DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM Direktorat Jenderal Cipta Karya MODUL KHUSUS FASILITATOR F22. Pelatihan Madya 1. Belajar Bersama. PNPM Mandiri Perkotaan

36 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

Belajar Bersama

MODUL KHUSUS FASILITATOR

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM

Direktorat Jenderal Cipta Karya

Pelatihan Madya 1

F22

(2)

Modul 1 Mitra Belajar 1 Kegiatan 1: Permainan Perkenalan 2 Kegiatan 2: Mengisi Biodata 2

Modul 2 Orientasi Belajar 7 Kegiatan 1 : Penjelasan Harapan dan Rangkaian Pelatihan 8 Kegiatan 2 : Penjelasan Garis Besar Program Pembelajaran 8

Modul 3 Kontrak Belajar 17 Kegiatan 1 : Curah Pendapat dan Diskusi Harapan Bersama 18 Kegiatan 2 : Penyepakatan Mekanisme Belajar 19

(3)

Modul 1

Topik: Mitra Belajar

1. Saling mengenal, saling memahami dan menghargai perbedaan 2. Peserta mampu menciptakan keakraban

Kegiatan 1: Permainan perkenalan Kegiatan 2: Mengisi Biodata

1 Jpl ( 45 ’)

Bahan Bacaan:

1. Jenis – Jenis Permainan perkenalan 2. Biodata peserta

• Kertas Plano

• Kuda-kuda untuk Flip-chart • Metaplan

• Papan Tulis dengan perlengkapannya • Spidol, selotip kertas dan jepitan besar

(4)

Permainan Perkenalan

Buka pertemuan dengan salam singkat dan uraikan kepada peserta bahwa kita akan memulai pelatihan ini dengan perkenalan peserta. Sebelum kegiatan ini dimulai, pemandu kelas harus sudah memilih cara perkenalan yang akan digunakan. Cara perkenalan yang dipilih sebaiknya menjadi proses awal membangun dinamika kelas. Jika menggunakan permainan sebagai cara untuk melakukan perkenalan, siapkan peralatan yang akan digunakan untuk kegiatan tersebut. Seluruh peserta (pemandu kelas, wakil pemandu, panitia, dll) di dalam kelas ikut serta dalam permainan perkenalan ini. Contoh jenis-jenis perkenalan dapat dilihat pada Bahan Bacaan : Metoda Permainan.

Mengisi Biodata

1) Bagikan formulir bio data dan name tag kepada seluruh peserta. Data yang di minta dapat disesuaikan dengan kebutuhan penyelenggara pelatihan.

2) Minta peserta untuk mengisi formulir tersebut dan tanda pengenal (name tag) yang telah dibagi dengan nama panggilan dgn tulisan yg cukup besar dan jelas dibaca.

3) Kumpulkan formulir setelah selesai diisi oleh seluruh peserta.

4) Minta peserta untuk menggunakan identitas / tanda pengenal (name tag). 5) Tutup kegiatan dan ucapkan terima kasih.

(5)

Perkenalan

Siapa Dia ?

Petunjuk :

• Minta semua peserta untuk berdiri dan membentuk lingkaran

• Minta seorang peserta untuk memperkenalkan nama dan satu hal lain mengenai dirinya dalam bentuk satu kalimat pendek ( tidak boleh lebih dari 6 kata ), missal :Nama saya Retno, fasilitator PNPM .Nama saya Rachman, Relawan

• Mintalah peserta kedua untuk mengulang kalimat peserta pertama, baru kemudian memperkenalkan dirinya sendiri, misal : teman saya Retno, fasilitator, saya Mika, guru sekolah

• Peserta ketiga harus mengulang kalimat 2 peserta sebelumnya sebelum memperkenalkan diri, demikian seterusnya sampai seluruh peserta memperoleh gilirannya.

• Apabila peserta tidak dapat mengingat nama dan apa yang dikatakan 2 peserta lainnya, maka ia harus menanyakan langsung pada yang bersangkutan : ‘siapa nama anda?’ atau ‘siapa nama anda dan apa yang anda katakan tadi ?’

(6)

Perkenalan

Kisah Angka Angka

Permainan ini dipakai agar peserta mengenal satu sama lain dengan cara santai dan menghapuskan kekakuan.

Langkah langkah :

• Mintalah seluruh peserta berhitung dari nomor 1 dan seterusnya sampai selesai ( habis) • Minta setiap peserta mengingat nomor urutnya masing-masing dengan baik, jika perlu

lakukan pengujian dengan menyebut secara acak beberapa angka dan minta peserta yang disebut nomornya utntuk menyahut ‘ya’!, atau tunjuk beberapa orang peserta secara acak dan tanyakan nomor urut berapa dia .

• Tegaskan sekali lagi apakah mereka benar – benar mengingat nomor urutnya masing – masing.

• Setelah yakin, jelaskan bahwa anda akan menyampaikan suatu berita atau suatu cerita tertentu di mana dalam sepanjang cerita itu akan disebut sejumlah angka – angka. Peserta yang disebut angka atau nomor urutnya diminta segera berdiri dan langsung meneriakkan namanya keras – keras kepada seluruh peserta lain. Jika terlambat 3 detik, peserta dikenakan hukuman ramai – ramai oleh peserta lain. Hukuman berupa hal – hal yang menghibur dan membuat akrab peserta.

• Tanyakan kepada peserta apakah mereka paham peraturan tersebut ?, jika perlu ulangi sekali lagi dan berikan contoh.

• Mulai bercerita, misalnya : saudara – saudara, latihan ini sebenarnya sudah direncanakan sejak 5 bulan yang lalu, tapi karena beberapa hal, barulah 3 bulan yang lalu ada kejelasan dan kemudian dipersiapkan oleh 8 orang panitia ……….. dst. Atau cerita lain yang anda karang sendiri pada saat itu ( yang penting, dalam cerita itu ada disebutkan angka – angka nomor urut peserta setiap satu kalimat atau setiap selang satu menit ).

• Lakukan sampai separuh peserta tersebut nomornya atau seluruhnya (bergantung kepada kecepatan anda dan peserta dan sesuai dengan waktu yang tersedia)

• Lakukan diskusi dengan peserta tentang apa makna permainan ini dan dapat digunakan untuk apa saja dalam kegiatan latihan, termasuk perasaan – persaan peserta sendiri. • Simpulkan

(7)

Perkenalan

Mencari Jodoh

Petunjuk :

• Buatlah kalimat pendek yang berhubungan dengan materi pelajaran yang akan diberikan , misal : Bersama Membangun Kepedulian. Kalimat yang dibuat sebanyak setengah dari jumlah peserta, kalau peserta 20 orang, harus disediakan 10 kalimat.

• Pecahlah kalimat tersebut ke dalam dua bagian dan ditulis di kertas , misal untuk kalimat tadi satu kertas berisi kalimat Bersama Membangun dan satu kertas berisi kata Kepedulian.

• Gulunglah kedua kertas yang berisi tulisan tadi.

• Bagikan kertas – kertas tergulung yang sudah disiapkan sebanyak jumlah peserta (apabila peserta ganjil, satu orang berpasangan dengan pemandu sendiri )

• Minta peserta untuk membuka gulungan kertas masing – masing dan membaca isinya yaitu sepotong kalimat yang belum lengkap.

• Minta peserta untuk mencari pasangannya masing – masing agar kalimat itu menjadi lengkap.

• Minta setiap pasangan berkenalan dan mendiskusikan arti kalimat tersebut.

• Minta peserta berkumpul lagi dan meminta setiap pasangan memperkenalkan pasangannya dan menyampaikan arti kalimat kepada peserta yang lain.

(8)

Perkenalan

Berdirilah Jika …………

Petunjuk :

• Minta semua peserta untuk duduk membentuk lingkaran, lalu pemandu berdiri di tengah. • Jalaskan kepada peserta bentuk permainannya, yaitu setiap pemandu mengucapkan

kalimat , peserta mengucapkan kalimat, peserta diminta berdiri apabila kalimat itu sesuai dengan dirinya; misal : “ Keluarga saya adalah keluarga pedagang….. “; “ Saya seorang perempuan yang berani bicara di depan publik……. “ dsb.

• Ucapkan kalimat – kalimat yang relevan dengan keadaan peserta ( jangan sampai ada peserta yang tidak pernah berdiri), contoh – contoh kalimat misalnya :

9 Saya adalah petugas lapangan 9 Saya lahir di pedesaan

9 Saya lahir di kota besar

9 Saya memiliki hobby membaca, dsb

• Setelah selesai, minta seluruh peserta untuk memperkenalkan nama, asal, dan hal lain yang berkenaan dengan dirinya secara singkat.

(9)

Modul 2

Topik: Orientasi Belajar

Peserta memahami 1. Tujuan Pelatihan

2. Apa yang akan diperoleh dan bagaimana pelatihan akan dilakukan

Kegiatan 1: Penjelasan harapan dan rangkaian pelatihan Kegiatan 2: Penjelasan Garis Besar Program Pembelajaran

1 Jpl ( 45 ’)

Bahan Bacaan:

1. Harapan dan Rangkaian Pelatihan 2. GBPP Pelatihan

• Kertas Plano

• Kuda-kuda untuk Flip-chart • LCD

• Metaplan

• Papan Tulis dengan perlengkapannya • Spidol, selotip kertas dan jepitan besar

(10)

Penjelasan Harapan dan Rangkaian Pelatihan

1) Buka pertemuan dengan salam singkat dan uraikan kepada peserta bahwa kita akan memulai dengan Modul Orientasi Belajar yang terdiri dari dua kegiatan belajar. Jelaskan tujuan dari modul ini.

2) Jelaskan bahwa kita akan memulai modul ini dengan kegiatan 1 yaitu Penjelasan mengenai Harapan dan Rangkaian Pelatihan dan gunakan Bahan Bacaan - Harapan dan Rangkaian Pelatihan yg telah disediakan panitia.

3) Setelah selesai lanjutkan ke kegiatan 2.

Penjelasan Garis Besar Program Pembelajaran

1) Jelaskan bahwa kita melanjutkan modul ini dengan kegiatan kedua yaitu Penjelasan Garis Besar Program Pembelajaran dan gunakan Bahan Bacaan – GBPP Pelatihan Madya 1.

2) Buka kesempatan tanya jawab untuk kedua kegiatan ini. 3) Tutup kegiatan dan ucapkan terima kasih.

(11)

HARAPAN DAN RANGKAIAN PELATIHAN FASILITATOR

Latar Belakang

Masalah kemiskinan telah menjadi masalah serius di Indonesia, terutama setelah krisis ekonomi yang terjadi tahun 1997. Jumlah penduduk miskin tahun 1976 sebesar 54,2 juta jiwa (40,1%) yang berhasil diturunkan menjadi 22,5 juta jiwa (11,3%) pada tahun 1996, meningkat tajam menjadi 49,5 juta jiwa (24,23%) pada tahun 1997. Ini artinya, krisis ekonomi menyebabkan 27 juta jiwa penduduk Indonesia jatuh miskin.

Dalam upaya menanggulangi kemiskinan tersebut Pemerintah Indonesia meluncurkan Proyek Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) yang dilaksanakan sejak tahun 1999 dan kemudian diadopsi menjadi pendekatan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri , dan P2KP menjalankan pendampingan di lokasi perkotaan sehingga nama P2KP berganti menjadi PNPM Mandiri Perkotaan.. Program ini merupakan program yang menerapkan pendekatan pemberdayaan masyarakat melalui penyadaran kritis para pelaku pembangunan agar mampu menjadi pelaku nilai. Pendekatan pemberdayaan ini juga dilakukan melalui pengorganisasian masyarakat dan pembangunan lembaga kepemimpinan kolektif yang benar-benar mampu menjadi ujung tombak perjuangan rakyat miskin, yang mandiri dan berkelanjutan dalam menyuarakan aspirasi serta kebutuhan mereka. Dalam upaya ini, titik berat upaya pemberdayaan tersebut diletakkan di pundak para fasilitator yang diharapkan mampu berperan sebagai pelopor perubahan di masyarakat (change agent) dalam rangka menciptakan fasilitator pembangunan tersebut maka berbagai pelatihan dilakukan.

Secara keseluruhan jenis-jenis pelatihan bagi fasilitator dalam rangka pelaksanaan PNPM Mandiri Perkotaan adalah sebagai berikut :

a) Pelatihan Dasar , untuk fasilitator yang bertugas di kelurahan baru

b) Pelatihan Madya, untuk fasilitator yang bertugas pada lokasi pendampingan tahap kedua c) Pelatihan Utama, untuk fasilitator yang bertugas pada lokasi pendampingan tahap ketiga. Masing – masing terdiri dari beberapa paket – paket pelatihan.

Tujuan Umum

a) Tercapai kesamaan pandang dan keyakinan antar fasilitator terhadap paradigma, pendekatan, konsep dan mekanisme PNPM Mandiir Perkotaan

b) Tersedianya Fasilitator yang memahami, meyakini dan mampu melaksanakan PNPM Mandiri Perkotaan secara kritis.

Uraian Tiap Jenis Pelatihan Madya

Pelatihan Dasar dibagi ke dalam 2 Paket yaitu : ƒ Pelatihan Madya 1

ƒ Pelatihan Madya 2

1. Pelatihan Madya 1

Pelatihan yang diselenggarakan bagi Fasilitator dan Askorkot yang mendampingi wilayah kelurahan/desa yang telah memasuki rencana tahunan ke 2 dari PJM Pronangkis. Titik berat pelatihan ini menekankan pada peningkatan kesadaran dan pemahaman serta keterampilan terhadap tahapan pelaksanaan siklus tahun ke 2, seperti review partisipatif, musrenbang serta

(12)

meningkatkan pemahaman dan kemampuan channeling. Waktu penyelenggaraan pelatihan dilaksanakan selama 10 hari efektif.

Tujuan

ƒ Fasilitator memahami makna, konsep dan tata cara pelaksanaan tahapan siklus review partisipatif, kemitraan lobby dan negosiasi, musrenbang, community data inventory manajemen organisasi nirlaba, mengembangkan dan memelihara KSM serta Community disaster management.

ƒ Fasilitator mampu melaksanakan dan memfasilitasi pelatihan, coaching dan “On The Job Training” (OJT) bagi relawan, BKM/LKM dan UP – UP.

ƒ Fasilitator mampu memfasilitasi proses pelaksanaan tiap tahapan siklus tahun ke dua. Keluaran yang diharapkan :

ƒ Tersedianya Fasilitator yang mampu memfasilitasi pemberdayaan masyarakat melalui proses pembelajaran dan penyadaran kritis pada tahapan siklus tahun ke 2. terutama review partisipatif, musrenbang serta channeling, memelihara dan mengembangkan KSM. ƒ Tersedianya fasilitator yang mempunyai kemampuan untuk mendampingi masyarakat

Hubungan antara Pokok Bahasan dan Tujuan Pembelajaran PELATIHAN MADYA 1

Ranah Belajar Pokok Bahasan Pengetahuan Penyadaran

kritis (Sikap )

Keterampilan Review Pelaksanaan siklus • • • Review Partisipatif • • • Kemitraan, Lobby dan

negosiasi • • •

Musrenbang • • •

Community data inventory • • Manajemen Organisasi Nirlaba • • Mengembangkan dan

memelihara KSM • • • Community disaster

management • • •

2. Pelatihan Madya 2

Pelatihan yang diselenggarakan bagi Fasilitator yang bertugas di kelurahan/ desa yang telah memasuki tahapan siklus rencana tahunan ke 2 dari PJM Pronangkis. Titik berat pelatihan ini untuk meningkatkan kesadaran, pengetahuan serta keterampilan dalam mengembangkan forum BKM, pemasaran sosial, penyusunan proposal serta pemanfataan BLM.

Tujuan :

ƒ Fasilitator memahami makna, konsep dan tata cara mengembangkan forum BKM/LKM, pemasaran sosial, penyusunan proposal dan pemanfaatan BLM.

ƒ Fasilitator mampu melaksanakan dan memfasilitasi coaching dan “On The Job Training” (OJT) bagi BKM/LKM, UP-UP dan relawan

Keluaran yang diharapkan :

Tersedianya fasilitator yang mampu memfasilitasi pemberdayaan masyarakat melalui proses pembelajaran dan penyadaran kritis melalui pengembangan forum BKM/LKM serta membangun jaringan atau kerjasama dengan pihak lain.

(13)

Hubungan antara Pokok Bahasan dengan Tujuan Pembelajaran Pelatihan Madya 2

Ranah Belajar Pokok Bahasan Pengetahuan Penyadaran

kritis (sikap) Keterampilan Mengembangkan Forum BKM • • •

Pemasaran Sosial • • • Penyusunan Proposal • • •

(14)

GARIS BESAR PROGRAM PEMBELAJARAN

PELATIHAN MADYA 1 FASILITATOR

01. Pendahuluan

Pelatihan yang diselenggarakan bagi Fasilitator yang mendampingi wilayah kelurahan/desa yang telah memasuki rencana tahunan ke 2 dari PJM Pronangkis. Titik berat pelatihan ini menekankan pada peningkatan kesadaran dan pemahaman serta keterampilan terhadap tahapan pelaksanaan siklus tahun ke 2.

02. Tujuan

ƒ Fasilitator memahami makna, konsep dan tata cara pelaksanaan tahapan siklus review partisipatif, kemitraan lobby dan negosiasi, musrenbang, community data inventory manajemen organisasi nirlaba, mengembangkan dan memelihara KSM serta Community disaster management.

ƒ Fasilitator mampu melaksanakan dan memfasilitasi pelatihan, coaching dan “On The Job Training” (OJT) bagi relawan, BKM/LKM dan UP – UP.

ƒ Fasilitator mampu memfasilitasi proses pelaksanaan tiap tahapan siklus tahun ke dua.

03. Keluaran yang Diharapkan

ƒ Tersedianya Fasilitator yang mampu memfasilitasi pemberdayaan masyarakat melalui proses pembelajaran dan penyadaran kritis pada tahapan siklus tahun ke 2. terutama review partisipatif, musrenbang serta kemitraan, memelihara dan mengembangkan KSM. ƒ Tersedianya fasilitator yang mempunyai kemampuan untuk mendampingi masyarakat

04. Sasaran Kelompok

Seluruh Fasilitator yang mendampingi di wilayah desa/kelurahan yang telah memasuki siklus rencana tahunan ke 2 dari PJM Pronangkis.

05. Metodologi

Untuk mencapai tujuan dan memberikan manfaat kepada para peserta seperti yang diharapkan, maka pelatihan ini akan menerapkan proses belajar mengajar orang dewasa dimana dalam seluruh proses belajar mengajar orang dewasa ini, para peserta turut berperan sebagai nara sumber untuk saling memperkaya pemahaman masing-masing dengan menggunakan pendekatan pendidikan kritis.

06. Pokok Bahasan

Keseluruhan pokok bahasan dalam pelatihan madya 1 ini disusun sedemikian rupa untuk dapat menjawab 6 pertanyaan mendasar sebagai berikut :

(15)

b) Bagaimana melakukan rebview partisipatif ?

c) Bagaimana membangun kemitraan dengan pihak lain? d) Apa organisasi nirlaba?

e) Apa dan bagaimana musrenbang?

f) Bagaimana cara memelihara dan mengembangkan KSM? g) Apa saja dan bagaimana menhadapi bencana?

Ketujuh pengelompokan pokok bahasan tersebut kemudian diuraikan dalam tema dan topik sebagai berikut di bawah ini yang keseluruhan membutuhkan waktu 57,75 jam pelajaran (1 Jpl = 45 menit).

Tiap Tema kemudian diuraikan lagi menjadi beberapa Topik sebagai berikut ini

No Topik Tujuan Waktu (JPL)

I Belajar Bersama 3

1 Mitra belajar

• Saling mengenal, saling memahami dan menghargai perbedaan

• Peserta mampu menciptakan keakraban

1

2 Orientasi Belajar

• Peserta memahami • Tujuan Pelatihan

• Apa yang akan diperoleh dan bagaimana pelatihan akan dilakukan

1

3 Kontrak Belajar

• Peserta mampu :

• Merumuskan harapan bersama terhadap pelatihan

• Memahami hubungan antara harapan dan silabus

• Membangun kesepakatan untuk mencapai harapan

• Membangun kesepakatan tata tertib pelatihan

1

II Review Pelaksanaan Siklus 6 1 Review Pemahaman Siklus PNPM Mandiri Perkotaan Memperkuat pemahaman peserta terhadap siklus PNPM Mandiri Perkotaan 2

2 Refleksi Pelaksanaan Siklus di Lapangan

• Peserta mampu memetakan pelaksaanaan siklus di lapangan

• Peserta memahami dan menyadari perbaikan – perbaikan yang harus dilakukan

• Peserta memahami tahapan pendampingan/intervensi selanjutnya

4

III Review Partisipatif 15

1 Gambaran Umum Review Partisipatif BKM/LKM • Peserta memahami tujuan dan tahapan review partisipatif. 1

2 Review Kelembagaan BKM/LKM

• Peserta mengingat kembali alasan keberadaan dan peran BKM/LKM

• Peserta memahami pentingnya tahapan perkembangan BKM/LKM

• Peserta memahami aspek-aspek sumberdaya dalam penguatan

(16)

kelembagaan BKM

• Peserta berlatih menilai tahapan pengembangan organisasi BKM/LKM

3 Penanggulangan Kemiskinan Review Program

• Peserta mengingat kembali tujuan penyusunan PJM Pronangkis.

• Peserta merefleksikan kekuatan dan kelemahan PJM Pronangkis.

2 4 Review Keuangan Peserta memahami parameter transparansi dan akuntabilitas keuangan BKM/LKM 2 5 Fasilitator dalam Proses Strategi Pendampingan

Fasilitasi Review Partisipatif

• Peserta memahami tahapan proses review partisipatif.

• Peserta merumuskan strategi pendampingan proses review partisipatif

5 IV Kemitraan, Lobby dan Negosiasi 10

1

Pentingnya Membangun Kemitraan Dalam Penanggulangan Kemiskinan

• Peserta mengingat kembali prinsip-prinsip kemitraan secara umum

• Peserta menyadari pentingnya kemitraan dalam penanggulangan kemiskinan

2

2 Mengapa Melakukan Lobby & Negosiasi?

• Peserta mengenali proses lobby & negosiasi dalam kehidupan sehari-hari • Peserta menyadari pentingnya lobby &

negosiasi dalam mewujudkan kemitraan • Peserta memahami tujuan dan

prinsip-prinsip lobby & negosiasi

2

3 Tahapan dan Teknik Dalam Lobby & Negosiasi

• Peserta memahami tahapan-tahapan dalam lobby & negosiasi

• Peserta memahami teknik-teknik yang umum digunakan dalam lobby & negosiasi

2

4 Berlatih Lobby & Negosiasi

• Peserta mampu merumuskan target maksimal-minimal

• Peserta mampu merancang strategi & skenario negosiasi

• Peserta menguasai teknik-teknik dalam lobby & negosiasi

• Peserta menarik pembelajaran dari permainan peran yang sudah dilakukan

4

V Musrenbang 8

1 Siklus Kota PNPM Mandiri Perkotaan

• Peserta mengetahui tahapan siklus kota PNPM Mandiri Perkotaan

• Peserta memahami hubungan siklus tingkat Desa/ kelurahan dengan siklus tingkat kota sebagai bagian dari proses transformasi sosial.

2

2 Perencanaan Pembangunan dan Penganggaran Daerah

• Peserta memahami pengertian dan tujuan perencanaan pembangunan daerah (musrenbang)

• Peserta mampu memahami tahapan perencanaan pembangunan daerah (musrenbang).

• Peserta mampu mengidentifikasi permasalahan-permasalahan yang terjadi

(17)

pada setiap tahapan perencanaan pembangunan daerah

• Peserta mengetahui tahapan perencanaan anggaran daerah.

3

Strategi Memperjuangkan PJM Pronangkis ke dalam

Musrenbang

• Peserta memahami posisi strategis musrenbang bagi perencanaan pembangunan masyarakat.

• Peserta memahami perannya dalam memfasilitasi pelaksanaan musrenbang • Peserta mampu merumuskan strategy

memperjuangkan PJM Pronangkis ke dalam msurenbang di wilayah dampingannya.

2

VI Community Data Inventory 7

1 Mengembangkan Kapasitas BKM dalam Mengelola Informasi Komunitas. Peserta memahami:

• kaitan pengelolaan informasi, kemiskinan informasi dan Pengembangan Komunitas.

• sifat-sifat Informasi,

• Daur Informasi serta istilah-istilah penting dalam pengelolaan informasi. • Mengidentifikasi kebutuhan penataan

informasi di komunitas.

• Peserta mampu menyusun rancangan program untuk pengembangan kapasitas BKM dalam mengelola informasi komunitas.

7

VII Manajemen Organisasi Nirlaba 11

1 BKM/LKM sebagai Organisasi Nirlaba

• Peserta memahami Pengertian organisasi nirlaba/nonprofit

• Peserta memahami Perbedaan antara organisasi profit dengan BKM/LKM yang merupakan organisasi nonprofit

• Peserta memahami faktor-faktor yang memperkuat dan memperlemah pemahaman dan orientasi para pengelola BKM/LKM sebagai organisasi nirlaba • Peserta dapat merumuskan

langkah-langkah untuk memperkuat pemahaman dan orientasi para pengelola BKM/LKM sebagai organisasi nirlaba

3

2 Komponen-komponen Manajemen

• Peserta memahami Organisasi nirlaba sebagai sebuah sistem yang terbuka • Peserta memahami

Komponen-komponen di dalam pengelolaan BKM/LKM sebagai sebuah sistem yang terbuka

• Peserta memahami Saling hubungan dan pengaruh antar masing-masing komponen

2

3 Fungsi Manajemen

• Peserta memahami fungsi manajemen di

(18)

langkah untuk memperkuat fungsi-fungsi vital sebuah organisasi nirlaba (BKM/LKM)

4 Dasar-dasar Pengelolaan Organisasi Nirlaba (BKM/LKM)

• Peserta memahami dasar-dasar pengelolaan BKM/LKM sebagai suatu organisasi nirlaba

• Peserta memahami bagaimana cara menyampaikan substansi materi ini kepada BKM

3

VIII Memelihara dan mengembangkan KSM 7

1 Memetakan Kondisi KSM

• Peserta mampu memahami kondisi KSM yang ideal

• Peserta mampu memetakan kondisi KSM yang ada di wilayah dampingannya. • Peserta mampu mengidentifikasi hal-hal

yang harus diperbaiki dan ditingkatkan dalam mengembangkan dan memelihara KSM.

4

2 Pendampingan Fasilitator Peran dan Strategi

• Peserta mampu memahami peran-peran fasilitator dalam mendampingi BKM/LKM, UP-UP dan relawan dalam mengembangkan dan memelihara KSM

• Peserta mampu merumuskan strategi pendampingan dalam rangka mengembangkan dan memelihara KSM.

3

IX Community Disaster Manajemen 10 1 Konsep Penanggulangan Bencana

• Pengertian bencana dan penanggulangan bencana

• Paradigma penanggulangan bencana • Komponen dari penanggulangan bencana

berbasis komunitas

4

2 Penanggulangan Bencana Berbasis Komunitas

• Peserta mendiskusikan persiapan dan perencanaan BKM menghadapi bencana. • Peserta mendiskusikan apa yang harus

dilakukan BKM saat bencana

• Peserta memahami apa yang dapat dilakukan BKM pasca bencana.

6

(19)

Modul 3

Topik: Kontrak Belajar

Peserta mampu :

1. Merumuskan harapan bersama terhadap pelatihan 2. Memahami hubungan antara harapan dan silabus 3. Membangun kesepakatan untuk mencapai harapan 4. Membangun kesepakatan tata tertib pelatihan

Kegiatan 1: Curah pendapat dan diskusi harapan bersama Kegiatan 2: Penyepakatan mekanisme belajar

1 Jpl ( 45 ’)

Bahan Bacaan:

1. Ancangan Tata Ruang Kelas 2. Membangun Suasana Belajar 3. Pengelaman Memfasilitasi 4. Identifikasi Kebutuhan Peserta 5. Evaluasi

• Kertas Plano • Metaplan

(20)

Curah Pendapat dan Diskusi Harapan Bersama

1) Buka pertemuan dengan salam singkat dan uraikan kepada peserta bahwa kita akan memulai dengan Modul Kontrak Belajar yang terdiri dari dua kegiatan. Jelaskan tujuan dari modul ini. 2) Jelaskan bahwa kita akan memulai modul ini dengan kegiatan pertama yaitu Diskusi mengenai

Harapan Peserta. Bagikan kartu metaplan kepada seluruh peserta. Minta peserta untuk menuliskan harapan mengenai pelatihan yang akan mereka ikuti selama 4 hari pada kartu metaplan tersebut. Sebelum peserta menulis, berikan informasi bahwa peserta harus menulis di metaplan yang telah dibagi hal-hal sebagai berikut:

o Alasan mengapa mengikuti pelatihan. Alasan ini dapat saja datang dari luar berupa perintah/penugasan, atau ingin tahu, dsb.

o Motivasi yang mendorong peserta mengikuti pelatihan. Motivasi ini merupakan dorongan dari dalam, misalnya; meskipun karena diperintah dapat saja motivasinya mengikuti sekedar menjalankan perintah/sekedar bebas dari tugas rutin/ingin meningkatkan pengetahuan.

o Harapan peserta mengikuti pelatihan ini. Harapan ini tentu saja terkait dengan motivasi peserta kalau yang motivasinya hanya sekedar menjalankan perintah harapannya tentu saja dapat melapor dgn menunjukan semua bahan maka yg dikumpulkan lebih fisik, yang ingin bebas dari tugas rutin tentu tdk punya harapan, yang meningkatkan pengetahuan tentu harapannya materi yang diberikan benar-benar bermanfaat dan cukup jelas untuk dicerna, dsb.

3) Bagi peserta menjadi beberapa kelompok dan minta tiap kelompok menyimpulkan harapan kelompok bukan lagi harapan individu.

4) Ajak 1 kelompok menyajikan hasil kelompok dan kemudian minta kelompok lain melengkapi sehingga terjadi harapan kelas.

5) Diskusikan hasil harapan kelas tersebut dan kaitkan dengan garis besar program pembelajaran. 6) Bangun kesepakatan dengan seluruh peserta untuk bertekad bersama-sama mengikuti

pelatihan guna mencapai harapan-harapan yang sudah didiskusikan sebelumnya. 7) Minta peserta untuk memberikan kesimpulan untuk kegiatan modul ini.

(21)

Penyepakatan Mekanisme Belajar

1) Jelaskan kepada peserta bahwa kita punya harapan bersama yang dirumuskan di Kegiatan 1. Diperlukan kesepakatan bersama untuk mencapai harapan tersebut selama pelatihan ini. Kesepakatan bersama tersebut merupakan langkah-langkah yang perlu dilakukan dan merupakan aturan main bersama termasuk tata tertib agar dapat tercapai harapan bersama, yang harus ditaati oleh seluruh peserta dan penyelenggara dalam melaksanakan pelatihan. 2) Diskusikan dengan peserta hal-hal apa saja yang harus disepakati untuk diatur bersama untuk

menjaga proses pelatihan tersebut.

3) Tuliskan semua hal yang disepakati dan tata tertib yang telah disepakati tersebut pada kertas plano dan tempelkan di dinding di tempat semua peserta dapat melihat. Bangun kesepakatan bahwa aturan main dan tata tertib tersebut bersifat mengikat semua pihak di kelas tersebut selama pelatihan.

(22)

Ancangan Tata Ruang Kelas

Lingkungan fisik dalam ruang kelas dapat menjadikan belajar aktif. Tak satupun susunan ideal, namun terdapat beberapa pilihan yang dapat dipilih. Dekorasi interior dari belajar aktif adalah menyenangkan dan menantang (khususnya jika meubeler kurang ideal). Dalam beberapa hal, meubeler dapat dengan mudah diatur untuk membentuk susunan yang berbeda-beda meskipun meja kursi tradisional dapat dikelompokkan bersama-sama untuk membentuk susunan bujursangkar atau yang lainnya. Jika anda memilih untuk melakukan begitu, suruhlah peserta didik membantu memindahkan meja dan kursi. Itu menjadikan mereka “aktif” juga.

Kebanyakan layout yang dideskripsikan disini tidak dimaksudkan menjadi susunan yang permanen. Jika meubeler anda dapat dengan mudah dipindah-pindah, sangat mungkin, menggunakan beberapa lay out ini sesuai yang anda inginkan. Anda juga akan mendapatkan saran-saran tentang bagaimana menggunakan sekalipun lingkungan ruang kelas yang paling tradisional untuk belajar aktif.

1. Huruf U :

Ini merupakan susunan untuk berbagai tujuan. Para peserta didik memiliki permukaan untuk menulis dan membaca, para peserta didik dapat melihat anda dan atau melihat media visual dengan mudah dan mereka dapat saling berhadapan langsung satu dengan yang lain. Ini juga mudah untuk memasangkan mereka, terutama ketika terdapat dua tempat duduk yang setiap meja. Susunan ini ideal untuk membagi bahan pelajaran kepada peserta didik secara cepat karena anda dapat masuk ke huruf U dan berjalan ke berbagai arah dengan seperangkat materi.

Anda dapat menyusun meja dan kursi dalam huruf U :

ƒ Sediakan ruangan yang cukup antara satu tempat duduk dengan yang lain sehingga kelompok kecil yang terdiri tiga peserta didik atau lebih dapat keluar masuk dari tempatnya dengan mudah.

ƒ Anda dapat juga menyusun meja dan kursi seperti meja oblong dalam huruf U yang kelihatan seperti setengah lingkaran.

2. Corak Tim L:

Mengelompokkan meja-meja setengan lingkaran atau oblong di ruang kelas agar memungkinkan anda untuk melakukan interaksi tim. Anda dapat meletakkan kursi-kursi mengelilingi meja-meja untuk susunan yang paling akrab. Jika anda melakukan, beberapa peserta didik harus memutar kursi mereka melingkar menghadap ke depan ruang kelas untuk melihat anda, papan tulis atau layar.

Atau anda dapat meletakkan kursi-kursi setengah lingkaran sehingga tidak ada siswa yang membelakangi papan tulis.

3. Meja Konferensi

ƒ Ini terbaik jika meja relatif persegi panjang. Susunan ini mengurangi pentingnya pengajar dan menambahkan pentingnya peserta didik. Susunan ini dapat membentuk perasaan formal jika pengajar ada pada ujung meja.

ƒ Jika pengajar duduk ditengah-tengah sisi yang luas, para peserta didik di ujung merasa tertutup.

(23)

4. Lingkaran

ƒ Para peserta didik hanya duduk pada sebuah lingkaran tanpa meja atau kursi untuk interaksi berhadap-hadapan secara langsung. Sebuah lingkaran ideal untuk diskusi kelompok penuh. Sediakan ruangan yang cukup, sehingga anda dapat menyuruh peserta didik menyusun kursi-kursi mereka secara cepat dalam berbagai susunan kelompok kecil. ƒ Jika anda menginginkan peserta didik memiliki tempat untuk menulis, gunakan susunan

peripheral. Suruhlah mereka memutar kursi-kursinya melingkar ketika anda menginginkan diskusi kelompok.

5. Kelompok untuk kelompok :

ƒ Susunan ini memungkinkan anda melakukan diskusi fishbowl (mangkok ikan) atau untuk menyusun permainan peran, berdebat atau observasi aktifitas kelompok. Susunan yang paling khusus terdiri dari dua konsentrasi lingkaran kursi. Atau anda dapat meletakkan meja pertemuan di tengah-tengah, dikelilingi oleh kursi-kursi pada sisi luar.

6. Workstation :

ƒ Susunan ini tepat untuk lingkungan tipe laboratorium, aktif dimana setiap peserta didik duduk pada tempat untuk mengerjakan tugas (seperti mengoperasikan komputer, mesin, melakukan kerja laborat) tepat setelah didemontrasikan. Tempat berhadapan mendorong partner belajar untuk menempatkan dua peserta didik pada tempat yang sama.

7. Breakout groupings :

ƒ Jika kelas anda cukup besar atau jika ruangan memungkinkan, letakkan meja-meja dan kursi dimana kelompok kecil dapat melakukan aktifitas belajar didasarkan pada tim. Tempatkan susunan pecahan-pecahan kelompok saling berjauhan sehingga tim-tim itu tidak saling mengganggu. Tetapi hindarkan penempatan ruangan kelompok-kelompok kecil terlalu jauh dari ruang kelas sehingga hubungan diantara mereka sulit dijaga.

8. Susunan Chevron :

ƒ Sebuah susunan ruang kelas tradisonal tidak melakukan belajar aktif. Jika terdapat banyak peserta didik (tiga puluh atau lebih) dan hanya tersedia meja oblong, barangkali perlu menyusun peserta didik dalam bentuk ruang kelas. Susunan

V

mengurangi jarak antara para peserta didik, pandangan lebih baik dan lebih memungkinkan untuk melihat peserta didik lain daripada baris lurus. Dalam susunan ini, tempat paling bagus ada pada pusat tanpa jalan tengah.

9. Kelas Tradisional :

ƒ Jika tidak ada cara untuk membuat lingkaran dari baris lurus yang berupa meja dan kursi, cobalah mengelompokkan kursi-kursi dalam pasangan-pasangan untuk memungkinkan penggunaan teman belajar. Cobalah membuat nomor genap dari baris-baris dan ruangan yang cukup diantara mereka sehingga pasangan-pasangan peserta didik pada baris-baris nomor ganjil dapat memutar kursi-kursi mereka melingkar dan membuat persegi panjang dengan pasangan tempat duduk persis di belakang mereka pada baris berikutnya.

10. Auditorium

ƒ Meskipun auditorium menyediakan lingkungan yang sangat terbatas untuk belajar aktif, namun masih ada harapan. Jika tempat duduk – tempat duduk itu dapat dengan mudah dipindah-pindah, tempatkan mereka dalam sebuah arc (bagian lingkaran) untuk membentuk hubungan lebih erat dan visibilitas peserta didik.

(24)

Membangun Suasana Belajar

Satu hal penting tetapi justru sering dilupakan, terlalu sering disepelekan, dianggap bukan materi pokok pelatihan, adalah pentingnya persiapan awal sebelum pelatihan dilaksanakan. Padahal sebenarnya, bagian ini merupakan bagian yang sangat menentukan kelancaran suatu proses pelatihan yang dirancang berdasarkan asas- asas pendidikan kritis seperti yang memungkinkan terjadinya interaksi terbuka, spontan, jujur antar para peserta dengan fasilitator serta panitia teknis penyelenggaraan pelatihan. Tanpa interaksi semacam itu sulit mengharapkan terjadinya komunikasi dialogis dan kritis yang justru menjadi asas pelatihan ini.

Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa faktor-faktor kepribadiaan – lah memang yang merupakan hambatan terbesar bagi penciptaan suasana yang hangat, spontan, terbuka, jujur. Kecenderungan kuat untuk menonjolkan diri atau selalu merujuk diri sendiri (self-centerd, selfish) adalah bentuk sikap dan perilaku yang paling jelas-jelas merupakan faktor penghambat yang serius. Tetapi sebaliknya kecenderungan yang terlalu menutup diri, malu, sungkan, dan kebiasaan sejenisnya juga merupakan penghambat yang tak kalah seriusnya. Dua bentuk sikap atau perilaku yang bertentangan itu sebenarnya sama – sama tidak mendukung penciptaan suasana yang diinginkan. Tidak ada jalan lain kecuali harus mencairkan kecenderungan yang mengarah kepada kebekuan suasana itu, yakni dengan cara yang dikenal dalam pelatihan sebagai ice breaker.

Ada seribu atau bahkan sejuta cara ‘ice breaker’ yang pernah dikenal selama ini yang bentuknya bisa sangat beragam, mulai dari teka teki, cerita – cerita lucu atau humor ringan yang memancing senyum, lagu-lagu atau nyanyian yang disertai gerakan tubuh, sampai permainan – permainan berkelompok yang cukup menguras tenaga atau bahkan pikiran. Namun apapun bentuknya suatu ‘ice breaker’ yang baik adalah :

• Sedapat mungkin melibatkan semua peserta tanpa kecuali, jangan sampai ada yang hanya menjadi penonton saja, lebih baik lagi kalau gagasan-gagasannya justru berasal dari peserta sendiri.

• Sedapat mungkin melibatkan semua panca indera setiap orang, karena itu yang mengandung unsur adanya gerakan – gerakan tubuh dan suara lebih disarankan.

• Sedapat mungkin menciptakan keharusan berinteraksi antar semua orang, karena itu disarankan bentuk – bentuk permainan yang mengandung unsur – unsure perlomabaan atau persaingan.

• Sedapat mungkin mengandung unsur – unsur kejutan (surprise), misalnya sesuatu yang baru dikenal atau tidak disangka – sangka sebelumnya, bukan sesuatu yang sudah terlalu umum dan biasa atau sudah dikenal baik selama ini, tetapi jangan yang terlalu banyak mengandung idiom – idiom asing sehingga malah tidak dipahami oleh sebagian besar peserta.

• Sedapat mungkin mengandung unsur – unsur kegembiraan (enjoyable) atau kelucuan yang menghilangkan rasa tegang atau bosan.

• Sedapat mungkin ringkas dan padat, menurut pengalaman, yang baik adalah sekitar 5 – 10 menit saja atau paling lama 15 menit – dan tidak berbelit-belit cara melakukannya. Kalau

(25)

waktu yang tersedia cukup lama, maka harus dilakukan dengan tempo tinggi (cepat) dan dengan bentuk kegiatan beragam (tidak hanya satu jenis saja sampai membosankan). • Sedapat mungkin memang ada kaitannya dengan pokok bahasan ata materi/topik yang

sedang dibicarakan/dibahas pada waktu itu. Misalnya saja jika materi sessi saat itu adalah membahas masalah kepemimpinan yang demokratis, maka ‘ice breaker’ yang perlu dikembangkan adalah membahas masalah kepemimpinan juga. Oleh karena itu setiap ‘ice breaker’ juga harus diproses dalam daur belajar sehingga dapat diambil pelajaran bersama.

Acara perkenalan di awal pelatihan adalah salah satu waktu terbaik dan merupakan saat yang paling tepat untuk melakukan ‘ice breaker’ dalam rangka menciptakan suasana pelatihan yang terbuka, hangat, spontan dan jujur, tetap serius tapi santai. Acara ini penting, karena suasana yang diciptakan akan banyak mempengaruhi suasana pada kegiatan dan hari – hari berikutnya. Karena itu, usahakan acara perkenalan dilakukan dalam bentuk kegiatan yang mencairkan kebekuan yang kreatif dengan kaidah-kaidah asas di atas tadi. Hindari acara-acara berkenalan yang sudah lazim selama ini (misalnya, tiap orang berdiri dan memperkenalkan dirinya masing-masing). Juga lebih baik hindari memperkenalkan hal-hal yang sudah biasa dan tidak terlalu menarik lagi (misal : asal daerah, hobi, status marital, dll). Mengapa tidak memperkenalkan pandangan – pandangan pribadi tentang suat hal yang berkaitan dengan tema pelatihan (hanya usahakan setiap orang tidak mengemukakan pandangannya dalam retorika berkepanjangan).

Agar tidak terlalu berkepanjangandan semakin membuat bingung saja, sebaiknya kita berikan satu contoh cara perkenalan sekaligus suatu bentuk ‘ice breaker’ untuk membentuk suasana awal pelatihan yang nisbi lebih terbuka dan spontan.

(26)

Identifikasi Kebutuhan Peserta

Sebelum memproses pelatihan , hal lain yang penting untuk dilakukan adalah mengetahui karakteristik calon peserta pelatihan. Hal – hal yang harus diperhatikan menyangkut peserta adalah:

• Berapa banyak peserta yang diundang dan berapa yang hadir ?

• Mengapa mereka mau datang; kemauan mereka sendiri ataukah ada orang lain sebagai pimpinananya yang memerintahkan dia untuk datang.

• Apa harapan dan keinginan yang akan mereka peroleh ?

• Apa kekhawatiran dan yang tidak dia inginkan terjadi selama pelatihan ?

• Seberapa besar keterwakilan pengalaman, jenis kelamin, usia, dan status yang berbeda satu peserta dengan lainnya ?

• Apakah mereka mempunyai prasangka tertentu terhadap – atau tidak senang – kepada anda secara pribadi maupun kepada organisasi anda ?

• Adakah peserta yang memiliki pengetahuan khusus maupun umum yang berkaitan dengan masalah utama yang akan didiskusikan selama pelatihan ?

Pertanyaan tersebut akan membantu anda menentukan program pendek yang harus anda siapkan, materi latihan dan cara membantu anda dalam satu sessi tersendiri yang menghubungkan anda dengan kebutuhan – kebutuhan belajar peserta. Dalam proses pelatihan dengan metode partisipatif mengenal dan menilai kebutuhan belajar menjadi salah satu prinsip yang harus dilakukan.

Selama proses mengenal dan menilai kebutuhan peserta (kontrak belajar) jangan lupa perhatikan benar kebutuhan – kebutuhan religius atau budaya yang dimiliki masing-masing peserta. Hal ini akan mempengaruhi penjadwalan anda selama pelatihan termasuk menetapkan jam atau hari tertentu yang memang sebaiknya tidak kita pakai sebagai jam belajar karena merupakan waktu ibadah bagi seorang pemeluk agama atau keyakinan tertentu.

Materi apa saja yang akan dibicarakan, bagaimana tahapannya, membutuhkan waktu berapa dan kira – kira memerlukan narasumber atau tidak merupakan hal penting yang harus dibicarakan di awal pelatihan. Tahap yang disebut ‘KONTRAK BELAJAR’.

Kontrak belajar bisa dimulai dengan pertanyaan – pertanyaan yang harus dijawab peserta baik dengan tertulis atau lisan tentang :

• Apa saja yang telah dipelajari peserta menyangkut topik pelatihan • Apa lagi yang mereka masih butuhkan untuk dipelajari lebih banyak • Berapa waktu yang diperlukan untuk membicarakan materi itu ?

Selanjutnya untuk membantu dalam seleksi materi , cobalah minta peserta untuk menuliskan tentang :

• Apa yang harus diketahui atau dipahami ? • Apa yang sebaiknya diketahui atau dipahami ? • Dan apa yang boleh atau dapat dipahami ?

Selanjutnya setelah menemukan materi apa saja yang dibutuhkan , sebaiknya, susunlah kesepakatan itu dalam selembar tabel yang ditulis dalam kertas plano dan akan terus menerus ditempel di dinding hingga pelatihan selesai.

(27)

Teknik Bertanya

Tipe terbaik dari latihan yakni bagaimana menjamin agar setiap orang dapat belajar bersama – sama yang didasarkan pada ‘mengerjakan’ daripada ‘mendengarkan’. Untuk menghindari dominasi dalam proses, gunakanlah diskusi – diskusi dalam kelompok yang lebih kecil jumlah orangnya. Contoh ringkas berguna untuk bertanya pada peserta menerima mereka dan menulis pikiran mereka. Contohnya :

• Apa problem yang telah anda kemukakan dalam menggunakan tiap – tiap metode ? • Bagaimana kemungkinan anda menggunakan pendekatan ini dalam pekerjaan anda ? • Dengan membiarkan kita menyangka dan bertanya-tanya bahwa anda telah melakukan ….

Bagaimana tindakan anda ?

Apabila fasilitator belum mampu mengumpulkan jawaban dan mendiskusikan bersama peserta, lebih baik usahakan peserta untuk berpartisipasi secara aktif dengan merefleksikan pada apa yang telah dipresentasikan. Dengan membagi peserta dalam sub kelompok untuk waktu latihan kelompok kritis dengan cepat pada subyek sebelum diskusi. Contoh, anda membicarakan tentang bentrokan Negara yang tidak diantisipasi dari kepastian politik pada situasi Negara yang panas, kemudian anda mungkin menanyakan peserta untuk menghentikan dan refleksi pada pengalaman mereka sendiri.

Pertanyaan yang diberikan, misalnya : “ Apa contoh yang anda ketahui dimana politik mempunyai konsekuensi negatif untuk manajeman ?”. Peserta akan lebih terlibat dibandingkan apabila anda memberikan contoh sendiri. Juga tidak harus semua pertanyaan peserta dijawab oleh fasilitator, menjawab semua pertanyaan peserta bisa produktif tapi sebaliknya bisa gagal total (tidak dinamis sama sekali),peserta pasif dan tidak dinamis sama sekali. Disamping itu biar bagaimanapun peserta adalah juga sumber belajar yang mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang berharga untuk dibagikan. yang penuh pertanyaan – pertanyaan pada waktu latihan cukup penting. Pertanyaan membantu mengklarifikasikan topik dan poin untuk partisipan lain. Janganlah membiarkan peserta berada pada situasi dan kebijaksanaan mereka sendiri.

Jika anda mempunyai waktu, kemudian menangkap sikap kritis dalam kelompok kecil sebelum waktu Tanya jawab dalam pleno yang lebih besar, maka sebaiknya doronglah setiap peserta yang aktif untuk mengkontribusikan hal-hal yang ditemukan dalam kelompok kecil itu untuk disampaikan dalam diskusi pleno. Cara seperti ini juga membantu fasilitator untuk menciptakan suasana yang hidup dalam diskusi yang lebih besar (pleno). Tidak selalu mudah untuk memfasilitasi waktu latihan dan Tanya jawab, sumbang saran. Apa yang perlu dilakukan untuk memungkinkan membantu mereka lebih tenang.

• Jangan mengharapkan pertanyaan dari peserta dengan tergesa-gesa, terlalu agresif, semacam mengejar-ngejar peserta untuk segera bertanya.

• Janganlah mendiskusikan satu kasus saja, karena peserta yang diluar kasus tersebut lama – lama akan bosan mendengarkan, yang paling penting adalah masalahnya pada setiap peserta itu tidak selalu ada.

• Memilih pertanyaan untuk peserta seperti “memperkirakan …..” atau “dalam pengalaman anda….” Untuk mengusahakan pertanyaan selanjutnya dari mereka.

(28)

• Jika ukuran ruangan sangat luas dan ada peserta yang bicara dengan volume yang terlalu kecil, sebaiknya fasilitator mengulangi pertanyaan agar semua peserta mendengar, sebelum fasilitator menjawabnya.

• Menulis kembali (dalam buku catatan anda) poin – poin pertanyaan peserta dan rencana komentar anda atau menjawab dengan satu atau dua kata pokok.

• Menjawab dengan ringkas. Jika anda tidak dapat menjawab, katakan bahwa anda tidak bisa menjawab, lemparkan apakah ada saran dari peserta.

• Ketika waktu hampir selesai, segera mengatakan pada kelompok umpamanya dengan menangatakan , ‘hanya tinggal dua orang untuk mengambil kesempatan bertanya”.

• Jika anda menyadari ada perumusuhan , coba untuk tetap tenang dan menjaga suasana dengan melempar humor. Memberi pertanyaan pada partisipan lain dengan menanyakan pada mereka tentang kritik pada statemen atau pertanyaan yang berbeda. Kalau memang harus merespon pada statemen yang bernada permusuhan, sebaiknya gunakan “kerangka persetujuan” untuk mengurangi ketegangan dan mengakui nilai apa dari menentang pendapat seperti itu.

• Jika ada peserta yang lebih suka melempar statemen daripada memberi pertanyaan, kemudian mempertimbangkan, dan membenarkan pendapat mereka dengan mengatakan “terima kasih”. Hal ini menimbulkan minat berpikir. Pertanyaan selanjutnya diberikan waktu.

• Jika anda merasa ragu-ragu belum mengeri betul apa yang dimaksud dalam pertanyaan yang dilemparkan peserta, sebaiknya anda lempar pertanyaan tersebut kembali yaitu “Apakah saya mengerti pertanyaan anda ….. ?”.

• Tugas yang paling berat adalah meringkas apa yang telah dikatakan suatu kelompok dalam perputaran waktu Tanya jawab dengan tidak menghilangkan substansinya.

Bagaimana Caranya Bertanya ?

Sepintas nampaknya tidak penting, bukankah tanya jawab dalam suatu obrolan adalah hal yang lumrah dialami sehari – hari ?. Padahal , justru “bertanya” itulah satu-satunya keterampilan pokok, mutlak yang harus dikuasai oleh Pemandu sebelum mempelajari yang lain. Sangat gamblang dan jelas nalarnya, karena hakekat dari pendidikan partisipatif adalah bahwa seorang ‘Pemandu’ adalah pelayan dan pelancar aktivitas belajar peserta atas dasar pengalaman peserta sendiri.

Tidak sedikit kita temukan, hal tersebut merupakan kelemahan umumnya dalam penyelenggaraan pelatihan , dimana proses belajar mandeg atau bahkan ‘salah arah’ gara-gara Pemandu melemparkan pertanyaan yang tidak tepat. Di kalangan Pemandu pemula seringkali ditemukan merka bingung dan ‘grogy’ di depan kelas hanya karena mereka kehilangan kata – kata untuk bertanya. Dalam keadaan panik dan bingung seperti itu seringkali penyakit untuk menjelaskan bahken menyimpulkan dilakukan dengan mengatasnamakan pengalaman belajar para peserta, padahal merupakan pandangan pemandu . Dengan demikian prinsip dasar pendidikan ktritis – pun akhirnya dilanggar.

Teknik bertanya dalam proses fasilitasi, sebenarnya sederhana saja. Yang paling penting adalah kesadaran untuk tetap taat azas pada prinsip-prinsip latihan partisipatif. Bahkan tidak ada salahnya, tidak berdosa, dan tidak bergengsi bagi seorang pemandu untuk mengakui saja tidak tahu ( atau bahkan pura – pura tidak tahu ) mengenai hal – hal yang ditanyakan oleh peserta dan melemparkan pertanyaan tersebut kepada peserta lainnya. Hal ini menjadi prinsip agar peserta mengemukakan pendapat dan pengalamannya.

(29)

Beberapa hal yang bersifat lebih teknis, antara lain :

• Sebaiknya usahakanlah agar setiap pertanyaan yang diajukan tidak panjang lebar, tapi singkat dan jelas, jika perlu ulangi sampai peserta merasa jelas, terutama jika pertanyaan tersebut hanya ditujukan pada peserta tetentu.

• Usahakan agar jangan sampai peserta ‘gelagapan’ atau malah gugup menjawabnya, maka hindari pertanyaan yang bersifat tendensius apalagi dengan gaya bertanya yang menghakimi – karena pemandu itu bukan jaksa dan bukan pula interrogator.

• Dalam meneruskan sebuah pertanyaan dari peserta kepada peserta lainnya, hindari jangan sampai terjadi ‘perang tanding’ (berdebat di luar kendali pemandu). Jika perlu pertanyaan tersebut bisa dikembalikan kepadanya lagi dengan pertanyaan balik, umpamanya : “ menurut anda sendiri bagaimana ?” . Hal tersebut dapat mendorong agar dia sendiri berfikir dan tidak menganggap pemandu adalah orang yang tahu segalanya.

Banyak hal yang ternyata bisa dipahami justru setelah mengalami sendiri bagaimana memfasilitai, memandu proses latihan dengan kondisi yang ada. Sebagai pedoman teknis, jenis – jenis pertanyaan dasar yang paling sering digunakan dalam kegiatan latihan selama ini, antara lain sebagai berikut :

• Pertanyaan ingatan :

9 Dimana anda mengalami ? 9 Kapan hal itu terjadi ?

9 Apakah kejadian tersebut pernah tejadi pada diri anda ?

9 Dengan pengalaman ini, apakah bisa diakitan dengan pengalaman anda sebelumnya ? • Pertayaan Pengamatan

9 Apa yang sedangterjadi ? 9 Apakah anda melihatnya ?

• Pertanyaan Analitik ? ( Urai sebab – akibat ) 9 Mengapa perbedaan pendapat itu tejadi?

9 Bagaimana akibat kegiatan ini terhadap perilaku kelompok ? • Pertanyan Hipoteik (memancing praduga )

9 Apa yangakan tejadi ?

9 Kemungkinan apa akibatnya seandainya ………. ? • Pertanyaan Pembanding

9 Siapakah dalam hal ini yang benar ?

9 Mana yang anda anggap paling tepat antara ……… dan …….. ? • Pertanyaan Proyektif ( Mengungkap ke depan )

9 Coba bayangkan seandainya anda menghdapi seperti itu, apa yang akan anda lakukan ?

• Pertanyaan Tertutup

9 Kita sebagai fasilitaor, seyogyanya tidak melemparkan pertanyaan yang menjurus, IYA KAN ?

9 Dengan demikian maka ………

Contoh – contoh pertanyaan di atas, apapun bentuk dan jenis pertanyaannya, semuanya tetap bertumpu dari “kata – kata kunci” atau pertanyaan pokok “Apa”, “Siapa”, “Dimana” dan “kapan” adalah kata tanya untuk mengungkap fakta, sementara kata kunci “Bagaimana” dan “Mengapa ?” adalah kata tanya untuk mengungkap pendapat, digunakan pada tahap menganalisa , juga pada tahap kesimpulan, karena pada tahap ini memang dimaksudkan lebih terfokus pada pendapat peserta. Jenis pertanyaan analitik, hipotetik dan pembanding juga lebih banya digunakan pada tahap kesimpulan. Adapun pertanyaan “tertutup” biasanya digunakan pemandu ketika ingin menegaskan kembali kesimpulan peserta di akhir kegiatan.

(30)

Pengalaman Memfasilitasi

Ketika pertama kali anda berdiri menjadi pemandu, sangat wajar jika anda merasa cemas, ini merupakan pekerjaan yang sangat menakutkan, sebetulnya itulah awal latihan untuk menjadi pemandu. Banyak yang menganggap hal seperti itu merupaka suatu rintangan . reaksi umum yang ditanyakan untuk membicarakan suatu hal oleh peserta rasanya seperti terror. Maka jangan dipelihara lama – lama sikap dan perasaan seperti itu. Pikirkan, bahwa satu ketakutan akan hilang dengan menggunakan percakapan. Gunakan keberanian mengajak peserta dengan semangat bersahabat, jangan dipahami sebagai pihak musuh yang akan merintangi pekerjaan anda, maka : ƒ Persiapkan segala sesuatunya. Untuk membangun kepercayaan diri dengan melakukan

persiapan yang baik.

ƒ Anda jangan berpretensi bahwa ada pihak yang akan mengambat, menentang presentasi anda. Janganlah melakukan audiensi dengan memasang sikap bermusuhan.

ƒ Janganlah memulai dengan mengacam menyesuaikan diri sendiri. Ilustrasikan proses yang akan dikerjakan secara ideal, dan bayangkan akan hal-hal yang menyenagkan.

ƒ Menemukan tempat dimana anda dapat sendirian selama 10 menit sebelumnya acara dimulai. Tempat yang baik untuk menenangkan diri adalah toilet.

ƒ Anda bisa melakukan gerak badan sejenak untuk melemaskan urat saraf anda yang tegang untuk mencapai situasi tubuh yang rilek.

ƒ Satu dari jalan terbaik untuk ketenangan diri anda sendiri dan ketenangan perasaan anda yaitu dengan cara menarik napas panjang melalui hidung dan mengeluarkan napas pelan-pelan melalui mulut, lakukan beberapa kali.

ƒ Mulai pembicaraan dengan peserta ketika mereka datang. Tersenyum dan rileks. Untuk mengetahui nama dan wajah. Hal ini akan mengurangi perasaan mengintimidasi.

ƒ Ciptakan suasana santai dan tidak formal

ƒ Ambilah posisi anda berbaur di antara tempat duduk peserta.

ƒ Berbicara pada peserta dengan menggunakan “kita”, “kami” daripada menggunakan kata “anda” atau “kamu”.

ƒ Kesalahan adalah bagian yang berharga dari proses belajar. Meletakan pemandu sejajar dengan peserta adalah hal yang positif, karena pada dasarnya mereka juga sama-sama membantu menunjukkan pengalaman anda.

ƒ Menunjukkan, mendorong dan menghargai kemampuan peserta merupakan usaha untuk membuat niat belajar.

ƒ Perencanaan yang sederhana dengan contoh – contoh konkret merupakan awal suatu proses agar peserta dapat berpengalaman dengan hasil yang baik.

(31)

Tanggung Jawab Seorang Pemandu

ƒ Yang mendasar harus dilakukan seorang pemandu adalah proses menghancurkan paham lama bahwa perannya sebagai pemandu sarat dengan kekuasaan sehingga peserta dianggap tidak memilki tanggung jawab sama sekali terhadap jalannya proses belajar. Selalu harus ditegaskan bahwa terciptanya suasana hingga tujuan bergantung pada semua pihak baik pemandu maupun peserta.

ƒ Jangan berharap akan anda temui semua harapan anda tentang proses belajar selama berperan sebagai pemandu. Jangan tergoda untuk menggunakan kekuasaan yang dilimpahkan kepada anda oleh peserta untuk memuaskan emosi anda sendiri, seperti minta diperhatikan, ingin dianggap sebagai sahabat apalagi menuntut dihormati.

ƒ Menjadi pemandu tidak sama seperti ahli terapi jiwa atau psikoterapi, baik pada tingkat individu seorang peserta ata bahkan kelompok. Yang harus dilakukan justru sebaliknya, berilah perhatian yang besar jika peserta mulai menunjukkan tanda – tanda bersahabat, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan perasaan mereka.

ƒ Sangat penting untuk membuat peserta paham apa yang akan anda lakukan nantinya dengan mereka; apa saja tujuan anda; seberapa besar anda berharap bisa mempertemukan harapan anda dengan kebutuhan mereka, apa yang anda dapat dan tidak dapat berikan kepada mereka, dan bagaimana melakukannya. Terakhir adalah hak peserta untuk memastikan bahwa anda memiliki akuntabilits untuk melakukan sesuatu bagi mereka.

Sangat penting bagi pemandu untuk menciptakan suasana kedewasaan pada diri sendiri pada diri peserta dalam proses pelatihan, berbagai upaya yang bisa dilakukan, misalnya :

• Peserta meyakini bahwa mereka memiliki peran penting, maka perlu terlibat secara aktif. Maka diperlukan metode dalam rangka mendorong motivasi agar partisipan belajar tidak gamang untuk mengambil peran dalam proses tersebut.

• Bicarakan hingga peserta memiliki satu pandangan berkaitan dengan bagaimana program pelatihan tersebut akan dibawakan. Jadi peserta yakin bahwa pelatihan ini penting bagi mereka hingga materi keterampilan sekalipun akan bermanfaat buat kebutuhan mereka.

• Anda juga perlu menyediakan sessi tertentu untuk belajar soal keterampilan teknis, agar mereka memiliki kesempatan untuk mempraktekan, sehingga mereka merasa terlibat. Hal ini akan meningkatkan kepercayaan diri dan keyakinan bahwa proses pelatihan itu benar-benar milik mereka.

• Hormatilah tiap peserta secara individual dengan pertimbangan tingkat kemampuan dan cara belajarnya berbeda satu dengan yang lainnya.

• Jangan lupa untuk menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang telah dimiliki peserta untuk mengantarkan pada materi – materi baru yang akan disampaikan pada proses belajar tersebut.

Motivasi Belajar

Proses belajar akan berjalan dengan bak apabila peserta memiliki motivasi belajar ( kesiapan untuk belajar). Menjadi tugas pemandu untuk membangkitkan motivasi peserta. Beberapa keadaan yang dapat membuat peserta kurang memiliki motivasi antara lain :

(32)

• Peserta diminta untuk memperhatikan proses belajar, sementara materi belajar bertentangan dengan apa yang mereka harapkan.

• Peserta tidak tahu apa yang menyebabkan mereka harus memperhatikan proses belajar. • Peserta khawatir keterampilan yang dipelajari terlalu tinggi jika dibandingkan pekerjaan

sehari-hari mereka, sehingga bisa jadi pikiran mereka tidak konsentrasi pada pelatihan tetapi justru melayang ke tempat lain.

• Peserta teringat dengan pekerjaan mereka yang menumpuk di tempat mereka bekerja, sehingga selama proses belajar pikirannya justru ke pekerjaan terus.

• Cara anda menyampaikan materi tidak cukup melibatkan pengetahuan, kemampuan dan wawasan mereka.

• Peserta telah “belajar” segala sesuatu sebelum pelatihan, mereka merasa telah mengetahuinya. • Peserta salah faham tentang pemandu atau organisasi penyelenggara.

Sebagaimana peserta sebaiknya pemandu juga perlu memperhatikan beberapa hal untuk memahami apa yang harus dilakukan selama memfasilitasi proses belajar, misalnya dengan menanyakan kepada diri anda terlebih dahulu “Mengapa peserta menaruh perhatian pada pelatihan yang diselenggarakan?”. Biasanya peserta datang dengan dua kemungkinan, pertama karena kemauan sendiri – kedua karena ada orang lain, misalnya ketua lembaga atau seniornya yang meminta mereka untuk datang. Jika kemungkinan kedua yang terjadi maka kemungkinan besartidak mempunyai pilihan lain, dengan demikian tentu motivasi dia berbeda dengan motivasi peserta lainnya. Mereka mungkin penasaran tentang program anda karena mendengar pentingnya pelatihan itu dari seniornya. Mereka mungkin berharap belajar kemampuan baru untuk mengerjakan pekerjaan mereka dengan lebih baik. Mereka mungkin akan menampakkan ketidakpuasannya jika di tengah proses pelatihan mereka temukan proses yang dirasa tidak memenuhi kebutuhan belajar mereka.

Jangan putus asa dengan kondisi tersebut, motivasi bisa berubah selama proses pelatihan. Anda mungkin memulai proses belajar bersama peserta yang penuh curiga dan berakhir dengan kelompok yang penuh motivasi. Tapi sebaliknya peserta yang tekun dan kritis juga bisa menjadi peserta yang malas atau turun motivasinya. Anda perlu melihat dengan jeli gejala – gejala seperti itu selama proses belajar berlangsung. Tanda – tanda umum dari turunnya motivasi dapat diamat – amati , misalnya : datang terlambat, kualitas kerja yang semakin buruk, dan berubahnya kekritisan, keberanian menjadi kecurigaan yang berlebihan yang diaktualisasikan dengan selalu menantang dan cenderung menjajagi kemampuan pemandu. Tetapi anda tidak perlu canggung atau grogi menghadapi situasi belajar yang pesertanya sedang mengalami kelesuan motivasi.

Motivasi untuk pemandu

• Apakah anda sudah memahami dengan jelas apa alasan yang telah disampaikan peserta kepada anda ?

• Apakah peserta sudah anda beri kesempatan untuk menyampaikan tujuan dan harapan mereka secara personal pada akhir proses belajar ini ?

• Apakah anda sudah mempunyai sistem untuk umpan balik dan teknik untuk memulihkan penurunan motivasi selama proses belajar ?

(33)

• Apakah ada media dan waktu khusus pada akhir proses belajar untuk melakukan evaluasi, apakah tujuan warga belajar sudah terpenuhi atau belum ?

• Apakah anda mempunyai sistem dan teknik untuk memotivasi peserta yang tujuan dan harapannya tidak sama dengan peserta lain ?.

• Apakah anda mempunyai teknik untuk memantau dan mengontrol peserta yang bersikap sering terlambat datang, malas mengerjakan tugas atau praktek kerja, dan lalai atau tidak mencermati proses belajar.

(34)

Evaluasi

Segera lakukan evaluasi dan refleksi sebagai kritik, karena proses ini juga merupakan bagian belajar dari pengalaman. Jika anda menunda, anda akan melupakan dan banyak yang bisa dipetik manfaatnya jadi hilang. Anda dapat belajar melalui refleksi diri sendiri atau bertanya pada peserta dengan kritik.

Adaptasi kebiasaan yang utama untuk membuat catatan pada pekerjaan anda serta kemungkinan anda dapat belajar dari diri anda sendiri dan memperbaiki untuk waktu yang akan datang. Menganalisa suatu hal dan poin yang dianggap masih kurang atau lemah dengan memeriksa tiap-tiap tahap latihan. Agar ada perbaikan di waktu yang akan datang. Bagaimana ketepatan waktu dapat dijaga? Apakah anda dapat mengakomodir kepentingan peserta ?

Fokus utama kelemahan pilihan anda dari pekerjaan anda. Hal ini merupakan kesalahan yang paling banyak kita pelajari. Mengapa beberapa bagian tidak dapat bekerja dengan baik? Apakah pilihan ukuran atau substansi telah dibantu ? Apakah anda merespon keperluan peserta? Apakah ada kondisi yang ganjil atau faktor lain yang dilibatkan ? Berpikir dengan hati-hati secara detail, anda mendengar dari peserta dan mendengarkan umpan balik, sekarang anda dapat belajar dari mereka bagaimana mengerjakan suatu pekerjaan dengan lebih baik di waktu yang akan datang ? Buatlah garis tentang sesuatu yang anda ketahui, tetapi anda tidak dapat mengerjakan dengan baik. Hal ini tidak mudah. Untuk banyak orang, lebih mudah untuk dibujuk dengan memfokuskan hanya pada yang ditinggalkan. Seperti anda, contoh :

• Meyakinkan bahwa anda tidak marah pada diri sendiri • Berbicara terlalu banyak

• Memberikan cukup waktu untuk pertanyaan

• Menunjukkan lebih banyak materi pada transparansi overhead

• Mengandung banyak game/contoh/waktu latihan yang praktis pada refleksi biaya dan diskusi.

• Kehilangan ketenangan karena sedikit salah paham dengan orang yang mengorganisir sebelum waktu latihan dimulai karena ruangan jelek, kekurangan kapur tulis, slide proyektor konslet, dll.

• Menunjukkkan banyak slide • Berbicara terlalu lama dan cepat • Waktu istirahat yang pendek.

Jalan yang baik untuk belajar dari pesertalah, andalah yang bertanya pada peserta untuk mengevaluasi. Hal ini dapat dikerjakan secara formal dengan evaluasi tulisan dari pengalaman latihan mereka. Tidak menanyakan lebih dari satu atau dua halaman dari pertanyaan. Anda dapat menanyakan pertanyaan spesifik tentang substansi dan penyelenggaraan pelatihan. Coba lakukan dengan pendekatan yang berbeda : “Apakah anda menemukan sesuatu yang paling berguna dalam latihan ini?”., “Apakah ada hal yang tidak disukai?”. Jika anda mengorganisir suatu latihan yang jenisnya sama seperti ini, kemudian apakah anda akan mengerjakan dengan cara yang berbeda ataukah anda akan mengerjakan dengan jalan dan model yang sama ?.

(35)

Usahakan cukup waktu untuk melakukan evaluasi, agar peserta dapat mempertimbangkan dan merespon pertanyaan. Hal ini umum untuk mendistribusikan bentuk selama satu atau dua hari sebelum latihan berakhir. Jika anda menunggu latihan berakhir, respon yang berupa tulisan akan terburu – buru dan kurang sempurna dibandingkan jika dikerjakan satu atau dua hari untuk merefleksikannya. Menanyakan pada peserta untuk menyempurnakan peserta lain (tipe orang yang mengorganisir) akan mempunyai kesempatan untuk membaca evaluasi tulisan satu kali setelah mereka melengkapi. Karena itu, dalam tambahan pertanyaan peserta untuk melengkapi evaluasi formal, anda mungkin menginginkan untuk menyampingkan waktu agar suatu diskusi lengkap yang tidak formal dapat menerima kritik tentang sedikit aspek dari latihan. Hal ini memberi kesempatan tiap personel untuk mengekspresikan pandangannya, apakah positif atau negatif, maka peserta lain dapat mendengarkan mereka.

Jalan lain untuk membuat publikasi, yang sesungguhnya di dalamnya mengandung unsur evaluasi, dengan kata lain semacam evaluasi yang disamarkan melalui presentasi. Anda dapat mempersiapkan pertanyaan, bentuk penulisan atau tabel yang diletakkan pada dinding. Tiap-tiap peserta kemudian memberikan kritik disamping memberi pertanyaan. Pertanyaan yang berguna untuk umpan balik secara cepat :

• Apakah anda berharap atau sebaliknya merasa takut setelah pertemuan ? • Apakah anda menemukan sesuatu yang paling berguna?

• Apakah anda menemukan sesuatu yang sesungguhnya tidak berguna ? • Bagaimana agar dapat mengerjakan yang lebih baik di lain waktu ?

(36)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :