Job Stress and Temporomandibular Disorders in Productive Age

15 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Job Stress and Temporomandibular Disorders in Productive Age

(Study on Accountants in Jakarta)

Cindy M. Saputra, Laura S. Himawan, Ira Tanti

Corresponding address : Department of Prosthodontia, Faculty of Dentistry, Universitas Indonesia, B Building, 3rd Floor. Jalan Salemba Raya No. 4 Jakarta Pusat 10430 Indonesia. Phone: +62 21 3151216, Fax: +62 21 3151216

(2)

Abstrak

Stres merupakan salah satu faktor risiko terjadinya Temporomandilbular Disorders (TMD). Selama ini belum ada penelitian pada individu dengan stres kerja tinggi (misalnya akuntan). Penelitian bertujuan untuk menentukan ada atau tidaknya hubungan antara intensitas dan frekuensi stres kerja dengan terjadinya TMD pada usia produktif. Desain penelitian ini adalah potong lintang yang dilakukan pada 116 akuntan berusia 21-50 tahun di Jakarta. Subjek diminta mengisi dua jenis kuesioner, yaitu Kuesioner Job Stress Survey (JSS) untuk mendiagnosis tingkat intensitas dan frekuensi stres kerja, dan Indeks Diagnostik TMD untuk mendiagnosis TMD. Kemudian dilakukan tabulasi silang antara tingkat intensitas dan tingkat frekuensi stres kerja dengan terjadinya TMD. Hasil uji Fisher’s Exact menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara intensitas stres kerja dengan terjadinya TMD pada usia produktif (p = 0,003). Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara frekuensi stres kerja dengan terjadinya TMD pada usia produktif (p = 0,032). Dengan demikian, terdapat hubungan antara intensitas dan frekuensi stres kerja dengan terjadinya TMD pada usia produktif.

Kata Kunci

Akuntan, indeks diagnostik TMD, intensitas dan frekuensi stres kerja, kuesioner Job Stress Survey, Temporomandibular Disorders

(3)

Abstract

It is known that stress is one of the risk factor for Temporomandibular Disorders (TMD). But study on person with high level of job stress (for example accountants) has not been done. The aim of this study was to know the relationship between intensity and frequency of job stress and the occurrence of TMD in productive age. A cross sectional study was performed towards 116 accountants aged 21-50 in Jakarta. The subjects were asked to fill two kinds of questionnaire, the first was Job Stress Survey questionnaire (JSS) to examine the intensity and frequency level of job stress, the other was TMD Diagnostic Index to assess the TMD. A cross tabulation was done between the intensity level and also the frequency level of job stress and the TMD occurrence. Fisher’s Exact test result showed that there was relationship between intensity of job stress and the occurrence of TMD in productive age (p = 0,003). Chi square test result showed that there was relationship between frequency of job stress and the occurrence of TMD in productive age (p = 0,032). Thus, there is a relationship between intensity and frequency of job stress and the occurrence of TMD in productive age.

Keywords

Accountant, job stress intensity and frequency, Job Stress Survey questionnaire, Temporomandibular Disorders, TMD Diagnostic Index

(4)

PENDAHULUAN

Stres adalah sesuatu yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan manusia.(1) Stres kerja yang dapat didefinisikan sebagai ketidaksesuaian antara tuntutan lingkungan pekerjaan dan kemampuan pekerjanya(2), merupakan stres psikososial yang banyak ditemui pada masyarakat kota Jakarta usia produktif.

Menurut rekomendasi Dewe (1989), stresor stres kerja harus diukur dengan mengevaluasi intensitas, frekuensi, dan cara seseorang memaknai suatu kejadian. Pendapat ini didukung oleh Spielberger & Vagg yang pada tahun 1998 merancang kuesioner Job Stress Survey untuk mengevaluasi stres kerja berdasarkan intensitas dan frekuensinya selama periode waktu enam bulan.(3)

Stres psikososial dapat mengakibatkan terjadinya perubahan perilaku baik secara sadar maupun tidak sadar. Terdapat tiga kategori gejala yang terjadi dalam kondisi stres kerja yakni (1) gejala psikologis, (2) gejala fisik, (3) gejala perilaku.(4) Gejala fisik berhubungan dengan munculnya kondisi fisik dan penyakit tertentu, khususnya penyakit kronis. Dalam dunia kedokteran gigi, salah satu gangguan muskuloskeletal yang perkembangannya bersifat kronis adalah temporomandibular disorders.

Temporomandibular disorders (TMD) merupakan kumpulan sejumlah tanda dan gejala klinis dari gangguan sendi dan/atau otot di area orofasial. TMD ditandai antara lain dengan nyeri rahang, bunyi sendi, keterbatasan fungsi rahang (misalnya kesulitan membuka mulut dan mengunyah), dan nyeri kepala. Terkadang pasien mengeluhkan rasa sakit pada leher, bahu, dan di sekitar sinus, dan tinnitus.(1, 5)

(5)

Etiologi atau faktor risiko TMD bersifat multifaktorial dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Beberapa etiologi dapat berperan ganda sebagai faktor predisposisi, faktor inisiasi, dan juga faktor perpetuasi.(1) Okeson mengidentifikasi lima faktor yang berhubungan dengan TMD, yakni faktor oklusal, trauma, stres emosional, deep pain input, dan aktivitas parafungsional. (1)

Stres emosional merupakan faktor umum yang dapat mempengaruhi fungsi mastikasi. Pusat emosi di otak memiliki pengaruh pada fungsi otot, termasuk otot pengunyahan. (1, 6, 7) Saat kondisi emosional stabil, aktivitas otot ritmik biasanya dapat diprediksi dan pengunyahan berjalan dengan efisien. Namun, ketika seorang individu sedang berada pada tingkat emosi yang lebih tinggi, seperti ketakutan, frustasi, atau marah, dapat terjadi modifikasi pada aktivitas otot.

Otot diinervasi oleh serabut saraf afferent dan efferent. Saraf efferent terdiri dari serabut alpha dan gamma motor neuron yang memiliki peran berbeda. Peningkatan stres emosional akan mengeksitasi struktur limbik dan hipotalamus/pituitary/adrenal (HPA) axis, kemudian mengaktivasi sistem gamma efferent. Karena serabut gamma efferent mempengaruhi ketegangan otot, peningkatan aktivitasnya akan mengakibatkan kontraksi fiber intrafusal sehingga terjadi peregangan parsial pada bagian sensori gelendong otot. Ketika gelendong tersebut meregang sebagian, seluruh otot harus mengurangi regangannya untuk menimbulkan suatu refleks. Hal ini mempengaruhi refleks miotatis dan menjadikan otot lebih sensitif terhadap stimulus eksternal sehingga berakibat pada peningkatan tonus otot kepala dan leher. Peningkatan tonus otot meningkatkan risiko otot untuk mengalami kelelahan dan juga berakibat pada peningkatan tekanan interartikular di TMJ.(1, 7)

(6)

Meningkatnya aktivitas gamma efferent juga dapat meningkatkan aktivitas otot yang tidak relevan yang jika berlangsung terus menerus dapat memberikan efek dramatis pada fungsi mastikasi.(1, 7) Sistem retikular, dengan dipengaruhi oleh sistem limbik dan HPA axis, dapat menciptakan aktivitas otot tambahan yang tidak berhubungan dengan tugas tertentu yang sedang dikerjakan individu. Aktivitas-aktivitas ini sering terlihat berupa kebiasaan gugup, seperti menggigit kuku jari atau pensil, mengoklusikan gigi geligi dengan kuat (clenching), atau menggesekkan gigi geligi atas dan bawah (bruxism).

