• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 5 PENUTUP. 95 Universitas Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 5 PENUTUP. 95 Universitas Indonesia"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 5 PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menyelidiki hubungan dan pengaruh

kebijakan dividen terhadap future abnormal return dan future profitability pada

perusahaan-perusahaan yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia periode 2002 - 2007.

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan market adjusted model dalam

mengukur future abnormal return (FUTCAR) dan logaritma natural earning per

share (LNEPS) sebagai ukuran dari future profitability. Sementara itu, variabel

independen kebijakan dividen diproksikan dengan dummy variable dari perubahan

dividend per share (DDPS) dan dividend payout ratio (DPR). Penulis juga

menambahkan empat variabel kontrol, yaitu kesempatan investasi (PBV), cash

flow (CF), debt to equity ratio (DER), dan ukuran perusahaan (SIZE).

Dari keseluruhan pengujian empiris yang telah dilakukan, dapat ditarik beberapa kesimpulan, yaitu:

a. Kebijakan dividen yang diproksikan dengan dummy variable dari perubahan

dividend per share (DDPS) dan dividend payout ratio (DPR) berpengaruh

signifikan terhadap future CAR dan future profitability.

Dummy perubahan dividend per share (DDPS) memiliki hubungan

dan pengaruh yang positif dan signifikan terhadap future CAR dan

future profitability. Pengaruh positif ini senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Aharony dan Amihud (1994), Nissim dan Ziv (2001), serta Lukose dan Rao (2004) yang menyatakan bahwa perubahan

dividen mempengaruhi pergerakan harga saham serta profitability

perusahaan di masa mendatang. Hal ini membuktikan bahwa dividen

dapat digunakan sebagai salah satu signalling devices oleh perusahaan

mengenai optimisme manajemen mengenai kinerja perusahaan di masa mendatang, di mana peningkatan pembayaran dividen dapat

(2)

diartikan sebagai sinyal positif mengenai kinerja perusahaan di masa mendatang. Sebaliknya, penurunan dividen dianggap sebagai sinyal negatif oleh investor mengenai kinerja perusahaan.

Dividend payout ratio (DPR) berpengaruh negatif dan signifikan

terhadap future CAR dan future profitability. Pengaruh negatif ini

tidak konsisten dengan dividend signalling theory. Pengaruh negatif

ini diduga karena perusahaan memang tidak bermaksud untuk

menggunakan dividen sebagai signalling devices mengenai prospek

perusahaan di masa mendatang, tetapi dividen ini digunakan untuk menarik aliran modal yang lebih besar dari pemegang saham yang

menyukai payout level yang tinggi. Selain itu, apabila dikaitkan

dengan struktur kepemilikan di Indonesia yang terkonsentrasi pada

beberapa pihak, di mana asymetric information antara manajemen dan

investor relatif kecil, manajemen tidak perlu menggunakan dividen

sebagai signalling device untuk menyampaikan informasi mengenai

kinerja perusahaan di masa mendatang (Arifin 2005: 117). Di sisi lain,

peningkatan dividend payout ratio justru akan mengurangi investasi

para share-blockholder sehingga direspon negatif oleh pasar.

b. Kesempatan investasi (PBV) berpengaruh positif dan tidak signifikan

terhadap future CAR, tetapi signifikan pada future profitability. Pengaruh

positif ini diduga karena perusahaan yang memiliki kesempatan investasi yang tinggi, diharapkan dapat menghasilkan profit yang lebih besar di masa depan sehingga mempengaruhi harga saham.

c. Cash flow (CF) berpengaruh positif dan signifikan terhadap future CAR dan future profitability. Pengaruh positif ini diduga karena laporan arus kas dinilai lebih bebas dari bias dibandingkan angka-angka yang tercantum dalam laporan rugi laba dalam mencerminkan kinerja perusahaan (Sloan, 1996). Selain itu, dari informasi yang terdapat pada laporan arus kas, investor dapat menilai kemampuan perusahaan dalam membayar kewajibannya terhadap para pemegang saham.

d. Debt to equity ratio (DER) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap future CAR dan future profitability. Pengaruh negatif ini diduga karena

(3)

penggunaan hutang yang terlalu tinggi semakin memperkecil kontrol pemegang saham terhadap aset perusahaan (Healy, Palepu, dan Bernard, 2004: 516). Selain itu, perusahaan dapat kehilangan kesempatan

investasinya karena adanya debt covenant dan berkemungkinan menghadapi

financial distress di masa mendatang karena perusahaan memiliki

kewajiban untuk melunasi bunga dan pokok pinjaman atas hutang yang

dimiliki sehingga pengaruhnya negatif terhadap future CAR dan future

profitability.

e. Ukuran perusahaan (SIZE) berpengaruh positif dan signifikan terhadap

future CAR dan future profitability. Pengaruh positif ini diduga karena semakin besar aset yang dimiliki, profit yang dapat dihasilkan di masa mendatang dari penggunaan aset tersebut semakin besar pula sehingga mempengaruhi harga saham.

f. Dari hasil uji beda rerata, dapat disimpulkan beberapa hal, yaitu :

• Tidak terdapat perbedaan future abnormal return dan future

profitability yang signifikan antara perusahaan yang meningkatkan pembayaran dividennya dengan perusahaan yang tidak mengubah pembayaran dividennya

• Terdapat perbedaan future abnormal return dan future profitability

yang signifikan antara perusahaan yang meningkatkan pembayaran dividennya dengan perusahaan yang menurunkan pembayaran dividennya

• Terdapat perbedaan future abnormal return dan future profitability

yang signifikan antara perusahaan yang tidak mengubah pembayaran dividennya dengan perusahaan yang menurunkan pembayaran dividennya

Konsisten dengan dividend signalling theory, Arifin (2005: 116)

menyatakan karena manajemen dan investor mengerti bahwa sekali dividen dibayarkan, sangat jarang dividen tersebut diturunkan pembayarannya. Karena penurunan dividen seringkali dianggap sebagai sinyal negatif oleh pasar yang akhirnya berujung pada penurunan harga saham, manajemen berusaha tetap membayarkan dividen dengan besaran yang sama daripada

(4)

menurunkan pembayarannya. Selain itu, Fama dan Babiak (1968, dalam

Arifin 2005) yang menyatakan bahwa manajemen melakukan partial

adjustment dalam menerapkan kebijakan dividennya terkait dengan laba yang dihasilkannya. Ketika laba perusahaan meningkat, manajemen tidak langsung menaikkan dividen, tetapi menunggu untuk beberapa saat sampai manajemen yakin bahwa tingkat laba yang dihasilkan pada periode saat ini

tetap dipertahankan pada periode berikutnya. Oleh sebab itu, return saham

dan laba perusahaan yang tidak mengubah pembayaran dividennya, tidak memiliki perbedaan yang signifikan dengan perusahaan yang meningkatkan pembayaran dividennya.

5.2 Keterbatasan Penelitian

Adapun hal-hal yang menjadi keterbatasan dalam penelitian ini adalah: a. Periode penelitian

Periode dalam penelitian ini hanya mencakup empat tahun. Periode yang digunakan dalam pengukuran varibel independen adalah 2002 – 2006, di mana tahun 2002 adalah tahun dasar dalam menghitung perubahan dividen pada tahun 2003. Sedangkan periode yang digunakan dalam pengukuran

varibel dependen adalah April 2004 – Maret 2008 untuk model future

abnormal return dan 2004 – 2007 untuk model future profitability. Keterbatasan dalam periode penelitian disebabkan penulis hanya menggunakan data tahunan dan sampel perusahaan yang membagikan dividen secara konsisten atau berturut-turut selama periode penelitian. b. Siklus hidup perusahaan

Penulis tidak mengelompokkan sampel yang digunakan berdasarkan siklus hidup perusahaan, di mana terdapat perbedaan kebijakan dividen untuk masing-masing siklus. Perusahaan yang sedang berada dalam tahap introduction cenderung memiliki laba dan cash flow yangnegatif sehingga cenderung untuk tidak membagikan dividen. Sementara itu, perusahaan

yang berada dalam tahap growth dengan kesempatan investasi yang tinggi

cenderung untuk menahan labanya untuk ekspansi perusahaan dan

(5)

dengan perusahaan yang perusahaan yang sedang berada dalam tahap growth menuju mature dan mature yang tingkat kesempatan investasinya

menurun. Karena tidak ada pengelompokkan sampel yang digunakan

berdasarkan siklus hidup perusahaan, penelitian ini kurang menjelaskan perilaku kebijakan dividen yang diberlakukan pada perusahaan yang berada pada setiap siklus hidupnya.

c. Klasifikasi industri

Penulis tidak mengelompokkan sampel yang digunakan berdasarkan jenis industrinya disebabkan keterbatasan jumlah perusahaan dari masing-masing industri yang termasuk dalam kriteria sampel. Dengan semakin sedikitnya jumlah perusahaan per industri yang masuk dalam sampel menyebabkan kesulitan untuk menjelaskan perilaku tiap industri. Selain itu, penulis hanya berfokus pada sampel perusahaan non keuangan dan tidak meneliti

pengaruh kebijakan dividen terhadap future abnormal return dan future

profitability pada perusahaan keuangan. d. Variabel kontrol yang digunakan

Variabel kontrol yang digunakan dalam penelitian ini hanya mencakup variabel yang berhubungan dengan aspek keuangan perusahaan dan tidak mencakup variabel makro yang mungkin saja dapat menjelaskan lebih baik

mengenai pengaruh kebijakan dividen terhadap future abnormal return dan

future profitability.

5.3. Saran

Terkait dengan keterbatasan dalam penelitian ini, penulis mengemukakan beberapa saran yang mungkin berguna bagi penelitian selanjutnya dan pihak-pihak yang memiliki kepentingan atas kebijakan dividen yang diterapkan oleh perusahaan, yaitu:

a. Melakukan penelitian dengan data kuartalan mengingat dividen tidak hanya

dibagikan satu kali dalam setahun, tetapi cukup banyak perusahaan yang membagikan dividen secara interim

b. Mengklasifikasikan sampel berdasarkan siklus hidupnya sehingga dapat

(6)

perusahaan yang berada dalam tahap introduction, growth, mature, dan declining

c. Mengklasifikasikan sampel berdasarkan industri keuangan dan

nonkeuangan sehingga dapat dibuat perbandingan mengenai kebijakan dividen yang diterapkan oleh perusahaan yang bergerak di industri keuangan dan nonkeuangan

d. Menambahkan variabel-variabel makro yang cukup representatif, misalnya

tingkat suku bunga, pertumbuhan ekonomi (GDP), dan inflasi (CPI Index),

mengingat return saham dan kinerja perusahaan tidak hanya dipengaruhi

Referensi

Dokumen terkait

Dari enam butir pokok mengenai konsep pemberdayaan masyarakat ini, dapat disimpulkan, bahwa: (1) pemberdayaan masyarakat tidak dapat dilakukan hanya melalui

Strategi komunikasi yang digunakan oleh Kepala Madrasah dan guru-guru di MI Al-Abrar dengan menggunakan strategi komunikasi interpersonal (antarpribadi) baik itu dalam

Permasalahan yang timbul sebelum pasien menjalani program fisioterapi adalah pasien merasakan nyeri gerak ,nyeri tekan,nyeri diam, penurunan kekuatan otot, keterbatasan

Hasil uji statistik didapatkan nilai p=0,000 < 0,05 yang artinya Ho di tolak dan Ha diterima, sehingga terdapat perbedaan yang signifikan rata-rata

sebagai berikut: sebuah struktur yang sangat organik dengan minimal formalisasi; spesialisasi pekerjaan yang tinggi berdasar pendidikan formal; para spesialis akan memiliki

dirumuskan oleh undang-undang sebagai alat pembayaran yang sah. Berdasarkan fungsinya dalam kegiatan sehari-hari, uang adalah suatu benda yang dapat digunakan sebagai alat

seperti subkontraktor dan perunding. Kekosongan adalah statistik stok pada sesuatu masa. Oleh itu, kekosongan pada suku keempat 2019 mewakili kekosongan pada tahun 2019. Pewujudan

Tentu, pada tataran realita tidak mungkin akan kita dapati praksis yang sesuai dengan teori yang berasas tersebut. Jika setiap orang tetap akan memaksakan pengaplikasian di