BAB IV HASIL PENELITIAN

22 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

56

Untuk mencari hadis tentang jujur penulis menggunakan kitab

Mu’jam Al-Mufahras Lil Al-Fadzi Al-Hadits Al-Nabawi dengan tema

yang dipakai yaitu قﺪﺻ. Setelah penulis mencari tema tersebut penulis mendapatkan informasi hadis tentang jujur yang terdapat dalam kitab

Shahih Bukhari pada bab بدأ hadis ke 69, Shahih Muslim pada bab ّﺮﺑ hadis ke 105, 103 dan 104, Sunan Abu Daud pada bab بدأ hadis ke 80,

Sunan Tirmidzi pada bab ﺮﺑ hadis ke 46, Sunan Ibnu majah pada bab ءﺎﻋد

hadis ke 5, Sunan Ad-Darimi pada bab قﺎﻗر hadis ke 7 dan Muwaththa’

Malik pada bab مﻼﻛ hadis ke 16.1 Dalam pembahasan ini penulis

membatasi hadis tentang jujur sebanyak empat hadis karena keterbatasan waktu.

1. Teks dan Terjemahan Hadis a. Kitab Shahih Bukhari

، ٍﻞِﺋاَو ِﰊَأ ْﻦَﻋ ،ٍرﻮُﺼْﻨَﻣ ْﻦَﻋ ،ٌﺮﻳِﺮَﺟ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ ،َﺔَﺒْﻴَﺷ ِﰊَأ ُﻦْﺑ ُنﺎَﻤْﺜُﻋ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ

: َلﺎَﻗ َﻢﱠﻠَﺳَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﷲا ﻰﱠﻠَﺻ ﱢِﱯﱠﻨﻟا ِﻦَﻋ ،ُﻪْﻨَﻋ ُﻪﱠﻠﻟا َﻲِﺿَر ِﻪﱠﻠﻟا ِﺪْﺒَﻋ ْﻦَﻋ

»

ﱠنِإ

،ﱢِﱪﻟا َﱃِإ يِﺪْﻬَـﻳ َقْﺪﱢﺼﻟا

ُقُﺪْﺼَﻴَﻟ َﻞُﺟﱠﺮﻟا ﱠنِإَو ،ِﺔﱠﻨَﳉا َﱃِإ يِﺪْﻬَـﻳ ﱠِﱪﻟا ﱠنِإَو

َرﻮُﺠُﻔﻟا ﱠنِإَو ،ِرﻮُﺠُﻔﻟا َﱃِإ يِﺪْﻬَـﻳ َبِﺬَﻜﻟا ﱠنِإَو .ﺎًﻘﻳﱢﺪِﺻ َنﻮُﻜَﻳ ﱠﱴَﺣ

1

Muhammad Fuad Abdul Baqi, Mu’jam Mufahras Lil Fadzi Hadits

(2)

ﺎًﺑاﱠﺬَﻛ ِﻪﱠﻠﻟا َﺪْﻨِﻋ َﺐَﺘْﻜُﻳ ﱠﱴَﺣ ُبِﺬْﻜَﻴَﻟ َﻞُﺟﱠﺮﻟا ﱠنِإَو ،ِرﺎﱠﻨﻟا َﱃِإ يِﺪْﻬَـﻳ

«

2

ور)

(ىرﺎﺨﺒﻟا ﻩا

Artinya:

Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Manshur, dari Abu Wail, dari Abdullah ra, dari Nabi saw, beliau bersabda, sesungguhnya kejujuran itu menunjukkan kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan itu menunjukkan ke surga. Seseorang itu akan selalu bertindak jujur sehingga dia menjadi orang yang sangat jujur. Dan sesungguhnya kedustaan itu menunjukkan kepada keburukan dan sesungguhnya keburukan itu menunjukkan ke neraka. Seseorang itu akan selalu berdusta sehingga ia ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Bukhari)3

b. Kitab Shahih Muslim

َﻢﻴِﻫاَﺮْـﺑِإ ُﻦْﺑ ُقﺎَﺤْﺳِإَو ،َﺔَﺒْﻴَﺷ ِﰊَأ ُﻦْﺑ ُنﺎَﻤْﺜُﻋَو ،ٍبْﺮَﺣ ُﻦْﺑ ُﺮْـﻴَﻫُز ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ

-

َلﺎَﻗو ،ﺎَﻧَﺮَـﺒْﺧَأ :ُقﺎَﺤْﺳِإ :َلﺎَﻗ

ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ :ِناَﺮَﺧ ْﻵا

،ٍرﻮُﺼْﻨَﻣ ْﻦَﻋ ،ٌﺮﻳِﺮَﺟ

:َﻢﱠﻠَﺳَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﷲا ﻰﱠﻠَﺻ ِﷲا ُلﻮُﺳَر َلﺎَﻗ :َلﺎَﻗ ،ِﷲا ِﺪْﺒَﻋ ْﻦَﻋ ،ٍﻞِﺋاَو ِﰊَأ ْﻦَﻋ

»

َﻞُﺟﱠﺮﻟا ﱠنِإَو ،ِﺔﱠﻨَْﳉا َﱃِإ يِﺪْﻬَـﻳ ﱠِﱪْﻟا ﱠنِإَو ،ﱢِﱪْﻟا َﱃِإ يِﺪْﻬَـﻳ َقْﺪﱢﺼﻟا ﱠنِإ

َﻴَﻟ

ﱠنِإَو ،ﺎًﻘﻳﱢﺪِﺻ َﺐَﺘْﻜُﻳ ﱠﱴَﺣ ُقُﺪْﺼ

ﱠنِإَو ،ِرﻮُﺠُﻔْﻟا َﱃِإ يِﺪْﻬَـﻳ َبِﺬَﻜْﻟا

ﺎًﺑاﱠﺬَﻛ َﺐَﺘْﻜُﻳ ﱠﱴَﺣ ُبِﺬْﻜَﻴَﻟ َﻞُﺟﱠﺮﻟا ﱠنِإَو ،ِرﺎﱠﻨﻟا َﱃِإ يِﺪْﻬَـﻳ َرﻮُﺠُﻔْﻟا

«

4

ﻩاور)

(ﻢﻠﺴﻣ

Artinya:

Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harbin, Utsman bin Abu Syaibah, Ishaq bin Ibrahim-berkata: Ishaq telah mengabarkan kepada kami dan dua orang lainnya: telah menceritakan kepada kami-Jabir, dari Manshur, dari Abu Wail, dari Abdullah berkata: Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya jujur itu mengantarkan kepada kebaikan dan kebaikan itu mengantarkan kepada surga. Sungguh, seorang laki-laki bisa bersikap jujur sehingga ditulis sebagai orang yang jujur.

2

Imam Ibn Hajar Al-Asqalani, Fath Al-Bari Sarh Sahih Al-Buhari (jilid 10), (Lebanon: Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah, 2012), hal. 429

3

Muhammad Nashiruddin Al Albani, Ringkasan Shahih Bukhari (jilid 5), (Jakarta: Pustaka Azzam, 2012), Cet ke-1, hal. 137

4

Imam Abu Hasan Muslim bin Hajjaj, Shahih Muslim (jilid 2), (Lebanon: Dar Al Kotob Al Ilmiyah. 2007), hal. 423

(3)

Sesunggguhnya kedustaan itu mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan itu mengantarkan ke neraka, dan sungguh seorang laki-laki bisa berdusta sehingga ditulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR. Muslim)5

c. Kitab Sunan Tirmidzi

ِﻦْﺑ ِﻖﻴِﻘَﺷ ْﻦَﻋ ،ِﺶَﻤْﻋَﻷا ْﻦَﻋ ،َﺔَﻳِوﺎَﻌُﻣ ﻮُﺑَأ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ :َلﺎَﻗ ٌدﺎﱠﻨَﻫ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ

ِﻦْﺑ ِﻪﱠﻠﻟا ِﺪْﺒَﻋ ْﻦَﻋ ،َﺔَﻤَﻠَﺳ

ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪﱠﻠﻟا ﻰﱠﻠَﺻ ِﻪﱠﻠﻟا ُلﻮُﺳَر َلﺎَﻗ :َلﺎَﻗ ٍدﻮُﻌْﺴَﻣ

:َﻢﱠﻠَﺳَو

»

يِﺪْﻬَـﻳ ﱠِﱪﻟا ﱠنِإَو ،ﱢِﱪﻟا َﱃِإ يِﺪْﻬَـﻳ َقْﺪﱢﺼﻟا ﱠنِﺈَﻓ ِقْﺪﱢﺼﻟﺎِﺑ ْﻢُﻜْﻴَﻠَﻋ

ْﻨِﻋ َﺐَﺘْﻜُﻳ ﱠﱴَﺣ َقْﺪﱢﺼﻟا ىﱠﺮَﺤَﺘَـﻳَو ُقُﺪْﺼَﻳ ُﻞُﺟﱠﺮﻟا ُلاَﺰَـﻳ ﺎَﻣَو ،ِﺔﱠﻨَﳉا َﱃِإ

َﺪ

ﱠنِإَو ،ِرﻮُﺠُﻔﻟا َﱃِإ يِﺪْﻬَـﻳ َبِﺬَﻜﻟا ﱠنِﺈَﻓ َبِﺬَﻜﻟاَو ْﻢُﻛﺎﱠﻳِإَو ،ﺎًﻘﻳﱢﺪِﺻ ِﻪﱠﻠﻟا

ﱠﱴَﺣ َبِﺬَﻜﻟا ىﱠﺮَﺤَﺘَـﻳَو ُبِﺬْﻜَﻳ ُﺪْﺒَﻌﻟا ُلاَﺰَـﻳ ﺎَﻣَو ،ِرﺎﱠﻨﻟا َﱃِإ يِﺪْﻬَـﻳ َرﻮُﺠُﻔﻟا

ﺎًﺑاﱠﺬَﻛ ِﻪﱠﻠﻟا َﺪْﻨِﻋ َﺐَﺘْﻜُﻳ

«

6

ﻩاور)

ىﺰﻣﱰﻟا

(

Artinya:

Hannad menceritakan kepada kami, Abu Muawiyah menceritakan kepada kami, dari Al A’masy, dari Syaqiq bin Salamah, dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Hendaknya kamu bersikap jujur. Sesungguhnya kejujuran itu menunjukkan kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan itu menunjukkan ke surga. Seorang lelaki akan selalu bersikap jujur dan berusaha memelihara kejujuran sampai ia dicatat di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur. Jauhilah dusta. Sesungguhnya dusta itu menunjukkan kepada kedurhakaan, dan kedurhakaan itu menunjukkan ke neraka. Seorang hamba akan selalu berdusta dan berusaha memlihara kedustaan sampai dicatat di sisi Allah sebagai orang yang sangat pendusta.’” (HR.

Tirmidzi)7

5

Muhammad Nashiruddin Al Albani, Mukhtashar Shahih Muslim (jilid 2), (Jakarta: Pustaka Azzam, 2012), hal. 524

6

Muhammad bin Isa Al Tirmidzi, Sunan Al Tirmidzi, (Libanon: Dar Al Kotob Al Ilmiyah, 2011), hal. 97-98

7

Muhammad Nashiruddin Al Albani, Shahih Sunan Tirmidzi (jilid 2), (Jakarta: Pustaka Azzam, 2014), hal. 548-549

(4)

d. Kitab Sunan Ibnu Majah

ﻮُﺑَأ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ

:َلﺎَﻗ ٍﺪﻴِﻌَﺳ ُﻦْﺑ ُﺪْﻴَـﺒُﻋ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ : َﻻﺎَﻗ ٍﺪﱠﻤَُﳏ ُﻦْﺑ ﱡﻲِﻠَﻋَو ،ٍﺮْﻜَﺑ

ُثﱢﺪَُﳛ ،ٍﺮِﻣﺎَﻋ َﻦْﺑ َﻢْﻴَﻠُﺳ ُﺖْﻌَِﲰ :َلﺎَﻗ ٍْﲑَُﲬ ِﻦْﺑ َﺪﻳِﺰَﻳ ْﻦَﻋ ،َﺔَﺒْﻌُﺷ ُﺖْﻌَِﲰ

َﲔِﺣ ،ٍﺮْﻜَﺑ ﺎَﺑَأ َﻊَِﲰ ُﻪﱠﻧَأ ،ﱢﻲِﻠَﺠَﺒْﻟا َﻞﻴِﻋﺎَْﲰِإ ِﻦْﺑ َﻂَﺳْوَأ ْﻦَﻋ

ﱡِﱯﱠﻨﻟا َﺾِﺒُﻗ

ِﰲ َﻢﱠﻠَﺳَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﷲا ﻰﱠﻠَﺻ ِﻪﱠﻠﻟا ُلﻮُﺳَر َمﺎَﻗ :ُلﻮُﻘَـﻳ َﻢﱠﻠَﺳَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﷲا ﻰﱠﻠَﺻ

: َلﺎَﻗ ﱠُﰒ ،ٍﺮْﻜَﺑ ﻮُﺑَأ ﻰَﻜَﺑ ﱠُﰒ ، ِلﱠوَْﻷا َمﺎَﻋ اَﺬَﻫ ﻲِﻣﺎَﻘَﻣ

»

، ِقْﺪﱢﺼﻟﺎِﺑ ْﻢُﻜْﻴَﻠَﻋ

َْﳉا ِﰲ ﺎَُﳘَو ﱢِﱪْﻟا َﻊَﻣ ُﻪﱠﻧِﺈَﻓ

ِﰲ ﺎَُﳘَو ِرﻮُﺠُﻔْﻟا َﻊَﻣ ُﻪﱠﻧِﺈَﻓ ،َبِﺬَﻜْﻟاَو ْﻢُﻛﺎﱠﻳِإَو ،ِﺔﱠﻨ

َﻦِﻣ اًﺮْـﻴَﺧ ِﲔِﻘَﻴْﻟا َﺪْﻌَـﺑ ٌﺪَﺣَأ َتْﺆُـﻳ َْﱂ ُﻪﱠﻧِﺈَﻓ ،َةﺎَﻓﺎَﻌُﻤْﻟا َﻪﱠﻠﻟا اﻮُﻠَﺳَو ،ِرﺎﱠﻨﻟا

اَﺪَﺗ َﻻَو ،اﻮُﻌَﻃﺎَﻘَـﺗ َﻻَو ،اﻮُﻀَﻏﺎَﺒَـﺗ َﻻَو ،اوُﺪَﺳﺎََﲢ َﻻَو ،ِةﺎَﻓﺎَﻌُﻤْﻟا

اﻮُﻧﻮُﻛَو ،اوُﺮَـﺑ

ﺎًﻧاَﻮْﺧِإ ِﻪﱠﻠﻟا َدﺎَﺒِﻋ

«

8 Artinya:

Menceritakankepada kami Abu Bakar, Ali bin Muhammad, mereka berdua berkata: telah menceritakan kepada kami Ubaid bin Said ia berkata: aku mendengar Su’bah, dari yazid bin Khumair ia berkata: aku mendengar Sulaim bin Amir, diceritakan dari Ausath bin Ismail Al-Bajali, sesungguhnya dia mendengar Abu Bakar, ketika Rasulullah saw meninggal dunia, ia bercerita, “Rasulullah saw berdiri di tempatku berdiri ini, tahun pertama (setelah hijrah)-kemudian Abu Bakar menangis-lalu melanjutkan, (Rasulullah saw bersabda), ‘Hendaknya kalian berlaku jujur. (Karena) sesungguhnya ia (kejujuran) bersama kebaikan, dan keduanya (akan berada) di surga. Jauhkanlah oleh kalian kebohongan, (karena) sesungguhnya ia bersama kenistaan, dan keduanya (akan berada) di neraka. Mintalah kepada Allah ampunan, karena sesungguhnya ia tidak diberikan kepada seseorang setelah keyakinan yang lebih baik daripada pengampunan. Dan janganlah kalian saling berbuat hasad, jangan saling memusuhi, jangan saling memutuskan tali silaturrahim, jangan saling membelakangi, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara’”.(HR. Ibnu Majah)9

8

Al-Hafizh Abi Abdullah Muhammad bin Yazid Al-Qazwin, Sunan Ibnu Majah

(jilid 2), hal. 1265

9

Muhammad Nashiruddin Al-Albani, Shahih Sunan Ibnu Majah (jilid 3), (Jakarta: Pustaka Azzam, 2013), Cet. ke-3, hal. 380-381

(5)

2. Syarah Hadis

Ash-Shiddiq artinya orang yang amat jujur sesuai antara

perkataan dengan hati dan sesuai antara perbuatan dengan perkataan. Para ulama berkata, hadis diatas bermakna, bahwa jujur mengantarkan kepada amal shalih yang bersih dari setiap cela. Sedangkan Al-Birr, adalah sebutan untuk semua jenis kebaikan. Ada yang mengatakan bahwa Al-Birr adalah surga. Bisa juga diartikan sebagai amal shalih dan surga.10

Sedangkan kata Al-Fujur berarti keluar dari ketaatan kepada Allah sehingga dia menjadi fasik dan melanggar perannya dan keluar dari ketaatan menuju kepada kemaksiatan. Kejahatan yang paling besar adalah kekafiran.11 Perbuatan kedustaan bisa menimbulkan kejahatan dan kejahatan itu akan membawa ke neraka. Sebagaimana firman Allah yang menyatakan kekafiran juga termasuk kejahatan dalam QS. ‘Abasa ayat 42:

      

Artinya:

Mereka Itulah orang-orang kafir lagi durhaka.

Hadis diatas menganjurkan untuk senantiasa bersikap jujur. Allah menyatakan orang yang selalu bersikap jujur dengan sebutan

shiddiq jika senantiasa menjalankannya. Jujur termasuk unsur

terpenting dalam kehidupan sosial, disamping sebagai landasan utama

10

Abu Azka, Syarah 40 Hadits tentang Akhlak, (Jakarta: Pustaka Azzam Anggota IKAPI DKI, 2003), hal. 168

11

Syaikh Muhammaq Al-Utsaimin, Syarah Riyadhus Shalihin Imam An-Nawawi

(6)

struktur masyarakat. Tanpa adanya kejujuran, maka akan terurailah semua ikatan masyarakat dan hubungan antar sesama manusia. Sungguh, betapa buruknya gambaran masyarakat yang dalam pergaulannya tidak disertai dengan kejujuran.

Berdasarkan hadis di atas penulis menyimpulkan bahwa hadis yang membahas tentang jujur tersebut selain dari Shahih Bukhari, penulis juga menemukan hadis yang sama dalam kitab yang berbeda, seperti kitab Shahih Muslim, kitab Sunan Tirmidzi dan kitab Sunan

Ibnu Majah. Keempat hadis tersebut memiliki redaksi yang sedikit

berbeda, namun dilihat dari penjelasannya memiliki maksud yang sama yakni mengkaji tentang pendidik/guru harus jujur. Pada kitab

Sunan Ibnu Majah ada sedikit tambahannya yaitu memohon ampunan

kepada Allah swt dan menjauhi sifat-sifat yang telah dilarang Allah. 3. Analisis Tarbawi

Dalam hadis tersebut terdapat beberapa pelajaran yang dapat dipetik, di antaranya:

a. Kejujuran akan mengantarkan kepada kebaikan dan kebaikan itu akan mengantarkan ke surga.

b. Kedustaan akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan itu akan mengantarkan ke neraka.

Seorang ilmuwan, pendidik harus bersifat jujur dan terbuka. Apabila ditanya seseorang tentang suatu hal yang tidak diketahuinya, ia harus berani mengatakan tidak tahu dengan kiat-kiat yang

(7)

digunakan. Jangan bergaya serba tahu. Jangan mengada-ada untuk menjaga gengsi keilmuan. Karena menyampaikan ilmu yang baik dan pengajaran yang patut dicontoh peserta didik yang akan di amalkannya nanti.

Sebenarnya jujur itu sudah menjadi fitrah manusia. Misalnya kita bercerita kepada anak kecil tentang orang yang jujur dan orang yang berdusta, maka anak tersebut akan menyukai orang yang jujur daripada orang yang berdusta itu. Jadi seorang pendidik harus bersikap jujur terhadap muridnya jangan sekali-kali untuk berdusta kepadanya. Jujur terbagi kepada tiga yaitu:12

a. Jujur dalam ucapan

Adalah adanya kesesuaian dengan hati nuraninya, sesuai dengan kenyataan atau sesuai dengan keduanya.

b. Jujur dalam keyakinan

Apa yang diyakini itu hendaknya sesuai dengan dasar yang ada dalam kenyataan.

c. Jujur dalam perbuatan

Adanya kesesuaian apa yang tampak diluar tubuh dengan konsep yang ada di dalam jiwa.

Makanya seorang guru hendaklah jujur dalam menyampaikan apa yang diserukannya. Jujur itu dimulai dari diri kita sendiri baru pada orang lain. Jika ilmu dengan perbuatannya sudah sejalan maka

12

Abdul Qadir Ahmad ‘Atha’, Adabun-Nabi, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2002), Cet. Ketiga, hal. 180-181

(8)

peserta didik akan mudah meniru dan mengikutinya dalam setiap perkataan dan perbuatannya. Tetapi jika perkataan dan perbuatannya tidak sama maka peserta didik tidak akan mempercayainya dan tidak mengamalkan apa yang telah disampaikan gurunya karena gurunya saja tidak menerapkan apa yang disampaikannya kepada peserta didik. Peserta didik akan beranggapan bahwa gurunya tidak sungguh-sungguh dalam perkataannya. Contohnya jika ada peserta didik yang bertanya tentang pelajaran yang disampaikan tetapi guru belum mengetahuinya maka sampaikanlah kepadanya belum mengetahui hal tersebut.

Sebagaimana firman Allah swt dalam Q.S. Al-Anfal ayat 58 sebagai berikut:                       

Artinya:

Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, Maka kembalikanlah Perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.

B. Sabar dalam Perspektif Hadis

Untuk mencari hadis tentang sabar penulis menggunakan kitab

Mu’jam Al-Mufahras Lil Al-Fadzi Al-Hadits Al-Nabawi dengan tema

yang dipakai yaitu ﺮﺒﺻ. Setelah penulis mencari tema tersebut penulis mendapatkan hadis tentang sabar yang terdapat dalam kitab Shahih

Bukhari pada bab ةﺎﻛز hadis ke 50, Shahih Muslim pada bab ةﺎﻛز hadis ke

(9)

ﺮﺑ hadis ke 77, Sunan Ad-Darimi pada bab ةﺎﻛز hadis ke 18 dan

Muwaththa’ Malik pada bab ﺔﻗﺪﺻ hadis ke 7.13 Dalam pembahasan ini

penulis membatasi hadis tentang sabar sebanyak empat hadis karena keterbatasan waktu.

1. Teks dan Terjemahan Hadis a. Kitab Shahih Bukhari

ِءﺎَﻄَﻋ ْﻦَﻋ ، ٍبﺎَﻬِﺷ ِﻦْﺑا ِﻦَﻋ ،ٌﻚِﻟﺎَﻣ ﺎَﻧَﺮَـﺒْﺧَأ ،َﻒُﺳﻮُﻳ ُﻦْﺑ ِﻪﱠﻠﻟا ُﺪْﺒَﻋ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ

ِﻦْﺑ

َﻦِﻣ ﺎًﺳﺎَﻧ ﱠنِإ :ُﻪْﻨَﻋ ُﻪﱠﻠﻟا َﻲِﺿَر ﱢيِرْﺪُﳋا ٍﺪﻴِﻌَﺳ ِﰊَأ ْﻦَﻋ ،ﱢﻲِﺜْﻴﱠﻠﻟا َﺪﻳِﺰَﻳ

،ُﻩﻮُﻟَﺄَﺳ ﱠُﰒ ،ْﻢُﻫﺎَﻄْﻋَﺄَﻓ ،َﻢﱠﻠَﺳَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﷲا ﻰﱠﻠَﺻ ِﻪﱠﻠﻟا َلﻮُﺳَر اﻮُﻟَﺄَﺳ ِرﺎَﺼْﻧَﻷا

َﺪِﻔَﻧ ﱠﱴَﺣ ْﻢُﻫﺎَﻄْﻋَﺄَﻓ ،ُﻩﻮُﻟَﺄَﺳ ﱠُﰒ ،ْﻢُﻫﺎَﻄْﻋَﺄَﻓ

: َلﺎَﻘَـﻓ ،ُﻩَﺪْﻨِﻋ ﺎَﻣ

»

ُنﻮُﻜَﻳ ﺎَﻣ

ْﻦَﻣَو ،ُﻪﱠﻠﻟا ُﻪﱠﻔِﻌُﻳ ْﻒِﻔْﻌَـﺘْﺴَﻳ ْﻦَﻣَو ،ْﻢُﻜْﻨَﻋ ُﻩَﺮِﺧﱠدَأ ْﻦَﻠَـﻓ ٍْﲑَﺧ ْﻦِﻣ يِﺪْﻨِﻋ

ُﻪﱠﻠﻟا ِﻪِﻨْﻐُـﻳ ِﻦْﻐَـﺘْﺴَﻳ

اًﺮْـﻴَﺧ ًءﺎَﻄَﻋ ٌﺪَﺣَأ َﻲِﻄْﻋُأ ﺎَﻣَو ،ُﻪﱠﻠﻟا ُﻩْﺮﱢـﺒَﺼُﻳ ْﺮﱠـﺒَﺼَﺘَـﻳ ْﻦَﻣَو

َﻦِﻣ َﻊَﺳْوَأَو

ِْﱪﱠﺼﻟا

«

14

(ىرﺎﺨﺒﻟا ﻩاور)

Artinya:

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf, mengabarkan kepada kami Malik, dari Abu Syihab, dari Atha’ bin Yazid Al-Laitsi, dari Abu Sa’id Al-Khudri ra, bahwasanya beberapa orang dari kalangan Anshar meminta kepada Rasulullah SAW dan beliau memberi mereka. Kemudian mereka meminta lagi kepadanya dan beliau memberinya. Kemudian mereka meminta lagi kepadanya dan beliau saw memberinya sehingga habislah apa yang ada pada Rasulullah, maka beliau bersabda, “Kebaikan (harta) yang ada padaku niscaya tidak akan aku simpan dari kalian. Barangsiapa ingin dipelihara dari meminta-minta, niscaya Allah akan memeliharanya. Barangsiapa meminta untuk diberi kecukupan, niscaya Allah akan mencukupkannya. Barangsiapa berusaha sabar, niscaya Allah akan menjadikannya sabar, dan tidaklah seseorang diberi suatu

13

Muhammad Fuad Abdul Al-Baqi, Loc. Cit., hal. 241

14

Imam Hafiz Abi Abdullah Muhammad bin Ismail Bukhari, Shahih

(10)

pemberian yang lebih baik dan lapang daripada kesabaran.”

(HR. Bukhari)15 b. Kitab Shahih Muslim

ِﻦَﻋ ِﻪْﻴَﻠَﻋ َئِﺮُﻗ ﺎَﻤﻴِﻓ ،ٍﺲَﻧَأ ِﻦْﺑ ِﻚِﻟﺎَﻣ ْﻦَﻋ ،ٍﺪﻴِﻌَﺳ ُﻦْﺑ ُﺔَﺒْﻴَـﺘُـﻗ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ

ِﻦْﺑا

َﻦِﻣ ﺎًﺳﺎَﻧ ﱠنَأ ،ﱢيِرْﺪُْﳋا ٍﺪﻴِﻌَﺳ ِﰊَأ ْﻦَﻋ ،ﱢﻲِﺜْﻴﱠﻠﻟا َﺪﻳِﺰَﻳ ِﻦْﺑ ِءﺎَﻄَﻋ ْﻦَﻋ ، ٍبﺎَﻬِﺷ

ُﻩﻮُﻟَﺄَﺳ ﱠُﰒ ،ْﻢُﻫﺎَﻄْﻋَﺄَﻓ ،َﻢﱠﻠَﺳَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﷲا ﻰﱠﻠَﺻ ِﷲا َلﻮُﺳَر اﻮُﻟَﺄَﺳ ِرﺎَﺼْﻧَْﻷا

َﻗ ُﻩَﺪْﻨِﻋ ﺎَﻣ َﺪِﻔَﻧ اَذِإ ﱠﱴَﺣ ،ْﻢُﻫﺎَﻄْﻋَﺄَﻓ

: َلﺎ

»

ْﻦَﻠَـﻓ ٍْﲑَﺧ ْﻦِﻣ يِﺪْﻨِﻋ ْﻦُﻜَﻳ ﺎَﻣ

ْﻦَﻣَو ،ُﷲا ِﻪِﻨْﻐُـﻳ ِﻦْﻐَـﺘْﺴَﻳ ْﻦَﻣَو ،ُﷲا ُﻪﱠﻔِﻌُﻳ ْﻒِﻔْﻌَـﺘْﺴَﻳ ْﻦَﻣَو ،ْﻢُﻜْﻨَﻋ ُﻩَﺮِﺧﱠدَأ

ِْﱪﱠﺼﻟا َﻦِﻣ ُﻊَﺳْوَأَو ٌﺮْـﻴَﺧ ٍءﺎَﻄَﻋ ْﻦِﻣ ٌﺪَﺣَأ َﻲِﻄْﻋُأ ﺎَﻣَو ،ُﷲا ُﻩْﺮﱢـﺒَﺼُﻳ ِْﱪْﺼَﻳ

«

16

ور)

ا

(ﻢﻠﺴﻣ ﻩ

Artinya:

Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Said, dari Malik bin Anas, pada apa yang dibicarakan dari Abu Syihab, dari Atha’ bin Yazid Al-Laitsi, dari Abu Sa’id Al-Khudri ra, dia berkata, ”Sesungguhnya ada beberapa orang dari kaum Anshar yang minta kepada Rasulullah saw, beliau memberi mereka, kemudian mereka meminta kembali dan beliau memberi lagi, hingga tatkala semua yang ada padanya telah habis. Beliau bersabda, ‘Selama sesuatu yang baik ada padaku, maka aku tidak akan menahannya untuk aku berikan kepada kalian. Barang siapa yang berusaha menjaga kehormatannya (tidak meminta-minta), maka Allah akan menjaga kehormatannya. Barang siapa yang merasa cukup maka Allah akan mencukupkannya, dan barang siapa yang bersabar maka Allah akan memberikan kesabaran kepadanya. Tidak ada satu pemberian yang diberikan kepada seseorang yang lebih utama dan lebih luas dari pada kesabaran.’” (HR. Muslim)17

c. Kitab Sunan Abu Daud

ِﻦْﺑ ِءﺎَﻄَﻋ ْﻦَﻋ ، ٍبﺎَﻬِﺷ ِﻦْﺑا ِﻦَﻋ ،ٍﻚِﻟﺎَﻣ ْﻦَﻋ ،َﺔَﻤَﻠْﺴَﻣ ُﻦْﺑ ِﻪﱠﻠﻟا ُﺪْﺒَﻋ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ

َلﻮُﺳَر اﻮُﻟَﺄَﺳ ِرﺎَﺼْﻧَْﻷا َﻦِﻣ ﺎًﺳﺎَﻧ ﱠنَأ ،ﱢيِرْﺪُْﳋا ٍﺪﻴِﻌَﺳ ِﰊَأ ْﻦَﻋ ،ﱢﻲِﺜْﻴﱠﻠﻟا َﺪﻳِﺰَﻳ

15

Ibnu Hajar Al Asqalani Al Imam Al Hafizh, Fathul Baari Syarah Shahih Bukhari

(jilid 8), (Jakarta: Pustaka Azzam, 2007), hal. 225-226

16

Al-Imam Abi Al-Husain Muslim bin Hajjaj, Shahih Muslim (jilid 1), (Lebanon: Maktaba Al-Shaf, 2014), hal. 508

17

Muhammad Nashiruddin Al Albani, Mukhtashar Shahih Muslim (jilid 1), Loc.

(11)

ﱠُﰒ ،ْﻢُﻫﺎَﻄْﻋَﺄَﻓ َﻢﱠﻠَﺳَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﷲا ﻰﱠﻠَﺻ ِﻪﱠﻠﻟا

َﺪَﻔَـﻧ اَذِإ ﱠﱴَﺣ ،ْﻢُﻫﺎَﻄْﻋَﺄَﻓ ُﻩﻮُﻟَﺄَﺳ

: َلﺎَﻗ ،ُﻩَﺪْﻨِﻋ

»

ْﻦَﻣَو ،ْﻢُﻜْﻨَﻋ ُﻩَﺮِﺧﱠدَأ ْﻦَﻠَـﻓ ،ٍْﲑَﺧ ْﻦِﻣ يِﺪْﻨِﻋ ُنﻮُﻜَﻳ ﺎَﻣ

ْﻌَـﺘْﺴَﻳ

ْﻦَﻣَو ،ُﻪﱠﻠﻟا ُﻪﱠﻔِﻌُﻳ ْﻒِﻔ

،ُﻪﱠﻠﻟا ُﻩْﺮﱢـﺒَﺼُﻳ ْﺮﱠـﺒَﺼَﺘَـﻳ ْﻦَﻣَو ،ُﻪﱠﻠﻟا ِﻪِﻨْﻐُـﻳ ِﻦْﻐَـﺘْﺴَﻳ

ﻰَﻄْﻋَأ ﺎَﻣَو

ِْﱪﱠﺼﻟا َﻦِﻣ َﻊَﺳْوَأ ٍءﺎَﻄَﻋ ْﻦِﻣ اًﺪَﺣَأ ُﻪﱠﻠﻟا

«

18 Artinya:

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah, dari Malik, dari Abu Syihab, dari Atha’ bin Yazid Al-Laitsi, dari Abu Said Al-Khudri, bahwasanya beberapa orang Anshar meminta kepada Rasulullah saw, maka beliau memberikan kepada mereka, kemudian mereka meminta lagi kepadanya, maka beliau memberikan kepada mereka, sehingga habis apa yang ada di milikinya, beliau bersabda, “Apa yang ada di sisiku dari kebaikan, maka aku tidak akan menyembunyikannya dari kamu, barangsiapa yang menahan diri dari memakan makanan yang haram, niscaya Allah akan menolongnya, barangsiapa yang mencukupkan, niscaya Allah akan mencukupkannya, barangsiapa yang bersabar, niscaya Allah akan memberikan kesabaran kepadanya, dan Allah tidak memberikan kepada seorangpun suatu pemberian yang lebih baik daripada kesabaran”. (HR Abu

Daud)19

d. Kitab Sunan Tirmidzi

ِﻦَﻋ ،ٍﺲَﻧَأ ُﻦْﺑ ُﻚِﻟﺎَﻣ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ :َلﺎَﻗ ،ٌﻦْﻌَﻣ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ :َلﺎَﻗ ،ﱡيِرﺎَﺼْﻧَﻷا ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ

ْﻦَﻋ ،ﱢيِﺮْﻫﱡﺰﻟا

اﻮُﻟَﺄَﺳ ِرﺎَﺼْﻧَﻷا َﻦِﻣ ﺎًﺳﺎَﻧ ﱠنَأ ،ٍﺪﻴِﻌَﺳ ِﰊَأ ْﻦَﻋ ،َﺪﻳِﺰَﻳ ِﻦْﺑ ِءﺎَﻄَﻋ

ﺎَﻣ :َلﺎَﻗ ﱠُﰒ ،ْﻢُﻫﺎَﻄْﻋَﺄَﻓ ُﻩﻮُﻟَﺄَﺳ ﱠُﰒ ،ْﻢُﻫﺎَﻄْﻋَﺄَﻓ َﻢﱠﻠَﺳَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪﱠﻠﻟا ﻰﱠﻠَﺻ ﱠِﱯﱠﻨﻟا

ْﺴَﻳ ْﻦَﻣَو ،ْﻢُﻜْﻨَﻋ ُﻩَﺮِﺧﱠدَأ ْﻦَﻠَـﻓ ٍْﲑَﺧ ْﻦِﻣ يِﺪْﻨِﻋ ُنﻮُﻜَﻳ

ْﻦَﻣَو ،ُﻪﱠﻠﻟا ِﻪِﻨْﻐُـﻳ ِﻦْﻐَـﺘ

َﻮُﻫ ﺎًﺌْﻴَﺷ ٌﺪَﺣَأ َﻲِﻄْﻋُأ ﺎَﻣَو ،ُﻪﱠﻠﻟا ُﻩْﺮﱢـﺒَﺼُﻳ ْﺮﱠـﺒَﺼَﺘَـﻳ ْﻦَﻣَو ،ُﻪﱠﻠﻟا ُﻪﱠﻔِﻌُﻳ ْﻒِﻔْﻌَـﺘْﺴَﻳ

َﺧ

ِْﱪﱠﺼﻟا َﻦِﻣ ُﻊَﺳْوَأَو ٌﺮْـﻴ

.

20 Artinya:

Al-Anshari menceritakan kepada kami, Ma’n menceritakan kepada kami, Malik bin Anas menceritakan kepada kami, dari

18

Imam Hafiz Abi Daud Sulaiman, Sunan Abu Daud, (Lebanon: Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah, 2005), hal. 269

19

Muhammad Nashiruddin Al Albani, Shahih Sunan Abu Daud (jilid 1), (Jakarta: Pustaka Azzam, 2007), Cet. ke-1, hal. 639

20

Muhammad bin Isa Al-Tirmidi, Al-Jami’ Al-Sahih Sunan Al-Tirmidi (jilid 3), (Lebanon: Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah, 2011), 122-123

(12)

Zuhri, dari Atha’ bin Yazid, dari Abu Sa’id, bahwa ada sekelompok orang Anshar yang meminta (sesuatu) kepada Nabi saw, kemudian beliau memberikan(nya) kepada mereka. Mereka kemudian meminta (sesuatu) kepadanya, dan beliaupun memberikannya kepada mereka. Beliau kemudian bersabda, “Harta yang ada padaku, aku tidak akan menyimpannya (sembunyikan) dari kalian. Barangsiapa yang meminta kecukupan, maka Allah akan mencukupinya. Barangsiapa yang meminta dipelihara dirinya, maka Allah akan memeliharanya. Barangsiapa yang meminta kesabaran, maka Allah akan memberikannya kesabaran. Tidaklah seseorang diberikan sesuatu yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran”. (HR.

Tirmidzi)21 2. Syarah Hadis

Ar-Raghib berkata, sabar adalah tabah dalam kesempitan. Sabar adalah menahan kecenderungan jiwa terhadap tuntutan akal. Ibnu Hajar berkata, sabar adalah menahan kecenderungan jiwa terhadap perbuatan aniaya, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Bisa juga berarti kelembutan. Sebagian ahli ilmu mengatakan bahwa sabar terhadap derita adalah perjuangan jiwa. Allah telah membuat jiwa manusia bisa merasakan sakit karena suatu perbuatan terhadap fisik atau perkataan yang didengarnya. Oleh karena itu Nabi saw merasa berat ketika kaum musyrikin mendustakannya. Namun beliau tetap bersabar ketika mengetahui besarnya pahala orang-orang yang bersabar dan bahwa Allah Ta’ala akan memberinya pahala tanpa batas.22

Orang yang bersabar lebih besar pahalanya daripada yang berinfak, karena kebaikannya dilipat gandakan hingga tujuh ratus kali.

21

Muhammad Nashiruddin Al Albani, Shahih Sunan Tirmidzi, Loc., Cit, hal. 580

22

(13)

Padahal suatu kebaikan pada dasarnya dibalas dengan sepuluh kali lipat, kecuali bagi siapa yang Allah kehendaki maka akan ditambahkan.

Dalam hadis sabar disebutkan tentang keutamaan sabar dan anjuran bersabar. Sabar merupakan sifat terpuji dan perangai yang disukai, ia akan berakibat baik, dampaknya terpuji, dan menghimpun banyak manfaat. Sikap ini memberikan kesempatan kepada setiap muslim untuk memikirkan hal yang bermanfaat dan menimbang-nimbang perkaranya dengan matang, sehingga tidak melakukan kecuali yang akan mendatangkan menfaat dan akibat yang baik.

Oleh karena itu penulis menyatakan bahwa hadis yang membahas tentang sabar tersebut selain dari Shahih Bukhari, penulis juga menemukan hadis yang sama dalam kitab yang berbeda, seperti kitab Shahih Muslim, kitab Sunan Abu Daud dan kitab Sunan

Tirmidzi. Keempat hadis tersebut memiliki redaksi yang sedikit

berbeda. Pada kitab Sunan Abu Daud ada sedikit perbedaan menahan diri dari memakan makanan yang haram dan Allah akan menolongnya. Pada kitab Shahih Bukhari dan Sunan Tirmidzi menggunakan ada kata “peliharalah” dan pada kitab Shahih Muslim ada kata “menjaga kehormatan.”

Maksud kata “peliharalah” dan kata “menjaga kehormatan” yaitu pendidik harus bisa menahan amarahnya dan bersabar terhadap peserta didik, itu yang harus di pelihara karena akan menjaga

(14)

kehormatan pendidik sebagai contoh bagi peserta didik. Meskipun ada redaksinya yang berbeda tetapi maknanya tetap sama membahas tentang sabar yang dilakukan oleh Rasulullah SAW terhadap orang Anshar yang meminta-minta kepada beliau. Sifat itu harus dimiliki oleh pendidik/guru terutama dalam pendidikan.

3. Analisis Tarbawi

Sifat sabar merupakan posisi yang tinggi dan tidak dapat diraih kecuali oleh orang-orang yang berhati mulia dan berjiwa suci. Rasulullah adalah sosok orang yang tidak pemarah dan bahkan mampu menundukkan segala hawa nafsu yang bersemayam dalam dirinya. Akan tetapi, beliau akan marah jika kehormatan Allah diinjak-injak oleh manusia.23 Sifat sabar itu penting sekali dimiliki oleh seorang pendidik sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Berdasarkan hadis sabar di atas dapat diambil pelajarannya:

a. Rasulullah sabar ketika seseorang meminta kepadanya sampai yang ada pada beliau habis diminta orang tersebut.

b. Jika kita memiliki sesuatu maka hendaklah kita berbagi kepada orang lain yang membutuhkannya karena Allah akan memberi lebih dari yang kita miliki itu.

c. Allah akan memberikan kesabaran kepada kita jika kita bersabar dalam menghadapi semuanya.

23

Fuad bin Abdul Aziz Asy-Syalhub, Quantum Teaching: 38 Langkah Belajar

(15)

Sabar terbagi kepada tiga jenis yaitu:24

a. Sabar terhadap apa yang diperintahkan Allah, yaitu sabar dalam ketaatan dan melaksanakan tugas ibadah, serta dalam menghadapi kesulitan dalam pelaksanaannya. Seorang pendidik harus menjalankan tugasnya dengan sabar meski sulit untuk menjalaninya, jangan mengeluh dan langsung menyerah karena Allah swt akan memberikan kita kesabaran, dan Allah tidak akan memberikan semuanya diluar kesanggupan kita.

b. Sabar terhadap apa yang dilarang Allah, yaitu sabar terhadap hal-hal yang diharamkan, kemaksiatan dan dorongan syahwat, serta dalam menahan jiwa untuk tidak mendekatinya dan menahan paksaannya serta mengendalikan agar tidak terjerumus ke dalam kenistaan. Manusia harus sabar dalam menahan diri dari kebohongan, penipuan, berzina, minum khamar, pencurian dan kemaksiatan lainnya. Makanya seorang pendidik harus bisa bersabar dalam segala halnya karena akan menjadikan contoh bagi peserta didik.

c. Sabar terhadap musibah yang menyakitkan, bencana yang membinasakan, ujian dan cobaan, serta apapun penyebab dan bentuknya.

Seorang pendidik harus sabar ketika menghadapi peserta didiknya atau apapun dalam pembelajaran. Sebab setiap peserta didik

24

(16)

tidak sama perilakunya, tentunya tidak semuanya memiliki latarbelakang yang baik dan beragam perilaku yang dimilikinya. Oleh karena itu guru harus sabar untuk mengatasinya, sabar yang dimaksud bukan menerima apa adanya dan diam tetapi itu ujian yang menantang dan menjadi untuk lebih maju lagi. Contohnya seorang peserta didik yang suka mengganggu temannya ketika belajar meskipun sudah sering ditegur guru, guru dituntut sabar dalam menangani hal yang seperti ini, sabarnya pendidik itu tidak diam saja setelah peserta didiknya ditegur tetapi pendidik harus memberikan arahan yang bagus kepadanya agar peserta didik itu tidak mengganggu temannya ketika belajar.

C. Adil dalam Perspektif Hadis

Untuk mencari hadis tentang adil penulis menggunakan kitab

Mu’jam Al-Mufahras Lil Al-Fadzi Al-Hadits Al-Nabawi dengan tema

yang dipakai yaitu لﺪﻋ. Setelah penulis mencari tema tersebut penulis mendapatkan informasi hadis tentang adil yang terdapat dalam kitab

Shahih Muslim pada bab ةرﺎﻣا hadis ke 18 dan Sunan An-Nasa’i pada bab

ةﺎﻀﻗ hadis ke 1.25

1. Teks dan Terjemahan Hadis a. Kitab Shahih Muslim

ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ :اﻮُﻟﺎَﻗ ،ٍْﲑَُﳕ ُﻦْﺑاَو ، ٍبْﺮَﺣ ُﻦْﺑ ُﺮْـﻴَﻫُزَو ،َﺔَﺒْﻴَﺷ ِﰊَأ ُﻦْﺑ ِﺮْﻜَﺑ ﻮُﺑَأ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ

ْﻦَﻋ ،ٍسْوَأ ِﻦْﺑ وِﺮْﻤَﻋ ْﻦَﻋ ،ٍرﺎَﻨﻳِد َﻦْﺑا ِﲏْﻌَـﻳ وٍﺮْﻤَﻋ ْﻦَﻋ ،َﺔَﻨْـﻴَـﻴُﻋ ُﻦْﺑ ُنﺎَﻴْﻔُﺳ

25

(17)

ُﷲا ﻰﱠﻠَﺻ ﱠِﱯﱠﻨﻟا ِﻪِﺑ ُﻎُﻠْـﺒَـﻳ :ٍﺮْﻜَﺑ ﻮُﺑَأَو :ٍْﲑَُﳕ ُﻦْﺑا َلﺎَﻗ ،وٍﺮْﻤَﻋ ِﻦْﺑ ِﷲا ِﺪْﺒَﻋ

ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﷲا ﻰﱠﻠَﺻ ِﷲا ُلﻮُﺳَر َلﺎَﻗ :َلﺎَﻗ :ٍْﲑَﻫُز ِﺚﻳِﺪَﺣ ِﰲَو ،َﻢﱠﻠَﺳَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ

:َﻢﱠﻠَﺳَو

»

َﺮِﺑﺎَﻨَﻣ ﻰَﻠَﻋ ِﷲا َﺪْﻨِﻋ َﲔِﻄِﺴْﻘُﻤْﻟا ﱠنِإ

ﱠﺰَﻋ ِﻦَْﲪﱠﺮﻟا ِﲔَِﳝ ْﻦَﻋ ،ٍرﻮُﻧ ْﻦِﻣ

اﻮُﻟَو ﺎَﻣَو ْﻢِﻬﻴِﻠْﻫَأَو ْﻢِﻬِﻤْﻜُﺣ ِﰲ َنﻮُﻟِﺪْﻌَـﻳ َﻦﻳِﺬﱠﻟا ،ٌﲔَِﳝ ِﻪْﻳَﺪَﻳ ﺎَﺘْﻠِﻛَو ،ﱠﻞَﺟَو

«

26

ور)

ا

(ﻢﻠﺴﻣ ﻩ

Artinya:

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah, Zuhair bin Harbi, Ibnu Numayir, mereka berkata: telah menceritakan kepada kami Sofyan bin Uyainah, dari Amr maksudnya Ibnu Dinar, dari Amr bin Aus, dari Abdullah bin Amr, berkata Ibnu Numayir: Abu Bakar menyampaikan kepada Nabi SAW, dalam hadis Zuhair: ia berkata, Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil di sisi Allah memiliki mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya di sebelah kanan Yang Maha Pemurah Azza wa Jalla, kedua tangan-Nya adalah kanan. Yaitu mereka yang bersikap adil terhadap diri mereka, keluarga, dan yang menjadi tanggungannya.” (HR.

Muslim)27

b. Kitab Sunan An-Nasa’i

ﺎَﻧَﺄَﺒْـﻧَأَو ح ،وٍﺮْﻤَﻋ ْﻦَﻋ ،ُنﺎَﻴْﻔُﺳ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ :َلﺎَﻗ ،ٍﺪﻴِﻌَﺳ ُﻦْﺑ ُﺔَﺒْﻴَـﺘُـﻗ ﺎَﻧَﺮَـﺒْﺧَأ

ﺎَﺒُﻤْﻟا ِﻦْﺑا ْﻦَﻋ ،َنﺎَﻤْﻴَﻠُﺳ ِﻦْﺑ َمَدآ ُﻦْﺑ ُﺪﱠﻤَُﳏ

ْﻦَﻋ ،َﺔَﻨْـﻴَـﻴُﻋ ِﻦْﺑ َنﺎَﻴْﻔُﺳ ْﻦَﻋ ،ِكَر

ِﻦْﺑ وِﺮْﻤَﻋ ِﻦْﺑ ِﻪﱠﻠﻟا ِﺪْﺒَﻋ ْﻦَﻋ ،ٍسْوَأ ِﻦْﺑ وِﺮْﻤَﻋ ْﻦَﻋ ،ٍرﺎَﻨﻳِد ِﻦْﺑ وِﺮْﻤَﻋ

: َلﺎَﻗ َﻢﱠﻠَﺳَو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﷲا ﻰﱠﻠَﺻ ﱢِﱯﱠﻨﻟا ِﻦَﻋ ،ِصﺎَﻌْﻟا

»

ِﻪﱠﻠﻟا َﺪْﻨِﻋ َﲔِﻄِﺴْﻘُﻤْﻟا ﱠنِإ

َﺮِﺑﺎَﻨَﻣ ﻰَﻠَﻋ َﱃﺎَﻌَـﺗ

ْﻢِﻬِﻤْﻜُﺣ ِﰲ َنﻮُﻟِﺪْﻌَـﻳ َﻦﻳِﺬﱠﻟا ِﻦَْﲪﱠﺮﻟا ِﲔَِﳝ ﻰَﻠَﻋ ،ٍرﻮُﻧ ْﻦِﻣ

اﻮُﻟَو ﺎَﻣَو ْﻢِﻬﻴِﻠْﻫَأَو

«

28

ور)

ا

ﺴﻨﻟا ﻩ

ﻰﺋ

(

Artinya:

Telah mengbarkan kepada kami Qutaibah bin Said, ia berkata: menceritakan kepada kami Sofyan, dari Amr, dan mengabarkan

26

Al-Imam Abi Al-Husain Muslim bin Al-Hajjaj, Shahih Muslim (jilid 3), (Lebanon: Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah), hal. 1458

27

Muhammad Nashiruddin Al Albani, Mukhtashar Shahih Muslim (jilid 2), Loc.

Cit., hal. 14

28

Al-Imam Al-Hafiz Abi Abdurrahman Ahmad bin Syuaib bin Ali, Sunan Al-Nasai, (Lebanon: Dar Al-Kotob Al-Ilmiyah, 2005), hal. 851

(18)

kepada kami Muhammad bin Adam bin Sulaiman, dari Abu Al-Mubarok, dari Sofyan bin Uyainah, dari Amr bin Dinar, dari Amr bin Aus, dari Abdullah bin Amr bin Al Ash, dari Nabi saw, beliau bersabda, “Sesungguhnya orang-orang yang adil di sisi Allah Ta’ala ditempatkan di atas sejumlah mimbar dari cahaya; di samping kanan Ar-Rahman (Allah), yaitu orang-orang yang adil dalam menetapkan hukum mereka, dalam memperlakukan keluarga mereka serta dalam menjalankan tugas mereka.” (HR.

Nasa’i)29 2. Syarah Hadis

Al-Adalah dan Al-Mu’adalah mengandung makna seimbang,

kalimat ini digunakan dalam hal yang ada lawannya. ‘Adl dan

Al-‘Idl mengandung pengertian yang hamper sama, hanya saja kalimat Al-‘Adl digunakan dalam hal yang hanya bisa diketahui dengan akal,

seperti tentang hukum. Oleh karena itu Allah berfirman,











“Atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu.”

(Al-Maidah: 95)

Adapun kalimat Al-’Idl digunakan untuk hal-hal yang diketahui oleh indera, seperti yang berkaitan dengan timbangan, takaran dan ukuran. Jadi keadilan adalah keseimbangan dalam pemberian, jika baik maka dengan baik dan jika buruk maka dengan buruk. Sedangkan ihsan adalah membalas kebaikan dengan yang lebih banyak dan keburukan dengan yang lebih sedikit.30

29

Muhammad Nashiruddin Al Albani, Shahih Sunan An-Nasa’I, (Jakarta: Pustaka Azzam Anggota IKAPI DKI, 2013), hal. 704

30

(19)

Hadis di atas jika dilihat dan dibandingkan maka terlihat sedikit perbedaan dalam penggunaan redaksi bahasanya, akan tetapi makna dan penjelasannya sama, yaitu menjelaskan tentang adil. Makna hadis di atas bahwa keutamaan ini dan kedudukannya yang tinggi adalah bagi orang yang bersikap adil dalam kekuasaan, pemerintahan, pemberian keputusan atau terhadap anak yatim, sedekah, wakaf, hak-hak keluarga dan sejenisnya.

Oleh karena itu, dijumpai bahwa Allah SWT memerintahkan Nabi-Nya untuk bersikap adil, sebagaimana firman-Nya Q.S. Asy-Syura ayat 15 berikut:

                                                            

Artinya:

Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan Katakanlah: "Aku beriman kepada semua kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya Berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Tuhan Kami dan Tuhan kamu. bagi Kami amal-amal Kami dan bagi kamu amal-amal kamu. tidak ada pertengkaran antara Kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita)".

3. Analisis Tarbawi

Allah sudah menjelaskan dalam Al-Quran dan Hadis tentang sifat yang harus dimiliki oleh seorang pendidik. Saat ia memberikan kasih sayang pada peserta didik, haruslah memberikannya dengan kapasitas yang sama. Artinya bersikap adil kepada peserta didiknya.

(20)

Sikap adil yang ia lakukan, akan berdampak bagi siswa dalam menilai pribadinya, sehingga tidak ada rasa diskriminasi antara yang satu dengan yang lainnya. Sikap adil akan mendatangkan kenyamanan bagi peserta didiknya.

Keadilan pendidik terhadap peserta didik mencakup dalam berbagai hal, seperti memberikan perhatian, kasih sayang, pemenuhan kebutuhan, bimbingan, pengajaran dan pemberian nilai. Apabila sifat ini tidak dimiliki oleh seorang pendidik, maka ia tidak akan disenangi oleh peserta didiknya, dan apabila terjadi proses pembelajaran, maka tidak akan mendapatkan hasil yang optimal.31

Guru harus adil terhadap anak didiknya dalam pelayanan kependidikan dan kepengajaran, tidak boleh membeda-bedakan antara satu dan yang lainnya. Semua harus dilayani dengan sikap dan penilaian yang sama. Tidak ada bedanya antara anak orang kaya dan yang tidak kaya, anak pejabat dan anak rakyat biasa, anak yang cantik, ganteng dan anak yang tidak cantik, ganteng dan sebagainya. Keadilan seorang pendidik dalam kelas akan menumbuhkan suasana yang bagus dan merupakan pendidikan terhadap mereka. Seorang pendidik akan merasa senang jika murid-muridnya sama-sama berbuat baik dengan sesamanya.

Dalam hadis ada pengajaran Nabi saw terhadap seorang bapak agar bertindak seadil-adilnya terhadap anak-anaknya. Seorang bapak

31

(21)

di dalam rumah tangganya sebagai pendidik terhadap keluarganya harus bersikap adil baik dalam sikap, ucapan, dan segala tindakan. Karena sikap adil ini mempunyai pengaruh yang besar dalam pembinaan keluarga yang bahagia dan sejahtera. Tindakan adil dari orang tua atau dari seorang pendidik merupakan pendidikan terhadap anak-anaknya.32

Apalagi pendidikan yang didapat di sekolah oleh anak, jika pendidiknya tidak berlaku adil maka peserta didiknya akan lebih dari yang dilakukan oleh pendidiknya. Karena pendidik itu merupakan panutan untuk peserta didik, maka pendidik harus bersikap adil. Contohnya seorang pendidik tidak membeda-bedakan peserta didiknya antara anak yang pintar dengan anak yang kurang pintar, anak orang kaya dengan yang kurang mampu dan sebagainya.

Pendidik harus adil ketika belajar apabila anak yang pintar yang terus diperhatikan sedangkan anak yang kurang tidak terlalu diperhatikan maka nantinya anak yang pintar bertambah pintar dan anak yang kurang pintar tadi akan merasa tidak senang dengan temannya yang selalu mendapat perhatian, padahal anak yang kurang pintar itu juga harus diperhatikan agar tidak terjadi perbedaan antara mereka di kelas. Makanya guru itu harus memiliki sikap adil sebagaimana telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

32

Abdul Majid Khon, Hadis Tarbawi: Hadis-Hadis Pendidikan, (Jakarta: Kecana Prenadamedia Group, 2012), hal. 67

(22)

Berdasarkan uraian yang telah penulis paparkan di atas dapat disimpulkan bahwa kompetensi kepribadian guru merupakan kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang pendidik. Karena kompetensi ini berkenaan dengan sikap mendidik yang harus dimiliki dan melekat pada diri pendidik. Sebagaimana Rasulullah SAW telah menjelaskan dan mencontohkan tentang cara-cara mendidik yang baik dan benar.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :