• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Sedangkan bagian generatif. yang berfungsi sebagai alat perkembangbiakan,

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "II. TINJAUAN PUSTAKA. Sedangkan bagian generatif. yang berfungsi sebagai alat perkembangbiakan,"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

4

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Morfologi Kelapa Sawit a. Akar (Radix)

Seperti jenis – jenis palma yang lain, tanaman kelapa sawit mempunyai sifat-sifat vegetatif dan generatif. Bagian vegetatif terdiri atas akar, batang dan daun. Sedangkan bagian generatif. yang berfungsi sebagai alat perkembangbiakan, adalah bunga dan buah. Sebagai tanaman jenis palma kelapa sawit tidak mempunyai akar tunggang naupun akar cabang. Calon akar yang muncul dari biji kelapa sawit yang di kecambahkan disebut radikula, panjang 10 – 15 mm. Pertumbuhaan radikula mula-mula menggunakan makanan cadangan yang ada dalam endosperm yang kemudian fungsinya diambil alih oleh akar primer.

Tanaman kelapa sawit memiliki sistem perakaran yang terdiri atas akar primer, yaitu akar yang tumbuh dari pangkal batang yang jumlahnya ribuan. Akar primer yang mati segera diganti dengan akar yang baru. Diameter akar primer berkisar anatara 8 – 10 mm. Panjang dapat mencapai 18 m, tetapi kebanyakan bergerombol tidak jauh dari batang ; Akar sekunder, yaitu akar yang tumbuh dari akar primer, diameternya 2 – 4 mm ; Akar tersier, yaitu akar yang tumbuh dari akar sekunder, diameternya 0,7 – 1,5 mm dan panjannya dapat mencapai 15 cm ; Akar kuarter, yaitu akar – akar cabang yang tumbuh dari akar tersier, berdiameter 0,1 – 0,5 mm dan panjang 1 – 4 cm. Akar tersier dan kuarter berjumlah sangat banyak dan membentuk massa yang sangat lebat dekat permukaan tanah. Kelapa sawit tidak memiliki rambut (bulu) akar, sehingga diperkirakan bahwa penyerapan

(2)

5

unsure hara dilakukan oleh akar – akar kuarter (Semangun dan Mangosoekarso, 2008)

Zona perakaran kelpa sawit kebanyakan terletak pada kedalaman sampai 1,5 meter, tetapi jumlah perakaran terbesar berada pada kedalaman antara 15 – 30 cm. Pada zona yag lebih dalam umumnya perkembangan akara sangat sedikit. Walaupun demikian, kerena sistem perakaran sangat rapat dan dapat menahan berdirinya pohon dengan kuat, maka jarang sekali ditemukan pohon kelapa sawit yang tumbang (Setyamidjadja. 2006).

b. Batang (Caulix)

Batang kelapa sawit tumbuh secara luas ke atas. Diameter batang normal adalah 40 – 60 cm, tetapi pada pangkalnya membengkak. Pada ujung batang terdapat titik tumbuh yang membentuk daun daun (pelepah) dan memanjangkan batang. Selama 4 tahun pertama, titik tumbuh berkembang membentuk basis batang. Pertumbuhan meninggi dimulai setelah tanaman berumur 4 tahun, dengan kecepatan pertumbuhaan (pertambahan tinggi) sekitar 25 – 40 cm pertahun. Pada umumnya untuk beberapa tahun, batang masi tetap terbungkus oleh pelepah daun, oleh karenanya lingkar batang menjadi lebih besar. Apabila pelepah dipangkas secara teratur, bekas kaki – kaki (pangkal pelepah) daun tampak pada batang yang letaknya taratur seperti spiral. Pada umumnya setiap tanaman mempunya 8 spiral yang letaknya agak tegak yang mengarah ke kanan atau ke kiri. Sifat ini merupakan sifat genetik. Pangkal pelepah daun biasanya mulai lepas (jatuh) setelah tanaman berumur 10 tahun atau lebih. Pangkal pelepah yang jatuh dapat dari mana saja, tetapi lebih sering dari pertengahan tinggi batang. Secara alamiah

(3)

6

(pertumbuhan liar di hutan), tinggi batang mencapai 30 meter tetapi secra komersial ( dalam budi daya perkebunan), tinggi batang mencapai 15 – 18 meter. Hal ini berhubungan dengan kemudahaan pelaksanaan pemanen buah dan pemiliharaan lainnya, misalnya pemangkasan pelepah (Risza. 1994)

Bagian dalam batang merupakan serabut, yang dilengkapi jaringan pembuluh sebagai penguat batang dan untuk menyalurkan hara. Fungsi batang adalah menimbun hara dan perkembangan batang akan terlihat berubah diameternya bila terjadi fluktuasi dari status hara dalam tanaman (SOP PTP. Nusantara IV, 2008) c. Daun (Folium)

Daun kelapa sawit terdiri dari kumpulan anak daun (leaflet) yang memiliki tulang anak daun (midrib) dengan helai anak daun (lamina). Sementara itu, tangkai daun (rachis) yang berfungsi sebagai tempat anak daun melekat akan semakin membesar menjadi pelepah sawit (Rustam dan Widarnako, 2011).

Panjang pelepah daun dapat mencapai lebih dari 9 meter. Helaian anak daun yang terletak di tengah pelepah daun adalah yang paling panjang dan panjangnya dapat melebihi 1,20 meter. Jumlah anak daun dalam satu pelepah daun adalah 120 – 160 pasanag. Duduk pelepah daun pada batang tersusun dalam suatu susunan yang melingkar batang dan membentuk spiral. Pada tanaman yang tumbuh normal 2 set spiral terdapat selang 8 daun mengarah kekana dan selang 13 daun mengarah kekiri, tergantung pada sifat genetisnya. Tanaman kelapa sawit normal dan sehat yang dibudidayakan pada satu batang terdapat 40 – 50 pelepah daun.Bila tidak di laksanakan pemangkasan sewaktu panen, maka jumlah pelepah daun dapat melebihi 60 batang. Pertumbuhan pelepah daun tiap tahun pada tanaman muda

(4)

7

yang berumur 4 – 6 tahun mencapai 30 – 40 helai, sedangkan pada tanaman yang lebih tua berjumlah antara 20 – 25 helai ( Setymidjaja, 2006 )

d. Bunga (Flos)

Kelapa sawit merupakan tanaman monoecious (berumah satu). Artinya, bunga jantab san betina terdapat pada satu pohon, tetapi tidak terdapat dalam satu tandan yang sama. Walaupun demikian, kadang – kadang di jumpain juga bunga jantan dan betina pada satu tandan (hemaprodit) tandan bunga terdapat di ketiak daun, mulai tumbuh ketika tanaman mulai berumur sekitar 1 tahun. Setiap ketiak daun hanya menghasilkan satu bunga majemuk (infloresen). Perkembang bunga majemuk dari proses inisiasi awal sampai membentuk bunga majemuk lengkap dengan ketiak daun memerlukan waktu 2,5 – 3 tahun. Bunga majemuk akan muncul dari ketiak daun beberapa saat menjelang penyerbukan (antesis). Bunga kelapa sawit merupan bungan majemuk yang terdiri dari kumpulan spikelet dan tersusun dalam bunga majemuk yang berbentuk spiral. Bunga jantan maupun bunga betina mempunyai ibu tangkai bunga (rachis) yang merupakan sruktur pendukung spikelet. Umumnya, dari pangkal rachis muncul sepasang daun pelindung (spathes) yang membungkus bunga majemuk sampai dengan saat – saat menjelang terjadinya penyerbukan.

Dari rachis ini, terbentuk sruktur triangular bract yang kemudian membentuk tangkai - tangkai bunga (spikelet).Bunga majemuk (infloresen) digolong berdasarkan bunga majemuk betina dan bunga majemuk jantan. Bunga majemuk betina memiliki panjang 30 cm. bunga majemuk jantan danbetina secara bersama – sama terbentuk dari bract (struktur seperti daun). Struktur bract akan menjadi

(5)

8

berduri pada ujung spikelet betina. Pada bagian tengah bunga majemuk betina, setipa spikelet dapat menghasilkan 12 – 30 bunga. Semsntara, pada bagian atas dan bawah bunga majemuk, spikelet hanya dapat menghasilkan kurang dari 12 bunga. Oleh karena setiap majemuk dapat membentuk 85 – 265 spikelet, dimana jumlah yang paling sering dijumpai berkisar antara 125 – 165 spikelet maka dari datu bunga majemuk betina dapat dihasilkan 2.000 – 3.000 bract yang berserat dan tebal. Setiap bract mampu menghasilkan sebuah bunga trifloral. Bunga – bunga trofloral tersebut tersusun dalam bentuk spiral mengelilingi rachis dari spikelet dan dari setiap bunga majemuka dapat dihasilkan ribuan bunga. Bunga – bunga betina setelah penyerbukan akan menjadi buah / brodolan. Oleh karena bunga betina yang dihasilkan tidak seluruhnya dpat dibuahi maka dari tandan buah dewasa umumnya hanya dapat diperoleh 600 – 2.000 (persentase fruit – set 40 – 60 %), dimana penyerbukan hanya mengandalkan bantuan angin (anemophyli), dan serangga (entomophyli).

Bunga majemuk jantan mempunya panjang 3 - 4 mm dan lebarnya 1,5 – 2,0 mm dan memiliki tangkai (peduncle) yang lebih panjang dari bunga majemuk betina dan terdiri dari spiklet yang berbentuk silinder, seperti jari jari tangan serta tidak berduri. Spikelet memiliki panjang berkisar 10 – 20 cm dengan diameter 0,8 – 1,5 cm dan mempunyai bract yang pendek. Bunga jantan mekar mulai dari bagian dasar spikelet dan seluruh bunga biasanya sudah mekar dalam 2 hari, kecuali pada kondisi hari hujan, diman biasnya bunga akan mekar semua setelah 4 hari. Umunya tepung sari dihasilkan selama 2 – 3 hari setelah bunga mekar dan

(6)

9

akan habis dalam 5 hari. Dari 1 bunga majemuk jantan, dapat menghasilkan 25 – 300 g tepung sari (Rustam dan Widarnako, 2011).

e. Buah (Fructus)

Buah kelapa sawit tersusun dalam satu tandan. Diperlukan waktu 5,5 – 6,0 bulan dari saat penyerbukan sampai matang panen. Dalam satu rangka terdapat kurang lebih 1800 buah yang terdiri dari buah luar, buah tengah dan buah dalam yang ukurannya kecil karena posisi terjepit mngakibatkan tidak berkembang dengan baik.(Mardiana, 2007)

Kelapa sawit yang akan masak dibagi menjadi beberapa variatas atau tipe yang di bedakan menurut warna buah, tebal cangkang, tipe buah, bentuk luar, dan ciri – ciri lainnya. Menurut warna buah sawit di bagi menjadi 3 tipe yaitu Nigrescens, Virescens, dan Albecens (Semangun dan Mangoensoekarso, 2008). Tipe nigrescens memiliki ciri – ciri : buah mentah berwarna ungu sampai hitam pada ujungnya, sedangkan pangkalnya agak pucat. Setelah buah masak berwarna menjadi kuning kemerahaan. Tipe ini banyak dijuampain dimana – mana. Tipe Virescens memiliki ciri - ciri : buah berwarna hijau, setelah setelah buah masak berwarna menjadi kuning kemerahan. Tipe Albecens memiliki ciri – ciri : pangkal buah muda berwarna pucat kekuningan, sedangkan buah masak berwarna agak kuning tua. Ujung buah berwarna ungu kehitaman. Tipe ini sulit di jumpai dan kurang di sukai oleh orang ( risza, 1994). Bentuk yang dipakai pada tanaman komersial adalah Nigrescens, bentuk lainnya dipakai untuk program penelitian baik dalam produk maupun dalam kualitas, variatas Nigrescens adalah yang terbaik (Semangun dan Mangoensoekarso, 2008).

(7)

10

Menurut Yan, (2008) variatas kelapa sawit berdasarkan ketebalan tempurung dan daging buah sebagai berikut :

Table 1. Jenis – jenis variatas kelpa sawit berdasarkan ketebalan tempurung dan daging buah

Variatas Deskriptis

Dura  Tebal tempurung 2 – 8 mm

 Tidak terdapat lingkaran serabut pada bagian luar tempurung  Daging buah relative tipis, yaitu berkisar 35 – 50 % terhadap buah  Kernel (daging biji) besar dengan kandungan minyak rendah

Dalam persilangan diaplikasikan sebagai pohon induk betina Pisifera  Ketebalan tempurung sangat tipis, bahkan hamper tidak ada

 Daging buag tebal, lebih tebal dari daging buah dura

 Daging biji sangat kecil Tidak dapat diperbanyak tanpa menyilangkan dengan jenis lain dan dapat dicapai sebagai pohon induk jantan

Tenera  Hasil dari persilangan dura dengan pisifera  Tempurung tipis (0,5 – 4 mm)

 Terdapat lingakar serabut di kelilingi tempurung

 Daging buah sangat tebal 60 – 96 % dari buah Tandan buah lebih banyak, tetapi ukurannya relative lebih kecil

( Sumber : Buku Pintar Mandor, 2007 )

Berdasarkan tebal tipisnyacangkang dikenal tipe-tipe diantaranya adalah : Tipe Dura, Pisifera dan Tenera. Tipe Dura, memiliki ciri-ciri : daging buah tipis, cangkang setebal 2 – 8 mm. Intinya besar dan tidak terdapat cincin serabut. Persentase buah 35,60 % dengan rendemen minyak 17 – 18 %. Tipe Pisifera, memiliki ciri – ciri : daging buah tebal, tidak mempunyai cangkang, tidak terdapat cincin tersebut yang mengelilingi inti. Intinya kecil sekali bila dibandingkan dengan tipe Dura maupun Tenera. Perbandinag daging buah terhadap buahnya tinggi, dan kandungan minyaknya tinggi. Bunga tipe Pisifera biasanya steril. Tipe ini dipakai sebagai pohon induk jantan dalam persilangan dengan tipe Pisifera. Sfat tipe Tenera merupakan kombinasi sifat khas dari kedua induknya. Tipe ini

(8)

11

mempunya tebal cangkang sekitar 0,5 – 4 mm, mempunya cincin serabut walaupun tidak sebanyak seperti pada pisifera, sedangkan intinya kecil. Perbandingan daging buah terhadap buah 60 – 96 %, rendeman minyak 22 – 24 %. Jumlah daun yang terbentuk setiap tahun pada tipe ini lebih banyak dari pada tipe dura, tetapi ukurannya lenih kecil (Semangun dan Lahija, 1985).

B. Persyaratan Tumbuh Tanaman Kelapa Sawit a) Iklim

Kelapa sawit termasuk tanaman daerah tropis yang umumnya dapat tumbuh di daera antara 12 Lintang Utara dan 12 Lintang Selatan. Curah hujan optimal yang dikehendaji antara 2.000 – 2.500 mm per tahun dengan pembagian merata sepanjang tahun. Lama penyiraman matahari optimum antara 5 – 7 jam per hari dan suhu optimum berkusar 24 - 38 C. ketinggian diatas permukaan laut berkisar antara 0 – 500 meter. Keadaan iklim yang paling banyak diamati adalah curah hujan, sedangkan data yang lainnya sangat diamati karena jumlahnya tidak jauh berbeda dan masih sesuai dengan tanaman kelapa sawit. Curah hujan yang di kehendaki sepanjang tahun merata adalah tanpa bulan kemarau panjang. Kelebihan atau kekurangan curah hujan akan berpengaruh terhadap pertumbuhan dan prodiktifitas tanaman kelapa sawit. Jika tanah kekurangan air (kekeringan) maka akar tanaman akan sulit menyerap mineral dalam tanah sebab dengan adanya air unsur – unsur hara dalam tanh dapat larut dan tersedia bagi tanaman. Factor – factor kelembaban udara juga berpengaruh terhadap pertumbuhan kelpa sawit. Sedangkan factor – factor yang mempengaruhi kelembaban antara lain curah hujan, suhu, dan lamanya penyinaran matahari. Kelembaban optimum bagi

(9)

12

tanaman kelapa sawit berkisar antara 80 – 90 %. Musim kemarau dapat mengancap terjadinya kekerinagn pada tanaman, karena kekurangan air 400 mmmulai berpengaruh terhadap produksi. Curah hujan yang berlebihan juga berakibat kurang baik karena dapat menyebabkan erosi lapisan tanah atas dan keadaan drainase terutama di daerah yang topografinya jelek. Sinar mataharinya dapat mendorong pembentukan bunga, pertumbuhan vegetative dan produksi buah. Berkurangnya lama penyinaran matahari akan mempengaruhi proses asimilasi untuk memproduksi karbonhidrat dan pembentukan bunga yang berakibat kurangnya jumlah bunga betina.tetapi jika penyinaran matahari terlalu lama juga dapat berakibat buruk bagi tanaman, karena makin lama penyinaran makin tinggi suhu setempat sehingga mempengaruhi pembungaan dan kematangan buah. Oleh karena itu pengetahuan tentang iklim hendaknya benar – benar dipahami (Risza, 1994)

b) Tanah

Kelapa sawit dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah seperti podsolik, latosol Hidromorfik kelabu (HK), regosol, andosol, organosol, dan alluvial. Di Indonesia posolik merah kuning mendominasi areal perkebunan kelapa sawit. Tanah ini terbentuk pada zaman tertier denga bahan induk batuan liat dan pasir. Solum cukup dalam dengan tekstur liat berpasir. Kondisi ini cukup baik bagi perkembangan akar dan mekanisme air namun kesuburan kimianya tergolong rendah. Podsolik yang berasal dari bahan liparit letusan Toba di Sumatera Utara baik fisik dan kimianya cocok untuk kelapa sawit dan ini terdapat di daerah Simalungun, Asahan dan Deli Serdang. Tanah hidromarfik kelabu (HK) secara

(10)

13

fisik baik meski harnya kurang dan drainase jelek seperti Ajamu dan Adolina. Tanah HK ini slumnya cukup dalam. Merupakan hasil endapan sungai yang berbeda – beda asal bajan induknya. Tanh ini umumnya terdapat pada daerah datar sehingga aliran permukaan rendah dan gerak turun ke bawah lambat dan terbatas (Lubis, 2008)

C. Pembibitan

Tahap awal yang dilakukan untuk memperoleh bahan tanam yang baik di lapangan yaitu dengan melakukan pembibitan kelapa sawit. Pembibitan adalah suatu proses untuk menumbuhkan dan mengembangkan biji atau benih menjadi bibit yang siap untuk ditanam. Sistem pembibitan yang banyak digunakan pada saat ini yaitu pembibitan dengan menggunakan polibeg besar dan pembibitan polibeg kecil. Pada sistem polibeg kecambah langsung ditanam di dalam polibeg besar. Sedangkan pada pembibitan polibeg kecil kecambah di tanam dan dipilihara dahulu dalam kantok pelastik kecil selama 3 bulan, yan di sebut juga tahap pembibitan awal (pre nursery), selanjutnya bibit di pindah pada kantong pelastik besar selama 9 bulan. Tahap akhir ini di sebut juga sebagai pembibitan utama (main nursery) (Semangun dan Mangoensoekarso, 2008).

Areal lokasi pembibitan yang digunakan harus memiliki persyaratan sebagai berikut : areal datar, dekat dengan sumber air, relative dekar dengan sumber penanaman, tidak tergenang, lokasi dekat dengan tempat pengambilan tanah, jauh dari sumber hama dan penyakit tanaman, dekat dengan sumber tenaga kerja, luas bibitan disesuaikan dengan rencana penanaman, dan lokasi dipilih suatu tempat yang permanen (SOP PT.PN IV, 2008).

(11)

14

Adapun pertumbuhan bibit normal yang diharapkan dapat dilihat pada table berikut ini:

Tabel 2. Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit

Umur ( Bulan ) Jumalah Daun Tinggi ( cm ) Diameter batang ( cm )

1 4,0 20 1,3 2 4,5 25 1,5 3 5,5 32 1,7 4 8,5 40 1,8 5 10,5 52 2,5 6 11,5 59 2,7 7 11,5 64 3,0 8 12,0 73 3,6 9 14,0 88 4,5 10 16,0 110 5,5 11 17,0 120 5,8 12 18,0 130 6,0

( Sumber : Buku Pintar Mandor, 2007 )

Media tanam yang digunakan pada pembibitan awal harus mempunyai sifat fisik dan kandungan hara yang baik. Tanah yang digunai harus memiliki struktur yang baik, gembur, serta bebas kontaminasi (hama, penyakit, pelarut dan bahan kimia). Bila tanh yang digunakan kurang gembur dapat di campur pasir (Pusat Penelitian Kelapa Sawit, 2007)

Sasaran dari pembibitan adalah menyediakan bibit kelapa sawit yang superior dan siap ditanam di areal perkebunan dengan berbagai macam kondisi lingkunagn. Selain itu juga kegiatan ini memastikan ketersedian bibit dalam jumlah yang cukup, berkualitas, dan tepat waktu dengan biaya yang rasional. Kondisi bibit yang superior, baik secara genetic maupun fenotipe, merupan satu jaminan untuk mendapatkan produktivitas yan tinggi ( Sunarko, 2009 ).

Gambar

Table  1.  Jenis  –  jenis  variatas  kelpa  sawit  berdasarkan  ketebalan  tempurung  dan  daging buah
Tabel 2. Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa evaluasi efektivitas pengendalian internal persediaan barang dagang pada lyly bakery lamongan sudah berjalan efektif, hal

Segala puji hanya milik Allah swt yang telah melimpahkan rahmat dan hidayat-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul “Perbedaan

Yang dimaksud dengan penjamin adalah pihak ketiga yang bukan merupakan debitur, bisa saja orang perorangan atau korporasi yang berbadan hukum maupun tidak berbadan hukum

Spora berwarna krem hingga kekuningan, atau kemerahmudaan, berbentuk ellip, permukaan licin , berukuran 6–8 x 3–3,5 mikron.Habitat: pada hutan cemara atau kayu lapuk, hidup

5umla *e*an dalam satu kelom%ok atau jumla *e*an grou% dalam satu fasa tidak %erlu arus sama/seim*ang' Teta%i jumla *e*an total antara fasa satu dengan .ang lain

Dari tabel tersebut dapat diketahui bahwa unit wacana dalam Bab V, Buku I, KUHPer mempunyai empat jenis klausa yang berbeda, yaitu klausa simpleks, klausa

- Setelah melihat gambaran sikap perawat dalam penelitian ini peneliti lain dapat meneliti sikap perawat yang bekerja di unit lain dirumah sakit yang memiliki kerentanan

3) Daftar Nilai Hasil Ujian Akhir Sekolah Berstandart Nasional yang selanjutnya disebut dengan DNHUASBN, adalah daftar nilai mata pelajaran yang didapat dari hasil Ujian Akhir