BAB V
ANALISIS PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini penulis akan menganalisis data sebagai upaya untuk menjawab permasalahan penelitian tentang (1) Bagaimanakah kesenjangan antara orang tua dan anak dalam penggunaan mobile phone (2) strategi komunikasi dalam mengatasi kesenjangan antara orang tua dan anak dalam penggunaan mobile phone.
Di era masa kini teknologi telah mendominasi kehidupan manusia khususnya di dunia
mobile phone. Perkembangan teknologi ini mempengaruhi perilaku dan pola pikir anak.
Zaman sekarang anak sibuk memainkan mobile phone dan sibuk dengan dunianya sendiri, perilaku yang dilakukan sebelum menggunakan mobile phone telah berubah. Penggunaan
mobile phone perlu dibatasi karena mengganggu proses belajar, penyalahgunaan fitur
internet juga dapat menganggu perkembangan anak. Oleh karena itu orang tua perlu ikut serta mengawasi agar anak tidak terlalu sering memakai mobile phone, disisi lain di daerah pedesaan orang tua cenderung menggunakan mobile phone seperlunya saja. Hal ini dikarenakan keterbatasan pengetahuan orang tua mengenai penggunaan mobile phone. Dalam suatu komunikasi perlu adanya komunikasi antarpribadi antara anak dan orang tua. Tetapi di Dusun Kemiri Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang berbeda, terjadi kesenjangan teknologi antara orang tua dan anak.
Menurut Kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) kesenjangan adalah ketidakseimbangan atau ketidaksimetrisan, sedangkan teknologi dari kata “techne” yang berarti serangkaian prinsip atau metode rasional yang berkaitan dengan pembuatan suatu objek. Teknologi adalah keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia.
Menurut B.J. Habiebie (1983: 14) ada delapan wahana transformasi yang menjadi prioritas pengembangan teknologi, terutama teknologi industri, yaitu :
1. Pesawat terbang
2. Maritim dan perkapalan 3. Alat transportasi
4. Elektronika dan komunikasi 5. Energi
6. Rekayasa
7. Alat-alat dan mesin pertanian 8. Pertahanan dan keamanan
Teknologi yang semakin canggih memudahkan kita untuk mengakses berita atau informasi lebih cepat, hanya menggunakan mobile phone kita dapat mencari informasi tanpa keluar rumah. Kemajuan teknologi ini ternyata menimbulkan kesenjangan teknologi dan perlu adanya pengawasan orang tua, tetapi tidak banyak orang tua yang dapat mengerti tentang teknologi (Diimmigran Native). Jadi dapat dijelaskan bahwa Kesenjangan teknologi Menurut Van Dijk (2006) adalah kesenjangan antara yang memiliki dan tidak memiliki akses terhadap komputer dan internet.
Di Dusun Kemiri Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang terdapat adanya kesenjangan antara orang tua dan anak dalam penggunaan mobile phone. Dalam Bab Lima ini, penulis akan menjelaskan hasil penelitian yang telah penulis lakukan. Jumlah keluarga yang peneliti wawancara adalah enam pasang keluarga Untuk mendapatkan data, penulis melakukan wawancara. Hasil wawancara peneliti catat dalam suatu catatan penelitian dan dalam bentuk dokumentasi. Pertanyaan yang diberikan terdiri dari 21 butir pertanya 10 untuk anak – anak dan 11 untuk orang tua. Dua puluh satu pertanyaan tersebut untuk mendapatkan informasi tentang dari para informan tentang kesenjangan antara orang tua dan anak terhadap penggunaan mobile phone Dengan adanya wawancara, informan dapat menjawab pertanyaan secara bebas sesuai dengan kondisi real yang dialami oleh informan. Pengguna mobile phone ini dibedakan menjadi dua diantaranya pengguna aktif dan pasif, pengguna aktif adalah orang yang selalu menggunakan mobile phone kapanpun dan dimanapun sedangkan pengguna pasif adalah orang yang menggunakan mobile phone saat mereka butuh saja, tingkat pengguna aktif lebih tinggi dibandingkan pengguna pasif.
Berdasarkan data yang diperoleh berikut analisa peneliti :
5.1 Kesenjangan antara orang tua dan anak dalam penggunaan mobile phone di Dusun Kemiri Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang
Peran orang tua dalam komunikasi antarpribadi sangatlah penting. Komunikasi antarpribadi sendiri adalah komunikasi antara orang tua dan anak, orang tua sebagai komunikator harus memberikan informasi/pesan yang dapat megubah perilaku anaknya menjadi lebih baik. Menurut Schrram (1974) diantara manusia mereka saling
berbagi informasi dan sikap. Menurut Meril dan Lowstein (1971) terjadi penyesuaian peserta, singkatnya suatu pengertian.
Komunikasi antarpribadi sebenarnya merupakan suatu proses sosial dimana orang-orang yang terlibat didalamnya saling mempengaruhi sebagaimanapun diungkapkan ( Devito,1976). Orang tua melakukan komunikasi dengan anaknya secara efektif dapat membentuk perilaku anak yang positif. Di masa-masa ini anak mudah terpengaruh dengan dunia luar, untuk itu peran orang tua sangat besar dalam pembentukan sikap positif.
Ada beberapa faktor yang dapat menumbuhkan sikap yang positif antara orang tua dan anak (Jalaludin rakhmat, 2013).
Peneliti akan membahas tentang (1) kepercayaan dari kata percaya yang artinya mengakui atau meyakini akan kebenaran jadi dapat dijelaskan bahwa sikap kepercayaan adalah sikap kemauan seseorang untuk bertumpu kepada orang lain dimana kita memiliki keyakinan padanya (Moorman, 1993).
Dalam kasus ini anak sudah percaya kepada orang tuanya dan terbuka dalam suatu masalah apapun. Peneliti melakukan pengamatan pada tanggal 14 mei 2016 kepada keluarga suhardi dan siti baroqah, saat itu anak-anaknya sedang berkumpul di ruang tamu belajar bersama kakak-kakanya sedangkan orang tua menonton televisi keluarga suhardi dan siti baroqah mempunyai 5 anak terkadang saat belajar arga suka jail mengerjai kakaknya dan saat bertengkar dengan kakaknya rega menangis dan meminta bantuan ibunya untuk membantu arga agar tidak di marahi kakaknya. Sedangkan pada keluarga maryono dan purwanti mempunyai 7 orang anak sama seperti keluarga siti baroqah keluarga maryono dan purwanti juga sama melakukan aktifitas orang tua sedang menonton televisi karena selesai melakukan pekerjaan di sawah dan anak-anaknya membantu belajar. Keluarga triastono dan galih wiraswati, anak sangat akrab dengan orang tuanya dan saat itu anak sedang bercerita kepada orang tuanya tentang pelajaran di sekolah hari sabtu kemarin di sekolahnya terlihat bahwa anak dan orang tua sedang bercanda gurau antara orang tua dan anak saling percaya satu sama lain. Keluarga ngatno dan sri mulyani saat itu ibunya sedang merapikan pakaian dan bapak sedang menonton televisi, anak-anak sedang bermain dengan ayahnya. Anak menganggu ayahnya saat sedang menonton televisi. Keluarga setya budi dan minayati
saat peneliti ke rumah ibu minayati, ibu minayati sedang keluar rumah aktifitas keluarga setyabudi adalah bapak tidur di ranjang dekat televisi saat itu ega sedang bermain mobile phone bersama temannya, saat anak menanyakan PR di sekolah bersama orang tuanya, orang tuanya hanya menjawab seadanya karena terlalu lelah bekerja seharian. Keluarga ipan dan sri hartanti anita sedang belajar bersama ibunya sedangkan ayah bekerja di Jakarta dari 6 keluarga 4 keluarga bersikap percaya karena mereka menceritakan keseharian mereka anak menceritakan pengalamannya di sekolah berarti terdapat kepercayaan antara orang tua dan anak. Dan 2 lainnya orang tua terlihat diam saja dan penyampaian pesan orang tua terlalu singkat, dan terlihat bahwa dalam keluarga tersebut tidak ada kepercayaan. Sedangkan (2) sikap suportif adalah sikap yang mengurangi sikap defensif maksudnya desensif adalah ketika anda bersalah tetapi tidak mengakui kesalahannya. Dalam ke-enam responden yang peneliti amati tidak ada 4 anaknya yang mengatakan berbohong kepada peneliti saat peneliti menanyakan penggunaan mobile phone 2 anak lainnya menjawab pertanyaan peneliti sama dengan jawaban orang tuanya. Dalam tabel di bawah ini terlihat adanya sikap tidak suportif antara orang tua dan anak :
No Nama Orang Tua
Nama Anak
Argumen 1. Suhardi dan Siti
Baroqah
Iqtada Ahyar Argumen orang tua : ““Hape ya mbak? Ga sampe jam – jaman kok mbak Cuma sebentar , isinya hape saya Cuma game ulo – ulonan itu lo mbak hape saya Cuma kayak gini”
Argumen Anak : “saya sering main hape mbak? Punya teman sama ibu saya,kalau buka
hape saya sering buka permainan, sama musik dangdut”
2. Keluarga Ipan dan Sri Hartanti
Anita Sari Orang tua : “ya marah mbak (sambil melihat anaknya tersenyum – senyum)” Anak : “Tidak marah”
3. Keluarga Setya Budi dan Minayati
Ega Prima
Yuda Orang tua : “:ga pernah mbak, ga pernah main hape orange di rumah terus”
Saat ditanya peneliti pernah dimarahin orang tua karena sering bermain mobil phone?
Anak : “tidak, orang tua biasa – biasa saja”
4. Keluarga Maryono dan Purwanti
Firdaus Rega Aditya
Orang tua : “sebentar tok kok mbak dalam sehari ga lama mbak” Anak :“2 jam sehari 2x”
Tabel 5.1
Sumber : data wawancara diolah
(3) sikap terbuka Sikap terbuka dapat dijelaskan dengan perilaku anak mengungkapkan isi hatinya dan pendapatnya, dan senang berbicara. Dalam sikap ini ke- enam keluarga responden sangat terbuka terlihat saat peneliti mengamati tingkah laku anak dan orang tua pada saat belajar dan juga saat pulang sekolah anak-anak menceritakan apa yang dilakukan di sekolahan dan saat terjadi masalah anak-anak juga menceritakan kepada orang tuanya.
Teknologi masuk ke dusun kemiri pada tahun 2005, dalam pengoperasian teknologi informasi daerah dusun kemiri memiliki 2 RT dan 1 RW. Total kepala keluarga di
dusun kemiri pada tahun 2015 adalah 117 Kepala Keluarga dan anak – anak sekitar 46 orang sebagian besar penggunaan teknologi mobile phone adalah anak – anak ,orang dewasa sedangkan sebagian kecil adalah orang tua (gaptek). Teknologi yang dipakai antara lain Handphone, tablet dan juga android dan bermacam – macam mobile phone sebagai media untuk menggunakan internet, alat berkomunikasi serta bermain game.
Presentase pengguna mobile phone di dusun Kemiri Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang No Keseluruhan Warga Umur Jumlah Orang Presentase Menggunakan mobile phone Presentasi yang tidak menggunakan mobile phone 1 Anak-anak 4-12 thn 33 28,20% 2 Orang Tua 35-60 thn 70 59,80% 3 Manula 70-90 thn 14 - 11,96% Total penggunaan Mobile phone 88,00% Tabel 5.2
Sumber : Hasil Observasi Penelitian
Dari tabel diatas terlihat bahwa menggunaan mobile phone 88% di Dusun Kemiri Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang cenderung menggunakan mobile phone.
Saat peneliti melakukan wawancara secara acak menurut strata pendidikan dan pekerjaan terhadap 6 responden. Hanya 2 responden (orang tua) yang menggunakan mobile phone sebagai untuk mencari informasi di internet dan menggunakan aplikasi-aplikasi yang ada pada android, dan 4 responden (orang tua) menggunakan mobile phone hanya untuk sarana komunikasi saja. Sedangkan untuk anak-anak dalam keluarga tersebut sangat mahir menggunakan mobile phone. Terkadang orang tua meminta bantuan anak untuk membantu menggunakan mobile phone orang tuanya.
Meskipun status ekonomi responden dalam penelitian ini bervariasi, namun hal ini berdampak pada kesenjangan digital yang terjadi. Terlihat saat peneliti melakukan wawancara kepada beberapa keluarga, yang pertama keluarga suhardi dan siti baroqah keluarga suhardi dan siti baroqah mengatakan “saya kadang takut mbak liat anak
saya main hape, takut kalau buka yang aneh-aneh tapi saya juga ga mudeng bisanya Cuma telpona sama smsan” sedangkan anak (ihtada ahyar) : engga mbak biasa saja, kadang kalau orang tua bisa main hape nanti saya di larang main hape terus” yang
kedua keluarga ipan dan sri hartanti mereka mengatakan “ saya pengen mbak bisa
main hape cuma kadang juga kalau di ajari anak sering lupa maklum udah tua mbak, kadang saya penasaran apa yang dibuka anak saya eh pas tak samperin malah hapene ditutup”
Anak (anita sari) : ya kalau ngajari ibu susah, kadang malas kalau ngajarin ibu ga
bisa –bisa (sambil tersenyum- senyum sendiri). Yang ketiga Keluarga Setyabudi dan
Minayati mengatakan: “kalau dibilang pengen bisa main hape ya pengen mbak, Cuma
karena keterbatasan ga bisa main hp sama terkadang saya khawatir sama anak saya kalau buka yang aneh-aneh soalnya sekarang kalau liat di tv anak di culik gara-gara di facebook saya sering takut mbak karena saya tidak sepenuhnya bisa mengawasi anak saya”
Sedangkan penuturan anak (ega primayuda): gapapa mbak udah biasa di tinggal kerja
orang tua yang penting di pinjemi hape orang tua sama minjem hape temen”.
Yang ke empat Keluarga Maryono dan Purwanti juga mengatakan “…ada mbak kalau
dampak positif itu saya bisa teleponan sama anak saya dan tahu dia dimana, yang jeleknya itu kalau keseringan maen hape kadang tak marahin mbak soale anaknya main hape terus ga mau ngapa-ngapain nilainya juga turun, kadang kalau dibilangin suka bantah mbak”.
Sedangkan penuturan anak (Firdaus rega aditya) : hehehe (hanya tertawan dan senyum-senyum)
Dalam pendapat orang tua dan anak di atas terlihat terjadi kesenjangan digital seperti yang di kemukakan Menurut Dewan dkk (2005), kesenjangan digital adalah ketidakmampuan individu dalam merasakan manfaat dari tekologi informasi karena kurangnya aksesibilitas dan kemampuan dalam menggunakan teknologi informasi tersebut (Dewan, 2005 : 1). Sedangkan menurut OECD atau Organisation for
Economic Coorperation and Development, kesenjangan digital adalah kesenjangan
diantara individu, rumah tangga, bisnis, dan area geografis pada level perbedaan sosial ekonomi yang berhubungan dengan kesempatan untuk mengakses informasi dan TI
serta penggunaan internet untuk berbagai aktivitas sehari – hari (OECD, 2001). Bentuk kesenjangan yang terjadi antara orang tua dan anak adalah kurang nya komunikasi antarpribadi antara orang tua dan anak dalam kehidupan sehari-hari dan mereka bertemu saat pagi dan juga malam hari, aktivitas orang tua sering menjadikan alasan anak kurang mendapat perhatian sehingga anak merasa terabaikan dan mulai mencari lesibukan sendiri dengan menggunakan mobile phone, perbedaan era antara anak dan orang tua menjadi kendala orang tua karena dalam penggunaan mobile phone orang tua hanya untuk sarana komunikasi karena orang tua gaptek (gagap teknologi) dan anak menggunakan mobile phone sebagai sarana hiburan. Dalam penggunaan mobile
phone orang tua khawatir anaknya terkena dampak negative karena di jaman sekarang
marak tindak kriminal melalui mobile phone.
Pandangan psikologi komunikasi Menurut Hovland (2007) suatu proses dimana seorang individu sebagai komunikator untuk menyampaikan stimulant (perangsang) suatu pesan verbal yang dapat mengubah perilaku orang lainnya. Dalam keenam keluarga ada 4 Keluarga yang berubah perilaku antara lain (1) Keluarga Suhardi dan Siti baroqah, iqtada ahyar cenderung lebih pendiam dari biasanya terkadang sering maraj-marah sendiri gara-gara mobile phone. (2) Keluarga Ipan dan Sri hartanti, anita sari cenderung sering di rumah dan jarang melakukan aktifitas lain lebih sibuk dengan
mobile phone. (3) Keluarga Setyabudi dan Minayati, Ega prima yuda menjadi malas
belajar, nilai sekolah menurun dan juga tidak mau membantu orang tua. (4) Keluarga Maryono dan Purwanti, Firdaus rega adityarega cenderung pendiam jarang di rumah hanya di rumah saat sore menjelang malam hari. Dalam sebuah keluarga harus ada komunikasi yang efektif antara orang tua dan anak Menurut Stewart L.Tubbs dan Sylvia Moss (1974) yaitu : pengertian, kesenangan, pengaruh pada sikap, hubungan yang makin baik, dan tindakan. Menurut pengamatan peneliti yang termasuk komunikasi yang efektif adalah dalam keenam Keluarga tidak ada yang melarang menggunakan mobile phone. sedangkan 2 keluarga informan lainnya membatasi penggunaan mobile phone yang ada yaitu keluarga Triastono dan juga Keluarga Ngatno. Sedangkan untuk kesenangan Tidak semua komunikasi ditujukan untuk menyampaikan informasi dalam bentuk pengertian tetapi komunikasi juga dapat ditujukan untuk kesenangan. Komunikasi ini dapat menjadikan hubungan yang hangat,
akrab dan menyenangkan. Dalam penggunaan Mobile phone kesenangan yang di dapat adalah pada diri sendiri, dari 6 informan semuanya setuju dengan anggapan bahwa mobile phone memang untuk kesenangan, tetapi bagi 4 orang tua mobile phone hanya untuk alat komunikasi dan sebagai alat bantu untuk bertransaksi jual beli, tetapi untuk 2 orang tua Triastono dan Ngatno tidak hanya menggunakan untuk komunikasi saja tetapi, untuk mencari informasi dan menggunkan sarana yang ada untuk hiburan. Pengaruh pada sikap Dari 6 keluarga informan mobile phone memang mempengaruhi sikap anak – anak mereka tetapi di samping memberi dampak negative menurut penuturan orang tua el jauzhan yaitu anak tidak peka dengan lingkungan di sekitar, lebih senang dengan dunianya sendiri dan saat belajar biasanya lama dan setelah menggunakan mobile phone menjadi cepat lalu bermain mobile phone kembali. Disamping berdampak positive juga berdampak negative bagi kehidupan sehari – hari seperti sering lupa belajar saat bermain mobile phone, nilai sekolah menurun dan malas belajar dan yang terjadi di Dusun Kemiri ada anak mengikuti adegan yang di tampilkan pada mobile phone, seperti ada kasus anak sering bermain permain smack down di layar mobile phone dan saat di lingkungan ternyata ada anak yang mempraktekan gaya pada smack down pada temannya alhasil terjadi pertengkaran antara kedua anak tersebut. Hubungan yang baik, Dalam hubungan keluarga, 6 keluarga informan memiliki hubungan sosial yang baik, secara Tindakan Dari 6 keluarga informan saat di sekolah anak mereka melakukan tugas – tugas yang dilakukan guru, hanya saja nilainya saja yang menurun.
5.2 Strategi komunikasi dalam mengatasi kesenjangan antara orang tua dan anak dalam penggunaan mobile phone di Dusun Kemiri Kecamatan Suruh Kabupaten Semarang
Strategi komunikasi adalah manajemen (management) untuk mencapai satu tujuan. Strategi komunikasi merupakan paduan dari perencanaan komunikasi dan manajemen komunikasi untuk mencapai suatu tujuan Effendy (2003). Strategi
komunikasi dalam mengatasi kesenjangan antara orang tua dan anak menurut pendapat orang tua adalah Menurut Keluaga Suradi dan Siti baroqah : “kalau
menurut saya pribada ya mbak kalau saya menurus anak saya harus mengajari anak belajar walaupun saya tidak terlalu memahami mata pelajaran yang ada setidaknya saya mengawasi tak suruh bantu kakaknya mbak, karena kakaknya yang mudeng saya tidak mudeng mbak” dan menurut pendapat Keluarga Maryono
dan Purwanti strategi meurut penuturan orang tuanya : tak batasi mbak kalau mau
main mobile phone, terus tak liatin anaknya buka apa walaupun saya ga terlalu mudeng sama mobile phone yang penting ga buka aneh-aneh
sedangkan untuk Keluarga Triastono dan Galih Wiraswati : “di Tanya dulu mau
apa, kalau sekedar main game tak kasih tapi juga harus di batasi mbak penggunaanya, syukur anakku nurut semua ga bandel sama ga mgeyel. Tapi saya juga agak mengamcam, jika nilainya menurun anakku ga jadi tak beliin apa yang dia suka, kalau ga uang sakunya tak kurangi, saya tegas ya anaknya susah dibimbing kalau anak nurut itu saya kasih reward mbak mau main ke mana gitu, jadi anak berpikiran kalau saya nurut ibu saya akan memberikan apa yang saya minta gitu mbak . jadi pas anak saya main game tak Tanyain main apa gitu. Kadang saya malah di ajari main game itu kadang PS juga saya di ajarin walaupun kadang waktunya ga cukup mbak”. Untuk Keluarga Sri Mulyani dan
Ngatno : “kalau untuk anak saya, saya jadwal mbak belajar sama main harus ada
waktunya,terus jangan terlalu sering main, sama kalau menurut saya orang tua harus ngawasi anaknya main mobile phone, terus anak saya tak suruh bantu saya biar ga main terus mbak “. Sedangkan untuk Keluarga Setyabudi dan Minayati :
“biasanya yang bantuin anak saya ya kakaknya mbak soalnya sekarang
kurikulumnya beda sama yang dulu lebih sulit yang , terus jangan main mobile phone terus anak-anak”. Keluarga Ipan dan Sri hartanti :”Anak harus sering di ajari belajar dari pada bermain, dibatasi penggunaan mobile phonenya mbak, luangin waktu sama anak mbak biar anak ga sering main game”. Dari percakapan
diatas dapat disimpulkan bahwa stategi yang dilakukan agar anak dan orang tua tidak terjadi kesenjangan digital dengan anak dibatasi penggunaan mobile phone sedangkan orang tua perlu belajar tentang kegunaan mobile phone itu sendiri agar
dapat mengawasi perilaku anak dan agar terjalin komunikasi yang baik antara orang tua dan juga anak karena peranan orang tua sangat penting dalam tumbuh kembang anak.