29
boks 1. Pengaruh Kenaikan Harga BBM terhadap Pola Konsumsi Masyarakat
Berdasarkan survei terhadap 172 responden survei konsumen yang terdiri dari rumah
tangga dengan penghasilan diatas Rp500.000, tingkat pendidikan minimal adalah SMA dan berada
pada rentang umur 20-diatas 60 tahun, 103 orang responden bekerja pada sektor swasta, 44 orang
responden bekerja sebagai PNS, 20 orang ibu rumah tangga dan 5 orang diluar ketiga kategori
tersebut, diperoleh hasil bahwa secara umum kenaikan harga BBM mempengaruhi perilaku
konsumsi responden.
Dampak langsung yang dirasakan konsumen adalah adanya kenaikan harga beberapa
komoditas terpilih. Berdasarkan kenaikan harga yang dirasakan responden, kenaikan harga tertinggi
dialami komoditas sayur yaitu mencapai 45,49% diikuti mie Instan 37,38% serta cabe sebesar
33,31%. Adanya initial cost distribusi barang menyebabkan kenaikan harga barang-barang tersebut.
Sementara itu, kenaikan harga pakan menyebabkan kenaikan harga daging sapi dan ayam. Namun
demikian, menurut pengakuan konsumen kenaikan ini adalah wajar dan tidak terelakkan. Hal
terpenting yang menjadi perhatian pemerintah adalah adanya kecukupan stok barang. Sehingga
kelangkaan yang acap kali terjadi di Kalimantan Tengah dapat dihindari mengingat kelangkaan ini
menyebabkan harga melonjak sementara permintaan tetap tinggi.
Ditinjau berdasarkan struktur biaya
proporsi biaya BBM yang cukup besar mendorong masyarakat untuk melakukan penghematan,
hampir seluruh responden merespon kenaikan harga BBM ini dengan berhemat. Sebanyak 118
orang berhemat 10%-20%, 33 responden berhemat sebanyak 21%-30%, 6 orang responden
berhemat 31%-40%, 4 orang berhemat 41%-50% dan sebanyak 8 orang diatas 50%. Terdapat 3
30
Lebih lanjut, komoditas yang dihemat adalah makanan jadi, rekreasi dan sandang. Hanyasebagian kecil responden menghemat komoditas kebutuhan primer seperti bahan makanan dan
beberapa responden berhemat untuk komoditas perumahan dan transportasi.
Saran yang disampaikan responden meliputi :
1. Pemerintah agar selalu memantau pasokan dan stok barang di pasar, terutama untuk
kebutuhan pokok.
2. Cepat tanggap terhadap adanya gejolak harga dengan melakukan berbagai upaya
stabilisasi dan operasi pasar.
3. Tetap memberikan subsidi terhadap beberapa jenis barang seperti minyak tanah dan
minyak goreng dan beras.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari berbagai pihak, sebenarnya pemerintah telah
melakukan berbagai upaya pemantauan serta stabilisasi harga. Koordinasi berbagai pihak seperti
Dinas Perdagangan, Bulog dan Dinas Pertanian telah dilaksanakan dengan baik. Namun demikian,
kenaikan harga barang tersebut lebih banyak disebabkan oleh gangguan distribusi seperti cuaca
buruk di perairan Kalimantan dan Jawa sehingga cukup sulit untuk diantisipasi oleh Pemerintah
Daerah dan instansi terkait.
Untuk kenaikan harga BBM, Pemerintah Kota Palangka Raya menetapakn HET (Harga
Eceran Tertinggi) premium untuk menstabilkan tingginya pelansir di Kota ini yaitu sebesar Rp7.000.
Sementara di daerah lain seperti Puruk Cahu, Seruyan, Kuala Pembuang dan Pangkalan Bun1 telah
ditentukan HET premium. Mekanisme penentuan HET ini disesuaikan dengan biaya
tambahan/ongkos angkut dan risiko perjalanan sehingga setiap daerah dapat memiliki perbedaan
HET. Namun demikian, pengawasan distribusi dan stok BBM saat ini belum diatur dalam Perda.
Diharapkan mekanisme pengawasan stok BBM dapat diatur lebih jelas terutama pihak-pihak terkait
yang bertanggung jawab terhadap kecukupan stok BBM.
1