PENGARUH LABA TERHADAP EARNINGS RESPONSE COEFFICIENT PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR DI BURSA EFEK
INDONESIA (BEI) Oleh : James Purba, S.Pd., M.Hum.
Dosen STIE Indonesia Medan
ABSTRAK
Salah satu kewajiban bagi perusahaan - perusahaan yang telah terdaftar di bursa efek adalah menyampaikan laporan keuangan baik laporan keuangan tahunan (annual report) maupun laporan keuangan interim kepada publik (pihak eksternal perusahaan). Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. Laporan keuangan merupakan sarana untuk mempertanggung jawabkan apa yang dilakukan oleh manajemen atas sumber daya pemilik.
Berdasarkan hasil analisis data dan pengujian hipotesis terhadap sampel dapat disimpulkan dalam penelitian ini, ternyata respon pasar terhadap perusahaan yang melakukan perataan laba tidak berbeda dengan perusahaan yang tidak melakukan perataan laba. Saran-saran yang dapat diberikan adalah: menemukan aspek lain yang juga mempengaruhi investor dalam merespon tidakan perataan laba yang dilakukan perusahaan seperti goods news dan bad news terkait dengan pengumuman peramalan oleh perusahaan, pengumuman deviden (distribusi kas, distribusi saham), pengumuman pendanaan (pengumuman yang berhubungan dengan ekuitas, pengumuman yang berhubungan dengan hutang, pemecahan saham, pembelian kembali saham), pengumuman yang berhubungan dengan pemerintah, pengumuman investasi, pengumuman ketenagakerjaan, pengumuman merjer – ambil alih – diversifikasi).
Kata kunci: Perataan Laba, Earning Response Coefficient
PENDAHULUAN
Salah satu parameter
pengukuran kinerja perusahaan
adalah informasi laba. Dalam
Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan (PSAK No.1)
mengatakan bahwa informasi laba pada umumnya merupakan perhatian utama dalam menaksir kinerja atau
pertanggung jawaban manajemen dan informasi laba membantu pemilik atau pihak lain melakukan
penaksiran atas earning power
perusahaan di masa yang akan datang. Perataan laba merupakan
salah satu bentuk tindakan
manajemen laba.
digunakan untuk mengukur hubungan antara return dan laba adalah earning response coefficient
(ERC). ERC sebagai koefisien
sensitivitas laba akuntansi yaitu ukuran sensistivitas perubahan harga saham terhadap perubahan laba
akuntansi. Berbagai penelitian
mengenai ERC telah banyak
dilakukan, diantaranya dengan
menggunakan determinan –
determinan seperti risiko sistematik atau beta, struktur modal, persistensi laba, pertumbuhan laba, ukuran perusahaan dan prediktabilitas laba.
Perataan laba didefinisikan sebagai suatu cara yang digunakan oleh manajemen untuk mengurangi fluktuasi laba yang dilaporkan agar sesuai dengan target yang diinginkan baik secara artificial yaitu melalui metode akuntansi maupun secara riil yaitu melalui transaksi. Akan tetapi tidak semua perusahaan melakukan praktik perataan laba. Sebagian
besar tindakan perataan laba
dilakukan oleh perusahaan –
perusahaan yang labanya cenderung berfluktuasi dari tahun ke tahun, sedangkan untuk laba perusahaan-perusahaan yang relatif stabil, jarang dilakukan perataan laba. Hal ini terkait dengan bagaimana reaksi
investor dalam menanggapi
perubahan laba yang diumumkan oleh perusahaan sendiri.
KERANGKA DASAR TEORITIS Laporan Keuangan
Laporan keuangan merupakan
sarana untuk mempertanggung
jawabkan apa yang dilakukan oleh
manajemen atas sumber daya
pemilik. Laporan keuangan secara umum merupakan sarana utama melalui mana informasi keuangan dikomunikasikan kepada pihak di
luar perusahaan. Laporan ini
memberikan suatu sejarah yang
berkesinambungan yang
dikuantifikasikan dalam satuan uang berkenaan dengan sumber daya ekonomi dan kewajiban dari suatu perusahaan bisnis dan akuntansi ekonomi yang mengubah sumber daya dan kewajiban ini.
Menurut Standar Akuntansi Keuangan (2007:14), tujuan laporan keuangan adalah:
Laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi keuangan (laporan arus kas dan perubahan ekuitas), catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuangan.
Perataan Laba
Perataan laba diartikan
sebagai usaha manajemen untuk mengurangi variabilitas laba selama satu atau beberapa periode tertentu
sehingga laba tidak terlalu
berfluktuasi. Menurut Barnea, dkk (2006:72) menyatakan “perataan laba sebagai pengurangan yang
disengaja terhadap fluktuasi
terhadap beberapa level laba supaya dianggap normal bagi perusahaan”.
Sementara menurut Beidleman
laba adalah suatu usaha yang
dilakukan manajemen untuk
menekan variasi dalam laba
sepanjang hal itu diperbolehkan oleh prinsip-prinsip akuntansi yang
berlaku”. Sedangkan definisi
menurut Brayshaw dan Eldin
(2009:112) adalah “tindakan
sukarela manajemen yang didorong oleh aspek perilaku dalam perusahaan dan lingkungannya”.
Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Perataan Laba Besaran Perusahaan (Size)
Besaran perusahaan, yang semula diyakini dapat dijadikan
parameter dalam menganalisis
pengaruh terhadap perataan laba, terkait dengan adanya asumsi bahwa
perusahaan yang besar selalu
diidentikkan dengan nilai aktiva yang besar pula (Salno dan Baridwan 2005:50). Ternyata hasil penelitian ini memperkuat hasil penelitian
terdahulu yang dilakukan di
Indonesia, seperti Jatiningrum
(2004:67) dan Noor (2004:75), dimana besaran perusahaan tidak berpengaruh terhadap perataan laba.
Menurut Muchammad (2005:54)
“bahwa perusahaan yang besar tidak selamanya diidentikkan dengan padat modal, tetapi bisa jadi padat karya”. Hal ini memberikan satu kesimpulan bahwa nilai total aktiva kurang tepat untuk dijadikan tolak ukur besarnya satu perusahaan. Dengan demikian dimungkinkan adanya komponen lain yang dapat dijadikanparameter
dalam mengukur besarnya
perusahaan, yaitu harga saham. Hal ini didukung oleh pernyataan F.
Grant dalam Salno dan Baridwan (2005:53), “bahwa besar kecilnya perusahaan, dapat dilihat dari tingkat
kemakmurannya yang tercermin
dalam nilai pasar saham”.
Seperti halnya besarnya
perusahaan, hasil penelitian variable prefitabilitas juga terbukti, tidak berpengaruh terhadap perataan laba. Penelitian sebelumnya yang juga memberikan hail yang sama adalah M Zuhroh dalam Dwiatmini dan
Nurkholis (2011:45). Tidak
berpengaruhnya ROA diduga karena
investor cenderung mengabaikan
informasi ROA yang ada sercara maksimal (Noor, 2004:7) sehingga
manajemen pun menjadi tidak
termotivasi melakukan perataan laba melalui variabel tersebut.
Profitabilitas
Return on Asset (ROA) merupakan ukuran penting untuk
menilai sehat atu tidaknya
perusahaan, yang memepengaruhi investor untuk membuat keputusan. Perusahaan yang memiliki ROA
yang lebih tinggi cenderung
melakukan perataan laba
dibandingkan dengan perusahaan yang lebih rendah karena manajemen
tahu akan kemampuan untuk
mendapatkan laba pada masa
mendatang sehingga memudahkan dalam menunda atau mempercepat laba (Assih dkk, 2006:43).
Leverage Operasi
Levrerage operasi
perusahaan. Pengukuran variabelnya adalah rasio antar total biaya
depresiasi dan amortisasi dengan total biaya. dalam penelititan ini , total biaya merupakan penjumlahan
harga pokok penjulan, biaya
penjualan serta biaya administrasi dan umum. Leverage adalah bagian dari modal sendiri yang di jadikan jaminanuntuk keseluruhan utang.
Leverage ini dapat dihitung
menggunakan rumus:
Koefisien Respon Laba (Earnings
Response Cowfficient - ERC)
ERC didefinisikan sebagai “efek setiap rupiah laba kejutan (unexpected earnings) terhadap return saham yang ditunjukkan melalui slope koefisien dalam regresi abnormal return dengan unexpected earnings” (Cho dan Jung, 2011:53). ERC menunjukkan keinformatifan
laba suatu perusahaan atau
menunjukkan seberapa besar laba mampu menerangkan variasi harga saham (return saham). Dengan kata lain, “ERC merupakan koefisien sensitivitas laba akuntansi atau sensitivitas perubahan harga saham tehadap perubahan laba akuntansi” (Beaver, 2008:78).
Menurut Cho dan Jung
(2011:88) rerangka teoritis ERC diklasifikasikan menjadi dua model, yaitu :
1. Model Penilaian Berbasis
Keekonomisan Informasi
(Information oe)
Mengasumsikan bahwa ERC merupakan fungsi dari sinyal kandungan informasi laba serta persepsi investor terhadap sistem informasi. Semakin buruk sinyal
kandungan informasi laba dan
persepsi investor terhadap sistem informasi (berarti semakin rendah kualitas laba) maka semakin kecil ERC dan sebaliknya.
2. Model Penilaian Berbasis Time Series Laba (Time Series Based Valuation Model)
Mengasumsikan bahwa ERC
merupakan fungsi dari time-series
processes berbagai variabel
informasi yang dapat memprediksi besarnya deviden.
Pengaruh Perataan Laba Terhadap Earnings Response Cowfficient
Konservatisme adalah prinsip dalam pelaporan keuangan yang dimaksudkan untuk mengakui dan
mengukur aktiva dan laba
dilakukandengan penuh kehati-hatian oleh karena aktivitas ekonomi dan bisnis yang dilingkupi ketidakpastian (Wibowo, 2002:99). Implikasi dari penerapan prinsip ini adalah pilihan metode akuntansi ditujukan pada metode yang melaporkan laba dan aktiva lebih rendah atau utang lebih tinggi. Peneliti lain, Basu (2007:78)
mendefinisikan konservatisme
sebagai “praktik mengurangi laba (dan mengecilkan aktiva bersih) dalam merespons berita buruk (bad news), tetapi tidak meningkatkan laba (meninggikan aktiva bersih) dalam merespons berita baik (good news)”.
Praktik konservatisme bisa terjadi karena standar akuntansi yang
berlaku di Indonesia
memperbolehkan perusahaan untuk memilih salah satu metode akuntansi
dari kumpulan metode yang diperbolehkan pada situasi yang sama. Misalnya, PSAK No. 14 mengenai persediaan, PSAK No. 17
mengenai akuntansi penyusutan,
PSAK No. 19 mengenai aktiva tidak
berwujud dan PSAK No. 20
mengenai biaya riset dan
pengembangan. Akibat dari
fleksibelitas dalam pemilihan metode akuntansi adalah terhadap angka-angka dalam laporan keuangan, baik laporan neraca maupun laba-rugi.
Widya (2004:85) telah
meneliti penerapan akuntansi
konservatif di Indonesia,
melaporkan 76,9 % dari 75
perusahaan di BEI pada periode 2010
- 2014 menerapkan akuntansi
konservatif. Faktor-faktor yang
menjelaskan praktik akuntansi
konservatif adalah konsentrasi
kepemilikan di Indonesia, kontrak utang, kos potlitis dan pertumbuhan. Dahlia Sari (2004:89) meneliti peran
akuntansi konservatif dalam
mengurangi konflik antara pemegang saham dan pemegang obligasi pada saat pengumuman deviden. Hasil
penelitian mendukung hipotesis
penelitian bahwa konservatisme
berperan dalam perusahaan yang
menghadapi konflik pemegang
saham-pemegang obligasi.
METODE PENELITIAN Metode Pengumpulan Data
Dalam rangka pengumpulan data dan keterangan – keterangan yang diperlukan untuk penyusunan skripsi ini, maka penulis memakai 2 (dua) jenis penelitian, yaitu:
1. Penelitian Kepustakaan (Library Research) melalui penelitian
kepustakaan, baik dengan
mempelajari buku – buku ilmiah, literatur – literatur dan juga data sekunder lainnya yang relevan dengan tulisan ini.
2. Penelitian Lapangan (Field
Research). Adapun tehnik
penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Pengamatan (Observation),
yang dimaksud dengan
observasi adalah dimana
penulis melakukan pengamatan di lapangan secara langsung b. Dokumentasi (Documentation),
merupakan suatu tehnik
pengambilan data dari laporan – laporan yang sudah diolah sebelumnya oleh perusahaan
sehingga tidak langsung
diperoleh dari sumbernya.
Metode Analisis Data
Untuk membuktikan
hipotesis yang telah diajukan, maka digunakan metode analisis sebagai berikut :
1. Analisis deskriptif
2. Metode Regresi Sederhana
Seperti dapat kita lihat pada rumus regresi dibawah ini:
Y = a + b X + e
Dimana :
Y = Variabel Dependen / Terikat (Earning Response Coefficient) X = Variabel Independen/Bebas (Perataan Laba)
a = Intercept dari regresi b = Koefisien dari regresi/slop e = Error
Populasi Dan Sampel
Berikut nama-nama
perusahaan populasi yang menjadi
objek penelitian dalam penyusunan skripsi ini, seperti yang tersaji dalam di bawah ini.
Tabel
Daftar Sampel Perusahaan Manufaktur Dalam Penelitian Ini
No Kode Perusahaan
1 ADES Akasha Wira International Tbk
2 AISA Tiga Pilar Sejahtera Food
3 CEKA Cahaya Kalbar Tbk
4 DLTA Delta Djakarta Tbk
5 ICBP Indofood CBP Sukses Makmur Tbk
6 INDF Indofood Sukses Makmur Tbk
7 MLBI Multi Bintang Indonesia Tbk
8 PSDN Prasidha Aneka Niaga Tbk
9 MYOR Mayora Indah Tbk
10 SKLT Sekar Laut Tbk
11 ULTJ Ultra Jaya Milk Tbk
12 GGRM Gudang Garam Tbk
13 HMSP HM Sampoerna Tbk
14 RMBA Bentoel International Investama Tbk
15 DVLA Darya-Varia Laboratoria Tbk
16 INAF Indofarma (Persero) Tbk
17 KAEF Kimia Farma (Persero) Tbk
18 MERK Merck Tbk
19 PYFA Pyridam Farma Tbk
20 TSPC Tempo Scan Pacific Tbk
21 MERK Merck Tbk
22 TCID Mandom Indonesia Tbk
23 UNVR Unilever Indonesia Tbk
24 KICI Kedaung Indah Can Tbk
25 KDSI Kedawung Setia Industrial Tbk
26 LMPI Langgeng Makmur Plastik Industry Ltd Tbk
Sumber: www.idx.co.id (2019) Cara Menghitung Earnings Response Coeffgicient (ERC) Dan
Perataan Laba 1. Menghitung ERC
ERC merupakan merupakan pengaruh laba abnormal (unexpected earnings) terhadap CAR, yang ditunjukkan melalui slope coeficient dalam regresi abnormal return saham dengan unexpected earnings. Reaksi
pasar diproksikan dengan cumulative abnormal return (CAR), sedangkan laba akuntansi diproyeksikan dengan unexpected earning (UE). Besarnya ERC diperoleh dari regresi antara abnormal return dan unexpected earning. Sebagai contoh, berikut adalah perhitungan ERC perusahaan ADES tahun 2012.
Diketahui return saham sekarang (Pi,t) sebesar 2075, return pasar (Pi,t-1) sebesar 1920, sehingga besarnya return saham adalah:
Ri,t = (Pi,t – Pi,t-1) / Pi,t-1 = (2075-1920) / 1920 = 0,0807 Selanjutnya, return pasar (Rm,t)
diketahui sebesar 0,0156,
sehingga besarnya abnormal return adalah:
ARi,t = Ri,t - Rm,t = 0,0807– 0,0156)= 0,0650
b. Menghitung Cumulative
Abnormal Return (CAR) CAR dihitung dengan menjumlahkan abnormal return selama tiga bulan, sehingga untuk triwulan IV tahun 2012 untuk perusahaan ADES adalah : CARi,t = 0.065088 + 0.074385 - 0.12128 - 0.0609 + 0.077686-0.06761 - 0.05783 + 0.257967 + 0.267183 + 0.087728 + 0.026163 - 0.02257- 0.0546 + 0.048804 = 0,5202
Sehingga jumlah abnormal return untuk triwulan IV sebesar 0,5202. Dengan cara yang sama, untuk triwulan I diperoleh sebesar 0.017, triwulan II 0.2858, dan triwulan III -0.079.
c. Menghitung ERC
Unexpecter earning (UE) ADES untuk Q IV tahun 2012 diperoleh dari: UEi,t = EPSt – EPSt-1. = 141 –
109 = 32
Setelah diketahui nilai CARi,t dan nilai UEi,t, kemudian ERC dihitung menggunakan rumus slope coeficient
dalam regresi abnormal return
saham dengan unexpected earnings pada program Microsoft Excel 2007. Rumus perhitungannya :
= SLOPE (CARi,t ; UEi,t)
Sehingga, ERC perusahaan ADES tahun 2012 diperoleh: - 0,237
Tabel
Earnings Response Coeffgicient (ERC)
ERC RATA-RATA NO KODE 2012 2013 2014 1 ADES -0.23706 -0.10966 -0.03559 -0.1274384 2 AISA -0.03913 -0.08536 -0.0581 -0.0608628 3 CEKA -0.14048 -0.01617 1.071807 0.3050533 4 DLTA -0.12461 -0.01349 0.082817 -0.0184253 5 ICBP 0.017757 -0.02544 -0.03961 -0.0157643 6 INDF -0.10894 0.039629 0.044618 -0.0082323 7 MLBI -0.19146 -0.01985 0.553037 0.1139078 8 PSDN 0.005314 0.051868 0.035571 0.0309179 9 ROTI 0.115669 0.008258 -0.26798 -0.0480172 10 SKLT -0.16648 0.080228 0.57406 0.1626011 11 ULTJ -0.26891 -0.25528 -0.02414 -0.1827739 12 GGRM -0.1332 0.002749 0.028627 -0.0339402 13 HMSP -0.01996 0.279584 0.085453 0.1150256 14 RMBA 0.086572 -0.07152 -0.04478 -0.0099091 15 DVLA -0.00618 -0.02208 -0.0671 -0.0317877 16 INAF -0.19793 -0.0975 0.137562 -0.0526213 17 KAEF -0.03816 0.486042 -0.07229 0.1251996 18 MERK -0.03848 0.011567 -0.00906 -0.0119914 19 PYFA -0.10706 0.022113 0.007024 -0.0259756 20 TSPC -0.04105 -0.0294 -0.14984 -0.0734287 21 MBTO -0.2371 -0.13415 -0.1256 -0.1656196 22 TCID 0.156886 0.148214 0.18191 0.1623365 23 UNVR 0.33962 -0.22399 0.012375 0.0426691 24 KDSI -0.008 0.004777 0.011617 0.0027971 25 KICI 0.072141 0.003813 0.064922 0.0469588 26 LMPI 0.077205 0.006733 -0.03397 0.0166559 2. Perataan Laba
Perataan laba dapat diukur
menggunakan indeks eckel:
Indeks perataan laba =
(CVÄI/CVÄS) Dimana:
ÄI = perubahan laba dalam 1 periode
ÄS = perubahan penjualan dalam satu periode
CVÄI = koefisien variasi untuk perubahan laba
CVÄS = koefisien variasi
untuk perubahan penjualan
CVÄI dan CVÄS dapat dihitung dengan:
∆X = perubahan laba (I) atau perubahan penjualan (S) dari tahun t-1 ke tahun t
n = jumlah tahun yg diamati
Berikut contoh perhitungan perataan laba dari perusahaan ADES pada tahun 2012:
CVÄI =
= -8,5258
CVÄS =
= 3,4983
Indeks perataan laba = (-8,5258 : 3,4983) =
= -2,4371
Sehingga indeks perataan laba perusahaan ADES pada tahun 2012 adalah:
-2,4371.
Tabel
Perhitungan Perataan Laba
NO KODE Koefisien Variasi Perubahan Penjualan Koefisien Variasi Perubahan Laba Indeks Perataan Laba 1 ADES 3.498361684 -8.525828837 -2.437091875 2 AISA 1.279514498 1.933666259 1.511249979 3 CEKA 2.568265417 4.43910393 1.728444382 4 DLTA 62.86537359 -3.634526662 -0.057814445 5 ICBP 2.685623216 -11.50302008 -4.28318463 6 INDF 4.714609496 -3.211184755 -0.681113623 7 MLBI 38.23789403 -69.9382132 -1.829028899 8 PSDN -1.900818444 1.723294313 -0.906606477 9 ROTI 1.561695964 -6.620143568 -4.23907324 10 SKLT 9.42343856 1.660797617 0.176241147 11 ULTJ 0.869452248 2.146974468 2.469341442 12 GGRM 3.856118028 -2.029857643 -0.526399251 13 HMSP 6.904747835 -2.64079981 -0.382461442 14 RMBA 20.40913062 -11.46353284 -0.561686485 15 DVLA -4.05573369 1.712949336 -0.422352518 16 INAF -2.712138481 -23.07428068 8.507781163 17 KAEF -7.437609497 -7.443790709 1.000831075 18 MERK -2.790622035 -1.602437335 0.574222275 19 PYFA 0.452419791 0.692042224 1.529646223 20 TSPC -11.45745945 -1.114794471 0.097298574
21 MBTO -1.946954178 -2.652392638 1.362329256 22 TCID 7.155661044 -2.106291835 -0.294353215 23 UNVR 5.497855747 -28.56843183 -5.196286179 24 KDSI 124.5339702 1.353704584 0.010870163 25 KICI -394.4698275 1.674611497 -0.004245221 26 LMPI -0.87958895 1.732050808 -1.969159352 PEMBAHASAN
Hasil Pengujian Asumsi Klasik
Pengujian asumsi klasik perlu dilakukan terlebih dahulu sebelum pengujian regresi berganda. Hal ini
bertujuan supaya data yang
nantinya digunakan sebagai dasar
analisis benar-benar dapat
diandalkan (reliable).
Uji Autokorelasi
Pengujian autokorelasi
bertujuan untuk meneliti apakan
sebuah model regresi terdapat
korelasi antara kesalahan
pengganggu pada periode t dengan kesalahan pada periode sebelumnya (t-1). Pengujian dilakukan dengan
membandingkan nilai Durbin
Watson (d) hasil regresi dengan nilai dL dan dU dalam table
Durbin-Watson dengan α = 0,05.
Table
Hasil Pengujian Autokorelasi
Model Summaryb .244a .059 -.069 .02032 2.169 Model 1 R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson Predictors: (Constant), SIZE, LEV, CV
a.
Dependent Variable: ERC1 b.
Pengujian korelasi positif : dL
= 1,143 ; dU = 1,652. Pengujian
korelasi negative: 4 – dL= 2,857 ; 4 -
dU = 2,348. Nilai d yang diperoleh
sebesar 2,169 > dL = 1,143 dan dU = 1,652. Selain itu nilai d < 4 – dL=
2,857 dan 4 - dU = 2,348. Hal ini
mengindikasikan tidak terjadi
autokorelasi baik korelasi positif maupun korelasi negatif.
Uji Heteroskedastisitas
Pendekatan ada tidaknya
gejala heterokodaktisitas dilakukan melalui Glejser test yaitu dengan
meregresikan nilai mutlak
unstandardized residual terakhir hasil regresi dengan variable-variabel independen yang digunakan dalam persamaan regresi. jika probabilitas (sig) koefisien regresi (α) dari masing-masing variable independen lebih besar dari α = 0,05.
Dari table di bawah ini, terlihat nilai sig untuk variable CV, LEV dan SIZE yang semuanya lebih besar dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan data yang digunakan bebas dari gejala heteroskedastisitas
atau memenuhi asumsi
Table
Hasil Pengujian Heteroskedastisitas
Coefficientsa .116 .135 .855 .402 .006 .006 .211 1.002 .327 .007 .014 .107 .509 .616 -.003 .009 -.070 -.330 .745 (Constant) CV LEV SIZE Model 1 B Std. Error Unstandardized Coefficients Beta Standardized Coefficients t Sig.
Dependent Variable: ABSRES a.
Uji Multikolinieritas
Uji multikolinieritas ini bertujuan untuk mengetahui apakah variable-variabel independent yang ada dalam model berkorelasi satu sama lain atau tidak. Untuk menguji adanya multikolinieritas dapat dilihat dari nilai tolerance value dan VIF (Variance Inflation Factor). Data
dikatakan terbebas dari
multikolinieritas jika nilai tolerance value > 0,1 dan nilai VIF ≤ 4.
Berdasarkan table di bawah ini, terlihat bahwa nilai tolerance
value untuk semua variable
independen diatas 0,1 dan nilai VIF ≤ 4, Sehingga dapat disimpulkan
bahwa tidak terjadi gejala
multikolinieritas.
Berikut ini adalah table hasil pengujian multikolinieritas:
Table
Hasil Pengujian Multikolinieritas
Coefficientsa .019 .204 .095 .925 -.003 .009 -.065 -.301 .766 .965 1.036 .013 .022 .131 .613 .546 .975 1.026 -.001 .014 -.022 -.102 .919 .952 1.050 (Constant) CV LEV SIZE Model 1 B Std. Error Unstandardized Coefficients Beta Standardized Coefficients
t Sig. Tolerance VIF
Collinearity Statistics
Dependent Variable: ERC a.
Hasil Pengujian Hipotesis
Analisis Regresi Linier Berganda
Analisis regresi linier
berganda digunakan untuk menguji pengaruh dua atau lebih variabel independen terhadap satu variabel
dependen. Dalam penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui
pengaruh CV, LEV dan SIZE terhadap ERC.
Berikut hasil uji regresi linier berganda pada penelitian ini:
Tabel
Uji Regresi Linier Berganda
Coefficientsa .019 .204 .095 .925 -.003 .009 -.065 -.301 .766 .013 .022 .131 .613 .546 -.001 .014 -.022 -.102 .919 (Constant) CV LEV SIZE Model 1 B Std. Error Unstandardized Coefficients Beta Standardized Coefficients t Sig.
Dependent Variable: ERC a.
Tabel
Uji Koefisien Determinan (R2)
Model Summary .148a .022 -.111 .11265 Model 1 R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Predictors: (Constant), SIZE, LEV, CV
a.
Tabel
Uji F (Uji Simultan)
ANOVAb .006 3 .002 .165 .919a .279 22 .013 .285 25 Regression Residual Total Model 1 Sum of
Squares df Mean Square F Sig.
Predictors: (Constant), SIZE, LEV, CV a.
Dependent Variable: ERC b.
Tabel
Rangkuman Nilai Tabel Regresi Linier Berganda Koefisien Nilai t-statistik Sig
CV -0,003 -0,301 0,766 LEV 0,013 0,613 0,546 SIZE -0,001 -0,102 0,919 R = 0,148 R Square = 0,022 Adj. R Square = -0,111 F hitung = 0,165 Sig = 0,919
Tabel hasil regresi berganda
memperlihatkan bahwa nilai R
square sebesar 0,022 menunjukkan bahwa variabel ERC hanya mampu dijelaskan oleh CV, LEV dan SIZE sebesar 2,2%. Dari tabel ANOVA diperoleh nilai F hitung sebesar 0,165 dengan tingkat signifikan 0,919. Nilai sig ini lebih besar dari 0,05 yang memperlihatkan bahwa variable independen yang digunakan
secara bersama-sama tidak
berpengaruh terhadap variabel
dependen (ERC).
Untuk pengujian secara
parsial, nilai p-value (sig) untuk variabel perataan laba (CV) adalah sebesar 0,766 yang lebih besar dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa perataan laba tidak berpengaruh terhadap ERC. Dengan kata lain, ERC perusahaan perata laba tidak lebih tinggi dari ERC perusahaan bukan perata laba. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa hipotesis dalam penelitian ini tidak diterima.
Perataan laba merupakan
salah satu bentuk dari manajemen laba (earning management) yang dilakukan oleh pihak manajemen.
Manajemen termotivasi untuk
melakukan praktik perataan laba
dengan alasan meningkatkan
persepsi pihak eksternal mengenai
kinerja manajemen. Berdasarkan
analisis data penelitian
mengindikasikan bahwa praktik
perataan laba tidak menjadi alasan yang cukup kuat atau tidak menjadi
pertimbangan utama bagi para
investor dalam menganalisis laporan
keuangan perusahaan yang akan
dijadikan sebagai dasar
pertimbangan keputusan investasi di pasar modal. Kemungkinan lain, praktik perataan laba belum menjadi fenomena yang lazim digunakan oleh
perusahaan-perusahaan yang
terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Oleh karena itu, praktik parataan laba tidak menarik perhatian investor ketika melakukan analisis laporan keuangan. Ketika melakukan studi empirik mengenai praktik perataan laba, sangat sulit atau bahkan tidak mungkin untuk mendeteksi respon pasar terhadap praktik perataan laba. Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan Salno dan Baridwan (2000) yang menyimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan reaksi pasar antara perusahaan perata laba dan perusahaan bukan perata laba.
Untuk variabel kontrol yaitu LEV dan SIZE memiliki signifikansi sebesar 0,546 dan 0,919 yang semuanya lebih besar dari 0,05. Sehingga dapat dikatakan variabel-variabel tersebut tidak berpengaruh
terhadap ERC. Leverage
didefinisikan sebagai kemampuan perusahaan dalam melunasi semua kewajiban dengan asetnya. Dengan
demikian leverage menunjukan
resiko yang dihadapi perusahaan
berkaitan dengan hutang yang
dimiliki perusahaan. Semakin besar utang yang dimiliki perusahaan maka semakin ketat pengawasan yang dilakukan oleh kreditor, sehingga
fleksibilitas manajemen untuk
berkurang. Kreditur sebagai salah satu pengguna laporan keuangan utama (selain investor) menuntut
agar laporan keuangan yang
dipublikasikan oleh perusahaan lebih dipercaya. Oleh karenanya, kreditur
meningkatkan pengawasan yang
lebih ketat dan melakukan tekanan kepada manajer sehingga manajer tidak memiliki kesempatan untuk melakukan perataan laba.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis
data dan pengujian hipotesis
terhadap sampel dapat disimpulkan dalam penelitian ini, ternyata respon pasar terhadap perusahaan yang melakukan perataan laba tidak berbeda dengan perusahaan yang
tidak melakukan perataanlaba.
Dengan kata lain ERC perusahaan perata laba tidak lebih tinggi dari pada ERC perusahaan bukan perata laba. Hal ini dapat dilihat dari signifikansi dari variable DUMMY yang lebih besar dari 0,05 yaitu sebesar 0,925. Hal ini tidak sesuai dengan yang diprediksikan dan mungkin disebabkan oleh factor - faktor berikut:
1. Ada tidaknya praktik perataan laba tidak tampak secara kasat mata. Perataan laba merupakan
suatu kebijakan manajemen
perusahaan sendiri seperti,
mengatur waktu terjadinya
suatu transaksi pemecahan
biaya pengalokasian biaya atau pendapatan darisuatu period eke periode lain dan sebagainya
dimana semuanya itu tidak
mungkin dipaparkan secara
tertulis sehingga investor tidak
akan mungkin sampai
mempertimbangkan sampai
sejauhitu.
2. Penggunaan Indeks Eckel
mungkin tidak cukup baik
dalam mendeteksi praktik
perataan laba. IndeksEckel
merupakansuaturumussecarateo ritissaja yang mungkin belum dapat dibuktikan kebenarannya untuk mendeteksi ada tidaknya praktik perataan laba yang
dilakukan
perusahaan-perusahaan, khususnya di pasar modal Indonesia.
3. Seandainya praktik perataan laba memang benar ada, hasil peneltian ini mengindikasikan bahwa investor menganggap tindakan perataan laba bukanlah
suatu yang penting dalam
menganalisis laporan keuangan. Tampaknya, para investor lebih memperhatikan indikator yang lain seperti rasio - rasio
keuangan perusahaan. Dari
hasilriset yang dilakukan
selama ini menunjukkan bahwa rasio –rasio tersebut lebih dapat
mengungkapkan kesehatan
keuangan perusahaan di masa yang akan datang yang tentunya
akan lebih berguna untuk
menilai prospek investasinya di
perusahaan bersangkutan di
5.1. Saran
Saran-saran yang dapat
diberikanu ntuk peneliti selanjutnya adalah:
1. Menggunakan sampel
perusahaan yang berbeda dengan penelitan ini.
2. Menggunakan model perataan
laba yang berbeda dengan
penelitian ini.
3. Menemukan aspek lain yang mempengaruhi investor dalam merespon tindakan perataan laba yang dilakukan perusahaan.
DAFTAR PUSTAKA
Alexandri, Benny. Manajemen
Keuangan Bisnis Teori dan Soal. Bandung: Alfabeta.
2009.
Aliminsyah dan Padji. Kamus
Istilah Akuntansi. Bandung:
CV. Yrama Widya. 2007. Asyik, Nur Fadjrih dan Soelistyo.
Kemampuan Rasio
Keuangan Dalam
Memprediksi Laba, Jurnal
Ekonomi dan Bisnis
Indonesia, Vol.15. 2002. Foster, George. Akuntansi Biaya:
Suatu Pendekatan
Manajerial. Jilid 1. Edisi 12.
(Diterjemahkan oleh:
Marianus Sinaga). Penerbit Erlangga, Jakarta. 2006. Ghozali, Imam. Aplikasi Analisis
Multivariate dengan Program SPSS, Semarang:
Badan Penerbit Undip. 2006.
Ghozali, I. dan A. Chariri. Teori
Akuntansi, Semarang: Badan
Penerbit Undip.2007.
Hanafi, Mamduh M, 2005. Analisis
Laporan Keuangan Edisi
Kedua Cetakan Pertama.
Yogyakarta: UPP AMP
YKPN.
Ikatan Akuntan Indonesia.
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan,
Jakarta: Salemba Empat.
2007.
Kieso, Donald. E. Intermediate
Accounting, Edisi 10, Jakarta: Erlangga. 2002. Mardiasmo. Akuntansi Keuangan
Dasar 1 dilengkapi dengan Soal & Penyelesaiannya Edisi 3 Cetakan 1.
Yogyakarta: BPFE. 2002. Nurhidayati. Analisis faktor –
faktor yang mempengaruhi Dividen Per Lembar Saham di Bursa Efek Jakarta.
Jurnal Akuntansi dan
Keuangan, Volume 8, Nomor 1, Universitas Kristen Petra, Surabaya. 2006.
Suharlin, Michell. Akuntansi untuk
Bisnis Jasa & Dagang Edisi 1 Cetakan 1. Yogyakarta: