Pola Argumentasi Kabinet Kerja dalam Membentuk Reputasi dan Branding di 2014
Dini Safitri
Universitas Negeri Jakarta [email protected]
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejumlah pola argumentasi kabinet kerja dalam membentuk reputasi dan branding di 2014. Memasuki MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) 2015 atau Pasar Bebas ASEAN, yang diikuti sepuluh negara termasuk Indonesia, ada sejumlah strategi yang telah dirancang oleh pemerintah, khususnya kabinet kerja. Namun dari sejumlah strategi tersebut, banyak mendapat respon atau tanggapan negatif, khususnya dari warga sosial media. Salah satunya adalah rencana Menteri BUMN yang ingin merekrut WNA (warga negara asing) menjadi Dirut BUMN. Wacana tersebut menuai pro dan kontra. Pihak yang pro adalah yang mendukung pemerintah, sedangkan yang kontra berusaha mengkritisi kebijakan yang tidak pro rakyat. Padahal setiap wacana yang diproduksi akan membentuk reputasi dan branding. Metodologi penelitian ini adalah kualitatif dengan analisis toulmin tentang retorika argumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada sejumlah klaim yang dipakai oleh kabinet kerja dalam memproduksi wacana, dari alasan menggunakan rasionaitas yang dilengkapi fakta dan data sampai alasan ketidaktahuan. Disatu sisi, surat perintah yang diberikan terkadang tidak sesuai dengan janji kemandirian tapi semakin memperlihatkan ketergantungan. Sanggahan yang diberikan pemerintah menjadikan reputasi dan branding yang diharapkan dapat memberi perbaikan, memunculkan idiom test the water.
Kata kunci: Pola argumentasi, Stephen Toulmin, Reputasi dan Branding
Pendahuluan
Memasuki MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) 2015 atau Pasar Bebas ASEAN, yang diikuti sepuluh negara termasuk Indonesia, ada sejumlah strategi yang telah dirancang oleh pemerintah, khususnya kabinet kerja. Namun dari sejumlah strategi tersebut, banyak mendapat respon atau tanggapan negatif, khususnya dari warga sosial media. Salah satunya adalah rencana Menteri BUMN yang ingin merekrut WNA (warga negara asing) menjadi Dirut BUMN. Wacana tersebut menuai pro dan kontra. Pihak yang pro adalah yang mendukung pemerintah, sedangkan yang kontra berusaha mengkritisi kebijakan yang tidak pro rakyat. Padahal setiap wacana yang diproduksi akan membentuk reputasi dan branding. Terlebih lagi, dengan kehadiran media sosial, dewasa ini masyarakat bebas membicarakan apa saja di dalam jejaring sosial yang milikinya.
kehidupan manusia di dunia nyata ikut larut masuk kepada sistem dunia online. Segala hal, mulai dari kebijakan pemerintahan sampai curhatan pribadi seseorang, semua dituangkan dalam media online. Pemanfaatan media online tersebut secara masif digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak jarang, orang memanfaatkan media online untuk berbagai kegiatan yang termasuk dalam tindakan retorika, baik secara sengaja ataupun tidak yang ditujukan untuk mempengaruhi orang lain.
Dalam dunia online, tulisan atau gambar yang sudah di online-kan akan tersimpan dalam sistem dan dibaca oleh berbagai orang dari berbagai daerah dan negara di dunia. Bila sudah demikian, curhatan pribadi seseorang kemudian dapat diinterpretasikan beragam oleh pembaca, karena curhat tersebut menjadi konsumsi publik. Namun dalam batasan tertentu curhatan dapat menjadi masalah bila berbenturan dengan masalah hukum, norma dan aturan yang berlaku dalam suatu masyarakat. Sudah banyak kasus yang menjerat seseorang karena curhatannya yang melanggar aturan tersebut.
Pentingnya pengetahuan memanfaatkan media online, dengan menyelaraskan retorika argumentasi menjadi kebutuhan saat ini, sehingga seseorang dapat membangun retorika argumentasi yang efektif. Klaim yang dipakai, bukan hanya sekadar curahan hati atas ketimpangan, ketidakadilan yang dikeluarkan dalam bentuk makian, hinaan atau yang lebih dikenal dengan istilah bulying. Begitupun dengan alasan yang mendukung, baik berupa data, kualifikasi, dan sanggahan. Sangat terlihat bagaimana tindakan klaim yang dilakukan memperlihatkan bahwa faktor audiens kurang dipertimbangkan. Padahal saat tulisan atau gambar di online-kan, maka banyak khalayak yang akan mengetahuinya. Dan responnya pun beragam.
Fenomena retorika argumentasi di sosial media saat ini menyentuh banyak hal, terutama mengenai persoalan tatanan pemerintahan dan kekuasaan.
Kedua belas tema diatas, tentunya juga menjadi tema argumentasi di sosial media. Tema yang terbaru adalah isu mengenai mobil nasional. Para warga sosial media atau
netcitizen, biasa mengeluarkan celotehannya lewat akun jejaring yang dimilikinya. Celotehan
Beragam respon atau komentar warga sosial media mengenai kinerja kabinet kerja dalam pemerintahan, adalah hal yang menarik untuk diteliti. Bagaimana arah perbincanganya? Apa yang dilakukan oleh fandom jokowi untuk mengantisipasi opini negatif dari warga yang merasa kinerja kabinet kerja buruk? Bagaimana retorika argumentasi yang dibangun warga sosial media terhadap kabinet kerja? Kemana arah klaim terbentuk? Apa saja barang bukti (evidence) yang dikemukakan warga sosial media terhadap pemerintahan jokowi? Bagaimana bunyi surat perintah (warrant) yang disusun oleh teks warga sosial media? Apa saja alasan rasional surat perintah (backing) yang dikemukakan warga sosial terhadap kabinet kerja? Bagaiaman bantahan (counter argument/rebuttal) yang dibahasakan warga sosial media terhadap pemerintahan kabinet kerja, dan apa saja batasan (qualifier) yang diproduksi warga sosial media mengenai kabinet kerja?
Tinjauan pustaka
Menurut Pawito (2008), komunikasi politik adalah subbidang ilmu komunikasi yang mempelajari pertukaran pesan yang memiliki signifikansi dengan politik. Misalnya tentang kampanye pemilihan, konferensi pers, pidato politik elite kekuasaan, penyampaian informasi oleh pemerintah mengenai berbagai kebijakan, debat di forum parlemen, hingga aksi mogok kerja buruh pabrik menuntut perbaikan kondisi kerja. Pawito menambahkan komunikasi politik tergolong ke dalam ilmu perilaku. Ia juga berpendapat, komuniasi politik sebagai subdisiplin ilmu, memiliki kajian ilmiah yang mempunyai akar jauh ke belakang, dan dalam banyak hal berhimpit dengan perkembangan ilmu lain, termasuk ilmu komunikasi, ilmu politik, ilmu ekonomi, sosiologi, antropologi, dan ilmu bahasa.
Kaitannya dengan retorika argumentasi di sosial media terkait dengan isu komunikasi politik, bahwa segala hal dapat diperbincangkan di Sosial Media sebagai Tempat Retorika Argumentasi. Saling adu argumen adalah hal yang biasa, bahkan terkadang argumen yang kebablasan berubah menjadi makian, cacian, umpatan dan pada akhirnya putusnya hubungan pertemanan. Padahal, retorika argumentasi berawal dari kritik retorika pada teori. Telah banyak esai yang ditulis secara kolektif memetakan isu-isu penting dalam disiplin retorika dalam dekade yang mencakup 1960 ke tahun 1980-an. Isu-isu tersebut berusaha mendefinisikan hubungan antara retorika dan pengetahuan dalam menentukan fungsi sosial, retorika.
melalui persuasi. Dengan kata lain, retorika berfungsi mentransmisikan kebenaran atau membuatnya terlihat. Scott berpendapat, meskipun kebenaran bisa eksis, retorika kemudian bertindak sebagai metode untuk menghasilkan kebenaran kontingen dalam interaksi manusia. Dengan cara ini, retorika adalah epistemik. Jika kebenaran adalah situasional, maka dalam beretorika, kita secara etis bertanggung jawab untuk terlibat dalam interaksi dalam mengejar kebenaran, menempatkan dan mempertimbangkan klaim yang bersaing membuat tindakan kita yang terbaik.
Thomas Farrell, dalam esainya "Pengetahuan, Konsensus, dan Teori Retorika", membatasi retorika sebatas pengetahuan sosial dan menetapkan pengetahuan ilmiah, bukan bagian dari retorika. Dalam teori Farrell, retorika secara epistemik adalah alat yang menghasilkan pengetahuan sosial dengan meningkatkan kesadaran individu dengan statusnya sebagai anggota dalam masyarakat. Ia mengacu pada kesadaran individu untuk mengembangkan konsensus yang kemudian mengarah ke tindakan terkoordinasi dalam suatu masyarakat.
Kedua esai diatas yang diungkapkan Scott dan Farrel, tentang retorika epistemik, didasarkan pada paradigma dunia rasional, dimana anggota masyarakat dan komunitas dapat berlatih retorika dan jenis tindakan retoris, karena merupakan produksi pengetahuan. Melalui retorika, terbangun pengetahuan yang didasarkan pada logika, dan argumentasi beralasan. Scott berpendapat pengetahuan dapat dilihat sebagai hasil dari penyelidikan kritis terhadap komitmen manusia dan kemampuan argumentatif. Sedangkan, Farrell berpendapat teori retorika didasarkan pada logika formal dan informal yang dimaksudkan untuk memfasilitasi argumentasi beralasan, tentang pengetahuan sosial.
Kritik lain tentang retorika, menghidupkan kembali isu-isu yang signifikan dalam sejarah teori retorika; yaitu, masalah retorika dan hubungannya dengan konstruksi pengetahuan dan pengembangan masyarakat di masyarakat. Konstruksi pengetahuan dan domain studi retorika, memberikan kita masukan bahwa retorika lebih dari sekedar persuasi; namun retorika adalah tentang pembangunan dan mengejar pengetahuan. Untuk itu penelitian ini berusaha menyusun bangunan retorika tersebut di sosial media saat ini. Penulis mencoba membuatkan segita konsep, sebagai berikut:
Tempat sosial media
(Facebook)
Situasi
sosial Retorika
Aktor Aktivitas
Netcitizen Obrolan Warga
Gambar 2. Segitiga Konsep Sosial Media sebagai Tempat Retorika Argumentasi
Melalui segitiga konsep diatas, penulis ingin menjelaskan situasi sosial yang terjadi di sosial media, mengenai obralan warga yang dilakukan netcitizen dalam membangun pengetahuan sosial mengenai retorika argumentasi kabinet kerja. Diharapkan dengan konsep ini, penulis dapat memaparkan secara baik, makna di balik data yang ditampilkan netcitizen dalam obrolan warga di sosial media, mencari tahu bagaimana pola interaksi sosial yang terjadi di dalamnya, sekaligus mengembangkan teori retorika argumentasi yang sebelumnya sudah dikemukakan oleh Toulmin. Sebelumnya, penelitian mengenai sosial media sebagai media yang efektif untuk komunkasi politik telah banyak dilakukan, namun belum ada yang meneliti mengenai retorika argumentasi yang digunakan netcitizen terhadap pemerintahan, khususnya dalam membentuk reputasi dan branding.
Metodologi
Metodologi penelitian ini adalah kualitatif dengan analisis toulmin tentang retorika argumentasi. Metode penelitian kualitatif muncul karena terjadi perubahan paradigma dalam memandang suatu fenomena. Penelitian kualitatif bertitik tolak dari paradigma fenomenologis yang objeknya dibangun atas namanya situasi tertentu, sebagaimana yang dihayati oleh individu atau kelompok sosial tertentu dan relevan dengan tujuan dari penelitian itu. Penelitian kualitatif berasumsi bahwa penelitian sistematik harus dilakukan dalam suatu lingkungan yang alamiah, dan langsung kepada tindakan atau interaksi manusianya itu sendiri dalam memaknai dan menginterpretasikan kejadian-kejadian sosial, dan bukannya kepada lingkungan yang artifisial seperti eksperimen.
3). Dengan pendekatan kualitatif, penulis berharap penelitian ini dapat memberikan pembahasan secara mendalam mengenai retorika argumentasi di sosial media terhadap kabinet kerja.
Dalam penelitian ini, penulis mengunakan Paradigma Interpretif. Paradigma interpretif dikembangkan sebagai kritik positivisme dalam ilmu sosial. Secara umum, paradigma ini berbagi tentang sifat mengetahui realitas. Berdasarkan ontologi, paradigma ini mengasumsikan realitas seperti bangunan intersubyektif yang tercipta melalui makna dan pemahaman yang dikembangkan secara sosial dan pengalaman. Secara epistemologi, paradigma ini mengasumsikan bahwa kita tidak bisa memisahkan diri dari apa yang kita ketahui. Peneliti dan obyek penelitian terkait sedemikian rupa, sehingga siapa kita dan bagaimana kita memahami dunia adalah bagian sentral dari bagaimana kita memahami diri sendiri, orang lain dan dunia.
Jenis penelitian ini adalah deskriptif. Menurut Sukmadinata (2006:72), penelitian deskriptif adalah penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena alamiah maupun fenomena buatan manusia. Fenemona itu bisa berupa bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan dan perbedaan antara fenomena yang satu dengan fenomena lainnya.
Penelitian deskriptif ditujukan untuk mengumpulkan informasi secara aktual dan terperinci, mengidentifikasikan masalah, membuat perbandingan atau evaluasi, dan menentukan apa yang dilakukan orang lain dalam menghadapi masalah yang sama dan belajar dari pengalaman mereka untuk menetapkan rencana dan keputusan pada waktu yang akan datang.
Metode dalam penelitian ini adalah Metode Toulmin, terdiri dari: klaim, dukungan, asumsi, surat perintah, kualifikasi dan bantahan. Ada beberapa jenis klaim, Klaim fakta, klaim definisi, klaim penyebab, klaim nilai, dan klaim kebijakan. Anda dapat menggunakan salah satu atau lebih dari klaim ini untuk memperkenalkan masalah Anda dan untuk membangun kasus Anda. Data adalah Informasi yang Anda gunakan untuk mendukung klaim Anda. Waran adalah Asumsi yang dibuat oleh penulis agar klaim untuk menjadi kenyataan. Backing adalah Apa yang Anda gunakan untuk mendukung surat perintah. Sanggahan adalah di mana Anda mempertimbangkan sudut pandang yang berlawanan dan membantahnya. Qualifer adalah istilah untuk mengunakan bahasa yang berusaha untuk memenuhi syarat klaim yang Anda buat untuk membawa argumen Anda berakhir.
menggabungkan beberapa elemen dari pendekatan ini berdasarkan pada kebutuhan argumen mereka.
Ada 6 strategi argumentatif yang menunjukan hubungan antara bukti dan klaim, diakronimkan dengan GASCAP, yaitu generalisasi, analogi, Masuk, kausalitas, otoritas, dan prinsip. Strategi ini digunakan pada berbagai tingkat yang berbeda dari umum dalam suatu argumen, dan jarang datang dalam paket rapi, biasanya mereka saling berhubungan dan bekerja dalam kombinasi.
Argumen berdasarkan Generalisasi adalah suatu bentuk yang sangat umum dari penalaran. Ini mengasumsikan bahwa apa yang benar dari sampel dipilih dengan baik kemungkinan akan berlaku untuk kelompok yang lebih besar atau populasi, atau bahwa hal-hal tertentu sesuai dengan sampel dapat disimpulkan kelompok / populasi.
Argumen berdasarkan Analogi adalah ekstrapolasi dari satu situasi atau kejadian berdasarkan sifat dan hasil dari suatu situasi atau peristiwa serupa. Memiliki link ke penalaran 'berbasis kasus dan preseden berbasis digunakan dalam wacana hukum. Yang penting di sini adalah sejauh mana kesamaan yang relevan dapat dibangun antara 2 konteks. Apakah ada cukup, khas, akurat, relevan kesamaan?
Argumen masuk atau Clue adalah gagasan bahwa beberapa jenis bukti adalah gejala dari beberapa prinsip yang lebih luas atau hasil. Misalnya, asap sering dianggap sebagai tanda untuk api. Argumen kausal menegaskan bahwa kejadian atau peristiwa yang diberikan adalah hasil dari, atau dipengaruhi oleh, penalaran faktor X. Kausal adalah yang paling kompleks dari berbagai bentuk waran.
Argumen otoritas contohnya adalah apakah orang X atau teks X merupakan sumber otoritatif tentang masalah tersebut? Apa kepentingan politik, ideologi atau ekonomi tidak berwenang? Apakah ini semacam masalah di mana sejumlah besar pemerintah cenderung setuju pada?
Argumen Prinsip berusaha menemukan sebuah prinsip yang secara luas dianggap sebagai valid dan menunjukkan bahwa situasi di mana ada prinsip ini berlaku. Evaluasi dirumuskan dengan, Apakah prinsip diterima secara luas? Apakah itu akurat berlaku untuk situasi di pertanyaan? Apakah ada yang disepakati bersama pada pengecualian? Apakah ada prinsip 'saingan' yang mengarah ke klaim yang berbeda? Apakah konsekuensi praktis berikut prinsip cukup diinginkan?
tapi mengusulkan gagasan baru yang lebih mudah dipahami, yang didasarkan pada yurisprudensi daripada model geometris. Untuk membenarkan klaimnya, dikembangkan melalui model yurisprudensi dialektis, bahwa standar untuk penilaian argumen adalah bidang dependent, bukan standar lapangan, invarian tunggal validitas formal.
Pendekatan Toulmin adalah dialektis dan quasi-normatif. Toulmin merujuk ke argumen yang substansial, bukan analitik terhadap penilaian argumen. Kelebihan model Toulmin adalah bahwa ia menghindari argumen regresi dari Lewis Carroll, bahwa tidak semua inferensi-waran dapat eksplisit. Model Toulmin ini mempersulit analisis argumen yang tidak perlu. Jika seseorang berpendapat silogistis, itu lebih mudah untuk mengambil premis utama sebagai premis, daripada sebagai aturan inferensi. Kekurangannya, model Toulmin terlalu memberatkan untuk diterapkan dalam praktek. Sebagai contoh, sering dilaontarkan pertanyaan berikut ini: apa yang didapat oleh struktur, jika validitas argumen menjadi tak tentu karena lapangan, variabilitas? Bagaimana kita menentukan apakah surat perintah diterima? Apakah apa yang dianggap sebagai validitas hanya bidang dependent? Jika pendekatan Toulmin adalah pada dasarnya retorika, menilai keberhasilan sebuah argumen dengan penerimaan oleh pembaca, bagaimana bisa ia membahas validitas argumen? Karena ia tidak berarti dengan validitas formal, apa yang dia maksud dengan validitas? Kapan perlu untuk membuat eksplisit surat perintah atau backing? Sejumlah kelemahan tersebut, penulis ingin mencoba mengembangkan menjadi model baru dalam retorika argumentasi di sosial media terhadap kabinet kerja.
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan tiga teknik pengumpulan data yaitu metode wawancara mendalam (in-depth interview), observasi partisipatif (participant observation), dan analisis dokumen.
Hasil dan pembahasan
Hasil penelitian menunjukan bahwa ada sejumlah klaim yang dipakai oleh kabinet kerja dalam memproduksi wacana, dari alasan menggunakan rasionaitas yang dilengkapi fakta dan data sampai alasan ketidaktahuan. Disatu sisi, surat perintah yang diberikan terkadang tidak sesuai dengan janji kemandirian tapi semakin memperlihatkan ketergantungan. Sanggahan yang diberikan pemerintah menjadikan reputasi dan branding yang diharapkan dapat memberi perbaikan, memunculkan idiom test the water.
pendukung, yaitu Hanura mendapat 2 kursi, Nasdem 3 kursi, PDI P dan PKB masing-masing mengisi empat pos kementerian. Adapun penunjukan menteri yang menuai tone negatif diantaranya adalah Puan Maharani sebagai Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Susi Pudjiastuti sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan, Tedjo Edy Purdjianto sebagai Menko Polhukam, Rini Mariani Soemarno sebagai Menteri BUMN, Anies Baswedan Sebagai Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah, dan Ignasius Jonan sebagai Menteri Perhubungan1.
Untuk itu, penelitian ini mengkhususkan kepada perbincangan sosial media atas kinerja keenam menteri tersebut. Puan Maharani sebagai Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan mendapatkan tone negatif tentang kinerjanya yang tidak maksimal, anak mami, dan pernyataan Puan tentang Jokowi Petugas Partai. Berikut ini sejumlah tone negatif tersebut: Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Puan Maharani, geram lantaran dianggap tidak bekerja. "Nggak bekerja gimana, setahu saya Menko selama ini sudah bekerja," kata Puan dengan nada kesal saat dikonfirmasi di DPP PDIP, Jakarta, Senin (22/12/2014). Puan dinilai tidak memiliki kinerja menjanjikan menurut hasil survei Lembaga Survei Cyrus Network. Hasil survei itu dirilis Minggu 21 Desember kemarin. Disebutkan, 12 persen responden menilai Menko Puan tidak memiliki kinerja menjanjikan untuk berhasil.2
Lalu bagaimana Argumentasi yang dilakukan Puan untuk menyanggah tone tersebut? Mengacu kepada metode Toulmin ada sejumlah usaha dilakukan, yaitu membuktikan bahwa kinerjanya tidak buruk (melakukan klaim), caranya mempergunakan argumen yang pro terhadap Puan, salah satunya mengandeng tokoh lain untuk membuat pernyataan serupa, seperti yang ditulis oleh kutipan media berita online dibawah ini:
Menanggapi hal ini, Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristianto menegaskan, penilaian terhadap menteri anggota Kabinet Kerja, khususnya Menko Puan, terlalu cepat dilakukan mengingat pemerintahan baru berjalan dua bulan dan masih menggunakan APBN 2014. Hasto meminta agar para menteri diberi kesempatan bekerja. "Evaluasi Kabinet Kerja terlalu dini. Kita berikan kesempatan dan PDIP akan menopang pemerintahan Jokowi-JK," pungkas dia. Kendati dinilai tidak memiliki kinerja menjanjikan, namun Puan masuk dalam daftar menteri populer. Dia menempati urutan kedua sebagai menteri paling populer di Pemerintahan Jokowi-JK setelah Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dengan skor 22 persen.3
Berdasarkan kutipan diatas, tokoh yang pro tersebut menyebutkan alasannya mengapa pro (evidence), menyebutkan hubungan antara klaim dan alasan (waran), yaitu pemerintah baru berjalan dan masih menggunakan APBN pemerintahan lama. Waran tersebut sekaligus
1http://boombastis.com/2014/11/01/menteri-kontroversial/5/
dijadikan alasan untuk sanggahan terhadap tone negatif terhadap Puan. Selain itu, ditambahkan juga prestasi Puan yang lain yang menteri populer, yang menunjukan bahwa Puan berkinerja menjadi populer.
