• Tidak ada hasil yang ditemukan

LINGKUNGAN BELAJAR, KECERDASAN EMOSIONAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP STRES KULIAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LINGKUNGAN BELAJAR, KECERDASAN EMOSIONAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP STRES KULIAH"

Copied!
55
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PENELITIAN

LINGKUNGAN BELAJAR, KECERDASAN EMOSIONAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP STRES KULIAH

(Studi Empiris Mahasiswa Pendidikan Ekonomi, FKIP-UPS Tegal)

Oleh :

1. Dewi Amaliah Nafiati, S.Pd, M.Si. (Ketua) 2. Dra. Hj. Faridah, M.Si. (Anggota)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PANCASAKTI TEGAL 2012

(2)

HALAMAN PENGESAHAN

1. Judul Penelitian : Lingkungan Belajar, Kecerdasan Emosional dan Pengaruhnya Terhadap Stres Kuliah

(Studi Empiris Mahasiswa Pendidikan Ekonomi, FKIP-UPS Tegal)

2. Bidang Penelitian : Pendidikan 3. Ketua Peneliti

a. Nama Lengkap : Dewi Amaliah Nafiati, S.Pd, M.Si. b. Jenis Kelamin : Perempuan

c. NIPY : 228512101978

d. Disiplin Ilmu : Pendidikan Ekonomi e. Jabatan : Asisten Ahli

f. Fakultas/Jurusan : KIP/Pendidikan Ekonomi g. Alamat : Jl. Halmahera KM 1. Tegal h. Telepon/Email : (0283) 357122

[email protected]

i. Alamat Rumah : Perum. Griya Santika P7 RT.33/7 Tegal j. Telepon/Email : 08157654140

[email protected] 4. Lokasi Penelitian : Universitas Pancasakti Tegal 5. Jumlah biaya yang diusulkan : Rp. 3.080.000,00

Tegal, 20 April 2012

Mengetahui,

Dekan FKIP, Ketua Peneliti,

Dr. Hj. Sitti Hartinah. DS., M.M. Dewi Amaliah Nafiati, S.Pd, M.Si. NIP. 19541117 198103 2 002 NIPY 228512101978

Menyetujui,

Ketua Lembaga Penelitian,

Dr. Dino Rozano, M.Pd. NIP.

(3)

PENGESAHAN

Dengan ini kami mengesahkan bahwa :

Judul Penelitian : Lingkungan Belajar, Kecerdasan Emosional dan Pengaruhnya Terhadap Stres Kuliah

(Studi Empiris Mahasiswa Pendidikan Ekonomi, FKIP-UPS Tegal)

Bidang Ilmu : Pendidikan

Peneliti : Ketua : Dewi Amaliah Nafiati, S.Pd., M.Si. Anggota : Dra. Faridah, M.Si.

Jabatan : Asisten Ahli

Waktu Penelitian : Semester Genap Tahun Akademik 2011/2012 Sumber Biaya : Anggaran Belanja Universitas Pancasakti Tegal

Telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan penelitian yang berlaku dan pengembangan yang berlaku di Universitas Pancasakti Tegal.

Ketua Lembaga Penelitian Peneliti,

Dr. Dino Rozano, M.Pd. Dewi Amaliah Nafiati, S.Pd., M.Si.

(4)

PRAKATA

Dengan mengucapkan syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan petunjuk kepada peneliti sehingga dapat menyelesaikan laporan Penelitian Akademis. Judul dari Penelitian Akademis ini adalah Lingkungan Belajar, Kecerdasan Emosional dan Pengaruhnya Terhadap Stres Kuliah (Studi Empiris Mahasiswa Pendidikan Ekonomi, FKIP-UPS Tegal)

Walaupun sederhana, namun besar harapan peneliti agar laporan akhir ini dapat dijadikan bahan kajian oleh sivitas akademika Universitas Pancasakti Tegal, untuk kepentingan penelitian lebih lanjut. Dalam kaitannya dengan penelitian ini, perkenankanlah peneliti mengucapkan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada :

1. Rektor Universitas Pancasakti Tegal, atas keseluruhan biaya yang dialokasikan untuk penelitian dan penyusunan laporan akhir ini.

2. Kepala Lembaga Penelitian Universitas Pancasakti Tegal, yang dalam kesibukannya senantiasa menyempatkan waktunya untuk memberikan bimbingan kepada peneliti baik selama proses penelitian berlangsung, maupun sepanjang penyusunan laporan akhir ini.

3. Dekan FKIP Universitas Pancasakti Tegal yang telah memberi kesempatan kepada peneliti untuk melakukan kegiatan penelitian.

4. Teman-teman Dosen yang telah membantu dan memberi masukan tentang pelaksanaan dan hasil penelitian ini.

5. Semua pihak yang telah membantu dan memberi motivasi demi terlaksananya penelitian ini.

(5)

Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan baik langsung maupun tidak langsung kepada peneliti. Amin Yarobbal Alamiin.

Tegal, 25 April 2012

(6)

LINGKUNGAN BELAJAR, KECERDASAN EMOSIONAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP STRES KULIAH

(STUDI EMPIRIS MAHASISWA PENDIDIKAN EKONOMI, FKIP-UPS TEGAL)

ABSTRAK

Lingkungan belajar merupakan manifestasi mahasiswa dalam proses belajar. Kecerdasan emosional melatih kemampuan mahasiswa untuk mengelola perasaannya, memotivasi dirinya, kesanggupan untuk tegar dalam menghadapi frustasi, kesanggupan mengendalikan dorongan dan menunda kepuasaan sesaat, mengatur suasana hati yang reaktif, serta mampu berempati dan bekerja sama dengan orang lain sehingga dapat mendukung seorang mahasiswa untuk menghadapi stres kuliah dan mencapai tujuan serta cita-citanya.

Penelitian ini bertujuan untuk menguji apakah lingkungan belajar dan kecerdasan emosional mahasiswa berpengaruh secara simultan dan parsial terhadap stres kuliah pada mahasiswa Pendidikan Ekonomi, FKIP-UPS Tegal.

Populasi dalam penelitian adalah mahasiswa FKIP-Universitas Pancasakti Tegal. Penentuan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Responden penelitian ini adalah mahasiswa semester VIII (delapan) sebanyak 87 mahasiswa yang tersebar pada tiga kelas. Data penelitian dianalisis dengan menggunakan alat statistik, yaitu uji F untuk mengetahui secara keseluruhan pengaruh dari semua variabel independent secara simultan tehadap variabel dependent.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Lingkungan Belajar dan Kecerdasan Emosional secara simultan berpengaruh terhadap Stres Kuliah Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Pancasakti Tegal. Pengujian ini menunjukkan hasil yang signifikan dan berarti dapat disimpulkan bahwa lingkungan belajar yang baik dapat mengurangi stres kuliah pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Pancasakti Tegal. Kecerdasan emosional berpengaruh positif terhadap tres kuliah pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Pancasakti Tegal.

(7)

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL ……… ……… 1 HALAMAN PENGESAHAN ………... 2 PRAKATA…………. ……….. 3 ABSTRAK ………... 5 DAFTAR ISI ……… 6 DAFTAR TABEL ……… 8 DAFTAR BAGAN ... 9 BAB I PENDAHULUAN ………... 10. A. Latar Belakang ………...……… 11 B. Perumusan Masalah ……….………... 13 C. Tujuan Penelitian ………..……….. 13 D. Manfaat Penelitian ..……… 13

BAB II TINJAUN PUSTAKA .……… 15

A. Definisi Belajar………...……… 15

B. Teori Belajar. ………...……… 17

C. Keterkaitan Teori Belajar dengan Variabel Penelitian…… 20

D. Tujuan dan Prinsip-prinsip Belajar……… 21

E. Lingkungan Belajar………... 23

F. Kecerdasan Emosional ... 25

G. Stres Kuliah ... 29

H. Kerangka Pemikiran ... 31

I. Hipotesis Penelitian ... 32

BAB III METODe PENELITIAN ……….….. 33

A. Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel ……… 33

B. Jenis dan Sumber Data ... 34

C. Variabel Penelitian ... 34

D. Definisi Operasional Variabel ... 35

(8)

F. Uji Instrumen Penelitian ………... 37

G. Teknik Analisis Data ……… 38

BAB IV DESKRIPSI DAN PEMBAHASAN ……… 40

A. Deskripsi Hasil Penelitian ………….……… 40

B. Pembahasan ... 47

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ……… 50

A. Kesimpulan ……… 50

B. Keterbatasan……… 51

C. Implikasi dan Saran ... 52

(9)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 3.1. Indikator Variabel Lingkungan Belajar 35 Tabel 3.2. Indikator Variabel Kecerdasan Emosional 36 Tabel 4.1. Statistik Deskriptif Karakteristik Responden 40

Tabel 4.2 Statistik Deskriptif Variabel 41

Tabel 4.3 Ringkasan Hasil Perhitungan Reliabilitas dan

Analisis Faktor 43

Tabel 4.4 Ringkasan Analisis Regresi Linier Berganda 44

Tabel 4.5 Uji Signifikansi Simultan 45

Tabel 4.6 Uji t 45

(10)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Peneliti menganggap bahwa penelitian tentang pengaruh kecerdasan emosional dan lingkungan belajar terhadap stres kuliah sangat penting, karena siapa pun dapat mengalami stres, tak terkecuali mahasiswa. Mahasiswa terkadang merasa bosan dan tertekan dengan kuliahnya. Hal ini disebabkan karena kurangnya kesadaran mahasiswa mengenai makna belajar di perguruan tinggi yang akan sangat menentukan sikap dan pandangan belajar di perguruan tinggi. Hal ini juga sesuai dengan pendapat Suwardjono (1991) bahwa mahasiswa yang belajar di perguruan tinggi dituntut tidak hanya mempunyai keterampilan teknis tetapi juga memiliki daya dan kerangka pikir serta sikap mental dan kepribadian tertentu sehingga mempunyai wawasan luas dalam menghadapi masalah-masalah dalam dunia nyata (masyarakat).

