1
2 BAB I
PENDAHULUAN
A. GAMBARAN UMUM
Pembangunan kesehatan periode 2015 – 2019 adalah Program Indonesia Sehat dengan sasaran meningkatkan derajat kesehatan dan status gizi masyarakat melalui upaya kesehatan dan pemberdayaan masyarakat yang didukung dengan perlindungan finansial dan pemerataan pelayanan kesehatan.
Program Indonesia Sehat dilaksanakan dengan 3 pilar utama yaitu paradigma sehat, penguatan pelayanan kesehatan dan jaminan kesehatan :
1. Pilar paradigma sehat dilakukan dengan pengarusutamaan kesehatan dalam pembangunan, penguatan promotif preventif dan pemberdayaan masyarakat;
2. Penguatan pelayanan kesehatan dilakukan dengan strategi peningkatan akses pelayanan kesehatan, optimalisasi system rujukan dan peningkatan mutu pelayanan kesehatan, menggunakan pendekatan continuum of care dan interpensi berbasis resiko kesehatan;
3. Sementara itu jaminan kesehatan nasional dilakukan dengan strategi perluasan sasaran dan benefit serta kendali mutu dan biaya.
Penyelenggaraan pembangunan kesehatan meliputi upaya kesehatan dan sumber dayanya harus dilakukan secara terpadu dan berkesinambungan guna mencapai hasil yang optimal, sehingga upaya kesehatan yang semula dititikberatkan pada upaya penyembuhan penderita secara berangsur-angsur berkembang kearah keterpaduan upaya kesehatan yang menyeluruh.
Masalah kesehatan indera (Mata, THT, Kulit) di Indonesia dari hasil Survey Departemen Kesehatan adalah sebagai berikut :
1. Kesehatan Indera Penglihatan:
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 angka kebutaan Provinsi Bali 0,3% dari penduduk Bali. Penyebab utama kebutaan adalah karena katarak, glaucoma, kelainan refraksi, dan penyakit -
3 penyakit lain yang menyebabkan kebutaan. Prevalensi katarak di Provinsi Bali sebesar 2,7% yang akan berkembang menjadi kebutaan apabila tidak ditangani dengan baik.
2. Kesehatan Indera Pendengaran
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun 2013, menunjukkan prevalensi ketulian 0,45 % dari jumlah penduduk. Gangguan pendengaran dan ketulian berdampak buruk terutama jika diderita sejak lahir, karena menyebabkan gangguan perkembangan kegiatan psikologi dan sosial.
3. Kesehatan Indera Peraba
Angka prevalesi kusta di Provinsi Bali 0,2 per 10.000 penduduk. Penyakit kusta untuk di Provinsi Bali belum bisa dieleminasi namun yang paling penting adalah bagaimana kita mencegah kecacatan yang diakibatkan oleh kuman akut yang mengganggu produktifitas dari penderita.
Oleh karena itu, pembangunan kesehatan yang menyangkut Upaya Peningkatan Kesehatan (Promotif), Pencegahan Penyakit (Preventif), Penyembuhan Penyakit (Kuratif), dan Pemulihan Kesehatan (Rehabilitatif), harus dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu, berkesinambungan, dan dilaksanakan bersama antara pemerintah dan masyarakat.
B. DASAR HUKUM
Rumah Sakit Kusta didirikan oleh Pemerintah Provinsi Bali Tahun 1957 dengan tujuan untuk melayani masyarakat yang menderita penyakit kusta. Dalam perkembangannya pelayanan Rumah Sakit Kusta tidak hanya penyakit kusta saja tetapi mulai tahun 1998 muncul kunjungan pasien dengan penyakit THT. Pada tahun 1998 Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Kesehatan Provinsi Bali membentuk Unit Pelaksana Teknis daerah (UPTD) Balai Kesehatan Mata Masyarakat (BKMM).
4 Pada Tahun 2002 berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 2002 yang disahkan pada tanggal 28 Pebruari 2002 tentang Pembentukan Susunan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah Termasuk Pelembagaan Badan Pelayanan Khusus Rumah Sakit Indera Masyarakat Provinsi Bali, dilakukan penggabungan antara UPTD RS Kusta dengan UPTD BKMM menjadi Badan Pelayanan Khusus Rumah Sakit Indera Masyarakat Provinsi Bali (BPRSI). Pada Tahun 2008 BPRSI berubah menjadi Rumah Sakit Indera Provinsi yang ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 2 Tahun 2008 tanggal 8 Juli 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah Provinsi Bali (Lembaran Daerah Provinsi Bali Tahun 2008 Nomor 2). Rumah Sakit Indera Provinsi Bali adalah Rumah Sakit Khusus Kelas A sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 456/MENKES/SK/V/2008 tanggal 9 Mei 2008.
Berdasarkan Peraturan Daerah No 4 Tahun 2015 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2011 Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Perangkat Daerah, nama Rumah Sakit Indera Provinsi Bali diubah menjadi Rumah Sakit Mata Bali Mandara. Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor : 02.03/I/1328/2015 maka RS Mata Bali Mandara menyandang kelas sebagai Rumah Sakit Khusus Mata kelas A.
Dasar hukum sebagai landasan dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi Rumah Sakit Indera Provinsi Bali adalah :
1) Undang undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5063)
2) Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5072);
3) Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 244, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5587);
4) Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia
5 Tahun 2005 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4502) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 171, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5340);
5) Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);
6) Peraturan Pemerintah Nomor 8 tahun 2008 tentang Tata Cara Penyusunan Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Rencana Pembangunan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2008 Nomor 21, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4817).
7) Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 193); 8) Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
340/MENKES/SK/VI/2010 tentang Klasifikasi Rumah Sakit
9) Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1069/MENKES/2010 tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit;
10) Peraturan Daerah Provinsi Bali No.4 Tahun 2011, tanggal 20 April 2011, tentang Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah
11) Peraturan Gubernur Bali No. 87 tahun 2011, tanggal 15 November 2011 tentang Rincian Tugas Pokok Rumah Sakit Indera Provinsi Bali
12) Keputusan Gubernur Bali Nomor 1356/01-F/HK/2012 tanggal 14 Agustus 2012 tentang Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah RS Indera Provinsi Bali.
C. TUGAS POKOK DAN FUNGSI
Tugas pokok dan fungsi Rumah Sakit Indera Provinsi Bali berdasarkan Peraturan Gubernur Bali Nomor 87 Tahun 2011 tanggal 15 November 2011 tentang Rincian Tugas Pokok Rumah Sakit Indera Provinsi Bali. Rumah Sakit Indera Provinsi Bali dipimpin oleh seorang Direktur dengan sebutan Direktur
6 Rumah Sakit Indera Provinsi Bali yang mempunyai Tugas Pokok membantu Gubernur dalam melaksanakan fungsi dan tugas dibidang pelayanan kesehatan.
Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut Direktur Rumah Sakit Indera Provinsi Bali mempunyai fungsi pokok antara lain :
1. Memimpin dan mengurus Rumah Sakit sesuai dengan tujuan rumah sakit yang telah ditetapkan
2. Menetapkan kebijakan operasional rumah sakit
3. Mengkoordinasikan penyusunan rencana dan program kerja rumah sakit 4. Mengatur, mendistribusikan dan mengkoordinasikan tugas-tugas kepada
bawahan
5. Mengevaluasi, mengendalikan dan membina pelaksanaan tugas bawahan
6. Memberikan petunjuk dan bimbingan teknis serta pengawasan kepada bawahan
7. Melaksanakan sistem pengendalian intern
8. Menilai hasil kerja bawahan dan mempertanggungjawabkan hasil kerja bawahan
9. Melaksanakan tugas kedinasan lainnya yang ditugaskan oleh atasan 10. Melaporkan hasil pelaksanaan tugas kepada Gubernur melalui Sekretaris
Daerah
D. STRUKTUR ORGANISASI
Susunan Organisasi Rumah Sakit Indera terdiri dari : 1. Direktur
2. Wakil Direktur Pelayanan.
3. Wakil Direktur Administrasi Sumber Daya. 4. Bidang Pelayanan Medik.
5. Bidang Perawatan.
6. Bidang Penunjang Medik. 7. Bagian Bina Program. 8. Bagian Keuangan.
7 9. Bagian Tata Usaha.
10. Kelompok Jabatan Fungsional. 11. SPI
12. Komite Medik
13. Komite Keperawatan
E. LINGKUNGAN STRATEGIS YANG BERPENGARUH 1. Lingkungan Internal
1.1. Kekuatan
1.1.1. Kualitas dokter spesialis sudah diakui 1.1.2. Motivasi kerja pegawai cukup tinggi 1.1.3. Jumlah manajer cukup
1.1.4. Sistem kepegawaian yang dilaksanakan, dalam batas tertentu telah dapat mengayomi hak pegawai memotivasi untuk melaksanakan kewajibannya serta memberikan inspirasi untuk mengembangkan diri
1.1.5. Sarana medik untuk pelayanan dasar dan tingkat lanjut sebagian besar telah memiliki SPO pelayanan yang memadai 1.1.6. Telah terakreditasi oleh KARS
1.1.7. Telah memiliki sertifikat ISO
1.1.8. Merupakan pusat rujukan pelayanan kesehatan mata di Bali 1.1.9. Sistem informasi yang dikembangkan adalah pertemuan rutin
dan insidental sesuai dengan keadaan yang berkembang 1.1.10. Telah menerima penghargaan Citra Pelayanan Prima (CPP) 1.1.11. Cost recovery rate semakin meningkat dari tahun ke tahun
1.2. Kelemahan
1.2.1. Jumlah dokter Sp.M yang telah memiliki ketrampilan subspesialisasi belum memenuhi 10 subspesialisasi
1.2.2. Jumlah Perawat PK II belum memadai
1.2.3. Dokter spesialis, selain mata (Patologi Klinik, penyakit dalam) sebagai dokter penunjang pelayanan belum tersedia, akuntan masih kurang
8 1.2.4. Jumlah analis laboratorium yang masih
1.2.5. Jumlah pranata rekam medis yang masih kurang 1.2.6. Jumlah ahli teknologi medik yang masih kurang 1.2.7. Pelatihan ketrampilan medik masih kurang
1.2.8. Internalisasi visi,misi, janji layanan dan value masih kurang 1.2.9. perilaku wiraswasta karyawan belum membudaya
1.2.10. Kemampuan SDM dalam mengoperasikan IT saat ini belum optimal
1.2.11. Billing system belum berjalan dengan optimal
1.2.12. Sistem pemasaran yang kurang mengadopsi teknologi
1.2.13. Beberapa peralatan medis yang canggih yang menunjang program subspesialistik belum lengkap
1.2.14. Sarana laboratorium belum lengkap 1.2.15. Lahan parkir masih kurang
1.2.16. Biaya maintenance gedung besar
1.2.17. Kebutuhan ruang pelayanan belum tercukupi 1.2.18. Kemampuan komunikasi ke pasien masih kurang
1.2.19. Masih bergantung pada dana APBD, dan belum mandiri sepenuhnya
1.2.20. Remunerasi belum menarik bagi karyawan
2. Lingkungan Eksternal 2.1. Peluang
2.1.1. Memungkinkan kerjasama dengan pihak ketiga 2.1.2. Pengembangan kerjasama operasional
2.1.3. Adanya subsidi pemerintah dalam hal pembiayaan kesehatan untuk masyarakat (JKBM)
2.1.4. Adanya NGO yang dapat membantu pengembangan SDM 2.1.5. Angka kunjungan setiap tahun semakin meningkat
2.1.6. Kemampuan ekonomi masyarakat (willingness to pay and
ability to pay) cukup baik
2.1.7. Kebiasaan dan perilaku masyarakat untuk berobat ke RS cukup baik
9 2.1.8. Kepercayaan pelanggan semakin membaik
2.1.9. Jalur transportasi yang cukup memadai
2.1.10. Umur harapan hidup semakin meningkat yang berarti peningkatan kebutuhan pelayanan kesehatan indera
2.2. Ancaman
2.2.1. Biaya obat-obatan dan peralatan kedokteran yang semakin mahal
2.2.2. Kebijakan stakeholder yang berubah ubah
2.2.3. Subsidi pemerintah melalui APBD semakin menyusut
2.2.4. Terdapat klinik, Dokter Praktik swasta, LSM, dan rumah sakit di Denpasar yang menyediakan pelayanan di bidang kesehatan mata
2.2.5. Tuntutan mutu pelayanan dari masyarakat yang semakin meningkat
2.2.6. Tuntutan profesionalisme dan kompetensi yang semakin meningkat
10 BAB II
VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN DAN KEBIJAKAN
A.
B.
VISI DAN MISI
Berdasarkan UU No.44 Pasal 19 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit bahwa Rumah Sakit Khusus memberikan pelayanan utama pada satu bidang atau satu jenis penyakit tertentu. Untuk pemenuhan Undang-Undang tersebut, maka visi dan misi RS Indera difokuskan pada pelayanan kesehatan indera penglihatan/mata, sementara pelayanan kulit dan THT menjadi pelayanan tambahan.
Visi : “Rumah Sakit Indera menjadi pusat pelayanan dan rujukan mata regional untuk mewujudkan Bali yang Maju, Aman, Damai dan Sejahtera.” Untuk mewujudkan visi tersebut ditetapkan melalui misi yang merupakan rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi tersebut, maka misi yang akan diuraikan sebagai berikut :
1. Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan Mata Secara Paripurna, Bermutu, berorientasi pada kepuasan masyarakat, terjangkau dan berkeadilan.
2. Menyelenggarakan Pendidikan dan Latihan Keterampilan Di bidang Kesehatan Mata
3. Menyelenggarakan Penelitian dalam Rangka Mendukung Jejaring Pendidikan Dibidang Kesehatan Mata
TUJUAN, SASARAN, DAN KEBIJAKAN
Tujuan, sasaran, dan kebijakan yang dilaksanakan sesuai dengan Matriks Renstra tahun 2013-2018 dapat dijabarkan sebagai berikut:
B.1. Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai selama kurun waktu 2013-2018 yang dijabarkan sesuai dengan Misi Rumah Sakit Indera Provinsi Bali pada setiap program dan kegiatan setiap tahun anggaran adalah sebagai berikut :
11 a. Meningkatkan pelayanan rumah sakit pada masyarakat
b. Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan c. Meningkatkan kemandirian keuangan
d. Meningkatkan kapasitas rumah sakit untuk pendidikan dan pelatihan e. Meningkatkan jumlah penelitian/ pengamatan dalam rangka mendukung
jejaring pendidikan di bidang kesehatan
Dari kelima tujuan tersebut diatas, telah ditetapkan 3 tujuan utama yaitu: 1. Meningkatkan pelayanan rumah sakit pada masyarakat
2. Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan 3. Meningkatkan kemandirian keuangan
B.2. Sasaran:
Tujuan yang telah ditentukan memiliki sasaran sebagai berikut: a. Meningkatnya pelayanan rumah sakit pada masyarakat b. Meningkatnya mutu pelayanan kesehatan
c. Meningkatnya kemandirian keuangan
d. Meningkatnya kapasitas rumah sakit untuk pendidikan dan pelatihan e. Meningkatnya jumlah penelitian/ pengamatan dalam rangka mendukung
jejaring pendidikan di bidang kesehatan
B.3. Kebijakan
Untuk mencapai tujuan dan sasaran tidak bisa terlepas dari kebijakan yang telah ditetapkan, sehingga kebijakan yang telah ditetapkan untuk mencapai tujuan dan sasaran adalah :
1. Meningkatkan pemasaran Rumah Sakit
2. Meningkatkan sarana dan prasarana rumah sakit
3. Meningkatkan manajemen, standar dan kualitas pelayanan kesehatan 4. Meningkatkan profesionalisme sumber daya manusia
5. Meningkatkan mutu pengelolaan anggaran
6. Menyediakan peluang dan lingkungan yang kondusif untuk penelitian
12 BAB III
PROGRAM DAN KEGIATAN TAHUN 2015
A. PROGRAM
Program yang dilaksanakan tahun 2015 adalah Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan pada BLUD, yang dituangkan dalam sebuah kegiatan yaitu Pelayanan Kesehatan pada BLUD
B. HASIL KEGIATAN
Untuk menjabarkan Program yang telah ditetapkan dalam Renstra, perlu diimplementasikan dalam beberapa kegiatan tahunan antara lain :
a. Peningkatan pelayanan rumah sakit pada masyarakat b. Peningkatan mutu pelayanan kesehatan
c. Peningkatan kemandirian keuangan
d. Peningkatan kapasitas rumah sakit untuk pendidikan dan pelatihan
e. Peningkatan jumlah penelitian/ pengamatan dalam rangka mendukung jejaring pendidikan di bidang kesehatan
C. CAPAIAN KEGIATAN PELAYANAN DI RUMAH SAKIT INDERA PROVINSI BALI
Jenis pelayanan yang diberikan oleh Rumah Sakit Indera Provinsi Bali adalah Pelayanan Rawat Jalan, Instalasi Gawat Darurat, dan Rawat Inap. Pelayanan Rawat Jalan meliputi: Klinik Mata, Klinik THT dan Klinik Kulit & Kelamin, Fisioterapi, Tindakan/Operasi, Laboratorium, Farmasi, dan Penunjang Diagnostik.
Kegiatan pelayanan oleh Rumah Sakit Indera Provinsi Bali di tahun 2015 meliputi kegiatan pelayanan luar dan dalam gedung dengan pelayanan utama pada layanan indera penglihatan dan layanan tambahan pada indera pendengaran dan peraba, dengan jumlah total layanan 64.905 orang (Tabel 3.1) dan 79,13% layanan adalah layanan dalam gedung (Tabel 3.2). Layanan fisiotherapi, anesthesia, IGD merupakan layanan terintegrasi pendukung layanan kesehatan indera penglihatan, indera pendengaran dan indera peraba.
13 Tabel 3.1. Pelayanan Pasien oleh
Rumah Sakit Indera Provinsi Bali Provinsi Bali Tahun 2015
No Jenis Pelayanan Jumlah
pelayanan
Prosentase ( % )
1 Indera Penglihatan ( Mata ) 50.252 74,42 2 Indera Pendengaran ( THT ) 3.282 5,06 3 Indera Peraba ( Kulit ) 11.371 17,52
TOTAL 64.905 100
Tabel 3.2. Pelayanan Pasien Dalam dan Luar Gedung oleh Rumah Sakit Indera Provinsi Bali Tahun 2015
No Tempat Pelayanan Jumlah
pelayanan Prosentase ( % ) 1 Dalam Gedung 51.359 79,13 2 Luar Gedung 13.546 20,87 TOTAL 64.905 100
C.1. Capaian Layanan Di Dalam Gedung Rumah Sakit Indera Provinsi Bali
Kegiatan pelayanan di dalam gedung meliiputi kegiatan pelayanan rawat jalan pada poliklinik mata, poliklinik THT dan juga poliklinik kulit. Katarak merupakan layanan terbanyak pada poliklinik mata (tabel 3.3.), di poliklinik THT kasus serumen merupakan kasus terbanyak yang dilayani (tabel 3.5.), dan Dermatitik kontak alergi merupakan kasus rawat jalan terbanyak di poliklinik kulit (tabel 3.6). Untuk kegiatan rawat inap 58% pasien yang dirawat adalah merupakan pasien dengan gangguan retina (tabel 3.4). Poliklinik kulit juga memberikan sub layanan fisiotherapi dimana layanan fisiotherapi pada kasus myalgia merupakan layanan terbanyak (tabel 3.8.) di RS Indera Provinsi Bali. Pada pelayanan Instalasi Gawat Darurat, erosi kornea merupakan kasus terbanyak sejumlah 32%, disusul Corpus Allenum Mata 22% (tabel 3.7).
14 Tabel 3.3. Distribusi 10 Besar Penyakit Pada Kegiatan Pelayanan Rawat Jalan
Poliklinik Mata Rumah Sakit Indera Provinsi Bali Tahun 2015
No. Penyakit Jumlah Kasus Prosentase
1 Other Senile Cataract 3233 33
2 Myopia 1616 17
3 After Cataract 1615 17
4 Pterygium 1021 10
5 Hypermetropia 540 6
6 Presbyopia 489 5
7 Subjective Visual Disturbances 374 4
8 Other Conjunctivitis 341 4
9 Other Disorders of Lacrimal Gland
265 3
10 Hordeolum And Other Deep Inflamation Of Eyelid
246 3
Total 9740 100
Gambar 3.1. Distribusi 10 Besar Penyakit Pada Kegiatan Pelayanan Rawat Jalan Poliklinik Mata Rumah Sakit Indera Provinsi Bali Tahun 2015
15 Tabel 3.4. Data 10 Besar Penyakit Pada Kegiatan Pelayanan Rawat Inap
di Rumah Sakit Indera Provinsi Bali Provinsi Bali Tahun 2015
No. Penyakit Jumlah
Kasus
Prosentase
1
Retinal Detachment With Retinal Break 75 24 2
Serous Retinal Detachment 58 18
3
Proliperatif Diabetic Retinopati 50 16 4
After Cataract 39 12
5
Cataract Senile Matur/Imatur 24 8
6 Complicated Cataract 20 6 7 Aphakia 19 6 8 Vitreous Haemorrhage 12 4 9 Juvenile Cataract 10 3 10
Other Vitreous Opacities 8 3
TOTAL 315 100
Gambar 3.2. Data 10 Besar Penyakit Pada Kegiatan Pelayanan Rawat Inap di Rumah Sakit Indera Provinsi Bali Tahun 2015
16 Tabel 3.5. Sepuluh Besar Penyakit Pada Kegiatan Pelayanan Rawat Jalan
Di Poliklinik THT Rumah Sakit Indera Provinsi Bali Tahun 2015
DIAGNOSA TOTAL PROSENTASE (%)
Cerumen 619 28 Otitis Eksterna 438 20 Tuba Catar 261 12 OMSK 194 9 Rhinoparingitis Akut 166 8 Tinitus 151 7 Rhinitis Kronis 134 6
Otitis Media Akut 99 5
Pharingitis Kronis 67 3
Rhinotonsilitis Akut 62 3
TOTAL 2191 100
Gambar 3.3. Distribusi 10 Besar Penyakit Pada Kegiatan Pelayanan Rawat Jalan Di Poliklinik THT Rumah Sakit Indera Provinsi Bali Tahun 2015
17 Tabel 3.6. Data 10 Besar Penyakit Pada Kegiatan Pelayanan Rawat Jalan
Di Poliklinik Kulit Rumah Sakit Indera Provinsi Bali Tahun 2015
No. Penyakit Jumlah Kasus Presentase (%)
1 DKA 262 29 2 Neurodermatitis 122 13 3 Acne Vulgaris 111 12 4 Vitiligo 102 11 5 Urtikaria 62 7 6 Psoriasis Vulgaris 62 7 7 Tinea Corporis 61 7 8 Dermatitis Seboroik 48 5 9 Dermatitis Atopi 42 5 10 Veruka Vulgaris 40 4 Total 912 100
Gambar 3.4. Data 10 Besar Penyakit Pada Kegiatan Pelayanan Rawat Jalan Di Poliklinik Kulit Rumah Sakit Indera Provinsi Bali Tahun 2015
18 Tabel 3.7. Data 10 Besar Penyakit Pada Kegiatan Pelayanan
Di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Indera Provinsi Bali Provinsi Bali Tahun 2015
No. Penyakit Jumlah Kasus Presentase
1
Erosi Kornea 255 32
2
Corpus Allenum Mata 173 22
3
Conjungtivitis 113 14
4
Trauma Kimia 70 9
5
Corpus Allenum Telinga 63 8
6
Sub Conjungtiva Bleeding 40 5
7 Otitis Eksterna 28 4 8 Cerumen 19 2 9 Ruptur Conjungtiva 16 2 10 Trauma Thermal 13 2 TOTAL 724 100
Gambar 3.5. Data 10 Besar Penyakit Pada Kegiatan Pelayanan di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Indera Provinsi Bali Tahun 2015
19 Tabel 3.8. Data 10 Penyakit Pada Kegiatan Pelayanan Rawat Jalan
di Fisioterapi Rumah Sakit Indera Provinsi Bali Tahun 2015
No. Penyakit Jumlah Kasus Presentase (%)
1 Myalgia 46 47 2 Tuba Catar 17 17 3 Sinusitis Maxilaris 13 13 4
Low Back Pain 8 8
5 Osteoartritis 5 5 6 Frozhen Shoulder 3 3 7 Tendinitis 2 2 8 Bells Palsy 2 2 9 Rhinitis Kronis 2 2 10 Morbus Hansen 1 1 TOTAL 99 100%
Gambar 3.6. Data 10 Besar Penyakit Pada Kegiatan Pelayanan Rawat Jalan di Fisioterapi Rumah Sakit Indera Provinsi Bali Tahun 2015
20 C.2. Capaian kegiatan Pelayanan Luar gedung dan Operasi katarak
Sesuai dengan SK Gubernur No. 744/03-B/HK/2015, tanggal 5 Februari 2015 tentang pembentukan susunan keanggotaan Komite PGPK Provinsi Bali yang anggotanya terdiri dari PERDAMI, Dinas Kesehatan Provinsi Bali, PKK dan RS Indera, melaksanakan kegiatan penanggulangan gangguan kebutaan dimana bekerjasama dengan Komite Penanggulangan Gangguan Penglihatan dan Kebutaan (PGPK) Kabupaten/Kota serta Puskesmas diseluruh Bali untuk memberi pelayanan di Desa melalui bus klinik keliling. Kegiatan PGPK meliputi kegiatan penyuluhan, screening dan juga operasi katarak. Hasil kegiatan pelayanan operasi katarak berupa rujukan medik spesialistik selain operasi dalam gedung. Di tahun 2015 total operasi katarak yang telah dilaksanakan oleh Rumah Sakit Indera Provinsi Bali sebanyak 2935. Diantaranya, 2613 dilakukan di dalam gedung dan 322 tindakan rujukan medik spesialistik (bus operasi keliling).
Disamping pelayanan kesehatan indera yang dilaksanakan di dalam gedung Rumah Sakit Indera Provinsi Bali, terdapat pula kegiatan pelayanan rujukan medik ke masyarakat berupa kegiatan screening dan bakti sosial. Hasil kegiatan screening akan dianalisa dan kemudian baru ditentukan pasien dengan indikasi untuk dioperasi. Sedangkan bakti sosial dilaksanakan pada momen-momen tertentu seperti hari-hari nasional, contohnya Bulan Bakti Gotong Royong, Hari Keluarga Nasional dan lain-lain dan juga atas permintaan pihak swasta. Di Tahun 2015 telah dilaksanakan 97 kali kegiatan Screening dengan total layanan 2782 pasien dan 61 kali kegiatan bakti sosial dengan total layanan 10442 pasien (tabel 3.9.).
Table 3.9. Target dan Realisasi Capaian Kinerja Pelayanan Rujukan Medik ke Masyarakat di Rumah Sakit Indera Provinsi Bali
Tahun 2015
No Rujukan Medik ke Masyarakat Satuan Target Realisasi
1 Pelayanan Screening Orang 1972 2782
21 Gambar 3.7 Target dan Realisasi Capaian Kinerja Pelayanan Rujukan Medik ke
Masyarakat di Rumah Sakit Indera Provinsi Bali Tahun 2015
Gambar 3.8 Target dan Realisasi Capaian Kinerja Pelayanan Bakti Sosial ke Masyarakat di Rumah Sakit Indera Provinsi Bali
22 Hasil kegiatan Screening di luar gedung untuk 10 besar penyakit mata didominasi oleh penyakit Katarak dan Gangguan lain lensa (Tabel 3.10).
Sedangkan untuk kegiatan Bakti sosial, 10 besar penyakit mata luar gedung didominasi penyakit Gangguan Refraksi dan Akomodasi dengan total jumlah kasus 2747 kasus (Tabel 3.11.)
Table 3.10. Sepuluh Besar Penyakit Pada Kegiatan Screening Tahun 2015
NO PENYAKIT JUMLAH KASUS
1. Katarak & Gangguan Lain Lensa 643
2. Gangguan Refraksi dan Akomodasi 356
3. Konjungtivitis & Gangguan Lain Konjungtiva 236
4. Pseudofakia 114
5. Gangguan Lain Retina 69
6. Gangguan Sistem Lakrimal & Orbita 47
7. Glaukoma 35
8. Keratitis Dan Gangguan Sklera & Kornea 33
9. Penyakit Lain Mata dan Adneksa 19
10. Ablasi dan kerusakan retina 16
TOTAL 1568
Tabel 3.11. Sepuluh Besar Penyakit Pada Kegiatan Bakti Sosial Tahun 2015
NO PENYAKIT JUMLAH KASUS
1. Gangguan Refraksi dan Akomodasi 2747 2. Gangguan Sistem Lakrimal & Orbita 167 3. Penyakit lain mata dan adneksa 77 4. Katarak dan Gangguan lain lensa 62 5. Konjungtivitis & Gangguan Lain 55
6. Gangguan lain Kelopak Mata 14
23
8. Pseudofakia 4
9. Gangguan Lain Retina 3
10. Indosiklitis dan gangguan lain iris dan badan silier 2
TOTAL 3141
D. PENCAPAIAN MUTU PELAYANAN D.1. Pencapaian Standar Pelayanan
D.1.1. Pencapaian Standar Pelayanan Minimal
Berdasarkan Pergub Nomor 54 Tahun 2012 tentang Standar Pelayanan Minimal, terdapat beberapa Indikator akuntabilitas kinerja dan target pencapaian kinerja yang ditetapkan sebagai Standar Pelayanan Minimum. Pencapaian SPM tahun 2015 dari 73 indikator yang dinilai adalah sebesar 95,89%, melampaui target yang telah ditetapkan yaitu sebesar 94,52%. Terdapat 3 indikator yang belum bisa dipenuhi yaitu:
1. Pemenuhan baku mutu limbah cair (Target 100%, capaian 75%) Penyebab tidak terpenuhinya :
Air laundry yang banyak mengandung deterjen langsung masuk ke sistem pengolahan limbah, deterjen yang digunakan di laundry belum ramah lingkungan, pompa airasi kurang besar sehingga kandungan oksigen dalam air kurang dan bibit bakteri Biogue yang kurang
Rencana Perbaikan :
Mengganti detergen laundry dengan detergen yang ramah lingkungan, mengganti pompa airasi dengan yang lebih besar, menambah bibit bakteri biogue setiap bulan dan melakukan cek ulang lab.
2. Persentase pelaksanaan verifikasi pemeriksaan laboratorium (Target 100%, capaian 87,03%)
Penyebab tidak terpenuhi :
Faktor personil (kesalahan pembacaan oleh analis), kesalahan sistematis (berkaitan dengan metode dan reagan), dan pengiriman sampel yang tertunda (bisa menjadi penyebab tumbuhnya bakteri/jamur)
24 Rencana perbaikan ;
Merencanakan pengadaan KOH setiap 1 tahun sekali, merencanakan pengadaan box tertutup dan merencanakan pelatihan petugas.
3. Persentase peralatan laboratorium (dan alat ukur medis yang lain) yang terkalibrasi tepat waktu (Target 100%, capaian; 75%)
Penyebab tidak terpenuhi :
Tenaga kalibrasi dari Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) Surabaya berhalangan hadir oleh karena adanya perubahan sistem kalibrasi out door di BPFK Surabaya, alat kalibrator pada perusahaan/pihak ketiga lainnya tidak ada atau tidak lengkap, adanya perusahaan/pihak ketiga lainnya mampu melakukan kalibrasi akan tetapi perusahaan tersebut belum tersertifikasi KAN (Komite Akreditasi Nasional), ada perusahaan/pihak ketiga lainnya mampu melakukan kalibrasi sebagian dari total alat yang akan dikalibrasi akan tetapi biayanya jauh lebih mahal dari standar yang ada di BPFK Surabaya.
Rencana perbaikan :
Buat MoU dengan BPFK Surabaya tentang pengkalibrasian peralatan laboratorium (dan alat ukur medik lain) dan Rescheduling kalibrasi sesuai yang disepakati dari pihak BPFK Surabaya.
D.1.2. Pencapaian Standar Pelayanan Mutu Prioritas Rumah Sakit
Rata rata capaian Standar Pelayanan Mutu Prioritas Rumah Sakit adalah 90,32%, dimana dari 31 indikator yang yang ditentukan, RS Indera Provinsi Bali telah berhasil memenuhi 28 indikator, dimana:
1. Dari 16 indikator mutu klinik 2 indikator tidak terpenuhi yaitu : a. Kesalahan penulisan resep (target 0%, capaian 0,27%)
b. Kepatuhan pengisian resume medis (target 100%, capaian 86,67%) 2. Dari 6 indikator keselamatan pasien, 1 indikator tidak terpenuhi yaitu:
3. Kepatuhan petugas kesehatan dalam melaksanakan kebersihan tangan dengan enam langkah dan lima momen (target: 100% , capaian : 90,6 %) Sembilan indikator dibidang manajemen telah terpenuhi semuanya, sehingga capaian di bidang ini adalah 100%
25 D.2. Survei Kepuasan Masyarakat
Survei dilakukan pada 196 orang pengguna jasa pelayanan kesehatan di RS Indera Provinsi Bali dalam jangka waktu 2 minggu, dimulai minggu kedua bulan September 2015 yaitu dari tanggal 14 s.d 26 September 2015 (tabel 3.12).
Tabel 3.12. Hasil Survei Kepuasan Masyarakat di RS Indera Tahun 2015
No. Unit Layanan Jumlah Sampel Persentase (%)
1 Mata 139 68.88 2 THT 14 7.14 3 Kulit 16 7.65 4 OK 14 7.14 5 IGD 4 2.04 6 Rawat Inap 1 0.51 7 Pengunjung RS 8 4.08 8 Total 196 100
Rata rata tingkat kesesuaian antara harapan dan kinerja dari 9 unsur yang dinilai berdasarkan KEP/16/M.PAN-RB/2014 adalah 88.98 %. Masyarakat sangat puas dengan pelayanan yang diberikan oleh RS Indera Provinsi Bali, terutama terhadap perilaku pelaksana disusul (kesopanan dan keramahan) dengan kesesuaian tarif biaya, dan Produk Spesifikasi Jenis Pelayanan. Terdapat 15 pasang pertanyaan yang disurveikan, dan didapatkan bahwa prioritas utama perbaikan di RS Indera Provinsi Bali dalam peningkatan kinerjanya meliputi 2 komponen yaitu: efisiensi waktu pelayanan dan penjelasan dokter. Kedua komponen tersebut diatas perlu mendapatkan tindak lanjut untuk dapat memberikan pelayanan yang lebih optimal kepada masyarakat.
E. PENCAPAIAN DI BIDANG KEUANGAN
Pencapaian kinerja sasaran, program dan kegiatan di Rumah Sakit Indera Provinsi Bali ditunjang dengan jumlah dana sebesar Rp. 51.209.200.312,- dan
26 realisasi pengeluarannya sebesar Rp. 43.864.909.249,00 (tabel 3.13). Capaian kinerja dari segi pendapatan tahun 2015, sudah tercapai 103,04 % dari target yang ditetapkan (Tabel 3.13). Sedangkan dalam melaksanakan program dan kegiatan tahun 2015 tidak ditemukan adanya permasalahan yang mempengaruhi pencapaian program oleh karena pencapaian fisik 100% dan keuangannya (belanja langsung dan belanja tidak langsung) sebesar 85,66%.
Ditinjau dari tingkat kemandirian keuangan Rumah Sakit Indera Provinsi Bali mencapai cost recovery rate sebesar 149,11% dari nilai 100% yang ditargetkan.
Tabel 3.13. Capaian kinerja keuangan Rumah Sakit Indera Provinsi Bali tahun 2015
Program Kegiatan Uraian Anggaran Realisasi Persen-
tase (%) Peningkatan Pelayanan Kesehatan Pada BLUD Pelayanan Kesehatan Pada BLUD Pendapatan 1.Pendapatan Asli Daerah 32.903.600.000 33.902.365.005,28 103,04 2.Dana Perimbangan 0 0 Total Pendapatan 32.903.600.000 33.902.365.005,28 103,04 Belanja 1.Belanja tidak langsung 20.440.446.392 18.584.065.372 90,92 2.Belanja Langsung 30.768.753.920 25.280.843.877 82,16 a. Belanja Pegawai 851.462.600 786.791.560 92,40 b. Belanja Barang dan Jasa 27.072.991.320 21.949.728.610 81,08 c. Belanja Modal 2.844.300.000 2.544.323.707 89,45 Total Belanja 51.209.200.312 43.864.909.249 85,66
27 F. PENINGKATAN KAPASITAS RUMAH SAKIT UNTUK PENDIDIKAN DAN
PELATIHAN
Dalam mendukung peningkatan kapasitas Rumah Sakit untuk pendidikan dan pelatihan RS Indera Provinsi Bali juga melakukan pengembangan sumber daya manusia dengan menyertakan pegawai/karyawan dalam berbagai pelatihan pelatihan (Lampiran 2)
Di tahun 2015, sebagai bagian dari jejaring pendidikan terdapat 301 permintaan penempatan dokter Muda di RS Indera Provinsi Bali. RS Indera Provinsi Bali dapat memenuhi 100% permintaan tersebut. Dimana dalam melaksanakan program jejaring tersebut, 204 orang dokter muda melaksanakan pendidikan di bagian Mata, 39 orang di bagian THT, dan 58 orang di bagian Kulit & Kelamin. Sedangkan untuk pendidikan spesialisasi, telah diikuti oleh 26 orang dokter residen mata dan 8 orang dokter residen kulit. Terdapat 29 jumlah permintaan magang di RS Indera Provinsi Bali di tahun 2015, terdiri dari 20 permintaan oleh dokter dan 9 permintaan oleh tenaga kesehatan lainnya. Dari 29 permintaan ini RS Indera Provinsi Bali hanya dapat memenuhi 79,31%, dimana 6 orang dokter dari 12 orang yang mengajukan permohonan magang ke bagian kulit di tahun 2015, belum dapat melakukan aktivitas magang di tahun 2015.
G. PENINGKATAN JUMLAH PENELITIAN/PENGAMATAN DALAM RANGKA MENDUKUNG JEJARING PENDIDIKAN DI BIDANG KESEHATAN
Di tahun 2015 terdapat 17 penelitian di RS Indera Provinsi Bali yang dilaksanakan oleh mahasiswa ilmu kesehatan.
28 BAB IV
ANALISA HASIL KEGIATAN TAHUN 2015
A. PENCAPAIAN INDIKATOR KINERJA UTAMA
Penyusunan pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah digunakan untuk menilai keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan kegiatan sesuai dengan program, sasaran yang telah ditetapkan dalam rangka mewujudkan visi dan misi instansi pemerintah. Pengukuran kinerja dilaksanakan terhadap Indikator Kinerja Utama (IKU) yang ditetapkan. Selain itu pengukuran kinerja juga dilaksanakan terhadap indikator kinerja kegiatan.
Tabel 4.1. Capaian Indikator Kinerja Utama (IKU) Tahun 2015
Sasaran Indikator Kinerja Utama Target Realisasi
Meningkatnya Pelayanan Rumah
Sakit pada
masyarakat
Jumlah pelayanan kesehatan pada Rumah Sakit Indera Provinsi Bali
64.894 pasien
64.905 pasien
Persentase rujukan yang
tertangani 80% 99,58%
Meningkatnya mutu pelayanan
Presentase Pencapaian Standar
Pelayanan Minimal (SPM) 94,52 % 95,89%
Persentase Kepuasan Masyarakat 80 % 88,98%
Meningkatnya tingkat kemandirian keuangan
Cost recovery rate 100% 149,11%
B. HASIL PELAYANAN RUMAH SAKIT PADA MASYARAKAT
Hasil pelayanan kesehatan Indera tahun 2011 sampai dengan 2015 di Rumah Sakit Indera Provinsi Bali dapat dijelaskan sebagai berikut :
29 Tabel 4.2. Realisasi Jumlah pelayanan kesehatan pada Rumah Sakit Indera
Provinsi Bali tahun 2011 s.d. tahun 2015 Indikator
kinerja Tahun Target Realisasi %
Jumlah pelayanan kesehatan pada Rumah Sakit Indera Provinsi Bali 2011 46.596 60.350 129,52 2012 49.758 60.380 121,35 2013 52.820 64.252 121,64 2014 64.573 70.797 109,64 2015 64.894 64.905 100,02
Gambar 4.1. Trend pencapaian kunjungan dari tahun 2011 s.d. 2015
Capain Jumlah pelayanan kesehatan pada RS Indera Provinsi Bali di tahun 2015 melampaui target yang telah ditentukan. Terdapat penurunan capaian sebesar 8,31% , jika dibandingkan dengan capaian di tahun 2014. Hal ini tidak terlepas dari adanya kebijakan tentang sistem pelayanan rujukan pada BPJS, serta tidak dilaksanakannya kegiatan screening anak sekolah, yang sebelumnya merupakan bagian dari kegiatan di tahun 2014. Optimalisasi pemanfaatan RSUD sebagai PPK II, dan status RS Indera Provinsi Bali sebagai RS Khusus Mata kelas A secara tidak langsung menjadi penyebab penurunan pelayanan di RS Indera Provinsi Bali. Sebelum kebijakan ini berlaku, untuk pasien pasien
30 BPJS puskesmas dapat langsung merujuk pasien ke RS Indera Provinsi Bali, akan tetapi di tahun 2015, rujukan berlangsung berjenjang yaitu melalui RSUD selanjutnya ke RS Indera Provinsi Bali apabila pasien tidak bisa ditangani disana.
Terdapat penurunan jumlah pelayanan operasi Katarak baik operasi di RS Indera Provinsi Bali maupun Rujukan Medik Spesialistik di tahun 2015, jika dibandingkan dengan capaian di tahun 2014 (Tabel 4.3). Penurunan jumlah operasi di dalam gedung berkaitan pula dengan dengan sistem rujukan BPJS, dimana beberapa rumah sakit daerah telah mampu melaksanakan operasi mandiri.
Tabel 4.3. Jumlah Pelayanan Operasi Dalam Gedung dan Rujukan Medik Spesialistik Tahun 2011 – 2015
No Tahun Operasi Dalam Gedung Rujukan Medik Spesialistik Jumlah 1 2011 1.699 500 2.199 2 2012 2.125 525 2.650 3 2013 2.585 482 3.067 4 2014 4.406 310 4.716 5 2015 4.043 322 4.365
Fungsi Rumah Sakit sebagai pusat rujukan dapat terlihat dengan terlayaninya 99.58% rujukan yang diterima di tahun 2015. Terdapat peningkatan capaian jika dibandingkan dengan capaian tahun 2014, dimana di tahun 2014 persentase rujukan yang tertangani adalah 98,54%
C. PENINGKATAN MUTU PELAYANAN RUMAH SAKIT
Pencapaian SPM tahun 2015 adalah sebesar 95,89%, melampaui target 94,52%. Terdapat penurunan capaian SPM jika dibandingkan dengan capain di tahun 2014, pencapaian SPM di tahun 2014 adalah 97,18%.
Hasil Survei kepuasan masyarakat tahun 2015 adalah 88,98%. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat yang datang ke RS Indera
31 Provinsi Bali sudah merasa sangat puas. Dalam 5 tahun terakhir Masyarakat sangat puas dengan pelayanan yang diberikan oleh Rumah Sakit Indera Provinsi Bali (Tabel 4.4.)
Tabel 4.4. Kepuasan Masyarakat pada layanan Rumah Sakit Indera Provinsi Bali tahun 2011 - 2015
Indikator
kinerja Tahun Target Realisasi
Persentase kepuasan Masyarakat 2011 - 82,49* 2012 - 82,50* 2013 80,0* 81,37* 2014 82,3* 82,36* 2015 80% 88,98% * indeks kepuasan
D. TINGKAT KEMANDIRIAN KEUANGAN
Tingkat kemandirian keuangan dinilai dengan cost recovery rate, yaitu persentase perbandingan jumlah pendapatan layanan dibagi biaya operasional diluar biaya pegawai.
Tabel 4.5.Tingkat kemandirian keuangan Rumah Sakit Indera Provinsi Bali Tahun 2014 - 2015
Indikator
kinerja Tahun Target Realisasi
Tingkat Kemandirian Keuangan
2014 100% 164,46%
32 E. PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DI BIDANG
KESEHATAN INDERA
Terdapat peningkatan pelaksanaan jumlah penelitian di bidang kesehatan indera, jika dibandingkan dengan kegiatan penelitian di tahun 2014. Jika sebelumnya di tahun 2014 jumlah penelitian yang dilaksanakan oleh mahasiswa di RS Indera Provinsi Bali adalah 9 penelitian, di tahun 2015 terdapat 17 kegiatan penelitian.
Terdapat dua penelitian intern yang dilaksanakan oleh RS Indera Provinsi Bali. Jika dibandingkan dengan tahun sebelummya target dan capaian telah mengalami peningkatan. Kedepannya penelitian intern diharapkan dapat meningkat tidak hanya terbatas pada penelitian deskriptif akan tetapi juga penelitian - penelitian kesehatan yang sifatnya analitik dan lebih berorientasi pada penelitian klinik.
F. PENGHARGAAN YANG DITERIMA RUMAH SAKIT INDERA PROVINSI BALI DI TAHUN 2015
F.1. Sertifikasi Akreditasi
Akreditasi rumah sakit adalah merupakan suatu kegiatan survei yang dilakukan oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS), untuk mendapatkan pengakuan dari pemerintah karena telah memenuhi standard pelayanan dan management.
Pada tanggal 22 November tahun 2010, RS Indera Provinsi Bali mendapatkan sertifikat Akreditasi dengan status Penuh Tingkat Dasar. Sertifikat ini diberikan sebagai pengakuan bahwa rumah sakit telah memenuhi standar pelayanan rumah sakit yang meliputi: administrasi dan manajemen, pelayanan medis, pelayanan gawat darurat, pelayanan keperawatan, dan rekam medis. Tanggal 29 September – 1 Oktober 2015, telah dilakukan survei kembali oleh Tim KARS, dan pada tanggal 19 November RS Indera Provinsi Bali telah mendapatkan sertifikat Akreditasi dengan status ‘’Paripurna’’.
33 F.2. Sertifikasi ISO 9001-2000 dan ISO 9001-2008
Pada Bulan November 2015 dilakukan survei tahunan untuk ISO 9001:2008, dan dinyatakan masih memenuhi syarat hingga tahun 2017, dimana akan dilakukan survei kembali November 2016 sebagai syarat validitas sertifikasi.
34 BAB V
PERMASALAHAN DAN PEMECAHAN
Dalam melaksanakan program dan kegiatan di tahun 2015 terdapat beberapa masalah yang memerlukan pemecahan antara lain:
Bangunanan fisik RS Indera Provinsi Bali di Jl. Angsoka No. 8 yang ada saat ini belum memadai untuk dapat memberikan pelayanan yang optimal. Ruang tunggu yang kecil, dan jumlah ruangan untuk pelayanan subspesialis mata belum cukup untuk memenuhi tuntutan pelayanan 10 sub spesialis, sesuai dengan Permenkes Nomor 56 tahun 2015
Jumlah dokter spesialis mata yang kurang, untuk dapat memenuhi kebutuhan layanan subspesialis
Belum terpenuhinya standar alat baik peralatan medis maupun penunjang medis yang sesuai dengan Permenkes No. 56 Tahun 2015
Dengan demikian Rumah Sakit Indera Provinsi Bali telah melakukan beberapa tindak lanjut untuk dapat mengatasi masalah yang sedang dihadapai yaitu:
Pengembangan RS Indera Provinsi Bali memanfaatkan lokasi Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali di Jl. Angsoka Denpasar. Kerjasama dengan RSUP Sanglah dan FK UNUD khususnya dalam usaha
memenuhi kebutuhan dokter subspesialis Mengajukan usulan formasi ke BKD
Menyekolahkan 3 orang dokter umum untuk spesialisasi mata dengan mencarikan beasiswa dari Kementerian Kesehatan
Mengusulkan penambahan sarana prasarana rumah sakit pada sumber dana APBN dan APBD
35 BAB VI
PENUTUP
Rumah Sakit Indera Provinsi Bali Provinsi Bali merupakan unsur pelaksana Pemerintah Provinsi Bali dalam bidang pelayanan kesehatan indera dan bertanggung jawab kepada Gubernur Bali. Sesuai dengan Peraturan Gubernur Bali Nomor 87 Tahun 2011 tentang Rincian Tugas Pokok Rumah Sakit Indera Provinsi Bali, mempunyai tugas pokok membantu Gubernur dalam menyelenggarakan Pemerintahan dibidang Kesehatan Indera. Dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi Rumah Sakit Indera Provinsi Bali telah menyusun Rencana Strategik 2013-2018, yang mengacu pada Rencana Strategik Provinsi Bali. Dalam rencana strategik tersebut tercantum Visi Rumah Sakit Indera yaitu “RS Mata Bali Mandara Menjadi Pusat Pelayanan Dan Rujukan Mata Regional Untuk Mewujudkan Bali Yang Maju, Aman, Damai, dan Sejahtera“. Program dan kegiatan yang dilaksanakan di tahun 2015 mengacu pada Renstra yang telah ditetapkan. Program Peningkatan Pelayanan Kesehatan pada BLUD, yang dituangkan dalam sebuah kegiatan yaitu Pelayanan Kesehatan pada BLUD telah terlaksana dengan baik
Capaian kinerja di tahun 2015 telah sesuai target yang ditentukan, dan terdapat beberapa indikator yang telah melewati target yang ditetapkan. Rumah Sakit Indera Provinsi Bali telah berhasil memperoleh beberapa prestasi diantaranya predikat Paripurna dari KARS dan tersertifikasi ISO 9001:2008 di tahun 2015
Diperlukan pula program dan kegiatan yang berkesinambungan untuk dapat mencapai Visi dan Misi yang telah ditetapkan.Capaian oleh Rumah Sakit Indera Provinsi Bali diharapkan akan memberikan kontribusi dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomi.