• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH LABA TERHADAP EARNINGS RESPONSE COEFFICIENT PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH LABA TERHADAP EARNINGS RESPONSE COEFFICIENT PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI)"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH LABA TERHADAP EARNINGS RESPONSE COEFFICIENT PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BURSA EFEK

INDONESIA (BEI) Oleh : James Purba, S.Pd., M.Hum.

Dosen STIE Indonesia Medan

ABSTRAK

Salah satu kewajiban bagi perusahaan - perusahaan yang telah terdaftar di bursa efek adalah menyampaikan laporan keuangan baik laporan keuangan tahunan (annual report) maupun laporan keuangan interim kepada publik (pihak eksternal perusahaan). Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. Laporan keuangan merupakan sarana untuk mempertanggung jawabkan apa yang dilakukan oleh manajemen atas sumber daya pemilik.

Berdasarkan hasil analisis data dan pengujian hipotesis terhadap sampel dapat disimpulkan dalam penelitian ini, ternyata respon pasar terhadap perusahaan yang melakukan perataan laba tidak berbeda dengan perusahaan yang tidak melakukan perataan laba. Saran-saran yang dapat diberikan adalah: menemukan aspek lain yang juga mempengaruhi investor dalam merespon tidakan perataan laba yang dilakukan perusahaan seperti goods news dan bad news terkait dengan pengumuman peramalan oleh perusahaan, pengumuman deviden (distribusi kas, distribusi saham), pengumuman pendanaan (pengumuman yang berhubungan dengan ekuitas, pengumuman yang berhubungan dengan hutang, pemecahan saham, pembelian kembali saham), pengumuman yang berhubungan dengan pemerintah, pengumuman investasi, pengumuman ketenagakerjaan, pengumuman merjer – ambil alih – diversifikasi).

Kata kunci: Perataan Laba, Earning Response Coefficient

PENDAHULUAN

Salah satu parameter

pengukuran kinerja perusahaan

adalah informasi laba. Dalam

Pernyataan Standar Akuntansi

Keuangan (PSAK No.1)

mengatakan bahwa informasi laba pada umumnya merupakan perhatian utama dalam menaksir kinerja atau

pertanggung jawaban manajemen dan informasi laba membantu pemilik atau pihak lain melakukan

penaksiran atas earning power

perusahaan di masa yang akan datang. Perataan laba merupakan

salah satu bentuk tindakan

manajemen laba.

(2)

digunakan untuk mengukur hubungan antara return dan laba adalah earning response coefficient

(ERC). ERC sebagai koefisien

sensitivitas laba akuntansi yaitu ukuran sensistivitas perubahan harga saham terhadap perubahan laba

akuntansi. Berbagai penelitian

mengenai ERC telah banyak

dilakukan, diantaranya dengan

menggunakan determinan –

determinan seperti risiko sistematik atau beta, struktur modal, persistensi laba, pertumbuhan laba, ukuran perusahaan dan prediktabilitas laba.

Perataan laba didefinisikan sebagai suatu cara yang digunakan oleh manajemen untuk mengurangi fluktuasi laba yang dilaporkan agar sesuai dengan target yang diinginkan baik secara artificial yaitu melalui metode akuntansi maupun secara riil yaitu melalui transaksi. Akan tetapi tidak semua perusahaan melakukan praktik perataan laba. Sebagian

besar tindakan perataan laba

dilakukan oleh perusahaan –

perusahaan yang labanya cenderung berfluktuasi dari tahun ke tahun, sedangkan untuk laba perusahaan-perusahaan yang relatif stabil, jarang dilakukan perataan laba. Hal ini terkait dengan bagaimana reaksi

investor dalam menanggapi

perubahan laba yang diumumkan oleh perusahaan sendiri.

KERANGKA DASAR TEORITIS Laporan Keuangan

Laporan keuangan merupakan

sarana untuk mempertanggung

jawabkan apa yang dilakukan oleh

manajemen atas sumber daya

pemilik. Laporan keuangan secara umum merupakan sarana utama melalui mana informasi keuangan dikomunikasikan kepada pihak di

luar perusahaan. Laporan ini

memberikan suatu sejarah yang

berkesinambungan yang

dikuantifikasikan dalam satuan uang berkenaan dengan sumber daya ekonomi dan kewajiban dari suatu perusahaan bisnis dan akuntansi ekonomi yang mengubah sumber daya dan kewajiban ini.

Menurut Standar Akuntansi Keuangan (2007:14), tujuan laporan keuangan adalah:

Laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan (laporan arus kas dan perubahan ekuitas), catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan.

Perataan Laba

Perataan laba diartikan

sebagai usaha manajemen untuk mengurangi variabilitas laba selama satu atau beberapa periode tertentu

sehingga laba tidak terlalu

berfluktuasi. Menurut Barnea, dkk (2006:72) menyatakan “perataan laba sebagai pengurangan yang

disengaja terhadap fluktuasi

terhadap beberapa level laba supaya dianggap normal bagi perusahaan”.

Sementara menurut Beidleman

(3)

laba adalah suatu usaha yang

dilakukan manajemen untuk

menekan variasi dalam laba

sepanjang hal itu diperbolehkan oleh prinsip-prinsip akuntansi yang

berlaku”. Sedangkan definisi

menurut Brayshaw dan Eldin

(2009:112) adalah “tindakan

sukarela manajemen yang didorong oleh aspek perilaku dalam perusahaan dan lingkungannya”.

Faktor-Faktor Yang

Mempengaruhi Perataan Laba Besaran Perusahaan (Size)

Besaran perusahaan, yang semula diyakini dapat dijadikan

parameter dalam menganalisis

pengaruh terhadap perataan laba, terkait dengan adanya asumsi bahwa

perusahaan yang besar selalu

diidentikkan dengan nilai aktiva yang besar pula (Salno dan Baridwan 2005:50). Ternyata hasil penelitian ini memperkuat hasil penelitian

terdahulu yang dilakukan di

Indonesia, seperti Jatiningrum

(2004:67) dan Noor (2004:75), dimana besaran perusahaan tidak berpengaruh terhadap perataan laba.

Menurut Muchammad (2005:54)

“bahwa perusahaan yang besar tidak selamanya diidentikkan dengan padat modal, tetapi bisa jadi padat karya”. Hal ini memberikan satu kesimpulan bahwa nilai total aktiva kurang tepat untuk dijadikan tolak ukur besarnya satu perusahaan. Dengan demikian dimungkinkan adanya komponen lain yang dapat dijadikanparameter

dalam mengukur besarnya

perusahaan, yaitu harga saham. Hal ini didukung oleh pernyataan F.

Grant dalam Salno dan Baridwan (2005:53), “bahwa besar kecilnya perusahaan, dapat dilihat dari tingkat

kemakmurannya yang tercermin

dalam nilai pasar saham”.

Seperti halnya besarnya

perusahaan, hasil penelitian variable prefitabilitas juga terbukti, tidak berpengaruh terhadap perataan laba. Penelitian sebelumnya yang juga memberikan hail yang sama adalah M Zuhroh dalam Dwiatmini dan

Nurkholis (2011:45). Tidak

berpengaruhnya ROA diduga karena

investor cenderung mengabaikan

informasi ROA yang ada sercara maksimal (Noor, 2004:7) sehingga

manajemen pun menjadi tidak

termotivasi melakukan perataan laba melalui variabel tersebut.

Profitabilitas

Return on Asset (ROA) merupakan ukuran penting untuk

menilai sehat atu tidaknya

perusahaan, yang memepengaruhi investor untuk membuat keputusan. Perusahaan yang memiliki ROA

yang lebih tinggi cenderung

melakukan perataan laba

dibandingkan dengan perusahaan yang lebih rendah karena manajemen

tahu akan kemampuan untuk

mendapatkan laba pada masa

mendatang sehingga memudahkan dalam menunda atau mempercepat laba (Assih dkk, 2006:43).

Leverage Operasi

Levrerage operasi

perusahaan. Pengukuran variabelnya adalah rasio antar total biaya

(4)

depresiasi dan amortisasi dengan total biaya. dalam penelititan ini , total biaya merupakan penjumlahan

harga pokok penjulan, biaya

penjualan serta biaya administrasi dan umum. Leverage adalah bagian dari modal sendiri yang di jadikan jaminanuntuk keseluruhan utang.

Leverage ini dapat dihitung

menggunakan rumus:

Koefisien Respon Laba (Earnings

Response Cowfficient - ERC)

ERC didefinisikan sebagai “efek setiap rupiah laba kejutan (unexpected earnings) terhadap return saham yang ditunjukkan melalui slope koefisien dalam regresi abnormal return dengan unexpected earnings” (Cho dan Jung, 2011:53). ERC menunjukkan keinformatifan

laba suatu perusahaan atau

menunjukkan seberapa besar laba mampu menerangkan variasi harga saham (return saham). Dengan kata lain, “ERC merupakan koefisien sensitivitas laba akuntansi atau sensitivitas perubahan harga saham tehadap perubahan laba akuntansi” (Beaver, 2008:78).

Menurut Cho dan Jung

(2011:88) rerangka teoritis ERC diklasifikasikan menjadi dua model, yaitu :

1. Model Penilaian Berbasis

Keekonomisan Informasi

(Information oe)

Mengasumsikan bahwa ERC merupakan fungsi dari sinyal kandungan informasi laba serta persepsi investor terhadap sistem informasi. Semakin buruk sinyal

kandungan informasi laba dan

persepsi investor terhadap sistem informasi (berarti semakin rendah kualitas laba) maka semakin kecil ERC dan sebaliknya.

2. Model Penilaian Berbasis Time Series Laba (Time Series Based Valuation Model)

Mengasumsikan bahwa ERC

merupakan fungsi dari time-series

processes berbagai variabel

informasi yang dapat memprediksi besarnya deviden.

Pengaruh Perataan Laba Terhadap Earnings Response Cowfficient

Konservatisme adalah prinsip dalam pelaporan keuangan yang dimaksudkan untuk mengakui dan

mengukur aktiva dan laba

dilakukandengan penuh kehati-hatian oleh karena aktivitas ekonomi dan bisnis yang dilingkupi ketidakpastian (Wibowo, 2002:99). Implikasi dari penerapan prinsip ini adalah pilihan metode akuntansi ditujukan pada metode yang melaporkan laba dan aktiva lebih rendah atau utang lebih tinggi. Peneliti lain, Basu (2007:78)

mendefinisikan konservatisme

sebagai “praktik mengurangi laba (dan mengecilkan aktiva bersih) dalam merespons berita buruk (bad news), tetapi tidak meningkatkan laba (meninggikan aktiva bersih) dalam merespons berita baik (good news)”.

Praktik konservatisme bisa terjadi karena standar akuntansi yang

berlaku di Indonesia

memperbolehkan perusahaan untuk memilih salah satu metode akuntansi

(5)

dari kumpulan metode yang diperbolehkan pada situasi yang sama. Misalnya, PSAK No. 14 mengenai persediaan, PSAK No. 17

mengenai akuntansi penyusutan,

PSAK No. 19 mengenai aktiva tidak

berwujud dan PSAK No. 20

mengenai biaya riset dan

pengembangan. Akibat dari

fleksibelitas dalam pemilihan metode akuntansi adalah terhadap angka-angka dalam laporan keuangan, baik laporan neraca maupun laba-rugi.

Widya (2004:85) telah

meneliti penerapan akuntansi

konservatif di Indonesia,

melaporkan 76,9 % dari 75

perusahaan di BEI pada periode 2010

- 2014 menerapkan akuntansi

konservatif. Faktor-faktor yang

menjelaskan praktik akuntansi

konservatif adalah konsentrasi

kepemilikan di Indonesia, kontrak utang, kos potlitis dan pertumbuhan. Dahlia Sari (2004:89) meneliti peran

akuntansi konservatif dalam

mengurangi konflik antara pemegang saham dan pemegang obligasi pada saat pengumuman deviden. Hasil

penelitian mendukung hipotesis

penelitian bahwa konservatisme

berperan dalam perusahaan yang

menghadapi konflik pemegang

saham-pemegang obligasi.

METODE PENELITIAN Metode Pengumpulan Data

Dalam rangka pengumpulan data dan keterangan – keterangan yang diperlukan untuk penyusunan skripsi ini, maka penulis memakai 2 (dua) jenis penelitian, yaitu:

1. Penelitian Kepustakaan (Library Research) melalui penelitian

kepustakaan, baik dengan

mempelajari buku – buku ilmiah, literatur – literatur dan juga data sekunder lainnya yang relevan dengan tulisan ini.

2. Penelitian Lapangan (Field

Research). Adapun tehnik

penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut:

a. Pengamatan (Observation),

yang dimaksud dengan

observasi adalah dimana

penulis melakukan pengamatan di lapangan secara langsung b. Dokumentasi (Documentation),

merupakan suatu tehnik

pengambilan data dari laporan – laporan yang sudah diolah sebelumnya oleh perusahaan

sehingga tidak langsung

diperoleh dari sumbernya.

Metode Analisis Data

Untuk membuktikan

hipotesis yang telah diajukan, maka digunakan metode analisis sebagai berikut :

1. Analisis deskriptif

2. Metode Regresi Sederhana

Seperti dapat kita lihat pada rumus regresi dibawah ini:

Y = a + b X + e

Dimana :

Y = Variabel Dependen / Terikat (Earning Response Coefficient) X = Variabel Independen/Bebas (Perataan Laba)

a = Intercept dari regresi b = Koefisien dari regresi/slop e = Error

(6)

Populasi Dan Sampel

Berikut nama-nama

perusahaan populasi yang menjadi

objek penelitian dalam penyusunan skripsi ini, seperti yang tersaji dalam di bawah ini.

Tabel

Daftar Sampel Perusahaan Manufaktur Dalam Penelitian Ini

No Kode Perusahaan

1 ADES Akasha Wira International Tbk

2 AISA Tiga Pilar Sejahtera Food

3 CEKA Cahaya Kalbar Tbk

4 DLTA Delta Djakarta Tbk

5 ICBP Indofood CBP Sukses Makmur Tbk

6 INDF Indofood Sukses Makmur Tbk

7 MLBI Multi Bintang Indonesia Tbk

8 PSDN Prasidha Aneka Niaga Tbk

9 MYOR Mayora Indah Tbk

10 SKLT Sekar Laut Tbk

11 ULTJ Ultra Jaya Milk Tbk

12 GGRM Gudang Garam Tbk

13 HMSP HM Sampoerna Tbk

14 RMBA Bentoel International Investama Tbk

15 DVLA Darya-Varia Laboratoria Tbk

16 INAF Indofarma (Persero) Tbk

17 KAEF Kimia Farma (Persero) Tbk

18 MERK Merck Tbk

19 PYFA Pyridam Farma Tbk

20 TSPC Tempo Scan Pacific Tbk

21 MERK Merck Tbk

22 TCID Mandom Indonesia Tbk

23 UNVR Unilever Indonesia Tbk

24 KICI Kedaung Indah Can Tbk

25 KDSI Kedawung Setia Industrial Tbk

26 LMPI Langgeng Makmur Plastik Industry Ltd Tbk

Sumber: www.idx.co.id (2019) Cara Menghitung Earnings Response Coeffgicient (ERC) Dan

Perataan Laba 1. Menghitung ERC

ERC merupakan merupakan pengaruh laba abnormal (unexpected earnings) terhadap CAR, yang ditunjukkan melalui slope coeficient dalam regresi abnormal return saham dengan unexpected earnings. Reaksi

pasar diproksikan dengan cumulative abnormal return (CAR), sedangkan laba akuntansi diproyeksikan dengan unexpected earning (UE). Besarnya ERC diperoleh dari regresi antara abnormal return dan unexpected earning. Sebagai contoh, berikut adalah perhitungan ERC perusahaan ADES tahun 2012.

(7)

Diketahui return saham sekarang (Pi,t) sebesar 2075, return pasar (Pi,t-1) sebesar 1920, sehingga besarnya return saham adalah:

Ri,t = (Pi,t – Pi,t-1) / Pi,t-1 = (2075-1920) / 1920 = 0,0807 Selanjutnya, return pasar (Rm,t)

diketahui sebesar 0,0156,

sehingga besarnya abnormal return adalah:

ARi,t = Ri,t - Rm,t = 0,0807– 0,0156)= 0,0650

b. Menghitung Cumulative

Abnormal Return (CAR) CAR dihitung dengan menjumlahkan abnormal return selama tiga bulan, sehingga untuk triwulan IV tahun 2012 untuk perusahaan ADES adalah : CARi,t = 0.065088 + 0.074385 - 0.12128 - 0.0609 + 0.077686-0.06761 - 0.05783 + 0.257967 + 0.267183 + 0.087728 + 0.026163 - 0.02257- 0.0546 + 0.048804 = 0,5202

Sehingga jumlah abnormal return untuk triwulan IV sebesar 0,5202. Dengan cara yang sama, untuk triwulan I diperoleh sebesar 0.017, triwulan II 0.2858, dan triwulan III -0.079.

c. Menghitung ERC

Unexpecter earning (UE) ADES untuk Q IV tahun 2012 diperoleh dari: UEi,t = EPSt – EPSt-1. = 141 –

109 = 32

Setelah diketahui nilai CARi,t dan nilai UEi,t, kemudian ERC dihitung menggunakan rumus slope coeficient

dalam regresi abnormal return

saham dengan unexpected earnings pada program Microsoft Excel 2007. Rumus perhitungannya :

= SLOPE (CARi,t ; UEi,t)

Sehingga, ERC perusahaan ADES tahun 2012 diperoleh: - 0,237

(8)

Tabel

Earnings Response Coeffgicient (ERC)

ERC RATA-RATA NO KODE 2012 2013 2014 1 ADES -0.23706 -0.10966 -0.03559 -0.1274384 2 AISA -0.03913 -0.08536 -0.0581 -0.0608628 3 CEKA -0.14048 -0.01617 1.071807 0.3050533 4 DLTA -0.12461 -0.01349 0.082817 -0.0184253 5 ICBP 0.017757 -0.02544 -0.03961 -0.0157643 6 INDF -0.10894 0.039629 0.044618 -0.0082323 7 MLBI -0.19146 -0.01985 0.553037 0.1139078 8 PSDN 0.005314 0.051868 0.035571 0.0309179 9 ROTI 0.115669 0.008258 -0.26798 -0.0480172 10 SKLT -0.16648 0.080228 0.57406 0.1626011 11 ULTJ -0.26891 -0.25528 -0.02414 -0.1827739 12 GGRM -0.1332 0.002749 0.028627 -0.0339402 13 HMSP -0.01996 0.279584 0.085453 0.1150256 14 RMBA 0.086572 -0.07152 -0.04478 -0.0099091 15 DVLA -0.00618 -0.02208 -0.0671 -0.0317877 16 INAF -0.19793 -0.0975 0.137562 -0.0526213 17 KAEF -0.03816 0.486042 -0.07229 0.1251996 18 MERK -0.03848 0.011567 -0.00906 -0.0119914 19 PYFA -0.10706 0.022113 0.007024 -0.0259756 20 TSPC -0.04105 -0.0294 -0.14984 -0.0734287 21 MBTO -0.2371 -0.13415 -0.1256 -0.1656196 22 TCID 0.156886 0.148214 0.18191 0.1623365 23 UNVR 0.33962 -0.22399 0.012375 0.0426691 24 KDSI -0.008 0.004777 0.011617 0.0027971 25 KICI 0.072141 0.003813 0.064922 0.0469588 26 LMPI 0.077205 0.006733 -0.03397 0.0166559 2. Perataan Laba

Perataan laba dapat diukur

menggunakan indeks eckel:

Indeks perataan laba =

(CVÄI/CVÄS) Dimana:

ÄI = perubahan laba dalam 1 periode

ÄS = perubahan penjualan dalam satu periode

CVÄI = koefisien variasi untuk perubahan laba

CVÄS = koefisien variasi

untuk perubahan penjualan

CVÄI dan CVÄS dapat dihitung dengan:

(9)

∆X = perubahan laba (I) atau perubahan penjualan (S) dari tahun t-1 ke tahun t

n = jumlah tahun yg diamati

Berikut contoh perhitungan perataan laba dari perusahaan ADES pada tahun 2012:

CVÄI =

= -8,5258

CVÄS =

= 3,4983

Indeks perataan laba = (-8,5258 : 3,4983) =

= -2,4371

Sehingga indeks perataan laba perusahaan ADES pada tahun 2012 adalah:

-2,4371.

Tabel

Perhitungan Perataan Laba

NO KODE Koefisien Variasi Perubahan Penjualan Koefisien Variasi Perubahan Laba Indeks Perataan Laba 1 ADES 3.498361684 -8.525828837 -2.437091875 2 AISA 1.279514498 1.933666259 1.511249979 3 CEKA 2.568265417 4.43910393 1.728444382 4 DLTA 62.86537359 -3.634526662 -0.057814445 5 ICBP 2.685623216 -11.50302008 -4.28318463 6 INDF 4.714609496 -3.211184755 -0.681113623 7 MLBI 38.23789403 -69.9382132 -1.829028899 8 PSDN -1.900818444 1.723294313 -0.906606477 9 ROTI 1.561695964 -6.620143568 -4.23907324 10 SKLT 9.42343856 1.660797617 0.176241147 11 ULTJ 0.869452248 2.146974468 2.469341442 12 GGRM 3.856118028 -2.029857643 -0.526399251 13 HMSP 6.904747835 -2.64079981 -0.382461442 14 RMBA 20.40913062 -11.46353284 -0.561686485 15 DVLA -4.05573369 1.712949336 -0.422352518 16 INAF -2.712138481 -23.07428068 8.507781163 17 KAEF -7.437609497 -7.443790709 1.000831075 18 MERK -2.790622035 -1.602437335 0.574222275 19 PYFA 0.452419791 0.692042224 1.529646223 20 TSPC -11.45745945 -1.114794471 0.097298574

(10)

21 MBTO -1.946954178 -2.652392638 1.362329256 22 TCID 7.155661044 -2.106291835 -0.294353215 23 UNVR 5.497855747 -28.56843183 -5.196286179 24 KDSI 124.5339702 1.353704584 0.010870163 25 KICI -394.4698275 1.674611497 -0.004245221 26 LMPI -0.87958895 1.732050808 -1.969159352 PEMBAHASAN

Hasil Pengujian Asumsi Klasik

Pengujian asumsi klasik perlu dilakukan terlebih dahulu sebelum pengujian regresi berganda. Hal ini

bertujuan supaya data yang

nantinya digunakan sebagai dasar

analisis benar-benar dapat

diandalkan (reliable).

Uji Autokorelasi

Pengujian autokorelasi

bertujuan untuk meneliti apakan

sebuah model regresi terdapat

korelasi antara kesalahan

pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode sebelumnya (t-1). Pengujian dilakukan dengan

membandingkan nilai Durbin

Watson (d) hasil regresi dengan nilai dL dan dU dalam table

Durbin-Watson dengan α = 0,05.

Table

Hasil Pengujian Autokorelasi

Model Summaryb .244a .059 -.069 .02032 2.169 Model 1 R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson Predictors: (Constant), SIZE, LEV, CV

a.

Dependent Variable: ERC1 b.

Pengujian korelasi positif : dL

= 1,143 ; dU = 1,652. Pengujian

korelasi negative: 4 – dL= 2,857 ; 4 -

dU = 2,348. Nilai d yang diperoleh

sebesar 2,169 > dL = 1,143 dan dU = 1,652. Selain itu nilai d < 4 – dL=

2,857 dan 4 - dU = 2,348. Hal ini

mengindikasikan tidak terjadi

autokorelasi baik korelasi positif maupun korelasi negatif.

Uji Heteroskedastisitas

Pendekatan ada tidaknya

gejala heterokodaktisitas dilakukan melalui Glejser test yaitu dengan

meregresikan nilai mutlak

unstandardized residual terakhir hasil regresi dengan variable-variabel independen yang digunakan dalam persamaan regresi. jika probabilitas (sig) koefisien regresi (α) dari masing-masing variable independen lebih besar dari α = 0,05.

Dari table di bawah ini, terlihat nilai sig untuk variable CV, LEV dan SIZE yang semuanya lebih besar dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan data yang digunakan bebas dari gejala heteroskedastisitas

atau memenuhi asumsi

(11)

Table

Hasil Pengujian Heteroskedastisitas

Coefficientsa .116 .135 .855 .402 .006 .006 .211 1.002 .327 .007 .014 .107 .509 .616 -.003 .009 -.070 -.330 .745 (Constant) CV LEV SIZE Model 1 B Std. Error Unstandardized Coefficients Beta Standardized Coefficients t Sig.

Dependent Variable: ABSRES a.

Uji Multikolinieritas

Uji multikolinieritas ini bertujuan untuk mengetahui apakah variable-variabel independent yang ada dalam model berkorelasi satu sama lain atau tidak. Untuk menguji adanya multikolinieritas dapat dilihat dari nilai tolerance value dan VIF (Variance Inflation Factor). Data

dikatakan terbebas dari

multikolinieritas jika nilai tolerance value > 0,1 dan nilai VIF ≤ 4.

Berdasarkan table di bawah ini, terlihat bahwa nilai tolerance

value untuk semua variable

independen diatas 0,1 dan nilai VIF ≤ 4, Sehingga dapat disimpulkan

bahwa tidak terjadi gejala

multikolinieritas.

Berikut ini adalah table hasil pengujian multikolinieritas:

Table

Hasil Pengujian Multikolinieritas

Coefficientsa .019 .204 .095 .925 -.003 .009 -.065 -.301 .766 .965 1.036 .013 .022 .131 .613 .546 .975 1.026 -.001 .014 -.022 -.102 .919 .952 1.050 (Constant) CV LEV SIZE Model 1 B Std. Error Unstandardized Coefficients Beta Standardized Coefficients

t Sig. Tolerance VIF

Collinearity Statistics

Dependent Variable: ERC a.

Hasil Pengujian Hipotesis

Analisis Regresi Linier Berganda

Analisis regresi linier

berganda digunakan untuk menguji pengaruh dua atau lebih variabel independen terhadap satu variabel

dependen. Dalam penelitian ini

bertujuan untuk mengetahui

pengaruh CV, LEV dan SIZE terhadap ERC.

Berikut hasil uji regresi linier berganda pada penelitian ini:

(12)

Tabel

Uji Regresi Linier Berganda

Coefficientsa .019 .204 .095 .925 -.003 .009 -.065 -.301 .766 .013 .022 .131 .613 .546 -.001 .014 -.022 -.102 .919 (Constant) CV LEV SIZE Model 1 B Std. Error Unstandardized Coefficients Beta Standardized Coefficients t Sig.

Dependent Variable: ERC a.

Tabel

Uji Koefisien Determinan (R2)

Model Summary .148a .022 -.111 .11265 Model 1 R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Predictors: (Constant), SIZE, LEV, CV

a.

Tabel

Uji F (Uji Simultan)

ANOVAb .006 3 .002 .165 .919a .279 22 .013 .285 25 Regression Residual Total Model 1 Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

Predictors: (Constant), SIZE, LEV, CV a.

Dependent Variable: ERC b.

Tabel

Rangkuman Nilai Tabel Regresi Linier Berganda Koefisien Nilai t-statistik Sig

CV -0,003 -0,301 0,766 LEV 0,013 0,613 0,546 SIZE -0,001 -0,102 0,919 R = 0,148 R Square = 0,022 Adj. R Square = -0,111 F hitung = 0,165 Sig = 0,919

(13)

Tabel hasil regresi berganda

memperlihatkan bahwa nilai R

square sebesar 0,022 menunjukkan bahwa variabel ERC hanya mampu dijelaskan oleh CV, LEV dan SIZE sebesar 2,2%. Dari tabel ANOVA diperoleh nilai F hitung sebesar 0,165 dengan tingkat signifikan 0,919. Nilai sig ini lebih besar dari 0,05 yang memperlihatkan bahwa variable independen yang digunakan

secara bersama-sama tidak

berpengaruh terhadap variabel

dependen (ERC).

Untuk pengujian secara

parsial, nilai p-value (sig) untuk variabel perataan laba (CV) adalah sebesar 0,766 yang lebih besar dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa perataan laba tidak berpengaruh terhadap ERC. Dengan kata lain, ERC perusahaan perata laba tidak lebih tinggi dari ERC perusahaan bukan perata laba. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hipotesis dalam penelitian ini tidak diterima.

Perataan laba merupakan

salah satu bentuk dari manajemen laba (earning management) yang dilakukan oleh pihak manajemen.

Manajemen termotivasi untuk

melakukan praktik perataan laba

dengan alasan meningkatkan

persepsi pihak eksternal mengenai

kinerja manajemen. Berdasarkan

analisis data penelitian

mengindikasikan bahwa praktik

perataan laba tidak menjadi alasan yang cukup kuat atau tidak menjadi

pertimbangan utama bagi para

investor dalam menganalisis laporan

keuangan perusahaan yang akan

dijadikan sebagai dasar

pertimbangan keputusan investasi di pasar modal. Kemungkinan lain, praktik perataan laba belum menjadi fenomena yang lazim digunakan oleh

perusahaan-perusahaan yang

terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Oleh karena itu, praktik parataan laba tidak menarik perhatian investor ketika melakukan analisis laporan keuangan. Ketika melakukan studi empirik mengenai praktik perataan laba, sangat sulit atau bahkan tidak mungkin untuk mendeteksi respon pasar terhadap praktik perataan laba. Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan Salno dan Baridwan (2000) yang menyimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan reaksi pasar antara perusahaan perata laba dan perusahaan bukan perata laba.

Untuk variabel kontrol yaitu LEV dan SIZE memiliki signifikansi sebesar 0,546 dan 0,919 yang semuanya lebih besar dari 0,05. Sehingga dapat dikatakan variabel-variabel tersebut tidak berpengaruh

terhadap ERC. Leverage

didefinisikan sebagai kemampuan perusahaan dalam melunasi semua kewajiban dengan asetnya. Dengan

demikian leverage menunjukan

resiko yang dihadapi perusahaan

berkaitan dengan hutang yang

dimiliki perusahaan. Semakin besar utang yang dimiliki perusahaan maka semakin ketat pengawasan yang dilakukan oleh kreditor, sehingga

fleksibilitas manajemen untuk

(14)

berkurang. Kreditur sebagai salah satu pengguna laporan keuangan utama (selain investor) menuntut

agar laporan keuangan yang

dipublikasikan oleh perusahaan lebih dipercaya. Oleh karenanya, kreditur

meningkatkan pengawasan yang

lebih ketat dan melakukan tekanan kepada manajer sehingga manajer tidak memiliki kesempatan untuk melakukan perataan laba.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis

data dan pengujian hipotesis

terhadap sampel dapat disimpulkan dalam penelitian ini, ternyata respon pasar terhadap perusahaan yang melakukan perataan laba tidak berbeda dengan perusahaan yang

tidak melakukan perataanlaba.

Dengan kata lain ERC perusahaan perata laba tidak lebih tinggi dari pada ERC perusahaan bukan perata laba. Hal ini dapat dilihat dari signifikansi dari variable DUMMY yang lebih besar dari 0,05 yaitu sebesar 0,925. Hal ini tidak sesuai dengan yang diprediksikan dan mungkin disebabkan oleh factor - faktor berikut:

1. Ada tidaknya praktik perataan laba tidak tampak secara kasat mata. Perataan laba merupakan

suatu kebijakan manajemen

perusahaan sendiri seperti,

mengatur waktu terjadinya

suatu transaksi pemecahan

biaya pengalokasian biaya atau pendapatan darisuatu period eke periode lain dan sebagainya

dimana semuanya itu tidak

mungkin dipaparkan secara

tertulis sehingga investor tidak

akan mungkin sampai

mempertimbangkan sampai

sejauhitu.

2. Penggunaan Indeks Eckel

mungkin tidak cukup baik

dalam mendeteksi praktik

perataan laba. IndeksEckel

merupakansuaturumussecarateo ritissaja yang mungkin belum dapat dibuktikan kebenarannya untuk mendeteksi ada tidaknya praktik perataan laba yang

dilakukan

perusahaan-perusahaan, khususnya di pasar modal Indonesia.

3. Seandainya praktik perataan laba memang benar ada, hasil peneltian ini mengindikasikan bahwa investor menganggap tindakan perataan laba bukanlah

suatu yang penting dalam

menganalisis laporan keuangan. Tampaknya, para investor lebih memperhatikan indikator yang lain seperti rasio - rasio

keuangan perusahaan. Dari

hasilriset yang dilakukan

selama ini menunjukkan bahwa rasio –rasio tersebut lebih dapat

mengungkapkan kesehatan

keuangan perusahaan di masa yang akan datang yang tentunya

akan lebih berguna untuk

menilai prospek investasinya di

perusahaan bersangkutan di

(15)

5.1. Saran

Saran-saran yang dapat

diberikanu ntuk peneliti selanjutnya adalah:

1. Menggunakan sampel

perusahaan yang berbeda dengan penelitan ini.

2. Menggunakan model perataan

laba yang berbeda dengan

penelitian ini.

3. Menemukan aspek lain yang mempengaruhi investor dalam merespon tindakan perataan laba yang dilakukan perusahaan.

DAFTAR PUSTAKA

Alexandri, Benny. Manajemen

Keuangan Bisnis Teori dan Soal. Bandung: Alfabeta.

2009.

Aliminsyah dan Padji. Kamus

Istilah Akuntansi. Bandung:

CV. Yrama Widya. 2007. Asyik, Nur Fadjrih dan Soelistyo.

Kemampuan Rasio

Keuangan Dalam

Memprediksi Laba, Jurnal

Ekonomi dan Bisnis

Indonesia, Vol.15. 2002. Foster, George. Akuntansi Biaya:

Suatu Pendekatan

Manajerial. Jilid 1. Edisi 12.

(Diterjemahkan oleh:

Marianus Sinaga). Penerbit Erlangga, Jakarta. 2006. Ghozali, Imam. Aplikasi Analisis

Multivariate dengan Program SPSS, Semarang:

Badan Penerbit Undip. 2006.

Ghozali, I. dan A. Chariri. Teori

Akuntansi, Semarang: Badan

Penerbit Undip.2007.

Hanafi, Mamduh M, 2005. Analisis

Laporan Keuangan Edisi

Kedua Cetakan Pertama.

Yogyakarta: UPP AMP

YKPN.

Ikatan Akuntan Indonesia.

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan,

Jakarta: Salemba Empat.

2007.

Kieso, Donald. E. Intermediate

Accounting, Edisi 10, Jakarta: Erlangga. 2002. Mardiasmo. Akuntansi Keuangan

Dasar 1 dilengkapi dengan Soal & Penyelesaiannya Edisi 3 Cetakan 1.

Yogyakarta: BPFE. 2002. Nurhidayati. Analisis faktor –

faktor yang mempengaruhi Dividen Per Lembar Saham di Bursa Efek Jakarta.

Jurnal Akuntansi dan

Keuangan, Volume 8, Nomor 1, Universitas Kristen Petra, Surabaya. 2006.

Suharlin, Michell. Akuntansi untuk

Bisnis Jasa & Dagang Edisi 1 Cetakan 1. Yogyakarta:

Referensi

Dokumen terkait

Semakin tinggi nilai perusahaan maka perusahaan akan cenderung untuk melakukan praktik perataan laba, karena dengan melakukan perataan laba, variabilitas laba dan

2010.Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Praktik Perataan Laba (income smoothing) Pada Perusahaan go Publik Di Bursa Efek Indonesia (Stuudi Kasus Pada Perusahaan

mengambil judul penelitian ” Pengaruh Karakteristik Perusahaan dan Penerapan Good Corporate Governance Terhadap Tindakan Perataan Laba yang Dilakukan oleh Perusahaan

Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Praktik Perataan Laba (Income Smoothing) Pada Perusahaan Go Publik di Bursa Efek Indonesia.. (Studi Kasus Pada Perusahaan Manufaktur Yang

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh ukuran perusahaan dan konsentrasi kepemilikan terhadap praktik perataan laba pada perusahaan manufaktur yang

Untuk memberikan informasi kepada para investor dan pengguna laporan keuangan perusahaan mengenai perataan laba yang dilakukan oleh manajemen perusahaan, sehingga

Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor – faktor yang mempengaruhi praktik perataan laba, di mana variabel independen terdiri dari ukuran perusahaan, profitabilitas, leverage

Penelitian oleh Ball dan Brown 1968 menemukan adanya hubungan yang signifikan antara pengumuman laba perusahaan dengan perubahan harga saham, yaitu pada saat diumumkan laba mengalami