Hasil penelitian sebelumnya mengenai kecerdasan emosional dengan stres telah dilakukan tetapi terhadap karyawan, peneliti berasumsi bahwa kecerdasan emosional akan meningkat sesuai dengan kematangan umur seseorang, sehingga hasilnya penelitian kecerdasan emosional dengan karyawan belum tentu sama dengan hasil penelitian kecerdasan emosional pada saat mahasiswa, karena pada saat mahasiswa suasananya, kebutuhannya, pergaulannya, dan kematangannya sangat berbeda dengan pada saat bekerja, sehingga hasil penelitian ini akan bermanfaat untuk akademisi, mahasiswa, dan

(11)

pengembangan kurikulum. Bagi akademisi akan menjadi rujukan yang bermanfaat dalam mengenali mahasiswanya sesuai kematangan mereka untuk menciptakan suasana kelas yang tidak menimbulkan stres kuliah, sementara bagi mahasiswa dapat merujuk hasil penelitian ini dengan mempelajari manfaat kecerdasan emosional dan lingkungan belajar mahasiswa sehingga secara tidak langsung mahasiswa akan belajar untuk mengelola kecerdasan emosional dengan baik dan mengembangkan lingkungan belajar yang baik untuk menghadapi stres kuliah.

Penelitian mengenai stres kuliah ini dimotivasi oleh penelitian Suryaningsum dkk (2005) dan Yulianti (2002). Penelitian Yulianti (2002) menekankan pada kecerdasan emosional dengan karyawan Pusdiklat di Cepu. Hasil penelitiannya menunjukkan ada hubungan negatif yang signifikan antara kecerdasan emosional dengan stres kerja. Artinya semakin tinggi kecerdasan emosional karyawan maka semakin rendah stres kerja.

Suryaningsum dkk (2005) menyatakan bahwa pengaruh kecerdasan emosional mahasiswa akuntansi terhadap stres kuliah hanya dipengaruhi oleh variabel pengenalan diri dan variabel keterampilan sosial, sedangkan variabel pengendalian diri, motivasi, empati, tidak berpengaruh signifikan terhadap stres kuliah. Peneliti setuju dengan hasil Suryaningsum (2005), karena memang pengendalian diri, motivasi, dan empati mahasiswa kalau diamati sepintas memang fenomenanya adalah mahasiswa cenderung belum mampu mengendalikan dirinya sehingga terkesan seenaknya sendiri. Penelitian ini juga dimaksudkan untuk mencari jawaban atas fenomena tersebut dengan

(12)

menambahi variabel lingkungan belajar mahasiswa dalam belajar akuntansi di perguruan tinggi.

Tri Maryana Ulfa (2008) menemukan bahwa lingkungan belajar mahasiswa mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar akuntansi. Muhibbin Syah (2003) mengemukakan secara global faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar yaitu faktor internal, faktor eksternal dan faktor pendekatan belajar. Faktor internal yakni keadaan atau kondisi jasmani dan rohani yang meliputi kondisi fisiologis (jasmani) misalnya penglihatan dan pendengaran, kondisi psikologis yang meliputi kecerdasan, bakat, minat, motivasi, emosi dan kemampuan kognitif. Faktor eksternal yakni kondisi lingkungan sekitar seperti sekolah, masyarakat dan keluarga. Faktor pendekatan belajar yakni jenis upaya belajar yang meliputi metode yang digunakan untuk melakukan kegiatan pembelajaran.

Melihat beberapa pendapat di atas ternyata faktor kecerdasan emosional dan lingkungan belajar belum banyak diuji melalui penelitian kependidikan akuntansi. Padalahal lingkungan belajar merupakan manifestasi mahasiswa dalam proses belajar dan kecerdasan emosional melatih kemampuan mahasiswa untuk mengelola perasaannya, memotivasi dirinya, kesanggupan untuk tegar dalam menghadapi frustasi, kesanggupan mengendalikan dorongan dan menunda kepuasan sesaat, mengatur suasana hati yang reaktif, serta mampu berempati dan bekerja sama dengan orang lain sehingga dapat mendukung seorang mahasiswa untuk menghadapi stres kuliah dan mencapai tujuan serta cita-citanya. Berdasarkan fenomena tersebut, penulis tertarik

(13)

melakukan penelitian tentang “Lingkungan Belajar, Kecerdasan Emosional dan Pengaruhnya Terhadap Stres Kuliah (Studi Empiris Mahasiswa Pendidikan Ekonomi, FKIP-UPS Tegal)”.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian tersebut, masalah yang diteliti selanjutnya dapat dirumuskan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut :

“Apakah lingkungan belajar dan kecerdasan emosional mahasiswa berpengaruh secara simultan dan parsial terhadap stres kuliah pada mahasiswa Pendidikan Ekonomi, FKIP-UPS Tegal”?

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk menguji apakah lingkungan belajar dan kecerdasan emosional mahasiswa berpengaruh secara simultan dan parsial terhadap stres kuliah pada mahasiswa Pendidikan Ekonomi, FKIP-UPS Tegal.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan memiliki nilai guna baik secara teoritik maupun kepentingan praktik terutama dalam menghindari stres kuliah sehingga dapat meningkatan prestasi belajar mahasiswa.

(14)

1. Secara teoritik, hasil penelitian ini dimaksudkan untuk memperkaya hasil penelitian terdahulu yang berkenaan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi stres kuliah mahasiswa.

2. Secara praktik, hasil penelitian ini diharapkan dapat diperlakukan sebagai salah satu umpan balik bagi Dirjen Dikti (Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi), Perguruan Tinggi baik negeri maupun swasta, dan berbagai pihak yang bertanggung jawab terhadap peningkatan prestasi belajar mahasiswa. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk meningkatkan kualitas output perguruan tinggi. Selanjutnya penelitian ini diharapkan dapat

dijadikan pijakan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi stres kuliah mahasiswa dalam meningkatkan prestasi belajar di perguruan tinggi.

(15)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Definisi Belajar

Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam penguasaan pola-pola baru terhadap lingkungan. Lingkungan dalam konteks ini berupa keterampilan, kebiasaan, kecakapan, sikap, pengetahuan, pengalaman, dan sebagainya. Menurut Hamalik (2003: 37) merumuskan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungannya. Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh sebuah perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalaman sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya (Slameto, 2002: 2).

Pengertian belajar memang selalu berkaitan dengan perubahan, baik yang meliputi keseluruhan tingkah laku individu maupun yang hanya terjadi pada beberapa aspek dari kepribadian individu. Perubahan ini dengan sendirinya dialami pada tiap-tiap individu atau manusia. Relevan dengan hal tersebut, Sardiman (2001: 21) menyatakan bahwa belajar sama artinya dengan “penambahan pengetahuan”. Konsep tersebut dalam praktiknya hanya diterapkan di sekolah-sekolah atau perguruan tinggi. Para pendidik atau dosen berusaha memberikan ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya sedangkan

(16)

mahasiswa giat untuk mengumpulkan/menerimanya. Dalam kasus yang demikian, dosen hanya berperan sebagai pengajar. Sebagai konsekuensi dari pengertian tersebut, maka muncul banyak pendapat yang menyatakan bahwa belajar adalah menghafal. Hal ini terbukti, bahwa jika akan ujian para mahasiswa akan sibuk mengahafal terlebih dahulu.

Selanjutnya Sardiman (2001: 22) menyatakan bahwa secara umum belajar dapat pula dikatakan sebagai suatu proses interaksi antara diri manusia dengan lingkungannya, yang mungkin berwujud pribadi, fakta, konsep atau teori. Dalam hal ini terkandung maksud bahwa proses interaksi tersebut adalah: 1. Proses internalisasi dari sesuatu ke dalam diri yang belajar.

2. Dilakukan secara aktif, dengan segenap panca indera ikut berperan.

Proses internalisasi yang dilakukan secara aktif dengan segenap indera perlu ada kelanjutannya, yaitu sosialisasi. Proses sosialisasi ini merupakan proses menginteraksikan atau menularkan kepada pihak lain sehingga dapat melahirkan suatu pengalaman yang baru. Dari pengalaman demi pengalaman yang diperoleh akan menyebabkan proses perubahan pada diri seseorang, sehingga mengakibatkan perubahan tingkah laku. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa, terjadinya proses belajar jika senantiasa terjadinya perubahan tingkah laku sebagai akibat dari pengalaman. Sebagai contoh, orang yang belajar itu dapat membuktikan pengetahuan tentang fakta-fakta baru atau dapat melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak dapat melakukannya. Jadi belajar menempatkan seseorang dari status abilitas yang satu ke tingkat abilitas yang lain.

(17)

Mengenai perubahan status abilitas tersebut, Sudjana (2008: 23) menyatakan bahwa ada tiga ranah/arah, yaitu : kognitif, afektif dan psikomotor. Masing-masing ranah atau domain ini dirinci lagi menjadi beberapa jangkauan kemampuan (level of competence). Sudjana (2008: 23) merinci tentang tiga ranah atau arah kemampuan-kemampuan pembelajaran yang dijabarkan sebagai berikut :

1. Domain kognitif, terdiri atas pengetahuan yang khusus, pemahaman/menjelaskan, penggunaan atau aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.

2. Domain afektif, terdiri atas sikap menerima, memberikan respon, menilai, organisasi, dan karakteristik.

3. Domain Psikomotor, terdiri atas gerakan refleks, gerakan dasar dan sederhana, kemampuan menghayati, kemampuan fisik (jasmani), gerakan yang terampil, dan komunikasi ekspresif.

Target jangkauan pencapaian level sebagaimana dijabarkan di tiap-tiap domain/ranah, sudah barang tentu sesuai dengan tujuan belajarnya.

B. Teori Belajar

Dengan berkembangnya psikologi dalam dunia pendidikan, maka bersamaan dengan itu bermunculan pula berbagai teori tentang belajar. Di dalam masa perkembangan psikologi pendidikan ini muncullah secara beruntun beberapa aliran psikologi pendidikan, masing-masing yaitu:

(18)

2. Psikologi kognitif, dan 3. Psikologi humanistis.

Ketiga aliran psikologi pendidikan di atas tumbuh dan berkembang secara beruntun dari periode ke periode berikutnya. Dalam setiap periode perkembangan aliran psikologi tersebut bermunculan teori-teori tentang belajar. Menurut Dalyono (2009: 29) mengatakan bahwa ada tiga jenis teori belajar yang muncul akibat adanya aliran psikologi dalam dunia pendidikan. Teori-teori belajar tersebut yaitu:

1. Teori belajar behavioristik. 2. Teori belajar kognitif. 3. Teori belajar humanistis.

Penjelasan tentang teori-teori belajar tersebut adalah sebagai berikut : 1. Teori Belajar Behavioristik

Teori belajar behavioristik ini dikemukakan oleh para psikolog behavioristik. Mereka ini sering disebut “contemporary behavioists” atau juga disebut “S-R psychologist”. Mereka berpendapat bahwa tingkah laku manusia itu dikendalikan oleh ganjaran (reward) atau penguatan (reinforcement) dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi behavioral dengan stimulasinya.

Dosen yang menganut pandangan ini berpendapat bahwa tingkah laku mahasiswa merupakan reaksi-reaksi terhadap lingkungan mereka pada masa lalu dan masa sekarang dan bahwa segenap tingkah laku merupakan hasil

(19)

belajar. Kita dapat menganalisis kejadian tingkah laku dengan jalan mempelajari latar belakang penguatan (reinforcement) terhadap tingkah laku tersebut.

2. Teori Belajar Kognitif

Dalam teori belajar ini berpendapat bahwa tingkah laku seseorang tidak hanya dikontrol oleh ganjaran (reward) dan penguatan (reinforcement). Mereka ini adalah para ahli jiwa aliran kognitifis. Menurut pendapat mereka, tingkah laku seseorang senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi di mana tingkah laku itu terjadi. Dalam situasi belajar, seseorang terlibat langsung dalam situasi itu dan memperoleh “insight” (pemahaman) untuk pemecahan masalah.

Jadi kaum kognitif berpandangan, bahwa tingkah laku seseorang lebih bergantung kepada “insight” (pemahaman) terhadap hubungan-hubungan yang ada di dalam suatu situasi. Keseluruhan adalah lebih daripada bagian-bagiannya. Mereka memberi tekanan pada organisasi pengamatan atas stimulus di dalam lingkungan serta pada faktor-faktor yang mempengaruhi pengamatan.

3. Teori Belajar Humanistis

Dalam teori belajar ini dikemukakan bahwa perhatian psikologi humanistik yang terutama tertuju pada masalah bagaimana tiap-tiap individu dipengaruhi dan dibimbing oleh maksud-maksud pribadi yang mereka hubungkan kepada pengalaman-pengalaman mereka sendiri. Menurut para

(20)

pendidik aliran humanistis penyusunan dan penyajian materi kuliah harus sesuai dengan perasaan dan perhatian mahasiswa.

Menurut Hamachek dalam psikologi pendidikan yang dikemukakan oleh Dalyono (2009: 43) menyatakan bahwa tujuan utama para pendidik ialah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantunya dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada pada diri mereka sendiri.

C. Keterkaitan Teori Belajar dengan Variabel Penelitian

Ketiga teori di atas terkait dengan dua variabel independent dalam penelitian ini. Variabel lingkungan belajar merupakan faktor kondisional yang mempengaruhi tingkah laku individu dan merupakan faktor belajar yang penting. Variabel ini didukung dengan teori behaviotistik dimana tingkah laku belajar mahasiswa terdapat jalinan yang erat antara reaksi behavioral dengan stimulasinya.

Variabel kecerdasan emosional/emotional skill menjelaskan bahwa kemampuam untuk mengenali perasaan, meraih dan membangkitkan perasaan untuk membantu pikiran, memahami perasaan dan maknanya dan mengendalikan perasaan emosionalnya. Dari pengertian tersebut, variabel Emotional Skill didukung oleh teori humanistik, di mana teori ini bertujuan

(21)

usaha yang dimiliki sehingga mampu mewujudkan potensi yang ada pada diri mahasiswa.

D. Tujuan dan Prinsip-prinsip Belajar

Tujuan belajar secara eksplisit diusahakan untuk dicapai dengan tindakan instruksional, yang lazim dinamakan dengan instructional effects, yang biasa berbentuk pengetahuan dan keterampilan. Selain itu dalam belajar juga terdapat tujuan sampingan yang dapat tercapai jika siswa menghidupi (to live in) suatu sistem lingkungan belajar tertentu seperti kemampuan berpikir kritis dan kreatif, sikap terbuka dan demokratis, serta menerima pendapat orang lain. Semua itu lazim diberi istilah nurturant effects. Dari uraian tersebut dapat dikatakan bahwa tujuan belajar ada tiga jenis, yaitu untuk mendapatkan pengetahuan, penanaman konsep dan keterampilan, dan pembentukan sikap.

Untuk melengkapi pengertian atau makna belajar, Slameto (2002: 27) mengemukakan tentang prinsip-prinsip belajar, yaitu :

1. Berdasarkan pra syarat yang diperlukan untuk belajar.

a. Dalam belajar setiap mahasiswa harus diusahakan berpartisipasi aktif, mampu meningkatkan minat guna pencapaian tujuan instruksional. b. Belajar harus dapat menimbulkan motivasi yang kuat sehingga

mahasiswa memahami tentang tujuan instruksional yang ingin dicapai. c. Belajar memerlukan lingkungan yang menantang di mana mahasiswa

dapat mengembangkan kemampuannya bereksplorasi dan belajar dengan efektif.

(22)

d. Belajar memerlukan interaksi antara mahasiswa dengan lingkungan. 2. Sesuai hakikat belajar

a. Belajar merupakan proses kontinyu, sehingga harus dilakukan tahap demi tahap sesuai dengan perkembangannya.

b. Belajar merupakan proses organisasi, adaptasi, eksplorasi dan discovery. c. Belajar merupakan proses kontinguitas (hubungan antara pengertian yang

satu dengan pengertian yang lain) sehingga mendapatkan pengertian yang diharapkan. Stimulus yang diberikan menimbulkan respon yang diharapkan.

3. Sesuai dengan materi bahan yang harus dipelajari.

a. Belajar bersifat keseluruhan dan materi itu harus memiliki struktur, penyajian yang sederhana, sehingga mahasiswa mudah menangkapnya. b. Belajar harus dapat mengembangkan kemampuan tertentu sesuai dengan

tujuan instruksional yang harus dicapainya. 4. Syarat keberhasilan belajar

a. Belajar memerlukan sarana yang cukup, sehingga mahasiswa dapat belajar dengan baik.

b. Belajar memerlukan repetisi atau pengulangan yang dilakukan berkali-kali agar pengertian/keterampilan/sikap betul-betul dipahami secara mendalam pada mahasiswa.

(23)

E. Lingkungan Belajar

Lingkungan adalah sesuatu yang ada di alam sekitar yang memiliki makna dan atau berpengaruh tertentu kepada individu. (Hamalik: 2003) Lingkungan sebagai pengajaran adalah faktor kondisional yang mempengaruhi tingkah laku individu dan merupakan faktor belajar yang penting.

Slameto (2002: 54) menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat prestasi belajar mahasiswa sebagai berikut:

1. Faktor intern yaitu faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar yang terdiri dari faktor jasmaniah, faktor psikologi, dan faktor kelelahan. 2. Faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar diri individu yang sedang

belajar yang terdiri dari faktor keluarga, faktor sekolah, dan faktor masyarakat.

Keberhasilan mahasiswa dalam mencapai tingkat prestasi yang baik dipengaruhi banyak sekali faktor. Di samping faktor internal yang disampaikan oleh Slameto, lebih rinci lagi dijelaskan bahwa faktor internal meliputi faktor fisiologis dan faktor psikologis yang mencakup kecerdasan, motivasi, bakat, minat dan cara belajar. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor lingkungan belajar yang meliputi lingkungan alam, fisik dan sosial, serta sistem rasional yang mencakup kurikulum, bahan belajar, media pembelajaran, dan metode penyajian. Adapun yang termasuk faktor lingkungan fisik dan sosial adalah lingkungan keluarga dan kampus.

Lingkungan belajar terdiri dari, Pertama, lingkungan sosial yakni lingkungan masyarakat baik kelompok besar ataupun kelompok kecil. Kedua,

(24)

lingkungan personal meliputi individu-individu sebagai suatu pribadi berpengaruh terhadap individu lain. Ketiga, lingkungan alam meliputi sumber daya alam yang dapat dibedakan sebagai sumber belajar. Keempat, lingkungan kultural mencakup hasil budaya dan teknologi yang dijadikan faktor pendukung pengajaran.

Sedangkan pendapat lain disampaikan oleh Walgito (2004: 127) bahwa dalam proses belajar, faktor lingkungan memegang peranan penting karena faktor lingkungan ini berhubungan dengan tempat, alat-alat belajar, suasana, waktu, dan pergaulan. Hal tersebut dikarenakan:

1. Tempat yang digunakan untuk belajar sangat berpengaruh terhadap hasil belajar mahasiswa. Ruang kelas yang terang, udara lancar, rapi akan menjadikan mahasiswa nyaman dalam belajar.

2. Belajar tidak akan dapat berjalan dengan baik tanpa adanya alat belajar yang lengkap atau secukupnya. Semakin lengkap alat-alat perkuliahan, mahasiswa akan semakin dapat belajar dengan baik.

3. Suasana kampus maupun suasana kelas yang nyaman akan menciptakan suasana belajar yang baik dan dapat memotivasi belajar mahasiswa untuk meningkatkan prestasinya.

4. Lamanya waktu belajar dan pemilihan waktu untuk belajar di kampus akan mempengaruhi prestasi belajar yang dicapai mahasiswa.

5. Pergaulan mempunyai pengaruh dalam belajar. Pergaulan antar mahasiswa dan hubungan mahasiswa dengan dosen yang harmonis akan berpengaruh baik pada belajar mahasiswa.

(25)

F. Kecerdasan Emosional

Menurut Wibowo (2002) kecerdasan emosional adalah kecerdasan untuk menggunakan emosi sesuai dengan keinginan, kemampuan untuk mengendalikan emosi sehingga memberikan dampak yang positif. Kecerdasan emosional dapat membantu membangun hubungan dalam rangka menuju kebahagiaan dan kesejahteraan. Sedangkan menurut Goleman (2000) kecerdasan emosional adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi, dan pengaruh yang manusiawi. Menurut Salovey dan Mayer (dalam Stein dan Howard, 2002), pencipta istilah “kecerdasan emosional”, mendefinisikan kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenali perasaan, meraih dan membangkitkan perasaan untuk membantu pikiran, memahami perasaan dan maknanya, dan mengendalikan perasaan secara mendalam sehingga membantu perkembangan emosi dan intelektual.

Dari beberapa pendapat di atas dapatlah dikatakan bahwa kecerdasan emosional menuntut diri untuk belajar mengakui dan menghargai perasaan diri sendiri dan orang lain dan untuk menanggapinya dengan tepat, menerapkan dengan efektif energi emosi dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari. Menurut Mu’tadin (2002) terdapat tiga unsur penting kecerdasan emosional yang terdiri dari: kecakapan pribadi (mengelola diri sendiri); kecakapan sosial (menangani suatu hubungan) dan keterampilan

(26)

sosial (kepandaian menggugah tanggapan yang dikehendaki pada orang lain).

Goleman (2000) menyatakan bahwa kemampuan akademik bawaan, nilai rapor, dan prediksi kelulusan pendidikan tinggi tidak memprediksi seberapa baik kinerja seseorang sudah bekerja atau seberapa tinggi sukses yang dicapainya dalam hidup. Sebaliknya ia menyatakan bahwa seperangkat kecakapan khusus seperti empati, disiplin diri, dan inisiatif mampu membedakan orang sukses dari mereka yang berprestasi biasa-biasa saja, selain kecerdasan akal yang dapat mempengaruhi keberhasilan orang dalam bekerja. Ia juga tidak mempertentangkan kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional, melainkan memperlihatkan adanya kecerdasan yang bersifat emosional, ia berusaha menemukan keseimbangan cerdas antara emosi dan akal. Kecerdasan emosional menentukan seberapa baik seseorang menggunakan keterampilan-keterampilan yang dimilikinya, termasuk keterampilan intelektual. Paradigma lama menganggap yang ideal adalah adanya nalar yang bebas dari emosi, paradigma baru menganggap adanya kesesuaian antara kepala dan hati.

Pada kenyataannya diakui bahwa kecerdasan emosional memiliki peran yang sangat penting untuk mencapai kesuksesan di perguruan tinggi, tempat kerja, dan dalam berkomunikasi di lingkungan masyarakat. Oleh karena itu, wilayah yang ikut berperan dalam kecerdasan emosional meliputi:

(27)

Wilayah pengendalian diri sama halnya dengan kemampuan dalam mengelola atau mengatur emosi sebagai landasan dalam mengenal diri sendiri atas emosi. Emosi dikatakan berhasil jika dapat dikelola dengan baik. Adapun langkah-langkah yang dilakukan hendaknya mampu menghibur diri ketika ditimpa kesedihan, dapat melepas kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan dan bangkit kembali dengan cepat dari semua itu.

Sebaliknya orang yang buruk kemampuannya dalam mengelola emosi akan terus menerus bertarung melawan perasaan, melarikan diri pada hal-hal yang negatif. Maka pada dasarnya semua yang dilakukan akan membawa akibat dalam kemampuan mengatasi emosi diri sendiri agar dapat mengungkapkan secara tepat solusi atau jalan keluar ketika mengalami emosi.

2. Wilayah motivasi

Arti dari memotivasi diri merupakan usaha yang dilakukan seseorang untuk tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendaki. Kemampuan seseorang dalam memotivasi diri dapat ditelusuri melalui berbagai hal, diantaranya:

a. Cara mengendalikan dorongan hati

b. Derajat kecemasan yang berpengaruh terhadap unjuk kerja sekarang c. Kekuatan berpikir positif

(28)

Maka seseorang yang memiliki kemampuan memotivasi diri akan cenderung memiliki pandangan yang positif dalam menilai segala sesuatu yang terjadi dalam dirinya. Selain itu juga memiliki keinginan yang berbeda-beda antara orang yang satu dengan yang lainnya.

Gambar 2.1

Bagan Kecakapan Kecerdasan Emosional

Sumber: Interprestasi bebas dari Goleman (2000) oleh Bulo (2002) Kecerdasan

Emosional

Kecakapan Pribadi Kecakapan Sosial

Kesadaran Diri -Kesadaran Emosional -Penilaian Diri yang Kuat -Kepercayaan Diri

Empati -Memahami Orang Lain -Mengembangkan Orang -Orientasi Pelayanan -Kesadaran Politik Kendali Diri -Kontrol Diri -Dapat Dipercaya -Berhati-hati -Adaptabilitas -Inovasi Keterampilan Sosial -Pengaruh -Komunikasi -Manajemen Konflik -Kepemimpinan -Katalisator Perubahan -Membangun Ikatan -Kolaborasi dan Kooperasi -Kemampuan Tim Motivasi -Dorongan Berprestasi -Komitmen -Inisiatif -Optimisme

(29)

G. Stres Kuliah

Permasalahan stres ketika kuliah merupakan permasalahan klasik. Ketika nilai yang diperoleh mahasiswa jatuh atau di bawah target yang diinginkan, ketika sulit mengikuti materi kuliah, ketika sibuk mengatur waktu (bagi yang aktivis), tuntutan orang tua, merupakan hal-hal yang sering memicu munculnya stres. Ada beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya stres, yaitu:

1. Standar pendidikan yang tinggi

Kurikulum pada sistem pendidikan telah dikembangkan menjadi lebih banyak materi dengan standar yang lebih tinggi. Hal ini berdampak pada munculnya persaingan ketat, jam belajar ditambah dan tugas dilipatgandakan.

2. Keinginan yang tidak terpenuhi

Munculnya persaingan untuk mendapatkan sesuatu atau seperti milik orang lain, membuat stres ketika keinginannya tidak terpenuhi.

3. Tekanan untuk berprestasi

Adanya tekanan harus memperoleh nilai yang baik dalam setiap ujian yang dihadapi, dimana tekanan muncul bisa dari orang tua, keluarga, dosen, tetangga, teman dan diri sendiri.

4. Penolakan sosial

Tekanan sosial yang terbentuk dari penghargaan masyarakat terhadap pendidikan tinggi, dapat membuat stres dalam upayanya memenuhi syarat sosial tersebut.

(30)

5. Persaingan antar orang tua

Adanya aturan orang tua yang mengharuskan anak mengikuti kegiatan yang ditentukan orang tua mendorong anak menuju tahapan stres belajar.

Di samping faktor-faktor tersebut, terjadinya proses stres juga dapat didahului oleh adanya sumber stres (stresor) yaitu setiap keadaan yang dirasakan orang mengancam dan membahayakan dirinya. Istilah stres atau ketegangan memiliki konotasi yang beragam. Bagi sementara orang, stres dapat menggambarkan keadaan psikhis yang telah mengalami berbagai tekanan yang melampaui batas ketahanannya. Sementara orang lain mengatakan stres bersifat subyektif hanya berhubungan dengan kondsi-kondisi psikologis dan emosi seseorang. Adapula yang menganggap stres dan ketegangan merupakan faktor sebab akibat. Namun banyak orang cenderung mengangap stres serbagai tanggapan patologos (proses penyimpangan kondisi biologis yang sehat) terhadap tekanan-tekanan psikologis dan sosial yang berhubungan pekerjaan dan lingkungannya.

Ivianchevic dan Martinson (1993) dalam Yulianti (2002) mendifinisikan stres secara sederhana sebagai interaksi individu dengan angkatan. Kemudian difinisi tersebut dirinci lebih jauh sebagai respon yang adaptif ditengahi oleh perbedaan individual dan proses psikologis yang merupakan konsekuensi dari tindakan dan sistem internal atau kejadian yang meminta kondisi psikologis dan fisik seseorang secara berlebihan. Stres adalah suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berfikir dan kondisi seseorang. Stres yang

(31)

terlalu besar dapat mengancam kemampuan atau kondisi seseorang dalam menghadapi lingkungan (Handoko, 2000).

Dilihat dari sudut pandang orang yang mengalami stres seseorang akan memberikan tanggapan terhadap hal-hal yang dinilai mendatangkan stres. Tanggapan orang terhadap sumber stres dapat berpengaruh pada segi psikologi dan fisiologis. Tanggapan ini disebut strain, yaitu tekanan atau ketegangan. Seseorang yamg mengalami stres secara psikologis menderita tekanan dan ketegangan yang membuat pola pikir seseorang menjadi kacau. Dalam proses itu, hal yang dapat menyebabkan stres dan pengalaman orang yang mengalami stres akan saling berkaitan. Proses itu merupakan pengaruh timbal balik dan menciptakan usaha atau penyesuaian atau tepatnya penyeimbangan, yang terus menerus antara orang yang mengalami stres dan keadaan yang penuh stres.

H. Kerangka Pemikiran

Temuan yang diharapkan dari pengungkapan faktor kecerdasan emosional dan perilaku belajar terhadap stres kuliah pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Pancasakti Tegal tersebut adalah sebuah model empiris yang dituangkan dalam kerangka pemikiran. Model penelitian atau kerangka pemikiran teoritis yang dibangun sebagai berikut:

(32)

Bagan 2.1 Kerangka pemikiran teori Lingkungan Belajar dan Kecerdasan Emosional mempengaruhi Stres Kuliah pada Mahasiswa Pendidikan Ekonomi, FKIP-UPS Tegal

I. Hipotesis Penelitian

Dari uraian di atas maka selanjutnya hipotesis yang dibangun adalah sebagai berikut :

Ha1: Lingkungan belajar dan kecerdasan emosional berpengaruh terhadap stres kuliah.

Ha2: Lingkungan belajar (tempat belajar yang baik, alat belajar di sekolah dan di rumah yang dimiliki oleh siswa, suasana belajar di sekolah dan di rumah, metode mengajar yang dilakukan oleh guru, disiplin sekolah, dan hubungan atau relasi siswa pada saat belajar berpengaruh terhadap stres kuliah.

Ha3: Kecerdasan emosional (kemampuan pengenalan diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan kemampuan sosial) berpengaruh terhadap stres kuliah.

Lingkungan Belajar

Kecerdasan Emosional

(33)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel

Populasi dalam penelitian adalah mahasiswa FKIP-Universitas Pancasakti Tegal. Penentuan Sampel menggunakan teknik purposive sampling, sampel diambil dari populasi untuk memperoleh informasi yang diinginkan dan memenuhi kriteria tertentu (Uma Sekaran, 2006). Kriteria-kriteria yang ditentukan oleh peneliti adalah sebagai berikut:

1. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi.

2. Mahasiswa yang menjadi sampel adalah mahasiswa tingkat akhir, karena mahasiswa angkatan tersebut sudah mengalami proses pembelajaran yang lama dan saat ini sedang melakukan tugas akhir, menjelang kelulusan.

Berdasarkan kriteria tersebut, maka responden penelitian ini adalah mahasiswa semester VIII (delapan) sebanyak 87 mahasiswa yang tersebar pada tiga kelas. Data penelitian diperoleh melalui pengiriman kuesioner dan wawancara dengan responden penelitian. Wawancara ini dilakukan untuk memperoleh kepastian bahwa kuesioner diberikan kepada subjek yang tepat, artinya kuesioner diberikan pada mahasiswa yang diharapkan mempunyai respek terhadap setiap perkembangan sehingga jawaban yang diberikan menunjukkan gambaran keadaan yang sebenarnya. Oleh karena itu penulis tidak memaksa mahasiswa yang menolak untuk memberikan jawaban (mengisi

(34)

sambutan dan perhatian pihak-pihak yang terkait dalam penelitian ini dapat memberi kontribusi optimal.

Merujuk pada pendapat yang disampaikan oleh Suharsimi Arikunto (2010: 174) bahwa jika jumlah populasi kurang dari 100 maka populasi pada penelitian tersebut sekaligus dijadika sampel penelitian. Sehingga penelitian ini merupakan penelitian populasi.

B. Jenis dan Sumber Data

Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Penelitian jenis ini adalah penelitian yang melibatkan angka-angka statistik yang kemudian dideskripsikan dengan menggunakan kalimat.

Data adalah segala fakta dan angka yang dapat dijadikan bahan untuk menyusun sebuah informasi. Dalam penelitian ini, data yang digunakan adalah data primer. Data primer yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data yang didapat dari jawaban responden terhadap serangkaian pertanyaan yang diajukan peneliti. Sedangkan responden yang menjawab daftar pertanyaan tersebut adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Pancasakti Tegal tingkat akhir.

C. Variabel Penelitian

Pada penelitian ini, variabel yang digunakan sebagai titik perhatian adalah :

(35)

Variabel terikat/dependent variable penelitian adalah Stres Kuliah. 2. Variabel bebas/independent variable

Variabel bebas/independent variable pada penelitian ini ada dua, yaitu Lingkungan Belajar dan Kecerdasan Emosional.

D. Definisi Operasional Variabel 1. Variabel Independen (X)

a. Lingkungan Belajar (X1)

Lingkungan Belajar merupakan variabel yang diukur dengan 10 pertanyaan dari pertanyaan nomor 1 sampai dengan nomor 10. Adapun indikator untuk variabel Lingkungan Belajar adalah sebagai berikut: Tabel 3.7 Indikator Variabel Lingkungan Belajar

No Indikator Nomor Pertanyaan

1 Tempat belajar :

a. Tempat belajar di perguruan tinggi/kampus

b. Tempat belajar di rumah

1 2

2 Alat belajar 3 dan 4

3 Suasana belajar

a. Suasana belajar di perguruan tinggi/kampus

b. Suasana belajar di rumah

5 6 4 Waktu kuliah 7 5 Disiplin kuliah 8 6 Metode mengajar 9 7 Relasi mahasiswa 10

(36)

b. Kecerdasan Emosional (X2)

Kecerdasan emosional merupakan variabel yang diukur dengan 10 pertanyaan dari pertanyaan nomor 11 sampai dengan nomor 20. Isi pertanyaan untuk mengetahui kemampuan mahasiswa dalam pengendalian diri dan motivasi terutama dalam mengatasi stres kuliah. Adapun indikator dari variabel Kecerdasan Emosional adalah sebagai berikut:

Tabel 3.6 Indikator Variabel Kecerdasan Emosional

No Indikator Nomor Pertanyaan

1 Pengendalian diri 11, 12, 13, dan 14

2 Motivasi 15, 16, 17, 18, 19, dan 20

c. Variabel Dependen (Y)

Stres kuliah adalah suatu keadaan yang membuat mahasiswa merasa tertekan dalam kuliahnya sehingga konsentrasi belajar terganggu, penyebabnya adalah adanya kesalahan perilaku belajar atau keadaan lain misalnya lingkungan. Stres kuliah diukur dalam lima item pernyataan.

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Teknik Angket (Kuestioner)

Dalam penelitian ini, peneliti memilih menggunakan angket karena angket merupakan cara pengumpulan data yang paling cepat dan efesien untuk

(37)

mendapatkan data-data dari responden yang di perlukan dalam proses penelitian ini.

2. Wawancara

Peneliti menggunakan teknik wawancara untuk mengetahui kondisi psikologis mahasiswa pendidikan ekonomi FKIP-Universitas Pancasakti Tegal.

3. Pengamatan (Observasi)

Adalah alat pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati perilaku mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP-Universitas Pancasakti Tegal khususnya dalam mengikuti perkuliahan di Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP-Universitas.

F. Uji Instrumen Penelitian

Kualitas data yang dihasilkan dari penggunaan instrumen penelitian dapat dievaluasi melalui uji reliabilitas dan validitas. Uji tersebut masing-masing untuk mengetahui konsistensi dan akurasi data yang dikumpulkan dari penggunaan instrumen.

Sebuah instrumen memiliki validitas tinggi apabila butir-butir yang membentuk instrumen tidak menyimpang dari fungsi instrumen tersebut. Uji validitas pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan korelasi product moment. Suatu butir kuesioner dapat dianggap valid jika syarat minimal

(38)

Analisis reliabilitas (mengukur keandalan kuesioner) dilakukan dengan menggunakan koefisien reliabilitas alpha cronbach (r-alpha). Keandalan item pernyataan dianggap cukup jika koefisien yang diperoleh lebih besar dari 0,5.

G. Teknik Analisis Data

Data penelitian dianalisis dengan menggunakan alat statistik, yaitu statistik deskriptif tentang gambaran kondisi demografi responden penelitian (umur, pendidikan, jenis kelamin) dan deskripsi tentang variabel-variabel penelitian. Selain itu, metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis one-tailed. Dalam penelitian ini analisis regresi yang digunakan sebagai model untuk memprediksi hubungan antara satu variabel dependen dengan beberapa variabel independen. Selanjutnya dengan Uji F untuk mengetahui secara keseluruhan pengaruh dari semua variabel independen secara simultan terhadap variabel dependen. Model persamaan regresi berganda yang digunakan untuk mengetahui pengaruh Lingkungan Belajar (X1) dan Kecerdasan Emosional (X2) terhadap Stres Kuliah (Y) adalah sebagai berikut:

Dalam hal ini adalah:

0 b = Konstanta 1  = Lingkungan Belajar 2  = Kecerdasan emosional  = Stres kuliah Y = b0 + β1X1 + β2X2 + e

(39)

2 1,b

b = Koefisien regresi untuk X1 dan X2 e = error term

(40)

BAB IV

DESKRIPSI DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Hasil Penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa S1 Pendidikan Ekonomi, FKIP Universitas Pancasakti Tegal yang berada pada semester VIII. Penyajian data diskriptif penelitian bertujuan agar dapat dilihat profil dari data penelitian tersebut dan hubungan yang ada antar variabel yang digunakan dalam penelitian tersebut (Toni Wijaya, 2009). Data deskriptif yang menggambarkan keadaan/kondisi responden merupakan informasi tambahan untuk memahami hasil-hasil penelitian. Dalam sub bab ini akan disajikan data deskriptif demografi responden dan variabel yang digunakan dalam penelitian ini.

1. Statistik Dekriptif Responden

Statistik deskriptif mengenai karakteristik responden yaitu demografi responden yang berpartisipasi pada penelitian ini. Demografi responden ini menggambarkan, jenis kelamin, usia, dan pendidikan. Gambaran karakteristik responden pada penelitian ini tercantum pada tabel berikut:

Tabel 4.2 Statistik Deskriptif: Karakteristik Responden

Karakteristik Responden Frekuensi Persentase

Ukuran Sampel 87 100 Jenis Kelamin Pria Wanita 29 58 33,3 66,7 Umur 20 th 21 th 22 th 23 th 5 49 22 11 5,75 56,3 25,3 12,6

(41)

Jumlah keseluruhan kuesioner yang disebar adalah 87 kuesioner dengan tingkat pengembalian sebesar 87 (100%) kuesioner yang kembali, dan dari kuesioner yang diterima terdapat 81 kuesioner memberi jawaban lengkap, sedangkan sisanya sejumlah 6 kuesioner memberi jawaban tidak lengkap. Adapun demografi responden dijelaskan dalam tabel 10, jumlah responden pria sebesar 33,3% dan jumlah responden wanita 66.7%. Sedangkan jika responden dilihat dari tingkat umur, yang berumur 20 th sejumlah 5,75%, berumur 21 tahun berjumlah 56,3%, berumur 22 tahun berjumlah 25,3% sedangkan yang berumur 23 tahun berjumlah 12,6%.

2. Statistik Deskriptif Variabel

Untuk memberikan gambaran mengenai variabel-variabel penelitian (Lingkungan Belajar dan Kecerdasan Emosional serta Stres Kuliah) digunakan tabel frekuensi absolut yang menunjukkan kisaran teoritis, kisaran sesungguhnya, angka rata-rata dan standar deviasi yang disajikan dalam tabel berikut :

Tabel 4.3 Statistik Deskriptif Variabel Variabel Kisaran Teoritis Kisaran Sesungguhnya Rata-rata Deviasi Standar Lingkungan Belajar 10-50 11-40 25,8727 4,4968 Kecerdasan Emosional 10-50 21-45 35,1136 4,2578 Stres Kuliah 1-5 2-5 3,0591 0,5582

Sumber : Data yang diolah

Berdasarkan deskriptif data penelitian pada tabel 4.3, dapat diketahui bahwa jawaban responden untuk variabel Lingkungan Belajar mempunyai skor jawaban dengan kisaran 11 sampai dengan 40 dan kisaran teoritis 10

(42)

sampai dengan 50 dengan rata-rata jawaban sebesar 2,58727 (25,8727 dibagi dengan 10). Kisaran tersebut menunjukkan bahwa jawaban responden tentang Lingkungan Belajar berada dalam kisaran teoritis (2,45 sampai dengan 2,8). Standar deviasi sebesar 4,4968 menunjukkan terdapat perbedaan jawaban responden yang satu dengan responden yang lainnya.

Variabel Kecerdasan Emosional sebesar 21 sampai dengan 45 dengan kisaran teoritis sebesar 10 sampai dengan 50. Rata-rata jawaban untuk variabel Kecerdasan Emosional sebesar 3,51136 (35,1136 dibagi 10). Rata-rata tersebut memperlihatkan bahwa jawaban responden untuk variabel Kecerdasan Emosional masih berada pada kisaran teoritis (2,9545 sampai dengan 4,0409). Standar deviasi variabel Kecerdasan Emosional sebesar 4,2578 menunjukkan perbedaan jawaban responden.

Sedangkan variabel Stres Kuliah kisaran teoritisnya antara 1-5 dengan kisaran sesungguhnya antara 2-5 dan mempunyai rata-rata jawaban sebesar 3,0591 (3,0591 dibagi dengan 1). Standar deviasi sebesar 0,5582 menunjukkan terdapat perbedaan jawaban responden yang satu dengan responden yang lainnya.

3. Uji Kualitas Data

Kualitas data yang diperoleh dari penggunaan instrumen penelitian dapat dievalusi melalui uji reliabilitas dan validitas (Toni Wijaya, 2009). Uji reliabilitas dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui konsistensi derajat

(43)

ketergantungan dan stabilitas dari alat ukur. Dari hasil uji reliabilitas yang dilakukan dengan program statistik SPSS 17.0, bahwa suatu kontruk atau variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai Cronbach lebih besar dari 0.60 (Sekaran, 2006). Sedangkan uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu instrumen pengukuran variabel dalam kuesioner. Uji validitas dalam penelitian ini menggunakan analisis faktor dengan menggunakan nilai Kaiser MSA di atas 0,50 (Kaiser dan Rice, 1974). Adapun ringkasan hasil perhitungan dari lampiran 1 sampai dengan 13 dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.4 Ringkasan Hasil Perhitungan Reliabilitas dan Analisis Faktor

Variabel Hasil Perhitungan Reliabilitas Alpha Cronbach Variabel Indikator Hasil Perhitungan Analisis faktor dengan Kaiser MSA di atas 0,50 Lingkungan Belajar 0. 6735 X1, X2, X3, X4, X5, X6, X7, X8, X9, X10 X6, X7, X8, X9, X10 Kecerdasan Emosional 0. 7033 X11, X12, X13, X14, X15, X16, X17, X18, X19, X20 X16, X17, X18, X19, X20

Sumber : Data yang diolah

Berdasarkan hasil uji reliabilitas dengan menggunakan alpha cronbach diketahui bahwa variabel Lingkungan Belajar memiliki nilai alpha sebesar 0,6735. Untuk variabel Kecerdasan Emosional memiliki alpha sebesar 0,7033. Menurut Sekaran (2006) sebuah variabel dikatakan reliabel apabila alpha  0,6. Dengan demikian semua variabel dalam penelitian ini reliabel.

(44)

Berdasarkan hasil uji validitas dengan menggunakan analisis faktor diketahui bahwa tidak semua item pada masing-masing variabel valid. Pada variabel Lingkungan Belajar item yang valid yaitu item 6,7,8,9, dan 10. Sedangkan variabel Kecerdasan Emosional, item yang valid adalah item nomor 16, 17, 18, 19, dan 20. Berdasarkan perhitungan analisis faktor tersebut, maka dalam penelitian ini item yang tidak valid tidak digunakan atau dibuang.

4. Analisis Regresi Linier

Berikut ini hasil analisis regresi linier berganda analisis faktor-faktor yang mempengaruhi stres kuliah:

Tabel 4.6 Ringkasan Analisis Regresi Linier Berganda

Model Summary

Model R R Square Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1 ,560(a) ,314 ,294 53,465

a Predictors: (Constant), LING, EMOTIONA

Dari tabel tersebut, nilai R sebesar 0,560 menunjukkan korelasi ganda (Lingkungan Belajar dan Kecerdasan Emosional) dengan Stres Kuliah.

Nilai Adjusted R Square sebesar 0,294 menunjukkan besarnya peran atau kontribusi variabel Lingkungan Belajar dan Kecerdasan Emosional mampu menjelaskan variabel Stres Kuliah sebesar 29,4%.

5. Pengujian Hipotesis

(45)

Hipotesis 1 adalah variabel Lingkungan Belajar dan Kecerdasan Emosional secara simultan berpengaruh terhadap Stres Kuliah diterima. Rangkuman hasil uji hipotesis 1 disajikan dalam tabel berikut :

Tabel 4.7 Uji Signifikansi Simultan

ANOVA(b)

Model

Sum of

Squares Df Mean Square F Sig.

1 Regression 285426,511 6 47571,085 16,835 ,000(a)

Residual 601888,489 213 2825,768

Total 887315,000 219

a Predictors: (Constant), LING, EMOTIONA b Dependent Variable: STRES KULIAH

Analisis berdasarkan uji F atau uji signifikansi simultan menjawab hipotesis pertama, yaitu Lingkungan Belajar dan Kecerdasan Emosional secara simultan berpengaruh terhadap Stres Kuliah diterima. Nilai probabilitas F (F-hitung) dalam regresi linear berganda 0,000  0,05 menjelaskan bahwa hipotesis (Ha) yang diajukan diterima. Hal ini berarti bahwa variabel Lingkungan Belajar dan Kecerdasan Emosional secara bersama-sama berpengaruh terhadap Stres Kuliah.

(46)

Tabel 4.8 Uji t

Coefficients(a)

a Dependent Variable: Stres Kuliah

b. Hasil Pengujian Hipotesis 2

Hasil output SPSS dalam tabel 4.8 menunjukkan koefisien beta untuk lingkungan belajar adalah 0,129 dengan signifikansi 0,028. Nilai signifikansi sebesar 0,028 ini lebih kecil 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa variabel independen yaitu Lingkungan Belajar berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen yaitu Stres Kuliah. Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan Lingkungan Belajar berpengaruh terhadap Stres Kuliah diterima atau benar.

c. Hasil Pengujian Hipotesis 3

Hasil output SPSS dalam tabel 4.8 menunjukkan koefisien beta Kecerdasan Emosional sebesar 0,183 dengan signifikansi sebesar 0,003. Nilai signifikansi sebesar 0,003 lebih kecil dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa variabel independen yaitu Kecerdasan Emosional berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen yaitu Stres Kuliah. Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan Kecerdasan Emosional berpengaruh terhadap Stres Kuliah diterima atau benar.

Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 331,858 60,587 5,477 ,000 Lingkungan Belajar 1,822 ,824 ,129 2,212 ,028 Kecerdasan emotional 2,738 ,902 ,183 3,036 ,003

(47)

Berdasarkan tabel 4.8 di atas dapat dirumuskan suatu persamaan regresi pengaruh Lingkungan Belajar dan Kecerdasan Emosional terhadap Stres Kuliah sebagai berikut:

Y = 0,129X1 + 0,183X2

Dari persamaan regresi tersebut, jika tidak terdapat Lingkungan Belajar dan Kecerdasan Emosional maka Stres Kuliah mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Pancasakti Tegal 0.

Keterangan:

Y = Stres Kuliah

X1 = Lingkungan Belajar X2 = Kecerdasan Emosional

Untuk memudahkan menganalisis hasil pengujian hipotesis yang dibangun berikut ini yang terdapat dalam tabel 4.9 memuat kesimpulan hasil pengujian hipotesis penelitian.

Tabel 4.9 Kesimpulan Hasil Pengujian Hipotesis Penelitian

Hipotesis Bunyi Hipotesis Hasil

Pengujian H1 Lingkungan Belajar dan Kecerdasan

Emosional berpengaruh terhadap Stres Kuliah mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Pancasakti Tegal

Diterima

H2 Lingkungan Belajar berpengaruh terhadap Stres Kuliah mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Pancasakti Tegal

Diterima

H3 Kecerdasan Emosional berpengaruh terhadap Stres Kuliah mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Pancasakti Tegal

(48)

B. Pembahasan

Analisis berikut merupakan jawaban dari rumusan masalah yang diformulasikan dalam hipotesis sebagai berikut:

1. Dari uji ANOVA atau F test, didapat F hitung sebesar 16,835 dengan tingkat probabilitas 0.000 (signifikansi). Karena probabilitas jauh lebih kecil dari 0,05, maka model regresi dapat dikatakan bahwa variabel independen yaitu Lingkungan Belajar dan Kecerdasan Emosional secara simultan berpengaruh terhadap Stres Kuliah mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Pancasakti Tegal, dengan demikian hipotesis 1 dapat diterima dan signifikan.

2. Berdasarkan hasil output SPSS dalam tabel 4.8 menunjukkan bahwa variabel independen yaitu Lingkungan Belajar berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen yaitu Stres Kuliah. Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan Lingkungan Belajar berpengaruh terhadap Stres Kuliah mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Pancasakti Tegal diterima atau benar. Apabila Lingkungan Belajar mahasiswa baik maka mempengaruhi dan menekan stres kuliah mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Pancasakti Tegal. Lingkungan belajar merupakan faktor kondisional yang mempengaruhi tingkah laku individu dan merupakan faktor belajar yang penting serta mampu menekan munculnya stres kuliah. Hasil pengujian ini berhasil mendukung temuan Tri Maryana Ulfah (2008) yang menyatakan bahwa lingkungan belajar berpengaruh positif terhadap prestasi belajar.

(49)

3. Berdasarkan hasil output SPSS dalam tabel 4.8 menunjukkan bahwa variabel independen yaitu Kecerdasan Emosional berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen yaitu Stres Kuliah. Dengan demikian, hipotesis yang menyatakan Kecerdasan Emosional berpengaruh terhadap Stres Kuliah mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Pancasakti Tegal diterima atau benar. Apabila Kecerdasan Emosional mahasiswa baik maka mempengaruhi dan dan menekan stres kuliah mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Pancasakti Tegal.

Kecerdasan Emosional merupakan kemampuan untuk mengenali perasaan, meraih dan membangkitkan perasaan untuk membantu pikiran, memahami perasaan dan maknanya, dan mengendalikan perasaan secara mendalam sehingga membantu perkembangan emosi dan intelektual. Hasil ini sesuai dengan pendapat Goleman (2000) tentang kecerdasan emosional yaitu kemampuan merasakan, memahami, dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi, dan pengaruh yang manusiawi. Hasil pengujian ini berhasil mendukung temuan Rissyo Melandi dan Nurna Aziza (2006) yang menyatakan bahwa kecerdasan emosional berupa pengendalian diri dan empati berpengaruh positif terhadap pemahaman akuntansi.

(50)

BAB V

KESIMPULAN HASIL PENELITIAN

A. Kesimpulan

1. Pengujian secara bersama-sama menunjukkan hasil yang signifikan. Dengan demikian Lingkungan Belajar dan Kecerdasan Emosional secara simultan berpengaruh terhadap Stres Kuliah mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Pancasakti Tegal.

2. Lingkungan belajar berpengaruh positif terhadap Stres Kuliah mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Pancasakti Tegal. Pengujian ini menunjukkan hasil yang signifikan dan berarti dapat disimpulkan bahwa lingkungan belajar yang baik dapat mengurangi stres kuliah pada mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Pancasakti Tegal. Hasil pengujian ini sesuai dengan pendapat Walgito (2004: 127) bahwa dalam proses belajar, faktor lingkungan memegang peranan penting karena faktor lingkungan ini berhubungan dengan tempat, alat-alat belajar, suasana, waktu, dan pergaulan. Hasil temuan ini konsisten dengan Tri Maryana Ulfah (2008) yang menyatakan bahwa lingkungan belajar berpengaruh positif terhadap prestasi belajar akuntansi.

3. Kecerdasan Emosional berpengaruh positif terhadap Stres Kuliah mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Pancasakti Tegal. Pengujian ini menunjukkan hasil yang signifikan berarti dapat disimpulkan bahwa Kecerdasan Emosional mahasiswa dapat

(51)

menekan dan mengurangi Stres Kuliah mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Pancasakti Tegal. Hasil temuan ini konsisten dengan Risyo Melandy RM dan Nurna Aziza (2006) menyatakan bahwa Kecerdasan emosional yaitu pengendalian diri dan empati berpengaruh positif terhadap tingkat pemahaman akuntansi.

B. Keterbatasan

Penelitian ini memiliki sejumlah keterbatasan yang kemungkinan dapat menimbulkan gangguan pada hasil penelitian ini:

Pertama adalah data yang dianalisis dalam penelitian menggunakan instrumen yang berdasar pada persepsi jawaban responden. Hal tersebut akan menimbulkan masalah jika persepsi responden berbeda dengan keadaan yang sesungguhnya. Dalam penelitian ini peneliti hanya menerapkan metode survai melalui kuesioner dan penulis tidak melakukan wawancara langsung dalam aktivitas pendidikan responden, sehingga kesimpulan yang diambil hanya berdasarkan pada data yang dikumpulkan melalui instrumen secara tertulis.

Kedua peneliti ini menggunakan subjek penelitian yang terbatas, yaitu mahasiswa S1 Program Studi Pendidikan Ekonomi, FKIP Universitas Pancasakti Tegal semester VIII yang berjumlah 87 mahasiswa, dengan metode pengumpulan sampel purposive sampling. Dengan demikian perlu kehati-hatian dalam menggeneralisasi hasil penelitian dalam setting yang berbeda.

(52)

C. Implikasi dan Saran 1. Implikasi Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rekomendasi bagi dunia pendidikan umumnya dan khususnya pendidikan ekonomi terutama yang berkaitan dengan cara untuk menghindari dan mengurangi stres kuliah mahasiswa dengan memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi dalam rangka meningkatan proses belajar mengajar.

Temuan penelitian ini juga mengindikasikan bahwa faktor Lingkungan Belajar dan Kecerdasan Emosional secara sinergis berpengaruh signifikan terhadap Stres Kuliah mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Pancasakti Tegal. Jika kedua faktor ini dapat dibangun dan lebih dikembangkan selama perkuliahan, maka besar kemungkinan dapat mengoptimalkan dan menghindarkan mahasiswa pada stres kuliah.

2. Saran

Berdasarkan temuan hasil penelitian, peneliti mengajukan saran kepada Dosen Pengampu pada Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Pancasakti Tegal, hendaknya sebelum memberikan perkuliahan perlu diketahui dan dipertimbangkan potensi-potensi yang dimiliki mahasiswa dengan mengungkapkan faktor-faktor yang berpengaruh positif terhadap pada mata kuliah yang diampu. Demikian juga hendaknya dapat mensinergikan faktor-faktor yang telah terbukti berpengaruh positif dan signifikan (Lingkungan Belajar dan Kecerdasan Emosional) terhadap Stres

(53)

Kuliah mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Pancasakti Tegal, proses dan hasil belajar dalam perkuliahan.

Kepada para akademisi dan peneliti, disarankan untuk melakukan penelitian lanjutan dengan populasi yang lebih luas dan melibatkan faktor-faktor lain yang mungkin dapat mempengaruhi Stres Kuliah mahasiswa dan prestasi belajar mahasiswa, misalnya latar belakang ekonomi orang tua dan fasilitas yang ada di perguruan tinggi setempat.

(54)

DAFTAR PUSTAKA

Ariyanti, Ika M P(2005), Pengaruh Kecerdasan Emosional Mahasiswa Akuntansi Terhadap Stres Kuliah, Skripsi Fakultas Ekonomi, UPN “Veteran”, Yogyakarta.

Bulo, William (2002), Pengaruh Tingkat Pendidikan Tinggi Terhadap Kecerdasan Emosional, Skripsi Fakultas Ekonomi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Cooper, R.K. dan Sawaf A (1998), Executive EQ: Kecerdasan emosional dalam Kepemimpinan Organisasi, (Terjemahan T. Hermaya), Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Goleman, Daniel (2000), Working With Emotional Intelegence, (Terjemahan Alex Tri Kantjono W) Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Handoko, T. Hani (2000), Manajemen Personalia dan Sumberdaya Manusia, Edisi 2, Yogyakarta: BPFE.

Hanifah, Syukriy Abdullah (2001), Pengaruh Perilaku Belajar Terhadap Prestasi Akademik Mahasiswa Akuntansi, Media Riset Akuntansi, Auditing dan Informasi, Volume 1, No. 3, 63-86.

Hardjana, Agus (1994), Stres Tanpa Distres, Yogyakarta: Kanisius.

Juliana (2004), Pengaruh Kecerdasan Emotional Terhadap Perilaku Etis Mahasiswa Akuntansi, Skripsi Fakultas Ekonomi, UPN “Veteran”, Yogyakarta.

Singgih, Santoso (2001), SPSS Versi 10.0 Mengelola Data Statistik Secara Profesional, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Sugiyono (1991), Metode Penelitian Bisnis, Bandung: Alfabeta.

Suryaningsum, Sri, Sucahyo Heriningsih dan Afifah Afuwah (2004), Pengaruh Pendidikan Tinggi Akuntansi Terhadap Kecerdasan Emosional Mahasiswa, SNA VII, Denpasar Bali.

Suryaningsum, Sri, Sucahyo Heriningsih (2005) Kajian Empiris Atas Pengaruh Kecerdasan Emosional Mahasiswa Akuntansi Terhadap Stres Kuliah, Siposium Nasional Mahasiswa Dan Alumni Pascasarjana Ilmu-Ilmu Ekonomi, MM UGM.

(55)

Sutrisno, Hadi (1991), Statistika, Edisi ke 6, Jilid ke 2, Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Suwardjono (1991), Perilaku Belajar di Perguruan Tinggi, Jurnal Akuntansi, edisi Maret, Yogyakarta: STIE YKPN.

Trisnawati, Eka Indah. Suryaningsum, Sri. (2003), Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Tingkat Pemahaman Akuntansi, SNA VI, Surabaya.

Yulianti (2002), Kecerdasan Emosional dan Stres Kerja, Tesis. Pascasarjana. MM UGM.

Gambar

Tabel 3.7 Indikator Variabel Lingkungan Belajar
Tabel 3.6 Indikator Variabel Kecerdasan Emosional
Tabel 4.2 Statistik Deskriptif: Karakteristik Responden
Tabel 4.3 Statistik Deskriptif  Variabel  Variabel  Kisaran
+5

Referensi

Dokumen terkait

KECERDASAN EMOSIONAL DAN STRES KERJA HUBUNGAN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN TINGKAT STRES KERJA PERAWAT DI INSTALASI RAWAT DARURAT (Anastasia

Adapun Objek dalam penelitian ini adalah kecerdasan emosional dan tingkat pemahaman akuntansi, dimana kecerdasan emosional sebagai variabel independen yang dikembangkan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku belajar dan kecerdasan emosional tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap stres kuliah responden.. Variabel

Metode dalam penelitian ini adalah regresi linier berganda, digunakan untuk melihat bagaimana pengaruh variabel kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual terhadap

tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menguji secara empiris apakah ada pengaruh antara perilaku belajar dan kecerdasan emosional mahasiswa akuntansi, khususnya

Hasil perhitungan uji linearitas variabel kecerdasan emosional X1 dan hasil belajar kewirausahaan X2 pada variabel minat entrepreneur mahasiswa Y menunjukkan probabilitas linearitas Y *

Berdasarkan pengujian hipotesis, diduga terdapat pengaruh kecerdasan emosional terhadap hasil belajar X1 YUntuk variabel kecerdasan emosional diperoleh nilai thitung sebesar 3,660 ≥

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melihat pengaruh antara kecerdasan emosional (EI) sebagai variabel independen (IV) terhadap kesejahteraan subjektif (SWB) sebagai variabel dependen