• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berita Acara Presentasi Portofolio

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Berita Acara Presentasi Portofolio"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Berita Acara Presentasi Portofolio

Pada hari ini hari

Jumat, tanggal 15 Agustus 2014

telah dipresentasikan portofolio oleh:

Nama

: dr. Vianandra Retnani

Judul/ topik

: Asma Bronkial

No. ID dan Nama Pendamping

: dr. Indrayati

No. ID dan Nama Wahana

: RSUD dr. R. Soetijono Blora

Nama Peserta Presentasi

No. ID Peserta

Tanda Tangan

1.

1.

2.

2.

3.

3.

4.

4.

5.

5.

6.

6.

7.

7.

8.

8.

9.

9.

10.

10.

Berita acara ini ditulis dan disampaikan sesuai dengan yang sesungguhnya.

Pendamping

dr. Indrayati

NIP. 19710502 20060422

BORANG PORTOFOLIO

Nama Peserta

Vianandra Retnani

Nama Wahana

RSUD dr. Soetijono Blora

(2)

Tanggal (kasus)

22 Agustus 2014

Nama Pasien : Tn. Sardi/40 th

No.RM : 297177

Tanggal Presentasi :

Jumat, 15 Agustus 2014

Nama Pendamping : dr. Indrayati

Tempat Presentasi :

Komite Medik RSUD dr Soetijono Blora

Objektif Presentasi :

Keilmuan

 Ketrampilan

 Penyegaran Tinjauan Pustaka

Diagnostik

 Manajemen Masalah

 Istimewa

Neonatus

 Bayi

 Anak-Anak  Remaja

 Dewasa

 Lansia 

Bumil

Deskripsi :

Seorang pria usia 40 tahun mengeluh sesak nafas, sesak nafas bertambah berat, nafas berbunyi

ngik-ngik, sesak nafas kambuh-kambhan. Pasien memiliki riwayat alergi dan sakit asma.

Tujuan :

1. Menegakkan diagnosis pada keluhan asma bronkial

2. Mengetahui penanganan asma bronkial

Bahan Bahasan :

 Tinj.Pustaka

 Riset

 Kasus

Audit

Cara Membahas :

 Diskusi

 Presentasi & Diskusi

 Email

 Pos

Data Pasien

Nama : Tn. S

No. Register : 297177

Nama Klinik : IGD

Telp :

Terdaftar sejak : Agustus 2014

DATA UTAMA UNTUK BAHAN DISKUSI

1. Diagnosis/ gambaran Klinis

Seorang pria usia 36 tahun mengeluh sesak nafas sejak 6 jam SMRS, sesak nafas

bertambah berat, tidak membaik dengan obat semprot, nafas berbunyi ngik-ngik (+),

demam (-), batuk (-), nyeri dada (-). Sesak nafas sering hilang timbul.

2. Riwayat Kesehatan/Penyakit

Riwayat alergi (+)

Riwayat asma (+)

Riawayat merokok (+)

3. Riwayat Keluarga

Tidak ada anggota keluarga yang menderita sakit seperti ini

4. Riwayat Pekerjaan

Pasien bekerja sebagai pegawai perusahaan swasta

5. Kondisi Lingkungan Sosial & Fisik

(3)

6. Lainlain :

-Daftar Pustaka

1. Alotaibi, Sultan 2000. Diagnosis of Occupational Asthma: Review Vol. 22, No. 1, March 2000. www.bahrainmedicalbulletin.com/march_2000/Asthma.pdf. Diakses tanggal 20 november 2010. 2. Anonim. 2010. Asthma Bronchiolus. Wikipedia. www.wikipedia.org. Diakses pada tanggal 30

November 2010

3. Clifford, dkk. 1987. Symptoms, atopy, and bronchial response to methacholine in parents with asthma and their children. www.ncbi.nlm.nih.gov/ pmc/articles/.../pdf/archdisch00702-0072.pdf. Diakses tanggal 20 november 2010.

4. Cunningham, Gary. 2003. Williams Obstetrics 21 Edition. McGraw-Hill Companies : USA.

HASIL PEMBELAJARAN

1. Mengetahui penegakkan diagnosis pada kasus asma bronkial

2. Mengetahui penatalaksanaan asma bronkial

RANGKUMAN HASIL PEMBELAJARAN PORTOFOLIO

1. SUBJEKTIF

Keluhan utama : sesak nafas

Riwayat Penyakit Sekarang :

Pasien mengeluh sesak nafas sejak 6 jam SMRS, sesak nafas bertambah berat, nafas

berbunyi ngik-ngik (+), demam (-), batuk (-), nyeri dada (-). Sesak nafas sering hilang

timbul. Dikarenakan sesak nafas bertambah berat dan pasien sudah menggunakan obat

semprot tetapi keluhan tetap tidak berkurang,

maka pasien berobat ke IGD RS Dr. Soetijono Blora.

Riwayat Penyakit Dahulu :  Riwayat alergi (+)  Riwayat asma (+)

 Riwayat konsumsi alkohol disangkal.

 Riwayat merokok (+) sejak usia 20-an. Sehari 5 batang sampai sebungkus. Sejak 5 tahun terakhir pasien sudah tidak merokok lagi.

 Riwayat sakit kuning, hipertensi, diabetes mellitus dan penyakit jantung disangkal.

(4)

1* Tidak ada anggota keluarga yang pernah mengeluh sakit seperti ini. 2* Riwayat hipertensi dan penyakit jantung pada anggota keluarga disangkal.

Riwayat Sosial Ekonomi :

Pasien bekerja sebagai pegawai perusahaan swasta. Istri pasien tidak bekerja. Mempunyai 2 orang anak yang belum mandiri. Biaya pengobatan ditanggung Askes. Kesan : sosial ekonomi cukup.

2. OBJEKTIF

Pemeriksaan Fisik

KU : tampak sesak

Kesadaran : compos mentis

Tanda vital

Tekanan darah : 130/80 mmHg

Nadi : 98 kali/menit

Suhu : 36,2 derajat C

RR : 44 kali/menit

Berat badan : 60 kg

Tinggi badan : 165 cm

BMI : 22,04 kg / m

2

Kesan : normoweight

Kepala

: mesosefal, turgor dahi cukup

Mata

: konjungtiva palpebra pucat , sklera ikterik

-/-Hidung

: discharge -/-, epistaksis (-)

Telinga

: discharge

-/-Mulut

: atrofi papil lidah (-)

Tenggorok : T1-1, faring hiperemis (-)

Leher

: JVP R-2 cm, trakea di tengah, pembesaran nnll

-/-Dada :

Pulmo

Inspeksi : Simetris statis dinamis

Palpasi : Stem fremitus kanan=kiri

Perkusi : Sonor di kedua lapang paru

Auskultasi : Suara dasar vesikuler (+),

suara tambahan ronki (+/+), wheezing (+/+)

Cor :

Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak

(5)

Perkusi : Kesan kardiomegali (-)

Auskultasi : S1-S2 regular, bising jantung (-)

Abdomen

Inspeksi : Datar

Auskultasi : Peristaltik (+) N

Perkusi : Timpani (+), nyeri ketok CVA

Palpasi : Supel, nyeri tekan (-), Hepar/ Lien

tidak teraba

Extremitas :

Pembengkakan tulang Pembesaran nnll axial

Pembengkakan sendi Akral dingin

Reflek fisiologis + + Oedem -/-

+ + Capillary refill <2”/<2”

Reflek patologis

-Genitalia

Pembesaran nnll inguinal

-/-3. ASSESMENT

Asma bronchial ASMA BRONKIAL Definisi

Asma adalah suatu kadaan klinik yang ditandai oleh terjadinya penyempitan bronkus yang berulang namun reversibel, dan diantara episode penyempitan bronkus tersebut terdapat keadaan ventilasi yang lebih normal. Keadaan ini pada orang-orang yang rentan terkena asma mudah ditimbulkan oleh berbagai rangsangan, yang menandakan suatu keadaan hipere aktivitas bronkus yang khas.Penyakit asma adalah penyakit yang terjadi akibat adanya penyempitan saluran pernapasan sementara waktu sehingga sulit bernapas. Asma terjadi ketika ada kepekaan yang meningkat terhadap rangsangan dari lingkungan sebagai pemicunya. Diantaranya adalah dikarenakan gangguan emosi, kelelahan jasmani,perubahan cuaca, temperatur, debu, asap, bau-bauan yang merangsang, infeksisaluran napas, faktor makanan dan reaksi alergi.

Orang yang menderita asma memiliki ketidak mampuan mendasar dalam mencapai angka aliran udara normal selama pernapasan (terutama pada ekspirasi). Ketidak mampuan ini tercermin dengan rendahnya volume udara yang dihasilkan sewaktu melakukan usaha eksirasi paksa pada detik pertama. Karena banyak saluran udara yang menyempit tidak dapat dialiri dan dikosongkan secara cepat,tidak terjadi aerasi paru dan hilangnya ruang penyesuaian normal antara ventilasidan aliran darah paru. Turbulensi arus udara dan getaran mukus bronkus mengakibatkan suara mengi yang terdengar jelas selama serangan asma, namun tanda fisik ini juga terlihat mencolok pada

(6)

masalah saluran napas obstruktif.Diantara serangan asma, pasien bebas dari mengi dan gejala, walaupun reaktivitas bronkus meningkat dan kelainan pada ventilasi tetap berlanjut. Namun, pada asmakronik, masa tanpa serangan dapat menghilang, sehingga mengakibatkan keadaan asma yang terus-menenrus yang sering disertai infeksi bakteri sekunder.

Etiologi

Sampai saat ini etiologi dari asma bronchial belum diketahui. Berbagai teori sudah diajukan, akan tetapi yang paling disepakati adalah adanya gangguan parasimpatis (hiperaktivitas saraf kolinergik), gangguan simpatis (blok pada reseptor beta adrenergic dan hiperaktifitas reseptor alfa adrenergik).

Berdasarkan penyebabnya, asma bronkhial dapat diklasifikasikan menjadi 3 tipe, yaitu : 1. Ekstrinsik (alergik).

Ditandai dengan reaksi alergik yang disebabkan oleh faktor-faktor pencetus yang spesifik, seperti debu, serbuk bunga, bulu binatang, obat-obatan (antibiotic dan aspirin) dan spora jamur. Asma ekstrinsik sering dihubungkan dengan adanya suatu predisposisi genetik terhadap alergi. Oleh karena itu jika ada faktor-faktor pencetus spesifik seperti yang disebutkan di atas, maka akan terjadi serangan asma ekstrinsik.

2. Intrinsik (non alergik).

Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang bereaksi terhadap pencetus yang tidak spesifik atau tidak diketahui, seperti udara dingin atau bisa juga disebabkan oleh adanya infeksi saluran pernafasan dan emosi. Serangan asma ini menjadi lebih berat dan sering sejalan dengan berlalunya waktu dan dapat berkembang menjadi bronkhitis kronik dan emfisema. Beberapa pasien akan mengalami asma gabungan.

3. Asma gabungan

Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai karakteristik dari bentuk alergik dan non-alergik.

Berdasarkan Keparahan Penyakitnya : a. Asma intermiten

Gejala muncul < 1 kali dalam 1 minggu, eksaserbasi ringan dalam beberapa jam atau hari, gejala asma malam hari terjadi < 2 kali dalam 1 bulan, fungsi paru normal dan asimtomatik di antara waktu serangan, Peak Expiratory Folw (PEF) dan Forced Expiratory Value in 1 second (PEV1) > 80%

b. Asma ringan

(7)

aktifitas atau tidur, gejala asma malam hari terjadi > 2 kali dalam 1 bulan, PEF dan PEV1 > 80%

c. Asma sedang (moderate)

Gejala muncul tiap hari, eksaserbasi mengganggu aktifitas atau tidur, gejala asma malam hari terjadi >1 kali dalam 1 minggu, menggunakan inhalasi beta 2 agonis kerja cepat dalam keseharian, PEF dan PEV1 >60% dan < 80%

d. Asma parah (severe)

Gejala terus menerus terjadi, eksaserbasi sering terjadi, gejala asma malam hari sering terjadi, aktifitas fisik terganggu oleh gejala asma, PEF dan PEV1 < 60%

Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi timbulnya serangan asma bronchial:

1. Faktor predisposisi Genetik

Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan foktor pencetus. Selain itu hipersentifisitas saluran pernafasannya juga bisa diturunkan.

2. Faktor presipitasi a. Alergen

Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu : 1. Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan

contohnya: debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi 2. Ingestan, yang masuk melalui mulut

Contohnya : makanan dan obat-obatan

3. Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit Contohnya : perhiasan, logam dan jam tangan b. Perubahan cuaca

Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma. Kadang-kadang serangan berhubungan dengan musim, seperti: musim hujan, musim kemarau, musim bunga. Hal ini berhubungan dengan arah angin serbuk bunga dan debu.

c. Stress

(8)

memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala asma yang timbul harus segera diobati penderita asma yang mengalami stress/gangguanemosi perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati.

d. Lingkungan kerja

Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma. Hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja di laboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas. Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti.

Gejala Klinis

Keluhan utama penderita asma ialah sesak napas mendadak, disertai fase inspirasi yang lebih pendek dibandingkan dengan fase ekspirasi, dan diikuti bunyi mengi (wheezing), batuk yang disertai serangn napas yang kumat-kumatan. Pada beberapa penderita asma, keluhan tersebut dapat ringan, sedang atau berat dan sesak napas penderita timbul mendadak, dirasakan makin lama makin meningkat atau tiba-tiba menjadi lebih berat.

Wheezing terutama terdengar saat ekspirasi. Berat ringannya wheezing tergantung cepat atau lambatnya aliran udara yang keluar masuk paru. Bila dijumpai obstruksi ringan atau kelelahan otot pernapasan, wheezing akan terdengar lebih lemah atau tidak terdengar sama sekali. Batuk hamper selalu ada, bahkan seringkali diikuti dengan dahak putih berbuih. Selain itu, makin kental dahak, maka keluhan sesak akan semakin berat.

Dalam keadaan sesak napas hebat, penderita lebih menyukai posisi duduk membungkuk dengan kedua telapak tangan memegang kedua lutut. Posisi ini didapati juga pada pasien dengan Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD). Tanda lain yang menyertai sesak napas adalah pernapasan cuping hidung yang sesuai dengan irama pernapasan. Frekuensi pernapasan terlihat meningkat (takipneu), otot Bantu pernapasan ikut aktif, dan penderita tampak gelisah. Pada fase permulaan, sesak napas akan diikuti dengan penurunan PaO2 dan PaCO2, tetapi pH normal atau sedikit naik. Hipoventilasi yang terjadi kemudian akan memperberat sesak napas, karena menyebabkan penurunan PaO2 dan pH serta meningkatkan PaCO2 darah. Selain itu, terjadi kenaikan tekanan darah dan denyut nadi sampai 110-130/menit, karena peningkatan konsentrasi katekolamin dalam darah akibat respons hipoksemia.

Diagnosis 1. Anamnesa

(9)

a.Keluhan sesak nafas, mengi, dada terasa berat atau tertekan, batuk berdahak yang tak kunjung sembuh, atau batuk malam hari.

b.Semua keluhan biasanya bersifat episodik dan reversible.

c.Mungkin ada riwayat keluarga dengan penyakit yang sama atau penyakit alergi yang lain. 2. Pemeriksaan Fisik

a.Keadaan umum : penderita tampak sesak nafas dan gelisah, penderita lebih nyaman dalam posisi duduk.

b.Jantung : pekak jantung mengecil, takikardi. c.Paru :

Inspeksi : dinding torak tampak mengembang, diafragma terdorong ke bawah. 

Auskultasi : terdengar wheezing (mengi), ekspirasi memanjang. 

Perkusi : hipersonor 

Palpasi : Vokal Fremitus kanan=kiri 

3. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Laboratorium meliputi : a. Pemeriksaan sputum

Pemeriksaan sputum pada penderita asma akan didapati :

- Kristal-kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari kristal eosinopil. - Spiral curshmann, yakni yang merupakan cast cell (sel cetakan) dari cabang bronkus. - Creole yang merupakan fragmen dari epitel bronkus.

- Netrofil dan eosinopil yang terdapat pada sputum, umumnya bersifat mukoid dengan viskositas yang tinggi dan kadang terdapat mucus plug.

b. Pemeriksaan darah

- Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat pula terjadi hipoksemia, hiperkapnia, atau asidosis.

- Kadang pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan LDH.

- Hiponatremia dan kadar leukosit kadang-kadang di atas 15.000/mm3 dimana menandakan terdapatnya suatu infeksi.

- Pada pemeriksaan faktor-faktor alergi terjadi peningkatan dari Ig E pada waktu serangan dan menurun pada waktu bebas dari serangan.

c. Pemeriksaan Radiologi

Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. Pada waktu serangan menunjukan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni radiolusen yang bertambah dan peleburan rongga intercostalis, serta diafragma yang menurun. Akan tetapi bila terdapat komplikasi,

(10)

maka kelainan yang didapat adalah sebagai berikut:

- Bila disertai dengan bronkitis, maka bercak-bercak di hilus akan bertambah.

- Bila terdapat komplikasi empisema (COPD), maka gambaran radiolusen akan semakin bertambah.

- Bila terdapat komplikasi, maka terdapat gambaran infiltrate pada paru - Dapat pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal.

- Bila terjadi pneumonia mediastinum, pneumotoraks, dan pneumoperikardium, maka dapat dilihat bentuk gambaran radiolusen pada paru-paru.

d. Pemeriksaan tes kulit

Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen yang dapat menimbulkan reaksi yang positif pada asma. Pemeriksaan menggunakan tes tempel.

e. Elektrokardiografi

Gambaran elektrokardiografi yang terjadi selama serangan dapat dibagi menjadi 3 bagian, dan disesuaikan dengan gambaran yang terjadi pada empisema paru yaitu :

- Perubahan aksis jantung, yakni pada umumnya terjadi right axis deviasi dan clockwise rotation.

- Terdapatnya tanda-tanda hipertropi otot jantung, yakni terdapatnya RBB (Right bundle branch block).

- Tanda-tanda hopoksemia, yakni terdapatnya sinus tachycardia, SVES, dan - VES atau terjadinya depresi segmen ST negative.

f. Spirometri

Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan napas reversible, cara yang paling cepat dan sederhana diagnosis asma adalah melihat respon pengobatan dengan bronkodilator. Pemeriksaan spirometer dilakukan sebelum dan sesudah pemberian bronkodilator aerosol (inhaler atau nebulizer) golongan adrenergik. Peningkatan FEV1 atau FVC sebanyak lebih dari 20% menunjukkan diagnosis asma. Tidak adanya respon aerosol bronkodilator lebih dari 20%. Pemeriksaan spirometri tidak saja penting untuk menegakkan diagnosis tetapi juga penting untuk menilai berat obstruksi dan efek pengobatan. Banyak penderita tanpa keluhan tetapi pemeriksaan spirometrinya menunjukkan obstruksi. (Medicafarma,2008) g. Uji provokasi bronkus untuk membantu diagnosis

Pengobatan profilaksis dianggap merupakan cara pengobatan yang paling rasional, karena sasaran obat-obat tersebut langsung pada faktor-faktor yang menyebabkan bronkospasme. Pencegahan

(11)

Menurut penelitian Ruth A. Etzel (2010) dan WHO (2002) disebutkan bahwa pencegahan terhadap penyakit asma diantaranya pendidikan kesehatan atau konseling dari pelayanan kesehatan, menghindari dari lingkungan yang memngkinkan terjadinya eksposure atau terpapar faktor resiko asma. Berikut ini pencegahan terhadap penyakit asma berdasarkan faktor resiko : 1. Genetik

Melakukan konsultasi kesehatan apabila terdapat anggota keluarga yang mempunyai riwayat penyakit asma, sebab sebagian besar penyakit asma merupakan penyakit yang bersifat genetic. 2. Mengurangi dan menghindari merokok, terutama apabila memiliki anggota keluarga bayi atau balita, sebab asap rokok dapat meningkatkan sensitivitas IgE sehingga meningkatkan sensitivitas terhadap allergen. Selain itu, menghidari anak dari polusi udara seperti asap kendaraan dan pabrik.

3. Lingkungan rumah baik indoor maupun outdoor selalu bersih dari debu atau bahan allergen lainnya.

4. Melakukan diagnosis dini, terutama pada individu yang memiliki faktor resiko asma. 5. Menghindarkan diri dari stress dan mengurangi aktivitas yang berat.

6. Mengurangi olahraga yang berlebihan Pengobatan

Banyak obat asma dapat diberikan secara langsung atau dengan inhalasi. Obat Asma dapat dibagi menjadi kontrol jangka panjang dan obat cepat-lega. Obat kontrol jangka panjang digunakan setiap hari untuk mengontrol asma persisten yaitu menghaluskan peradangan saluran udara dan merelaksasikan otot polos. Prinsip umum pengobatan asma bronchial yaitu :

a. Menghilangkan obstruksi jalan nafas dengan segara.

b. Mengenal dan menghindari fakto-faktor yang dapat mencetuskan serangan asma

c. Memberikan penerangan kepada penderita ataupun keluarganya mengenai penyakit asma, baik pengobatannya maupun tentang perjalanan penyakitnya sehingga penderita mengerti tujuan penngobatan yang diberikan dan bekerjasama dengan dokter atau perawat yang merawatnnya (Wilson, 2002)

Adapun pengobatan terhadap penyakit asma terbagi menjadi 2 menurut Global Initiative for Asthma (GINA) 2006, yaitu :

1. Pengobatan non farmakologik: Memberikan penyuluhan

Menghindari faktor pencetus (resiko) Pemberian cairan

(12)

Memberi O2 bila perlu. 2. Pengobatan farmakologik :

a. Bronkodilator : obat yang melebarkan saluran nafas. Terbagi dalam 2 golongan : Simpatomimetik/ Andrenergik (Adrenalin dan Efedrin)

Obat-obat golongan simpatomimetik tersedia dalam bentuk tablet, sirup, suntikan dan semprotan. Yang berupa semprotan: MDI (Metered dose inhaler). Ada juga yang berbentuk bubuk halus yang dihirup (Ventolin Diskhaler dan Bricasma Turbuhaler) atau cairan broncodilator (Alupent, Berotec, brivasma serts Ventolin) yang oleh alat khusus diubah menjadi aerosol (partikel-partikel yang sangat halus ) untuk selanjutnya dihirup.

Santin (Teofilin)

Efek dari teofilin sama dengan obat golongan simpatomimetik, tetapi cara kerjanya berbeda. Sehingga bila kedua obat ini dikombinasikan efeknya saling memperkuat seperti : Aminofilin (Amicam supp), Aminofilin (Euphilin Retard) dan Teofilin (Amilex). Bentuk suntikan teofillin / aminofilin dipakai pada serangan asma akut, dan disuntikan perlahan-lahan langsung ke pembuluh darah. Karena sering merangsang lambung bentuk tablet atau sirupnya sebaiknya diminum sesudah makan. Itulah sebabnya penderita yang mempunyai sakit lambung sebaiknya berhati-hati bila minum obat ini. Teofilin ada juga dalam bentuk supositoria yang cara pemakaiannya dimasukkan ke dalam anus. Supositoria ini digunakan jika penderita karena sesuatu hal tidak dapat minum teofilin (misalnya muntah atau lambungnya kering).

b. Kromalin

Kromalin bukan bronkodilator tetapi merupakan obat pencegah serangan asma. Manfaatnya adalah untuk penderita asma alergi terutama anak anak. Kromalin biasanya diberikan bersama-sama obat anti asma yang lain, dan efeknya baru terlihat setelah pemakaian satu bulan.

c. Ketolifen

Mempunyai efek pencegahan terhadap asma seperti kromalin. Biasanya diberikan dengan dosis dua kali 1mg / hari. Keuntungnan obat ini adalah dapat diberika secara oral.

E. Rehabilitasi

Rehabilitasi asma bronchial dapat dilakukan dengan cara : 1. Yoga

Senam yoga bertujuan untuk memperlancar aliran udara pada saluran pernapasan. Selain itu, bertujuan untuk mengurangi bahkan menghilangkan stress pada pasien. Senam yoga juga dapat disebut sebagai terapi psikologi (Jain, 1993).

