• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 28 PENINGKATAN PERLINDUNGAN DAN KESE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "BAB 28 PENINGKATAN PERLINDUNGAN DAN KESE"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 28

PENINGKATAN PERLINDUNGAN

DAN KESEJAHTERAAN SOSIAL

A. KONDISI UMUM

Pembangunan kesejahteraan sosial dimaksudkan untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sebagaimana diamanatkan oleh UUD 1945, melalui redistribusi hasil-hasil pembangunan yang diwujudkan dalam kegiatan penanganan masalah-masalah sosial terutama bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS). Meskipun telah dicatat banyak keberhasilan, namun beberapa masalah masih harus mendapat perhatian.

Kondisi saat ini menunjukkan bahwa ada sebagian warga negara yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasar secara mandiri dan hidup dalam kondisi kemiskinan, akibatnya mereka mengalami kesulitan dan keterbatasan kemampuan dalam mengakses berbagai sumber pelayanan sosial dasar serta tidak dapat menikmati kehidupan yang layak bagi kemanusiaan. Dalam hal ini, bagi PMKS persoalan yang mendasar adalah tidak terpenuhinya pelayanan sosial dasar seperti kesehatan, pendidikan, sandang, pangan, papan, dan kebutuhan dasar lainnya. Selain itu, belum ada suatu sistem perlindungan dan jaminan sosial yang terintegrasi untuk melindungi dan memberikan jaminan sosial bagi seluruh penduduk terutama penduduk yang miskin dan rentan.

Paradigma pembangunan pada masa lalu, terutama pada masa sentralistik, dalam penanganan kemiskinan dan masalah sosial lainnya lebih banyak menjadi kewenangan pemerintah pusat, sedangkan pemerintah daerah cenderung sebagai pelaksana. Pada masa yang akan datang, seiring dengan desentralisasi pembangunan dalam kerangka kebijakan otonomi daerah, maka kebijakan, strategi dan program pelayanan kesejahteraan sosial menjadi kewenangan bersama antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, serta adanya pembagian peran yang jelas. Hubungan pusat dengan daerah yang semula berdasarkan hubungan struktural akan bergeser menjadi hubungan fungsional.

(2)

hidup, terlantar atau tersesat; dan melaksanakan penyuluhan sosial untuk meningkatkan peradaban, perikemanusiaan dan kegotongroyongan.

Sesuai dengan UU tersebut, maka perlindungan sosial bertujuan pertama, melindungi masyarakat dari penindasan, penghisapan/eksploitasi, kemiskinan dan kehinaan, dan kedua, memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk bebas melakukan aktifitas sosial secara konstruktif, sehingga kesejahteraan individu, keluarga dan masyarakat dapat ditingkatkan. UU tersebut juga mengatur bahwa untuk mewujudkan perlindungan sosial, upaya yang dilakukan adalah usaha kesejahteraan sosial secara profesional, upaya yang dilakukan adalah usaha kesejahteraan sosial secara profesional dengan titik sentral penerapan ilmu pekerjaan sosial (social work). Adapun esensi ilmu pekerjaan sosial adalah pengembangan komunitas (community development) dan pengorganisasian komunitas (community organization).

Saat ini, jumlah PMKS yang membutuhkan perhatian adalah sebesar 24,2 juta jiwa. Berdasarkan data BPS dan Pusdatin Departemen Sosial tahun 2004, diketahui bahwa warga masyarakat yang tercatat sebagai “fakir miskin” berjumlah sekitar 14,8 juta jiwa (kurang lebih 42 % dari jumlah populasi orang miskin di Indonesia yang berjumlah sekitar 36,1 juta jiwa). Di samping itu masih terdapat pula sejumlah warga masyarakat lainnya yang termasuk kategori PMKS seperti gelandangan, pengemis, bekas narapidana terlantar, anak jalanan, penyandang cacat terlantar, lansia terlantar, tuna susila, komunitas adat terpencil dan sebagainya, yang jumlahnya diperkirakan sekitar 9,4 juta jiwa.

Pelaksanaan pembangunan bidang kesejahteraan sosial selama ini telah menghasilkan berbagai jangkauan pelayanan, seperti pemberdayaan sosial terhadap 3,3 juta anak terlantar dan 1,1 juta balita terlantar, anak jalanan, dan santunan bagi 3,1 juta lanjut usia terlantar. Selain itu, telah dilakukan pula peningkatan pemberdayaan peran keluarga miskin, dan bantuan bagi keluarga fakir miskin dalam bentuk kelompok usaha bersama (KUBE) bagi 545.219 KK melalui 50.000 KUBE dan 95 Lembaga Keuangan Mikro KUBE Sejahtera. Sementara itu, terhadap 1,9 juta penyandang cacat dan 365,9 ribu anak cacat, telah dilaksanakan pula rehabilitasi dan perlindungan sosial, termasuk penyempurnaan sarana dan prasarana pusat rehabilitasi dan panti cacat. Sedangkan terhadap kelompok tuna sosial yang meliputi 87,5 ribu wanita tuna susila, 59,1 ribu gelandangan dan 8,2 ribu gelandangan penderita HIV/AIDS, 18,2 ribu bekas warga binaan lembaga permasyarakatan, serta 28,3 ribu pengemis, telah dilaksanakan pelayanan dan rehabilitasi sosial. Demikian pula telah dilaksanakan penyempurnaan sarana dan prasarana panti tuna sosial. Sedangkan kepada para korban bencana sosial diberikan bantuan tanggap darurat, termasuk bantuan pemulangan/terminasi.

(3)

umum, lingkungan hidup serta Usaha Kecil Menengah (UKM) yang didukung dengan pemihakan pemerintah daerah untuk memberdayakan mereka.

Keterbatasan kemampuan pemerintah dalam penanganan masalah kesejahteraan sosial telah mendorong bergesernya paradigma pembangunan kesejahteraan sosial dengan lebih mengedepankan peran aktif masyarakat baik secara perorangan maupun berkelompok melalui pengembangan nilai-nilai sosial budaya, seperti kesetiakawanan sosial dan gotong royong yang dirumuskan sebagai modal sosial dalam membangun ketahanan sosial masyarakat sekaligus sebagai perekat persatuan bangsa.

Upaya untuk meningkatkan peran aktif masyarakat perlu terus dilakukan melalui pemberdayaan sosial dan aktualisasi nilai-nilai sosial budaya, seperti kesetiakawanan sosial dan gotong royong dalam rangka mewujudkan ketahanan sosial masyarakat. Kebutuhan pengembangan potensi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat, seperti kesetiakawanan sosial, kegotong royongan, keswadayaan masyarakat dan kelembagaan-kelembagaan sosial/organisasi sosial, perlu diperkuat dan difasilitasi oleh pemerintah agar ketahanan sosial masyarakat tetap terpelihara.

Pencapaian pembangunan bidang kesejahteraan sosial pada tahun 2006 dengan didukung sarana dan prasarana yang memadai, diperkirakan akan menghasilkan berbagai jangkauan pelayanan dan pemberdayaan sosial yang lebih luas bagi anak dan balita terlantar, termasuk di dalamnya anak jalanan dan anak cacat, serta pemberian santunan bagi lanjut usia terlantar. Di samping itu, diperkirakan pula meningkatnya jumlah keluarga, fakir miskin dan PMKS lainnya yang diberdayakan, sehingga mereka dapat hidup secara mandiri dan mampu mengatasi masalah yang dihadapi. Dalam hal kualitas perlindungan dan jaminan sosial, termasuk pengembangan sistemnya, diharapkan mampu menjangkau seluruh masyarakat termasuk penyandang masalah kesejahteraan sosial.

Ke depan, permasalahan kesejahteraan sosial yang akan dihadapi masih diwarnai dengan berbagai permasalahan sosial seperti kemiskinan dan keterlantaran, ketunaan sosial, kecacatan, keterpencilan, korban tindak kekerasan, akibat bencana alam dan bencana sosial, penyalahgunaan napza, dan penyimpangan perilaku yang membutuhkan penanganan secara komprehensif dan berkelanjutan. Selain itu, permasalahan aktual yang terkait dengan kelangsungan kehidupan kenegaraan seperti disintegrasi sosial, kesenjangan sosial, perlu pula memperoleh perhatian dan penanganan yang serius.

Permasalahan sosial lainnya yang sulit diperkirakan secara tepat namun memerlukan perhatian yang serius adalah bencana alam, seperti gempa bumi, banjir, dan kekeringan. Umumnya kejadian bencana sulit diprediksi waktu dan lokasinya. Permasalahan lainnya yang belum sepenuhnya tertangani, adalah pengungsi, terutama di daerah kantong-kantong pengungsi seperti di Nanggroe Aceh Darussalam, Sulawesi Tengah, Maluku, Nusa Tenggara Timur dan di beberapa provinsi lainnya.

(4)

diketahui, bahwa penduduk di perdesaan lebih rentan menjadi miskin dibandingkan penduduk yang tinggal di perkotaan. Resiko yang lebih tinggi juga ditemui pada penduduk usia muda baik dari keluarga rentan maupun tidak miskin yang kepala keluarganya adalah perempuan.

Keterbatasan jangkauan dan kemampuan pelaku pembangunan kesejahteraan sosial dari unsur masyarakat sebagai sumber dan potensi kesejahteraan sosial dan penataan sistem pendataan, pelaporan dan jalur koordinasi di tingkat nasional dan daerah merupakan tantangan lain yang masih harus dihadapi. Tenaga lapangan yang terdidik, terlatih dan berkemampuan dalam pelaksanaan penanganan bidang kesejahteraan sosial dirasakan masih kurang. Selain itu, masih lemah pula jaringan kerja antara tenaga kerja sosial di masyarakat. Di sisi lain, keberadaan institusi sosial, dinas sosial/dinas kesejahteraan sosial, organisasi sosial (Orsos)/LSM di bidang kesejahteraan sosial, panti-panti sosial yang berada dalam kewenangan pemerintah pusat, pemerintah daerah dan swasta membutuhkan peningkatan kapasitas, standarisasi dan suatu saat nanti perlu diakreditasi, sehingga profesionalisme pelayanan kesejahteraan sosial dapat ditingkatkan.

Kenaikan harga bahan bakar minyak yang relatif tinggi beberapa waktu yang lalu, menambah beban yang dirasakan oleh masyarakat terutama bagi masyarakat miskin yang mengakibatkan daya beli mereka semakin menurun, karena mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan perkembangan harga di pasar. Pemerintah menyadari bahwa beban masyarakat terutama masyarakat miskin sangat berat. Namun pengaruh akibat kenaikan harga minyak dunia membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sehingga tidak ada pilihan lain bagi pemerintah untuk menaikkan harga bahan bakar minyak. Untuk meringankan beban yang harus ditanggung oleh masyarakat terutama kelompok miskin, pemerintah menyiapkan berbagai bantuan melalui sektor pendidikan, kesehatan dan bantuan langsung berbasis masyarakat yaitu pembangunan prasarana perdesaan. Program kompensasi yang telah ada dilengkapi dengan pemberian subsidi langsung tunai (SLT) kepada rumah tangga miskin, dan dalam pelaksanaannya dapat langsung menyentuh masyarakat miskin. Program ini didukung dengan telah dikeluarkannya Instruksi Presiden No. 12 tahun 2005 tentang pelaksanaan Bantuan Langsung Tunai kepada Rumah Tangga Miskin.

(5)

Permasalahan-permasalahan ini perlu ditangani secara serius untuk menghindarkan kemiskinan struktural, perilaku anti sosial, kondisi disharmoni, kerawanan sosial dan tindak kejahatan yang akan menjadi pemicu terjadinya disintegrasi sosial. Hal ini akan menjadi beban sosial masyarakat dan pemerintah yang pada akhirnya akan menyebabkan kebutuhan biaya pembangunan yang lebih besar. Beberapa hal yang diperlukan untuk upaya pemecahan permasalahan tersebut antara lain, merubah persepsi tentang bantuan sosial yang cenderung dianggap charity, dipolakan sedemikian rupa menjadi penguatan modal usaha yang sifatnya pinjaman bergulir yang dimaksudkan untuk penguatan modal sosial masyarakat miskin dengan memberi kesempatan mereka untuk berpartisipasi dalam masyarakat, dan menghadirkan Lembaga Keuangan Mikro yang salah satu tugas pokoknya adalah mengelola keuangan KUBE secara mandiri dan profesional. Hal lainnya adalah melaksanakan advokasi kepada daerah, sehingga dalam penyusunan strategi perencanaannya, penanggulangan kemiskinan dimasukkan sebagai target prioritas penanganan masyarakat miskin. Selain itu, untuk mengurangi kesenjangan gender, rumah tangga dengan perempuan sebagai kepala keluarga perlu mendapat prioritas pula, karena kelompok ini paling rentan dan sering diabaikan. Salah satu upayanya adalah mendukung peningkatan kualitas hidup perempuan untuk mendapat kesempatan terutama di bidang pendidikan, pelayanan kesehatan reproduktif dan kesempatan peningkatan ekonomi keluarganya.

B. SASARAN PEMBANGUNAN TAHUN 2007

Sasaran pembangunan yang akan dicapai dalam rangka perlindungan dan kesejahteraan sosial adalah sebagai berikut:

1. Meningkatnya jumlah PMKS dan kelompok rentan lainnya yang mendapat akses bantuan, rehabilitasi, pelayanan, dan jaminan sosial;

2. Menurunnya persentase fakir miskin, KAT dan PMKS lainnya;

3. Meningkatnya peran tenaga kerja sukarela masyarakat (TKSM)/relawan sosial, karang taruna dan organisasi sosial masyarakat dalam penanggulangan kemiskinan dan pelayanan kesejahteraan sosial;

4. Terjaminnya ketersediaan bantuan sosial bagi korban bencana alam dan sosial; dan 5. Tersalurkannya subsidi langsung tunai dengan syarat bagi rumah tangga miskin.

C. ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN TAHUN 2007

Mencermati kondisi saat ini dan perkembangan sosial yang menjadi tantangan ke depan, maka arah kebijakan dalam rangka perlindungan dan kesejahteraan sosial adalah sebagai berikut:

1. Meningkatkan aksesibilitas PMKS dan kelompok rentan lainnya yang mendapatkan bantuan sosial, pelayanan rehabilitasi sosial dan jaminan sosial serta pelayanan sosial dasar lainnya;

2. Meningkatkan pemberdayaan bagi keluarga, fakir miskin, KAT dan PMKS lainnya; 3. Mengembangkan peran keluarga dan masyarakat dalam melaksanakan tanggung

(6)

4. Meningkatkan peran TKSM/relawan sosial, karang taruna dan organisasi sosial masyarakat dalam penanggulangan kemiskinan dan pelayanan kesejahteraan sosial; 5. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan pekerja sosial;

6. Meningkatkan kualitas hasil penelitian, pengkajian, dan penataan manajemen pelayanan kesejahteraan sosial;

7. Meningkatkan pelestarian nilai-nilai kepahlawanan, keperintisan, kejuangan dan kearifan lokal;

8. Meningkatkan koordinasi perencanaan kebijakan dan pelaksanaan penanggulangan kemiskinan dalam bidang kesejahteraan rakyat;

9. Menjamin ketersediaan bantuan dasar bagi korban bencana alam, bencana sosial dan PMKS lainnya; dan

Referensi

Dokumen terkait

Welfare state, adalah suatu sistem yang memberi peran lebih besar kepada negara (pemerintah) dalam pembangunan kesejahteraan sosial yang terencana melembaga dan berkesinabungan

Dalam menangani permasalahan bencana alam maupun soial pemerintah melakukan pemberian bantuan kepada korban bencana alam dan bencana sosial, kegiatan yang dilakukan antara lain: (1)

Dalam upaya penanganan masalah sosial tersebut, pemerintah provinsi Sumatera Utara maupun Dinas Sosial Tingkat I Provinsi Sumatera Utara melaksanakan usaha-usaha pelayanan

Menulis Skripsi tentang Implementasi Program Penanganan Penyadang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) Untuk Mengatasi Gelandangan Di Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun

Dalam kasus kebijakan pemerintah Aceh mendorong pemerintah Indonesia untuk melakukan penanganan pengungsi asing di Aceh ini, maka dapat dikaji bahwa terdapat dua

Keterbatasan anggaran yang dialami oleh pemerintah mendorong pihak-pihak yang mengelola perencanaan dan pembangunan untuk melakukan capital rationing dengan cara

Manfaat dari penelitian ini dapat berkontribusi pada belum optimalnya peran penanganan masalah sosial yang dilakukan Potensi dan Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS)

Pemerintah Kabupaten Aceh Utara telah melakukan kegiatan untuk mendorong Peran serta masyarakat dalam penanganan pembangunan instalasi pengolahan limbah cair rumah