HUBUNGAN ANTARA TINGKAT DEPRESI PADA LANSIA DENGAN KEJADIAN INSOMNIA DI PANTI SASANA TRESNA WERDHA “KARYA BHAKTI” YAYASAN
KARYA BHAKTI RIA PEMBANGUNAN CIBUBUR TAHUN 2016
Agus Sumarno1, Ana Sukriah Salam2
1. Program Studi Sarjana Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Islam As-syafi’iyah Jakarta, Indonesia
2. Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Islam As-syafi’iyah Jakarta, Indonesia *email : [email protected]
ABSTRAK
Pendahuluan Lansia sering kali mengalami masalah psikologis atau depresi yang disebabkan masalah pensiun, gangguan fisik, kematian orang yang dicintai, dan masalah ekonomi yang mengakibatkan lansia sering mengalami gangguan tidur. Depresi adalah perubahan suasana hati yang buruk, sehingga ketika seseorang mengalami depresi, maka orang tersebut akan merasa sedih berkepanjangan, putus harapan, dan kesepian. Sedangkan insomnia adalah kesulitan seseorang untuk memulai tidur atau mempertahankan tidur dalam kurun waktu tertentu. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi Hubungan antara Tingkat Depresi pada Lansia dengan Kejadian Insomnia di Panti Sasana Tresna Werdha “Karya Bhakti” Yayasan Karya Bhakti Ria Pembangunan Cibubur. Metode Penelitian menggunakan deskriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi berjumlah 64 orang dengan menggunakan rumus Slovin diperoleh ukuran sampel sebesar 55 responden yang dipilih secara random. Pengumpulan data menggunakan kuesioner, yang selanjutnya dianalisis dengan menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan tingkat depresi tertinggi 47,3% yang terindikasi depresi ringan dan 63,3% yang mengalami kejadian insomnia. Dari hasil analisis diperoleh nilai Chi-Square (χ2) = 3.129 < χ20,05(2)= 5,99. Kesimpulan tidak ada hubungan yang signifikan antara
tingkat depresi pada lansia dengan kejadian insomnia karena p value > 5 %. Saran penulis diperlukannya lansia terhindar dari depresi dan kejadian insomnia.
LATAR BELAKANG
Sering kali lansia yang mengalami masalah psikologis atau depresi seperti masalah pensiun, gangguan fisik, kematian orang di cintai, dan kehilangan keadaan ekonomi tersebutlah yang mengakibatkan lansia sering mengalami gangguan tidur. Gangguan tidur tersebut apabila tidak diobati secara umum akan menyebabkan gangguan tidur malam salah satunya yaitu insomnia yang banyak di alami oleh lansia. Di Indonesia 20% orang dewasa melaporkan adanya keluhan susah tidur (insomnia) dan sekitar 17% mengalami keluhan tidur yang serius. Gangguan tidur pada lansia cukup tinggi yaitu sekitar 67% (Prezi, 2015). Dari survei yang didapatkan bahwa depresi memiliki prevalensi paling tinggi (17%) dibandingkan dengan gangguan jiwa lainnya. Depresi pada lansia di Indonesia 33,8% dan di DKI Jakarta 30,1% (Prezi, 2015).
Dari hasil pengamatan awal penulis yang di lakukan di Panti Sasana Tresna Werdha “Karya Bhakti” Yayasan Karya Bhakti Ria Pembangunan Cibubur didapatkan 10 lansia yang mengalami depresi. Data tersebut didapat dari skrining Geriatric Depression Scale. Dan 7 lansia yang mengalami insomnia.
Berdasarkan uraikan diatas, peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul “Hubungan Antara Tingkat Depresi Pada Lansia Dengan Kejadian Insomnia di Panti Sasana Tresna Werdha “Karya Bhakti” Yayasan Karya Bhakti Ria Pembangunan Cibubur”
TUJUAN PENELITIAN 1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi Hubungan Antara Tingkat Depresi Pada Lansia Dengan Kejadian Insomnia di Panti Sasana Tresna Werdha „Karya Bhakti” Yayasan Karya Bhakti Ria Pembangunan Cibubur.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk Mengetahui Gambaran Karakteristik Lansia di Panti Sasana Tresna Werdha “Karya Bhakti” Yayasan Karya Bhakti Ria Pembangunan Cibubur. b. Untuk Mengetahui Gambaran
Tingkat Depresi Pada Lansia di Panti Sasana Tresna Werdha “Karya Bhakti” Yayasan Karya Bhakti Ria Pembangunan Cibubur
c. Untuk Mengetahui Gambaran Kejadian Insomnia Pada Lansia di Panti Sasana Tresna Werdha “Karya Bhakti” Yayasan Karya Bhakti Ria Pembangunan Cibubur
d. Untuk Mengetahui Hubungan Antara Tingkat Depresi Pada Lansia Dengan Kejadian Insomnia di Panti Sasana Tresna Werdha „Karya Bhakti” Yayasan Karya Bhakti Ria Pembangunan Cibubur
TINJAUAN PUSTAKA 1. Lanjut Usia (Lansia)
a. Pengertian
Menua atau menjadi tua adalah suatu keadaan yang terjadi di dalam kehidupan manusia. Proses menua merupakan proses sepanjang hidup, tidak hanya dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan kehidupan. Menjadi tua merupakan proses alamiah, yang berarti sesorang telah melalui tiga tahap kehidupannya yaitu anak, dewasa, dan tua. Tiga tahap ini berbeda, baik secara biologis maupun psikologis. Memasuki usia tua berarti mengalami kemunduran, misalnya kemunduran fisik yang ditandai dengan kulit yang mengendur, rambut memutih, gigi mulai ompong, pendengaran kurang
jelas, penglihatan semakin memburuk, gerakan lambat, dan figure tubuh yang tidak proposional (Nugroho, 2012).
b. Batasan Lanjut Usia
Usia yang dijadikan patokan untuk lanjut usa berbeda-beda, umumnya berkisar antara 60-65 tahun. Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) dalam Sri Artinawati (2014), ada empat tahapan yaitu : 1) Usia pertengahan (middle age)
usia 45-59 tahun
2) Lanjut usia (elderly) usia 60-74 tahun
3) Lajut usia tua (old) usia 75-90 tahun
4) Usia sangat tua (very old) usia diatas 90 tahun
c. Masalah-masalah pada Lanjut Usia
Menurut Robert Kane dan Yoseph Ouslander dalam Buku “ Essentials of Clinical Geriatrics, 2006 “ , permasalahan lansia sering disebut dengan istilah 14I, yaitu: 1) Immobility (kurang bergerak 2) Instability (berdiri dan berjalan
tidak stabil dan mudah jatuh 3) Incontinence (beser buar air
seni)
4) Intellectual Impairment (gangguan intelektual/demensia) 5) Infection (infeksi) Impairment of vision and hearing, taste, smell, communication, convalescence, skin integrity (gangguan pancaindra, komunikasi, daya pulih dan kulit)
6) Impaction (sulit buang air besar) 7) Isolation (depresi)
8) Inanition (kurang gizi)
9) Impecunity (tidak punya uang) 10) Iatrogenesis (menderita
penyakit akibat obat-obatan)
11) Insomnia (gangguan tidur) 12) Immunde deficiency (daya tahan
tubuh yang menurun) 13) Impotence (impotensi)
2. Depresi
a. Pengertian
Depresi adalah suatu jenis gangguan alam perasaan atau emosi yang disertai komponen psikologik: rasa susah, murung, sedih, putus asa, dan tidak bahagia, serta komponen somatik: anoreksia, konstipasi, kulit lembab, tekanan darah dan denyut nadi menurun. Depresi adalah salah satu bentuk gangguan jiwa pada alam perasaan (afektif, mood) (Iyus Yosep, 2014).
b. Skala Pengukuran Depresi Pada Lanjut Usia
Gejala depresi pada lansia diukur menurut tingkatan sesuai dengan gejala yang termanifestasikan. Jika dicurigai terjadinya depresi, harus dilakukan pengkajian dengan alat pengkajian yang berstandarisasi dan dapat dipercayai serta valid dan memang dirancang untuk diujikan kepada lansia. Salah satu yang paling mudah digunakan untuk diinterprestasikan di berbagai tempat, baik oleh peneliti adalah Geriatric Depression Scale (GDS) yang dikemukakan oleh Brink dan Yesavage (1982) dan telah diadopsi dan dibakukan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2000). GDS dengan tipe jawaban “iya” atau “tidak”. GDS yang dipergunakan adalah kuesioner Geriatric Depression Scale-30 (GDS-30). Skor 1 – 10 menunjukkan depresi ringan, nilai 11 – 20 menunjukkan depresi sedang dan skor 21 – 30 menunjukkan depresi berat. (Aspiani Yuli Reny, 2014).
METODE PENELITIAN 1. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional yaitu melihat hubungan tingkat depresi pada lansia dengan kejadian insomnia di Panti Sasana Tresna Werdha “Karya Bhakti” Yayasan Karya Bhakti Ria Pembangunan Cibubur. Penelitian ini bertujuan untuk mencari ada tidaknya hubungan signifikan antara kedua variabel tersebut.
2. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Panti Sasana Tresna Werdha “Karya Bhakti” Yayasan Karya Bhakti Ria Pembangunan Cibubur. Adapun waktu penelitian, dilakukan selama 3 bulan, dari bulan April sampai dengan bulan Juni 2016 mulai dari persiapan, pengambilan data, pengolahan dan analisis data sampai penulisan laporan. 3. Populasi dan Sampel Penelitian
a. Populasi
Responden Penelitian ini adalah Lansia yang tinggal di Panti Sasana Tresna Werdha “Karya Bhakti” Yayasan Karya Bhakti Ria Pembangunan Cibubur, yang berjumlah Populasi adalah 64 lansia Wanita dan Laki-laki.
b. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Sugiyono, 2011). kemudian ukuran sampel menggunakan rumus Slovin :
n = Keterangan :
n : Ukuran Sampel N : Populasi
d : Margin Of Eror ( 5% )
Dengan menggunakan rumus diatas dan tingkat kesalahan 5% maka ukuran sampel dalam penelitian ini
N : 64 orang d : 5% (0,05)
n = = 55 responden
c. Teknik pengambilan sampel
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Random Sampling. HASIL PENELITIAN
1. Analisa Univariat
a. Karakteristik responden 1) Jenis Kelamin Lansia
Tabel 1 Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%) Laki-laki 11 20% Perempuan 44 80% Total 55 100% 2) Status Perkawinan
Tabel 2 Distribusi Frekuensi Status Perkawinan Status Perkawinan Frekuensi Persentase (%) Belum Menikah 2 20% Menikah 53 80% Total 55 100% 3) Usia Responden
Tabel 3 Distribusi Frekuensi Usia Responden
Usia Frekuensi Persentase
(%)
60 – 74 Tahun 25 45,5%
75 – 90 Tahun 26 47,3%
>90 Tahun 4 7,3%
b. Gambaran Tingkat Depresi Pada Lansia
Tabel 4 Distribusi Frekuensi Tingkat Depresi pada Lansia
Tingkat Depresi Frekuensi Persentase (%)
Depresi Ringan 26 47,3%
Depresi Sedang 21 38,2%
Depresi Berat 8 14,5%
Total 55 100%
Tabel 5 Distribusi Frekuensi Tingkat Depresi dengan Jenis Kelamin
Tingkat Depresi
Jenis Kelamin Total
Laki-laki Perempuan Depresi ringan 5 9,1% 21 38,2% 26 47,3% Depresi sedang 6 10,9% 15 27,3% 21 38,2% Depresi berat 0 ,0% 8 14,5% 8 14,5% Total 11 20,0% 44 80,0% 55 100,0%
c. Gambaran Kejadian Insomnia
Tabel 6 Distribusi Frekuensi Kejadian Insomnia Pada Lansia
Kejadian Insomnia Frekuensi Persentase (%) Ada 35 63,6% Tidak ada 20 36,4% Total 55 100%
Tabel 7 Distribusi Frekuensi Kejadian Insomnia dengan Jenis Kelamin
Kejadian Insomnia
Jenis Kelamin Total
Laki-laki Perempuan Ada 6 10.9% 29 52.7% 35 63.6% Tidak Ada 5 9.1% 15 27.3% 10 36.4% Total 11 20.0% 44 80.0% 55 100.0% 2. Analisis Bivariat
Tabel 8 Tabulasi Silang Tingkat Depresi dengan Kejadian Insomnia
Tingkat Depresi
Kejadian Insomnia Total Ada Tidak ada
Depresi Ringan 14 25,5% 12 21,8% 26 47,3% Depresi Sedang 14 25,5% 7 12,7% 21 38,2% Depresi Berat 7 12,7% 1 1,8% 8 14,5% Total 35 63,6% 20 36,4% 55 100%
Tabel 9 Uji Chi-Square Hubungan antara Tingkat Depresi pada Lansia dengan
Kejadian Insomnia Di Panti Sasana Tresna Werdha “Karya Bhakti” Yayasan
Karya Bhakti Ria Pembangunan Cibubur
Value df Asymp. Sig. (2-sided) Pearson Chi-Square N of Valid Cases 3.129 55 2 .209
Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa nilai Chi-Square (χ2) hitung = 3.129, yang secara statistik tidak signifikan karena χ2
hitung < dari χ2 tabel (α = 5% dan derajat bebas = 2) atau dengan cara lain p value = 0,209 ≥ 5% sehingga dapat disimpulkan hipotesa nol diterima.
Kesimpulannya adalah Tidak Ada Hubungan antara Tingkat Depresi pada Lansia dengan Kejadian Insomnia Di Panti Sasana Tresna Werdha “Karya Bhakti” Yayasan Karya Bhakti Ria Pembangunan Cibubur.
PEMBAHASAN
1. Karakteristik Responden Penelitian Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin pada tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian besar responden adalah berjenis kelamin perempuan. Dari 55 responden adalah perempuan sebanyak 44 responden (80%), dan laki-laki sebanyak 11
responden (20%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kelamin di Panti Sasana Tresna Werdha “Karya Bhakti” Yayasan Karya Bhakti Ria Pembagunan Cibubur lansia berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 44 responden (80%). Karakteristik responden berdasarkan status perkawinan pada tabel 2 menunjukkan bahwa sebagian besar responden adalah menikah. Dari 55 responden adalah belum menikah sebanyak 2 responden (20%), dan menikah sebanyak 53 responden (80%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa status perkawinan di Panti Sasana Tresna Werdha “Karya Bhakti” Yayasan Karya Bhakti Ria Pembagunan Cibubur didominasi lansia sudah menikah yaitu sebanyak 53 responden (80%).
Karakteristik responden berdasarkan usia pada tabel 3 bahwa kebanyakan responden berusia antara 60-74 tahun sebanyak 25 responden (45,5%), berusia 75-90 tahun sebayak 26 responden (47,3%). Dan berusia diatas 90 tahun sebanyak 4 responden (7,3%). Hasil penelitian tersebut menunjukkan umur responden di Panti Sasana Tresna Werdha “Karya Bhakti” Yayasan Karya Bhakti Ria Pembagunan Cibubur adalah kelompok lanjut usia (elderly), lanjut usia tua (old) dan usia sangat tua (very old).
2. Gambaran Tingkat Depresi Pada Lansia
Penelitian terhadap tingkat depresi pada lansia berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan penulis terhadap 55 responden terdapat 46 orang (47,3%) terindikasi depresi ringan, 21 orang (38,2%) terindikasi depresi sedang dan 8 orang (14,5%) terindikasi depresi berat. Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian
responden mengalami depresi ringan dengan presentase 47,3%.
Berdasarkan tabel 4.5 tingkat depresi dengan jenis kelamin dapat dilihat bahwa yang mengalami depresi ringan lebih banyak jenis kelamin perempuan sebanyak 21 responden (38,2%). Depresi lebih rentan dialami perempuan dua kali lebih sering dibanding pada pria. Penyebabnya ada kemungkinan pada alasan biologis misalnya, pada saat menstruasi, melahirkan dan menopause, wanita umumnya mengalami banyak lebih fluktuasi hormonal sepanjang hidup mereka dari pada laki-laki, dan bisa juga disebabkan karena perempuan lebih tidak tegaan dibanding laki-laki dan cenderung untuk lebih cepat panik dan cemas.
3. Gambaran Kejadian Insomnia
Berdasarkan data lapangan melalui kuesioner sebagian besar responden yang mengalami insomnia karena sakit fisik 38,2% , merasa kurang nyaman atau gelisah saat tidur 40%, kehilangan seseorang (kematian orang dekat) 56,4%, terbangun karena suara keras atau gaduh 18,2%, mengalami cemas dan depresi 29,1%, karena adanya stress 34,5%, sedang ketakutan 74,5%, dan mengalami kesulitan untuk tidur di siang hari 10,9%. Dari hasil analisis kejadian insomnia pada lansia di Panti Sasana Tresna Werdha “Karya Bhakti” Yayasan Karya Bhakti Ria Pembangunan Cibubur, dari jumlah 55 responden diperoleh 35 lansia (63,6%) mengalami kejadian insomnia. Sedangkan yang tidak mengalami insomnia adalah 20 orang (36,4%). Hasil ini menunjukkan bahwa sebagian responden mempunyai kejadian insomnia dengan presentase 63,6%.
Berdasarkan tabel 7 kejadian insomnia dengan jenis kelamin dapat dilihat bahwa yang mengalami insomnia lebih banyak jenis kelamin perempuan sebanyak 29 responden (52,7%). Kondisi fisik dan mental tertentu juga berpengaruh terhadap kejadian insomnia. Bahwa secara hakikat perempuan lebih tidak tegaan dibanding laki-laki dan cenderung untuk lebih cepat panik dan cemas yang bisa membuat sulit tidur di malam hari. 4. Hubungan Antara Tingkat Depresi
Pada Lansia Dengan Kejadian Insomnia
Depresi selain menyebabkan insomnia, depresi juga bisa menimbulkan keinginan untuk tidur terus sepanjang waktu karena ingin melepaskan diri dari masalah yang dihadapi, depresi juga bisa menyebabkan insomnia dan sebaliknya insomnia dapat menyebabkan depresi (DEPKES RI, 2012 dalam Raharja).
Hasil penelitian ini telah diperoleh nilai p value = 0,209 ≥ 5%, sehingga H0 diterima artinya tidak ada
hubungan antara tingkat depresi pada lansia dengan kejadian insomnia. Hal ini dibuktikan oleh DEPKES RI 2012 Dalam Raharja yang mengatakan bahwa depresi juga bisa menimbulkan keinginan untuk tidur terus sepanjang waktu karena ingin melepaskan diri dari masalah. Kemudian jika peneliti bandingkan dengan hasil penelitian Ericha Aditya Raharja (2013) dengan jumlah responden sebanyak 35 lansia diperoleh hasil hubungan yang signifikan antara tingkat deprsi dengan insomnia di Panti Werdha Semeru Jaya yaitu nilai p= 0,044 < 5%, sehingga Ho ditolak, artinya ada hubungan antara tingkat depresi dengan insomnia di Karang Werdha Semeru Jaya. Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh
tempat, jumlah sampel, konsep instrument GDS-15 untuk depresi dan KSBPJ Insomnia Rating Scale untuk instrument kejadian insomnia.
Selanjutnya dari hasil penelitian penulis didapatkan tidak adanya hubungan yang signifikan antara tingkat depresi pada lansia dengan kejadian insomnia.
KESIMPULAN
1. Karakteristik Responden
a. Jenis Kelamin responden di Panti Sasana Tresna Werdha “Karya Bhakti” Yayasan Karya Bhakti Ria Pembangunan Cibubur bahwa jenis kelamin responden terbanyak perempuan dengan persentase 80%. b. Status Perkawinan responden di Panti
Sasana Tresna Werdha “Karya Bhakti” Yayasan Karya Bhakti Ria Pembangunan Cibubur didominasi lansia sudah menikah dengan persentase 80%.
c. Usia responden Panti Sasana Tresna Werdha “Karya Bhakti” Yayasan Karya Bhakti Ria Pembangunan Cibubur sebagian besar dikelompokkan lanjut usia tua (75-90 tahun) dengan persentase 47,3%. 2. Tingkat Depresi pada Lansia di Panti
Sasana Tresna Werdha “Karya Bhakti” Yayasan Karya Bhakti Ria Pembangunan Cibubur sebagian besar mengalami depresi ringan dengan persentase 47,3%, yang mengalami depresi ringan lebih banyak jenis kelamin perempuan sebanyak 21 responden (38,2%).
3. Kejadian Insomnia di Panti Sasana Tresna Werdha “Karya Bhakti” Yayasan Karya Bhakti Ria Pembangunan Cibubur sebagian besar mengalami insomnia dengan presentase 63,6%, yang mengalami insomnia lebih banyak
jenis kelamin perempuan sebanyak 29 responden (52,7%).
4. Dari Uji-Square diperoleh hasil yang tidak signifikan secara statistik yang berarti tidak ada hubungan antara tingkat depresi pada lansia dengan kejadian insomnia, yang ditujukan oleh nilai p value = 0,209 > 5%.
SARAN
1. Bagi Lansia yang tinggal Panti Sasana Tresna Werdha “Karya Bhakti” Yayasan Karya Bhakti Ria Pembangunan Cibubur lansia untuk melakukan aktivitas fisik, kegiatan keagamaan. Sehingga lansia terhindar dari depresi dan kejadian insomnia.
2. Bagi peneliti lain
Perlu melakukan penelitian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat depresi dan kejadian insomnia. 3. Bagi Institusi Pendidikan Keperawatan Perlu pengembangan Asuhan Keperawatan berbasis penelitian tentang depresi dan insomnia.
DAFTAR PUSTAKA
Artinawati, Sri. (2014). Asuhan Keperawatan Gerontik. Bogor : IN MEDIA.
Aspiani Yuli Reny, dkk (2014). Buku Ajar Keperawatan Gerontik Jilid 2: Aplikasi NANDA, NIC dan NOC. Jakarta: TIM
Iyus Yosep, Titin Surtini. (2014). Buku Ajar Keperawatan Jiwa Dan Advance Mental Health Nursing. Bandung: PT Refika Aditama
Lanywati, Endang. (2008). Gangguan Sulit Tidur. Yogyakarta: Kanisius
Manurung, Nixson. (2016). Terapi Reminiscence: Solusi Pendekatan Sebaya Upaya Tindakan
Keperawatan Dalam Menurunkan Kecemasan, Stress Dan Depresi Jakarta: TIM
Maryam, Siti. dkk. (2008). Mengenal Usia Lanjut Dan Perawatannya. Jakarta: Salemba Medika
Mickey, Stanley, dkk. (2012). Buku Ajar Keperawatan Gerontik Edisi 2. Jakarta:EGC
Notoatmodjo. (2012). Metodologi Penelitian Kesehatan. Edisi Revisi Cetakan Kedua. Jakarta: Rineka Cipta
Nugroho, W. (2012). Keperawatan Gerontik Dan Geriatric Edisi 3. Jakarta:EGC Stanley, M dan Beare, P.G. (2007). Buku
Ajar Keperawatan Gerontik Edisi 2. Jakarta: EGC
Sugiyono (2009). Metodologi Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung:
Prezi. (2015).
http://prezi.com/m/nu8dntqjjmaz/hubun
gan-antara-tingkat-depresi-dengan-insomnia diakses pada tanggal 1 Mei 2016
Robert Kane, Yoseph Ouslander “Buku Essential Of Clinical Geriatrics“ dalam Trisula (2006). Http://trisulawahyu.article.com/2010/1
2/empat-belas-masalah-lansia.html?m=1 diakses pada tanggal