• Tidak ada hasil yang ditemukan

Buku Modul Kuliah Pancasila

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Buku Modul Kuliah Pancasila"

Copied!
167
0
0

Teks penuh

I. Pendahuluan: Relevansi Buku Modul Kuliah Pancasila dengan Tujuan Pendidikan dan Capaian Pembelajaran

Buku Modul Kuliah Pancasila ini dirancang untuk menjawab kebutuhan mendesak akan pemahaman komprehensif dan relevan tentang Pancasila dalam konteks pendidikan tinggi. Modul ini tidak hanya menyajikan informasi historis, filosofis, dan yuridis tentang Pancasila, tetapi juga menekankan penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Khususnya, modul ini dirancang untuk memastikan bahwa mahasiswa mampu menganalisis dan memecahkan masalah-masalah kontemporer dengan perspektif Pancasila. Dengan demikian, modul ini secara langsung berkontribusi pada pencapaian tujuan pendidikan nasional, khususnya dalam membentuk warga negara yang berkarakter, berintegritas, dan bertanggung jawab.

1.1. Tujuan Pendidikan Nasional dan Peran Pancasila

Tujuan pendidikan nasional sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Dasar 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Pancasila, sebagai dasar negara dan ideologi bangsa, memiliki peran sentral dalam mencapai tujuan tersebut. Modul ini membantu mahasiswa memahami bagaimana nilai-nilai Pancasila menjadi landasan moral dan etika dalam pembangunan bangsa, serta bagaimana penerapannya dapat menciptakan masyarakat yang adil, makmur, dan beradab. Dengan demikian, modul ini membantu mahasiswa memahami hubungan antara Pancasila dan tujuan pendidikan nasional yang lebih luas.

1.2. Capaian Pembelajaran yang Diharapkan

Modul ini bertujuan untuk mengembangkan beberapa capaian pembelajaran kunci pada mahasiswa. Pertama, mahasiswa diharapkan mampu menganalisis secara kritis berbagai isu dan permasalahan bangsa dalam konteks nilai-nilai Pancasila. Kedua, mahasiswa diharapkan mampu mengaplikasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam konteks personal maupun sosial. Ketiga, mahasiswa diharapkan memiliki kemampuan untuk merumuskan solusi atas permasalahan bangsa berdasarkan kerangka berpikir Pancasila. Keempat, modul ini juga bertujuan untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air dan kebanggaan sebagai warga negara Indonesia yang berlandaskan Pancasila. Capaian pembelajaran ini terukur melalui berbagai metode penilaian yang beragam, seperti tugas individu, tugas kelompok, presentasi, dan ujian.

II. Konsep Pendukung Capaian Pembelajaran: Dasar Filosofis, Sosiologis, dan Yuridis Pancasila

Modul ini membangun pemahaman Pancasila melalui tiga pendekatan utama: filosofis, sosiologis, dan yuridis. Pendekatan filosofis mengeksplorasi akar nilai-nilai Pancasila dalam konteks sejarah dan budaya Indonesia. Pendekatan sosiologis menganalisis relevansi Pancasila dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk. Pendekatan yuridis menelaah kedudukan Pancasila sebagai dasar hukum negara dan landasan berbagai peraturan perundang-undangan. Ketiga pendekatan ini saling melengkapi dan memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap Pancasila sebagai sistem nilai yang integral dan dinamis.

2.1. Analisis Dasar Filosofis Pancasila

Bagian ini membahas Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia yang terlahir dari kondisi sejarah dan budaya. Modul ini menganalisis bagaimana Pancasila menjadi sebuah alternatif terhadap ideologi lain di dunia, yang mampu menyeimbangkan kepentingan individu dan masyarakat. Pembahasan meliputi bagaimana Pancasila sebagai jiwa bangsa (Volkgeist) dan cara hidup (way of life) bangsa Indonesia yang mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa. Pengkajian ini menekankan pentingnya memahami Pancasila sebagai landasan filosofis pembangunan bangsa yang berkelanjutan.

2.2. Analisis Dasar Sosiologis Pancasila

Bagian ini menelaah Pancasila sebagai ideologi yang mampu mempersatukan masyarakat Indonesia yang sangat beragam. Modul ini akan memaparkan bagaimana nilai-nilai Pancasila telah menjadi perekat sosial, mampu mengatasi konflik, dan membangun persatuan di tengah keberagaman suku, agama, ras, dan budaya. Pembahasan ini menekankan pentingnya nilai-nilai Pancasila dalam membangun kohesi sosial, toleransi, dan integrasi nasional. Diharapkan mahasiswa mampu memahami bagaimana Pancasila sebagai solusi bagi tantangan keberagaman di Indonesia.

2.3. Analisis Dasar Yuridis Pancasila

Bagian ini membahas kedudukan Pancasila dalam sistem hukum Indonesia. Modul ini memaparkan Pancasila sebagai norma dasar dan dasar negara yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945. Pembahasan mencakup nilai dasar, nilai instrumental, dan nilai praksis Pancasila serta implikasinya dalam pembentukan peraturan perundang-undangan. Mahasiswa diajak untuk memahami bagaimana nilai-nilai Pancasila menjadi landasan hukum dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, serta bagaimana penerapannya dapat mewujudkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

III. Metode Pembelajaran dan Matriks Kegiatan

Modul ini mengadopsi pendekatan pembelajaran aktif (student active learning) untuk memastikan pemahaman dan internalisasi nilai-nilai Pancasila secara efektif. Berbagai metode pembelajaran, seperti studi kasus, diskusi, seminar, debat, kerja lapangan, dan permainan peran, diintegrasikan untuk memberikan pengalaman belajar yang komprehensif dan menyenangkan. Matriks kegiatan pembelajaran secara terperinci dijelaskan dan dihubungkan dengan capaian pembelajaran yang diharapkan. Hal ini memastikan bahwa setiap kegiatan pembelajaran berorientasi pada pencapaian tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

3.1. Metode Pembelajaran Aktif

Modul ini menekankan pentingnya metode pembelajaran yang aktif dan partisipatif. Metode-metode yang diusulkan meliputi diskusi, studi kasus, presentasi, kerja kelompok, dan simulasi. Pendekatan ini mendorong mahasiswa untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran, mengembangkan keterampilan berpikir kritis, dan membangun pemahaman yang mendalam tentang Pancasila. Penggunaan beragam metode ini bertujuan untuk mengakomodasi berbagai gaya belajar dan meningkatkan daya serap mahasiswa.

3.2. Matriks Kegiatan dan Penilaian

Modul ini menyertakan matriks kegiatan pembelajaran yang terstruktur dan rinci. Matriks ini menjabarkan secara jelas kompetensi yang akan dicapai, bahan kajian, bentuk pembelajaran, dan kriteria penilaian untuk setiap minggu perkuliahan. Dengan adanya matriks ini, mahasiswa dan dosen memiliki panduan yang jelas tentang alur pembelajaran dan indikator keberhasilan. Sistem penilaian yang komprehensif dan terintegrasi memastikan tercapainya capaian pembelajaran yang telah ditetapkan.

IV. Alur Pembentukan Mata Kuliah dan Perumusan Konseptual

Modul ini dirancang agar selaras dengan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Hal ini memastikan bahwa mata kuliah Pancasila memberikan kontribusi nyata terhadap pengembangan kompetensi mahasiswa sesuai dengan standar nasional. Perumusan konseptual mata kuliah ini didasarkan pada analisis yang mendalam terhadap SKL dan KKNI, yang kemudian dijabarkan ke dalam standar kompetensi dan indikator pembelajaran yang spesifik dan terukur. Dengan demikian, modul ini tidak hanya sekedar menyampaikan materi, tetapi juga mengembangkan kompetensi mahasiswa sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan bangsa.

4.1. Keselarasan dengan SKL dan KKNI

Modul ini dirancang selaras dengan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). SKL dan KKNI menjabarkan kompetensi yang diharapkan dari lulusan perguruan tinggi, mencakup aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dengan merujuk pada SKL dan KKNI, modul ini memastikan bahwa materi dan kegiatan pembelajarannya relevan dan memberikan kontribusi nyata pada pengembangan kompetensi mahasiswa, sehingga mereka siap memasuki dunia kerja dan berkontribusi pada pembangunan bangsa. Modul ini secara khusus menjabarkan bagaimana setiap bagian materi dan metode pembelajaran berkontribusi pada pencapaian SKL dan KKNI.

4.2. Standar Kompetensi dan Indikator Pembelajaran

Modul ini menguraikan standar kompetensi dan indikator pembelajaran yang spesifik dan terukur untuk setiap sub-topik yang dibahas. Standar kompetensi menjelaskan capaian pembelajaran yang diharapkan dari mahasiswa, sementara indikator pembelajaran memberikan kriteria yang lebih rinci untuk mengukur pencapaian tersebut. Dengan adanya standar kompetensi dan indikator pembelajaran yang jelas, mahasiswa memiliki pemahaman yang lebih baik tentang apa yang diharapkan dari mereka, dan dosen memiliki alat ukur yang objektif untuk menilai kemajuan belajar mahasiswa. Hal ini memastikan agar proses pembelajaran terarah dan terukur, sehingga hasil belajar mahasiswa dapat dipertanggungjawabkan.

V. Pancasila dalam Kajian Sejarah Bangsa Indonesia

Modul ini memulai dengan kajian sejarah Pancasila, menekankan pentingnya memahami konteks historis sebagai dasar pemahaman yang komprehensif. Kajian ini tidak hanya mencakup proses perumusan Pancasila, tetapi juga perkembangan dan implementasinya dalam berbagai periode sejarah Indonesia. Dengan memahami sejarah Pancasila, mahasiswa dapat lebih memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dan bagaimana nilai-nilai tersebut telah membentuk identitas dan jati diri bangsa Indonesia.

5.1. Pancasila Pra-Kemerdekaan

Bagian ini menelusuri akar nilai-nilai Pancasila sebelum proklamasi kemerdekaan. Modul ini menjelaskan bagaimana nilai-nilai tersebut telah tertanam dalam budaya dan kehidupan masyarakat Indonesia sebelum penjajahan. Dengan demikian, mahasiswa akan memahami bahwa Pancasila bukan sekadar hasil pemikiran para founding fathers, melainkan juga refleksi dari nilai-nilai luhur yang telah lama hidup dan berkembang dalam masyarakat Indonesia. Pembahasan ini penting untuk menumbuhkan rasa kebanggaan dan cinta tanah air.

5.2. Pancasila Pasca-Kemerdekaan

Bagian ini mengkaji perkembangan Pancasila setelah proklamasi kemerdekaan. Modul ini akan membahas bagaimana Pancasila diimplementasikan dalam berbagai kebijakan dan praktik pemerintahan. Pembahasan mencakup berbagai tantangan dan dinamika yang dihadapi dalam penerapan Pancasila sepanjang sejarah Indonesia, mulai dari era orde lama, orde baru, hingga reformasi. Mahasiswa akan diajak untuk memahami kompleksitas dan dinamika penerapan Pancasila dalam konteks sejarah Indonesia yang penuh dengan tantangan.

Referensi Dokumen

  • Ilmu Pengetahuan dan Teknologi ( Sutardjo )
  • Akibat Teknologi pada Eksistensi Manusia ( Schumacher )
  • Dehumanisasi dalam Sistem Teknokrasi ( T. Yacob )

Gambar

Gambar yang

Referensi

Dokumen terkait

Modul yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah modul pembelajaran cahaya yang dapat digunakan siswa untuk melakukan kegiatan belajar sendiri tanpa kehadiran

a) Bahan ajar mandiri. Maksudnya, penggunaan modul dalam proses pembelajaran berfungsi meningkatkan kemampuan siswa untuk belajar sendiri tanpa bergantung kehadiran

Dengan adanya daftar judul, pengarang, dan subjek dari artikel-artikel yang berada dalam volume Terbitan Berseri tersebut, maka pengguna tidak perlu repot-repot

Persiapan mental dan keberanian merupakan modal utama untuk tampil di depan publik. Cara utama membangun rasa percaya diri adalah mengenali diri sendiri dan

Informasi dan data bergerak melalui kabel-kabel atau tanpa kabel sehingga memungkinkan pengguna jaringan komputer dapat saling bertukar dokumen dan data, mencetak

Kegiatan belajar pada kelas kontrol yaitu tanpa menggunakan modul pembelajaran atau produk yang dikembangkan. Kegiatan pembelajaran pada kelas kontrol

Peserta didik membutuhkan sumber belajar mandiri yang dapat berdiri sendiri tanpa bantuan media lain untuk menunjang proses belajar mengajar pada materi ekosistem sesuai pendapat

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,