22
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Chepalopelvic Disproportion (CPD)
Menurut Verney, (2009) Disproporsi sevalopelvik (Chepalopelvic
Disproportion, CPD), atau disproporsi fetopelvik adalah antara ukuran janin
dan ukuran pelvis yakni ukuran pelvis tertentu tidak cukup besar untuk
mengakomodasi keluarnya janin tertentu melalui pelvis sampai terjadi
kelahiran per vagina. Pelvis yang adekuat untuk jalan lahir bayi 2,27 kg
mungkin cukup besar untuk bayi 3,2 kg mungkin tidak cukup besar dengan
bayi 3,6 kg.
Indikasi kemungkinan disproporsi sefalopelvik :
1. Ukuran janin sangat besar
2. Tipe dan karakteristik khusus tubuh wanita secara umum
2.1 Bahu lebih lebar dari pada pinggul, tanpa memerhatikan tinggi.
2.2 Postur tubuh pendek, seperti kotak
2.3 Tangan dan kaki pendk serta lebar (ukuran sepatu memberi banyak
informasi)
3. Riwayat fraktur pelvis
4. Deformitas spinal, contoh skoliosis, atau kifosis
Disproporsi Sefalopelvik dapat ditandai oleh pola persalinan disfungsional,
kegagalan kemajuan persalinan, fleksi kepala yang buruk, atau kemacetan
rotasi internal dan penurunan (yaitu deep transverse arrest). Disproporsi
Sefalopelvik dapat, atau tidak dapat disertai pembentukan kaput atau molase.
Persalinan disfungsional yang disebabkan oleh disproporsi sefalopelvik dapat
mengakibatkan kondisi berikut:
5.1 Kerusakan pada janin yaitu kerusakan otak
5.2 Kematian janin atau neontes
5.3 Rupture uterus
5.4 Kematian Ibu
5.5 Infeksi intrauterus
B. Sectio Caesarea
1. Definisi
Secsio Caecarea merupakan prosedur operatif, yang di lakukan di bawah
anestesia sehingga janin, plasentadan ketuban di lahirkan melalui insisi dinding
abdomendan uterus. Prosedurini biasanya di lakukan setelah viabilitas tercapai misal
usia kehamilan lebih dari 24 minggu (Myles,2011).
Sectio Caesarea adalah pengeluaran janin melalui insisi abdomen. Teknik ini
digunakan jika kondisi ibu menimbulkan distres pada janin atau jika telah terjadi
distres janin. Sebagian kelainan yang sering memicu tindakan ini adalah malposisi
janin, plasenta previa, diabetes ibu, dan disproporsi sefalopelvis janin dan ibu. Sectio
sesarea dapat merupakan prosedur elektif atau darurat .Untuk sectio caesarea
biasanya dilakukan anestesi spinal atau epidural. Apabila dipilih anestesi umum, maka
persiapan dan pemasangan duk dilakukan sebelum induksi untuk mengurangi efek
24
Sectio Caesareaa adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan
melalui suatu insisi pada dinding depan perut dan dinding rahim dengan syarat rahim
dalam keadaan utuh serta berat janin di atas 500 gram (Sarwono, 2009).
Sectio Caesarea adalah suatu pembedahan guna melahirkan janin lewat insisi
pada dinding abdomen dan uterus persalinan buatan, sehingga janin dilahirkan
melalui perut dan dinding perut dan dinding rahim agar anak lahir dengan keadaan
utuh dan sehat ( Hermawati, 2008).
Sehingga dapat disimpulkan bahwa Sectio Caesarea merupakan suatu
tindakan operasi yang bertujuan untuk melahirkan bayi dengan jalan pembukaan
dinding perut.
2. Etiologi
Sebab-sebab yang dapat menimbulkan kelainan panggul dapat dibagi sebagai berikut :
2.1 Kelainan karena gangguan pertumbuhan
2.1.1 Panggul sempit seluruh : semua ukuran kecil
2.1.2 Panggul picak : ukuran muka belakang sempit, ukuran melintang biasA
2.1.3 Panggul sempit picak : semua ukuran kecil tapi terlebiha
ukuranmukabelakang
2.1.4Panggul corong : pintu atas panggul biasa,pintu bawah panggul sempit.
2.1.5Panggul belah : symphyse terbuka
2.2 Kelainan karena penyakit tulang panggul atau sendi-sendinya
2.2.1 Panggul rachitis : panggul picak, panggul sempit, seluruha panggulsempit
picak dan lain-lain
2.2.2 Panggul osteomalacci : panggul sempit melintang
2.2.3 Radang articulatio sacroilliaca : panggul sempit miring
2.3.1 Kyphose didaerah tulang pinggang menyebabkan panggul corong
2.3.2 Sciliose didaerah tulang panggung menyebabkan panggul sempit miring.
2.4 Kelainan panggul disebabkan kelainan aggota bawah Coxitis,luxatio,atrofia. Salah
satu anggota menyebabkan panggul sempit miring. e.fraktura dari tulang panggul
yang menjadi penyebab kelainan panggul
3. Tanda Dan Gejala
3.1Persalinan lebih lama dari yang normal .
3.2Janin belum masuk PAP pada usia kehamilan 39 minggu (primipara),
3.3 Tinggi badan kurang dari 145 cm
3.4 Ukuran distasia spinarum kurang dari 24-26 cm
3.5 Ukuran distasia kristarum kurang dari 28-30 cm
3.6 Ukuran konjugata eksterna diameter kurang dari 18-20 cm
3.7 Ukura lingkar panggul kurang dari 80-90 cm
3.8 Pintu Atas Panggul
3.8.1 Ukuran Konjugata vera / diameter antero posterior ( diameter depan -
belakang ) yaitu diameter antara promontorium dan tepi atas symfisis
kurang dari 11 cm
3.8.2 Ukuran diameter melintang ( transversa), yaitu jarak terlebar antara ke-2
linea inominata kurang dari 13 cm.
3.8.3 Ukuran diameter oblik ( miring ) jarak antara artikulasio sakro iliaka
dengan tuberkulum pubicum sisi yang bersebelahan kurang dari 12 cm.
3.9 Bidang tengah Panggul
3.9.1 Bidang luas panggul terbentuk dari titik tengah symfisis, pertengahan
acetabulum, dan ruas sacrum ke-2 dan ke-3. diameter anteroposterior
26
3.9.2 Bidang sempit panggul merupakan bidang yang berukuran kecil
terbentang dari tepi bawah symfisis, spina ischiadika kanan dan kiri, dan
1-2 cmdari ujung bawah sacrum. diameter antero-posterior kurang dari
11,5 cm, diameter transversa kurang dari 10 cm.
3.10 Pintu Bawah Panggul
3.10.1 Diameter anteroposterior yaitu ukuran dari tepi bawah symfisis ke ujung
sacrum kurang dari 11,5 cm
3.10.2Diameter transversa jarak antara tuber ischiadikum kanan dan kiri kurang
dari 10,5 cm
3.10.3 Diameter sagitalis posterior yaitu ukuran dari ujung sacrum
kepertengahan ukuran transversa kurang dari 7,5 cm.
4. Anatomi Fisiologi
4.1 Tulang-tulang panggul
Gambar. 2.1 potongan sagita panggul, menunjukan pelvis mayor dan
minor( Sarwono, 2010)
Menurut Sarwono Prawirohardjo (2010) tulang-tulang panggul antara lain:
Pelvis Maor adalah bagian pelvis yang terletak diatas linea terminalis,
disebut pula false pelvis. Bagian yang terletak dibawah linea terminalis disebut
pelvis minor atau true pelvis. Bagian akhir ini adalah bagian yang mempunyai
peranan penting dalam obstetri dan harus dapat dikenal dan dinilai
sebaik-baiknyauntuk dapat meramalkan dapat tidaknya bayi melewatinya.
4.1.2 Pelvis Minor
Bentuk pelvis minor ini menyerupai suatu saluran yang mempunyai
sumbu melengkung ke depan (sumbu Carus). Sumbu ini secara klasik adalah
garis yang menghubungkan titik persekutuan antara diameter transversa dan
konjugata vera pada pintu atas panggul dengan titik-titik sejenisdi Hodge II, III,
dan IV. Sampai dekat Hodge III sumbu itu lurus, sejajar dengan sakrum, untuk
seterusnya melengkung ke depan, sesuai dengan kelengkungan sakrum. Hal ini
penting untuk diketahui bila kelak mengakhiri persalinan dengan cunam agar
arah penarikan cunam itu disesuaikan dengan arah sumbu jalan lahir tersebut.
Gambar. 2.2 sumbu panggul (Sarwono, 2010)
Diantara kedua pintu ini terdapat ruang panggul (pelvic cavity). Ukuran
28
tengah, dan selanjutnya menjadi sedikit lebih luas lagi dibagian bawah.
Penyempitan dipanggul tengah, dan selanjutnya menjadi sedikit lebih luas lagi
dibagian bawah. Penyempitan dipanggul tengah ini setinggi spina iskiadika
yang jarak antara kedu spina iskiadika (distensia interspinarum) normal ± 10,5
cm.
4.1.3 Bidang Hodge
Bidang-bidang Hodge ini dipelajari untuk menentukan sampai
dimanakah bagian terendah janin turun dalam panggul dalam persalinan:
4.1.3.1. Bidang Hodge I: ialah bidang datar yang melalui bagian atas simfisis
dan montorium. Bidang ini dibentuk pada lingkaran pintu atas panggul.
4.1.3.2. Bidang Hodge II: ialah bidang yang sejajar dengan Bidang Hodge I
terletang setinggi bagian bawah simfisis.
4.1.3.3. Bidang Hodge III: ialah bidang yang sejajar dengan Bidang Hodge I dan
II terletak setinggi spina iskiadika kanan dan kiri. Pada rujukan lain,
bidang Hodge III ini disebut juga bidang O. Kepala yang berada di atas
1 cm disebut (-1) atau sebaliknya.
4.1.3.4. Bidang Hodge IV: ialah bidang yang sejajar dengan bidang Hodge I, II,
III, terletak setinggi os koksigis.
Gambar. 2.3 Pintu atas panggul dengan konjugata vera, diameter
transversa dan diameter oblikua(Sarwono, 2010)
Pintu atas panggul merupakan suatu bidang yang dibentuk oleh
promontorium korpus vertebra sakra 1, linea innominata (terminalis), dan
pinggir atas simfisis. Terdapat 4 diameter pada pintu atas panggul, yaitu
diameter anteroposterior, diameter transversa, dan 2 meter oblikua.
Panjang jarak dari pinggir atas simfisis ke promontorium lebih kurang
11 cm, disebut konjugata vera. Jarak terjauh garis melintang pada pintu atas
panggul lebih kurang 12,5-13 cm, disebut diameter transversa dan konjugata
vera dan diteruskan ke linea innominata, ditemukan diameter yang disebut
diameter oblikua sepanjang lebih kurang 13 cm.
Dalam obstetri dikenal 4 jenis panggul (pembagian Caldwell dan Moloy,
2009), yang mempunyai ciri-ciri pintu atas panggul sebagai berikut:
4.2.1. Jenis ginekoid: panggul paling baik untuk perempuan. Bentuk pintu area
atas panggul hampir bulat. Panjang diameter antero-posterior kira-kira sama
dengan diameter transversa. Jenis ini diemukan pada 45% perempuan.
4.2.2. Jenis android: bentuk pintu atas panggul hampir segitiga. Umumnya pria
mempunyai jenis seperti ini. Panjang diameter anteroposterior hampir sama
dengan diameter transversa, akan tetapi yang terakhir ini jauh lebih
mendekati sakrum. Dengan demikian, bagian belakangnya pendekdan
gepeng, sedangkan bagian depannya menyempit ke depan. Jenis ini
ditemukan pada 15 % perempuan.
4.2.3. Jenis antropoid: bentuk pintu atas panggul agak lonjong, seperti telur.
Panjang diameter antero-posterior lebih besar dari pada diameter trnasversa.
30
4.2.4. Jenis platipelloid: sebenarnya jenis ini adalah jenis ginekoid yang
menyempit pada arah muka belakang. Ukuran melintang jauh lebih besar dari
pada ukuran muka belakang. Jenis ini ditemukan pada 5% perempuan.
4.3 Pintu Bawah Panggul
Gambar. 2.4 Pintu bawah panggul(Sarwono, 2010)
Pintu bawah panggul tidak merupakan suatu bidang datar, tetapi
tersusun atas 2 bidang datar yang masing-masing berbentuk segitiga, yaitu bidang
yang terbentuk oleh garis antara kedua buah tuber os iskii dengan ujung os
sakrum dan segitiga lainya yang alasnya juga garis antara kedua tuber os sikii
dengan bagian bawah simfisis. Pinggir bawah simfisis. Pinggir bawah simfisis
berbntuk lengkung ke bawah dan merupakan sudut disebutarkus pubis. Dalam
keadaan normal besarnya sudut ini ± 90°, atau lebih besar sedikit, bila kurang
sekali (lebih kecil) dari 90°, maka kepala janin akan lebih sulit dilahirkan karena
Dalam hal ini perlu diperhtikan ujung os sekrum/os koksigis tidak menonjol
kedepan, sehingga kepala janin tidak dapat dilahirkan. Jarak antara kedua tuber os
iskii (distansia tuberum) juga merupakan ukuran pintu bawah panggul yang
penting. Distansia tuberum diambil dari bagian dalamnya adalah ± 10,5 cm. bila
lebih kecil, jarak antara tengah-tengah distansia tuberum ke ujung sakrum
(diameter sagitalis posterior) harus cukup panjang agar bayi normal dapat
dilahirkan.
4.4 Ukuran-ukuran Luar Panggul
Ukuran-ukuran luar panggul ini dapat digunakan bila pelvimetri radiologik
tidak dapat dilakukan. Dengan cara ini dapat ditentukan secara garis besar jenis,
bentuk, dan ukuran-ukuran panggul apabila dikombinasikan dengan pemeriksaan
dalam. Alat-alat yang dipakai anatara lain: jangka-jangka panggul Martin, Oseander,
Collin, dan Boudeloque. Yang diukur sebagai berikut:
4.4.1. Distansia spinarum (± 24 cm – 26 cm), jarak antara kedua spina illaika
anterior superior sinistra dan dekstra.
4.4.2. Distansia kristarum (± 28 cm – 30 cm), jarak yang terpanjang antara dua
tempat yang simetris pada krista iliaka sinistra dan dekstra. Umumnya
ukuran-ukuran ini tidak penting, tetapi bila ukuran-ukuran ini lebih kecil 2-3 cm dari nilai
normal, dapat dicurigai panggul itu patologik.
4.4.3. Distansia oblikua ekstena (ukuran miring luar): jarak antara spina iliaka
posterior sinistra dan spina iliaka anterior dekstra dan dari spina iliaka
posterior dekstra ke spina ilaika anterior superior sinistra. Kedua ukuran ini
bersilang. Jika pnggul normal, maka kedua ukuran ini tidak banyak berbeda.
Akan tetapi, jika panggul itu asimetrik (miring), kedua ukuran itu jelas berbeda
32
4.4.4. Distansia intertrokanterika: jarak antara kedua trokanter mayor.
4.4.5. Konjugata eksterna (Boudelogue) ± 18 cm: jarak antara bagian atas simfisis ke
prosesus spinolus lumbal 5.
4.4.6. Distansia tuberum (± 10,5 cm): jarak antara tuber iskii kanan dan kiri untuk
mengukurnya dipakai jangka Oseander. Angka yang ditunjuk jangka harus
ditambah 1,5 cm karena adanya jaringan subkutis antara tulang dan ujung
jangka, yang menghalangi pengukuran secara cepat. Bila jarak ini kurang dari
normal, dengan sendirinya arkus pubis lebih kecil dari 90°.
5. Pathofisiologi
Tulang – tulang panggul terdiri dari os koksa, os sakrum, dan os koksigis. Os
koksa dapat dibagi menjadi os ilium, os iskium, dan os pubis. Tulang – tulang ini satu
dengan lainnya berhubungan. Di depan terdapat hubungan antara kedua os pubis
kanan dan kiri, disebut simfisis. Dibelakang terdapat artikulasio sakro- iliaka yang
menghubungkan os sakrum dengan os ilium.
Pada wanita, di luar kehamilan artikulasi ini hanya memungkinkan pergeseran
sedikit, tetapi pada kehamilan dan waktu persalinan dapat bergeser lebih jauh dan
lebih longgar, misalnya ujung koksigis dapat bergerak kebelakang sampai sejauh
lebih kurang 2,5 cm. Hal ini dapat dilakukan bila ujung os koksigis menonjol ke
depan pada saat partus, dan pada pengeluaran kepala janin dengan cunam ujung os
koksigis itu dapat ditekan ke belakang. Secara fungsional, panggul terdiri dari dua
bagian yaitu pelvis mayor dan pelvis minor.
Pelvismayor adalah bagian pelvis yang terletak diatas linea terminalis, disebut
juga dengan false pelvis. Bagian yang terletak dibawah linea terminalis disebut pelvis
minor atau true pelvis. Pada ruang yang dibentuk oleh pelvis mayor terdapat organ –
ligamen ke dinding tubuh. Sedangkan pada ruang yang dibentuk oleh pelvis minor
terdapat bagian dari kolon, rektum, kandung kemih, dan pada wanita terdapat uterus
dan ovarium.
Selama kehamilan, serviks (leher rahim atau saluran tempat jalan keluarnya
bayi dari rahim menuju vagina) dalam kondisi tertutup dan dipenuhi oleh lendir
(mukus) untuk melindunginya dari infeksi. Pada tahap pertama persalinan, kontraksi
membuat serviks terbuka secara bertahap. Serviks mulai melentur sehingga dapat
terbuka dan melebar sampai 10 cm. Tahap ini merupakan tahap yang paling panjang
dari persalinan. Dapat berlangsung selama beberapa jam bahkan hari sebelum
menjalani persalinan.
Fase di mana serviks mulai terbuka ini disebut dengan fase laten. Pada fase
laten, akan merasa kontraksi dan kadang juga tidak. Pada fase ini sebaiknya makan
dan minum untuk mempersiapkan energi yang akan dipakai selama proses persalinan.
Jika persalinan mulai pada malam hari, sebaiknya tenang dan tetap rileks. Gunakan
waktu untuk tidur jika bisa. Dan jika persalinan baru dimulai saat siang hari, cobalah
untuk tetap aktif. Bergerak aktif akan membantu bayi turun ke bawah rahim dan juga
34 Pathways
Indikasi Sectio Caesarea
Gambar. 2.5 Pathways
Sumber : Nurarif dan Hardhi (2015) Plasenta previa
Chepalopelvic Disproportion
Ruptur uteri mengancam
Partus tak maju
Partus lama
Distorsi serviks
Pre eklamsi dan hipertensi
Stenosis serviks uteri / vagina
Tumor jalan lahir
Incoordinate Uterine Action
Malpresentasi janin
TINDAKA N SC
Adaptasi Post
Partum Anestesi cairan per oral Pembatasa Insisi
Psikol ogis Fisiol ogis Tak ing in Taking hold Letti ng go Lak tasi Involu si Belajar mengenai perawatan diri dan bayi Kondisi tubuh mengalami perubahan Butuh informasi Mk. 8 Defisiensi pengetahuan
MK. 1 Ketidak efektifan pemberian
ASI Lo
chea Asupan
cairan yang tidak adekuat Pele pasan desi dua Ketidakade kuatan suplai ASI Konte raksi meningkat Bed rest Penuruna n pristaltik Obst ipasi MK. 7 Konstipasi Penurun an saraf simpatis Kondisi diri menurun Ketidakma mpuan miksi MK. 5 Perubahan eliminasi urine
MK. 6 Resti kekurangan volume cairan
Luka
MK. 2 Nyeri akut
MK. 4 Gangguan pola tidur
Tabel. 2.1Rencana Keperawatan
No Diagnosa
Keperawatan
Rencana Keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
1. Ketidakefektifan
pemberian ASI
berhubungan dengan
ketidakadekuatan suplai ASI
NOC
Setelah dilakukan keperawatan
selama… diharapkan dapat efektif
dalam pemberian ASI dengan kriteria hasil:
o Kesejajaran dan latch on yang
benar
o Mencengkeram dan
mengkompresi areola dengan tepat
o Mengisap dan menempatkan
lidah bayi yang benar
o Suara menelan yang dapat
didengar
o Minimal menyusu delapan kali
sehari (sesuai prmintaan)
o Kepuasan bayi setelah
menyusui
o Kenaikan berat badan sesuai
usia
NIC
Breastfeding assistance
Observasi keadaan payudara
Observasi pengetahuan pasien mengenai laktasi dan perawatan payudara
Kaji kemampuan bayi menyusu (reflek hisap)
Kaji seberapa banyak pengeluaran colostrum
Beritahu cara menyusui yang benar
Lakukan tindaka keperawatan brastcare
Observasi pengeluaran ASI setelah brestcare
Ajarkan cara perawatan payudara
Ajarkan teknik menyusui yang benar
Kolaborasi dengan ahli gizi mengenai nutrisi ibu menyusui 2 Nyeri akut berhubungan
dengan agen injuri fisik
NOC Pain level Pain control Comfort level NIC Management nyeri
36
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama… Pasien tidak
mengalami nyeri dengan kriyeria hasil:
o Mampu mengontrol nyeri (tahu
penyebab nyeri, mampu
menggunakan teknik
nonfarmakologik untuk
mengurangi nyeri)
o Melaporkan bahwa nyeri
berkurang dengan
menggunakan manajemen
nyeri.
o Mampu mengenali nyeri (skala
intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
o Menyatakan rasa nyaman
setelah nyeri berkurang
o Tanda vital dalam rentan
normal
Tidak mengalami gangguan tidur
karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan factor presipitasi.
Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan.
Bantu pasien dan keluarga untuk
mencari dan menemukan
dukungan.
Control lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu
ruangan, pencahayaan dan
kebisingan.
Kurangi factor presipitasi nyeri.
Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
Ajarkan tentang teknik non farmakologik napas dalam, relaksasi, distraksi, kompres hangat/dingin.
Berikan analgetik untuk
mengurangi nyeri
Tingkatkan instirahat
Berikan informasi tentang nyeri seperti penyebab nyeri
Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgetik pertama kali
3. Resiko infeksi
berhubungan dengan
NIC
Immune status
prosedur insisi Knowledge: infection control Risk control
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama.. pasien tidak mengalami infeksi dengan kriteria hasil:
o Klien bebas dari tanda dan
gejala infeksi
o Menunjukan kemampuan
untuk mencegah timbulnya infeksi
o Jumlah leukosit dalam batas
normal
o Menunjukan prilaku hidup
sehat
o Status imun,
gastrointestinal dalam batas normal
Pertahankan teknik aseptif
Batasi pengunjung bila perlu
Cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan keperawatan
Gunakan baju, sarung tangan sebagai alat pelindung
Ganti letak IV perifer dan dressing sesuai dengan petunjuk umum
Gunakan kateter intermiten untuk menurunkan infeksi kandung kencing
Tingkatkan intake nutrisi
Berikan terapi antibiotic
Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan local
Inspeksi kulit dan membrane mukosa terhadap kemerahan, panas, drainase
Monitor adanya luka
Dorong masukan cairan 4. Gangguan pola tidur
berhubungan dengan
nyeri
NOC
Anxiety Control Comfort Level Pain Level
Rest : Extent andPattern Sleep : Extent and Pattern Setelah dilakukantindakan
keperawatanselama …. Gangguanpola tidur pasien teratasidengan kriteria hasil:
NIC
Sleep Enhancement
Determinasi efek-efek medikasi terhadap pola tidur
Jelaskan pentingnya tidur yang Adekuat
Fasilitasi untuk mempertahankan aktivitas sebelum tidur (membaca)
38 o Jumlah jam tidurdalam batas
normal
o Pola tidur,kualitasdalam batas
normal
o Perasaan
freshsesudahtidur/istirahat
o Mampumengidentifikasi
hal-halyang
meningkatkan tidur
Kolaburasi pemberian obat tidur
5. Perubahan eliminasi
urine berhubungan
dengan ketidakmampuan miksi
NOC
Setelah dilakukan asuhan keperawatan
selama… diharapkan menunjukan
kontinensia urine dengan kriteria hasil:
