Penulis :
Drs. Bintoro, S.T, M.T., 08123305762, email:
[email protected]
Penelaah :
Ch. Wawan Darmawan, S.Pd, M.Pd., 081233072105, email:
[email protected]
Copyright 2016
Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bidang Otomotif dan Elektronika, Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengkopi sebagian atau keseluruhan isi buku ini untuk kepentingan komersial tanpa izin tertulis dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
KATA SAMBUTAN
Peran guru profesional dalam proses pembelajaran sangat penting sebagai kunci keberhasilan belajar siswa. Guru profesional adalah guru yang kompeten membangun proses pembelajaran yang baik sehingga dapat menghasilkan pendidikan yang berkualitas. Hal tersebut menjadikan guru sebagai komponen yang menjadi fokus perhatian pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dalam peningkatan mutu pendidikan terutama menyangkut kompetensi guru. Pengembangan profesionalitas guru melalui program Guru Pembelajar (GP) merupakan upaya peningkatan kompetensi untuk semua guru. Sejalan dengan hal tersebut, pemetaan kompetensi guru telah dilakukan melalui uji kompetensi guru (UKG) untuk kompetensi pedagogik dan profesional pada akhir tahun 2015. Hasil UKG menunjukkan peta kekuatan dan kelemahan kompetensi guru dalam penguasaan pengetahuan. Peta kompetensi guru tersebut dikelompokkan menjadi 10 (sepuluh) kelompok kompetensi. Tindak lanjut pelaksanaan UKG diwujudkan dalam bentuk pelatihan guru pasca UKG melalui program Guru Pembelajar. Tujuannya untuk meningkatkan kompetensi guru sebagai agen perubahan dan sumber belajar utama bagi peserta didik. Program Guru Pembelajar dilaksanakan melalui pola tatap muka, daring (online), dan campuran (blended) tatap muka dengan online.
Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK), Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kelautan Perikanan Teknologi Informasi dan Komunikasi (LP3TK KPTK), dan Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LP2KS) merupakan Unit Pelaksana Teknis di lingkungan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan yang bertanggung jawab dalam mengembangkan perangkat dan melaksanakan peningkatan kompetensi guru sesuai bidangnya. Adapun perangkat pembelajaran yang dikembangkan tersebut adalah modul untuk program Guru Pembelajar (GP) tatap muka dan GP
online untuk semua mata pelajaran dan kelompok kompetensi. Dengan modul ini
diharapkan program GP memberikan sumbangan yang sangat besar dalam peningkatan kualitas kompetensi guru.
Mari kita sukseskan program GP ini untuk mewujudkan Guru Mulia Karena Karya.
Jakarta, Februari 2016 Direktur Jenderal
DAFTAR ISI
KATA SAMBUTAN ... I DAFTAR ISI ... II DAFTAR GAMBAR ... IV DAFTAR TABEL ... IX PENDAHULUAN ... 1 A. LATAR BELAKANG ... 1 B. TUJUAN ... 2 C. PETA KOMPETENSI ... 3 D. RUANG LINGKUP ... 6E. SARAN CARA PENGGUNAAN MODUL ... 7
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: PERAWATAN BERKALA KOPLING, TRANSMISI MANUAL DAN TRANSMISI OTOMATIS ... 8
A. TUJUAN ... 8
B. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI ... 8
C. URAIAN MATERI ... 8
D. AKTIFITAS PEMBELAJARAN ... 22
E. LATIHAN/KASUS/TUGAS ... 23
F. RANGKUMAN ... 23
G. UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT ... 24
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: PERAWATAN BERKALA POROS PROPELLER, GARDAN, AKSEL RODA, SISTEM KEMUDI DAN SUSPENSI . 26 A. TUJUAN ... 26
B. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI ... 26
C. URAIAN MATERI ... 26
D. AKTIFITAS PEMBELAJARAN ... 51
E. LATIHAN/KASUS/TUGAS ... 52
F. RANGKUMAN ... 52
A. TUJUAN ... 56
B. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI ... 56
C. URAIAN MATERI ... 56
D. AKTIFITAS PEMBELAJARAN ... 97
E. LATIHAN/KASUS/TUGAS ... 98
F. RANGKUMAN ... 98
KEGIATANPEMBELAJARAN4: PERAWATANBERKALASISTEM PENERANGAN,TANDA,PENGAMAN,PENGHAPUS/PEMBERSIHKACA, SISTEMSTARTERDANSISTEMPENGISIAN ... 101
A. TUJUAN ... 101
B. INDIKATOR PENCAPAIAN KOMPETENSI ... 101
C. URAIAN MATERI ... 102
D.AKTIFITAS PEMBELAJARAN ... 119
E. LATIHAN/KASUS/TUGAS ... 120
F. RANGKUMAN ... 120
PENUTUP ... 121
EVALUASI ... 122
DAFTARPUSTAKA... 126
DAFTAR GAMBAR
GAMBAR 1. 1 SISTEM PEMINDAH TENAGA ... 9
GAMBAR 1. 2 KOPLING KERING PLAT TUNGGAL PEGAS DIAFRAGMA ... 10
GAMBAR 1. 3 POSISI KOPLING TERHUBUNG DAN TERLEPAS ... 11
GAMBAR 1. 4 GERAK BEBAS KOPLING ... 12
GAMBAR 1. 5 MUR PENYETEL GERAK BEBAS KOPLING ... 12
GAMBAR 1. 6 MEKANISME KOPLING KONVENSIONAL ... 13
GAMBAR 1. 7 PENYETEL PADA MASTER KOPLING ... 13
GAMBAR 1. 8 PRINSIP PENGUNGKIT (LENGAN) PADA TRANSMISI ... 14
GAMBAR 1. 9 PRINSIP PENGUNGKIT PADA RODA GIGI TRANSMISI ... 15
GAMBAR 1. 10 TRANSMISI DENGAN GIGI GESER (SLIDING GEAR) ... 15
GAMBAR 1. 11 TRANSMISI DENGAN GIGI TETAP (CONSTANT MESH) ... 16
GAMBAR 1. 12 TRANSMISI DENGAN RODA GIGI GESER ... 16
GAMBAR 1. 13 TRANSMISI DUA POROS ... 18
DIAGRAM POSISI GIGI ... 19
GAMBAR 1. 14 ALIRAN TENAGA TRANSMISI DUA POROS PENGGERAK DEPAN ... 19
GAMBAR 1. 15 ALIRAN TENAGA TRANSMISI DUA POROS PENGGERAK BELAKANG ... 20
GAMBAR 1. 16 POSISI OLI TRANSMISI DAN GARDAN ... 21
GAMBAR 1. 17 PENGISIAN OLI TRANSMISI AUTOMATIS DAN GARDAN ... 21
GAMBAR 1. 18 PENGECEKAN OLI TRANSMISI ... 22
GAMBAR 2. 1 POROS PENGGERAK (PROPELLER SHAFT) PADA KENDARAAN ... 27
GAMBAR 2. 2 POROS PENGGERAK (PROPELLER SHAFT) ... 27
GAMBAR 2. 3 POROS AKSEL (POROS RODA) PADA AKSEL RIGID ... 28
GAMBAR 2. 4 POROS PENGGERAK PADA SUSPENSI INDEPENDEN ... 28
GAMBAR 2. 5 PENGHUBUNG SALIB (UNIVERSAL JOINT) ... 29
GAMBAR 2. 6 PENGHUBUNG BOLA PELURU (POT JOINT) ... 29
GAMBAR 2. 10 PEMERIKSAAN KEBEBASAN PADA SAMBUNGAN SALIB ... 31
GAMBAR 2. 11 NIPEL PELUMAS PADA POROS PROPELER ... 32
GAMBAR 2. 12 KEBOCORAN PADA KARET PENUTUP ... 32
GAMBAR 2. 13 SISTEM KEMUDI RAK DAN PINION... 33
(POWER STEERING) ... 34
GAMBAR 2. 15 BATAS PERMUKAAN OLI ... 35
GAMBAR 2. 16 MUR-BAUT PENYETEL KEBEBASAN GIGI ... 36
GAMBAR 2. 17 PEMERIKSAAN KONDISI SAMBUNGAN KEMUDI ... 37
GAMBAR 2. 18 PEMERIKSAAN KONDISI KARET PENUTUP ... 37
GAMBAR 2. 19 PEMERIKSAAN DAN PELUMASAN SAMBUNGAN KEMUDI .. 38
GAMBAR 2. 20 SUSPENSI AKSEL RIGID ... 38
GAMBAR 2. 21 SUSPENSI INDEPENDEN ... 39
GAMBAR 2. 22 AKSEL RIGID DENGAN PEGAS DAUN ... 41
GAMBAR 2. 24 PEMERIKSAAN AKSEL RIGID DENGAN PEGAS DAUN ... 41
GAMBAR 2. 23 PEMERIKSAAN DAN PELUMASAN SUSPENSI ... 41
GAMBAR 2. 25 PEMERIKSAAN AKSEL RIGID DENGAN PEGAS DAUN ... 42
GAMBAR 2. 26 PEMERIKSAAN KELONGGARAN BALL-JOINT ... 42
GAMBAR 2. 27 PEMERIKSAAN SUSPENSI IDEPENDEN JENIS MC. PHERSON ... 43
GAMBAR 2. 28 PEMERIKSAAN SUSPENSI IDEPENDEN JENIS WISHBONE 43 GAMBAR 2. 29 PEMERIKSAAN STABILISER ... 44
GAMBAR 2. 30 PEMERIKSAAN PEREDAM GETARAN (SOKBREKER) ... 44
GAMBAR 2. 31 PEMERIKSAAN PEREDAM GETARAN (SOKBREKER) ... 44
GAMBAR 2. 32 PELUMASAN BAGIAN-BAGIAN YANG DIPERLENGKAPI NIPEL ... 45
GAMBAR 2. 33 PEMERIKSAAN KEAUSAN BAN ... 46
GAMBAR 2. 34 KONTROL SAMBUNGAN KEMUDI ... 46
GAMBAR 2. 35 PERIKSA KELONGGARAN ... 47
GAMBAR 2. 36 KELONGGARAN PADA BANTALAN DAN JOINT / BANTALAN SUSPENSI ... 47
GAMBAR 2. 37 PEMERIKSAAN PERSYARATAN PENGUKURAN TOE-IN ... 48
GAMBAR 2. 38 PERSIAPAN PENGUKURAN TOE-IN ... 49
GAMBAR 2. 41 BERBAGAI MACAM PENYETELAN TOE-IN ... 50
GAMBAR 3. 1 REM TROMOL ... 57
GAMBAR 3. 2 REM CAKRAM ... 57
GAMBAR 3. 3 CARA KERJA REM TROMOL ... 58
GAMBAR 3. 4 CARA KERJA REM CAKRAM ... 59
GAMBAR 3. 5 PENGEREMAN PADA RODA ... 59
GAMBAR 3. 6 PENGEREMAN PADA POROS PROPELLER... 60
GAMBAR 3. 7 PEMERIKSAAN GERAK BEBAS PEDAL REM ... 62
GAMBAR 3. 8 PEMERIKSAAN KEBOCORAN PADA SILINDER MASTER ... 63
GAMBAR 3. 9 PEMERIKSAAN SALURAN DAN SLANG REM ... 64
GAMBAR 3. 10 KONTROL FUNGSI PENGUAT TENAGA REM (BOOSTER)... 65
GAMBAR 3. 11 SEKRUP PEMBUANG UDARA ... 65
GAMBAR 3. 12 PENGGUNAAN KUNCI PEMBUANGAN UDARA ... 66
GAMBAR 3. 13 CARA PEMBUANGAN UDARA ... 67
GAMBAR 3. 14 PENGECEKAN TAHANAN PEDAL REM ... 67
GAMBAR 3. 15 TROMOL DIIKAT PADA FLENS RODA ... 69
GAMBAR 3. 16 SISTEM PENGIKAT PADA BANTALAN RODA ... 69
GAMBAR 3. 17 PEMBERIAN TANDA PADA TROMOL ... 70
GAMBAR 3. 18 PELEPASAN TROMOL REM ... 70
GAMBAR 3. 19 PELEPASAN TROMOL SISTEM PENGIKAT PADA FLENS RODA ... 71
GAMBAR 3. 20 PELEPASAN TROMOL SISTEM PENGIKAT PADA BANTALAN RODA ... 71
GAMBAR 3. 21 PEMERIKSAAN FUNGSI REM TROMOL ... 72
GAMBAR 3. 22 PEMERIKSAAN/PEMBERSIHAN REM TROMOL ... 73
GAMBAR 3. 23 PENYETELAN SEPATU REM ... 74
GAMBAR 3. 24 PELEPASAN REM TANGAN ... 74
GAMBAR 3. 25 PENYETELAN SEPATU REM ... 74
GAMBAR 3. 26 PENYETEL OTOMATIS (REM TROMOL) ... 75
GAMBAR 3. 27 TANDA POSISI KEDUDUKAN TROMOL TERHADAP FLENS 76 GAMBAR 3. 28 MACAM-MACAM PENYETEL REM TANGAN ... 77
GAMBAR 3. 32 SUSUNAN NAF RODA DENGAN BANTALAN ROL KERUCUT
... 87
GAMBAR 3. 33 LANGKAH PENYETELAN ... 88
GAMBAR 3. 34 PEPASAN PEN PENGUNCI ... 88
GAMBAR 3. 35 KONTROL KETEGANGAN BANTALAN ... 89
GAMBAR 3. 36 PEMASANGAN DAN PEMBENGKOKAN PEN PENGUNCI .... 89
GAMBAR 3. 37 PEMASANGAN TUTUP NAF DAN KONTROL KEMBALI KELONGGARAN ... 90
GAMBAR 3. 38 PELEPASAN TUTUP NAF , PEN PENGUNCI DAN MUR PENYETEL ... 90
GAMBAR 3. 39 PELUMASAN BANTALAN RODA ... 91
GAMBAR 3. 40 TANDA KEAUSAN BAN ... 93
GAMBAR 3. 41 PROFI BAN SUDAH AUS ... 93
GAMBAR 3. 42 PUNDAK BAN RETAK ... 94
GAMBAR 3. 43 KEOLENGAN RADIAL ... 94
GAMBAR 3. 44 KEOLENGAN AKSIAL ... 94
GAMBAR 3. 45 PELEK RETAK ... 95
GAMBAR 3. 46 PENUKARAN/ROTASI POSISI RODA ... 95
GAMBAR 3. 47 PEMBERSIHAN PADA KATUP BAN ... 96
GAMBAR 3. 48 TEKANAN BAN DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEAUSAN PROFIL BAN ... 96
GAMBAR 3. 49 AQUAPLANING ... 97
GAMBAR 4. 1 SISTEM PENERANGAN ... 102
GAMBAR 4. 2 SISTEM TANDA BLOK DAN RELAI ... 103
GAMBAR 4. 3 RANGKAIAN 2 KLAKSON ... 104
GAMBAR 4. 4 MELEPAS TUTUP LAMPU ... 107
GAMBAR 4. 5 LAMPU PIJAR BAYONET SATU FILAMEN ... 108
GAMBAR 4. 6 LAMPU PIJAR BAYONET DUA FILAMEN ... 108
GAMBAR 4.7 LAMPU TUSUK ... 109
GAMBAR 4. 6 LAMPU SOFITE ... 109
GAMBAR 4. 8 LAMPU HALOGEN ... 109
GAMBAR 4. 9 PENGHAPUS KACA ... 110
GAMBAR 4. 13 GARIS-GARIS PADA KACA BIAS ... 115 GAMBAR 4.14 HASIL PROYEKSI LAMPU EUROPA ... 117 GAMBAR 4.15 PENYETELAN LAMPU ... 118
DAFTAR TABEL
TABEL 0. 1 PETA KOMPETENSI GURU TKR ... 3
TABEL 1. 1 UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT ... 24
TABEL 2. 1 UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT ... 54
TABEL 3. 1 MACAM-MACAM BANTALAN RODA ... 92
TABEL 3. 2 UMPAN BALIK DAN TINDAK LANJUT ... 99
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Modul Guru Pembelajar Paket Keahlian Teknik Kendaraan Ringan Kelompok Kompetensi B ini berisikan materi tentang Perawatan Berkala Casis, Pemindah Tenaga dan Kelistrikan Kendaraan Ringan. Materi yang ada dirangcang untuk dapat memenuhi tuntutan Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK) dari Kompetensi Dasar (KD) yang terdapat dalam Standar Kompetensi Guru Profesional (SKG) bagi guru paket keahlian Teknik Kendaraan Ringan.
Dalam mempelajari materi “Pengetahuan”, pembelajar diharapkan membaca uraian materi dalam modul dengan runtut dan bertahap sampai tuntas, mengerjakan latihan atau tugas, mengerjakan evaluasi mandiri sebagai umpan balik dan selanjutnya memperbaiki kembali belajar dari awal jika hasil belajar belum tuntas. Sebelum materi tertentu telah dipelajari dengan tuntas, maka tidak diperkenankan mempelajari materi berikutnya.
Untuk memperjelas pemahaman pengetahuan yang dipelajari, diharapkan pembelajar memanfaatkan secara maksimal sumber belajar yang diperlukan, misalnya mempelajari referensi pendukung, mengidentifikasi komponen asli yang terkait dengan tema. Belajar yang baik bukan hanya membaca saja, melainkan juga perlu membuat catatan sendiri, ringkasan sendiri dan bahkan siap untuk membuat power point sendiri untuk siap diajarkan.
Aktifitas pembelajaran “keterampilan” terkait dengan materi kendaraan ringan, khusus tentang materi ini, maka aspek sangat penting yang perlu diperhatikan adalah Keselamatan Kerja, baik yang menyangkut orang, peralatan dan bahan yang digunakan serta lingkungan belajar. Diharapkan pembelajar mengidentifikasi terlebih dahulu potensi kecelakaan, kerusakan, kebakaran dan sebagainya yang mungkin bisa terjadi. Dengan demikian pembelajar akan dapat mengantisipasi dan melaksanakan pembelajaran “Keterampilan” dengan baik dan aman. Ketuntasan pembelajaran “Keterampilan” adalah jika pembelajar
waktu. Oleh karena itu diperlukan latihan keterampilan yang berulang-ulang untuk mencapai ketuntasan keterampilan tersebut.
B. Tujuan
Melalui proses pembelajaran mandiri dengan sumber belajar utama modul ini, diharapkan guru pembelajar memiliki kompetensi, dengan indikator sebagai berikut:
1. Menelaah prinsip kerja kopling 2. Merawat berkala kopling
3. Menelaah prinsip kerja transmisi manual 4. Merawat berkala transmisi manual
5. Menelaah prinsip kerja transmisi otomatis 6. Merawat berkala transmisi otomatis
7. Menelaah prinsip kerja poros propeller, gardan dan aksel roda 8. Merawat berkala poros propeller, gardan dan aksel roda 9. Menelaah prinsip kerja sistem kemudi
10. Merawat berkala sistem kemudi 11. Menelaah prinsip kerja sistem rem 12. Merawat berkala sistem rem
13. Menelaah kodefikasi peleg dan ban 14. Merawat berkala peleg dan ban
15. Menelaah prinsip kerja sistem suspensi 16. Merawat berkala sistem suspensi
17. Menelaah prinsip kerja sistem penerangan, tanda dan pengaman 18. Merawat berkala sistem penerangan, tanda dan pengaman 19. Menelaah prinsip kerja penghapus /pembersih kaca
20. Merawat berkala sistem penghapus/ pembersih kaca 21. Menelaah prinsip kerja sistem starter dan pengisian 22. Merawat berkala sistem starter dan pengisian
C. Peta Kompetensi
Bidang Keahlian
: Teknologi dan Rekayasa
Jenjang
: Guru SMK
Program Keahlian : Teknik Otomotif
Paket Keahlian : Teknik Kendaraan Ringan
Kelompok Kompetensi
Kompetensi Guru
Paket Keahlian Indikator Pencapaian Kompetensi
A
Merawat berkala mekanisme katup
Menelaah prinsip kerja sistem mekanisme katup Merawat berkala mekanisme katup
Merawat berkala sistem pelumasan dan pendinginan
Menelaah prinsip kerja sistem pelumasan dan pendinginan
Menelaah minyak pelumas
Merawat berkala sistem pelumasan dan pendinginan
Merawat berkala sistem pemasukan dan pembuangan
Menelaah prinsip kerja sistem pemasukan dan pembuangan
Merawat berkala sistem pemasukan dan pembuangan
Merawat berkala sistem pengapian
Menelaah prinsip kerja sistem pengapian konvensional dan elektronis
Merawat berkala sistem pengapian konvensional dan elektronis
Merawat berkala sistem bahan bakar bensin
Menelaah prinsip kerja sistem bahan bakar bensin
Merawat berkala sistem bahan bakar bensin Merawat berkala
sistem bahan bakar Diesel
Menelaah prinsip kerja sistem bahan bakar Diesel Merawat berkala sistem bahan bakar Diesel
transmisi manual M erawat berkala transmisi manual Merawat berkala
transmisi otomatis
Menelaah prinsip kerja transmisi otomatis Merawat berkala transmisi otomatis Merawat berkala
poros propeller, gardan dan aksel roda
Menelaah prinsip kerja poros propeller, gardan dan aksel roda
Merawat berkala poros propeller, gardan dan aksel roda
Merawat berkala sistem kemudi
Menelaah prinsip kerja sistem kemudi Merawat berkala sistem kemudi Merawat berkala
sistem rem
Menelaah prinsip kerja sistem rem Merawat berkala sistem rem Merawat berkala
roda
Menelaah kodefikasi peleg dan ban Merawat berkala peleg dan ban Merawat berkala
sistem supensi
Menelaah prinsip kerja sistem suspensi Merawat berkala sistem suspensi Merawat berkala
sistem penerangan, tanda dan
pengaman
Menelaah prinsip kerja sistem penerangan, tanda dan pengaman
Merawat berkala sistem penerangan, tanda dan pengaman
Merawat berkala sistem penghapus/ pembersih kaca
Menelaah prinsip kerja penghapus/pembersih kaca
Merawat berkala sistem penghapus/ pembersih kaca
Merawat berkala sistem starter dan pengisian
Menelaah prinsip kerja sistem starter dan pengisian
Merawat berkala sistem starter dan pengisian
C
Memperbaiki blok motor dan
mekanisme engkol
Menelaah blok motor dan mekanisme engkol Mendiagnosis kerusakan blok motor dan mekanisme engkol
Memperbaiki blok motor dan mekanisme engkol Memperbaiki kepala
silinder dan mekanisme katup
Menelaah kepala silinder dan mekanisme katup Mendiagnosis kerusakan kepala silinder dan mekanisme katup
Memperbaiki kepala silinder dan mekanisme katup
Memperbaiki sistem pemasukan dan pembuangan
Menelaah sistem pemasukan dan pembuangan Mendiagnosis kerusakan sistem pemasukan dan pembuangan
Memperbaiki sistem pemasukan dan pembuangan
Memperbaiki sistem pelumasan dan pendinginan
Menelaah sistem pelumasan dan pendinginan Mendiagnosis kerusakan sistem pelumasan dan pendinginan
Memperbaiki sistem pelumasan dan pendinginan
D
Memperbaiki sistem rem
Menelaah sistem rem
Mendiagnosis kerusakan sistem rem Memperbaiki sistem rem
penerangan, tanda dan pengaman
pengaman
Mendiagnosis kerusakan sistem penerangan, tanda dan pengaman
Memperbaiki sistem penerangan, tanda dan pengaman
Memperbaiki sistem penghapus/
pembersih kaca
Menelaah sistem penghapus/ pembersih kaca Mendiagnosis kerusakan sistem penghapus/ pembersih kaca
Memperbaiki sistem penghapus/ pembersih kaca
F
Memperbaiki sistem pengapian
Menelaah sistem pengapian konvensional dan elektronis
Mendiagnosis kerusakan sistem pengapian konvensional dan elektronis
Memperbaiki sistem pengapian konvensional dan elektronis
Memperbaiki sistem starter dan pengisian
Menelaah sistem starter dan pengisian
Mendiagnosis kerusakan sistem starter dan pengisian
Memperbaiki sistem starter dan pengisian
G
Memperbaiki sistem kopling
Menelaah sistem kopling
Mendiagnosis kerusakan sistem kopling Memperbaiki sistem kopling
Memperbaiki transmisi
Menelaah transmisi
Mendiagnosis kerusakan transmisi Memperbaiki transmisi
Memperbaiki poros propeller,gardan dan aksel roda
Menelaah poros propeller,gardan dan aksel roda Mendiagnosis kerusakan poros propeller,gardan dan aksel roda
Memperbaiki poros propeller,gardan dan aksel roda
H
Memperbaiki sistem bahan bakar bensin
Menelaah sistem bahan bakar bensin
Mendiagnosis kerusakan sistem bahan bakar bensin
Memperbaiki sistem bahan bakar bensin Memperbaiki sistem
bahan bakar Diesel
Menelaah sistem bahan bakar Diesel
Mendiagnosis kerusakan sistem bahan bakar Diesel
Memperbaiki sistem bahan bakar Diesel
I
Memperbaiki sistem kemudi
Menelaah sistem kemudi
Mendiagnosis kerusakan sistem kemudi Memperbaiki sistem kemudi
Memperbaiki roda Menelaah peleg dan ban
Mendiagnosis kerusakan peleg dan ban. Memperbaiki peleg dan ban
Memperbaiki sistem suspensi
Menelaah sistem suspensi
J
Memperbaiki sistem
Air Conditioning (AC)
Menelaah sistem Air Conditioning (AC)
Mendiagnosis kerusakan sistem Air Conditioning
(AC)
Memperbaiki sistem Air Conditioning (AC) Memperbaiki
assesoris
Menelaah sistem audio video dan sistem tambahan (GPS, dsb)
Mendiagnosis kerusakan pada sistem audio video dan sistem tambahan (GPS, dsb)
Memperbaiki sistem audio video dan sistem tambahan (GPS, dsb)
D. Ruang Lingkup
Ruang lingkup yang perlu dipelajari dalam modul ini adalah Perawatan Berkala Casis, Pemindah Tenaga dan Kelistrikan Kendaraan Ringan , yang meliputi:
1. Menelaah prinsip kerja kopling 2. Merawat berkala kopling
3. Menelaah prinsip kerja transmisi manual 4. Merawat berkala transmisi manual
5. Menelaah prinsip kerja transmisi otomatis 6. Merawat berkala transmisi otomatis
7. Menelaah prinsip kerja poros propeller, gardan dan aksel roda 8. Merawat berkala poros propeller, gardan dan aksel roda 9. Menelaah prinsip kerja sistem kemudi
10. Merawat berkala sistem kemudi 11. Menelaah prinsip kerja sistem rem 12. Merawat berkala sistem rem
13. Menelaah kodefikasi peleg dan ban 14. Merawat berkala peleg dan ban
15. Menelaah prinsip kerja sistem suspensi 16. Merawat berkala sistem suspensi
17. Menelaah prinsip kerja sistem penerangan, tanda dan pengaman 18. Merawat berkala sistem penerangan, tanda dan pengaman 19. Menelaah prinsip kerja penghapus /pembersih kaca
20. Merawat berkala sistem penghapus/ pembersih kaca 21. Menelaah prinsip kerja sistem starter dan pengisian 22. Merawat berkala sistem starter dan pengisian
E. Saran Cara Penggunaan Modul
Guru pembelajar diharapkan memiliki sikap mandiri dalam belajar, dapat berperan aktif dan berinteraksi secara optimal dengan sumber belajar. Oleh karena itu langkah kerja berikut perlu diperhatikan secara baik :
1. Bacalah modul ini secara berurutan dari halaman paling depan sampai halaman paling belakang. Pahami dengan benar isi dari setiap kegiatan belajar yang ada.
2. Untuk memudahkan anda dalam mempelajari modul ini, maka pelajari terlebih dahulu Tujuan Akhir Pembelajaran dan Ruang Lingkup yang akan dicapai dalam modul ini.
