Makalah Etika Lingkungan Baru

35 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

MAKALAH

“ETIKA LINGKUNGAN”

DISUSUN OLEH :

NAMA/NIM : JIKI HIKMATULLAH / 4201417015 DOVIAN ISWANDA / 4201417016 AZANO DESFIANTO / 4201417017 KELAS/SEMESTER : 6A/VI

KELOMPOK : 3

JURUSAN TEKNIK MESIN PROGRAM DIPLOMA 4

POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK 2017

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah Subhanahu wa ta’ala yang telah memberikan kami berbagai macam nikmat, sehingga aktivitas hidup ini banyak diberikan keberkahan. Dengan kemurahan yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa sehingga kami bisa menyelesaikan makalah tentang Etika Lingkungan ini dengan baik.

Makalah Etika Lingkungan ini telah kami susun dengan maksimal. Kami menyadari di dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki, baik dari segi tata bahasa maupun dalam hal pengkonsolidasian.

Oleh karena itu kami meminta maaf atas ketidaksempurnaanya dan juga memohon kritik dan saran untuk kami agar bisa lebih baik lagi dalam membuat makalah ini.

Harapan kami mudah-mudahan apa yang kami susun ini bisa memberikan manfaat untuk diri kami sendiri,teman-teman, serta orang lain.

Pontianak, 10 Januari 2016

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...i DAFTAR ISI ...ii BAB I PENDAHULUAN...1 1.1...Latar belakang.. 1 1.2...Rumusan Masalah

...2 1.3...Tujuan... 2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA...2

2.1...Pengertian Etika Lingkungan ...3 2.2...Jenis – Jenis Etika Lingkungan

...4 2.3...Teori Etika Lingkungan

...11 2.4...Prinsip - Prinsip Etika Lingkungan...

...18

2.5...Etika Baru Lingkungan ... ...22 2.6...Kesadaran Lingkungan...

...24 2.7...Undang – Undang Tentang Etika Lingkungan...

...25 2.8...Penerapan Etika Lingkungan...

...28 BAB III PENUTUP...30 3.1...Kesimpulan .... 30 DAFTAR PUSTAKA...31

(4)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Pada umumnya manusia bergantung pada keadaan lingkungan disekitarnya yaitu berupa sumber daya alam yang dapat menunjang kehidupan sehari-hari. Sumber daya alam yang utama bagi manusia adalah tanah, air, dan udara. Tanah merupakan tempat manusia untuk melakukan berbagai kegiatan. Air sangat diperlukan oleh manusia sebagai komponen terbesar dari tubuh manusia. Untuk menjaga keseimbangan, air sangat dibutuhkan dengan jumlah yang cukup banyak dan memiliki kualitas yang baik. Selain itu, udara merupakan sumber oksigen yang alami bagi pernafasan manusia. Lingkungan yang sehat akan terwujud apabila manusia dan lingkungannya dalam kondisi yang baik.

Krisis lingkungan hidup yang dihadapi manusia modern merupakan akibat langsung dari pengelolaan lingkungan hidup yang “nir-etik”. Artinya, manusia melakukan pengelolaan sumber-sumber alam hampir tanpa peduli pada peran etika. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa krisis ekologis yang dihadapi umat manusia berakar dalam krisis etika atau krisis moral. Umat manusia kurang peduli pada norma kehidupan atau mengganti norma-norma yang seharusnya dengan norma-norma-norma-norma ciptaan dan kepentingannya sendiri. Manusia modern menghadapi alam hampir tanpa menggunakan ‘hati nurani. Alam begitu saja dieksploitasi dan dicemari tanpa merasa bersalah. Akibatnya terjadi penurunan secara drastis kualitas sumber daya alam seperti lenyapnya sebagian spesies dari muka bumi, yang diikuti pula penurunan kualitas alam. Pencemaran dan kerusakan alam pun akhirnya mencuat sebagai masalah yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari manusia.

(5)

Adapun rumusan masalah makalah ini, yaitu: 1.2.1 Pengertian etika Lingkungan?

1.2.2 Jenis-jenis etika Lingkungan? 1.2.3 Teori tentang etika Lingkungan? 1.2.4 Prinsip-prinsip etika Lingkungan? 1.3 Tujuan

Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah sebagai berikut: 1.3.1 Untuk mengetahui pengertian dari etika Lingkungan. 1.3.2 Untuk mengetahui jenis-jenis etika Lingkungan. 1.3.3 Untuk mengetahui teori tentang etika Lingkungan. 1.3.4 Untuk mengetahui prinsip-prinsip dari etika Lingkungan.

(6)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Etika Lingkungan

Etika Lingkungan berasal dari dua kata, yaitu Etika dan Lingkungan. Etika berasal dari bahasa yunani yaitu “Ethos” yang berarti adat istiadat atau kebiasaan. Ada tiga teori mengenai pengertian etika, yaitu: etika Deontologi, etika Teologi, dan etika Keutamaan. Etika Deontologi adalah suatu tindakan di nilai baik atau buruk berdasarkan apakah tindakan itu sesuai atau tidak dengan kewajiban. Etika Teologi adalah baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan atau akibat suatu tindakan. Sedangkan Etika keutamaan adalah mengutamakan pengembangan karakter moral pada diri setiap orang.

Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada di sekitar manusia yang mempengaruhi kelangsungan kehidupan kesejahteraan manusia dan makhluk hidup lain baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Jadi, etika lingkungan merupakan kebijaksanaan moral manusia dalam bergaul dengan lingkungannya.etika lingkungan diperlukan agar setiap kegiatan yang menyangkut lingkungan dipertimbangkan secara cermat sehingga keseimbangan lingkungan tetap terjaga.

Adapun hal-hal yang harus diperhatikan sehubungan dengan penerapan etika lingkungan sebagai berikut:

a. Manusia merupakan bagian dari lingkungan yang tidak terpisahkan sehingga perlu menyayangi semua kehidupan dan lingkungannya selain dirinya sendiri.

b. Manusia sebagai bagian dari lingkungan, hendaknya selalu berupaya untuk menjaga terhadap pelestarian , keseimbangan dan keindahan alam.

c. Kebijaksanaan penggunaan sumber daya alam yang terbatas termasuk bahan energi.

d. Lingkungan disediakan bukan untuk manusia saja, melainkan juga untuk makhluk hidup yang lain.

(7)

Di samping itu, etika Lingkungan tidak hanya berbicara mengenai perilaku manusia terhadap alam, namun juga mengenai relasi di antara semua kehidupan alam semesta, yaitu antara manusia dengan manusia yang mempunyai dampak pada alam dan antara manusia dengan makhluk hidup lain atau dengan alam secara keseluruhan.

2.2 Jenis-Jenis Etika Lingkungan

Etika Lingkungan disebut juga Etika Ekologi. Etika Ekologi selanjutnya dibedakan dan menjadi dua yaitu etika ekologi dalam dan etika ekologi dangkal. Selain itu etika lingkungan juga dibedakan lagi sebagai etika pelestarian dan etika pemeliharaan. Etika pelestarian adalah etika yang menekankan pada mengusahakan pelestarian alam untuk kepentingan manusia, sedangkan etika pemeliharaan dimaksudkan untuk mendukung usaha pemeliharaan lingkungan untuk kepentingan semua makhluk.

2.2.1 Etika Ekologi Dangkal

Etika Ekologi Dangkal adalah pendekatan terhadap lingkungan yang menekankan bahwa lingkungan sebagai sarana untuk kepentingan manusia, yang bersifat antroposentris. Etika Ekologi Dangkal ini biasanya diterapkan pada filsafat rasionalisme dan humanisme serta ilmu pengetahuan mekanistik yang kemudian diikuti dan dianut oleh banyak ahli lingkungan. Kebanyakan para ahli lingkungan ini memiliki pandangan bahwa alam bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia.

Etika ini dapat digolongkan menjadi dua yaitu etika antroposentris yang menekankan segi estetika dari alam dan etika antroposentris yang mengutamakan kepentingan generasi penerus. Etika ekologi dangkal yang berkaitan dengan kepentingan estetika didukung oleh dua tokohnya yaitu Eugene Hargrove dan Mark Sagoff. Menurut mereka etika lingkungan harus dicari pada aneka kepentingan manusia, secara khusus kepentingan estetika.

Sedangkan etika antroposentris yang mementingkan kesejahteraan generasi penerus mendasarkan pada perlindungan atau konservasi alam

(8)

yang ditujukan untuk generasi penerus manusia. Secara umum, Etika ekologi dangkal ini menekankan hal-hal berikut ini :

1. Manusia terpisah dari alam.

2. Mengutamakan hak-hak manusia atas alam tetapi tidak menekankan tanggung jawab manusia.

3. Mengutamakan perasaan manusia sebagai pusat keprihatinannya. 4. Kebijakan dan manajemen sunber daya alam untuk kepentingan

manusia.

5. Norma utama adalah untung rugi. 6. Mengutamakan rencana jangka pendek.

7. Pemecahan krisis ekologis melalui pengaturan jumlah penduduk khususnya dinegara miskin.

8. Menerima secara positif pertumbuhan ekonomi. 2.2.2 Etika Ekologi Dalam

Yang dimaksud Etika Ekologi Dalam adalah pendekatan terhadap lingkungan yang melihat pentingnya memahami lingkungan sebagai keseluruhan kehidupan yang saling menopang, sehingga semua unsur mempunyai arti dan makna yang sama. Etika ekologi ini memiliki prinsip yaitu bahwa semua bentuk kehidupan memiliki nilai bawaan dan karena itu memiliki hak untuk menuntut penghargaan karena harga diri, hak untuk hidup, dan hak untuk berkembang.

Premisnya adalah bahwa lingkungan moral harus melampaui spesies manusia dengan memasukkan komunitas yang lebih luas. Komunitas yang lebih luas disini maksudnya adalah komunitas yang menyertakan binatang dan tumbuhan serta alam. Menurut pandangan etika ini alam memiliki fungsi sebagai penopang kehidupan. Untuk itu lingkungan patut dihargai dan diperlakukan dengan cara yang baik.

Etika ini juga disebut Etika Lingkungan Ekstensionisme dan Etika Lingkungan Preservasi. Etika ini menekankan pemeliharaan alam bukan hanya demi manusia tetapi juga demi alam itu sendiri. Karena alam disadari sebagai penopang kehidupan manusia dan seluruh ciptaan. Untuk itu manusia dipanggil untuk memelihara alam demi kepentingan bersama.

Etika lingkungan ini dibagi lagi menjadi beberapa macam menurut fokus perhatiannya, yaitu Neo-Utilitarisme, Zoosentrisme, Biosentrisme,

(9)

dan Ekosentrisme. Etika Lingkungan Neo-Utilitarisme merupakan pengembangan etika utilitarisme Jeremy Bentham yang menekankan kebaikan untuk semua. Dalam konteks etika lingkungan maka kebaikan yang dimaksudkan, ditujukan untuk seluruh makhluk. Tokoh yang memelopori etika ini adalah Peter Singer. Dia beranggapan bahwa menyakiti binatang dapat dianggap sebagai perbuatan tidak bermoral.

Etika Lingkungan Zoosentrisme adalah etika yang menekankan perjuangan hak-hak binatang, karenanya etika ini juga disebut Etika Pembebasan Binatang. Tokoh bidang etika ini adalah Charles Brich. Menurut etika ini, binatang mempunyai hak untuk menikmati kesenangan karena mereka dapat merasa senang dan harus dicegah dari penderitaan. Sehingga bagi para penganut etika ini, rasa senang, dan penderitaan binatang dijadikan salah satu standar moral.

Menurut The Society for the Prevention of Cruelty to Animals, perasaan senang dan menderita mewajibkan manusia secara moral memperlakukan binatang dengan penuh belas kasih.Etika Lingkungan Biosentrisme adalah etika lingkungan yang lebih menekankan kehidupan sebagai standar moral. Salah satu tokoh penganutnya adalah Kenneth Goodpaster. Menurut Kenneth rasa senang atau menderita bukanlah tujuan pada dirinya sendiri. Bukan senang atau menderita, akhirnya, melainkan kemampuan untuk hidup atau kepentingan untuk hidup. Kepentingan untuk hidup yang harus dijadikan standar moral. Sehingga bukan hanya manusia dan binatang saja yang harus dihargai secara moral tetapi juga tumbuhan. Menurut Paul Taylor, karenanya tumbuhan dan binatang secara moral dapat dirugikan atau diuntungkan dalam proses perjuangan untuk hidup mereka sendiri, seperti bertumbuh dan bereproduksi.

Etika Lingkungan Ekosentrisme adalah sebutan untuk etika yang menekankan keterkaitan seluruh organisme dan anorganisme dalam ekosistem. Setiap individu dalam ekosistem diyakini terkait satu dengan yang lain secara mutual. Planet bumi menurut pandangan etika ini adalah

(10)

semacam pabrik integral, suatu keseluruhan organisme yang saling membutuhkan, saling menopang dan saling memerlukan.

Sehingga proses hidup-mati harus terjadi dan menjadi bagian dalam tata kehidupan ekosistem. Kematian dan kehidupan haruslah diterima secara seimbang. Hukum alam memungkinkan makhluk saling memangsa diantara semua spesies. Ini menjadi alasan mengapa manusia boleh memakan unsur-unsur yang ada di alam, seperti binatang maupun tumbuhan. Menurut salah satu tokohnya, John B. Cobb, etika ini mengusahakan keseimbangan antara kepentingan individu dengan kepentingan keseluruhan dalam ekosistem.

Secara umum etika ekologi dalam ini menekankan hal-hal berikut : 1. Manusia adalah bagian dari alam.

2. Menekankan hak hidup mahluk lain, walaupun dapat dimanfaatkan oleh manusia, tidak boleh diperlakukan sewenang-wenang.

3. Prihatin akan perasaan semua mahluk dan sedih kalau alam diperlakukan sewenang-wenang.

4. Kebijakan manajemen lingkungan bagi semua mahluk. 5. Alam harus dilestarikan dan tidak dikuasai.

6. Pentingnya melindungi keanekaragaman hayati. 7. Menghargai dan memelihara tata alam.

8. Mengutamakan tujuan jangka panjang sesuai ekosistem.

9. Mengkritik sistem ekonomi dan politik dan menyodorkan sistem alternatif yaitu sistem mengambil sambil memelihara.

Selain itu Etika Lingkungan juga dibedakan lagi sebagai Etika Pelestarian dan Etika Pemeliharaan. Etika Pelestarian adalah etika yang menekankan pada mengusahakan pelestarian alam untuk kepentingan manusia, sedangkan Etika Pemeliharaan dimaksudkan untuk mendukung usaha pemeliharaan lingkungan untuk kepentingan semua makhluk.

Kaum environmentalis mengakui bahwa filsafat sejak Yunani sampai Modern memang tidak banyak memberi dasar pada Etika Lingkungan, bahkan cenderung berseberangan dalam pandangan terhadap alam. Dari skeptisisme terhadap realitas fisik dan konsep alam yang tidak dapat rusak jelas bertabrakan dengan paham baru yang ingin ditonjolkan

(11)

oleh kaum environmentalis tentang dimensi estetis dari materi dan alam yang sedang berubah. Filsafat sosial dan politispun tidak menyentuh sisi pelestarian alam ini, misalnya pandangan John Locke tentang tanah yang mencapai puncak nilai guna ketika digunakan oleh negara untuk kepentingannya.

Bagi Etika Lingkungan, tantangan tersebut tidak harus diartikan bahwa etika ini telah kehilangan nilai filosofisnya karena tidak banyak didukung oleh tradisi pemikiran sebelumnya. Justru, etika lingkungan ingin menunjukkan lubang besar dalam sejarah filsafat yang tidak pernah digali dan direfleksikan. Lubang besar itu bagi kaum environmentalis ditunjukan dalam sikap manusia yang merasa sebagai raja atas seluruh ekosistem yang secara menyedihkan telah menyebabkan ekosistem pelan-pelan kehilangan nilai estetisnya, dan melulu menjadi obyek kepentingan manusia. Di sinilah, Etika Lingkungan memberikan sumbangannya dalam seluruh pemikiran filsafat.

Demikian, menurut Ekawati (2009) mengakhiri uraiannya, bahwa etika lingkungan dapat digolongkan ke dalam dua kelompok yaitu etika lingkungan dalam dan etika lingkungan dangkal. Keduanya memiliki beberapa perbedaan seperti di atas. Tetapi bukan berarti munculnya etika lingkungan ini memberi jawab langsung atas pertanyaan mengapa terjadi kerusakan lingkungan. Namun paling tidak dengan adanya gambaran etika lingkungan ini dapat sedikit menguraikan norma-norma mana yang dipakai oleh manusia dalam melakukan pendekatan terhadap alam ini. Dengan demikian etika lingkungan berusaha memberi sumbangan dengan beberapa norma yang ditawarkan untuk mengungkap dan mencegah terjadinya kerusakan lingkungan.

Veer et al. (1986) menguraikan Pandangan Baru Terhadap Alam sebagai berikut :

(12)

1. Sebenarnya manusia hanyalah bagian kecil dari alam ini, tetapi tindakannya yang sembrono dan serakah menyebabkan banyak spesies punah tiap tahunnya. Manusia sebagai makhluk yang mempunyai kemampuan yang melebihi dari makhluk lain di alam ini, seharusnya mendayagunakan kemampuannya untuk menjaga dan memelihara ekosfer dan ekosistem. Manusia diharapkan dapat merubah sikapnya dari destruktif ke konstruktif. Akal budi bisa digunakan untuk memperbaiki alam. Dengan akal budinya, manusia memiliki kemampuan tidak hanya menghasilkan mesin dan industri yang bisa merusak alam tetapi juga mampu 'digiring' untuk menciptakan teknologi yang mendukung kelestarian alam.

2. Kita hendaknya mengganti paradigma manusia sebagai sang penakluk komunitas alam dengan paradigma manusia sebagai anggota dari komunitas alam. Dengan begitu manusia mampu menghargai anggota lain di dalam komunitas ekosistem.

3. Suatu faktor penyebab terpenting yang perlu diperhatikan dalam proses terjadinya perusakan lingkungan oleh manusia adalah faktor ekonomi. Secara lebih khusus lagi adalah kerakusan manusia, di mana ia melakukan eksploitasi tak terbatas terhadap alam. Alam hanya dilihat sebagai benda penghasil uang. Dunia masih berada dalam sistem ekonomi lama, yaitu kapitalisme yang menjunjung tinggi keuntungan dan mengakibatkan hilangnya nilai kebersamaan. 4. Diperlukan adanya perubahan sikap manusia secara mendasar dalam

memperlakukan alam. Perubahan yang menyangkut nilai, dari nilai hubungan manusia dengan alam yang bersifat ekonomis ke nilai hubungan yang dilandasi oleh sikap menghargai alam sebagai bagian dari hidup manusia. Jadi berdasar pada nilai yang tidak melulu dan hanya berorientasi keuntungan manusia, diharapkan ada usaha untuk menemukan suatu sistem ekonomi baru yang menghargai “yang lemah”, yang nampaknya tak berperan dalam kehidupan.

(13)

5. Begitu baiknya alam ini hingga mampu menciptakan spesies-spesies yang diperlukan untuk kelangsungan hidupnya. Di dalam alam juga tercipta simbiosis-simbiosis. Tumbuhan, binatang dari yang paling kecil hingga yang terbesar dan manusia, terjalin dalam jaring-jaring rantai makanan. Masing-masing punya perannya sendiri dalam melestarikan alam ini. Semuanya membentuk suatu komunitas yang saling tergantung. Inilah yang perlu disadari manusia. Hewan, tumbuhan dan segala sesuatu bagian dari ekosistem merupakan bagian yang tak terpisahkan dari hidup manusia. Merusak dan membunuh mereka tanpa perhitungan berarti menghancurkan manusia sendiri.

6. Ada beberapa pemikir yang menyatakan bahwa hanya mereka yang bertindak sesuai kewajibanlah yang mempunyai hak. Meskipun demikian anak cucu keturunan manusia yang nantinya mendiami bumi ini, juga mempunyai hak atas alam ini sama dengan kita. Ketika kita mengeksploitasi habis-habisan alam atas dalih memanfaatkan hak, sebenarnya kita telah merebut hak mereka “yang belum terlahir di bumi sekarang ini”. Memang mereka belum mampu melakukan suatu kewajiban, tapi kewajiban mereka nantinya adalah sama yaitu menjaga alam bagi keturunan mereka.

7. Makhluk hidup seperti binatang dan tumbuhan juga mempunyai hak, meskipun mereka tidak dapat bertindak yang berlandaskan kewajiban. Mereka ada dan tercipta untuk kelestarian alam ini, sehingga juga mempunyai hak untuk hidup. Hak itu harus dihormati berdasar prinsip nilai intrinsik yang menyatakan bahwa setiap entitas sebagai anggota komunitas bumi bernilai. Dengan demikian, pembabatan hutan secara tidak proporsional dan penggunaan binatang sebagai obyek eksperimen tidak dapat dibenarkan.

8. Permasalahan lingkungan tidak bisa dilepaskan dari kegiatan manusia yang disebut teknik, suatu cara membuat sesuatu. Teknik

(14)

kemudian dipelajari untuk tujuan tertentu dan dinamakan teknologi. Alat-alat yang dihasilkan teknik bisa merupakan perpanjangan tubuh manusia atau bisa juga sarana untuk menemukan dan menyimpan apa yang tidak didapatkan pada dirinya. Maka teknik adalah realisasi sekaligus substitusi diri manusia. Masalahnya kemudian teknik itu mengandalkan pada sarana yang dipakai, dan itu adalah alam. Penggunaan alam untuk memenuhi kebutuhan manusia dibedakan dalam dua sifat : eksploitatif dan konstruktif. Eksploitatif maksudnya manusia mengambil segala sesuatu dari alam tanpa mengganti atau mengembalikannya ke alam. Sedangkan konstruktif adalah pengambilan hasil alam dengan memperhitungkan kelestariannya, maka harus diikuti dengan tindakan memperbarui.

9. Sulitnya masalah ini dipecahkan adalah karena eksploitasi ini diorganisasi dan dipakai bukan sekadar memenuhi kebutuhan hidup tapi untuk menumpuk harta demi kepentingan egoisme. Sudah sepantasnya manusia sadar kalau semua akibat eksploitasi ini akan berbalik dan merugikan diri manusia sendiri. Manusia harus berpikir secara jangka panjang dan bukan semata-mata untuk dirinya sendiri. Maka perlu diperhitungkan bagaimana mengganti sumber daya alam yang dipakai. Bagaimana menggunakan sumber alam agar maksimal mencapai tujuan tanpa merusak keseimbangan alam. Mungkin kita harus kembali pada pemilihan prioritas mana yang penting, mana yang sekadar berguna, mana yang artifisial dan menyenangkan. 2.3 Teori Etika Lingkungan

Sikap dan perilaku seseorang terhadap sesuatu sangat ditentukan oleh bagaimana pandangannya terhadap sesuatu itu, Kalau sesuatu hal dipandang sebagai berguna dan penting, maka sikap dan perilaku terhadap sesuatu itu lebih banyak bersifat menghargai. Sebaliknya jika sesuatu hal dipandang dan dipahami sebagai sesuatu yangn tidak berguna dan tidak penting, maka sikap

(15)

dan perilaku yang muncul lebih banyak bersifat mengabaikan, bahkan merusak.. Manusia memiliki pandangan tertentu pada alam, dimana pendangan itu telah menjadi landasan bagi tindakan dan perilaku manusia terhadap alam. Dari beberapa pandangan etika yang telah berkembang tentang alam disini akan dibahas tiga teori utama, yang dikenal dengan Shallow environmental Ethics, Intermediate Environmental ethics, dan Deep Environmental ethics. Ketiga teori ini dikenal juga sebagai antroposentrisme, biosentrisme, dan ekosentrisme. Ketiganya akan dicoba diterangkan satu persatu, sambil meninjaunya secara kritis.

2.3.1 Antroposentrisme

Antroposentrisme (antropos = manusia) adalah suatu pandangan yang menempatkan manusia sebagai pusat dari sistem alam semesta. Pandangan ini berisi pemikiran bahwa segala kebijakan yang diambil mengenai lingkungan hidup harus dinilai berdasarkan manusia dan kepentingannya. Jadi, pusat pemikirannya adalah manusia. Kebijakan terhadap alam harus diarahkan untuk mengabdi kepada kepentingan manusia. Pandangan moral lingkungan yang antroposentrisme disebut juga sebagai human centered ethic, karena mengandaikan kedudukan dan peran morl lingkungan hidup yang terpusat pada manusia. Maka tidak heran kalau fokus perhatian dalam pandangan ini terletak pada peningkatan kesejahteraan dan kebahagian manusia di dalam alam semesta. Alam dilihat hanya sebagai obyek, alat dan sarana bagi pemenuhan kebutuhan kebutuhan dan kepentingan manusia. Dengan demikian alam dilihat sebagai alat bagi pencapaian tujuan manusia. Tinjauan kritis atas teori antroposentrisme:

(16)

 Antroposentrisme didasarkan pada pandangan filsafat yang mengklaim bahwa hal yang bernuansa moral hanya berlaku pada manusia. Manusia di agungkan sebagai yang mempunyai nilai paling tinggi dan paling penting dalam kehidupan ini, jauh melebihi semua mahluk lain. Ajaran yang telah menempatkan manusia sebagai pusat suatu sistem alam semesta ini telah membuat arogan terhadap alam, dengan menjadikan sebagai objek untuk dieksploitasi.

 Antroposentrisme sangat bersifat instrumentalis, dimana pola hubungan manusia dengan alam hanya terbatas pada relasi instrumental semata. Alam dilihat sebagai alat pemenuhan dan kepentingan manusia. Teori ini dianggap sebgai sebuah etika lingkungan yang dangkal dan sempit ( shallow environmental ethics ).

 Antroposentrisme sangat bersifat teologis karena pertimbangan yang diambil untuk peduli terhadap alam didasarkan pada akibat dari tindakan itu bagi kepentingan manusia. Konservasi alam misalnya, hanya dianggap penting sejauh hal itu mempunyai dampak menguntungkan bagi kepentinmgan manusia.

 Teori antroposentrisme telah dituduh sebagai salah satu penyebab bagi terjadinya krisis lingkungan hidup. Pandangan inilah yang menyebabkan manusia berani melakukan tindakan eksploitatif terhadap alam, dengan menguras kekayaan alam demi kepentingannya. Kepedulian lingkungan hanya muncul sejauh

(17)

terkait dengan kepentingan manusia, dan itupun lebih banyak berkaitan dengan kepentingan jangka pendek saja.

 Walaupun kritik banyak dilontarkan terhadap teori antroposentrisme, namun sebenarnya argumen yang ada didalamnya cukupm sebagai landasan kuat bagi pengembangan sikap kepedulian terhadap alam. Manusia membutuhkan lingkungan hidupn yang baik, maka demi kepentingan hidupnya, manusia memiliki kewajiban memelihara dan melestarikan alam lingkungannya. Kekurangan pada teori ini terletak pada pendasaran darin tindakan memberi perhatian pada alam, yang tidak didasarkan pada kesadaran dan pengakuan akan adanya nilai ontologis yang dimiliki oleh alam itu sendiri, melainkan hanya kepentingan manusia semata.

2.3.2 Biosentrisme

Etika lingkungan Biosentrisme adalah etika lingkungan yang lebih menekankan kehidupan sebagai standar moral. Salah satu tokoh penganutnya adalah Kenneth Goodpaster. Menurut Kenneth rasa senang atau menderita bukanlah tujuan pada dirinya sendiri. Bukan senang atau menderita, akhirnya, melainkan kemampuan untuk hidup atau kepentingan untuk hidup. Kepentingan untuk hidup yang harus dijadikan standar moral. Sehingga bukan hanya manusia dan binatang saja yang harus dihargai secara moral tetapi juga tumbuhan. Menurut Paul Taylor, karenanya tumbuhan dan binatang secara moral dapat dirugikan dan atau diuntungkan dalam proses perjuangan untuk hidup mereka sendiri, seperti bertumbuh dan bereproduksi.

Biosentrisme adalah suatu pandangan yang menempatkan alam sebagai yang mempunyai nilai dalam dirinya sendiri, lepas dari

(18)

kepentingan manusia. Dengan demikian biosentrisme menolak antroposentrisme yang menyatakan bahwa manusialah yang mempunyai nilai dalam dirinya sendiri. Teori biosentrisme berpandangan bahwa mahluk hidup bukan hanya manusia saja. Ada banyak hal dan jenis mahluk hidup yang memiliki kehidupan. Hanya saja, hal yang rumit dari biosentrisme, atau yang disebut juga life-centered ethic, terletak pada cara manusia menanggapi pertanyaan: ”Apakah hidup itu?”. Pandangan biosentrisme mendasarkan moralitas pada keluhuran kehidupan, entah pada manusia atau pada mahluk hidupnya. Karena yang menjadi pusat perhatian dan ingin dibela dalam teori ini adalah kehidupan, maka secara moral berlaku prisip bahwa setiap kehidupan dimuka bumi ini mempunyai nilai moral yang sama, sehingga harus dilindungi dan diselamatkan. Oleh karena itu, kehidupan setiap mahluk hidup pantas diperhitungkan secara serius dalam setiap keputusan dan tindakan moral, bahkan lepas dari pertimbangan untung rugi bagi kepentingan manusia.

Tinjauan kritis atas teori biosentrisme:

 Biosentrisme menekankan kewajiban terhadap alam bersumber dari pertimbangan bahwa kehidupan adalah sesuatu yang bernilai, baik kehidupan manusia maupun spesies lain dimuka bumi ini. Prinsip atau perintah moral yang berlaku disini dapat dituliskan sebagai berikut: ”adalah hal yang baik secara moral bahwa kita mempertahankan dan memacu kehidupan, sebaliknya, buruk kalau kita menghancurkan kehidupan”.

(19)

 Biosentrisme melihat alam dan seluruh isinya mempunyai harkat dan nilai dalam dirinya sendiri. Alam mempunyai nilai justru karena ada kehidupan yang terkandung didalamnya. Kewajiban terhadap alam tidak harus dikaitkan dengan kewajiban terhadap sesama manusia. Kewajiban dan tanggung jawab terhadap alam semata-mata didasarkan pada pertimbangan moral bahwa segala spesies di alam semesta mempunyai nilai atas dasar bahwa mereka mempunyai kehidupan sendiri, yang harus dihargai dan dilindungi.  Biosentrisme memandang manusia sebagai mahluk biologis yang

sama dengan mahluk biologis yang lain. Manusia dilihat sebagai salah satu bagian saja dari keseluruhan kehidupan yang ada dimuka bumi, dan bukan merupakan pusat dari seluruh alam semesta. Maka secara biologis manusia tidak ada bedanya dengan mahluk hidup lainnya. Salah satu tokoh yang menghindari penyamaan begitu saja antara manusia dengan mahluk hidup lainnya adalah Leopold. Menurut dirinya, manusia tidak memiliki kedudukan yang sama begitu saja dengan mahluk hidup lainnya. Kelangsungan hidup manusia mendapat tempat yang penting dalam pertimbangan moral yang serius. Ahanya saja, dalam rangka menjamin kelangsungan hidupnya, manusia tidak harus melakukannya dengan cara mengorbankan kelangsungan dan kelestarian komunitas ekologis. Manusia dapat menggunakan alam untuk kepentingannya, namun dia tetap terikat tanggung jawab untuk tidak mengorbankan integrity, stability dan beauty dari mahluk hidup lainnya. unjtuk

(20)

mengatasi berbagai kritikan atas klaim pertanyaan antara manusia dengan mahluk biologis lainnya, salah seorang tokoh biosentrisme, Taylor, membuat pembedaan antara pelaku moral (moral agents) dan subyek moral (moral subjects). Pelaku moral adalah manusia karena dia memiliki kemampuan untuk bertindak secara moral, berupa kemampuan akal budi dan kebebasan. Maka hanya manusialah yang memikul kewajiban dan tanggung jawab moral atas pilihan-pilihan, dan tindakannya. Sebaliknya, subyk moral adalah mahluk yang bisa diperlakukan secara baik atau buruk, dan itu berarti menyangkut semua mahluk hidup, termasuk manusia. Dengan demikian semua pelaku moral adalah juga subyek moral, namun tidak semua subyek moral adalah pelaku moral, di mana pelaku moral memiliki kewajiban dan tanggung jawab terhadap mereka.

 Teori biosentrisme, yang disebut juga intermediate environmental ethic, harus dimengerti dengan baik, khususnya menyangkut kehidupan manusia dan mahluk-mahluk hidup yang lain di bumi ini. Teori ini memberi bobot dan pertimbangan moral yang sama kepada semua mahluk hidup. Disini dituntut bahwa alam dan segala kehidupan yang terkandung didalamnya haruslah masuk dalam pertimbangan dan kepedulian moral. Manusia tidak mengorbankan kehidupan lainnya begitu saja atas dasar pemahaman bahwa alam dan segala isinya tidak bernilai dalam dirinya sendiri.

(21)

Etika Lingkungan Ekosentrisme adalah sebutan untuk etika yang menekankan keterkaitan seluruh organisme dan anorganisme dalam ekosistem. Setiap individu dalam ekosistem diyakini terkait satu dengan yang lain secara mutual. Planet bumi menurut pandangan etika ini adalah semacam pabrik integral, suatu keseluruhan organisme yang saling membutuhkan, saling menopang dan saling memerlukan. Sehingga proses hidup-mati harus terjadi dan menjadi bagian dalam tata kehidupan ekosistem. Kematian dan kehidupan haruslah diterima secara seimbang. Hukum alam memungkinkan mahluk saling memangsa diantara semua spesies. Ini menjadi alasan mengapa manusia boleh memakan unsur-unsur yang ada di alam, seperti binatang maupun tumbuhan. Menurut salah satu tokohnya, John B. Cobb, etika ini mengusahakan keseimbangan antara kepentingan individu dengan kepentingan keseluruhan dalam ekosistem.

Ekosentrisme dapat dikatakan sebagai lanjutan dari teori etika lingkungann biosentrisme. Kalau biosentrisme hanya memusatkan perhatian pada kehidupan seluruhnya, ekosentrisme justru memusatkan perhatian pada seluruh komunitas biologis, baik yang hidup maupun tidak. Pandangan ini didasarkan pada pemahaman bahwa secara ekologis, baik mahluk hidup maupun benda-benda antibiotik lainnya saling terkait satu sama lainnya. Jadi ekosentrisme, selain sejalan dengan biosentrisme-di mana keduanya sama-sama menentang pandangan antroposentrisme-juga mencakup komunitas ekologis seluruhnya. Jadi ekosentrisme, menuntut tanggungjawab moral yang sama untuk semua realitas biologis. Tinjauan kritis atas teori ekosentrisme:

 Ekosentrisme, yang disebut juga deep environmental ethics, semakin dipulerkan denganversi lain setelah diperkenalkan oleh

(22)

Arne Naes, seorang filsuf Norwegia dengan menyebutnya sebagai Deep Ecology ini adalah suatu paradigma baru tentang alam dan seluruh isinya. Perhatian bukan hanya berpusat pada manusia melainkan pada mahluk hidup seluruhnya dalam kaitan dengan upaya mengatasi persoalan lingkungan hidup. Manusia bukan lagi pusat dari dunia moral. Deep Ecology memusatkan perhatian kepada semua kehidupan di bumi ini, bukan hanya kepentingan seluruh komunitas ekologi.

 Arne Naes bahkan juga menggunakan istilah ecosophy untuk memberikan pendasaran filosofi atas deep ecology. “Eco” berarti rumah tangga dan “sophy” berarti kearifan atau kebijaksanaan. Maka ecosophy berarti kearifan dalam mengatur hidup selaras dengan alam sebagai sebuah rumah tangga dalam arti luas. Dalam pandangan ecosophy terlihat adanya suatu pergeseran dari sekedar sebuah ilmu (science) menjadi sebuah kearifan (wisdom). Dalam arti ini, lingkungan hidup tidak hanya sekedar sebuah ilmu melainkan sebuah kearifan, sebuah cara hidup, sebuah pola hidup selaras dengan alam. Ini adalah cara untuk menjaga dan memelihara lingjkungannya secara arid, layaknya sebuah rumah tangga.

 Deep ecology menganut prisip biospheric egalitarianism, yaitu pengakuan bahwa semua organisme dan mahluk hidup adalah anggota yang sama statusnya dari suatu keseluruhan yang terkait sehingga mempunyai martabat yang sama. Ini menyangkut suatu

(23)

pengakuan bahwa hak untuk hidup dan berkembang untuk semua mahluk (baik hayati maupun nonhayati) adalah sebuah hak univerval yang tidak bisa diabaikan.

 Sikap deep ecology terhadap lingkungan sangat jelas, tidak hanya memusatkan perhatian pada dampak pencemaran bagi kesehatan manusia, teapi juga pada kehidupan secara keseluruhan. Pendekatan yang dilakukan dalam menghadapi berbagai issue lingkungan hidup bukan bersifat antroposentris, melainkan biosentris dan bahkan ekosentris. Isi alam semesta tidak dilihat hanya sebagai sumberdaya dan menilainya dari fungsi ekonomis semata. Alam harus dipandang juga darisegi nilai dan fungsi budaya, sosial, spiritual, medis dan biologis.

2.4 Prinsip-Prinsip Etika Lingkungan

Dengan mendasarkan nilai pada teori etika biosentrisme, eksosentrisme, dan teori mengenai hak asasi alam, kita dapat merumuskan berbagai prisip moral yang relevan untuk lingkungan hidup. Prinsip-prinsip ini terbuka untuk dikembangkan lenbih lanjut. Perlu ditekankan bahwa prinsip-prinsip etika lingkungan ini terutama bertumpu pada dua unsur pokok dari teori biosentrisme dan eksosentrisme. Prinsip etika lingkungan ada sembilan antara lain :

2.4.1 Sikap hormat terhadap alam

Dengan mendasarkan diri pada teori bahwa komunitas ekologis adalah komunitas moral, setiap anggota komuitas (manusia atau bukan) mempunyai kewajiban moral untuk saling menghormati. Secara khusus , sebagai pelaku moral manusia mempunyai kewajiban moral untuk menghormati kehidupan, baik pada manusia atau mahluk lain dalam komuniatas ekologis seluruhnya.

Hormat terhadap alam adalah suatu prinsip dasar bagi manusia sebagai bagian dari alam semesta seluruhnya. Seperti hal, setiap anggota

(24)

komunitas social mempunyia kewajiban moral untuk menghormati kehidupan bersama, demikian pula setiap anggota komunitas ekologis harus saling menghargai dan menghormati setiap kehidupan serta mempunyai kewajiban moral untuk menjaga bagian dari komunitas. 2.4.2 Prinsip tanggung jawab

Terkait dengan prinsip hormat terhadap alam adalah tanggung jawab moral terhadap alam, karena secara entologis manusia adalah bagian dari integral alam. Setiap bagian dan benda dialam dicitakan Tuhan dengan tujuannya masing-masing, terlepas apakah tujuan itu untuk kepentingan manusia atau tidak. Oleh karena itu, manusia sebagai bagian dari alam semesta, bertanggung jawab pula untuk menjaganya. Tanggung jawab itu bukan saja bersifat individual melainkan juga kolektif. Prinsip tanggung jawab moral ini menuntut manusia untuk mengambil prakarsa, usaha, kebijakan, dan usaha bersamauntuk menjaga alam semesta dan isinya. Itu berarti kelestarian dan kerusakan alam merupakan tanggung jawab bersama seluruh umat manusia.

2.4.3 Prinsip solidaritas kosmis

Prinsip solidaritas muncul dari kenyataan bahwa manusia adalah bagian integral alam semesta, bahkan manusia mempunyai kedudukan yang sederajat dengan alam dan semua mahluk hidup lain dialam ini. Kenyataan ini membangkitkan dalam diri manusia perasaan solider, perasaan sepenanggungan dengan alam dan semua mahluk hidup lain. Prinsip solider kosmis ini lalu mendorong manusia untuk menyelamatkan lingkungan, untuk menyelamatkan semua kehiupan dialam ini. Karena alam dan seluruh kehidupan didalamnya mempunyai nilai yang sama bagi kehidupan manusia. solidaritas kosmis juga mencegah manusia untuk tidak merusak dan mencemari alam dan seluruh kehidupan didalamnya, sama seperti manusia tidak merusak rumah tangganya sendiri.

2.4.4 Prinsip kasih sayang dan kepedulian terhadap alam

Prinsip kasih sayang dan kepedulian adalah prinsip moral satu arah, menuju yang lain, tanpa mengharapkan balasan. Ia tidak didasarkan pada pertimbangan kepentingan pribadi, tetapi semata-mata untuk kepentingan

(25)

alam. Yang menarik , semakin mencintai dan peduli terhadap alam, manusia semakin berkembang menjadi manusia yang matang, sebagai pribadi dengan identitas yang kuat. Karena alam memang menghidupkan, tidak hanya dalam pengertian fisik, melainkan juga dalam pengertian mental dan spritual.

2.4.5 Prinsip “No Harm”

Prinsip “No Harm”, artinya karena manusia mempunyai kewajiban moral dan tanggung jawab terhadap alam, paling tidak manusia tidak akan merugikan alam secara tidak perlu. Dengan mendasari diri pada biosentrisme dan eksosentrisme, manusia berkewajiban moral untuk melindungi kehidupan dialam semesta ini. Kewajiban, sikap solider dan kepedulian ini bisa mengambil bentuk minimal berupa tidak melakukan yang merugikan atau mengancam eksistensi mahluk hidup lain dialam semesta ini.

2.4.6 Prinsip hidup sederhana dan selaras dengan alam

Pada prinsip ini, ditekankan adalah nilai, kualitas, standar material. Yang ditekankan buak rakus dan tamak mengumpulkan harta dan memiliki sebanyak-banyaknya. Yang lebih penting adalah mutu kehidupan yang baik.

2.4.7 Prinsip keadilan

Berbeda dengan keenam prinsip sebelumnya, prinsip keadilan tidak berbicara tentang perilaku manusia terhadap alam semestanya, prinsip ini lebih berbicara tentang bagaimana manusia berperilaku satu terhadap yang lain dalal kaitan dengan alam semesta dan bagaimana sistem sosial harus diatur agar berdampak positif terhadap kelestarian lingkungan hidup. Dalam hal ini, prinsip keadilan terutama berbicara tentang akses yang sama bagi semua kelompok dan anggota masyarakat dalam ikut menentukan kebijakan pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian alam. Dengan demikian, prinsip keadilan ini telah masuk dalam politik ekologi, dimana pemerintah dituntut untuk membuka peluang dan akses yang sama bagi semua kelompok dan anggota masyarakat dalam ikut menetukan kebijkan khususnya dibidang lngkungan dan pemanfaatan

(26)

alam ini bagi kepentingan vital manusia. termasuk didalamnya bahwa semua kelompok dan anggota masyarakat harus secara proporsional menanggung beban yang disebabkan oleh rusaknya alam semesta yang ada.

2.4.8 Prinsip demokrasi

Prinsip demokrsi ini sangat relevan dalam bidang lingkungan, terutama dalam kaitan pengambilan kebijakan dibidang lingkungan yang menetukan baik-buruk, rusak-tidaknya, tercemar tidaknya lingkungan hidup. Ini menjadi rinsip moral politik yang menjadi garansi yang pro lingkungan hidup. Sebaliknya ada kekawatiran kehidupan politik yang tidak demokratis, dan system politik yang tidak menjamin adqanya demokrsi akan membahayakan bagi perlindungan lingkungan hidup. Prinsip demokrasi mencakup beberapa prinsip moral lainnya :

 Demokrasi menjamin adanya keaneka ragaman dan pluralitas, baik pluralitas kehidupan, pluralitas aspirasi, kelompok politik dan nilai.

 Demokrasi menjamin kebebasan dalam mengeluarkan pendapat dan memperjuangkan nilaiyang dianut oleh setiap orang

 Demokrasi menjami setiap orang dan kelompok masyarakat ikut berpartisipasi dalam menentukan kebijakan publik dan memperoleh peluang yang sama Demokrasi menjamin hak setiap orang untuk memperoleh informasi yang akurat tentang setiap kebijakan publik  Demorasi menuntut adanya akuntabilitas public

2.4.9 Prinsip integritas moral

Prinsip ini terutama dimaksudkan untuk pejabat publik, dimana pejabat publik dituntut agar mempunyai sikap dan perilaku moral yang terhormat serta memegang teguh prinsip- prinsip moral yang mengamankan kepentingan publik.

2.5 Etika Baru Lingkungan

Parahnya krisis lingkungan akibat pembalakan liar, pembakaran hutan dan pengeksploitasian lingkungan tanpa batas, telah lama menuai protes keras dari masyarakat, baik lewat tulisan maupun lewat aksi demonstrasi. Dari perspektif sejarah, gaung protes kaum pecinta lingkungan sebenarnya mulai

(27)

membahana, ketika Rachel Carson dalam bukunya Silent Spring (1962) secara dramatis meramalkan ancaman kerusakan lingkungan yang menimbulkan hancurnya ekosistem yang mengancam keselamatan penghuni bumi. Ia meramalkan terjadi musim semi yang sunyi, tanpa kicauan dan indahnya warna-warni.

Ironisnya, meski protes para pecinta lingkungan terus gencar, tetapi hutan dan lingkungan disini tetap saja dieksploitasi tanpa batas, dan dibakar sehingga semakin merusak lingkungan dan telah memusnahkan banyak ekosistem didalamnya. Seperti bencana Lumpur beracun, PT lapindo Brantas Sidoarjo, yang terkesan dibiarkan berlarut-larut sehingga menimbulkan kerusakan lingkungan yang sangat parah, dan belum diketahui kapan selesai penangananya .

Seperti kata Erich Fromm dalam bukunya To Have or to Be, keinginan padahal merupakan sesuatu yang tidak terbatas. Keinginan untuk memiliki sesuatu akan muncul keinginan berikutnya yang akan menimbulkan keserakahan. Keserakahan itu sifatnya tidak terbata, tidak pernah sampai pada titik jenuh, karena ini menyangkut mental. Oleh karena itu, ada dua hal yang harus diperhatikan secara serius. Pertama, sebagaimana kerap dikumandangkan para pemerhati lingkungan, yaitu penegakan hokum secara tegas terhadap semua perusak hutan. Bahkan itu menjadi kata kunci dari semua permasalahan ini. Sikap bodoh dan permisif masyarakat terhadap penjarahan hutan, pembakaran liar, dan pembakaran hutan disebabkan karena kurang tegasnya pemerintah dalam menerapkan Hukum secara adil. Kedua, sudah saatnya dibutuhkan kemanusiaan baru yang beretika, dan memiliki kesadaran lingkungan yang tinggi, yang sanggup menghubungkan pola kehidupan yang lebih sehat dengan lingkungan dan tidak bersifat eksploitatif.

Etika lingkungan seperti itu, kerap pula disebut etika lingkungan yang namanya kontekstualisme atau etika kontekstual. Dalam kontekstualisme ini tidak diperlawankan manusia dengan alam atau lingkungannya, tetapi memandang dampak-dampak dari kontaknya sebagai perilaku yang mandiri. Suatu etika yang berlandas kuat dalam kosmos, sekaligus dalam landas pikiran

(28)

dan tingkah laku manusia yang bukan hanya memanfaatkan alam demi keuntungan semata, melainkan harus bertanggung jawab mengembangkan daya-dayanya demi generasi yang akan dating. Artinya, dalam diri masyarakat ditanamkan kesadaran lewat pembentukan kepribadian dan jiwa kosmis, bahwa hutan memiliki fungsi yang sangat sentral untuk kehidupan kita sekarang dan generasi yang akan datang. Dalam kaitannya ini, kata ekolog Robin Attfield, manusia harus tegas merombak cara berpikir yang lazim dalam pengelolaan alam, dan disiplin berpikir dengan bertolak dari sisi alam, bukan dari sisinya sendiri.

Tuntutan suatu etika lingkungan hidup baru dapat dirangkum sebagai berikut : a. Manusia harus belajar untuk menghormati alam. Alam dilihat tidak

sematamata sebagai sesuatu yang berguna bagi manusia, melainkan yang mempunyai nilai sendiri. Kalau terpaksa manusia men-campuri proses-proses alam, maka tidak seluruhnya dan dengan terus menerus menjaga keutuhannya.

b. Manusia harus memberikan suatu perasaan tanggung jawab khusus terhadap lingkungan lokal. Agar lingkungan manusia bersih, sehat, alamiah, sejauh mungkin diupayakan agar manusia tidak membuang sampah seenaknya,

c. Manusia harus merasa bertanggung jawab terhadap kelestarian biosfer. Untuk itu, diperlukan sikap peka terhadap kehidupan.

d. Etika lingkungan hidup baru menuntut larangan keras untuk merusak, mengotori dan meracuni. Terhadap alam atau bagiannya manusia tidak mengambil sikap yang merusak, mematikan, menghabiskan, mengotori, menyia-nyiakan, melumpuhkan, ataupun membuang.

e. Solidaritas dengan generasi-generasi yang akan datang. Harus menjadi acuantetap dalam komunikasi dengan lingkungan

(29)

Hasil penelitian teoritik tentang kesadarna lingkungan hidup dari Neolaka (1991), menyatakan bahwa kesadaran adalah keadaan tergugahnya jiwa terhadap sesuatu, dalam hal ini terhadap lingkungan hidup, yang dapat terlihat dari perlaku dan tidakan masing-masing individu .Menurut Joseph Murphy, kesadaran adalah siuman atau sadar akan tingkah lakunya yanitu pikiran sadar yang diingini

Dari teori diatas maka dapat diberikan pengertian sebagai berikut. Pertama, kesadaran ialah pengetahuan sadar sama dengan tahu. Pengetahuan akan hal yang nyata, konkrit, dimaksudkan adalah pengetahuan yang mendalam. Contohnya jika ada pengetahuan bahwa dilarang membuang sampah kesungai, itu penting ditaati, maka manusia tersebut menunjukkan bahwa ia sadar lingkungan. Menurut Ensiklopedia Umum (1977) lingkungan adalah alam sekitar termasuk orang-orangnya dalam hidup pergaulan yang mempengaruhi manusia sebagai anggota masyarakat dalam kehidupan kebudayaannya. Menurut Ensiklopedia Indonesia (1983), lingkungan adalah segala sesuatu yang ada diluar organisme meliputi lingkungan mati yaitu lingkungan diluar suatu organisme yang terdiri dari benda atau faktor alam yang tidak hidup, seperti bahan kimia, cahaya, gravitasi, atmosfer, suhu, dan lain-lain. Lingkungan hidup adalah lingkungan diluar suatu organisme yang terdiri dari organisme hidup, seperti tumbuhan, hewan dan manusia.

Setelah diberikan pengertian tentang lingkungan maka akan dibahas mengenai “lingkungan hidup”. Menurut UU RI No.4 tahun 1982, tentang ketentuan-ketentuan pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup dan UU RI No.23 tahun 1997. tentang pengelolaan lingkuang hidup , diakatakan bahwa ; Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan mahluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta mahluk hidup lainnya.

Dalam sejarah, kesadaran lingkungan telah berlangsung dari proses tahap awal lingkungan habitat yaitu dengan konferensi Stockholm,1972. Di Indonesia diwujudkan pembentukan lembaga non kepemerintahan, yaitu Meneg PPLH

(30)

dan sekarang meneg LH. Masing-masing dengan acuan yang ditetapkan dalam GBHN.

2.7 Undang-Undang Tentang Etika Lingkungan Hidup

Undang-undang tentang lingkungan hidup terdapat pada “UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2009 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP”. Pada bab X dibahas tentang hak, kewajiban, dan larangan tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Bagian pertama membahas tentang hak dan bagian kedua membahas tentang kewajiban yaitu:

Pasal 67

Setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mengendalikan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup.

Pasal 68

Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan berkewajiban:

a. Memberikan informasi yang terkait dengan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup secara benar, akurat, terbuka, dan tepat waktu.

b. Menjaga keberlanjutan fungsi lingkungan hidup.

c. Menaati ketentuan tentang baku mutu lingkungan hidup dan/atau kriteria baku kerusakan lingkungan hidup.

Bagian ketiga menjelaskan tentang larangan yaitu: Pasal 69

Setiap orang dilarang:

a. Melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan perusakan lingkungan hidup.

b. Memasukkan B3 yang dilarang menurut peraturan perundang-undangan ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

c. Memasukkan limbah yang berasal dari luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia ke media lingkungan hidup Negara Kesatuan Republik Indonesia.

d. Memasukkan limbah B3 ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

e. Membuang limbah ke media lingkungan hidup.

(31)

g. Melepaskan produk rekayasa genetic ke media lingkungan hidup yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan atau izin lingkungan. h. Melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar.

i. Menyusun amdal tanpa memiliki sertifikat kompetensi penyusun amdal. j. Memberikan informasi palsu, menyesatkan, menghilangkan informasi,

merusak informasi, atau memberikan keterangan yang tidak benar.

Pada bab XII dibahas tentang pengawasan dan sanksi administratif. Pada bagian pertama dibahas tentang pengawasannya. Kemudian pada bagian kedua dibahas tentang sanksi administratif yaitu:

Pasal 76

a. Menteri, gubernur, atau bupati/walikota menerapkan sanksi administratif kepada penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan jika dalam pengawasan ditemukan pelanggaran terhadap izin lingkungan.

b. Sanksi administratif terdiri atas:  Teguran tertulis.

 Paksaan pemerintah.

 Pembekuan izin lingkungan.  Pencabutan izin lingkungan. Pasal 77

Menteri dapat menerapkan sanksi administrative terhadap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan jika Pemerintah menganggap pemerintah daerah secara sengaja tidak menerapkan sanksi administratif terhadap pelanggaran yang serius di bidang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

Pasal 78

Sanksi administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 tidak membebaskan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dari tanggung jawab pemulihan dan pidana.

Pasal 79

Pengenaan sanksi administratif berupa pembekuan atau pencabutan izin lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 ayat (2) huruf c dan huruf d dilakukan apabila penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan tidak melaksanakan paksaan pemerintah.

(32)

a. Paksaan pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 76 ayat (2) huruf b berupa:

 Penghentian sementara kegiatan produksi  Pemindahan sarana produksi.

 Penutupan saluran pembuangan air limbah atau emisi.  Pembongkaran.

 Penyitaan terhadap barang atau alat yang berpotensi menimbulkan pelanggaran.

 Penghentian sementara seluruh kegiatan.

 Tindakan yang bertujuan untuk menghentikan pelanggaran dan tindakan pemulihkan fungsi lingkungan hidup.

b. Pengenaan paksaan pemerintah dapat dijatuhkan tanpa didahului teguran apabila pelanggaran yang dilakukan menimbulkan:

 Ancaman yang sangat serius bagi manusia dan lingkungan hidup.

 Dampak yang lebih besar dan lebih luas jika tidak segera dihentikan pencemaran atau perusakannya.

 Kerugian yang lebih besar bagi lingkungan hidup jika tidak segera dihentikan pencemaran dan/atau perusakannya.

Pasal 81

Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang tidak melaksanakan paksaan pemerintah dapat dikenai denda atas setiap keterlambatan pelaksanaan sanksi paksaan pemerintah.

Pasal 82

a. Menteri, gubernur, atau bupati/walikota berwenang untuk memaksa penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk melakukan pemulihan lingkungan hidup pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang dilakukannya.

b. Menteri, gubernur, atau bupati/walikota berwenang atau dapat menunjuk pihak ketiga untuk melakukan pemulihan lingkungan hidup akibat

(33)

pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang dilakukannya atas beban biaya penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan.

Pasal 83

Ketentuan lebih lanjut mengenai sanksi administratif diatur dalam Peraturan Pemerintah.

2.8 Penerapan Etika Lingkungan Hidup

Sikap ramah terhadap lingkungan hidup harus bisa menjadi sesatu kebiasaan yangdilakukan oleh setiap manusia dalam menjalankan kehidupan baik dalam lingkungankeluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat. Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam membudayakan sikap tersebut antara lain : 2.8.1 Lingkungan Keluarga

Lingkungan keluarga adalah salah satu tempat yang sangat efektif menanamkan nilai-nilai etika lingkungan. Hal itu dapat dilakukan dengan :

a. Menanam pohon dan memelihara bunga di pekarangan rumah. Setiap orangtua memberi tanggung jawab kepada anak-anak secara rutin untuk merawatnya dengan menyiram dan memberi pupuk.

b. Membiasakan diri membuang sampah pada tempatnya. Secara bergantian,setiap anggota keluarga mempunyai kebiasaan untuk menjaga kebersihan dan merasa malu jika membuang sapah sembarang tempat.

c. Memberikan tanggung jawab kepada anggota keluarga untuk menyapurumah dan pekarangan rumah secara rutin.

2.8.2 Lingkungan Sekolah

Kesadaran mengenai etika lingkungan hidup dapat dilakukan di lingkungan sekolahdengan memberikan pelajaran mengenai lingkungan hidup dan etika lingkungan,melalui kegiatan ekstrakulikuler sebagai wujud kegiatan yang konkret denganmengarahkan pada pembentukan sikap yang berwawasan lingkungan seperti:

a. Pembahasan atau diskusi mengenai isu lingkungan hidup b. Pengelolaan sampah

c. Penanaman Pohon

(34)

e. Kegiatan piket dan jumat bersih 2.8.3 Lingkungan Masyarakat

Pada lingkungan masyarakat , kebiasaan yang berdasarkan pada etika lingkungan dapat ditetapkan melalui :

a. Membuangan sampah secara berkala ke tempat pembuangan sampah b. Kesiadaan untuk memisahkan antara sampah organic dan sampah

nonorganik

c. Melakukan kegiatan gotong - royong atau kerja bakti secara berkala dilingkungan tempat tinggal

d. Menggunakan kembali dan mendaur ulang bahan-bahan yang masihdiperbaharui

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan

1. Etika Lingkungan berasal dari dua kata, yaitu Etika dan Lingkungan. Etika berasal dari bahasa yunani yaitu “Ethos” yang berarti adat istiadat atau kebiasaan.

2. Ada beberapa jenis-jenis etika lingkungan, yaitu:

a. Etika Ekologi Dangkal adalah pendekatan terhadap lingkungan yang menekankan bahwa lingkungan sebagai sarana untuk kepentingan manusia, yang bersifat antroposentris.

b. Etika Ekologi Dalam adalah pendekatan terhadap lingkungan yang melihat pentingnya memahami lingkungan sebagai keseluruhan kehidupan yang saling menopang, sehingga semua unsur mempunyai arti dan makna yang sama.

(35)

a. Antroposentrisme (antropos = manusia) adalah suatu pandangan yang menempatkan manusia sebagai pusat dari sistem alam semesta.

b. Biosentrisme adalah etika lingkungan yang lebih menekankan kehidupan sebagai standar moral.

c. Ekosentrisme adalah sebutan untuk etika yang menekankan keterkaitan seluruh organisme dan anorganisme dalam ekosistem.

4. Ada sembilan prinsip – prinsip etika lingkungan yaitu:

a. Sikap hormat terhadap alam b. Prinsip tanggung jawab c. Prinsip solidaritas kosmis

d. Prinsip kasih sayang dan kepedulian terhadap alam e. Prinsip “No Harm”

f. Prinsip hidup sederhana dan selaras dengan alam g. Prinsip keadilan

h. Prinsip demokrasi i. Prinsip integritas moral

DAFTAR PUSTAKA

Serly Eviliya Phyta.2014.Etika Lingkungan Hidup (makalah).Jakarta: Universitas Satya Negara Indonesia.

Abdul mukti.Etika Pengelolaan lingkungan Hidup (artikel).Bandung: Universitas Negeri parahyangan.

Jacob hutapea.2010.Etika Lingkungan (makalah).Medan: Universitas Negeri Medan. http://id.wikipedia.org/wiki/pengertian_etika_lingkungan.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :