323 VOLUME 19 NO 2 JULI 2017
JURNAL EKONOMI & BISNIS
DHARMA ANDALAS
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MEMPENGARUHI PEMBERIAN PINJAMAN KREDIT RAHN PADA PEGADAIAN SYARIAH
“X” KOTA PADANG
Yenni Del Rosa1, Mohammad Abdilla1, Nofri Yendra1 1)
Fakultas Ekonomi Universitas Dharma Andalas ABSTRACT
This study aims to determine the effect of the number of loans and collateral goods on the provision of credit Rahn in pawnshop "X" Padang city. The method of collecting primary data is done through questionnaire given to 105 people with from 10.500 people. Before the data are analyzed first tested reliability, validity test and classical assumption test. It turns out that the above three tests are fulfilled so that it can be continued multiple linear regression analysis. Result of regression equation got Y = 4,397 + 2,112X1 + 1,039X2 + e. From the regression equation above the guarantee goods more dominantly affect the provision of credit Rahn than the loan amount in pawnshop "X" Padang city. Partial test of hypothesis at 5% significance level indicates the amount of loan have a significant positive effect to the provision of credit Rahn in pawnshop "X" Padang city because p value 0,016 < 0,05 and assurance goods have a significant positive effect to the provision of credit Rahn because p value 0,006 <0 , 05. Hypothesis test simultaneously at 5% significance level indicates the amount of loan and guarantee goods have a significant positive effect to the provision of Rahn credit in Pawnshop "X" Padang city because p value 0,045 < 0,05. The correlation of loan amount and collateral goods with Rahn credit is quite strong (R = 76.9%) and Adjusted R Square 56.9% means that Rahn's loan in Pawnshop X "Padang City is explained by loan amount and guarantee goods 56.9 % While the remaining 43.1% is influenced by other factors not included in the research model.
Keywords: loan amount, goods guarantee and credit granting Rahn
PENDAHULUAN
Dalam kegiatan sehari-hari uang selalu saja dibutuhkan untuk membeli atau membayar berbagai keperluan. Kadangkala terjadi masalah dimana kebutuhan yang ingin dibeli tidak dapat dicukupi dengan uang yang dimiliki. Jika terjadi hal demikian maka kita terpaksa harus mengurangi membeli berbagai keperluan yang dianggap tidak penting, namun untuk keperluan yang sangat penting terpaksa harus dipenuhi dengan berbagai cara seperti meninjam dari berbagai sumber dana yang ada. Jika
kebutuhan dana jumlahnya besar maka dalam jangka pendek sulit untuk dipenuhi apalagi jika harus dipenuhi lewat lembaga perbankan. Namun jika dana yang dibutuhkan relatif kecil tidak jadi masalah karena banyak tersedia sumber dana yang murah dan cepat mulai dari pinjaman ke tetangga, tengkulak sampai pinjaman dari berbagai lembaga keuangan lainnya.
Bagi mereka yang memiliki barang-barang berharga kesulitan dana dapat segera dipenuhi dengan cara menjual barang berharga sehingga
sejumlah uang yang diinginkan dapat terpenuhi. Namun resikonya barang yang telah dijual akan hilang dan sulit untuk kembali. Kemudian jumlah uang yang diperoleh terkadang lebih besar dari yang diinginkan sehingga dapat mengakibatkan pemborosan. Untuk mengatasi kesulitan di atas dimana kebutuhan dana dapat dipenuhi tanpa kehilangan barang-barang berharga maka masyarakat dapat menjaminkan barang-barangnya ke lembaga tertentu. Barang yang dijaminkan tersebut pada waktu tertentu dapat ditebus kembali
setelah masyarakat melunasi
pinjamannya. Kegiatan menjaminkan barang-barang berharga untuk memperoleh sejumlah uang dan dapat ditebus kembali setelah jangka waktu tertentu disebut dengan nama usaha gadai.
Dengan usaha gadai masyarakat tidak perlu takut kehilangan barang-barang berharganya dan jumlah uang yang diinginkan dapat disesuaikan dengan harga barang yang dijaminkan. Perusahaan yang menjalankan usaha gadai disebut perusahaan pegadaian dan secara resmi satu-satunya usaha gadai di Indonesia hanya dilakukan oleh Perum Pegadaian.
Pegadaian Syariah “X” kota Padang dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat dimasa yang akan datang tidak hanya mengandalkan faktor keamanan barang jamin namun harus merencanakan dan mencari peluang-peluang bisnis yang masih ada. Misalnya meningkatkan pelayanan, aman secara fisik dan membuka cabang di lingkup wilayah yang sama dengan tujuan mendekatkan diri kepada calon nasabah, pemberian pinjaman (kredit) dengan suku bunga rendah atau membuat jenis produk simpanan lain sehingga akan memberi peluang cukup luas untuk masyarakat.
Adapun rumusan masalah penelitian ini yaitu : Bagaimanakah
pengaruh jumlah pinjaman dan barang jaminan terhadap pemberian pinjaman kredit Rahn secara parsial dan simultan pada Pegadaian Syariah “X” kota
Padang?. Sedangkan tujuan
penelitiannya untuk mengetahui pengaruh jumlah pinjaman dan barang jaminan terhadap pemberian pinjaman kredit Rahn secara parsial dan simultan pada Pegadaian Syariah “X” kota Padang.
Beberapa teori yang melandasi penelitian ini terutama berhubungan dengan usaha gadai. Secara umum usaha gadai adalah kegiatan menjaminkan barang-barang berharga kepada pihak tertentu guna memperoleh sejumlah uang dan barang yang dijaminkan akan ditebus kembali sesuai dengan perjanjian antara nasabah dengan lembaga gadai (Kasmir, 2013). Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa usaha gadai mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : 1) terdapat barang-barang berharga yang digadaikan, 2) nilai jumlah pinjaman tergantung dari nilai barang yang digadaikan, 3) barang yang digadaikan dapat ditebus kembali.
Pegadaian merupakan sebuah lembaga keuangan non bank yang
memberikan pinjaman kepada
masyarakat secara hukum gadai dimana
calon peminjam berkewajiban
menyerahkan barang bergerak miliknya sebagai agunan kepada pegadaian disertai pemberian hak kepada pegadaian untuk melakukan penjualan secara lelang.
Tujuan utama usaha pegadaian untuk mengatasi agar masyarakat yang sedang membutuhkan uang tidak jatuh ke tangan rentenir yang bunganya relatif tinggi. Perusahaan Pegadaian menyediakan pinjaman uang dengan jaminan barang-barang berharga. Meminjam uang ke Perum Pegadaian bukan saja karena prosedurnya mudah dan cepat tapi karena biaya yang dibebankan lebih ringan jika
dibandingkan dengan rentenir. Hal ini dilakukan sesuai dengan moto Perum Pegadaian “menyelesaikan masalah tanpa masalah”. Jika seseorang butuh dana sebenarnya dapat diajukan ke bank atau lembaga keuangan lainnya. Akan tetapi kendala utamanya prosedur yang rumit, butuh waktu relatif lama dan sulit memenuhi persyaratan dokumen yang lengkap. Juga jaminan yang diberikan harus barang-barang tertentu karena tidak semua barang dapat dijadikan jaminan di bank. Di Perum Pegadaian begitu mudah dilakukan dimana masyarakat cukup datang ke kantor pegadaian terdekat dengan membawa jaminan barang tertentu maka pinjaman dalam waktu singkat dapat terpenuhi. Keuntungan lain di pegadaian adalah
pihak pegadaian tidak
mempermasalahkan untuk apa uang digunakan dan hal ini bertolak belakang dengan perbankan yang harus dibuat serinci mungkin tentang penggunaan uang. Begitu juga sangsi yang diberikan relatif ringan, bila tidak dapat melunasi dalam waktu tertentu. Sangsi terberat adalah pinjaman yang disimpan akan dilelang untuk menutupi kekurangan pinjaman yang telah diberikan.
Besarnya jumlah pinjaman tergantung dari nilai jaminan yang diberikan. Namun biasanya pegadaian hanya melayani sampai jumlah tertentu dan biasanya yang menggunakan jasa pegadaian hanya masyarakat menengah ke bawah. Dalam menjalan usahanya masyarakat menengah ke bawah banyak mengalami masalah terutama dari segi permodalan. Untuk mrngatasinya mereka mengajukan pinjaman pada lembaga keuangan non bank maupun pada pihak per orangan. Hal ini akan
membuka peluang bagi Perum
Pegadaian sebagai alternatif untuk
menyalurkan pinjaman kepada
masyarakat golongan menengah ke bawah yang kurang mendapat fasilitas kredit perbankan (Aziz, 2013).
Kepada nasabah yang
memperoleh pinjaman akan dikenakan sewa modal (bunga pinjaman) per bulan yang besarnya tergantung dari golongan nasabah. Golongan nasabah ditentukan oleh pegadaian berdasarkan jumlah pinjaman yaitu A, B, C dan D sedangkan besar sewa modal dapat berubah sesuai bunga pasar. Dalam menentukan besarnya jumlah pinjaman barang-barang jaminan perlu ditaksir terlebih dahulu oleh pihak pegadaian yang memiliki ahli-ahli taksir. Biasanya nilai taksiran lebih rendah dari nilai pasar karena jika terjadi kemacetan pembayaran pinjaman maka dengan mudah pihak pegadaian melelang jaminan yang diberikan nasabah di bawah harga pasar. Tujuan akhir dari penilaian tukang taksir untuk menentukan besarnya jumlah pinjaman yang dapat diberikan (Kasmir, 2013).
Perum Pegadaian dalam hal jaminan telah menetapkan beberapa jenis barang berharga yang dapat diterima untuk digadaikan sebagai berikut : 1) barang perhiasan (emas, intan, berlian, perak, mutiara, platina dan jam), 2) barang kendaraan (mobil, sepeda motor, sepeda biasa), 3) barang elektronik (TV, radio, radio tape, video, komputer ,mesin tik, kulkas, kamera), 4) mesin (mesin jahit, mesin kapal motor), 5) barang keperluan rumah tangga (barang tekstil, barang pecah belah). Secara garis besar prosedur pinjaman di Perum Pegadaian dalah sebagai berikut : 1) nasabah datang langsung kebagian informasi untuk memperoleh penjelasan tentang pegadaian, 2) bagi nasabah yang sudah mengetahui prosedurnya dapat langsung membawa barng jaminan ke bahian penaksir untuk ditaksir nilai jaminan yang diberikan disertai KTP atau suarat kuasa bagi pemilik barang yang tidak dapat datang, 3) bagian penaksir akan menaksir nilai jaminan yang diberikan dari segi kualitas dan nilai barang kemudian ditetapkan nilai taksir barang,
4) menentukan jumlah pinjaman dan sewa modal (bunga) yang dikenakan dan diinformasikan ke nasabah, 5) jika nasabah setuju maka barang jaminan ditahan untuk disimpan dan nasabah memperoleh pinjaman beserta surat bukti gadai. Untuk proses pembayaran kembali pinjaman baik yang sudah jatuh tempo maupun belum jatuh tempo dapat dilakukan sebagai berikut : 1) pembayaran kembali pinjaman dan bunga dibayar langsung di kasir dengan menunjukkan surat bukti gadai dan melakukan pembayaran sejumlah uang, 2) pihak pegadaian menyerahkan barang jaminan bila pembayarannya sudah lunas dan diserahkan langsung ke nasabah untuk diperiksa kebenarannya dan jika sudah benar dapat langsung dibawa pulang, 3) bagi nasabah yang sudah punya uang dapat langsung menebus jaminannya, 4) bagi nasabah yang tidak dapat membayar pinjamannya maka jaminannya akan dilelang secra resmi ke masyarakat luas, 5) hasil penjualan lelang diberitahukan kepada nasabah dan jika uang hasil lelang setelah dikurangi pinjaman dan biaya lain jika masih tersisa maka akan dikembalikan ke nasabah.
Gadai syariah pada dasarnya merupakan bagian dari sistem keuangan sebagai tatanan dalam perekonomian suatu negara dalam menyediakan jasa-jasa di bidang keuangan. Gadai syariah merupakan bagian dari lembaga keuangan non bank dalam usahanya tidak diperkenankan menghimpun dana secara langsung dari masyarakat berbentuk simpanan dan hanya diberi wewenang untuk memberikan pinjaman kepada masyarakat (Rais, 2006). Pada dasarnya produk-produk berbasis syariah memiliki karakteristik tidak memungut bunga dalam berbagai bentuk karena riba menetapkan uang sebagai alat tukar bukan sebagai komoditas yang diperdagangkan untuk memperoleh jasa dengan sistem bagi hasil. Pegadaian
Syariah (Rahn) dalam pengoperasiannya bersifat mudharabah (bagi hasil). Setelah melalui kajian panjang akhirnya disusun konsep pendirian Unit Layanan Gadai Syariah sebagai langkah awal pembentukan divisi khusus yang menangani kegiatan usaha syariah (Rodoni, 2004).
Pegadaian Syariah mempunyai produk utama dalam menyalurkan dana kepada masyarakat berbentuk rahn, arrum dan mulia. Rahn adalah produk jasa gadai yang berlandaskan prinsip-prinsip syariah dimana nasabah hanya akan dibebani biaya administrasi, biaya jasa simpan dan pemeliharaan barang jaminan. Arrum merupakan produk pegadaian untuk usaha mikro guna keperluan pengembangan usaha melalui sistem pengembalian secara angsuran dengan jaminannya BPKB kendaraan dimana fisik kendaraan tetap berada di tangan nasabah untuk kebutuhan operasional usaha. Mulia adalah penjualan emas yang dilakukan pegadaian kepada masyarakat secara tunai atau angsuran dalam jangka waktu tertentu. Menurut data statistik Annual
Report Pegadaian Syariah yang
mendominasi pemberian pinjaman adalah rahn dalam menyalurkan dana ke masyarakat dibandingkan dengan produk pegadaian syariah lainnya (Annual Report Pegadaian, 2015).
Usaha lain yang dilakukan Perum Pegadaian adalah sebagai berikut : 1) melayani jasa taksiran bagi masyarakat yang ingin menaksir berapa nilai riil barang berharga miliknya, 2) melayani jasa titipan bagi masyarakat yang ingin menitipkan barang berharganya, 3) memberi kredit terutama bagi karyawan yang mempunyai penghasilan tetap, 4) ikut serta dalam usaha tertentu bekerja sama dengan pihak ketiga.
Berdasarkan uraian di atas hipotesis penelitian ini adalah diduga jumlah pinjaman dan barang jaminan berpengaruh signifikan terhadap
pemberian pinjaman kredit Rahn secara parsial dan simultan pada Pegadaian Syariah “X” kota Padang.
METODE PENELITIAN
a. Objek Penelitian
Objek penelitian adalah nasabah penerima pinjaman kredit Rahn pada Pegadaian Syariah “X” kota Padang b. Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi adalah kumpulan elemen yang dapat digunakan untuk beberapa kesimpulan (Arikunto, 2002). Populasi penelitian ini semua nasabah penerima kredit Rahn pada Pegadaian Syariah “X” kota Padang tahun 2016 sebanyak 10.500 orang. Sampel adalah sebagian inti yang diambil dari populasi yang diharapkan dapat mewakili populasinya. Sampel dalam penelitian ini menggunakan pendapat (Arikunto, 2002) sebesar 10% x total nasabah = 105 orang.
c. Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini berbentuk data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang langsung dari responden atau objek penelitian berupa skor jawaban responden menurut (Sunyoto, 2012). Data sekunder adalah data-data pendukung yang diperoleh dari berbagai sumber yang sudah ada seperti profil Pegadaian Syariah “X” kota Padang, brosur dan lainnya.
d. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
berbentuk kuesioner dan
dokumentasi. Kuesioner adalah metode pengumpuln data dengan menyebarkan daftar pertanyaan kepada responden sebagai sampel (Sunyoto, 2012). Penskoran pada alternatif jawaban kuesioner menggunakan skala Likert dengan skor 1 – 5 dengan pilihan sbb : 1 = STS (Sangat Tidak Setuju), 2 = TS
(Tidak Setuju), 3 = N = Netral, 4 = Setuju (S), 5 = SS (Sangat Setuju). Sebelum data dianalisis terlebih dahulu dilakukan uji reliabelitas dan validitas (Ancok, 1999) berdasarkan hasil jawaban responden. Reliabelitas merupakan ukuran kestabilan dan konsistensi responden dalam menjawab hal yang berkaitan dengan konstruk-konstruk pertanyaan sebagai dimensi suatu variabel dan disusun dalam bentuk kuesioner. Reliabelitas suatu konstruk variabel disebut baik jika nilai Cronbach’s Alpha > 0,60. Uji validitas digunakan untuk mengukur kelayakan butir-butir dalam suatu konstruk pertanyaan dalam mendefinisikan suatu variabel. Daftar pertanyaan ini pada umumnya mendukung suatu kelompok variabel tertentu. Validitas suatu butir pertanyaan dapat dilihat dari nilai
Corrected Item Total Correlation
masing-masing butir pertanyaan. Sebuah butir pertanyaan disebut valid jika nilai r hitung sebagai nilai dari
Corrected Item Total Correction > r
tabel (Agung, 2010). Dokumentasi adalah metode pengumpulan data dengan mengumpulkan keterangan-keterangan yang dianggap penting. e. Metode Analisis data
Metode analisis data yang digunakan berbentuk analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif adalah analisis berdasarkan karakteristik tentang jumlah pinjaman dan barang jaminan. Analisis kuantitatif berbentuk analisis regresi berganda merupakan perluasan dari regresi linier sederhana yang digunakan untuk menguji hipotesis secara simultan dalam hal jumlah pinjaman dan barang jaminan dengan rumus persamaan regresi linier berganda Y = a + b1X1 + b2X2 + e dimana Y =
pemberian pinjaman, a = konstanta, X1 = jumlah pinjaman, X2 = barang
varibel bebas dan e = error term (variabel pengganggu). Sebelum persamaan di atas digunakan untuk memprediksi nilai variabel terikat (Y) maka terlebih dahulu dilakukan pengujian instrumen relibelitas, validitas dan uji asumsi klasik multikolinearitas, autokorelasi, heterokedastisitas. Kriteria pengujian secara parsial Ho diterima jika t hitung < t tabel dan Ho ditolak jika t hitung ≥ t tabel pada tingkat signifikansi α = 5%. Kriteria pengujian secara simultan Ho diterima jika F hitung < F tabel dan Ho ditolak jika F hitung ≥ F tabel. Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat digunakan analisis korelasi berganda (Sunyoto, 2012). Jika r = 1 maka hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat kuat positif. Jika r = -1 maka hubungan variabel bebas dengan variabel terikat kuat negatif. Jika r = 0 maka tidak ada hubungan variabel bebas dengan variabel terikat.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Analisis Kualitatif
Analisis kualitatif adalah analisis
yang dilakukan dengan
mengelompokkan data penelitian berdasarkan karakteristik responden yang dijadikan objek penelitian.
1) Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Responden (nasabah) penerima pinjaman kredit Rahn pada Pegadaian Syariah “X” kota Padang berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel 1 berikut.
Tabel 1.
Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Jumlah (Orang) Persentase
Pria Wanita 67 38 63,81 % 36,19 % Jumlah 105 100 %
Sumber : Data Diolah, 2017
Dari tabel 1 diatas berdasarkan jenis kelamin diketahui responden berjenis kelamin pria 67 orang (63,81 %) dan wania 38 orang (36,19 %). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa nasabah penerima pinjaman kredit Rahn pada Pegadaian Syariah “X” kota Padang dalam penelitian ini dominan berjenis kelamin pria sebanyak 67 orang (63,81 %).
2) Responden Berdasarkan Usia
Responden (nasabah) penerima pinjaman kredit Rahn Pegadaian Syariah “X” kota Padang berdasarkan usia dapat dilihat pada tabel 2 berikut.
Tabel 2.
Responden Berdasarkan Usia
Usia Jumlah (Orang) Persentase
< 25 tahun 25 - 34 tahun 35 - 44 tahun ≥ 45 tahun 9 26 36 24 8,57 % 24,76 % 34.29 % 22,86 % Jumlah 105 100 %
Sumber : Data Diolah, 2017
Dari tabel 2 di atas berdasarkan usia responden usia < 25 tahun 9 orang (8,57 %), usia 25 – 34 tahun 26 orang (24,76 %), usia 35 – 44 tahun 36 orang (34,29 %) dan usia ≥ 45 tahun 24 orang (22,86 %). Dengan demikian disimpulkan bahwa responden (nasabah) penerima pinjaman kredit Rahn pada Pegadaian Syariah “X” kota Padang dalam penelitian ini dominan usia 35 – 44 tahun sebanyak 36 orang (34,29%).
3) Responden Berdasarkan Jenis Pekerjaan
Responden (nasabah) penerima pinjaman kredit Rahn berdasarkan jenis pekerjaan dapat dilihat pada tabel 3 berikut.
Tabel 3.
Responden Berdasarkan Jenis Pekerjaan
Jenis Pekerjaan Jumlah
(Orang) Persentase PNS Pegawai Swasta Wiraswasta Lainnya 24 47 30 4 22,86 % 44,77 % 28,57 % 3,81 % Jumlah 105 100 %
Sumber : Data Diolah, 2017
Dari tabel 3, berdasarkan jenis pekerjaan responden berstatus PNS 24 orang (22,86 %), pegawai swasta 47 orang (44,47 %) wirawasta 30 orang (28,57 %) dan lainnya (petani dan buruh) 4 orang (3,81 %).
Dengan demikian dapat
disimpulkan responden dalam penelitian ini dominan berstatus sebagai pegawai swasta 47 orang (44,77 %).
Analisis Kuantitatif
1) Uji Reliabelitas dan Validitas
Hasil uji reliabelitas dapat dilihat pada tabel 4 berikut.
Tabel 4. Reliability Statistics
Cronbach’s Alpha
Cronbach’s Alpha Based
on Standardized Items N of Items
.841 .845 10
Sumber : Data Diolah, 2017 Output SPSS menunjukkan tabel reliability statistics terlihat bahwa nilai Cronbach’s Alpha 0,845 > 0,60 sehingga dapat disimpulkan bahwa konstruk pertanyaan sebagai dimensi jumlah pinjaman, barang jaminan dan pemberian pinjaman reliabel. Hasil uji validitas dapat dilihat pada tabel 5 berikut. Tabel 5. Item Total Statistics Corrected Item Total Correlation Pemberian pinjaman 1 Pemberian pinjaman 2 Pemberian pinjaman 3 Pemberian pinjaman 4 Pemberian pinjaman 5 Jumlah pinjaman 1 Jumlah pinjaman 2 Jumlah pinjaman 3 Jumlah pinjaman 4 Jumlah pinjaman 5 Barang jaminan 1 Barang jaminan 2 Barang jaminan 3 Barang jaminan 4 Barang jaminan 5 0,717 0,643 0,587 0,779 0,593 0,627 0,692 0,584 0,621 0,736 0,657 0,593 0,751 0,639 0,579 Sumber : Data Diolah, 2017 Dengan menggunakan jumlah responden sebanyak 105 orang maka nilai r tabel dapat diperoleh melalui df (degree of freedom) = n – k dimana k = jumlah butir pertanyaan dalam suatu variabel. Jadi df = 105 – 10 = 95 maka r tabel = 0,200. Analisis output SPSS untuk semua butir pertanyaan jumlah pinjaman, barang jaminan dan pemberian pinjaman r hitung > r tabel sehingga semua butir pertanyaan memenuhi syarat validitas. 2) Uji Asumsi Klasik Model regresi linier berganda disebut sebagai model yang baik jika model tersebut memenuhi asumsi normalitas data dan terbebas dari asumsi klasik (multikolineritas, autokorelasi dan heteroskedastisitas). Data yang baik dan layak digunakan dalam penelitian adalah data yang memiliki distribusi normal dapat dilihat dari nilai Skewness seperti pada tabel 6 berikut. Tabel 6. Descriptive Statistics N Skewness Statistic Statistic Std. Error Jumlah pinjaman Barang jaminan Pemberian pinjaman Valid N (listwise) 105 105 105 105 .034 .148 .383 .374 .374 .374
Sumber : Data Diolah, 2017
Normalitas data dapat dilihat dari nlai
Skewness sebagai nilai kecondongan
suatu kurva. Data yang terdistribusi mendekati normal akan memiliki nilai
Skewness mendekati nol sehingga
memiliki kecondongan yang
cenderung seimbang. Dari output SPSS terlihat bahwa variabel jumlah pinjaman nilai Skewness 0,34 barang jaminan nilai Skewness 0,148 dan pemberian pinjaman nilai Skewness 0,383. Semua variabel memiliki
Skewness (kecondongan) mendekati
angka nol sehingga data
masing-masing variabel memiliki
kecondongan terdistribusi secara normal.
Hasil asumsi klasik
statistickmultikolineritas dapat dideteksi dari output SPSS pada tabel 7 berikut.
Tabel 7 Coefficientsa Model Unstandardized Coeficients Standardized Coeficients
t Sig. Colinearity Statistics
B Std.Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) Jumlah pinjaman Barang jaminan 4.397 2,112 1.039 0.840 0.080 0.083 2,137 1.045 5,223 3,402 3,470 0,000 0,016 0,006 0,979 0,979 1,021 1,021 a. Dependent Variable
Hasil uji melalui Variance Inflation
Factor (VIF) pada hasil output tabel Coefficients masing-masing variabel independet memiliki VIF tidak lebih
dari 10 dan nilai Tolerance tidak kurang dari 0,1 sehingga dapat dinyatakan model regresi linier berganda terbebas dari asumsi klasik statistik multikolineritas dan dapat digunakan dalam penelitian. Untuk mendeteksi ada tidaknya autokorelasi dalam suatu model dapat digunakan nilai Durbin Watson (DW) hitung mendekati angka 2. Jika nilai DW mendekati angka 2 maka model terbebas dari asumsi klasik autokorelasi berdasarkan tabel 8 berikut. Tabel 8. Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of The Estimate Durbin Watson 1 .769a .591 .569 12612403.4 1.879
a. Predictors : (Constant), Jumlah pinjaman, barang
jaminan
b. Dependent variable : Pemberian pinjaman
Pada tabel 8 di atas didapat nilai DW = 1,879 (mendekati angka 2) sehingga dapat disimpulkan bahwa model regresi linier berganda terbebas dari asumsi klasik autokorelasi. Model regresi linier berganda juga terbebas dari asumsi klasik heterokedastisitas dan layak digunakan karena penyebaran titik-titik sebagai berikut : 1) titik-titik data menyebar di atas dan di bawah atau di sekitar angka nol, 2) titik-titik data tidak mengumpul hanya di atas atau di bawah saja, 3) penyebaran titik-titik data tidak boleh
membentuk pola bergelombang melebar kemudian menyempit dan melebar kembali, 4) penyebaran titik-titik data sebaiknya tidak berpola. 3) Analisis Regresi Linier Berganda
Output SPSS berdasarkan tabel 7
didapat hasil persamaan regresi linier bergandanya Y = 4,397 + 2,112X1 + 1,039 X2 + e dengan
interpretasinya sebagai berikut : a = 4,397 berarti jika jumlah pinjaman dan barang jaminan tidak ada (asumsi ceteris paribus) maka pemberian pinjaman kredit Rahn dapat diberikan sebesar 4,397 satuan mata uang.
b1 = 2,112 berarti jika jumlah
pinjaman naik 1 satuan mata uang maka pemberian pinjaman kredit Rahn akan meningkat sebesar 2,112 satuan mata uang.
b2 = 1,039 berarti jika barang jaminan
naik sebesar 1 satuan mata uang maka pemberian pinjaman kredit Rahn akan meningkat sebesar 1,039 satuan mata uang.
Pemberian pinjaman kredit Rahn lebih dominan dipengaruhi oleh jumlah pinjaman dibandingkan dengan barang jaminan hal ini sesuai
dengan teori bahwa dalam
memberikan pinjaman kredit Rahn
pihak Pegadaian lebih
memperhatikan jumlah pinjaman daripada barang jaminan karena barang jaminan hanya berfungsi sebagai faktor kedua dalam menentukan pemberian pinjaman kredit Rahn. Nilai uji t test (parsial)
dapat dilihat dari nilai p value (pada kolom Sig.) pada masing-masing variabel bebas.Variabel jumlah pinjaman (X1) nilai p value 0,016 <
0,05 artinya signifikan berarti jumlah pinjaman secara parsial berpengaruh terhadap pemberian pinjaman kredit Rahn (hipotesis diterima). Variabel barang jaminan (X2) nilai p value
0,006 < 0,05 artinya signifikan berarti barang jaminan secara parsial berpengaruh terhadap pemberian pinjaman kredit Rahn pada Pegadaian Syariah “X” kota Padang (hipotesis diterima).
Uji simultan dengan F test bertujuan untuk mengetahui pengaruh bersama-sama variabel bebas terhadap variabel terikat dapat dilihat pada tabel 9 berikut. Tabel 9. ANOVAb Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig. 1 Regression Residual Total 1.005 7.395 8.200 5 99 104 .201 .075 2.67 9 .045a
a. Predictors : (Constant), Jumlah pinjaman (X1), Barang
jaminan (X2)
b. Dependent variable : Pemberian pinjaman
Output SPSS menunjukkan p value
0,045 < 0,05 artinya jumlah pinjaman dan barang jaminan secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap pemberian pinjaman kredit Rahn pada Pegadaian Syariah “X” kota Padang (hipotesis diterima).
Berdasarkan tabel 8 dapat diberikan interpretasi sebagai berikut : Nilai R = 0,769 berarti koefisien korelasi jumlah pinjaman dan barang jaminan dengan pemberian pinjaman kredit Rahn tergolong kuat pada Pegadaian Syariah “X” kota Padang. Nilai R
Square = 0,591 berarti jumlah
pinjaman dan barang jaminan berpengaruh terhadap pemberian pinjaman kredit Rahn sebesar 59,1 %
sedangkan sisanya 40,9 %
dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak termasuk dalam model
penelitian. Nilai Adjusted R Square = 0,569 berarti pemberian pinjaman kredit Rahn di Pegadaian Syariah “X” kota Padang dapat dijelaskan oleh jumlah pinjaman dan barang jaminan sebesar 56,9 % dan sisanya 43,1 % dijelaskan oleh faktor lain yang tidak termasuk dalam model penelitian.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Terdapat pengaruh signifikan jumlah pinjaman secara parsial terhadap pemberian pinjaman kredit Rahn pada Pegadaian Syariah “X” kota Padang karena nilai p value 0,016 < 0,05. Terdapat pengaruh signifikan barang jaminan secara parsial terhadap pemberian pinjaman kredit Rahn pada Pegadaian Syariah “X” kota Padang karena nilai p value 0,006 < 0,05. 2. Terdapat pengaruh signifikan jumlah
pinjaman dan barang jaminan secara simultan terhadap pemberian pinjaman kredit Rahn pada Pegadaian Syariah “X” kota Padang karena nilai p value 0,045 < 0,05.
3. Hubungan jumlah pinjaman dan barang jaminan dengan pemberian pinjaman kredit Rahn kuat sebesar 0,769.
4. Pemberian pinjaman kredit Rahn dipengaruhi oleh jumlah pinjaman dan barang jaminan sebesar 59,1 % sedangkan sisanya 40,9 % dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak termasuk dalam model penelitian pada Pegadaian Syariah “X” kota Padang. 5. Pemberian pinjaman kredit Rahn
dapat dijelaskan oleh jumlah pinjaman dan barang jaminan sebesar 56,9 % sedangkan sisanya 43,1 % dijelaskan oleh faktor lain yang tidak termasuk dalam model penelitia pada Pegadaian Syariah “X” kota Padang.
Ancok, D. Validitas dan Reliabelitas
Instrumen Penelitian. Dalam :
Singarimbun M dan Efendi (Eds). 1999. Meode Penelitian Survey. Jakarta : LP3ES.
Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian
Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta
: Rineka Cipta.
Aziz, Mukhlish Arfin. 2013. Analisis
Pengaruh Tingkat sewa Modal,
Jumlah Nasabah Terhadap
Penyaluran Kredit Gadai Golongan C (Studi Kasus Pada PT Pegadaian Cabang Probolinggo). Jurnal Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang.
Perum Pegadaian. 2015. Annual Report. Kasmir. 2013. Bank dan Lembaga
Keuangan Lainnya. Edisi Revisi 2001. Jakarta : PT Raja Grafindo
Persada.
Nugroho, Bhuono Agung. 2005. Strategi
Jitu Memilih Metode Statistik
Penelitian dengan SPSS.
Yogyakarta : Penerbit Andi.
Rais, sasli. 2006. Pegadaian Syariah :
Konsep dan System Operasional.
Jakarta : UI Press.
Rodoni, Akhmad. 2004. Lembaga
Keuangan Syariah. Cetakan
Pertama. Jakarta : Zikrul Hakim.
Sunyoto, Danang. 2012. Riset Ekonomi. Bandung : Yrama Widya.