Konflik dan Modal Sosial
Oleh Rahmatul Ummah (Pegiat Diskusi Majelis Kamisan Cangkir)
Seringkali konflik dipicu karena menguatnya dominasi identitas tertentu atas identitas
lainnya, identitas kebangsaan kita seolah gagal menemukan bentuknya sebagai identitas yang diikat dari keragaman identitas-identitas nusantara, identitas Bhineka Tunggal Ika.
Kekuasaan juga menjadi terkesan berpihak atas kelompok identitas dominan, hal tersebut seakan-akan menjadi simbol balas jasa kekuasaan atas demokrasi yang memang terlanjur dibangun di atas isu SARA. Demokrasi Indonesia adalah demokrasi yang mengandalkan kelompok dominan, untuk itu hal yang tak terhindari dalam momentum pesta demokrasi adalah pendekatan-pendekatan yang mengeksploitasi kekuatan-kekuatan dominan tersebut, seperti identitas suku, agama dan kelompok keagamaan.
Pertarungan di wilayah demokrasi dan kekuasaan seolah menjadi penegasan secara tak langsung pertarungan antara etnis, suku, agama dan kelompok keagamaan. Lihatlah contoh, saat hendak menentukan calon kepala daerah, betapa pentingnya untuk menimbang latar belakang suku, agama dan kelompok keagamaannya, dan persoalan dia memenuhi kreteria sebagai pemimpin yang baik dan amanah menjadi dinomorsekiankan.
Padahal seharusnya, isu yang niscaya untuk disuarakan adalah isu perubahan yang bersifat universal dan menyentuh seluruh lapisan, berbicara tentang keragaman dan pluralitas yang diakui dan dihormati dalam konteks dialog identitas yang setara. Pada wilayah keragaman identitas, hal ini berarti pengakuan yang hangat-ramah-sejuk terhadap segenap identitas yang hadir dalam ruang kesadaran bersama, dan kesadaran bersama itu menjadi satu untuk
membangun daerah yang lebih bermartabat dan mandiri.
Karenanya, membincang modal sosial di tengah keragaman identitas ini menjadi
mahapenting berhubungan dengan konteks masyarakat daerah Lampung yang cenderung multi identitas dan rentan konflik, sebagai tanggungjawab intelektual yang harus bisa memberikan jawaban yang tepat dengan segenap problema sosial politik di tengah masyarakatnya dengan tidak mengambil jarak dengan realitas keseharian di masyarakat.
Apalagi peninggalan masa lalu yang cenderung mendesain masyarakat yang tidak pernah melakukan pembelajaran sosial-politik secara utuh tentang bagaimana hidup di dalam masyarakat asosiatif, yang mengajarkan toleransi, pluralisme, dan otonomi individu yang otentik.
Problema proses interaksi sosial yang terbangun dalam masyarakat kita yang selalu
berinteraksi dalam konteks tribus-society, di mana kontestasi ide dan wacana-wacana serta argumentasi di tingkat publik tidak mendapatkan katalisnya dengan baik dalam lingkungan sosial yang bebas. Konteks inilah yang kemudian –meminjam istilah Anthony Giddens (1985) membentuk adanya keterpecahan kolektif di kalangan etnis dan identitas agama, antara kesadaran praktis (praktical consciousness) dan kesadaran wacana (diskursive consciousness) yang sengaja dibentuk oleh pelaku politik warisan Orde Baru.
Mengembalikan Modal Sosial
Keterlibatan warga negara dalam asosiasi-asosiasi yang potensial menumbuhkan sikap terbuka, trust, toleransi dan sikap positif lainnya kemudian menjadi penting dalam bangunan identitas (politik) nasional (Putnam, 1993). Modal sosial meski hanya menjadi penyumbang bukan determinan faktor bagi demokrasi, tetapi stabilitas sosial sangat ditentukan oleh seberapa jauh dua jenis trust (sikap toleran dan saling percaya) dalam modal sosial melembaga dalam kehidupan sosial.
Modal sosial terjadi melalui perubahan hubungan antarindividu yang mempengaruhi perbuatan atau tindakan. Menurut Imam Prasodjo (2002), modal sosial adalah akumulasi rasa saling percaya sebagaimana ditunjukkan oleh keragaman dan kombinasi aksi sukarela yang pada akhirnya menghasilkan pemerintahan yang efektif, persyaratan modal sosial seperti ini tentu saja dimiliki oleh Lampung dengan nilai-nilai kearifan lokal Bumi Ruwa Jurai.
Lampungologi, sebagaimana ditulis Arizka Warganegara (Lampungpost, 8/12/2014) bisa menjadi modal sosial, asal ia bisa mengakar dan tak berhenti di para penggagasnya, sebagaimana disangsikan Frieda Amran dalam dialog di media sosial, Lampungologi nyangkut di puncak-puncak menara gading sehingga seringkali pula susah mencari jalan mengejawantahkannya dan memasyarakatkannya.
Arizka dengan merujuk ide Udo Z Karzi, lebih lanjut menghendaki Lampungologi sebagai rumah besar yang diharapkan bukan hanya sebagai jargon apalagi hanya sebatas ruang diskusi budaya dan persekitaran mengenai Lampung, tetapi telah menjadi tempat untuk membincangkan hal produktif dan membangun peradaban dan keadaban Lampung sebagai sebuah daerah dan entitas. Ke depan Lampungologi akan lahir sebagai perekat kebersamaan warga Lampung di atas beragam perbedaaan suku, agama, dan ideologi.
Untuk itu idealnya para pemimpin daerah dan warga rumah besar yang dicita-citakan Udo Z Karzi bertugas membangun suatu diskursus yang mampu mendorong terbangunnya kekuatan sejarah bersama dan gerakan sosial baru bagi setiap masyarakat di Lampung. Sebuah
diskursus yang mengajak keluar dari tradisi masyarakat yang bermental kolonial yang traumatik, penuh pertikaian antara identitas, sarat dengan refresivitas, sepi dari hiruk pikuk ruang publik, menuju masyarakat sipil ramah-hangat-jenius, penuh dengan perbincangan komunikatif yang akrab dengan ruang publik yang bebas dalam satu ikatan sebagai warga Lampung dan warga negara Indonesia.
Kerja besar Lampungologi yang menunggu di depan mata sebagai sebuah gagsan genuin adalah bagaimana kita secara bersama-sama melepaskan diri dari warisan yang tidak efektif, menentukan relevansi kekinian dan lepas landas dari trauma-trauma konflik yang
menyakitkan pada masa lampau, mampu menafsir ulang kearifan lokal piil pesinggiri beserta seluruh turunannya secara lebih kontekstual, sehingga Lampung lebih menjadi daerah ramah, aman dan nyaman untuk dikunjungi.