BAB 2
TINJAUAN TEORI
2.1 Pertumbuhan dan Perkembangan Motorik Anak 2.1.1 Pengertian
Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang bisa diukur dengan ukuran berat (gram, pound, kilogram),ukuran panjang (cm, meter), umur tulang dan keseimbangan metabolik (retensi kalsium dan nitrogen tubuh). Perkembangan (development) adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam stuktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat di ramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan. Disini menyangkut adanya proses diferensiasi dari sel-sel tubuh, jaringan tubuh, organ-organ dan sistem organ yang berkembang sedemikian rupa sehingga masing- masing dapat memenuhi fungsinya. Termasuk juga perkembangan emosi, intelektual dan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya. Memahami pertumbuhan dan perkembangan normal membantu perawat memperkirakan, mencegah dan mendeteksi penyimpangan dari bentuk yang diharapkan klien. Perkembangan adalah perubahan bentuk yang dimulai saat konsepsi dan terus berlanjut sepanjang satu masa masa kehidupan (Santrock, 2007). Bentuk ini termasuk perubahan bioligis, kognitif, dan sosioemosional yang terjadi selama masa kehidupan individu. Perkembangan bersifat dinamis dan melibatkan progesivitas dan penurunan. Sebagai contoh perkembangan kognitif, pada usia lanjut dapat dilihat dari sikap bijaksana dalam mengambil keputusan karena adanya faktor pengalaman, tetapi mereka sulit bertindak seperti orang muda saat dibutuhkan kecepatan dalam memproses informasi (Baltes dan Kunzmann 2004 ; Santrock, 2007). Pertumbuhan mencangkup perubahan fisik yang terjadi sejak periode prenatal sampai masa dewasa lanjut yang dapat berupa kemajuan atau kemunduran.Anak yang berusia muda petumbuhannya
lebih cepat dibanding anak yang lebih tua, dan pada waktu dewasa pertumbuhan tinggi badan berhenti. Memasuki usia lanjut akan terjadi penurunan tinggi badan yang diikuti penyusutan tulang dan otot (Berger, 2005). Individu memiliki bentuk pertumbuhan dan perkembangan tertentu. Kemajuan dalam setiap fase perkembangan akan mempengaruhi kesehatan individu, keberhasilan atau kegagalan dalam suatu fase akan mempengaruhi kemampuannya untuk menyelesaikan fase berikutnya. Jika individu mengalami perkembangan yang berulang, akan terjadi kecacatan sebaliknya, jika individu mengalami keberhasilan yang berulang, akan meningkatkan kesehatan. Seorang anak yang belajar berjalan pada usia 20 bulan menunjukan keterlambatan perkembangan motorik kasar. Seorang anak yang usia 10 bulan yang sudah bisa berjalan, akan mampu meningkatkan pembelajarannya melalui eksplorasi lingkungan. Perawat perlu mengambil suatu perspektif masa hidup dari perkembangan manusia yang menempatkannya dalam perhitungan semua tingkatan kehidupan. Secara tradisional perkembangan difokuskan pada masa anak-anak tetapi secara keluruan perkembangan mencangkup juga perubahan yang terjadi pada usia dewasa (Elder dan Shanahan 2006). Perawat juga mempertimbangkan pengaruh budaya dan konteksnya saat mengkaji pertumbuhan dan perkembangan klien.
Perkembangan adalah perubahan yang dialami individu menunju ke tingkat kedewasaan atau kematangan (maturation) yang berlangsung secara sistematis, progresif dan berkesinambungan, baik menyangkut fisik maupun psikis (Yusuf, 2002).Kemudian menurut Depkes (2005) perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian.
2.1.2 Tahap Pertumbuhan dan Perkembangan Anak 4-5 Tahun 1. Tahap Pertumbuhan
1) Tinggi dan berat badan
Menurut Kementerian Kesehatan RI, tinggi badan ideal anak berusia empat tahun adalah 94,1-111,3 sentimeter (perempuan) dan 94,9-111,7 sentimeter (laki-laki). Sedangkan berat badan idealnya adalah 12,3-21,5 kilogram (perempuan) dan 12,7-21,2 kilogram (laki-laki).
2) Perubahan fisik
Di usia ini, Si Kecil mungkin sudah bisa berjalan, berdiri, dan berlari dengan baik. Bahkan mungkin saja, ia sudah bisa naik turun tangga tanpa dibantu, memindahkan kursi, naik sepeda roda tiga, dan aktivitas lainnya. Namun, jangan lupa untuk selalu ada di sampingnya untuk mengawasi segala aktivitasnya.
3) Kemampuan berkomunikasi
Kebanyakan anak sudah bisa berbicara dengan jelas dan memahami percakapan orang dewasa. Namun, beberapa anak mungkin masih kesulitan untuk mengeja huruf tertentu seperti “th”, “r”, “ch”, “j”, dan “l”. Seiring perkembangan bahasa yang meningkat, di usia ini ibu sudah bisa mengajari Si Kecil menulis dan mendongengkan cerita untuk menambah kosakatanya. 4) Kemampuan sosial
Anak-anak sudah bisa belajar tentang cara bersosialisasi dan konsep berteman yang baik di usia ini. Jadi, ibu tidak perlu ragu untuk mengajarinya konsep berbagi, bersikap baik terhadap teman, dan hal-hal lain yang diperlukannya dalam bersosialisasi.
b. Tahap perkembangan anak usia 4 tahun yaitu: 1) Tinggi dan berat badan
Menurut Kementerian Kesehatan RI, tinggi badan ideal anak berusia lima tahun adalah 99,9-118,9 sentimeter (perempuan) dan 100,7-119,2 sentimeter (laki-laki). Sedangkan berat badan idealnya adalah 13,7-24,9 kilogram (perempuan) dan 14,1-24,2 kilogram (laki-laki).
2) Perubahan fisik
Kemampuan fisik Si Kecil sudah berkembang sangat baik.Mulai dari kekuatan otot, keseimbangan, dan koordinasi otot-otot tubuhnya.Perkembangan ini
memungkinkan Si Kecil untuk berlari dengan cepat, berdiri dengan satu kaki, dan aktivitas fisik lainnya. Di usia ini, beberapa anak juga sudah mulai kehilangan gigi susunya dan digantikan dengan gigi tetap.
3) Kemampuan berkomunikasi
Kebanyakan anak sudah bisa membangun sebuah percakapan dengan teman sebaya atau orang dewasa di sekitarnya.Bahkan, Si Kecil mungkin sudah bisa menyampaikan pendapat, mendeskripsikan objek yang dilihat, hingga menceritakan aktivitas yang dilakukannya. Untuk meningkatkan kemampuan berbahasa dan berkomunikasi Si Kecil, ibu bisa menanyakan pendapat, perasaan, atau kegiatan hariannya.
4) Kemampuan sosial
Kebanyakan anak sudah bisa bersosialisasi dengan baik di usia ini. Jadi, jangan heran jika Si Kecil akan senang menghabiskan waktu bersama teman-temannya, meskipun tak jarang ia akan menangis karena bertengkar atau berebut mainan. Ini adalah hal yang wajar. Namun, ibu tetap perlu melerai dan memberitahukannya bahwa bertengkar bukanlah hal yang baik sehingga ia perlu meminta maaf dan memaafkan temannya.
2. Tahap Perkembangan Anak 4-5 Tahun a. Motorik Kasar
Keterampilan motorik kasar anak usia 4-5 tahun mulai berkembang pesat. Anak sudah mampu berlari, melompat, melakukan berbagai macam permainan yang memerlukan koordinasi banyak otot-otot besar.
b. Motorik Halus
Perkembangan motorik halus anak 4-5 yaitu anak mulai dapat menggoyangkan kaki, menggambar dua atau tiga bagian, memilih garis yang lebih panjang, menggambar orang, menjepit benda, melepas objek dengan garis lurus, melambaikan tangan, bermain dengan tangan, menempatkan benda ke dalam wadah, makan sendiri, minum dari cangkir dengan bantuan, menggunakan sendok dengan bantuan, makan dengan jari, serta mencoret-coret di atas kertas.
Pada umumnya anak memiliki pola pertumbuhan dan perkembangan normal dan merupakan hasil interaksi banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Faktor-faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang anak menurut berbagai sumber, antara lain sebagai berikut:
Menurut Kementerian Kesehatan R1,2014 secara umum terdapat dua faktor utama yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak yaitu :
a. Faktor Dalam (Internal) 1. Ras/etnik atau Bangsa
Anak yang dilahirkan dari ras/bangsa Amerika, tidak memiliki faktor herediter ras/bangsa Indonesia, begitu pula sebaliknya.
2. Keluarga
Ada kecenderungan keluarga yang memiliki postur tubuh yang tinggi, pendek, gemuk atau kurus.
3. Umur
Kecepatan pertumbuhan yang pesat adalah pada masa prenatal, tahun pertama kehidupan dan masa remaja.
4. Jenis Kelamin
Fungsi reproduksi pada anak perempuan berkembang lebih cepat dari pada anak laki-laki. Akan tetapi setalah melewati masa pubertas, pertumbuhan anak laki-laki biasanya lebih cepat bila dibandingkan dengan anak perempuan.
5. Genetik
Genetik adalah bawaan anak yaitu potensi anak yang akan menjadi ciri khasnya. Ada beberapa kelainan genetik yang berpengaruh pada tumbuh kembang anak, misalnya yaitu kekerdilan.
6. Kelainan Kromosom
Kelainan kromosom pada umumnya disertai kegagalan pertumbuhan dan perkembangan, misalnya pada anak Sindrom Down dan Sindrom Turner
b. Faktor Luar (Eksternal)
Faktor eksternal/lingkungan juga mempengaruhi tumbuh dan kembang anak. Salah satu faktor eksternal adalah lingkungan. Lingkungan berfungsi sebagai penyedian kebutuhan dasar anak untuk tumbuh kembang. Lingkungan menentukan tercapai tidaknya potensial anak. Lingkungan yang cukup baik akan memungkinkan tercapai potensial anak, sebaliknya lingkungan yang kurang baik akan menghambat tercapai
potensial anak. Faktor genetik menentukan potensial anak sedangkan faktor lingkungan menentukan tercapai tidaknya potensial tersebut. Pada setiap periode tumbuh kembang terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi:
1. Faktor prenatal a. Gizi
Nutrisi ibu hamil terutama pada trimester akhir kehamilan akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin.
b. Mekanis
Posisi fetus yang abnormal dapat menyebabkan kelainan kongenital seperti club foot yang dapat berpengaruh pada perkembangan motorik anak di masa yang akan dating.
c. Toksin/zat kimia
Beberapa obat-obatan seperti Aminopterin atau Thalidomid dapat menyebabkan kelainan kongenital seperti palatoskikis yang dapat menyebabkan gangguan perkembangan bahasa pada anak.
d. Endokrin
Penyakit yang disebabkan karena kelainan endokrin misalnya diabetes melitus dapat menyebabkan makrosomia, kardiomegali, dan hiperplasi adrenal.
e. Radiasi
Paparan radiasi dan sinar rontgent dapat mengakibatkan kelainan seperti mikrosefali, retardasi mental, spina bifida, deformitas anggota gerak, kelainan kongenital mata serta kelainan jantung.Hal tersebut tentu dapat menyebabkan gangguan perkembangan pada anak.
f. Infeksi
Infeksi pada kehamilan trimester pertama dan kedua oleh TORCH (Toksoplasma, Rubella, Citomegalo virus, Herpes simpleks) dapat menyebabkan kelainan pada janin seperti katarak, bisu tuli, mikrosefali, retardasi mental dan kelainan jantung.
g. Kelainan Imunologi
Eritroblastosis fetalis muncul karena perbedaan golongan darah antara janin dan ibu sehingga ibu membentuk antibodi terhadap sel darah merah janin, kemudian masuk melalui plasenta ke dalam peredaran darah janin dan akan
menyebabkan hemolisis yang selanjutnya akan menyebabkan kerusakan jaringan otak.
h. Anoksia Embrio
Anoksia embrio yang disebabkan oleh gangguan fungsi plasenta menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan janin terganggu.
i. Psikologi Ibu
Kehamilan yang tidak diinginkan,perlakuan yang salah atau kekerasan mental pada ibu hamil dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan janin selanjutnya.
2. Faktor Persalinan
Komplikasi persalinan seperti asfiksi dan trauma kepala dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak.Kerusakan otak tentu berpengaruh besar terhadap perkembangan.
3. Faktor Pascapersalinan a. Gizi
Makanan dengan gizi adekuat diperlukan untuk tumbuh kembang bayi yang optimal.
b. Penyakit Kronis Atau Kelainan Congenital
Anemia, tuberkulosis atau kelainan jantung bawaan dapat menyebabkan retardasi pertumbuhan maupun perkembangan.
c. Lingkungan Fisik Dan Kimia
Lingkungan yang sering disebut milieu adalah tempat anak hidup yang berfungsi sebagai penyedia kebutuhan dasar anak (provider). Sanitasi lingkungan yang kurang baik, kurangnya sinar matahari, paparan sinar radioaktif dan zat kimia tertentu (seperti timbal, merkuri, rokok, dan lain-lain) memiliki efek negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan.
d. Psikologis
Hubungan anak dengan orang sekitar dapat mempengaruhi pekembangan.Seorang anak yang tidak dikehandaki orang tua akanmerasa tertekan dan mengalami hambatan dalam pertumbuhan dan perkembangannya. e. Endokrin
Gangguan hormon seperti pada penyakit hipertiroid dapat menyebabkan anak mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan.
f. Sosial Ekonomi
Kemiskinan hampir selalu berkaitan dengan kekurangan makanan serta kesehatan lingkungan yang kurang baik dan ketidaktahuan. Hal tersebut menghambat pertumbuhan dan mempengaruhi perkembangan anak.
g. Lingkungan Pengasuhan
Interaksi ibu dan anak sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak. h. Stimulasi
Perkembangan memerlukan rangsangan dan stimulasi, khususnya dalam keluarga. Stimulasi dapat diberikan dalam bentuk penyediaan mainan, sosialisasi anak, serta keterlibatan ibu dan anggota keluarga lain terhadap kegiatan anak.
i. Obat-obatan
Pemakaian kortikosteroid jangka lama akan menghambat pertumbuhan, demikian halnya dengan pemakaian obat perangsang terhadap susunan saraf yang menyebabkan terhambatnya produksi hormone pertumbuhan.
2.1.4 Deteksi Dini Pertumbuhan dan Perkembangan
Penilaian pertumbuhan dan perkembangan dapat dilakukan sedini mungkin sejak anak baru dilahirkan hal ini perlu dilakukan untuk menentukan apakahtumbuh kembang anak berjalan normal atau tidak. Deteksi dini merupakan upaya penjaringan untuk dilaksanakan secara komprehensif untuk menemukan adanya penyimpangan tumbuh kembang bayi dan balita serta mengenal faktor resiko pada balita, yang disebut juga anak usia dini (Depkes, 2009). Melalui deteksi dini dapat diketahui penyimpangan tumbuh kembang anak secara dini, sihingga upaya pencegahan, stimulasi, penyembuhan serta pemulihan dapat diberikan dengan indikasi yang jelas pada masa-masa kritis proses tumbuh kembang. Upaya-upaya tersebut diberikan sesuia dengan umur perkembangan anak dan dapat dilakukan di tempat pelayanan kesehatan, posyandu, sekolah, ataupun lingkungan rumah tangga.Penilaian pertumbuhan dan perkembangan meliputi dua hal pokok, yaitu penilaian pertumbuhan fisikdan penilaian
perkembangan. Masing-masing penilaian tersebut mempunyai parameter dan alat ukur tersendiri (Nursalam, Susilaningrum, & Utami 2005). Dasar utama dalam menilai pertumbuhan fisik anak adalah penilaian menggunakan alat baku (standar). Untuk menjamin ketepatan dan keakuratan penilaian harus dilakukan dengan teliti dan rinci. Pengukuran perlu dilakukan dalam kurun waktu tertentu untuk menilai kecepatan pertumbuhan.Selain penilaian pertumbuhan, untuk menilai perkembangan anak banyak metode yang dapat digunakan.Meskipun demikian masih tetap memerlukan parameter-parameter atau patokan-patokan tertentu sehingga dapat dilakukan perbandingan secara konsisten. Salah satu metode skrining yang dipakai secara internasional untuk menilai perkembangan anak adalah DDST (Denver Development Screnning Test). DDST merupakan alat untuk menemukan secara dini masalah penyimpangan anak umur 0 s/d ≤ 6 tahun.Instrumen ini merupakan revisi dari DDST yang pertama kali dipublikasikan tahun 1967 untuk tujuanyang sama ( Soetjiningsih, 2012 ).
Denver II merupakan salah satu tes psikomotorik yang sering digunakan untuk menilai perkembangan anak mulai usia 1 bulan hingga 6 tahun. Denver II digunakan untuk menilai tingkat perkembangan anak sesuai umurnya pada anak yang mempunyai tanda-tanda keterlambatan perkembangan maupun anak sehat. Denver II bukan merupakan tes IQ dan bukan merupakan peramal kemampuan intelektual anak di masa mendatang. Tes ini tidak di buat untuk menghasilkan diagnosis, namun lebih kearah untuk membandingkan kemampuan perkembangan seorang anak dengan kemampuan anak lain yang seumur. Denver II memenuhi semua persyaratan yang diperlukan untuk metode skrining yang baik selain itu tes ini dapat di andalkan dan menunjukan vallidasi yang tinggi (Nursalam, Susilaningrum, & Utami, 2005). Dari beberapa penelitian yang pernah dilakukan ternyata Denver II secara efektif dapat mengidentifikasih antara 85-100% bayi dan anak-anak prasekolah yang mengalami keterlambatan perkembangan (Soetjiningsih, 2012).
Dalam buku Soetjiningsih, (2012) yang berjudul tumbuh kembang anak, formulir tes Denver II berisi 125 item yang terdiri dari 4 sektor, yaitu: personal, gerakan motorik halus, bahasa, serta gerakan motorik kasar. Sektor personal sosial meliputi komponen penilaian yang berkaitan dengan kemampuan mandiri, bersosialisasi dan berinteraksi dengan masyarakat.Sektor gerakan motorik halus berisi kemampuan anak dalam hal mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh tertentu dan dilakukan oleh otot-otot kecil, tetapi memerlukan koordinasi mata-tangan yang cermat.Sektor bahasa meliputi kemampuan untuk memberikan respon terhadap suara, mengikuti perintah dan berbicara spontan. Cara pemeriksaan DDST II yaitu tetapkan umur kronologis anak tanyakan tanggal lahir anak yang akan diperiksa, gunakan patokan 30 hari untuk 1 bulan dan 12 bulan untuk satu tahun. Tarik garis berdasarkan umur kronologis anak yang memotong garis horizontal tugas perkembangan pada formulir DDST II setelah itu hitung pada masing-masing sektor, berapa yang passed atau lulus dan berapa yang fail / gagal. Berdasarkan pedoman hasil tes di klasifikasikan ke dalam : normal, tidak normal dan meragukan. Pada anak-anak yang lahir prematur usia disesuaikan hanya sampai anak berusia 2 tahun.
2.1.5 Masalah Tumbuh Kembang Anak
Masalah tumbuh kembang anak merupakan masalah yang perlu dipahami sejak konsepsi hingga dewasa, menurut Hidayat (2005) masalah tumbuh kembang anak meliputi:
1. Gagal Tumbuh (Failure to Thrive)
Merupakan kegagalan untuk tumbuh dimana anak tersebut sebenarnya lahir dengan cukup bulan akan tetapi dalam pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya mengalami kegagalan pertumbuhan fisik dengan malnutrisi dan retradasi perkembangan sosial atau motorik.
Gangguan makan sering kita jumpai dilingkungan masyarakat yang belum mengetahui prosedur pemenuhan kebutuhan nutrisi pada anak dan memahami pentingnya nutrisi pada anak.
3. Gangguan Tidur
Gangguan tidur adalah gangguan yang dialami anak selama tidur, gangguan ini dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan pada anak apabila gangguan ini berlangsung lama dan terus-menerus.
4. Enuresis Fungsional
Yaitu gangguan dalam pengeluaran urine yang involunter pada waktu siang atau malam hari pada anak yang berumur lebih dari empat tahun tanpa adanya kelainan fisik maupun penyakit organik.
5. Enkopresis Fungsional
Enkopresis fungsional adalah gangguan dalam pengeluaran tinja yang tidak terkontrol pada anak yang terjadi secara berulang-ulang tanpa adanya konstipasi tanpa adanya penyebab organik pada anak yang bermur lebih dari empat tahun. 6. Gagap
Gagap merupakan gangguan dalam arus bicara pada anak yang ditandai dengan adaanya pengeluaran suara, suku kata atau terjadi bloking dalam berbicra.
7. Mutisme Efektif
Yaitu gangguan berbicara pada anak yang ditandai dengan menolak untuk berbicara pada situasi sosial seperti di sekolah ditempat-tempat umum, keadaan tersebut disebabkan karena gangguan psikologis pada anak.
8. Gangguan Perkembangan Spesifik
Gangguan perkembangan spesifik dapat meliputi gangguan perkembangan membaca dan menulis, gangguan perkembangan berhitung, gangguan perkembangan berbahasa, gangguan perkembangan artikulasi, dan gangguan perkembangan motorik yang spesifik dapat kita jumpai pada anak-anak. Perkembangan motorik yang lambat dapat disebabkan oleh beberapa hal.Salah satu gangguan perkembangan motorik adalah kelainan tonus otot atau penyakit neuromuscular.Anak dengan serebral palsi dapat mengalami keterbatasan perkembangan motorik sebagai akibat spastisittas, athetosis, ataksia, atau
hipotonia.Kelainan sumsun tulang belakang seperti spina bifidajuga dapat menyebabkan keterlambatan perkembangan motorik.
9. Retradasi Mental
Gangguan dalam perkembangan dimana terjadi gangguan dalam fungsi intelektual yang sub normal adanya perilaku adaptif soaial dan timbul pada masa perkembanngan.
10. Gangguan Pemusatan Perhatian
Gangguan ini ditandai dengan gangguan konsentrasi, sifat implus, dan hiperaktifitas.Anak dengan gangguan ini dapat menunjukan adanya kurangnya koordinasi sensori motorik, suka mengacau aktifitas motorik tanpa tujuan sering menjengkenlkan teman sebayanya, hal tersebut dapat menyebabkan ketidakmampuan dalam menyelesaikan tugas-tugas pencapaian tumbuh kembang. 2.2 Pola Asuh Orang Tua
2.2.1 Pengertian
Kenny K. dikutip dari Ni Made Taganing tahun 2008 menyatakan bahwa pola asuh merupakan segala sesuatu yang dilakukan orang tua untuk membentuk perilaku anak-anak mereka meliputi semua peringatan dan aturan, pengajaran dan perencanaan, contoh dan kasih sayang serta pujian dan hukuman. Liza Miriani pada tahun 2005, berpendapat bahwa pola asuh orang tua merupakan segala bentuk dan proses interaksi yang terjadi antara orang tua dan anak yang merupakan pola pengasuhan tertentu dalam keluarga yang akan memberi pengaruh terhadap perkembangan kepribadian anak. Ni Made Taganing tahun 2008, mengatakan bahwa pola asuh orang tua merupakan suatu kecenderungan cara‐cara yang dipilih dan dilakukan oleh orang tua dalam mengasuh anak. Pola asuh orang tua merupakan pola interaksi antara anak dengan orang tua bukan hanya pemenuhan kebutuhan fisik (seperti makan, minum, dan lain‐lain) dan kebutuhan psikologis (seperti rasa aman, kasih sayang, dan lain‐lain), tetapi juga mengajarkan norma‐norma yang berlaku di masyarakat agar anak dapat hidup selaras dengan lingkungan.
Berdasarkan definisi tentang pola asuh orang tua di atas, penulis menyimpulkan bahwa pola asuh orang tua merupakan gambaran tentang sikap dan perilaku orang tua dalam berinteraksi, berkomunikasi dan bersosialisasi dengan anak selama mengadakan kegiatan pengasuhan.
2.2.2 Macam-Macam Pola Asuh Orang Tua
Orang tua memiliki cara dan pola tersendiri dalam mengasuh dan membimbing anak. Cara dan pola tersebut tentu akan berbeda antara satu keluarga dengan keluarga yang lainnya. Studi awal tentang tipologi pengasuhan anak telah dibuktikan oleh Diana Baumrind dikutip dari Afriani A pada tahun 2012, adalah orang pertama yang mempelajari hubungan antara pola asuh dan kepribadian anak.Pola asuh Baumrind diklasifikasikan menjadi tiga tipologi perilaku berdasarkan dua faktor ortogonal yang diketahui sebagai respon dan tuntutan.Respon mengacu pada sejauh mana orang tua mendorong anak, mendukung dan sepakat dengan permintaan anak-anak dengan kehangatan dan komunikasi.Tuntutan mengacu pada klaim orang tua pada anak-anak untuk terintegrasi ke dalam masyarakat oleh perilaku regulasi, konfrontasi langsung, serta batas waktu (kontrol perilaku) dan pengawasan ataupemantauankegiatan anak-anak. Berikut tiga pola asuh yang biasaditerapkan orang tua pada anak:
1. Pola Asuh Otoriter (Authoritarian).
Merupakan pola asuh yang menetapkan standar mutlak yang harus dituruti oleh anak dan sering disertai dengan ancaman. Pola asuh yang penuh pembatasan dan hukuman (kekerasan) dengan cara orang tua memaksakan kehendaknya, sehingga orang tua dengan pola asuh otoriter memegang kendali penuh dalam mengontrol anak-anaknya. Orang tua yang otoriter menerapkan batas-batas yang tegas dan tidak memberi peluang yang besar kepada anak-anak untuk berbicara (bermusyawarah). Orang tua yang menerapkan pola asuh otoriter mempunyai ciri kaku, tegas, suka menghukum, kurang ada kasih sayang serta simpatik.Orang tua memaksa anak-anak untuk patuh pada nilai-nilai mereka serta mencoba membentuk tingkah laku sesuai
dengan keinginanya dan cenderung mengekang keinginan anak. Orang tua juga tidak mendorong serta memberi kesempatan kepada anak untuk mandiri dan jarang memberi pujian, hak anak dibatasi tetapi dituntut tanggung jawab seperti orang dewasa. Orang tua dengan pola asuh otoriter memiliki ciri pola pengasuhan yaitu sikap acceptance rendah, suka menghukum, bersikap komando, bersikap kaku dan emosional.
2. Pola Asuh Demokratif (Authoritative).
Yaitu pola asuh yang memberikan dorongan pada anak untuk mandiri namun tetap menerapkan berbagai batasan yang akan mengontrol perilaku mereka. Adanya saling memberi dan saling menerima, mendengarkan dan didengarkan. Pola asuh ini memprioritaskan kepentingan anak tetapi tidak ragu untuk mengendalikan mereka. Orang tua bersikap realistis terhadap kemampuan anak dan tidak berharap berlebihan. Pola asuh demokratif dicirikan dengan adanya tuntutan dari orang tua disertai dengan komunikasi terbuka antara orang tua dan anak.Orang tua sangat memperhatikan kebutuhan anak dan mencukupinya dengan mempertimbangkan faktor kepentingan dan kebutuhan. Pola asuh demokratis memiliki ciri pengasuhan yaitu sikap acceptance dan kontrolnya tiinggi, bersikap responsif, mendorong anak untuk menyatakan pendapat, memberikan penjelasan tentang dampak perbuatan yang baik dan buruk.
3. Pola Asuh Permisif (Permissive).
Pola asuh permisif adalah jenis pola mengasuh anak yang cuek terhadap anak. Biasanya pola pengasuhan anak oleh orang tua semacam ini diakibatkan oleh orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan atau urusan lain yang akhirnya menyebabkan orang tua lupa untuk mendidik dan mengasuh anak dengan baik. Pola asuh permisif kerap memberikan pengawasan yang sangat longgar, cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak.Pola asuh permisif dicirikan dengan orang tua yang terlalu membebaskan anak dalam segala hal tanpa adanya tuntutan
ataupunkontrol, anak dibolehkan untuk melakukan apa saja yang diinginkan. Orang tua selalu memberikan kebebasan pada anak tanpa memberikan kontrol sama sekali, memberikan kasih sayang berlebihan dan cenderung memanjakan. Pola asuh permisif ini dibedakan menjadi dua: neglectful parenting dan indulgent parenting. Pola asuh yang neglectful yaitu bila orang tua sangat tidak terlibat dalam kehidupan anak (tidak peduli).Pola asuh ini menghasilkan anak-anak yang kurang memiliki kompetensi sosial terutama karena adanya kecenderungan kontrol diri yang kurang.Pola asuh yang indulgent yaitu bila orang tua sangat terlibat dalam kehidupan anak, namun hanya memberikan kontrol dan tuntutan yang sangat minim (selalu menuruti atau terlalu membebaskan) sehingga dapat mengakibatkan kompetensi sosial yang tidak adekuat karena umumnya anak kurang mampu untuk melakukan kontrol diri dan menggunakan kebebasannya tanpa rasa tanggung jawab serta memaksakan kehendaknya. Pola asuh permisif memiliki ciri pengasuhan yaitu memberikan kebebasan kepada anak, memiliki sikap acceptance tinggi namun kontrolnya rendah.