Ratri Candra Hapsari, Pembelajaran PBI di SMP 33 SBY, April 2012 10
PEMBELAJARAN BERDASARKAN MASALAH
(PROBLEM-BASED INSTRUCTION) UNTUK MATERI SEGI EMPAT DI KELAS VII SMPN 33 SURABAYA
Oleh:
Ratri Candra Hastari Dosen tetap STKIP PGRI Tulungagung
The mathematic teaching that is done so far tend to be dominated by the teacher and the teacher functions as the main source of knowledge. It result in the students not quite able to involve themselves actively and demanded to construct their own knowledge. This matter encourage the researcher to try to develop the problem-based instruction in the mathematic teaching for the square material in class VII of junior high school. The teaching facility procedure used in this research is the model modification of teaching facility procedure according to Thiagarajan, Semmel & Semmel that consist of define, design, develop, and disseminate stages. But in this research, the development steps merely arrive in the develop stage. Furthermore, the effectiveness of problem-based instruction based on: (1) the study total; (2) the teacher’s ability to manage the teaching; (3) students activity; and (4) students response to the instruction. The model of problem-based instruction said effective if the three aspect from four aspects above completed, if the number 1 aspek should be completed. Based on the trial test result and data analysis it is obtained: (1) the apparatus of problem-based instruction has met the criteria well to the square material in class VII SMPN 33 Surabaya, (2) the problem-based instruction is effective to teach the square material in class VII SMPN 33 Surabaya, and (3) the students study result that join the problem-based instruction is better compared with the students study result that join the mathematic instruction conventionally for the square material in class VII SMPN 33 Surabaya.
Keywords: Problem-Based Instruction, teaching apparatus, teaching effectiveness, study result.
PENDAHULUAN
Menurut peraturan menteri pendidikan nasional no. 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Kelulusan Satuan Pendidikan (SKL-SP) untuk SMP dan sederajat, di samping penguasaan dalam materi pelajaran itu sendiri seorang siswa harus : 1. Menunjukkan kemampuan
berfikir logis, kritis dan inovatif. 2. Menunjukkan kemajuan belajar
siswa mandiri sesuai kemampuan yang dimiliki
3. Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
4. Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan menengah
Standar kompetensi kelulusan tersebut menunjukkan betapa pentingnya matematika dalam perkembangan intelektual seorang anak/siswa. Karena dalam pembelajaran seorang siswa tidak sekedar dituntut untuk menguasai materi pelajaran tetapi juga
diharapkkan mempunyai
kemampuan berfikir logis, kritis dan inovatif, maupun menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Kenyataan yang terjadi di lapangan materi matematika masih
Ratri Candra Hapsari, Pembelajaran PBI di SMP 33 SBY, April 2012 11
dirasakan sulit oleh sebagian besar siswa dan beberapa siswa bahkan merasa takut untuk mempelajari matematika mulai dari SD sampai sekolah lanjutan. Hasil survei pengukuran dan penilaian pendidikan oleh the Trends in International Math and Science Study (TIMSS) tahun 2003, menyatakan bahwa pengetahuan dan kemampuan anak Indonesia pada bidang matematika sangat rendah. Hasil survei terhadap anak usia 13 tahun di 46 negara menunjukkan untuk bidang studi matematika, Indonesia hanya mampu urutan ke-30 dengan skor 420, sedangkan rangking 1 adalah 578 (www.timms.org).
Menurut pengamatan peneliti,, selama ini pembelajaran matematika di berbagai sekolah, disajikan dengan urutan: (1) diajarkan teori/definisi/teorema melalui pemberitahuan, (2) diberikan contoh-contoh, (3) diberikan latihan soal. Hal ini mengindikasikan bahwa guru lebih mendominasi pembelajaran dan guru berfungsi sebagai sumber utama pengetahuan. Berdasarkan hal tersebut di atas, sudah saatnya siswa diberi kesempatan untuk aktif di dalam kegiatan pembelajaran. Dalam pelaksanaan pembelajaran ini, guru tidak lagi dominan, namun siswa yang aktif untuk memecahkan masalah maupun mengkonstruksi pengetahuan baik secara berkelompok maupun individual. Sedangkan guru hanya bertindak sebagai fasilitator bagi siswa untuk belajar dan siswa mengkonstruk pengetahuannya sendiri (Hudojo, 1988: 5). Hal ini relevan dengan pandangan kontruktivis bahwa siswa harus aktif membangun pengetahuan mereka.