2. Terapi relaksasi dengan senam asma

(13)

ketegangan otot pernapasan tambahan sehingga dapat mengurangi pemakaian energi saat bernapas, penderita dilatih untuk bisa melakukan kontrol pernapasan. Terapi relaksasi bisa dilakukan dengan posisi tidur miring atau posisi duduk dengan kepala dan dada atas bertumpu pada 2-3 bantal di meja. Kedua posisi ini selain membantu waktu terjadi serangan, juga membantu ketegangan otot diafragma. Manfaat senam pada penderita asma, bila dilakukan secara teratur jangka waktu 2 bulan akan mendapatkan beberapa manfaat yaitu pengurangan frekuensi kekambuhan pengurangan intensitas kekambuhan, gejala asma menjadi ringan sehingga diperoleh peningkatan VO2 maks (Huntley, 2002.).

3. Terapi Spa

Menurut penelitian Mitsunobu di Jepang, terapi spa bermanfaat langsung bagi penderita asma yaitu dengan cara memberikan kenyamanan pada penderita asma seperti latihan berendam di dalam air hangat selama 30 menit, memsukkan uap dari larutan garam yodium secara inhalasi dan terapi fingo yaitu terapi dengan lumpur yang berasal dari Ningyo, lumpur tersebut dipanaskan terlebih dahulu hingga suhunya mencapai 70-800C. Lumpur tersebut didinginkan sampai suhunya 40-430C, kemudian dilakuakan spa dan kompres dengan lumpur hangat pada pasien tersebut selama 30 menit. Untuk penderita asma dianjurkan untuk melakukan terapi fingo lima kali per minggu. Terapi spa memberikan manfaat langsung pada kelancaran sirkulasi udara pernapasan (Mitsunobu, 2004).

4. PLAN

Penatalaksanaan :

Medika Mentosa :

1. O2 3 lpm nasal kanul

2. Nebulisasi dengan berotec 1 amp dan bisolvon 1 cc

Monitoring :

1. Keadaan umum pasien

2. Tanda vital

3. Ronki dan wheezing

Edukasi :

1. Menjelaskan kepada pasien dan keluarga pasien mengenai penyakit asma yang

diderita pasien dan juga penatalaksanaan yang diberikan di UGD

2. Menjelaskan kepada pasien dan keluarga pasien bahwa sebaiknya pasien menghindari

faktor pencetus dari asmanya untuk mencegah kekambuhan dari penyakit asma yang

diderita pasien

Referensi

Dokumen terkait

Promotor hTER adalah GC-rich dan tidak memiliki kedua TATA (ditemukan di daerah promotor gen yang menyandikan protein yang ditemukan di eukariota dan prokariota)

Metode numerik merupakan suatu metode untuk menyelesaikan masalah- masalah matematika dengan menggunakan sekumpulan aritmatik sederhana dan operasi logika pada

Triangulasi adalah proses mencari koordinat dari sebuah titik dengan cara menghitung panjang sisi segitiga yang berhadapan dengan titik tersebut, dan ukuran kedua

PERTIMBANGAN : Bahwa untuk kepentingan penyidikan tindak pidana, penuntutan dan peradilan perlu dilakukan tindakan perampasan untuk dipergunakan bagi

Pada penelitian ini peneliti akan merancang sebuah model yang dapat digunakan untuk mengukur kualitas layanan penjualan online tiket penerbangan.. Selain itu peneliti juga

1.. 30 tingginya prevalensi penyebaran penyakit dan kurangnya kesadaran akan bahaya dari penyakit menular seksual tersebut. Selain itu Desa Buahan yang nantinya akan

Cara pembuatan pestisida cair adalah dengan cara merendam limbah batang tembakau. Limbah batang tembakau yang telah direndam dihiling dengan alat untuk diambil

Misalnya untuk mengakui suatu item sebagai expense maka bukti yang valid adalah adanya penurunan pada nilai suatu aset atau kenaikan nilai liabilitas.. LO 3