• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDIDIKAN NASIONALISME DAN PATRIOTISME DALAM PERFILMAN KARYA USMAR ISMAIL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENDIDIKAN NASIONALISME DAN PATRIOTISME DALAM PERFILMAN KARYA USMAR ISMAIL"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

233

PENDIDIKAN NASIONALISME DAN PATRIOTISME DALAM PERFILMAN KARYA USMAR ISMAIL 1950 -1971

(NATIONALISM AND PATRIOTISM EDUCATION OF USMAR ISMAIL MOVIE IN 1950-1971)

Angga Regianto Putra ([email protected]) Yudi Prasetyo

Soni Indrawanto

Program Studi Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sidoarjo Jl. Jenggala Kotak Pos 149 Kemiri

Sidoarjo

Abstrak

Situasi kehidupan bangsa Indonesia sekitar tahun 1950 turut mempengaruhi dunia perfilman di Indonesia khususnya karya film dari sutradara Usmar Ismail turut mengalami perubahan secara ideologis. Bentuk perubahan ideologi kebangsaan Indonesia ini dituangkan kedalam karya film khususnya karya film Usmar Ismail bagi dunia perfilman Indonesia. Bentuk perubahan yang diberikan dari karya film Usmar Ismail mengusung ideologi nasionalisme dan patriotisme sebagai media pendidikan kebangsaan terhadap kondisi perfilman Indonesia maupun karya-karya dari tokoh sinematografi film Indonesia itu sendiri. Kondisi perfilman nasional terlihat dari adanya pengaruh karya-karya film dari produksi pemerintahan kolonial Belanda hingga film-film impor Amerika Serikat. Karya film yang terkesan dibuat hanya asal laku dengan banyaknya penonton ini selanjutnya memberikan perubahan bagi Usmar Ismail untuk mengarahkan kualitas karya film nasional kearah pendidikan sekaligus pemikiran ideologi nasionalisme dan patriotisme dituangkan melalui film. Perubahan karya film Usmar Ismail disebabkan karena adanya pengaruh pemerintahan Jepang yang memakai media massa seperti film sebagai bentuk propaganda dengan tujuan memberikan kemerdekaan atas penjajahan dari pemerintahan kolonial Belanda kepada rakyat Indonesia ikut menjadi bagian dari perubahan yang diinginkan terhadap film nasional. Pembuatan film yang dipakai Usmar Ismail jauh berbeda dengan apa yang selama ini terjadi pada perfilman nasional dimana perfilman nasional tersebut membawa nuansa film Indonesia menjadi film yang memiliki identitas pendidikan dan kebangsaan. Film daripada Usmar Ismail ini mengalami banyak pertentangan dimulai dari film-film produksi Tionghoa, Eropa, Amerika Serikat dan film nasional sendiri. Hal ini menjadi tantangan bagi Usmar Ismail untuk mewujudkan film nasional mampu bersaing dengan film-film impor yang masuk ke Indonesia.

Kata Kunci : Pendidikan Nasionalisme dan Patriotisme Memberikan Perubahan Film Usmar Ismail

(2)

234 Abstract

The life situation of Indonesia nation about year nineteen fifty give some influence in Indonesia movie especially the movie of creation producer Usmar Ismail have many change according to the ideology. This shape that change Indonesia nation ideology being involved into the movie especially the movie creation of Usmar Ismail for Indonesia movie world. The changes shape being gifted from movie creation of Usmar Ismail with nationalism and patriotism ideology as education media to the condition Indonesia movie altough indonesia cinematograph movie creation itself. The national movie condition seen from the influence of movie creation from Dutch government untill United States of America import movie. The movie creation that look liked being created just for sale only with many spectator being term of reference that give many change quality of national movie creation giving Usmar Ismail to direct into education also the nationalism and patriotism ideology thinking into the movie. The changed movie creation of Usmar Ismail is proceed from the Japanese government influence that use mass media like movie as kind of propaganda shape give some freedom from Dutch colonizer to the Indonesia people its being part of pieces changed that want from national movie. The making movie Usmar Ismail is very different then many national movie ever makes and make some kind colours nation state and education building. Usmar Ismail movie is many kind conflict between Chinese movie, Europe movie, America movie and especially national movie itself. This things is being challange for Usmar Ismail to show that national movie can compete with import movie was in Indonesia before.

Keywords : Nationalism and Patriotism Education Make Some Movie Change of Usmar Ismail

Tabel 1 . produksi film indonesia tahun 1945-1955

Tabel 2. produksi film Indonesia tahun 1956-1969 Tahun Pembuatan Film Jumlah Produksi Film

1945 tidak memproduksi film 1946 tidak memproduksi film 1947 tidak memproduksi film 1948 3 film 1949 8 film 1950 23 film 1951 40 film 1952 50 film 1953 41 film 1954 60 film 1955 65 film

Tahun Pembuatan Film Jumlah Produksi Film

1956 36 film 1957 21 film 1958 19 film 1959 16 film 1960 38 film 1961 37 film 1962 12 film 1963 19 film 1964 20 film 1965 15 film 1966 13 film 1967 14 film 1968 6 film 1969 9 film

(3)

235

Gambar 1.1 Poster Film Amerika Serikat

Gambar 1.2 Para Mahasiswa Akademi Teater Nasional Indonesia

Gambar 1.3 Usmar Ismail ketika berada di Universitas California

Pendahuluan

Perkembangan film nasional dimulai sejak keberadaan film-film barat seperti film-film dari Eropa dan Amerika Serikat serta film-film Tionghoa mendominasi teknologi pembuatan film menjadi bagian dari era baru dunia perfilman Indonesia. Batavia atau lebih dikenal Jakarta sebagai kota dengan kehidupan sosialnya didominasi orang-orang Eropa yaitu Belanda memberikan perhatian khusus terhadap kondisi perfilman dimana awalnya sebagai bentuk dokumentasi pemerintahan kolonial Belanda saja tetapi selanjutnya dijadikan sebuah film yang sifatnya komersial dan menghibur. Dua orang Belanda bernama L. Heuveldrop dan Krugers membuat film dengan berdasarkan latar belakang

(4)

236

kehidupan cerita rakyat Indonesia atau biasa disebut dengan legenda berjudul Loetoeng Kasaroeng.

Film legenda dari Jawa Barat ini memberikan sebuah media khusus terhadap orang-orang pribumi yaitu rakyat Indonesia dapat membuat sebuah karya film sendiri meskipun dengan bantuan teknologi film dari pemerintahan kolonial Belanda. Kemunculan film cerita legenda Loetoeng Kasaroeng ini berdampak kepada orang-orang Tionghoa yang ingin pula membuat film dengan kepentingan orang-orang Tionghoa sendiri sekaligus bentuk komersialisasi di dunia perfilman nasional.

Sekitar tahun 1940 dunia perfilman Indonesia dipengaruhi politik nasionalisme dan patriotisme sebagai bagian dari realisasi kehidupan rakyat Indonesia bebas dari kolonialisme pemerintah Belanda dengan adanya kedatangan Jepang ke Indonesia turut memberikan peranan secara khusus tidak hanya kehidupan nyata rakyat Indonesia tetapi bagi dunia perfilman Indonesia. Usmar Ismail melihat bahwa film oleh pemerintah militer Jepang digunakan sebagai media propaganda mengusung nasionalisme dan patriotisme rakyat Indonesia untuk memberikan kemerdekaan terhadap kolonialisme pemerintah Belanda yang selama ini dirasakan rakyat Indonesia.

Kesempatan ini pula digunakan salah satu tokoh sinematografi Indonesia bernama Usmar Ismail untuk mengusung ideologi nasionalisme dan patriotisme dituangkan kedalam film nasional sebagai media pendidikan kebangsaan kepada rakyat Indonesia. Melalui media film inilah menurut Usmar Ismail merupakan jalan satu-satunya memberikan pendidikan khususnya pendidikan kebangsaan dengan unsur nasionalisme dan patriotisme kepada rakyat Indonesia sebagai penonton film serta perubahan kepada karya sinematografi lain dalam perfilman nasional khususnya perfilman Indonesia.

Perubahan yang diinginkan oleh Usmar Ismail ini selanjutnya membuat Usmar mendirikan sebuah Perusahaan Film dimana karya film merupakan karya yang menggambarkan Indonesia secara utuh dengan mengusung ideologi nasionalisme dan patriotisme bernama Perfini (Perusahaan Film Nasional

(5)

237

Indonesia). Perfini oleh Usmar Ismail memiliki tujuan bahwa film tidak didasarkan kepada hal-hal yang mengarah kepada komersial saja, akan tetapi film merupakan karya seni bebas dan harus bisa mencerminkan keperibadian nasional sekaligus memberikan pendidikan kebangsaan.

Pembahasan dan Hasil

A. Perkembangan Film Indonesia Tahun 1950-1971

Masa kemerdekaan merupakan masa dimana terjadi euphoria kemerdekaan dalam dunia perfilman Indonesia. Hal ini terlihat dari adanya kenaikan kuantitias produksi film secara pesat dimana pada tahun 1949 hanya ada 6 film menjadi 22 film di tahun 1950 dan 58 film di tahun 1955. Munculnya isu dan wacana nasionalisme serta patriotisme merupakan bentuk substansi yang kuat dari produksi film di masa ini.

Nasionalisme dan patriotisme ini diwujudkan dalam sebuah gerakan menasionalisasi gedung sinema dan perusahaan film sekaligus memunculkan film yang benar-benar Indonesia. Usmar Ismail merupakan sosok dalam dunia perfilman Indonesia yang mewujudkan sinema nasional di masa kemerdekaan Indonesia. Usmar Ismail selanjutnya mendirikan Perusahaan Film Nasional atau lebih dikenal dengan Perfini. Perfini dengan dana yang terbatas memproduksi film berjudul “The Long March of Siliwangi” (Darah dan Doa) pada tahun 1950.

Produksi film Perfini ini sempat mengalami penghentian karena adanya keterbatasan dana, akan tetapi produksi berlangsung kembali setelah seorang pengusaha keturunan Tionghoa bernama Mr. Tong memberikan bantuan keuangan untuk proses produksi film tersebut. Bahkan dari pihak militer Indonesia yaitu perwira Divisi Siliwangi dimana cerita dari film tersebut dilatarbelakangi Long March Divisi Siliwangi pada masa revolusi kemerdekaan turut membantu pendanaan proses produksi film dari Perfini. Hubungan antara pihak militer Indonesia dengan industri film Indonesia yang terjadi dalam pembuatan film “The Long March” merupakan bentuk fenomena khas yang tidak saja dialami di Indonesia akan tetapi juga dialami dalam industri film di Amerika.

(6)

238

Faktor modal seringkali menjadi penghambat dalam proses produksi film dimana saja sehingga bentuk yang terjadi adalah mutualisme antara kedua belah pihak. Secara tidak langsung pihak militer juga menginginkan adanya model perekrutan yang mendorong patriotisme melalui media film sebagai bentuk promosi pemerintah kepada masyarakatnya.

Menjelang tahun 1959 Lembaga Film Indonesia dibentuk sebagai bagian dari Lekra yang memberikan perhatian khusus terhadap film. Sebagai bentuk respon terhadap pengaruh Lekra dalam komunitas artistik, NU selanjutnya membentuk Lembaga Kebudayaan Islam (Lesbumi) pada 26 Maret 1962. Djamaluddin Malik yang merupakan tokoh film mendapatkan posisi kuat dalam Partai Nahdlatul Ulama (NU) dan Usmar Ismail dinyatakan pula sebagai ketua Lesbumi. Film bagi Lesbumi merupakan hal penting dibandingkan dengan pihak Lekra. Di dalam Lekra tidak ada satu pun pembuat filmnya duduk dalam jabatan penting. Salah satu sutradara film yang menjadi pengurus Lekra yaitu Basuki Effendy sudah tidak pernah lagi membuat film. Sebanyak 16 organisasi massa yang mewakili kalangan politik, buruh, perfilman dan perbioskopan, kebudayaan, pemuda, wanita, dan komite perdamaian Indonesia pada tanggal 7 Mei 1964 mengambil keputusan memboikot total peredaran atau pemutaran seluruh film imperialis Amerika Serikat di Indonesia.

Awal tahun 1966 sendiri tak kurang dari 13 judul film dihasilkan. Perekonomian yang belum berangsur-angsur pulih akibat pengaruh situasi politik dan keamanan menjadi salah satu penyebabnya. Pada tanggal 3 Oktober 1966 pemerintah kemudian mengeluarkan kebijakan untuk membuka pintu selebar-lebarnya bagi film impor. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk menghidupkan kembali kegiatan bioskop yang telah lama tutup dan memberikan hiburan yang murah bagi rakyat. Penurunan produksi film nasional justru mempersulit bisnis bioskop yang saat itu sulit mendapat film untuk diputar. Film Amerika masih dimusuhi sehingga eksportir Amerika tidak mau menjual filmnya ke Indonesia. Pihak bioskop pun tidak mau ambil pusing dengan hal tersebut maka alternatif yang diambil adalah memasukkan film-film dari negara lain seperti Thailand, Yugoslavia, dan Jepang.

(7)

239 B. Tokoh Sinematografi Usmar Ismail

Usmar Ismail dilahirkan pada 20 Maret 1921 di Bukittinggi, Sumatra dengan nama lengkapnya Haji Usmar Ismail Sutan Mangkuto Ameh. Beliau menamatkan pendidikan dasarnya di HIS Batusangkar, Sumatera Barat. Kemudian pada tahun 1935-1939 ia melanjutkan belajar ke MULO-B (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Padang. Selepas belajar di MULO, ia melanjutkan sekolahnya ke Yogyakarta masuk AMS-II atau Algemene Middlebare School bagian Westerns Klassiek. Pada tahun 1953, Usmar Ismail mendapatkan beasiswa dari Rockfeller Foundation untuk mendalami sinematografi di Jurusan Film Universitas California Los Angeles, Amerika Serikat dengan gelar BA. Usmar Ismail juga memperoleh pendidikan barat pada zaman pemerintahan Hindia Belanda, beliau memperoleh pendidikan nasional yaitu Tawalib di Batusangkar.

Masa pendidikan yang dialami Usmar mengalami masa suram ketika Yogyakarta terganggu oleh masuknya balatentara Jepang ke Indonesia. Hal inilah yang membuat Usmar mengantongi ijazah darurat dan untuk sementara ia pergi ke Jakarta tinggal dengan kakaknya, Abu Hanifah. Bersama dengan kakaknya inilah Usmar bekerja di kantor pusat kebudayaan Keimin Bunka Sidosho. Melalui kantor tersebut beliau banyak menulis sajak-sajak yang bernafaskan patriotisme dan cinta tanah air. Ia juga sempat menulis naskah sandiwara radio yang biasa dimainkan di radio Hoso Kyoku milik balatentara Jepang di Jakarta.

Bahkan dengan para sastrawan Usmar bekerja sama untuk mementaskan beberapa drama, selain itu pula ia menulis lirik beberapa lagu yang selanjutnya digubah oleh musisi nasional terkenal bernama Cornel Simandjuntak. Gubahan syair menjadi lagu inilah dapat dilihat dari adanya himne FFI yang merupakan ciptaan Usmar Ismail melalui gubahan Cornel Simandjuntak. Selain itu pula Usmar juga secara aktif mengembangkan bakatnya dalam hal menulis cerpen, syair dan naskah drama.

C. Pengertian Nasionalisme

Nasionalisme adalah paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia. Selain itu nasionalisme sendiri merupakan rasa cinta

(8)

240

terhadap tanah air dan gambaran semangat juang bangsa dalam mempertahankan hak-hak bangsanya sebagai bangsa yang berdaulat.

D. Pengertian Patriotisme

Patriotisme merupakan bentuk semangat cinta tanah air atau sikap seseorang yang rela mengorbankan segala-galanya untuk kejayaan dan kemakmuran tanah airnya. Patriotisme sendiri merupakan jiwa dan semangat cinta tanah air yang melengkapi keberadaan nasionalisme. Sekelompok manusia yang menghuni bumi Indonesia wajib bersatu, mencintai dengan sungguh-sungguh, dan rela berkorban membela tanah air Indonesia sebagai bangsa yang merdeka. Hal ini merupakan bagian dari paham kebangsaan dalam nasionalisme Indonesia.

E. Perubahan Film Usmar Ismail Bagi Pendidikan Nasionalisme dan Patriotisme

Usmar Ismail merupakan sebuah tokoh dalam dunia perfilman yang tidak dapat terlepas dari adanya sebuah perubahan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa hasil karya film-film yang dimunculkan jauh berbeda dengan karya-karya film sebelumnya dimana mengacu kepada kepentingan hiburan “asal bikin film” atau menurut beberapa kritikus film merupakan karya yang kurang berkualitas dan jauh daripada apa yang diharapkan. Melalui seorang tokoh seperti Usmar Ismail ini diharapkan mampu memberikan nuansa baru daripada karya film-film yang sudah ada khususnya penerapan pendidikan nasionalisme dan patriotisme di Indonesia. Kemunculan Usmar Ismail seakan membawa dampak terhadap pertumbuhan film nasional yang memiliki semangat idealistik yaitu perjuangan jati diri bangsa, pencerdasan masyarakat, dan nasionalisme industri.

Keberadaan dari Usmar Ismail justru tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan dengan adanya keberadaan para produser Tionghoa yang bangkit dari ketertindasan membuat film “asal menghibur dan laku”, film-film Filipina, Malaysia serta India. Film-film buatan dari produser Tionghoa ini seakan-akan kembali mendominasi bioskop di Indonesia dan mengalami kejayaannya setelah adanya keterpurukan. Banyaknya kemunculan film-film buatan produser

(9)

241

Tionghoa ini selanjutnya membuat sutradara film lain seperti Huyung, masyarakat dan Pers Indonesia merasa jengkel dengan film murahan yang ada.

Huyung menjadi sedikit terusik dengan dominasi film-film yang masuk di bioskop Indonesia dimana banyak berasal dari produksi karya produser Tionghoa. Melihat keadaan tersebut Huyung mengusulkan adanya Undang-Undang Perfilman supaya film berkualitas memiliki peran di kehidupan perfilman sendiri maupun masyarakat Indonesia. Undang-Undang Perfilman melalui usul dari Huyung terjadi banyak perubahan diantaranya perubahan terhadap film nasional dan film asing sebagai berikut : Pertama, Sensor skenario film, dimana sebelum produksi film dimulai, skenario harus diperiksa dahulu agar film Nasional dapat menghemat bahan mentah (raw film material) dan waktu. Kedua, Sensor film rush (film kasar), sebelum film diperiksa dengan resmi (sensur film) beberapa anggota panitia pengawas film ditunjuk, agar dapat melihat rush untuk memelihara dan jangan terjadinya insiden-insiden antara produser film dan panitia film, yang menghemat bahan mentah dan waktu. Ketiga, Panitia dapat mengontrol seluruh bioskop dalam negeri supaya film nasional dapat dipertunjukkan dalam bioskop yang baik. Keempat, Film berita dari Pemerintah harus dipertunjukkan diseluruh bioskop dalam negeri sebagai voorfilm. Kelima, Panitia dapat memakai gedung cuma-cuma untuk memutar film sebagai pendidikan kepada murid-murid sekolah dan masyarakat didalam gedung bioskop dan tidak digunakan oleh pemilik sendiri. Keenam, Film nasional hendaklah dapat diviezen untuk mengimpor kebutuhan-kebutuhan dalam studio equipment dan raw material milik perusahaan nasional. Ketujuh, Pemerintah atau salah suatu badan resmi dapat menghadiahkan suatu hadiah kepada film-film nasional yang mempunyai dan dipandang bernilai bagi Kebudayaan Nasional.

Ketujuh usulan dari Huyung tersebut diperuntukkan bagi film nasional sedangkan usulan bagi film asing yaitu panitia berhak untuk membatasi mengenai import film asing, dengan demikian dapat sedikit demi sedikit mengurangi import, sehingga produksi film dapat berjalan sendiri. Suasana produksi film dalam bioskop-bioskop di Indonesia dan usulan-usulan dari Huyung apa yang hendaknya

(10)

242

masuk kedalam Undang-Undang Perfilman tersebut justru membuat Usmar Ismail dan Djamaluddin Malik melihat kondisi perfilman di Indonesia perlu perubahan.

Festival Film Indonesia atau FFI pertama kali diadakan tahun 1955 merupakan bagian dari hasil terbaik yang didapatkan oleh Usmar Ismail karena filmnya berjudul “Lewat Djam Malam” menjadi film terbaik. Hasil terbaik dari film karya Usmar Ismail dalam FFI ini juga tidak terlepas dari adanya kontroversi dengan pihak sutradara film lain. Perkembangan film Usmar Ismail selanjutnya dipengaruhi keadaan politik yang mewarnai gerakan kesenian dan kebudayaan termasuk perfilman Indonesia. Paradigma film „asal laku‟ bergaya India menjadi sebuah pemicu perusahaan film Indonesia yakni Perfini dibawah naungan sutradara Usmar Ismail untuk mengubahnya melalui film “Pedjoeang” dan aktor Bambang Hermanto menjadi aktor terbaik pada Festival Film Moskow di tahun 1961. Setahun setelah itu Usmar Ismail bersama dengan rekannya Djamaluddin Malik membuat film berwarna pertama kali yang dibuat sepanjang perjalanan kehidupan perfilman Usmar Ismail dimana sebelumnya masih menggunakan film hitam putih. Film berwarna pertama kali tersebut berjudul “Holiday in Bali”.

Pada tanggal 26 Februari 1964, sejumlah wartawan diundang Perfini untuk menyaksikan pertunjukan film terbaru karya Usmar Ismail, “Anak Perawan di Sarang Penyamun”. Film yang diangkat dari novel Sutan Takdir Alisjahbana ini dengan serta merta memberi peluang bagi PKI dan simpatisannya untuk mengganyang Usmar Ismail. Sutan Takdir adalah bekas anggota Partai Sosialis Indonesia yang ketika itu bekerja di luar negeri, dijadikan alasan oleh PKI untuk mencap film Usmar Ismail itu sebagai karya yang didasarkan pada novel dari pengarang “yang membelok dari garis revolusi”. Menghindari pelarangan peredaran filmnya, Usmar Ismail akhirnya setuju menghapus nama Sutan Takdir dalam film tersebut meskipun judul film tidak berubah. Akan tetapi nasib malang nampaknya memang sulit dihindarkan. Keputusan Usmar yang terakhir itu menjadi makanan empuk bagi musuh-musuh politiknya. Film tersebut, yang antara lain dibintangi oleh Bambang Hermanto akhirnya dilarang untuk diedarkan dan film tersebut tidak dapat beredar setelah Gestapu, yang disebabkan salah satu

(11)

243

pemainnya adalah seorang Bambang Hermanto, dikenal pernah memiliki peran aktif dalam PAPFIAS.

Keputusan yang diambil oleh Usmar tersebut tidaklah sekedar keputusan sementara saja, hal tersebut dilakukan untuk membuktikan persoalan tuduhan Sekjen Lekra yang menuduh beliau merupakan antek dari CIA dan kaki tangan dari Ampai dalam sebuah forum dihadiri oleh siswa-siswa karyawan film Kempen (Kementerian Penerangan). Usmar Ismail sebagai ketua dari Lesbumi (Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia) merasa bahwa tuduhan yang dilontarkan oleh Sekjen Lekra tersebut hanya didasari oleh latar belakang beliau yang pernah memperoleh pendidikan di Universitas Rockefeller Amerika Serikat dimana ia memperoleh beasiswa studi film dalam mempelajari perkembangan teknologi film saja. Usmar sendiri merupakan orang yang memiliki pendirian dalam membuat film terutama film-film berkualitas dan bukan sekedar asal bikin seperti awal-awal pemerintahan kolonial Belanda dengan dominasi film-film Eropa bersamaan dengan film-film buatan orang-orang Tionghoa.

Pelarangan Manifes Kebudayaan (Manikebu) oleh Presiden Soekarno sehari sebelum PAPFIAS berdiri, jelas memberikan semangat yang besar pada PKI dimana usaha selama berbulan-bulan mengganyang “Manikebu” yang dicetuskan oleh sekelompok seniman yang berada diluar kubu partai mana pun pada masa itu terjadi masa gemilang. PKI dalam aksi-aksi selanjutnya, cap “Manikebu” dipakai PKI terhadap lawan-lawan politik mereka. Proses penggunaan cap “Manikebu” serta beberapa cap lainnya membuat PAPFIAS yang awalnya mengganyang film-film imperialis Amerika selanjutnya mengganyang film-film-film-film dan tokoh-tokoh perfilman Indonesia yang tidak sepaham dengan mereka.

Menjelang pembentukan PAPFIAS, dalam suatu kesempatan sutradara Bachtiar Siagian melemparkan tuduhan pribadi kepada Usmar Ismail dimana ia menyebutkan bahwa Usmar sebagai orang yang meninggalkan daerah Republik Indonesia masuk ke daerah Belanda juga telah membuat film dalam studio Belanda. Tuduhan yang memutarbalikkan fakta ini dilakukan oleh Bachtiar ketika Usmar bersama Djamaluddin Malik dan Asrul Sani sedang berada di Arab Saudi dalam rangka pembuatan film “Tauhid”.

(12)

244

Aksi daripada PAPFIAS ini dengan cepat menjalar diberbagai tempat di Indonesia yang pada akhirnya berhasil membubarkan AMPAI. Akibatnya terjadi kekacauan pada proses peredaran film. Film-film Amerika yang baru tidak bisa masuk. Film-film dari negeri sosialis, dimana dipergunakan oleh PAPFIAS sebagai pengganti film-film Amerika justru tidak mendapat perhatian secara besar. Kegagalan daripada PAPFIAS dalam usahanya mengeliminir musuh-musuh politik mereka dibidang perfilman adalah salah satu dari sekian kegagalan yang dialami pada tahun 1964. Setelah kejadian tersebut pemerintah justru mengalami proses percekcokan diantara para anggota-anggotanya mengenai perumusan rencana pembinaan perfilman Indonesia selanjutnya. Bahkan film “Tauhid” yang distrudarai oleh Asrul Sani nyaris dilarang beredar kalau saja Presiden Soekarno tidak campur tangan. Presiden Soekarno melihat kejadian tersebut yang terjadi kepada setiap rencana pembinaan perfiman Indonesia pada BMPN bagian dari konspirasi pihak Lekra yang berusaha memecah belah persatuan antara para produser, artis, importir, pengusaha bioskop dan lain-lainnya.

Presiden Soekarno kemudian mengamanatkan untuk mencari jalan tengah dengan cara beliau mengambil contoh-contoh film Italia dimana bagi siapa saja yang pernah mencoba membuat film akan sangat nyata terlihat merupakan sebuah masalah yang tidak mudah dimana pembuat film tersebut harus menuangkan pemikiran-pemikiran yang hendak difilmkan dalam suatu bentuk yang dengan mudah dapat dipahami oleh penonton dan memerlukan kemahiran penggubahan skenario yang berdasarkan pengetahuan yang mendalam mengenai seluk beluk serta teknik penulisan untuk film disamping itu pula film dapat digunakan sebagai media pendidikan kebangsaan yaitu nasionalisme dan patriotisme sehingga secara tidak langsung memberikan perubahan paradigma penonton akan sebuah film. F. Dampak Industri Perfilman dan Kebijakan Sensor Film Bagi

Masyarakat

Penonton Indonesia sendiri termasuk penonton yang aktif dengan latar belakang pegawai pemerintah maupun para pelajar. Kebijakan Politik Etis yang menempatkan pendidikan bagi anak bangsawan pribumi ini dibagi keberadaannya di kota-kota besar seperti Medan, Surabaya, Semarang dan Batavia (Jakarta)

(13)

245

dengan diberlakukannya undang-undang khusus dikota-kota tersebut. Dikota-kota inilah anak bangsawan pribumi bersekolah. Mereka melalui berita dari koran, majalah maupun pelajaran-pelajaran disekolah mendapatkan keterangan mengenai kehidupan orang Barat yang dikatakan rasional, beradab, menyelesaikan setiap masalah dengan hukum yang dibuat rasional atau pun memiliki sopan santun yang tinggi. Kenyataan yang terjadi dilihat dari penonton dipertunjukkan pada film justru bertolak belakang dengan semua keterangan yang didapatkan.

Adapun pertunjukan film lebih bersifat tetap disebuah gedung bioskop dan dalam satu minggu berganti judul cerita yang disajikan. Faktor lain yang membuat anak bangsawan pribumi dapat melihat pertunjukan film adalah karcis nonton film jauh lebih terjangkau di kalangan murid-murid sekolah, bahkan longgarnya peraturan menyebabkan menonton film dijadikan sarana pertemuan antara pria dan wanita remaja usia murid sekolah. Film juga dijadikan sebuah pengalih masalah yang dihadapi seseorang dalam kenyataan sehari-hari kehidupannya adalah bagian dari film sebagai hiburan bagi penonton atau masyarakat Indonesia. Kesadaran penonton pribumi mengenai citra orang Barat melalui pertunjukkan film bisu ini justru menimbulkan kewaspadaan dari pemerintah kolonial Belanda dengan membentuk sebuah komisi sensor film. Kewaspadaan ini muncul karena peredaran film sudah mencapai kepelosok desa. Komisi Sensor Film melihat adanya peredaran film masuk sudah mencapai pelosok desa bukan tidak tanpa sebab, hal ini dilakukan untuk menekan masuknya film-film Amerika Serikat beraliran genre dengan unsur kekerasan yang memiliki kuota lebih banyak daripada film-film lainnya seperti film Eropa, Tionghoa, Indonesia maupun film lainnya yang masuk. Film yang baik merupakan film yang mempertunjukkan kebenaran sebagai kepalsuan dimana duta film yang paling besar yaitu dengan cara mengajar penonton film yang sekian banyaknya untuk menyukai kebenaran. Seorang pengusaha film seharusnya berusaha keras untuk menghindarkan bentuk kebodohan, selera yang jelek, pemalsuan keadaan-keadaan yang benar dan pendidikan-pendidikan yang salah dalam film-filmnya.

Meskipun semata-mata sebuah film dimaksudkan untuk menghibur, tidak boleh tidak jika film itu baik dan berjasa pula untuk dunia pendidikan. Film yang

(14)

246

baik harus dengan sekaligus memberikan sebuah ilham kepada penonton dan mengangkat penonton untuk membuka matanya dalam menempuh jalan-jalan yang baru sebagai pedoman kehidupannya kelak. Film yang baik pula dapat memberikan proses pendidikan kehidupan bagi penonton yang melihat film tersebut dan sekaligus memberikan rasa kecintaan akan kehidupannya sebagai masyarakat berbangsa dan bernegara khususnya penonton film Indonesia untuk lebih merasa memiliki Indonesia sebagai bagian dari dirinya lahir, tumbuh dan berkembang di negara yang memiliki rasa solidaritas dan persaudaraan tinggi dengan menjunjung nilai-nilai moral dan adat istiadat. Hal inilah yang perlu diberikan secara signifikan terhadap film sebagai bagian dari media pendidikan kebangsaan yang mengusung nasionalisme dan patriotisme.

Simpulan

Film sendiri muncul ketika seorang Belanda bernama L. Heuveeldorf dan Krueger melihat fenomena sebuah film merupakan hal baru yang patut diperlihatkan kepada penonton yaitu orang-orang pribumi masih berada dalam penjajahan pemerintah kolonial Belanda. Film yang dibuat oleh orang Belanda ini mengambil kisah dari cerita rakyat yang telah banyak dikenal masyarakat pribumi yaitu “Loetoeng Kasaroeng”. Cerita legenda dari Jawa Barat inilah menjadi film pertama buatan orang Belanda untuk menarik minat orang-orang pribumi dalam melihat film meskipun film tersebut sifatnya masih bisu dan gambarnya hitam putih bahkan teks yang digunakan adalah teks bahasa Belanda.

Film buatan Java Film Company ini menimbulkan sebuah kecemburuan sekaligus ide dari orang-orang Tionghoa. Film merupakan bentuk peluang baru bagi orang Tionghoa dalam perdagangan khususnya fungsi film sebagai media penjualan dikalangan orang-orang Tionghoa sendiri maupun orang-orang Pribumi. Permulaan inilah yang membuat film berubah menjadi media hiburan dengan kualitas film yang dibuat asal laku dengan catatan hanya menyenangkan dari segi gambar dan tidak mengacu kepada nilai cerita dari film yang dibuat.

Masa perubahan film terjadi pada karya Usmar Ismail yang mengacu kepada realita kehidupan masyarakat Indonesia sekaligus mendorong untuk memiliki kecintaan terhadap Indonesia sebagai negara merdeka setelah terlepas

(15)

247

dari belenggu penjajahan pemerintah kolonial Belanda. Usmar disini mencoba memberikan proses pendidikan kebangsaan kepada rakyat Indonesia sebagai bangsa yang merdeka dari penjajahan kolonial Belanda yaitu rasa nasionalisme dan patriotisme didalam masyarakat Indonesia. Film yang selama ini didominasi oleh film-film buatan pemerintah kolonial Belanda, Tionghoa, India, dan Amerika Serikat mengalami proses peralihan kepada film nasional yang mengusung perubahan kepada nasionalisme dan patriotisme terhadap Indonesia sendiri melalui film-film Indonesia yang dibuat oleh Usmar Ismail dengan tujuan mendidik kerah perubahan pendidikan kebangsaan. Perubahan ini selanjutnya tidak berlangsung dengan mudah diterima oleh masyarakat Indonesia sendiri sebagai penonton film dan film-film karya produksi sutradara Indonesia yang lain. Perubahan yang terjadi tersebut mengalami proses pergolakan terutama dari pihak komunis dengan organisasi simpatisannya bernama Lekra menyerang secara langsung terhadap film-film karya Usmar Ismail yang dinilai cenderung kearah film-film Amerika Serikat. Kejadian tersebut oleh Usmar Ismail dibuktikan melalui karya-karya film Usmar Ismail sebagai pemenang dalam Festival Film Indonesia dan Festival Film di negara lain. Peristiwa penyerangan yang dilakukan oleh pihak komunis tidak membuat gentar Usmar Ismail mewujudkan cita-citanya dalam perubahan film-film nasional dan proses pendidikan kebangsaan yang selama ini dinilai masih kurang mencerminkan nasionalisme dan patriotisme.

(16)

248 DAFTAR RUJUKAN

Anwar, R. (1981). Sebelum Prahara : Pergolakan Politik Indonesia 1961-1965. Jakarta: Sinar Harapan.

Arif, M. S. (2009). Politik Film di Hindia Belanda. Jakarta: Komunitas Bambu. Biran, M. J. (2009). Sejarah Film Indonesia 1900-1950 Bikin Film di Jawa.

Jakarta: Komunitas Bambu.

Imanjaya, E. (2006). A to Z Indonesian Film. Bandung: DAR! Mizan. Ismail, U. (1983). Mengupas Film. Jakarta: Sinar Harapan.

Jauhari, H. (1992). Layar Perak 90 Tahun Bioskop Indonesia. Jakarta: Dewan Fim Nasional Gramedia Pustaka Utama.

Kasdi, A. (2001). Memahami Sejarah. Surabaya: UNESA University Press. Kristanto, J. (1995). Katalog Film Produksi 1926-1995. Jakarta: Grafisiari Mukti. Kristanto, J. (2004). Nonton Film Nonton Indonesia. Jakarta: Kompas Gramedia. Kurosawa, A. (1993). Mobilisasi dan Kontrol. Jakarta: Grasindo.

Pranoto, S. W. (2001). Revolusi Agustus : Nasionalisme Terpasung dan

Diplomasi Internasional. Yogyakarta: Lapera Pustaka Utama.

Said, S. (1991). Pantulan Layar Putih. Jakarta: Sinar Harapan.

Said, S. (1991). Profil Dunia Film Indonesia. Jakarta: Pustakarya Grafikatama. Said, S. (1991). Shadow on the silver screen : a social history of Indonesian film.

Jakarta: Sinar Harapan.

Smith, A. D. (2004). Nasionalisme Teori Ideologi Sejarah. Jakarta: Gagasan Utama.

Gambar

Tabel 2. produksi film Indonesia tahun 1956-1969

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan penjelasan di atas, lagu perjuangan Indonesia dapat digunakan sebagai media alteratif Pendidikan Kewarganegaraan untuk meningkatkan rasa nasionalisme dan

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konstruksi karakter nasionalisme pada film Soegija, Analisis Isi untuk Pembelajaran Pendidikan Pancasila dan

Guru PKn dalam memilih novel yang digunakan sebagai media pembelajaran harus selektif, terutama yang mengandung nilai nasionalisme, karena nilai nasionalisme sangat

mengembangkan nilai-nilai nasionalisme salah satunya penggunaan media film dalam proses pembelajaran mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan dalam mengembangkan

Implementasi Pendidikan Karakter Untuk Menanamkan Nilai-Nilai Nasionalisme dan Patriotisme Pada Pembelajaran Tematik Integratif di SD Jageran Bantul, Skripsi Program

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konstruksi karakter nasionalisme pada film Soegija, Analisis Isi untuk Pembelajaran Pendidikan Pancasila dan

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konstruksi karakter nasionalisme pada film Soegija, Analisis Isi untuk Pembelajaran Pendidikan Pancasila dan

Dari analisis diatas maka sangat mungkin apabila pendidikan nasionalisme itu terkandung dalam Pendidikan Agama Islam, dalam hal ini penulis akan memaparkan mengenai relevansi pendidikan