Pandangan konstruktivis menempatkan siswa pada peran utama dalam belajar (student oriented). Peran guru lebih bersifat fasilitator dan memiliki kewajiban dalam upaya peningkatan kualitas pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan paham konstruktivis adalah pembelajaran berdasarkan masalah (Problem-Based Instruction). Pembelajaran berdasarkan masalah (Problem-Based Instruction) sangat efektif untuk pendekatan proses berpikir yang lebih tinggi, membantu siswa memproses informasi yang dimilikinya, dan membentuk pengetahuannya sendiri. Sedangkan yang utama dari pembelajaran berdasarkan masalah adalah pemberian masalah yang autentik (masalah yang dekat dengan kehidupan siswa) dan kompleks di awal pembelajaran. Tahapan didalam model pembelajaran berdasarkan masalah (Problem-Based Instruction) adalah: orientasi siswa pada masalah, mengorganisasikan siswa dalam belajar, membimbing penyelidikan individual maupun kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil karya, serta menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Arends (1997: 156) menyatakan bahwa, “the essence of problem based instruction consist of presenting student with authentic and meaningful problem situations that can serve as springboards for investigations and inquiry”. Kutipan tersebut menekankan bahwa pembelajaran berdasarkan masalah menyajikan kepada siswa situasi yang autentik dan bermakna sebagai batu loncatan
Ratri Candra Hapsari, Pembelajaran PBI di SMP 33 SBY, April 2012 12
siswa untuk melakukan investigasi dan inkuiri.
Alasan peneliti memilih materi segi empat dalam penelitian ini dikarenakan materi segi empat dengan sub topik persegipanjang, jajar genjang, belah ketupat, dan layang-layang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari siswa. Siswa kelas VII SMP diharapkan tidak asing dengan bangun-bangun segi empat tersebut. Berkaitan dengan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian tentang model pembelajaran berdasarkan masalah di kelas VII SMP dan membandingkannya dengan pembelajaran konvensional. Untuk dapat menerapkan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran berdasarkan masalah di sekolah, diperlukan perangkat pembelajaran yang berorientasi pada model pembelajaran masalah.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka pertanyaan yang dapat dimunculkan pada penelitian ini adalah : (1) Bagaimanakah pengembangan dan hasil pengembangan perangkat pembelajaran yang baik untuk pembelajaran berdasarkan masalah (Problem-Based Instruction) untuk materi pokok segi empat di kelas VII SMP Negeri 33 Surabaya? (2) Apakah model pembelajaran berdasarkan masalah efektif untuk mengajarkan materi segi empat di kelas VII SMP Negeri 33 Surabaya? (3) Apakah hasil belajar siswa yang diajarkan dengan menggunakan pembelajaran berdasarkan masalah lebih baik daripada hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran
konvensional untuk materi pokok segi empat di kelas VII SMP Negeri 33 Surabaya?
METODE PENELITIAN
Penelitian ini di kategorikan dalam jenis penelitian eksperimen semu (quasi experiment) yang diawali dengan pengembangan perangkat pembelajaran berupa : Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Buku Guru (BG), Lembar Kegiatan Siswa (LKS); dan Tes Hasil Belajar (THB). Pengembangan perangkat mengacu pada 4D model yang dikemukakan oleh Thiagarajan, Semmel (1974: 5). Hal ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan penelitian pertama.