Selain diinervasi oleh serabut saraf afferent dan efferent, otot juga diinervasi oleh serabut saraf otonom (simpatetik dan parasimpatetik). Stres emosional dapat mempengaruhi aktivitas simpatetik individu. Sistem saraf otonom secara terus menerus memantau dan mengatur sejumlah besar sistem bawah sadar untuk mempertahankan homeostasis misalnya dengan mengatur aliran darah dalam tubuh. Pada kondisi sistem saraf simpatetik yang dominan, tubuh berada dalam keadaan refleks “fight-or-flight” yang diaktivasi oleh stresor. Oleh karena itu, saat individu mengalami stres, aliran darah kapiler pada jaringan terluar terkonstriksi; dan sebaliknya, meningkatkan aliran darah ke struktur muskuloskeletal dan organ-organ internal yang lebih penting. Hasil yang langsung nampak adalah penurunan suhu kulit seperti kulit tangan. Karena pembuluh darah pada struktur muskuloskeletal terdilatasi, supplai oksigen dan ATP ke jaringan muskuloskeletal meningkat. Aktivitas sistem saraf simpatetik yang berkepanjangan berakibat pada peningkatan tonus otot dan berikutnya terjadilah nyeri otot.(1)

(7)

Namun ternyata secara tidak langsung rasa sakit yang diakibatkan oleh TMD juga dapat menyebabkan stres. Menurut penelitian Fillingim tahun 2011 di Amerika Serikat, individu dengan TMD merasakan kehidupan sehari-hari sebagai beban yang lebih stressful dan memiliki respons pertahanan terhadap stres yang lebih buruk.(8)

Studi Carlsson tahun 1999 dan studi Gonçalves et al tahun 2010 menyimpulkan bahwa gejala TMD paling umum dijumpai pada kelompok usia 20-50 tahun.(9, 10) Oleh karena itu, disarankan untuk mengarahkan studi berikutnya pada populasi dewasa.(11) Sementara itu, setelah mengkaji berbagai studi yang menaksir prevalensi TMD, LeResche menemukan kesesuaian bahwa frekuensi subjek yang merasakan nyeri menurun pada kelompok usia ±45-50 tahun.(12)

Eratnya hubungan sebab-akibat antara TMD dengan stres, belum adanya studi mengenai TMD pada subjek dengan tingkat stres kerja yang tinggi, serta adanya berbagai penelitian terdahulu yang membuktikan bahwa gejala TMD paling nyata ditemukan dalam kelompok usia 20-50 tahun menginspirasi penulis untuk melengkapi penelitian yang sudah ada lewat topik “Stres Kerja dan TMD pada Usia Produktif”.

Alasan utama peneliti memilih akuntan sebagai subjek penelitian ini adalah karena individu-individu tersebut diketahui bekerja di bawah tekanan yang sangat besar. Tuntutan untuk tepat waktu, tidak mentolerir adanya kesalahan, beban kerja yang berat, perubahan peraturan secara terus-menerus, dan kebutuhan akan konsentrasi tinggi merupakan beberapa kondisi bekerja yang khas terjadi pada profesi ini dan dapat menaikkan tingkat stres kerja.(13)

(8)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara intensitas dan frekuensi stress kerja dengan terjadinya TMD pada usia produktif. Dengan demikian, perawatan dan pencegahan terhadap terjadinya gangguan tersebut dapat dilakukan dengan lebih baik.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan desain potong lintang yang bersifat analitik observasional. Dengan interval kepercayaan sebesar 95% dan power 80%, ditentukan besar sampel minimum sebanyak 116 subjek. Kriteria inklusi sampel penelitian adalah pria atau wanita berusia 21-50 tahun yang berprofesi sebagai akuntan. Subjek penelitian juga harus sudah bekerja secara tetap di suatu kantor dan di posisi yang sama selama minimal enam bulan terakhir karena pengisian kuesioner JSS didasarkan pada pengalaman subjek selama enam bulan terakhir. Individu dengan deformitas dentofasial tidak diikutsertakan. Penelitian dilakukan selama bulan September - Oktober 2013.

Setiap subjek diminta membaca lembar penjelasan, mengisi informed consent, dan mengisi identitas. Berikutnya, subjek diminta mengisi Kuesioner Job Stress Survey (JSS) yang dibuat oleh Vagg dan Spielberger tahun 1998 untuk mendiagnosis tingkat intensitas dan frekuensi stres kerja, serta mengisi Indeks Diagnostik TMD (ID-TMD) yang dibuat oleh Himawan dkk. di tahun 2006 untuk mendiagnosis TMD.

Terdapat 2 sub skala dalam JSS, masing-masing mengukur intensitas dan frekuensi stres. Intensitas stres kerja merupakan penilaian tinggi rendahnya tingkat stres yang dirasakan karena suatu kejadian dalam skala 1 sampai 9. Sementara

(9)

frekuensi adalah penilaian seberapa sering kejadian tersebut dialami dalam kurun waktu enam bulan terakhir dalam skala 0 hari sampai 9+ hari.(3)

Sementara itu, ID-TMD terdiri dari 8 (delapan) item pertanyaan. Untuk setiap item pertanyaan, responden diminta memilih satu dari empat skala frekuensi sesuai pengalaman responden. Frekuensi ‘tidak pernah’ diberi skor 0, ‘jarang’ diberi skor 1, ‘sering’ diberi skor 2, dan ‘selalu’ diberi skor 3.(14)

Berikutnya, dilakukan pengolahan skor kuesioner JSS. Untuk skala yang mengukur intensitas, setelah semua item dinilai, skor dari tiap item dijumlahkan. Kemudian, hasil penjumlahan tersebut dibagi dengan jumlah item (30 butir) pada sub skala intensitas. Setelah itu, hasil bagi tersebut dikali dengan 10 untuk menghindari angka pecahan. Hal yang sama dilakukan untuk sub skala frekuensi.(2) Penggolongan tingkat stres kerja berdasarkan alat ukur Job Stress Survey dapat dilihat pada Tabel 1.

Pada penghitungan hasil ID-TMD, seluruh skor dijumlahkan. Jika subjek memiliki skor indeks ID-TMD ≤ 3 maka subjek dikategorikan sebagai non TMD, dan sebaliknya jika skor ID-TMD >3 maka subjek didiagnosis TMD.(5, 15)

HASIL

Hasil tabulasi silang antara intensitas stres kerja dengan terjadinya TMD dan antara frekuensi stres kerja dengan terjadinya TMD dapat dilihat pada Tabel 2. Hubungan antara variabel intensitas stres kerja dengan terjadinya TMD dianalisis menggunakan uji Fisher’s Exact. Hasilnya didapat nilai p = 0,003 (p < 0,05). Berarti terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara intensitas stres kerja dengan terjadinya TMD. Hubungan antara variabel frekuensi stres

(10)

kerja dengan terjadinya TMD dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasilnya didapat nilai p = 0,032 (p < 0,05). Berarti terdapat hubungan yang bermakna secara statistik antara frekuensi stres kerja dengan terjadinya TMD.

DISKUSI

Penelitian ini dilakukan untuk menguji adanya hubungan antara intensitas dan frekuensi stres kerja dengan terjadinya TMD pada usia produktif. Dari uji hipotesis komparatif antara dua variabel kategorik yang tidak berpasangan yakni tingkat intensitas stres kerja dengan terjadinya TMD dan tingkat frekuensi stres kerja dengan terjadinya TMD, didapatkan hasil bahwa terdapat hubungan yang bermakna secara statistik baik antara intensitas maupun frekuensi stres kerja dengan terjadinya TMD. Hasil ini sesuai dengan teori yang ada bahwa TMD salah satunya dipengaruhi oleh kondisi stres emosional individu. Dalam hal ini stres emosional yang dianalisis adalah stres yang berasal dari pekerjaan.

Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam ID-TMD merupakan manifestasi klinis yang sesuai dengan perubahan kondisi otot saat individu mengalami stres seperti telah dijelaskan di atas. Pertanyaan ‘nyeri pada daerah leher dan sekitarnya’ dan ‘nyeri di sekitar sendi rahang’ merupakan manifestasi klinis dari peningkatan tonus otot mastikasi dan sekitarnya. Sementara ‘nyeri saat membuka dan menutup mulut’ adalah manifestasi klinis peningkatan tekanan interartikular TMJ. Adanya aktivitas otot yang di luar fungsi normal dikaji lewat pertanyaan ‘kebiasaan clenching saat marah, berkonsentrasi penuh, dan bingung’. Sementara pertanyaan ‘nyeri kepala’ dan ‘telinga berdengung tanpa sebab nyata’

(11)

merupakan manifestasi klinis dari konstriksi pembuluh darah kapiler pada jaringan luar.

Beberapa hal yang dapat melemahkan validitas internal pada penelitian ini yaitu adanya recall bias yang merupakan bias mengingat kembali yang bersumber dari subjek penelitian khususnya saat menilai kolom frekuensi stres kerja, dan saat menjawab pertanyaan ID-TMD mengenai kebiasaan clenching yang umumnya terjadi di bawah sadar. Batasan-batasan lainnya yang melemahkan hasil penelitian adalah adanya keterbatasan waktu, kurangnya pemahaman akan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, dan subjek mengalami kelelahan karena harus menilai 8 item ID-TMD serta 30 item JSS.

Stres kerja dipengaruhi oleh faktor individu, yang terdiri dari karakteristik pribadi dan respon/coping, serta faktor organisasi atau pekerjaan, yang terdiri dari kondisi pekerjaan, karakteristik peran, hubungan interpersonal di tempat kerja, pengembangan karir, serta struktur organisasi.(4) JSS hanya menganalisis faktor organisasi atau pekerjaan tanpa memperhatikan faktor individu sehingga hasil penelitian ini masih memiliki kekurangan. Penelitian ini juga tidak membedakan tingkat stres berdasarkan lamanya masa kerja para subjek akuntan sehingga tidak dapat dibedakan antara kondisi stres kerja pada akuntan yang lama dengan yang baru.

Penelitian potong lintang serupa dapat dilakukan pada waktu-waktu lainnya. Misalnya kuesioner dapat diberikan pada akhir bulan yang merupakan masa tutup buku para akuntan internal, pada bulan November hingga April bagi akuntan publik karena merupakan masa sibuk mengaudit klien secara langsung, atau pada bulan Januari hingga April bagi akuntan pajak karena merupakan masa

(12)

pelaporan Surat Pemberitahuan (SPT) dan pembayaran pajak klien ke kantor pajak sehingga dapat dilihat perbedaan tingkat stres dan kondisi TMD pada subjek akuntan. Penelitian berikutnya juga dapat dilakukan dengan subjek yang berasal dari berbagai jenis profesi lainnya. Selain itu, dapat dilakukan penelitian longitudinal dengan analisis bivariat chi-square dan multivariat regresi logistik dari hubungan tingkat intensitas stres kerja dan tingkat frekuensi stres kerja terhadap terjadinya TMD, sehingga dapat diketahui urutan kekuatan hubungannya dan dapat diprediksi probabilitas seseorang yang menderita stres kerja untuk mengalami TMD.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara intensitas dan frekuensi stres kerja dengan terjadinya TMD pada usia produktif.

DAFTAR REFERENSI

1. Okeson JP. Management of Temporomandibular Disorder and Occlusion. 7th ed. USA: Mosby; 2013.

2. Wikaningtyas TS. Hubungan Perilaku Tipe A dengan Stress Kerja pada Karyawan Non-Manajerial. Depok: University of Indonesia; 2007.

3. Vagg PR, Spielberger CD. Occupational stress: Measuring job presure and organizational support in the workplace. Journal of Occupational Health Psychology. 1998;3:294-305.

(13)

4. Ross RR, Altmaier EM. Intervention in occupational stress: A handbook of counselling for stress at work. London: Sage; 1994.

5. Yustisiana N, Himawan LS, Kusdhany LS. The Accuracy of Index Diagnostic Temporomandibular Disorder (ID-TMD) Using Research Diagnostic Criteria (RDC) As Gold Standard. KPPIKG The Scientific Meeting and Refresher Course in Dentistry2013.

6. Lambert CA. Chronic HPA Axis Response to Stress In Temporomandibular Disorder. Chapel Hill: University of North Carolina; 2012.

7. Gameiro GH, Andrade AdS, Nouer CF, Veiga MCFdA. How may stressful experiences contribute to the development of temporomandibular disorders? Clin Oral Invest. 2006;10:261-8.

8. Fillingim R, Ohrbach R, Greenspan J, Knott C, Dubner R, Bair E, et al. Potential psychosocial risk factors for chronic TMD: descriptive data and empirically identified domains from OPPERA case-control study. J Pain. 2011;12(11Suppl):T46-60.

9. Carlsson G. Epidemiology and Treatment Need for Temporomandibular Disorder. J Orofac Pain. 1999;13:232-7.

10. Gonçalves DAdG, Fabbro ALD, Campos JADB, Bigal ME, Speciali JG. Symptoms of Temporomandibular Disorders in the Population: An Epidemiological Study. Journal of Orofacial Pain. 2010;24(3):270-8.

11. Rantala MAI, Ahlberg J, Suvinen TI, Savolainen A, Kononen M. Symptoms, Signs, and Clinical Diagnoses According to the Research Diagnostic Criteria for Temporomandibular Disorders Among Finnish Multiprofessinal Media Personnel. Journal of Orofacial Pain. 2003;17(4):311-6.

(14)

12. LeResche L. Epidemiology of Temporomandibular Disorders: Implications for the Investigation of Etiologic Factors. Critical Reviews in Oral Biology & Medicine. 1997;8(3):291-305.

13. Ozkan A, Ozdevecioğlu M. The effects of occupational stress on burnout and life satisfaction: a study in accountants. Quality & Quantity. 2013(47):2785-98.

14. Himawan LS, Kusdhany L, dkk. Diagnostik Index for Temporomandibular Disorder in Indonesia. Thai Journal of Oral Maxillofacial Surgery. 2006;20(2):20-2.

15. Indrawati L. Nilai Titik Potong Indeks Diagnostik Temporomandibular Disorder (ID-TMD) Sebagai Alat Skrining Temporomandibular Disorder (TMD). 2008.

(15)

Tabel 1 Penggolongan tingkat stres kerja berdasarkan alat ukur Job Stress Survey(2)

Deskripsi Rendah Sedang Tinggi

Intensitas Stres kerja 1-39 40-60 60-90 Frekuensi Stres Kerja 0-34 35-40 41-90

Tabel 2 Hasil Uji Fisher’s Exact dan Uji Chi-Square untuk Menilai Hubungan Antara Intensitas Stres Kerja dan Frekuensi Stres Kerja dengan Terjadinya TMD

Variabel Independen Terjadinya TMD (N = 116)

Non-TMD (100%) TMD (100%) p Intensitas Stres Kerja

Rendah 32 (65,3%) 25 (37,3%) 0,003

Sedang 17 (34,7%) 36 (53,7%)

Tinggi 0 (0%) 6 (9%)

Frekuensi Stres Kerja

Rendah 32 (65,3%) 31 (46,3%) 0,032

Sedang 10 (20,4%) 12 (17,9%)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :