• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PERKEMBANGAN MANAJEMEN BISNIS SYAR (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "BAB I PERKEMBANGAN MANAJEMEN BISNIS SYAR (1)"

Copied!
74
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PERKEMBANGAN MANAJEMEN BISNIS SYARIAH

A.

Bisnis Syariah

Secara bahasa, Syariat (as-Syari’ah) berarti sumber air minum (mawrid al-ma’ al istisqa’) atau jalan yang lurus (at-thariq al-mustaqim). Sedang secara istilah Syariah bermakna perundang-undangan yang diturunkan Allah Swt melalui Rasulullah Saw untuk seluruh umat manusia, baik menyangkut masalah ibadah, akhlak, makanan, minuman, pakaian maupun muamalah (interaksi sesama manusia dalam berbagai aspek kehidupan) guna meraih kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Jadi bisnis syariah adalah bisnis yang diaplikasikan dengan memakai nilai-nilai kesilaman atau syariat islam.

Menurut Syafi’i Antonio, Syariah mempunyai keunikan tersendiri, Syariah tidak saja komperhensif, tetapi juga universal. Universal bermakna bahwa Syariah dapat diterapkan dalam setiap waktu dan tempat oleh setiap manusia. Keuniversalan ini terutama pada bidang sosial (ekonomi) yang tidak membeda-bedakan antara kalangan muslim dan non-muslim.[2] Dengan mengacu pada pengertian tersebut, Hermawan Kertajaya dan Syakir Sula memberi pengertian bahwa bisnis syariah adalah bisnis yang santun, bisnis yang penuh kebersamaan dan penghormatan atas hak masing-masing.[3]

B. Baitul Mal wa Tamwil (BMT)

Baitul Mal wa Tamwil (BMT) terdiri dari dua istilah, yaitu baitul mal dan baitut tamwil. Baitul maal lebih mengarah pada usaha-usaha pengumpulan dan

penyaluran dana yang non profit, seperti zakat, infak dan shodaqoh. Sedangkan baitut tamwil sebagai usaha pengumpulan dan dan penyaluran dana

komersial.BMT merupakan lembaga keuangan mikro berbasis syariah

(2)

Tujuan dan Fungsi BMT

Lembaga ekonomi mikro ini pada awal pendiriannya memfokuskan diri untuk meningkatkan kualitas usaha ekonomi untuk kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya melalui pemberian pinjaman modal. Pemberian modal pinjaman sedapat mungkin dapat mendirikan ekonomi para peminjaman. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, BMT memainkan peran dan fungsinya dalam beberapa hal:

1. Mengidentifikasi, memobilisasi, mengorganisasi, mendorong dan mengembangkan potensi ekonomi anggota, kelompok anggota muamalat dan daerah kerjanya.

2. Meningkatkan kualitas SDM anggota menjadi lebih professional dan islami sehingga semakin utuh dan tangguh dalam menghadapi persaingan global.

3. Menggalang dan memobilisasi potensi masyarakat dalam rangka meningkatkan kesejahteraan anggota. Setelah itu BMT dapat melakukan penggalangan dan mobilisasi atas potensi tersebut sehingga mampu melahirkan nilai tambah kepada anggota dan masyarakat sekitar.

4. Menjadi perantara keuangan antar agniyah sebagai shohibul maal dengan dhu’afah sebagai mudhorib, terutama untuk dana sosial. BMT dalam fungsi ini bertindak sebagai amil yang bertugas untuk menerima dana zakat, infaq, sadaqah, dan dana sosial dan kemudian disalurkan kembali kepada golongan yang

membutuhkan.

5. Menjadi perantara keuangan antara pemilik dana, baik sebagai pemodal maupun penyimpanan dengan pengguna dana untuk pengembangan usaha

C. PEGADAIAN SYARIAH

(3)

Sedangkan menurut Sabiq (1987), rahn adalah menjadikan barang yang mempunyai nilai harta menurut pandangan syara’ sebagai jaminan hutang, hingga orang yang bersangkutan boleh mengambil hutang atau ia bisa mengambil sebagian (manfaat) barang itu. Pengertian ini didasarkan pada praktek bahwa apabila sesesorang ingin berhutang kepada orang lain, ia menjadikan barang miliknya baik berupa barang tak bergerak atau berupa barang bergerak berada dalam penguasaan pemberi pinjaman sampai penerima pinjaman melunasi hutangnya.

Dari beberapa pengertian rahn tersebut, dapat disimpulkan bahwa rahn merupakan suatu akad utang piutang dengan menjadikan barang yang mempunyai nilai harta menurut pandangan syara’ sebagai jaminan, hingga orang yang bersangkutan boleh mengambil utang.

Manfaat Pegadaian

Bank yang menerapkan prinsip ar-rahn dapat mengambil manfaatnya :

a. Menjaga kemungkinan nasabah untuk lalai atau bermain-main dengan fasilitas pembiayaan yang diberikan banj tersebut.

b. Memberikan keamanan bagi semua penabung dan pemegang deposito bahwa dananya tidak kan hilang begitu saja jika nasabah peminjam ingkar janji karena ada suatu aset atau barang (marhun) yang dipegang oleh bank.

c. Jika rahn diterapkan dalam mekanisme penggadaian, sudah barang tentu akan sangat membantu saudara kita yang kesulitan dalam dana terutama didaerah-daerah.

D. ASURANSI SYARIAH

Dalam Undang-Undang Hukum Dagang pasal 246 disebutkan:”Asuransi atau pertanggungan adalah suatu perjanjian, dengan nama seorang penanggung mengikat diri kepada seorang tertanggung dengan menerima premi, untuk memberikan penggantian kepadanya karena satu kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, yang mungkin akan dideritanya karena suatu peristiwa yang tak tertentu.

(4)

nama pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung, dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan.

Dari beberapa diatas, dapat diketahui setidaknya ada tiga unsur yang ada di asuransi. Pertama, bahaya yang dipertanggungkan; kedua, premi pertanggungan; ketiga sejumlah uang ganti rugi pertanggungan.

Mayoritas ulama mengatakan bahwa praktik asuransi yang demikian hukumnya haram menurut Islam, karena:

1. Adanya unsur gharar, yaitu unsur ketidakpastian tentang hak pemegang polis dan sumber daya yang dipakai menutup klaim.

2. Adanya unsur maysir, yaitu unsur judi karena dimungkinkan ada pihak yang diuntungkan diatas kerugian orang lain.

3. Adanya unsur riba, yaitu diperolehnya pendapatan dari membungakan.

Asuransi dalam Islam dikenal dengan istilah takaful yang berarti saling memikul resiko diantara sesama orang , sehingga antara satu dengan yang lainnya menjadi penanggung atas resiko yang lainnya. Saling pikul resiko ini dilakukan atas dasar tolong menolong dalam kebaikan dimana masing-masing mengeluarkan dana/sumbangan/derma (tabarru’) yang ditunjuk untuk menanggung resiko tersebut. Takaful dalam pengertian tersebut sesuai dengan surah Al Maidah(5):2 “ Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.

Asuransi syariah adalah asuransi yang berdasarkan prinsip-prinsip syariah. Menurut Fatwa DSN No.21/DSN-MUI/III/2002 tentang asuransi syariah, yaitu usaha saling melindungi dan tolong menolong diantara sejumlah orang /pihak melaui investasi dalam bentuk asset/dan tabarru’/ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.

(5)

kegiatan-kegiatan masyarakat , demi terciptanya kesejahteraan umat dan masyarakat umumnya. Sebagai seorang muslim, kita wajib percaya bahwa segala hal yang terjadi diatas tidak terlepas dari qadha dan qadhar Allah Swt. terhadap hamba-hambanya. Hal ini telah dijelaskan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya yang berbunyi “ Dan tiada seorangpun dapat mengetahui dengan pasti apa yang diusahakannya esok, dan tiada seorangpun yang mengetahui dibumi mana ia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS Luqman[31]:34)

E. PASAR MODAL SYARIAH

Pasar modal secara umum merupakan suatu tempat bertemunya para penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi dalam rangka memperoleh modal. Penjual dalam pasar modal merupakan perusahaan untuk menjual efek-efek di pasar modal yang disebut emiten, sedangkan pembeli disebut investor.[1]

Pasar modal Syari’ah secara sederhana dapat diartikan sebagai pasar modal yang menerapkan prinsip-prinsip Syari’ah dalam kegiatan transaksi ekonomi dan terlepas dari hal-hal yang dilarang seperti: riba, perjudian, spekulasi.

Sedangkan efek Syari’ah adalah efek yang dimaksudkan dalam peraturan perundang-undangan di bidang Pasar Modal yang akad, pengelolaan perusahaan, maupun cara penerbitannya memenuhi prinsip-prinsip Syari’ah yang penetapannya dilakukan oleh DSN-MUI (Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia) dalam bentuk fatwa.

(6)

Prinsip obligasi syariah

Setelah perusahaan menerbitkan obligasi syariah, maka perusahaan tersebut harus menjalankan prinsip-prinsip yang mengatur obligasi syariah tersebut. Prinsip obligasi syariah antara lain:

1. Pembiayaan hanya untuk suatu transaksi atau suatu kegiatan usaha yang spesifik, dimana harus dapat diadakan pembukuan yang terpisah untuk menentukan manfaat yang timbul.

2. Hasil investasi yang diterima pemilik dana merupakan fungsi dari manfaat yang diterima perusahaan dari dana hasil penjualan obligasi, bukan dari kegiatan usaha yang lain.

3. Tidak boleh memberikan jaminan hasil usaha yang semata-mata merupakan fungsi waktu dari uang (time value of money).

4. Obligasi tidak dapat dipakai untuk menggantikan hutang yang sudah ada (bay al dayn bi al dayn).

5. Bila pemilik dana tidak harus menanggung rugi, maka pemilik usaha harus mengikat diri (aqad jaiz).

6. Pemilik dana dapat menerima pembagian dari pendapatan (revenue sharing), dimana pemilik usaha (emiten) mengikat diri untuk membatasi penggunaan pendapatan sebagai biaya usaha.

7. Obligasi dapat dijual kembali, baik kepada pemilik dana lainnya ataupun kepada emiten (bila sesuai dengan ketentuan).

8. Obligasi dapat dijual dibawah nilai pari (modal awal) kalau perusahaan mengalami kerugian.

9. Perubahan nilai pasar bukan berarti perubahan jumlah hutang.

(7)

SISTEM EKONOMI SYARIAH

A. Ekonomi Dan Kemakmuran

Membicarakan mengenai masalah kemakmuran, tentu yang pertama kali terlintas dalam benak adalah mengarah kepada segi keuangan atau kemapanan hidup seseorang. Secara mendasar kemakmuran dilihat dari sudut pandang ilmu ekonomi memiliki definisi sebagai situasi dimana kebutuhan bisa terpenuhi. Kebutuhan disini mencakup kebutuhan batin dan kebutuhan lahir, bisa dari sandang, papan, dan pangan. Kemudian meluas akan kebutuhan rasa nyaman, percaya, dan kepedulian sesama untuk saling membantu.

Secara umum kemamkmuran memiliki kriteria sebagai berikut

 Terpenuhinya kebutuhan pokok (primer), berupa sandang, pangan, dan papan.

 Mampu mnjangkau kebutuhan sekunder maupun tersier dengan mudah.

 Tidak memiliki tekanan batin, sehingga pikiran ringan.

 Memiliki orang yang menjadi tempat kepercayaan.

 Tidak kesulitan mengatur waktu, tenaga, maupun finansial.

 Tercukupinya kebutuhan diri akan rekreasi dan menjalankan hobi.

Melihat kriteria tersebut, tentunya akan langsung mengacu pada kemapanan dari segi finansial seseorang. Orang dengan keuangan yang melimpah cenderung mampu mendapatkan apapun yang diinginkan.

B. SistemEkonomi

Menurut Dumairy (1996), Sistem ekonomi adalah suatu sistem yang mengatur serta menjalin hubungan ekonomi antar manusia dengan seperangkat kelembagaan dalam suatu tatanan kehidupan. Sebuah sistem ekonomi terdiri atas unsur-unsur manusia dengan subjek; barang-barang ekonomi sebagai objek; serta alat kelembagaan yang mengatur dan menjalinnya dalam kegiatan ekonomi.

(8)

sekaligus kolektif.Ekonomi Islam adalah cara hidup yang serba cukup, Islam sendiri menyediakan segala aspek eksistensi manusia yang mengupayakan subuah tatanan yang didasarkan pada seperangkat konsep Hablum min-Allah wa hablum min-Annas, yang berkaitan tentang tuhan, manusia dan hubungan keduanya (tauhidi).Matra ekonomi Islam menempati kedudukan yang istimewa.

Karena Islam yakin bahwa stabilitas universal tergantug pada kesejahteraan material dan sepiritual manusia. Kedua aspek ini terpadu dalam satu bentuk tindakan dan kebutuhan manusia.Aktivitas antar manusia termasuk aktivitas ekonomi terjadi melalui apa yang di istilahkan oleh ulama’ dengan mu’amalah (intrataksi) pesan al-quran dalam aktivitas ekonomi “ Dan janganlah kamu sekalian makan atau melakukan interaksi ekonomi di antara kamu dengan jalan yang bathil ”(Q: S. Al Baqoroh : 188)

C. Jenis Sistem Ekonomi 1. Sistem Ekonomi Liberal

Sistem ekonomi liberal adalah sistem ekonomi yang dimana semua kebijakan ekonomi di atur oleh masyarakat atau pasar, pemerintah tidak boleh ikut campur hanya saja boleh mengawasi.Bisa di bilang pada sistem ini segala kegiatan

ekonomi akan ditentukan oleh kekuatan pasar, yakni kekuatan yang dibentuk oleh pertemuan antara permintaan dan penawaran.

Apabila seseorang ingin menguasai kekuatan pasar maka orang tersebut harus memiliki modal (kapital), teknologi, dan kemampuan wirausaha yang tinggi. Sistem ekonomi leberal sesuai dengan pendapat Adam Smith yang sangat menghendaki adanya kebebasan pasar dan tidak menginginkan adanya campur tangan pemerintah.

Contoh Negara yang menganut sistem ekonomi libera adalah:

Sistem ekonomi liberal dianut oleh Amerika, Inggris, Jerman, Prancis, dan Jepang. Hanya saja pelaksanaan di negara-negara tersebut sudahdisesuaikan dengan situasi dan kondisi masing-masing.Ciri-ciri sistem ekonomi liberal adalah sebagai berikut.

a. Seluruh kegiatan ekonomi diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat. b. Masyarakat bebas berusaha, berinovasi, dan berkreativitas dalammelakukan kegiatan ekonomi.

c. Hak milik perorangan diakui.

(9)

oriented).e. Keikutsertaan pemerintah dalam kegiatan ekonomi sangat dibatasi.

2. Sistem Ekonomi Sosialis

Dalam sistem ekonomi sosialis, sumber daya ekonomi atau factor produksi diklaim sebagai milik negara. Sistem ini lebih menekankan pada kebersamaan masyarakat dalam menjalankan dan memaukan perekonomian.Imbalan yang diterima berdasarkan pada kebutuhannya, bukan berdasarkan asa yang dicurahkan. Prinsip “keadilan” yang dianut oleh sistem ekonomi sosialis ialah “setiap orang menerima imbalan yang sama”. Dalam sistem ekonomi sosialis, campur tangan pemerintah sangat tinggi.Justru pemerintahlah yang menentukan dan merencanakan tiga persoalan pokok ekonomi (what, how, for whom).

Sistem ekonomi sosialisme sebenarnya cukup sederhana.Berpijak pada konsep Karl Marx tentang penghapusan kepimilikan hak pribadi, prinsip ekonomi sosialisme menekankan agar status kepemilikan swasta dihapuskan dalam beberapa komoditas penting dan menjadi kebutuhan masyarakat banyak, seperti air, listrik, bahan pangan, dan sebagainya[7].

3. Sistem Ekonomi Syariah

Ekonomi syariah merupakan ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi rakyat yang dilhami oleh nilai-nilai Islam.Ekonomi syariah berbeda dari kapitalisme, sosialisme, maupun Negara kesejahteraan (Welfare State).

Berbeda dari kapitalisme karena Islam menentang eksploitasi oleh pemilik modal terhadap buruh yang miskin, dan melarang penumpukan kekayaan.Selain itu, ekonomi dalam kacamata Islam merupakan tuntutan kehidupan sekaligus anjuran yang memiliki dimensi ibadah.

Perbedaan Ekonomi Syariah dengan Ekonomi Konvensional

Krisis ekonomi yang sering terjadi ditengaraia dalahulah system ekonomi konvensional, yang mengedepankan system bunga sebagai instrument

(10)

berbeda dengan ekonomi kapitalis, sosialis maupun komunis. Ekonomi syariah bukan pula berada di tengah-tengah ketiga sistem ekonomi itu. Sangat bertolak belakang dengan kapitalis yang lebih bersifat individual, sosialis yang

memberikan hamper semua tanggung jawab kepada warganya serta komunis yang ekstrem.

Ekonomi Islam menetapkan bentuk perdagangan serta perkhidmatan yang boleh dan tidak boleh di transaksikan. Ekonomi dalam Islam harus mampu memberikan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat, memberikan rasa adil, kebersamaan dan kekeluargaanserta mampu memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada setiap pelaku usaha

D. Prinsip Dasar Ekonomi Syariah

(11)

BAB III

MANAJEMEN DALAM BISNIS SYARIAH

A. Manajemen dalam Bisnis

Manajemen berasal dari kata Bahasa Inggris “management”, dengan kata kerja“to manage” yang secara umum berarti mengurusi, mengemudikan , mengelola, menjalankan,membina atau memimpin ; kata benda “manajement”, dan “manage” berarti orang yang melakukan kegiatan manajemen.

Aldag dan Stearns (1995) menjelaskan bahwa manajemen adalah proses perencanaan,pengorganisasian dan pengelolaan staf, kepemimpinan ,dan pengawasan dalam organisasi yang dilakukan secara sistematis guna mencapai tujuan tertentu.

Kebutuhan terhadap manajemen , bukan hanya karena kebutuhan dan pengembangan bisnis dan repon terhadap lingkungan perubahan organsasi, namun lebih jauh dari itu, kebutuhan terhadap manajemen ialah kebutuhan untuk mensukseskan tercapainya tujuan bisnis, serta melaksanakan seluruh kegiatan operasional bisnis dengan optimal.

Beberapa alas an akan pentingnya manajemen dalam diimplementasikan dalam kegiata bisnis adalah:

1) Manajemen merupakan suatu kekuatan yang mempunyai fungsi sebagai alat pemersatu, penggerak, dan pengkoordinir berbagai kegiatan bisnis.

2) Manajemen merupakan system kerja yang rasional dalam rangka pencapaian tujuan organisasi, guna mencapai kinerja operasional yang efektif dan efisien.

3) Manajemen mempunyai prinsip-prinsip yang universal sehingga dapat dipergunakan dalam setiap kegiatan operasional bisnis tanpa mengubah budaya organisasi yang ada

(12)

5) Manajemen akan menciptakan kegiatan operasional bisnis yang akan membawa organisasi kepada kedudukan yang lebih tinggi dan dihargai,karena merupakan salah satu factor produksi yang sangat diperlakukan organisasi.

6) Manajemen merupakan suatu profesi untuk dapat menangani dengan tepat kegiatan operasional bisnis . Dari penjabar tersebut jelas sekali manfaat manajemen bagi kegiatan bisnis . manajemen sangatlah penting ,karena di samping bersifat pengetahuan ,juga merupakan keahlian dari manajer atau pimpinan dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam bisnis melalui mekanisme system yang dapat dipergunakan nya.

B. Unsur-unsur dan Fungsi Manajemen

Manajemen merupakan sebuah subjek yang sangat penting karena ia mempersoalkan penetapan serta pencapaian tujuan tertentu yang telah ditetapkan oleh organisasi. Manajemen tidak saja mengidentifikasikan dan menganalisis, namun juga mengkombinasikan secara efektif bakat orang dan mendaya gunakan untuk mencapai tujuan . G.R. Terry (1997) menyebut unsur manajemen dengan istilah “Enam M”. Unsur-unsur manajemen tersebut perlu disinergikan agar tujuan organisasi bisa tercapai dengan efektif dan efisien. Dapat dijelaskan elemen-elemen yang ada dalam manajemen yang terdiri dari:

a) Tenaga Kerja (Men)

Tenaga kerja manusia, baik tenaga kerja eksekutif maupun operatif.ialah sebagai unsur yang paling berperan penting dalam pelaksanaan manajemen.

b) Dana (Money)

Dana digunakan sebagai modal pembiayaan atas berbagai kepentingan yang berkaitan dengan tujuan dan hasil yang dicapai.

c) Metode (Methods)

Metode biasanya disusun secara sistematis sehingga pencapaian tujuan dan hasil yang diinginkan lebih mudah untuk dicapai.

d) Material(Materials)

Bahan-bahan yang digunakan untuk mencapai tujuan dan hasil apa yang diinginkan.

(13)

JUAL DAN BELI SYARIAH

A. Pengertian Jual Beli

Jual beli dalam bahasa Arab terdiri dari dua kata yang mengandung makna berlawanan yaitu Al Bai’ yang artinya jual dan Asy Syira’a yang artinya Beli. Menurut istilah hukum Syara, jual beli adalah penukaran harta (dalam pengertian luas) atas dasar saling rela atau tukar menukar suatu benda (barang) yang dilakukan antara dua pihak dengan kesepakatan (akad) tertentu atas dasar suka sama suka (lihat QS Az Zumar : 39, At Taubah : 103, hud : 93).

1. Hukum Jual Beli

Orang yang terjun dalam bidang usaha jual beli harus mengetahui hukum jual beli agar dalam jual beli tersebut tidak ada yang dirugikan, baik dari pihak penjual maupun pihak pembeli. Jual beli hukumnya mubah. Artinya, hal tersebut diperbolehkan sepanjang suka sama suka. Allah berfirman.

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu.”(QS An Nisa : 29).

Hadis nabi Muhammad SAW menyatakan sebagai berikut yang Artinya : “Sesungguhnya jual beli itu hanya sah jika suka sama suka.” (HR Bukhari)

Artinya : “ Dua orang jual beli boleh memilih akan meneruskan jual beli mereka atau tidak, selama keduanya belum berpisah dari tempat akad.” (HR Bukhari dan Muslim).

(14)

atau keduanya telah meninggalkan tempat akad, keduanya tidak boleh membatalkan jual beli yang telah disepakatinya.

2. Rukun dan Syarat Jual Beli

Dalam pelaksanaan jual beli, minimal ada tiga rukun yang perlu dipenuhi : A. Penjual Atau Pembeli Harus Dalam Keadaan Sehat Akalnya

Orang gila tidak sah jual belinya. Penjual atau pembeli melakukan jual beli dengan kehendak sendiri, tidak ada paksaan kepada keduanya atau salah satu diantara keduanya. Apabila ada paksaan, jual beli tersebut tidak sah.

B. Syarat Ijab dan Kabul

Ijab adalah perkataan untuk menjual atau transaksi menyerahkan, misalnya saya menjual mobil ini dengan harga 25 juta rupiah. Kabul adalah ucapan si pembeli sebagai jawaban dari perkataan si penjual, misalnya saya membeli mobil ini dengan harga 25 juta rupiah. Sebelum akad terjadi, biasanya telah terjadi proses tawar menawar terlebih dulu.

Pernyataan ijab kabul tidak harus menggunakan kata-kata khusus. Yang diperlukan ijab kabul adalah saling rela (ridha) yang direalisasikan dalam bentuk kata-kata. Contohnya, aku jual, aku berikan, aku beli, aku ambil, dan aku terima. Ijab kabul jual beli juga sah dilakukan dalam bentuk tulisan dengan sarat bahwa kedua belah pihak berjauhan tempat, atau orang yang melakukan transaksi itu diwakilkan. Di zaman modern saat ini, jual beli dilakukan dengan cara memesan lewat telepon. Jual beli seperti itu sah saja, apabila si pemesan sudah tahu pasti kualitas barang pesanannya dan mempunyai keyakinan tidak ada unsur penipuan.

(15)

Barang yang diperjual belikan harus memenuhi sarat sebagai berikut : - Suci atau bersih dan halal barangnya

- Barang yang diperjual belikan harus diteliti lebih dulu

- Barang yang diperjual belikan tidak berada dalam proses penawaran dengan orang lain

- Barang yang diperjual belikan bukan hasil monopoli yang merugikan

- Barang yang diperjual belikan tidak boleh ditaksir (spekulasi)

- Barang yang dijual adalah milik sendiri atau yang diberi kuasa

- Barang itu dapat diserah terimakan

3. Perilaku Atau Sikap Yang Harus Dimiliki Oleh Penjual A. Berlaku Benar (Lurus)

Berperilaku benar merupakan ruh keimanan dan ciri utama orang yang beriman. Sebaliknya, dusta merupakan perilaku orang munafik. Seorang muslim dituntut untuk berlaku benar, seperti dalam jual beli, baik dari segi promosi barang atau penetapan harganya. Oleh karena itu, salah satu karakter pedagang yang terpenting dan diridhai Allah adalah berlaku benar.

Dusta dalam berdagang sangat dicela terlebih jika diiringi sumpah atas nama Allah. “Empat macam manusia yang dimurkai Allah, yaitu penjual yang suka bersumpah, orang miskin yang congkak, orang tua renta yang berzina, dan pemimpin yang zalim.”(HR Nasai dan Ibnu Hibban.

1. Menepati Amanat

(16)

Hal-hal yang harus disampaikan ketika berdagang adalah penjual atau pedagang menjelaskan ciri-ciri, kualitas, dan harga barang dagangannya kepada pembeli tanpa melebih-lebihkannya. Hal itu dimaksudkan agar pembeli tidak merasa tertipu dan dirugikan.

2. Jujur

Selain benar dan memegang amanat, seorang pedagang harus berlaku jujur. Kejujuran merupakan salah satu modal yang sangat penting dalam jual beli karena kejujuran akan menghindarkan diri dari hal-hal yang dapat merugikan salah satu pihak. Sikap jujur dalam hal timbangan, ukuran kualitas, dan kuantitas barang yang diperjual belikan adalah perintah Allah SWT.

Artinya : Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman.” (QS Al A’raf : 85).

Sikap jujur pedagang dapat dicontohkan seperti dengan menjelaskan cacat barang dagangan, baik yang diketahui maupun yang tidak diketahui. Sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya:

“Muslim itu adalah saudara muslim, tidak boleh seorang muslim apabila ia berdagang dengan saudaranya dan menemukan cacat, kecuali diterangkannya.”

3. Khiar

(17)

1) Khiar Majelis.

Khiar majelis adalah si pembeli dan penjual boleh memilih antara meneruskan akad jual beli atau mengurungkannya selama keduanya masih tetap ditempat jual beli. Khiar majelis ini berlaku pada semua macam jual beli.

2) Khiar Syarat.

Khiar syarat adalah suatu pilihan antara meneruskan atau mengurungkan jual beli setelah mempertimbangkan satu atau dua hari. Setelah hari yang ditentukan tiba, maka jual beli harus ditegaskan untuk dilanjutkan atau diurungkan. Masa khiar syarat selambat-lambatnya tiga hari

3) Khiar Aib (cacat).

Khiar aib (cacat) adalah si pembeli boleh mengembalikan barang yang dibelinya, apabila barang tersebut diketahui ada cacatnya. Kecacatan itu sudah ada sebelumnya, namun tidak diketahui oleh si penjual maupun si pembeli. Hadis nabi Muhammad SAW. Yang artinya : “Jika dua orang laki-laki mengadakan jual beli, maka masing-masing boleh melakukan khiar selama mereka belum berpisah dan mereka masih berkumpul, atau salah satu melakukan khiar, kemudian mereka sepakat dengan khiar tersebut, maka jual beli yang demikian itu sah.” (HR Mutafaqun alaih).

B. Riba

(18)

memakannya secara langsung ia akan terkena debunya.” (HR Ibnu Majah).

Kata riba (ar riba) menurut bahasa yaitu tambahan (az ziyadah) atau kelebihan. Riba menurut istilah syarak ialah suatu akad perjanjian yang terjadi dalam tukar menukar suatu barang yang tidak diketahui syaraknya, atau dalam tukar menukar itu disyaratkan menerima salah satu dari dua barang apabila terlambat. Riba dapat terjadi pada hutang piutang, pinjaman, gadai, atau sewa menyewa. Contohnya, Fauzi meminjam uang sebesar Rp 10.000 pada hari senin. Disepakati dalam setiap satu hari keterlambatan, Fauzi harus mengembalikan uang tersebut dengan tambahan 2 %. Jadi hari berikutnya Fauzi harus mengembalikan hutangnya menjadi Rp 10.200. Kelebihan atau tambahan ini disebut dengan riba.

Artinya : Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS Al Baqarah : 275).

Allah telah melarang hamba-Nya untuk memakan riba, Allah juga menjanjikan untuk melipatgandakan pahala bagi orang yang ikhlas mengeluarkan zakat, infak dan sedekah. Allah SWT berfirman.

(19)

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah Supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS Ali Imran : 130).

Hadis Nabi Muhammad SAW yang artinya : “Dari Jabir r.a ia berkata : Rasulullah SAW telah melaknati orang-orang yang memakan riba, orang yang menjadi wakilnya (orang yang memberi makan hasil riba), orang yang menuliskan, orang yang menyaksikannya, dan (selanjutnya) nabi bersabda, mereka itu semua sama saja.” (HR Muslim).

Beberapa ayat dan hadis yang telah disebutkan menunjukan bahwa Islam sangat membenci perbuatan riba dan menganjurkan kepada umatnya agar didalam mencari rezeki hendaknya menempuh cara yang halal.

Ulama fikih membagi riba menjadi empat bagian, yaitu sebagai berikut. 1. Riba fadal

Riba fadal yaitu tukar menukar dua buah barang yang sama jenisnya, namun tidak sama ukurannya yang disyaratkan oleh orang yang menukarnya. Contohnya tukar menukar emas dengan emas atau beras dengan beras, dan ada kelebihan yang disyaratkan oleh yang menukarkan. Supaya tukar menukar seperti ini tidak termasuk riba harus memenuhi tiga syarat sebagai berikut.

1. Barang yang ditukarkan harus sama

2. Timbangan atau takarannya harus sama

3. Serah terima harus pada saat itu juga.

2. Riba nasiah

(20)

3. Riba yad

Riba yad yaitu berpisah dari tempat akad jual beli sebelum serah terima. Misalnya, orang yang membeli suatu barang sebelum ia menerima barang tersebut dari penjual, penjual dan pembeli tersebut telah berpisah sebelum serah terima barang itu. Jual beli ini dinamakan riba yad.

Berikut syarat-syarat jual beli agar tidak menjadi riba. a. Menjual sesuatu yang sejenis ada tiga syarat, yaitu:

1) Serupa timbangan dan banyaknya. 2) Tunai.

3) Timbang terima dalam akad (ijab kabul) sebelum meninggalkan majelis akad.

b. Menjual sesuatu yang berlainan jenis ada dua syarat, yaitu: 1) Tunai.

2) Timbang terima dalam akad (ijab kabul) sebelum meninggalkan majelis akad.

Riba diharamkan oleh semua agama samawi. Adapun sebab diharamkannya karena memiliki bahaya yang sangat besar antara lain sebagai berikut.

1. Riba dapat menimbulkan permusuhan antar pribadi dan mengikis habis semangat kerja sama atau saling menolong sesama manusia. Padahal, semua agama, terutama Islam menyeru kepada manusia untuk saling tolong menolong, membenci orang yang mengutamakan kepentingan diri sendiri atau egois, serta orang yang mengeksploitasi orang lain.

(21)

3. Riba merupakan salah satu bentuk penjajahan atau perbudakan dimana satu pihak mengeksploitasi pihak yang lain.

BAB V

NILAI-NILAI SYARI’AH DALAM BISNIS

A. Etika Bisnis dalam Islam

Secara logika arti dari etika bisnis adalah penerapan etika dalam menjalankan kegiatan suatu bisnis. 1[4]Etika bisnis lahir di Amerika pada tahun 1970 an kemudian meluas ke Eropa tahun 1980 an dan menjadi fenomena global di tahun 1990 an jika sebelumnya hanya para teolog dan agamawan yang membicarakan masalah-masalah moral dari bisnis, sejumlah filsuf mulai terlibat dalam memikirkan masalah-masalah etis disekitar bisnis, dan etika bisnis dianggap sebagai suatu tanggapan tepat atas krisis moral yang meliputi dunia bisnis di Amerika Serikat, akan tetapi ironisnya justru negara Amerika yang paling gigih menolak kesepakatan Bali pada pertemuan negara-negara dunia tahun 2007 di Bali. Ketika sebagian besar negara-negara peserta mempermasalahkan etika industri negara-negara maju yang menjadi sumber penyebab global warming agar dibatasi, Amerika menolaknya. Jika kita menelusuri sejarah, dalam agama Islam tampak pandangan positif terhadap perdagangan dan kegiatan ekonomis. Nabi Muhammad SAW adalah seorang pedagang, dan agama Islam disebarluaskan terutama melalui para pedagang muslim. Dalam Al Qur’an terdapat peringatan terhadap penyalahgunaan kekayaan, tetapi tidak dilarang mencari kekayaan dengan cara halal (QS: 2;275) ”Allah telah menghalalkan perdagangan dan melarang riba”. Islam menempatkan aktivitas perdagangan dalam posisi yang amat strategis di tengah kegiatan manusia mencari rezeki dan penghidupan. Hal ini dapat dilihat pada sabda Rasulullah SAW: ”Perhatikan oleh mu sekalian perdagangan, sesungguhnya di dunia perdagangan itu ada sembilan dari sepuluh pintu rezeki”. Dawam Rahardjo justru mencurigai tesis Weber tentang etika Protestantisme, yang menyitir kegiatan bisnis sebagai tanggungjawab manusia 1[4] Suyadi prawirosentono. 2002. Pengantar bisnis modern (studi kasus Indonesia

(22)

terhadap Tuhan mengutipnya dari ajaran Islam. Kunci etis dan moral bisnis sesungguhnya terletak pada pelakunya, itu sebabnya misi diutusnya Rasulullah ke dunia adalah untuk memperbaiki akhlak manusia yang telah rusak. Seorang pengusaha muslim berkewajiban untuk memegang teguh etika dan moral bisnis Islami yang mencakup Husnul Khuluq. Pada derajat ini Allah akan melapangkan hatinya, dan akan membukakan pintu rezeki, dimana pintu rezeki akan terbuka dengan akhlak mulia tersebut, akhlak yang baik adalah modal dasar yang akan melahirkan praktik bisnis yang etis dan moralis.

Apakah dalam bisnis diperlukan etika atau moral? Jawabannya sangat diperlukan dalam rangka untuk melangsungkan bisnis secara teratur, terarah dan bermartabat. Bukanlah manusia adalah makhluk yang bermartabat?

Islam sebagai agama yang telah sempurna sudah barang tentu memberikan rambu-rambu dalam melakukan transaksi, istilah al-tijarah, al-bai’u, tadayantum dan isytara yang disebutkan dalam al-Qur’an sebagai pertanda bahwa Islam memiliki perhatian yang serius tentang dunia usaha atau perdagangan. Dalam menjalankan usaha dagangnya tetap harus berada dalam rambu-rambu tersebut. Rasulullah Saw telah memberikan contoh yang dapat diteladani dalam berbisnis, misalnya:

1. Kejujuran

Salah satu dari akhlak yang baik dalam bisnis Islam adalah kejujuran (QS: Al Ahzab;70-71),Az-Zumar (39):32-34) tudak mau berbuat dusta.2[5] Sebagian dari makna kejujuran adalah seorang pengusaha senantiasa terbuka dan transparan dalam jual belinya ”Tetapkanlah kejujuran karena sesungguhnya kejujuran mengantarkan kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan mengantarkan kepada surga” (Hadits).

Sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang, baik harta, ilmu pengetahuan, dan hal-hal yang bersifat rahasia yang wajib diperlihara atau disampaikan kepada yang berhak menerima, harus disampaikan apa adanya tidak dikurangi atau ditambah-tambahi . Orang yang jujur adalah orang yang mengatakan sebenarnya, walaupun terasa pahit untuk disampaikan.

(23)

Sifat jujur atau dapat dipercaya merupakan sifat terpuji yang disenangi Allah, walaupun disadari sulit menemukan orang yang dapat dipercaya. Kejujuran adalah barang mahal. Lawan dari kejujuran adalah penipuan. Dalam dunia bisnis pada umumnya kadang sulit untuk mendapatkan kejujuran. Laporan yang dibuat oleh akuntan saja sering dibuat rangkap dua untuk mengelak dari pajak.

Rasulullah Saw pada suatu hari melewati pasar, dimana dijual seonggok makanan. Beliau masukkan tangannya keonggokan itu, dan jari-jarinya menemukannya basah. Beliau bertanya: “Apakah ini hai penjual”? Dia berkata “Itu meletakannya di atas agar orang melihatnya? Siapa yang menipu kami, maka bukan dia kelompok kami” .

2. Keadilan

Islam sangat mengajurkan untuk berbuat adil dalam berbisnis, dan melarang berbuat curang atau berlaku dzalim. Rasulullah diutus Allah untuk membangun keadilan. Kecelakaan besar bagi orang yang berbuat curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain meminta untuk dipenuhi, sementara kalau menakar atau menimbang untuk orang selalu dikurangi. Kecurangan dalam berbisnis pertanda kehancuran bisnis tersebut, karena kunci keberhasilan bisnis adalah kepercayaan. Al-Qur’an memerintahkan kepada kaum muslimin untuk menimbang dan mengukur dengan cara yang benar dan jangan sampai melakukan kecurangan dalam bentuk pengurangan takaran dan timbangan. Berbisnis dengan cara yang curang menunjukkan suatu tindakan yang nista, dan hal ini menghilangkan nilai kemartabatan manusia yang luhur dan mulia. Dalam kenyataan hidup, orang yang semula dihormati dan dianggap sukses dalam berdagang, kemudian ia terpuruk dalam kehidupannya, karena dalam menjalankan bisnisnya penuh dengan kecurangan, ketidakadilan dan mendzalimi orang lain. 3. Barang atau produk yang dijual haruslah barang yang halal, baik dari segi

(24)

barang yang haram, misalnya alkohol, obat-obatan terlarang, dan barang yang gharar dilarang dalam Islam .

4. Akhlak yang lain adalah amanah, Islam menginginkan seorang pebisnis muslim mempunyai hati yang tanggap, dengan menjaganya atau dengan memenuhi hak-hak Allah dan manusia, serta menjaga muamalah nya dari unsur yang melampaui batas atau sia-sia. Seorang pebisnis muslim adalah sosok yang dapat dipercaya, sehingga ia tidak menzholimi kepercayaan yang diberikan kepadanya ”Tidak ada iman bagi orang yang tidak punya amanat (tidak dapat dipercaya), dan tidak ada agama bagi orang yang tidak menepati janji”, ”pedagang yang jujur dan amanah (tempatnya di surga) bersama para nabi, Shiddiqin (orang yang jujur) dan para syuhada” (Hadits). Sifat toleran juga merupakan kunci sukses pebisnis muslim, toleran membuka kunci rezeki dan sarana hidup tenang. Manfaat toleran adalah mempermudah pergaulan, mempermudah urusan jual beli, dan mempercepat kembalinya modal ”Allah mengasihi orang yang lapang dada dalam menjual, dalam membeli serta melunasi hutang” (Hadits). Konsekuen terhadap akad dan perjanjian merupakan kunci sukses yang lain dalam hal apapun sesungguhnya Allah memerintah kita untuk hal itu ”Hai orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu” (QS: Al- Maidah;1), ”Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya” (QS: Al Isra;34). Menepati janji mengeluarkan orang dari kemunafikan sebagaimana sabda Rasulullah ”Tanda-tanda munafik itu tiga perkara, ketika berbicara ia dusta, ketika sumpah ia mengingkari, ketika dipercaya ia khianat” (Hadits).

B. Aktivitas Bisnis yang Dilarang oleh Islam

(25)

wanita disertai lagu-lagu yang menghentak, suguhan minuman dan makanan tak halal dan lain-lain (QS: Al-A’raf;32. QS: Al Maidah;100) adalah kegiatan bisnis yang diharamkan.

2. Menghindari cara memperoleh dan menggunakan harta secara tidak halal. Praktik riba yang menyengsarakan agar dihindari, Islam melarang riba dengan ancaman berat (QS: Al Baqarah;275-279), sementara transaksi spekulatif amat erat kaitannya dengan bisnis yang tidak transparan seperti perjudian, penipuan, melanggar amanah sehingga besar kemungkinan akan merugikan. Penimbunan harta agar mematikan fungsinya untuk dinikmati oleh orang lain serta mempersempit ruang usaha dan aktivitas ekonomi adalah perbuatan tercela dan mendapat ganjaran yang amat berat (QS:At Taubah; 34 –35).

3. Persaingan yang tidak fair sangat dicela oleh Allah sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al Baqarah: 188: ”Janganlah kamu memakan sebagian harta sebagian kamu dengan cara yang batil”. Monopoli juga termasuk persaingan yang tidak fair Rasulullah mencela perbuatan tersebut : ”Barangsiapa yang melakukan monopoli maka dia telah bersalah”, ”Seorang tengkulak itu diberi rezeki oleh Allah adapun sesorang yang melakukan monopoli itu dilaknat”. Monopoli dilakukan agar memperoleh penguasaan pasar dengan mencegah pelaku lain untuk menyainginya dengan berbagai cara, seringkali dengan cara-cara yang tidak terpuji tujuannya adalah untuk memahalkan harga agar pengusaha tersebut mendapat keuntungan yang sangat besar. Rasulullah bersabda : ”Seseorang yang sengaja melakukan sesuatu untuk memahalkan harga, niscaya Allah akan menjanjikan kepada singgasana yang terbuat dari api neraka kelak di hari kiamat”. 4. Pemalsuan dan penipuan, Islam sangat melarang memalsu dan menipu karena dapat menyebabkan kerugian, kezaliman, serta dapat menimbulkan permusuhan dan percekcokan. Allah berfirman dalam QS:Al-Isra;35: ”Dan sempurnakanlah takaran ketika kamu menakar dan timbanglah dengan neraca yang benar”. Nabi bersabda ”Apabila kamu menjual maka jangan menipu orang dengan kata-kata manis”. Dalam bisnis modern paling tidak kita menyaksikan cara-cara tidak terpuji yang dilakukan sebagian pebisnis dalam melakukan penawaran produknya, yang dilarang dalam ajaran Islam. Berbagai bentuk penawaran (promosi) yang dilarang tersebut dapat dikelompokkan sebagai berikut :

(26)

artis yang memberikan testimoni keunggulan suatu produk padahal ia sendiri tidak mengkonsumsinya.

b) Iklan yang tidak sesuai dengan kenyataan, berbagai iklan yang sering kita saksikan di media televisi, atau dipajang di media cetak, media indoor maupun outdoor, atau kita dengarkan lewat radio seringkali memberikan keterangan palsu. c) Eksploitasi wanita, produk-produk seperti, kosmetika, perawatan tubuh, maupun

produk lainnya seringkali melakukan eksploitasi tubuh wanita agar iklannya dianggap menarik. Atau dalam suatu pameran banyak perusahaan yang

mengguakan wanita berpakaian minim menjadi penjaga stand pameran produk mereka dan menugaskan wanita tersebut merayu pembeli agar melakukan pembelian terhadap produk mereka.3[6]

C. Tujuan bisnis , Keuntungan Bisnis maupun Keuntungan Ekonomis

Agar tetap beoprasi dan memiliki kelangsungan hudup, setiap bisnis selalu memiliki tujuan. Ada berbagai tujuan dari suatu bisnis, namun pada umumnya tujuan bisnis meliputi :

a) Profit (keuntungan)

b) Mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan c) Pertumbuhan perusahaan

d) Tanggung jawab social

e) Dan yang terpenting sesuai dengan sariat islam.

BAB VI

PEBISNIS SYARIAH MERUPAKAN PROFESI MULIA A. Nabi Syua'ib Teladan Dalam Berbisnis

Nabi syua’ib di utus Allah swt untuk kaum madyan, yaitu sekelompok kaum yang bertempat tinggal di jazirah arab tepatnya di pinggiran negeri syam. mereka menyembah aikah, yang merupakan sebidang padang pasir yang di tumbuhi beberapa pohon dan tanaman. Perilaku penduduknya terutama adalah pebisnisnya banyak yang tidak jujur dan sudah keterlaluan. Main curang dan

(27)

khianat merupakan kebiasaan mereka dalam berbisnis. Melakukan pemalsuan barang dan curang dalam menakar timbangan sudah menjadi kebiasaan mereka. Takaran apabila membeli barang berisi lebih banyak dan apabila takaran menjual isinya akan lebih sedikit. Dengan begitu, yang kaya akan tambah semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin, keuntungan hanya bertumpik pada mereka yang merupakan pebisnis besar.Perbuatan curang dalam berbisnis seringkali di lakukan dalam masalah takar menakar, menimbang dan sebagainya. Mengenai hal ini allah berfirman dalam QS Al-Isra ayat 35.

Artinya: disempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama bagimu dan lebih baik akibatnya.Allah Swt selalu memberi peringatan kepada manusia agar tidak melakukan kecurangan-kecurangan dalam takar menakar barang, dan bagi mereka akan mendapat hukuman dari allah akibat perbuatannya tersebut. Dan khusus tentang takaran tersebut dengan jelas di nyatakan dalam QS Al Muthafifin 1-6 yang berisi tentang orang yang curang dalam menakar dan menimbang, tapi secara umum berlaku untuk perbuatan curang lainnya.

B. Pengertian Hukum Bisnis

Pastilah sudah sangat dihafal oleh mahasiswa yang mempelajari ilmu bisnis pada saat ia menempuh studinya. Namun, ternyata pengertian dari hukum bisnis yang terbilang cukup sederhana saat dihafal tersebut, cukup sulit jika anda mempraktekkannya dalam dunia nyata.Ya, hukum bisnis adalah sebuah

perundang-undangan yang berisi tentang tata cara dalam berbisnis agar bisnis atau perdagangan tersebut bisa tertib dan masalah yang ada dalam bisnis tersebut bisa diselesaikan dengan baik tanpa harus menyimpang dari hukum yang telah

berlaku.Ketika seseorang berniat menjalankan sebuah bisnis, sebenarnya agar bisnisnya aman dari masalah, seseorang tersebut harus mengerti betul tentang hukum dalam berbisnis. Tentunya saat mengerti hukum dalam berbisnis, ilmu tersebut akan bermanfaat untuknya jikalau pada saat menjalankan bisnis mereka mendapati sebuah masalah.

Fungsi dan Definisi Hukum Bisnis

Masalah dalam bisnis tak hanya soal izin berbisnis, tetapi juga masalah dengan saingan bisnisnya yang terkadang membuat pelaku bisnis harus

bermasalah dengan hukum.Maka dari itu, mulai sekarang, bagi anda yang ingin bisnisnya berjalan dengan lancar, tak ada salahnya anda mengetahui lebih detail tentang hukum dalam berbisnis.

(28)

hukum bisnis, anda juga wajib tahu tentang fungsi dan tujuannya.Setidaknya, ada beberapa fungsi dari hukum bisnis yang wajib diketahui oleh pelaku bisnis.Fungsi yang pertama, hukum bisnis bisa dijadikan sebagai sumber informasi bagi para pelaku bisnis.Ya, dengan mempelajari hukum bisnis, maka mereka bisa

mengetahui sedikit seluk beluk tentang berbisnis yang baik dan menguntungkan. Fungsi hukum bisnis yang kedua adalah pelaku bisnis bisa lebih

mengetahui hak dan kewajbannya saat mambangun sebuah usaha.Hak berbisnis, salah satunya mungkin bisa menawarkan produk apapun sebagai produk bisnis andalannya. Yang terpenting, produk bisnisnya tidak menyimpang dari aturan perundang-undangan dan tidak merugikan orang lain. Sedangkan untuk masalah kewajban, kewajiban pelaku bisnis adalah membayar pajak. Jadi, jika anda mengerti hukum bisnis dengan baik,seharusnya anda tidak melupakan kewajiban anda yaitu membayar pajak.

Tujuan Hukum Bisnis

Tentunya masih ada lagi fungsi dari hukum bisnis yang wajib dipahami oleh pelaku bisnis. Dengan adanya hukum bisnis diharapkan pelaku bisnis akan lebih bisa bersikap baik dalam menjalankan bisnis. Dalam sebuah bisnis pastilah anda memiliki saingan, boleh saja bersaing untuk mendapatkan kesuksesan dalam bisnis, tetapi anda harus ingat bahwa bersaing harus sehat dan tidak boleh

menggunakan cara curang yang bisa merugikan pebisnis lain. Selain fungsi dari hukum bisnis, andapun juga wajib tahu dan paham tentang tujuan hukum

bisnis.Tujuan hukum bisnis yang paling simple adalah mewujudkan sebuah bisnis yang aman dan adil bagi semua pelaku bisnis.

Diharapkan setelah pelaku bisnis mau mempelajari tentang teori hukum bisnis mulai dari pengertian sampai dengan tujuan hukum bisnis, para pelaku bisnis bisa menjalankan bisnisnya dengan baik.Jikalau memang ada masalah yang harus mereka hadapi dalam berbisnis, masalah yang menghadang tersebut bisa diselesaikan dengan baik dan tidak menimbulkan masalah yang bisa menyimpang dengan hukum.

C. Perilaku Terpuji dalam Bisnis

6 SIFAT TERPUJI DALAM PERDAGANGAN

(29)

1. Tidak mengambil laba lebih banyak, seperti yang lazim dalam dunia dagang, yaitu menjual barang lebih murah dari saingan atau sama dengan pedagang lain yang sejenis.

2. Membayar harga agak lebih mahal kepada pedagang miskin, ini adalah amal yang lebih baik dari pada sedekah biasa. Jika membeli barang dari seorang penjual yang miskin maka lebihkanlah pembayaran dari harga semestinya.

3. Memurahkan harga atau memberi potongan kepada pembeli yang miskin, ini akan memiliki pahala yang berlipat ganda.

4. Bila membayar hutang, pembayarannya dipercepat dari waktu yang ditentukan.

5. Membatalkan jual beli, jika pihak pembeli menginginkannya. Ini sesuai dengan prinsip bahwa pembeli adalah raja. Sebab penjual harus menjaga hati langganan agar langganan puas, kepuasan konsumen adalah target pedagang.

6. Bila menjual bahan pangan kepada orang miskin secara cicilan, maka jangan ditagih bila orang miskin itu tidak mampu membayarnya dan membebaskan mereka dari hutang jika meninggal dunia.

D. Berdagang di Masjid Hukum Jual Beli di Masjid

Masjid adalah tempat yang digunakan untuk shalat, dzikir, dan membaca al-Qur’an.Tetapi kita dapatkan juga Rasulullah bermusyawarah dan menerima tamu di dalam masjid.Apakah dibolehkan melakukan transaksi jual beli di dalam masjid?

Para ulama berbeda pendapat di dalam masalah ini. Hal ini terkait dengan

perbedaan pendapat di dalam memahami hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah bersabda:

:

اوللوقلفف ةةللفاضف ههيفه دلشلننيف ننمف منتلينأفرفاذفإهوف ، كفتفرفاجفته هلللفلا حفبفرنأف لف اوللوقلفف دهجهسنمفلنا ىفه علاتفبنيف ونأف عليبهيف ننمف منتلينأفرفاذفإه

:

كفينلفعف هلللفلا اهفدلفرف لف

(30)

Allah tidak mengembalikannya kepadamu” (HR Tirmidzi ( 1231) , Ibnu Huzaimah ( 1305), Baihaqi ( 4518))

Para ulama berbeda pendapat di dalam memahami hadits di atas yang keterangannya sebagai berikut:

Pendapat Pertama: jual beli di masjid hukumnya makruh. Ini adalah pendapat mayoritas ulama dari kalangan Malikiyah, Syafi’iyah, dan sebagian Hanabilah seperti IbnuTaimiyah.

Berkata Sulaiman al- Bujairmi asy-Syafi’I, “Dimakruhkan untuk jual beli di masjid dan seluruh transaksi sejenis jual beli.Kecuali pernikahan maka disunnahkan dilakukan di dalamnya.Begitu juga dimakruhkan untuk mencari barang yang hilang.” (Tuhfatu al-Habib ‘ala al-Khatib: III/666).

Pendapat Kedua: jual beli di masjid hukumnya haram. Ini pendapat sebagian ulama Hanabilah. Alasannya:

1. Hadits dari Abu Hurairah di atas menunjukkan larangan, dan pada asalnya setiap larangan menunjukkan keharaman.

2. Masjid tidak dibangun untuk keperluan jual beli, tetapi untuk berdzikir, shalat dan membaca al-Qur’an.

3. Diriwayatkan bahwa Imran al-Qashir ketika melihat seseorang berdagang di masjid, beliau langsung menegurnya dan mengatakan, “Ini adalah pasar akherat.Jika Anda ingin berdagang maka keluarlah ke pasar dunia.” (lihat al-Mughni: IV/337).

Pendapat Ketiga: jual beli di masjid hukumnya boleh. Ini pendapat sebagian asy-Syafi’iyah sebagaimana disebutkan an-Nawawi di dalam al-Majmu’: II/203.

Sebagian ulama Hanafiyah membolehkan jual beli jika tidak dalam jumlah yang besar dan ramai sehingga menyerupai pasar.Berkata ath-Thahawi, “Begitu juga larangan jual beli (di masjid) maksudnya adalah jual beli dalam bentuk yang besar, sehingga masjid seperti pasar.Hal itu karena beliau (Rasulullah) tidak melarang Ali menjual jasa perbaikan sandal, padahal kalau perbaikan sandal ini menjadi ramai hukumnya menjadi makruh.Hukum ini berlaku pada jual beli, membacakan syair, dan membuat halaqah sebelum shalat (Jumat).Kalau ini menjadi ramai maka dimakruhkan.Jika tidak ramai maka tidak apa-apa.” (lihat Hasyiatu Ibnu Abidin: I/660).

Berkata al-Marghiyani tentang orang i’tikaf.

“Dibolehkan bagi yang iktikaf untuk melakukan jual beli di masjid tanpa boleh membawa barang-barang dagangan, karena kadang orang yang i’tikaf

membutuhkan barang tersebut, sedangkan tidak ada orang yang bisa

(31)

Maksudnya dibolehkan membeli barang-barang yang dibutuhkan orang yang i’tikaf seperti makanan dan pakaian.Adapun jual beli dengan tujuan berdagang maka hukumnya makruh, apalagi bagi yang sedang i’tikaf.

Di dalam beberapa riwayat dari Imam Malik dijelaskan bahwa transaksi yang bentuknya kecil dan remeh boleh dilakukan di masjid tetapi transaksi yang besar, apalagi sampai membawa barang dagangan ke dalam masjid maka

hukumnya makruh .Al-Baji berkata, “Diriwayatkan dari al-Qasim dari Imam Malik di dalam al-Majmu’ah, ‘Tidak apa-apa seseorang membayar utang kepada temannya di dalam masjid’.” (al- Muntaqa Syarh al-Muwatho’: I/

342).Disebutkan juga di dalam kitab yang sama, “Adapun seseorang yang menawar baju yang sedang dipakai orang lain, atau barang yang pernah dia lihat sebelumnya dan telah mengetahuinya kemudian ingin membelinya, maka tidak apa-apa.”

Apakah Jual Belinya sah?

Mayoritas ulama mengatakan jual belinya sah, bahkan tidak sedikit yang menyebutkan kesepakatan ulama dalam hal ini.Di antara ulama yang menukil kesepakatan tersebut adalah Ibnu Bathal, al-Mawardi, al-Iraqi, dan Ibnu Muflih.

Berkata Ibnu Qudamah, “Jika seseorang berjualan di masjid, maka jual belinya sah, karena jual belinya telah memenuhi rukun dan syaratnya, serta tidak ada hal yang menyebabkan rusaknya jual beli tersebut. Adapun kemakruhan untuk berjualan di masjid tidak secara otomatis menyebabkan jual beli tersebut rusak (tidak sah). Sebagaimana kecurangan dan penipuan serta manipulasi susu kambing di dalam jual beli. Ini dikuatkan dengan sabda Rasulullah (Maka

katakanlah, “Semoga Allah tidak memberi keuntungan pada daganganmu.”) tanpa mengatakan bahwa jual beli tersebut rusak.Hal ini menunjukkan keabsahan jual beli tersebut. (al- Mughni: IV/337).

Al-Mardawai, salah seorang ulama Hanabilah di dalam kitab al- Inshaf (III/347) menyebutkan bahwa Ibnu Habirah mengatakan jual beli yang dilakukan di masjid hukumnya tidak sah.Tentunya pendapat ini sangat lemah dan menyelesihi

mayoritas ulama, sebagaimana yang disebutkan Ibnu Qudamah di atas.

E. PROMOSI DALAM BISNIS SYARIAH

(32)

untuk merencanakan barangdan jasa untuk memuaskan kebutuhan organisasi sesuai dengan prinsip syariah.Bank syariah dalam menjalankan usahanya mengutamakan konsistensi penerapan prinsip syariah dengan menggunakan sistem non bunga dan penerapan kualitas pelayanan syariah. perbedaan lembaga konvensional dengan lembaga syariah dalam konsep pemasaran syariah .Ancaman dari luar bagi bank syariah dapat menghambat jalannya perusahaan, namun lembaga syariah seperti bank syariah.

Saat ini Syariah telah menjadi perbincangan oleh banyak kalangan.Bahkan sebagiannya telah menjadi alternatif yang nyata dirasakan oleh kita, terutama dalam bidang ekonomi yaitu ekonomi Islam yang diterapkan suatu negara. Disamping memberikan manfaat universal di berbagai aspek kehidupan, syariah diyakini akan menyelamatkan manusia dari kehidupan yang semakin materialistis. Firman Allah SWT dalam Al-Quran Surat Al-Jatsiyah yang artinya, “Kemudian Kami Jadikan kamu berada didalam suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui” (QS Al-Jatsiyah: 18).

BAB VII

KETELADANAN MUHAMMAD DALAM BERBISNIS

A. Perdagangan Pada Zaman Arab Kuno

(33)

ada negara Ethiopia, dan di sebelah selatan ada Samudera Hindia yang memisahkannya dengan negara India.

Tidak berlebihan jika kita mengatakan bahwa sebagian besar perdagangan dunia, sejak zaman kuno sampai abad pertengahan adalah perdagangan di antara negara-negara ini. Dua negara-negara besar yang yang selalu bersaing untuk mendapatkan pengaruh dan kekuasaan di dunia, yaitu Persia dan Romawi, memiliki hubungan-hubungan dagang dengan bangsa Arab di utara dan selatan. Meskipun dengan taraf yang lebih rendah, bangsa Arab juga memiliki hubungan dagang dengan India, Yaman, ‘Amman dan Bahrain.

Ada dua jalur transportasi perdagangan di jazirah Arabia; jalur pertama adalah jalur timur yang menghubungkan Yaman dengan Irak: membawa komoditas Yaman, India dan Persia lewat darat, melintasi bagian barat Irak kemudian gurun pasir dan akhirnya sampai di pasar-pasar Syam. Di jalur itu, para pedagang melintasi pasar-pasar Yaman, Irak, Palmyra, dan Syiria. Di setiap wilayah mereka menjual komoditas yang tidak ada di sana, dan juga membeli komoditas wilayah itu untuk dibawa ke wilayah-wilayah lain. Jalur kedua, dan merupakan yang paling penting, adalah jalur barat yang menghubungkan Yaman dengan Syam melintasi wilayah-wilayah Syam dan Hijaz, membawa komoditas Yaman, Ethiopia dan India ke Syam, dan sebaliknya membawa komoditas Syam ke Yaman lewat jalur laut.

Di kalangan bangsa-bangsa kuno, orang-orang Arab dikenal sebagai broker (pedagang perantara), yang selalu menjaga jalur perdagangannya sesuai dengan kebiasaan mereka dan penguasaan mereka terhadap gurun. Letak geografis negara mereka adalah lingkaran penghubung di antara kerajaan-kerajaan dunia masa lalu. Bangsa Quraisy dalam jalur perdagangan itu adalah juaranya. Merekalah yang memimpin bangsa Arab di semua sisi. Nama Quraisy sendiri seolah terdengar seperti bentuk tashghir ta’zhim (pengubahan bentuk kata dengan maksud membesarkan) dari kata al-Qarsy yang adalah seekor binatang besar di laut, ditakuti oleh binatang-binatang laut lainnya.

(34)

Mesir di masa lalu juga sangat ingin menguasai negara Arab. Anehnya ia tetap terjaga seperti adanya sampai akhirnya Inggris berhasil menancapkan

kekuasaannya di bagain timur dan barat jazirah Arabia. Mereka berhasil menguasai Eden, sebuah pelabuhan alamiah Yaman, di mana kapal-kapal dari Ethiopia dan India berlabuh. Inggris juga menguasai ‘Aqabah, sebuah tempat perhentian kafilah-kafilah Arabia di masa lalu, dan merupakan pelabuhan Romawi pertama yang dikuasai oleh bangsa Arab. Dengan begitu, Inggris berhasil

menguasai wilayah-wilayah yang sangat berpengaruh terhadap kedua jalur perdagangan ini, yang menjamin jalur perdagangan India.

Sangat masuk akal jika bangsa Arab masa lalu, baik laki-laki maupun

perempuannya, melakukan aktifitas perdagangan, khususnya bagi mereka yang negara-negaranya terletak dekat salah satu dari dua jalur perdagangan ini. Jika pun mereka tidak melakukan aktifitas perdagangan, maka mereka akan memanfaatkan perdagangan dengan cara bekerja sebagai pemandu jalan atau pengemudi dari kafilah-kafilah dagang itu. Oleh karena itu tidak salah jika salah seorang orientalis menyatakan bahwa bangsa Arab adalah bangsa pedagang dan broker, bukan bangsa yang suka berperang.

Negara-negara Arab masa lalu seperti Tadamur (Palmyra), Saba, dan Ma’in, sibuk dalam perdagangan di wilayah timur, sampai-sampai Taurat merekam kekayaan dan perdagangan mereka. Penduduk Tadamur membawa barang dagangan bangsa Arab, Irak dan India ke Mesir dan selatan Eropa. Permata dan mutiara yang dibawa oleh penduduk Tadamur dari negara timur adalah benda-benda yang sangat disukai dan dibanggakan oleh para raja dan kaisar Eropa.

Tadamur terletak di tengah-tengah antara negara Persia dan Romawi, antara Irak, Syam dan jazirah Arab. Hal ini menjadikan Tadamur sebagai tempat persinggahan kafilah-kafilah dagang dari semua negara ini sejak masa lalu. Akibatnya dapat ditebak, perdagangan mereka menjadi ramai, kekayaan mereka semakin

berlimpah, dan pasar-pasar mereka menjadi begitu terkenal sampai menjadi kiblat bagi para pedagang India, Persia, jazirah Arab, Irak, Suriah, Palestina, Mesir, dan Eropa.

(35)

sering memberikan upeti dan mengirimkan utusan. Tadamur mengetahui bagaimana negara Romawi dan Persia seringkali bersaing untuk menguasai perdagangan Tadamur.

Ketika negara Ma’in di Yaman tumbuh pesat, penduduknya kemudian melakukan aktifitas perdagangan. Dalam hal ini mereka sangat terbantu oleh luasnya

pengaruh mereka hingga mencapai wilayah-wilayah pantai di laut tengah dan pelabuhan-pelabuhan teluk Persia.

Sementara negara Saba’ begitu terkenal kekayaan dan perdagangannya, sehingga dalam Taurat disebutkan bahwa raja Saba’ menyerahkan kepada Nabi Sulaiman sebanyak 12.000 kg emas dan batu-batu mulia yang sangat banyak. Cukuplah ini menjadi bukti bagaimana kekayaan yang mereka miliki. Pada masa lalu, bangsa Saba’ adalah negara Arab yang paling kaya dan paling luas perdagangannya. Mereka membawa barang-barang dagang dari Ethiopia dan India ke Mesir, Syam, dan Irak. Dengan begitu mereka lalu membentangkan pengaruh perdagangan mereka sekaligus memonopoli perdagangan di wilayah-wilayah tersebut.

(36)

Yang menggantikan mereka adalah bangsa Himyar yang menjadikan Arab Hijaz ada dalam kekuasaan mereka, yang kemudian mereka manfaatkan untuk

membawa barang-barang dagangan mereka.

Dengan demikian maka orang-orang Yaman di masa lalu melakukan transportasi perdagangan antara negara-negara Arab dan negara-negara yang ada di sekitarnya. Hal ini terus terjaga sampai datangnya abad VI M. Mereka bersama kerajaan-kerajaan lainnya memonopoli perdagangan di kawasan jazirah Arabia. Mereka membawa kurma, kismis, kulit, kemenyan, batu-batu mulia, kain-kain tenun yang mereka dapatkan dari negara asal dengan cara menukarnya dengan barang-barang lain. Mereka juga membawa barang-barang dagangan yang mereka buat sendiri seperti parfum dan minyak wangi dan kemudian mereka jual di pasar-pasar dunia di masa lalu seperti Asia, Afrika dan Eropa. Untuk jangka waktu yang lama mereka menjadi pengawas perdagangan dunia.

B. Muhammad Ikut Kafillah Bisnis

Bisnis dagang Rasulullah SAW secara mandiri baru dimulai ketika Dia mencapai usia remaja. Rasulullah SAW berdagang bersama As-Saib bin Abus-Saib yang merupakan rekanan terbaik, tidak pernah saling curang dan saling berselisih. Al Mubarakfury menyebutkan, dalam berdagang, Nabi dikenal dengan setinggi-tingginya nilai amanah, nilai kejujuran, dan sikap menjaga kehormatan diri. Inilah karakternya di segenap sisi kehidupannya, hingga diberi Al-amin. Usaha

perdagangan Rasulullah SAW pun tidak main-main. Dia terlibat dalam perdagangan internasional sejak remaja. Dia usia 17 tahun, Muhammad SAW telah memimpin sebuah ekspedisi perdagangan ke luar negeri. Afzalur Rahman dalam buku Muhammad A Trader menyebutkan, reputasi Rasulullah SAW dalam dunia bisnis demikian bagus, sehingga Dia dikenal luas di Yaman, Syiria,

Yordania, Irak, Basrah, dan kota-kotabperdagangan lainnya di jazirah Arab. Afzalur Rahman juga mencatat, dalam ekspedisi perdagannya Nabi Muhammad SAW telah mengarungi 17 negara ketika itu, sebuah aktivitas perdagangan yang luar biasa,

Reputasi Nabi Muhammad dalam dunia bisnis dilaporkan antara lain oleh

(37)

sebagai pedagang/wirausaha. Pada saat belum memiliki modal, beliau manajer perdagangan para investor (shohibul mal) berdasarkan bagi hasil. Seorang investor besar Makkah, Khadijah, mengangkatnya sebagai manajer ke pusat perdagangan Habshah di Yaman. Kecakapannya sebagai wirausaha telah

mendatangkan keuntungan besar baginya investornya. Tidak satu pun jenis bisnis yang Ia tangani mendapat kerugian. Ia juga empat kali memimpin ekspedisi perdagangan untuk Khadijah ke Syiria, Jorash, dan Bahrain di sebelah timur Semenanjung Arab.

Lebih dari dua puluh tahun Nabi Muhammad SAW berkiprah di bidang wirausaha (perdagangan), sehingga Beliau dikenal di Yaman, Syiria, Basrah, Iraq, Yordania, dan kota-kota perdagangan di Jazirah Arab. Namun demikian, uraian mendalam tentang pengalaman dan keterampilan dagangnya kurang memperoleh

pengalaman selama ini. Sejak sebelum menjadi mudharib (fund manager) dari harta Khadijah, Ia kerap melakukan lawatan bisnis, seperti ke kota Busrah di Syiria dan Yaman. Dalam Sirah Halabiyah dikisahkan, Ia sempat melakukan empat lawatan dagang untuk Khadijah, dua ke Habsyah dan dua lagi ke Jorasy, serta ke Yaman bersama Maisarah. Ia juga melakukan beberapa perlawatan ke Bahrain dan Abisinia. Perjalanan dagang ke Syiria adalah perjalanan atas nama Khadijah yang kelima, di samping perjalanannya sendiri yang keenam termasuk perjalanan yang dilakukan bersama pamannya ketika Nabi berusia 12 tahun. Di perjalanan usia 30-an, Ia banyak terlibat dalam bidang perdagangan seperti kebanyakan dicatat dalam sejarah: pertama, perjalanan dagang ke Yaman, kedua, ke Najd, dan ketiga ke Najran. Diceritakan juga bahwa disamping perjalanan-perjalanan tersebut, Nabi dalam urusan dagang yang besar, selama musim-musim haji, di festival dagang Ukaz dan Dzul Majaz. sedangkan musim lain, Nabi sibuk mengurusi perdagangan grosir pasar-pasar kota Makkah. Dalam menjalankan bisnisnya Nabi Muhammad jelas menerapkan prinsip-prinsip manajemen yang jitu dan handal sehingga bisnisnya tetap untung dan tidak pernah merugi.

(38)

Reputasi Nabi Muhammad dalam dunia bisnis dilaporkan antara lain oleh Muhaddits Abdul Razzaq. Ketika mencapai usia dewasa beliau memilih

perkerjaan sebagai pedagang/wirausaha. Pada saat belum memiliki modal, beliau menjadi manajer perdagangan para investor (shohibul mal) berdasarkan bagi hasil. Seorang investor besar Makkah, Khadijah, mengangkatnya sebagai manajer ke pusat perdagangan Habshah di Yaman. Kecakapannya sebagai wirausaha telah mendatangkan keuntungan besar baginya dan investornya.Tidak satu pun jenis bisnis yang ia tangani mendapat kerugian. Ia juga empat kali memimpin ekspedisi perdagangan untuk Khadijah ke Syiria, Jorash, dan Bahrain di sebelah timur Semenanjung Arab.

Dalam literatur sejarah disebutkan bahwa di sekitar masa mudanya, Nabi Saw banyak dilukiskan sebagai Al-Amin atau Ash-Shiddiq dan bahkan pernah mengikuti pamannya berdagang ke Syiria pada usia anak-anak, 12 tahun.

Lebih dari dua puluh tahun Nabi Muhammad Saw berkiprah di bidang wirausaha (perdagangan), sehingga beliau dikenal di Yaman, Syiria, Basrah, Iraq, Yordania, dan kota-kota perdagangan di Jazirah Arab. Namun demikian, uraian mendalam tentang pengalaman dan keterampilan dagangnya kurang memperoleh

pengamatan selama ini.

a.

Konsep Bisnis Muhammad

Konsep bisnis yang diajarkan oleh nabi Muhammad ialah apa yang disebut Value Driven yang artinya menjaga, mempertahankan, menarik pelanggan. Dengan apa yang disebut relationship marketing, yaitu berusaha menjalin hubungan erat antara pedagang, produsen, dan para pelanggan. Pada permulaan barang dipasarkan, maka semua anggota masyarakat adalah calon pembeli potensial. Dalam konteks sekarang ini disebut dengan customer share marketing adalah konsep muktahir yang dikembangkan oleh para pelaku marketing pada saat ini dan untuk masa yang akan datang. Konsep ini memanfaatkan pelanggan sebagai mitra dagang yang saling menguntungkan baik oleh mitra bisnis, maupun oleh para konsumen.

Sebagaimana diketahui sejak masa dulu sampai sekarang ini telah banyak di kembangkan konsep-konsep pemasaran bagi perusahaan yaitu :

(39)

Produsen membuat produksi secara besar-besaran, kemudian mendistribusikannya ke seluruh daerah melalui banyak saluran pertokoan dan dengan harga yang murah.

2. Konsep Produk (Product)

Produsen harus membuat produk barang yang berkualitas dan mengikuti selera konsumen.

3. Konsep Penjualan (Selling)

Produsen menghasilkan barang secara besar-besaran kemudian berusaha menjualnya dengan menggunakan promosi, iklan secara luas guna mempengaruhi publik.

4. Konsep Pemasaran (Marketing)

Produsen berusaha membuat barang dengan menyelidiki terlebih dulu apa yang menjadi kemauan konsumen.

5. Konsep Pemasaran Cepat (Turbo Marketing)

Produsen harus memberi layanan kepada konsumen secapat mungkin agar konsumen lebih puas, cepat melayani apa yang dibutuhkan konsumen.

6. Konsep Pemasaran Sosial (Cocial Marketing)

Produsen tidak hanya memperhatikan konsumen, tetapi yang lebih penting ialah memperhatikan dan menjaga kepentingan masyarakat, suatu lingkungan, dan pelestarian alam.4[10]

b. Ketokohan Muhammad Dan Pengetahuan Bisnis

Seorang Islam mendapat aspirasi dari 6 (enam) komponen iman dan 5 (Lima) unsur kegiatan islam yang di dalam agama (islam) dikenal dengan Rukun Iman da n Rukun Islam. Rukun Iman dan Rukun Islam mula pertama dipresentasikan oleh nabi Muhammad SAW kira-kira antara tahun 622-624 Masehi di hadapan para sah abatnya di Mesjid Madinah (Yatsrib). Kehidupan para sahabat nabi terutama yang menghayati ketika Rukun Iman dan Rukun Islam itu di presentasikan dan dinyata kan oleh beliau sebagai intisari ajaran agama islam yang tercantum dalam Al-Quran, maka mereka hidup sesuai dengan tuntunan tersebut dalam arti yang seluas penghayatan mereka. Akan tetapi ketika islam sampai ke Indonesia dengan aneka pengaruh yang masuk dalam hati dan jiwa mereka, maka Rukun Iman dan Rukun Islam tersebut hanya mempunyai kedudukan yang memfokuskan pada usaha mere fleksikan pengabdian kepada Allah SWT dalam arti yang khusus oleh macam-macam Doktrin baik yang berasal dari agama islam maupun yang berasal dari luar islam. Jarang Sekali, kalau tidak dikatakan tidak pernah- Rukun Iman dan Rukun I slam itu dipersepsikan dengan - selain sebagai ibadah- metode pendidikan, kemas

(40)

yarakatan, ekonomi, program kehidupan dan lain-lain. Karena itulah maka Rukun Iman dan Rukun Islam sekan-akan dibelenggu oleh wilayah yang sempit dan tidak dapat beroperasi membangunkan umatnya ke daerah-daerah yang luas, seluas pen ciptanya (Allah SWT).

Sifatsifat

yang dimiliki Rasulah tercermin dalam kegiatan beliau dalam berbisnis, diungkap kan pula oleh Syafii Antonio dengan temanya Prophetic Values of Business and M anagement :

1. Siddiq, benar, nilai dasarnya adalah integritas, nilai-nilai dalam bisnisnya berupa j ujur, ikhlas, tercermin, keseimbangan emosional;

2. Amanah, Nilai dasarnya terpercaya dan nilai-nilai dalam bisnisnya ialah adanya k epercayaan, tanggung jawab, transparan, tepat waktu;

3. Fathonah nilai dasarnya ialah memiliki pengetahuan luas, nilai-nilai dalam bisnis ialah memiliki visi, pemimpin yang cerdas, sadar produk dan jasa, serta belajar be rkelanjuta;

4. Tabligh, nilai dasarnya ialah komunikatif dan nilai bisnisnya ialah supel, penjual yang cerdas, deskripsi tugas, delegasi wewenang, kerja tim, koordinasi ada kendal i dan supervisi;

5. Ada satu sifat lagi yang lupa dan perlu ditambah yaitu syaja”ah, artinya beranim n ilai bisnisnya, mau dan mampu mengambil keputusan, menganalisa data, keputusa n yang tepat dan cepat tanggap.

BAB VIII

KEUANGAN DAN AKUNTANSI SYARIAH

A.Pengertian Akuntansi Syariah

Referensi

Dokumen terkait

sekolah tersebut sudah mengatur tata tertib tentang perundungan. Data yang. didapat tersebut sangat berguna untuk menganalisis rumusan masalah

Untuk menciptakan suasana tertib dan aman, maka dengan mengacu pada konvensi Internasional dan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan terorisme, serta untuk

Maksud dan tujuan disusunnya Pedoman Etika Usaha dan Tata Perilaku ini selain untuk memastikan bahwa Perseroan telah mematuhi semua peraturan dan perundang-undangan yang

Dengan demikian, perangkat peraturan perundang-undangan di bidang HaKI di Indonesia sampai saat ini sudah lengkap. Namun, hal tersebut masih belum banyak

Bahan hukum primer adalah bahan hukum yang terdiri dari peraturan perundang-undangan, catatan resmi atau risalah dalam pembuatan peraturan perundang-undangan dan

Metode pendekatan perundang-undangan (statute approach) yaitu dilakukan dengan menelaah peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam kasus tersebut yaitu :

Untuk bisa menganalisis apakah sebuah rencana bisnis layak atau tidak, tentu saja data tentang bisnis yang direncanakan harus didukung dengan analisis mengenai

Dari beberapa pendapat mengenai pengertian bisnis tersebut di atas, tampaknya ada kesamaan di antara para pakar manajemen bisnis dalam memberikan definsi mengenai bisnis sehingga dapat