Susi Pudjiastuti sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan. Susi mendapatkan tone negatif mengenai tato, keluarga, latar belakang pendidikan yang dihubungkan dengan kemampuan memimpin kementrian, dan kebiasaan merokok. Tone tersebut begitu kencang berhembus saat awal Susu dilantik. Seiring dengan waktu, tone tersebut tetap ada, namun tertutup dengan sejumlah berita prestasi Susi. Walaupun disetiap tindakan Susi tersebut, juga diakhiri berita negatif terhadap tindakan tersebut. Berikut kutipan beritanya:
Dalam evaluasi 100 hari yang dilakukan akhir pekan lalu itu, Susi mengaku mendapat ranking pertama sebagai menteri berprestasi dalam pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Selama 100 hari pertama bekerja, Susi telah berhasil menangkap puluhan kapal
illegal fishing di perairan Indonesia. Terakhir pada operasi yang digelar 21-25 Januari
2015, sebanyak 14 kapal ilegal ditangkap. Di mana tujuh kapal di antaranya milik asing dan tujuh lainnya adalah milik perikanan lokal yang menangkap ikan secara ilegal. Selain memberantas para pencuri ikan, Susi juga menerbitkan sejumlah kebijakan yang dinilai kontroversi dan ditolak sebagian kalangan. Mereka mulai mengeluhkan kebijakan Susi yang memberatkan mereka. Sekjen Asosiasi Budidaya Ikan Laut Indonesia (Abilindo) Wajan Sudja menilai Susi tidak arif. Ia menilai kebijakan Susi yang melarang transhipment telah merugikan pelaku usaha perikanan. Akibat kebijakan Susi, sejumlah buyer atau pembeli ikan dari luar negeri memilih berbelanja ke Malaysia dan Vietnam.4
Berdasarkan kutipan diatas, klaim langung menunjuk kepada prestasi susi. Kemudian, klaim didukung penjelasan mengenai prestasi tersebut, yaitu mendapat rangking pertama, menangkap ilegal fishing dan membuat sejumlah kebijakan baru. Sayangnya, bagi pembaca kritis yang membaca sampai akhir paragraf, kemudian menemukan dukungan terhadap prestasi juga menuai kritik. Hal ini menimbulkan sanggahan terhadap klaim, bahwa ilegal fishing juga menimpa kapal Indonesia, dan peraturan Susi memberatkan nelayan.
Tedjo Edy Purdjianto sebagai Menko Polhukam. Pada awal penunjukanya, sempat beredar tone negatif tentang menteri Tedjo yang seorang purnawirawan. Namun tone tersebut tidak terlalu ramai dibicarakan. Pembicaraan mengenai menteri Tedjo menjadi ramai saat konflik mengenai KPK terjadi. Kemudian munculah kosa kata baru dalam kamus alay, dengan tone negatif, yaitu Tedjo rakyat gak jelas, tedjo ngak jelas, tedjo tidak jelas. Berikut kutipan berita online:
4http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/02/02/115200326/100.Hari.Menteri.Susi.Prestasi.dan.Kontrov
Pernyataan Menteri Koordinator Politik Hukum dan HAM (Menkopolhukam), Tedjo Edhy Purdijanto yang menyebut pendukung KPK adalah rakyat tidak jelas, memicu kemarahan masyarakat. Bahkan ia juga dilaporkan ke Bareskrim Polri pada Senin (26/1) kemarin. Menanggapi hal itu, Sekretaris Kabinet (Seskab) Andi Widjajanto mengatakan Presiden Joko Widodo telah memberikan pesan kepada Menkopolhukam Tedjo Edhy Purdijanto untuk bisa lebih berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan. "Arahan presiden ya kehati-hatian. Ngomongnya harus pelan-pelan," katanya, Selasa (27/1).
Seperti diberitakan sebelumnya, Menko Polhukam Tedjo Edhy Purdjiatno menyebut KPK mengajak-ajak rakyat untuk mendukungnya atas polemik yang memanas antara KPK-Polri pascapenangkapan dan penetapan tersangka Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto oleh Bareskrim Polri. Bahkan Tedjo menuduh, bahwa rakyat yang datang ke KPK untuk mendukung KPK adalah rakyat tidak jelas. "KPK berdiri sendiri dia. Kuat dia. Konstitusi yang akan mendukung, bukan dukungan rakyat enggak jelas itu," ujarnya, 24 Januari lalu. Pernyataan Tedjo itu memicu reaksi negatif dari masyarakat. Selain mengecam pernyataan tersebut, mereka juga mengolok-olok Tedjo di media sosial. Bahkan LSM Forum Warga Kota Jakarta (Fakta) melaporkan ke Bareskrim Mabes Polri, Senin (26/1) siang karena menilai pernyataan Menkopolhukam telah menghina rakyat Indonesia5
Berdasarkan kutipan diatas, klaim yang dipakai adalah penyataan yang pro terhadap sanggahan, yaitu telah diberikan pesan untuk berhati-hati. Bukti yang diberikan adalah pemanggilan oleh presiden dan evaluasi langung dengan presiden dan wapres. Karena menuai reaksi negatif masyarakat yang besar, maka sanggahan tersebut tetap ditulis dengan tone negatif, yaitu dengan mengulang-gulang cerita peristiwa mengenai pernyataan Tedjo rakyat ga jelas.
Rini Mariani Soemarno sebagai Menteri BUMN. Untuk Rini Soemarno, tidak hanya diawal pencalonannya yang dikritik karena mendapatkan rapor merah dari KPK, sejumlah kinerjanya juga dinilai kontroversial dan mendapatkan tone negatif seperti Rini Soemarno jual BUMN, Rini Soemarno larang Jilbab. Kedua tone negatif tersebut, akhirnya di anulir Rini dengan berbagai macam argumentasi. Akibat dari anulir tersebut, muncul idiom test the water. Idiom tersebut ditujukan kepada sikap yang tidak konsisten pemerintahan, yang gampang membuat pernyataan tanpa melakukan riset terlebih dahulu. Bila ternyata lansung menuai reaksi negatif, dengan mudahnya mengubah pernyataan dengan sanggahan pro terhadap tindakan sebelumnya.
Anies Baswedan Sebagai Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah, Anis Baswedan mendapat tone negatif tentang kontroversi kurikulum 2013, yang kemudian merambat pada profil pribadi yang dinilai beraliran JIL atau Syiah. Hal tersebut terjadi, di
sela-5
sela kontroversi dicabutnya kurikulum 2013 dan kembali ke KTSP 2006, Anies sempat membuat pernyataan untuk mengatur tata cara berdoa secara islam di sekolah. Pernyataan tersebut mengundang kontroversi dan sempat membuat marah tokoh ulama termuka di Indonesia.
Ignasius Jonan sebagai Menteri Perhubungan. Jonan mendapatkan tone negatif untuk tiket murah dan penantian sikap tegas Jonan terhadap Lion Air. Pada awalnya, menteri Jonan mendapatkan banyak dukungan dari masyarakat karena prestasinya sebagai direktur utama PT KAI. Namun seiring berjalannya waktu, kebijakannya mengenai pembatasan tiket murah untuk lebih peduli keselamatan penumpang mendapat tentang dari masyarakat Indonesia yang memang hobi traveling dengan pesawat. Selain itu, baru-baru ini pesawat air asia melakukan delay selama 17 jam, sehingga menelantarkan penumpang. Namun tidak ada penyataan tegas Jonan untuk mengkritisi hal tersebut.
Kesimpulan
Untuk memperkuat branding dan reputasi pemerintahan memang tidak layak diukur dari kinerja 100 hari. Namun 100 hari itu penting untuk melihat kinerja kedepan dari kabinet kerja. Fenomena retorika argumentasi di sosial media saat ini menyentuh banyak hal, terutama mengenai persoalan tatanan pemerintahan dan kekuasaan. Adanya fenomena fandom menjadi pengalaman sehari-hari dalam percapakan di sosial media. Umumnya fandom memiliki posisi sebagai komunikator biasanya hanya fokus pada diri dan idenya. Keriuhan fandom dan warga sosial mengenai kabinet kerja yang telah disinggung diatas, menarik untuk diangkat menjadi penelitian. Urgensinya untuk mempelajari karakter komunikator dalam membangun pola argumentasi. Hal ini terinspirasi dari kritik Toulmin atas argumentasi logis yang didasari pada perhitungan matematis, padahal argumentasi mengandung unsur emansipasi yang bertujuan membentuk kemampuan menganalisis dan meningkatkan argumen kita sendiri.
Daftar pustaka Buku
Alwasilah, A. Chaedar. 2005. Pengantar Penelitian Linguistik Terapan. Jakarta: Pusat. Bahasa Departemen Pendidikan Nasional
Arief, Furchan. 2004. Pengantar Penelitian Dalam Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Bugin, Burhan. 2002. Sosiologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosidakarya
Denzin, N., & Lincoln, Y. (Eds.). 2011. Handbook of qualitative research (4th ed.). Thousand Oaks, CA: Sage.
Herdiansyah, Haris. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-Ilmu Sosial. Jakarta: Salemba Humanika.
Littlejohn, S. 2000. Theories of Human Communication. Belmont, CA: Wadsworth Merriam, S. 2009. Qualitative research: A guide to design and implementation. San
Francisco, CA: Jossey-Bass.
Mulyana, Deddy. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi
dan Ilmu Sosial lainnya. Bandung : PT Remaja Rosidakarya
Nancy V. 2001. Perspektif Argument. Edisi Ketiga. Upper Saddle River, New Jersey: Prentice Hall.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2006. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung : Remaja Rosda Karya.
Sumanto. Lio. 1995. Metodologi Penelitian Sosial Dan Pendidikan. Yogyakarta : Andi Offset.
Tjaya, Thomas Hidya. 2004. Humanisme dan Skolatisisme, Sebuah Debat. Yogyakarta: Penerbit Kanisius
Toulmin, Stephen. 2003. The Uses of Argument, rev. ed. Cambridge Univ. Press West, Darrell M. 2014. Air Wars: Television Advertising and Social Media in Election
Campaigns 1952-2012. London: Sage Publication Inc
Journal
Angen, MJ. 2000. Qualitative Health Research. Volume 10 Issue 3: Evaluating interpretive
inquiry, Reviewing the validity debate and opening the dialogue
Auer, Matthew Robert. 2011. Policy Studies Journal, Vol. 39, No. 4 : The Policy Sciences of
Social Media
Bruner, Michael dan Max Oelschlaeger. 1994. Environmental Ethics, Volume 16, Issue 4,
Crable, Richard E. 1990. Journal of Applied Communication Research, Volume 18, Issue 2:
Organizational rhetoric as the fourth great system, Theoretical, critical, and
pragmatic implications.
DiGrazia, Joseph, Karissa McKelvey, Johan Bollen, dan Fabio Rojas. 2013. Journal Social
Science Research Network: More Tweets, More Votes: Social Media as a
Quantitative Indicator of Political Behavior
Farrell, Thomas B. 1975. The Quarterly Journal of Speech:“ Knowledge, Consensus, and
Rhetorical Theory
Obar, Jonathan A dan Paul Zube. 2011. Journal Social Science Research Network: Advocacy
2.0, An Analysis of How Advocacy Groups in the United States Perceive and Use
Social Media as Tools for Facilitating Civic Engagement and Collective Action
Online
http://commfaculty.fullerton.edu/rgass/toulmin2.htm, diakses 6 Febuari 2015
http://grammar.about.com/od/tz/g/Toulminmodelterm.htm, diakses 6 November 2014 http://images.1233.tw/toulmin-model-paper/ diakses 6 November 2014
http://interactivemedia.bradley.edu/ell/toulminmodel.pdf, diakses 6 November 2014 http://interactivemedia.bradley.edu/ell/Toulmin.html, diakses 6 November 2014
http://oyvindihlen.files.wordpress.com/2013/07/preprint-external-organizational-rhetoric.pdf, diakses 6 November 2014
http://plato.stanford.edu/entries/aristotle-rhetoric/, diakses 6 November 2014 http://web.cn.edu/kwheeler/documents/toulmin.pdf, diakses 6 November 2014 http://writing.colostate.edu/references/reading/toulmin/, diakses 6 November 2014
http://writing2.richmond.edu/writing/wweb/toulminexercise.html, diakses 6 Febuari 2015
http://www.accaglobal.com/content/dam/acca/global/PDF-technical/financial-reporting/pol-afb-iusip.pdf, diakses 6 Febuari 2015
http://www.cwrl.utexas.edu/~ailise/306/resources/stallonetoulmin.html, diakses 6 November 2014
http://www.ifrs.com/Backgrounder_Get_Ready.html, diakses 6 Febuari 2015
http://www.navigatingaccounting.com/exercise/exercises-critical-thinking-using-toulmin-model, diakses 6 Febuari 2015
http://www.qualres.org/HomeInte-3516.html, diakses 16 febuari 2015