iii
Kata Pengantar
………...
...
ii
Daftar Isi
………...
...
iii
Daftar Tabel
………...
...
v
Daftar Gambar
…
...
………...
...
vi
Bab I
Pendahuluan
………
...
1
1.1 Lat
ar Belakang ………..…………
...
2
1.2 Tujuan Penulisan.
………..…………
....
5
1.3 Manfaat ...
………..………
....
5
Bab II
Konsep dan Definisi
6
2.1 Indeks Disparitas...
………
...
7
2.2 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
……..
... 7
2.3 Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar
Harga Berlaku ( PDRB
ADHB)...…..
... 8
2.4 Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar
Harga Konstan (PDRB ADHK)...
…..
... 8
2.5 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Perkapita 9
Bab III Metodologi
10
3.1 Indeks Disparitas
………
... ...
11
3.2 Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga
Berlaku (PDRB ADHB)
……
... 13
3.3 Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga
Konstan (PDRB ADHK)...
…..
...
15
3.4 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Perkapita 16
Bab IV Ulasan Ringkas Disparitas Wilayah
17
4.1 Kondisi Geografis...
………
...
18
iv
4.3 Indeks Disparitas Wilayah...
………
...
21
4.4 PDRB Kabupaten Ponorogo...
………
...
26
4.4.1. PDRB Kabupaten Ponorogo Menurut
Kecamatan... 27
4.4.2. PDRB Kabupaten Ponorogo Menurut Pusat
Kegiatan Lokal (PKL)... 29
4.4.3. PDRB Perkapita Kabupaten Ponorogo Menurut
Kecamatan... 31
4.4.4. PDRB Perkapita Kabupaten Ponorogo Menurut
Pusat Kegiatan Lokal (PKL)...
33
4.4.5. Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Ponorogo
Menurut Kecamatan... 34
4.5 Perbandingan Absolut Antar Kecamatan...
……...
...
37
v
Halaman
Tabel
4.1. Gambaran Penduduk Per Kecamatan di Kabupaten
Ponorogo Tahun 2015...
…..…
....
20
Tabel
4.2. Indeks Disparitas Kabupaten Ponorogo
Tahun 2014 - 2015 ...
23
Tabel 4.3. Sumbangan PDRB Kecamatan terhadap PDRB
Kabupaten Ponorogo (ADHB) Tahun 2014 - 2015 ...
27
Tabel 4.4. Peranan PDRB Pusat Kegiatan Lokal terhadap PDRB
Kabupaten Ponorogo (ADHB) Tahun 2014 - 2015
………
29
Tabel
4.5. PDRB Perkapita Kecamatan dan Kabupaten Ponorogo
ADHB (Rupiah), Tahun 2014
–
2015 .
………
...
32
Tabel
4.6. PDRB Perkapita PKL di Kabupaten Ponorogo
(ADHB) Tahun 2014
–
2015 ...
………
33
Tabel
4.7. PDRB ADHB, Peranan dan Pertumbuhan
Tahun 2014
–
2015 ...
………
35
Tabel
4.8. PDRB Perkapita, Pertumbuhan, Disparitas
vi
Halaman
Gambar 4.1. Peta Kabupaten Ponorogo...
18
Gambar 4.2. Kontribusi Kecamatan di Kabupaten Ponorogo
Tahun 2015 (%) ...
26
Gambar 4.3. PDRB ADHB Menurut Kecamatan
Tahun 2014 - 2015 (Juta Rupiah) ...
……….
...
28
Gambar 4.4. Peranan Pusat Kegiatan Lokal Tahun 2015 (%) ...
30
Gambar 4.5. PDRB Perkapita Per Kecamatan
Tahun 2014 - 2015 (Juta Rupiah)...
31
Gambar 4.6. Pertumbuhan Ekonomi Menurut Kecamatan
Tahun 2015 ...
…
...
36
Gambar 4.7. Perbandingan Absolut Antar Kecamatan Di Kabupaten
Indeks Disparitas Wilayah Kabupaten Ponorogo 2016
2
1.1. Latar Belakang
Undang-undang desentralisasi membuka peluang bagi daerah untuk dapat
secara lebih baik dan bijaksana memanfaatkan potensi yang ada bagi peningkatan
kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat daerah. Terdapat daerah-daerah
yang dapat menangkap peluang ini dengan cepat dan berinisiatif untuk
mengembangkannya, namun sebaliknya terdapat daerah lain yang masih
terhambat oleh berbagai keterbatasan yang ada.
Kabupaten Ponorogo merupakan bagian integral dari perekonomian Jawa
Timur tentunya membutuhkan suatu rencana yang strategis guna membangun
Kabupaten Ponorogo
melalui visi “Ponorogo Berbenah Menuju Ponorogo Yang
Lebih Maju, Berbudaya Dan Religius”.
Makna Visi Kabupaten Ponorogo tersebut
bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakat kabupaten
Ponorogo dengan peran serta seluruh komponen yang ada di Kabupaten
Ponorogo. Artinya bukan untuk segelintir orang tertentu, tetapi secara holistik
mewujudkan kemakmuran bersama.
Dalam mewujudkan visi tersebut dalam pelaksanaanya diperlukan
keterpaduan gerak langkah pembangunan berbagai sektor ekonomi meliputi:
pertanian, perdagangan maupun pengembangan usaha kecil dan mikro (UKM)
serta pengembangan agropolitan secara sinergis, kondusif dan berkelanjutan.
Mengingat banyak aspek yang terkait, banyak pihak yang terlibat dan karena itu
banyak kepentingan, sehingga tingkat pembangunan dan perkembangan ekonomi
suatu wilayah berbeda dengan wilayah lain. Perbedaan ini antara lain karena
adanya perbedaan topografi, potensi sumber daya alam yang dimiliki
masing-masing wilayah, kegiatan ekonomi serta jumlah penduduk sebagai tenaga kerja
Indeks Disparitas Wilayah Kabupaten Ponorogo 2016
3
Perbedaan tingkat pembangunan antar wilayah ini selanjutnya mengalami
perubahan sebagai akibat dari suatu kebijakan publik atau karena pengaruh
eksternal sehingga kecenderungan menimbulkan perubahan baru, perubahan itu
mengarah pada pemerataan atau sebaliknya mengarah pada diskrepansi yang
makin melebar. Untuk itu perhatian pemerintah daerah harus tertuju pada semua
wilayah dalam hal ini kecamatan tanpa ada perlakuan khusus pada daerah tertentu
saja. Namun hasil pembangunan terkadang masih dirasakan belum merata dan
masih terdapat kesenjangan antar daerah.
Kesenjangan pembangunan wilayah sangat mungkin terjadi ketika terdapat
perbedaan potensi sumber daya yang dimiliki suatu daerah dan perbedaan dalam
hal optimalisasi pemanfaatan sumber daya tersebut. Hal terpenting dalam
pembangunan daerah adalah bahwa daerah tersebut mampu mengidentifikasi
setiap potensi sektor-sektor potensial yang dimiliki, kemudian menganalisisnya
untuk membuat sektor-sektor tersebut memiliki nilai tambah bagi
perekonomian daerah tersebut. Tujuan utamanya adalah meningkatkan
kesejahteraan penduduknya, sehingga salah satu upaya yang dilakukan yaitu
melalui peningkatan pertumbuhan ekonomi.
Terkait
konsep
pembangunan
tersebut,
pendekatan
pembangunan
infrastruktur berbasis wilayah semakin penting untuk diperhatikan. Penyediaan
infrastruktur yang memadai merupakan landasan utama pembangunan. Kombinasi
faktor sumber daya alam dan fasilitas infrastruktur yang dikelola secara maksimal
akan dapat mempercepat laju pembangunan daerah yang pada akhirnya akan
mampu menciptakan pemerataan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.
Indikator keberhasilan suatu daerah bisa dilihat laju pertumbuhan
ekonominya. Oleh sebab itu, setiap daerah kecamatan di tuntut untuk terus
Indeks Disparitas Wilayah Kabupaten Ponorogo 2016
4
sumber daya alam yang tersedia. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan
berkelanjutan merupakan kondisi utama bagi kelangsungan pembangunan
ekonomi, karena penduduk terus bertambah, maka dibutuhkan penambahan
pendapatan setiap tahunnya. Hal ini dapat terpenuhi lewat peningkatan output
secara agregat baik barang maupun jasa yang tercermin dalam produk domustik
regional bruto (PDRB). Jadi menurut ekonomi makro pengertian pertumbuhan
ekonomi merupakan penambahan PDRB yang berarti juga penambahan
pendapatan daerah tersebut.
Namun demikian pertumbuhan PDRB yang cepat tidak secara otomatis
meningkatkan taraf hidup masyarakatnya. Dengan kata lain bahwa apa yang
disebut dengan
”Trickle Down Effects”
atau efek cucuran kebawah dari
manfaat pertumbuhan ekonomi tidak terjadi seperti apa yang
diharapkan.mengingat masalah pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan
merupakan dilema yang harus dihadapi semua wilayah, baik wilayah kabupaten,
provinsi maupun nasional.
Kabupaten Ponorogo sebagai salah satu wilayah yang terletak di Jawa Timur
tidak terlepas dari masalah ketimpangan distribusi pendapatan seperti yang
dialami daerah lain. Kabupaten Ponorogo yang terdiri 21 Kecamatan dan 307
desa/kelurahan, tentu saja memiliki berbagai persoalan yang harus di selesaikan,
diantaranya adalah masalah pertumbuhan ekonomi dan kesenjangan distribusi
pendapatan. Aspek pemerataan pendapatan merupakan hal yang perlu mendapat
perhatian, karena pemerataan hasil pembangunan merupakan salah satu strategi
Indeks Disparitas Wilayah Kabupaten Ponorogo 2016
5
1.2.
Tujuan Penulisan
Salah satu alat yang sudah digunakan luas untuk melihat kesenjangan
pembangunan atau disparitas antar wilayah dalam waktu tertentu adalah Indeks
Disparitas Wilayah atau biasa dikenal sebagai Indeks Williamson. Indeks ini
digunakan untuk mengetahui tingkat pemerataan pembangunan antar wilayah
kecamatan dalam Kabupaten Ponorogo, maupun antar kecamatan dalam Pusat
Kegiatan Lokal (PKL). Semakin besar angka ini berarti semakin melebar
kesenjangan yang terjadi di wilayah tersebut. Sebaliknya, semakin kecil indeks ini,
semakin mengecil kesenjangan antar wilayahnya. Oleh karena itu kebutuhan akan
tersedianya informasi secara kuantitatif serta kontribusi masing-masing kecamatan
terhadap pembangunan Kabupaten Ponorogo, seperti yang tertuang dalam
penghitungan indeks disparitas sangat diperlukan guna perencanaan serta
monitoring dan evaluasi program pembangunan Kabupaten Ponorogo.
1.3
Manfaat
Hasil penghitungan indeks disparitas yang dilakukan dengan pendekatan
wilayah akan dapat memberikan gambaran tingkat kesenjangan antar wilayah
kecamatan di Kabupaten Ponorogo maupun antar kecamatan dalam Pusat
Kegiatan Lokal (PKL), serta dapat diketahui struktur ekonomi masing-masing
kecamatan di Kabupaten Ponorogo. Sehingga hasil penghitungan indeks
disparitas ini merupakan jawaban dari masalah dan kebutuhan serta aspirasi dari
Indeks Disparitas Wilayah Kabupaten Ponorogo 2016
7
Penghitungan disparitas wilayah dilakukan dengan pendekatan wilayah.
Pendekatan ini menggunakan dasar data PDRB per kapita. Penghitungan
disparitas wilayah menggunakan indeks Williamson dapat menggambarkan
kesenjangan yang terjadi di Kabupaten Ponorogo. Komponen yang digunakan
untuk mengukur disparitas wilayah adalah PDRB per kapita kecamatan, PDRB
perkapita Kabupaten Ponorogo, jumlah penduduk masing-masing kecamatan dan
jumlah penduduk Kabupaten Ponorogo.
Dalam bab ini diuraikan secara singkat mengenai konsep dan definisi yang
akan digunakan dalam penghitungan indeks disparitas wilayah.
2.1.
Indeks Disparitas
Salah satu alat ukur ketimpangan antar wilayah dalam waktu tertentu dapat
digunakan Indeks Disparitas Wilayah atau Indeks Ketimpangan Williamson.
Ketimpangan antar wilayah yang dimaksud adalah ketidakmerataan dalam hal
penguasaan sumber daya alam atau sumber penerimaan antara wilayah satu
dengan wilayah, serta pengembangan sektor ekonomi setempat.
Indeks Disparitas Wilayah atau Indeks Ketimpangan Williamson merupakan
besaran/nilai yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat kesenjangan antar
wilayah yang didasarkan pada keragaman yang terjadi atas hasil-hasil
pembangunan ekonomi antar wilayah.
2.2.
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Merupakan jumlah seluruh nilai produksi barang dan jasa yang dihasilkan
dari kegiatan ekonomi yang berasal dari suatu wilayah dalam kurun waktu satu
Indeks Disparitas Wilayah Kabupaten Ponorogo 2016
8
tanpa memperhatikan apakah faktor-faktor produksinya berasal dari atau dimiliki
oleh penduduk diwilayah tersebut.atau di luar wilayah tersebut, atau merupakan
balas jasa yang diterima oleh faktor yang ikut serta dalam proses produksi di suatu
wilayah tersebut dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun), serta
merupakan penjumlahan dari nilai tambah bruto
(Gross Value Added)
dari seluruh
unit produksi yang berada pada suatu wilayah tersebut.
2.3.
Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku (PDRB
ADHB)
Merupakan balas jasa yang diterima oleh faktor yang ikut serta dalam
proses produksi di suatu wilayah tersebut dalam jangka waktu tertentu (biasanya
satu tahun), serta merupakan penjumlahan dari nilai tambah bruto
(Gross Value
Added)
dari seluruh unit produksi yang berada pada suatu wilayah tersebut, yang
nilainya didasarkan pada harga berlaku masing-masing tahun (tahun berjalan, baik
pada saat menghitung nilai produksi dan biaya antara maupun menghitung nilai
tambah.
2.4.
Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Konstan (PDRB
ADHK)
Merupakan balas jasa yang diterima oleh faktor yang ikut serta dalam
proses produksi di suatu wilayah tersebut dalam jangka waktu tertentu (biasanya
satu tahun), serta merupakan penjumlahan dari nilai tambah bruto
(Gros Value
Added)
dari seluruh unit produksi yang berada pada suatu wilayah tersebut, yang
nilainya didasarkan pada harga yang terjadi pada tahun dasar (dalam hal ini harga
konstan didasarkan pada tahun 2010), baik pada saat menghitung nilai produksi
Indeks Disparitas Wilayah Kabupaten Ponorogo 2016
9
2.5.
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Perkapita
Merupakan hasil bagi dari nilai total PDRB suatu wilayah terhadap jumlah
penduduk pertengahan tahun yang tinggal di wilayah tersebut . Apabila jumlah
penduduk tinggi maka diperkirakan jumlah PDRB perkapita akan semakin kecil.
Dalam suatu wilayah semakin tinggi PDRB perkapitanya maka dapat diduga
perekonomian didaerah yang bersangkutan dalam kondisi membaik.
Meskipun masih terdapat keterbatasan, indikator ini masih cukup memadai
untuk mengetahui tingkat perekonomian suatu wilayah dalam lingkup makro,
paling tidak sebagai acuan untuk memantau kemampuan suatu daerah dalam
Indeks Disparitas Wilayah Kabupaten Ponorogo 2016
11
Indeks Williamson merupakan salah satu indeks yang digunakan dalam
melihat disparitas yang terjadi antar wilayah dan lebih sensitif terhadap
perubahan ketimpangan. Indeks Williamson salah satu indeks yang paling
sering digunakan untuk melihat disparitas wilayah secara horisontal.
Perhitungan disparitas dilakukan dengan pendekatan wilayah, dengan sumber
data yang digunakan antara lain :
a. Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku maupun
Konstan (PDRB ADHB & ADHK) Kecamatan
b. Produk Domestik Regional Bruto Perkapita (PDRB Perkapita)
Kecamatan
c. Jumlah Penduduk Per Kecamatan di Kabupaten Ponorogo hasil proyeksi
2014 dan 2015.
Perhitungan Indeks Disparitas Williamson ini merupakan koefisien variasi
yang diberi penimbang proporsi jumlah penduduk masing-masing
kecamatan terhadap jumlah penduduk Kabupaten Ponorogo. Dalam publikasi
ini digunakan pula data pendukung lainnya yang terkait dengan penghitungan
diatas.
3.1.
Indeks Disparitas
Indeks Disparitas Wilayah merupakan besaran/nilai yang dapat
digunakan untuk mengukur tingkat kesenjangan antar derah yang didasarkan
pada keragaman yang terjadi atas hasil-hasil pembangunan ekonomi antar
daerah. Dalam hal ini yang digunakan adalah indeks disparitas wilayah
menurut Williamson yang menggunakan metode koefisien variasi tertimbang,
dengan nilai ukuran kesenjangannya antara 0 sampai 1. Jika
Y
i=
Y
maka akan
dihasilkan indeks = 0, yang berarti tidak ada ketimpangan ekonomi antar
Indeks Disparitas Wilayah Kabupaten Ponorogo 2016
12
ketimpangan ekonomi antar wilayah. Semakin besar indeks yang dihasilkan
semakin besar tingkat ketimpangan antar kecamatan di Kabupaten Ponorogo.
Indeks Disparitas Williamson dengan metode koefisien variasi
tertimbang terbagi menjadi tiga kelompok, yakni :
1. Nilai IW < 0,3 disparitas yang terjadi tergolong rendah atau
penyebaran pembangunan antar wilayah relatif sangat baik.
2. Nilai IW antara 0,3
–
0,5 termasuk kategori sedang atau penyebaran
pembangunan antar wilayah relatif baik.
3. Nilai IW > 0,5 disparitas yang terjadi tergolong tinggi atau penyebaran
pembangunan antar wilayah relatif tidak merata.
Analisis lebih mendalam terhadap Indeks Disparitas Wilayah ini,
ditampilkan pula dalam bentuk diagram empat kuadran. Sumbu vertikal
menggambarkan tingkat pertumbuhan ekonomi sedangkan sumbu horisontal
menggambarkan rata-rata PDRB Perkapita. Posisi masing-masing daerah pada
salah satu kuadran tergantung pada PDRB Perkapita dan tingkat
pertumbuhannya.
1. Kuadran I , posisi daerah dengan nilai PDRB Perkapita dan tingkat
pertumbuhan yang lebih tinggi atau daerah maju dan tumbuh dengan
cepat.
2. Kuadran II, posisi daerah dengan nilai PDRB Perkapita lebih rendah
tetapi tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi atau daerah maju tapi
tertekan.
3. Kuadran III , posisi daerah dengan nilai PDRB Perkapita dan tingkat
pertumbuhan yang lebih rendah atau daerah relatif tertinggal.
4. Kuadran IV, posisi daerah dengan nilai PDRB Perkapita tinggi tetapi
tingkat pertumbuhan yang lebih rendah atau daerah yang masih dapat
Indeks Disparitas Wilayah Kabupaten Ponorogo 2016
13
Perhitungan Indeks Disparitas Williamson ini merupakan koefisien variasi
PDRB Perkapita yang diberi penimbang proporsi jumlah penduduk
masing-masing kecamatan terhadap jumlah penduduk Kabupaten Ponorogo.
Rumusnya :
100
)
(
1
21
2
1
x
P
P
Y
Y
Y
IW
t
t
i
dimana :
IW = Indeks Williamson
i
Y
= PDRB Perkapita kecamatan ke - i
Y
= Rata-rata PDRB Perkapita di Kabupaten Ponorogo
t