5.1 Potensi Pendanaan APBD
Realisasi pendapatan Kepulauan Sula tahun 2015 dari data APBD mencapai Rp. 750.484.284.460. Jumlah ini mengalami kenaikan sebesar 50,3 persen dari yang tahun sebelumnya yang penerimaan pendapatanKepulauan Sula berjumlah Rp. 499.256.821.000. Bagian terbesar dari realisasi penerimaan APBD berasal daridana perimbangan sebesar Rp. 663.622.946.000 atau sebesar 88,4 persen dari total penerimaan APBD.
Realisasi belanja pemerintah Kabupaten Kepulauan Sula tahun 2015 mencapai Rp. 786.777.247.030,
pengeluaran lebih besar dibandingkan pendapatan yang diterima oleh pemerintah Kabupaten Kepulauan Sula. Jika
dibandingkan dengan data tahun lalu, tahun 2015 mengalami peningkatan belanja sebesar 78,6 persen. Bagian
terbesar dari realisai belanja pemerintah berasal dari belanja langsung, yaitu sebesar Rp. 516.767.160.990 atau
sebesar 65,7 persen dari total realisasi belanja APBD.
Realisasi Belanja Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sula Menurut Jenis Belanja (ribu rupiah), 2014−2015
Jenis Belanja 2014 2015 1 1. Belanja Tidak Langsung Indirect Expenditure 184 595 381,60 270 010 086,04 1.1 Belanja Pegawai/ Personnel expenditure 173 727 155,20 212 922 707,84
1.2 Belanja Bunga/ Retributions 0 0
1.3 Belanja Subsidi Subsidies Expenditure 2 506 541,00 0
1.4 Belanja Hibah/Grant 250 000,00 23 875 000,00
1.5 Belanja Bantuan Sosial Social Expenditure 3 883 625,00 377 893,20 1.6 Belanja Bagi Hasil kepada Provinsi/Kabupaten/Kota
Sharing Fund Expenditure to Provincial/District/City and Village Government
0 0
1.7 Belanja Bantuan Keuangan kepada Provinsi/ Kabupaten/ Kota dan Pemerintah Desa Financial Assistance Expenditure to Provincial/ District/City and Village Government
3 828 160,4 30 434 485,00
1.8 Belanja Tidak Terduga Unpredicted Expenditure 399 900,00 2 400 000,00 2. Belanja Langsung Direct Expenditure 255 881 633,14 414 605 526 647 2.1 Belanja Pegawai/
Personnel expenditure
28 636 760,50 33 448 224 400
2.2 Belanja Barang dan Jasa Goods and Services Expenditure
108 254 837,08 152 437 392 109
5.2 Potensi Pendanaan APBN
Dana Alokasi Khusus
Dana Alokasi Khusus (DAK) diberikan untuk kegiatan khusus, misalnya: reboisasi, penambahan
sarana pendidikan dan kesehatan, serta bencana alam. Dana Alokasi Khusus, selanjutnya disebut DAK,
adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah tertentu dengan
tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan Daerah dan sesuai dengan
prioritas nasional
Matriks Pendanaan APBD Kabupaten Kepulauan Sula (Ribu Rupiah)
embahasan mengenai aspek keuangan pada dasarnya adalah dalam rangka membuat taksiran dana
yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan pembelanjaan prasarana Kabupaten Kepulauan Sula,
yang meliputi:
1. Pembelanjaan untuk pengoperasiaan dan pemeliharaan prasarana yang telah terbangun;
3. Pembelanjaan untuk pembangunan prasarana baru.
Pembahasan aspek ekonomi disini dilakukan dengan memperhatikan hasil total atau produktifitas atau
keuntungan yang didapat dari semua sumber yang dipakai dalam proyek untuk masyarakat atau perekonomian
secara keseluruhan tanpa melihat siapa yang menyediakan sumber tersebut dan siapa dalam masyarakat yang
menerima hasil proyek tersebut.
Dalam pembahasannya, aspek keuangan dan rencana peningkatan pendapatan daerah Kabupaten
Kepulauan Sula ini akan dibahas mengenai beberapa kajian sebagai berikut :
1. Dasar-dasar Aspek Keuangan Daerah;
2. Profil Keuangan Kabupaten Kepulauan Sula;
3. Analisis Tingkat Kemampuan Keuangan Daerah;
4. Rencana Pembiayaan Program; dan
5. Rencana Peningkatan Pendapatan Daerah.
6.1.
DASAR-DASAR ASPEK KEUANGAN DAERAHDasar-dasar keuangan daerah terdiri dari komponen penerimaan daerah, komponen pengeluaran belanja
daerah, dan komponen pembiayaan. Secara keseluruhan dasar-dasar aspek keuangan daerah tersebut dapat
diuraikan sebagai berikut :
6.1.1. KOMPONEN PENERIMAAN DAERAH
Komponen Penerimaan Pendapatan adalah penerimaan yang merupakan hak pemerintah daerah yang diakui
sebagai penambahan kekayaan bersih. Dimana komponen penerimaan daerah ini terdiri atas :
a. Pendapatan Asli Daerah (PAD).
b. Dana Perimbangan.
c. Pendapatan Lainnya.
Secara keseluruhan, ketiga komponen penerimaan daerah diatas dapat diuraikan sebagai berikut :
A. PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD)
Pendapatan Asli Daerah, selanjutnya disebut PAD merupakan semua penerimaan uang melalui rekening kas
umum daerah, yang menambah ekuitas dana, merupakan hak daerah dalam satu tahun anggaran dan tidak
perlu dibayar kembali, atau dalam pengertian lainnya adalah pendapatan yang diperoleh daerah yang
dipungut berdasarkan Peraturan Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pendapatan asli
daerah bertujuan memberikan kewenangan kepada Pemerintah Daerah untuk mendanai pelaksanaan
otonomi daerah sesuai dengan potensi daerah sebagai perwujudan desentralisasi.
Secara keseluruha Pendapatan Asli Daerah (PAD) bersumber dari :
Pajak-pajak Daerah diatur oleh UU No.34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, dan
Peraturan Pemerintah No.65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah, yang antara lain bersumber dari
beberapa pajak sebagai berikut :
a. Pajak Kendaraan Bermotor;
b. Pajak Kendaraan di Atas Air;
c. Pajak Bea Balik Nama;
d. Pajak Bahan Bakar;
e. Pajak Pengambilan Air Tanah;
f. Pajak Hotel;
g. Pajak Restoran;
h. Pajak Hiburan;
i. Pajak Reklame;
j. Pajak Penerangan Jalan;
k. Pajak Galian Golongan C;
l. Pajak Parkir; dan
m. Pajak lain-lain.
2. Retribusi Daerah
Retribusi Daerah diatur oleh UU No.34 Tahun 2000 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, dan
Peraturan Pemerintah No.66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah, yang antara lain bersumber dari
beberapa retribusi sebagai berikut :
a. Retribusi Pelayanan Kesehatan;
b. Retribusi Pelayanan Persampahan;
c. Retribusi Biaya Cetak Kartu;
d. Retribusi Pemakaman;
e. Retribusi Parkir di Tepi Jalan;
f. Retribusi Pasar;
g. Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor;
h. Retribusi Pemadam Kebakaran; dan lain-lain.
3. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan
Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, antara lain berupa hasil deviden BUMD.
4. Lain-lain PAD yang sah
a. Hasil penjualan kekayaan daerah yang tidak dipisahkan;
b. Jasa giro;
c. Pendapatan bunga;
d. Keuntungan selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing;
e. Komisi, potongan, ataupun bentuk lain sebagai akibat dari penjualan dan/atau pengadaan barang
dan/atau jasa oleh Daerah.
Dalam struktur APBD, jenis pendapatan yang berasal dari Pajak Daerah dan Retribusi Daerah berdasarkan
UU No. 34 Tahun 2000 tentang Perubahan Atas UU No. 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah, dirinci menjadi :
1. Jenis Pajak Propinsi, terdiri atas :
a. Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air;
b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB) dan Kendaraan di Atas Air;
c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor;
d. Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah dan Air Permukaan.
