6. KEBERLANJUTAN WISATA BAHARI DI KAWASAN PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL KOTA MAKASSAR

23 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

6. KEBERLANJUTAN WISATA BAHARI DI KAWASAN

PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL

KOTA MAKASSAR

Penilaian keberlanjutan wisata bahari di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil Kota Makassar dilakukan dengan pendekatan multidimensional scaling

(MDS) yang disebut Rapid Appraisal of Small Island Ecotourism (RAPSIECO). Metode Rapsieco merupakan pengembangan dari metode Rapfish yang telah digunakan untuk menilai status keberlanjutan pengembangan perikanan tangkap. Hasil analisis keberlanjutan ini dinyatakan dalam indeks keberlanjutan yang mencerminkan status keberlanjutan pengembangan wisata bahari yang sedang diteliti berdasarkan kondisi eksisting.

Nilai indeks keberlanjutan pengembangan wisata bahari di pesisir dan pulau-pulau kecil Kota Makassar dianalisis pada lima dimensi yaitu; dimensi ekologi, ekonomi, sosial dan budaya, infrastruktur dan teknologi, serta dimensi hukum dan kelembagaan dengan memberikan nilai skoring hasil pendapat pakar pada setiap atribut pada masing-masing dimensi. Nilai skoring indeks keberlanjutan di setiap dimensi berkisar antara 0 – 100% dengan kriteria: berkelanjutan jika nilai indeks terletak antara 75-100%, cukup berkelanjutan jika nilai indeks terletak antara 50 – 74,99%, kurang berkelanjutan dengan nilai indeks terletak antara 25 – 49,99%, dan tidak berkelanjutan jika nilai indeks terletak antara 0 – 24,99%.

6.1 Status Keberlanjutan Dimensi Ekologi

Atribut yang diperkirakan memberikan pengaruh terhadap status keberlanjutan wisata bahari di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil Kota Makassar pada dimensi ekologi adalah; (1) daya dukung kawasan, (2) jumlah spesies ikan, (3) kecepatan arus, (4) kecerahan perairan, (5) pencemaran perairan, (6) persentase tutupan karang, (7) substrat perairan, (8) keindahan, kebersihan, dan keamanan, (9) sumber air tawar, dan (10) kesesuaian lahan.

Hasil analisis Rapsieco terhadap sepuluh atribut dimensi ekologi, diperoleh nilai indeks keberlanjutan adalah sebesar 62.27% (Gambar 30). Hal ini menunjukkan bahwa indeks keberlanjutan dimensi ekologi untuk pengembangan

(2)

wisata bahari dikategorikan cukup berkelanjutan sehingga keberlanjutan sumberdaya alam di kawasan ini masih tetap terjaga, apabila pemanfaatan kawasan wisata bahari tetap dipertahankan seperti pada kondisi saat ini. Hal ini mengandung arti bahwa kegiatan wisata bahari kategori wisata selam, snorkling, dan wisata pantai saat ini berada pada kondisi yang sesuai dan belum melebihi daya dukung atau mengganggu keberlanjutan sumberdaya yang terdapat di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil Kota Makassar. Namun, atribut-atribut yang mempengaruhi nilai indeks keberlanjutan pada aspek ekologi tersebut tetap harus ditingkatkan dengan menekan atribut-atribut yang berdampak negatif terhadap pengembangan wisata bahari, agar pengelolaan dan pengembangan wisata bahari di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil dapat berkelanjutan di masa yang akan datang.

Gambar 30. Nilai indeks keberlanjutan pada dimensi ekologi Setiap atribut di dalam dimensi ekologi memberikan pengaruh yang

(3)

atribut-atribut yang sensitif memberikan pengaruh terhadap nilai indeks keberlanjutan pada dimensi ekologi dapat diketahui dengan melakukan analisis leverage.

Gambar 31. Peran setiap atribut dimensi ekologi yang dinyatakan dalam bentuk perubahan nilai Root Mean Square (RMS).

Atribut daya dukung kawasan, persentase tutupan karang, jumlah spesies ikan, dan kecerahan perairan memiliki tingkat sensitivitas yang relatif lebih tinggi dalam pengelolaan wisata bahari, sedangkan kondisi kawasan wisata (keindahan, keamanan dan kebersihan) memiliki tingkat sensitivitas yang relatif lebih rendah dari ke sembilan atribut lainnya.

Daya dukung wisata bahari merupakan salah satu faktor ekologi yang sangat mempengaruhi pengembangan wisata bahari di kawasan pesisir dan PPK Kota Makassar. Hal ini disebabkan karena daya dukung dapat mempengaruhi tingkat pemanfaatan dan keberlanjutan potensi sumberdaya yang terdapat di dalam kawasan wisata bahari. Penentuan daya dukung sangat diperlukan mengingat pengembangan wisata bahari memiliki peluang mass tourism, mudah rusak dan ruang untuk pengunjung sangat terbatas, sehingga setiap aktvitas wisata bahari harus memperhatikan daya dukung kawasan, sumberdaya hayati, serta ekosistemnya, agar pengembangan wisata bahari dapat berkelanjutan dan lestari.

(4)

Penentuan daya dukung terutama pada kawasan wisata snorkling dan

diving sangatlah penting mengingat, aktifitas penyelaman yang dilakukan secara intensif dapat menyebabkan kerusakan pada koloni terumbu karang dan kerusakan tertinggi terjadi pada terumbu karang bercabang karena bentuk pertumbuhannya yang sangat rapuh, tetapi terumbu karang bercabang tersebut juga mampu mempertahankan sebahagian besar kerusakan karena pertumbuhannya yang cepat (Rouphael dan Inglis, 1997). Deplesi karang menyebabkan terjadinya penurunan kelimpahan ikan callivorous dan peningkatan mortalitas, di mana besarnya respon tersebut dengan ikan berbeda-beda, tergantung pada tingkat ketergantungan ikan tersebut pada karang sebagai tempat makan dan sebagai tempat berteduh (Wilson

et al, 2006). Lebih lanjut dikatakan bahwa, kerusakan terumbu karang tidak hanya disebabkan oleh kontak langsung dengan penyelam, tetapi juga dapat disebabkan oleh sedimentasi yang disebabkan oleh penyelam.

Kerusakan terumbu karang yang disebabkan oleh penyelam scuba diving merupakan kerusakan yang sebagian besar tidak disengaja seperti; menendang koloni dengan sirip, menginjak, memegang, berlutut, dan menekan koloni dengan peralatan selam. Begitu pula, David dan Tisdell (1995), alasan orang melakukan

diving adalah keinginan untuk mencari pengalaman di belantara laut yang berkaitan dengan ekologi perairan laut, formasi geologi di bawah laut, melakukan petualangan dengan resiko tertentu, sebagai sarana olah raga yang special dan berbeda dengan olah raga lainnya, dan kehidupan laut merupakan pesona laut untuk tujuan hobi fotografi di bawah laut. Oleh karena itu, penentuan daya dukung sangatlah diperlukan guna pencapaian kepuasan pengunjung.

Daya dukung wisata bahari merupakan jumlah maksimum pengunjung yang secara fisik dapat ditampung di kawasan yang disediakan pada waktu tertentu tanpa menimbulkan gangguan pada alam dan kawasan. Daya dukung kawasan diperoleh dari analisis kesesuaian wisata bahari. Kesesuaian wisata bahari, khususnya wisata snorkling dan diving sangat ditentukan oleh persentase tutupan komunitas karang. Dalam hal ini, makin tinggi persentase tutupan komunitas karang yang ditunjang oleh parameter pendukung lainnya, makin besar pula daya dukung suatu kawasan wisata snorkling dan diving. Yulianda (2007) mengemukakan bahwa persentase tutupan karang menggambarkan kondisi dan

(5)

daya dukung karang. Khusus untuk wisata snorkling dan diving pertimbangan terhadap kondisi tutupan komunitas karang sangat penting karena potensi ini menggambarkan kondisi dan daya dukung yang juga merupakan daya tarik bagi wisatawan.

Pengembangan wisata bahari di kawasan pesisir dan PPK Kota Makassar tidak boleh melebihi kapasitas daya dukung dalam melakukan kegiatan snorkling

dan diving perharinya. Kondisi ini harus benar-benar diperhatikan agar pemanfaatan ruang yang optimal dan peningkatan pendapatan masyarakat dapat terwujud secara signifikan. Pengembangan wisata bahari juga harus memperhitungkan daya dukung kawasan secara seksama, sehingga kerusakan terhadap obyek wisata yang menjadi asset utama dapat diminimalisir dan dihindari. Agar tujuan tersebut dapat tercapai, maka hal yang harus diakukan antara lain adalah menerapkan prinsip konservasi dan efisiensi.

Faktor lain tak kalah pentingnya didalam pengembangan wisata bahari yang sensitif mempengaruhi nilai indeks keberlanjutan pada dimensi ekologi adalah persentase tutupan karang dan jumlah ikan karang serta kecerahan perairan. Ke tiga atribut tersebut saling berkaitan antara satu dengan lainnya. Terumbu karang merupakan salah satu ekosistem utama di kawasan pesisir yang sangat produktif yang sangat mempengaruhi keanekaragaman ikan karang dan juga merupakan daya tarik utama untuk wisata snorkling dan diving, namun sangat rentan terhadap perubahan-perubahan atau pengaruh eksternal perairan. Karena itu pengelolaan terumbu karang harus didasarkan atas pemahaman perspektif holistic dan berbasis ekologis.

Tingginya persentase tutupan karang akan menyebabkan terjadinya peningkatan produksi (keanekaragaman) ikan-ikan karang. Hal yang sama juga akan terjadi pada kecerahan perairan yang tinggi, yang menyebabkan semakin dalamnya penetrasi cahaya matahari sehingga, terumbu karang semakin tumbuh subur dan proses fotosintesis pada karang hidup dapat berlangsung secara optimal. Meningkatnya persentase tutupan karang hidup akan menyebabkan produksi ikan-ikan karang meningkat, karena terumbu karang merupakan habitat tempat hidup, tempat mencari makan, dan sebagai tempat asuhan bagi ikan-ikan karang yang bernilai ekonomis tinggi tersebut. Adanya kegiatan pelestarian dan pemulihan

(6)

kepunahan terumbu karang akan dapat mempertahankan keindahan panorama taman laut sebagai destinasi wisata bahari unggulan di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil Kota Makassar.

Upaya perbaikan atribut tidak hanya dilakukan terhadap atribut yang memberikan pengaruh yang sensitive terhadap nilai indeks keberlanjutan pada dimensi ekologi, melainkan atribut-atribut yang memberikan pengaruh yang positif juga perlu ditangani dengan serius. Hal ini tentu akan dapat mempertahankan atau meningkatkan dampak yang positif terhadap peningkatan keberlanjutan dimensi ekologi kawasan wisata pesisir dan pulau-pulau kecil serta berupaya semaksimal mungkin menekan atribut-atribut yang berpengaruh terhadap penurunan tingkat keberlanjutan dimensi ekologi kawasan. Adapun atribut-atribut yang perlu dipertahankan agar dapat meningkatkan pengaruh positif terhadap nilai indeks keberlanjutan adalah (1) kecepatan arus, (2) kesesuaian lahan, (3) kondisi perairan (4), kondisi kawasan wisata PPK (keindahan, kebersihan, kenyamanan, dan keamanan) serta (5) ketersediaan sumber air tawar sepanjang waktu khuhusnya di pulau-pulau kecil Kota Makassar.

6.2 Status Keberlanjutan Dimensi Ekonomi

Status keberlanjutan dimensi ekonomi dalam pengembangan wisata bahari di pesisir dan pulau-pulau kecil Kota Makassar diperkirakan dipengaruhi oleh 10 atribut, yaitu (1) jumlah obyek wisata, (2) keuntungan wisata bahari, (3) ketergantungan sumberdaya perikanan sebagai sumber nafkah, (4) ketergantungan wisata bahari sebagai sumber nafkah, (5) biaya konsumsi, (6) jumlah tenaga kerja nelayan, (7) transfer keuntungan, (8) biaya penginapan, (9) jumlah kunjungan wisatawan dan (10) kontribusi sektor wisata terhadap PDRB.

Hasil analisis dengan menggunakan Rapsieco terhadap sepuluh atribut dimensi ekonomi diperoleh nilai indeks keberlanjutan adalah sebesar 54,03% (Gambar 32). Ke sepeluh atribut di atas memberikan pengaruh yang berbeda-beda terhadap nilai indeks keberlanjutan terhadap dimensi ekonomi.

(7)

Gambar 32. Nilai indeks keberlajutan wisata bahari pada dimensi ekonomi

Gambar 33. Peran setiap atribut dimensi ekonomi yang dinyatakan dalam bentuk perubahan nilai RMS (Root Mean Square)

(8)

Empat atribut yang sensitive berpengaruh terhadap nilai indeks keberlanjutan pengelolaan wisata bahari dari dimensi ekonomi yaitu (1) jumlah obyek wisata, (2) keuntungan wisata bahari, (3) ketergantungan sumberdaya perikanan sebagai sumber nafkah, dan (4) ketergantungan wisata sebagai sumber nafkah (Gambar 22). Ke empat atribut dalam dimensi ekonomi tersebut, saling mempengaruhi satu sama lainnya dalam pengembangan wisata bahari di kawasan pesisir dan PPK Kota Makassar (Gambar 33).

Obyek wisata dalam pengembangan wisata bahari merupakan cerminan dari potensi biofisik dan sosial budaya yang merupakan komponen daya tarik kawasan yang dipadukan dengan kenyamanan, aksesibilitas, pelayanan yang baik, pelayanan sarana informasi dan ruangan untuk kegiatan perdangangan. Jumlah obyek wisata sangat mempengaruhi keuntungan wisata dan iklim usaha wisata, dimana dipersivikasi obyek wisata bahari akan memberikan keuntungan usaha wisata bahari yang tinggi dan menjadikan kawasan wisata tersebut menjadi destinasi wisata bahari unggulan di Kota Makassar, oleh karena jumlah wiasatawan yang berkunjung akan semakin meningkat, sehingga akan menjamin keberlanjutan usaha wisata bahari tersebut.

Tercapainya keberlanjutan usaha wisata bahari, maka peningkatan pendapatan masyarakat akan meningkat yang berimbas pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hal ini disebabkan karena keberlanjutan usaha wisata bahari akan mampu menyerap tenaga kerja yang lebih banyak sehingga memberikan keterjaminan kehidupan dan pendapatan serta menciptakan lapangan kerja alternative bagi masyarakat lokal sehingga ketergantungan wisata bahari sebagai sumber nafkah bagi masyarakat lokal semakin tinggi pula. Agar obyek dan daya tarik wisata dapat ditingkatkan guna menciptakan wisata bahari berkelanjutan maka upaya pengelolaan dan pengembangan wisata bahari harus berpengang pada prinsip keberlanjutan dan daya dukung kawasan sesuai dengan tujuan dari pengusahaan wisata bahari itu sendiri.

Tujuan dari pengusahaan wisata bahari adalah untuk meningkatkan pemanfaatan keindahan panorama alam pesisir dan pulau-pulau kecil yang terdapat di dalam zona pemanfatan kawasan wisata bahari tersebut yang aktivitasnya harus memperhatikan kegiatan daya dukung sumberdaya hayati dan

(9)

ekosistemnya. Aktivitas yang dimaksudkan adalah berupa kegiatan rekreasi, pondok wisata, penginapan yang menyediakan sarana dan prasarana pendukung. Adapun langkah-langkah pendukung yang diperlukan guna menciptakan wisata bahari yang berkelanjutan, yaitu; (1) menyusun rencana pengembangan aksesbilitas baik di darat, laut maupun di udara, (2) menentukan prioritas pembangunan aksesibilitas menuju ke objek dan daya tarik wisata, (3) mengadakan dan meningkatkan aksesibilitas yang dibutuhkan ke objek dan daya tarik wisata, serta (4) menjaga dan memelihara aksesibilitas yang sudah ada.

6.3 Status Keberlanjutan Dimensi Sosial-Budaya

Hasil analisis dengan menggunakan Rapsieco terhadap sepuluh atribut dimensi social budaya, diperoleh nilai indeks keberlanjutan adalah sebesar 55,68% (Gambar 34). Nilai indeks keberlanjutan ini memposisikan dimensi

social budaya pada status cukup berkelanjutan. Atribut yang diperkirakan memberikan pengaruh terhadap tingkat keberlajutan pada dimensi social-budaya terdiri dari 9 atribut yaitu; (1) budaya masyarakat, (2) memiliki nilai estetika, (3) pola hubungan masyarakat, (4) peran lembaga adat, (5) keamanan dan kenyamanan, (6) pemberdayaan masyarakat, (7) jarak pemukiman ke lokasi wisata, (8) penyerapan tenaga kerja, dan (9) pendidikan formal masyarakat.

Setiap atribut memberikan pengaruh yang berbeda-beda terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi sosial-budaya. Untuk melihat pengaruh dari setiap atribut terhadap nilai indeks keberlanjutan, dilakukan analisis leverage.

Berdasarkan hasil analisis leverage diperoleh 3 atribut yang sensitive terhadap nilai indeks keberlanjutan pada dimensi sosial-budaya yaitu; (1) pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan wisata bahari, (2) pola hubungan masyarakat dalam kegiatan wisata bahari, dan (3) peran masyarakat adat dalam wisata bahari, dan penyerapan tenaga kerja dalam pengembangan wisata bahari (Gambar 35).

(10)

Gambar 34. Nilai indeks keberlanjutan pengembangan wisata bahari dimensi sosial budaya.

Atribut-atribut tersebut perlu dikelola dengan cara meningkatkan peran setiap atribut yang memberikan dampak positif dan menekan setiap atribut yang berdampak negative terhadap nilai indeks keberlanjutan pada dimensi sosial-budaya sehingga dapat meningkatkan nilai indeks keberlanjutan dalam pengembangan wisata bahari di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil Kota Makassar di masa yang akan datang.

Pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan wisata bahari di Kota Makassar dilakukan guna mengurangi ancaman terhadap degradasi kawasan dalam memanfaatkan jasa lingkungan yang dimilki oleh kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil Kota Makassar sebagai kawasan wisata bahari sehingga memberikan manfaat optimal secara berkelanjutan. Pemberdayaan ini diharapkan mampu mengakomodasi keterlibatan masyarakat secara aktif sehingga tugas dan wewenang dalam pengembangan kawasan wisata bahari tersebut akan semakin mudah untuk mencapai tujuan yang optimal serta dapat menigkatkan kesejahteraan masyarakat yang pada gilirannya akan mengurangi akifitas

(11)

masyarakat yang secara langsung ataupun tidak langsung akan mengancam kelestarian SDA dan jasa lingkungan yang merupakan daya tarik wisata bahari.

Gambar 35. Peran setiap atribut dimensi sosial budaya yang dinyatakan dalam bentuk nilai RMS (Root Mean Square)

Partisipasi masyarakat secara aktif akan menjadi faktor kekuatan karena adanya pemahaman dan pengetahuan lokal (indogenous knowledge) terhadap pemanfaatan sumberdaya yang terdapat di dalam kawasan wisata bahari yang merupakan milik mereka. Oleh karena itu, perlu adanya revitalisasi pemahaman dan pengetahuan lokal masyarakat khususnya masyarakat adat dan peninjauan kembali kebijakan pemanfaatan sumberdaya hidup mereka. Lewaherilla (2006) mengemukakan bahwa revitalisasi pemahaman dan pengetahuan masyarakat adat dalam pemanfatan sumberdaya dan lingkungan hidup didaerah ulayat adat merupakan wujud nyata atas kepedulian terhadap eksistensi masyarakat dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya dalam pengembangan wisata bahari secara berkelanjutan.

Pelibatan masyarakat lokal sebagai tenaga kerja usaha pariwisata merupakan upaya paling cepat dan mudah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan pariwisata. Melibatkan masyrakat lokal sebagai tenaga kerja pada usaha pariwisata, terbangun ikatan yang kuat antara masyarakat dengan lingkungan tempat tinggal sehingga

(12)

mendorong masyarakat untuk tetap tinggal di lingkungan tersebut. Semakin banyak masyarakat lokal yang terlibat dalam pengelolaan usaha pariwisata, semakin banyak manfaat yang dapat diperoleh masyarakat.

Keterlibatan masyarakat lokal dalam pengembangan kegiatan dan paket-paket wisata dapat dilakukan dengan melibatkan mereka sebagai pemandu wisatawan atau bahkan sebagai pengembang kegiatan dan paket-paket wisata. Usaha pariwisata,dalam hal ini, hotel dan biro perjalanan wisata dapat berperan dalam memasarkan peket-paket wisata di kawasan pesisir Kota Makassar. Penyelenggara paket wisata menggunakan tenaga lokal sebagai pemandu, sehingga dianggap lebih memahami kebudayaan dan adat-istiadat masyarakat lokal.

Adapun manfaat mengembangkan paket wisata adalah : 1. Biro perjalanan wisata

Manfaat yang diperoleh dengan masyarakat lokal untuk pengembangan kegiatan dan paket wisata adalah pengembangan bisnis, peningkatan pendapatan atau keuntungan dari komisi, dan menawarkan keunikan dari paket wisata yang ditawarkan.

2. Masyarakat lokal

Manfaat yang dapat diperoleh melalui kemitraan dengan biro perjalanan wisata dalam pengembangan kegiatan dan paket wisata adalah terciptanya lapangan kerja dan kesempatan berusaha serta promosi budaya masyarakat melalui pariwisata.

3. Masyarakat umum (semua pihak)

Manfaat yang diperoleh melalui kemitraan antara biro perjalanan wisata dengan masyarakat lokal adalah wisatawan yang mendapatkan pengalaman berwisata yang lebih baik, kepuasan wisatawan, peningkatan pengeluaran wisatawan, dan meningkatkan brand usaha pariwisata. Partisipasi masyarakat dalam pengembangan pariwisata di Indonesia dianggap berhasil apabila pelibatan masyarakat turut andil dalam pengembangan pariwisata baik lokal, regional, dan nasional.

Dengan adanya keterlibatan masyarakat dalam pengembangan wisata bahari, maka pengembangan kawasan yang dilakukan akan memberikan manfaat

(13)

optimal dan berkelanjutan. Oleh karena itu, prinsip peran serta masyarakat bukan hanya sebagai slogan semata namun harus dilaksanakan secara tegas mencakup semua berbagai kepentingan masyarakat yaitu; kesetaraan dan kemitraan, transfaransi, distribusi kewenangan yang seimbang, kesetaraan tanggung jawab serta pemberdayaan dan kerjasama. Sebagaimana yang dikemukakakn oleh Sarosa (2002) bahwa pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam dalam konteks pembangunan berkelanjutan adalah bahwa masyarakat saat ini tidak bisa hanya dijadikan sebagai objek dari pembangunan tetapi sekaligus sebagai subjek dari pembangunan itu sendiri, yang dikenal dengan slogan pengelolaan berbasis masyarakat. Konteks pendekatan pengelolaan dan pengembangan berbasis masyarakat mengandung makna bahwa dalam pengembangan dan keberlanjutan pengusahaan wisata bahari, maka masyarakat diposisikan sebagai mitra yang setara dengan pemerintah di dalam pengembangan wisata bahari melalui pendekatan kolaboratif.

Pengembangan sumberdaya manusia di bidang kepariwisataan sangat penting dilakukan agar Kota Makassar dapat menyediakan sendiri kebutuhan akan tenaga–tenaga pariwisata yang terlatih sehingga dapat memberikan pelayanan standar sesuai standar internasional. Adapun yang dimaksud standar Internasional adalah : a) menyiapkan tenaga-tenaga terampil dibidang usaha pariwisata, b) meningkatkan kemampuan berbahasa asing dikalangan stakeholders yang bergerak dibidang pariwisata, c) memantapkan kesiapan masyarakat lokal sebagai tuan rumah, d) meningkatkan kemampuan teknis dibidang manajemen kepariwisataan, dan e) meningkatkan kemampuan dibidang perencanaan dan pemasaran pariwisata. Namun, pelibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan wisata bahari di Kota Makassar mempunyai tantangan yang besar yaitu kualitas keterampilan dan keahlian yang masih sangat rendah sebagai tenaga kerja pada usaha pariwisata, sehingga harus dilakukan upaya peningkatan kualitas tenaga kerja pada bidang yang tidak memerlukan keahlian khusus, maupun bagi tenaga kerja tingkat top dan middle management ( LAPI ITB 2007).

Seiring dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 yang mengatur tentang pengusahaan obyek wisata dan daya tarik wisata. Pengusahaan tersebut meliputi kegiatan membangun dan mengelola obyek wisata dan daya tarik wisata

(14)

beserta sarana dan prasarana yang diperlukan atau kegiatan mengelola obyek dan daya tarik wisata yang telah ada . Pengusahaan obyek wisata dan daya tarik wisata alam merupakan usaha pemanfaatan sumberdaya alam dan tata lingkungannya untuk dijadikan sarana wisata. Masyarakat memiliki kesempatan yang luas dan berperan serta dalam penyelenggaraan kepariwisataan (Pasal 30).

Pengembangan investasi dibidang pariwisata adalah: a) memberikan kemudahan-kemudahan bagi investor dalam membuka usaha dibidang pariwisata, b) meningkatkan mata anggaran dan alokasi dana dalam pengembangan pariwisata. Selanjutnya pengembangan pengelolaan lingkungan merupakan strategi umum yang mendasari semua pengembangan kepariwisataan yang akan dilakukan antara lain : a) pengembangan pariwisata yang ramah lingkungan dan hemat energi, b) peningkatan kesadaran lingkungan bagi masyarakat, c) meningkatkan dan memantapkan konservasi kawasan-kawasan yang rentan terhadap perubahan, dan d) membuat produk-produk hukum tentang dampak lingkungan dalam pengembangan pariwisata.

Degradasi perilaku dan tradisi masyarakat lokal yang berpihak terhadap kelestarian kawasan wisata bahari bisa terjadi akibat interaksi dengan para wisatawan ataupun ketidaksetaraan dan ketidakadilan distribusi pemanfaatan kawasan wisata bahari tersebut. Persepsi pemanfaatan flora dan fauna sebagai cenderamata yang dimilki wisatawan juga bisa mempengaruhi persepsi masyarakat lokal. Perubahan persepsi masyarakat lokal tentang eksploitasi SDA dapat berdampak pada perilaku dan permisivitas masyarakat lokal untuk melakukan ekploitasi potensi kawasan wisata bahari yang tidak terkendali. Oleh karena itu, sangat diperlukan keterlibatan masyarakat sebagai stakeholder dalam mengamankan dan melestarikan seluruh potensi wisata obyek wisata agar terhindar dari degradasi lingkungan fisik maupun lingkungan sosial budaya.

Pola hubungan masyarakat dikawasan wiasata bahari di Kota Masyarakat khususnya di kawasan pulau-pulau kecil dalam kegiatan wisata bahari masih saling menguntungkan dan ini tercermin dalam sikap kegotongroyongan dan bekerjasama yang tinggi. Masyarakat lokal biasanya saling membantu khususnya pada saat kunjungan wisatawan. Hal ini disebabkan karena adanya hubungan kekeluargaan ataupun karena pembentukan kelompok-kelompok kemasyarakatan

(15)

non formal seperti pembentukan kelompok nelayan, koperasi ataupun kelompok kemasyarakatan lainnya. Peran kelompok ini sangat besar dalam menggerakkan anggotanya dalam sarana tukar menukar informasi kunjungan wisatawan khususnya dalam pengalokasian alat tranfortasi penyeberangan menunju pulau sebagai tujuan wisata.

6.4 Status Keberlanjutan Dimensi Infrastruktur dan Teknologi

Hasil analisis dengan menggunakan Rapsieco terhadapsembilan atribut dimensi infrastruktur dan teknologi diperoleh nilai indeks keberlanjutan adalah sebesar 49,54% dengan status kurang berkelanjutan (Gambar 36). Nilai indeks keberlanjutan ini menunjukkan bahwa pengembangan dan pemanfaatan infrastruktur dan teknologi dalam pengembangan wisata bahari di Kota Makassar masih sangat minim. Walaupun posisi titik nilai indeks keberlanjutan berada pada kwadran positif yang berarti bahwa kecenderungan pengelolaan sekarang kearah yang lebih baik, namun nilai indeks yang rendah yang berada pada satus kurang berkelanjutan mengindikasikan adanya atribut-atribut yang perlu diperbaiki. Oleh karena itu, atribut-atribut yang sensitive mempengaruhi nilai indeks keberlanjutan aspek infrastruktur dan teknologi harus ditingkatkan kearah berkelanjutan, sehingga pengembangan wisata bahari tidak mengalami penurunan nilai manfaat.

Gambar 36. Nilai indeks keberlanjutan pengembangan wisata bahari pada dimensi infrastruktur dan teknologi

(16)

Atribut yang diperkirakan memberikan pengaruh terhadap tingkat keberlanjutan pada dimensi infrastruktur dan teknologi dalam pengembangan wisata bahari di Kota Makassar dipengaruhi oleh 9 atribut, yaitu (1) ketersediaan penyulingan air bersih/air tawar, (2) ketersediaan teknologi informasi, (3) jenis teknologi wisata bahari, (4) rumah makan, (5) akomodasi, (6) ketersediaan alat pendukung kegiatan wisata bahari, (7) ketersediaan kapal penyebrangan, (8) sarana kesehatan dan keamanan, dan (9) kemudahan akses ke lokasi wisata bahari

Hasil analisis lavarage diperoleh 4 atribut yang sensitive terhadap nilai indeks keberlanjutan dimensi infrastruktur dan teknologi yaitu; (1) ketersediaan kapal penyeberangan, (2) kemudahan akses ke lokasi wisata bahari, .(3) ketersediaan teknologi informasi, dan (4) akomodasi. Hasil analisis leverage pada dimensi infrastruktur dan teknologi disajikan pada Gambar 37.

Gambar 37. Peran setiap atribut dimensi infrastruktur dan teknologi yang dinyatakan dalam bentuk perubahan nilai RMS (Root Mean Square)

Pengembangan wisata bahari di Kota Makassar khusunya pengembangan obyek wisata pulau, maka ketersediaan kapal penyeberangan merupakan kebutuhan utama yang harus dipenuhi mengingat letak antar pulau-pulau kecil di

(17)

Kota Makassar berbeda-beda. Berdasarkan hasil survey dan wawancara di lokasi kajian, diketahui bahwa ketersediaan kapal penyeberangan menuju lokasi obyek wisata pulau-pulau kecil di Kota Makassar masih sangat minim, bahkan pada beberapa pulau belum tersedia samasekali, kalaupun ada hanya berupa carteran yang sudah tentu membutuhkan biaya yang sangat tinggi.

Minimnya kapal penyeberangan sebagai satu-satunya alat transfortasi menuju ke pulau-pulau kecil, menyebabkan tingkat kunjungan wisatawan juga masih sangat dibandingkan dengan tingkat kunjungan wisatawan di kawasan pesisir. Untuk itu, ketersediaan kapal penyeberangan yang memadai dan terjamin keamanannya, diharapkan dapat memperlancar arus wisatawan dari dan ke destinasi wisata bahari sehingga dapat meningkatkan jumlah wisatawan menuju daerah tujuan wisata bahari di kawasan pulau-pulau kecil Kota Makassar. Begitu pula kemudahan akses ke lokasi wisata bahari di kawasan pesisir Kota Makassar masih merupakan salah satu faktor utama yang mempengaruhi jumlah kunjungan wisatawan. Saat ini akses menuju kawasan wisata di kawasan pesisir Kota Makassar sangat mudah, oleh karena pemerintah Kota Makassar telah menyediakan bus wisata Tanjung Bunga yang diberangkatkan setiap hari. Namun hal ini belum optimal oleh karena jumlah unit bus masih sangat terbatas dibandingkan dengan jumlah wisatawan atau masyarakat yang ingin dan akan berkunjung ke lokasi wisata, serta keberangkatannyapun hanya pada jam-jam tertentu, sehingga belum mampu melayani wisatawan yang akan berwisata. Untuk itu, diperlukan penambahan armada angkutan dan pengadaan trayek umum menuju lokasi wisata bahari di kawasan pesisirKota Makassar.

Begitu pula sarana pendukung lainnya yang tidak kalah pentingnya berpengaruh dalam meningkatkan jumlah wisatawan adalah ketersediaan teknologi informasi untuk mempromosikan produk wisata bahari. Walaupun atribut ketersediaan teknologi informasi ini dalam analisis leverage menunjukkan urutan ke tiga sensitive berpengaruh pada pengembangan wisata bahari di Kota Makassar, akan tetapi atribut ini perlu mendapat perhatian yang serius. Hal ini disebabkan karena teknologi informasi untuk mempromosikan wisata bahari yang sedang dikembangkan merupakan kekuatan yang berfungsi meningkatkan jejaring nasional dan international agar pengusahaan wisata bahari yang sedang

(18)

dikembangkan di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil Kota Makassar dapat dikenal luas sampai ke taraf internasional. Begitu pula sebaliknya, ketersediaan teknologi informasi diharapkan akan meimbulkan efek ganda seperti mempermudah akses informasi secara dua arah. Kurangnya kegiatan promosi wisata bahari di pulau-pulau kecil Kota Makassar menyebabkan kunjungan wisatawan dikawasan pulau-pulau kecil masih sangat rendah.

Agar kegiatan promosi memberikan kontribusi yang nyata pada pengembangan wisata bahari secara berkelanjutan, maka program promosi harus mempertimbangkan langkah-langkah:

1. Memantapkan bauran pemasaran, alat dan bahan promosi untuk mempromosikan objek dan daya tarik wisata bahari.

2. Meningkatkan kualitas dan kuantitas bahan dan alat wisata bahari dalam berbagai macam bahan.

3. Meningkatkan pusat pelayanan informasi wisata bahari dengan pemanfaatan teknologi informasi dalam menyebarluaskan potensi wisata bahari (Website).

4. Membuka pusat informasi pariwisata Sul-Sel di Bali, Yogya, Manado, Batam dan Jakarta.

5. Mengalokasikan dana promosi pariwisata Sul-Sel secara proporsional. 6.5 Status Keberlanjutan Dimensi Hukum dan Kelembagaan

Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan Rapsieco diperoleh nilai indeks keberlanjutan untuk dimensi hukum dan kelembagaan sebesar 51,098 dengan status cukup berkelanjutan. Agar nilai indeks ini dimasa yang akan datang dapat terus meningkat sampai mencapai status berkelanjutan, maka diperlukan perbaikan-perbaikan terhadap atribut-atribut yang sensitive berpengaruh terhadap nilai indeks dimensi hukum dan kelembagaan ini. Nilai indeks keberlanjutan berdasarkan hasil analisis Rapsieco pada dimensi hukum dan kelembagaan disajikan pada Gambar 38.

(19)

Gambar 38. Nilai indeks keberlanjutan pada dimensi Hukum dan kelembagaan

Atribut yang diperkirakan memberikan pengaruh terhadap tingkat keberlanjutan pada dimensi hukum dan kelembagaan terdiri dari sepuluh atribut yaitu: (1) dukungan kebijakan pemerintah daerah, (2) kerjasama dengan lembaga non pemerintah, (3) pemegang kepentingan utama, (4) pelaksanaan pemantauan, pengawasan dan pengendalian, (5) koordinasi antar sektoral, (6) ketersediaan kelompok tani nelayan, (7) konflik kepentingan, (8) ketersediaan lembaga sosial, (9) ketersediaan penengakan hukum, dan (10) ketersediaan perangkat hukum adat/agama.

Untuk melihat atribut-atribut yang memberikan pengaruh sensitive terhadap nilai indeks keberlanjutan pada dimensi hukum dan kelembagaan dilakukan analisis Leverage. Berdasarkan hasil analisis Leverage diperoleh 2 atribut yang sensitive terhadap nilai indeks keberlanjutan pada dimensi hukum dan kelembagaan, yaitu (1) pelaksanaan pemantauan, pengawasan dan pengendalian, dan (2) ketersediaan kelompok tani nelayan (Gambar 39).

(20)

Gambar 39. Peran setiap atribut dimensi hukum dan kelembagaan

yang dinyatakan dalam bentuk perubahan RMS (Root Mean Square).

Indikasi program pengembangan wisata bahari disusun dan dirumuskan dengan memaksimalkan kekuatan yang dimiliki dan sesuai potensi yang ada dikawasan pesisir dan pulau-pulau kecil Kota Makassar. Disamping itu, indikasi program juga harus mampu menjawab karakteristik kawasan perencanaan yang dikaitkan dengan kondisi sumberdaya alam yang ada ataupun peran dan letak geografisnya. Penyusunan indikasi program harus memperhatikan skala prioritas. Skala prioritas ini akan sangat membantu stakehoder pengambil kebijakan di daerah/kawasan perencanaan dalam hal ini Pemerintah Kota Makassar dalam mengimplementasikan berbagai program yang sudah dirumuskan. Penetapan skala prioritas didasarkan pada kepentingan masing-masing program dalam mewujudkan visi dan misi yang sudah ditetapkan. Penetapan skala prioritas juga sangat membantu dalam pengalokasian dana yang tersedia dengan tingkat kepentingan program yang akan dilaksanakan.

Namun perlu diingat bahwa penyusunan dan pelaksanaan program tidak diarahkan pada pelaksanaan proyek semata, melainkan diarahkan bagi kepentingan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. Dengan demikian keberhasilan dalam pelaksanaan proyek dapat diukur dari manfaat yang diperoleh

(21)

masyarakat secara berkelanjutan. Disamping itu, indikasi program yang akan ditetapkan juga sebaiknya sudah ditetapkan instansi atau pihak mana yang bertanggungjawab atau dapat terlibat di dalamnya. Pembagian tugas dan wewenang ini menjadi sangat penting, agar implementasi di lapangan dapat segera diterapkan. Siapa mengerjakan apa dan apa menjadi tanggugjawab siapa harus secara jelas direncanakan dalam indikasi program yang disusun. Pelaksanaan pemantauan dan pengawasan dalam pengembangan wisata bahari dimaksudkan untuk memantau dan mengevaluasi apakah pelaksanaan program yang telah disusun dan direncanakan yang disesuaiakan dengan potensi dan kebutuhan berjalan sesuai rencana yang telah ditetapkan.

Pelaksanaan pemantauan dan pengawasan sepenuhnya dilaksanakan oleh masyarakat lokal sehingga manfaat yang dapat diperoleh dari pelaksanaan program optimal. Pada pola ini masyarakatlah yang memiliki inisiatif dan berperan penuh pada kegiatan-kegiatan mereka sehingga keberhasilannya sangat ditentukan dari rasa tanggung jawab dari masyarakat itu sendiri.

Atribut lainya yang menunjukkan pengaruh sensitive terhadap pengembangan wisata bahari di Kota Makassar adalah ketersediaan kelompok tani nelayan. Hasil survey, menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat khususnya di pulau-pulau kecil Kota Makassar terhadap pentingnya hidup berorganisasi atau berkelompok sudah tertanam dalam jiwa mereka. Hal ini dirasakan dengan keikutsertaan seluruh nelayan dalam lembaga atau kelompok yang telah dibentuk. Proses penyadaran ini telah dilakukan melalui kegiatan pelatihan untuk mendukung penguatan kelembagaan dan SDM, penyadaran masyarakat dimaksudkan agar terwujud peningkatan pengetahuan masyarakat yang sesuai dengan kearifan lokal. Hal ini terlihat dari keberadaan lembaga social yang tersedia hamper disemua pulau yang berpenduduk dan berjalan sesuai dengan fungsinya masing-masing sehingga keberadaan lembaga social ini patut untuk dipertahankan. Namun agar nilai indeks keberlanjutan dimensi hukum dan kelembagaan ini dapat lebih meningkat maka perlu lebih ditingkatkan lagi keberadaan dari lembaga social ini.

Lembaga sosial yang ada dan berjalan efektif di pulau Lanyukkang adalah Badan Perwakilan Desa (BPD) Kelurahan Barrang Caddi. Anggota dari BPD

(22)

tersebut adalah masyarakat pulau langkai dan lanyukang. Lembaga informal lainya yang terdapat di pulau Lanyukang dan Langkai adalah Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) yang pembentukannya diinisiasi oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LEMSA) melalui program Community Development yang telah difasilitasi selama ini. Aktivitas KSM ini diarahkan pada upaya pembangunan dan pengelolaan Alternative Income Generating (AIG).

Kelembagaan masyarakat nelayan yang dijumpai di pulau Lumu-lumu berupa lembaga formal mengingat jumlah penduduk yang cukup besar di pulau ini sehingga menuntut dibentuknya sebuah kelurahan dengan segala perangkat kelembagaannya. Pertemuan-pertemuan masyarakat untuk membahas masalah yang dihadapi nelayan biasanya diadakan di masjid.

Berdasarkan hasil analisis setiap dimensi, selanjutnya dilakukan perbandingan keberlanjutan antar dimensi (dari dimensi ekologi 62,27%, dimensi ekonomi 54,03%, dimensi sosial dan budaya sebesar 55,68%, dimensi infrastruktur dan teknologi 49,55%, serta dimensi hukum dan kelembagaan 51,10%), yang divisualisasikan dalam bentuk diagram layang-layang (kite diagram) seperti pada Gambar 40.

Gambar 40. Diagram layang-layang nilai indeks keberlanjutan wisata bahari di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil Kota Makassar.

Gambar 40 di atas, menunjukkan bahwa dimensi teknologi dan infrastruktur berada pada status kurang berkelanjutan. Agar nilai indeks keberlanjutan ini dapat terus meningkat sampai mencapai status keberlanjutan dimasa yang akan datang, perlu dilakukan perbaikan-perbaikan terhadap atribut-atribut yang sensitif

(23)

berpengaruh terhadap nilai indeks keberlanjutan. Perbaikan yang dimaksud adalah meningkatkan kapasitas atribut yang mempunyai dampak positif terhadap peningkatan nilai indeks keberlanjutan. Sebaliknya, menekan seminim mungkin atribut yang berpeluang menurunkan nilai indeks keberlanjutan.

Hasil analisis Monte Carlo pada taraf 95% menunjukkan bahwa nilai indeks keberlanjutan pengembangan wisata bahari di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil Kota Makassar tidak banyak berbeda dengan hasil analisis Rapsieco

(Tabel 23). Ini berarti bahwa kesalahan dalam pemberian skoring dapat diperkecil dan variasi pemberian skoring karena perbedaan opini relatif kecil. Proses analisis data yang dilakukan secara berulang-ulang cukup stabil serta kesalahan dalam menginput data dan kehilangan data dapat dihindari.

Tabel 23. Perbedaan nilai indeks keberlanjutan analisis Rapseico dengan Monte Carlo.

Dimensi Keberlanjutan Nilai Indeks Keberlanjutan (%)

Rapseico Monte Carlo Perbedaan

Ekologi 67,22 61,69 5,53

Ekonomi 54,03 53,90 1,3

Soial-budaya 55,53 55,28 0,25

Teknologi dan infrastruktur 49,54 49,33 0,21

Hukum dan kelembagaan 51,10 50,86 2,4

Multidimensi

Sumber: Data primer yang diolah (2010)

Hasli analisis Rapseico menunjukkan bahwa semua atribut yang dikaji terhadap keberlanjutan di kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil Kota Makassar, cukup akurat sehingga memberikan hasil analisis yang semakin baik dan dapat dipertanggungjawabkan. Terlihat dari nilai stress yang diperoleh berkisar antara 14% hingga 16% dan nilai (RSQ) yang diperoleh berkisar antara 0,94% hingga 95%. Hal ini sesuai dengan Fisheries (1999), yang menyatakan bahwa hasil analisis cukup memadai apabila nilai stress lebih kecil dari nilai 0,25 (25%). dan nilai (RSQ) mendekati nilai 1,0 (Tabel 24).

Tabel 24. Hasli analisis Rapseico untuk nilai Stress dan RSQ

Keterangan : A= Dimensi Ekologi, B= Dimensi Ekonomi, C= Dimensi Sosial, D= Dimensi Infrastruktur-Teknologi, E= Dimensi Hukum-Kelembagaan, dan F=Multidimensi.

Parameter Dimensi Keberlanjutan

A B C D E

Stress 0,14 0,15 0,15 0,16 0,15

RSQ 0,95 0,95 0,95 0,94 0,95

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :