• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

34 BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Penelitian dilakukan di ruang Intensive Care Unit Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta, dimulai pada bulan April - Mei 2016. Sample penelitian ini ada 30 pasien yang bersedia diikut sertakan dalam penelitian yaitu pasien SIRS atau sepsis yang dirawat di Ruang Intensive Care Unit dengan umur antara 18 - 65 tahun.

Penelitian ini dilakukan dengan cara mendatangi pasien SIRS atau sepsis yang dirawat di Ruang Intensive Care Unit Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta, setelah sebelumnya dilakukan identifikasi identitas (nama, jenis kelamin, umur, nomor rekam medik), berat badan, dan monitoring vital sign (tekanan darah, nadi, suhu badan).

Sampel I diambil darah vena sebanyak 10 mL dan dimasukkan dalam tabung vacutainer, dikocok perlahan. Setelah itu paracetamol 10 mg/kgBB intravena atau 20 mg/kgBB intravena selama 10 menit. Kemudian ditunggu selama 60 menit sampai tercapai kadar puncak dalam plasma. Sampel II diambil setelah 60 menit yaitu darah vena sebanyak 10 mL dan dimasukkan ke dalam tabung vacutainer, dikocok perlahan. Kedua sampel darah kemudian dibawa ke Laboratorium Parahita Surakarta untuk diolah.

1. Deskripsi Karakteristik Dasar Subyek Penelitian

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada 30 pasien SIRS atau sepsis yang dirawat di Ruang Intensive Care Unit Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta yang kemudian dibagi menjadi dua kelompok sampel yaitu 15 sampel dengan diberi perlakuan pemberian parasetamol 10 mg/kgBB intervena dan 15 sampel dengan diberi perlakuan pemberian parasetamol 20 mg/kgBB intervena, didapatkan gambaran karakteristik subyek penelitian sebagai berikut.

(2)

35 Tabel 4.1 Karakteristik Subyek Penelitian

Karateristik Kelompok Sampel p Parasetamol 10 mg/KgBB (n=15) Parasetamol 20 mg/KgBB (n=15) Jenis Kelamin* 0,269 Perempuan 5 (33,3%) 8 (53,3%) Laki-laki 10 (66,7%) 7 (46,7%) Usia (tahun)** 43.60 + 16,49 43.93 + 14.56 0.954 Berat Badan*** 54,53 + 9,02 60,93 + 11,09 0,089 Suhu Tubuh*** 37,63 +1,57 37,65 + 0,65 0,250 Respiratory Rate*** 28,40 + 13,60 23,27 + 3,86 0,174 Hitung Leukosit** 13,95 + 5,02 15,67 + 4,23 0,317 Ket : * Data Kategori (Jumlah, Prosentase) Uji Chi Square

** Data numerikdistribusi normal (Mean + SD ) Uji Independen Sampel T test *** Data numerikdistribusi tidak normal (Mean + SD ) Uji Mann Whitney Sumber : Hasil Olah Data 2016

Berdasarkan tabel 4.1 diketahui bahwa nilai p >0,05 pada karateristik dasar subyek penelitian, hal ini menyatakan bahwa tidak ada pebedaan yang signifikan karakteristik dasar subyek penelitiaan, atau dapat dikatakan sampel pada kelompok yang diberi Parasetamol 10 mg/KgBB memiliki karateristik dasar yang tidak berbeda dengan sampel pada kelompok yang diberi Parasetamol 20 mg/KgBB.

2. Pengaruh Pemberian Paracetamol 10 mg/kgBB Intravena Dan Paracetamol 20 mg/kgBB Intravena Pada Pasien SIRS Atau Sepsis Terhadap Aktifitas Agregasi Trombosit.

Pengaruh pemberian parasetamol 10 mg/kgBB intravena dan parasetamol 20 mg/kgBB intravena pada pasien SIRS atau sepsis terhadap aktifitas agregasi trombosit dapat diketahui dengan uji beda agregasi trombosit antara kedua kelompok perlakuan tersebut. Penelitian ini menggunkan data kategori dengan skala ordinal sehingga uji beda dilakukan dengan uji statistik Non Parametris. Uji beda pada kelompok tidak berpasangan menggunakan uji Mann Whitney. Sedangkan uji beda pada kelompok sampel berpasangan menggunakan uji Wilcoxon. Berdasarkan hasil penghitungan didapatkan hasil sebagai berikut.

(3)

36 a. Uji Beda Agregasi Trombosit Antara Parasetamol 10 mg/KgBB dengan

Parasetamol 20 mg/KgBB Sebelum Perlakuan (Pretest)

Uji beda pada kelompok sampel tidak berpasangan sebelum perlakuan didapatkan hasil sebagai berikut.

Tabel 4.2 Uji Beda Agregasi Trombosit Antara Parasetamol 10 mg/KgBB dengan Parasetamol 20 mg/KgBB Sebelum Perlakuan

Uji Beda Mann Whitney Agregasi Trombosit Pre Dosis Parasetamol P 10 mg/Kg BB 20 mg/Kg BB Hypo 3 (20.0%) 6 (40.0%) 0.624 Normo 9 (60.0%) 5 (33.3%) Hyper 3 (20.0%) 4 (26.7%)

Sumber : Hasil Olah Data 2016

Berdasarkan tabel 4.2 diketahui bahwa sebelum adanya perlakuan diketahui bahwa pada kelompok perlakuan Parasetamol 10 mg/KgBB sebagian besar dengan Agregasi Trombosit dalam kategori normo yaitu ada 9 pasien (60.0%), sedangkan pada kelompok perlakuan Parasetamol 20 mg/KgBB sebagian besar dengan Agregasi Trombosit dalam kategori Hypo yaitu ada 6 pasien (40.0%). Berdasarkan hasil uji beda Mann Whitney mendapatkan nilai p=0,624, yang berarti bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelompok parasetamol 10 mg/kgBB intravena dan parasetamol 20 mg/kgBB intravena pada pasien SIRS atau sepsis sebelum perlakuan.

(4)

37

Gambar 4.1 Perbadingan agregasi trombosit antara kelompok parasetamol 10 mg/kgBB intravena dan parasetamol 20 mg/kgBB intravena sebelum perlakuan

b. Uji Beda Agregasi Trombosit Antara Parasetamol 10 mg/KgBB dengan Parasetamol 20 mg/KgBB Setelah Perlakuan (Postest)

Uji beda pada kelompok sampel tidak berpasangan sesudah perlakuan didapatkan hasil sebagai berikut.

Tabel 4.3 Uji Beda Agregasi Trombosit Antara Parasetamol 10 mg/KgBB dengan Parasetamol 20 mg/KgBB Setelah Perlakuan

Uji Beda Mann Whitney Agregasi Trombosit Post Dosis Parasetamol P 10 mg/Kg BB 20 mg/Kg BB Hypo 6 (40.0%) 6 (40.0%) 0.870 Normo 7 (46.7%) 6 (40.0%) Hyper 2 (13.3%) 3 (20.0%)

Sumber : Hasil Olah Data 2016

Berdasarkan tabel 4.3 diketahui bahwa setelah adanya perlakuan diketahui bahwa pada kelompok perlakuan Parasetamol 10 mg/KgBB sebagian besar dengan Agregasi Trombosit dalam kategori normo yaitu ada 7 pasien (60.0%), sedangkan pada kelompok perlakuan Parasetamol 20 mg/KgBB sebagian besar dengan Agregasi Trombosit dalam kategori Hypo dan Normo

0 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Hypo Normo Hyper 6 5 4 3 9 3 20 mg/Kg BB 10 mg/Kg BB

(5)

38

yaitu masing ada 6 pasien (40.0%). Berdasarkan hasil uji beda Mann Whitney mendapatkan nilai p=0,870, yang berarti bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelompok parasetamol 10 mg/kgBB intravena dan parasetamol 20 mg/kgBB intravena pada pasien SIRS atau sepsis sesudah perlakuan.

Berdasarkan data diatas diketahui bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan agregasi trombosit pada kelompok parasetamol 10 mg/kgBB intravena dan parasetamol 20 mg/kgBB intravena. Sehingga dapat dikatakan bahwa penggunaan parasetamol 10 mg/kgBB intravena dan parasetamol 20 mg/kgBB intravena tidak berbeda signifikan dalam menghambat agregasi trombosit.

Gambar 4.2 Perbadingan agregasi trombosit antara kelompok parasetamol 10 mg/kgBB intravena dan parasetamol 20 mg/kgBB intravena sesudah perlakuan

c. Uji Beda Agregasi Trombosit Pre-Post pada kelompok Parasetamol 10 mg/KgBB.

Uji beda pada kelompok sampel berpasangan Parasetamol 10 mg/KgBB sebelum dan sesudah perlakuan didapatkan hasil sebagai berikut.

0 1 2 3 4 5 6 7

Hypo Normo Hyper

6 6 3 6 7 2 20 mg/Kg BB 10 mg/Kg BB

(6)

39 Tabel 4.4 Uji Beda Agregasi Trombosit Pre-Post pada kelompok

Parasetamol 10 mg/KgBB

Uji Beda Wilcoxon Agregasi Trombosit Post -

Agregasi Trombosit Pre Jumlah P

Negative Ranks (Penurunan) 3 0,102

Positive Ranks (Peningkatan) 0

Ties (Tidak Berubah) 12

Total 15

Sumber : Hasil Olah Data 2016

Berdasarkan tabel 4.4 setelah pemberian parasetamol 10 mg/KgBB diketahui bahwa terdapat 3 pasien yang mengalami penurunan Agregasi Trombosit, yang mengalami peningkatan agregasi trombosit tidak ada. Sedangkan yang tidak berubah kategori agregasi trombosit ada 12 pasien. Nilai p=0,102 (p>0,05) yang berarti bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan agregasi trombosit antara sebelum dan sesudah pemberian parasetamol 10 mg/KgBB. Sehingga dapat dikatakan bahwa pemberian parasetamol 10 mg/KgBB mampu menghambat aktifitas agregasi trombosit.

Gambar 4.2 Perbadingan agregasi trombosit pre-post pada kelompok parasetamol 10 mg/kgBB intravena. 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Hypo Normo Hyper 3 9 3 6 7 2 10 mg/Kg BB Pre 10 mg/Kg BB Post

(7)

40 d. Uji Beda Agregasi Trombosit Pre-Post pada kelompok Parasetamol 20

mg/KgBB

Uji beda pada kelompok sampel berpasangan Parasetamol 20 mg/KgBB sebelum dan sesudah perlakuan didapatkan hasil sebagai berikut.

Tabel 4.5 Uji Beda Agregasi Trombosit Pre-Post pada kelompok Parasetamol 20 mg/KgBB

Uji Beda Wilcoxon Agregasi Trombosit Post -

Agregasi Trombosit Pre Jumlah P

Negative Ranks (Penurunan) 2 0,564

Positive Ranks (Peningkatan) 1

Ties (Tidak Berubah) 12

Total 15

Sumber : Hasil Olah Data 2016

Berdasarkan tabel 4.5 setelah pemberian parasetamol 20 mg/KgBB diketahui bahwa terdapat 2 pasien yang mengalami penurunan agregasi trombosit, yang mengalami peningkatan agregasi trombosit ada 1 pasien. Sedangkan yang tidak berubah kategori agregasi trobosit ada 12 pasien. Nilai p=0,564 (p>0,05) yang berarti bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan agregasi trombosit antara sebelum dan sesudah pemberian parasetamol 20 mg/KgBB. Sehingga dapat dikatakan bahwa pemberian parasetamol 20 mg/KgBB mampu menghambat aktifitas agregasi trombosit.

Gambar 4.2 Perbadingan agregasi trombosit pre-post pada kelompok parasetamol 20 mg/kgBB intravena. 0 1 2 3 4 5 6

Hypo Normo Hyper 6 5 4 6 6 3 20 mg/Kg BB Pre 20 mg/Kg BB Post

(8)

41 B. Pembahasan

Fungsi utama trombosit adalah pembentukan sumbat mekanik selama respons hemostasis normal terhadap cedera vaskular. Tanpa trombosit, dapat terjadi kebocoran darah spontan melalui pembuluh darah kecil. Reaksi trombosit berupa adhesi, sekresi, agregasi, dan fusi serta aktivitas prokoagulannya sangat penting untuk fungsinya. Adhesi trombosit dalah perlekatan antara trombosit dengan permukaan bukan trombosit seperti jaringan subendotel. Agregasi trombosit adalah perlekatan antara sesama trombosit. Proses ini dirangsang oleh beberapa substansi misalnya adenosin diphosphat (ADP), kolagen, epinefrin, trombin dan asam arakidonat. Masing-masing aktivator mempunyai reseptor pada permukaan trombosit. Reseptor untuk trombin disebut protease-activated receptor 1(PAR-1), sedang untuk ADP dikenal 3 reseptor yaitu P2X1, P2Y1dan P2TAC. Apabila trombosit dirangsang oleh ADP, maka akan terjadi perubahan pada membran trombosit sehingga reseptor fibrinogen melekat pada trombosit. Pada agregasi trombosit fibrinogen menjadi jembatan antar trombosit (Ashby dan Colman, 2001).

Berdasarkan hasil penelitian Musterhjelm E, dkk pada tahun 2006 meneliti tentang karakteristik paracetamol intravena dan interaksinya dengan diklofenak dan parexocib terhadap penghambatan aktifitas agregasi trombosit pada orang sehat. Secara signifikan pemberian Paracetamol intravena menghambat aktifitas agregasi trombosit melalui penghambatan asam arachidonat dan Tromboxan A2. (Munsterhjelm et al. 2006)

Parasetamol merupakan derivat para amino fenol. Paracetamol juga merupakan metabolit aktif fenasetin, sering disebut juga analgesik coal tar. Paracetamol merupakan obat lain pengganti aspirin yang efektif sebagai obat analgesik-antipiretik (Haydar, 2015).

Penelitian ini menunjukan hasil pemberian parasetamol 10 mg/KgBB diketahui bahwa bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan terhadap aktifitas agregasi trombosit antara sebelum dan sesudah pemberian parasetamol 10 mg/KgBB.

(9)

42

Pemberian parasetamol 20 mg/KgBB juga tidak terdapat perbedaan yang signifikan terhadap aktifitas agregasi trombosit antara sebelum dan sesudah pemberian parasetamol 20 mg/KgBB.

Hasil penelitian ini juga diketahui bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan agregasi trombosit pada kelompok parasetamol 10 mg/kgBB intravena dan parasetamol 20 mg/kgBB intravena. Sehingga dapat dikatakan bahwa penggunaan parasetamol 10 mg/kgBB intravena dan parasetamol 20 mg/kgBB intravena tidak berbeda signifikan dalam menghambat agregasi trombosit.

Dengan demikian penggunaan parasetamol pada dosis 10 mg/kgBB intravena memiliki kemampuan yang sama dengan penggunaan parasetamol dosis 20 mg/kgBB intravena. Sehingga tidak perlu meningkatkan pemberian dosis parasetamol dari 10 mg/kgBB menjadi 20 mg/kgBB, karena memiliki efek yang tidak berbeda signifikan dalam menghambat aktifitas agregasi trombosit.

Musterhjelm E, dkk tahun 2005 meneliti efektifitas pemberian parasetamol berdasarkan dosis terhadap agregasi trombosit pada orang sehat, hasilnya secara signifikan parasetamol menghambat agregasi trombosit dalam kurun waktu 90 menit setelah pemberian intravena. Paracetamol memiliki sifat dose dependent terhadap penghambatan agregasi trombosit, dalam arti semakin tinggi dosis paracetamol intravena yang kita berikan maka efek agregasi trombosit akan semakin terlihat. (Munsterhjelm et al. 2005) Pada penelitian ini peneliti hanya menggunakan dua variasi dosis, sehingga diharapkan pada penelitian selanjutnya diharapkan dapat menggunakan variasi dosis yang lebih banyak dan dosis yang lebih besar.

Paracetamol memiliki efek penghambat siklooksigenase yang lemah, sehingga pada penelitian selanjutnya diharapkan dapat membandingkan antara paracetamol dengan obat penghambat siklooksigenase yang lain.

Paracetamol memiliki efek analgesik dan antipiretik setara dengan aspirin, sehingga obat ini merupakan pengganti yang cocok untuk aspirin, walaupun perlu diingat bahwa paracetamol tidak memiliki efek anti radang. Obat ini sangat bermanfaat bagi pasien yang kedapatan dikontraindikasikan menggunakan aspirin, misalkan pada pasien ulser lambung atau jika perpanjangan waktu perdarahan akibat aspirin akan

(10)

43

merugikan. Paracetamol sendiri tidak adekuat untuk terapi peradangan seperti artritis rematoid, walaupun dapat difungsikan sebagai analgesik tambahan untuk terapi antiradang. Untuk analgesia ringan, paracetamol merupakan obat yang lebih disukai pada penderita yang alergi dengan aspirin. (Gunawan dan Gan Sulistia, 2009)

Dosis oral paracetamol sebesar 325-1000 mg (secara rectal 650 mg), dosis total harian tidak boleh melebihi 4000 mg. Untuk anak-anak, dosis tunggal sebesar 40-480 mg, begantung pada usia dan berat badan. Tidak boleh melebihi dari lima dosis yang diberikan dalam 24 jam (Haydar, 2015).

Penggunaan obat parasetamol memiliki efek samping pada dosis yang dianjurkan, paracetamol dapat ditolerir dengan baik. Kadang terjadi ruam kulit dan reaksi alergi berupa eritema atau urtikaria, terkadang akan lebih parah mungkin disertai demam obat dan lesi mukosa. Pada beberapa kasus tertentu, penggunaan paracetamol menyebabkan neutropenia, trombositopenia, dan pansitopenia (Katzung, 2011).

Menurut Thomas, 1993 efek merugikan yang paling serius akibat overdosis asetaminofen akut berupa nekrosis hati yang fatal. Nekrosis tubulus ginjal dan koma hipoglikemik mungkin juga terjadi. Apabila toksisitas terjadi dapat diberikan antimuntah dan antidotum N-asetilsistein (Haydar, 2015). Jadi dengan menggunakan parasetamol pada dosis rendah dapat mengurangi resiko dari efek samping obat tersebut.

(11)

44 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

1. Kesimpulan

Tidak terdapat perbedaan yang signifikan terhadap pengaruh pemberian paracetamol intravena antara 10 dan 20 mg/kgBB terhadap aktifitas agregasi trombosit pada pasien SIRS atau sepsis. (p=0,870)

2. Saran

1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang pemberian berbagai variasi dosis paracetamol, sehingga bisa memperkuat hasil penelitian ini.

2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk membandingkan efektifitas paracetamol dengan obat anti inflamasi pnghambat COX yang lain.

3. Dari hasil penelitian ini peneliti merekomendasikan kepada Kepala Instalasi Ruang Intensif untuk menggunakan paracetamol intravena dengan dosis 10 mg/kgBB pada pasien SIRS / sepsis untuk mengurangi efek samping yang tidak diharapkan dibandingkan menggunakan paracetamol intravena dosis 20 mg/kgBB.

Gambar

Tabel 4.2   Uji Beda Agregasi Trombosit Antara Parasetamol 10 mg/KgBB  dengan Parasetamol 20 mg/KgBB Sebelum Perlakuan
Gambar 4.1   Perbadingan  agregasi  trombosit  antara  kelompok  parasetamol  10 mg/kgBB intravena dan parasetamol 20 mg/kgBB intravena  sebelum perlakuan
Gambar 4.2   Perbadingan  agregasi  trombosit  antara  kelompok  parasetamol  10 mg/kgBB intravena dan parasetamol 20 mg/kgBB intravena  sesudah perlakuan
Gambar 4.2   Perbadingan  agregasi  trombosit  pre-post  pada  kelompok  parasetamol 10 mg/kgBB intravena
+2

Referensi

Dokumen terkait

Uji Mann Whitney dipakai untuk mengetest signifikansi perbedaan antara dua populasi, dengan menggunakan sampel random yang ditarik dari populasi yang sama. Test

Terdapat pengaruh pemberian parasetamol dosis 500 mg/kgBB pada fungsi hepar, tidak terdapat perbedaan dan pengaruh signifikan pemberian ekstrak jintan hitam dan temulawak

Dengan demikian berarti rata-rata Self Reegulated Learning siswa kelas imersi berbeda dengan kelas reguler, atau dengan kata lain ada perbedaan yang signifikan rata-rata

Mann Whitney sebagai uji bivariat bertujuan untuk mengetahui hubungan antara variabel dependen yaitu Infeksi Oportunistik (IO), sedangkan variabel independent yang

Ini berarti nilai t hitung lebih besar dari t tabel (2,570 > 1,690) maka H 0 ditolak dan H 5 diterima (terdapat pengaruh yang signifikan), yang artinya

yang kurang menguasai materi. Nilai daya beda yang positif berarti memiliki daya beda tinggi sedangan nilai daya beda yang negatif berarti memiliki daya beda yang

Namun pada dosis 80 mg/kgBB, tidak memberi efek toksik terhadap histopatologi hepar yang diduga karena perubahan dari antioksidan menjadi pro-oksidan, yang kemungkinan disebabkan oleh

Tabel 4.6 Hasil Uji Beda Faktor Demografi Parenting Stress 4.5 Pembahasan Berdasarkan dari hasil uji analisis yang telah dilakukan, ditemukan bahwa nilai signifikansi dari variabel