commit to user 1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan fungsi yang luas dari pemeliharaan dan perbaikan kehidupan suatu masyarakat terutama membawa warga masyarakat yang baru (generasi muda) bagi penunaian kewajiban dan tanggung jawabnya di dalam msyarakat. Pendidikan juga diartikan sebagai suatu aktivitas sosial yang esensial yang memungkinkan masyarakat yang kompleks, modern, fungsi pendidikan ini mengalami proses spesialisasi dan melembaga dengan pendidikan formal, yang tetap berhubungan dengan proses pendidikan informal di luar sekolah (Djatun, 2009: 9).
Belajar merupakan komponen ilmu pendidikan yang berkenaan dengan tujuan dan bahan acuan interaksi, baik yang bersifat eksplisit maupun implisit (tersembunyi). Menurut Gagne, belajar merupakan suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat dari pengalaman. Menurut Skinner, belajar merupakan suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif (Sagala, 2010: 14).
Sedangkan pembelajaran secara umum merupakan upaya untuk mengembangkan sistem belajar. Menurut Driscoll, pembelajaran didefinisikan “as anything that is done purposely to facilitate learning”. Artinya, pembelajaran dapat dipahami sebagai segala sesuatu yang dilakukan dengan maksud untuk memfasilitasi belajar. Selain itu, pembelajaran dipahami sebagai upaya yang disengaja untuk mengelola kejadian atau peristiwa belajar dalam memfasilitasi peserta didik sehingga memperoleh tujuan yang dipelajari (Yaumi, 2012: 28-29). Menurut Pasal 38 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa Kurikulum pendidikan dasar dan menengah dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan dan komite sekolah/madrasah di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor departemen agama kabupaten/kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk pendidikan menengah. Kurikulum yang diterapkan sekarang
commit to user
ini terdapat dua kurikulum yaitu Kurikulum 2013 dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Untuk sekolah yang baru menerapkan Kurikulum selama satu semester, diperbolehkan untuk kembali ke Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) atau tetap melanjutkan Kurikulum 2013. Hal ini tergantung pada kebijakan sekolah masing-masing. Kualifikasi kemampuan lulusan pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), mencakup sikap, pengetahuan dan keterampilan sebagaimana yang ditetapkan dengan Permendiknas No. 23 Tahun 2006 (Badan Standar Nasional Pendidikan, 2006: 2).
SMA N 3 Boyolali adalah salah satu sekolah yang mengambil keputusan untuk kembali menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dalam pembelajarannya. SMA N 3 Boyolali ini juga merupakan salah satu sekolah yang memiliki masukan siswa dengan prestasi belajar yang bervariasi. Karena prestasi belajar yang bervariasi inilah maka peran serta siswa dalam kegiatan pembelajaran di masing-masing kelas beranekaragam. Salah satu contohnya yaitu pembelajaran IPA. Pembelajaran IPA seperti pembelajaran fisika yang mempelajari gejala dan peristiwa atau fenomena alam serta berusaha untuk mengungkap segala rahasia dan hukum semesta secara ilmiah (Fakhruddin, Eprina & Syahril, 2010: 18). Pembelajaran fisika diarahkan untuk mencari tahu dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.
Berdasarkan hasil wawancara dan kajian dokumen dengan guru Fisika SMA Negeri 3 Boyolali pada tanggal 16 Desember 2014 diketahui bahwa kelas X1 ini mempunyai rata-rata nilai fisika yang paling rendah dibanding kelas-kelas yang lain dimana hanya 1 siswa yang lulus dari 32 siswa. Beliau juga menambahkan bahwa kelas X1 ini mempunyai kesulitan dalam memahami permasalahan yang berkaitan dengan pembelajaran fisika. Menurut guru yang bersangkutan, salah satu penyebab beberapa masalah tersebut adalah masih seringnya penggunaan metode ceramah dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini dikarenakan keterbatasan waktu dan keterbatasan pengetahuan guru tentang model pembelajaran inovatif. Tetapi guru pernah sesekali melakukan pembelajaran diskusi kelompok, ketika guru menggunakan metode diskusi, hanya
commit to user
1 atau 2 siswa yang aktif dan mengerti materi yang disampaikan dalam setiap kelompoknya. Menurut beliau, sebenarnya kelas X 1 tergolong kelas yang aktif, ketika guru bertanya, ada kecenderungan siswa menjawab tetapi tidak melalui proses berpikir dan karakter sosial yang kurang baik.
Berdasarkan hasil wawancara dengan 9 siswa kelas X 1 SMA Negeri 3 Boyolali, diketahui bahwa siswa menginginkan pembelajaran yang lebih menarik dan inovatif agar siswa tidak bosan dalam mengikuti pembelajaran. Tetapi ada1 siswa yang lebih senang dengan pembelajaran yang sudah diterapkan oleh guru yaitu metode pembelajaran ceramah, ditunjukkan rumus disertai dengan contoh soal.
Berdasarkan hasil observasi di kelas X 1 SMA Negeri 3 Boyolali, diketahui bahwa masih banyak siswa yang tidak memperhatikan guru saat pembelajaran berlangsung dan juga masih banyak siswa yang tidak menghargai dan menghormati guru saat pembelajaran. Hal ini dapat ditunjukkan dengan perilaku siswa yang masih banyak berbincang-bincang dengan teman satu meja, bermain handphone, menyandarkan kepala di meja, makan saat pembelajaran, membaca komik dan bercanda dengan teman satu meja. Selain itu siswa di kelas X1 ini tidak dapat menghargai pendapat teman satu kelasnya. Hal ini ditunjukkan dengan perilaku siswa yang selalu mengejek temannya ketika temannya sedang bertanya kepada guru mengenai materi yang kurang dimengerti. Ketika guru memberikan pertanyaan mengenai permasalahan fisika, siswa menjawab dengan ragu-ragu dan tidak disertai dengan alasan.
Dari uraian beberapa permasalahan di atas, dapat disimpulkan bahwa sikap sosial dan kemampuan berpikir kritis siswa kelas X1 ini masih rendah. Rendahnya sikap sosial siswa ditunjukkan dengan perilaku siswa yang tidak dapat menghargai dan menghormati guru, serta perilaku siswa yang tidak dapat menghargai pendapat teman satu kelasnya. Rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa ditunjukkan dengan adanya kesulitan dalam memahami permasalahan yang berkaitan dengan pembelajaran fisika, siswa menjawab permasalahan tersebut ragu-ragu dan tidak disertai dengan alasan. Menurut Johnson (2007: 185), kemampuan kognitif untuk mengatakan sesuatu dengan penuh keyakinan karena
commit to user
bersandar pada alasan yang logis dan bukti empiris yang kuat merupakan kemampuan berpikir kritis. Rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa ini berimbas pada rendahnya kognitif siswa. Semua permasalahan tersebut disebabkan karena rendahnya kesadaran belajar siswa. Selain itu, juga disebabkan karena pembelajaran guru yang kurang menarik dan inovatif. Oleh karena itu perlu adanya strategi pembelajaran yang menarik dan inovatif agar dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan sikap sosial siswa. Tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan sikap sosial siswa ini dapat ditempuh dengan model pembelajaran Group Investigation (GI). Menurut Huda (2014: 293-294) membagi 6 tahapan dalam pembelajaran dengan model Group Investigation (GI) secara berurutan yaitu dimulai dari tahap seleksi topik, tahap perencanaan kerja sama, tahap implementasi, tahap analisis dan sistesis, tahap penyajian hasil akhir serta tahap terakhir yaitu tahap evaluasi. Pembelajaran Group Investigation (GI) ini dimodifikasi dengan konsep learning community atau masyarakat belajar.
Pemilihan model pembelajaran ini didasarkan pada tingkat perkembangan siswa di mana siswa SMA senang bereksperimen secara langsung. Selain itu, model ini juga sangat sesuai untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis dimana model pembelajaran Group Investigation (GI) merupakan salah satu contoh model pembelajaran dengan metode ilmiah. Seperti yang sudah diketahui bahwa kemampuan berpikir kritis merupakan aplikasi dari tahapan metode ilmiah jadi model pembelajaran Group Investigation (GI) diharapkan dapat menuntun siswa untuk melakukan kinerja ilmiah seperti melaksanakan praktikum, diskusi kelompok seperti diskusi memecahkan suatu kasus. Sedangkan konsep learning community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing antara teman, antar kelompok, dan antara yang tahu ke yang belum tahu. Kelompok siswa bisa sangat bervariasi bentuknya, baik keanggotaan, jumlah, bahkan bisa melibatkan siswa di kelas atasnya. Dengan adanya Learning Community ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran belajar siswa agar dapat meningkatkan sikap sosial siswa dalam kelompok (Sagala, 2010: 89).
commit to user
Berdasarkan paparan tersebut di atas maka penelitian ini mengambil judul “Pembelajaran Model Group Investigation (GI) Berbasis Learning
Community dalam Pembelajaran Fisika untuk Meningkatkan Kemampuan
Berpikir Kritis dan Sikap Sosial Siswa Kelas X1 SMA N 3 Boyolali”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasikan beberapa masalah, yaitu:
1. Rendahnya sikap sosial siswa ditunjukkan dengan perilaku siswa yang tidak dapat menghargai dan menghormati guru serta perilaku siswa yang tidak dapat menghargai pendapat teman satu kelasnya.
2. Rendahnya kemampuan berpikir kritis siswa ditunjukkan dengan adanya kesulitan dalam memahami permasalahan yang berkaitan dengan pembelajaran fisika, siswa menjawab permasalahan tersebut ragu-ragu dan tidak disertai dengan alasan.
3. Model pembelajaran yang dilakukan guru kurang menarik dan inovatif ditunjukkan dengan guru selalu menggunakan metode pembelajaran ceramah dengan berbantuan Power Point (PPT), guru menunjukkan rumus dan siswa diberi contoh soal, serta guru juga pernah melakukan diskusi tetapi diskusi untuk menjawab soal.
4. Ketika guru menggunakan metode diskusi dalam pembelajaranya, hanya 1 atau 2 siswa siswa yang aktif dan mengerti materi yang disampaikan dalam setiap kelompoknya.
C. Pembatasan Masalah
Penelitian harus mempunyai arah yang jelas dan pasti, sehingga perlu diberikan batasan masalah. Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah, maka pengkajian dan pembatasan masalah dititikberatkan pada masalah berikut:
Siswa yang tidak dapat menghargai dan menghormarti guru, serta sikap siswa yang tidak dapat menghargai pendapat teman satu kelasnya. Siswa mengalami
commit to user
kesulitan dalam memahami permasalahan yang berkaitan dengan pembelajaran fisika. Semua permasalahan tersebut disebabkan karena rendahnya kesadaran belajar siswa serta pembelajaran guru yang kurang menarik dan inovatif.
Agar di dalam pembahasan permasalahan dapat lebih mendalam dan tidak terlalu luas cakupannya maka penulis membatasi permasalahan sebagai berikut :
1. Dalam penelitian ini digunakan model pembelajaran Group Investigation (GI) Berbasis Learning Community.
2. Faktor internal yang diamati dari siswa adalah kemampuan berpikir kritis dan sikap sosial siswa.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah dan pembatasan masalah, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. Apakah penerapan pembelajaran model Group Investigation (GI) berbasis learning community dalam pembelajaran fisika dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas X1 SMA N 3 Boyolali?
2. Apakah penerapan pembelajaran model Group Investigation (GI) berbasis learning community dalam pembelajaran fisika dapat meningkatkan sikap sosial siswa kelas X1 SMA N 3 Boyolali?
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang disusun, penelitian ini bertujuan untuk :
1. Penerapan pembelajaran model Group Investigation (GI) berbasis learning community dalam pembelajaran fisika untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa kelas X1 SMA N 3 Boyolali.
2. Penerapan pembelajaran model Group Investigation (GI) berbasis learning community dalam pembelajaran fisika untuk meningkatkan sikap sosial siswa kelas X1 SMA N 3 Boyolali.
commit to user F. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini memberi informasi penerapan pembelajaran model Group Investigation (GI) berbasis learning community dalam pembelajaran fisika sebagai alternatif upaya meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan sikap sosial siswa.
2. Manfaat Praktis
Manfaat praktis dari penelitian ini dapat dilihat dari hal-hal berikut: a. Bagi Siswa
Hasil penelitian tindakan kelas ini dapat meningkatakan kemampuan berpikir kritis dan sikap sosial siswa yang terlibat dalam kegiatan penelitian.
b. Bagi Guru
Memberikan inovasi pembelajaran dan pengalaman kepada guru, sehingga guru akan memiliki inovasi pembelajaran baru yang lebih baik seperti model Group Investigation (GI) berbasis Learning Community.
c. Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini dapat memberikan masukan yang positif bagi pengembangan sekolah khususnya untuk peningkatan kualitas proses pembelajaran di sekolah.
d. Bagi Peneliti
Sebagai bentuk latihan dalam penulisan hasil penelitian khususnya penelitian tindakan kelas.