Prosedur Pengembangan Perangkat Pembelajaran
Model pengembangan yang
akan digunakan untuk
mengembangkan perangkat pembelajaran dalam penelitian ini adalah modifikasi dari model Thiagarajan, Semmel, dan Semmel (1974 : 5-9) yang dikenal dengan Four-D Models (Model 4D). Model 4D dipilih karena sistematis dan cocok untuk mengembangkan perangkat pembelajaran, namun dalam penelitian ini peneliti melakukan modifikasi terhadap model 4D. Modifikasi yang dilakukan adalah sebagai berikut : i. Penyederhanaan model dengan
menggunakan tiga tahap dari empat tahap yang ada yaitu pendefinisian (define), perancangan (design), pengembangan (develop).
ii. Analisis konsep dan analisis tugas adalah pararel, diubah menjadi berurutan dari analisis konsep ke analisis tugas.
Ratri Candra Hapsari, Pembelajaran PBI di SMP 33 SBY, April 2012 13
iii. Dalam tahap pengembangan ditambahkan kegiatan uji keterbacaan.
Modifikasi pengembangan perangkat pembelajaran model 4D dalam penelitian ini disajikan dalam diagram berikut :
Keterangan
: Garis pelaksanaan ---- : Garis siklus (jika perlu) : Jenis kegiatan
: Hasil kegiatan : Keputusan
Analisis Awal-Akhir Analisis Siswa Analisis Materi
Analisis Tugas Indikator Hasil Belajar
Pemilihan Media Pemilihan Format
Perancangan Awal Perangkat Pembelajaran
Draft 1 Validasi Ahli
Revisi I
Uji Keterbacaan Analisis Hasil Uji Keterbacaan
Revisi II Draft 3
Ujicoba ke i, i ≥ 1 Analisis Hasil Ujicoba
Baik ? Revisi tidak Draft 3 + i Perangkat Pembelajaran Final ya D E F I N E D E S I G N D E V E L O P E
Gambar 1. Modifikasi Model Pengembangan Perangkat Pembelajaran dari Model 4 D (Four D Model)
valid ? Tidak
Ya Draft i, i ≥ 1, iN
Ratri Candra Hapsari, Pembelajaran PBI di SMP 33 SBY, April 2012 14
HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Hasil Pengembangan Perangkat Pembelajaran
Perangkat pembelajaran yang dihasilkan meliputi RPP, buku petunjuk guru, Lembar Kegiatan Siswa, dan Tes Hasil Belajar.Perangkat pembelajaran yang dihasilkan setelah melalui validasi ahli dan diujicobakan memenuhi kriteria baik, yaitu aktifitas siswa efektif, kemampuan guru mengelola pembelajaran efektif, respon siswa positif, te hasil belajar valid, reliable, dan sensitive.
Penelitian Eksperimen
Subjek penelitian untuk kelas eksperimen terdiri dari satu kelas, yaitu kelas VII C, sedangkan untuk kelas kontrol yaitu kelas VII B kelas yang dipilih secara acak dari 7 kelas paralel, setelah sebelumnya satu kelas dijadikan sebagai kelas uji coba. Berdasarkan hasil analasis deskripsi diperoleh data : kemampuan guru mengelola pembelajaran, aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung, respon siswa terhadap pembelajaran ,
dan hasil belajar siswa. Hasil Analisis Deskripsi a. Model regresi
Model regresi linear antara variabel terikat Y dan variabel bebas X adalah Y = a + bX, dengan a dan b adalah estimator untuk 1 dan 2
dalam persamaan Y = 1 + 2 X.
Dalam hal ini, Y adalah skor tes akhir (posttest) dan X adalah skor tes awal (pretest).
Berdasarkan hasil perhitungan, diperoleh model regresi kelas eksperimen sebagai berikut.
YE = 54,86 + 0.63XE.
Model regresi kelas kontrol diperoleh sebagai berikut.
YK = 41,63 + 0,78 XK
b. Uji independensi
1) Uji independensi untuk kelas eksprimen
Analisis varians untuk uji
independensi pada kelas eksperimen secara ringkas disajikan pada tabel berikut.
Tabel 1. Analisis Varians untuk Uji Independensi Kelas Eksperimen Source of Variation SS df MS F* Regression Error 2043.069 2252.325 1 36 2043.069 62.565 32,67 Total 4295.395 37
Dengan taraf signifikan = 5%, diperoleh F(0,95;1;36) = 4,113. Berarti
F* > F(0,95;1;26), sehingga H0 ditolak.
Berarti kemampuan awal siswa (X) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar siswa (Y).
2).Uji independensi untuk kelas kontrol
Analisis varians untuk uji independensi pada kelas kontrol secara ringkas disajikan pada tabel berikut.
Ratri Candra Hapsari, Pembelajaran PBI di SMP 33 SBY, April 2012 15
Tabel 2. Analisis Varians untuk Uji Independensi Kelas Kontrol Source of Variation SS df MS F* Regression Error 3513,657 1657,395 1 36 3513,657 46,039 76,320 Total 5171,053 37
Dengan taraf signifikan = 5%, diperoleh F(0,95;1;36) = 4,113 Berarti
F* > F(0,95;1;36), sehingga H0 ditolak.
Berarti kemampuan awal siswa (X) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar siswa (Y).
c. Uji linieritas
1) Uji linieritas untuk kelas eksperimen
Analisis varians untuk uji linieritas model regresi kelas
eksperimen secara ringkas disajikan pada tabel berikut ini.
Tabel 3. Analisis Varians untuk Uji Linieritas Kelas Eksperimen Source of Variation SS df MS F* Regression Error Lack of Fit Pure Error 2043,069 2252,325 653,992 1598,333 1 36 8 28 2043,069 62,565 81,749 57,083 1,432 Dengan taraf signifikan = 5%,
diperoleh F(0,95;8;28) = 2,291 Berarti
F* < F(0,95;8;28), sehingga H0 diterima
atau model regresi kelas eksperimen adalah linier. Artinya, pada kelas eksperimen, model regresi yang diperoleh dapat digunakan untuk menunjukkan pengaruh kemampuan awal siswa terhadap hasil belajar siswa.. Uji linieritas untuk kelas
kontrol
Analisis varians untuk uji linieritas model regresi kelas kontrol secara ringkas disajikan pada tabel berikut ini.
Tabel 4. Analisis Varians untuk Uji Linieritas Kelas Kontrol Source of Variation SS Df MS F* Regression Error Lack of Fit Pure Error 3513,657 1657,395 399,895 1257,5 1 36 8 28 3513,657 46,039 49,987 44,911 1,113
Ratri Candra Hapsari, Pembelajaran PBI di SMP 33 SBY, April 2012 16
Dengan taraf signifikan = 5%, diperoleh F(0,95;8;28) = 2,291. Berarti
F* < F(0,95;8;28), sehingga H0 diterima
atau model regresi kelas kontrol adalah linier. Artinya, pada kelas kontrol, model regresi yang diperoleh dapat digunakan untuk
menunjukkan pengaruh kemampuan awal siswa terhadap hasil belajar siswa.
d. Uji kesamaan dua model regresi
Tabel 5 Uji Kesamaan Dua Model Regresi
Berdasarkan tabel di atas diperoleh regresi linier data gabungan sebagai berikut.
Ŷ = 45,05 + 0,802X
Dengan taraf signifikan = 5%,
diperoleh F(0,95;2;72) = 3,12. Dengan
demikian, F* > F(0,95;2;72), maka H0
ditolak. Artinya model regresi linier kelas eksperimen dan kelas kontrol tidak sama.
e. Uji kesejajaran model regresi Tabel 6 Uji Kesejajaran Model Regresi
A B F* F(0.95,1,57) H0
3909.72069 3967.3334 1.0609745 3.9738969 DITERIMA
Dari table di atas diketahui F* = 1,061 Dengan taraf signifikan = 5%, diperoleh F(0,95;1;72) = 3,974.
Dengan demikian, F* < F(0,95;1;72),
maka H0 diterima. Artinya model
regresi linier kelas eksperimen dan kelas kontrol sejajar.
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Berdasarkan pengembangan perangkat pembelajaran dengan menggunakan model 4-D (four D Models) yang telah dimodifikasi, dihasilkan perangkat pembelajaran berdasarkan masalah yang telah memenuhi kriteria baik untuk materi segi empat. Hal ini ditunjukkan oleh:
a. kemampuan guru mengelola pembelajaran efektif;
HASIL DATA GABUNGAN
Y X XY Y2 X2 (Y)2 (X)2 XY
5305 2345 173050 383125 84025 2.8E+07 5499025 12440225
a b SSR (R) SSTO(R) SSE(R) SSE (F) F* F(0.95,2,72) H0 45.05 0.802339676 7512.17 12822 5309.87 1882.38 65.5498 3.123907 DITOLAK
Ratri Candra Hapsari, Pembelajaran PBI di SMP 33 SBY, April 2012 17
b. aktivitas siswa efektif; c. respon siswa positif; d. tes hasil belajar valid,
reliabel, dan sensitif. Perangkat pembelajaran yang dihasilkan meliputi: (1) rencana pelaksanaan pembelajaran, (2) buku guru, (3) lembar kegiatan siswa, dan (4) tes hasil belajar. 2. Pembelajaran berdasarkan
masalah efektif untuk mengajarkan materi segi empat di kelas VII SMP. Hal ini ditunjukkan oleh:
a. aktivitas siswa efektif; b. kemampuan guru
mengelola pembelajaran efektif;
c. respon siswa terhadap pembelajaran positif; d. ketuntasan belajar secara
klasikal terpenuhi.
3. Hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran berdasarkan masalah lebih baik daripada hasil belajar siswa yang mengikuti pembelajaran konvensional untuk materi segi empat. B. Saran
Pembelajaran berdasarkan masalah yang diterapkan pada kegiatan pembelajaran dalam penelitian ini memberikan beberapa hal yang penting untuk diperhatikan. Untuk itu peneliti menyarankan: 1. Perangkat pembelajaran yang
dihasilkan dapat digunakan sebagai alternatif dalam
menerapkan PBI pada materi segi empat
2. PBI merupakan salah satu alternatif model pembelajaran dalam meningkatkan prestasi belajar matematika khususnya untuk materi segi empat
DAFTAR PUSTAKA
Arends, Richard I. 1997. Classroom Instruction and Management. New York: Mc. Graw Hill Companies.
Balitbang, Depdiknas. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Depdiknas, 2006. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI no 23 th 2006, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta.
Hudojo, Herman. 1980. Strategi Mengajar Belajar Matematika. Malang: IKIP Malang.
Hudojo, Herman. 1988. Mengajar Belajar Matematika. Jakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Ibrahim, Muslimin dan Nur, Mohamad. 2000. Pengajaran Berdasarkan Masalah. Surabaya : University Press. Unesa.
Nur Qomariyah, Umi. Keefektifan
Model Pembelajaran
Berdasarkan Masalah dalam Pembelajaran Matematika untuk Pokok Bahasan Anuitas di Kelas XI SMK Negeri I Jombang. Tesis. Surabaya: Pascasarjana Unesa. Sinaga, Bornok. 1999. Efektifitas
Model Pembelajaran
Berdasarkan Masalah pada kelas I SMU dengan Bahan Kajian Fungsi Kuadrat. Tesis. Surabaya:
Ratri Candra Hapsari, Pembelajaran PBI di SMP 33 SBY, April 2012 18
Pascasarjana Unesa. Tidak untuk dipublikasikan.
Sinambela, Pardomuan. 2005. Penerapan Pembelajaran Berdasarkan Masalah (Problem-Based Instruction) dalam Pembelajaran Matematika di SMA. Makalah Komprehensif. Surabaya: Pascasarjana Unesa. Soedjadi, R. 1995. Mis-Konsepsi
dalam Pengajaran Matematika. (Pokok-pokok Tinjauan Dikaitkan Dengan Konstruktivisme). Surabaya :Media Pendidikan IKIP Surabay.
Soedjadi, R. 2000. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia, (konstatasi keadaan masa kini menuju harapan masa depan). Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Depdiknas.