• Tidak ada hasil yang ditemukan

ARTIKEL JURNAL ABSTRACT. Supervisor (1) Astri Widyarulli A., M.A. (2) Yerry Mijianti. S.S., M.Pd.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ARTIKEL JURNAL ABSTRACT. Supervisor (1) Astri Widyarulli A., M.A. (2) Yerry Mijianti. S.S., M.Pd."

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)

7 ABSTRACT

Novendy, Atief. 2016. Imaging and Diction In Poetry Essay Grade VIII E SMP Muhammadiyah 1 Jember in the academic year 2015/2016 Study Program of Indonesian Language and Literature, the Faculty of Education, University of Muhammadiyah Jember.

Supervisor (1) Astri Widyarulli A., M.A. (2) Yerry Mijianti. S.S., M.Pd. Keywords: Imaging, diction, Poetry

Poetry is one of the literary works that have aesthetic value. Many people argue that poetry is writing activities, even its only entertain only. That means we do not understand the true meaning can be obtained from the poet through poetry. The use of imagery and diction in writing should be noted that the reader will be carried in the atmosphere depicted in the poem.

The goal of the researchers is to describe the imaging of poems by students of class VIII E SMP Muhammadiyah 1 Jember in the academic year 2015/2016. Describing diction or choice of words contained in the imaging poetry E VIII students of SMP Muhammadiyah 1 Jember in the academic year 2015/2016.

The design of this study is qualitative, descriptive research. The data source of this research is the students of class VIII E SMP Muhammadiyah 1 Jember in the academic year 2015/2016. The data were analyzed with descriptive analysis interpretative method by examining the data, data reduction,

categorization, data authenticity, examination, interpretation of data. The data used in this study is a poem written by students of class VIII E SMP

Muhammadiyah 1 Jember in the academic year 2015/2016. Data collection techniques of this study is documentation techniques. The time and location of this research is Wednesday 20th January 2016 at SMP Muhammadiyah 1 Jember.

The results of data analysis showed that contained in the student poetry is the image of sight, hearing, feeling, touch, movement, smell. Of all the works of poetry student, found no one imaging is the imaging foretaste.

(2)

ABSTRAK

Novendy, Atief. 2016. Pencitraan dan Diksi Pada Puisi Karangan Siswa Kelas VIII E SMP Muhammadiyah 1 Jember Tahun Pelajaran 2015/2016 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Jember.

Pembimbing (1) Astri Widyarulli A., M.A. (2) Yerry Mijianti. S.S., M.Pd. Kata Kunci : Pencitraan, Diksi, Puisi

Puisi adalah salah satu karya sastra yang memiliki nilai estetis. Banyak orang berpendapat bahwa puisi merupakan kegiatan menulis saja, bahkan sifatnya hanya menghibur saja. Hal itu berarti kita kurang memahami makna yang

sesungguhnya dapat kita peroleh dari penyairnya lewat puisi tersebut. Penggunaan pencitraan dan diksi dalam penulisan perlu diperhatikan agar pembaca lebih terbawa dalam suasana yang digambarkan dalam puisi tersebut.

Tujuan yang ingin dicapai oleh peneliti adalah Mendeskripsikan

pencitraan puisi karya siswa kelas VIII E SMP Muhammadiyah 1 Jember Tahun Pelajaran 2015/2016. Mendeskripsikan diksi atau pilihan kata yang terdapat pada pencitraan puisi siswa VIII E SMP Muhammadiyah 1 Jember Tahun Pelajaran 2015/2016.

Rancangan penelitian ini adalah kualitatif, jenis penelitian deskriptif. Sumber data penelitian ini adalah siswa-siswi kelas VIII E SMP Muhammadiyah 1 Jember Tahun Pelajaran 2015/2016. Data dalam penelitian ini dianalisis dengan metode analisis deskriptif interpretatif dengan menelaah data, reduksi data, kategorisasi, keabsahan data, pemeriksaan, penafsiran data. Data yang dipakai dalam penelitian ini adalah puisi karya siswa kelas VIII E SMP Muhammadiyah 1 Jember Tahun Pelajaran 2015/2016. Teknik pengumpulan data penelitian ini adalah teknik dokumentasi. Waktu dan lokasi penelitian ini adalah hari rabu tanggal 20 januari 2016 di SMP Muhammadiyah 1 Jember.

Hasil analisis data menunjukkan bahwa yang terdapat dalam puisi siswa adalah citra penglihatan, pendengaran, perasaan, perabaan, gerak, penciuman. Dari seluruh karya puisi siswa, tidak ditemukan salah satu pencitraan yaitu pencitraan pencecapan.

(3)

BAB I PENDAHULUAN

Pada bab I ini diuraikan, antara lain: (1) latar belakang masalah,

(2) rumusan masalah, (3) tujuan penelitian, (4) definisi operasional, (5) manfaat penelitian, dan (6) ruang lingkup penelitian.

1.1 Latar Belakang Penelitian

Menurut Zainuddin (1992:99) sastra ialah karya seni yang dikarang menurut standar bahasa kesusastraan. Standar bahasa kesusastraan yang dimaksud adalah pengguanaan kata-kata yang indah dan gaya bahasa serta gaya cerita yang menarik. Sedangkan kesusastraan adalah karya seni yang pengungkapannya baik dan diwujudkan dengan bahasa yang indah.

Menurut Pradopo (2003:121) sastra (karya sastra) merupakan karya seni yang mempergunakan bahasa sebagai mediumnya. Berbeda dengan seni lain, misalnya seni musik dan seni lukis yang mediumnya netral, dalam arti, mempunyai sistem dan konvensi. Medium seni lukis adalah cat atau warna, medium seni musik suara atau bunyi, semuanya belum mempunyai arti sebagai bahan. Bahan sastra adalah bahasa yang sudah berarti. Bahasa berkedudukan sebagai bahan dalam hubunganya dengan sastra, sudah mempunyai sistem dan konvensi sendiri, maka disebut sistem simiotik tingkat pertama. Sastra yang mempunyai sistem dan konvensi sendiri yang mempergunakan bahasa, disebut sistem simiotik tingkat kedua (second order semiotics).

Menurut Semi (1989:39) sastra adalah karya seni, karena itu ia mempunyai sifat yang sama dengan karya seni yang lain, seperti seni suara, seni

(4)

lukis, seni pahat, dan lain-lain. Tujuannya pun sama yaitu untuk membantu manusia menyingkapkan rahasia keadaanya, untuk memberi makna pada eksistensinya, serta untuk membuka jalan ke kebenaran. Perbedaannya terletak bahwa sastra memiliki aspek bahasa.

Salah satu karya sastra yang memiliki nilai estetis antara lain puisi. Banyak orang berpendapat bahwa puisi merupakan kegiatan menulis saja, bahkan sifatnya hanya menghibur saja. Hal itu berarti kita kurang memahami makna yang sesungguhnya dapat kita peroleh dari penyairnya lewat puisi tersebut. Untuk itu penting kita merubah paradigma tentang keberadaan puisi, sesungguhnya puisi sebagai karya yang serius dan penting untuk dimaknai.

Keindahan puisi tidak semata-mata terletak pada kata. Keindahan puisi juga bukan semata-mata pengalaman batin, tapi juga lebih mengacu pada keterampilan kita menuangkan kenyataan yang kita rasakan dan alami sehari-hari seperti dialami semua orang. Sehingga, akan gagal bila puisi mencoba bersembunyi di balik kata-kata yang gagah padahal sedikit saja yang bisa dirasakan kejujurannya di dalamnya.

Berkaitan dengan masalah tersebut diatas, dalam sebuah puisi terdapat pengimajinasian yang merupakan pengungkapan sensoris yang dituangkan melalui kata, sehingga pembaca seolah-olah dapat merasakan, melihat, mendengar, mencium, dan meraba apa yang digambarkan oleh pengarang dalam puisinya. Selain itu, dalam sebuah puisi juga terdapat diksi. Diksi ialah pilihan kata yang tepat dan selaras untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu seperti yang diharapkan pengarang/penyair, efek tertentu yang dimaksud adalah muslihat pikiran, muslihat pikiran tersebut berupa bahasa yang

(5)

disusun untuk mengajak pembaca berfikir. Dengan bahasa itu para penyair menarik perhatian dan pikiran, sehingga pembaca berkontemplasi dan tersugesti atas apa yang dikemukakan penyair.

Berdasarkan uraian diatas peneliti mengambil judul penelitian yaitu “Pencitraan Puisi dan Diksi Pada Puisi Karangan Siswa Kelas VIII E SMP Muhammadiyah 1 Jember Tahun Pelajaran 2015/2016”. Pengambilan judul tersebut dikarena pencitraan dan diksi sering dipakai siswa dalam penulisan puisi. Penelitian ini diharapkan dapat mengetahui pencitraan dan diksi apa saja yang digunakan dalam puisi siswa. Pencitraan dan diksi yang digunakan sebaiknya sesuai dengan apa yang benar-benar siswa rasakan, dan dilihatnya. Jadi, pencitraan dan diksi sangat penting dalam penulisan puisi baik bagi penulis maupun bagi pembacanya sehingga dapat bermanfaat bagi penulis maupun pembaca dalam hal kejelasan pencitraan dan diksi yang ada di dalam puisi tersebut.

Menurut hasil observasi penulis yang dilakukan dengan diskusi bersama guru kelas, VIII E SMP Muhammadiyah 1 Jember Tahun Pelajaran 2015/2016 kurang memperhatikan penggunaan pencitraan dan diksi dalam menulis puisi. Selain itu, siswa juga masih kurang memahami tentang maksud pencitraan dan diksi yang dituangkan dalam puisi. Oleh karena itu, peneliti memilih kelas VIII E yang berjumlah 28 siswa untuk dijadikan subyek penelitian sebagai bahan acuan kepada guru mata pelajaran bahasa Indonesia agar lebih memperhatikan pencitraan dan diksi dalam membuat puisi.

1.2 Masalah Penelitian

(6)

1) Bagaimanakah pencitraan puisi karya siswa kelas VIII E SMP Muhammadiyah 1 Jember Tahun Pelajaran 2015/2016?

2) Bagaimanakah diksi atau pilihan kata yang terdapat pada pencitraan puisi siswa VIII E SMP Muhammadiyah 1 Jember Tahun Pelajaran 2015/2016?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai peneliti sebagai berikut.

1) Mendeskripsikan pencitraan puisi karya siswa kelas VIII E SMP Muhammadiyah 1 Jember Tahun Pelajaran 2015/2016

2) Mendeskripsikan diksi atau pilihan kata yang terdapat pada pencitraan puisi siswa VIII E SMP Muhammadiyah 1 Jember Tahun Pelajaran 2015/2016

1.4 Definisi Operasional

Definisi operasional bertujuan untuk menghindari kesalahan dalam mengartikan istilah-istilah yang terdapat dalam judul maupun di dalam isi penelitian ini, maka perlu didefinisikan istilah-istilah sebagai berikut.

1) Pencitraan puisi adalah pengungkapan suasana pengalaman siswa secara konkrit yang dituangkan ke dalam puisinya yang diwakili oleh diksi-diksi atau data eksplisit.

2) Diksi adalah pemilihan kata-kata yang sesuai dengan apa yang hendak diungkapkan dalam pencitraan puisi.

3) Puisi karangan siswa adalah ekspresi siswa yang dituangkan melalui tulisan sesuai dengan apa yang dilihat, dirasakan, dan didengarkan dalam bentuk bait ataupun baris sehingga terbentuklah sebuah puisi.

(7)

1.5 Manfaat Penelitian

Penelitian tentang ”Pencitraan Puisi dan Diksi pada Puisi Karangan Siswa Kelas VIII E SMP Muhammadiyah 1 Jember Tahun Pelajaran 2015/2016” ini mempunyai empat manfaat sebagai berikut.

1) Bagi mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan masukan agar lebih memperhatikan pencitraan dan diksi dalam sebuah puisi.

2) Bagi guru, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan informasi pembaca maupun pecinta sastra tentang manfaat yang diperoleh dari sebuah puisi.

3) Bagi siswa, agar menjadi bahan masukan untuk lebih memperhatikan pencitraan dan diksi yang sesuai dengan apa yang di pikirkan, dirasakan dan dilihat sehingga siswa dapat memahami pencitraan dan diksi

4) Bagi peneliti lain, hasil penelitian ini diharapkan mampu dimanfaatkan sebagai penanaman nilai-nilai estetis dalam sebuah karangan puisi.

1.6 Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada permasalahan pencitraan puisi dan diksi pada Puisi Karangan Siswa Kelas VIII E SMP Muhammadiyah 1 Jember Tahun Pelajaran 2015/2016 yang meliputi Pencitraan penglihatan (visual), pendengaran (auditif), pencecapan, perasaan (taktil), gerak, lingkungan, dan kesedihan. Selain itu, diksi dan makna stilistika dalam puisi karangan siswa. Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII E serta data penelitian

(8)

berupa puisi karangan siswa kelas VIII E. Lokasi dalam penelitian ini di SMP Muhammadiyah 1 Jember.

(9)

BAB III

METODE PENELITIAN

Pada bab ini disajikan, antara lain: (1) jenis penelitian, (2) lokasi pene- litian, (3) data penelitian, (4) sumber data, (5) teknik pengumpulan data,

(6) instrumen pengumpulan data, (7) teknik analisis data, dan (7) pengecekan keabsahan temuan.

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif yang berjudul “Pencitraan Puisi dan Diksi pada Puisi Karangan Siswa Kelas VIII E SMP Muhammadiyah 1 Jember Tahun Pelajaran 2015/2016”. Menurut Moleong (2009:6) “Penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan prosedur analisis yang tidak menggunakan prosedur analisis statistik atau cara kuantifikasi lainnya”. Selain itu, Chaer (2006:9) menyatakan ”penelitian kualitatif deskriptif ini dilakukan dengan mengumpulkan data, mengklasifikasikan, kemudian merumuskan kaidah-kaidah terhadap keteraturan yang terdapat pada data”, dengan kata lain penelitian deskriptif dilakukan dengan tujuan untuk menggambarkan secara sistematis fakta yang ada dalam karakteristik objek atau subjek yang di teliti secara tepat.

Penelitian dimaksudkan, dengan adanya data tentang pencitraan dan diksi yang diperoleh dikumpulkan, kemudian diklasifikasikan, dianalisis, dan dijelaskan berdasarkan kategori-kategori yang sudah ditentukan. Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan data tentang pencitraan dan diksi yang terdapat dalam puisi karya siswa kelas VIII E SMP Muhammadiyah 1 Jember Tahun Pelajaran 2015/2016.

(10)

3.2 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kelas VIII E SMP Muhammadiyah 1 Jember Tahun Pelajaran 2015/2016 dengan pertimbangan sebagai berikut.

1) Sekolah tersebut bersedia dan memberikan izin kepada peneliti untuk penelitian ini sesuai dengan tujuan penelitian.

2) Hasil observasi awal dan konsultasi dengan guru bidang studi bahasa Indonesia, diketahui bahwa sesuai dengan SK dan KD dalam mata pelajaran tersebut.

3.3 Data Penelitian

Arikunto (2010:61) mengatakan bahwa data adalah hasil pencatatan peneliti, baik yang berupa fakta ataupun angka. Data dalam penelitian ini ialah fakta yang berupa kata-kata yang mewakili pencitraan dan diksi yang terdapat dalam puisi karya siswa. Puisi tersebut merupakan objek penelitian, puisi yang di tulis siswa sesuai dengan pengalaman pribadi siswa tanpa ada batasan dari segi jenis puisi, bait, dan barisnya. Data yang diteliti sesuai data asli dari sumber data tanpa ada perubahan.

3.4 Sumber Data

Sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh (Arikunto, 2006:129). Adapun subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII E SMP Muhammadiyah 1 Jember Tahun Pelajaran 2015/2016 jumlah siswa yang diteliti yaitu 30 siswa. Peneliti memilih kelas VIII E dikarenakan adanya standar kompetensi menulis puisi bebas yang terdapat pada kelas VIII, yaitu mengungkapkan pikiran dan perasaan dalam puisi bebas, selain itu kelas VIII E dianggap mampu untuk membuat puisi yang mengandung unsur batin dan unsur fisik berfungsi bersama dalam kesatuan dengan totalitasnya.

(11)

3.5 Teknik Pengumpulan Data

Menurut Sugiyono (2013:224) teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Dalam hal ini peneliti menggunakan metode dokumentasi. Menurut Arikunto (2010:274) metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda, dan sebagainya. Teknik dokumentasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah catatan karya tulis siswa kelas VIII E SMP Muhammadiyah 1 Jember Tahun Pelajaran 2015/2016 yang berupa teks puisi. Dokumentasi yang berupa teks puisi tersebut diperoleh dari guru kelas VIII E menggunakan teknik penugasan/resitasi. Menurut Sudirman (1991:141) Teknik penugasan/resitasi adalah cara penyajian bahan pelajaran dimana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar. Teknik penugasan/resitasi yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan memberikan tugas menulis puisi kepada siswa kelas VIII E SMP Muhammadiyah 1 Jember Tahun Pelajaran 2015/2016..

Pada penelitian yang akan dilakukan, peneliti dan pihak sekolah khususnya guru mata pelajaran Bahasa Indonesia mengadakan kerja sama untuk mendapatkan data yang diinginkan. Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini adalah (1) peneliti dan guru bekerja sama dalam memberikan tugas membuat puisi kepada siswa, dan (2) peneliti dan guru mata pelajaran membagikan lembar tes yang berupa perintah untuk membuat sebuah puisi. Data tersebut kemudian segera dianalisis menurut jenis pencitraan dan diksi yang terdapat dalam pencitraannya.

(12)

3.6 Instrumen Pengumpulan Data

Menurut Sugiono (2012:59) pada penelitian kualitatif, yang menjadi intrumen atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri. Peneliti sebagai human instrument, berfungsi menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, menafsirkan data dan membuat kesimpulan atas semuanya. Dalam hal ini peneliti menggunakan instrumen/alat bantu berupa tabel untuk mengkode nama siswa/pengkodean dan menganalisis data supaya dalam penelitian ini lebih ilmiah. Dalam penelitian ini pengkodean dan menganalisis data menggunakan tabel sebagai berikut.

Tabel 3.1 Pengkodean Data

No Nama Kode Data

1 Akbar H. Gumanti A Terdiri dari 13 baris, 3 bait 2 Anifah Eka Y. B Terdiri dari 10 baris, 2 bait 3 Bima Cakra Buana C Terdiri dari 8 baris, 2 bait 4 Devira Yunita A. D Terdiri dari 9 baris, 2 bait 5 Dewi Oktaviyanti E Terdiri dari 9 baris, 2 bait

Catatan : =A, B, C, …. dst = Kode siswa

=Angka pertama (1, 2, 3, …. dst = urutan bait =Angka kedua (1, 2, 3, …. dst = urutan bari

(13)

Tabel 3.2 Contoh Pengumpulan dan Klasifikasi Pencitraan Puisi No Kode siswa Data Jenis Pencitraan PL PD PR PB PG PC PCC

1 A Saat langit langit semakin menua

2 Y Mendengar nyanyi penuh

santunan

3 Q Sebagai tanda cinta tanah airku

4 T Sosok hangat yang aku temui

5 X Jangan Kau limpah murkamu di negeri ini

 Catatan : =A, B, C, …. dst = Kode siswa PL = Pencitraan Penglihatan

=Angka pertama (1, 2, 3, …. dst = urutan bait PD = Pencitraan Pendengaran =Angka kedua (1, 2, 3, …. dst = urutan baris PR = Pencitraan Perasaan

PB = Pencitraan perabaan PG = Pencitraan Gerak PC = Pencitraan Penciuman PCC = Pencitraan Pencecapan

3.7 Teknik Analisis Data.

Miles dan Huberman (1984) mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas sehingga datanya penuh. Menurut miles dan Huberman (1992;16-21) teknik analisis data ada empat yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan pengambilan kesimpulan. Berikut pemaparannya.

1. Pengumpulan data

Menurut Miles dan Huberman (1992:16) untuk memperoleh data yang dibutuhkan maka peneliti mengumpulkan data dengan menggali informasi dari informan baik melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Langkah yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu analisis data puisi karya siswa kelas VIII E SMP Muhammadiyah 1 Jember.

(14)

2. Reduksi data

Menurut Miles dan Huberman (1992:16) reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian terhadap penyederhanaan, pengabstakan, dan transformasi data ”kasar” yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Langkah yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting dengan mencari pencitraan dan diksi dalam puisi. Pada penelitian ini, proses reduksi data dilakukan dengan cara mengkategorikan baris-baris puisi yang termasuk pencitraan dan yang termasuk diksi.

3. Penyajian data

Menurut Miles dan Huberman (1992:18) Penyajian data merupakan penyusunan sekumpulan informasi dari reduksi data yang kemudian disajikan dalam laporan yang sistematis dan mudah difahami. Langkah dalam penelitian ini yaitu data tentang pencitraan dan diksi dikategorisasikan kemudian diberi tanda centang sesuai dengan pencitraan dan diksi yang sudah ditentukan.

4. Pengambilan kesimpulan

Menurut Miles dan Huberman (1992:20) Pada tahap ini peneliti

mengambil kesimpulan terhadap data yang telah direduksi kedalam laporan yang sistematis dengan cara membandingkan, menghubungkan dan memilih data yang mengarah pada pemecahan masalah serta mampu menjawab permasalahan dan tujuan yang hendak dicapai. Langkah dalam penelitian ini adalah pendeskripsian data tentang penggunaan pencitraan atau imajinasi dan diksi pada puisi siswa.

(15)

3.8 Pengecekan Keabsahan Temuan

Menurut Moleong (2009:324) “untuk menetapkan keabsahan data diperlukan teknik pemeriksaan”. Pada penelitian ini teknik pemeriksaan keabsahan data menggunakan (1) ketekunan pengamatan, dan (2) pengecekan sejawat.

1) Ketekunan Pengamatan

Menurut Moleong (2009:329) “ketekunan Pengamatan berarti mencari secara konsisten interpretasi dengan berbagai cara dalam kaitan dengan proses analisis yang konstan atau tentatif”. Mengamati data yang mengandung kerakteristik pencitraan dan diksi dalam puisi. Penafsiran terhadap data-data tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kontek wacana tempat data itu berada.

Dalam penelitian ini peneliti melakukan pengamatan dengan teliti dan rinci secara berkesinambungan. Prosedur langkah terhadap data yang dilakukan adalah:

a) Peneliti membaca dan memahami secara mendalam data.

b) Peneliti menelaah secara rinci diksi dalam pencitraan puisi siswa, dengan cara mengulang yang sudah di teliti, misalnya mengoreksi ulang kembali kepada teman sejawat agar mengetahui kesalahan.

2) Pengecekan Sejawat

Moleong (2009:332) “pengecekan sejawat adalah teknik yang dilakukan dengan cara mengekspos hasil sementara atau hasil akhir yang diperoleh dalam bentuk diskusi dengan rekan-rekan sejawat”. Pembacaan berulang-ulang untuk

(16)

memperoleh data yang hasilnya tetap, tidak mengalami perubahan sampai data benar-benar reliabel dan mendiskusikan hasil pengamatan dengan pengamat lain.

Dalam penelitian ini, peneliti melakukan pengoreksian ulang kembali dengan teman sejawat agar mengetahui kesalahan-kesalahan dan data yang dianalisis tidak mengalami perubahan serta hasilnya tetap. Hasil pengamatan dengan pengamat lain yaitu guru mata pelajaran Bahasa Indonesia yang bernama Ibu Farida Ika Wati, S.Pd.

(17)

BAB V PEMBAHASAN

Pada bab ini dipaparkan tentang hal-hal yang berhubungan dengan pencitraan dan diksi puisi karya siswa kelas VIII E SMP Muhammadiyah 1 Jember yang telah di paparkan pada bab IV. Hal-hal tersebut berkenaan dengan penggunaan pencitraan dan diksi pada puisi karya siswa. Berikut penjelasannya.

5.1 Pencitraan Yang Terdapat Dalam Puisi Karya Siswa

Pencitraan yang ditemukan dalam puisi karya siswa kelas VIII E SMP Muhammadiyah 1 Jember ada enam pencitraan yaitu penglihatan, pendengaran, perasaan, perabaan, gerak, penciuman. Pada puisi karya siswa sebanyak 27 puisi, pencitraan yang telah ditemukan akan diuraikan berdasarkan hasil analisis yaitu sebagai berikut.

5.1.1 Pencitraan Visual (Penglihatan)

Menurut Waluyo (2005:11) imaji visual (penglihatan) menampilkan kata atau kata-kata yang menyebabkan apa yang digambarkan penyair lebih jelas seperti dapat dilihat oleh pembaca. Data yang telah ditemukan dari hasil penilitian ini yaitu sebagai berikut.

a. Catatan Hati (A) (1) Bait ke-1 baris ke-2

Saat langit-langit semakin menua

Pada baris tersebut menampilkan kata-kata yang lebih jelas dan

berhubungan dengan indera penglihatan, yaitu Saat langit-langit semakin menua, sehingga pembaca seolah-olah dapat melihat hal tersebut. Pada

(18)

baris puisi tersebut penyair menyampaikan tentang hari-hari yang telah berlalu.

b. Harta (C)

(1) Bait ke-2 baris ke-2

Makhluk mati dengan hampa

Pada baris tersebut menampilkan kata-kata yang lebih jelas dan berhubungan dengan indera penglihatan yaitu

Makhluk mati dengan hampa. sehingga pembaca seolah-olah dapat melihat itu secara nyata. Pada baris puisi tersebut penyair

menggambarkan ekosistem air yang mati. c. Hutanku (G)

(1) Bait ke-1 baris ke-2

Pohon-pohon perlahan hilang darimu

Pada baris tersebut menampilkan kata-kata yang berhubungan dengan indera penglihatan yaitu Pohon-pohon perlahan hilang darimu, sehingga pembaca seolah-olah dapat melihatnya. Pada baris tersebut penyair menggambarkan hutan yang semakin gundul.

d. Matahari (I)

(1) Bait ke-1 baris ke-1

Matahari kau terbit dipagi hari

Pada baris tersebut menampilkan kata-kata yang berhubungan dengan indera penglihatan yaitu Matahari kau terbit dipagi hari, sehingga pembaca seolah-olah dapat melihatnya. Pada baris tersebut penyair menggambarkan tentang matahari terbit pada pagi hari.

(19)

e. Senja Di Malam Hari (J) (1) Bait ke-1 baris ke-1

Kau bagaikan gemerlap di langit

Pada baris tersebut menampilkan kata-kata yang lebih jelas dan berhubungan dengan indera penglihatan yaitu Kau bagaikan gemerlap di langit sehingga pembaca seolah-olah dapat melihat hal tersebut. Pada baris tersebut penyair menggambarkan tentang indahnya cahaya bintang dilangit.

f. Hutanku Yang Rusak (L) (1) Bait ke-1 baris ke-1

Kini semuanya telah hancur

Pada baris tersebut menampilkan kata-kata yang berhubungan dengan indera penglihatan yaitu Kini semuanya telah hancur sehingga pembaca seolah-olah dapat melihat kerusakan atau kehancuran. Pada baris tersebut penyair menggambarkan tentang kerusakan atau kehancuran.

g. Keluarga (M)

(1) Bait ke-2 baris ke-2

Karna engkau selalu sabar

Pada baris tersebut menampilkan kata-kata yang berhubungan dengan indera penglihatan yaitu Karna engkau selalu sabar sehingga pembaca seolah-olah dapat melihatnya. Pada baris tersebut penyair menggambarkan tentang perilaku seorang kesabaran.

(20)

h. Desa Kembang Pulo (O) (1) Bait ke-1 baris ke-1

Dahulu kala desa nan asri

Pada baris tersebut menampilkan kata-kata yang berhubungan dengan indera penglihatan yaitu nan asri sehingga pembaca seolah-olah dapat melihat desa yang indah. Pada baris tersebut penyair menggambarkan tentang keindahan alam didesa.

i. Suatu Pagi di Tawang Mangu (P) (1) Bait ke-1 baris ke-1

Biru safir saat terbit fajar

Pada baris tersebut menampilkan kata-kata yang berhubungan dengan indera penglihatan yaitu saat terbit sehingga pembaca seolah-olah dapat melihat sinar matahari saat fajar. Pada baris tersebut penyair menggambarkan tentang indahnya sinar matahari saat fajar. j. Ibu (U)

(1) Bait ke-3 baris ke-2 Kaulah cahaya pelitaku

Pada baris tersebut menampilkan kata-kata yang berhubungan dengan indera penglihatan yaitu cahaya sehingga pembaca seolah-olah dapat melihat cahaya. Pada baris tersebut penyair menggambarkan tentang seorang anak yang sangat menyayangi ibunya.

Baris-baris puisi yang telah dianalisis di atas merupakan baris puisi yang ditulis siswa kode A, C, G, I, J, L, M, O, P dan U. Baris puisi tersebut

(21)

tersebut membuat seolah-olah pembaca melihat sesuatu yang digambarkan penulis dalam puisinya.

5.1.2. Pencitraan Auditif ( Pendengaran )

Menurut Waluyo (2005:11) Imaji auditif (pendengaran) adalah penciptaan uangkapan oleh penyair, sehingga pembaca seolah-olah mendengarkan suara seperti yang digambarkan oleh penyair. Data yang telah ditemukan dari hasil penilitian ini adalah sebagai berikut.

a. Tanah Airku (Y) (1) Bait ke-1 baris ke-3

Mendengar nyanyi penuh santunan

Pada baris tersebut penyair menggunakan pencitraan pendengaran karena memberikan rangsangan kepada telinga yaitu kata Mendengar, sehingga pembaca seolah-olah mendengar nyanyian. Pada baris puisi diatas penyair memberikan gambaran seolah-olah tokoh aku dalam puisi ini teringat dengan suasana kampung halamannya yang begitu tenang.

Baris-baris puisi yang telah dianalisis di atas merupakan baris puisi yang ditulis siswa kode Y. Baris puisi tersebut menggunakan pencitraan

Auditif(pendengaran). Hal itu dikarenakan melalui kata-kata tersebut membuat seolah-olah pembaca mendengar sesuatu yang digambarkan penulis dalam puisinya.

5.1.3 Pencitraan Taktil (Perasaan)

Menurut Waluyo (2005:12) Pencitraan taktil (perasaan) adalah penciptaan ungkapan oleh penyair yang mampu mempengaruhi perasaan sehingga pembaca

(22)

ikut terpengaruh perasaannya. Data yang telah ditemukan dari hasil penilitian ini sebagai berikut.

a. Rumahku (B)

(1) Bait ke-2 baris ke-2 Engkau adalah surgaku

Pada baris puisi tersebut penyair menggunakan pencitraan perasaan karena puisi melibatkan hati (perasaan) pembaca dalam memahami makna puisi yaitu kata surgaku, surga yang dimaksud dalam puisi ini adalah kenyamanan karena tidak ada yang mengetahui bagaimana surga yang sesungguhnya sehingga pembaca seakan-akan ikut merasakan kenyamanan itu. Pada baris puisi diatas penyair menggambarkan tentang kenyamanan dirumah sendiri. b. Sahabat (H)

(1) Bait ke-2 baris ke-4 Yang akan terkenang

Pada baris puisi tersebut penyair menggunakan pencitraan perasaan karena melibatkan hati (perasaan) pembaca dalam memahami makna puisi yaitu kata Terkenang, sehinga pembaca seakan-akan ikut merasakan kenangan itu. Pada baris puisi diatas penyair

menggambarkan tentang mengenang jasa seorang sahabat yang tidak akan pernah terlupakan.

(23)

c. Benderaku (Q)

(1) Bait ke-3 baris ke-4

Sebagai tanda cinta tanah airku

Pada baris puisi tersebut penyair menggunakan pencitraan perasaan karena melibatkan hati (perasaan) pembaca dalam memahami makna puisi yaitu kata Cinta sehinga pembaca seakan-akan merasakan rasa cinta itu. Pada baris puisi di atas penyair menggambarkan tentang rasa cinta kepada tanah air.

Baris-baris puisi yang telah dianalisis di atas merupakan baris puisi yang ditulis siswa kode B, H dan Q. Baris puisi tersebut menggunakan pencitraan taktil(perasaan). Hal itu dikarenakan melalui kata-kata tersebut membuat seolah-olah pembaca merasakan sesuatu yang digambarkan penulis dalam puisinya 5.1.4. Pencitraan Perabaan

Menurut Badrun (1983:54) “citraan perabaan ialah citraan yang dihasilkan oleh perabaan”. Pencitraan perabaan merupakan imajinasi rasa kulit, yang

menyebabkan kita seperti merasakan di bagian kulit badan kita rasanya nyeri, rasa dingin, atau rasa panas oleh tekanan udara atau oleh perubahan suhu udara. Pada analisis dalam penelitian ini, ditemukan beberapa pencitraan perabaan.

a. IBU (T)

(1) Bait ke-1 baris ke-2

Sosok hangat yang aku temui

Pada baris puisi tersebut penyair menggunakan pencitraan perabaan karena larik tersebut memberikan rangsangan kepada kulit yaitu kata hangat, sehingga pembaca seolah-olah merasakan hangat pada saat

(24)

itu. Pada baris puisi diatas penyair menggambarkan seorang yang benar-benar menyayangi tokoh aku dalam puisi ini adalah ibu. b. Kosong (W)

(1) Bait ke-2 baris ke-4

Bersama dinginnya malam

Pada larik tersebut penyair menggunakan pencitraan perabaan karena lirik tersebut memberikan ransangan kepada kulit yaitu kata Dingin, sehingga pembaca seakan-akan merasakan dingin pada saat itu. Pada baris puisi diatas penyair menggambarkan dingin adalah sepi. Penyair menjelaskan pada malam hari dia sendiri berangan-angan untuk mewujudkan cita-citanya tanpa ada yang mendukungnya. Baris-baris puisi yang telah dianalisis di atas merupakan baris puisi yang di tulis siswa kode T dan W. baris puisi tersebut menggunakan pencitraan

perabaan. Hal itu dikarenakan melalui kata-kata tersebut kita seperti merasakan di bagian kulit, sehingga pembaca seolah-olah merasakan itu secara nyata.

5.1.5 Pencitraan Gerak

Menurut Pradopo (2002:87) citraan gerak (movement imagery atau kinaesthetc imagery) mengambarkan sesuatu yang sesunggunya tidak bergerak, tetapi dilukiskan sebagai dapat bergerak, ataupun gambaran gerak pada umumnya. Dari hasil analisis dalam penilitian ini ditemukan beberapa pencitraan gerak.

(25)

a. IBU (D)

(1) Bait ke-2 baris ke-1

Wahai ibu kutetap tiada bisa membayar lunas jasamu Pada baris puisi tersebut penyair menggunakan pencitraan gerak karena tampak bahwa seolah-olah pembaca melihat atau merasakan gerakan membayar. Pada baris puisi diatas penyair menggambarkan seorang anak yang menceritakan kasih sayang seorang ibu untuk anaknya yang tak terhitung oleh apapun..

b. Kasih Ibu (F)

(1) Bait ke-2 baris ke-1

Kini, seperti tertusuk hatiku

Pada baris puisi tersebut penyair menggunakan pencitraan gerak karena tampak bahwa seolah-olah pembaca melihat atau merasakan gerakan tertusuk. Pada baris puisi di atas penyair menggambarkan sakit hati atau penyesalan seorang anak yang telah menyakiti ibunya. c. Ayah (K)

(1) Bait ke-2 baris ke-1

Tiap saat ku selalu berdoa

Pada baris puisi tersebut penyair menggunakan pencitraan gerak karena tampak bahwa seolah-olah pembaca melihat atau merasakan gerakan berdoa atau meminta. Pada baris puisi di atas penyair

menggambarkan berdoa berarti meminta atau memohon kepada Tuhan. Dalam baris tersebut digambarkan bahwa seorang anak sedang

(26)

d. Kehendak Tuhan (R) (1) Bait ke-1 baris ke-2

Ku percayakan segalanya padaMu

Pada baris puisi tersebut penyair menggunakan kata percayakan yang sama artinya dengan menyerahkan. Pencitraan yang digunakan dalam baris ini menggunakan pencitraan gerak karena tampak bahwa seolah-olah pembaca melihat atau merasa menyerahkan sesuatu. Pada puisi tersebut penyair menggambarkan seseorang yang menyerahkan segala aspek kehidupan kepada Tuhan dan pasrah atas kehendak Tuhan. e. IBU (S)

(1) Bait ke-2 baris ke-1

Terima kasih engkau telah mempertaruhkan nyawamu untuk melahirkan aku ibu

Pada baris puisi tersebut penyair menggunakan pencitraan gerak karena tampak bahwa seolah-olah pembaca melihat atau merasakan gerakan mempertaruhkan sesuatu. Pada baris puisi di atas penyair menggambarkan tentang rasa terima kasih seorang anak terhadap pengorbanan ibu untuk anaknya.

f. Tuhanku (V)

(1) Bait ke-3 baris ke-1

Dan merekapun tidak menjalankan perintahnya

Pada baris puisi tersebut penyair menggunakan pencitraan gerak karena tampak bahwa seolah-olah pembaca melihat atau merasakan

(27)

gerakan berjalan atau menjalankan sesuatu. Pada baris puisi di atas penyair menggambarkan manusia yang tidak mematuhi ajaran Tuhan.. g. Alam Indonesia (X)

(1) Bait ke-2 baris ke-2

Jangan Kau tumpahkan murkaMu di negeri ini

Pada baris puisi tersebut penyair menggunakan pencitraan gerak karena tampak bahwa seolah-olah pembaca melihat atau merasakan gerakan tumpah. Pada baris puisi di atas penyair menggambarkan alam Indonesia yang telah rusak karena ulah manusia.

h. Ayah (Z)

(1) Bait ke-2 baris ke-2 Kau banting tulang

Pada baris puisi tersebut penyair menggunakan pencitraan gerak karena tampak bahwa seolah-olah pembaca melihat atau merasakan gerakan banting. Pada baris puisi di atas penyair menggambarkan sebuah keluarga mengenang kerja keras sang ayah sebagai tulang punggung keluarga yang telah meninggal.

i. Ilmu (a)

(1) Bait ke-2 baris ke-3

Ku cangkul kau sampai dalam

Pada baris puisi tersebut penyair menggunakan pencitraan gerak karena tampak bahwa seolah-olah pembaca melihat atau merasakan gerakan mencangkul. Pada baris puisi di atas penyair menggambarkan bahwa ilmu adalah segalanya.

(28)

j. Sahabat (b)

(1) Bait ke-2 baris ke-4

Demi meraih cita-cita dan mimpi

Pada baris puisi tersebut penyair menggunakan pencitraan gerak karena tampak bahwa seolah-olah pembaca melihat atau merasakan gerakan meraih sesuatu. Pada baris puisi di atas penyair

menggambarkan tentang tokoh aku dalam puisi ini yang berpisah dengan sahabatku karena sahabatku meneruskan pendidikannya ke tempat jauh dariku.

5.1.6 Citra Penciuman

Menurut Badrun (1983:55) “citraan penciuman adalah citraan yang

ditimbulkan oleh penciuman”. Citraan penciuman berhubungan erat dengan kesan atau gambaran yang dihasilkan oleh indera penciuman yang tampak saat kita membaca atau mendengar kata-kata tertentu, kita seperti mencium sesuatu.

Dari hasil analisis dalam penilitian ini ditemukan beberapa pencitraan penciuman. a. Keindahan Alam (E)

(1) Bait ke-1 Baris ke-4

Dan harum bunga semerbak mewangi

Pada baris puisi tersebut penyair menggunakan pencitraan penciuman karena memberikan rangsangan kepada indera penciuman, sehingga pembaca seolah-olah mencium wewangian itu. Pada baris puisi diatas penyair menggambarkan wewangian bunga sebagai simbol keindahan alam sekitar,

(29)

Baris-baris puisi yang telah dianalisis di atas merupakan baris puisi yang ditulis siswa E. Baris puisi tersebut menggunakan pencitraan penciuman. Hal itu dikarenakan melalui kata-kata tersebut membuat seolah-olah pembaca mencium sesuatu meskipun pada kenyataannya tidak.

Dari seluruh analisis karya puisi siswa diatas, tidak ditemukan salah satu pencitraan yaitu pencitraan pencecapan.

5.2 Diksi yang Yerdapat dalam Puisi Karya Siswa

Barfield (dalam Pradopo, 2000:54) mengemukakan bahwa kata-kata dipilih dan disusun dengan cara yang sedemikian rupa hingga artinya

menimbulkan atau dimaksudkan untuk menimbulkan imajinasi estetik, maka hasilnya itu disebut diksi puitis. Diksi yang ditemukan dalam puisi karya siswa kelas VIII E SMP Muhammadiyah 1 Jember akan diuraikan berdasarkan penerapan makna stilistika. Hasil analisis sebagai berikut.

a. Catatan Hati (A) (1) Bait ke-1 baris ke-2

Saat langit-langit semakin menua

Diksi yang digunakan dalam larik Saat langit-langit semakin menua diartikan bahwa tokoh aku dalam puisi ini mempunyai cita-cita yang belum tercapai. Dibuktikan pada larik ke 6 puisi itu Menelusuri mimpi yang tak kunjung menepi. Pemilihan kata tak kunjung menunjukkan bahwa cita-cita aku dalam puisi ini belum tercapai.

(30)

b. Rumahku (B)

(1) Bait ke-2 baris ke-2 Engkau adalah surgaku

Diksi yang digunakan dalam larik Engkau adalah surgaku diartikan bahwa penyair menggambarkan tentang kenyamanan dirumah

diibaratkan seperti surga yang menjadi tempat berlindung untuk keluarga. Dibuktikan dalam larik ke-1 Disinilah aku berlindung jika ada hujan dan panas. pemilihan kata Berlindung penyair

menggambarkan tentang rumah yang digunakan untuk berlindung dari sinar matahari dan hujan. Dalam larik ke-10 Bersama ayah, ibu dan kakak. Pemilihan kata bersama penyair menggambarkan tentang sebuah keluarga.

c. Harta (C)

(1) Bait ke-2 baris ke-2

Makhluk mati dengan hampa

Diksi yang digunakan dalam larik Makhluk mati dengan hampa diartikan bahwa tokoh aku menggambarkan tentang manusia yang hanya mementingkan diri sendiri daripada alam sekitar. Dibuktikan dalam larik ke-2 dan ke-3 ikan mati mengambang, sungai

tercampur limbah. Pemilihan kata Ikan mati dan Limbah menunjukkan bahwa ekosistem air menjadi rusak karena tercemar limbah pabrik.

(31)

d. IBU (D)

(1) Bait ke-2 baris ke-1

Wahai ibu kutetap tiada bisa membayar lunas jasamu Diksi yang digunakan dalam larik Wahai ibu kutetap tiada bisa membayar lunas jasamu diartikan bahwa penyair menggambarkan tentang kasih sayang ibu terhadap anaknya melebihi apapun hingga nyawapun rela dia korbankan untuk anaknya. Dibuktikan dalam larik ke-2 dan ke-3Engkau dengan ikhlas berkorban untukku. Kaupun rela kehilangan nyawamu saat mengeluarkanku. Pemilihan kata berkorban dan rela menunjukan bahwa perjuangan ibu sangat berat dan mengorbankan nyawa untuk melahirkan anaknya.

e. Keindahan Alam (E) (1) Bait ke-1 Baris ke-4

Dan harum bunga semerbak mewangi

Diksi yang digunakan dalam larik Dan harum bunga semerbak mewangi diartikan bahwa penyair menggambarkan tentang keindahan alam pada pagi hari yang memberi aura positif bagi tubuh untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Dibuktikan dalam larik ke-3 dan ke-8 Udara dingin terasa sejuk sekali. Kini kusiap menghadapi hari. Pemilihan kata Sejuk dan Kusiap menghadapi merupakan ungkapan penyair bahwa udara segar pada pagi hari membawa aura positif bagi pikiran dan tubuh sehingga akan merasa bugar saat akan melakukan aktivitas sehari-hari.

(32)

f. Kasih Ibu (F)

(1) Bait ke-2 baris ke-1

Kini, seperti tertusuk hatiku

Diksi yang digunakan dalam larik Kini, seperti tertusuk hatiku diartikan bahwa penyair menggambarkan tentang penyesalan seorang anak yang telah menyakiti ibunya. Dibuktikan dalam larik 9 dan ke-11 Begitu bodohnya aku. Rasa sakit yang kau rasakan dariku. Pemilihan kata Bodohnya aku dan Rasa sakit menunjukan bahwa penyesalan seorang anak yang telah menyakiti hati ibunya.

g. Hutanku (G)

(1) Bait ke-1 baris ke-2

Pohon-pohon perlahan hilang darimu

Diksi yang digunakan dalam larik Pohon-pohon perlahan hilang darimu diartikan bahwa tokoh aku menggambarkan tentang manusia yang hanya mementingkan diri sendiri daripada alam sekitar.

Dibuktikan dalam larik ke-5 dan ke-6 manusia kini tak peduli denganmu. mereka kini justru merusakmu. Pemilihan kata

Manusia dan Merusakmu menunjukkan bahwa tokoh aku dalam puisi ini menganggap manusia hanya bisa merusak hutan dengan cara

(33)

h. Sahabat (H)

(1) Bait ke-2 baris ke-4 Yang akan terkenang

Diksi yang digunakan dalam larik Yang akan terkenang diartikan bahwa penyair menggambarkan tentang jasa seorang sahabat yang tidak akan pernah dilupakan oleh aku, disaat aku merasa kesulitan sahabatlah yang setia menemani dan menolongku. Dibuktikan dalam larik ke-1 hingga ke-4 Disaat aku berduka. Kau ada disampingku. Membalut luka. Membahagiakanku. Pemilihan kata Berduka, disampingku, membalut dan membahagiakanku penyair

menggambarkan tentang jasa seorang sahabat yang telah menemani dan menolong aku jika aku dalam kesulitan.

i. Matahari (I)

(1) Bait ke-1 baris ke-1

Matahari kau terbit dipagi hari

Diksi yang digunakan dalam larik Matahari kau terbit dipagi hari diartikan bahwa tokoh aku menggambarkan tentang sinar matahari yang berguna bagi kehidupan dibumi. Dibuktikan dalam larik ke-2 dan ke-6 Cahayamu membantu hidupku. Sinarmu sangat membantu Pemilihan kata Membantu dan Hidup menunjukkan bahwa sinar matahari sangat berguna untuk kehidupan dibumi.

(34)

j. Senja Di Malam Hari (J) (1) Bait ke-1 baris ke-1

Kau bagaikan gemerlap di langit

Diksi yang digunakan dalam larik Kau bagaikan gemerlap di langit diartikan bahwa penyair menggambarkan tentang filosofi bintang jatuh yang diartikan sebagai rahmat Tuhan kepada alam semesta. Dibuktikan dalam larik ke-5 dan ke-6 Aku hanya berharap agar kau jatuh. Dan memberi harapan kepada seluruh umat. Pemilihan kata Harapan dan Seluruh umat menunjukkan bahwa penyair berdoa kepada Tuhan untuk memberi harapan kepada seluruh umat dibumi.

k. Ayah (K)

(1) Bait ke-2 baris ke-1

Tiap saat ku selalu berdoa

Diksi yang digunakan dalam larik Tiap saat ku selalu berdoa diartikan bahwa penyair menggambarkan tentang anak yang rindu kepada ayahnya dan mendoakan sang ayah yang sudah meninggal. Dibuktikan dalam larik ke-8 dan ke-9 kuingin bisa bersama ayah. Walaupun hanya sebentar. Pemilihan kata Kuingin dan Sebentar menunjukan bahwa seorang anak sangat merindukan ayahnya dan sangat ingin bertemu ayahnya walau hanya sebentar.

(35)

l. Hutanku Yang Rusak (L) (1) Bait ke-1 baris ke-1

Kini semuanya telah hancur

Diksi yang digunakan dalam larik Kini semuanya telah hancur diartikan bahwa penyair menggambarkan tentang kerusakan hutan yang dilakukan oleh manusia. Dibuktikan dalam larik ke-3 dan ke-4 Karena ulah manusia. Yang telah merusakmu. Pemilihan kata Ulah, Manusia dan Merusakmu menunjukan bahwa penyair menggambarkan perilaku manusia yang merusak hutan. m. Keluarga (M)

(1) Bait ke-2 baris ke-2

Karna engkau selalu sabar

Diksi yang digunakan dalam larik Karna engkau selalu sabar diartikan bahwa penyair menggambarkan tentang kesabaran keluarga, keluarga yang dimaksud dalam puisi ini adalah ayah dan ibu yang sabar mendidik aku dalam puisi ini. Dibuktikan dalam larik ke-6 dan ke-7 karena engkau selalu sabar. Dalam menghadapi aku

Pemilihan kata engkau dan menghadapi menunjukan bahwa penyair menggambarkan perilaku sabar orang tua terhadap kelakuan anaknya. n. Kode siswa N

(36)

o. Desa Kembang Pulo (O) (1) Bait ke-1 baris ke-1

Dahulu kala desa nan asri

Diksi yang digunakan dalam larik Dahulu kala desa nan asri

diartikan bahwa penyair menggambarkan tentang keindahan alam dan kegiatan didesa setiap harinya. Dibuktikan dalam larik ke-1 dan ke-3 Dahulu kala desa nan asri. Bekerja dari pagi hingga sore hari. pemilihan kata nan asri dan Bekerja menunjukan keindahan alam desa Kembang pulo dan kegiatan sehari-hari yaitu bekerja sebagai petani. Dibuktikan kembali dalam larik ke-4 Diladang sawah ini ku berdiri.

p. Suatu Pagi di Tawang Mangu (P) (1) Bait ke-1 baris ke-1

Biru safir saat terbit fajar

Diksi yang digunakan dalam larik Biru safir saat terbit fajar diartikan bahwa penyair menggambarkan tentang keindahan sinar matahari saat fajar dan merasakan kesendirian disuatu tempat bernama Tawang Mangu. Dibuktikan dalam larik ke-8 dan ke-9 Aku sendiri kesepian. Tak ada yang menemaniku. pemilihan kata sendiri dan tak ada yang menemaniku penyair menggambarkan kesendiriannya saat itu disuatu tempat yang bernama Tawang Mangu.

(37)

q. Benderaku (Q)

(1) Bait ke-3 baris ke-4

Sebagai tanda cinta tanah airku

Diksi yang digunakan dalam larik Sebagai tanda cinta tanah airku diartikan bahwa penyair menggambarkan tentang rasa cinta kepada tanah air, menghormati negara dengan tidak melupakan sejarah. Dibuktikan dalam larik ke-5 Kujunjung tinggi ceritamu dulu. Pemilihan kata Kujunjung tinggi menunjukan penyair

menggambarkan tentang menghormati Negara dengan cara tidak melupakan sejarahnya.

r. Kehendak Tuhan (R) (1) Bait ke-1 baris ke-2

Ku percayakan segalanya padaMu

Diksi yang digunakan dalam larik Ku percayakan segalanya

padaMu diartikan bahwa penyair menggambarkan tentang seseorang yang percaya dan pasrah atas semua kehendak Tuhan. Dibuktikan dalam larik ke-3 dan ke-4 Jika kau menghendaki sesuatu. Maka itu akan terjadi. Pemilihan kata Menghendaki dan Terjadi

menunjukan bahwa seseorang itu percaya dan pasrah atas segala kehendak Tuhan.

(38)

s. IBU (S)

(1) Bait ke-2 baris ke-1

Terima kasih engkau telah mempertaruhkan nyawamu untuk melahirkan aku ibu

Diksi yang digunakan dalam larik Terima kasih engkau telah mempertaruhkan nyawamu untuk melahirkan aku ibu diartikan bahwa penyair menggambarkan tentang seorang anak mendoakan ibunya atas pengorbanan yang ibu lakukan untuk anaknya selama ini. Dibuktikan dalam larik ke-6 dan ke-7 Terima kasih untuk segalanya ibu. Semoga Allah selalu memberi kesehatan & panjang umur untukmu ibu, amin. Pemilihan kata Terima kasih dan Semoga menunjukan bahwa sang anak sangat menghargai pengorbanan ibu dan mendoakan ibunya supaya diberi kesehatan oleh Tuhan.

t. IBU (T)

(1) Bait ke-1 baris ke-2

Sosok hangat yang aku temui

Diksi yang digunakan dalam larik Sosok hangat yang aku temui diartikan bahwa penyair menggambarkan tentang seorang anak yang ingin berterima kasih kepada ibunya melalui sebuah karya puisi. Dibuktikan dalam larik ke-15 Ini puisi tentangmu. Pemilihan kata Tentangmu berarti ditujukan untuk ibu dari anaknya sebagai tanda terima kasih yang selama ini ibu rela berkorban demi anaknya.

(39)

u. Ibu (U)

(1) Bait ke-3 baris ke-2 Kaulah cahaya pelitaku

Diksi yang digunakan dalam larik Kaulah cahaya pelitaku diartikan bahwa penyair menggambarkan tentang ibu yang melahirkan dan mendidik anaknya dengan sabar. Dibuktikan dalam larik ke-5 dan ke-6 berjuta kasih sayang. Kau berikan kepadaku. pemilihan kata kasih dan berikan penyair menggambarkan tentang keikhlasan seroang ibu untuk menyayangi anaknya.

v. Tuhanku (V)

(1) Bait ke-3 baris ke-1

Dan merekapun tidak menjalankan perintahnya Diksi yang digunakan dalam larik Dan merekapun tidak

menjalankan perintahnya diartikan bahwa penyair menggambarkan tentang kemaharan penyair kepada manusia yang tidak patuh terhadap ajaran Tuhannya. Dibuktikan dalam larik ke-7 dan ke-8 Lantas apa yang mereka pikirkan?. Mereka hanya memikirkan harta mereka. Pemilihan kata Lantas dan Hanya menunjukan ekspresi penyair yang marah dan kecewa karena manusia melupakan dan tidak mematuhi aturan Tuhan serta hanya mengejar kesenangan duniawi.

(40)

w. Kosong (W)

(1) Bait ke-2 baris ke-4

Bersama dinginnya malam

Diksi yang digunakan dalam larik Bersama dinginnya malam diartikan bahwa penyair menggambarkan tentang seorang yang ingin menggapai cita-citanya tetapi tidak ada yang mendukung. Namun dia bertekad untuk meraih cita-citanya walau tanpa ada dukungan dari siapapun. Dibuktikan dalam larik ke-5 hingga ke-8 Tanpa bintang-bintang. Mencoba mengisi kekosongan hati. Menggapai impian & angan. Bersama dinginnya malam. Pemilihan kata bintang-bintang. Mengisi. Menggapai. Dingin. Menunjukkan bahwa tidak ada yang mendukung citanya. Namun, dia tetap bertekad untuk meraih cita-cita walau tidak ada yang mendukungnya.

x. Alam Indonesia (X) (1) Bait ke-2 baris ke-2

Jangan Kau tumpahkan murkaMu di negeri ini

Diksi yang digunakan dalam larik Jangan Kau tumpahkan murkaMu di negeri ini diartikan bahwa penyair menggambarkan tentang kerusakan alam Indonesia karena ulah manusia dan penyair memohon kepada Tuhan supaya tidak member azab kepada negeri Indonesia. Dibuktikan dalam larik ke-3 dan ke-4 Kini semua rusak. Karena ulah manusia. Larik ke-5 dan ke-6 Ya Allah lindungi negeri ini. Jangan Kau tumpahkan murkaMu dinegeri ini. Menunjukan

(41)

alam Indonesiayang rusak akibat ulah manusia dan memohon kepada Tuhan agar tidak memberi azab ke negeri ini.

y. Tanah Airku (Y) (1) Bait ke-1 baris ke-3

Mendengar nyanyi penuh santunan

Diksi yang digunakan dalam larik Mendengar nyanyi penuh santunan diartikan bahwa penyair menggambarkan tentang ketenangan dikampung halaman. Dibuktikan dalam larik ke-4

terbitlah kasih ke tempat lahirku. pemilihan kata kasih dan lahirku penyair menggambarkan tentang tidak ada tempat yang lebih indah selain kampung halaman.

z. Ayah (Z)

(1) Bait ke-2 baris ke-2 Kau banting tulang

Diksi yang digunakan dalam larik Kau banting tulang diartikan bahwa penyair menggambarkan tentang kenangan kerja keras dan pengorbanan seorang ayah sebagai tulang punggung dalam keluarga. Dibuktikan dalam larik ke-8 dan ke-9 Hanya demi sesuap nasi. Itu semua kau lakukan. Menunjukan bahwa kerja keras dan pengorbanan sang ayah untuk menghidupi keluarganya. Namun semua itu hanya kenangan karena ayah telah meninggal. Dibuktikan dalam larik ke-10 dan ke-11 Ayah. Sekarang kau telah tiada.

(42)

a. Ilmu (a)

(1) Bait ke-2 baris ke-3

Ku cangkul kau sampai dalam

Diksi yang digunakan dalam larik Ku cangkul kau sampai dalam diartikan bahwa penyair menggambarkan tentang pentingnya ilmu untuk kehidupan. Dibuktikan dalam larik ke-4 dan ke-8 Karena kau ak menjadi sukses. Hidup tidak bermakna tanpa ilmu. Menunjukan bahwa penyair menegaskan ilmu itu penting untuk kehidupan, karena ilmulah seseorang akan sukses dan tanpa ilmu kehidupan ini menjadi tidak berguna.

b. Sahabat (b)

(1) Bait ke-2 baris ke-4

Demi meraih cita-cita dan mimpi

Diksi yang digunakan dalam larik Demi meraih cita-cita dan mimpi diartikan bahwa penyair menggambarkan tentang rasa sedih yang dirasakan tokoh aku karena harus berpisah dengan sahabatnya yang menuntut ilmu ke tempat yang jauh darinya demi meraih cita-cita. Dibuktikan dalam larik ke-5, ke-6 dan ke-7 Kini. Sahabatku telah pergi. Meninggalkanku sendiri. Pemilihan kata pergi dan

meninggalkanku merupakan ungkapan rasa sedih tokoh aku dalam puisi ini karena harus berpisah dengan sahabatnya.

Dalam penelitian ini penggunaan diksi pada karya puisi siswa ditujukan untuk menambah nilai estetik dan keindahan puisi tersebut.

(43)

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini dipaparkan kesimpulan dan saran dari analisis dan pembahasan pencitraan dan diksi pada puisi karya siswa kelas VIII E SMP Muhammadiyah 1 Jember. Kedua hal tersebut dipaparkan sebagai berikut. 6.1 Kesimpulan

Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil penilitian, dapat disimpulkan bahwa pencitraan dalam puisi karya siswa kelas VIII E SMP Muhammadiyah 1 Jember tahun pelajaran 2015-2016 adalah pencitraan yang meliputi pencitraan penglihatan, pendengaran, perasaan, perabaan, gerak dan penciuman. Pencitraan yang paling dominan digunakan siswa adalah pencitraan penglihatan dan

pencitraan gerak. Adanya pencitraan digunakan untuk membuat pembaca seolah-olah merasakan apa yang dirasakan oleh penyair, dan supaya puisi tersebut memiliki nilai estetika tinggi..

Sedangkan dilihat dari diksi atau pilihan kata yang digunakan siswa, mereka rata-rata telah memilih kata yang tepat. Namun, masih ada siswa yang belum paham tentang diksi. Gaya pemilihan kata atau diksi pada dasarnya digunakan pengarang untuk memberikan efek tertentu, serta untuk penyampaian gagasan secara tidak langsung. Sehingga memiliki kekhasan tersendiri dan dimaksudkan untuk menimbulkan imajinasi estetik.Jadi pemilihan kata yang merupakan kerja penyair dalam mencipta puisi merupakan pembangunan karakter pada dirinya juga melalui diksi-diksinya.

(44)

6.2 Saran

Saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil penelitian ini sebagai berikut.

5) Bagi mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan masukan agar lebih memperhatikan pencitraan dan diksi dalam sebuah puisi.

6) Bagi guru, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan informasi pembaca maupun pecinta sastra tentang manfaat yang diperoleh dari sebuah puisi.

7) Bagi siswa, agar menjadi bahan masukan untuk lebih memperhatikan pencitraan dan diksi yang sesuai dengan apa yang di pikirkan, dirasakan dan dilihat sehingga siswa dapat memahami pencitraan dan diksi

8) Bagi peneliti lain, hasil penelitian ini diharapkan mampu dimanfaatkan sebagai penanaman nilai-nilai estetis dalam sebuah karangan puisi.

(45)

DAFTAR RUJUKAN

Aminuddin, 1995. Stilistika: Pengantar Memahami Bahasa Dalam Karya Sastra. Semarang: IKIP Semarang Press

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta. PT Rineka CIpta.

Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Yogyakarta: PT Rineka Cipta.

Badrun, Ahmad. 1983. Pengantar Ilmu Sastra: Teori Sastra. Surabaya: Usaha Nasional.

Badrun, Ahmad. 1989. Teori Puisi. Jakarta: Depdikbud.

Chaer, Abdul. 2007. Kajian Bahasa: Struktural Internal, Pemakaian dan Pembelajaran. jakarta: Rineka Cipta.

Keraf, Gorys. 2008. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Komaidi, Didik. 2007. Aku Bisa Menulis. Yogyakarta: Sabda.

Miles. B.B. dan Huberman A.M.. 1984. Qualitative Data Analysis. London: Sage Publication.

Miles. B.B. dan Huberman A.M.. 1992. Analisa Data Kualitatif. Jakarta: UI Press.

Moleong, Lexy J. 2009. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Resdakarya.

Panuti, Sudjiman. 1993. Bunga Rampai Stilistika. Jakarta: Grafiti.

Pradopo, Rachmat Djoko. 1993. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Pradopo, Rachmat Djoko. 2002. Pengkajian Puisi: Analisis Strata Norma dan Analisis Struktural dan Semiotik. Yogyakarta: Gadjah Mada University.

(46)

Pradopo, Rachmat Djoko. 2003. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka

Semi, Atar. 1989. Kritik Sastra. Bandung: Angkasa.

Soekidjo. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta. Sudirman, N. 1991. Prinsip-Prinsip Pengelolaan Sumber Belajar. Jakarta: PT.

Rineka Cipta

Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Bandung: CV Alfabeta.

Sugiyono. 2012. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: CV Alfabeta. Tarigan, H. Guntur. 1984. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa. Waluyo, Herman J.1987. Teori dan Apresiasi Puisi. Jakarta: Erlangga.

Waluyo, Herman J. 2005. Teori Apresiasi Puisi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Wiyanto, Asul. 2005. Kesusastraan Sekolah. Jakarta: Grasindo.

Zainuddin. 1992. Materi Pokok Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Gambar

Tabel 3.1 Pengkodean Data
Tabel 3.2 Contoh Pengumpulan dan Klasifikasi Pencitraan Puisi  No  Kode     siswa  Data  Jenis Pencitraan PL  PD  PR PB PG  PC  PCC  1  A  Saat langit langit semakin menua  

Referensi

Dokumen terkait

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan YME yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan tesis yang

Desa Pasar Binanga, warga bernama Tamin Hasibuan, umur 50 tahun, pekerjaan tani dan beralamat di Pasar Binanga, Kecamatan Barumun Tengah, Padang Lawas, menerangkan bahwa

sementara,dan mengganti kerugian yang dialami konsumen, sesuai dengan Pasal 7 huruf a Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen bahwa kewajiban

membuat proposal bisnis sebesar 22,9% sehingga perlu upaya dari banyak pihak untuk merangsang karakteristik wirausaha. Apabila mahasiswa-mahasiswa ini dikelola

Saya mengesahkan bahawa satu Jawatankuasa Peperiksaan Tesis telah berjumpa pada 19 Februari 2016 untuk menjalankan peperiksaan akhir bagi Radin Siti Aishah Binti

Surat Keputusan Kepala Dinas Pertanian Kota Bogor nomor 800/432/-ikan/2014 tentang penetapan pemenang lomba kinerja kelompok perikanan Pokdakan Minakarya Bersama memuat hal

bahwa ikan payus memiliki tubuh pipih dengan warna tubuh keperakan dan bagian bawah tubuh tidak memiliki sisik. Menurut data meristik pada Tabel

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perlakuan yang terbaik adalah penambahan kombinasi SN® dan SB® ke dalam media kultur udang vaname super intensif karena