o Infeksi saluran kemih sel darah
putih <100.000
o Kebocoran urine diantara
berkemih
o Eliminasi secara mandiri
o Mempertahankan pola
berkemih yang dapat diduga
NIC
Management eliminasi urine
Pantau eliminasi urine, meluputi frekuensi, konsistensi, bau, volume, dan warna
Kumpulkan specimen urine porsi tengah untuk urinalisis
Penyuluhan
Ajarkan klien tentang tanda dan gejala infeksi saluran kemih
Instruksikan klien dan keluarga untuk mencatat haluaran urine
Instruksikan klien untuk berespon segera terhadap kebutuhan eliminasi
Ajarkan klien untuk minum 200ml cairan pada saat makandiantara waktu makan dan diawal petang
cairan berhubungan
dengan perdarahan
sekunder dari atony uterus
Fluid balance Hydration
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan, pasien tidak mengalami kekurangan volume cairan dengan kritria hasil:
o Mempertahankan urin
output sesuai dengan usia dan BB
o Tekanan darah, nadi, suhu
tubuh dalam batas normal
o Tidak ada tanda-tanda
dehidrasi
o Elektrolit, Hb, Hmt dalam
batas normal
o pH urin dalam batas normal
o Intake oral dan intravena
adekuat
Fluid management
Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
Monitor status hidrasi (kelembaban membrane mukosa)
Monitor hasil lab yang sesuai dengan retensi cairan (BUN, Hmt, osmolalitas urin, albumin, total protein)
Monitor vital sign setiap 15 menit-1 jam
Monitor status nutrisi
Berikan penggantian nasogatrik sesuai output (50-100 cc/jam)
Dorong keluarga untuk membantu pasien makan
Atur kemungkinan tranfusi
Pasang kateter jika perlu
Monitor intake dan urin output setiap 8 jam
7. Konstipasi berhubungan
dengan penurunan
peristaltik
NOC
Setelah dilakukan asuhan keperawatan
selama… diharapkan tidak terjadi
konstipasi dengan kriteria hasil:
o Mudah mengeluarkan tinja
o Ada bising usus
o Ada keadekuatan otot untuk
mengeluarkan tinja
o Mengeluarkan tinja tanpa
NIC
40
bantuan
o Warna, bau, lemak tinja dalam
batas normal
o Mempertahankan pengeluaran
tinja lunak dan berbentuk setiap 1-3 hari tanpa dipaksa
o Urine output dalam batas
normal ( 0,5-1cc/KgBB/Jam)
Prolaps rectal management 1. Ongoing assesment
Monitor tanda dan gejala diare, konstipasi, atau pengeluaran tinja
Montor gerkan isi usus, termasuk frekuensi, konsistensi, bentuk, volume dan warna jika perlu
Monitor bising usus
2. Nursing therapeutic intervention
Konsultasi dengan dokter tentang penurunan atau peningkatan bising usus
Identifikasi faktor-faktor penyebab konstipasi
Anjurkan peningkatan intake cairan
Catat input dan output secara akurat
3. Health education
Instruksikan klien/keluarga
mencatat warna, volume,
frekuensi, dn konsistensi tinja
Mengajarkan kepada
klien/keluarga bagaimana
menyimpan makanan
Mengajarkan makanan yang
keteraturan peistaltik
Menjelaskan kepada klien/keluarga mengenai hubungan diet, latihan, dan intake cairan dengan konstipasi/pengerasan tinja.
8. Defisiensi pengetahuan berhubungan kurangnya informasi
NOC
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama.. diharapkan pengetahuan bertambah dengan kriteria hasil:
o Mengerti apa yang
dimaksudkan
o Mengerti manfaatnya
o Menjelaskan kembali yang
sudah dijelaskan
NIC
Teaching: disease process
Beri penilaian tentang tingkat pengetahuan pasien
Jelaskan tentang apa yang tidak diketahui
Jelaskan tentang manfaatnya
42
C. Masa Nifas
1. Definisi
Masa nifas adalah suatu periode dalam minggu-minggu pertama setelah
kelahiran. Lamanya “Periode” ini tidak pasti, sebagian besar menganggapnya antara 4
sampai 6 minggu. Walaupun merupakan masa yang relatif tidak
kompleksdibandingkan dengan kehamilan, nifas ditandai oleh banyak perubahan
fisiologis. Beberapa dari perubahan tersebut mungkin hanya sedikit mengganggu ibu
baru, walaupun komplikasi serius juga dapat terjadi (kanotra,2010).
Masa nifas disebut juga masa post partum atau puerperium yaitu masa atau
waktu sejak bayi dilahirkan dan plasenta keluar lepas dari rahim, sampai enam
minggu berikutnya, disertai dengan pulihnya kembali organ-organ yang berkaitan
dengan kandungan, yang mengalami perubahan seperti perlukaan dan lain sebagainya
berkaitan saat melahirkan ( Suherni, 2009).
2. Tahap Masa Nifas
Periode masa nifas di bagi menjadi tiga, yaitu sebagai berikut:
2.1. Periode immediate postpartum
Masa segera setelah plasenta lahir sampai dengan 24 jam.pada masa ini sering
terdapat banyak masalah seperti pendarahan
2.2. Periode Early postpartum (24 jam-1 minggu)
Masa dimana involsi uterus harus dipastikan dalam keadaan normal,tidak ada
pendarahan,lokea tidak berbau busuk,tidak demam,ibu cukup mendapatkan
makanan dan cairan,serta ibu dapat menyusui dengan baik.
2.3. Periode Latei Postpartum (1-5 minggu)
Masa di mana perawatan dan pemeriksaan kondisi sehari-hari,serta konseling
3. Invoulsi dan Subinvoulsi
Involusi adalah berhasilnya proses perubahan fisiologis pada sisitem
reproduksi pada masa nifas yang terjadi pada setiap organ dan saluran yang
reproduktif ke bentuk normal atau sebelum hamil.
Subinvolusiadalah kegagalan perubahan fisiologis pada sisitem reproduksi
pada masa nifas yang terjadi pada setiap organ dan saluran yang reproduktif.
Subinvoulsi dapat terjadi pada:
3.1. Uterus
3.2. Tempat plasenta
3.3. Ligmen
3.4. Serviks
3.5. Lochia
3.6. Vulva
3.7. Perineum
4. Uterus
Subinvolusi uterus adalah kegagalan uterus untuk mengikuti pola normal
involusi/ proses involusi rahim tidak berjalan sebagai semestinya sehingga proses
pengecilan uterus terhambat.
Subinvolusi merupakan istilah yang dipergunakan untuk menunjukan
kemunduran yang terjadi pada setiap organ dan saluran reproduktif kadang lebih
banyak mengarah secara spesifik pada kemunduran uterus yang mengarah
keukurannya (varney’s midwifery)
4.1 Tandadan gejala
Fundus uteri letaknya tetap tinggi di dalam abdomen/pelvis dari yang
44
4.1.1. Konsistensi utererus lembek
4.1.2. Pengeluaran lochea seringkali gagal berubah
4.1.3. Terdapat bekuan darah
4.1.4. Lochea berbau menyengat
4.1.5. Uterus tidak berkontraksi
4.1.6. Pucat, pusing dan tekanan darah rendah serta suhu tubuh tinggi
4.2 Penyebab
4.2.1. Terjadi infeksi pada miometrium
4.2.2. Terdapat sisa plasenta dan selaput plasenta di dalam uterus
4.2.3. Lochea rubra lebih dari 2 minggu postpartum dan pengeluarannya
lebihbanyak dari yang diperkirakan.
4.3 Terapi
4.3.1. Pemberian antibiotika
4.3.2. Pemberian uterotonika
4.3.3. Pemberian tablet Fe
Selain itu uterus juga mengalaimi involusi uteri
Invoulsi uteri atau penggerutan uterus merupakan suatu proses dimana
uterus kembali ke kondisi sebelum hamil dengan berat sekitar 60 gram. Proses
ini dimulai segera setelah plasenta lahir akibat kontraksi otot otot polos uterus.
Proses involusi uteri pada akhir kala III persalinan, uterus berada digaris
tengah kira kira 2cm dibawah umbilikus dengan fundus bersandar pada
promontorium sakralis. Pada saat ini uterus besarnya kira kira sama dengn
besar uterus sewaktu usia kehamilan 16 minggu dengan berat 1000 gram.
4.4.1. Autolysis merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi
didalam otot uterin. Enzim proteulitik akan mendekatkan jaringan otot
yang telah sempat mengendur hingga 10 kali panjangnya dari semula
dan 5 kali lebar dari semula selama kehamilan. Sitoplasma sel yang
berlebih akan tercerna sendiri hingga tertinggal jaringan fibro elastis
dalam jumlah renik sebagai bukti kehamilan.
4.4.2. Atrofi jaringan merupakan jaringan yang berploriferasi dengan adanya
estrogen dalam jumlah besar kemudian mengalami atrofi sebagai reaksi
terhadap penghentian produksi estrogen yang menyertai pelepasan
plasenta. Selain perubahan atrofi pada otot otot uterus, lapisan desidua
akan mengalami atrofi akan terlepas dan meninggalkan lapisan basal
yang akan beregenerasi menjadi endometrium yang baru
4.4.3. Efek oksitosin membuat itensitas kontraksi uterus meningkat secara
bermakna segera setelah lahir, diduga terjadi sebagai respon penurunan
volume intra uerin yang sangat besar. Hormon oksitosin yang dilepas
dari kelenjar hipofisis memperkuat dan mengatur kontraksi uterus,
menggopresi embuluh darah dan membantu proses homostaksis.
Kontraksi dan retraksi otot uteri akan mengurangi suplai darah ke
uterus.
5. Tempat Plasenta
Subinvolusi tempat plasenta adalah kegagalan bekas tempat implantasi untuk
berubah.
5.1 Tanda dan Gejala
5.1.1. Tempat implantasi masih meninggalkan parut dan menonjol
46
5.2 Penyebab
5.2.1. Tali pusat putus akibat dari traksi yang berlebihan
5.2.2. Inversio uteri sebagai akibat tarikan
5.2.3. Tidak ada regenerasi endometrium ditempat implantasi plasenta
5.2.4. Tidak ada pertumbuhan kelenjar endometrium
6. Ligmen
Subinvolusi ligament adalah kegagalan ligamen dan diafragma pelvis fasia
kembali seperti sedia kala.
6.1 Tanda dan gejala
6.1.1. Ligamentum rotundum masih kendor
6.1.2. Ligamen fasia dan jaringan penunjang serta alat genitalia masih
kendor
6.2 Penyebab
6.2.1. Terlalu sering melahirkan
6.2.2. Faktor umur
6.2.3. Ligamenfasia dan jaringan penunjang serta alat genitalia sudah
berkurang elastisitasnya.
7. Serviks
Subinvolusi Serviksadalah kegagalan serviks berubah kebentuk semula seperti
sebelum hamil.
7.1 Tanda dan gejala
7.1.1. Konsistensi serviks lembek
7.1.2. Perdarahan
7.2 Penyebab
7.2.2. Terjadi ruptur saat persalinan
7.2.3. Lemahnya elastisitas serviks
8. Lochea
Subinvolusi Lochea adalah tidakada perubahan pada konsistensi
lochea.Seharusnya lochea berubah secara normal sesuai dengan fase dan
lamanya postpartum.
8.1 Tanda dan gejala
8.1.1. Perdarahan tidak sesuai dengan fase
8.1.2. Darah berbau menyengat
8.1.3. Perdarahan
8.1.4. Demam, menggigil
8.2 Penyebab
8.1.1. Bekuan darah pada serviks
8.1.2. Uterus tidak berkontraksi
8.1.3. Posisi ibu telentang sehingga menghambat darah nifas untuk
keluar
8.1.4. Tidak mobilisasi
8.1.5. Robekan jalan lahir
8.1.6. Infeksi
9. Vulva
Subinvolusi Vulva dan Vagina adalah tidak kembalinya bentuk dan
konsistensi vulva dan vagina seperti semula setelah beberapa hari
postpartus.
48
9.1.1. Vulva dan vagina kemerahan
9.1.2. Terlihat oedem
9.1.3. Konsistensi lembek
9.2 Penyebab
9.1.1. Elastisitas vulva dan vagina lemah
9.1.2. Infeksi
9.1.3. Terjadi robekan vulva dan vagina saat partus
9.1.4. Ekstrasi kuman
10. Perineum
Subinvolusi Perineum adalah tidak ada perubahan perineum setelah
beberapahari persalinan.
10.1 Tanda dan gejala
10.1.1. Perineum terlihat kemerahan
10.1.2. Konsistensi lembek
10.1.3. Oedem
10.2 Penyebab
10.2.1. Tonus otot perineum sudah lemah
10.2.2. kurangnya elastisitas perineum
10.2.3. infeksi
10.2.4. pemotongan benang catgut terlalu pendek pada saat laseralisasi
sehinggajahitan perineum putus.
11. Tahapan Lokea Masa Nifas
Dengan adannya involsi uterus, maka lapisan luar dari desidua yang
mengelilingi situs plasenta akan menjadi nekrotik (layu/ mati). Desidua
dan desidua tersebut dinamakan lokea, yang biasannya berwarna merah
muda atau putih pucat.
Lochea merupakan ekskresi cairan rahim selama masa nifas. Lochea
mengandung darah dan sisa jaringan desidua yang nekrotik dari dalam
uterus. Lokia mempunyai bau yang amis (anyir) meskipun tidak terlalu
menyengat dan volumenya berbeda-beda pada setiap wanita. Lokia
mengalami perubahan karena proses involusi. Pengeluaran lokia dapat
dibagi menjadi lokia rubra, sanguilenta, serosa dan alba.
Tabel. 2.2 Perbedaan masing-masing locea
Locea Waktu Warna Ciri-ciri
Rubra 1-3 hari
Merah kehitaman Terdiri dari sel desidua, verniks caseosa, rambut lanugo, sisa mekoneum dan sisa darah
Sanguilenta 3-7 hari Putihbercampurmerah Sisa darah bercampur lender
Serosa 7-14 hari
Kekuningan/ kecoklatan
Lebih sedikit darah dan lebih banyak serum, juga terdiri dari leukosit dan robekan laserasi plasenta
Alba >14 hari
Putih Mengandung leukosit,
selaput lendir serviks dan serabut jaringan yang mati.
Umumnya jumlah locea lebih sedikit bila wanita postpartum dalam posisi
berbaring daripada berdiri. Total jumlah rata-rata pengeluaran locea sekitar 240
hingga 270 ml.
D. ASI Eksklusif
1. Definisi
Elisabeth (2015) ASI Eksklusif atau lebih tepat pemberian ASI (Air Susu Ibu)
secara eksekutif adalah bayi hanya diberi ASI saja, sejak usia 30 menit post natal
50
formula, sari buah, air putih, madu, air teh, dan tanpa tambahan makanan padat
seperti buah-buahan, biskuit, bubur susu, bubur nasi, dan nasi tim.
2. Manfaat ASI Eksklusif
2.1Manfaat Bagi Bayi menurut Elisabeth (2015) yaitu:
2.1.1 ASI sebagai nutrisi
ASI merupakan sumber gizi yang sangat ideal dengan komposisi yang
seimbang dan disesuaikan dengan kebutuhan pertumbuhan bayi. ASI
adalah makanan bayi yang paling sempurna baik kualitas maupun
kuantitasnya melalui penatalaksanaan menyusui yang benar, ASI
sebagai makanan tunggal dan cukup memenuhi kebutuhan tumbuh
bayi normal sampai usia 6 bulan.
2.1.2 ASI meningkatkan daya tubuh bayi
2.1.3 ASI sebagai kekebalan
Bayi baru lahir secara alamiah mendapatkan zat kekebalan dari ibunya
melalui plasenta, tetapi kadar zat tersebut akan cepat sekali menurun
segera setelah bayi lahir, padahal bayi sampai usia beberapa bulan
tubuh bayi belum dapat membentuk sendiri zat kekebalan secara
sempurna. Oleh karena itu, kadar zat kekebalan di dalam tubuh bayi
menjadi rendah. Hal ini akan tertutupi jika bayi menkonsumsi ASI.
ASI mengandung zat kekebalan yang akan dilindungi bayi dari bahaya
penyakit dan infeksi, seperti: diare, infeksi telinga, batuk, pilek, dan
penyakit alergi.
Bulan-bulan pertama kehidupan bayi sampai dengan usia 2 tahun
adalah periode di mana terjadi pertumbuhan otak yang sangat pesat.
Periode ini tidak akan terulang lagi selama masa tumbuh kembang
anak. Oleh karena itu kesempatan ini hendaknya dimanfaatkan
sebaik-baiknya agar otak bayi dapat tumbuh optimal dengan kualitas yang
optimal. Pertumbuhan otak adalah faktor utama yang mempengaruhi
perkembangan kecerdasan. Sementara itu pertumbuhan otak sangat
dipengaruhi oleh nutrisi yang diberikan kepada bayi baik dari segi
kualitas maupun kuantitasnya. Nutrisi utama untuk pertumbuhan otak
antara lain: Taurin, Loctosa, DHA, AA, Asam 3, dan
Omega-6. Semua nutrisi yang dibutuhkan untuk itu, bisa didapatkan dari ASI.
2.1.5 ASI meningkatkan jalinan kasih saying
Pada waktu menyusu, bayi berada sangat dekat dalam dekapan ibunya.
Semakin sering bayi berada dalam dekapan ibunya, maka bayi akan
semakin merasakan kasih saying ibunya. Ia juga akan merasa aman,
tentram, dan nyaman terutama karena masih dapat mendengar detak
jantung ibunya yang telah dikenalknya sejak dalam kandungan.
Perasaan terlindungi dan disayangi inilah yang akan menjadi dasar
perkembangan emosi bayi dan membentuk ikatan yang erat antara ibu
dan bayi.
Selain manfaat 4 manfaat pokok di atas, ada beberapa manfaat lain
pemberian ASI bagi bayi yaitu ASI mudah dicerna karena
mengandung enzi pencernaan sehingga bayi yang diberi ASI tidak
mengalami obstipasi (sembelit), dan ASI tidak memberatkan fungsi
52
akan lebih cepat bisa jalan, membantu pembentukan rahang yang
bagus, meningkatkan daya penglihatan dan kepandaian bicara,
mencegah obesitas (kegemukan) pada bayi, dan mencegah anemia
akibat kekurangan zat besi. Selain itu, ASI mengurangi risiko terkena
penyakit diabetes, kanker pada anak, dan diduga mengurangi
kemungkinan menderita penyakit jantung.
2.2Manfaat Menyusui Bagi Ibu menurut Elisabet (2015) yaitu:
2.2.1 Mengurangi pendarahan dan anemia setelah melahirkan serta
mempercepat pemulihan rahim ke bentuk semula
Menyusui bayi segera setelah melahirkan akan meningkatkan kadar
oksitosin di dalam tubuh ibu. Oksitosin berguna untuk proses
konstriksi/penyempitan pembuluh darah di rahim sehingga pendarahan
akan lebih cepat berhenti sehingga kemungkinan terjadi perdarahan
dapat berkurang. Hal ini juga dapat mengurangi terjadinya anemia
pada ibu. Selain itu kadar oksitosin yang meningkat juga sangat
membantu mempercepat rahim kembali menndekati ukuran seperti
sebelum hamil.
2.2.2 Menjarangkan kehamilan
Menyusui/memperikan ASI pada bayi merupakan cara konstrasepsi
alamiah yang aman, murah, dan cukup berhasil.
2.2.3 Lebih cepat langsing kembali
Menyusui memerlukan energi yang besar. Tubuh ibu akan mengambil
sumber energi dari lemak-lemak yang selama hamil terutama dibagian
paha dan lengan atas, sehingga berat badan ibu yang menyusui akan
2.2.4 Mengurangi kemungkinan menderita kanker
Beberapa penelitian menunjukan bahwa menyusui akan mengurangi
kemungkinan terjadinya kanker payudaradan akan mengurangi risiko
ibu terkena penyakit kanker indung telur.
2.2.5 Lebih ekonomis dan murah
ASI adalah jenis makanan bermutu yang murah dan sederhana yang
tidak memerlukan perlengkapan menyusui sehingga dapat menghemat
pengeluaran. Bayi yang diberi ASI eksklusif mempunyai daya tahan
tubuh yang kuat, sehingga bayi akan terhindar dari berbagai macam
penyakit dan infeksi. Hal tersebut akan menghemat pengeluaran untuk
berobat ke dokter atau rumah sakit.
2.2.6 Tidak merepotkan dan hemat waktu
ASI sangat mudah diberikan tanpa harus menyiapkan atau memasak
air, juga tanpa harus mencuci botol. ASI mempunyai suhu yang tepat
sehingga dapat langsung diminumkan pada bayi, tanpa perlu khawatir
terlalu panas dan dingin. ASI dapat diberikan kapan saja, di mana saja
dan tidak perlu takut persendian habis.
2.2.7 Portabel dan praktis
ASI mudah di bawa ke mana-mana (portable), siap kapan saja dan di
mana saja bila dibutuhkan. Pada saat bepergian tidak perlu membawa
peralatan untuk membuat susu serta tidak perlu takut basi karena ASI
di dalam payudara ibu tidak akan pernah basi.
2.2.8 Memberikan kepuasan kepada ibu
Ibu yang berhasil memberikan ASI eksklusif akan merasa puas, bangga
54
E. Perawatan Payudara
Menurut Elisabeth (2015) perawatan payudara adalah suatu tindakan untuk merawat
payudara terutama pada masa nifas (masa menyusui untuk memperlancar pengeluaran
ASI. Perawatan payudara adalah perawatan payudara setelah ibu melahirkan dan
menyusui yang merupakan suatu cara yang dilakukan untuk merawat payudara agar
air susu keluar dengan lancar. Perawatan payudara sangant penting dilakukan selama
hamil sampai masa menyusui. Hal ini dikarenakan payudara merupakan satu-satu
penghasil ASI yang merupakan makanan pokok bayi yang baru lahir sehingga harus
dilakukan sedini mungkin.
1. Tujuan Perawatan Payudara
1.1Memelihara hygene payudara
1.2Melenturkan dan menguatkan putting susu
1.3Payudara yang terawat akan memproduksi ASI cukup untuk kebutuhan bayi
1.4Dengan perawatan payudara yang baik ibu tidak perlu khawatir bentuk
payudara akan cepat berubah sehingga kurang menarik
1.5Dengan perawatan payudaran yang baik putting susu tidak akan lecet sewaktu
dihisap oleh bayi
1.6Melancarkan aliran ASI
1.7Mengatasi putting susu datar atau terbenam supaya dapat dikeluarkan
sehingga siap untuk disusukan kepada bayinya.
2. Waktu Pelaksanaan
2.1Pertama kali dilakukan pada hari kedua setelah melahirkan
2.2Dilakukan mnimal 2x dalam sehari
3. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan
3.1Potong kuku tangan spendek mungkin, serta klikir agar halus dan tidak
melukai payudara
3.2Cuci bersih tangan dan terutama jari tangan
3.3Lakukan pada suasana santai, misalnya pada waktu mandi sore atau sebelum
berangkat tidur.
4. Persyaratan Perawatan Payudara
4.1Pengurutan harus dikerjakan secara sistematis dan teratur minimal dua kali
dalam sehari
4.2Memerhatikan makanan dengan menu seimbang
4.3Memerhatikan kebersihan sehari-hari
4.4Memakai BH yang bersih dan bentuknya yang menyokong payudara
4.5Menghindari rokok dan minum beralkohol
4.6Istirahat yang cukup dan pikiran yang tenang.
5. Alat yang Digunakan
5.1Minyak kelapa atau baby oil
5.2Handuk kering
5.3Washlap
5.4Baskom
5.5Air hangat dan air dingin
5.6Cawan
6. Teknik Perawatan Payudara
6.1Tempelkan kapas yang sudah diberi minyak kelapa atau baby oil selama ± 5
menit, kemudian putting susu dibersihkan
56
6.3Pengurutan dimulai kea rah atas, kesamping, lalu kearah bawah. Dalam
pengurutan dimulai kea rah atas, kesamping, lalu kearah bawah. Dalam
pengurutan posisi tangan kiri kearah sisi kiri, telapak tangan kanan kearah sisi
kanan
6.4Pengurutan diteruskan ke bawah, ke samping selanjutnya melintang, lalu
telapak tangan mengurut kedepan kemudian kedua tangan dilepaskan dari
payudara, ulangi gerakan 20-30 kali
6.5Tangan kiri menopang payudara kiri, lalu tiga jari tangan kanan membuat
gerakan memutar sambil menekan mulai dari pangkal payudara sampai pada
putting susu. Lakukan tahap yang sama pada payudara kanan, lakukan dua kali
gerakan pada tiap payudara
6.6Satu tangan menopang payudara, sedangkan tangan yang lain mengurut
payudara dengan sisi kelingking dari arah tepi kearah putting susu. Lakukan
tahap yang sama pada kedua payudara. Lakukan gerakan ini sekitar 30 kali.
6.7Selesai pengurutan, payudara disiram dengan air hangat dan dingin bergantian
selama ± 5 menit, keringkan payudara dengan handuk bersih kemudian