2. Jenis Pajak Kabupaten/Kota, terdiri atas:
a. Pajak Hotel;
b. Pajak Restoran;
c. Pajak Hiburan;
d. Pajak Reklame;
e. Pajak Penerangan Jalan;
f. Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C;
g. Pajak Parkir;
h. Retribusi, dirinci menjadi :
Retribusi Jasa Umum
Retribusi Jasa Usaha
Retribusi Perijinan Tertentu
B. DANA PERIMBANGAN
Dana Perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah
untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Dana Perimbangan bertujuan
mengurangi kesenjangan fiskal antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah dan antar Pemerintah
Prinsip Kebijakan Perimbangan Keuangan, antara lain :
1. Perimbangan keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah adalah suatu sistem
pembagian keuangan yang adil, proporsional, demokratis, transparan, dan efisien dalam rangka
pendanaan penyeleng-garaan Desentralisasi, dengan mempertimbangkan potensi, kondisi, dan
kebutuhan daerah, serta besaran pendanaan penyelenggaraan Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan.
2. Perimbangan Keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah merupakan subsistem
Keuangan Negara sebagai konsekuensi pembagian tugas antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah.
Pemberian sumber keuangan negara kepada Pemerintahan Daerah dalam rangka pelaksanaan
desentralisasi didasarkan atas penyerahan tugas oleh Pemerintah kepada Pemerintah Daerah dengan
memper-hatikan stabilitas dan keseimbangan fiskal. Perimbangan Keuangan antara Pemerintah dan
Pemerintahan Daerah merupakan suatu sistem yang menyeluruh dalam rangka pendanaan
penyelenggaraan asas Desentralisasi, Dekonsentrasi, dan Tugas Pembantuan.
3. Dana Perimbangan selain dimaksudkan untuk membantu Daerah dalam mendanai
kewenangannya, juga bertujuan untuk mengurangi ketimpangan sumber pendanaan pemerintahan
antara Pusat dan Daerah serta untuk mengurangi kesenjangan pendanaan pemerintahan antar-Daerah.
Ketiga komponen Dana Perimbangan merupakan sistem transfer dana dari Pemerintah serta
merupakan satu kesatuan yang utuh.
Secara keseluruhan Dana Perimbangan terdiri atas 3 (tiga) jenis dana, yakni :
1. Dana Bagi Hasil
Dana Bagi Hasil adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah
berdasarkan angka persentase untuk mendanai kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan
Desentralisasi.
Dana Bagi Hasil bersumber dari pajak dan sumber daya alam, dimana dana bagi hasil secara rinci
terbagi atas :
a. Bagi Hasil Pajak (BHP), terdiri dari :
Pajak Bumi dan Bangunan (PBB);
Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB); dan
Pajak Penghasilan Badan maupun Pribadi, Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25 dan Pasal 29
Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Negeri dan PPh Pasal 21.
b. Bagi Hasil Bukan Pajak (BHBP) atau yang berasal dari hasil pengelolaan sumber daya alam, terdiri
dari :
Kehutanan;
Pertambangan umum;
Penambangan minyak bumi;
Pertambangan gas bumi; dan
Pertambangan panas bumi.
2. Dana Alokasi Umum
Dana Alokasi Umum (DAU) dialokasikan kepada daerah dengan tujuan untuk memeratakan
kemampuan keuangan antar daerah dan penyediaan pelayanan publik antar pemerintah daerah di
Indonesia. Dana Alokasi Umum, selanjutnya disebut DAU adalah dana yang bersumber dari pendapatan
APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar-daerah untuk
mendanai kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Jumlah keseluruhan DAU
ditetapkan sekurang-kurangnya 26% (dua puluh enam persen) dari Pendapatan Dalam Negeri Neto
yang ditetapkan dalam APBN.
DAU untuk suatu daerah dialokasikan atas dasar celah fiskal dan alokasi dasar. Keduanya adalah :
a. Celah Fiskal
Celah fiskal adalah kebutuhan fiskal dikurangi dengan kapasitas fiskal Daerah. Kebutuhan fiskal
daerah merupakan kebutuhan pendanaan Daerah untuk melaksanakan fungsi layanan dasar
umum. Layanan dasar publik antara lain adalah penyediaan layanan kesehatan dan pendidikan,
penyediaan infrastruktur, dan pengentasan masyarakat dari kemiskinan. Jumlah penduduk
merupakan variabel yang mencerminkan kebutuhan akan penyediaan layanan publik di setiap
Daerah. Setiap kebutuhan pendanaan diukur secara berturut-turut dengan:
jumlah penduduk
luas wilayah
Indeks Kemahalan Konstruksi
Produk Domestik Regional Bruto per kapita
Indeks Pembangunan Manusia.
Luas wilayah merupakan variabel yang mencerminkan kebutuhan atas penyediaan sarana dan
prasarana per satuan wilayah. Indeks Kemahalan Konstruksi merupakan cerminan tingkat
kesulitan geografis yang dinilai berdasarkan tingkat kemahalan harga prasarana fisik secara relatif
antar-Daerah. Produk Domestik Regional Bruto merupakan cerminan potensi dan aktivitas
perekonomian suatu Daerah yang dihitung berdasarkan total seluruh output produksi kotor dalam
suatu wilayah. Indeks Pembangunan Manusia merupakan variabel yang mencerminkan tingkat
pencapaian kesejahteraan penduduk atas layanan dasar di bidang pendidikan dan kesehatan
Kapasitas Fiskal Daerah merupakan sumber pendanaan daerah yang berasal dari PAD dan Dana
Bagi Hasil. Proporsi DAU antara daerah provinsi dan kabupaten/kota ditetapkan berdasarkan
selisih antara kebutuhan fiskal Daerah dan kapasitas fiskal Daerah.
DAU atas dasar celah fiskal untuk suatu daerah provinsi dihitung berdasarkan perkalian bobot
daerah provinsi yang bersangkutan dengan jumlah DAU seluruh daerah provinsi. Bobot daerah
provinsi merupakan perbandingan antara celah fiskal daerah provinsi yang bersangkutan dan total
celah fiskal seluruh daerah provinsi. DAU atas dasar celah fiskal untuk suatu daerah kota/
kabupaten dihitung berdasarkan perkalian bobot daerah kabupaten/kota yang bersangkutan
dengan jumlah DAU seluruh daerah kabupaten/kota. Bobot daerah kabupaten/kota merupakan
perbandingan antara celah fiskal daerah kabupaten/kota yang bersangkutan dan total celah fiskal
seluruh daerah kabupaten/kota. Daerah yang memiliki nilai celah fiskal sama dengan nol menerima
DAU sebesar alokasi dasar. Daerah yang memiliki nilai celah fiskal negatif dan nilai negatif
tersebut lebih kecil dari alokasi dasar menerima DAU sebesar alokasi dasar setelah dikurangi nilai
celah Fiskal. Daerah yang memiliki nilai celah fiskal negatif dan nilai negatif tersebut sama atau
lebih besar dari alokasi dasar tidak menerima DAU. Data untuk menghitung kebutuhan fiskal dan
kapasitas fiskal diperoleh dari lembaga statistik pemerintah dan/atau lembaga pemerintah yang
berwenang menerbitkan data yang dapat dipertanggungjawabkan.
b. Alokasi Dasar
Alokasi dasar dihitung berdasarkan jumlah gaji Pegawai Negeri Sipil Daerah. Jumlah gaji Pegawai
Negeri Sipil Daerah adalah gaji pokok ditambah tunjangan keluarga dan tunjangan jabatan sesuai
dengan peraturan penggajian Pegawai Negeri Sipil. Pemerintah merumuskan formula dan
penghitungan DAU dengan memperhatikan pertimbangan dewan yang bertugas memberikan
saran dan pertimbangan terhadap kebijakan otonomi daerah. Hasil penghitungan DAU per
provinsi, kabupaten, dan kota ditetapkan dengan Keputusan Presiden. Penyaluran DAU
dilaksanakan setiap bulan masing-masing sebesar 1/12 (satu perdua belas) dari DAU Daerah yang
bersangkutan. Penyaluran DAU dilaksanakan sebelum bulan bersangkutan.
Alokasi DAU secara proporsional menggunakan rumus sebagai berikut:
Besarnya DAU masing-masing daerah =
Bobot daerah bersangkutan
x Jumlah DAU untuk daerah Jumlah bobot seluruh daerah
3. Dana Alokasi Khusus
Dana Alokasi Khusus (DAK) diberikan untuk kegiatan khusus, misalnya: reboisasi, penambahan sarana
pendidikan dan kesehatan, serta bencana alam. Dana Alokasi Khusus, selanjutnya disebut DAK, adalah
dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah tertentu dengan tujuan
untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan Daerah dan sesuai dengan
prioritas nasional.
memenuhi kriteria untuk mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan Daerah. Kegiatan khusus
sesuai dengan fungsi yang telah ditetapkan dalam APBN. Fungsi dalam rincian Belanja Negara antara
lain terdiri atas layanan umum, pertahanan, ketertiban dan keamanan, ekonomi, lingkungan hidup,
perumahan dan fasilitas umum, kesehatan, pariwisata, budaya, agama, pendidikan dan perlindungan
sosial.
Pemerintah menetapkan kriteria DAK yang meliputi kriteria umum, kriteria khusus, dan kriteria teknis.
Kriteria umum ditetapkan dengan mempertimbangkan kemampuan Keuangan Daerah dalam APBD.
Kriteria umum dihitung untuk melihat kemampuan APBD untuk membiayai kebutuhan-kebutuhan dalam
rangka pembangunan Daerah yang dicerminkan dari penerimaan umum APBD dikurangi dengan
belanja pegawai.
a. Kemampuan Daerah (APBD)
Penilaian kemampuan daerah dihitung sebagai berikut :
Penerimaan Umum APBD = PAD + DAU + ( DBH – DBHR) DBH = Dana Bagi Hasil
DBHR = Dana bagi Hasil yang dibagikan merata untuk daerah Belanja Pegawai = Belanja Pegawai Pegawai Negeri Sipil Daerah
Kriteria khusus ditetapkan dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan yang mengatur
tentang kekhususan suatu Daerah dan karakteristik Daerah. Karakteristik Daerah antara lain
adalah daerah pesisir dan kepulauan, daerah perbatasan dengan negara lain, daerah
tertinggal/terpencil, daerah yang termasuk rawan banjir dan longsor, serta daerah yang termasuk
daerah ketahanan pangan.
Kriteria teknis ditetapkan oleh kementerian Negara/departemen teknis. peraturan
perundang-undangan adalah Undang-Undang Kriteria teknis antara lain meliputi standar kualitas/kuantitas
konstruksi, serta perkiraan manfaat lokal dan nasional yang menjadi indikator dalam perhitungan
teknis.
b. Dana Pendamping
Daerah penerima DAK wajib menyediakan Dana Pendamping sekurang-kurangnya 10 (sepuluh
persen) dari alokasi DAK. Dana Pendamping dianggarkan dalam APBD. Namun Daerah dengan
kemampuan fiskal tertentu tidak diwajibkan menyediakan Dana Pendamping
C. LAIN-LAIN PENDAPATAN
Lain-lain Pendapatan bertujuan memberi peluang kepada daerah untuk memperoleh pendapatan selain
pendapatan dari PAD, Dana perimbangan dan Pinjaman daerah. Lain-lain Pendapatan terdiri atas
pendapatan hibah dan pendapatan Dana Darurat.
Pendapatan Hibah adalah Penerimaan Daerah yang berasal dari pemerintah negara asing, badan/lembaga
asing, badan/lembaga internasional, Pemerintah, badan/lembaga dalam negeri atau perseorangan, baik
dalam bentuk devisa, rupiah maupun barang dan/atau jasa, termasuk tenaga ahli dan pelatihan yang tidak
perlu dibayar kembali.
Pendapatan hibah merupakan bantuan yang tidak mengikat. Hibah kepada Daerah yang bersumber dari luar
negeri dilakukan melalui Pemerintah. Hibah dituangkan dalam suatu naskah perjanjian antara Pemerintah
Daerah dan pemberi hibah. Hibah digunakan sesuai dengan naskah perjanjian. Tata cara pemberian,
penerimaan, dan penggunaan hibah, baik dari dalam negeri maupun luar negeri diatur dengan Peraturan
Pemerintah. Pemerintah mengalokasikan Dana Darurat yang berasal dari APBN untuk keperluan mendesak
yang diakibatkan oleh bencana nasional dan/atau peristiwa luar biasa yang tidak dapat ditanggulangi oleh
daerah dengan menggunakan sumber APBD.
Dana Darurat adalah dana yang berasal dari APBN yang dialokasikan kepada daerah yang mengalami
bencana nasional, peristiwa luar biasa, dan/atau krisis solvabilitas. Keadaan yang dapat digolongkan sebagai
bencana nasional dan/atau peristiwa luar biasa ditetapkan oleh Presiden Pemerintah dapat mengalokasikan
Dana Darurat pada daerah yang dinyatakan mengalami krisis solvabilitas. Krisis solvabilitas adalah krisis
keuangan berkepan-jangan yang dialami Daerah selama 2 (dua) tahun anggaran dan tidak dapat diatasi
melalui APBD. Daerah dinyatakan mengalami krisis solvabilitas berdasarkan evaluasi Pemerintah sesuai
dengan peraturan perundang-undangan. Krisis solvabilitas ditetapkan oleh Pemerintah setelah berkonsultasi
dengan Dewan Perwakilan Rakyat.
Lain-lain pendapatan daerah yang sah terdiri atas :
1.Hibah berasal dari pemerintah, pemerintah daerah lainnya, badan/lembaga/organisasi swasta dalam negeri,
kelompok masyarakat/perorangan, dan lembaga luar negeri yang tidak mengikat.
2.Dana darurat dari pemerintah dalam rangka penanggulangan korban/kerusakan akibat bencana alam.
3.Dana Bagi Hasil Pajak dari provinsi kepada kabupaten/kota.
4.Dana Penyesuaian dan dana otonomi khusus yang ditetapkan oleh pemerintah.
5.Bantuan Keuangan dari provinsi atau dari pemerintah daerah lainnya.
6.1.2. KOMPONEN PINJAMAN DAERAH
Pinjaman Daerah adalah semua transaksi yang mengakibatkan Daerah menerima sejumlah uang atau
menerima manfaat yang bernilai uang dari pihak lain sehingga Daerah tersebut dibebani kewajiban untuk membayar
kembali. Pinjaman Daerah bertujuan memperoleh sumber pembiayaan dalam rangka penyelenggaraan urusan
Pemerintahan Daerah. Ketentuan dalam pinjaman daerah ini antara lain :
Pemerintah menetapkan batas maksimal kumulatif pinjaman Pemerintah dan Pemerintah Daerah dengan
memperhatikan keadaan dan prakiraan perkembangan perekonomian nasional. Batas maksimal kumulatif
pinjaman tidak melebihi 60 (enam puluh persen) dari Produk Domestik Bruto tahun bersangkutan. Menteri
Keuangan menetapkan batas maksimal kumulatif pinjaman Pemerintah Daerah secara keseluruhan
selambat-lambatnya bulan Agustus untuk tahun anggaran Berikutnya. Pengendalian batas maksimal
kumulatif Pinjaman Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Daerah tidak dapat melakukan
pinjaman langsung kepada pihak luar negeri. Pelanggaran terhadap ketentuan, dikenakan sanksi administratif
berupa penundaan dan/atau pemotongan atas penyaluran Dana Perimbangan oleh Menteri Keuangan.
B. SUMBER PINJAMAN
Pinjaman Daerah bersumber dari:
1. Pemerintah;
2. Pemerintah Daerah lain;
3. Lembaga keuangan bank;
4. Lembaga keuangan bukan bank;
5. Masyarakat.
Pinjaman Daerah yang bersumber dari Pemerintah diberikan melalui Menteri Keuangan. Pinjaman Daerah
yang bersumber dari masyarakat berupa Obligasi Daerah diterbitkan melalui pasar modal.
C. JENIS DAN JANGKA WAKTU PINJAMAN
Jenis Pinjaman terdiri atas,
1. Pinjaman Jangka Pendek;
2. Pinjaman Jangka Menengah;
3. Pinjaman Jangka Panjang.
Pinjaman Jangka Pendek merupakan Pinjaman Daerah dalam jangka waktu kurang atau sama dengan satu
tahun anggaran dan kewajiban pembayaran kembali pinjaman yang meliputi pokok pinjaman, bunga, dan
biaya lain seluruhnya harus dilunasi dalam tahun anggaran yang bersangkutan. Pinjaman jangka pendek
tidak termasuk kredit jangka pendek yang lazim terjadi dalam jasa tidak dilakukan pada saat barang dan atau
jasa dimaksud diterima. Pinjaman Jangka Menengah merupakan Pinjaman Daerah dalam jangka waktu lebih
dari satu tahun anggaran dan kewajiban pembayaran kembali pinjaman yang meliputi pokok pinjaman,
bunga, dan biaya lain harus dilunasi dalam kurun waktu yang tidak melebihi sisa masa jabatan Kepala
Daerah yang bersangkutan. Pinjaman Jangka Panjang merupakan Pinjaman Daerah dalam jangka waktu
lebih dari satu tahun anggaran dan kewajiban pembayaran kembali pinjaman yang meliputi pokok pinjaman,
bunga, dan biaya lain harus dilunasi pada tahun-tahun anggaran berikutnya sesuai dengan persyaratan
D. PENGGUNAAN PINJAMAN
Pinjaman Jangka Pendek dipergunakan hanya untuk menutup kekurangan arus kas. Pinjaman Jangka
Menengah dipergunakan untuk membiayai penyediaan layanan umum yang tidak menghasilkan penerimaan.
Pinjaman Jangka Panjang dipergunakan untuk membiayai proyek investasi yang menghasilkan penerimaan.
Pinjaman Jangka Menengah dan Jangka Panjang wajib mendapatkan persetujuan DPRD.
E. PERSYARATAN PINJAMAN
Dalam melakukan pinjaman, Daerah wajib memenuhi persyaratan:
1. Jumlah sisa Pinjaman Daerah ditambah jumlah pinjaman yang akan ditarik tidak melebihi 75% (tujuh
puluh lima persen) dari jumlah penerimaan umum APBD tahun sebelumnya.
2. Rasio kemampuan keuangan Daerah untuk mengembalikan pinjaman ditetapkan oleh Pemerintah
3. Daerah tidak mempunyai tunggakan atas pengembalian pinjaman yang berasal dari Pemerintah. Daerah
tidak dapat memberikan jaminan atas pinjaman pihak lain. Pendapatan Daerah dan/atau barang milik
Daerah tidak boleh dijadikan jaminan Pinjaman Daerah. Proyek yang dibiayai dari Obligasi Daerah
beserta barang milik Daerah yang melekat dalam proyek tersebut dapat dijadikan jaminan Obligasi
Daerah.
6.1.3. PENGELUARAN BELANJA
Belanja Daerah dipergunakan dalam rangka mendanai pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi
kewenangan provinsi dan kabupaten/kota. Belanja Daerah merupakan perkiraan beban pengeluaran daerah yang
dialokasikan secara adil dan merata agar relatif dapat dinikmati oleh seluruh kelompok masyarakat tanpa
diskriminasi, khususnya dalam pemberian pelayanan umum. Belanja daerah meliputi semua pengeluaran dari
Rekening Kas Umum Daerah yang mengurangi ekuitas dana lancar, yang merupakan kewajiban daerah dalam satu
tahun anggaran yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh daerah.
A. PENGERTIAN
Pengertian Belanja menurut jenis belanja antara lain :
1. Belanja Pegawai adalah belanja kompensasi, baik dalam bentuk uang maupun barang yang ditetapkan
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang diberikan kepada pejabat negara, Pegawai Negeri
Sipil (PNS), dan pegawai yang dipekerjakan oleh pemerintah yang belum berstatus PNS sebagai
imbalan atas pekerjaan yang telah dilaksanakan kecuali pekerjaan yang berkaitan dengan pembentukan
modal.
2. Belanja Barang adalah pengeluaran untuk menampung pembelian barang dan jasa yang habis pakai
untuk memproduksi barang dan jasa yang dipasarkan maupun tidak dipasarkan, dan pengadaan barang
yang dimaksudkan untuk diserahkan atau dijual kepada masyarakat, belanja pemeliharaan, dan belanja
3. Belanja Bunga adalah pengeluaran pemerintah untuk pembayaran bunga (interest) atas kewajiban
penggunaan pokok hutang (principal outstanding) yang dihitung berdasarkan posisi pinjaman jangka
pendek dan jangka panjang.
4. Subsidi yaitu alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan/lembaga yang memproduksi,
menjual, atau mengimpor barang dan jasa untuk memenuhi hajat hidup orang banyak sedemikian rupa
sehingga harga jualnya dapat dijangkau masyarakat.
5. Hibah adalah pengeluaran pemerintah dalam bentuk uang/barang atau jasa kepada pemerintah atau
pemerintah lainnya, perusahaan daerah, masyarakat, dan organisasi kemasyarakatan yang secara
spesifik telah ditetapkan peruntukannya, bersifat tidak wajib dan tidak mengikat, serta tidak secara
terus-menerus.
6. Bantuan sosial adalah transfer uang atau barang yang diberikan kepada masyarakat guna melindungi
dari kemungkinan terjadinya resiko sosial. Bantuan sosial dapat langsung diberikan kepada anggota
masyarakat dan/atau lembaga kemasyarakatan termasuk di dalamnya bantuan untuk lembaga non
pemerintah bidang pendidikan dan keagamaan.
7. Belanja modal adalah pengeluaran anggaran untuk perolehan aset tetap dan aset lainnya yang memberi
manfaat lebih dari satu periode akuntansi.
8. Belanja lain-lain/tak terduga adalah pengeluaran anggaran untuk kegiatan yang sifatnya tidak biasa dan
tidak diharapkan berulang seperti penanggulangan bencana alam, bencana sosial, dan pengeluaran
tidak terduga lainnya yang sangat diperlukan dalam rangka penyelenggaraan kewenangan pemerintah
pusat/daerah.
B. KOMPONEN PENGELUARAN BELANJA
Komponen pengeluaran belanja secara menyeluruh terdiri dari 4 (empat) jenis pembelanjaan, keempat jenis
pembelajaan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Belanja Operasi
2. Belanja Modal
3. Tranfer ke Desa/kelurahan
4. Belanja tak Terduga.
Sub-komponen dari keempat Pengeluaran Belanja Daerah diatas meliputi:
1. Belanja Operasi
a. Belanja Pegawai
b. Belanja Barang
c. Belanja Bunga
e. Belanja Hibah
f. Belanja Bantuan Sosial
2. Belanja Modal
a. Belanja Tanah
b. Belanja Peralatan dan mesin
c. Belanja Gedung dan bangunan
d. Belanja Jalan dan Jaringan
e. Belanja Aset Tetap Lainnya
f. Belanja Aset Lainnya
3. Transfer ke Desa/Kelurahan
a. Bagi hasil Pajak
b. Bagi Hasil Retribusi
c. Bagi Hasil Pendapatan Lainnya
4. Belanja tak Terduga
C. PEDOMAN PERENCANAAN BELANJA
Perencanaan belanja daerah mengikuti pedoman sebagai berikut :
1. Belanja daerah diprioritaskan untuk meningkatkan kewajiban daerah dalam meningkatkan kualitas
kehidupam masyarakat yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan :
a. Pelayanan dasar berupa pendidikan dan kesehatan.
b. Fasilitas sosial.
c. Fasilitas umum.
2. Belanja daerah disusun berdasarkan
a. Standar pelayanan minimal.
b. Standar analisis belanja.
c. Standar harga.
d. Tolak ukur kinerja.
3. Belanja DPRD meliputi:
a. Penghasilan pimpinan dan anggota DPRD.
b. Tunjangan kesehatan.
c. Uang jasa pengabdian.
Anggaran tersebut harus mencerminkan efisiensi, efektifitas dengan memperhatikan aspek keadilan dan
kepatutan.
4. Belanja Kepala daerah dan wakil Kepala daerah
Anggaran Belanja Kepala daerah dan wakil Kepala daerah harus mencerminkan efisiensi, efektifitas
dengan memperhatikan aspek keadilan dan kepatutan.
D. KELOMPOK BELANJA
Menurut Permendagri No.13 Tahun 2006, Belanja Daerah dibagi ke dalam dua kelompok, yakni :
1. Kelompok Belanja Tidak Langsung
Belanja Tidak Langsung adalah belanja yang dianggarkan tidak terkait secara langsung dengan
pelaksanaan program dan kegiatan. Belanja Tidak Langsung terdiri dari :
a. Belanja Pegawai;
b. Belanja Bunga;
c. Belanja Subsidi;
d. Belanja Hibah;
e. Belanja Bantuan Sosial;
f. Belanja Bagi Hasil;
g. Belanja Bantuan Keuangan;
h. Belanja tak Terduga.
2. Kelompok Belanja Langsung
Belanja Langsung adalah belanja yang dianggarkan terkait secara langsung dengan pelaksanaan
program dan kegiatan. Belanja Langsung terdiri dari :
a. Belanja Pegawai;
b. Belanja Barang dan Jasa;
c. Belanja Modal.
6.1.4. KOMPONEN PEMBIAYAAN
Pembiayaan (financing) adalah seluruh transaksi keuangan pemerintah, baik penerimaan maupun
pengeluaran, yang perlu dibayar atau akan diterima kembali, yang dalam penganggaran pemerintah terutama
dimaksudkan untuk menutup defisit dan atau memanfaatkan surplus anggaran. Dengan demikian, Pembiayaan
Daerah terdiri dari Penerimaan Pembiayaan dan Pengeluaran Pembiayaan. Selisih dari Penerimaan Pembiayaan
dan Pengeluaran Pembiayaan disebut Pembiayaan Netto dan jumlahnya harus dapat menutup defisit anggaran.
Penerimaan pembiayaan antara lain dapat berasal dari pinjaman, dan hasil divestasi. Sementara, pengeluaran
pembiayaan antara lain digunakan untuk pembayaran kembali pokok pinjaman, pemberian pinjaman kepada entitas
Umum Negara/Daerah antara lain berasal dari penerimaan pinjaman, penjualan obligasi pemerintah, hasil privatisasi
perusahaan negara/daerah, penerimaan kembali pinjaman yang diberikan kepada pihak ketiga, penjualan investasi
permanen lainnya, dan pencairan dana cadangan. Secara keseluruhan untuk Komponen Pembiayaan Daerah diatur
dalam beberapa sub komponen sebagai berikut :
1. Penerimaan Pembiayaan, terdiri dari :
a. Penggunaan SILPA atau Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran Sebelumnya;
b. Pencairan dana Cadangan;
c. Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan;
d. Pinjaman dalam Negeri-Pemerintah Pusat;
e. Pinjaman dalam Negeri-Pemda lain;
f. Pinjaman dalam Negeri-Bank;
g. Pinjaman dalam Negeri-Non bank;
h. Pinjaman dalam Negeri-Obligasi;
i. Pinjaman dalam Negeri-Lainnya;
j. Penerimaan kembali pinjaman kepada perusahaan negara;
k. Penerimaan kembali pinjaman kepada perusahaan daerah;
l. Penerimaan kembali pinjaman kepada Pemda Lainnya.
2. Pengeluaran Pembiayaan, terdiri dari :
a. Pembentukan dana cadangan;
b. Penanaman modal Pemerintah daerah;
c. Pembayaran Pokok Pinjaman DN- Pemerintah Pusat;
d. Pembayaran Pokok Pinjaman DN-Pemda Lainnya;
e. Pembayaran Pokok Pinjaman DN- Bank;
f. Pembayaran Pokok Pinjaman DN-Non Bank;
g. Pembayaran Pokok Pinjaman DN- Obligasi;
h. Pembayaran Pokok Pinjaman Lainnya;
i. Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Negara;
j. Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Daerah;
k. Pemberian Pinjaman kepada Pemda Lainnya.
Profil keuangan daerah dalam penyusunan RPIJMD ini bertujuan untuk membuat taksiran dana yang tersedia
untuk memenuhi kebutuhan Investasi Program di Bidang Pekerjaan Umum/Ciptakarya di Kabupaten Kepulauan
Sula.
Profil Keuangan Kabupaten Kepulauan Sula secara keseluruhan terdiri dari 2 (dua) komponen bahasan, yakni
perekonomian wilayah dan keuangan daerah. Dimana untuk komponen perekonomian wilayah akan dikaji mengenai
struktur ekonomi, tingkat inflasi, eksport import, dan PDRB Kabupaten Kepulauan Sula dalam time series data
terakhir. Sedangkan untuk komponen keuangan daerah akan dikaji mengenai pendapatan daerah dan realisasi
pembelanjaan daerah melalui APBD Kabupaten Kepulauan Sula berdasarkan time series data terakhir.
Gambaran umum kondisi keuangan daerah dipergunakan untuk mengetahui:
1. Struktur anggaran pendapatan dan belanja daerah yang mencakup :
a. Struktur Penerimaan Daerah
b. Struktur belanja daerah
2. Trend perkembangan penerimaan.
3. Trend besaran penerimaan dana pembantuan dari pemerintah atasan.
4. Profil perkembangan APBD.
5. Keuangan Perusahaan Daerah.
6.2.1. PEREKONOMIAN WILAYAH
Berdasarkan kajian dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Kepulauan Sula, Perekonomian
Kabupaten Kepulauan Sula tumbuh sebesar 5,14%, dan semua sektor perekonomian mengalami pertumbuhan
positif. Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh sektor perdagangan, restoran dan hotel sebesar 10,32%, sedangkan
sektor pertanian tumbuh sebesar 5,44% dan sektor industri pengolahan tumbuh sangat kecil 0,2%. Kondisi ini
mengharuskan Kabupaten Kepulauan Sula mengkaji dan mengembangkan secara lebih fokus industri-industri
pengolahan yang ada di daerah. Sedangkan pendapatan perkapita Kabupaten Kepulauan Sula relatif masih kecil
dibandingkan dengan pendapatan perkapita provinsi atau nasional, namun dalam perkembangnnya hingga tahun
2006 menunjukan peningkatan, tahun 2006 pendapatan perkapita mencapai Rp. 2.704.311 atau menigkat 9,66%
bila dibandingkan tahun 2005.
A. STRUKTUR EKONOMI, TINGKAT INFLASI, DAN EKSPORT-IMPORT
Struktur ekonomi Kabupaten Kepulauan Sula didominasi oleh tiga sektor utama yakni sektor pertanian,
industri pengolahan, serta sektor perdagangan, hotel dan restoran. Peranan dari ke tiga sektor ini sekitar
81,82% terhadap pembentukan PDRB Kabupaten Kepulauan Sula, dan selama periode 2000 – 2006 pola
pergeserannya tetap tidak banyak mengalami perubahan. Ini berarti ketiga sektor ini menjadi sektor basis
yang harus terus dikembangkan dan menjadi leading sektor perekonomian daerah yang akan menarik sektor
Sektor pertanian tetap menjadi sektor andalan Kabupaten Kepulauan Sula dengan sumbangannya mencapai
40,22% dari total PDRB Kabupaten. Sektor perdagangan, hotel, restoran menempati peringkat kedua dengan
kontribusi sebesar 22,11% dengan basis pada sub sektor perdagangan besar dan eceran yang mencapai
98% terhadap pertumbuhan sektor ini. Sektor industri pengolahan berkontribusi sebesar 18,95%.
Tingkat infalsi di Kabupaten Kepulauan Sula selama tahun 2006 mengalami peningkatan, ini menunjukan
bahwa daerah belum mampu mempertahankan kestabilan harga barang-barang di daerah, hal ini
dimungkinkan dengan kondisi Kabupaten Kepulauan Sula yang sangat terbatas terhadap barang-barang dan
jasa-jasa yang masuk kedalam Kabupaten dan produksi yang dihasilkan oleh daerah. Pada tahun 2006
indeks harga implisit PDRB Kabupaten Kepulauan Sula sebesar 128,98%, lebih tinggi dibanding tahun 2005
yaitu sebesar 120,44%. Ini berarti telah terjadi kenaikan tingkat inflasi mencapai 8,42% selama tahun 2006.
Kabupaten Kepulauan Sula merupakan salah satu daerah konsumtif, karena hampir sebagian besar
kebutuhan pokok seperti barang strategis (peralatan, perlengkapan dan barang-barang yang digunakan untuk
pengembangan usaha/industri seperti semen, pupuk, dan lain-lain) dan barang konsumsi (sandang, pangan
dan papan) masih didatangkan dari luar, untuk komoditas perkebunan yang memang pasarnya potensi untuk
ekspor.
Kopra merupakan komoditi yang cukup besar di ekspor oleh Kabupaten Kepulauan Sula mencapai sebesar
71.280.000 Kg, Kayu Lapis sebesar 21.932,827 Ton, Kayu Olahan sebesar 7.344.606 M3, Kayu Bulat
sebesar 11.565 M3, Pala sebesar 68.000 Kg, dan Coklat sebesar 3.911.000 Kg.
B. PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO (PDRB)
Pada hakekatnya, pembangunan ekonomi adalah serangkaian usaha dan kebijaksanaan yang bertujuan
untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat, memperluas lapangan kerja meratakan pembagian pendapat
masyarakat, meningkatkan hubungan ekonomi regional dan mengusahakan pergeseran kegiatan ekonomi
dari sektor primer ke sektor sekunder dan tersier. Salah satu indikator terpenting untuk melihat seberapa
besar pembangunan ekonomi berjalan adalah dari kajian PDRB.
PDRB merupakan nilai tambah bruto seluruh barang dan jasa yang tercipta atau dihasilkan di wilayah
domestik suatu daerah yang timbul akibat berbagai aktivitas ekonomi dalam suatu periode tertentu tanpa
memperhatikan apakah faktor produksi dimiliki oleh daerah atau di luar daerah.
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Kepulauan Sula atas dasar harga berlaku pada tahun
2006 mencapai nilai 344.824 juta rupiah, sedangkan atas dasar harga konstan sebesar 267.338 juta rupiah.
Sebagaimana PDRB Kabupaten Kepulauan Sula pada tahun-tahun sebelumnya, PDRB pada tahun 2006
masih didominasi oleh sektor pertanian, sektor perdagangan, hotel dan restoran, serta sektor industry. Sektor
pertanian menduduki peringkat pertama dengan kontribusi sebesar 40,22%, disusul secara berturut-turut oleh
Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran sebesar 22,11%, Sektor Industri Pengolahan sebesar 18,95%,
Persewaan dan Jasa Perusahaan sebesar 3,08%, Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih sebesar 0,86%, Sektor
Bangunan sebesar 0,75%, Sektor Pertambangan dan Penggalian sebesar 0,26%.
Untuk lebih jelasnya mengenai PDRB Kabupaten Kepulauan Sula atas dasar harga berlaku menurut
lapangan usaha Tahun 2003–2007 dan atas dasar harga konstan Tahun 2000 menurut lapangan usaha
dapat dilihat pada Tabel 6.1. dan Tabel 6.2
TABLE 6.1.
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO (PDRB) KABUPATEN KEPULAUAN SULA ATAS DASAR HARGA BERLAKU MENURUT LAPANGAN USAHA TAHUN 2003 – 2007 (JUTA RIPIAH)
NO LAPANGAN USAHA 2003 2004 2005 2006* 2007*
1 PERTANIAN 93,795.79 102,922.20 116,489.70 138,672.00 151,605.27
a.Tanaman Bahan Makanan 21,610.59 24,598.42 27,762,23 31,333.00 33,031.52
b.Tanaman Perkebunan 47,277.61 47,536.98 49,612.80 58,616.00 67,480.45
c.Peternakan dan Hasil – Hasilnya 3,558.78 4,295,28 5,181.18 6,250.00 6,348.27
d.Kehutanan 6,103.24 9,801.12 15,605.50 22,347.00 22,709.44
e.Perikanan 15,245.57 16,690.41 18,327.99 20,126.00 22,035.59
2 PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN 331.21 620.17 751.86 912.00 971.51
a.Penggalian 331.21 620.17 751.86 912.00 971.51
3 INDUSTRI PENGOLAHAN 58,662.40 59,012.00 62,954.51 65,346.00 68,232.94
a.Industri Tanpa Mgas*) 58,662.40 59,012.00 62,954.51 65,346.00 68,232.94
4 LISTRIK, GAS DAN AIR BERSIH 1,617.10 2,027.97 2,531.13 2,967.00 3,331.50
a.Listrik 462.14 535.89 614.48 705.00 743.42
b.Air Bersih 1,154.97 1,492.08 1,916.65 2,262.00 2,588.08
5 BANGUNAN 2,210.14 2,215.00 2,389.47 2,578.00 2,953.43
6 PERDAGANGAN, HOTEL DAN RESTORAN 53,701.70 60,638.99 67,981.20 76,243.00 89,029.23
a.Perdagangan Besar dan Restoran 52,638.83 59,437.39 66,598.47 74,622.00 87,213.21
b.Hotel 416.84 551.60 729.52 965.00 1,032.35
c.Restoran 646.03 650.00 653.21 656.00 783.67
7 PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI 17,656.43 23,251.16 32,241.70 35,297.00 39,497.67
a.Pengankutan 12,660.28 14,473.20 16,842.03 19,580.00 21,909.42
1. Angkutan Jalan Raya 2,477.92 3,138.65 3,960.58 4,298.00 4,589.84
2. Angkutan Laut 6,034,30 6,636.68 7,449.79 8,363.00 9,231.86
3. Angkutan Sungai, Danau & Penyelor 478.59 648.25 850.73 1,016.00 1,049.47
4. Angkutan Udara 2,768.11 2,803.44 2,847.49 3,892.00 4,670.08
5. Jasa penunjang Angkutan 901,36 1,246.17 1,733.44 2,011.00 2,368.17
b.Komunikasi 4,996.15 8,777.96 15,399.67 15,717.00 17,588.25
1. Pos dan Telokomunikasi 4,996.15 8,777.96 15,399.67 15,717.00 17,588.25
2. Jasa Penunjang Komunikasi 0.00 0.00 0.00 0.00
8 KEUANGAN PERSEWAAN DAN JASA PERUSAHAAN 8,263.73 9,211,37 9,888.37 10,622.00 11,998.36
a.Bank 1,432.37 1,449.00 1,464.55 1,480.00 1,722.82
b.Lembaga Keungan Tanpa Bank 1,039.18 1,150.60 1,277.92 1,419.00 1,631.39
c.Sewa Bangunan 5,619.98 6,433.77 6,962.31 7,534.00 8,442.62
d.Jasa Perusahaan 172.19 178.00 183.59 189.00 201.53
9 JASA - JASA 10,616.91 10,831.89 11,004.64 12,187.00 13,576.88
b.Swasta 3,060.56 3,247.03 3,406.86 3,576.00 3,960.47
1. Sosial Kemasyarakatan 1,103.50 1,186.89 1,270.43 1,360.00 1,498.54
2. Hiburan dan Rekreasi 893.11 947.09 996.73 1,049.00 1,149.32
3. Perorangan & Rumah Tangga 1,083.95 1,113.05 1,139.69 1,167.00 1,312.61
PDRB 246,845.41 270,730.75 306,232.58 344,824.00 381,178.79
*) Angka Sementara
Sumber : Hasil Olahan Data Tahun 2009
TABLE 6.2
PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO (PDRB) KABUPATEN KEPULAUAN SULA ATAS DASAR HARGA KONSTAN 2000 MENURUT LAPANGAN USAHA TAHUN 2003 – 2007 (JUTA RIPIAH)
NO LAPANGAN USAHA 2003 2004 2005 2006* 2007*
1 PERTANIAN 85,348.60 88,600.73 90,486.82 95,411.00 102,706.37
a.Tanaman Bahan Makanan 19,453.97 20,040.58 20,468.52 20,906.00 21,214.34
b.Tanaman Perkebunan 45,564.00 47,406.00 48,007.05 51,780.00 58,155.19
c.Peternakan dan Hasil – Hasilnya 3,122.00 3,125.00 3,126.18 3,127.00 3,163.27
d.Kehutanan 6,063.09 6,662.33 7,236.70 7,672.00 7,739.06
e.Perikanan 11,445.53 11,376.82 11,648.37 11,926.00 12,434.51
2 PERTAMBANGAN DAN PENGGALIAN 274.00 313.74 336.60 341.00 360.90
a.Penggalian 274.00 313.74 366.60 341.00 360.90
3 INDUSTRI PENGOLAHAN 57,002.00 58,913.99 60,690.75 60,821.00 61,498.18
a.Industri Tanpa Mgas*) 57,002.00 58,913.99 60,690.75 60.821.00 61,498.18
4 LISTRIK, GAS DAN AIR BERSIH 1,183.36 1,285.25 1,386.36 1,487.00 1,577.80
a.Listrik 400.00 420.00 463.07 443.00 450.24
b.Air Bersih 783.36 865.25 950.28 1,044.00 1,127.56
5 BANGUNAN 2,044.48 2,096.32 2,313.69 2,444.00 2,598.09
6 PERDAGANGAN, HOTEL DAN RESTORAN 52,807.3 58,816.41 64,370.75 71,015.00 74,988.85
a.Perdagangan Besar dan Restoran 52,002.00 57,634.92 63,387.31 69,954.00 73,848.23
b.Hotel 202.86 276.49 376.62 452.00 471.11
c.Restoran 602.47 605.00 606.81 609.00 669.51
7 PENGANGKUTAN DAN KOMUNIKASI 14,695.77 15,155.23 15,758.47 16,395.00 17,967.66
a.Pengankutan 11,873.51 12,323.93 12,920.88 13,552.00 14,795.67
1. Angkutan Jalan Raya 2,400.00 2,421.00 2,432.98 2,617.00 2,745.29
2. Angkutan Laut 5,822.85 5,929.28 6,162.22 6,404.00 6,762.67
3. Angkutan Sungai, Danau & Penyelor 400.35 431.36 450.31 470.00 481.46
4. Angkutan Udara 2,398.64 2,632.28 2,897.09 3,009.00 3,585.72
5. Jasa penunjang Angkutan 851.67 910.01 978.29 1,052.00 1,220.53
b.Komunikasi 2,822.26 2,832.00 2,837.59 2,843.00 3,171.99
1. Pos dan Telokomunikasi 2,822.26 2,,832.00 2,837.59 2,843.00 3,171.99
2. Jasa Penunjang Komunikasi 0.00 0.00 0,00 0.00 0.00
8 KEUANGAN PERSEWAAN DAN JASA PERUSAHAAN 7,418.35 8,042.14 8,370.08 8,714.00 9,652.35
a.Bank 955.44 960.00 963.77 968.00 1,075.26
b.Lembaga Keungan Tanpa Bank 1,035.68 1,103.56 1,171.60 1,244.000 1,354.32
c.Sewa Bangunan 5,278.24 5,828.57 6,084.06 6,351.00 7,063.64
d.Jasa Perusahaan 149.02 150.00 150.65 151.00 159.13
9 JASA - JASA 10,170.63 10,386.64 10,556.94 10,710.00 11,016.69
b.Swasta 2,903.07 2,988.51 3,061.31 3,116.00 3,181.65
1. Sosial Kemasyarakatan 997.56 1,021.51 1,040.98 1,061.00 1,078.65
2. Hiburan dan Rekreasi 874.50 902.00 9,23.33 945.00 964.32
3. Perorangan & Rumah Tangga 1,031.01 1,065.00 1,097.00 1,110.00 1,138.68
PDRB 230,944.52 243,311.14 254,270.46 267,338.00 282,366.89
*) Angka Sementara
Sumber : Hasil Olahan Data Tahun 2009
6.2.2. PENERIMAAN PENDAPATAN DAERAH
Komponen Penerimaan Pendapatan adalah penerimaan yang merupakan hak pemerintah daerah yang diakui
sebagai penambahan kekayaan bersih. Dimana komponen penerimaan daerah ini terdiri atas Pendapatan Asli
Daerah (PAD), Dana Perimbangan, dan Pendapatan Lainnya.
Dimana Pada tahun 2006 target PAD Kabupaten Kepulauan Sula tercatat sebesar Rp. 3.342.420.900 (1,14
persen dari anggaran pendapatan daerah) dengan realisasi yang dicapai hanya 0,61% dari total pendapatan. Nilai ini
relatif masih kecil, sehingga kemungkinan untuk meningkatkan PAD pada tahun-tahun yang akan datang sangat
dimungkinkan.
Anggaran pendapatan kabupaten tetap bertumpu pada dana perimbangan, dana perimbangan Kabupaten
Kepulauan Sula mencapai 97,79% dengan realisasi yang lebih tinggi lagi mencapai 98,31%. Sedangkan lain – lain
pendapatan yang sah mencapai 1,70%. Keseluruhan jumlah target pendapatan Kabupaten Kepulauan Sula untuk
tahun 2006 sebesar Rp. 293.563.378.474 dan realisasinya sebesar Rp. 291.997.466.378 sehingga rasio antara
target dan realisasi sebesar 99,47%. Untuk lebih jelasnya mengenai Anggaran Pendapatan Daerah di Kabupaten
Kepulauan Sula dapat dilihat pada Tabel 6.3.
TABEL 6.3
ANGGARAN PENDAPATAN DAERAH
KABUPATEN KEPULAUAN SULA TAHUN ANGGARAN 2006
NO. URAIAN PENDAPATAN
ANGGARAN PENDAPATAN
TARGET (Rp.) % REALISASI (Rp.) %
1. Pendapatan Asli Daerah 3.342.420.900 1,14 1.776.508.804 0,61
a. Pajak Daerah 449.145.900 449.145.900
b. Retribusi Daerah 643.275.000 643.275.000
c. Lain-lain Pendapatan Asli Daerah 2.250.000.000 684.087.904
2. Dana Perimbangan 287.069.957.574 97,79 287.069.957.574 98,31
a. Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak 30.272.957.574 30.272.957.574
b. Bagi Hasil Sumber Daya Alam 3.740.000.000 3.740.000.000
c. Dana Alokasi Umum 206.887.000.000 206.887.000.000
e. Dana Penyesuaian DAU - -
f. Bantuan Keuangan dari Provinsi 1.000.000.000 1.000.000.000
3. Pendapatan Lain-lain Yang Sah 3.151.000.000 1,07 3.151.000.000 1,08
a. Dana Penyesuaian DAU (Adjhoc) 1.375.000.000 1.375.000.000
b. Pengembalian Dana Penunjang Bidang Pengawasan 500.000.000 500.000.000
c. Pengembalian Dana Koordinasi dan Konsultasi 700.000.000 700.000.000
d. Dana Pengembalian Insentif PBB Tahun 2005 576.000.000 576.000.000
JUMLAH 293.563.378.474 291.997.466.378 99.47
Sumber : Hasil Olahan Data Tahun 2009
Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya telah terjadi kenaikan PAD dan dana perimbangan, namun
terjadi penurunan di lain-lain pendapatan yang sah, kenaikan dana perimbangan cukup besar dari Rp.
100.798.726.480 menjadi Rp. 287.069.957.574 yakni hampir mencapai 184,80%. Lebih jelasnya lihat Tabel 6.4.
TABEL 6.4
REALISASI PENDAPATAN DAERAH KABUPATEN KEPULAUAN SULA TAHUN 2005 - 2006
NO. JENIS PENDAPATAN
NILAI KEUANGAN / TAHUN (Rp.)
2005 2006
1. Pendapatan Asli Daerah 1.500.000.000 3.342.420.900
2. Dana Perimbangan 100.798.726.480 287.069.957.574
3. Lain-lain Pendapatan Yang Sah 3.449.760.000 3.151.000.000
Sumber : Hasil Olahan Data Tahun 2009
6.2.3. PENGELUARAN DAN PEMBIAYAAN DAERAH
Berkaitan dengan manajemen keuangan daerah tentunya tidak dapat dipisahkan dengan pengelolaan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), yang pada hakekatnya merupakan salah satu instrument yang
dipakai sebagai tolak ukur kesungguhan Pemerintah Daerah dalam meningkatkan pelayanan umum dan
kesejahteraan masyarakat di daerah. Oleh karena itu, Pemerintah Daerah bersama DPRD dalam meningkatkan
pelayanan umum dan kesejahteraan masyarakat daerah harus berupaya secara nyata dan terstruktur guna
menghasilkan APBD yang dapat mencerminkan kebutuhan nyata masyarakat, sehingga terpenuhi tuntutan
terciptanya pendapatan daerah yang berorientasi pada kepentingan publik.
Sebagai instrument kebijakan, APBD menduduki posisi sentral dalam upaya pengembangan kapasitas dan
efektifitas Pemerintah Daerah. APBD digunakan sebagai alat untuk menentukan besarnya pendapatan dan
pengeluaran, membantu pengambilan keputusan dan perencanaan pembangunan, otorisasi pengeluaran
dimasa-masa yang akan datang, sumber pengembangan ukuran-ukuran standar untuk evaluasi kinerja, alat untuk
Untuk Anggaran Pendapatan Kabupaten Kepulauan Sula selama Tahun Anggaran 2006 target anggaran
yang ditetapkan adalah sebesar Rp.303.571.954.214 atau lebih tinggi 3,41% dari anggaran pendapatan, sedangkan
realisasi belanja selama Tahun Anggaran 2006 adalah sebesar Rp.281.622.058.935 atau sebesar 3,68% lebih
rendah dari realisasi anggaran pendapatan. Rasio antara anggaran belanja dengan realisasi mencapai 92,77%. Hal
ini berarti rasio antara pendapatan dan belanja masih rendah tingkat pencapaian anggaran belanja, dimana
anggaran belanja terbesar terjadi pada anggaran pembiayaan pelayanan publik yang mencapai 65,20% dengan
realisasi mendekati angka target yaitu 64,28%. Kondisi ini menggambarkan bahwa APBD dipergunakan pada jalur
yang sudah tepat, karena rasio antara belanja publik dengan aparatur masih lebih besar belanja publik. Untuk lebih
jelasnya lihat Tabel 6.5. mengenai APBD Kabupaten Kepulauan Sula.
TABEL 6.5
ANGGARAN BELANJA DAERAH
KABUPATEN KEPULAUAN SULA TAHUN ANGGARAN 2006
NO. URAIAN PEMBELANJAAN
A. BELANJA APARATUR DAERAH 105.635.008.199 34,80 100.585.676.037 35,72
1. Belanja Administrasi / Umum 80.669.216.349 77.038.446.863
a. Belanja Pegawai /
d. Belanja Pemeliharaan 1.004.415.750 975.282.640
2. Belanja Operasional Dan Pemeliharaan 13.536.153.100 13.004.613.710
a. Belanja Pegawai /
3. Belanja Modal 11.429.638.750 10.542.615.464
B. PELAYANAN PUBLIK 197.936.946.015 65,20 181.036.382.898 64,28
1. Belanja Administrasi / Umum 5.174.367.100 4.980.070.424
a. Belanja Pegawai /
d. Belanja Pemeliharaan 336.620.560 278.823.058
2. Belanja Operasional Dan Pemeliharaan 23.799.564.665 22.715.598.340
a. Belanja Pegawai /
Personalia 1.360.614.000 1.279.520.250
b. Belanja Barang Dan
c. Belanja Perjalanan
Dinas 2.334.506.550 1.845.106.500
d. Belanja Pemeliharaan 812.750.000 246.950.000
3. Belanja Modal 157.464.514.250 143.683.444.770
4. Belanja Bagi Hasil Dan Bantuan Keuangan 9.998.500.000 8.446.439.364
5. Belanja Tidak Tersangka 1.500.000.000 1.210.830.000
JUMLAH 303.571.954.214 100,00 281.622.058.935 92,77
Sumber : Hasil Olahan Data Tahun 2009
Dengan alokasi APBD Kabupaten Kepulauan Sula seperti ini, diharapkan akan meningkatkan perbaikan taraf
kesejahteraan rakyak Kabupaten Kepulauan Sula. IPM direncanakan akan dapat terus meningkat. Terhadap
keseluruhan laporan keuangan Kabupaten Kepulauan Sula, telah dilakukan pemeriksaan oleh BKPRI, yang
dituangkan dalam Hasil Pemeriksaan No 28.1/LHP-LK/XIV.14/I/2007, tanggal 22 juni 2007 dan laporan atas
pengendalian intern dengan Nomor 28.2/LHP-LK/XIV.14/I/2007, tanggal 22 juni 2007. Pemeriksaan tersebut
dilakukan berdasarkan pada Standart Pemeriksanaan Keuangan Negara (SPKN) yang ditetapkan oleh BPK RI.
6.3.
RENCANA PENINGKATAN PENDAPATANManajemen belanja daerah di Kabupaten Kepulauan Sula selalu berusaha untuk mengacu pada prinsip
transparan dan akuntabilitas, disiplin anggaran, keadilan anggaran serta efisiensi dan efektifitas anggaran seperti
dalam manajemen pendapatan daerah.
Peningkatan pendapatan daerah pada dasarnya dapat diperoleh melalui beberapa upaya peningkatan sumber
pendapatan, antara lain :
1. Peningkatan pajak daerah;
2. Peningkatan restribusi daerah;
3. Penerimaan pinjaman;
4. Penjualan obligasi pemerintah daerah;
5. Hasil privatisasi perusahaan daerah;
6. Penerimaan kembali pinjaman yang diberikan pihak ketiga;
7. Penjualan investasi permanen;
8. Pencairan dana cadangan.
Kemudian untuk kegiatan-kegatan yang perlu dilaksanakan dalam rangka meningkatkan penerimaan
pendapatan daerah (khususnya PAD) pada tahun-tahun mendatang adalah kegiatan Identifikasi dan Ekstensifikasi
Pendapatan Daerah, keduanya dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Kegiatan Identifikasi
a. Pendataan
Mendata Objek-objek Pajak dan Retribusi baru yang belum didata dengan tujuan memperluas dan
menambah jumlah potensi Pajak dan Retribusi Daerah.
b. Pendaftaran
Mendaftar Objek-objek Pajak dan Retribusi baru dengan tujuan menertibkan NPWPD agar dapat
mengetahui secara kongkrit jumlah potensi Pajak dan Retribusi Daerah.
c. Penetapan
Mengadakan Perhitungan dan menetapkan besaran Nilai Pajak dan Retribusi Daerah sesuai ketentuan
yang berlaku.
d. Penagihan
Mengoptimalkan kegiatan Penagihan kepada semua Wajib Pajak dan Wajib Retribusi Daerah yang sudah
terdaftar.
2. Kegiatan Ekstensifikasi
Kegiatan ini meliputi :
a. Melakukan Kegiatan Pengkajian atau Survey ke daerah yang lebih maju dengan karakteristik yang hampir
sama dengan Kota Ternate untuk dapat mengetahui kemungkinan adanya sumber-sumber Pendapatan
Daerah yang lain.
b. Meningkatkan SDM Pengelola Pajak/ Retribusi dengan mengikutsertakan aparat Pengelola Pendapatan
dalam kegiatan Seminar dan Workshop baik Lokal maupun Nasional untuk sharing informasi tentang
Peningkatan Pendapatan Daerah.
c. Membuat dan mensosialisasikan Peraturan Daerah (Perda) baru pada masyarakat sebagai Wajib Pajak
dan Wajib Retribusi, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.