PENGARUH PERILAKU RISIKO DAN STRUKTUR KEPEMILIKAN TERHADAP KEBANGHKRUTAN BANK DI INDONESIA : KASUS KRISIS
EKONOMI TAHUN 1997
FIFI SWANDARI
STIE Kerjasama Yogyakarta
Abstract
I examines the impact of risk taking behavior and ownership structure (concentrated and institution) on bank failure. I predict that risk-taking behavior and ownership structure has positive impact on bank failure. Result shows that risk taking behavior and concentrated ownership give little support to hypothesis. I finds inverse relationship between institution ownership and bank failure. This result suggest that institution ownership give good impact on banking industries.
A. Pendahuluan
Krisis ekonomi yang diawali dengan dilikuidasinya 16 bank pada bulan November 1997 menyebabkan bangsa Indonesia terjerumus dalam jurang kemiskinan. Data dari BPS (2000) menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan di Indonesia meningkat secara drastis sejak terjadinya krisis yaitu mencapai 49,5 juta orang pada tahun 1998. Tahun 1999 walau tingkat kemiskinan mengalami penurunan namun tingkat keparahannya lebih besar dibanding tahun sebelumnya. Kemiskinan di Indonesia terlihat dari meningkatnya jumlah pengangguran, meningkatnya anak usia sekolah yang putus sekolah dan turunnya kualitas kesehatan masyarakat.
Besarnya dampak krisis menyebabkan banyak peneliti yang mencoba mencari penyebabnya. Beberapa peneliti berbeda pendapat mengenai penyebab krisis. Peneliti ekonomi makro berpendapat bahwa penyebab krisis adalah faktor makro yaitu turunnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika, sedangkan peneliti mikro berpendapat bahwa industri perbankan memiliki peran besar untuk terjadinya krisis. Menurut pendapat kedua saat sebelum krisis faktor-makro belum mampu menunjukkan prediksi adanya krisis. Hal itu ditandai dengan masih bagusnya fundamental ekonomi. Sebaliknya aspek mikro, industri perbankan menunjukkan pemburukan dari tahun ke tahun. Hal tersebut terlihat dari peningkatan hutang industri perbankan pada tahun-tahun sebelum krisis (Hesse dan Auria, 1998). Akibatnya saat terjadi krisis, sebagian bank mengalami kesulitan keuangan yang berlanjut menjadi kebangkrutan. Peneliti berpendapat bahwa kebangkrutan sebagian bank di Indonesia memiliki kontribusi yang signifikan terhadap krisis.
Beberapa tahun sebelum krisis, hutang bank yang berasal dari dana nasabah dan pinjaman luar negeri menimbulkan moral hazard dari pemegang saham mayoritas/pengendali. Pemegang saham pengendali menanamkan dana pada investasi berrisiko atas beban debtholder. Salah satu bentuk perilaku yang berresiko adalah pelampauan batas pemberian kredit ke dalam perusahaan dalam satu kelompok usaha. Selain itu mereka juga berinvestasi pada industri properti yang sudah jenuh dan industri manufaktur yang tidak berbasis ekspor. Perilaku berrisiko sangat potensial menimbulkan kerugian dan kebangkrutan bank.
individu atau institusi. Kontrol mereka atas perusahaan begitu besar sehingga segala tindakan perusahaan merupakan cerminan dari kehendak pemilik. Kontrol yang besar atas perusahaan dan tanpa disertai pertimbangan bisnis yang sehat berakibat pada rusaknya bank yang mereka miliki. Saat sebelum krisis kontrol yang besar yang dimiliki pemegang saham menyebabkan bank menderita kerugian dan akhirnya bangkrut.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah perilaku risiko dan stuktur kepemilikan bank berpengaruh terhadap kebangkrutan bank. Bank dengan perilaku risiko tinggi berpotensi besar untuk bangkrut. Adapun struktur kepemilikan yang sangat terkonsentrasipun potensial menimbulkan kebangkrutan pada bank.
Penelitian ini diharapkan mampu memberi sedikit kontribusi terutama kontribusi kebijakan. Dari hasil penelitian ini diharapkan Bank Indonesia tidak hanya mengawasi indikator-indikator perilaku risiko yang formal saja (misal CAMEL) melainkan juga memberi sedikit perhatian pada kepemilikan bank. Pemilik bank merupakan salah faktor strategis yang berpengaruh terhadap kinerja bank.
Alat analisis yang digunakan adalah regresi logit. Pertimbanganya, model regresi tidak memerlukan banyak persyaratan seperti model
Multivariate Discriminant Analysis (MDA). Sampel yang digunakan terdiri dari bank yang bangkrut dan yang tidak bangkrut. Diperoleh sampel bank bangkrut sebanyak 29 untuk tahun 1995 dan 1996. Sedangkan untuk sampel bank yang tidak bangkrut sebanyak 44 untuk tahun 1995 dan 44 untuk tahun 1996. Data yang digunakan adalah data porsi kepemilikan saham, ekuitas dan total asset. data tersebut diperoleh dari Direktori Perbankan Indonesia tahun 1997 dan 1998.
Diprediksi perilaku risiko dan kepemilikian terkonsentrasi berpengaruh positif terhadap kebangkrutan sedangkan kepemilikan institusi sebaliknya. Hasil pengujian menunjukkan koefisien variabel perilaku risiko dan kepemilikan terkonsentrasi bertanda positif seperti yang diprediksi. Artinya tingginya perilaku risiko dan kepemilikan terkonsentrasi memang meningkatkan kemungkinan kebangkrutan bank. Akan tetapi hasil tersebut tidak signifikan. Sedangkan variabel kepemilikan institusi berpengaruh negatif terhadap kebangkrutan bank dan signifikan sama seperti yang diprediksi. Hasil tersebut menunjukkan kepemilikan bank oleh institusi memberi dampak yang lebih baik pada industri perbankan.
.
B. Tinjauan Pustaka dan Pengembangan Hipotesis
Jensen dan Meckling (1976) menyatakan bahwa saat owner manager
memutuskan untuk membiayai kegiatannya dengan hutang maka akan timbul konflik kepentingan antara manajer dengan debtholder. Hal ini dikenal dengan agency cost of debt.
(Cebenoyan, Cooperman dan Register;1995). Agency cost of debt ini pada lembaga keuangan dikenal dengan problem “moral hazard” (Demsetz et al., 1997).
Karakteristik Lembaga Perbankan dan Industri Perbankan di Indonesia
Karakteristik Lembaga Perbankan
Fungsi utama sebuah bank adalah sebagai lembaga intermediasi. Artinya bertindak sebagai perantara dari pihak yang kelebihan dana untuk disalurkan pada pihak lain yang kekurangan dana. Oleh karenanya dapat dipahami bahwa sebagian besar dana yang disalurkan bukan berasal dari modal pemilik bank melainkan pihak lain seperti para deposan maupun bank lain. Oleh karenanya pada setiap neraca bank, ratio debt to equity akan selalu besar.
Bank merupakan sebuah lembaga yang paling banyak dikenai peraturan. Peraturan tersebut dimaksudkan untuk melindungi kepentingan para deposan maupun debt holder. Adapun pihak yang paling berkompeten mengawasi lembaga perbankan adalah bank sentral.
Resiko yang dihadapi oleh bank cukup banyak, diantaranya adalah adalah resiko yang dikarenakan oleh tingkat bunga (Saunders, 2000). Saat bank memberi pinjaman jangka panjang biasanya akan menetapkan tingkat bunga kredit dengan tingkat bunga tetap (flat rate) dan biasanya dengan tingkat bunga yang rendah. Adapun dana yang digunakan untuk pemberian kredit berasal dari simpanan nasabah yang berjangka pendek dengan tingkat bunga yang berfluktuasi. Pada kasus krisis tahun 1997 di Indonesia, tingkat bunga simpanan/deposito sempat mencapai 60%/tahun. Akibatnya adalah
negatif spread yang berakibat pada berkurangnya modal bank. Industri Perbankan di Indonesia
Setelah PAKTO’88 bank-bank di Indonesia berdiri seperti cendawan di musim hujan. Para pengusaha Indonesia baik yang bermodal besar maupun hanya bermodal koneksi berramai-ramai mendirikan bank. Mereka mendirikan bank tanpa mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai bisnis perbankan.
Tujuan para pengusaha mendirikan bank tidak dikarenakan adanya keinginan menjadi bankir profesional yang terpercaya melainkan untuk mengambil keuntungan dari bank yang mereka miliki. Karena kemampuan perbankan mereka terbatas maka praktek bajak membajak direktur bank marak terjadi.
Bank-bank yang baru berdiri tersebut dikelola dengan sangat ceroboh oleh para pemiliknya. Mereka melakukan pinjaman luar negeri dalam jumlah besar dan waktu jatuh tempo yang singkat. dana yang mereka peroleh tidak mereka salurkan pada proyek yang bagus melainkan mereka salurkan pada perusahaan yang berada pada kelompok usaha yang sama.
Saat sebelum krisis pemilik memiliki peran yang sangat besar. Boleh dikatakan manajer profesional hanya kepanjangan tangan dari pemilik. Semua keputusan strategis bank ada di tangan pemilik.
nilai tukar banyak bank yang tidak dapat memenuhi kewajibannya dan berakibat pada kebangkrutan bank.
Penelitian Klasik Tentang Kebangkrutan Perusahaan
Altman pada tahun 1960an melakukan penelitian tenatang kebangkrutan perusahaan. Tujuannya adalah meningkatkan kualitas analisis rasio keuangan sebagai teknik analisis. Adapun kasus yang akan digunakan sebagai ilustrasi adalah prediksi kebangkrutan perusahaan.
Sampel awal adalah 66 perusahaan, terdiri dari 33 perusahaan yang bangkrut dan 33 perusahaan yang survive. Data utama yang digunakan adalah data laporan keuangan (neraca dan laporan rugi laba). Rasio keuangan yang digunakan awalnya ada 22 rasio selanjutnya dikompilasi menjadi lima dan dijadikan sebagai variabel independen. Kelima rasio tersebut adalah rasio likuiditas, profitabilitas, leverage, solvabilitas dan rasio aktivitas. Adapun alat analsis yang digunakan adalah MDA (Multiple Discriminant Analysis ).
Kesimpulan yang dapat diambil oleh Altman menyatakan bahwa analisis rasio masih dapat digunakan sebagai alat analisis yang dapat diandalkan terutama jika digabungkan dengan metode statistik canggih. Hal ini terlihat dari hasil penelitian ini. Hasil prediksi kebangkrutan cukup akurat saat menggunakan analisis rasio dan dengan metode statistik MDA. Adapun tingkat akurasi yang paling besar saat digunakan data rasio satu tahun dan dua tahun sebelum terjadi kebangkrutan.
Beaver (1996) melakukan penelitian tentang kebangkrutan tetapi tidak bertujuan menemukan prediktor terbaik untuk kebangkrutan. Tujuannya adalah menginvestigasi kemampuan prediksi rasio keuangan dengan model yang diajukan. Dengan model tersebut kemampuan prediksi analisis rasio menjadi lebih baik. Adapun rasio yang digunakan oleh Beaver antara lain adalah sebagai berikut: cashflow to total debt, net income to total asset, total debt to total asset, working capital to total asset dan current ratio.
Dari dua pendapat tersebut peneliti sependapat bahwa analisis rasio masih dapat digunakan sebagai prediktor kebangkrutan. Adapun sesuai dengan pendapat Altman, peneliti juga menggunakan data satu tahun dan dua tahun sebelum terjadi kebangkrutan. Krisis perbankan yang ditandai oleh dilikuidasinya 16 bank terjadi pada tahun 1997. Oleh karenanya data yang digunakan adalah data tahun 1995 dan 1996.
Perilaku Risiko dan Kebangkrutan
Esty (1997) menunjukkan bahwa pada S&L dengan bentuk organisasi yang berbeda (stock vs mutual ) akan berbeda pula perilaku risiko dari manajernya. Debtholder tidak merasa berkepentingan untuk memonitor perilaku manajer karena simpanan mereka dijamin. Saat tidak terdapat kontrol dari debt holder, manajer S&L dengan bentuk stock memiliki kebebasan untuk menempatkan dana yang dikelolanya pada asset berrisiko. Harapannya tentu saja memperoleh tingkat pengambalian yang tinggi. Akibatnya tingkat risiko S&L dengan bentuk stock jauh lebih tinggi dibanding bentuk mutual.
miliki. Hal ini menjadi insentif bagi pemilik untuk meningkatkan risiko atas beban deposan. Ketiadaan monitoring dari deposan juga turut memberi dukungan terhadap tingginya perilaku risiko manajer. Jika perilaku pemegang saham lebih berrisiko, maka bank memiliki kemungkinan besar untuk bangkrut.
Penelitian dari DeGennaro et al. (1993) menunjukkan, saat terjadi krisis yang berat, bank yang dapat bertahan adalah bank yang melakukan perubahan strategi. Dimaksud perubahan strategi disini adalah strategi untuk memilih tingkat risiko yang konservatif. Ditemukan bahwa bank yang survive pada kondisi krisis adalah bank yang memiliki portofolio yang relatif kurang berrisiko dibanding bank yang bangkrut.
Bongini, Claessens dan Ferri (2001) melakukan penelitian tentang krisis lembaga keuangan di Asian. Hasil mereka menunjukkan bahwa perilaku risiko mempengaruhi kebangkrutan lembaga keuangan. Indikator perilaku risiko yang mereka gunakan adalah rasio CAMEL. Hipotesis kedua yang diajukan adalah sebagai berikut:
H1: Perilaku berrisiko dari pemilik bank berpengaruh positif terhadap kebangkrutan bank.
Ukuran Perilaku Risiko
Para peneliti menggunakan ukuran perilaku risiko yang berbeda saat mengukur perilaku risiko dari manajer ataupun pemegang saham. Berikut rangkuman perilaku risiko pemilik yang dapat dirangkum peneliti.
Tabel 1
Indikator-Indikator Perilaku Risiko
No Peneliti Indikator
1 Saunders et al (1990), mengukur perilaku risiko dari owner manajer
Empat ukuran risiko pasar yaitu : s
(total return risk),
(nonsystematicrisk),
m (market risk) dan
I (interest rate risk).5 Bathala et al. (1994) yang perusahaan. ERNVOL dihitung sebagai standar deviasi earning
terhadap perilaku risiko Saving Bank.
Menggunakan credit risk index untuk mengukur perilaku risiko Saving Bank. Credit Risk Index merupakan ukuran ringkas dari risiko kredit dari aset institusi. Index tersebut dihitung berdasarkan bobot risiko asset dari Basle Agreement.
Penelitian ini menggunakan ETA (equity to total asset ratio) sebagi proksi risiko. Hal ini karena sebagian besar bank belum menjual sahamnya di pasar modal sehingga ukuran risiko yang didasarkan pada harga saham belum dapat digunakan.
Struktur Kepemilikan
Dalam pandangan teoritis, beberapa peneliti berpendapat bahwa struktur kepemilikan perusahaan memiliki pengaruh terhadap jalannya perusahaan. Michael Porter dalam Gedajlovic dan Shapiro (1998) menyatakan bahwa tujuan perusahaan sangat ditentukan oleh struktur kepemilikan, motivasi dan pemegang surat hutang, corporate governance
dan proses insentif yang membentuk motivasui manajer.
Struktur kepemilikan oleh beberapa peneliti dipercaya mampu mempengaruhi jalannya perusahaan yang pada akhirnya berpengaruh pada kinerja. Hal ini karena adanya kontrol yang mereka miliki..Adapun struktur kepemilikan yang dimaksud pada penelitian ini adalah kepemilikan bank yang sangat terkonsentrasi dan kepemilikan institusi.
Struktur Kepemilikan di Indonesia 1. Struktur Kepemilikan Terkonsentrasi
Knopf dan Teall (1996), menguji hubungan antara struktur kepemilikan S&L dan perilaku risiko saat diterapkannya Financial Institution Reform, Recovery and Enforcement Act tahun 1989. Salah satu ukuran risikonya adalah kejadian kebangkrutan. Hasilnya menunjukkan bahwa pemegang saham insider berkorelasi dengan kejadian kebangkrutan S&L.
Claessens et al. (2000) menyatakan bahwa belum terdapat pemisahan yang jelas antara kepemilikan dan kontrol pada perusahaan yang terdaftar di BEJ. Kebanyakan perusahaan masih dimiliki oleh keluarga dan posisi manajer dipegang oleh pemegang saham mayorits. Kalaupun tidak, maka manajernya masih dari kalangan keluarga. Akibatnya apa yang menjadi pendapat pemeganag saham terbesar juga juga menjadi pendapat manajer.
memudahkan para pemilik mengontrol berbagai kebijakan strategi seperti strategi pendanaan dan investasi.
Pada masa-masa sebelum krisis para pemilik tidak segan-segan berhutang dalam bentuk dollar karena suku bunga yang lebih rendah dibanding tingkat bunga dalam mata uang rupiah. Hutang tersebut mereka salurkan pada investasi yang tidak berbasis ekspor bahkan hanya mereka salurkan pada kelompok usaha. Saat terjadi krisis nilai tukar bank kesulitan membayar karena investasi yang mereka salurkan sebelumnya juga menjadi kredit macet. Krisis nilai tukar dan kredit macet pada akhirnya menyebabkan berkurangnya modal bank dan akhirnya bank menjadi bangkrut.
Peneliti berpendapat sebaiknya kepemilikan bank tidak terkonsentrasi, artinya banyak pihak yang menjadi pemegang sahamnya. Akan lebih ideal jika sebagian besar porsi kepemilikan bank dijual di pasar modal agar kinerjanya dapat dikontrol oleh banyak pihak. Kepemilikan yang terkonsentrasi sangat memungkinkan terjadinya penyalahgunaan dana deposan dan pemegang surat hutang oleh para pemilik. Adapun H2 yang akan diuji adalah sebagai berikut:
H2: Tingkat konsentrasi kepemilikan berpengaruh positif terhadap kebangkrutan bank.
Kepemilikan Konsentrasi
Ukuran yang digunakan untuk mengetahui ukuran konsentrasi kepemilikan adalah Herfindahl Index (HI). Index ini biasa digunakakan untuk mengetahui tingkat konsentrasi industri maupun untuk mengetahui informasi yang berhubungan dengan pangsa pasar seluruh perusahaan (Martin, 1994 ). Nilai HI Diperoleh dengan menghitung jumlah kuadrat kepemilikan saham masing-masing. Jika nilai Herfindahl Index mendekati 1 dikatakan kepemilikan saham terkonsentrasi, sedangkan jika nilainya mendekati nol dikatakan kepemilikan saham adalah tersebar.
2. Kepemilikan Bank oleh Institusi
Menurut Pozen (1994), investor institusi dapat dibedakan menjadi dua yaitu investor pasif dan aktif. Investor pasif tidak terlalu ingin terlibat dengan keputusan manajemen. Sebaliknya dengan investor aktif, mereka aktif terlibat dalam pengambilan keputusan strategis perusahaan. Keberadaan investor institusi ini dipandang mampu menjadi alat monitoring efektif bagi perusahaan. Tak jarang kegiatan investor ini mampu meningkatkan harga saham sehingga mampu meningkatkan nilai perusahaaan.
Pushner (1995) melakukan penelitian mengenai struktur kepemilikan di Jepang. Peneliti menguji pengaruh struktur kepemilikan ekuitas terhadap leverage dan selanjutnya menguji hubungan antara leverage dengan efisinsi perusahaan. Fokusnya adalah struktur kepemilikan institusi keuangan. Hasilnya menunjukkan bahwa ada hubungan negatif antara kepemilikan institusi dengan leverage dan antara leverage dengan produktifitas. Sehingga secara tidak langsung dapat dikatakan bahwa struktur kepemilikan saham oleh institusi keuangan memberi pengaruh yang positif terhadap produktifitas perusahaan.
mampu meningkatkan kemakmuran pemegang saham. Hasil ini juga didukung oleh penelitian dari Crutchley et al. (1999) yang menemukan bahwa monitoring yang dilakukan oleh institusi mampu mensubstitusi biaya keagenan lain (hutang, deviden dan kepemilikan manajerial) sehingga biaya keagenan menurun dan nilai perusahaan meningkat.
Kepemilikan institusi tidak selalu meningkatkan nilai perusahaan. Kepemilikan institusi dapat menurunkan nilai perusahaan saat kepentingan institusi sejalan dengan kepentingan manajer (Slovin dan Sushka, 1993). Dalam hal ini, institusi dan manajer memiliki kepentingan yang sama sehingga mereka berkolusi yang berakibat pada turunnya nilai perusahaan.
Pada kasus di Indonesia, peneliti berpendapat bahwa kepemilikan institusi cukup mampu menjadi alat monitoring yang baik. Hal ini dikarenankan pemegang saham institusi telah memiliki kemampuan dan sarana yang memadai untuk memonitor perusahaan dimana sahamnya mereka miliki. Oleh karenanya bank yang sebagian besar sahamnya dimiliki institusi memiliki kemungkinan kecil untuk bangkrut. Hipotesis ketiga yang dikemukakan adalah sebagai berikut:
H3 : Kepemilikan bank oleh institusi berpengaruh negatif terhadap kebangkrutan
bank. C. Metodologi
Penelitian ini bertujuan menguji pengaruh perilaku risiko dan struktur kepemilikan (konsentrasi, institusi) terhadap kebangkrutan bank. Ada dua model yang dapat digunakan untuk memprediksi kebangkrutan yaitu logit dan Multivariate Discriminant Analysis (MDA). Tidak seperti pada model logit, MDA memiliki beberapa persyaratan yang tidak diperlukan dalam model logit (Ohlson, 1980).
Pertama, syarat statistik yaitu : variance covariance matrik dari perusahaan yang fail maupun survive harus sama dan prediktor harus berdistribusi normal. Dua, output MDA adalah skor yang memiliki interpretasi terbatas. Tiga, MDA menganut prosedur”matching” artinnya perusahaan yang fail maupun survive harus memiliki kriteria yang sama misalnya ukuran yang sama maupun industri yang sama.
Berdasarkan hal tersebut maka peneliti memutuskan untuk menggunakan model logit untuk mengetahui pengaruh perilaku risiko terhadap kebangkrutan bank umum di Indonesia. Adapun modelnya adalah sebagai berikut:
BANGKRUT = f (RISK, HI, INST, LSIZE )
BANGKRUT : bernilai 1 jika bank bangkrut, bernilai 0 jika bank tidak bangkrut
RISK : Tingkat risiko bank diukur dengan membagi ekuitas dengan total asset
HI : Herfindahl Index, mengukur tingkat konsentrasi kepemilikan INST : Tingkat kepemilikan institusi
LSIZE : Ukuran perusahaan, log naturan dari total asset
Variabel independen yang diuji adalah RISK. Dihitung dengan membagi ekuitas dengan total asset. Semakin tinggi risiko bank semakin besar pula kemungkinan bank untuk bangkrut. Variabel ini digunakan pula oleh Knopf dan Teall (1996) saat menguji hubungan antara struktur kepemilikan S&L dan perilaku risiko saat diterapkannya Financial Institution Reform, Recovery and Enforcement Act tahun 1989.
HI merupakan variabel tingkat konsentrasi kepemilikan bank. Semakin tinggi konsentrasi kepemilikan, semakin besar kontrol yang dimiliki pemilik untuk mengendalikan bank. Hal ini menyebabkan besarnya potensi penyalahgunaan dana dari bank yang dimiliki. Oleh karenanya ditengarai variabel ini berpengaruh positif terhadap kebangkrutan bank.
INST merupakan variabel tingkat kepemilikan bank oleh institusi. Sebuah institusi dipercaya mempunyai kemampuan dan sarana yang baik untuk mengontrol perusahaan yang dimilikinya. Semakin besar porsi kepemilikan bank oleh institusi, semakin kecil kemungkinan bank untuk bangkrut.
LSIZE, Variabel ini ditengarai berpengaruh positif terhadap kebangkrutan bank. Pada kasus Indonesia, bank-bank besar justru menjadi sumber dana bagi pemilik maupun bagi perusahaan yang berada pada group yang sama.
Sampel
Sampel terdiri dari bank yang dikategorikan bangkrut dan bank yang tidak bangkrut. Adapun prosedur pemilihan sampel adalah sebagai berikut: (1) bank yang bangkrut adalah bank yang dilikuidasi, dimerjer maupun mendapat bantuan keuangan dari pemerintah, (2) memiliki data laporan keuangan dua tahun sebelum bank dikategorikan sebagai bank yang bangkrut, (3) bank yang tidak bangkrut adalah bank tidak dilikuidasi, dimerjer maupun mendapat bantuan dana dari pemerintah. Adapun untuk sampel bank yang tidak bangkrut adalah seluruh bank devisa pada tahun 1995 dan tahun 1996. Alasan digunakannya bank devisa sebagai sampel bank yang tidak bangkrut karena sebagian besar bank yang bangkrut merupakan bank devisa.
Dari kriteria tersebut diperoleh sampel bank bangkrut sejumlah 29 bank . Jumlah ini sama untuk tahun 1995 dan tahun 1996. Sampel bank yang tidak bangkrut berjumlah 44 bank untuk tahun 1995 dan 46 untuk tahun 1996.
Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kepemilikan (prosentasi kepemilikan saham oleh masing-masing pihak), data ekuitas, data total asset. Data yang digunakan adalah data satu dan dua tahun sebelum tahun 1997 yakni data tahun 1995 dan 1996. Data tersebut diperoleh dari Direktori Perbankan Indonesia dari Bank Indonesia tahun 1997 sampai 1998. Data kebangkrutan bank diperoleh dari Infobank tahun 1997 dan tahun 1998.
D. Hasil
masing-masing variabel independen. Berikut ini hasil uji beda dua rata-rata untuk tahun 1995 dan tahun 1996.
Tabel 2
Hasil Uji Beda Variabel Independen Data Tahun 1995 Bangkrut = f (RISK, HI, INST, LSIZE)
N Mean Std. Error Mean t-test
Risk 1
Hasil Uji Beda Variabel Independen Data Tahun 1996
Bangkrut = f (RISK, HI, INST, LSIZE)
N Mean Std. Error Mean Uji Beda
Risk 1 independen untuk tahun 1995. Pada variabel RISK nilai rata-rata bank yang bangkrut sebesar 9,86E-02 dan nilai rata-rata untuk bank yang tidak bangkrut sebesar 0,1266. Adapun nilai t hitung sebesar –2,151 dan signifikan (t tabel 1,96). Dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan tingkat risiko antara bank yang bangkrut dengan yang tidak bangkrut. Terlihat bahwa pada bank yang bangkrut memiliki rata-rata risiko ternyata lebih kecil dibanding yang tidak bangkrut. Pada tahun 1996, nilai rata-rata RISK untuk bank yang bangkrut sebesar 6,40E-03 sedangkan untuk bank yang tidak bangkrut sebesar 6,50E-03. Dari uji t terlihat bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua rata-rata. dapat dikatakan bahwa pada tahun 1996 tidak ada perbedaan risiko antara bank yang bangkrut dengan bank tidak bangkrut.
untuk bank yang bangkrut dan 0,4610. Nilai t hitung sebesar –1,168 dan tidak signifikan. dapat dikatakan bahwa nilai HI untuk kedua jenis sampel sama.
Pada uji beda variabel INST yang menunjukkan kepemilikan institusi menunjukkan rata-rata bank yang tidak bangkrut sebesar 0,5044 dan untuk bank yang tidak bangkrut sebesar 0,5918. Nilai t hitung sebesar –0,941 dan tidak signifikan. Dapat dikatakan bahwa nilai INST untuk kedua jenis sampel sama. Untuk tahun 1996, rata-rata kepemilikan INST sebesar 0,4485 untuk bank yang bangkrut sedangkan untuk bank yang tidak bangkrut sebesar 0,7223. Nilai t hitung sebesar –3,528 dan signifikan. Dapat dikatakan bahwa ada perbedaan besarnya nilai INST.
Variabel independen selanjutnya adalah LSIZE. Nilai rata-rata untuk bank yang bangkrut pada tahun 1995 sebesar 13,8937 dan untuk bank yang tidak bangkrut sebesar 12,9517. Nilai t sebesar 3,403 dan signifikan. Dapat dikatakan bahwa terdapat perbedaan nilai LSIZE untuk kedua jenis sampel. Pada tahun 1996 nilai rata-rata LSIZE untuk bank yang bangkrut sebesar 14,0639 sedangkan untuk bank yang tidak bangkrut sebesar 13,2268. Nilai t 3,072 dan signifikan. dapat dikatakan bahwa ada perbedaan besarnya nilai LSIZE untuk kedua jenis sampel.
Dari hasil uji beda untuk tahun 1995 dan tahun 1996 terlihat hasil yang tidak sesuai seperti yang diharapkan. Misalkan nilai rata-rata RISK sebagai proksi dari perilaku risiko, diperkirakan bank yang lebih berrisiko adalah bank yang bangkrut ternyata sebaliknya. Bank yang lebih berrisiko adalah bank yang tidak bangkrut (hasil tahun 1995 dan 1996). Begitu juga nilai HI sebagai proksi dari konsentrasi kepemilikan. Bank yang bangkrut diperkirakan kepemilikan sahamnya lebih terkonsentrasi. Namun hasilnya tidak menunjukkan seperti itu. Nilai HI justru lebih besar pada bank tidak bangkrut (hasil tahun 1995 dan tahun 1996). Artinya kepemilikan saham pada bank tidak bangkrut justru lebih terkonsentrasi. Selanjutnya agar dapat diperoleh hasil lebih jelas dilakukan analisis de.ngan regresi logit. Hasilnya tampak seperti tabel 4 berikut ini.
Tabel 4
Hasil Regresi Logit
Bangkrut = f (RISK, HI, INST, LSIZE) Variabe
l Tahun 1995 sig Tahun1996 sig
RISK -7,495 (0,206) 2,096 (0,776)
HI -1,614 (0,15) 0,396 (0,722)
INST -0,222 (0,775) -2,924* (0,01)
LSIZE 0,614* (0,016) 0,805* (0,005)
*Signifikan pada 5%
perilaku risiko semakin besar pula kemungkinan bank untuk bangkrut. Akan tetapi hasil tersebut tidak signifikan.
Koefisien regresi untuk variabel independen kedua HI –1,614 pada tahun 1995 bertanda negatif dan tidak signifikan. Pada tahun 1996 hasilnya juga membaik, koefisien HI bernilai 0,396 namun juga tidak signifikan. Dari hasil tersebut terlihat bahwa pada tahun 1995 tidak ada dukungan terhadap hipotesis yang dikemukakan sebelumnya. Akan tetapi pada tahun 1996 hasilnya menunjukkan bahwa semakin besar kosentrasi kepemilikan akan semakin besar pula kemungkinan bank untuk bangkrut. Namun demikian hasil ini juga tidak signifikan.
Variabel independen ketiga adalah INST. Koefisien INST untuk tahun 1995 sebesar –0,222 pada tahun 1995 dan –2,924 pada tahun 1996. Hasil pada tahun 1995 tandanya tidak sesuai seperti yang diharapkan dan tidak signifikan, sedangkan pada tahun 1996 tandanya sesuai seperti hipotesis dan signiufikan pada 5%. dapat dikatakan bahwa kepemilikan saham bank oleh institusi memperkecil kemungkina bank untuk bangkrut.
Variabel independen keempat adal LSIZE. Variabel ini merupakan variabel kontrol. Hasil untuk tahun 1995 menunjukkan koefisisen LSIZE sebesar 0,614, bertanda positif dan signifikan. Hasil yang sama juga terlihat pada tahun 1996, Nilai rata-ratanya sebesar 0,805, bertanda positif dan signifikan pada 5%. Dari hasil ini terlihat bahwa semakin besar ukuran bank maka semakin besar pula kemungkinannya untuk bangkrut.
E. Simpulan dan Diskusi
Penelitian ini bertujuan menguji apakah perilaku risiko dan struktur kepemilikan berpengaruh terhadap kebangkrutan bank di Indonesia. Perilaku risiko dihitung dengan membagi ekuitas dengan total assetnya. Adapun struktur kepemilikan yang diteliti adalah kepemilikan yang terkonsentrasi dan kepemilikan oleh institusi.
Diprediksi perilaku risiko akan memperbesar kemungkinan kebangkrutan juga konsentrasi kepemilikan. Sedangkan variabel lain yaitu kepemilikan institusi akan memperkecil kemungkinan kebangkrutan, sedangkan varioabel LSIZE akan memperbesar kemungkinan kebangkrutan.
Hasil uji beda tampaknya tidak memberi hasil seperti yang diharapkan, untuk tahun 1995 selain LSIZE tidak ada beda rata-rata antara variabel independen yang diuji. Kalupun ada perbedaan itupun tidak signifikan Pada tahun 1966 uji beda yang signifikan hanya pada variabel kepemilikan institusi (INST) dan LSIZE.
Adapun dari hasil regresi logit diperoleh hasil yang kurang baik untuk tahun 1995. Koefisien RISK bertanda negatif dan tidak signifikan. Koefisien berubah positif pada tahun 1996. Hal itu menunjukkan bahwa perilaku risiko memperbesar kemungkinan bank untuk bangkrut. Hal itu menunjukkan sedikit dukungan pada hipotesis. Akan tetapi hasil tersebut tidak signifikan. Hasil tersebut tampaknya dapat dijelaskan dari uji beda terdahulu.
Pada tahun 1995 dan tahun 1995 rata-rata perilaku risiko bank yang tidak bangkrut justru lebih besar. Artinya bank yang risikonya tinggi justru tidak bangkrut. Dengan kata lain variabel risiko ini belaum mampu digunakan sebagai pembeda antara bank yang bangkrut dengan bank yang tidak bangkrut.
kemungkinan untuk bangkrut. namun hasil ini juga tidak signifikan. Dari uji beda tahun 1995 dan 1996, konsentrasi kepemilikan yang lebih besar justru pada bank yang tidak bangkrut. Sama seperti variabel RISK, variabel konsentrasi kepemilikan ini belum mampu digunakan sebagai pembeda antara bank yang bangkrut dengan bank yang tidak bangkrut.
Hasil regresi logit untuk kepemilikan institusi (INST) pada tahun 1996 menunjukkan hasil seperti yang diharapkan. Variabel ini bertanda negatif dan signifikan. Artinya kepemilikan institusi mampu mengurangi kemungkinan kebangkrutan bank. Dengan kata lain, bank dengan kepemilikan institusi memiliki kemungkinan kecil untuk bangkrut. Dari hasil ini menunjukkan bahwa untuk kasus di Indonesia kepemilikan oleh institusi akan lebih baik karena banknya akan menjadi relatif lebih sehat.
Adapun untuk variabel LSIZE menunjukkan hasil seperti yang diharapkan untuk tahun 1995 dan 1996. Variabel ini bernilai positif dan signifikan. Hal ini berarti bank dengan total asset besar memiliki kemungkinan besar untuk bangkrut. Salah satu penyebab yang mungkin adalah bank besar dimanfaatkan sebagai kasir bagi para pemilik maupun perusahaan dalam grup yang samanya. Sebagai contoh bank BCA dijadikan kasir bagi perusahaan dalam kelompok seperti Indofood.
F. Saran untuk Penelitian Selanjutnya
Penelitian ini belum dapat menunjukkan pengaruh perilaku risiko dan konsentrasi kepemilikan terhadap kebangkrutan bank di Indonesia. Akan tetapi peneliti masih mempercayai bahwa kedua hal tersebut menjadi penyebab utama kebangkrutan bank. Oleh karenanya pada penelitian selanjutnya perlu dicari proksi yang lebih tepat untuk ukuran perrilaku risiko. Bila dimungkinkan dapat digunakan ukuran risiko berbasis pasar (market risk). Sedangkan untuk konsentrasi kepemilikan peneliti berpendapat bahwa kepemilikan saham yang tidak terkonsentrasi/tersebar adalah lebih baik. Artinya semakin banyak pihak yang memiliki saham bank maka kinerja bank akan semakin baik. Peneliti mendukung kepemilikan saham oleh masyarakat melalui pasar modal. Bank yang sahamnya dijual di pasar modal dipercaya memiliki kinerja lebih baik. Oleh karenanya pengaruh struktur kepemilikan terhadap kebangkrutan perlu diteliti lebih jauh dengan berbagai model maupun ukuran.
DAFTAR PUSTAKA
Altman, Edward I., 1968,”Financial Ratios, Discriminant Analysis and The Preiction of Corporate Bankruptcy”, Journal of Finance, Septembar.
Bathala, Chenchuramaiah T., Kenneth P. Moon, and Ramesh P. Rao, 1994, “Managerial Ownership, Debt Policy, and Institutional Holding”,
Financial Management, Vol. 23., No. 3. Autum.
Bongini, Paola; Stijn Claessens; Giovanni Ferri, 2001,” The Political Economy of Distess in East Asian Financial Institution”, Journal of Financial Services Research 19:1, 5-25.
Cebenoyan, A. Sinan, Elizabeth S. Cooperman, and Charles A. Regsiter, 1995, “Deregulation, Reregulation, Equity Ownership, and S&L Risk-Taking”,
Financial Management, Vol. 24, No.3, Autum.
Crutchley, Claire E., Marlin R.H. Jensen, John S. Jahera, Jr Dan Jennie E. Raymonnd, 1999,”Agency problems and the simultaneity of financial decision making, The role of institutional ownership”, International Review of Financial Analysis 8:2.
Cole, Rebel A, Jeffery W. Gunther, 1995, Separating tjhr likelihood and timing of bank failure, Journal of Banking & Finance, No. 19.
DeGennaro, Ramon P, Larry H.P. Lang dan James B. Thomson, 1993,” Troubled Saving and Loan Institution :Turnaround Strategies under Insolvency”, Financial Management, Vol. 22, No. 3.
Esty, Benjamin C., 1997,”Organizational form and risk taking in the saving and loan industry”, Journal of Financial Erconomics 44.
Heffernan, Shelagh, 1999, Modern Banking in Theory and Practices, John Wiley & Son, England.
Hesse, Helmut dan Laura Auria, 1998, The Financial Crisis in Southeast Asia: Causes and Effect on The Global Economy, Economics, Vol. 57.
Institute of Developing Economic, 2000. Infobank, Edisi September, No. 229
Gedajlovic, Eric R ; Daniel M. Shapiro,1998,”Management and Ownership Effects: Evidence from Five Countries”, Strategic Management Journal, Vol. 19, 533-553.
Jensen, Michael, and William Meckling, 1976,”Theory of the Firm:Managerial Behavior, agency cost, and ownership structure, Journal of Financial Economics 4.
Knopf, John D;Teall, John L, 1996,”Risk Taking Behavior in the US thrift industry: Owwnership structure and regulatory changes, Journal of Banking and Finance, Vol.:20.
La Porta, Rafael, Florencio Lopez-de-Silanes, Andrei Shleifer, 1999,”Corporate Ownership Around the World, Journal of Finance, Vol.: LIV, No. 2. Leonard Paul A. dan Rita Biswas, 1998, The Impact of Regulatory Changes on
the Risk-Taking Behavior of State Charter Savings Banks, Journal of Financial Services Research 13, (37-69).
Martin, Stephen, 1994, Industrial Economics; Economic Analysis and Public Policy, Second Edition.
Meyer, Paul A. Dan Howard W. Pifer, 1970, “Prediction of Bank Failures,
Journal of Finance,
Ohlson, James A., 1980, Financial Ratios and the Probabilistic Prediction of Bankruptcy,Journal of Accounting Research, Spring.
Pyle, David H., 1997,”Bank Risk Management : Theory”, Makalah Seminar, Jerusalem.
Pushner, George M, 1995,”Equity ownership structure, leverage, and productivity: Empirical evidence from Japan”, Pasific-Basin Finance Journal 3 (241-255).
Saunders, Anthony, Elizabeth Strock, and Nickolaos G. Travlos, 1990,”Ownership Structure, Deregulation, and Bank Risk Taking,
Journal of Finance, Vol. XLV, No. 2.
Saunders, Anthony, 2000, Financial Institutions Management: A Modern Perspectivve,McGraw-Hill, 3rd edition.
Sampel Bank yang Bangkrut dan Tidak Bangkrut 1=Bangkrut
0=Tidak Bangkrut
Bank Bali 1
Bank Baja Int 1
Bank Bukopin 1
BCA 1
Bank Central dagang 1
Bank Danamon Ind 1
Bank Duta 1
Bank Dagang dan Industri 1
Bank Ficorinvest 1
BII 1
Jaya Bank Int 1
Lippo Bank 1
Bank lautan Berlian 1
Bank Niaga 1
Bank Nusa Nasional 1
Bank Prima Expres 1
Bank Putra Surya Perkasa 1
Bank Pos Nusantara 1
Bank RSI 1
Bank Rama 1
Bank Tamara 1
Bank Tiara Asia 1
Bank Universal 1
Bank Aken 1
Bank Dana Hutama 1
Bank Indotrade 1
Bank Patriot 1
Sewu Int. Bank 1
Bank PDFCI 1
Bank Artha Niaga Kencana 0
Bank Asia Pasific 0
Bank Artha Graha 0
Bank Antar Daerah 0
Bank Artha Pratama 0
Artamedia Bank 0
Bank Arya Panduarta 0
Bank Alfa 0
Bank Buana Indonesia 0
Bank Bumi Arta 0
Bank Bahari 0
Bank Bumi Putera Indonesia 0
Bank Century Intervet Corp 0
Bank Dagang Bali 0
Bank Dharmala 0
Bank Ekonomi Rahardja 0
Bank Ganesha 0
Halim Indonesia bank 0
Hastin Int. Bank 0
Bank Hagakita 0
Bank Indonesia Raya 0
Bank IFI 0
Bank Kharisma 0
Bank Kesawan 0
Bank Mashill Utama 0
Bank Mauyapada Int 0
Bank Muamalat Ind 0
Bank Metro Express 0
Bank Maspion Ind. 0
Bank Metropolitan Raya 0
Bank Mestika Dharma 0
Bank Namura Ind. 0
Bank NISP 0
Bank Nusantara Parahyangan 0
Pan Ind. Bank 0
Bank Pikko 0
Bank Putera multikarsa 0
Bank Swadesi 0
Sahid Gadjah Perkasa Bank 0
Bank Shinta Ind 0
Tata Int. Bank 0
Bank Umum servitia 0
United City Bank 0
Bank Windu Kentjana 0
UJI BEDA Th 1996 T-Test
Group Statistics
29 9.64E-02 3.444372E-02 6.40E-03 46 .1043132 4.407676E-02 6.50E-03 29 .387610 .252275 4.68E-02 46 .460982 .273275 4.03E-02 29 .448521 .337041 6.26E-02 46 .722300 .321334 4.74E-02 29 14.0639 1.5603 .2897 46 13.2268 .7927 .1169 FAIL
1 0 1 0 1 0 1 0 RISK-1
HI
INST
LNSIZE
N Mean Std. Deviation
4. Bank Astria Raya 5. Sejahtera Bank Umum 6. Bank Dwipa
7. Bank Kosagraha Semesta 8. Bank Jakarta
9. Bank Citrahasta Dhanamanunggal 10.South East Asia Bank
11.Bank Pinaesaan
12.Bank Mataram Dhanarta 13.Bank Anrico
14.Bank Pasific 15.Bank Industri
II. Bank Take Over 1988 1. Bank Tiara Asia
2. Bank PDFCI
3. Bank Danamon Ind
III. Bank Kategori C th 1988 1. Bank Putra Surya Perkasa 2. Bank Bira
3. Bank Nusa Int 4. Bank Aspac 5. Bank Utama 6. Bank Ficorinvest 7. Bank Papan 8. Bank Nasional
9. Bank Dagang dan Industri 10.Bank Intan
11.Bank Tata
12.Bank Lautan Berlian 13.Bank Sewu Int 14.Bank Dewa Rutji 15.Bank Uppindo 16.Bank Danahutama 17.Bank Central Dagang 18.Bank Aken
19.Bank BTPN 20.Bank Indotrade 21.Bank Patriot
IV. BTO Maret 1999 1. Bank RSI
2. Bank rama 3. Bank Jaya 4. Bank Duta 5. Bank Niaga
6. Bank Pos Nusantara 7. Bank Tamara
8. BCA
9. Bank Nusa nasional
V. Bank Rekapitalisasi Maret 1999 1. BPD Sulawesi Utara
4. Bank Kalbar 5. Bank DKI
6. Bank BPD Jateng
7. BPD Nusa Tenggara Timur 8. BPD Nusa Tenggara Barat 9. Bank Patriot
10.Bank Bali
11.BPD Sumatra Utara 12.Bank Media
13.BPD Aceh
14.Bank Prima Express 15.Bank Bukopin 16.Bank Lippo 17.BII
18.Bank Negara Indonesia 19.Bank Rakyart Indonesia 20.Bank Universal
21.Bank Tabungan Negara 22.Bank Bumi daya
23.Bank Dagang Negara 24.Bank Ekspor Impor Ind 25.BPD Lampung
26.BPD Maluku 27.Bapindo
Bank-Bank yang “Survive” (114)
J. Bank Umum Swasta Nasional Devisa (29) 1. PT Artamedia Bank
2. PT Bank Artha Graha
3. PT Bank Arta Niaga Kencana 4. PT Bank Antar Daerah
5. PT Bank Buana Indonesia 6. PT Bank Bumiputera Indonesia 7. PT Bank Bumi Arta
8. PT Bank CIC Internasional 9. PT Bank Dagang Bali 10.PT Bank Ekonomi Raharja 11.PT Bank Ganesha
12.PT Bank Haga 13.PT Bank Hagakita
14.PT Halim Indonesia Bank 15.PT Bank IFI
16.PT Bank Kesawan
17.PT Bank Mestika Dharma 18.PT Bank Maspion Indonesia 19.PT Bank Mayapada Internasional 20.PT Bank Muamalat Indonesia 21.PT Bank Metro Ekspres
22.PT Bank Nusantara Parahyangan 23.PT Bank NISP
24.PT Bank Pikko
26.PT Bank Shinta Indonesia 27.PT Bank Swadesi
28.PT Bank Unibank
29.PT Bank Windu Kentjana
II. Bank Umum Swasta Nasional Bukan Devisa (44) 1. PT Anglomas Internasional Bank
2. PT Alfindo Sejahtera 3. PT Bank Artos Indonesia 4. PT Agroniaga bank 5. PT Bank Akita 6. PT Bank Asiatic
7. PT Bank Bintang Manunggal 8. PT Bank Bisnis Internasional 9. PT Centratama Nasional Bank 10.PT Dipo Internasional Bank 11.PT Bank Djasa Arta
12.PT Bank Danpac
13.PT Bank Eksekutif Internasional 14.PT Bank Fama Internasional 15.PT Global Internasional bank 16.PT Bank Harfa
17.PT Bank Harda Internasional 18.PT Bank Harmoni Internasional 19.PT Bank Himpunan Saudara 1906 20.PT Bank Indomonex
21.PT Bank Ina Perdana 22.PT Bank Index Selindo 23.PT Bank Jasa Jakarta
24.PT Bank Kesejahteraan Ekonomi 25.PT Liman Internasional Bank 26.PT Bank Mitraniaga
27.PT Bank Mayora 28.PT Mega Bank
29.PT Bank Multi Arta Sentosa 30.PT Bank Prasidha Utama 31.PT Prima Master Bank 32.PT Bank Purba Danarta 33.PT Bank Ratu
34.PT Bank Royal Indonesia 35.PT Bank Sinar harapan Bali
36.PT Bank Swansarindo Internasional 37.PT Bank Swaguna
38.PT Bank Syariah Mandiri 39.PT Bank Sri Partha
40.PT Tabungan Pensiunan Nasional 41.PT Bank Umum Tugu
42.PT Bank UIB
43.PT Bank Victoria Internasional 44.PT Bank Yudha Bhakti
2. BPD Irian Jaya 3. BPD Jambi
4. BPD Kalimantan Tengah 5. BPD Kalimantan Timur 6. BPD Kalimantan Selatan 7. BPD Riau
8. BPD Sumatra Selatan 9. BPD Sumatra Barat 10.BPD Sulawesi Selatan 11.BPD Sulawesi Tengah 12.BPD Sulawesi Tenggara IV. Bank Campuran (29) 1. PT ANZ Panin Bank
2. PT BNP Lippo Indonesia 3. PT BII Commonwealth 4. PT Bank Chinatrust Tamara 5. PT Bank Credit Lyonais Indonesia 6. PT Bank DBS Buana
7. PT Daiwa Perdania Bank 8. PT Bank Dai-Ichi Kangyo 9. PT Bank Finconesia
10.PT Fuji Bank Internasional 11.PT Bank Hanvit Indonesia 12.PT Bank IBJ Indonesia
13.PT Indosuez Indonesia Bank 14.PT Inter Pacific Bank
15.PT ING Indonesia Bank
16.PT Keppel Tat Lee Buana Bank 17.PT Korea Exchange Bank Danamon 18.PT May bank Nusa Internasional 19.PT Bank Merincorp
20.PT Bank Multicor
21.PT Bank Paribas-BBD Indonesia 22.PT Bank OCBC-NISP
23.PT Rabobank Duta Indonesia
24.PT Bank Societe Generale Indonesia 25.PT Bank Sumitomo Niaga
26.PT Sanwa Indonesia Bank 27.PT Bank Sakura Swadarma 28.PT Tokai Lippo Bank
Bank yang dilikuidasi (Infobank
)
1. Bank Harapan Santosa 2. Bank Guna Internasional 3. Bank Andromeda
4. Bank Astri Raya
5. Sejahtera Bank Umum 6. Bank Dwipa
7. Bank Kosagraha Semesta 8. Bank Jakarta
9. Bank Citrahasta Dhanamanunggal 10.South East Asia Bank
11.Bank Pinaesaan
12.Bank Mataram Dhanarta 13.Bank Anrico
14.Bank Pacific 15.Bank Industri
16.Bank Umum Majapahit 17.Bank Centris
18.Bank Deka 19.Bank Hokindo 20.Bank Kredit Asia 21.Bank Pelita 22.Bank Subentra 23.Bank Surya
Bank Beku Operasional (Infobank) 1. Bank Dagang Nasional Indonesia 2. Bank Modern
3. Bank Umum Nasional
Bank Dikuasai pemerintah (Infobank) 1. Bank PDFCI
2. Bank Tiara Asia
Bank dalam pengawasan BPPN (makalah Anwar Nasution) 1. BCA
2. Bukopin 3. Bank Niaga 4. Bank Danamon 5. Bank Lippo 6. BII
7. Bank Artamedia 8. Bank Bali
9. Bank Patriot