 1 Frekuensi serangan <1x/bulan >1x/bulan Sering
2 Lama serangan <1minggu >1minggu
Hampir sepanjang tahun, tidak ada periode bebas
serangan 3 Intensitas serangan Biasanya ringan Biasanya sedang Biasanya berat 4 Diantara serangan Tanpa gejala Sering ada gejala Gejala siang dan malam 5 Tidur dan aktifitas Tidak tergganggu Sering tergganggu Sangat tergganggu
6 Pemeriksaan fisik diluar serangan
7 Obat pengendali(anti
inflamasi) Tidak perlu Perlu Perlu
8 Uji faal paru(diluar serangan)
Variabilitas>15% Variabilitas>30% Variabilitas 20-30%. Variabilitas >50%
b) Asma saat serangan
Tabel 2. Klasifikasi asma menurut derajat serangan Parameter klinis,
fungsi faal paru, laboratorium
Ringan Sedang Berat Ancaman henti napas
Posisi Bisa berbaring Lebih suka duduk Duduk bertopanglengan Bicara Kalimat Penggal kalimat Kata-kata
Kesadaran Mungkin iritabel Biasanya iritabel Biasanya iritabel Kebingungan
Sianosis Tidak ada Tidak ada Ada Nyata
Wheezing hanya pada akhirSedang, sering ekspirasi
respiratorik Biasanya tidak Biasanya ya Ya
Gerakan paradok torako-abdominal
Retraksi Dangkal, retraksiinterkostal Sedang, ditambahretraksi suprasternal
Dalam, ditambah
napas cuping hidung Dangkal/ hilang
Frekuensi napas
Takipnu Takipnu Takipnu Bradipnu Pedoman nilai baku frekuensi napas pada anak sadar:
Usia Frekuensi napas normal/menit
Normal Takikardi Takikardi Bradikardi Pedoman nilai baku frekuensi nadi pada anak
Usia Frekuensi nadi normal per menit 2-12 bulan < 160
1-2 tahun < 120 6-8 tahun < 110
Pulsus paradoksus (< 10 mmHg)Tidak ada (10-20 mmHg)Ada (>20mmHg)Ada
Tidak ada, tanda
PaO2 (biasanya tidakNormal perlu diperiksa)
>60 mmHg <60 mmHg
PaCO2 <45 mmHg <45 mmHg >45 mmHg
Penatalaksanaan asma klasifikasikan menjadi:1) Penatalaksanaan asma akut/saat serangan, dan 2) Penatalaksanaan asma jangka panjang.
a) Penatalaksanaan asma akut (saat serangan)
Serangan akut adalah episodik perburukan pada asma yang harus diketahui oleh pasien.Penatalaksanaan asma sebaiknya dilakukan oleh pasien di rumah (lihat bagan 1), dan apabila tidak ada perbaikan segera ke fasilitas pelayanan kesehatan. Penanganan harus cepat dan disesuaikan dengan derajat serangan. Penilaian beratnya serangan berdasarkan riwayat serangan termasuk gejala, pemeriksaan fisik dan sebaiknya pemeriksaan faal paru, untuk selanjutnya diberikan pengobatan yang tepat dan cepat.
Pada serangan asma obat-obat yang digunakan adalahbronkodilator (β2 agonis kerja cepat dan ipratropium bromida) dan kortikosteroid sistemik. Pada serangan ringan obat yang digunakan hanya β2 agonis kerja cepat yang sebaiknya diberikan dalam bentuk inhalasi. Bila tidak memungkinkan dapat diberikan secara sistemik. Pada dewasa dapat diberikan kombinasi dengan teofilin/aminofilin oral.Pada keadaan tertentu (seperti ada riwayat serangan berat sebelumnya) kortikosteroid oral (metilprednisolon) dapat diberikan dalam waktu singkat 3- 5 hari.Pada serangan sedang diberikan β2 agonis kerja cepat dan kortikosteroid oral. Pada dewasa dapat ditambahkan ipratropium bromida inhalasi, aminofilin IV (bolus atau drip). Pada anak belum diberikan ipratropium bromida inhalasi maupun aminofilin IV. Bila diperlukan dapat diberikan oksigen dan pemberian cairan IV.
Pada serangan berat pasien dirawat dan diberikan oksigen, cairan IV, β2 agonis kerja cepat ipratropium bromida inhalasi, kortikosteroid IV, dan aminofilin IV (bolus atau drip). Apabila β2 agonis kerja cepat tidak tersedia dapat digantikan dengan adrenalin subkutan.Pada serangan asma yang mengancam jiwa langsung dirujuk ke ICU.Pemberian obat-obat bronkodilator diutamakan dalam bentuk inhalasi menggunakan nebulizer. Bila tidak ada dapat menggunakan IDT (Inhalasi Dosis Terukur) dengan alat bantu (spacer).
Penatalaksanaan asma jangka panjang bertujuan untuk mengontrol asma dan mencegah serangan. Pengobatan asma jangka panjang disesuaikan dengan klasifikasi beratnya asma. Prinsip pengobatan jangka panjang meliputi: 1) Edukasi; 2) Obat asma (pengontrol dan pelega); dan Menjaga kebugaran.
Edukasi yang diberikan mencakup: kapan pasien berobat/ mencari pertolongan, mengenali gejala serangan asma secara dini, mengetahuiobat-obatpelega dan pengontrolserta cara dan waktupenggunaannya, mengenali dan menghindari faktor pencetus, kontrol teratur. Alat edukasi untuk dewasa yang dapat digunakan oleh dokter dan pasien adalah pelangi asma (bagan 6), sedangkan pada anak digunakan lembaran harian.Obat asma terdiri dari obat pelega dan pengontrol. Obat pelega diberikan pada saat serangan asma, sedangkan obat pengontrol ditujukan untuk pencegahan serangan asma dan diberikan dalam jangka panjang dan terus menerus. Untuk mengontrol asma digunakan anti inflamasi (kortikosteroid inhalasi). Pada anak, kontrol lingkungan mutlak dilakukan sebelum diberikan kortikosteroid dan dosis diturunkan apabila dua sampai tiga bulan kondisi telah terkontrol.Obat asma yang digunakan sebagai pengontrol antara lain:Inhalasi kortikosteroid, β2 agonis kerja panjang, antileukotrien, teofilin lepas lambat.
Tabel 3. Jenis obat asma
Kortikosteroid sistemik
Metilprednisolon
Prednison Oral, inhalerOral
Bagan 1.
Alur TatalaksanaSerangan Asma pada Anak
Klinik / IGD
Nilai derajat serangan(1)
Tatalaksana awal
nebulisasi -agonis 1-3x, selang 20 menit (2) nebulisasi ketiga + antikolinergik
jika serangan berat, nebulisasi. 1x (+antikoinergik)
Serangan sedang (nebulisasi 1-3x,respons
parsial) berikan oksigen (3)
nilai kembali derajat serangan,jika sesuai dgn serangan sedang, observasi di Ruang Rawat
Sehari/observasi
pasang jalur parenteral Serangan ringan
(nebulisasi 1-3x, respons baik,gejala
hilang)
observasi 2 jam jika efek
bertahan,boleh pulang
jika gejala timbul lagi, perlakukan sebagai serangan sedang
Serangan berat (nebulisasi 3x, respons buruk) sejak awal berikan O2
saat / di luar nebulisasi pasang jalur
parenteral
nilai ulang klinisnya, jika sesuai dengan serangan berat, rawat di Ruang Rawat Inap foto Rontgen toraks Boleh pulang pencetus, dapat diberi steroid oral
dalam 24-48 jam kontrol ke Klinik R.Jalan, untuk reevaluasi
Ruang Rawat Sehari/observasi
oksigen teruskan
berikan steroid oral
nebulisasi tiap 2 jam
bila dalam 12 jam perbaikan klinis stabil, boleh pulang, tetapi jika klinis tetap belum membaik atau meburuk, alihrawat ke Ruang Rawat Inap
Ruang Rawat Inap
oksigen teruskan
atasidehidrasi dan asidosisjikaada
steroid IV tiap 6-8 jam
nebulisasi tiap 1-2 jam
aminofilin IV awal, lanjutkan rumatan
jika membaik dalam 4-6x nebulisasi, interval jadi 4-6 jam
jika dalam 24 jam perbaikan klinis stabil, boleh pulang
jika dengan steroid dan aminofilin parenteral tidak membaik, bahkan timbul Ancaman henti napas, alih rawat ke Ruang Rawat Intensif
Catatan:
1. Jika menurut penilaian serangannya berat, nebulisasi cukup 1x langsung dengan -agonis + antikolinergik
2. Bila terdapat tanda ancaman henti napas segera ke Ruang Rawat Intensif 3. Jika tidak ada alatnya, nebulisasi dapat diganti dengan adrenalin subkutan
0,01ml/kgBB/kali maksimal 0,3ml/kali
Bagan 2.
Alur Tatalaksana Asma Anak jangka Panjang
Asma episodik jarang
3-4 minggu, obat
dosis / minggu > 3x 3x
Asma episodik sering
6-8 minggu, respons: () (+)
Asma persisten
6-8 minggu, respons: () (+)
6-8 minggu, respons: () (+)
*) Ketotifen dapat digunakan pada pasien balita dan/atau asma tipe rinitis Pemeriksaan Penunjang
Obat pereda: -agonis atau teofilin (hirupan atau oral) bila perlu
Tambahkan obat pengendali: Kortikosteroid hirupan dosis rendah *)
Pertimbangkan alternatif penambahan salah satu obat:
-agonis kerja panjang (LABA)
teofilin lepas lambat
antileukotrien
atau dosis kortikosterid ditingkatkan (medium)
Kortikosteroid dosis medium ditambahkanan salah satu obat:
-agonis kerja panjang
teofilin lepas lambat
antileukotrien
atau dosis kortikosteroid ditingkatkan (tinggi)
Obat diganti kortikosteroid oral
Pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk diagnosis asma: 1. Pemeriksaan fungsi/faal paru dengan alat spirometer
2. Pemeriksaan arus puncak ekspirasi dengan alat peak flow rate meter 3. Uji reversibilitas (dengan bronkodilator)
4. Uji provokasi bronkus, untuk menilai ada/tidaknya hipereaktivitas bronkus.
5. Uji Alergi (Tes tusuk kulit /skin prick test) untuk menilai ada tidaknya alergi.
6. Foto toraks, pemeriksaan ini dilakukan untuk menyingkirkan penyakit selain asma.
PENGKAJIAN Identitas Pasien
Nama : An. A
Tanggal Lahir / Umur : Tidak Terkaji / 5 tahun
Jenis kelamin : Tidak terkaji
Alamat : Tidak terkaji
Tanggal pengkajian : 31 Mei 2017
Tanggal MRS : 30 Mei 2017
No. RM : Tidak terkaji
Bahasa yang dimengerti : Tidak terkaji
Nama ayah : Tidak terkaji
Nama ibu : Tidak terkaji
Pekerjaan orang tua : Tidak terkaji
Pendidikan orang tua : Tidak terkaji
Keluhan Utama
Sesak napas
Riwayat Penyakit Sekarang
Sejak 1 hari SMRS pasien mulai mengeluhkan sesak napas setelah ibunya membersihkan kamar.
Riwayat Penyakit Dahulu
a. Prenatal (apakah ibu memiliki penyakit yang sama selama kehamilan anak tersebut? Apakah ibu rutin ANC selama kehamilan?)
b. Perinatal dan postnatal (apakah anak lahir cukup bulan? Apakah anak asfiksia saat persalinan?)
c. Penyakit yang pernah diderira (apakah ada penyakit lain yang diderita olh anak?)
d. Hospitalisasi/tindakan oprasi (apakah anak pernah dirawat dengan gejala yang sama? Apakah anak pernah menjalankan tindakan oprasi?)
e. Injuri (apakah anak pernah mengalami kecelakaan atau terjatuh secara serius?)
g. Imunisasi dan tes laboratorium (apakah imunisasi dasar anak lengkap?) h. Pengobatan (adakah obat-obatan yang dikonsumsi rutin sampai saat ini?)
Riwayat Pertumbuhan
Apakah ada keterlambatan pertumbuhan anak
Riwayat Sosial
a. Siapa yang mengasuh anak sampai saat ini?
b. Bagaimana hubungan anak dengan angota keluarga? c. Bagaimana interaksi anak dengan teman sebaya? d. Bagaimana sikap anak secara umum?
Riwayat Penyakit Keluarga
Apakah keluarga ada yang memiliki penyakit yang sama seperti diderita anak? Bagaimana keadaan ekonomi keluarga?
Genogram
Riwayat Perkembangan
Motorik kasar
Telungkup :
Duduk :
Merangkak :
Jalan dibantu :
Berjalan :
Motorik halus Bahasa
Riwayat lingkungan tempat tinggal
tinggal di rumah permanen, lingkungan perumahan tidak padat
ventilasi dan pencahayaan cukup
sumber air minum dari sumur bor
sumber air MCK dari sumur bor
Pengkajian Pola Kesehatan Gordon a. Pemeliharaan dan persepsi
Bagaimana pola makan anak SMRS, Bagaimana pola makan saat ini,
c. Cairan
Bagaimana status hidrasi anak, apakah anak mau minum
d. Aktivitas
Apakah anak masih aktif, apakah anak mau bermain? Apakah anak cepat merasa capek saat beraktivitas? Apakah anak sesak saat beraktivitas atau pun tanpa beraktivitas?
e. Tidur dan Istirahat
Apakah anak mengalami kesulitan saat tidur? Bagaimana kwlitas tidur anak?
f. Eliminasi
Apakah anak ada gangguan BAB atau BAK?
g. Pola hubungan
Apakah anak mau berinteraksi dengan anggota keluarga maupun teman sebaya yang dirawat disebelah?
h. Koping
Apakah anak mau bermain?
i. Kognitif dan persepsi
Apakah anak mengeluh nyeri? Apakah anak sering menangis?
j. Konsep Diri
k. Seksual
l. Nilai
Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum :
Kesadaran :
Tanda-tanda vital
Tekanan darah :
Frekuensi nadi : 110 x/menit
Frekuensi nafas : 32 x/menit
Suhu : 37,4oC
Status Gizi
Berat Badan : kg Tinggi Badan : cm
BB/U :
BB/TB :
Status generalisata Kepala
Bentuk :
Rambut :
Mata :
Hidung : nafas cuping hidung (+/+)
Mulut :
Leher
KGB :
Thorax
Inspeksi : gerakan dinding dada, retraksi ()
Palpasi : vokal fremitus sama
Perkusi : sonor di semua lapangan paru
Auskultasi : suara nafas mengi/wheezing (+/+)
Abdomen
Perkusi :
Auskultasi :
Ekstremitas
Tidak ada pemeriksaan penunjang
DIAGNOSA KEPERAWATAN Analisa Data
No Tanggal/ Jam
Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan asma ditandai dengan : pasien dilaporkan sesak sejak kemarin saat membersihkan kamar, pasien dilaporkan memiliki riwayat alergi debu sejak usia 4 tahun, nafas cuping hidung, mengi (+), suhu 37,40C, RR: 32x/menit, Nadi : 110x/menit.
INTERVENSI
No Diagnosa Keperawatan Kriteria Hasil Intervensi
Tanggal Diagnosa Keperawatan Evaluasi Paraf
1 Juni
2017 Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan asma ditandai dengan : pasien dilaporkan sesak sejak kemarin saat membersihkan kamar, pasien dilaporkan memiliki riwayat alergi debu sejak usia 4 tahun, nafas cuping hidung, mengi (+), suhu 37,40C, RR: 32x/menit,
Nadi : 110x/menit
S : Menanyakan kepada pasien apakah masih terasa sesak atau berat saat bernafas,
menanyakan kepada ibu apakah anak masih merasa sesak atau berat saat menarik atau mengeluarkan nafas
O : Suara nafas Vesikuler (+/+), mengi (-), Respirasi 22-34 x/menit, Nadi 60-140 x/menit, Suhu : 36,5-37,50C,
Tidak ada nafas cuping hidung, tidak ada menggunakan otot bantu nafas
A : Tujuan tercapai, Masalah teratasi