3. Laksanakan semua tugas-tugas yang ada dalam modul ini agar kompetensi anda berkembang sesuai standar.
4. Lakukan kegiatan belajar untuk mendapatkan kompetensi sesuai rencana yang telah anda susun.
5. Sebelum anda dapat menjawab dengan baik latihan dan tugas atau tes yang ada pada setiap akhir materi, berarti anda belum memperoleh ketuntasan dalam belajar. Ulangi lagi pembelajarannya sampai tuntas, setelah itu diperbolehkan untuk mempelajari materi berikutnya.
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1: PERAWATAN
BERKALA KOPLING, TRANSMISI MANUAL DAN
TRANSMISI OTOMATIS
A. Tujuan
Melalui pembelajaran secara mandiri, diharapkan guru mampu: 1. Menelaah prinsip kerja kopling
2. Merawat berkala kopling
3. Menelaah prinsip kerja transmisi manual 4. Merawat berkala transmisi manual
5. Menelaah prinsip kerja transmisi otomatis 6. Merawat berkala transmisi otomatis
B. Indikator Pencapaian Kompetensi
1. Menelaah prinsip kerja kopling
2. Merawat berkala kopling
3. Menelaah prinsip kerja transmisi manual
4. Merawat berkala transmisi manual
5. Menelaah prinsip kerja transmisi otomatis
6. Merawat berkala transmisi otomatis
C. Uraian Materi
1. Sistem Pemindah Tenaga
Sistem pemindah tenaga adalah sistem yang berfungsi untuk memindahkan torsi dan tenaga mesin ke roda penggerak kendaraan untuk memenuhi kebutuhan kendaraan mulai dari kendaraan mulai bergerak jalan, kendaraan berjalan lambat-cepat dan sampai kendaraan menjadi berhenti kembali. Sistem pemindah tenaga harus dapat menghasilkan berbagai kebutuhan torsi dan tenaga roda kendaraan, sehingga kendaraan dengan kapasitas muatannya dapat berjalan
Gambar 1. 1 Sistem Pemindah Tenaga
1. Kopling : Menghubung dan memutus putaran / tenaga motor ke transmisi
2. Transmisi : Mengatur perbandingan putaran motor dengan poros penggerak aksel sehingga menghasilkan momen puntir yang diinginkan
3. Poros Penggerak (Propeller Shaft )
: Meneruskan putaran/tenaga dari transmisi ke penggerak aksel dengan sudut yang bervariasi.
4. Penggerak Aksel (Gardan/
Differensial)
: Penggerak sudut, untuk memindahkan arah putaran poros penggerak kearah poros aksel.
Differensial, untuk menyeimbangkan putaran kedua roda pada saat belok
5. Poros Aksel : Meneruskan putaran dari penggerak aksel ke roda.
2. Kopling
Kopling berfungsi untuk menghubungkan dan memutuskan aliran tenaga, torsi dan putaran motor ke komponen pemindah tenaga.
a. Cara Kerja Kopling
Contoh : pada kopling plat tunggal dengan diafragma
1 1 2 3 4 5
Bagian utama kopling: 1. Tuas Pembebas 2. Roda gaya 3. Bantalan tekan 4. Poros kopling 5. Poros engkol 6. Bantalan pilot 7. Plat kopling 8. Pegas diafragma 9. Plat penekan 10. Unit penekan
1) Posisi Kopling Terhubung
Pada saat kaki pengemudi tidak menekan pedal kopling, maka tuas pembebas pada unit kopling tidak tertarik, akibatnya pegas penekan diafragma menekan plat penekan sehingga plat penekan terhubung / tertekan dan kanvas kopling terjepit diantara roda gaya dan plat penekan, sehingga putaran motor pada roda gaya dimana terdapat dudukan pelat kopling, akan diteruskan atau dipindahkan ke poros kopling.
2) Posisi Kopling Terlepas
Selanjutnya pada saat kaki pengemudi menekan pedal kopling, maka tuas pembebas pada unit kopling akan tertarik, akibatnya pegas penekan diafragma mengungkit plat penekan sehingga plat kopling bebas dari penekanan. Akibatnya kanvas kopling bebas dari penekan/jepitan, maka tenaga, torsi dan putaran motor tidak dapat diteruskan/dipindahkan ke poros kopling.
b. Penyetelan Gerak Bebas Kopling
1). Peralatan yang digunakan untuk praktik:
Kotak alat
Lampu kerja
Alat pengangkat mobil
Penyangga mobil
2) Bahan yang digunakan untuk praktik:
Mobil
Catatan
Ada bermacam-macam sistem penggerak kopling, pada dasarnya dapat dibedakan :
Sistem penggerak dengan gerak bebas (kebanyakan mobil)
Sistem penggerak dengn penyetelan automatis (mis. Corolla GL)
Sistem penggerak kopling ada yang mekanis (kabel) dan ada yang hidraulis.
3) Penyetelan Sisitem Penggerak Opling Dengan Gerak Bebas
Periksa kebebasan pada pedal, biasanya 20mm
Pada sistem penggerak hidraulis, letak sekrup penyetel biasanya pada batang penekan silinder kopling.
Mur kontra
Mur penyetel
Batang penekan
Pada sistem penggerak mekanik biasanya dipakai kabel. Bagian penyetel dapat terletak pada ujung kabel di atas atau di bawah.
Gambar 1. 4 Gerak Bebas Kopling
Beri pelumas dan stel disini
Mengapa gerak bebas kopling dapat berubah dan perlu distel?
Keausan pada kanvas kopling menyebabkan pengurangan gerak bebas. Jika tidak ada gerak bebas, kopling berada dalam keadaan seperti ditekan sedikit, akibatnya kopling mulai slip.
Informasi Tambahan : Penyetelan Gerak Bebas Kopling
Mengapa pada kopling sistem penggerak hidraulis yang baru distel, gerak bebasnya dapat hilang setelah pedal kopling ditekan beberapa kali?
Gerak bebas hilang karena batang penekan pada silinder master tidak ada celahnya. Akibatnya :
Pada saat pedal dilepas, torak master tidak dapat kembali sampai pada pembatasnya.
Lubang kompensasi antara silinder reservoir tertutup oleh sil primer.
Cairan rem dari silinder kopling tidak dapat mengalir kembali ke resevoir, maka tekanan dalam sistem hidraulis akan hilang dengan sempurna.
Kopling masih sedikit tertekan, walaupun pedalnya dilepas. Penyetelan dasar pada batang penekan silinder master :
Batang penekan
Celah 0,2 - 1mm
Stel disini ! Sil primer
lubang kompresi
3. Transmisi Manual
Didalam kotak transmisi terdapat beberapa pasangan roda gigi. Dengan berbagai pasangan roda gigi tersebut, transmisi dapat menaikkan dan menurunkan torsi, tenaga dan putaran motor serta membalik arah putaran motor untuk keperluan memundurkan kendaraan
a.Prinsip Dasar Kerja Transmisi
1) Lengan
Dari gambar tersebut diatas, maka:
∑M terhadap titik ungkit = 0 F1 x l1 = F2 x l2
Jika diketahui : F1 = 16 kg, l1 = 2 cm, l2 = 8 cm
Maka : F2 = 16 x 2 / 8 = 4 kg
Kesimpulan :
Dengan lengan pengungkit yang lebih panjang (l2) memungkinkan dapat
memindahkan beban berat (F1 = 16 kg) dengan tenaga kecil (F2 = 4 kg)
2) Pasangan Roda Gigi
Pasangan roda gigi seperti gambar memiliki kesamaan dengan prinsip dasar kerja lengan. Roda gigi penggerak akan mengungkit roda gigi yang digerakkan. Gaya atau momen pada roda gigi dengan diameter yang lebih kecil bisa berubah menjadi gaya atau momen yang semakin besar pada roda gigi dengan diameter yang lebih besar dengan putaran yang lebih lambat.
Gambar 1. 9 Prinsip Pengungkit Pada Roda Gigi Transmisi
b. Macam – Macam Transmisi
1) Dengan Gigi Geser (Sliding Gear)
Posisi Gigi 1 :
Roda gigi A dihubungkan dengan roda gigi D, maka roda gigi C lepas dengan roda gigi B, hasilnya putaran output lebih rendah / lambat daripada putaran input.
Posisi Gigi 2 :
Roda gigi B dihubungkan dengan roda gigi C, maka roda gigi D lepas dengan roda gigi A, hasilnya putaran output lebih tinggi / cepat daripada putaran input.
2) Dengan Gigi Tetap (Constant Mesh) Posisi Gigi 1 :
Kopling geser dihubungkan ke roda gigi D, maka aliran putaran dari putaran input - roda gigi A (diameter kecil) - roda gigi D (diameter besar), hasilnya putaran output rendah/lambat.
Gambar 1. 11 Transmisi Dengan Gigi Tetap (Constant Mesh)
Posisi Gigi 2 :
Kopling geser dihubungkan ke roda gigi C, maka aliran putaran dari putaran input - roda gigi B (diameter besar) - roda gigi C (diameter kecil), hasilnya putaran output tinggi/cepat.
Nama komponen :
1 = Poros kopling / Poros input. 4 = Garpu pemindah
2 = Poros utama / Poros output . 5 = Roda gigi balik (mundur) 3 = Poros bantu / Counter Gear = Reserve Gear
Posisi Gigi 1 :
Roda gigi geser C dihubungkan dengan roda gigi F, maka roda gigi A – D dan roda gigi F - C berhubungan, akibatnya aliran putaran dari putaran input - roda gigi A (diameter kecil) - roda gigi D (diameter besar) – poros (3) - roda gigi F (diameter kecil) - roda gigi C (diameter besar), hasilnya putaran output rendah/lambat.
Posisi Gigi 2 :
Roda gigi geser B dihubungkan dengan roda gigi E, C – F di lepas, maka roda gigi A – D dan roda gigi E - B berhubungan, akibatnya aliran putaran dari putaran input - roda gigi A (diameter kecil) - roda gigi D (diameter besar) – poros (3) - roda gigi F (diameter kecil) - roda gigi C (diameter besar), hasilnya putaran output tinggi/cepat.
Posisi Gigi 3 :
Roda gigi geser B dihubungkan dengan roda gigi A, C – F di lepas, maka poros output dan input seporos, sehingga putaran output dan input sama.
Posisi Gigi R :
Roda gigi geser C dihubungkan dengan roda gigi H (B dilepas), maka berhubungan roda gigi A – D – poros (3) - dan roda gigi G - H - C, akibatnya aliran putaran dari putaran input - roda gigi A (diameter kecil) - roda gigi D (diameter besar) – poros (3) - roda gigi G (diameter kecil) - roda gigi H (diameter lebih kecil) roda gigi C (diameter besar), hasilnya putaran output lebih lambat dengan arah putaran terbalik (mundur).
c. Transmisi Dua Poros
Disebut transmisi dua poros, karena untuk menghasilkan sejumlah posisi gigi maju (pada gambar 1.19 menghasilkan 3 posisi maju) diperlukan 2 poros. Untuk posisi gigi mundur diperlukan satu poros lagi.
1. Kedudukan Gigi pada Poros
Pada poros input terdapat roda – roda gigi tetap (permanen) dan pada poros output terdapat roda – roda gigi terhubung dan dapat digeser sepanjang alur pada poros tersebut.
(2) Prinsip Kerja
Putaran poros input akan menghasilkan putaran poros output, jika salah satu roda gigi poros output digeser dan berhubungan dengan roda gigi poros input. Demikian juga untuk posisi gigi mundur, dengan menggeser gigi mundur pada porosnya, maka akan diperoleh posisi gigi mundur.
Transmisi dua poros umumnya digunakan pada kendaraan ringan dan kendaraan dengan penggerak roda depan.
(1) Aliran Tenaga Transmisi Dua Poros Penggerak Depan
Bagian – bagian (gambar 1.20) 1. Poros input
2. Poros output 3. Unit sinkromesh
4. Bantalan rol 5. Bantalan naf 6. Roda gigi pinion
Diagram Posisi Gigi
Posisi Gigi 1
Posisi Gigi 2
Posisi Gigi 3
Posisi Gigi 4
Posisi Gigi R
Gambar 1. 14 Aliran Tenaga Transmisi Dua Poros Penggerak Depan
1 3
5
2 4 6
Aliran tenaga, torsi dan putaran mulai dari poros input - pasangan roda gigi – dan poros output tergambar dalam diagram diatas.
(2) Aliran Tenaga Transmisi Dua Poros Penggerak Belakang
Nama komponen :
1. Poros intput 5. Bantalan bola pada poros
2. Poros bantu 6. Bantalan pilot
3. Poros output 7. Gigi spedometer
4. Unit sinkromes 8. Gigi balik
Diagram Posisi Gigi
Posisi 1 Posisi 2 Posisi 3 Posisi 4 Posisi 5
Gambar 1. 15 Aliran Tenaga Transmisi Dua Poros Penggerak Belakang
6
4
3
2
8
7
1
5
d. Pemeriksaan Oli Transmisi
Pemeriksaan oli transmisi dan oli aksel dilakukan melalui baut pengontrol. Letak baut tersebut selalu di bawah garis sumbu poros (t). Volume/isi oli dikatakan cukup bila permukaannya masih dapat dicapai dengan jari.
Oli transmisi dan oli aksel tidak perlu diganti baru. Permukaan oli yang terlalu rendah disebabkan karena ada kebocoran , misalnya pada sil-sil.
e. Pengisian Oli Transmisi
Persyaratan : kendaraan harus berada pada posisi datar (tidak miring). Oli dapat diisikan dengan menggunakan pompa tangan . Untuk aksel diperlukan oli roda gigi dengan spesifikasi GL 5 atau 6. Pada transmisi bisa juga menggunakan oli mesin .
Pada transmisi otomatis, tinggi permukaan oli diukur melalui batang pengontrol oli. Pengukuran harus dilakukan ketika motor hidup, pada temperatur kerja, dan tuas transmisi di posisi P.
Gambar 1. 16 Posisi Oli Transmisi dan Gardan
Gambar 1. 17 Pengisian Oli Transmisi Automatis dan Gardan
Kontrol : F = maksimum L = minimum
Tinggi permukaan berubah sesuai temperatur oli transmisi . Dalam keadaan dingin , kadang-kadang permukaan oli tidak mencapai batang pengukur.
Penambahan oli dilakukan melalui pipa batang pengontrol.
Gunakan corong untuk mengisi oli . Hati-hati kotoran tidak boleh masuk (misal : benang-benang lap) karena bisa mengganggu kerja transmisi.
Gunakan hanya oli khusus ATF.
Oli dan saringan pada transmisi otomatis diganti
50' 000 km. Cara mengganti lihat buku manual.D. Aktifitas Pembelajaran
Beberapa hal yang perlu dilakukan oleh pembelajar dalam aktifitas pembelajaran adalah:
1. Dalam mempelajari materi “Pengetahuan”, pembelajar diharapkan membaca uraian materi dalam modul dengan runtut dan bertahap sampai tuntas, mengerjakan latihan atau tugas, mengerjakan evaluasi mandiri sebagai umpan balik dan selanjutnya memperbaiki kembali belajar dari awal jika hasil belajar belum tuntas. Sebelum materi tertentu telah dipelajari dengan tuntas, maka tidak diperkenankan mempelajari materi berikutnya.
misalnya mempelajari referensi pendukung, mengidentifikasi komponen asli yang terkait dengan tema. Belajar yang baik bukan hanya membaca saja, melainkan juga perlu membuat catatan sendiri, ringkasan sendiri dan bahkan siap untuk membuat power point sendiri untuk siap diajarkan.
3. Aktifitas pembelajaran “keterampilan” terkait dengan materi kendaraan ringan, khusus tentang materi ini, maka aspek sangat penting yang perlu diperhatikan adalah Keselamatan Kerja, baik yang menyangkut orang, peralatan dan bahan yang digunakan serta lingkungan belajar. Diharapkan pembelajar mengidentifikasi terlebih dahulu potensi kecelakaan, kerusakan, kebakaran dan sebagainya yang mungkin bisa terjadi. Dengan demikian pembelajar akan dapat mengantisipasi dan melaksanakan pembelajaran “Keterampilan” dengan baik dan aman.
4. Ketuntasan pembelajaran “Keterampilan” adalah jika pembelajar dapat melaksanakan materi keterampilan tertentu dengan hasil baik dan tepat waktu. Oleh karena itu diperlukan latihan keterampilan yang berulang-ulang untuk mencapai ketuntasan keterampilan tersebut.
E. Latihan/Kasus/Tugas
Carilah buku pedoman pemilik mobil untuk minimal 2 jenis kendaraan dengan merk yang berbeda. Kemudian kerjakan tugas berikut :
1. Rangkumlah hal pokok apa saja yang dibahas dari masing-masing buku pedoman pemilik mobil tersebut terkait dengan kopling dan transmisi.
2. Tulislah pekerjaan apa saja yang dilakukan dan kapan/waktu perawatan berkala/ servis kopling dan transmisi dari masing-masing buku manual tersebut.
F. Rangkuman
1. Sistem pemindah tenaga adalah sistem yang berfungsi untuk memindahkan torsi dan tenaga mesin ke roda penggerak kendaraan untuk memenuhi kebutuhan kendaraan mulai dari kendaraan mulai bergerak jalan, kendaraan berjalan lambat-cepat dan sampai kendaraan menjadi berhenti kembali. Sistem pemindah tenaga harus dapat menghasilkan berbagai kebutuhan torsi
dan tenaga roda kendaraan, sehingga kendaraan dengan kapasitas muatannya dapat berjalan dengan baik pada berbagai kondisi jalan.
2. Kopling berfungsi untuk menghubungkan dan memutuskan putaran / tenaga motor ke transmisi
3. Transmisi berfungsi untuk mengatur perbandingan putaran motor dengan poros penggerak aksel sehingga menghasilkan momen puntir yang diinginkan 4. Poros penggerak (propeller shaft) berfungsi untuk meneruskan putaran/tenaga dari transmisi ke penggerak aksel dengan sudut yang bervariasi.
5. Penggerak aksel (gardan/differensial) berfungsi untuk penggerak sudut, untuk memindahkan arah putaran poros penggerak kearah poros aksel. Differensial, untuk menyeimbangkan putaran kedua roda pada saat belok 6. Poros aksel berfungsi untuk meneruskan putaran dari penggerak aksel ke
roda.
7. Roda berfungsi untuk meneruskan tenaga dan torsi ke permukaan jalan sehingga menjadi traksi yang menggerakkan kendaraan.
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
No Pertanyaan Ya Tidak
1 Apakah anda mampu menjelaskan pengertian sistem pemindah tenaga ?
2 Apakah anda mampu menyebutkan komponen pemindah tenaga?
3 Apakah anda mampu menjelaskan fungsi komponen sistem pemindah tenaga?
4 Apakah anda mampu menyebutkan sistem penggerak roda kendaraan?
5 Apakah anda mampu menjelaskan keuntungan dan kerugian sistem penggerak roda depan kendaraan?
7 Apakah anda mampu menjelaskan keuntungan dan kerugian sistem penggerak empat roda kendaraan? 8 Apakah anda mampu menjelaskan bagian utama kopling
jenis kering ?
9 Apakah anda mampu menjelaskan cara kerja kopling jenis kering ?
10 Apakah anda mampu menjelaskan bagian utama kopling jenis basah ?
11 Apakah anda mampu menjelaskan cara kerja kopling jenis basah ?
12 Apakah anda mampu menyetel gerak bebas kopling ? 13 Apakah anda mampu menjelaskan prinsip kerja transmisi? 14 Apakah anda mampu menyebutkan macam-macam
transmisi?
15 Apakah anda mampu memeriksa dan mengganti oli transmisi?
Kesimpulan :
Jika pembelajar dapat menjawab sendiri YA minimal 13 dari 15 pertanyaan, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajar telah tuntas dalam melaksanakan pembelajaran. Namun diharapkan pembelajar tetap mengulangi lagi pembelajaran pada tema materi yang kurang.
jika jawaban YA kurang dari 13, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajar belum tuntas dalam melaksanakan pembelajaran. Diharapkan pembelajar mengulangi lagi pembelajaran pada tema materi yang kurang.
KEGIATAN PEMBELAJARAN 2: PERAWATAN
BERKALA POROS PROPELLER, GARDAN, AKSEL
RODA, SISTEM KEMUDI DAN SUSPENSI
A. Tujuan
Melalui pembelajaran secara mandiri, diharapkan guru mampu: 1. Menelaah prinsip kerja poros propeller, gardan dan aksel roda 2. Merawat berkala poros propeller, gardan dan aksel roda 3. Menelaah prinsip kerja sistem kemudi
4. Merawat berkala sistem kemudi
5. Menelaah prinsip kerja sistem suspensi 6. Merawat berkala sistem suspensi
B. Indikator Pencapaian Kompetensi
1. Menelaah prinsip kerja poros propeller, gardan dan aksel roda 2. Merawat berkala poros propeller, gardan dan aksel roda 3. Menelaah prinsip kerja sistem kemudi
4. Merawat berkala sistem kemudi
5. Menelaah prinsip kerja sistem suspensi 6. Merawat berkala sistem suspensi
C. Uraian Materi
1. Poros Penggerak (Propeller Shaft)
Poros penggerak berfungsi untuk meneruskan putaran / tenaga dari transmisi ke penggerak aksel dengan sudut yang bervariasi.
Untuk menjalankan fungsinya, poros penggerak harus mampu :
Tahan terhadap momen puntir
Dapat meneruskan putaran roda sudut yang bervariasi
Dibuat seringan mungkin.
Gambar 2. 1 Poros Penggerak (Propeller Shaft) Pada Kendaraan
Nama komponen :
1. Poros penggerak (Poros propeler) 2. Penghubung sudut (joint)
3. Poros aksel (Poros roda)
a. Poros Penggerak (Propeller Shaft) Kegunaan sambungan salip ( joint )
Meneruskan putaran dengan sudut yang bervariasi karena gerakan naik-turun komponen kendaraan.
Kegunaan sambungan geser ( luncur )
Menyesuaikan perubahan panjang-pendek poros penggerak (jarak aksel dan transmisi berubah panjang-pendek), karena gerakan naik-turun komponen kendaraan.
Gambar 2. 2 Poros Penggerak (Propeller Shaft)
Nama komponen (Gambar 2.3) : 1. Flens Roda
2. Penahan bantalan 3. Poros aksel
4. Aksel
5. Roda gigi matahari pada diferensial
Sifat – sifat yang harus dipenuhi :
Poros cukup kuat meneruskan momen pusat dan diferensial ke roda (baja khusus) dan tahan terhadap getaran dan puntiran
b. Poros Penggerak Pada Suspensi Independen
Nama komponen (Gambar 2.4) : 1. Flens roda
2. Bantalan naf
3. Penghubung bola ( pot joint ) 4. Poros aksel
Gambar 2. 3 Poros Aksel (Poros Roda) Pada Aksel Rigid
c. Penghubung Sudut (Joint)
1) Penghubung salib (universal joint)
Hal penting pada penghubung salib (universal joint) :
Penghubung dapat meneruskan tenaga/putaran maksimum pada sudut 150
Putaran poros tidak merata, jika sambungan memben tuk sudut besar
Digunakan pada kendaraan – kendaraan dengan peng gerak roda belakang motor di depan ( memanjang )
2) Penghubung Bola Peluru (Pot Joint)
Gambar 2. 5 Penghubung Salib (Universal Joint)
Penghubung bola peluru (pot joint) memiliki kemampuan sudut dapat meneruskan tenaga / putaran pada sudut maximum 500 ( rata – rata 300 ) Memiliki sifat – sifat kerja putarannya lebih stabil ( konstan )
Penggunaan pada suspensi independen, pada aksel rigrid depan dengan penggerak roda ( wheel drive )
3) Penghubung Fleksibel ( Flexible Joint )
Gambar 2. 7 Penghubung Fleksibel (Flexible Joint)
Kemampuan sudut : dapat meneruskan tenaga / putaran roda sudut maximal 150
Penggunaan : pada perpanjangan poros penggerak ( propeller ) dari transmisi
Sifat – sifat : dapat sedikit terpuntir guna meredam hantaran / kejutan poros
d. Pemeriksaan dan Pelumasan Poros Penggerak
1) Peralatan yang diperlukan:
Alat pengankat mobil
Penyangga
Lampu
2) Bahan yang diperlukan:
Mobil
Vet casis
Keterangan :
Aksel rigid biasanya digerakkan dengan poros propeler yang dilengkapi dengan sambungan salib dan dengan nipel pelumas.
Pada roda suspensi indenpenden biasanya digerakkan dengan poros penggerak yang diperlengkapi dengan sambungan peluru.
Langkah kerja : sambungan salib
Periksa kebebasan pada sambungan salib. Jika ada kebebasan yang dapat terasa dengan jelas, sambungan salib harus diganti.
Jika poros propeler dilengkapi dengan nipel, lumasi dengan pompa vet.
Gambar 2. 8 Sambungan Salib (Universal Joint)
Gambar 2. 9 Sambungan Peluru (CV Joint)
.
Letak nipel pelumas
Langkah kerja : sambungan peluru
Periksa kebebasan pada sambungan peluru. Jika ada kebebasan yang dapat terasa dengan jelas, poros penggerak harus dioverhaul atau diganti baru.
Memeriksa kebocoran pada karet penutup. Karet penutup yang rusak harus diganti.
Sambungan peluru tidak diperlengkapi nipel pelumas, tetapi sudah diberikan pelumas berupa vet khusus yang tidak perlu diganti.
2. Sistem Kemudi
Sistem kemudi pada kendaraan berfungsi untuk merubah arah gerak kendaraan melalui roda depan, dengan cara memutar roda kemudi.
Gambar 2. 11 Nipel Pelumas Pada Poros Propeler
b. Sistem Kemudi Rak dan Pinion
Penggunaan : digunakan pada mobil – mobil ringan Keuntungan : konstruksi sederhana
Kerugian : ratio gigi kemudi terbatas
Gambar 2. 13 Sistem Kemudi Rak dan Pinion
Pelindung poros kemudi
Batang kemudi Penghubung selib
( cross joint )
Poros pemindah
Karet penutup debu
Bolt joint Tire – Rod Lengan kemudi ( knuckle arm ) Gigi pinion Gigi ( rak )
c.
Sistem Kemudi Dengan Penguat Tenaga Kemudi (Power
Steering)
Nama komponen : 1. Reservoir 2. Unit pompa 3. Pipa pendingin4. Unit pengatur sirkit aliran minyak 5. Rumah gigi kemudi
6. Saluran pembagi
Gambar 2. 14 Sistem Kemudi Dengan Penguat Tenaga Kemudi
d. Pemeriksaan dan Penyetelan Gigi Kemudi Cacing
1) Peralatan yang digunakan untuk praktik :
Alat pengankat mobil
Penyangga
Kotak alat
Batang pengukur (kawat las)
Pipet
Kan oli
2) Bahan yang digunakan untuk praktik : mobil
3) Keselamatan kerja
Dilarang bekerja di bawah mobil yang diangkat tanpa penyangga yang baik.
4) Langkah kerja
Pemeriksaan batas permukaan oli
Buka baut pada lubang pengisi oli.
Periksa batas permukaannya dengan batang pengukur, (dapat dengan kawat las).
Jika terlalu rendah, tambahkan loli. gunakan oli mesin atau oli transmisi.
Jika permukaan oli terlalu tinggi, kurangi oli dengan menggunakan karet pengisap (pipet).
Pemeriksaan dan penyetelan gigi kemudi
Angkat kendaran, sehingga roda depan bebas dari lantai, dan luruskan posisi roda depan.
Periksa kebebasan gigi kemudi, dengan cara menggerak-gerakkan roda kemudi ke kiri dan ke kanan sambil memperhatikan lengan pitmen mulai bergerak.
Jika ada kebebasan, stel pada baut penyetelnya.
Catatan :
Jika penyetelan dilaksanakan pada posisi roda yang tidak lurus (belok ke kiriatau ke kanan), maka hasil penyetelannya tidak akurat. Karena pada saat roda tidak lurus, kebebasan gigi kemudinya adalah yang paling besar. Kalau penyetelan dilakukan pada posisi tersebut, maka pada pada posisi roda lurus, kebebasan kemudinya hilang, gigi kemudi menjadi rapat dan gerakan kemudi menjadi berat.
Informasi Tambahan : Sambungan Kemudi Pemeriksaan
Jika terdapat gerak bebas pada roda kemudi, kondisi sambungan kemudi perlu dikontrol. Sebelum mobil terangkat, suruh seseorang untuk menggerakkan roda kemudi dan perhatikan kelonggaran pada joint-joint sambungan kemudi. Joint yang longgar harus diganti.
Angkat mobil dan periksa pemasangan pen pengunci pada joint-joint, pengerasan klem tie-rod dan batang lain pada sambungan kemudi.
Pada gigi kemudi jenis rak, karet penutupnya harus diperiksa. Jika robek, harus diganti dengan segera, supaya air dan kotoran tidak masuk dan merusakkan gigi.
Pelumasan Sambungan Kemudi
Sambungan kemudi dilumasi setiap 10’000km, kalau diperlengkapi dengan nipel-nipel pada tumpuan lengan idler (A). Lihat gambar!
Penambahan vet melalui nipel dinilai cukup, jika karet penutup joint mulai mengembang. Nipel yang tersumbat harus diganti dan vet yang jatuh kelantai harap dibersihkan dengan segera!
Gambar 2. 17 Pemeriksaan Kondisi Sambungan Kemudi
3. Suspensi Aksel Rigid
Suspensi merupakan bagian kendaraan yang menghubungkan bodi kendaraan dengan roda. Konstruksinya dibuat sedemikian rupa sehingga kendaraan dapat berjalan dengan nyaman dan aman
Untuk itu maka suspensi harus dapat :
Mengantar gerakan roda
Memungkinkan roda tetap menapak pada jalan
Mengabsorsi dan meredam getaran bodi akibat kondisi jalan
Meneruskan gaya pengemudian dan pengereman
Sifat – sifat yang dimiliki :
Gerakan salah satu roda mempengaruhi roda yang lain
Konstruksi sederhana, perawatan mudah
Gambar 2. 19 Pemeriksaan dan Pelumasan Sambungan Kemudi
Titik berat kendaraan tidak dapat rendah, maka kenyamanan kurang
Massa tak berpegas (aksel, roda) berat, maka kenyamanan kurang
Bodi sedikit miring pada saat belok.
Penggunaan :
Pada aksel belakang tanpa/dengan penggerak roda (kendaraan ringan dan berat), dan pada aksel depan (kendaraan berat) tanpa / dengan penggerak.
4. Suspensi Independen
Sifat – sifat yang dimiliki secara umum :
Gerakan salah satu roda tidak mempengaruhi roda lain
Konstruksi agak rumit
Membutuhkan sedikit tempat
Jarak roda dan geometri roda berubah saat pemegasan
Titik berat kendaraan dapat rendah ( nyaman dan aman )
Pegas dapat dikonstruksi lembut ( pegas tidak membantu mengantar gerakan roda
Perawatan lebih sulit
Penggunaan :
Aksel depan dan belakang ( kendaraan penumpang / sedan )
Aksel depan saja ( kendaraan menengah dan berat )
5. Pemeriksaan dan Pelumasan Suspensi
Peralatan yang digunakan untuk praktik :
Alat pengangkat Penyangga Pompa vet Pengungkit Lampu kerja Kereta tidur
Bahan yang digunakan untuk praktik :
Mobil-mobil dengan: aksel rigid suspensi indep Vet Kain lap Keselamatan kerja
Jangan bekerja di bawah mobil, jika tanpa penyangga yang baik.
Perhatikan: Suspensi merupakan bagian pengaman pada mobil. Pengontrolannya harus dengan cermat, kerusakan-kerusakan harus diperbaiki dengan segera.
Langkah kerja
Angkat mobil, pasang penyangga pada rangkanya
Kontrol suspensi, pegas-pegas dan peredam getaran (sokbreker) sesuai dengan petunjuk pada halaman-halaman berikut.
Aksel rigid dengan pegas daun
Suspensi independen jenis wishbone, Suspensi idependen kaki Mc. Pherson.
Stabiliser.
Peredam getaran.
Pelumasan suspensi.
Pemeriksaan aksel rigid dengan pegas daun
Periksa kondisi bantalan karet gantungan pegas daun secara visual,
Gambar 2. 22 Aksel Rigid Dengan Pegas Daun
Gambar 2. 23 Pemeriksaan aksel rigid dengan pegas daun Gambar 2. 24 Pemeriksaan dan Pelumasan Suspensi
Periksa kondisi pengikat pegas
Keraskan mur-mur pada klem U
Periksa kondisi karet pembatas gerak
Periksa perubahan bentuk,/patahnya pada pegas daun
Pemeriksaan suspensi idependen jenis Wishbone
Periksa kelonggaran ball-joint pada waktu seseorang menginjak pedal rem
Periksa kelonggaran bantalan lengan suspensi dengan pengungkit
Gambar 2. 25 Pemeriksaan aksel rigid dengan pegas daun
Pemeriksaan suspensi independen jenis Mc. Pherson
Periksa kelonggaran ball-joint dan batang pengantar pada waktu seseorang menginjak rem
Periksa kelonggaran bantalan lengan suspensi dengan pengungkit, lihat halaman sebelumnya
Kontrol/tambah pengisian vet pada bantalan atas kaki Mc. Pherson. Jangan lupa memasang kembali tutup plastiknya.
Pemeriksaan stabiliser
Stabiliser dapat dipasang pada aksel depan dan belakang.
Periksa bantalan karet dan klem-klemnya
Gambar 2. 27 Pemeriksaan Suspensi Idependen Jenis Mc. Pherson Gambar 2. 28 Pemeriksaan Suspensi Idependen Jenis Wishbone
Pemeriksaan Peredam Getaran (Sokbreker)
Periksa kebocoran oli
Kalau bocor tidak bisa diperbaiki, harus diganti.
Periksa kelonggaran pada bantalan-bantalan karet
Turunkan mobil dan periksa bekerjanya peredam getaran.
Gambar 2. 31 Pemeriksaan peredam
Tekan mobil, kemudian lepas dan perhatikan geraknya naik/turun.
bila geraknya segera berhenti ... baik!
bila geraknya lebih dari dua kali ... jelek!
Gambar 2. 29 Pemeriksaan Stabiliser
Pelumasan bagian-bagian yang diperlengkapi nipel
Bagian tsb. harusn dilumasi setiap servis !
Bersihkan nipel dan periksa katup bolanya. Nipel yang rusak harus diganti.
Gambar 2. 32 Pelumasan bagian-bagian yang diperlengkapi nipel
Lumasi nipel dengan pompa vet. Pengisian vet pada ball-joint cukup kalau karet penutupnya mulai mengembang. Bagian-bagian lain diisi sampai vet keluar pada celah-celah.
Vet yang jatuh ke lantai harus segera dibersihkan.
6. Pengukuran & Penyetelan Toe-In
Peralatan Yang Digunakan Untuk Praktik :
Alat pengangkat
Penyangga
Rangka pengukur Toe-in
Kotak alat tang pipa
Lampu kerja
Bahan Yang Digunakan Untuk Praktik :
Monil dengan suspensi depan independen
Oli penetran
Lap
Kapur
Keselamatan kerja
Persyaratan kerja
Kelonggaran pada joint-joint suspensi depan dan sambungan kemudi harus diperbaiki sebelum toe-in distel.
Pemeriksaan Awal
Perksa keausan ban depan secara visyal. Jika keausa ban tidak merata seperti pada gambar, berarti toe-in salah.
Kontrol kelurusan roda kemudi , jika salah lihat petunjuk pada halaman 8.
Kontrol sambungan kemudi pada saat mobil belum terangkat. Untuk ini, suruh seseorang menggerakkan roda kemudi dan perhatikan kelonggaran pada joint-joint . Bila terdapat berarti joint sudah aus, dan harus diganti.
Angkat mobil dan periksa kelonggaran dengan menggerakkan roda dengan tangan.
Jika terdapat kelonggaran, pastikan di mana kelonggaran tersebut terjadi. Ikutlah
Gambar 2. 33 Pemeriksaan Keausan Ban
Minta tolong seseorang untuk menginjak rem dan perhatikan pengaruhnya terhadap kelonggaran tersebut.
Tidak longgar
Kelonggaran terjadi pada bantalan roda
Masih longgar
Kelonggaran terjadi pada joint / bantalan suspensi
Persyaratan Pengukuran Toe-In
Pilihlah tempat yang rata
Gambar 2. 35 Periksa Kelonggaran
Gambar 2. 36 Kelonggaran Pada Bantalan Dan Joint / Bantalan Suspensi
Kontrol tekanan ban
Tambah atau kurangi bila perlu
Gambar 2. 37 Pemeriksaan Persyaratan Pengukuran Toe-In
Beban kendaraan yang diperbolehkan lihat buku petunjuk.
Biasanya kendaraan tidak berbeban (kosong)
Pengukuran Toe-In
Turunkan mobil , berjalan beberapa meter untuk mendapat posisi suspensi yang normal dan luruskan roda depan.
Ukur jarak roda pada pinggir pelek roda depan (A)
Beri tanda pada tempat pengukuran
Majukan kendaraan sampai roda berjalan 1/2 putaran
Ulangi pengukuran jarak roda pada tempat pelek yang telah diberi tanda (B)
Jika toe-in tidak sesuai dengan spesifikasi, ikutlah tahap-tahap berikut.
Penyetelan Toe-In
Stel toe-in dengan
menyesuaikan panjang tie-rod kanan dan kiri .(Satu putaran pada bagian penyetel mengakibatkan perubahan toe-in 4 mm)
Cek toe-in lagi dan ulangi penyetelan sampai hasilnya sesuai
Keraskan baut-baut pada bagian penyetel
Petunjuk
Besarnya toe-in umumnya 1-5 mm , pada mobil dengan penggerak depan 0 mm. Jika bagian penyetel toe-in macet, tie-rod harus diganti baru. Jangan memnaskannya dengan brander las. Bahan ujung tie-rod sering diperlukan panas. Jika dipanaskan lagi, bahan menjadi lemah dan dapat patah.
Gambar 2. 38 Persiapan Pengukuran Toe-In Gambar 2. 39 Penyetelan Toe-In
Jika toe-in terlalu besar (misal 20 mm), kontrol suspensi dan rangkanya secara baik. Perubahan yang besar dapat berasal dari kebengkokan akibat kecelakaan / benturan dengan pinggir jalan.
Penyetelan Toe-In Pada Macam-Macam Konsturksi Sambungan Kemudi
a. Sambungan kemudi, dengan kemudi rak pinion
b. Sambungan kemudi pada aksel rigid
Kelurusan roda kemudi distel setelah toe-in
Gambar 2. 40 Tidak Boleh Dipanaskan
Kelurusan Roda Kemudi
Perhatikan kelurusan roda kemudi akan menyimpang, jika hanya satu tie-rod yang distel.
Keadaan yang benar adalah :
Bila mobil berjalan lurus , roda kemudi harus berposisi lurus, juga gigi kemudi harus posisi tengah. Jika gigi kemudi pada posisi pinggir, akibatnya kemampuan belok kanan / kiri tidak sama.
Jika kemiringan roda kemudi hanya sedikit , kita dapat menyesuaikan dengan merubah panjang tie-rod kanan dan kiri (misal : kanan diperpanjang 1 putaran, kiri diperpendek 1 putaran , sehingga toe-in tetap sama).
D. Aktifitas Pembelajaran
Beberapa hal yang perlu dilakukan oleh pembelajar dalam aktifitas pembelajaran adalah:
1. Dalam mempelajari materi “Pengetahuan”, pembelajar diharapkan membaca uraian materi dalam modul dengan runtut dan bertahap sampai tuntas, mengerjakan latihan atau tugas, mengerjakan evaluasi mandiri sebagai umpan balik dan selanjutnya memperbaiki kembali belajar dari awal jika hasil belajar belum tuntas. Sebelum materi tertentu telah dipelajari dengan tuntas, maka tidak diperkenankan mempelajari materi berikutnya.
2. Untuk memperjelas pemahaman pengetahuan yang dipelajari, diharapkan pembelajar memanfaatkan secara maksimal sumber belajar yang diperlukan, misalnya mempelajari referensi pendukung, mengidentifikasi komponen asli yang terkait dengan tema. Belajar yang baik bukan hanya membaca saja, melainkan juga perlu membuat catatan sendiri, ringkasan sendiri dan bahkan siap untuk membuat power point sendiri untuk siap diajarkan.
3. Aktifitas pembelajaran “keterampilan” terkait dengan materi kendaraan ringan, khusus tentang materi ini, maka aspek sangat penting yang perlu diperhatikan adalah Keselamatan Kerja, baik yang menyangkut orang, peralatan dan bahan yang digunakan serta lingkungan belajar. Diharapkan pembelajar mengidentifikasi terlebih dahulu potensi kecelakaan, kerusakan, kebakaran dan sebagainya yang mungkin bisa terjadi. Dengan demikian pembelajar
akan dapat mengantisipasi dan melaksanakan pembelajaran “Keterampilan” dengan baik dan aman.
4. Ketuntasan pembelajaran “Keterampilan” adalah jika pembelajar dapat melaksanakan materi keterampilan tertentu dengan hasil baik dan tepat waktu. Oleh karena itu diperlukan latihan keterampilan yang berulang-ulang untuk mencapai ketuntasan keterampilan tersebut.
E. Latihan/Kasus/Tugas
Carilah buku pedoman pemilik mobil untuk minimal 2 jenis kendaraan dengan merk yang berbeda. Kemudian kerjakan tugas berikut :
1. Rangkumlah hal pokok apa saja yang dibahas dari masing-masing buku pedoman pemilik mobil tersebut yang terkait dengan poros propeller, gardan dan aksel roda, serta sistem kemudi dan suspensi.
2. Tulislah pekerjaan apa saja yang dilakukan dan kapan/waktu perawatan berkala/ servis poros propeller, gardan dan aksel roda, serta sistem kemudi dan suspensi dari masing-masing buku manual tersebut.
F. Rangkuman
1. Poros penggerak berfungsi untuk meneruskan putaran / tenaga dari transmisi ke penggerak aksel dengan sudut yang bervariasi
2. Kegunaan sambungan salip ( joint ) pada poros propeler adalah untuk meneruskan putaran dengan sudut yang bervariasi pada batas – batas tertentu
3. Kegunaan sambungan geser ( luncur ) pada poros propeler adalah untuk mengatasi akibat gerakan aksel yang berpegang terjadi perubahan jarak aksel dan transmisi.
4. Kemampuan sudut penghubung bola peluru ( pot joint ) dapat meneruskan tenaga / putaran pada sudut maximum 500 ( rata – rata 300 )
5. Kemampuan sudut penghubung fleksibel ( flexible joint ) dapat meneruskan tenaga / putaran roda sudut maximal 150
7. Pada roda suspensi indenpenden biasanya digerakkan dengan poros penggerak yang diperlengkapi dengan sambungan peluru.
8. Sistem kemudi pada kendaraan berfungsi untuk merubah arah gerak kendaraan melalui roda depan, dengan cara memutar roda kemudi.
9. Penyetelan roda gigi kemudi yang dilaksanakan pada posisi roda yang tidak lurus (belok kiri/kanan), maka hasil penyetelannya tidak akurat. Karena pada saat roda tidak lurus, kebebasan gigi kemudinya adalah yang paling besar. Kalau penyetelan dilakukan pada posisi tersebut, maka pada pada posisi roda lurus, kebebasan kemudinya hilang, gigi kemudi menjadi rapat dan gerakan kemudi menjadi berat.
10. Suspensi merupakan bagian kendaraan yang menghubungkan bodi kendaraan dengan roda. Konstruksinya dibuat sedemikian rupa sehingga kendaraan dapat berjalan dengan nyaman dan aman. Untuk itu maka suspensi harus dapat :
a. Mengantar gerakan roda
b. Memungkinkan roda tetap menapak pada jalan
c. Mengabsorsi dan meredam getaran bodi akibat kondisi jalan d. Meneruskan gaya pengemudian dan pengereman
11. Suspensi independen memiliki sifat – sifat secara umum : a. Gerakan salah satu roda tidak mempengaruhi roda lain b. Konstruksi agak rumit
c. Membutuhkan sedikit tempat
d. Jarak roda dan geometri roda berubah saat pemegasan e. Titik berat kendaraan dapat rendah (nyaman dan aman)
f. Pegas dapat dikonstruksi lembut (pegas tidak membantu mengantar gerakan roda)
g. Perawatan lebih sulit
12. Pada suspensi Wishbone, lengan atas dibuat lebih pendek daripada lengan bawah, supaya saat pemegasan :
a. Jarak roda tidak berubah ( keausan ban berkurang ) b. Tumpuan roda saat pemegasan ( belok ) baik
G. Umpan Balik dan Tindak Lanjut
No Pertanyaan Ya Tidak
1 Apakah anda mampu menjelaskan pengertian poros penggerak ?
2 Apakah anda mampu menjelaskan persyaratan yang harus dipenuhi poros penggerak ?
3 Apakah anda mampu menjelaskan fungsi poros penggerak ?
4 Apakah anda mampu menyebutkan bagian-bagian poros aksel (poros roda) pada aksel rigrid ?
5 Apakah anda mampu membedakan sifat-sifat poros aksel (poros roda) pada aksel rigrid dengan poros penggerak pada suspensi independen ?
6 Apakah anda mampu menjelaskan fungsi penghubung sudut ( joint ) ?
7 Apakah anda mampu membedakan sifat penghubung sudut ( joint ) dengan penghubung fleksibel ?
8 Apakah anda mampu memeriksa dan memberi pelumas poros penggerak ?
9 Apakah anda mampu menjelaskan cara kerja sistem kemudi rak & pinion ?
10 Apakah anda mampu menjelaskan prinsip kerja sistem kemudi dengan power steering ?
11 Apakah anda mampu membedakan sifat-sifat suspensi aksel rigid dengan suspensi independen ?
12 Apakah anda mampu menjelaskan keistimewaan suspensi Mac Pherson?
13 Apakah anda mampu menjelaskan prinsip kerja suspensi Whisbon?
Kesimpulan :
Jika pembelajar dapat menjawab sendiri YA minimal 12 dari 14 pertanyaan, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajar telah tuntas dalam melaksanakan pembelajaran. Namun diharapkan pembelajar tetap mengulangi lagi pembelajaran pada tema materi yang kurang.
jika jawaban YA kurang dari 12, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajar belum tuntas dalam melaksanakan pembelajaran. Diharapkan pembelajar mengulangi lagi pembelajaran pada tema materi yang kurang.