1
RUMAH SAKIT MATA BALI MANDARA
2 BAB I
PENDAHULUAN
A. GAMBARAN UMUM
Pembangunan kesehatan periode 2015 - 2019 adalah Program Indonesia Sehat dengan sasaran meningkatkan derajat kesehatan dan status gizi masyarakat melalui upaya kesehatan dan pemberdayaan masyarakat yang didukung dengan perlindungan finansial dan pemerataan pelayanan kesehatan.
Program Indonesia Sehat dilaksanakan dengan 3 pilar utama yaitu paradigma sehat, penguatan pelayanan kesehatan dan jaminan kesehatan : 1. Pilar paradigma sehat dilakukan dengan pengarustamaan kesehatan
dalam pembangunan, penguatan promotif preventive dan pemberdayaan masyarakat;
2. Penguatan pelayanan kesehatan dilakukan dengan strategi peningkatan akses pelayanan kesehatan, optimalisasi system rujukan dan peningkatan mutu pelayanan kesehatan, menggunakan pendekatan continuum of care dan interpensi berbasis resiko kesehatan;
3. Sementara itu jaminan kesehatan nasional dilakukan dengan strategi perluasan sasaran dan benefit serta kendali mutu dan biaya.
Penyelenggaraan pembangunan kesehatan meliputi upaya kesehatan dan sumber dayanya harus dilakukan secara terpadu dan berkesinambungan guna mencapai hasil yang optimal, sehingga upaya kesehatan yang semula dititikberatkan pada upaya penyembuhan penderita secara berangsur-angsur berkembang kearah keterpaduan upaya kesehatan yang menyeluruh.
Masalah kesehatan indera (Mata, THT, Kulit) di Indonesia dari hasil Survey Departemen Kesehatan adalah sebagai berikut :
1. Kesehatan Indera Penglihatan:
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 angka kebutaan Provinsi Bali 0,3% dari penduduk Bali. Penyebab utama kebutaan adalah karena katarak, glaucoma, kelainan refraksi, dan penyakit - penyakit lain yang menyebabkan kebutaan. Prevalensi katarak di Provinsi Bali sebesar 2,7%
3 yang akan berkembang menjadi kebutaan apabila tidak ditangani dengan baik.
2. Kesehatan Indera Pendengaran
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, menunjukkan prevalensi ketulian 0,45 % dari jumlah penduduk. Gangguan pendengaran dan ketulian berdampak buruk terutama jika diderita sejak lahir, karena menyebabkan gangguan perkembangan kegiatan psikologi dan sosial.
3. Kesehatan Indera Peraba
Angka prevalesi kusta di Provinsi Bali 0,2 per 10.000 penduduk. Penyakit kusta untuk di Provinsi Bali belum bisa dieleminasi namun yang paling penting adalah bagaimana kita mencegah kecacatan yang diakibatkan oleh kuman akut yang mengganggu produktifitas dari penderita.
Oleh karena itu, pembangunan kesehatan yang menyangkut Upaya Peningkatan Kesehatan (Promotif), Pencegahan Penyakit (Preventif), Penyembuhan Penyakit (Kuratif), dan Pemulihan Kesehatan (Rehabilitatif), harus dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu, berkesinambungan, dan dilaksanakan bersama antara pemerintah dan masyarakat.
B. DASAR HUKUM
Histori Rumah Sakit Indera Provinsi Bali berawal dari Rumah Sakit Kusta yang didirikan oleh Pemerintah Provinsi Bali Tahun 1957 dengan tujuan untuk melayani masyarakat yang menderita penyakit kusta. Dalam perkembangannya pelayanan Rumah Sakit Kusta tidak hanya penyakit kusta saja tetapi mulai tahun 1998 muncul kunjungan pasien dengan penyakit THT. Pada tahun 1998 Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Kesehatan Provinsi Bali membentuk Unit Pelaksana Teknis daerah (UPTD) Balai Kesehatan Mata Masyarakat (BKMM).
Pada Tahun 2002 berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 2002 yang disahkan pada tanggal 28 Pebruari 2002 tentang Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah
4 Termasuk Pelembagaan Badan Pelayanan Khusus Rumah Sakit Indera Masyarakat Provinsi Bali, dilakukan penggabungan antara UPTD RS Kusta dengan UPTD BKMM menjadi Badan Pelayanan Khusus Rumah Sakit Indera Masyarakat Provinsi Bali (BPRSI). Pada Tahun 2008 BPRSI berubah menjadi Rumah Sakit Indera Provinsi yang ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 2 Tahun 2008 tanggal 8 Juli 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah Provinsi Bali (Lembaran Daerah Provinsi Bali Tahun 2008 Nomor 2). Rumah Sakit Indera Provinsi Bali adalah Rumah Sakit Khusus Kelas A sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 456/MENKES/SK/V/2008 tanggal 9 Mei 2008.
Berdasarkan Peraturan Daerah No 4 Tahun 2015 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2011 Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Perangkat Daerah, nama Rumah Sakit Indera Provinsi Bali diubah menjadi Rumah Sakit Mata Bali Mandara. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.02.03/I/1328/2015, tanggal 15 Mei 2015, RS Mata Bali Mandara ditetapkan menjadi Rumah Sakit Khusus Kelas A.
Dasar hukum sebagai landasan dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi Rumah Sakit Indera Provinsi Bali adalah :
1) Undang undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063) 2) Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5072);
3) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587);
4) Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4502) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan
5 Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 171, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5340);
5) Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);
6) Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun 2008 tentang Tata Cara Penyusunan Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4817).
7) Peraturan Presiden Nomor 72 Tahubn 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 193);
8) Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 340/MENKES/SK/VI/2010 tentang Klasifikasi Rumah Sakit
9) Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1069/MENKES/2010 tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit;
10) Peraturan Daerah Provinsi Bali No.4 Tahun 2011, tanggal 20 April 2011, tentang Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah
11) Peraturan Gubernur Bali No. 27 Tahun 2016, tanggal 25 Mei 2016 tentang Rincian Tugas Pokok Rumah Sakit Mata Bali Mandara
12) Keputusan Gubernur Bali Nomor 1356/01-F/HK/2012 tanggal 14 Agustus 2012 tentang Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah RS Mata Bali Mandara.
C. TUGAS POKOK DAN FUNGSI
Tugas pokok dan fungsi Rumah Sakit Indera Provinsi Bali berdasarkan Peraturan Gubernur Bali Nomor 27 Tahun 2016 tanggal 25 Mei 2016 tentang Rincian Tugas Pokok Rumah Sakit Mata Bali Mandara. Rumah Mata Bali Mandara dipimpin oleh seorang Direktur dengan sebutan Direktur Rumah Sakit Mata Bali Mandara yang mempunyai Tugas Pokok membantu Gubernur dalam melaksanakan fungsi dan tugas dibidang pelayanan kesehatan.
Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut Direktur Rumah Sakit Mata Bali Mandara mempunyai fungsi pokok antara lain :
6 1. Memimpin dan mengurus Rumah Sakit sesuai dengan tujuan rumah sakit
yang telah ditetapkan
2. Menetapkan kebijakan operasional rumah sakit
3. Mengkoordinasikan penyusunan rencana dan program kerja rumah sakit 4. Mengatur, mendistribusikan dan mengkoordinasikan tugas-tugas kepada
bawahan
5. Mengevaluasi, mengendalikan dan membina pelaksanaan tugas bawahan 6. Memberikan petunjuk dan bimbingan teknis serta pengawasan kepada
bawahan
7. Melaksanakan sistem pengendalian intern
8. Menilai hasil kerja bawahan dan mempertanggungjawabkan hasil kerja bawahan
9. Melaksanakan tugas kedinasan lainnya yang ditugaskan oleh atasan 10. Melaporkan hasil pelaksanaan tugas kepada Gubernur melalui Sekretaris
Daerah
D. STRUKTUR ORGANISASI
Susunan Organisasi Rumah Sakit Indera terdiri dari : 1. Direktur
2. Wakil Direktur Pelayanan.
3. Wakil Direktur Administrasi Sumber Daya. 4. Bidang Pelayanan Medik.
5. Bidang Keperawatan. 6. Bidang Penunjang Medik. 7. Bagian Bina Program. 8. Bagian Keuangan. 9. Bagian Tata Usaha.
10. Kelompok Jabatan Fungsional. 11. SPI
12. Komite Medik
7 BAB II
VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN DAN KEBIJAKAN
A. VISI DAN MISI
Berdasarkan UU Nomor 44 Pasal 19 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit bahwa Rumah Sakit Khusus memberikan pelayanan utama pada satu bidang atau satu jenis penyakit tertentu. Untuk pemenuhan Undang-Undang tersebut, maka visi dan misi RS Mata Bali Mandara difokuskan pada pelayanan kesehatan indera penglihatan/mata, sementara pelayanan kulit dan THT menjadi pelayanan tambahan.
Visi : “Rumah Sakit Mata Bali Mandara menjadi pusat pelayanan dan rujukan mata regional untuk mewujudkan Bali yang Maju, Aman, Damai dan Sejahtera.”
Untuk mewujudkan visi tersebut ditetapkan melalui misi yang merupakan rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi tersebut, maka misi yang akan diuraikan sebagai berikut :
1. Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan Mata Secara Paripurna, Bermutu, berorientasi pada kepuasan masyarakat, terjangkau dan berkeadilan.
2. Menyelenggarakan Pendidikan dan Latihan Keterampilan di bidang Kesehatan Mata
3. Menyelenggarakan Penelitian dalam Rangka Mendukung Jejaring Pendidikan Dibidang Kesehatan Mata
B. TUJUAN, SASARAN, DAN KEBIJAKAN
Tujuan, sasaran, dan kebijakan yang dilaksanakan sesuai dengan Matriks Renstra tahun 2013-2018 dapat dijabarkan sebagai berikut:
B.1 Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai selama kurun waktu 2013-2018 yang dijabarkan sesuai dengan Misi Rumah Sakit Mata Bali Mandara pada setiap program dan kegiatan setiap tahun anggaran adalah sebagai berikut :
8 b. Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan
c. Meningkatkan kemandirian keuangan
d. Meningkatkan kapasitas rumah sakit untuk pendidikan dan pelatihan e. Meningkatkan jumlah penelitian/ pengamatan dalam rangka
mendukung jejaring pendidikan di bidang kesehatan
Dari kelima tujuan tersebut diatas, telah ditetapkan 3 tujuan utama yaitu:
1. Meningkatkan pelayanan rumah sakit pada masyarakat 2. Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan
3. Meningkatkan kemandirian keuangan
B.2. Sasaran:
Tujuan yang telah ditentukan memiliki sasaran sebagai berikut: a. Meningkatnya pelayanan rumah sakit pada masyarakat b. Meningkatnya mutu pelayanan kesehatan
c. Meningkatnya kemandirian keuangan
d. Meningkatnya kapasitas rumah sakit untuk pendidikan dan pelatihan
e. Meningkatnya jumlah penelitian/ pengamatan dalam rangka mendukung jejaring pendidikan di bidang kesehatan
B.3. Kebijakan
Untuk mencapai tujuan dan sasaran tidak bisa terlepas dari kebijakan yang telah ditetapkan, sehingga kebijakan yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan dan sasaran adalah :
1. Meningkatkan pemasaran Rumah Sakit
2. Meningkatkan sarana dan prasarana rumah sakit
3. Meningkatkan manajemen, standar dan kualitas pelayanan kesehatan
4. Meningkatkan profesionalisme sumber daya manusia 5. Meningkatkan mutu pengelolaan anggaran
6. Menyediakan peluang dan lingkungan yang kondusif untuk penelitian
9 BAB III
PROGRAM DAN KEGIATAN TAHUN 2016
A. PROGRAM
Program yang dilaksanakan tahun 2016 adalah Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan pada BLUD, yang dituangkan dalam sebuah kegiatan yaitu Pelayanan Kesehatan pada BLUD
B. HASIL KEGIATAN
Untuk menjabarkan Program yang telah ditetapkan dalam Renstra, perlu diimplementasikan dalam beberapa kegiatan tahunan, antara lain :
a. Peningkatan pelayanan rumah sakit pada masyarakat b. Peningkatan mutu pelayanan kesehatan
c. Peningkatan kemandirian keuangan
d. Peningkatan kapasitas rumah sakit untuk pendidikan dan pelatihan
e. Peningkatan jumlah penelitian/ pengamatan dalam rangka mendukung jejaring pendidikan di bidang kesehatan
C. CAPAIAN KEGIATAN PELAYANAN DI RUMAH SAKIT MATA BALI MANDARA
Jenis pelayanan yang diberikan oleh Rumah Sakit Mata Bali Mandara adalah Pelayanan Rawat Jalan, Unit Gawat Darurat, dan Rawat Inap. Pelayanan Rawat Jalan meliputi : Klinik Mata, Klinik THT dan Klinik Kulit & Kelamin, Fisioterapi, Tindakan/Operasi, Laboratorium, Farmasi, dan Penunjang Diagnostik.
Kegiatan pelayanan oleh Rumah Sakit Mata Bali Mandara di tahun 2016 meliputi kegiatan pelayanan luar dan dalam gedung dengan pelayanan utama pada layanan Indera penglihatan dan layanan tambahan pada indera pendengaran dan Peraba, dengan jumlah total layanan 66.893 orang (Tabel 3.1) dan 76,92 % layanan adalah layanan dalam gedung (Tabel 3.2). Layanan fisiotherapi, anesthesia, IGD merupakan layanan terintegrasi pendukung layanan kesehatan indera penglihatan, indera pendengaran dan indera peraba.
10 Tabel 3.1. Pelayanan Pasien oleh
Rumah Sakit Mata Bali Mandara Provinsi Bali Tahun 2016
No Jenis Pelayanan Jumlah
pelayanan
Prosentase ( % )
1 Indera Penglihatan ( Mata ) 52.006 77,74 2 Indera Pendengaran ( THT ) 2.928 4,38 3 Indera Peraba ( Kulit ) 11.959 17,88
TOTAL 66.893 100
Tabel 3.2. Pelayanan Pasien Dalam dan Luar Gedung oleh Rumah Sakit Mata Bali Mandara Tahun 2016
No Tempat Pelayanan Jumlah
pelayanan Prosentase ( % ) 1 Dalam Gedung 51.453 76,92 2 Luar Gedung 15.440 23,08 TOTAL 66.893 100
C.1. Capaian Layanan Di Dalam Gedung RS Mata Bali Mandara
Kegiatan pelayanan di dalam gedung meliputi kegiatan pelayanan rawat jalan pada poliklinik indera penglihatan, poliklinik indera pendengaran dan juga poliklinik indera peraba. Katarak merupakan layanan terbanyak pada poliklinik indera penglihatan (tabel 3.3.), di poliklinik indera pendengaran kasus serumen merupakan kasus terbanyak yang dilayani (tabel 3.5.), dan Dermatitis kontak alergi merupakan kasus rawat jalan terbanyak di poliklinik indera peraba (tabel 3.6). Untuk kegiatan rawat inap 27,74% pasien yang dirawat adalah merupakan pasien dengan gangguan retina (tabel 3.4). Poliklinik indera peraba juga memberikan sub layanan fisiotherapi dimana layanan fisiotherapi pada kasus myalgia merupakan layanan terbanyak (tabel 3.8.) di RS Mata Bali Mandara. Pada pelayanan Unit Gawat Darurat Myalgia merupakan kasus terbanyak sejumlah 53,38%, disusul Fibromyalgia 9,77% (tabel 3.7)
11 Tabel 3.3. Distribusi 10 Besar Penyakit Pada Kegiatan Pelayanan Rawat Jalan
Poliklinik Mata Rumah Sakit Mata Bali Mandara Tahun 2016
No. Penyakit Jumlah
Kasus Prosentase
1 Other Senile Cataract 4962 39,55
2 Myopia 2000 15,94
3 After Cataract 1695 13,51
4 Pterygium 1029 8,20
5 Hordeolum and other inflammation of eyelid
702 5,60
6 Hypermetropia 627 5,00
7 Presbyopia 477 3,80
8 Other Conjunctivitis 420 3,35
9 Subjective Visual Disturbances 337 2,69
10 Other disorder of lacrimal glands 296 2,36
TOTAL 12.818 100
Gambar 3.1. Distribusi 10 Besar Penyakit Pada Kegiatan Pelayanan Rawat Jalan Poliklinik Mata Rumah Sakit Mata Bali Mandara Tahun 2016
12 Tabel 3.4. Data 10 Besar Penyakit Pada Kegiatan Pelayanan Rawat Inap
di Rumah Sakit Mata Bali Mandara Provinsi Bali Tahun 2016
NO DIAGNOSIS JUMLAH
KASUS
PROSENTASE (%)
1 Retinal detachment with retinal break 124 27,74
2 Other senile cataract 73 16,33
3 Diabetic retinopathy * 67 14,99
4 After Cataract 66 14,77
5 Aphakia 37 8,28
6 Vitreous haemorrhage 25 5,59
7 Serous retinal detachment 18 4,03
8 Purulent endophthalmitis 13 2,91
9 Other vitreous opacities 13 2,91
10 Complicated cataract 11 2,46
JUMLAH 447 100,00
Gambar 3.2. Data 10 Besar Penyakit Pada Kegiatan Pelayanan Rawat Inap di Rumah Sakit Indera Provinsi Bali Tahun 2016
13 Tabel 3.5. Sepuluh Besar Penyakit Pada Kegiatan Pelayanan Rawat Jalan
Di Poliklinik THT Rumah Sakit Indera Provinsi Bali Tahun 2016
NO DIAGNOSIS JUMLAH
KASUS
PROSENTASE (%)
1 Impacted cerumen 551 26,09
2 Acute nasopharyngitis [common cold] 463 21,92
3 Other infective otitis externa 362 17,14
4 Other specified disorders of Eustachian
tube 172 8,14
5 Acute suppurative otitis media 149 7,05
6 Other chronic suppurative otitis media 143 6,77
7 Chronic rhinitis 94 4,45
8 Tinnitus 66 3,13
9 Foreign body in ear 65 3,08
10 Chronic tonsillitis 47 2,23
JUMLAH 2112 100,00
Gambar 3.3 Distribusi 10 Besar Penyakit Pada Kegiatan Pelayanan Rawat Jalan Di Poliklinik THT Rumah Sakit Indera Provinsi Bali Tahun 2016
14 Tabel 3.6. Data 10 Besar Penyakit Pada Kegiatan Pelayanan Rawat Jalan
Di Poliklinik Kulit Rumah Sakit Indera Provinsi Bali Tahun 2016
NO DIAGNOSIS JUMLAH
KASUS
PROSENTASE (%) 1 Allergic contact dermatitis, unspecified
cause 323 32,11
2 Lichen simplex chronicus 142 14,12
3 Acne vulgaris 115 11,43 4 Other Urticaria 79 7,85 5 Tinea corporis 78 7,75 6 Vitiligo 65 6,46 7 Pityriasis versicolor 54 5,37 8 Tinea cruris 52 5,17 9 Scabies 50 4,97 10 Miliaria, unspecified 48 4,77 JUMLAH 1006 100,00
Gambar 3.4. Data 10 Besar Penyakit Pada Kegiatan Pelayanan Rawat Jalan Di Poliklinik Kulit Rumah Sakit Indera Provinsi Bali Tahun 2016
15 Tabel 3.7. Data 10 Besar Penyakit Pada Kegiatan Pelayanan di Instalasi Gawat
Darurat Rumah Sakit Mata Bali Mandara Provinsi Bali Tahun 2016
NO DIAGNOSIS JUMLAH KASUS PROSENTASE (%) 1 Myalgia 71 53,38 2 Fibromyalgia 13 9,77 3 Tinnitus 12 9,02
4 Low back pain 10 7,52
5 Polymyalgia rheumatica 8 6,02
6 Eustachian tube disorder, unspecified 5 3,76 7 Chronic rhinitis, nasopharyngitis and
pharyngitis 4 3,01
8 Sprain and strain of ankle 4 3,01
9 Bell's palsy 3 2,26
10 Adhesive capsulitis of shoulder 3 2,26
JUMLAH 133 100,00
Gambar 3.5. Data 10 Besar Penyakit Pada Kegiatan Pelayanan di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Indera Provinsi Bali Tahun 2016
16 Tabel 3.8. Sepuluh Besar Penyakit Pada Kegiatan Pelayanan Rawat Jalan
di Fisioterapi Rumah Sakit Indera Provinsi Bali Tahun 2016
NO DIAGNOSIS JUMLAH KASUS PROSENTASE (%) 1 Myalgia 71 53,38 2 Fibromyalgia 13 9,77 3 Tinnitus 12 9,02
4 Low back pain 10 7,52
5 Polymyalgia rheumatica 8 6,02
6 Eustachian tube disorder, unspecified 5 3,76 7 Chronic rhinitis, nasopharyngitis and
pharyngitis 4 3,01
8 Sprain and strain of ankle 4 3,01
9 Bell's palsy 3 2,26
10 Adhesive capsulitis of shoulder 3 2,26
JUMLAH 133 100,00
Gambar 3.6. Data 10 Besar Penyakit Pada Kegiatan Pelayanan Rawat Jalan di Fisioterapi Rumah Sakit Indera Provinsi Bali Tahun 2016
17 PEMANFAATAN RUMAH SAKIT
C.2. Capaian kegiatan Pelayanan Luar gedung dan Operasi katarak
Sesuai dengan SK Gubernur No. 189/03-B/HK/2012,tanggal 29 Februari 2012 tentang Komite PGPK Provinsi Bali yang anggotanya terdiri dari PERDAMI, Dinas Kesehatan Provinsi Bali, PKK dan RS Indera, melaksanakan kegiatan penanggulangan gangguan kebutaan dimana bekerjasama dengan Komite Penanggulangan Gangguan Penglihatan dan Kebutaan (PGPK) Kabupaten/Kota serta Puskesmas diseluruh Bali untuk memberi pelayanan di Desa melalui bus klinik keliling. Kegiatan PGPK meliputi kegiatan penyuluhan, screening dan juga operasi katarak. Hasil kegiatan pelayanan operasi katarak berupa rujukan medik spesialistik selain operasi dalam gedung.
Di tahun 2016 total 2833 operasi katarak telah dilaksanakan oleh Rumah Sakit Mata Bali Mandara, 2.563 diantaranya dilakukan di dalam gedung dan 270 tindakan rujukan medic spesialistik (bus operasi keliling).
Disamping pelayanan kesehatan indera yang dilaksanakan di dalam gedung Rumah Sakit Mata Bali Mandara, terdapat pula kegiatan pelayanan rujukan medik ke masyarakat berupa kegiatan screening dan bakti sosial. Hasil kegiatan screening akan dianalisa dan kemudian baru ditentukan pasien dengan indikasi untuk dioperasi. Sedangkan bakti sosial dilaksanakan pada momen-momen tertentu seperti hari-hari nasional, contohnya Bulan Bakti Gotong Royong, Hari Keluarga Nasional dan lain-lain dan juga atas permintaan pihak swasta. Di Tahun 2016 telah
18 dilaksanakan 101 kali kegiatan Screening Katarak dengan total layanan 1962 pasien, 18 kali Screening Anak Sekolah dengan total layanan 5502 dan 68 kali kegiatan bakti sosial dengan total layanan 7971 pasien (tabel 3.9.).
Table 3.9. Target dan Realisasi Capaian Kinerja Pelayanan Rujukan Medik ke Masyarakat di Rumah Sakit Indera Provinsi Bali
Tahun 2016
No Rujukan Medik ke
Masyarakat Satuan Target Realisasi
1 Pelayanan Screening
Katarak Orang 1.900 1.962
2 Pelayanan Screening Anak
Sekolah Orang 5.400 5.502
3 Pelayanan Baksos Orang 5.619 7.971
Gambar 3.7 Target dan Realisasi Capaian Kinerja Pelayanan Rujukan Medik ke Masyarakat di Rumah Sakit Indera Provinsi Bali
19 Gambar 3.8 Target dan Realisasi Capaian Kinerja Pelayanan Bakti Sosial ke
Masyarakat di Rumah Sakit Indera Provinsi Bali Tahun 2016
Hasil kegiatan Screening di luar gedung untuk 10 besar penyakit mata didominasi oleh penyakit Gangguan Refraksi dan Akomodasi (Tabel 3.10) Sedangkan untuk kegiatan Bakti sosial, 10 besar penyakit mata luar gedung didominasi penyakit Gangguan Refraksi dan Akomodasi dengan total jumlah kasus 1036 kasus (Tabel 3.11.)
Table 3.10. Sepuluh Besar Penyakit Pada Kegiatan Screening Tahun 2016
NO PENYAKIT JUMLAH
KASUS
1. Gangguan Refraksi dan Akomodasi 620
2. Katarak & Gangguan Lain Lensa 531 3. Konjungtivitis & Gangguan Lain Konjungtiva 202
4. Pseudofakia 90
5. Glaukoma 53
6. Keratitis Dan Gangguan Sklera & Kornea 51
7. Gangguan Lain Retina 47
8. Gangguan Lain Kelopak Mata 37
9. Ablasi dan kerusakan retina 25
10. Gangguan Sistem Lakrimal & Orbita 25
20 Tabel 3.11. Penyakit Pada Kegiatan Bakti Sosial
Tahun 2016
NO PENYAKIT JUMLAH
KASUS
1. Gangguan Refraksi dan Akomodasi 1.036
2. Gangguan Sistem Lakrimal & Orbita 66 3. Konjungtivitis & Gangguan Lain Konjungtivitis 20
4. Katarak dan Gangguan lain lensa 11
5. Buta dan Rabun 4
6. Gloukoma 1
7. Keratitis dan Gangguan Sklera dan Kornea 1
TOTAL 1.139
D. PENCAPAIAN MUTU PELAYANAN D.1. Pencapaian Standar Pelayanan D.1.1. Pencapaian Standar Pelayanan Minimal
Berdasarkan Pergub Nomor 54 Tahun 2012 tentang Standar Pelayanan Minimal, terdapat beberapa Indikator akuntabilitas kinerja dan target pencapaian kinerja yang ditetapkan sebagai Standar Pelayanan Minimum. Pencapaian SPM tahun 2016 dari 73 indikator yang dinilai adalah sebesar 98,63%, melampaui target yang telah ditetapkan yaitu sebesar 95,89%. Terdapat 1 indikator yang belum bisa dipenuhi yaitu Pemenuhan baku mutu limbah cair (Target 100%, capaian 75%)
D.1.2. Pencapaian Standar Pelayanan Mutu Prioritas Rumah Sakit
Standar Mutu Prioritas Rumah Sakit Tahun 2016 terdiri dari 36 indikator yang terdiri dari 16 indikator pada area klinis, 9 indikator pada area manajemen, 6 indikator Sasaran Keselamatan Pasien dan 5 indikator pemantauan Kejadian tidak diinginkan.
R ata-rata capaian Standar Mutu Prioritas Rumah Sakit Tahun 2016 adalah 86,11%. Dari 36 indikator yang ditetapkan terdapat 5 indikator yang belum mencapai target yang ditetapkan oleh Rumah Sakit, dengan rincian sebagai berikut :
21 1. Area Klinis
Dari 16 indikator pada area klinis terdapat 4 indikator yang belum
mencapai target, yaitu:
a. Kesalahan Penulisan resep (Prescription Error), dari target 0% tercapai 0,22% pada tahun 2016. Hal ini disebabkan karena dari 341.870 jumlah resep yang dilayani masih ditemukan adanya ketidaklengkapan pada penulisan resep obat, hal ini disebabkan masih adanya kekurang telitian petugas dalam penulisan resep.
b. Insiden Kesalahan Penyerahan obat, dari target 0 kejadian
terdapat 2 kejadian pada bulan Maret 2016. Dengan adanya peningkatan kepatuhan petugas dalam melaksanakan SPO penyerahan obat, dari bulan April-Desember kejadian kesalahan penyerahan obat tidak pernah terjadi lagi.
c. Kepatuhan Pengisian Resume Medis Rawat Inap, dari target
100% tercapai dengan rata-rata 96,62%, ketidaksesuaian dengan standar ditemukan pada triwulan I dan Triwulan II. Dengan dilaksanakan verifikasi kelengkapan rekam medis oleh staf sebelum diserahkan ke Rekam Medis, maka hasil ini telah mencapai target 100% pada triwulan III dan triwulan IV.
d. Kelengkapan Pengisian Informed Consent sesuai Prosedur, dari
target 100%, tercapai dengan Rata-rata 94,67%, Ketidaksesuaian ditemukan pada triwulan I, II, dan III. Dengan dilaksanakan verifikasi kelengkapan rekam medis oleh staf sebelum diserahkan ke Rekam Medis, maka hasil ini telah mencapai target 100% pada triwulan IV.
2. Area Manajemen
Dari 9 indikator pada area manajemen terdapat 1 indikator yang belum mencapai target, yaitu:
a. Baku Mutu limbah cair, dari target 100%, tercapai dengan
rata-rata 87,5%. Hal ini disebabkan karena masih terjadi
ketidaksesuaian baku mutu limbah cair pada triwulan I dan III. Dengan dilaksanakan tindak lanjut secara bertahap mulai dari SPO penambahan bibit bakteri, pemasangan flow meter dan
22 penggantian pompa aerasi, maka hasil ini telah mencapai target 100% pada triwulan IV.
3. Sasaran Keselamatan Pasien
Dari 6 indikator Sasaran Keselamatan Pasien, keseluruhan telah
mencapai target yang dietapkan.
4. Indikator pemantauan kejadian Tidak Diinginkan
Dari 5 indikator Kejadian Tidak Diinginkan, keseluruhan telah
mencapai target yang ditetapkan.
D.2. Survei Kepuasan Masyarakat
Survei dilakukan pada 300 orang pengguna jasa pelayanan kesehatan di RS Mata Bali Mandara dalam jangka waktu 1 bulan dibulan agustus 2016. 300 kuesioner terbagi dalam beberapa unit dimana 201 orang (67.00%) responden merupakan pengunjung (pasien/pengantar) di poliklinik mata, 58 orang (19.33%) adalah pengunjung OK, 27 orang (9%) adalah pengunjung poliklinik kulit, serta 12 orang (4%) adalah pengunjung poli THT dan 2 orang (0,67%) adalah pengunjung IGD.
Rata rata tingkat kesesuaian antara harapan dan kinerja dari 9 unsur yang dinilai berdasarkan KEP/16/M.PAN-RB/2014 adalah 82.18 %.
E. PENCAPAIAN DI BIDANG KEUANGAN
Pencapaian kinerja sasaran, program dan kegiatan di Rumah Sakit Mata Bali Mandara ditunjang dengan jumlah dana sebesar Rp. 80.978.695.075,- dan realisasi pengeluarannya sebesar Rp. 69.461.072.479,09 (tabel 3.12). Capaian kinerja dari segi pendapatan tahun 2016, sudah tercapai 127,11 % dari target yang ditetapkan (table 3.12). Sedangkan dalam melaksanakan program dan kegiatan tahun 2016 tidak ditemukan adanya permasalahan yang mempengaruhi pencapaian program oleh karena pencapaian fisik 100% dan keuangannya (belanja langsung dan belanja tidak langsung) sebesar 85,78%.
23 Ditinjau dari tingkat kemandirian keuangan Rumah Sakit Mata Bali Mandara mencapai cost recovery rate sebesar 157,76% dari nilai 100% yang ditargetkan. Ini berarti bahwa rumah sakit sudah mampu membiayai operasional rumah sakit diluar belanja pegawai dan belanja modal.
Tabel 3.12. Capaian kinerja keuangan Rumah Sakit Mata Bali Mandara tahun 2016
Program Kegiatan Uraian Anggaran Realisasi Persentase (%) Peningkatan Pelayanan Kesehatan Pada BLUD Pelayanan Kesehatan Pada BLUD Pendapatan 1. Pendapatan Asli Daerah 26.895.717.720 34.187.620.505,76 127,11 2. Dana Perimbangan 0 0 Total Pendapatan 26.895.717.720 34.187.620.505,76 127,11 Belanja 1. Belanja tidak langsung 22.028.523.475 20.668.299.811 93,83 2. Belanja Langsung 58.950.171.600 48.792.772.668,09 82,77 a. Belanja Pegawai 1.021.217.960 1.005.663.720 98,48 b. Belanja Barang dan Jasa 29.425.870.840 20.665.176.296 70,23 c. Belanja Modal 28.503.082.800 27.121.932.652,09 95,15 Total Belanja 80.978.695.075 69.461.072.479,09 85,78
F. PENINGKATAN KAPASITAS RUMAH SAKIT UNTUK PENDIDIKAN DAN PELATIHAN
Dalam mendukung peningkatan kapasitas Rumah Sakit untuk pendidikan dan pelatihan RS Mata Bali Mandara juga melakukan pengembangan sumber daya manusia dengan menyertakan pegawai/karyawan dalam berbagai pelatihan pelatihan (Lampiran 2)
Di tahun 2016, sebagai bagian dari jejaring pendidikan terdapat 236 permintaan penempatan dokter Muda di RS Mata Bali Mandara. RS Mata Bali
24 Mandara dapat memenuhi 100% permintaan tersebut. Dimana dalam melaksanakan program jejaring tersebut, 132 orang dokter muda melaksanakan pendidikan di bagian Mata, 20 orang di bagian THT, dan 84 orang di bagian Kulit & Kelamin. Sedangkan untuk pendidikan spesialisasi, telah diikuti oleh 32 orang dokter residen mata dan 9 orang dokter residen kulit. Terdapat 26 jumlah permintaan dokter magang di RS Mata Bali Mandara di tahun 2016, terdiri dari 8 orang di SMF mata, 3 orang di SMF THT dan 15 orang di SMF Kulit Kelamin.
G. PENINGKATAN JUMLAH PENELITIAN/PENGAMATAN DALAM RANGKA MENDUKUNG JEJARING PENDIDIKAN DI BIDANG KESEHATAN
Di tahun 2016 terdapat 19 permohonan ijin penelitian di RS Mata Bali Mandara yang diajukan oleh mahasiswa ilmu kesehatan
25 BAB IV
ANALISA HASIL KEGIATAN TAHUN 2016
A. PENCAPAIAN INDIKATOR KINERJA UTAMA
Penyusunan pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah digunakan untuk menilai keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan program, sasaran yang telah ditetapkan dalam rangka mewujudkan visi dan misi instansi pemerintah. Pengukuran kinerja dilaksanakan terhadap Indikator Kinerja Utama (IKU) yang ditetapkan. Selain itu pengukuran kinerja juga dilaksanakan terhadap indikator kinerja kegiatan.
Tabel 4.1. Capaian Indikator Kinerja Utama (IKU) Tahun 2016
Sasaran Indikator Kinerja Utama Target Realisasi
Meningkatnya Pelayanan Rumah Sakit pada masyarakat
Jumlah pelayanan kesehatan pada Rumah Sakit Mata Bali Mandara
62.215 pasien
66.893 pasien
Persentase rujukan yang tertangani 80% 99,00%
Meningkatnya mutu pelayanan
Presentase Pencapaian Standar
Pelayanan Minimal (SPM) 95,89 % 98,63%
Persentase Kepuasan Masyarakat 80 % 82,18%
Meningkatnya tingkat
kemandirian keuangan Cost recovery rate 100% 157,76%
B. HASIL PELAYANAN RUMAH SAKIT PADA MASYARAKAT
Hasil pelayanan kesehatan Indera tahun 2012 sampai dengan 2016 di Rumah Sakit Mata Bali Mandara dapat dijelaskan sebagai berikut :
26 Tabel 4.2. Realisasi Jumlah pelayanan kesehatan pada Rumah Sakit Mata Bali
Mandara tahun 2012 s.d. tahun 2016
Indikator kinerja Tahun Target Realisasi %
Jumlah pelayanan kesehatan pada Rumah Sakit Mata Bali Mandara
2012 49.758 60.380 121,35
2013 52.820 64.252 121,64
2014 64.573 70.797 109,64
2015 64.894 64.905 100,02
2016 65.215 66.893 102,57
Gambar 4.1. Trend Pencapaian Pelayanan dari Tahun 2012 s.d. 2016
Capain Jumlah pelayanan kesehatan pada RS Mata Bali Mandara di tahun 2016 melampaui target yang telah ditentukan. Terdapat peningkatan capaian sebesar 3,06% jika dibandingkan dengan capaian di tahun 2015.
Fungsi Rumah Sakit sebagai pusat rujukan dapat terlihat dengan terlayaninya 99.00% rujukan yang diterima di tahun 2016. Hal ini menunjukan bahwa 99% rujukan yang datang ke Rumah Sakit Mata Bali Mandara sudah dapat dilayani tanpa harus dirujuk ke RS lain.
27 Terdapat kenaikan jumlah pelayanan operasi Katarak di Rumah Sakit Mata Bali Mandara di tahun 2016, jika dibandingkan dengan capaian di tahun 2015 seperti pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3. Jumlah Pelayanan Operasi Katarak Dalam Gedung dan Rujukan Medik Spesialistik Tahun 2012 – 2016
No Tahun Operasi Dalam Gedung Rujukan Medik Spesialistik Jumlah 1 2012 2.125 525 2.650 2 2013 2.585 482 3.067 3 2014 4.406 310 4.716 4 2015 2.494 322 2.816 5 2016 2.563 270 2.833
C. PENINGKATAN MUTU PELAYANAN RUMAH SAKIT
Pencapaian SPM tahun 2016 adalah sebesar 98,63%, melampaui target 95,89%. Terdapat peningkatan capaian SPM jika dibandingkan dengan capain di tahun 2015, pencapaian SPM di tahun 2014 adalah 95,89%.
Hasil Survei kepuasan masyarakat tahun 2016 adalah 82,18%. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat yang datang ke RS Mata Bali Mandara sudah merasa sangat puas. Dalam 5 tahun terakhir Masyarakat sangat puas dengan pelayanan yang diberikan oleh Rumah Sakit Mata Bali Mandara (tabel 4.4.)
Tabel 4.4. Kepuasan Masyarakat pada layanan Rumah Sakit Mata Bali Mandara Tahun 2012 - 2016
Indikator kinerja Tahun Target Realisasi
Persentase kepuasan Masyarakat 2012 - 82,50* 2013 80,0* 81,37* 2014 82,3* 82,36* 2015 80% 88,98% 2016 80% 82,18% * indeks kepuasan
28 D. TINGKAT KEMANDIRIAN KEUANGAN
Tingkat kemandirian keuangan dinilai dengan cost recovery rate, yaitu persentase perbandingan jumlah pendapatan layanan dibagi biaya operasional diluar biaya pegawai dan belanja modal
Tabel 4.5.Tingkat kemandirian keuangan Rumah Sakit Mata Bali Mandara Tahun 2014 - 2016
Indikator
kinerja Tahun Target Realisasi
Tingkat Kemandirian Keuangan 2014 100% 164,46% 2015 100% 149,11% 2016 100% 157,76%
E. PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DI BIDANG KESEHATAN INDERA.
Terdapat peningkatan pelaksanaan jumlah penelitian di bidang kesehatan indera, jika dibandingkan dengan kegiatan penelitian di tahun 2015. Jika sebelumnya di tahun 2015 jumlah penelitian yang dilaksanakan oleh mahasiswa di RS Mata Bali Mandara adalah 17 penelitian, di tahun 2016 terdapat 19 kegiatan penelitian.
Terdapat dua penelitian intern yang dilaksanakan oleh RS Mata Bali Mandara. Jika dibandingkan dengan tahun sebelummya target dan capaian telah mengalami peningkatan. Kedepannya penelitian intern diharapkan dapat meningkat tidak hanya terbatas pada penelitian deskriptif akan tetapi juga penelitian- penelitian kesehatan yang sifatnya analitik dan lebih berorientasi pada penelitian klinik.
F. Penghargaan yang diterima Rumah Sakit Mata Bali Mandara E.1. Sertifikasi Akreditasi
Akreditasi rumah sakit adalah merupakan suatu kegiatan survei yang dilakukan oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS), untuk mendapatkan pengakuan dari pemerintah karena telah memenuhi standard pelayanan dan management.
29 Pada tanggal 22 November tahun 2010, RS Mata Bali Mandara (RS Indera) mendapatkan sertifikat Akreditasi dengan status Penuh Tingkat Dasar. Sertifikat ini diberikan sebagai pengakuan bahwa rumah sakit telah memenuhi standar pelayanan rumah sakit yang meliputi: administrasi dan manajemen, pelayanan medis, pelayanan gawat darurat, pelayanan keperawatan, dan rekam medis. Tanggal 29 September – 1 Oktober 2015, telah dilakukan survei kembali oleh Tim KARS, dan pada tanggal 19 November RS Mata Bali Mandara telah mendapatkan sertifikat Akreditasi dengan status ‘’Paripurna’’.
E.2. Sertifikasi ISO 9001-2000 dan ISO 9001-2008
Pada Bulan November 2015 dilakukan survei tahunan untuk ISO 9001:2008, dan dinyatakan masih memenuhi syarat hingga tahun 2017, dimana pada bulan November 2016 dilakukan survei kembali sebagai syarat validitas sertifikasi.
30 E.3 Inovasi Pelayanan Publik
Pada tahun 2016 Rumah Sakit Mata Bali Mandara juga meraih penghargaan Inovasi Pelayanan Publik yaitu masuk katagori TOP 99.
Tahap selanjutnya Rumah Sakit Mata Bali Mandara mengikuti Simposium dan Gelar Inovasi Pelayanan Publik Nasional Tahun 2016 yang diadakan di Surabaya, dari tgl 31 Maret – 2 April 2016.
31 Berdasarkan Keputusan Menteri PANRB No 99/2016 tentang Penetapan TOP 35 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2016, Rumah Sakit Mata Bali Mandara kembali meraih penghargaan tertinggi dibidang Inovasi Pelayanan Publik. Inovasi Pelayanan Publik yang masuk TOP 35 akan mewakili Indonesia ke tingkat dunia.
32 BAB V
PERMASALAHAN DAN PEMECAHAN
Dalam melaksanakan program dan kegiatan di tahun 2016 terdapat beberapa masalah yang memerlukan pemecahan antara lain:
Jumlah dokter spesialis mata yang kurang
Belum terpenuhinya standar alat sesuai dengan Permenkes No. 56 Tahun 2015
Dengan demikian Rumah Sakit Mata Bali Mandara telah melakukan beberapa tindak lanjut untuk dapat mengatasi masalah yang sedang dihadapai yaitu:
Kerjasama dengan RSUP Sanglah dan FK UNUD Mengajukan usulan formasi ke BKD
Menyekolahkan 4 orang dokter umum untuk spesialisasi mata dengan mencarikan beasiswa dari Kementerian Kesehatan
Mengusulkan penambahan sarana dan prasarana RS pada sumber dana APBD dan APBN
33 BAB VI
PENUTUP
Rumah Sakit Mata Bali Mandara Provinsi Bali merupakan unsur pelaksana Pemerintah Provinsi Bali dalam bidang pelayanan kesehatan indera dan bertanggung jawab kepada Gubernur Bali. Sesuai dengan Peraturan Gubernur Bali Nomor 27 Tahun 2016, tanggal 25 Mei 2016 tentang Rincian Tugas Pokok Rumah Sakit Mata Bali Mandara, mempunyai tugas pokok membantu Gubernur dalam menyelenggarakan Pemerintahan dibidang Kesehatan Mata. Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi Rumah Sakit Mata Bali Mandara telah menyusun Rencana Strategik 2013-2018, yang mengacu pada Rencana Strategik Provinsi Bali. Dalam rencana strategik tersebut tercantum Visi Rumah Sakit Mata Bali Mandara yaitu “RS Mata Bali Mandara Menjadi Pusat Pelayanan dan Rujukan Mata Regional Untuk Mewujudkan Bali Yang Maju, Aman, Damai, dan Sejahtera“. Program dan kegiatan yang dilaksanakan di tahun 2016 mengacu pada Renstra yang telah ditetapkan. Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan pada BLUD, yang dituangkan dalam sebuah kegiatan yaitu Pelayanan Kesehatan pada BLUD telah terlaksana dengan baik
Capaian kinerja di tahun 2016 telah sesuai target yang ditentukan, dan terdapat beberapa indikator yang telah melewati target yang ditetapkan. Rumah Sakit Mata Bali Mandara telah berhasil memperoleh beberapa prestasi diantaranya predikat Paripurna dari KARS dan tersertifikasi ISO 9001:2008.
Diperlukan pula program dan kegiatan yang berkesinambungan untuk dapat mencapai Visi dan Misi yang telah ditetapkan. Capaian oleh Rumah Sakit Mata Bali Mandara diharapkan akan memberikan kontribusi dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomi.
A.
KESIMPULAN1. Jumlah kunjungan ke Rumah Sakit Mata Bali Mandara dari tahun ke tahun terus meningkat.
2. Kegiatan pelayanan kesehatan indera sudah dapat berjalan sesuai rencana dengan hasil kegiatan rata-rata diatas target yang telah ditetapkan.
34
B.
SARAN1. Untuk dapat mencapai pelayanan tingkat tersier, peningkatan kualitas SDM perlu dilaksanakan secara berkesinambungan dan begitu pula untuk melengkapi sarana prasarananya.
2. Dalam menjaga dan meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit secara terus menerus dan berkesinambungan perlu mempertahankan ISO 9001 – 2008, dan akreditasi yang berstatus paripurna
DIREKTUR RUMAH SAKIT MATA BALI MANDARA,
dr. NI MADE YUNITI, MM Pembina Utama Muda